DAULAT BANI UMAYAH (41-133 H./661-750 M.)[1]

Dan Berkembangnya Sekte-Sekte

 

 

1. Muawiyah dan Hasan

Sebagaimana ditegaskan di muka, Muawiyah bin Abi Sufyan[2] saat menjadi Gubernur Suriah yang berkedudukan di Damaskus melakukan pemberontakan kepada Khalifah Ali bin Abu Thalib. Pemberontakan ini menyebabkan terjadinya Perang Shiffin, yakni perang saudara antara kaum muslimin yang memihak Ali dan  Muawiyah. Dalam perang saudara itu, sekitar 80 ribu umat Islam tewas.

Ketika Khalifah Ali ra. wafat karena dibunuh oleh seorang Khawarij, para pengikut Ali ra. kemudian mengangkat Hasan, putra Ali, sebagai khalifah baru. Mereka yang mendukung Hasan ini terdiri dari masyarakat Arabia, Irak, dan Persia. Sementara Muawiyah juga mengklaim dirinya sebagai khalifah yang sah sesuai dengan hasil tahkim. Disamping itu, Muawiyah juga merasa dirinya sebagai pewaris kekhalifahan Utsman yang dibunuh oleh pemberontak beberapa tahun sebelumnya.

Hasan yang tidak ingin membuka kran konflik dengan Mu’awiyah, disamping tidak berambisi untuk menjadi khalifah, tiga bulan setelah dibaiat oleh pendukungnya segera mengikat perjanjian damai dengan Muawiyah. Hasan bersedia mengakui kekhalifahan Muawiyah dengan beberapa syarat. Di antara syarat-syarat yang diajukan Hasan adalah: Muawiyah tidak menaruh dendam kepada orang-orang yang dulunya mendukung Hasan, seperti masyarakat Irak dan Suriah, serta Muawiyah mau memaafkan dan menjamin keselamatan mereka; kursi kekhalifahan setelah Muawiyah harus diserahkan kepada pilihan umat, nukan diwariskan kepada keturunannya; pajak dari Ahwaz, salah satu distrik di Persia, diperuntukkan bagi Hasan; dan Muawiyah harus membayar kompensasi sebesar lima juta dirham dari bendahara Kufah, memberi satu juta dirham setiap tahun untuk Hasan, dan dua juta dirham untuk saudaranya, Husein.

Syarat-syarat tersebut disetujui oleh Muawiyah, dan pada tahun 41 H./661 M., Muawiyah datang ke Kuffah guna menandatangani perjanjian damai sekaligus menerima penyerahan kekuasaan dari tangan Hasan. Tahun itu kemudian dinamakan sebagai ”tahun persatuan” (‘am al-jama’ah), karena tidak ada lagi dualisme kepemimpinan seperti sebelumnya.[3] Perjanjian damai ini dinilai oleh Muawiyyah sebagai bentuk pengakuan atas kekhalifahannya.[4]

Muawiyah kemudian memindah ibukota negara dari Madinah ke Damaskus. Ia juga mengganti sistem pemerintahan dari demokratis ke monarkhi. Sebagaimana diketahui, sejak masa Abu Bakar hingga periode Ali ra., para khalifah dipilih langsung oleh rakyat dan menjalani kehidupan seperti seorang biasa. Mereka tinggal di rumah sederhana, memenuhi kebutuhan hidup sendiri seperti pergi belanja ke pasar, memperbaiki rumah atau peralatan keluarga, persis seperti yang dijalani orang kebanyakan. Sejak kepemimpinan dipegang oleh Muawiyah, ia meniru sistem pemerintahan ala kerajaan. Muawiyah hidup layaknya raja, membangun istana di dalam benteng, memiliki banyak pembantu, bergelimang kemewahan, bepengawal lengkap dengan kekuasaan mutlak. Muawiyah pun menyebut dirinya sebagai "khalifatulLah" ("wakil" Allah di bumi) –suatu istilah yang kemudian dipakai oleh para khalifah periode-periode berikutnya.

 

2. Yazid dan Husein

Karena merasakan ajal sudah semakin dekat, Muawiyah kemudian menunjuk anaknya, Yazid, sebagai penggantinya. Cara penunjukan ini tidak dikenal dalam sistem pemilihan pemimpin Islam. Karena itu, banyak masyarakat yang menolak rencana tersebut, termasuk empat orang tokoh berpengaruh, yaitu Husein bin Ali, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Umar, dan Abdurrahman bin Abu Bakar. Kelimanya menolak untuk memberikan baiat atas pengangkatan Yazid.

Ketika Yazid telah diangkat menggantikan ayahnya, penduduk kawasan Timur seperti Hijaz, Persia, Khurasan, dan Irak, tidak memberikan baiat kepada Yazid. Para pendukung kekhalifahan Yazid umumnya berasal dari kawasan Barat, seperti Afrika Utara, Mesir, dan Palestina. Karena itu, Yazid kemudian memerintahkan gubernur Hijaz, Marwan bin al-Hakam, untuk memaksa penduduk berbaiat kepadanya. Namun mereka tetap menolak melakukannya.

Sebagai bentuk protes atas ketidaksetujuan tersebut, Husein bin Ali beserta para pengikutnya kemudian pindah ke Mekkah. Tak berapa lama setelah menetap di Mekkah, datanglah utusan dari Kuffah menemui Husein. Melalui utusan itu, penduduk di kawasan Kuffah memohon Husein datang ke Kuffah dan meminta kesediaannya untuk diangkat sebagai khalifah.

Permohonan tersebut dikabulkan oleh Husein. Dia kemudian mengirim beberapa orang utusan yang dipimpin oleh sepupunya, Muslim bin Uqa’il, untuk datang ke Kufah. Ketika telah berada di Kuffah, Muslim atas nama Husein menerima baiat dari sekitar 30.000 orang penduduk yang menyatakan kesetiaan dan janji mereka untuk mempertahankan kekhalifahan Husein.

Mendengar hal itu, Husein kemudian berencana untuk mendatangi Irak untuk mengambil baiat penduduk di sana. Rencana tersebut tentu saja mendapat tantangan dari para sesepuh Mekkah, seperti Abdullah bin Umar dan Abdullah bin Abbas. Mereka sangat khawatir jika Husein berangkat sendiri ke Irak maka ia akan menemui kesulitan besar. Apalagi pada masa khlalifah Ali, penduduk Irak pernah bersikap inkonsisten atas sikap mereka. Karena itu, para sesepuh Mekkah itu menyaraknkan agar Husein mengirim utusan saja sebagaimana yang ia lakukan atas penduduk Kuffah. Namun Husein tetap teguh dengan pendiriannya, dan berangkatlah ia bersama keluarganya menuju Irak pada tahun 61 H./680 M.

Rencana keberangkatan Husein ini sebelumnya telah didengar oleh Yazid di Damaskus. Karena itu, ia kemudian memerintahkan Abdullah bin Ziyad, gubernur Persia yang berkedudukan di Bashrah, untuk menangkap Husein dan menggagalkan pembaiatan warga Irak atasnya. Pasukan yang dipimpin Abdullah bin Zayd tiba lebih dahulu daripada rombongan Husein di Kufah. Di sana, mereka berhasil menangkap utusan Husein, Muslim bin Uqa’il, dan kemudian membunuhnya.

