Pengembangan dan pembaruan pemahaman terhadap ajaran Islam perlu mempertimbangkan perkembangan masyarakat dan ilmu pengetahuan. Dalam studi agama-agama, pemahaman yang utuh melibatkan dimensi keagamaan dan keilmuan sekaligus, meminjam istilah Mukti Ali, disebut pendekatan yang bersifat scientific cumdoctrinaire.

Perlu melakukan rasionalisasi, dengan cara melakukan desakralisasi, demistifikasi, dan demitologisasi atas fenomena budaya yang tidak berada pada lingkaran akidah dan ibadah mahdah.

Menafsir realitas sosial

Pemikiran yang menjadikan Islam hanya bersumber dari Alquran dan Sunnah sebagai titik tolak pemikirannya dan sekaligus menjadikannya sebagai tolok ukur untuk melihat perjalanan dan hasil produknya. Pola tersebut semakin sulit untuk dipertahankan, karena nas-nas dalam Alquran dan Sunnah Nabi yang dipahami secara tekstual tidak lagi memadai untuk merespon perkembangan peradaban manusia.

Oleh karena itu, diperlukan upaya penajaman pemikiran keislaman dengan cara menggali semangat dan esensi Alquran dan Sunnah yang dipahami secara kontekstual. Dengan demikian perkembangan yang ada (termasuk di dalamnya perkembangan pemikiran dan ilmu pengetahuan, serta pengalaman spiritual yang dimiliki manusia, baik secara individu maupun kolektif) juga harus dijadikan bahan dan rujukan bagi pemecahan problematika modernitas di satu sisi, dan sekaligus penafsiran ajaran agama di sisi lain.Pemikiran Islam tidak hanya didominasi oleh pengkajian masalah-masalah akidah dan fikih yang dianalisa dengan pendekatan tekstual, tetapi harus menembus ke berbagai wilayah pemikiran keislaman, baik teologi (kalam), falsafah, fikih, tasawuf, dan masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Sementara itu, pendekatan dan metode yang digunakan juga dikembangkan dengan ilmu-ilmu bantu, sepertisejarah, sosiologi, antropologi, fenomenologi, filsafat dan sebagainya. Pengembangan Pemikiran Islam ke depan perlu mempertimbangkan metode dan pendekatan bayani,burhani, dan irfani.

Selama ini, pemikiran keislaman masih terfokus pada pendekatan bayani, di mana teks-teks keagamaan (Alquran, Sunnah, dan kitab-kitab karya ulama terdahulu) merupakan titik tolak dan tolok ukur.

Setiap upaya pemikiran yang dilakukan oleh akal hanya semata-mata untuk menjelaskan, dan pada akhirnya melakukan justifikasi terhadap teks, yang selanjutnya diakui bersama, bahkan seringkali juga berkembang menjadi sakralisasi atas hasil pemikirannya ( taqdis al-fikr al-dini).

Dengan melengkapi secara terpadu pendekatan bayani dengan pendekatan burhani dan irfani, diharapkan pemikiran keislaman menjadi lebih terbuka terhadap adanya pluralitas, lebih responsif terhadap perkembangan peradaban, sekaligus mendalami makna spiritualitas setiap pemikiran dan pengalaman keagamaannya.

Namun demikian, dirasa perlu adanya pengkajian ulang, khususnya pada pendekatan burhani dan irfani yang selama ini terlalu kecil porsinya dalam pemikiran keislaman, untuk tidak mengatakan belum ada.Ada kekhawatiran, dengan pendekatan burhani pemikiran keislaman akan menjadi sekular,lepas dari ajaran agama, atau terlalu jauh memisahkan agama dari masalah-masalah kemasyarakatan.

Sementara pendekatan irfani dianggap tidak jelas tolok ukurnya, karena didasarkan pada pengalaman batiniyah yang lebih bersifat individual, subjektif, dan eksklusif. Bahkan, pendekatan ini menurut kalangan tertentu akan menimbulkan kekhawatiran umat Islam akan jatuh pada tarekat dan pengasingan diri dari masalah keduniaan, sehingga umat Islam justru mengalami kemunduran dan terjerumus kepada amaliyah yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara syar'iyah.

Dari berbagai problematika di atas, memang harus dipahami dulu mengenai definisi dan mekanisme kerja ketiga pendekatan tersebut, dan bagaimana keterpaduannya dalam konteks pengembangan pemikiran Islam.

