TEORI BATAS /NAZARIYATUL HUDUD/ THE THEORY OF LIMITS SYAHRUR

Konstruksi Teori Batas Syahrr

Dengan menggunakan metode linguistik, Syahrr kemudian membangun teori batas, yang didasarkan atas pemahaman terhadap dua istilah yakni al-hanf dan al-istiqmah. Menurut Syahrr, kata al-hanf berasal dari kata hanafa yang dalam bahasa Arab berarti bengkok, melengkung (hanafa); atau bisa pula dikatakan untuk orang yang berjalan di atas dua kakinya (ahnafa) dan atau berarti orang yang bengkok kakinya (hanufa). Adapun kata istiqmah, berasal dari kata qaum yang memiliki dua arti: (1) berdiri tegak (al-intishb) dan atau kuat (al-azm). Berasal dari kata al-intishb ini muncul kata al-mustaqm dan al-istiqmah, lawan dari melengkung (al-inhirf); sedangkan dari al-azm, muncul kata al-dn al-qayym (agama yang kuat dalam kekuasaannya).[1]

Analisa-analisa linguistik terhadap term al-hanafiyyah dan al-istiqmah inilah yang akhirnya mengantarkan pada sebuah ayat dalam Q.S. 6: 161, yang memaparkan tiga term pokok: al-dn al-qayym, al-mustaqm, dan al-hanf, yang nampak sekilas bertentangan, karena memadukan dua hal yang sifatnya kontradiktif.[2]

Setelah menganalisa Q.S. 6: 79, Syahrr memperoleh pemahaman bahwa al-hunaf adalah sifat alami dari seluruh alam.[3] Langit, bumi, dan bahkan elektron yang terkecil sekalipun sebagai bagian dari kosmos, bergerak dalam garis lengkung. Tidak ada dari tata alam itu yang tidak bergerak melengkung. Sifat inilah yang menjadikan tata kosmos itu menjadi teratur dan dinamis. Al-dn al-hanf, dengan demikian, adalah agama yang selaras dengan kondisi ini karena al-hanf merupakan pembawaan yang bersifat fitriah. Manusia, sebagai bagian dari alam materi, juga memiliki sifat pembawaan fitriah ini.

Sejalan dengan fitrah alam tersebut, dalam aspek hukum juga terjadi. Realitas masyarakat senantiasa bergerak secara harmonis dalam wilayah tradisi sosial, kebiasaan, atau adat. Oleh karena itu, al-shirt al-mustaqm, adalah sebuah keniscayaan untuk mengontrol dan mengarahkan perubahan tersebut. Itulah kenapa dalam al-Qurn tidak akan pernah ditemui ihdin ila al-hanafiyyah melainkan ihdin al-shirth al-mustaqm, karena memang al-hanafiyyah adalah merupakan fitrah. Dengan demikian, al-shirt al-mustaqm menjadi batasan ruang gerak dinamika manusia dalam menentukan hukum.

Berangkat dari dua kata kunci di atas, Syahrr kemudian merumuskan teorinya yang banyak memancing kontroversi, yaitu teori batas (nazhariyyah al-hudd). Syahrr menggambarkan hubungan antara al-hanafiyyah dan al-istiqmah, bagaikan kurva dan garis lurus yang bergerak pada sebuah matriks. Sumbu X menggambarkan zaman atau konteks waktu dan sejarah. Sumbu Y sebagai undang-undang yang ditetapkan Allah swt. Kurva (al-hanafiyyah) menggambarkan dinamika, bergerak sejalan dengan sumbu X. Namun gerakan itu dibatasi dengan batasan hukum yang telah ditentukan Allah SWT (sumbu Y). Dengan demikian, hubungan antara kurva dan garis lurus secara keseluruhan bersifat dialektik, yang tetap dan yang berubah senantiasa saling terkait. Dialektika adalah kemestian untuk menunjukkan bahwa hukum itu adaptable terhadap konteks ruang dan waktu. Syahrr kemudian mengenalkan apa yang disebutnya sebagai teori batas. Ia mengatakan bahwa Allah telah menetapkan konsep-konsep hukum yang maksimum dan yang minimum, al-istiqmah (straightness), dan manusia bergerak dari dua batasan tersebut, al-hanafiyyah (curvature).[4]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TEORI BATAS SYAHRUR

Teori 1: Teori Batas Minimal

 
 

 

 

 

 

 

 


Contoh:

