EPILOG

Jika di amati dengan seksama, rangkaian sejarah di muka memberikan kesan bahwa dalam Islam terdapat empat corak pengamalan akidah. Keempat corak tersebut cukup memberi kontribusi dan menyemarakkan perkembangan akidah umat Islam dari masa ke masa. Mari kita lihat satu-persatu keempat corak itu:

 

Pertama, Masa Persatuan

Corak pertama ini adalah tauhid di masa Rasulullah Saw. Tauhid pada masa Rasulullah Saw. dan masa sahabat merupakan sebuah keyakinan dan kepercayaan serta pengamalan menyeluruh terhadap sendi-sendi ajaran Islam. Tauhid pada masa itu tidak dibahas panjang lebar atau diulas terlalu dalam. Tauhid pada masa ini tidak lain adalah ruh keimanan yang terpatri dalam hati dan ruh pengamalan yang tak pernah menjemukan pikiran.

Pembicaraan mengenai sifat-sifat Allah Swt. pada masa hidup Rasulullah Saw. tidak berlangsung terlalu jauh, sebab jika para sahabat menemukan suatu kejanggalan atau kesulitan, mereka dapat menayakannya langsung kepada beliau. Dan jawaban yang disampaikan Rasulullah Saw. sudah cukup memuaskan dan menjadi jawaban final yang tidak mereka pertanyakan kembali. Nabi SAW. pun selalu bersikap terbuka menerima beragam persoalan yang diajukan umatnya, sehingga setiap jawaban yang beliau sampaikan didengarkan, ditaati, serta dilaksanakan apa adanya oleh para sahabat. Demikian pula dalam masalah dalil-dalil yang tertera dalam al-Quran, para sahabat menerimanya sebagai akidah dan tidak terlalu jauh memperbincangkan atau melakukan penafsiran yang bermacam-macam.

Dari sini dapat disimpulkan, generasi awal menjalankan dan mengajarkan Islam secara utuh, seimbang, mendalam, dan komprehensif. Mereka tidak menonjolkan salah satu bidang, sementara bidang yang lain dilupakan. Ketika mereka memperhatikan aspek batiniyah, mereka tidak melupakan aspek lahiriyah. Ketika mereka mengejar urusan ukhrawi, mereka tidak melalaikan urusan duniawi. Pendek kata, mereka memberi perhatian terhadap akal, ruh, dan jasad secara menyeluruh dan seimbang.

Ketaatan total sahabat seperti di atas tentu didorong oleh beberapa faktor, salah satunya adalah faktor keberadaan Rasulullah Saw. di tengah-tengah umat. Keberadaan Rasulullah Saw. sebagai rujukan hukum berbagai persoalan sangat membantu para sahabat dalam memecahkan beragam persoalan yang terjadi dan membutuhkan jawaban segera. Selain itu, keberadaan Nabi Saw. juga sangat membantu bidang pengawasan, sehingga bila terjadi kesalahan yang dilakukan sahabat maka beliau langsung menegurnya. Berbagai kecenderungan sebagian sahabat untuk melakukan atau menayakan hal-hal yang ”tidak semestinya” biasanya langsung mendapat teguran dari Rasulullah SAW. Kecenderungan-kecenderungan itu diposisikan kembali oleh Rasulullah pada titik equilibrium yang wajar.

Ketika Abdullah bin Amr bin 'Ash melakukan puasa terus menerus setiap harinya, shalat malam hingga tidak tidur, serta meninggalkan kewajibannya sebagai suami terhadap istrinya, maka Rasulullah SAW. menegurnya. Beliau bersabda: "Wahai Abdullah, sesungguhnya matamu mempunyai hak atasmu, keluargamu punya hak atasmu, istrimu mempunyai hak atasmu, dan tubuhmu punya hak atasmu, maka berikanlah setiap yang mempunyai hak atas hak yang dimilikinya."

Begitu pula ketika Nabi SAW. melihat sekumpulan sahabat-sahabatnya sedang berkumpul dan termenung memikirkan sesuatu. ”Apa yang kalian pikirkan?” tanya Nabi SAW. dengan ramah. ”Kami sedang berfikir tentang Allah,” jawab mereka bangga. Namun Rasulullah SAW. justru menegur mereka, ”Janganlah kalian berfikir tentang dzat Allah,” kata Rasulullah Saw, ”Tapi berpikirlah tentang ciptaan-Nya.”

