MENCERMATI ADANYA DIKOTOMI PENDIDIKAN

DALAM ISLAM

A. Pendahuluan

Banyak orang yang berpendapat bahwasannya pendidikan merupakan suatu modal utama untuk dapat menjadikan kelangsungan hidup manusia dapat terjaga. Oleh karena itu dalam kenyataannya, para pendidik cenderung untuk selalu melakukan inofasi dalam menciptakan formula baru agar pendidikan benar - benar dapat menghasilkan buah yang maksimal. Pendidikan adalah masalah sosial, maka perkembangannya akan senantiasa mengikuti perkembangan manusia. Semakin maju pendidikan manusia, maka hal ini dapat dijadikan pertanda bahwa peradaban yang tercipta akan semakin kompleks dan kebutuhan manusia yang muncul juga akan lebih kompleks dan tentunya membutuhkan pemenuhan yang semakin komplek pula, walaupun harus dibarengi dengan adanya kemunculan kebutuhan baru yang lebih rumit dan pelik, baik untuk menciptakannya maupun untuk mendapatkannya.

Islam hadir sebagai agama yang sarat dengan makna. Ajarannya banyak mengandung misteri keilmuan yang sangat luas dan dibutuhkan adanya ketelitian yang lebih untuk mendapatkan sesuatu yang baru. Kesemuanya itu termaktub dalam ayat - ayat al -quran yang bersifat mujmal. Ayat pertama turun berupa perintah untuk membaca. Dan jika kita mau mencermati lebih dalam dari kandungan ayat ini, bahwasannya pendidikan merupakan sesuatu yang utama, karenanya setiap manusia dalam mengawali menapak kehidupan dunia harus dimulai dengan belajar. Dalam kenyataannya memang demikian. Manusia harus belajar berjalan untuk dapat berjalan dengan tegap, manusia belajar makan untuk dapat makan dengan sopan, sampai akhirnya manusia harus belajar banyak dari kehidupan untuk dapat menjadikan ia sosok yang arif dan bijaksana.

Hadits nabi yang yang berbunyi:

Mencari ilmu adalah wajib hukumnya bagi setiap muslim lelaki maupun perempuan. Ataupun carilah ilmu walau sampai kenegri Cina dan Barang siapa mengharapkan dunia, maka harus menguasai ilmunya. Barang siapa mengharapkan akherat, maka harus menguasai ilmunya dan barang siapa mengharapkan keduanya, maka harus menguasai kedua ilmu tersebut .

Kiranya pemahaman ketiga hadits diatas cukup representatif bagi umat islam untuk dijadikan cambuk yang kuat dalam menapaki kehidupan. Maju ataupun mundurnya umat islam sangat tergantung kepada sejauh mana usaha yang mereka lakukan. Pendidikan akan mengantar manusia kepada jenjang yang lebih tinggi dari pada sebelumnya, jika mereka mau mengelolanya dengan baik.

Adanya kerancuan pemakanaan pendidikan yang selama ini terjadi, memanglah menjadi sesuatu yang dilematis. Muasal dari adanya pemilahan keilmuan menjadi barang misteri yang masih simpang siur kejelasannya. Mengapa umat islam masih saja berkutat pada suatu pilihan? Bukankah sudah sangat jelas keterangan dari nabi diatas? Robbana Aatina Fiddunya Khasanah Wafil Aakhiroti Khasanah mungkin doa ini kurang merasuk kedalam jiwa - jiwa umat islam, sehingga menjadikan dikotomi pendidikan selama ini masih menjadi masalah.

B. Dikotomi Pendidikan

Pendidikan formal islam baru muncul setelah adanya kebangkitan madrasah Nizamiyah yang didirikan oleh wazir Nizam al - Mulk pada 1064 M. Madrasah ini berkembang pesat, yang mengakibatkan madrasah ini menjadi rujukan bagi pendidikan madrasah - madrasah diseluruh penjuru. Dengan banyaknya madrasah yang berdiri, mengakibatkan adanya dikotomi. Era dikotomik pada masa klasik islam, ditandai dengan polarisasi yang tajam antara Sunny dan Syiah, antara faksi - faksi dalam Sunny sendiri serta ekstrimisme madzhab dan aliran teologi yang berlebihan. Pada zaman sekarang dikotomi dapat terlihat dari adanya pemisahan ilmu - ilmu agama dengan ilmu umum sehingga mempengaruhi munculnya berbagai madrasah atau sekolah yang berbasis agama atau umum saja, yang mana sistem pendidikannya pun disintegral.

