Judul Buku      : Rasionalitas Al – Qur’an Studi kritis Atas Tafsir Al – Manar

Penulis             : M. Quraisy Shihab

Halaman          : 190 Halaman

Penerbit           : Lentera Hati

Kota Penerbit : Jakarta

Cetakan           : I, Rabi’ul Awal  / April 2006

ISBN               : 979 – 9048 – 35 – 4

 

A. Pendahuluan

            Al - Qur’an merupakan kitab suci bagi umat islam yang mengandung banyak pelajaran hidup. Jika ingin selamat dalam menapaki kehidupan di dunia, maka berpeganglah secara teguh terhadap ajaran - ajaran yang terkandung didalamnya, sehingga kelak dimungkinkan akan mendapatkan kebahagiaan di akherat. Al - Qur’an dalam wujud dan kandungan maknanya, sampai sekarang masih menjadi bahan inspirasi bagi kalangan ilmuan untuk menimba teori - teori baru, yang selama ini masih tersimpan rapi dalam ayat - ayat, sehingga untuk membukanya membutuhkan adanya suatu alat, yaitu adanya sebuah patokan penafsiran yang dijadikan pedoman untuk mengais ide - ide yang tersimpan dalam ayat - ayat al - qur’an. Satuan terkecil dalam al - qur’an adalah ayat dan satuan terbesar dalam al - qur’an adalah surah, yang kesemuanya itu mempunyai hubungan saling keterkaitan yang sangat erat, sehingga ayat yang satu dengan yang lain tidak dapat dipisahkan secara semena - mena.

            Memang sejarah penafsiran hanya menghasilkan beberapa buah kitab tafsir saja. Dan tafsir al - Manar adalah salah satu karya tafsir dari pemikir islam kontemporer yang sarat akan mutan - mutan logika, sehingga dalam dunia islam jarang sekali muslim yang menganjurkan untuk mempelajari kitab tafsir ini, dengan satu alasan bahwasannya kitab ini adalah kitab yang dikhususkan bagi mereka yang telah mapan dari sisi keilmuan agama, sehingga bagi orang awam hal ini sangat dilarang.

            Terlepas dari adanya perdebatan hal ini, menurut penulis segala bentuk kajian keilmuan adalah sesuatu yang layak untuk dipelajari. Adanya penjenjangan hanya dimaksudkan untuk lebih dapat memperoleh hasil yang maksimal, serta adanya maksud dan tujuan dari keilmuan itu menjadi lebih tertata dan terarah.

B. Isi Review       

            Pembahasan utama yang menjadi fokus penelitian M. Quraisy Shihab, penulis buku Rasionalitas Al – Qur’an Studi Kritis Terhadap Tafsir Al – Manar adalah kitab tafsir al – Manar yang meliputi para penulis kitab tafsir al – Manar, metodologi penulisan, dan karakteristik kitab tafsir ini.

            Kitab tafsir al – Manar merupakan salah satu kitab tafsir kontemporer yang sudah banyak dikenal oleh kaum muslimin, khususnya bagi para peminat studi al – qur’an. Setiap hasil studi tentunya mempunyai kelebihan dan kekurangan. Tafsir al – Manar merupakan suatu produk hasil studi dari penulisnya. Hal inilah yang membuat penulis tertarik untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari kitab tafsir ini dan apa saja yang mempengaruhi. Seperti yang dikatakannya dalam pengantar buku ini:

“ Tentu tiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangannya, dan setiap hasil renungan dan pemikiran dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti tingkat intelegensi, kecenderungan pribadi, latar belakang pendidikan, bahkan perkembangan ilmu pengetahuan.”[1]

Jenis penelitian yang dilakukan oleh M. Quraisy Shihab merupakan penelitian tafsir. Penelitian tafsir adalah penelitian yang berusaha untuk memberikan penjelasan, pemahaman dan perincian atas kitab suci, sehingga isi pesan kitab suci dapat dipahami sebagaimana dikehendaki tuhan.[2] Lebih luas lagi, Drs. Yusdani, MAg menulis dalam silabus mata kuliah Pendekatan Dalam Pengkajian Islam MSI UII, bahwa jenis atau corak penelitian seperti ini adalah salah satu jenis penelitian agama sebagai produk budaya, yaitu penelitian pemikiran keagamaan islam dalam bidang tafsir. Jenis penelitian ini banyak dibantu filsafat, filologi dan ilmu – ilmu humaniora, sehingga berbeda dengan jenis – jenis penelitian keagamaan sebagai produk interaksi sosial yang menggunakan sosiologi, antropologi, psikologi dan sejarah.

