MEMBANGUN JARINGAN PENDIDIKAN

( Suatu Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Islam )

 

A. Pendahuluan

            Ada sesuatu yang aneh dan janggal, apabila kita melihat fenomena adanya kemandegan pendidikan islam. Pada masa Abasyiah terjadi adanya kemajuan pendidikan islam yang melembaga dalam sebuah dinasti dengan kuat. Namun, setelah adanya penyerangan tentara Mongol ( Bar bar ), kejayaan itu hilang yang digantikan dengan suramnya pendidikan islam dalam menapaki hari – harinya, terlebih setelah adanya kejatuhan beberapa dinasti pewaris islam. Seperti Mughal di India, Usmany di Turki dan Umayyah di Spanyol.

            Semua telah melegenda dengan sendirinya, sebagai sebuah kenangan masa lalu yang semestinya menjadi cambuk tersendiri bagi umat islam untuk meraihnya kembali. Bayang – bayang kemajuan islam telah mampu membius umat islam untuk tetap terlena dalam angan kosongnya, bahwa kemajuan itu akan dating kembali dengan sendirinya. Ada banyak factor yang menyebabkan kemajuan islam dimasa lampau dapat dicapai. Kehausan umat islam akan keilmuan dan adanya sokongan dana yang cukup memadai menjadikan islam mampu membangun peradabannya dengan kuat dan melegenda sampai sekarang.

            Abad ke 14 konon dijadikan sebagai patokan dari adanya kemunduran umat islam. Munculnya istilah pintu ijtihad telah tertutup menjadi alasan tersendiri bagi umat islam untuk mengakhiri budaya berfikir mereka. Kini umat islam telah memasuki babak baru, berupa dunia yang penuh dengan tantangan dan kerja keras, sebuah dunia yang mengharuskan suatu umat berfikir secara jernih dan terarah untuk tetap dapat eksis dalam percaturan kehiduapn dunia.

            Sebuah dunia yang mengandalkan pengetahuan dan teknologi yang didukung oleh adanya penguasaan informasi serta jaringan, menjadikan persaingan dalam kehidupan semakin ketat, siapa terlambat, maka harus siap menerima konsekwensinya yaitu menjadi arena jajahan segelintir umat yang memang jauh lebih maju. Hal ini memang suatu sunnatullah, harus terjadi sebagai sebuah pembuktian kekuasaan kalam ilahi, bahwasannya mengapa Iqra adalah wahyu pertama yang diterima Muhmmad? Jika memang iqra bukanlah  sebuah alat bagi manusia untuk dapat melepaskan diri dari kungkungan jahiliyyah, untuk selanjutnya dapat dijadikan sebagi modal dalam percaturan dunia yang semakin ketat, kiranya allah akan memilih ayat lain untuk diwahyukan kepada Muhammad.

            Jer basuki Mawa Bea adalah sebuah pepatah jawa yang bermakna bahwa pendidikan akan membutuhkan beaya. Untuk dapat memajukan pendidikan islam dibutuhkan adanya beaya, jika konteksnya adalah saat ini, maka beaya harus didukung oleh adanya jaringan yang kuat. Penguatan modal akan sia – sia belaka tanpa adanya jaringan yang kuat, namun jaringan yang kuat akan berdampak kepada adanya penguatan modal. Apakah pendidikan islam kekurangan modal dalam kebangkitannya? Inilah pertanyaan yang sering mengelitik disebagian kalangan cendekiawan muslim saat ini.

B. Pembahasan

            Permasalahan yang dihadapi oleh sebagian dunia muslim sampai saat ini adalah disamping kemiskinan dan adanya angka pengangguran yang semakin membengkak, pendidikan adalah permasalahan yang patut untuk dicermati lebih dalam. Adanya kemiskinan dan pengangguran yang semakin membengkak lebih dikarenakan adanya sistem pendidikan yang ada dalam islam masih belum menemukan formatnya dengan baik.

            Jika saja pendidikan islam dapat terformat dengan baik, maka permasalah sumber daya manusia yang selama ini menjadi penopang adanya kemakmuran manusia akan teratasi yang berimbas pada adanya kemakmuran hidup dan semakin sedikitnya angka pengannguran dalam dunia muslim. Permasalahan yang sebenarnya terletak pada adanya kekosongan materi kekinian pada pendidikan islam yang seharusnya diberikan untuk menunjang adanya kemajuan zaman yang memang tidak mungkin terbendung. Pendidikan islam selama ini hanya berkutat pada penguatan aqidah semata, tanpa dibarengi dengan adanya penguatan dalam bidang lainnya, sehingga pendidikan islam hanya mampu mencetak kader – kader yang kekar dalam keimanannya.