Pada abad 12 - 13 M, banyak buku - buku hasil karya kaum muslimin abad klasik yang masyhur dan bagus dicopy kemudian dibawa ke Eropa barat dari invantri Mongolia yang selanjutnya diterjemahkan keberbagai bahasa; Itali, Spanyol, Catalan, dan lain - lain.[1]Inilah konon yang menajdi titik awal dari kebangkitan barat dari masa kegelapannya, untuk selanjutnya menuju masa pencerahan, hingga masa modern seperti saat ini.

Sekarang ini hampir semua orang percaya bahwa pendidikan adalah jimat yang membebaskan manusia dari kemiskinan dan keterbelakangan. Schumacher menganggap pendidikan adalah sumber daya yang terbesar. Ditegaskannya, bahwa bila kita sudah tidak mempunyai keprcayaan, pendidikan adalah segala - galanya.[2] Pendidikan menjadi ruh tersendiri dalam kehidupan manusia. Pendidikan dapat menciptakan kehidupan, namun pendidikan juga dapat membuat liang kubur bagi manusia jika disalah fungsikan.

Pegetahuan merupakan sesuatu yang harus dikembangkan dalam kehidupan sosial, tanpa harus membedakan warna ataupun muasal dari pengetahuan itu muncul. Hal ini sangat terkait erat dengan adanya upaya pemenuhan kebutuhan manusia yang mana berhubungan langsung dengan dunia pengetahuan. Dunia barat tidak pernah memilah pengetahuan yang berasal dari dunia islam ketika dulu mereka mengawali kebangkitannya, kecuali dalam hal - hal aqidah. Pengetahuan yang bernuansa aqidah hanya dijadikan sebagai pengetahuan tambahan saja, karena mereka memang sudah memiliki aqidah sendiri yang sudah begitu mengakar.

Lembaga - lembaga pendidikan sebagai wahana penyebaran pengetahuan terus saja lahir dengan mengambil corak dan ragamnya masing - masing. Memang benar untuk memelihara suatu keilmuan secara utuh dibutuhkan suatu wadah tersendiri. Merawat dan mengembangkannya lebih jauh, sehingga dapat eksis sepanjang masa. Tentunya dengan menggunakan sedikit modifikasi dari prinsip - prinsip dasar yang telah disepakati bersama.

Dalam konteks pendidikan kita, terjadi dikotomi lembaga pendidikan.[3] Lembaga pendidikan agama sepenuhnya mengajarkan agama dan jika ada muatan umum itu hanya dijadikan sebagai pelengkap saja. Memang hal ini menjadi sesuatu yang harus disikapi dengan lebih bijak, mengingat kelangsungan hidup manusia sangat tergantung dari adanya pendidikan yang memadai dan sesuai dengan tuntutan zaman.

Dikotomi pertama telah menenggelamkan supremasi ilmu - ilmu agama yang berjalan secara monotonic. Selain itu, dampak negatif dari adanya dikotomi ini antara lain;

  1. Arti agama telah dipersempit yaitu sejauh yang berkaitan dengan aspek teologi islam seperti yang diajarkan disekolah - sekolah selama ini.
  2. Sekolah - sekolah agama telah terkotak kubu tersendiri dan menjadi eksklusif
  3. Sumber masukan sekolah agama dan Perguruan Tinggi Agama Islam rata - rata ber - IQ rendah dan dari kelompok residual karena api keislaman mereka kurang menonjol dibanding di ITB, IPB, UGM dan sebagainya.[4]

Menurut Ismail Raji al - Faruqi ada empat faktor yang menyebabkan umat islam mengalami kelesuan intelektual yang berhubungan dengan dikotomi, yaitu;

a.                Proses penyempitan makna fiqih serta status faqih yang jauh berbeda dengan para pendiri madzhab.

b.                Pertentangan antara wahyu dan akal.

c.                Keterpisahan antara kata dan perbuatan.

d.               Sekularisme dalam memandang budaya dan agama.[5]