Berita kematian Muslim itu di dengar oleh Husein dan rombongan yang mengawalnya. Karena itu, ia kemudian mempersilahkan siapa saja di antara para rombongan untuk kembali ke Mekkah jika khawatir akan keselamatannya, seementara Husein sendiri tetap berniat meneruskan perjalanan menuju Irak. Akhirnya, sebagian besar rombongan kembali ke Mekkah, sehingga yang tersisa tinggal 73 orang. Mereka semua bersikeras untuk tetap mendampingi Husein sampai ke Irak. Husein pun meyakinkan kepada para pengiokutnya bahwa jumlah mereka yang sedikit ini akan mampu meyakinkan penduduk bahwa kedatangan mereka adalah dengan maksud damai, bukan untuk berperang.

Ketika rombongan Husein tiba di suatu kawasan bernama Shiraf, mereka dihadang oleh 2000 orang tentara yang dikirim oleh gubernur Abdullah bin Ziyad untuk mengahadang mereka. Rombongan kecil ini kemudian didesak mundur hingga ke suatu dataran kering dan gersang bernama Karbala. Di tempat itu, rombongan Husein kemudian beristirahat dan mendirikan kemah.

Namun pada pagi harinya, gubernur Abdullah bin Ziyad kembali mengirim pasukan sebanyak 4000 orang. Mereka dikirim oleh Abdullah Bin Ziyad karena ia menyangka bahwa rombongan Husein hanya merupakan pasukan pendahuluan, sementara di belakangnya masih ada pasukan lain yang jumlahnya jauh lebih besar.

Melihat kedatangan pasukan dalam jumlah besar, Husein kemudian mengatur posisi para pengawalnya, setelah sebelumnya melaksanakan shalat dzuhur bersama (menurut sebagian riwayat shalat khawf). Pada sore hari tanggal 10 Muharram 61 H./680 M., pecahlah pertempuran yang tidak seimbang itu.

Husein yang saat itu telah berusia 55 tahun dan dalam kondisi sakit, dengan susah payah terus berusaha mempertahankan diri dari serangan lawan. Sementara para pengawalnya terus berguguran satu persatu. Dalam suasana yang panas, haus, dan letah, Husein lengah mempertahankan diri. Lengannya putus terkena tebasan pedang lawan dan darah pun bersimbah keluar dengan derasnya. Bersamaan dengan itu, disaat tubuh Husein masih terhuyung merasakan sakit, datang pula tusukan dari arah depan tepat menghujam dadanya. Setelah tubuh Husein tergeletak di tanah, datang pula tebasan ketiga tepat mengenai lehernya. Orang yang menebas leher Husein ini bernama Syammar bin Dziljausan. Setelah kepala Husein terpenggal, Syammar kemudian mengangkat kepala itu dengan ujung pedangnya dan dipamerkan kepada tentara lain yang sedang bertempur.

Kebengisan tentara Abdullah bin Ziyad ini tidak berhenti sampai di situ. Semua kepala anak-anak dan istri Husein yang telah tewas sebelumnya juga ikut di tebas satu persatu, lalu dibawa pulang ke kota Kufah untuk dipersembahkan kepada gubernur Abdullah bin Ziyad. Dari Kufah, kepala-kepala keturunan Rasulullah itu kemudian di masukkan ke dalam baki dan dikirimkan melalui perutusan ke Damaskus untuk diserahkan kepada Khalifah Yazid.

Ketika melihat kepala Husein dan keluarganya diperlakukan secara nista, khalifah Yazid langsung mengucurkan air mata. ”Aku tidak menyuruh untuk membunuh Husein,” kata khalifah dengan nada terbata. ”Terkutuklah engkau anak Marjanah (Ibu Abdullah bin Ziyad)! Seandainmya aku berada di situ, pasti aku akan memberikan pengampunan kepada Husein” tambahnya dengan mata yang terus mengucurkan air mata.

Atas perintah Khalifah Yazid, kepala Husein kemudian dikuburkan dengan penuh penghormatan di Madinah, tepat di sisi makam ibundanya, Fatimah bin Rasulillah, dan saudaranya, Hasan bin Ali. Sedangkan tubuhnya dikebumikan di tempat beliau meninggal, yakni padang Karbala, Irak.

Sebelas tahun setelah kematian Husein, giliran Abdullah bin Zubair yang memproklamirkan diri sebagai khalifah. Hal itu dilakukan Abdullah bin Zubair sebagai reaksi ketidaksetujuannya atas kekhalifahan Yazid bin Muawiyah. Abdullah bin Zubair memilih Mekah sebagai pusat kekuasaannya. Namun tak lama kemudian, tentara kerajaan di masa Khalifah Abdul Malik kemudian menyerbu Mekah. Keluarga Abdullah bin Zubair dihancurkan dan ia sendiri wafat dalam pertempuran pada 73 H atau 692 Masehi.

 

Keberhasilan-Keberhasilan Daulat Bani Umayyah

Walupun demikian, selama masa pemerintahan Bani Umayah telah banyak kemajuan yang dicapai umat Islam. Kemajuan itu dicapai sejak kepemimpinan dipegang oleh Muawiyah hingga khalifah ke 14, Marwan II. Di antara kemajuan tersebut adalah pembentukan dinas pos -termasuk penyediaan kuda dan perlengkapannya- untuk mempermudah pengiriman surat-surat atau barang-barang yang menjadi kebutuhan masyarakat. Dinasti Bani Umayyah juga mengangkat Qadli atau hakim sebagai jabatan profesional yang mendapat gaji dari negara. Bahkan pada masa pemerintahan Abdul Malik, ia berinisiatif mencetak mata uang sendiri dengan menggunakan tulisan Arab sebagai pengganti mata uang Byzantium dan Persia yang telah beredar sebelumnya. Administrasi dan management pemerintahan dibenahi, dan bahasa Arab ditetapkan sebagai bahasa resmi negara.

Sementara dalam hal perluasan wilayah, Dinasti Bani Umayyah mencatat banyak keberhasilan yang luar biasa. Kekuasaan Islam melebar ke Barat hingga Tunisia yang berada di seberang Italia. Di Timur, wilayah kekuasaan Bani Umayyah telah menjangkau seluruh daratan Afghanistan. Ekspedisi laut berulangkali menyerbu ke Byzantium, namum gagal menaklukkan Romawi. Wilayah itu kemudian diperluas oleh Khalifah Abdul Malik. Wilayah Asia Tengah seperti Bukhara, Khawarizm, Ferghana, hingga Samarkand berhasil dikuasai. Pasukan Bani Umayyah bahkan berhasil menaklukkan wilayah Sind dan Punjab di India dan Pakistan.

