MENJADIKAN TPA DAN AL – QUR’AN SEBAGAI SARANA MEMBERDAYAKAN

AKHLAQ MULIA

 

A. Pendahuluan

            Pendidikan memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Keberadaannya yang sangat menentukan kelangsungan hidup manusia menjadikan pendidikan sebagai ruh kedua bagi semua manusia. Fungsinya yang sangat mulia, yaitu untuk lebih memajukan manusia dalam segala bentuknya, membuat pendidikan akan terus mengalami perkembangannya, selama manusia masih terlahir didunia. Perkembangannya akan senantiasa menyertai perkembangan manusia pula. Kematian manusia berarti pula kematian pendidikan, dan kematian pendidikan berarti kemusnahan bagi manusia.

Tujuan pendidikan yang sangat mulia, seringkali mengakibatkan banyak orang beranggapan, jika orang sudah tidak lagi percaya pada tuhan, maka pendidikan adalah penggantinya. Hal ini bukan bermaksud menjadikan musyrik sebagian kalangan, melainkan hanya ingin mewartakan bahwasannya pandangan seperti itu adalah sangat keliru dan tuhan akan tetap sebagai tuhan yang maha abadi, sedangkan pendidikan akan tetap sebagai pendidikan yang mengandung banyak tujuan. Diantaranya adalah:

  1. Memberikan kesempatan kepada pikiran untuk aktif dan bekerja, karena kreativitas ini sangat penting bagi terbukanya pikiran dan kematangan individu, kemudian kematangan ini akan mendapatkan faedah bagi masyarakat.
  2. Memperoleh barbagai ilmu pengetahuan, sebagai alat untuk membantunya hidup dengan baik didalam masyarakat yang maju.
  3. Memperoleh lapangan pekerjaan yang digunakan untuk memperoleh rizki.[1]

Diantara sekian banyak tujuan dari pendidikan, hanya tujuan untuk memperoleh lapangan pekerjaan yang paling dipikirkan. Sekolah – sekolah berlomba – lomba dalam menata diri untuk dapat membekali siswanya dalam life skill dengan seringkali melupakan adanya banyak aspek yang dibutuhkan oleh para siswa untuk melanjutkan kehidupannya di masyarakat.

Maraknya SMK atau lebih tepatnya sekolah kejuruan, menjadikan sekolah yang memberikan ketrampilan lebih kepada siswanya menjadi incaran para orang tua murid. Hal ini disebabkan oleh adanya lonjakan pengangguran yang semakin menggunung setiap tahunnya. Tenaga trampil memang dibutuhkan, namun sekiranya aspek lainnya jangan ditinggalkan. Juga adanya tuntutan hidup yang dibarengi dengan persaingan dalam bidang ekonomi yang semakin ketat, menjadikan ketrampilan diri lebih berharga dari pada lainnya, akibatnya seringkali orang melakukan segala cara untuk mendapatkan kebutuhannya berbekal ketrampilan yang mereka miliki dalam segala jenisnya.

Kebejatan moral siswa menjadi taruhan, tatkala industrialisasi semakin menampakkan ambisinya untuk senantiasa membangun diri kearah yang lebih maju. Ambisi siswa untuk bersaing dalam kancah diluar sekolah menjadi acuan utama. Memang hal ini akan menimbulkan semangat siswa untuk dapat lebih giat dalam mendalami suatu ketampilan, namun kiranya akan sangat riskan jika hal ini dibarengi dengan adanya budaya asing yang sangat bertentangan dengan kebudayaan setempat dan dijadikan tren.

Masa transisi yang dibarengi dengan masa pubersitas siswa menjadi sesuatu yang sangat mempengaruhi dalam perangai siswa, yang dibarengi dengan adanya kemajuan zaman industrialisasi. Sehingga adanya pembentengan diri dengan pembekalan nilai – nilai luhur yang terkandung dalam al – qur’an dan dibahasakan oleh para ulama ataupun para guru menjadi suatu hal yang wajib diberikan, guna dapat mencetak kader yang benar – benar dapat mewarnai modernisasi.