Apabila dikaitkan dengan pendekatan-pendekatan dan metodologi pemikiran Islam tersebut Pemikiran Islam selama ini sangat didominasi oleh pendekatan bayani. Kalaupun melibatkan pendekatan burhani, kemungkinan itu masih sangat kecil porsinya.

Sementara dari segi corak pemikirannya, pemikiran keagamaan sangat didominasi oleh pemikiran fiqhiyah yang sangat tekstual dan berorientasi kepada asas legal-formal, sehingga sangat sedikit menyentuh substansi.

Ketiga pendekatan ini -- bayani, burhani, irfani -- dalam khazanah pemikiran Islam mulai dikenalkan oleh Muhammad Abid al-Jabiri, terutama dengan karyanya Bun-yah al-'Aql al-'Arabi, yang dimaksudkan sebagai analisis kritis terhadap nizamal-ma'rifah (epistemologi) dalam pemikiran dan kebudayaan Islam.

Pendekatan Bayani

Pendekatan bayani merupakan studi filosofis terhadap sistem bangunan pengetahuan yang menempatkan teks (wahyu) sebagai suatu kebenaran mutlak. Adapun akal hanya menempati kedudukan sekunder yang bertugas menjelaskan dan membela teks yang ada. Dengan kata lain, kaum bayani hanya bekerja pada dataran teks (nizam al-kitab), bukan pada dataran akal (nizam al-'aql). Oleh karenanya, kekuatan pendekatan ini terletak pada bahasa, baik pada dataran gramatikal dan struktur (nahwu-sharaf) maupun sastra (balagah: bayan, mani', dan badi').

Dalam konteks ini, bahasa tidak semata-mata sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai media transformasi budaya. Bahasa Arab sebagai media transformasi budaya Arab (termasuk dalam pengertian mode of thought dalam tradisi Arab) dan membentuk kerangka rujukan asasi kaum bayani. Salah satu implikasinya, lafaz dan makna mendapatkan posisi yang cukup terhormat, terutama dalam diskursus usul fiqh. Dalam ilmu kalam, diskursus tentang lafaz-makna dapat dijumpai dalam perdebatan tentang "kemakhlukan Alquran", atau tentang sifat-sifat Allah (antara isbat al-sifat dan ta'til), dan juga tentang takdir.

Pendekatan bayani ini tetap diperlukan dalam rangka komitmennya kepada teks ajaran Islam, yaitu Alquran dan Sunnah, sebagai al-wahyu al-matluw dan al-wahyu gairu al-matluw, serta warisan intelektual Islam, baik salaf maupun khalaf. Dengan pendekatan ini pula, pemikiran Islam akan menangkap kandungan teks ajaran agama sebagaimana bunyi lafaznya dan makna yang dikandung di dalamnya secara lugawi (ilmu-ilmu kebahasaan) dan budaya bahasa yang digunakan oleh teks tersebut.

Akan tetapi, dominasi dan orientasi pemahaman bayani yang berlebihan akan menimbulkan persoalan dalam pemikiran keislaman. Kecenderungan kepada eksklusifisme dan truth-claim merupakan salah satu efek negatif yang selama ini dilakukan oleh sebagian pemikir Islam. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan berikutnya, yaitu pendekatan burhani dan Irfani.

Pendekatan Burhani

Pendekatan burhani atau pendekatan rasional argumentatif adalah pendekatan yang mendasarkan diri pada kekuatan rasio yang dilakukan melalui dalil-dalil logika. Pendekatan ini menjadikan realitas teks maupun konteks sebagai sumber kajian. Dalam pendekatan burhani tercakup metode ta'lili yang berupaya memahami realitas teks berdasarkan rasionalitas; dan metode istislahi yang berusaha mendekati dan memahami realitas objektif atau konteks berdasarkan filosofi. Realitas tersebut meliputi realitas alam (realitas kauniyyah), realitas sejarah (tarikhiyyah), realitas sosial (ijtima`iyyah) maupun realitas budaya (saqafiyyah). Dalam

pendekatan ini, teks dan konteks - sebagai dua sumber kajian - berada dalam satu wilayah yang saling mempengaruhi.

Oleh karena itu, pemahaman terhadap realitas kehidupan sosial-keagamaan dan sosial keislaman menjadi lebih memadai apabila dipergunakan pendekatan-pendekatan sosiologi (ijtima`iyyah), antropologi (antrupulujiyyah), kebudayaan (tsaqafiyyah), dan sejarah (tarikhiyyah).

