DIKOTOMI PENDIDIKAN

( Studi Penafsiran Hadits Pendidikan )

 

A. Pendahuluan

Iqra adalah awal wahyu berupa kata perintah untuk membaca. Membaca dalam berbagai bentuknya sangat dianjurkan guna menambah adanya wawasan seseorang. Perintah untuk membaca dalam prakteknya dapat mengambil dua bentuk, dapat berupa tekstual dalam artian ada teks - teks yang tersirat dan dibaca serta dipahami secara visual, ataupun kontekstual berupa teks - teks yang tidak tersirat dan hanya dapat dibaca serta dipahami melalui perasaan yang bersifat intuitif. Jika harus mengacu kepada filsafat, maka ada aliran rasionalisme dan aliran empirisisme, yang keduanya menggunakan alat bantu berbeda untuk mendapatkan data, namun dengan satu tujuan yaitu untuk mendapatkan pengetahuan.

Dalam kelanjutannya, membaca dapat diartikan sebagai belajar. Tentu hal ini lebih mendasarkan pada kenyataan bahwa membaca adalah proses awal manusia befikir dalam segala bentuknya. Pemikiran manusia akan bekerja apabila mendapatkan bahan untuk diolah, untuk selanjutnya menghasilkan sebuah sintesa pemikiran dan itulah yang dikatakan sebagai pengetahuan dan dalam kelanjutannya dapat mengkristal menjadi sebuah ilmu pengetahuan.

Berawal hanya dari sebuah kata, iqra menjadikan semua yang ada dapat berubah dan menjadi lebih baik dari yang dulu, iqra menjadikan manusia lebih terjamin akan kelangsungan hidupnya dan secara otomatis dapat memenuhi segala kebutuhnnya. Walaupun tidak semuanya, akan tetapi hampir semua kebutuhan manusia dapat tercukupi berkat kemajuan berfikir manusia yang dibarengi dengan adanya tindakan manusia untuk menciptakan teknologi yang lebih maju.

Beragam institusi pendidikan didirikan untuk lebih membumikan kata iqra ditengah kehidupan masyarakat. Sekolah yang bercorak agama ataupun umum tumbuh dan berkembang sebagai sebuah wadah untuk dijadikan sarana transformasi keilmuan, walaupun sampai sekarang pendidikan masih menyisakan permasalahan pelik, berupa dikotomi pendidikan, tarik ulur antara pendidikan umum dan agama menjadi sumber permasalahan. Namun begitu, sampai sekarang pendidikan tetap memperlihatkan keeksistensinya dalam mengemban amanah ilahi, yaitu untuk menciptakan para khalifah dimuka bumi ini. Memang suatu amanah adalah sebuah kepercayaan yang wajib dijunjung tinggi, apalagi sebuah amanah yang berasal dari dzat yang maha segalanya.

Betapa pentingnya pendidikan dalam kehidupan manusia. Seolah - olah pendidikan menjadi sebuah ruh yang dapat menjadikan manusia untuk dapat hidup lebih lama lagi jika mau memajukan pendidikan. Sekedar untuk pembuktian, bahwasannya nabi pernah bersabda akan pentingnya pendidikan dalam beberapa haditsnya, dan yang paling popular adalah hadits:

Artnya:

Mencari ilmu adalah wajib hukumnya bagi setiap muslim lelaki maupun perempuan. carilah ilmu walau sampai kenegri Cina dan Barang siapa mengharapkan dunia, maka harus menguasai ilmunya. Barang siapa mengharapkan akherat, maka harus menguasai ilmunya dan barang siapa mengharapkan keduanya, maka harus menguasai kedua ilmu tersebut.

Kiranya ketiga penafsiran hadits diatas cukup representatif bagi umat islam untuk dijadikan cambuk yang kuat dalam menapaki kehidupan. Maju ataupun mundurnya umat islam sangat tergantung kepada sejauh mana usaha yang mereka lakukan, terutama kaitannya dengan pendidikan.