Dampak negatif dari adanya dikotomi dalam pendidikan hingga saat ini masih menjadi permasalahan bersama antara lain[6]:

a.                         Muncul ambivalensi oreintasi pendidikan islam, dalam artian masih dirasakan adanya kekurangan dalam program pendidikan yang diterapkan.

b.                        Kesenjangan antara sistem pendidikan dan ajaran islam, konsep pendidikan yang ambivalen mencerminkan pandangan dikotomis, bahkan mendudukkan keduanya secara diametral.[7]

c.                       Disintegrasi sistem pendidikan islam, dapat terlihat dengan belum terbentuknya suatu konsep pendidikan yang memadukan pengetahuan agama dan umum secara harmonis.

d.                      Infioritas pengasuh lembaga pendidikan, sistem pendidikan barat masih menjadi model atau tolak ukur kemajuan, system pendidikan islam selalu dipandang sebagai sosok yang terbelakang.

Menjadi suatu keprihatinan bersama, bahwasannya keadaan ini sampai sekarang masih menjadi kendala tersendiri bagi adanya kebangkitan pendidikan islam selama ini. Keraguan untuk melangkah yang diakibatkan dari adanya sebagian para ulama muslim yang masih anti terhadap keilmuan barat. Sifat keengganan dunia muslim untuk sekedar berguru kepada barat begitu kuat mengakar, sehingga memunculkan sebuah stigma bahwa semua yang keluar dari barat adalah haram hukumnya.

Beragam buku yang ditelorkan oleh sebagian sarjana muslim yang membahas tentang bentuk dikotomi dan akibat yang ditimbulkannya, seakan tidak memberikan pengaruh yang signifikan untuk menggerakkan para sarjana muslim memperbaiki ketertinggalan mereka. Kita perlu merenungkan kembali tentang sejarah masa lampau, bahwasannya islam tumbuh dan berkembang dalam segala bentuknya, berawal dari adanya ekspansi yang dilakukan mulai zaman Muhammad, beragam buku diterjemahkan, beragam ilmu dipelajari yang sebagian keimuan itu berasal dari barat. Setelah islam jatuh, barat yang dulu berguru kepada islam sekarang bangkit menjadi penerus kemajuan islam. Jadi sangat tidak beralasan ketika kita menolak dan tidak mau belajar dari barat.

C. Solusi Dikotomi

Pendidikan islam merupakan masalah sosial, sehingga tujuannya pun berhubungan dengan kebutuhan sosial.[8]Pemecahan yang terjadi dan bijak sudah seharusnya dirumuskan oleh semua lapisan masyarakat sosial, karena tanggung jawab dari adanya kemajuan ataupun kemunduran pendidikan islam menjadi tanggung jawab bersama dan bukan sebagian muslim saja. Jika para pemikir pendidikan islam abad ke 13 telah bekerja keras untuk membuat patokan bahan ajar, maka menjadi tugas kita untuk merumuskannya lebih jauh.

Pendidikan islam bukan tanggung jawab sebagian muslim saja, melainkan tanggung jawab semua masyarakat muslim yang terlibat dalam proses pendidikan. Adanya budaya saling lempar tanggung jawab merupakan sesuatu yang sudah seharusnya ditinggalkan demi terwujudnya pendidikan yang memadai, terarah dan maju yang pada akhirnya dapat menghasilkan buah yang membanggakan.

Dalam islam dikenal adanya kerja sama. Dalam islam dikenal juga adanya anjuran untuk saling berlomba - lomba dalam kebaikan. Jika pendidikan dikatakan sebagi sesuatu yang baik, mengapa kita sebagai umat islam tidak berlomba - lomba dalam memajukan pendidikan?. Memang hal ini menjadi suatu pertanyaan besar. Disaat kebanyakan orang islam masih ternina bobokkan dengan kebesaran islam zaman dulu, sehingga sangat sulit untuk sekedar bangun dari alam khayali yang terus membelenggu, ternyata dunia lain sudah beribu tapak lebih maju, yang konon, dulu belajar dari islam. Bangun dan bekerja adalah dua kata yang pas untuk saat ini, mengejar ketertinggalan dan menggapai kejayaan yang dulu pernah dicapai.

