WASIAT-WASIAT RASULULLAH

DAN

KHULAFAURRASYIDIN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Karya              : ABDUL HAMID SYAKIR

Tahun              : 1994 M/1415 H

Penerbit           : JARRUS YARSI

Penerjemah      : ACHMAD MACHRUS MUTTAQIN, S. FIL. I

Tahun              : 2008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mukaddimah

 

            Segala puji bagi Allah yang telah mengirim seorang utusan untuk memberikan kabar gembira dan peringatan supaya tidak ada alasan untuk mengingkari bagi manusia terhadap Allah setelah kerasulan, shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Rasul yang dapat dipercaya dan juga kepada keluarga, serta shahabatnya.

            Allah berfirman dalam dalam Al-Qur’an:

Artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” [1]

            Ini adalah pemberian yang agung, berupa waktu bagi mereka orang-orang yang merugi kecuali orang-orang yang mempertebal iman, memperbanyak amal perbuatan baik, sebagian dari mereka berwasiat terhadap yang lain dengan perkara yang haq dan baik, beribadah kepada Tuhan yang satu, senantiasa menjalankan ketaatan, meninggalkan yang diharamkan, sabar atas segala macam cobaan.

            Rasulullah SAW adalah tauladan yang harus diikuti, dalam keikhlasannya, perjuangannya, kesabarannya, dia adalah contoh yang mulia.

Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.[2]

            Dalam semua perkataan dan perbuatannya. Dia tidak berkata dan juga tidak melakukan perbuatan menurut hawa nafsunya, akan tetapi dari wahyu. Dalam Al-Qur’an disebutkan:

Artinya: Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).[3]

            Wajib bagi kita untuk mengikuti jalannya dan menapakinya. Tidak diberikan kepada Rasulullah kecuali sesuatu yang benar, dia adalah seorang pendidik, seorang dermawan, seorang pemberi petunjuk agama dari Allah secara keseluruhan.

Artinya: Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikitpun) karena sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.[4]

            Taat kepada Rasulullah adalah sebuah kewajiban, karena Rasulullah menyampaikan dari Allah dan Allah telah memberikan penyemangat untuk taat kepada Rasulullah dengan firman-Nya:

Artinya: Barangsiapa yang menta`ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta`ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta`atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.[5]

               Seperti halnya Allah telah mewajibkan untuk mentaatinya dengan berfirman:

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.[6]

            Ketaatan ini wajib hukumnya seperti halnya wajibnya mentaati wasiat para Nabi dan Rasul sebelumnya.

Artinya: Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya`qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam".[7]

Artinya: Dia telah mensyari`atkan kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama) -Nya orang yang kembali (kepada-Nya).[8]

Artinya: Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir, maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.[9]

               Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Irbad bin Sariyyah berkata:

               “Suatu hari Rasulullah pernah menasehatiku setelah melaksanakan shalat shubuh dengan nasehat yang sempurna, niscaya mata akan meneteskan air mata atas nasehat itu dan juga hati akan merasa takut atas nasehat itu. Lalu berkatalah seorang laki-laki bahwa nasehat ini adalah nasehat pada pidato perpisahan. Apakah yang hendak anda wasiatkan kepadaku wahai Rasulullah? Lalu Nabi bekata: aku berwasiat kepadamu sekalian untuk bertaqwa kepada Allah, mendengar dan mentaatinya. Jika yang memerintahkan kepada kalian semua itu adalah seorang hamba sahaya, dan ia adalah orang yang hidup diantara kalian, maka lihatlah kelak akan terjadi banyak perbedaan, maka wajib bagi kalian semua untuk senantiasa berpegang kepada sunnahku dan juga sunnah khulafaurrasyidin yang telah diberikan hidayah kepadanya. Berpeganglah kalian semua kepada sunnahku dengan teguh, dan wajib bagi kalian semua para pembaharu, karena setiap sesuatu yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap yang sesat pasti akan masuk neraka”[10]

            Dari sini, maksud dari penulisan buku ini adalah mengumpulkan wasiat-wasiat Rasulullah dan khulafaurrasyidin, semoga Allah merahmati mereka semua.

            Aku ingin membuat sesuatu yang baru, yang dapat dijadikan lentera dan juga contoh yang dapat menjaga umat Islam, semoga rahmat salam senantiasa tercurah kepada para utusan. Segala puji bagi Allah tuhan seru sekalian alam.

 

 

ABDUL HAMID SYAKIR

   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

WASIAT-WASIAT RASUL

 

“Allah memberikan wasiat kepadaku sembilan perkara, dan aku wasiatkan sembilan perkara ini kepada kalin semua: Allah berwasiat kepadaku untuk ikhlas dalam keadaan sepi ataupun dalam keadaan ramai, bersikap adil dalam keadaan lapang ataupun marah, sederhana dalam keadaan kaya ataupun miskin, aku mengampuni orang yang berbuat aniaya kepadaku, aku memberi sesuatu kepada orang yang membenciku, aku menyambung hubungan kepada orang yang telah memutuskannya, diamku adalah berfikir, perkataanku adalah dzikir, pemikiranku adalah perenungan”[11]  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BIOGRAFI MUHAMMAD

 

            Dia adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim, dari suku Quraisy, keturunan Adnan salah satu putra Isma’il bin Ibrahim (53 SH/571 M-11 H/633 M) yang menjadi nabi bagi orang Arab, pendiri dari negara Islam, peletak dasar peradaban Islam, pemersatu masyarakat Arab, pembaharu kehidupan masyarakat Arab dalam bidang politik dan hukum, bapak dari sayyid Qosyim (semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah kepadanya).

            Muhammad dilahirkan di Makkah, tumbuh dan berkembang dalam keadaan yatim. Ibunya, Aminah binti Wahab telah mendidiknya dan meninggal saat usianya baru enam tahun. Lalu kakeknya, Abdul Muthalib mengasuhnya dan beliau meninggal setelah mengasuhnya selama dua tahun. Lalu pamannya, Abu Thalib mengasuhnya dan dia tumbuh menjadi seorang yang pemberani dan bercita-cita tinggi, dapat dipercaya, berakhlak mulia, sempurna akalnya, orang-orang menjulukinya sebagai al-Amin.  

            Ketika usianya menginjak dua puluh lima tahun, pamannya menikahkan Muhammad dengan Khadijah binti Khuwailid al-Asdiyah al-Qarsyiyyah. Dia adalah seorang wanita yang usianya lebih tua lima belas tahun, dia seorang wanita yang kaya. Sebelum menikah dengan Muhammad, dia sempat mengirim Muhammad untuk berdagang ke Syam, Muhammad berhasil dan memperoleh keuntungan.   

Ketika usia Muhammad menginjak empat puluh tahun, mulailah ia mengalami mimpi yang benar (Arru’ya As-Shadiqah) yang menjadikannya suka untuk menyepi, dia melakukannya satu bulan dalam setiap tahun di gua Hira (suatu tempat dekat Makkah) untuk beribadah (seperti yang dilakukan oleh orang-orang Quraisy pada masa jahiliyah, Tahannuts adalah beribadah).

            Ketika usianya menginjak empat puluh tiga tahun, dalam bulan Ramadlan (13 SH/610 M) Allah menurunkan wahyu kepadanya di gua Hira berupa ayat:

Artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.[12]

            Muhammad bergerak mengajak orang disekitarnya secara diam-diam, lalu berimanlah istrinya yaitu Khadijah kepada Allah. Putra pamannya yaitu Ali bin Abi Thalib, kawannya yaitu Abu Bakar, sahayanya yaitu Zaid bin Haritsah dan juga sekelompok orang dari masyarakatnya. Sejak saat itu, Muhammad mulai mengajak memeluk Islam secara terang-terangan, dengan meng-Esakan Allah dan membuang berhala-berhala serta tahayul-tahayulnya. Orang-orang Quraisy mengolok-olok dan menganiayanya, Muhammadpun bersabar dan pamannya Abu Thalib senantiasa melindunginya, sampai akhirnya Abu Thalib meninggal. Pamannya, yaitu Hamzah dan Umar bin Khatab memeluk Islam, Islampun menjadi semakin kuat dengan adanya dua orang ini, penganiaayaan orang Quraisy terhadap para sahabat semakin keras, Muhammad memberikan ijin bagi orang yang tidak memiliki keluarga yang dapat melindunginya untuk hijrah ke Habsyi. Berhijrahlah delapan puluh tiga orang laki-laki, selain wanita dan anak-anak.

            Di Makkah, enam orang dari bani ‘Aus dan Khajraj yang merupakan penduduk Madinah (Madinah dinamakan juga Yatsrib) masuk Islam dan merekapun segera kembali ke Madinah, tidak lama kemudian datang dua belas orang menghadap Muhammad dan mereka menyatakan beriman kepadanya, Muhammad mengutus Mush’ab bin Umair bersama mereka untuk mengajari mereka syari’at Islam dan Al-Qur’an, dalam waktu singkat Islam telah tersebar di Madinah. Datanglah sekelompok orang Madinah menghadap Muhammad, mereka mengajak beliau dan para sahabat untuk berhijrah bersama mereka, merekapun berjanji kepada Muhammad untuk melindunginya. Muhammadpun mengiyakan ajakan mereka dan memerintahkan para sahabat untuk keluar dari Makkah, lalu Muhammad menemui mereka (para sahabat). Sampailah kabar kepada orang-orang Quraisy tentang hijrah Muhammad, merekapun mengikuti Muhammad untuk membunuhnya, lantas Muhammadpun selamat.  

            Muhammad memasuki Madinah, disana beliau membangun masjid dan mulailah beliau berdakwah secara terang-terangan. Orang-orang Quraisy menghalangi beliau untuk berdakwah sampai ke Makkah dengan kuat. Terhitung mulainya beliau masuk Madinah sebagai permulaan penanggalan hijriyah, hal ini terjadi pada tahun 622 M.

            Orang-orang musyrik Quraisy tidak membiarkan Muhammad aman ditempat hijarahnya, lalu turunlah ayat-ayat pemberian ijin untuk berperang yang menjelaskan sebab diperbolehkannya perang dan tujuan berperang. Ayat pertama adalah:

Artinya: Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.[13]

            Perang pertama antara Muhammad dengan orang-orang Quraisy terjadi di Badar dekat Madinah. Dalam perang ini turunlah ayat:

Artinya: Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).[14]        

            Perang Badar Kubra ini terjadi pada bulan Ramadlan tahun 2 H. Setelah perang Badar Kubra ini, terjadilah perang Bani Qoinuqa, mereka adalah sebuah kabilah yahudi yang telah mengadakan perjanjian damai dengan Nabi Muhammad SAW, Nabipun menjamin keamanan diri mereka, harta mereka, dan kemerdekaan agama mereka, namun mereka merusak perjanjian itu.

            Pada tahun 3 H terjadilah perang Uhud, disebuah gunung Madinah yang kemudian dinamakan dengan nama ini (Uhud). Pada tahun 4 H terjadilah perang Dzaaturriqa’ dan Badar kedua. Pada tahun 5 H terjadilah perang Khandaq dan Bani Quraidlah. Pada tahun 6 H terjadilah perang Dzii Qard dan Bani Muthalliq, pada perang ini Nabi Muhammad mengirim seorang utusan kepada raja Kisra, Qaishar dan Najasyi, dan para raja-raja agung lainnya seperti Muqauqis di Mesir, Haris al-Ghisani di Syam, mengajak mereka semua untuk memeluk Islam.

            Pada tahun 7 H terjadilah perang Khaibar dan pada tahun 8 H terjadilah perang Mu’tah dan perang Hunain, sebelum terjadinya perang Hunain umat Islam berhasil menaklukkan kota Makkah, memerangi orang-orang musyrik dari suku Quraisy dan yang lainnya. Pada tahun 9 H terjadilah perang Tabuk. Begitu banyak pertolongan Allah kepada kaum muslimin pada kejadian-kejadian ini.

            Pada tahun 10 H utusan orang Arab yang merupakan para pemimpin orang Arab datang menghadap Nabi Muhammad SAW dan pada waktu itu Nabi berada di Madinah. Nabi mengutus putra pamannya yaitu Ali bin Abi Thalib menuju Yaman, lantas orang-orang yang kalah dalam peperangan itu masuk Islam semuanya yang disusul kemudian oleh orang-orang Yaman dan raja-raja yang merah mukanya karena malu.

            Nabi Muhammad melaksanakan haji yang terakhir pada tahun 10 H, pada waktu itu Nabi berkhutbah diatas untanya. Khutbah pada waktu itu adalah khutbah yang paling panjang, khutbah yang paling banyak membeberkan masalah-masalah agama dan keduniaan. Dan diwaktu-waktu akhir bulan Shafar tahun 11 H, Madinah diliputi suasana susah, Nabi Muhammad wafat di Madinah pada tanggal 12 bulan Rabi’ul Awal, dan disemayamkan dipembaringannya yang mulia.

            Mu’jizat Nabi Muhammad yang kekal, yang menjadi pangkal dasar dakwah adalah Al-Qur’an. Adapun sifat-sifat beliau adalah: ketika beliau berbicara dalam masalah larangan atau hukuman maka kedua matanya memerah, nada suaranya tinggi, meluap-luap emosinya, sepertiya ia sedang menakuti tentara. Ketika beliau berbicara pada saat perang, maka ia berpegangan pada sepucuk tombak dan ketika pada saat suasana aman, ia berpegangan pada tongkat.

            Beliau adalah seorang pendiam, sedikit tertawa, ketika ia tertawa maka ia meletakkan tangannya pada mulutnya, ketika ia berbicara, iapun tersenyum. Beliau senantiasa duduk dan makan diatas tanah, senantiasa mendatangi undangan para raja, walaupun hanya dijamu dengan roti yang terbuat dari gandum. Ketika berjalan beliau tidak pernah menoleh, ketika beliau menoleh, maka semua akan disapanya, dan beliau senantiasa mencukupkan diri dalam kehidupannya seolah-olah ia terisak-isak karena terikat.

            Ketika beliau menganggap penting suatu perkara, maka ia akan mengelus-elus jenggotnya. Ketika beliau menghendaki perang, maka ia akan menyalakannya dengan selain perang. Beliau adalah orang yang sedikit bercandanya, ketika beliau bercanda maka matanya akan tertutup. Omongannya runtut dan urut, pemalu, kepanya besar dan juga kedua tangan dan telapak kakinya. Beliau tidak tinggi dan juga tidak pendek, berambut lebat, warnanya coklat, Allah telah menciptakan beliau dengan sempurna, kedua matanya berwarna hitam, pada kedua pipinya terlihat warna merah muda, beliau senantiasa merendahkan diri, namun hal ini tidak merendakannya.

            Beliau senantiasa mengolesi rambut dan jenggotnya dengan minyak misik, mengurai rambutnya sebatas bahu, memakai peci putih, orang-orang akan menyalaminya dengan lama, seolah-olah mereka meninggalkan tangannya, beliau menjahit sendiri pakaiannya dan menambal sandalnya, senantiasa menyambangi orang-orang miskin. Ketika berbiacara ia akan mengemukakan yang ingin diungkapnnnya, pemberani yang gagah. Ali bin Abi Thalib berkata: ketika kesusahan menimpaku, maka aku menyerahkannya kepada Rasulullah. Beliau adalah orang yang sering berhadapan dengan musuh, akan tetapi beliau tidak pernah membunuh musuhnya dengan tangannya sendiri kecuali seorang laki-laki yang mencoba membunuhnya, lantas Nabi mendahuluinya dengan munusuk pada perutnya.