Adanya kerancuan pemaknaan pendidikan yang selama ini terjadi, memanglah menjadi suatu yang dilematis. Muasal dari adanya pemilahan keilmuan menjadi barang misteri yang masih simpang siur kejelasannya. Mengapa umat islam masih saja berkutat pada suatu pilihan? Bukankah sudah sangat jelas keterangan dari nabi diatas? Robbana Aatina Fiddunya Khasanah Wafil Aakhiroti Khasanah mungkin doa ini kurang merasuk kedalam jiwa - jiwa umat islam sehingga menjadikan dikotomi pendidikan selama ini masih menjadi masalah.

B. Pembahasan

Pendidikan merupakan suatu kebutuhan individu manusia. Keberadaannya sangat menentukan maju mundurnya peradaban manusia yang memang bersumber pada pemikiran manusia. Pada masa pra sejarah, manusia belum mengenal baca tulis, yang untuk selanjutnya manusia setaraf lebih maju mengenal adanya tulisan dan dapat baca tulis yang disebut sebagai zaman sejarah. Inilah awal kebangkitan dari manusia untuk dapat menata diri dan peradabannya secara lebih baik dan terarah. Sehingga kelangsungan hidup manusia lebih terjamian.

Bukanlah sesuatu yang mudah untuk dapat menumbuh kembangkan pendidikan ditengah masyarakat yang semakin kompleks. Hal ini menjadi tugas tersendiri bagi manusia untuk dapat merumuskan pendidikan sesuai dengan kebutuhannya. Adalah suatu kebanggaan tersendiri apabila manusia dapat merumuskan pendidikannya dengan baik, sayangnya sampai sekarang format pendidikan yang ada belum mempunyai patokan baku dan memang seperti itu adanya, bahwa format pendidikan manusia akan selalu berubah disesuaikan dengan kebutuhannya. Oleh karena itu, dunia pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu hal yang dinamis. Bergerak terus kedepan dengan segala inofasinya untuk mendapatkan maksud yang diinginkan manusia.

Pendidikan ala barat ataupun timur sama saja, asalkan tujuan pokok dari pendidikan tidak kabur. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang disesuaikan dengan sasarannnya, karena pendidikan akan memiliki wujud yang berbeda dalam setiap tingkatannya, oleh karena itu kita mengenal adanya jenjang pendidikan. Bukan merupakan sesuatu yang baru ketika kita melihat adanya suatu konsep yang bagus tentang pendidikan, akan tetapi diletakkan tidak sesuai dengan proporsinya, maka sudah dapat dipastikan tidak akan menghasilkan buah yang maksimal.

C. Dikotomi Pendidikan

Pendidikan formal islam baru muncul setelah adanya kebangkitan madrasah Nizamiyah yang didirikan oleh wazir Nizam al - Mulk pada 1064 M. Madrasah ini berkembang pesat, yang mengakibatkan madrasah ini menjadi rujukan bagi pendidikan madrasah - madrasah diseluruh penjuru. Dengan banyaknya madrasah yang berdiri, mengakibatkan adanya dikotomi. Era dikotomik pada masa klasik islam, ditandai dengan polarisasi yang tajam antara Sunny dan Syiah, antara faksi - faksi dalam Sunny sendiri serta ekstrimisme madzhab dan aliran teologi yang berlebihan. Pada zaman sekarang dikotomi dapat terlihat dari adanya pemisahan ilmu - ilmu agama dengan ilmu umum, sehingga mempengaruhi munculnya berbagai madrasah atau sekolah yang berbasis agama atau umum saja, yang mana sistem pendidikannya pun disintegral.

Pada abad 12 - 13 M, banyak buku - buku hasil karya kaum muslimin abad klasik yang masyhur dan bagus dicopy kemudian dibawa ke Eropa barat dari invantri Mongolia yang selanjutnya diterjemahkan keberbagai bahasa; Itali, Spanyol, Catalan, dan lain - lain.[1] Mungkin ini dapat dikatakan sebagai awal dari kebangkitan barat, setelah sekian lama tertinggal jauh dari islam dan untuk selanjutnya islam yang harus belajar ke barat. Memang bukan sesuatu yang tabu, jika seorang murid dalam kemudian hari dapat mengungguli gurunya.