Perdebatan antara umat islam yang pro barat dengan yang menolak barat memang masih menjadi keprihatinan bersama. Kiranya kita tidak perlu untuk malu belajar dari murid. Memang barat dulu belajar dari islam, namun sekarang mereka jauh lebih maju dalam segala hal. Bukankah budaya islam juga mengajarkan bahwasannya para guru akan sangat bangga jika melihat muridnya jauh lebih pandai dari pada sang guru sendiri? dan pernyataan Ali bin Abi Thalib sangatlah jelas dalam pengambilan maksudnya yaitu aku adalah budak seseorang yang telah mengajariku walau satu huruf saja, terserah baginya apakah akan menjualku atau akan membebaskanku hal ini menandaskan bahwasannya kita tidak perlu lagi memilah guru dari mana asalnya, yang terpenting adalah dia memiliki hal yang berguna bagi umat islam, maka layaklah dia untuk dijadikan guru. Bahkan nabi pernah membebaskan tawanan perang bukan islam jika mereka mampu mengajarkan ilmu yang bermanfaat bagi umat islam.

Islamisasi pengetahuan bukan berarti penolakan terhadap pengetahuan modern, tetapi upaya untuk membersihkannya dari unsur - unsur sekuler dan memasukkan visi islam.[9]Namun yang terjadi adalah anti keilmuan diluar islam. Pengetahuan modern bukanlah sesuatu yang harus dihindari, dan pengetahuan islam merupakan sesuatu yang harus dikembangkan. Apabila keduanya dapat dipadukan sehingga dapat menghasilkan suatu sintesa pendidikan baru, mungkin pendidikan islam pada khususnya dan dunia islam pada umumnya akan dapat lebih cepat dalam melakukan kebangkitannya.

Menurut Hery Noer Aly konsep pendidikan islam adalah usaha berproses yang dilakukan manusia secara sadar dalam membimbing manusia menuju kesempurnaan berdasar islam.[10]Kesempurnaan islami yang berlandaskan keimanan dan ketaqwaan kuat kepada allah. Sehingga dalam menapaki dan mengamalkan keilmuan dapat benar - benar mempunyai asas manfaat secara menyeluruh.

Adapun jalan terbaik yang ditempuh dalam pembaharuan pendidikan islam antara lain; Pertama Perlu adanya pemikiran kembali tentang konsep pendidikan islam yang idealistis, yaitu pendidikan yang integralistik, humanistik, pragmatik dan berakar pada budaya yang kuat.[11] Kedua adanya kejelasan cita - cita dengan langkah - langkah yang operasional didalam usaha mewujudkan cita - cita pendidikan islam; ketiga memberdayakan kelembagaan dengan menata kembali sistemnya; keempat pendidikan islam harus mampu meningkatkan dan memperbaiki manajemen; kelima peningkatan mutu sumber daya manusia.[12]

suatu usaha memang membutuhkan adanya kejelian dan keuletan untuk dapat memeproleh hasil yang memuaskan. bukanlah salah konsep yang diterapkan, akan tetapi kejelian dan keuletan kita dalam menjalankan suatu konsep dituntut untuk diberikan porsi yang lebih. Sebaik apaun konsep yang ditawarkan untuk memecah dikotomi pendidikan ini, hanya akan menghasilkan kehambaran, tanpa didasari sebuah kesepakatan bersama, bahwasannya kita ingin setapak lebih maju.

D. Penutup

Dikotomi akan masih menjadi hantu yang terus membayangi kehidupan pendidikan islam, selagi tidak ditemukannya formula yang mampu membangkitkan semangat kaum muslim untuk keluar dari anya jurang kemunduran. Perdebatan yang terus saja terjadi dikalangan banyak ulama muslim, mungkin telah menjadikan keraguan tersendiri bagi sebagian sarjana muslim untuk merumuskan lebih jauh patokan patokan dasar tentang pendidikan islam yang pernah ditelorkan oleh para pemikir pendidikan islam.