Bagaimana menanamkan nilai – nilai yang terkandung dalam al – qur’an, sehingga dapat diterapkan dan dapat membumi, dapat menjadi pangkal pijak para siswa adalah pertanyaan yang selama ini menggelitik penulis. Memang hal ini tidak dapat dilakukan secara instant, melainkan harus dilakukan secara berkala yang mengacu pada adanya perbaikan akhlaq dan moral siswa berdasarkan al – qur’an.

B. Pendidikan al – qur’an

            Untuk menanamkan nilai – nilai yang terkandung dalam al – qur’an, memang dibutuhkan waktu yang tidak sebentar dan butuh kelatenan serta adanya rencana bertahap. Muhammad mendapatkan sanjungan dikarenakan baiknya budi pekerti yang dia miliki, sampai – sampai dikatakan bahwasannya akhlaq beliau adalah al – qur’an.

            Al – qur’an sebagai sebuah kitab pedoman, memang mengandung banyak ajaran tentang kehidupan. Semua tata aturan yang baik dalam mengarungi kehidupan dunia tercantum didalamnya, sampai dengan banyaknya teori – teori teknologi mutakhir yang konon digali dari memahami al – qur’an. Baragam kisah para bijak diceritakan dalam al –qur’an sebagai pijakan langkah manusia dikemudian hari.

            Membumikan al – qur’an adalah suatu tujuan yang harus dicapai. Perjalanan manusia mungkin masih panjang, oleh karena itu mereka membutuhkan adanya kayu pegangan yang kuat untuk dapat menjalani kehidupan dunia dengan selamat. Sarana membumikan al – qur’an untuk selanjutnya diambil sarinya dan diamalkan melalui perbuatan, pada zaman sekarang sudah mendapatkan bentuknya yang sangat beragam, salah satunya adalah TPA ( Taman Pendidikan Al – qur’an ).

            Pada awalnya pendidikan al – qur’an diberikan oleh para ulama disurau – surau ataupun masjid – masjid yang ada dikampung maupun perkotaan. Cara pembelajarannya masih sangat sederhana dan untuk menamatkannya dibutuhkan waktu yang lama. Cara ini memang pernah popular dikalangan masyarakat pedesaan dan perkotaan, namun dengan seiring perkembangan zaman, model pembealjarannyapun mengalami perubahan, tentunya dengan manajemen yang semakin maju pula.

            Taman Pendidikan Al – qur’an lahir sebagai sebuah inovasi pendidikan dan adanya pemberdayaan agama umat. Sebagai sebuah inivasi pendidikan TPA menawarkan beberapa kelebihan, diantaranya:

  1. Anak dapat lebih cepat mengkhatamkan al – qur’an
  2. Pembelajaran dilakukan berkelompok
  3. Menambah materi pelajaran yang diperlukan
  4. Mempererat ukhuwah islamiyah

Memang masih banyak keunggulan yang ditawarkan oleh TPA, yang jelas TPA merupakan suatu kelompok pembelajaran anak. Memang pendidiakn dapat diberikan secara individual dan sebagian kalangan menganggap inilah cara yang paling efektiv untuk pendidikan anak, namun pendidikan juga dapat dilakukan secara berkelompok.

Bukan saja pendidikan umum yang memerlukan kurikulum, melainkan setidaknya Taman Pendidikan Al – Qor’an juga memiliki kurikulum tersendiri yang nantinya disinkronkan dengan pendidikan lanjutannya, yaitu Diniyah ataupun yang sederajat. Usia anak masuk Taman Pendidikan Al – qur’an adalah masa 6 – 12 tahun atau juga bisa lebih, yang jelas kebanyakan mereka seusia tersebut. Jika demikian, maka kurikulum yang hendaknya digunakan adalah kurikulum yang telah dirumuskan oleh Ibnu Sina, bahwasannya dia berpendapat kurikulum untuk anak usia 6 sampai 14 tahun menurut Ibnu Sina adalah mencakup pelajaran membaca dan menghafal al – qur’an, pelajaran agama, pelajaran syair, dan pelajaran olah raga.[2]

Ataupun dapat digunakan kurikulum Ijbari yang merupakan salah satu bentuk rumusan kurikulum yang digunakan oleh al – Qabisyi, yaitu kurikulum yang merupakan keharusan atau kewajiban bagi setiap anak. Kurikulum model ini terdiri dari kandungan ayat – ayaut al – qur’an, seperti sembahyang dan doa – doa, ditambah dengan penguasaan terhadap ilmu nahwu dan bahasa arab yang keduanya merupakan persyaratan mutlak untuk memantapkan bacaan al – qur’an , tulisan dan hafalan al – qur’an 3

Prinsip kurikulum demikian itu sesuai dengan pandangannya mengenai ilmu jiwa yang ditetapkan melalui tiga prinsip logis:

  1. Menumpahkan perhatian kepada pengajaran al – qur’an, karena ia adalah jalan yang ditempuh untuk menambah makrifat kepada allah serta mendekatkan kepada – NYA.
  2. Pentingnya ilmu nahwu ( Grammar ) bagi anak agar dapat memahami kitab al – qur’an secara benar.
  3. Mengajarkan bahsa arab sebagai alat memahami makna ayat al – qur’an beserta huruf hijaiyahnya agar anak dapat menuliskan ayat – ayatnya dan mengucapkannya dengan lancar4

C. TPA SEBAGAI SARANA PEMBERDAYAAN AKHLAQ

            Penanaman nilai – nilai moral yang terkadung dalam al – qur’an sudah seharusnya dilakukan secara dini. Selagi anak belum begitu jauh terseret arus modernisasi, sehingga hal ini akan dapat dijadikannya sebagai pedoman diri dalam menapaki perjalanan hidupnya. Segala sesuatu yang ditanamkan kepada anak ketika masih belia akan sangat berperan aktif dalam kemuadian hari, sehingga menjadikan TPA sebagai saranan pemberdayaan akhlaq adalah salah satu jalan untuk menciptakan generasi yang bermoral. 

Dalam pandangan Al – Ghazali, pemberdayaan ini akan berhasil karena dua sebab:

  1. Atas karunia allah yang telah memberikan fitrah manusia secara sempurna.
  2. Akhlaq tersebut diusahakan dengan mujahadah dan riyadlah, maksudnya membawa diri kearah perbuatan – perbuatan yang sesuai dengan akhlaq yang baik 5

Maksud dari pernyataan Ghazali ini, bahwasannya disamping siswa diajarkan untuk senantiasa berdoa juga diharuskan untuk melatih diri dengan riyadlah atau laku prihatin, mencoba menyurutkan hawa nafsu sedari kecil supaya kelak mereka dapat mengendalikan hawa nafsu dan dapat mengendalikan semua tindakan, sehingga tindakan itu memang didasarkan atas hati nurani dan berdasarkan al – qur’an.

            Institusi pendidikan non formal seperti TPA memang dapat mencapai tujuannya dengan melakukan banyak inovasi dan kreasi, termasuk didalamnya upaya untuk memberdayakan akhlaq. Al – Ghazali merumuskan beberapa cara supaya usaha pemberdayaan akhlaq dapat tercapai secara maksimal, yaitu dengan:

  1. Menjadi murid seorang ustadz yang shaleh.
  2. Meminta bantuan seorang teman yang tulus, taat dan mempunyai pengertian.
  3. Mengetahui kekurangan kita dari orang – orang yang tidak simpati kepada kita, karena mereka lebih banyak mengetahui tentang kelemahan kita dari pada teman biasa.
  4. Bergaul dengan orang lain dan menisbahkan kekurangan orang lain itu seperti pada diri sendiri. 6

