Pemikiran Islam, Haruskah Terpuruk?

Imam Prihadiyoko

Pertemuan Tajdid (Pembaruan) Pemikiran Islam Ke-2, yang digelar Central for Moderate Moslem Jakarta dan Yayasan Dakwah Islamiah Malaysia di Sepang, Malaysia, dua minggu lalu, seakan mengingatkan pada Kanun-e Nasyre Haqayeq-e Islami (Pusat Penyebaran Kebenaran Islam) yang didirikan Muhamad-Taqi Syari’ati, orangtua Ali Syari’ati, tokoh reformis Iran pada tahun 1947.

Lembaga ini sudah menyesalkan berbagai kelemahan dan dekadensi Islam kontemporer. Bahkan, organisasi ini sudah mengajak kaum Muslim agar memanfaatkan ilmu pengetahuan dan Al Quran, dan hanya dengan cara itulah Islam dapat meraih lagi kejayaan dan kekuatannya. (Ali Rahnema, 1998)

Kalau melihat tujuan pendirian lembaga ini, di antaranya berkampanye untuk memberantas kebodohan, sikap tidak peduli, mudah menyerah, takhayul, alkohol, perjudian dan prostitusi; penyatuan kekuatan intelektual, penguasaan praksis dan finansial dari semua kelompok agama yang berbeda-beda dalam Islam, untuk bekerja demi Islam, maka rumusan yang tidak jauh berbeda juga dibuat dalam pertemuan intelektual dan ulama Islam dari Indonesia dan Malaysia di Sepang, Malaysia.

Seakan pembicaraan tidak lebih maju dari apa yang pernah dilakukan pemikir Iran 59 tahun lalu. Sejak pembicara awal tampil membawakan makalah, Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad yang menjadi pembicara kunci, hingga penutupan pertemuan, yang dibicarakan selalu berbagai kelemahan Islam, upaya membongkar sistem pendidikan Islam, dan pencarian solusinya.

Mungkin di sinilah letak kebaruannya. Asia Tenggara saat ini menjadi kawasan berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Sementara sebagian besar dunia Barat masih melihat Islam hanya berada di wilayah Timur Tengah. Padahal, Muslim di kawasan Asia Tenggara sedang memperlihatkan kebangkitan dan reformasi.

Malaysia, yang penduduknya mayoritas Islam, mampu memperlihatkan keberhasilan ekonomi dan penguasaan teknologi yang baik. Indonesia pada tataran tertentu sudah memperlihatkan keberhasilan di bidang politik, melalui sistem pemilu yang demokratis. Meskipun, memang, sejumlah wilayah Muslim di Asia Tenggara saat ini masih bergejolak, seperti di Patani di Thailand bagian selatan, dan Moro di Filipina selatan.

Berakar pada pendidikan

Mahathir menjelaskan, masalah yang dihadapi Islam saat ini sangat berbeda dengan Islam 1.400 tahun lalu. Untuk bisa bertahan, Islam harus mengubah pemahamannya tentang banyak hal dari perintah keagamaan. Islam harus bisa mengubah strategi, dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

”Perintah untuk memelihara kuda-kuda perang, membuat pedang, tombak, dan berlatih berkuda dan berperang untuk mempertahankan diri seharusnya tidak diterjemahkan sama dengan kondisi sekarang. Esensinya kan bertahan diri. Nah, kalau sekarang itu harus dilakukan dengan menguasai sains dan teknologi,” ujar Mahathir yang mengagumi sejumlah tokoh Masyumi di Indonesia.

Mahathir juga menyesalkan tafsir sejumlah ulama yang menilai penguasaan ilmu pengetahuan lebih rendah nilainya daripada penguasaan ilmu agama. Tafsir seperti inilah yang membuat Muslim kini menjadi pemakai setia dari hasil penguasaan sains dan teknologi dunia Barat.