Ketentuan hukum yang hanya memiliki batas bawah (hlatu al-hadd al-adn). Ini misalnya berlaku pada ayat tentang perempuan-perempuan yang tidak boleh dinikahi (Q.S 4: 22-23), berbagai jenis makanan yang diharamkan (Q.S. 5: 3; 6: 145-156), utang-piutang (Q.S. 2: 283-284), dan tentang pakaian wanita (Q.S. 4: 31).[5]

 

Teori 2: Teori Batas Maksimal

 

 

 

 

 

 


Contoh:

Ketentuan hukum yang hanya memiliki batas atas (hlatu al-hadd al-al). Ini berlaku pada tindak pidana pencurian (Q.S 5: 38) dan pembunuhan (Q.S 17: 33; Q.S. 2: 178; Q.S 4: 92).[6]

 

 

 

 

 

Teori 3: Teori Batas Maksimal dan Minimal Bersamaan (sekaligus)

 

 

 

 

 

 

 


Contoh:

Ketentuan hukum yang memiliki batas atas dan batas bawah sekaligus (hlatu al-hadd al-adn wa al-hadd al-al man). Ini misalnya terjadi pada persoalan hukum waris (Q.S. 4: 11-14, 176) dan persoalan poligami (Q.S. 4: 3).[7]

 

Teori 4: Teori Posisi dan Batas Lurus

 

 

 

 

 

 

 


Contoh:

Ketentuan hukum yang memiliki batas atas dan bawah sekaligus tapi dalam satu titik koordinat (hlatu al-hadd al-adn wa al-hadd al-al man al nuqthati whidah). Ini berarti tidak ada alternatif hukum lain, tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih dari yang ditentukan. Ini berlaku pada hukuman zina, yaitu seratus kali jilid (Q.S 24: 2).[8]

 

 

 

 

 

 

 

Teori 5: Teori Batas Maksimal Cenderung Mendekati tanpa bersentuhan

 

 

 

 

 

 


Contoh;

Ketentuan hukum yang memiliki batas atas dengan satu titik yang cenderung mendekati garis lurus tapi tidak ada persentuhan (hlatu al-hadd al-al bikhath maqrib al-mustaqm). Ini berlaku pada hubungan pergaulan laki-laki dan perempuan yang dimulai dari saling tidak menyentuh sama sekali antara keduanya hingga hubungan yang hampir (mendekati) zina.[9]

 

Teori 6: Teori Batas Maksimal Positif dan Posisi Batas Minimal Negatif

 

 

 

 

 


Titik Balik Minimum

 

 

 

Contoh:

Ketentuan hukum yang memiliki batas atas positif dan tidak boleh dilampaui dan batas bawah negatif yang boleh dilampaui (hlatu al-hadd al-al mjabun wa al-hadd al-adn slibun). Hal ini berlaku pada hubungan kebendaan sesama manusia. Batas atas yang bernilai positif berupa riba sementara zakat sebagai batas bawahnya bernilai negatif boleh dilampaui.[10]

 

 

 

 

Keenam model teori batas yang dikemukakan Syahrr, nampaknya sangat terkait dengan latar belakang pendidikannya di bidang sains. Dalam khazanah pemikiran Islam, pemikiran Syahrr tersebut merupakan sesuatu yang baru dan nampaknya belum ada pendahulunya. Secara umum, bisa ditangkap bahwa dengan fleksibilitas Islam berdasarkan model teori batas, Syahrr bermaksud untuk menyatakan bahwa ayat-ayat al-Qurn, senantiasa relevan pada setiap situasi dan kondisi, dan Islam merupakan agama terakhir dan bersifat universal yang ditujukan kepada seluruh umat manusia.

 



[1]Lihat Syahrr, 1990, al-Kitb, hal. 447.

[2]Redaksi ayat 6: 161 itu selengkapnya berbunyi: Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus (shirt mustaqm), (yaitu) agama yang benar (dnan qiyaman); agama Ibrahim yang lurus (millata Ibrhm hanfan); dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik."

[3]Redaksi ayat 6: 79 berbunyi: "Sesungguhnya aku menghdapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar (hanfan), dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan."

[4]Lihat Syahrr, 1990, al-Kitb, hal. 450-452. Lihat juga Hallaq, 1997, A History of, hal. 247-248.

[5]Lihat Syahrr, 1990, al-Kitb wa al-Qurn. op.cit, hal. 453-455.

[6]Ibid., hal. 455-457.

[7]Ibid., hal. 457-462.

[8]Ibid., hal. 463.

[9]Ibid., hal. 464

[10]Ibid.