Langkah ini dilanjutkan oleh putra Abdul Malik, al-Walid I (705-715 Masehi). Ia membangun panti-panti asuhan untuk orang-orang cacat. Pekerja untuk rumah-rumah tersebut diangkat sebagai pegawai dan mendapat gaji. Al-Walid juga membangun infrastruktur berupa jalan-jalan raya yang menghubungkan antar wilayah. Selain itu, pada masanya pula dibangun gedung-gedung pemerintah, masjid-masjid, bahkan juga pabrik-pabrik. Pada masa ini, masyarakat Muslim mencapai puncak kemakmurannya.

Sementara di bidang teritorial, di masa pemerintahan khalifah al-Walid, Dinasti Bani Umayyah telah berhasil menguasai seluruh wilayah Afrika Utara -termasuk Aljazair dan Maroko, dan Thariq bin Ziyad ditunjuk sebagai gubernur di sana. Terobosan paling monumental terjadi di Gibraltar, Spanyol, pada tahun 711 Masehi. Melalui panglima Thariq bin Ziyad, tentara Islam menyeberangi selat dari Maroko ke dataran Spanyol di Eropa. Mereka mampu menundukkan perlawanan tentara Spanyol yang dipimpin oleh raja Raja Roderick. Ibu kota Spanyol, Madrid, segera mereka kuasai. Demikian pula kota-kota lain seperti Toledo, Sevilla, Malaga, Elvire, dan Cordoba berhasil dirangkul dalam kekuasaan Islam. Seluruh Spanyol pun menjadi wilayah kekusaan Bani Umayah.

Khalifah yang paling banyak dikenang adalah Umar bin Abdul Aziz (717-720), khalifah ke 8 dinasti Bani Umayyah. Dari jalur bapak, Umar bin Abdul Aziz adalah keturunan Umayyah, namun dari jalur ibu, dia masih termasuk cicit Umar bin Khaththab. Tak heran bila kemudian ia dijuluki sebagai Umar II, sementara Umar I adalah buyutnya, Umar bin al-Khaththab. Selama memerintah, Umar II lebih menekankan pembangunan moral dan sosial dibanding fisik. Ia menolak jika dipilih menjadi khalifah semata karena dirinya anak khalifah. Ia bahkan merangkul musuh-musuh Dinasti Umayah, termasuk kelompok Syi'ah, untuk memilih khalifah yang baru. Sampai kemudian semua sepakat untuk memilihnya sebagai khalifah.

Umar memberikan kebebasan beribadah kepada masyarakat dari semua kelompok agama. Pajak yang membenani masyarakat pun diperingan. Umar juga disukai oleh orang-orang non-Arab atau 'mawali'. Sebelum masa Umar bin Abdul Aziz, warga non-Arab dianggap sebagai "warga kelas dua". Namun ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, ia mensejajarkan bangsa apapun tanpa terkecuali.

Dalam kehidupan sehari-hari, Umar bin Abdul Aziz mewarisi sikap kakek buyutnya, Umar bin Khattab. Bedanya: Umar bin Khattab dikenal sebagai seorang bertemperamen keras, sedangkan Umar bin Abdul Aziz adalah seorang yang lembut. Umar bin Abdul Aziz juga dikenal sangat sederhana. Di antara bukti kesederhanaan Umar adalah ketika ia -suatu malam-bekerja di ruangannya yang berpenerangan lampu. Lalu anaknya datang minta izin untuk bicara dengannya. Umar bertanya, pembicaraannya itu untuk keperluan negara atau keluarga. "Urusan keluarga," kata anaknya. Umar lalu mematikan lampu itu. ”Kenapa dimatikan, ayah!” tanya sang anak keheranan. ”Lampu tersebut dinyalakan dengan minyak yang dibiayai negara,” jawab Umar singkat. Umar tidak mau urusan keluarga menggunakan lampu dengan minyak negara.

Sayangnya, Umar hanya memimpinn negara selama tiga tahun. Namun selama tiga tahun kepemimpinannya, Umar berhasil meneruskan misi perluasan wilayah hingga wilayah kekuasaan Islam saat itu dinilai sebagai yang terluas di dunia. Pada mulanya, tentara Bani Umayah di bawah komando Panglima Abdulrahman bin Abdullah Al-Ghafiqi, bergerak dari Spanyol menuju Perancis. Setelah melalui pegunungan Piranee, mereka menguasai Bordeau, Poitiers, dan hendak maju ke kota Tours. Di tempat ini terjadi pertempuran yang menewaskan Al-Ghafiqi, sehimgga sisa tentara muslim pun mundur kembali ke Spanyol.

Dengan rentang wilayah kekuasaan yang sangat luas, di abad ke-8 Masehi tersebut, Bani Umayah merupakan kekuasaan yang paling besar di dunia. Kekuasaan besar lainnya adalah Dinasti Tang di wilayah Cina serta Romawi yang berpusat di Konstantinopel. Ke wilayah kekuasaan Bani Umayah itulah Islam kemudian menyebar dengan cepat.

Pada masa-masa berikutnya, para khalifah Bani Umayyah lebih banyak hidup bergelimang kemewahan. Moralitas mereka selaku pemimpin jatuh dan tidak mempunyai wibawa di mata rakyat. Khalifah ke 10, Hisyam bin Abdul Malik, sebenarnya berusaha mengatasi hal itu. Namun keadaan telanjur tak terkendali. Disamping itu, adalah sebuah kemustahilan untuk mempertahankan wilayah yang begitu luas terus-menerus di tengah hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap kekhalifahan. Akhirnya, muncullah pemberontakan di sana-sini. Pemberontakan terkuat datang dari Abdullah Asy-Syafah, atau Abu Abbas. Ia adalah keturunan Abbas bin Abdul Muthalib -paman Rasulullah, yang disokong oleh Bani Hasyim -keluarga yang terus berseteru dengan keturunan Bani Umayah. Kalangan Syi'ah -para pendukung fanatik Ali-mendukung pula gerakan ini.

Abu Abbas kemudian bersekutu dengan tokoh kuat, Abu Muslim dari Khurasan. Pada tahun 750 Masehi, mereka berhasil menjatuhkan kekuasaan Bani Umayah. Khalifah terakhir, Marwan bin Muhammad, lari ke Mesir namun tertangkap dan dibunuh di sana. Berakhirlah kekuasaan Bani Umayah setelah sekitar 90 tahun berkuasa,meskipun keturunannya kemudian berhasil membangun Bani Umayah Kedua di wilayah Spanyol.

 

 

SEKTE-SEKTE DI MASA BANI UMAYYAH

 

1. KHAWARIJ

Setelah khalifah Yazid, pemerintahan dinasti Bani Umayyah secara bergiliran dipimpin oleh Mua’awiyah II (64-65 H./683-684 M.), Marwan bin al-Hakam (65-66 H./684-685 M.), dan Abdul Malik (66-86 H./685-705 M.). Pada periode ini, gerakan Khawarij tumbuh kembali. Sisa-sisa tentara Khawarij yang pernah dihancurkan oleh pasukan Khalifah Ali dalam pertempuran di Nahrawan itu menyusun kekuatan kembali dan berhasil bangkit menjadi salah satu sekte kuat di masa ini. Meskipun pada awalnya gerakan Khawarij hanya merupakan gerakan politik, namun dalam perkembangan selanjutnya aliran ini berkembang menjadi gerakan teologis (akidah). Aliran Khawarij pertama yang tumbuh pada masa ini bernama al-Azariqah.