            Namun, yang perlu dicatat adalah bahwa seringkali kemiskinan akan lebih mendekatkan seorang muslim kepada jalan kekufuran, dan inilah fenomena yang terjadi untuk saat ini. Banyak dikalangan muslim taat yang melepaskan baju ketaqwaannya hanya sekedar untuk dapat menikmati beberapa tetes keduniaan. Apakah hal ini menjadi sesuatu yang layak untuk tetap dipertahankan?

            Negara – negara islam adalah beberapa Negara yang kaya akan sumber daya alam. Kiranya hal ini sangat memungkinkan bagi mereka untuk dapat membangun pendidikannya. Jadi sangatlah tidak layak membiarkan para umat islam untuk rela melepaskan baju ketaqwaannya hanya untuk sedikit menikmati hal yang berbau keduniaan, jika memang masalah yang dihadapi adalah dana untuk sekedar membenahi system pendidikan islam untuk dapat mencetak kader – kader yang mandiri dan dapat menyesuaikan dengan zamannya, sehingga baju ketaqwaann mereka akan selalu melekat dalam sanubari mereka.

            Penanaman modal atau investasi menjadi suatu keharusan untuk dapat memenuhi ambisi umat islam dalam usanya untuk bangkit dari keterpurukan selama ini. Dana yang dialokasikan untuk sektor pendidikan harus cukup memadai untuk dapat memfasilitasi pendidikan dengan semestinya. Indonesia dalam amanat undang – undang dasarnya mencantumkan anggaran 20 % untuk pendidikan dari total APBN nya, walaupun sampai sekarang angka tersebut masih menjadi amanat tersirat yang belum dapat terealisasikan. Maka jangan begitu kaget, jika pendidikan di Indonesia masih menjadi kendala besar dalam melaksanakan pembangunan. Sampai saat ini masih bnayk penduduk Indonesia yang tidak bisa baca tulis.

            Menjadi sebuah kenaifan tersendiri jika kesadaran untuk investasi tersebut harus meniru dari mereka yang berada diluar islam. Iqra menjadi ayat pertama yang turun sebagai wahyu, maka jika kita mau teliti, pendidikan adalah sesuatu yang amat penting untuk diperjuangkan dengan jalan yang baik pula. Apakah hal ini dapat dijadikan alasan untuk menuduh diri kita sebagai umat yang tidak amanah? Betapa banyak hadits nabi yang menerangkan tentang keutamaan sebuah ilmu. Namun ternyata halini tidak cukup disadari oleh sebagian kalangan muslim, sehingga pendidikan islam masih tetap dalamkemandegannya,walaupun mampu mengeliat, itu hanya sebagai pertanda bahwa pendidikan islam masih hidup dan bukan menunjukkan pada kemajuan.           

Bank Dunia sejak tahun 1960 – an menentukan empat kriteria untuk investasi SDM dalam memberikan bantuannya terhadap Negara – Negara dunia ketigadi Asia, Afrika dan Amerika Latin dalam pengembangan SDM, yaitu:

  1. Kebutuhan tenaga kerja yang trampil dalam lapangan kejuruan dan teknologi.
  2. Perluasan pendidikan dasar dan ini dinilai memiliki tingkat balik ( rate of return ) yang lebih tinggi, sehubungan dengan rendahnya biaya.
  3. Pengembangan sector pedesaan sehingga memperlihatkan peranan pendidikan masih untuk meningkatkan produktifitas sektor pedesaan.
  4. Keadilan dan pemerataan yang menunjukkan pentingnya distribusi kesempatan pendidikan dan bentuk – bentuk pengembangan SDM lainnya, baik secara geografis, sosial maupun secara ekonomis ( Wardiman Djojonegoro, Ace Suryadi,1995 )

Kiranya ini dapat dijadikan modal besar bagi dunia islam dalam mengembangkan pendidikanya. Menjalin kemitraan dengan pihak lain untuk dapat bangkit dari keterpurukannya.  Kemitraan, dalam segala bentuknya menjadi suatu keharusan jika ingin membangun komitmen lebih kuat. Pendidikan islam hanya bisa bangkit jika mau menjalin kemitraan dengan pihak lain untuk selanjutnya terjadi sharing yang mapan dalam segala bentuk pengetahuan. Mungkin teknologi menjadi sesuatu yang sangat langka dalam dunia islam, maka penguatan jaringan teknologi sudah menjadi kewajiban untuk meraihnya.