Sekarang ini hampir semua orang percaya bahwa pendidikan adalah jimat yang membebaskan manusia dari kemiskinan dan keterbelakangan. Schumacher menganggap pendidikan adalah sumber daya yang terbesar. Ditegaskannya, bahwa bila kita sudah tidak mempunyai kepercayaan, pendidikan adalah segala - galanya.[2] Pendidikan seperti halnya jalan yang akan menuntun manusia kapada kebenaran atas panduan akal. Dalam kehidupan manusia, hal yang paling penting setelah agama adalah pendidikan. Agama akan mengatur peri kehidupan manusia yang berlandaskan tata aturan ketuhanan berupa ayat - ayat ataupun sekumpulan nilai - nilai, sedangkan pendidikan lebih mengarah kepada adanya pendamping kehidupan untuk menafsirkan ayat -ayat dalam kehidupan, kaitannya dengan kemajuan manusia untuk dapat memenuhi kebutuhannya dan memfungsikan akal sebagaimana mestinya.

Dalam konteks pendidikan kita, terjadi dikotomi lembaga pendidikan.[3] Lembaga pendidikan agama sepenuhnya mengajarkan agama dan jika ada muatan umum itu hanya dijadikan sebagai pelengkap saja. Pesantren adalah contoh yang paling kentara dalam kehidupan masyarakat kita, sampai sekarang masih banyak pesantren yang hanya mengajarkan ilmu - ilmu agama saja dan cenderung eggan untuk sekedar mengawinkannya dengan ilmu - ilmu umum sebagai sebuah pembuktian bahwasannya semua yang berada dimuka bumi adalah bersumber dari tuhan, sehingga seringkali pesantren sangat tertinggal jauh dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan pendidikan umum lebih mengedepankan adanya keilmuan yang berbau saintifik education dan menjadikan pendidikan agama sebagai komplemen dalam kurikulumnya, sehingga yang trejadi adalah ketimpangan anak didik dalam pemenuhan kebutuhannya yang bersifat jasmani dan rohani.

Dikotomi pertama telah menenggelamkan supremasi ilmu - ilmu agama yang berjalan secara monotonic. Selain itu, dampak negatif dari adanya dikotomi ini antara lain;

  1. Arti agama telah dipersempit yaitu sejauh yang berkaitan dengan aspek teologi islam seperti yang diajarkan disekolah - sekolah selama ini.
  2. Sekolah - sekolah agama telah terkotak kubu tersendiri dan menjadi eksklusif
  3. Sumber masukan sekolah agama dan Perguruan Tinggi Agama Islam rata - rata ber - IQ rendah dan dari kelompok residual karena api keislaman mereka kurang menonjol dibanding di ITB, IPB, UGM dan sebagainya.[4]

Jika hal ini dibiarkan, maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi kekaburan dalam penyikapan terhadap agama. Agama hanya diposisikan sebagai tempat pelarian ditengah himpitan gempita keduniaan, padahal seharusnya agama dijadikan sebagai landasan pijak dalam menapaki gempita. Bagaimanapun juga dan sampai kapanpun juga manusia akan selalu membutuhkan adanya agama ditengah kehidupannya, hal ini dikarenakan banyaknya fungsi dari agama yang mengambil peran penting dalam kehidupan masyarakat.

Bukan sesuatu yang mustahil, kedepan pendidikan kita hanya mampu menciptakan manusia - manusia yang hanya berwawasan umum ( keilmuan yang berkaitan dengan kemajuan teknologi ), namun sangat rapuh dalam rohaninya. Keseimbangan antara ilmu agama dan umum sudah saatnya dirumuskan supaya dapat menciptakan manusia - manusia yang benar - benar berwawasan luas berlandaskan agama.

Menurut Ismail Raji al - Faruqi ada empat faktor yang menyebabkan umat islam mengalami kelesuan intelektual yang berhubungan dengan dikotomi, yaitu;

a.                Proses penyempitan makna fiqih serta status faqih yang jauh berbeda dengan para pendiri madzhab.

b.                Pertentangan antara wahyu dan akal.

c.                Keterpisahan antara kata dan perbuatan.

d.               Sekularisme dalam memandang budaya dan agama.[5]

Mungkin hal ini bukan menjadi tanggung jawab segelintir orang saja, melainkan semua umat islam yang masih ada dimuka bumi juga harus memikirkan akan kemajuan dari pendidikan islam. Terlepas nantinya akan terjadi adanya pembagian tugas atau akan dilaksanakan oleh sekelompok tim. Dukungan dari semua lapisan masyarakat islam sangat berpengaruh besar dalam kemajuan pendidikan, apalagi jika kita mau melihat konteks ke - Indonesiaan yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Bukan seharusnya pendidikan islam di Indonesia menjadi terlantar bahkan tidak terurus sama sekali. Namun, inilah kenyataan yang ada. Umat islam masih belum mau memikirkan dan memajukan apa yang dimilikinya dan cenderung meniru apa yang menjadi milik orang lain sebagai sebuah tren masa kini.

