Rekonstruksi Ilmu Pengetahuan Berbasis Etika

 

1. Teks itu terbatas. Ada wilayah yang tidak diatur oleh teks, dan itu menjadi wilayah kerja akal budi manusia.

2. Hubungan akal dan wahyu adalah hubungan yang sinergis, saling melengkapi.  Ada wilayah yang merupakan otoritas teks, ada pula yang merupakan otoritas akal. 

3. Teks pada dasarnya memiliki substansi.  Substansi teks ini bisa disebutkan sebagai –  “komitmen Allah bagi kebaikan manusia”, atau “nilai-nilai kebajikan yang universal”.

4. Akal manusia memiliki kemampuan untuk menangkap “nilai-nilai universal di balik teks”.  Akal juga memiliki kemampuan untuk merumuskan sistem etika berbasis substansi teks.

5. Alam ini adalah ayat Tuhan yang lain di luar Teks Suci.  Di dalamnya terbangun hukum kausalitas yang batas-batas dan hakikatnya hanya Tuhan yang Tahu.  Ketidakterbatasan ini pada dasarnya merefleksikan ketakterjangkauan wujud Tuhan oleh akal budi manusia.  Apa yang berhasil dikuakkan manusia dari alam – atau dalam bahasa lain, kausalitas yang teridentifikasi kemudian disistematisasi oleh akal manusia – adalah “ilmu pengetahuan”.  Batas wilayah kerja akal manusia adalah puncak tertinggi dari kemampuan akalnya; sesuatu yang hanya diketahui Tuhan sendiri.  Manusia memiliki hak untuk mengaktualisasikan potensi akalnya sedalam dan seluas mungkin, untuk menguak rahasia alam sebanyak-banyaknya demi kemaslahatan manusia.

6. Hubungan Teks dengan ilmu pengetahuan adalah sebagai berikut: Teks Suci merupakan sumber inspirasi bagi Sistem Etika yang dirumuskan oleh akal, dan Sistem Etika inilah yang kemudian menjadi basis pengembangan Ilmu Pengetahuan, sehingga pada tingkat praktis, Ilmu Pengetahuan bisa selaras dengan “komitmen Allah ” dan “nilai-nilai kebajikan universal.”  Filsafat, pada titik ini, menjadi semacam basis metodologis.  Dalam artian, model berpikir yang rasional mesti mewarnai proses pengembangan ilmu pengetahuan.

7. Sistem Etika ini sangat mungkin menjadi wilayah pertemuan antar berbagai umat beragama dan sistem kebudayaan yang berbeda-beda.  Dalam bahasa perenialis, inilah “wilayah esoteris yang menjadi titik temu antar agama-agama”.

8. Ilmu Pengetahuan, dengan demikian, dikembangkan berlandaskan Sistem Etika ini.  Umat Islam bisa mengambil ilmu pengetahuan dari mana saja, kebudayaan dan peradaban apapun, sejauh selaras dengan Sistem Etika yang tersebut.  Pada titik ini, ilmu pengetahuan yang diproduksi umat Islampun menjadi sesuatu yang terbuka untuk dimanfaatkan oleh kebudayaan dan peradaban lain.

 

Berdasarkan asumsi-asumsi di atas, tawaran alternatif penulis terhadap model Islamisasi Ilmu Pengetahuan yang cenderung legalistik dan sektarianistik, adalah “Rekonstruksi Ilmu Pengetahuan Berbasis Etika”.  Agak mirip dengan spiritualisasi ilmu pengetahuan yang kini mulai berkembang di dunia Barat, dengan tokoh semacam Fritchof Capra dalam Fisika dan Carl Gustav Jung dalam psikologi.  Letak perbedaannya, sistem etika yang kita kembangkan, mengacu pada tradisi intelektual Islam klasik  Sekalipun hasilnya bisa sama dengan sistem etika yang dikembangkan para pemikir Barat, proses perumusan sistem etika tersebut secara historis mengikuti jalur yang khas Islam, seperti dengan memanfaatkan tradisi tafsir dan ushul fiqh.  Tentu saja, perlu ditegaskan bahwa, pertama, tradisi klasik yang diambil adalah tradisi klasik yang telah direvitalisasi.  Unsur-unsur otoritarianistik dan kebekuan dalam disiplin tafsir dan ushul fiqh, perlu disisihkan.  Sehingga hasilnya adalah bangunan sistem etika yang emansipatif, liberatif dan berorientasi pada maslahat manusia secara universal.  Kedua, perlu juga diciptakan ruang bagi pengayaan dari kearifan yang dihadirkan tradisi dan peradaban lain, semacam hermeneutika.

 

Dengan model tersebut, Rekonstruksi Ilmu Pengetahuan Berbasis Etika akan menjadi sebuah kerja lintas peradaban, dengan sifat yang terbuka dan dialogis.  Ilmu pengetahuan yang dihasilkanpun akan menjadi milik bersama antar peradaban, yang bebas dimanfaatkan oleh siapa saja, demi kemaslahatan bersama.

 

Secara skematis, gagasan Rekonstruksi Ilmu Pengetahuan Berbasis Etika ini dapat digambarkan sebagai berikut: