MEMBANGUN PENDIDIKAN ISLAM

DENGAN MEMPERKUAT JARINGAN

 

 

 

 

A. Pendahuluan

 

Pendidikan merupakan kebutuhan semua lapisan masyarakat. Kemajuan masyarakat dalam semua bentuknya tidak akan pernah didapat, tanpa adanya kemajuan dalam bidang pendidikan. Ruh dari adanya denyut nadi kehidupan masyarakat adalah pendidikan. Termasuk didalamnya adalah pendidikan islam. Maka, pendidikan islam merupakan masalah sosial, sehingga tujuannya pun berhubungan dengan kebutuhan sosial[1]

Kemajuan teknologi yang disebabkan adanya kemajuan pendidikan, yang dibarengi dengan semakin tingginya tingkat pemikiran manusia untuk memberdayakan diri dan lingkungannya, menjadikan kehidupan manusia sangat kompleks. Kebutuhan hidup, gaya hidup sampai dengan permasalahan yang harus dihadapi, semuanya mengalami peningkatan, baik dari segi kwantitas maupun kwalitas.

Perkembangan manusia akan terus terjadi. Dimulai dari masyarakat agraris, meningkat menjadi masyarakat industri, lantas beranjak menjadi masyarakat informasi, dimana informasi memiliki posisi yang sangat strategis dalam ikut mengambil peran memajukan umat manusia. Informasi menjadi kebutuhan pokok bagi semua lapisan masyarakat.

Dari sini, lantas dapat disebutkan bahwa jika pada masa feodal tuan tanah menjadi raja dan pada masa revolusi industri para konglomerat menjadi raja, maka pada masa kemajuan teknologi, penguasa adalah seseorang yang memiliki jaringan informasi. Informasi menjadi sesuatu yang sangat penting dalam upaya memajukan semua yang ada. Sehingga Information in the hands of many is power in the world jaringan informasi ditangan banyak orang merupakan kekuatan dalam dunia modern. Bagi individu yang tidak tahu perkembangan informasi maka akan terlindas dan ketinggalan zaman.

Pendidikan islam juga merupakan bagian dari pernik yang ada dalam kehidupan modern. Keinginan sebagian kalangan muslim untuk melihat kembali kejayaan islam, terutama dalam bidang pendidikan hanya akan menjadi angan angan semu belaka tanpa adanya kerja nyata ( karena memang sebagian muslim tidak mengetahui secara jelas akan konsep pendidikan islam, karena yang mereka tahu adalah adanya rutinitas mereka untuk mengaji di Masjid atau Musholla )

Kerja kerja nyata itu dapat mengambil ragam dan bentuknya sendiri sendiri sejauh hal itu memang bertujuan untuk memajukan pendidikan islam. Networking atau biasa disebut dengan jaringan adalah salah satu kelemahan yang mendasar yang dimiliki oleh umat islam. Jika permasalahan utama dalam setiap pengembangan adalah dana, maka jaringan dapat menjadi jawabannya. Mengapa? Karena sampai sekarang sudah banyak lembaga donor yang memang berkompeten dalam bidang pendidikan, sehingga apa ada yang salah ketika kita memanfaatkannya. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah mungkin hal itu dilakukan dalam konteks pendidikan islam? Dan akan mengambil wujud apa jaringan yang akan dibangun pendidikan islam dalam upayanya memajukan diri?

Itulah beberapa pertanyaan yang mungkin dapat diajukan ketika kita mau berbicara masalah kemajuan pendidikan islam dengan menggunakan alat bantu memperkuat jaringan kerja. Memang suatu alat bantu tidak akan terlihat efektif atau tidaknya, tanpa adanya pengujian terlebih dahulu, jika jaringan memang sudah ada, maka hanya penguatan yang harus dilakukan.

B. Pendidikan Islam

Secara umum, istilah merupakan suatu bentuk pemaknaan yang bersifat subyektif mengenai suatu perkara, sehingga dalam pengistilahan tidak ada kata pembenaran secara mutlak selagi istilah itu tidak keluar dari lingkup perkara yang dimaksud. Dalam pendidikan islam, ternyata banyak para muslim yang mendevinisikan secara berbeda beda, sehingga Hery Noer Aly berujar bahwa konsep pendidikan islam adalah usaha berproses yang dilakukan manusia secara sadar dalam membimbing manusia menuju kesempurnaan berdasar islam[2]

Pendidikan islam merupakan sebuah proses yang dilakukan manusia secara sadar. Ketika kita berbicara proses, maka yang tergambar dalam benak kita adalah sebuah jalinan rantai yang tiada ujung, dan akan selalu terjalin ketika masih tersisa adanya rantai. Demikian juga dengan pendidikan islam, maka hal ini juga merupakan suatu jalinan rantai pemrosesan pembimbingan manusia yang akan terus berjalan selagi masih tersisa adanya umat muslim.

Muhammad pernah bersabda, bahwasannya kewajiban mencari ilmu adalah mulai dari ketika manusia dilahirkan, sampai dengan manusia menemui ajalnya. Sangat jelas dari pemaknaan hadits ini, bahwa nabi sendiri telah menjadikan pendidikan sebagai sebuah proses yang tidak berujung, selagi manusia masih mampu menarik nafas.

Dimulai dari kata iqra untuk selanjutnya mendapatkan penjembaran dengan sendirinya yang bermuara pada hal yang sama. Dalam perkembangannya, pendidikan islam banyak mengalami pasang surut. Dimulai dari pada masa nabi yang mengalami masa sulit untuk dapat membangun pendidikan islam dan beragam cara dilakukan untuk dapat memajukan. Beliau pernah membebaskan tawanan perang kafir, asalkan dia mampu memberikan pelajaran yang bermanfaat bagi umat islam dan pada masa dinasti Abbasyiah pendidikan islam benar benar mengalami masa kejayaannya.

Pada masa dinasti Abbasyiah, banyak buku buku diluar islam yang diterjemahkan kedalam bahasa arab, untuk selanjutnya disebarkan keseluruh penjuru kawasan islam. Pada masa ini, banyak terbangun perpustakan perpustakaan umum, maupun pribadi dan juga madrasah madrasah yang dijadikan sebagai media pembelajaran.

Kejayaan islam mengalami kemundurannya setelah adanya penyerangan tentara Mongol di Baghdad. Beragam peninggalan keilmuan islam dihancurkan, sehingga tradisi keilmuan islam dapat dikatakan mengalami stagnan. Terlebih setelah muncul adanya fatwa bahwa pintu ijtihad telah tertutup, yang mengakibatkan adanya pemaknaan bahwa tradisi berfikir dalam umat islam juga dilarang.

Memang sebuah ironi yang harus ditelan oleh semua umat islam, sebagai sebuah taqdir yang tidak bisa ditolak, sampai akhirnya pendidikan islam mengalami kemunduran yang amat dahsyat dan diwarisi oleh umat islam berikutnya. Banyak upaya telah dilakukan untuk mengembalikan kejayaan islam, namun tidak adanya kesatuan tekad dalam diri umat islam, menjadikan usaha ini menjadi sebuah lelucon karena harus rela menerima kegagalan demi kegagalan.

C. Upaya Perbaikan

Pendidikan islam merupakan tanggung jawab semua umat islam untuk menjadikannya maju ataupun terpuruk. Karena pendidikan islam adalah permasalahan sosial, maka cara penyelesaiannya pun haru melibatkan semua komponen yang ada. Memang banyak cara yang dapat dilakukan untuk dapat mengembalikan kejayaan pendidikan islam seperti pada masa kejayaannya dulu. Banyak para sarjana muslim yang telah menelorkan ide idenya untuk membangun kembali pendidikan islam.

Banyak diantara sarjana muslim yang harus belajar terlebih dahulu dinegri orang, untuk selanjutnya membuat sintesa baru yang pas untuk diformulasikan dengan konsep pendidikan islam sehingga menghasilkan sebuah konsep yang benar benar inovatif dan adaptif. Diantara mereka yang telah menelorkan ide ide, tidak henti hentinya mendengungkannya ditengah kehidupan umat muslim, dan mungkin jalan yang dapat ditempuh umat islam untuk melakukan pembaharuani pendidikan islam adalah:

 

  1. Perlu adanya pemikiran kembali tentang konsep pendidikan islam yang idealistis yaitu pendidikan yang integralistik, humanistik, pragmatik dan berakar pada budaya yang kuat.[3]
  2. Aadanya kejelasan cita cita dengan langkah langkah yang operasional didalam usaha mewujudkan cita cita pendidikan islam
  3. Memberdayakan kelembagaan dengan menata kembali sistemnya
  4. Pendidikan islam harus mampu meningkatkan dan memperbaiki manajemen
  5. Peningkatan mutu sumber daya manusia[4]

Sebagus apapun sebuah konsep, jika tidak dijalankan oleh seorang yang memiliki semangat pembaharuan, maka hasilnya juga akan tidak bagus. Mohammad Abduh atau Iqbal mungkin dapat dijadikan sebagai pemikir islam yang gencar dalam melakukan pembaharuan, setidaknya bagi umat islam yang lain dapat membantunya dalam segala bentuknya yang mengacu kepada pemikiran pemikiran para pembaharu.

Jika permasalahan yang paling kentara dalam pendidikan islam adalah tidak adanya budaya sains dan pengembangan teknologi, maka jawaban yang mungkin agak tepat adalah menggabungkan antara ilmu agama dan umum secara apik, mengapa? Supaya tidak tidak terjadi adanya bentuk dikotomi yang selama ini masih sering menghantui sebagian kalangan muslim yang mencoba menggabungkan keduanya, namun dengan setengah hati.

Memang sebagian kalangan muslim mengabaikan adanya pendidikan ilmu umum, yang pada dasarnya adalah suatu hal yang harus dikuasai untuk dapat tetap eksis dalam percaturan globalisasi, sehingga jawaban yang tepat adalah menyatukan ilmu yang fardlu ain dengan kifayah dengan menjadikan ilmu fardlu ain sebagai poros. Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Al Khawarizm adalah para ilmuan muslim yang telah meninggalkan banyak warisan berharga bagi umat. Mereka tidak buta akan ilmu agama, akan tetapi mereka juga cakap dalam ilmu dunia. Hadits nabi tentang pilihan kebahagiaan didunia dan akherat yang memerlukan penguasaan ilmu dari masing masing pilihan tersebut, sudah sepantasnya dicermati kembali dan mencoba untuk dipraktekkan secara nyata dalam konteks kekinian.

Kita harus merusmuskan kembali konsep pendidikan islam dengan paradigma wawasan semesta dengan langkah langkah:

  1. Membangun kerangka dasar filosofis dan teoritis pendidikan yang didasarkan sumber ajaran islam
  2. Membangun sitemnya yaitu:
    1. Merumuskan Visi, Misi, dan Tujuan Pendidikan
    2. Mengembangkan kurikulum dan materi ajar pendidikan dengan prinsip diversifikasi
    3. Metodologi Pembelajaran
    4. Profesionalitas pendidik dan tenaga kependidikan
    5. Pengembangan system manajemen sekolah
    6. Pengadaan sarana dan prasarana
    7. Pendanaan pendidikan
    8. Membangun jaringan kemitraan ( network ;)

Bangunan sistem pendidikan islam ini secara operasional praktis diproyeksikan melalui aktualisasi laboratorium fungsi ganda, yakni peningkatan mutu akademik dan pengembangan usaha bisnis.[5]Bentuk dan ragamnya dapat menyesuaikan dengan pasar. Hal ini sangat bermanfaat dalam upaya memenuhi pembiyayaan pendidikan yang kian melambung, dalam upayanya memajukan diri. Disamping itu hal ini juga sangat berguna untuk membangun jaringan ekonomi yang kuat, sehingga pembiyayaan yang dapat diperoleh oleh pendidikan islam dapat berjalan terus, selagi jaringan itu dapat berjalan dengan baik.

Sebagai asumsi rendahnya mutu pendidikan dilembaga pendidikan islam ( terutama swasta ) karena rendahnya aktivitas dan kualitas pendidik ini disebabkan karena tidak didukung adanya fasilitas yang cukup dan bermuara pada sedikitnya dana dalam alokasi pendidikan, sehingga untuk menyediakan fasilitas tersebut tidak mencukupi6 Berdasarkan asumsi diatas dapat dikatakan bahwa salah satu faktor rendahnya mutu pendidikan dilembaga pendidikan islam adalah maslah dana

Mungkin salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah adanya pembentukan unit usaha, dengan alasan yang tentunya sangat beragam. Diantarnya :

  1. Pemerintah telah memberikan hak otonomi dalam penyelenggaraan setiap satuan pendidikan termasuk satuan pendidikan islam, sehingga otoritas pengelolaan terletak pada satuan pendidikan tersebut
  2. Secara eksplisit substansi dari UU No. 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS mengisyaratkan adanya akuntabilitas lembaga pendidikan secara mandiri menuju keunggulan dengan meletakkan prinsip demokrasi, desentralisasi, keadilan dan menjunjung tinggi hak asasi manusia
  3. Adanya Bank syariah yang didirikan di Indonesia sebagai badan perbankan umat islam, sehingga lembaga pendidikan silam dapat menjalin kemitraan ( networking )7

Banyak Negara maju yang peduli akan dunia pendidikan ataupun LSM juga banyak yang bergerak dalam sektor pengembangan pendidikan, sehingga dalam konteks kekinian untuk membuat sebuah jaringan pengembangan pendidikan sangatlah mudah, selagi kita memang mau mencari dan menjalin hubungan baik dengan mereka. Jepang, Australia, Amerika, Jerman, Belanda adalah Negara Negara yang konon sering memberikan bantuan dalam bidang pendidikan.

Bank Dunia sejak tahun 1960-an menentukan empat kriteria untuk invertasi SDM dalam memberikan bantuannya terhadap Negara Negara dunia ketiga diAsia, Afrika dan Amerika latin dalam pengembangan SDM, yaitu;

1. Kebutuhan tenaga kerja yang trampil dalam lapangan kejuruan dan teknologi.

2. Perluasan pendidikan dasar dan ini dinilai memiliki tingkat balik ( rate of return ) yang lebih tinggi sehubungan dengan rendahnya beaya.

3. Pengembangan sector pedesaan sehingga memperlihatkan peranan pendidikan masal untuk meningkatkan produktivitas sector pedesaan

4. Keadilan dan pemerataan yang menunjukkan pentingnya distrebusi kesempatan pendidikan dan bentuk bentuk pengembangan SDM lainnya, baik secara geografis, social, maupun secara ekonomis ( Wardiman Djojonegoro, Ace Suryadi, 1995

Hubungan kemitraan yang dimaksud adalah hubungan bersifat simbiotik yaitu hubungan yang mampu mendorong perkembangan pendidikan, bukan hubungan yang mengambil keuntungan finansial dari pendidikan untuk kepentingan dirinya sendiri ( stakeholkder ), namun keuntungan tersebut untuk investasi bagi peningkatan mutu pendidikan islam 8

Hubungan yang sering terjadi dalam dunia pendidikan selama ini adalah adanya hubungan yang menguntungkan sebagian pihak saja, dengan merugikan sebagian pihak yang lain. Tentunya hal ini adalah suatu keadaan yang tidak sehat dan sudah dapat diterka bahwa hubungan semacam ini hanya akan menambah suram dunia pendidikan.

Muhammad telah mengajarkan kepada umatnya untuk saling bantu membantu dalam kebaikan dan dilarang keras untuk saling bantu membantu dalam keburukan. Adalah suatu larangan pula ketika pendidikan sebagai sesuatu yang suci harus dikotori oleh kepentingan kepentingan pribadi ataupun golongan, sehingga arah dari pendidikan itu sendiri dapat keluar dari tujuan asal.

Langkah yang mungkin dapat dikatakan baik untuk menetralisisr adanya kepentingan kepentingan tersebut, adalah sebagai berikut:

  1. Dikembangkan wadah yang memungkinkan banyak pihak saling bertemu , berdiskusi dan membangun komitmen bersama dalam meningkatkan mutu lembaga pendidikan islam. Untuk wadah ini dapat berupa Dewan Sekolah atau Komite Sekolah sebagimana ditetapkan dalam UU No. 20 Tahun 2003 pasal 56 wadah ini berfungsi melembagakan hubungan simbiotik sehingga hubungan tidak hanya terjadi secara insidental melainkan secara berkelanjutan
  2. Dilakukan regulasi dnegan membuat aturan yang mengatur kewenangan, untuk menghindari adanya kesalah fahaman dalam batas kewenangan yang dilakukan
  3. Dikembangkan upaya upaya memotivasi dari hubungan simbiotik tersebut dalam kerangka ikut bertanggung jawab bersama dalam meningkatkan mutu pendidikan ( mutu kelulusannya ) 9

Inilah salah satu upaya yang dapat kita lakukan dalam upaya memajukan kembali pendidikan islam. Ada banyak kemungkinan yang dapat kita prediksi, namun sudah seharusnya kita tetap berkeyakinan bahwa setiap usaha akan membuahkan hasil, selagi dilakukan dengan sungguh sungguh.

D. Penutup

Memang pendidikan islam masih dapat kita perbaharui. Dan pekerjaan ini telah dimulai sejak lama. Pendambaan kembalinya kekuatan islam dalam semua lini yang ada menjadi alasan yang begitu kuat untuk melakukan perubahan tersebut.

Penguatan jaringan memang menjadi hal yang tidak dapat ditawar lagi dalam masa globalisasi seperti saat ini, sehingga kunci dari keberhasilan pendidikan islam dalam melakukan kebangkitannya adalah dengan memperkuat jaringan yang ada dan memanfaatkannya dengan sebaik baiknya.

 

 



[1] ( Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam; Lintasan Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan ( Jakarta: Grafindo Persada, 1999 ) hal. 127

 

[2] ( Abdul Aziz, Dikotomi dalam Praktek Pendidikan Islam ; Telaah Sosiologis Tentang Latar Belakang Munculnya Dikotomi, ( Yogyakarta: Tesis UIN, 2005 ), hal. 37 )

 

[3] ( A. Malik Fajar, Reformasi Pendidikan Islam, Jakarta: Yayasan Pendidikan Islam Fajar Dunia, 1999 ) hal. 37

[4] ( A. Malik Fajar, Madrasah dan Tantangan Modernitas, Bandung: Mizan, 1998 ) hal. 13

[5] ( Usman Abu Bakar, Disarikan dari hasil diskusi kelas, dalam perkuliahan , Sistem Informasi Manajemen Pendidikan Islam, pada tanggal 6 Januari 2005 ( Yogyakarta: MSI UII )

6 Ibid, hal. 164

7 Ibid, 165

8 Ibid, 163

9 Ibid, 164