Dilain pihak banyak diantara para pemikir islam saling mendefinisikan dan merumuskan dampak negatif dari adanya dikotomi dalam pendidikan yang hingga saat ini masih menjadi permasalahan bersama antara lain[6]:

a.                         Muncul ambivalensi oreintasi pendidikan islam, dalam artian masih dirasakan adanya kekurangan dalam program pendidikan yang diterapkan.

b.                        Kesenjangan antara sistem pendidikan dan ajaran islam, konsep pendidikan yang ambivalen mencerminkan pandangan dikotomis, bahkan mendudukkan keduanya secara diametral.[7]

c.                       Disintegrasi sistem pendidikan islam, dapat terlihat dengan belum terbentuknya suatu konsep pendidikan yang memadukan pengetahuan agama dan umum secra harmonis.

d.                      Infioritas pengasuh lembaga pendidikan, sistem pendidikan barat masih menjadi model atau tolak ukur kemajuan, sistem pendidikan islam selalu dipandang sebagai sosok yang terbelakang.

Terlepas dari adanya penilaian salah dan benar, yang jelas pendidikan islam sampai sekarang belum menemukan format terbaiknya, dan semua yang telah menjadi penilaian mereka atas pembacaan fenomena yang ada merupakan sesuatu yang sah - sah saja. Umat islam sampai sekarang masih lelap tertidur dalam buaian keunggulan islam masa lalu yang selalu saja dibanggakan tanpa harus mau peduli bahwasannya itu hanya merupakan sejarah dan bukan sesuatu yang aktual.

D. Mencari Solusi

Pendidikan islam merupakan masalah sosial, sehingga tujuannya pun berhubungan dengan kebutuhan sosial. [8]Segala permasalahan sosial pastilah menuntut adanya pemecahan secara bersama, sehingga kemajuan pendidikan islam juga menjadi tanggung jawab semua muslim. Partisipasi mereka sangat mempengaruhi adanya laju dari perkembangan pendidikan islam, yang mana partisipasi itu dapat berupa moril maupun materil. Semua itu merupakan suatu wujud dari adanya kepedulian kita untuk memajukan pendidikan islam, sebagai sebuah warisan yang harus tetap kita jaga dan kembangkan.

Kerja sama yang apik antar semua komponen menjadi tulang punggung bagi kemajuan pendidikan islam. Merumuskan kembali akan pendidikan islam untuk selanjutnya dikawinkan dengan keilmuan umum untuk mendapatkan sintesa baru. Pembangunan pendidikan islam memang harus melalui kultur, bukannya melepaskan kultur yang telah ada, hanya takut untuk dikatakan kuno. Melihat kultur islam yang ada secara obeyektif dan mencoba menyikapinya dengan bijak adalah jalan terbaik yang dapat dilakukan untuk saat ini. pendidikan yang dapat mengakar dengan baik adalah pendidikan yang bersumber pada kultur..

Islamisasi pengetahuan bukan berarti penolakan terhadap pengetahuan modern, tetapi upaya untuk membersihkannya dari unsur - unsur sekuler dan memasukkan visi islam.[9]Islamisasi pengetahuan bukan berarti harus islam, namun lebih mengarah kepada suatu upaya memadukan secara apik semua yang ada diluar islam untuk selanjutnya dibingkai dalam kerangka islami. Modern bukanlah sesuatu yang harus dihindari. Karena sangat tidak mungkin untuk menghindari modernisasi yang digawangi oleh barat. Modernisasi akan tetap berjalan seiring dengan lajunya detikan jam, maka sangatlah tidak mungkin kita memaksa tuhan untuk sekedar menghentikan waktu barang beberapapuluh tahun saja. Tentu saja hal ini bisa, akan tetapi inilah yang dinamakan sebagai kiamat. Jika tetap harus dibiarkan untuk mengambil sikap menolak modernisasi, apakah kita tidak takut untuk dapat dikatakan sebagai manusia pemimpi, yang selalu saja membanggakan kejayaan islam dimasa lampau.