Dalam studi ini, M. Quraisy Shihab menggunakan pendekatan perbandinagn ( Comparative Approach ) yaitu mengkaji bidang keilmuan dengan membandingkan beberapa pendapat, hasil pemikiran, maupaun aliran untuk mengetahui perbedaan dan persamaannya.[3]Dengan pendekatan ini, dia dapat menemukan sebuah karakteristik metodologi penafsiran penulis al - Manar terhadap al - qur’an, yang bisa jadi berbeda, bahkan sama dengan metodologi penafsiran para mufassir lain. Seperti; memandang al- qur’an sebagai sumber aqidah dan hukum, memandang surah sebagai satu kesatuan ayat - ayat yang serasi, menitik beratkan ayat al- qur’an  bersifat umum, penggunaan akal secara luas dalam pemahaman al- qur’an, menentang taqlid dalam penafsiran, tidak merinci persoalan -persoalan yang disinggung secara mubham ( tidak jelas ), kritik dalam menerima hadits - hadits nabi SAW dan pendapat - pendapat sahabat, serta menolak israiliyat dalam penafsiran dan mengaitkan penafsiran dengan kehidupan manusia.

Untuk dapat menemukan kelebihan dan kekurangan dari kitab tafsir ini, M.Quraisy Shihab menggunakan metode komparasi dalam menganalisis kitab tafsir ini. Analisis komparatif adalah suatu analisis yang digunakan untuk mengetahui perbedaan dan persamaan dari obyek yang diteliti.[4]  Analisis komparatif ini dilakukan meliputi perbandingan diantara para penulis tafsir al - Manar yaitu, M. Abduh dan Rasyid Ridha. Meliputi; pendidikan, lingkungan, pemikiran, karya - karya yang dihasilkan oleh kedua dan corak penafsiran keduanya terhadap al- qur’an. Selain itu, analisis ini juga digunakan terhadap penulis tafsir al - Manar dengan para mufassir lainnya, sehingga dapat diketahui perbedaan dan persamaan kitab tafsir ini dengan kitab tafsir lainnya, serta bagaimana penulis tafsir al- Manar menyikapi perbedaan dan persamaan terhadap para mufassir lainnya.

Setelah melakukan studi terhadap tafsir ini, penulis sampai pada kesimpulan bahwa tafsir al- Manar berusaha untuk memenuhi kelemahan tafsir sebelumnya yang hanya memfokuskan penjelasan kata - kata maupun kedudukan kalimat dalam redaksi ayat - ayat al - qur’an dari segi kaidah bahasa. Oleh karena itu, kitab - kitab tafsir itu cenderung menjadi latihan praktis kebahasaan, bukan kitab tafsir yang sebenarnya.

Agar penafsiran ini lebih bermakna, maka tafsir ini pada dasarnya ingin mengasumsikan al - qur’an sebagai sarana untuk memecahkan problem - problem manusia. Oleh karena itu, tafsir ini tidak merinci hal - hal yang berada diluar jangkauan akal, khususnya dalam bidang metafisik, sebagaimana tidak merinci hal - hal yang tidak dibutuhkan oleh kaum muslimin dalam rangka mencapai kebahagiaan dunia dan akherat. Konsekwensi dari penafsiran dengan penggunaan akal, maka banyak terdapat penakwilan dalam tafsir ini agar sejalan dengan akal.

Meskipun tafsir ini sangat menghindari prakonsepsi dengan menetapkan al - qur’an sebagai sumber ajaran dan hukum. Dari al - qur’an - lah bersumber segala pendapat - pendapat madzhab, baik teologi, fiqh, maupun tasawuf yang berlandaskan al - qur’an. Dengan kata lain bukannya madzhab - madzhab yang dijadikan pokok dan ayat - ayat al- qur’an hanya dijadikan pendukung untuk madzhab - madzhab tersebut. Namun ternyata tafsir al - Manar sulit menghindari hal ini dan masih ditemukan dibeberapa penafsirannya.

Tafsir ini sangat luas dan kaya menyajikan pendapat - pendapat penulis tafsir terdahulu, sejak Ath - Thabari sampai M. Abduh, hanya sangat disayangkan seringkali M. Rasyid Ridha, salah satu penulis tafsir ini mengungkapkan kritiknya dengan redaksi yang sangat keras dan pedas, kecuali terhadap Abduh, dan terkadang juga nukilan serta pendapatnya terhadap pendapat mereka tidak sepenuhnya sesuai dengan apa yang dimaksud oleh yang dinukilkan dan yang dikritiknya.

C. Penilaian review

            Setelah saya baca secara seksama hasil review book ini, sejenak saya merasa takjub terhadap pereview book kini, mengapa? Dari penulisan kata - kata yang dirangkai menjadi sebuah kalimat untuk selanjutnya menjadi sebuah paragraph, saya melihat seolah - olah pereview paham betul akan kitab tafsir al - Manar, padahal review ditujukan untuk mengulas dan mengkritisi buku karya Quraisy Shihab dan bukan al - Manar itu sendiri, sehingga yang terjadi adalah adanya banyak kekaburan arah dan tujuan dari review ini. Bukannya salah sasaran, melainkan pereview mungkin mencoba untuk mengkombinasikan antara pemahaman pereview tentang kitab tafsir al - Manar dengan buku Rasionalitas Al – Qur’an Studi kritis Atas Tafsir Al – Manar untuk selajutnya mendapatkan sintesa kesimpulan yang memadai untuk dibaca, akan tetapi mereka mungkin masih belum begitu paham akan isi, maksud dan tujuan dari tafsir al_manar tersebut, sehingga pada akhirnya terlihat sangat terkesan menghakimi.

            Pembuktian yang dilakukan atas penilaian pereview buku ini juga bisa dibilang tidak ada. Padahal, apakah benar Rasyid Ridha melakukan kritik? mengapa Rasyid Ridha melakukan kritik? Itu semua masih menjadi rahasia pereview. Kalau memang akan melakukan studi komparasi, maka harus dibuktikan lebih nyata, supaya tidak terjadi adanya salah paham dan prasangka. Mungkin hal ini kurang mendapatkan perhatian pereview, padahal menurut saya ini sangat penting.

            Pereview dalam tidak mencantumkan nukilan dari isi buku Quraisy Shihab ataupun isi dari kitab tafsir al - Manar tersebut, sehingga ini juga menjadi suatu kendala tersendiri untuk memahami secara lebih utuh buku karya Quraisy Shihab. Memang mata kuliah ini berkutat pada permasalahan metodologi, akan tetapi pemahaman akan metodologi suatu buku bukan milik pereview saja. Bagaimana audiens paham akan metodologi yang diterapkan oleh Quraisy Shihab, jika mereka tidak tahu akan nukilan inti dari buku Quraisy Shihab. Tindakan yang dilakukan oleh pereview adalah hanya mencoba membedah metodologi yang dipakai oleh Quraisy Shihab dengan melupakan adanya pointer penting dari isi buku tersebut. Gunanya apa? Yaitu untuk pembuktian dari metodologi yang digunakan Quraisy Shihab dalam pengimplementasiannya pada teks.

            Hal ini juga sangat berperan aktif dalam pemahaman review ini, bahwa Quraisy Shihab telah menghakimi penulis al - Manar. Jika memang penghakiman atas hasil sebuah pemikiran dibenarkan, maka yang terjadi adalah kekaburan akan makna dari kebenaran itu sendiri, padahal didunia tidak ada kebenaran yang absolut dan semuanya adalah nisbi.             

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] M. Quraisy Shihab, Rasionalitas Al - Qur’an Studi Kritis Atas Tafsir Al – Manar, ( Jakarta: Pustaka Hidayah, 2006 ) hal. 1

[2] Abudin Nata, Metodologi Studi Islam, ( Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2006 ) hal.214

[3] Ibid, hal. 90

[4] Anas Sudjono, Pengantar Statistik Pendidikan, ( Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997 ) hal. 261