 

a. Al-Azariqah

Sekte al-Azariqah diikrarkan pada akhir abad ke-7 Masehi atau sekitar tahun 60-an Hijriyah. Mereka berdomisili di daerah perbatasan antara Iran dan Irak sekarang. Nama al-Azariqah dinisbatkan kepada pemimpin mereka, Nafi’ bin Azraq al-Hanafi, yang dinilai sebagai khalifah dengan gelar amirul mukminin. Pendukung gerakan ini berjumlah sekitar 20 ribu orang. Ajaran teologis kaum al-Azariqah memang bermula dari warisan kaum Khawarij yang tumbuh di masa khalifah Ali. Bedanya, gerakan al-Azariqah memiliki paham yang lebih ekstrem daripada pendahulunya. Mereka berkeyakinan bahwa Ali telah kufur karena ia menerima tawaran tahkim dari Muawiyah, begitu pula sahabat-sahabat yang seide dengan Ali. Menurut ketyakinan mereka, Ali dan sahabat-sahabat lainnya akan masuk neraka dan kekal di dalamnya. Hal yang sama mereka tujukan kepada setiap orang Islam yang menolak ajaran al-Azariqah. Mereka semua telah musyrik karena tidak bersedia menganut paham al-Azariqah. Sementara para pengikut paham al-Azariqah yang tidak bersedia hijrah dan bertempat tinggal di kawasan mereka juga dikategorikan sebagai orang musyrik.[5]

Dalam pandangan mereka, setiap orang yang musyrik boleh ditawan atau dibunuh, termasuk anak-anak maupun istri-istri mereka. Dengan prinsip inilah kaum Khawarij al-Azariqah banyak melakukan pembunuhan terhadap sesama umat Islam yang berbeda paham dengan mereka atau bertempat tinggal di luar kawasan yang mereka diami. Menurut mereka, kawasan yang mereka tempati adalah Dar al-Islam (Negara Islam), dan daerah yang berada di luar kawasan mereka adalah Dar al-Kufr (daerah orang kafir). Karena itu, orang-orang selain mereka hukumnya halal dibunuh.[6] Keyakinan seperti ini pada akhirnya membuat golongan ini sering melakukan kontak senjata dengan penduduk-penduduk yang bertempat tinggal di sekitar kawasan mereka, salah satunya adalah peperangan dengan penduduk Bashrah.[7]

 

b. Al-Najdat

Sebaliknya, di kawasan Yamamah dan Bahrain, lahir pula kelompok Khawarij yang menamakan dirinya dengan al-Najdat. Kaum al-Najdat ini lahir sebagai reaksi atas kelompok al-Azariqah pimpinan Nafi’ al-Azraq yang menganggap musyrik kepada pengikut Khawarij yang berada di luar daerah mereka. Disamping itu, Kaum Najdat juga menolak klaim kaum al-Azariqah yang mengatakan bahwa anak-anak dan istri-istri golongan yang dianggap musyrik itu boleh ditawan atau dibunuh. Sayangnya, Khawarij Najdat juga mengkufurkan pemimpin al-Azariqah, Nafi’ bin Azraq, dan semua pengikut-pengikutnya. Akhirnya terjadilah klaim saling mengufurkan dan memusyrikkan di antara kedua golongan ini.

Kelompok Najal-Najdat ini dipimpin oleh Najdah bin Amir al-Hanafi. Di antara paham keagmaan mereka adalah bahwa orang Islam yang tidak sepaham dengan mereka adalah golongan kafir dan pasti masuk neraka serta kekal di dalamnya. Sementara penggikut Najdat tidak akan kekal di dalam nereka walaupun melakukan dosa besar. Mereka juga berkeyakinan bahwa dosa-dosa kecil yang dikerjakan terus-menerus akan berkembang menjadi dosa besar, dan jika yang melakukannya adalah goplongan di luar mereka maka ia menjadi kafir, tapi bila yang melakukannya berasal dari golongan Najdat sendiri maka tidak menjadi kafir.

Selain paham di atas, masih terdapat paham penting lainnya yang dianut aliran ini. Mereka menganggap bahwa orang islam dapat menyembunyikan keyakinannya demi keselamatan jiwanya. Dia boleh mengucapkan kata-kata atau melakukan hal-hal yang bertentangan dengan keyakinannya, seperti berkata kufur atau berbuat maksiat. Perbuatan tersebut tidak akan membuatnya menjadi kafir karena dilakukan demi menjaga keselamatan jiwa.

Dalam perkembangan selanjutnya, aliran al-Najdat mengalami perpecahan akibat pemberontakan dari dalam. Beberapa pengikutnya membentuk kelompok-kelompok oposisi yang menentang ajaran-ajaran al-Najdat. Pimpinan kelompok oposisi ini antara lain bernama Abu Fudaik dan Rasyid al-Thawil. Kelompok oposisi ini pada akhirnya melakukan perlawanan bersenjata terhadap golongan asalnya sehinga terjadilan kontak senajata di antara mereka. Pertempuran dua golongan ini berakhir dengan terbunuhnya Najdah bin Amir, pimpinan dan sekaligus pendiri gerakan al-Najdat.[8]

Selain dua sekte di muka, masih terdapat tiga sekte sempalan kaum Khawarij lainnya yang hidup dan tumbuh-berkembang pada periode ini. Mereka adalah aliran al-Ajaridah, al-Shufriyah, dan al-Ibadiyah. Tiga golongan ini mempunyai keyakinan teologis yang lebih lunak daripada dua aliran yang telah disebutkan sebelumnya. Salah satu contohnya adalah aliran al-Ajaridah, mereka menyatakan bahwa anggota-anggota golongan Khawarij tidak wajib bertempat tinggal di kawasan mereka. Berbeda dengan paham al-Azariqah yang menganggap musyrik kepada para penganut Khawarij yang tidak bersedia hijrah ke kawasan tempat tingal mereka.

 

2. SYI’AH

Pembunuhan sadis atas Husein di padang Karbala’ menumbuhkan kemarahan besar bagi pendukung setianya, terutama golongan Syi'ah yang meyakini bahwa khalifah setelah Rasulullah SAW. harus berasal dari Ahlul Bait (keluarga Nabi SAW.). Keluarga Nabi SAW. lah yang menurut mereka paling berhak menggantikan Nabi SAW. sebagai pemimpin umat Islam. Dengan demikian, pemerintahan Bani Umayyah yang melakukan pembunuhan atas Husein --yang notabene masih keturunan (cucu) Rasulullah SAW.—harus dilawan dan dihancurkan, karena mereka telah membunuh pemimpin umat sekaligus merebut kursi kekhalifahannya. Apalagi sebelum itu, Bani Umayyah telah melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Ali dan juga membunuh saudara Husein, yakni Hasan bin Ali. Lengkap sudah kekejaman Daulat Bani Umayyah terhadap keluarga keturunan Nabi SAW.

Keyakina seperti inilah yang menumbuhkan semangat patriotik Kaum Syi’ah untuk melakukan perlawanan bersenjata terhadap pemerintahan Bani Umayyah. Apalagi sejak masa kepemimpinan masih dipegang oleh Muawiyah, dia sering mencaci maki dan mengutuk khalifah Ali serta memburu para pengikutnya. Dengan demikian, Muawiyah telah melanggar janjinya kepada Hasan untuk tidak memusuhi para pendukung Ali serta akan menyerahkan keemimpinan setelahnya kepada umat Islam. Namun dalam kenyataannya, dia sering melakukan tekanan dan intimidasi kepada pendukung Ali, dan di akhir masa pemerintahannya, Muawiyah menyerahkan kursi khalifah kepada anaknya, Yazid.

Berbagai perlawanan bersenjata pun bermunculan di mana-mana dan berlangsung terus-menerus. Pemberontakan pertama dilakukan oleh Mukhtar al-Saqafi bersama para pengikutnya, kemudian dilanjutkan oleh Zaid bin Ali, cucu Husein, lalu perlawanan Yahya bin Zaid, serta pemberontakan Nafs al-Zakiyah.[9]

Walaupun pada mulanya aliran Syi'ah hanya dibentuk oleh situasi politik yang berkembang pada masa itu, namun seiring perjalanan waktu, keyakinan kaum Syi'ah justru beralih menjadi bersifat teologis. Pada intinya, ajaran teologi Syi'ah berpusat pada masalah imamah atau hak kepemimpinan, yang menurut mereka harus berasal dari keturunan ahlul bait. Banyak alasan mengapa mereka mempunyai keyakinan semacam ini. Alasan tersebut bisa berupa argumen yang bersifat aqliyah (rasionil) maupun naqliyah (berdasarkan nash). Salah satu argumen naqliyah mereka adalah hadits riwayat Imam Ahmad yang berbunyi: Barang siapa yang menganggap aku (Nabi SAW., pen) sebagai pemimpin, maka Ali adalah pemimpinnya.[10]

Pada tahun-tahun berikutnya, persoalan imamah membuat Syi’ah terbelah dalam beberapa sekte, walaupun pada intinya mereka tetap menyepakati ke-imamah-an Ali, Hasan, dan Husein. Yang mereka persoalkan kemudian adalah, siapa pengganti Husein? Dalam hal ini muncul dua sliran Syi’ah.  Aliran pertama berkeyakinan bahwa pemimpin setelah Husein adalah putra Husein sendiri, Ali Zainal Abidin. Sementara kelompok kedua menyatakan bahwa pemimpin pasca Husein adalah Muhammad bin Hanafiyah, putra Ali dan istri selain Fatimah. Akibatnya, muncullah sekte-sekte baru dalam Syi’ah yang dalam perkembangan selanjutnya semakin kental nuansa teologisnya daripada nuansa politisnya.

Di antara aliran-alira sempalan Syi’ah itu adalah Kaisaniyah, Ghullat, Zaidiyah, dan Imamiyah. Dua golongan yang di sebut pertama tidak bertahan lama dan lenyap bersama waktu. Sementara dua aliran terakhir terus bertahan bahkan pernah berjaya pada berabad-abad berikutnya. Tokoh-tokoh pertama dua golongan ini adalah Zaid bin Ali Zainal Abidin dan Ja’far al-Shadiq.

 

a. Syi’ah Zaidiyah

Nama aliran ini dinisbatkan pada nama pendirinya, Zaid bin Ali Zainal Abidin, seorang ahli tafsir dan fiqh di zamannya. Dia adalah putra dari Ali bin Husein Zainal Abidin, putra Husein bin Ali yang selamat dari peristiwa pembantaian di padang Kabala’.[11]

Sebagai seorang ulama terkenal pada masa itu, Zaid mempunyai banyak sekali pengikut-pengikut setia.  Bersama para pengikutnya, Zaid membuat front terbuka dengan pemerintahan Bani Umayyah, terutama kepada pemerintahan hisyam bin Abdul Malik. Par pendukungnya rata-rata berasal darikufah dan kurasan. Zaid mempeersiapkan pemberontakan selama kurang lebih satu tahun. Setelah semuanya siap Zaid memberangkatkan pasukannya guna menggempur kota Kuffah. Namun sebelum.seluruh kota dikuasai ia sendiri tewas dalam suatu pertempuran dengan gubernur Kuffah, Yusuf bin Umar. Yahya bin Zaid, putra Zaid bin ali berhasil meloloskan diri ke kurasan dan menggalan kekuatan baru disana. Selama tiga tahun berada di kurasan, Yahya terus memperkuat pasukannya guna menghadapi tentara bani Umayyah. Namun Yahya mengalami nasib serupa dengan ayahnya; ia tewas dalam pertempuran tersebut.

Pada abad-abad berikutnya, aliran Syi’ah Zaidiyah pecah kembali menjadi beberapa sekte, diantaranya adalah Syiah Jarudiyah, Sulaimaniyah, dan Shalihiyah. Syi’ah Jarudiyyah adalah pengikut Abu Jarud Ziyad bin Abd al-Ziyad. Sekte ini beranggapan bahwa Nabi Muhammad Saw. sudah menentukan Ali bin Abi Thalib sebagai penggantinya. Akan tetapi penunjukan itu tidak dilakukan secara langsung, melainkan dengan isyarat dan wasf (menyinggung keunggulan Ali daripada sahabat yang lain).

Sedangkan Syi’;ah Sulaimaniyah adalah pengikut sulaiman bin Jarir, yang beranggapan bahwa sekalipun Ali adalah pemimpin terbaik pasca Nabi Saw., akan tetapi mereka masih mengakui kepemimpinan dua khalifah sebelumnya, yakni Abu Bakar dan Umar, namun tidak mengakui kepemimpinan Utsman bin Affan karena ia dinilai telah melakukan pelanggaran dan penyimpangan-penyimpangan selama masa kepemimpinannya. Pengakuan atas kekhalifahan Abu Bakar dan Umar ini di dasarkan pada prinsip pokok ajaran mereka bahwa para pemimpin tidak harus orang yang terbaik, akan tetapi boleh dari mereka yang berkaulitas biasa (imamah al-mafdlul ma’a wujud al-afdlal).

Golongan terakhir, Syi’ah Shalihiyah, adalah pengikut Katsir al-Nu’man al-Akhtar dan Hasan bin Shaleh al-Hayy. Golongan ini memiliki pandangan yang hampir sama dengan golongan Syi’ah Sulaimaniyah, namun dalam masalah Utsman bin Affan, mereka memilih berdiam diri dan tidak mengambil sikap (tawaqquf). Sekte inilah yang dikenal sebagai sekte Syi’ah yang ajarannya hampir mirip denagn Ahlussunah.[12]

 

b. Syi’ah Imamiyah

Kemunculan syi’ah Imamiyah berawal dari persoalan tentang siapakah yang akan menggantikan kepemimpinan ja’far al-Shadiq, seorang ahli tafsir, hadits fiqh, filsaft, fisika, yang masih keturunan ahlul Bait. Ja’far al-Shadiq diyakini oleh pengikut syi’ah Imamiyah sebagai imam ke lima setelah Ali, Hasan, Husain,dan  Muhammad al-Baqir. Berbeda dengan syi’ah Zaidiyyah yang cenderung ekstrem dan lebih bernuansa politis, syi’ah Imamiayah cenderung moderat dan lebih menekankan bidang ilmu pengetahuan, pemikiran, dan filsafat. Hal ini sesuai dengan semangat yang di bawa oleh Ja’far al-Shadiq yang tidak tertarik denga keputusan politik, melainkan lebih menekankan dibidang ilmu pengetahuan.

Kehidupan politik dibawah daulah bani Umayah yang selalu melakukan penekakanan terhadap Syi’ah membuat Ja’far al-shadiq lebih memilih berjuang melalui jalur pendidikan. Ia melanjutkan perjuangan ayahnya mengajar di perguruan yang berada dimasjid Nabawi dan merupakan perguruan pertama yang mengajarkan filsafat. Kealiman Ja’far al-Shadiq cukup dikenal oleh masyarakat luas sehingga banyak ulama-ulama besar yang berguru kepadanya. Dantara mereka adalah tiga pendiri madzhab, yakni Malik bin Anas, Sufyan al-Tsauri, dan Abu Hanifah bin Nu’man, disamping ilmuan-ilmuan lain seperti Ibnu Uyaynah, Ibnu Jarih, dan fisikawan muslim terkenal Jabir bin Hayyan. Kebesaran nama Ja’far al-Shadiq pada akhirnya mengusik ketenangan khalifah kedua Bani Abasiyah, al-Manshur. Karena itu, sang khalifah berulangkali melakukan upaya-upaya pembunuhan terhadapnya, dan usaha terahir adalah dengan memberi racun pada makanannya. Dari situlah Ja’far al-Shadiq meninggal dan jasadnya dikebumikan di kuburan Baqi’ di dekan makam ayah dan kakeknya, serta makam Hasan bin Ali.

Pasca kematian Ja’far al-Shadiq, timbul perbedaan pendapat di kalangan Syi’ah Imamiyah. Mereka mempermasalahkan tentang siapakah yang imam yang berhak menggantikan kedudukan Ja’far al-Shadiq. Sebagian berpendapat bahwa pengganti Ja’far al-Shadiq adalah putranya, Ismail, walaupun ia meninggal terlebih dahulu daripada Ja’far al-Shadiq sendiri. Keyakinan ini kemudian melahirkan golongan Syi’ah Ismailiyah. Sebagian lagi berpendapat bahwa yang berhak menggantikan Ja’far al-Shadiq adalah Musa al-Kazim, putra dari Ja’far al-Shadiq. Golongan ini kemudian dikenal dengan Syi’ah Itsna Asy’ariyah atau golongan Syi’ah yang meyakini kepemimpinan dua belas orang imam. Aliran ini terus bertahan dan sangat dominan hingga abad modern ini. Golongan ketiga atau terakhir adalah mereka yang meyakini bahwa tidak ada kepemimpinan baru setelah meninggalnya Ja’far al-Shadiq. Golongan terakhir ini kemudian dikenal dengan sebutan Syi’ah al-Waqfiyyah.

 

3. MURJI’AH

Selain Khawarij dan Syi’ah, pada masa ini juga uncul aliran lain yang memilih bersikap diam dan tidak mau memvonis siapakah yang salah dalam konflik antara pihak Ali, Khawarij, dan Muawiyah. Golongan ini mengajukan penangguhan keputusan yang akan diterima oleh pihak-pihak yang bertikai itu, agar diserahkan sepenuhnya pada Allah Swt. di akhirat kelak. Hanya Allah lah yang berhak memvonis siapakan yang salah dan siapakah yang benar diantara kedua belah pihak.

Ditilik dari sudut bahasanya, kata ”Murji’ah” bermakna menunda. Sehingga golongan ini disebut Murjiah karena dalam prinsipnya mereka menunda persoalan konflik politik antara Ali, Muawiyah, dan Khawarij hingga hari perhitungan di akhirat nanti. Versi lain mengatakan, alasan penamaan Murji’ah adalah karena mereka menyatakan bahwa orang yang berdosa besar tetap mukmin selama masih beriman pada Allah Swt. dan Rasul-Nya. Adapun pertanggungjawaban dosa orang tersebut ditunda penyelesaiannya di akhirat kelak. Maksudnya, kelak di akhirat Allah Swt. akan mementukan hukuman baginya.4

Walaupun tidak terjun langsung dalam pertikaian politik antara Ali, Muawiyah, dan Khawarij, namun aliran Murjiah pada hakikatnya merupakan reaksi atas situasi politik yang berkembang saat itu. Artinya, mereka menarik diri dari urusan politik dan lebih banyak bersikap diam termasuk langkah politis paling aman.

Dalam masalah hakikat iman, kaum Murji’ah menyatakan bahwa orang-orang yang secara lahir tampak berbuat kufur tidak dapat divonis sebagai orang kafir. Sebab hanya Allah lah yang Maha Mengetahui hakikat keimanan seseorang. Manusia tidak bisa memberi vonis hanya dengan melihat sisi lahir saja. Akibatnya, kaum Murji’ah berpendapat bahwa orang yang hidup menjadi bajingan yang tidak karuan, tapi dia masih percaya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka dia tetap dikategorikan muslim. Sebab menurut mereka, baik dan buruknya perbuatan bukan ukuran dari kualitas iman seseorang. Hal yang sama berlaku pada persoalan-persoalan yang masih diperselisihkan (al-mukhtalaf fiha); menurut kaum Murji’ah kita harus berdiam diri dan menyerahkan keputusannya kepada Allah Swt. di akhirat kelak. Dialah yang akan memberikan keputusan secara baik dan adil.

            Dari prinsip semacam ini, aliran Murji’ah meyakini bahwa seseorang yang dalam hatinya percaya kepada Allah Swt. tapi secara lahir menyembah berhala atau memeluk agama Yahudi maupun Nasrani, ia tetap akan diperlakukan sebagai orang mukmin oleh Allah Swt. Dia akan mendapat ampunan dari Allah Swt. atas perbuatan lahirnya dan akan dimasukkan ke dalam surga.[13]

            Walaupun pada mulanya kemunculan Murji’ah lebih didasari atas reaksi ketidaksetujuan atas paham ekstrim kaum Khawarij, namun dalam perkembangan berikutnya justru aliran Murji’ah sendiri juga menjadi ekstrim. Hal ini berakibat banyaknya penentangan atas kepercayaan Murji’ah oleh mayoritas kaum Muslimin. Sebab bila seseorang bisa masuk surga hanya berdasarkan kepercayaannya tanpa menilai perbuatannya, maka akan berakibat pada pengumbaran hawa nafsu.