Dalam model pendekatan burhani, keempat metode - sosiologi, historis, kebudayaan, dan antropologi berada dalam posisi yang saling berhubungan secara dialektis dan saling melengkapi membentuk jaringan keilmuan.

Pendekatan Irfani

Pendekatan irfani adalah pendekatan pemahaman yang bertumpu pada pengalaman batiniyyah, zauq, qalb, wijdan, basirah, dan intuisi. Pendekatan irfani (pengetahuan) ini menekankan hubungan antara subjek dan objek secara direct experience, tidak lewat medium bahasa atau teks dan tidak lewat logika rasional, sehingga objek menyatu dengan

dalam diri subjek. Objek hadir dalam diri subjek(al-'ilm al-huduri)

Pengetahuan irfani sebenarnya adalah pengetahuan pencerahan (iluminasi), sebagaimana dikembangkan dalam filsafat isyraqi (al-hikmah al-isyraqiyyah). Di sini perlu dibedakan dengan filsafat emanasi yang cenderung pantheistik. Filsafat isyraqi (iluminasi) menyatakan bahwa pengetahuan diskursif (al-hikmah al-bahthiyyah) harus dipadu secara kreatif harmonis dengan pengetahuan intuitif (al-hikmah aldhawqiyyah). Dzauq berfungsi menyerap misteri segala esensi yang menimbulkan pengetahuan dan

rasa damai pada jiwa yang resah-gelisah dan membuang skeptisisme. Dengan pemaduan tersebut pengetahuan yang diperoleh menjadi pengetahuan yang mencerahkan, bahkan akan mencapai al-hikmah al-haqiqiyyah (al-haqq al-yaqin).

Pengetahuan irfani dapat dicapai melalui tiga tingkatan. Pertama, tahap membersihkan diri dari ketergantungan terhadap dunia (al-ihsan wa alikhlas). Kedua, ditandai dengan pengalaman pengalaman eksklusif menghampiri dan merasakan pancaran nur Ilahi. Ketiga, ditandai dengan perolehan pengetahuan yang seolah-olah tak terbatas dan tak terikat oleh ruang dan waktu, karena bersatunya al-'aql, al-'aqil, dan al-ma'qul

Pengalaman bathiniyyah Rasulullah dalam menerima wahyu Alquran merupakan contoh konkret dari pengetahuan irfani. Namun dengan keyakinan yang kita pegangi selama ini, pengetahuan irfani yang akan dikembangkan mungkin dalam kerangka ittiba'al-rasul (mengikuti jejak Rasulullah). Dalam hal ini, konsep-konsep Qurani, seperti qalb (qulub), fu'ad, basirah, fitrah, dan ulul albab dapat dicermati lebih lanjut.

Dapat dikatakan, meski pengetahuan irfani bersifat subjektif dan bathiniyyah, namun semua orang dapat merasakan kebenarannya. Artinya, setiap orang dapat melakukan dengan tingkatan dan kadarnya sendirisendiri, maka validitas kebenarannya akan bersifat inter-subjektif.

Objek pengetahuan irfani berupa "cahaya", yakni "cahaya-cahaya penyingkap" (al-anwar al-kasyifah), yang mengantarkan kepada pengetahuan yang sebenarnya (al-'ulum al-haqiqiyyah). Simbolisasi cahaya itu adalah Tuhan itu sendiri, yang bersifat trans-historis, dan trans-kultural.

Implikasi berikut dari pengetahuan irfani dalam konteks pemikiran keislaman adalah menghampiri agama pada tataran substantif, esensi spiritualitasnya, dan mengembangkannya dengan penuh kesadaran akan adanya pengalaman keagamaan orang lain yang berbeda aksidensi dan ekspresinya, namun memiliki substansi dan esensi yang kurang lebih sama.

Kedekatan kepada Tuhan diimbangi rasa empati dan simpati kepada adanya "orang lain" secara elegan dan setara, termasuk di dalamnya kepekaan terhadap problem-problem kemanusiaan, pengembangan budaya, dan peradaban yang disinari oleh pancaran fitrah ilahiyah.

Tiga pendekatan itu - bayani, burhani, dan irfani -adalah warisan yang tak ternilai harganya dalam pemikiran Islam. Ada perkembangan yang cukup menarik dalam sejarah pemikiran Islam, di mana terdapat upaya-upaya sejumlah sarjana muslim dari berbagai kalangan untuk mengupayakan adanya proses pemaduan pemahaman. Mereka melihat ada peluang dan kemungkinan-kemungkinan untuk menghubungkan ketiga pendekatan ini dalam memahami Islam.

Sebagaimana yang dipahami, dalam pemikiran Islam klasik dan pertengahan, wilayah pemikiran keislaman hanya bertumpu pada wilayah kalam, falsafah, tasawuf, dan hukum. Wilayah dan kategorisasi problem dalam pemikiran Islam kontemporer tidak hanya meliputi empat wilayah di atas, tetapi jauh lebih kompleks. Kompleksitas itu tercermin pada wilayah historisitas praktik-praktik sosial keislaman, serta tekanan pada nilai-nilai di wilayah etik dan

moralitas (akhlak). Oleh karena itu, pemikiran Islam kontemporer perlu memahami semua realitas persoalan keislaman kontemporer dalam rangka mengantisipasi gerak perubahan zaman era industrialisasi dan globalisasi budaya serta agama.

Pembaruan dan pengembangan pemikiran Islam di era kontemporer meliputi persoalan sosial keagamaan, sosial budaya, sosial politik, sosial ekonomi, sains dan teknologi, lingkungan hidup, etika dan rekayasa genetika/bioteknologi, serta isu-isu yang berkaitan dengan masalah keadilan dalam bidang hak asasi manusia (HAM), demokrasi, hubungan pria dan wanita dalam Islam, civil society, agama dan kekerasan sosial, spiritualitas keagamaan, penguatan kesadaran moralitas publik, pemecahan KKN, dialog dan hubungan antarumat beragama, integrasi dan disintegrasi nasional, kepekaan pluralitas keagamaan dalam bidang pendidikan dan pengajaran, dan lain-lain.

Hubungan tiga pendekatan

Apabila peta wilayah pengembangan pemikiran keislaman kontemporer jauh berkembang sebagaimana dijelaskan di atas, maka bagaimana bentuk hubungan antara ketiga pendekatan, yaitu antara bayani, burhani, dan irfani. Setelah diperoleh pemahaman kerangka metodologis di atas, langkah penting lain yang tidak kalah strategisnya adalah penentuan bentuk hubungan antara ketiganya.

Ketepatan dan kekeliruan penentuan pola hubungan antara ketiganya menentukan hasil yang akan dicapai. Ada tiga jenis hubungan antara ketiganya, yaitu paralel, linear, dan spiral.

Jika bentuk hubungan antara ketiganya dipilih dalam bentuk paralel, di mana ketiga pendekatan berjalan sendiri-sendiri, tanpa ada hubungan antara satu pendekatan dengan pendekatan yang lain, maka nilai manfaat praktis dan kegunaan pengembangan keilmuan yang akan diraih juga akan minim sekali. Bentuk hubungan paralel mengasumsikan bahwa dalam diri seorang muslim terdapat tiga jenis metodologi keilmuan agama Islam sekaligus, tetapi masing-masing metodologi berdiri sendiri dan tidak saling berdialog dan berkomunikasi, tergantung pada situasi dan kondisi. Jika ia berada pada wilayah bayani, ia gunakan pendekatan bayani sepenuhnya, dan tidak "berani" memberi masukan dari hasil temuan dari pendekatan metodologi keilmuan keislaman yang lain. Meskipun begitu, seminim-minimnya hasil yang diperoleh dari model hubungan yang bersifat paralel ini, masih jauh lebih baik daripada hanya hasil dari salah satu metodologi dan tidak mengenal jenis metodologi yang lain. Sedangkan hubungan linear, pada ujung-ujungnya adalah "kebuntuan" karena tidak memberi ruang bagi yang lain. Pola pendekatan linear akan mengasumsikan bahwa salah satu dari ketiga metodologi tersebut akan menjadi primadona. Seorang muslim akan menepikan masukan yang diberikan atau disumbangkan oleh metodologi yang lain, karena ia telah telanjur hanya mengakui salah satu dari ketiga pendekatan yang ada. Pendekatan yang ia pilih dianggap sebagai suatu pendekatan yang ideal dan final. Jenis pilihan semacam ini pada gilirannya akan mengantarkan seseorang pada "kebuntuan", karena dogma keilmuan di mana tradisi berpikir bayani tidak mengenal tradisi berpikir burhani atau irfani dan begitu sebaliknya. Kedua bentuk hubungan itu -- baik yang paralel maupun yang linear - bukan merupakan pilihan yang baik yang dapat memberikan petunjuk untuk umat Islam era kontemporer. Pendekatan paralel tidak dapat membuka wawasan dan gagasan-gagasan baru. Masing-masing pendekatan macet, terhenti, dan bertahan pada posisinya sendiri-sendiri, dan itulah yang disebut "truth-claim" (klaim kebenaran, atau monopoli kebenaran). Sedang pendekatan linear --yang mengasumsikan adanya finalitas akan menjebak seseorang atau kelompok pada situasi-situasi eksklusif-polemis.