Untuk bisa keluar dari kemelut dikotomi ini, yang dibutuhkan oleh umat islam hanyalah sebuah kata sepakat, bahwa mereka ingin memajukan dirinya setapak atau seribu tapak untuk dapat kembali menjadi khoiru ummah. Jika kata sepakat saja sulit diperoleh, maka sudah dipastikan kemandegan berpikir umat islam dalam pendidikan akan menjadi sebuah dilema yang tidak berujung.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

 

 

 

1. Mehdi Nekosteen, History of Islamic Origins of Western Education; A. D. 800 - 1350, 1964 ( Colorado: University of Colorado Press)

2. Azyumardi Azra, Esei - esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam, 1998 ( Logos: Jakarta)

3. Hasbi Indra, Pendidikan Islam Melawan Globlalisasi, 2005 ( Jakarta: Ridamulia)

4. Dawam Raharjo, Bunga Rampai Pendidikan Agama Islam, 1998 ( Jakarta: Amisco )

5. Abdurrahman Masud, Dikotomi Ilmu Agama dan Non Agama: Kajian Sosio Historis Pendidikan Islam, 1999 ( Semarang: IAIN Walisongo )

6. Ikhrom, Dikotomi Sistem Pendidikan Islam, dalam Ismail, Abdul Khaliq, Nur Huda, ( Ed) Paradigma Pendidikan Islam, 2000 ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar )

7. SyafiI Maarif, Rekonsiliasi Epistemologi dalam Pendidikan Islam: Sebuah Keniscayaan, Pengantar dalam Shofan, Pendidikan berparadigma Profentik, 2004 ( Yogyakarta: Ircisod dan Gresik: UGM)

8. Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam: Lintasan Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan, 1999 ( Jakarta: Grafindo Persada )

9. Yasien Mohammed, Insan Yang Suci: Konsep Fitrah dalam Islam, 1997 ( Bandung: Mizan, )

10. Abdul Aziz, Dikotomi dalam Praktek Pendidikan Islam:Telaah Sosiologis Tentang Latar Belakang Munculnya Dikotomi, 2005 ( Yogyakarta: Tesis UIN )

11. A. Malik Fajar, Reformasi Pendidikan Islam, 1999 ( Jakarta: Yayasan Pendidikan Islam Fajar Dunia )

12. A. Malik Fajar, Madrasah dan Tantangan Modernitas, ( Bandung: Mizan )

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] Mehdi Nekosteen, History of Islamic Origins of Western Education; A. D. 800 - 1350, ( Colorado: University of Colorado Press, 1964 ) hal. 179

[2] Azyumardi Azra, Esei - esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam, ( Logos: Jakarta,1998 ) hal. 157

[3] Hasbi Indra, Pendidikan Islam Melawan Globlalisasi, ( Jakarta: Ridamulia, 2005 ) hal. 191

[4] Dawam Raharjo, Bunga Rampai Pendidikan Agama Islam ( Jakarta: Amisco, 1998 ) hal. 21

[5] Abdurrahman Masud, Dikotomi Ilmu Agama dan Non Agama: Kajian Sosio Historis Pendidikan Islam, ( Semarang: IAIN Walisongo, 1999 ) hal. 1

[6] Ikhrom, Dikotomi Sistem Pendidikan Islam, dalam Ismail, Abdul Khaliq, Nur Huda, ( Ed) Paradigma Pendidikan Islam, ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000 ) hal. 87 - 88

[7] SyafiI Maarif, Rekonsiliasi Epistemologi dalam Pendidikan Islam: Sebuah Keniscayaan, Pengantar dalam Shofan, Pendidikan berparadigma Profentik, ( Yogyakarta: Ircisod dan Gresik: UGM, 2004 ) hal. 5

[8] Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam: Lintasan Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan, ( Jakarta: Grafindo Persada, 1999 ) hal. 127

[9] Yasien Mohammed, Insan Yang Suci: Konsep Fitrah dalam Islam, ( Bandung: Mizan, 1997 ) hal. 155

[10] Abdul Aziz, Dikotomi dalam Praktek Pendidikan Islam:Telaah Sosiologis Tentang Latar Belakang Munculnya Dikotomi, ( Yogyakarta: Tesis UIN, 2005 ) hal. 37

[11] A. Malik Fajar, Reformasi Pendidikan Islam, ( Jakarta: Yayasan Pendidikan Islam Fajar Dunia, 1999 ) hal. 37

[12] A. Malik Fajar, Madrasah dan Tantangan Modernitas, ( Bandung: Mizan, 1998 ) hal. 13