 

4. JABARIYYAH

Selain Murjiah, paham lain yang hidup di masa ini adalah paham Jabariyyah. Walaupun secara hitoris aliran ini muncul pada permulaan Dawlah Bani Umayyah, akan tetapi bibit-bibit aliran ini sebenarnya sudah ada sejak masa khulafa al-rasyidin. Namun baru pada masa dinasti Bani Umayyah paham ini mengalami masa perkembangan dan kemajuan yang cukup berarti.

Berdirinya aliran ini bermula ketika para sahabat membahas qadar (kekuasaan), utamanya kekuasaan manusia ketika berhadapan dengan kemutlakan kekuasaan Allah. Sehingga menimbulkan beberapa pertanyaan, sejauh manakah manusia bergantung pada kemahakuasaan Tuhan dan kehendak-Nya? Apakah manusia mempunyai ruang gerak dan kebebasan dalam segala gerak-geriknya?

Oleh karena itu, kelompok ini disebut Jabariyyah (fatalism/predentination) karena dalam aliran ini terdpat doktrin yang menyatakan bahwa perbuatan manusia hakikatnya serba dipaksa (majbur). Manusia tidak mempunyai kebebasan memilih dan berbuat, karena perbuatan manusia sepenuhnya diatur oleh Allah; perbuatan manusia adalah perbuatan Allah juga.

Menurut para ahli sejarah, paham Jabariyyah mempunyai kemiripan dengan suatu aliran Yahudi dari Syam (Suriah). Sedangkan orang yang pertama kali mengenalkan faham ini dalam Islam adalah Ja’ad bin Dirham. Ja’ad mempelajari paham ini dari seorang Yahudi di Suriah. Selain itu, paham ini juga dipengaruhi oleh paham orang-orang Persia yang menganut agama Zoroaster dan Manu.[14]

Selain pengaruh dari luar, paham Jabariyyah juga mempunyai landasan dalil berupa ayat-ayat al-Quran yang dijadikan landasan berdirinya paham ini. Ayat-ayat  tersebut antara lain, firman Allah Swt. dalam surat al-Shaffat ayat 96 yang artinya: ”Allah lah yang menciptakan kamu dan apa yang akmu perbuat.” dan QS.57:22 yang artinya: ”Tiadalah suatu bencana yang menimpa dirimu sekalian di muka bumi ini melainkan ia telah tertulis dalam al-kitab (lauh al-mahfudl) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” serta dalam QS.8:17 Allah berfirman yang artinya: ”Maka (sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melkukan lemparan, melainkan Allah-lah yang melakukannya…” Ayat-ayat di atas dipahami oleh aliran Jabariyyah sesuai pemahaman lahir yang cepat ditangkap oleh pemahaman manusia. Tak heran bila paham ini kemudian mendapat banyak pengikut.

Dalam perkembangan berikutnya, paham ini disebarluaskan oleh Jahm bin Sofwan. Dia lah orang yang diyakini sebagai pendiri sejati aliran ini, sehingga akhirnya faham ini sering pula dinamakan aliran Jahmiyyah. Pada masa Jahm inilah pengikut Jabariyyah berkembang dengan sangat pesat.

Menurut Syahrastani,[15] paham Jabariyyah selanjutnya mengalami perpecahan dan terbentuk menjadi dua golongan; ekstrem dan moderat. Aliran Jabariyyah yang ekstrem mempunyai keyakinan bahwa manusia tidak mempunyai kemampuan, kehendak, dan hak pilih (ikhtiyar); manusia dalam perbuatannya dipaksa dan harus tunduk di bawah kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan. Faham ini dipelopori oleh Jahm bin sofwan sendiri. Sementara faham Jabariyyah moderat masih mengakui adanya peranan manusia dalam perbuatannya. Pelopor aliran model ini adalah Dirar bin Amr dan Husayn bin Muhammad al-Najjar.

 

5. QADARIYAH

Aliran ini merupakan kebalikan dari paham Jabariyyah. Aliran Qadariyyah berpendapat bahwa manusia mempunyai kekuasaan penuh atas perbuatannya. Setiap manusia adalah pencipta atas perbuatannya sendiri; dia dapat berbuat atau meninggalkan sesuatu sesuai kehendaknya sendiri (free will/free act).

Pendiri aliran ini adalah seorang tabiin bernama Ma’bah al-Juhani (w. 80 H). Ma’bah pernah belajar kepada Hasan al-Bashri (ahli hadits dan fiqh di masa tabiin) dan Washil bin Atha’ (pendiri Mu'tazilah), disamping juga pernah belajar ke Irak kepada mantan seorang Nashrani yang masuk Islam dan kemudian menjadi Nashrani kembali.  Dari dialah Ma’bah mengambil aliran Qadariyyah.

Karena dinilai menyebarkan ajaran sesat, Ma’bah kemudian dijatuhi hukuman mati oleh pemerintah. Namun ajarannya tetap lestari dan berkembang di tengah-tengah masyarakat. Salah satu penerus perjuangan Ma’bah yang berjasa besar mempertahankan aliran Qadariyyah adalah Ghailan al-Dimasyqi. Dia adalah seorang tabiin putra dari mantan pegawai khalifah Utsman bin Affan. Selama memperjuangkan aliran ini, Ghailan mendapat banyak rintangan terutama dari pemerintahan dinasti Bani Umayyah. Puncaknya adalah ketika dia ditangkap oleh khalifah Hisyam bin Abdul Malik dan akhirnya dihukumi mati seperti gurunya. Alasan penghukuman itu tidak lain adalkah karena ia menganut paham Qadariyah.

Para penganut paham Qadariyyah berkeyakinan bahwa segala perbuatan manusia diciptakan oleh manusia itu sendiri. Allah Swt. tidak mempunyai hubungan dangan apa yang dilakukan oleh manusia sebelum perbuatan itu dikerjakan. Tapi bila telah dilakukan, maka pekerjaan tersebut baru diketahui dan mendapat penilaian dari Allah. Jika pekerjaannya baik maka manusia akan diberi pahala oleh Allah, tapi bila perbuatannya buruk maka ia akan mendapat dosa.

Keyakinan seperti ini banyak di dasarkan pada dalil-dalil, baik dalil aqli (rasio) maupun naqli (nash). Mereka mnegjukan dalil, jika perbuatan manuisa itu telah diciptakan oleh Allah sebelumnya, lalu mengapa Allah memberi poahal pada perbuatan baik dan memberi dosa atas perbuatan maksiat, padahal yang menciptakan perbuatan itu sendiri adalah Allah? Dalil aqli ini juga diperkuat oleh dalil naqli, antara lain QS.13:11, yang artinya: ”Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum kecuali mereka keadaan diri mereka sendiri” dan juga QS.18:29 yang artinya: ”Barangsiap yang ingin (beriman) maka berimanlah, dan barangsiapa yang ingin (kafir) maka kufurlah” dan bmasih banyak dalil-dalil lainnya. Semua dalil di atas, menurut mereka, menunjukkan bahwa Allah Swt. memberi kebebasan kepada manusia untuk berbuat. Allah Swt. hanya memberi petunjuk dan jalan untuk menuju kebaikan, namun keputusannya diserahkan kepada manusia itu sendiri.[16]