Anti barat adalah suatu tindakan yang konyol, kita harus mengakui bahwasannya mereka memang pernah belajar kepada islam, namun untuk selanjutnya mereka jauh melebihi islam dalam segala bentuknya. Apakah hal ini salah? Tentu secara ilmiah hal ini bukanlah suatu kesalahan, melainkan suatu hukum alam yang berjalan, siapa saja yang melakukan suatu pekerjaan dengan sungguh - sungguh, pastilah mereka akan menuai hasil.

Menurut Hery Noer Aly konsep pendidikan islam adalah usaha berproses yang dilakukan manusia secara sadar dalam membimbing manusia menuju kesempurnaan berdasar islam.[10]Memang sangat jelas dan tegas adanya fungsi dari pendidikan, yaitu untuk menuju kesempurnaan. Kesempurnaan akal dan budi yang memang harus dimiliki oleh manusia. Bukankan Muhammad diutus hanya untuk menyempurnakan? Manusia pada dasarnya sudah memiliki apa yang dinamakan sebagai keunggulan yaitu berupa akal. Namun yang membedakannya adalah berfungsi atau tidaknya akal mereka untuk sekedar mencerna semua yang ada.

Adapun jalan terbaik yang ditempuh dalam pembaharuan pendidikan islam antara lain; Pertama Perlu adanya pemikiran kembali tentang konsep pendidikan islam yang idealistis, yaitu pendidikan yang integralistik, humanistik, pragmatik dan berakar pada budaya yang kuat.[11] Kedua adanya kejelasan cita - cita dengan langkah - langkah yang operasional didalam usaha mewujudkan cita - cita pendidikan islam; ketiga memberdayakan kelembagaan dengan menata kembali sistemnya; keempat pendidikan islam harus mampu meningkatkan dan memperbaiki manajemen; kelima peningkatan mutu sumber daya manusia.[12]

Perumusan diatas bukanlah sebuah jaminan pasti, bahwa ketika resep tersebut dilaksanakan, maka pendidikan islam akan mengalami kejayaan. Pendidikan adalah sebuah dunia yang dinamis, semuanya dapat berubah setiap saat. Setidaknya resep diatas dapat dijadikan sebagai patokan untuk membuat sebuah landasan teori yang mapan tentang pendidikan islam yang sesuai dengan tuntutan zaman. Ketika kita sudah mempunyai sebuah landasan teori yang mapan, maka hanya diperlukan adanya pengembangan lebih jauh akan teori tersebut, yang mungkin dalam kelanjutannya dapat mencapai taraf sempurna.

E. Penutup

Permasalahan dikotomi seperti yang sedang kita alami ini sudah seharusnya disikapi dengan bijak. Jika terus saja berdebat mengenai dikotomi tanpa adanya tindakan untuk mengatasinya, maka hanya akan membuang energi saja. Pendidikan memang sesuatu yang dinamis, keberadaannya harus disikapi secara bijak dan ketelatenan diri untuk selalu mengawalnya, sehingga inofasi yang terjadi akan terarah dan sesuai dengan kebutuhan.

Islam sampai sekarang belum memiliki konsep pendidikan secara jelas. Adanya beragam teori yang yang telah diutarakan oleh para pemikir pendidikan islam sampai sekarang masih menjadi bahan kjoleksi yang belum termanfaatkan dengan baik, sehingga kemandegan pendidikan islam semakin kentara saja, yang kemudian memunculkan adanya dikotomi sebagai bentuk keterkejutan umat islam atas kemajuan barat.

Sekarang bukan saatnya untuk berdebat. Jika semua pemikir islam sudah sadar akan keadaan ini, maka hanya tindakan nyata yang dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan ini. rumuskan kembali konsep pendidikan islam secara teliti supaya dapat sedikit lebih maju dari masa lalu, sehingga ketertinggalan kita dengan barat tidak begitu dalam. Bukankah islam selalu menganjurkan untuk saling berlomba - lomba dalam melaksanakan kebaikan? kiranya pendidikan merupakan kebaikan yang sangat lebih, sehingga tidak ada alasan untuk tidak mengembangkannya lebih jauh.