Keberadaan Rasulullah Saw. juga sangat membantu sahabat dalam menjalankan ajaran Islam secara sempurna, yakni dengan melihat langsung contoh teladan yang beliau berikan. Sebagaimana kita maklumi, Nabi SAW. menjalani kehidupan seperti anggota masyarakat pada umumnya. Beliau bergaul bersama para sahabat, baik saat berada di rumah, di masjid, di pasar, di jalan, dalam perjalanan ataupun tidak. Kehidupan Nabi SAW. yang sederhana dan bersahaja baik sebelum maupun setelah hijrah membuat para sahabat dapat dengan mudah mengunjungi dan berbicara dengan beliau kapan saja dan dimana saja. Nabi dapat ditemui kapan saja kecuali bila beliau sedang beristirahat, sebagaimana diajarkan oleh al-Quran. Kemudahan untuk melihat, berbincang, atau bertanya langsung kepada beliau membuat seluruh tindakan ataupun ucapan Nabi SAW. dengan mudah menjadi tumpuan dan suri teladan.

Pada masa al-khulafa’ al-rasyidin, terutama pada masa pemerintahan khalifah Abu bakar dan Umar, umat Islam juga masih tetap berpegang teguh terhadap dasar-dasar akidah yang diwariskan Rasulullah Saw. Jadi meskipun pada masa ini muncul berbagai persoalan dan perbedaan pendapat di kalangan sahabat, namun hal itu tidak sampai mengurangi atau meruntuhkan sendi-sendi keimanan dan keyakinan akidah mereka. Perbedaan yang timbul hanya bersifat praktis, terutama dalam bidang politik dan hukum-hukum furu’iyyah. Persoalan-persoalan tersebut tidak sampai menyentuh bidang akidah umat.

Selain itu, pembahasan masalah akidah secara ilmiah pada masa Abu Bakar dan Umar belum begitu menonjol, oleh karena umat Islam pada masa itu lebih banyak mengkonsentrasikan energi guna mempertahankan persatuan dan kesatuan, atau melakukan perluasan wilayah. Tak heran bila para sahabat mampu memahami dan mengimani keseluruhan kandungan al-Quran tanpa berusaha mencari-cari penafsiran atau penakwilan macam-macam. Mereka menyematkan sifat kepada Allah Swt. sesuai dengan apa yang tertera dalam al-Quran tanpa berusaha mencari sisi lain daripadanya. Mereka selalau berupaya menyucikan Allah Swt. dari segala sifat yang tidak layak bagi kebesaran-Nya. Jika para sahabat menjumpai ayat-ayat mutasyabihat, maka mereka mengimaninya secara penuh dan menyerahkan penakwilannya kepada Allah Swt.

 

Kedua, Timbulnya Perpecahan

Barulah pada masa khalifah ketiga, Utsman bin Affan, mulai timbul bibit-bibit perpecahan akibat terjadinya kekacauan politik. Dari situ kemudian muncul aliran-aliran dan kelompok-kelompok politik yang sama-sama berusaha mempertahankan pendapatnya sendiri. Setelah terjadi pembunuhan atas khalifah Utsman, muncullah pertanyaan di kalangan umat mengenai hakikat dosa besar dan apa hukuman yang harus diterima pelakunya.

Pembicaraan mengenai dosa besar ini kemudian berkembang lebih jauh, yakni apakah pelaku dosa besar masih termasuk mukmin atau sudah kufur? Lalu sebatas mana pengertian dan batasan mukmin atau kafir dalam pandangan Islam, serta sejauh mana hubungannya dengan pekerjaan lahir? Dari pertanyaan-pertanyaan semacam ini kemudian muncul tiga aliran: pertama aliran Khawarij yang berpendapat bahwa pelaku dosa besar adalah kafir; kedua aliran Murji’ah yang menganggap pelaku dosa besar tetap mukmin; dan ketiga aliran Mu'tazilah yang tidak menganggapnya kafir maupun mukmin, melainkan berada di antara dua posisi itu (al-manzilah baina al-manzilatain). Di antara ketiga aliran ini masih terdapat satu ”aliran” lain yang tidak mau ikut campur dalam perdebatan tersebut. ”Aliran” ini sebenarnya justru di anut oleh mayoritas umat Islam, namun tidak nampak ke permukaan karena mereka lebih banyak memilih diam. Mereka inilah yang sebenarnya menjadi ruh umat Islam yang dalam kamus politik modern disebut sebagai ”mayoritas yang diam” (silent majority).