Jika ditilik dari konsepsi ajarannya, paham Qadariyyah pada hakikatnya merupakan bagian dari paham Mu'tazilah. Selain karena pendapatnya yang cenderung rasional dan antroposentris (berpusat pada manusia), juga karena para pemimpin berikutnya banyak yang berasal dari tokoh Mu'tazilah. {}

     



[1] Bani Umayyah adalah keturunan (klan) dari Umayyah bin Abd al-Syams, salah seorang keturunan Kuraisy yang berkedudukan di Mekkah. Sejak sebelum kedatangan Islam, keturunan Bani Umayyah selalu bersaing dengan keturunan Bani Hasyim yang juga tercatat sebgai salah satu klan suku Kuraisy. Orang-orang keturunan Bani Umyyah umumnya mengusai jalur pemerintahan dan perdagangan di Mekkah dan sekitarnya, yang sangat tergantung kepada para peziarah Ka’bah. Sementara orang-orang keturunan Bani Hasyim hanya memegang jabatan-jabatan biasa dan dengan perekonomian sangat sederhana. Akan tetapi, Nabi Muhammad Saw. adalah keturunan Bani Hasyim, sehingga ketika beliau telah mendapat banyak pengikut, orang-orang keturunan Bani Umayyah merasakan bahwa kekuasaan dan perekonomian mereka terancam. Krena itulah, mereka kemudian menjadi penentang utama terhadap dakwah Nabi Saw. Hanya beberapa orang saja dari keturunan Bani Umayyah yang memeluk agama Islam, di antranya adalah Utsman bin Affan. Bahkan dalam perkembangan selanjutnya, Abu Sufyan bin Harb, salah seorang tokoh Bani Umayyah , seringkali menjadi pemimpin peperangan melawan Nabi Saw. Ketika kekuatan kaum Muslimin semakin kokoh dan berhasil menguasai kota Mekkah, hampir semua keturunan Bani Umayyah menyerah dan masuk Islam, termasuk Abu Sufyan. Nabi Saw. pun memberi kebebasan kepada mereka dan tidak memberikan balasan atas perbuatan mereka yang sebelumnya sering melecehkan dan merugikan umat Islam. Di masa pemerintahan Abu Bakar, keturunan Bani Umayyah merasa rendah diri karena mereka adalah orang-orang yng belakangan masuk Islam. Secara sosiologis, mereka dinilai berada di bawah kelas kaum Muhajirin dan Anshar yang telah terlebih dahulu memeluk Islam dan banyak berjasa memperjuangkan agama baru itu. Karena itulah khalifah Abu Bakar kemudian menugaskan mereka untuk mengikuti beberapa peperangan agar mereka ikut berjasa memperjuangkan agama Islam dan kedudukannya bisa sejajar dengan dua golongan lainnya. Dan di masa pemerintahan Umar bin al-Khaththab, keturunan Bani Umayyah dikirim dalam peperangan melawan tentara Bizantiyum, kemudian ditempatkan di Suriah. Yazid bin Abu Sufyan diangkat sebagai gubernur Suriah, yang kemudian digantikan oleh saudaranya, Muawiyah bin Abi Sufyan. Setelah Utsman yang juga keturunan Bani Umayyah menjadi khalifah ketiga, ia membuat keputusan bahwa kepemimpinan Suriah berada di tangan keturunan Bani Umayyah. Dan ketika Ali diangkat menjadi khalifah keempat menggantikan Utsman yang tewas terbunuh, Gubernur Suriah, Muawiyyah bin Abu Sufyan, tidak mau mengakui kekhalifahan Ali dan menuntut balas atas kematian Utsman sekaligus mengklaim bahwa dialah yang berhak mewarisi kekhalifahan Utsman. Dari Muawiyyah inilah pemerintahan Bani Umayyah bermula.

[2] Profil…….

[3] Ensiklopedi Islam, dan Ensiklopedi Islam, PT. Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta, cet. Kelima, 1999, jilid 2, huruf ”H”, hal. 91.

[4] Dalam literatur Syi’ah dinyatakan bahwa, dalam perkembangan selanjutnya, Mu’awiyah ternyata selalu berusaha membunuh Hasan, bahkan usaha itu dilakukan hampir 70 kali melalui orang-orang suruhannya. Usaha terakhir dilakukan oleh Muawiyah melalui istri ketiga Hasan, yakni Ja’dah bin Asy’as. Ja’dah disuruh membumbui makanan Hasan dengan racun, sehingga cucu Rasulullah SAW. itu meninggal di tangan istrinya sendiri. Lihat, ibid.

[5] lihat antara lain, Abu al-Fath Muhammad bin Abd al-Karim al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, (t.t.) jilid 1 hal. 118-122, dan al-Ta’rifat, Ali bin Muhammad bin Ali al-Jurjani, al-Ta’rifat, ed. Ibrahim al-Abyari, Dar al-Kitab al-Arabi, Beirut, vol. 1 tahun 1045 H. jilid 1 hal. 132.

[6] periksa antara lain, Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Said bin Hazm al-Thahiri, al-Fashl fi al-Milal wa al-Ahwa’ wa al-Nihal, Maktabah al-Khanaji, Kairo, (t.t.), atau Syahrastani, Loc, cit. dan Ensiklopedi Islam, Op. cit. huruf ”K” hal. 49.

[7] Untuk mengetahui detil peristiwa peperangan tersebut, periksa antara lain pada Syahrastani, Op. cit. 120, dan Abu al-Qasim Ali bin al-Hasan bin Hibbatullah ibn ‘Asakir, Mu'jam al-Buldan, Dar al-Fikr al-Ma’ashir, Beirut, vol. 1 tahun 1413. jilid 2 hal. 425 dan seterusnya, dan hal. 457 dan seterusnya.

[8] Ensiklopedi Islam. Op. cit. huruf ”K” hal. 49.

[9] Ensiklopedi Islam, Op. cit. huruf ”S” hal. 6.

[10] Ibid.

[11] Sejak kecil Zaid sudah dikenal sebagai anak yang cerdas dan sangat menonjol dibanding anak-anak sebayanya. Dia belajar langsung di bawah bimbingan sang ayah, hingga mencapai kapasitas keilmuan yang mumpuni. Murid-murid Zaid bin Ali Zainal Abidin yang sangat terkenal, dinataranya adalah Imam Abu Hanifah, pendiri madzhab Hanafi, dan Washil bin Atha’, pendiri aliran Mu'tazilah’tazilah.

[12] Alasan ini pula yang membuat Imam Muslim banyak meriwayatkan hadits dalam kitan Shahih Muslim-nya dari salah satu pemimpn Syi’ah Shalihiyah, Hasan bin Shaleh al-Hayy.

4 Ensiklodpedi Islam, Perpustakan Nasional: Katalog dalam Terbitan (KDT). PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, bag.III, huruf ”M” hlm. 301.

[13] C.A. Qadir, Op. cit. hal. 51-52.

[14] Ibid. huruf ”J” hal. 293.

[15] Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, dikutip dalam Ensiklopedi Islam, Loc. cit. hal. 293.

[16] Ibid. hal. 339.