Hubungan kemitraan yang dimaksud adalah hubungan bersifat simbiotik yaitu hubungan yang mampu mendorong perkembangan pendidikan, bukan hubungan yang mengambil keuntungan finansial dari pendidikan untuk kepentingan dirinya sendiri ( stakeholder). Namun keuntungan tersebut untuk investasi bagi peningkatan mutu pendidikan islam.[1] Bagaimana hubungan diantara kedua pihak dapat saling melengkapi satu sama lain. Adanya bentuk penyimpangan hubungan ini lebih dikarenakan kurangnya rasa amanah yang sudah seharunya diemban oleh bukan saja para umat islam, melainkan semua umat manusia?

 Pendidikan adalah sesuatu yang suci. Dengan pendidikan manusia dapat keluar dari jurang kenistaan, maka inilah alasan untuk memposisikan pendidikan sebagai sebauh amanah. Amanah berupa alat untuk dapat keluar dari keterpurukan dan sudah seharusnya bagi semua umat untuk menularkannya untuk dapat bersanding bersama menikmati indahnya kehidupan makmur. Bukankan manusia memiliki jiwa sosial, sebagai wujud keterbatasannya? Dalam banyak hal, semua manusia akan membutuhkan sesamanya, maka sudah seharusnya menjadikan sesamanya sebagai mitra dan bukan sebagai budak. Untuk menjadikan mereka mitra, maka perlakukanlah mereka sebagaimana mestinya. Ketika pendidikan menjadi kebutuhan sebagian dari kita, maka kewajiban kita untuk membantunya  menciptakan keberhasilan pendidikan mereka.

Langkah yang dapat ditempuh untuk melakukan hal ini sangatlah banyak. Namun ada beberapa langkah yang mungkin dapat kita kembangkan secara lebih baik, karena itu berada disekitar kita;

  1. Dikembangkan wadah yang memungkinkan banyak pihak saling bertemu, berdiskusi dan membangun komitmen bersama dalam meningkatkan mutu lembaga pendidikan islam. Bentuk wadah ini dapat berupa “ Dewan Sekolah “ dan “ Komite Sekolah “ sebagaimana ditetapkan dalam UU. No 20 Tahun 2003 Pasal 56. wadah ini berfungsi melembagakan hubungan simbiotik, sehingga hubungan tidak hanya terjadi secara incidental, melainkan secara berkelanjutan,
  2. Dilakukan regulasi dengan membuat aturan yang mengatur kewenangan untuk menghindari adanya kesalah pahaman dalam batas kewenangan yang dilakukan.
  3. Dikembangkan upaya – upaya motivasi dari hubungan simbiotik tersebut dalam kerangka ikut bertanggung jawab bersama dalam meningkatkan mutu pendidikan ( mutu kelulusannya ).[2]

Ternyata kuncinya terletak pada adanya sebuah komitmen diantara sesama kita  untuk memajukan pendidikan islam. Jika semuanya berpadu untuk turut serta dalam mengembangkan pendidikan islam, maka tidak ada kata mustahil untuk mencapai kebangkitan islam. Peranan hubungan antara semua kompopnen yang dibingkai dalam ikatan simbiosis menjadi suatu kebutuhan yang sangat mendesak untuk diberlakukan pada saat ini.

Hubungan yang seringkali terjadi adalah bentuk sebuah hubungan yang saling mengambil untuk secara sepihak dari masing – masing komponen yang ada, sehingga perebutan sesuatu dalam segala bentuknya yang berkaitan dengan pendidikan sering kali terjadi dan hal ini bukan barang asing lagi ditengah masyarakat kita.  

Sebagai asumsi rendahnya mutu pendidikan dilembaga pendidikan islam ( trutama swasta ) karena kurangnya rendahnya aktifitas dan kualitas pendidikan ini disebabkan  karena tidak didukung oleh adanya fasilitas yang cukup  dan bermuara pada sedikitnya dana dalam alokasi pendidikan sehingga untuk menyediakan fasilitas tersebut tidak mencukupi.[3]Selama ini masih banyak Negara islam yang belum mampu mengembangkan pendidikan islam, hanya karena kekurangan dana pengembangan. Besarnya anggaran Negara dalam pembangunan fisik menjadi pemicu utama sedikitnya alokasi dana pendidikan dengan alsan pembangunan fisik lebih cepat dapat dinikamti masyarakat, sedangkan pembangunan sumber daya manusia akan sangat lamban dalam perolehan manfaat, seringkali pembangunan dalam segala bentuknya dikaitkan dengan urusan politis, sehingga pada akhirnya pendidikan yang ada juga merupakan sebuah representasi politik tertentu. Inilah yang mengakibatkan dunia pendidikan tidak menentu arah dan tujuannya, karena terlalu banyak tangan yang berkepentingan untuk menjadikan pendidikan sebagai sebauah kendaraan.    

            Berdasarkan asumsi diatas, dapat dikatakan bahwa salah satu faktor rendahnya mutu pendidikan dilembaga pendidikan islam adalah masalah dana.[4]Jika permasalhannya memang demikian, maka kemandirian pembiyayaan sudah saatnya dicanangkan untuk menjadikan dunia pendidikan benar – benar mandiri khususnya pendidikan islam, sehingga gerak dan langkah kedepan dalam upaya pengembangan diri lebih jauh akan terasa sangat bebas. Dan tidak ada intervensi dari pihak luar.  

C. Pembentukan unit usaha:

Salah satu upaya mewujudkan kemandirian pembiyayaan pendidikan islam adalah melalui pembentukan unit usaha dalam segala bentuknya. Apalagi jika hal ini ditarik kedalam ranah ke Indonesiaan, tentunya akan memunculkan banyak pertimbangan yang dapat dijadikan sebagai alasan dalam pembentukan unit usaha. Asumsi yang dapat digunakan adalah:

  1. Bangsa Indonesia adalah Bangsa yang mayoritas penduduknya beragama islam.
  2. Pemerintah telah memberikan hak otonomi dalam penyelenggaraan setiap satuan pendidikan termasuk satuan pendidikan islam, sehingga otoritas pengelolaan terletak pada satuan pendidikan tersebut.
  3. Secara eksplisit, substansi dari UU No. 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS,mengisyaratkan adanya akuntabilitas lembaga pendidikan secara mandiri menuju keunggulan dengan meletakkan prinsip demokrasi, desentralisasi, keadilan danmenjunjung tinggi hak asasi manusia.
  4. Adanya Bank Syari’ah yang didirikan di Indonesia sebagai badan perbankkan umat islam, sehingga lembaga pendidikan islam dapat menjalin kemitraan ( Networking )[5]  

Apakah peluang sebagus ini akan dibiarkan begitu saja? Sebagai seorang yang jeli dalam menangkap setiap kesempatan yang dilandasi adanya semangat perubahan, tentunya peluang sebagus ini tidak akan disia – siakan. Unit usha dapat mengambil bentuk dan macamnya sendiri – sendiri yang ditentukan oleh kesiapan suatu masyarakat tertentu dan bahan dasar yang tersedia dalam suatu wilayah tertentu pula.

Penduduk Indonesia yang mayoritas beraga islam adalah suatu asset yang sangat mahal jika kita mampu mengolahnya dengan baik, tentu kaitannya dalam bahasan ini adalah pembuatan jaringan ekonomi yang kuat, maka ada kemungkinan perekonomian umat islam akan semakin maju yang tentunya akan dibarengi dengan adanya kemajuan pendidikan islam, dengan catatan mereka memang telah terbekali terlebih dahulu untuk peduli dengan pendidikan islam.

Adanya otonomi daerah dan pendidikan yang digulirkan pemerintah Indonesia untuk menjadikan suatu daerah ataupun institusi pendidikan mandiri tentunya sangat menunjang sekali dalam tujuan yang ingin dicapai dan penguatan jaringan yang lebih sempurna. Bukan saatnya lagi untuk menyia – nyaiakan kesempatan dan sudah alyaknya memanfaatkan peluang yang ada.

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

( Djojonegoro, W dan A. Suryadi, Peningkatan Kualitas SW untuk Pembangunan,1995 ( Jakarta: Depdikbud )     

 

 



[1] Prof. Dr. H. Usman Abu Bakar , MA dan Drs. Surohim, MSI, Fungsi Ganda Lembaga Pendidikan Islam : Respon Kreatif Terhadap Undang – undang SISDIKNAS, ( Yogyakarta: Satria Insani Press, 2005 ), hal. 163

[2] Ibid, hal. 146

[3] Prof. Dr. H. Usman Abu Bakar , MA dan Drs. Surohim, MSI, Fungsi Ganda Lembaga Pendidikan Islam ( Respon Kreatif Terhadap Undang – undang SISDIKNAS ( Satria Insani Press Yogyakarta, 2005 ). Hal. 164

[4] Ibid, hal. 164

[5] Ibid, hal. 165