Pendekatan pemikiran keislaman kontemporer baru dapat mengantarkan seorang muslim pada pemilihan antara salah satu dari kedua pendekatan keilmuan di atas. Kedua pilihan tersebut masing-masing kurang kondusif untuk mengantarkan "kematangan religiusitas" seseorang, apalagi kelompok. Oleh karena itu, perlu dilengkapi dengan pola hubungan antara ketiga metodologi yang ada yang lebih memberi kemungkinan dirumuskan angin segar di lingkungan umat Islam.

Hubungan yang baik antara ketiganya adalah hubungan yang bersifat spiral-sirkular, dalam arti bahwa masing-masing pendekatan keilmuan yang digunakan dalam pemikiran keislaman sadar dan memahami keterbatasan, kekurangan, dan kelemahan yang melekat pada diri masing-masing, serta sekaligus bersedia memperbaiki kekurangan yang melekat pada dirinya. Dengan begitu, kekakuan, kekeliruan, ketidaktepatan, dan kesalahan yang

melekat pada masing-masing metodologi dapat dikurangi dan diperbaiki setelah memperoleh masukan dan kritik dari jenis pendekatan dari luar dirinya, baik masukan dari pendekatan bayani, burhani, maupun irfani.

Corak hubungan yang bersifat spiral tidak menunjukkan adanya finalitas dan eksklusifitas, karena finalitas -- untuk kasus-kasus tertentu hanya akan mengantarkan seseorang dan kelompok muslim pada jalan buntu (dead lock) yang cenderung menyebabkan ketidakharmonisan hubungan antarsesama muslim, lebih-lebih hubungan ekstern antarumat beragama. Finalitas tidak memberikan kesempatan munculnya new possibilities(kemungkinan-kemungkinan baru) yang barangkali lebih kondusif untuk menjawab persoalan-persoalan keislaman kontemporer.

Dengan pengembangan metodologi di atas diharapkan Pemikiran Islam lebih kokoh, responsif, dan aktual dengan berbagai produk pemikirannya dan memperoleh tempat yang proporsional dalam memberi napas gerak pemikiran Islam kontemporer.

Berkembangnya pendekatan sosio-kultural yang merupakan konsekuensi logis dari meluasnya pemikiran Islam. Hasil dari interaksi Islam dengan kenyataan sosio-kultural menyebabkan Islam dapat tampil secara inklusif dan penuh toleran dengan gagasan segar di bidang sosial dan kebudayaan.

Kekayaan di atas telah mengkristal dalam metodologi pemikiran keagamaannya, yaitu paham yang memadukan antara pendekatan tekstual dan kontekstual, pendekatan legal-formal dan pendekatan substansial dalam satu kesatuan yang utuh dan terpadu. Pendekatan tersebut kemudian dikenal dengan nalar bayani, nalar burhani, dan nalar irfani.

Nalar pikir bayani dimaknai sebagai pendekatan yang lebih tekstual, seperti berkembang pada ilmu-ilmu tauhid dan fikih klasik, serta pada pemikiran Islam klasik pada umumnya. Sementara pendekatan burhani adalah upaya memahami Islam dengan mengintegrasikan ilmu-ilmu sosial humaniora dan ilmu-ilmu alam sebagai kelengkapan ilmu keislaman. Adapun nalar irfani adalah penalaran dengan perenungan yang mendalam dengan melibatkan pengalaman langsung dan penghayatan keagamaan yang lebih esoterik (spiritual intuitif).

Secara teoretis, manusia memiliki empat kemampuan dasar untuk mengembangkan kebudayaannya. Yaitu rasio untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, imajinasi untuk mengembangkan kemampuan moralitasnya, sensus numinis untuk mengembangkan kesadaran ilahiyah-nya, dan kemampuan fisik untuk mewujudkan potensi-potensi tersebut dalam karya nyata.

Agama Islam adalah wahyu Allah yang merupakan sistem nilai yang mengandung empat potensi di atas dan mengakuinya sebagai fitrah manusia. Keempat potensi tersebut secara bersama-sama dapat dipakai untuk menemukan kebenaran tertinggi, yaitu kebenaran Allah sebagai acuan dari kebudayaan yang dikembangkan manusia.