Dilingkungan TPA setidaknya memiliki apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh siswa, tentu kaitannya dengan pemberdayaan moral. Pergaulan memang sangat mempengaruhi tindakan ataupun perilaku siswa dalam kesehariannya. Jika hal ini tidak dibarengi dengan adanya pembekalan nilai – nilai etika, maka dikhawatirkan nantinya siswa dapat melakukan tindakan – tindakan yang melanggar kesepakatan umum, sehingga bukan kasih sayang sesama mereka yang didapat, melainkan cercaan dan makian yang akan mereka dapat dikarenakan adanya moral mereka yang tidak terberdayakan.

            Adanya upaya untuk menjadikan TPA sebagai sarana pemberdayaan moral anak adalah suatu inovasi tersendiri ditengah globalisasi seperti saat ini. Dengan mengkhususkan adanya mata pelajaran akhlaq dengan alokasi waktu tersendiri, mungkin cara ini akan efektif, seperti kata bijak bahwa menanamkan nilai diwaktu kecil ibarat melukis diatas batu, maka akan sulit hilangnya. Berbeda ketika mananamkan nilai diwaktu besar, maka seperti mengukir diatas air, akan mudah hilang.

            Guru akan sangat kental dalam mewarnai siswa, sehingga  sebaiknya guru merupakan sosok pilihan yang benar – benar dapat dijadikan panutan bagi semua siswa. Menurut al – Mawardi: Sikap tawadlu’ akan menimbulkan simpatik dari para anak didik, sedangkan sikap ujub akan menyebabkan guru kurang disenangi.7Sudah jelas kiranya, bahwa memang seorang guru haruslah orang – orang terpilih. Mampu membawa diri dan wibawanya didepan murid, senantiasa menjadi orang tua dalam keadaan apapun bagi murid.

Dalam kelanjutannya, sikap tawadlu akan melahirkan sikap demokratis pada murid – muridnya. Pelaksanaan prinsip demokratis didalam kegiatan belajar mengajar dapat diwujudkan dalam bentuk timbal balik antara siswa dan siswa, antara guru dan siswa.8 Demokrasi akan membawa semuanya kepada keterbuakaan  yang nantinya dapat mengarah kepada kemajuan bersama yang dilandasi oleh semangat kekeluargaan, sehingga dengan adanya sifat keterbuakaan ini murid dapat lebih mencintai guru dan jika kondisi ini sudah tercipta, maka pelajaran yang disampaikan oleh guru akan mudah diterima oleh murid. Sikap tawadlu yang dimaksud adalah sikap rendah hati dan merasa sederajat dengan orang lain dan saling menghargai, sikap demikian akan menimbulkan rasa persamaan, menghormati orang lain, toleransi sertarasa senasib dan cinta keadilan.9

            Tentunya semua kerja yang dilakukan dalam upaya pemberdayaan harus dilandasi dengan adanya sikap ikhlas, sehingga dalam melakukan pekerjaan ini akan selalu diiringi dengan semangat yang terus menyala. Jika kerja dengan memikul beban pamrih, maka kerja akan berkurang semangat apabila pamrih itu tidak terpenuhi. Mungkin pamrih dalam hal ini dapat berupa status sosial, gaji ataupun penghormatan lebih dalam lingkungan kerja, dan seperti yang kita ketahui bersama, bahwasannya sampai saat ini belum ada TPA yang mampu membayar gurunya dengan standar upah minimum kabupaten ataupun propinsi, sehingga dalam menjalankan roda TPA benar – benar dibutuhkan adanya tenaga – tenaga yang benar – benar ikhlas dalam menjalankan tugasnya.