Bagi Mahathir, ilmu agama maupun penguasaan sains dan teknologi tidak seharusnya dipisahkan atau dilawankan. Keduanya harus berjalan beriringan, dan tidak ada yang lebih rendah maupun lebih tinggi. Perbedaannya terletak pada manfaat bagi peningkatan harkat dan marwah (harga diri) manusia.

Mahathir menyarankan, solusi terbaik adalah perubahan sistem pendidikan Islam, yang tidak lagi sekadar mengajarkan ilmu agama, tetapi harus mengaitkannya dengan kemajuan dan penguasaan ilmu dan teknologi.

Sejalan dengan Mahathir, pendiri Universitas Sains Al Quran Wonosobo Prof Zamakhsari Dhofir melihat kesadaran Muslim di tanah Melayu untuk menguasai sains dan teknologi sudah muncul. Bahkan, ia yakin suatu saat nanti Islam di Asia Tenggara akan membuktikan diri, mampu menguasai sains dan teknologi, sekaligus berpegang pada Al Quran dan as-Sunnah.

Dhofir, mantan Rektor IAIN Walisongo ini, mengatakan, tajdid pemikiran Islam harus punya langkah konkret untuk mengembangkan pesantren. Pasalnya, bukan hanya karena perkembangan jumlah pesantren sangat cepat— dari 4.200 pesantren tahun 1980 menjadi 16.000 pesantren pada tahun 2006 — tetapi karena lembaga pendidikan Islam ini sebagian besar masih melakukan model pendidikan tradisional. Dan sebagian besar belum memiliki orientasi penguasaan sains dan teknologi.

Selain itu, sebagian besar bahkan lebih dari 80 persen peserta didik pesantren berasal dari keluarga miskin di pedesaan. Tidak heran jika dukungan dana yang bisa dihimpun dari masyarakat sangat tidak memadai. Lebih parahnya lagi, pemerintah dan orang-orang Muslim yang cukup mampu tidak punya kepedulian untuk mendukung lembaga-lembaga pendidikan Islam.

Dhofir berharap lembaga pendidikan Islam mampu melahirkan pemikir Islam yang punya kualitas dunia. Bukan saja di bidang keagamaan, tetapi juga melalui penguasaan sains dan teknologi. Pemikir besar dunia yang pernah dididik di lembaga pendidikan Islam di Indonesia antara lain Syekh Nawawi al-Banteni, yang buku-bukunya dijadikan referensi Islam terbaik. Begitu juga Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, yang seangkatan dengan Syekh Nawawi, berhasil menjadi Imam Masjidil Haram bagi pengikut Madzhab Syafi’i.

Prof Sidek Baba dari Universiti Islam Antarbangsa Malaysia menilai keterpurukan lembaga pendidikan Islam karena salah tafsir epistemologi ilmu. Epistemologi ilmu Islam yang bersumber pada wahyu dianggap menolak semua sumber dari hasil pemikiran. Padahal, akidah, akhlak, dan syariat yang ada pada Al Quran harusnya bisa menjadi dasar pengembangan pemikiran. Apalagi, Al Quran sendiri memuat 200-an ayat tentang sains.

Para pemikir Islam pada masa kejayaannya mendasarkan pengembangan pemikiran pada ayat-ayat ini. Dengan landasan ini pula, Al-Jabar mengembangkan matematika, Ibnu Sinna yang dikenal di dunia Barat sebagai Averoes.

Dengan berkaca pada sejarah kejayaan Islam, tidak seharusnya Muslim berkeluh kesah. Sayangnya, keberhasilan masa lalu itu sekarang seolah-olah dianggap sebagai sesuatu yang datang dengan sendiri. Tidak heran kalau yang tersisa sekarang sekadar kekecewaan, ketidakmampuan, dan kemarahan. Lupa, bahwa kejayaan Islam masa lalu itu berkat kerja keras menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu, ada keridaan, keikhlasan pada ajaran agama, yang mendorong kesatuan umat demi kejayaan bersama.