            Beberapa hadits Nabi Muhammad SAW adalah:

            “Sebaik-baik pemberian yang diberikan kepada manusia adalah budi pekerti yang baik”

            “Tidaklah beriman orang yang tidak amanah, dan tidaklah beragama orang yang tidak mengikat janji”

            “Jihad yang paling dicintai Allah adalah kebenaran yang disampaikan kepada pemimpin yang lacut”

            “Ruh-ruh itu adalah laksana sekumpulan pasukan: mereka tidak saling mengenal satu sama lain untuk saling membuat kerusakan, dan mereka tidak saling  bersaing yang menjadikan mereka berselisih”

            “Sebaik-baik kamu adalah orang yang dapat diharapkan kebaikannya dan menginsyafi kesalahannya, seburuk-buruk kamu adalah orang yang tidak dapat diharapkan kebaikannya dan tidak mengakui kesalahannya”

            “Setiap sesuatu itu memiliki akibat yang dapat merusakkannya, akibat dari agama ini adalah berkuasanya keburukan”

            “Tidak dikatakan mukmin orang yang memfitnah, mengutuk, melakukan perbuatan tercela dan berbicara kotor”

            “Termasuk hal yang dapat menyempurnakan keislaman seseorang adalah kerelaannya untuk meninggalkan apa yang tidak berguna”

            “Surga terletak dibawah telapak kaki para ibu”

            “Wahai umatku, aku tunjukkan kepadamu orang yang paling kuat diantaramu, yaitu mereka yang dapat menguasai dirinya ketika marah”

            “Cintailah seseorang yang kamu cinta sekedarnya, boleh jadi kelak dikemudian hari dia akan menjadi musuhmu. Bencilah musuhmu sekedarnya, boleh jadi kelak dia akan menjadi kekasihmu”

            Keluarga Nabi Muhammad SAW terdiri dari; Khadijah adalah istri pertama, beliau tinggal berdua saja sampai dengan Khadijah wafat pada tahun 3 SH. Dari Khadijah lahirlah putra-putri Nabi Muhammad, yaitu Qashim, Abdullah, Zainab, Ruqaiyah, Umi Kulsum dan Fatimah. Qashim dan Abdullah meninggal sewaktu kecil, sehingga beliau tidak memiliki anak laki-laki. Setelah menikah dengan Khadijah, Nabi Muhammad menikah lagi dengan 14 wanita dan yang sempat digauli sebanyak 12 wanita, semuanya meninggal, hingga tersisa 9 istri.

            Dari sembilan istri-istri beliau tidak satupun yang memberinya anak, kecuali Ibrahim dari Mariatul Qibthiyah, dan Ibrahimpun meninggal sewaktu kecil, usianya tidak mencapai umur dua tahun. Semua putra-putra nabi meninggal dunia sewaktu beliau masih hidup kecuali anak perempuannya yaitu Fatimah. Nabipun menikahkan Fatimah dengan putra pamannya, yaitu Ali bin Abi Thalib, lantas lahirlah Hasan dan Husain.

            Secara otomatis keduanya adalah keturunan Nabi Muhammad. Dan lahirlah anak ketiga Fatimah, yaitu Muhsin yang meninggal sewaktu kecil. Nabi Muhammad memiliki banyak risalah yang didiktekan kepada mereka (para sahabat), karena beliau enggan untuk menulis, dan beliau menjaganya sampai mereka (sahabat) mengambilnya, sampai akhirnya turunlah wahyu kepadanya:

 

Artinya: Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.  

            Peninggalan beliau berupa beragam ilmu pengetahuan, bermacam-macam pedang, surat-surat, lencana, wasiat, pembantu, kuda, keledai, unta, senjata yang beraneka ragam seperti pedang, baju besi, tombak, panah dan lain sebaginya. Dan jumlah keseluruhan sahabat ketika beliau wafat sebanyak 124 ribu.[15]

                         

 



[1]. Surat Al-‘Ashr, ayat 1-3

[2] Surat Al-Ahzab, ayat 21

[3] Surat An-Najm, ayat 3-4

[4] Surat An-Nisa’, ayat 170

[5] Surat An-Nisa’, ayat 80

[6] Surat An-Nisa’, ayat 59

[7] Surat Al-Baqarah, ayat 132

[8] Surat Asy-Syuraa, ayat 13

[9] Surat An-Nisa’, ayat 131

[10] HR. Abu Dawud dan Turmudzi

[11] Lubaab al-Adab, hal. 5

[12] Surat Al-Alaq, ayat 1-2

[13] Surat Al-Hajj, ayat 39 

[14] Surat Al-Anfaal, ayat 60

[15] Az-Zarkali, Al-I’lam, jilid 6, hal. 218-219