Ikhlas secara harfiyah berarti menghindari riya sedangkan secara isltilah ikhlas berarti membersihkan hati dari segala dorongan yang dapat mengeruhkannya.10Berdasarkan ikhlas akan meunculkan profesionalisme yang tercermin pada:

  1. Selalu mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan guna mendudkung pelaksanaan proses belajar mengajar
  2. Dsisplin terhadap peraturan dan waktu
  3. Penggunaan waktu luangnya akan diarahkan untuk kepentingan profesionalnya
  4. Ketekunan dan keuletan dalam bekerja
  5. Memiliki daya kreasi dan inovasi yang tinggi

Dengan demikian seorang guru nantinya akan dapat menjadi tauladan yang benar – benar bermutu, sehingga kebejatan moral siswa yang selama ini menjadi momok bagi hamper semua kalangan dapat dihindari. Siswa akan menjadi baik dengan dukungan yang baik pula, Sehingga seorang guru akan dapat menjadi:

  1. Teladan yang baik
  2. Penyayang
  3. Motivator
  4. Pembimbing

Jika sudah tercipta lingkungan seperti itu, maka kemajuan yang berdasarkan agama akan segera terwujud. Para generasi muda yang dalam kemudian hari akan menggantikan yang tua akan semakin menunjukkan kemantapannya untuk melakukan perubahan sesuai dengan nilai – nilai yang dia terima dari para guru – guru mereka.

D. Kesimpulan

            Al – qur’an adalah sumber ajaran yang tidak akan pernah kering. Semua persoalan didunia dapat teratasi jika mau menilik lebih jauh al – qur’an. Maka dari itu, penanaman nilai – nilai agung dalam al – qur’an pada siswa adalah suatu keharusan dizaman modernisasi seperti saat ini, dengan tujuan supaya kelak mereka menjadi generasi – generasi qur’ani.

            Sarana yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan itu, untuk saat ini sangatlah beragam. Ada yang menggunakan privat, menambah alokasi jam pelajaran agama disekolah sampai dengan membangun pondok pesantren. Namun semua itu akan lebih efektif dan lebih mengena apabila penanaman nilai – nilai qur’ani dilakukan sedini mungkin, sejak masih anak – anak.

            Pembentukan Taman Pendidikan Al – qur’an adalah jawabannya. Karena kata taman akan identik dengan suatu tempat yang indah, tempat bermain anak – anak. Gambaran seperti itu akan menjadi magnet tersendiri bagi anak – anak. Dari sini dengan sendirinya mereka akan merasa senang belajar di TPA dan akhirnya apabila TPA dikelola dengan baik, maka akan menghasilkan out put yang bermutu.

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] Drs. Marasudin Siregar, Pemikiran Pendidikan Islam; Kajian Tokoh Klasik dan Kontemporer ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997 ) hal. 19

 

[2] Ibnu Sina, As – Siyasah Fi at – Tarbiyah ( Mesir : Majalah al – Masyrik, 1906 ) hal. 117

 

3 Dr. H. Abudin Nata, MA, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam ; Seri Kajian Filsafat Pendidikan Islam ( Jakarta: PT. Raja Garsindo Persada, 2001 ) hal. 29

 

4 Ibid, hal. 30 )

5 Al – Ghazali, Ihya’ Ulumaddin, jilid III ( Mesir: Dar Ihya al Kutub al Arabi, tt ) ,  hal. 56

 

6 Ibid, hal. 67 - 68

7 Al – Mawardi, Adab ad – Dunya wa ad – Din ( Beirut: Dar al – Fikr, tt ) hal. 80

 

8 Cece Wijaya dan A. Tabrani Rusyam, Kemampuan guru dalam proses belajar mengajar ( Bandung : Remaja Rosda Karya, 1994 )hal. 117

 

9 Ahmad Muhammad al – Hufy, Min Akhlaq an – Nabi ( Al – Majlis al A’la li as – Syu’un al – Islamiyah, 1968 ) hal. 283

 

10 Ali Ibnu Muhammad al – Jurjani, At – Ta’rifat ( Beirut : Dar al – Kutub al – Islamiyah, 1978 ) hal. 13