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

 

 

 

1. Mehdi Nekosteen, History of Islamic Origins of Western Education; A. D. 800 - 1350, 1964 ( Colorado: University of Colorado Press)

2. Azyumardi Azra, Esei - esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam, 1998 ( Logos: Jakarta)

3. Hasbi Indra, Pendidikan Islam Melawan Globlalisasi, 2005 ( Jakarta: Ridamulia)

4. Dawam Raharjo, Bunga Rampai Pendidikan Agama Islam, 1998 ( Jakarta: Amisco )

5. Abdurrahman Masud, Dikotomi Ilmu Agama dan Non Agama: Kajian Sosio Historis Pendidikan Islam, 1999 ( Semarang: IAIN Walisongo )

6. Ikhrom, Dikotomi Sistem Pendidikan Islam, dalam Ismail, Abdul Khaliq, Nur Huda, ( Ed) Paradigma Pendidikan Islam, 2000 ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar )

7. SyafiI Maarif, Rekonsiliasi Epistemologi dalam Pendidikan Islam: Sebuah Keniscayaan, Pengantar dalam Shofan, Pendidikan berparadigma Profentik, 2004 ( Yogyakarta: Ircisod dan Gresik: UGM)

8. Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam: Lintasan Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan, 1999 ( Jakarta: Grafindo Persada )

9. Yasien Mohammed, Insan Yang Suci: Konsep Fitrah dalam Islam, 1997 ( Bandung: Mizan, )

10. Abdul Aziz, Dikotomi dalam Praktek Pendidikan Islam:Telaah Sosiologis Tentang Latar Belakang Munculnya Dikotomi, 2005 ( Yogyakarta: Tesis UIN )

11. A. Malik Fajar, Reformasi Pendidikan Islam, 1999 ( Jakarta: Yayasan Pendidikan Islam Fajar Dunia )

12. A. Malik Fajar, Madrasah dan Tantangan Modernitas, ( Bandung: Mizan )

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] Mehdi Nekosteen, History of Islamic Origins of Western Education; A. D. 800 - 1350, ( Colorado: University of Colorado Press, 1964 ) hal. 179

[2] Azyumardi Azra, Esei - esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam, ( Logos: Jakarta,1998 ) hal. 157

[3] Hasbi Indra, Pendidikan Islam Melawan Globlalisasi, ( Jakarta: Ridamulia, 2005 ) hal. 191

[4] Dawam Raharjo, Bunga Rampai Pendidikan Agama Islam ( Jakarta: Amisco, 1998 ) hal. 21

[5] Abdurrahman Masud, Dikotomi Ilmu Agama dan Non Agama: Kajian Sosio Historis Pendidikan Islam, ( Semarang: IAIN Walisongo, 1999 ) hal. 1

[6] Ikhrom, Dikotomi Sistem Pendidikan Islam, dalam Ismail, Abdul Khaliq, Nur Huda, ( Ed) Paradigma Pendidikan Islam, ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000 ) hal. 87 - 88

[7] SyafiI Maarif, Rekonsiliasi Epistemologi dalam Pendidikan Islam: Sebuah Keniscayaan, Pengantar dalam Shofan, Pendidikan berparadigma Profentik, ( Yogyakarta: Ircisod dan Gresik: UGM, 2004 ) hal. 5

[8] Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam: Lintasan Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan, ( Jakarta: Grafindo Persada, 1999 ) hal. 127

[9] Yasien Mohammed, Insan Yang Suci: Konsep Fitrah dalam Islam, ( Bandung: Mizan, 1997 ) hal. 155

[10] Abdul Aziz, Dikotomi dalam Praktek Pendidikan Islam:Telaah Sosiologis Tentang Latar Belakang Munculnya Dikotomi, ( Yogyakarta: Tesis UIN, 2005 ) hal. 37

[11] A. Malik Fajar, Reformasi Pendidikan Islam, ( Jakarta: Yayasan Pendidikan Islam Fajar Dunia, 1999 ) hal. 37

[12] A. Malik Fajar, Madrasah dan Tantangan Modernitas, ( Bandung: Mizan, 1998 ) hal. 13