Dalam perkembangan selanjutnya, perdebatan antar golongan ini mendorong mereka untuk mengeksplorasi al-Quran dan melakukan penakwilan guna mendukung pendapatnya. Setiap golongan berupaya mempertahankan pendapat masing-masing dengan menggunakan ayat al-Quran yang ditafsiri sedemikian rupa sehingga terkesan pendapat merekalah yang paling benar. Dari sinilah awal mula berkembangnya aliran-aliran teologi dalam Islam, yang memulai babak baru tumbuhnya persoalan-persoalan akidah dengan segala problematikanya. Dari hari ke hari persoalan-persoalan yang timbul semakin berkembang, bahkan cenderung diada-adakan, sehingga timbullah perdebatan-perdebatan akidah yang kian meluas dan menyebar sampai pada abad-abad berikutnya.

Dari sini tampak bahwa perdebatan-perdebatan teologis antar sekte yang muncul pada periode akhir masa khulafa al-rasyidin lebih banyak disebabkan oleh persoalan-persoalan politis, yang kemudian digeret ke persoalan akidah. Bahkan ada kecenderungan, hal-hal yang dulunya berbau politis –dengan alasan-alasan tertentu-dipaksakan untuk masuk ke wilayah teologi. Hal ini tampak dalam peristiwa tahkim yang kemudian melahirkan golongan Khawarij sebagai pihak yang menolak, dan golongan Syi’ah sebagai pihak yang mendukung.

Pada masa penerintahan Bani Umayyah, kekuasaan Islam semakin lebar membentang dan diikuti dengan semakin banyaknya pemeluk Islam. Meluasnya pemeluk Islam yang diiringi dengan perjumpaan serta pertukaran budaya dengan peradaban lain seringkali menyisakan beragam persoalan yang belum pernah ada sebelumnya. Di samping itu, banyaknya orang-orang yang masuk Islam yang masih dipengaruhi oleh unsur-unsur keagamaan yang mereka anut sebelumnya, mendorong timbulnya kebebasan mengemukakan pendapat secara bebas di kalangan umat Islam. Secara lambat laun, kondisi semacam ini berakibat terjadinya percampuran keyakinan atau akidah secara tidak disadari.

Selain itu, kebebasan berbicara yang tanpa batas pada akhirnya membuat hal-hal yang sejak masa Rasulullah Saw. hingga khalifah Umar belum banyak dibicarakan, kini sudah dengan bebasnya dibahas. Contohnya adalah masalah qadar (kekuasaan Allah Swt.). Pada masa Nabi Saw. hal ini tidak pernah dibicarakan, karena para sahabat kala itu sudah meyakini kemahakuasaan Allah Swt. tanpa merasa perlu mengetahui sebatas mana kekuasaan-Nya dan sebesar apa kekuasaan yang dimliki manusia. Pada masa ini, perdebatan seputar qadar atau potensi kekuasaan, baik kekuasaan Allah Swt. maupun manusia, semakin melebar sehingga memunculkan aliran-aliran baru. Aliran pertama adalah Qadariyah, yakni aliran yang meyakini bahwa manusia mempunyai kebebasan dan kemerdekaan berbuat dan berkehendak. Sebagai lawannya, timbulpula aliran Jabariyah. Menurut aliran ini, manusia tidak mempunyai kebebasan kehendak maupun kebebasan berbuat, sebab segala perbuatan manusia telah ditentukan oleh Alah Swt.

 

Ketiga, Sistematisasi Akidah

Dalam perkembangan selanjutnya, beragam aliran tersebut terus berkembang dan mengepakkan sayapnya ke berbagai penjuru. Setiap periode lahir pembaharu-pembaharu dan tokoh-tokoh masing-masing aliran. Dari situ lahir pula aliran-aliran baru yang membawa kepercayaan-kepercayaan yang baru pula. Di Bashrah terdapat Hasan al-Bashri yang terus mengembangkan aliran Murji’ah dengan kepercayaan bahwa pelaku dosa besar adalah fasik, tidak kafir. Pada saat yang sama datanglah Washil bin Atha’ yang memisahkan diri dari gurunya, Hasan al-Bashri, dan mendirikan aliran baru Mu’tazilah. Ia mengusung ide mengenai pelaku dosa besar yang menurutnya tidak kafir dan tidak pula mukmin, melainkan berada pada posisi antara keduanya.

Pada masa ini, persoalan akidah antar golongan tidak hanya diperdebatkan secara oralis melalui forum-forum diskusi, melainkan sudah diperdebatkan secara polemis melalui buku-buku akidah yang ditulis oleh kaum teolog. Pembahasan ilmu tauhid pun tidak hanya berhenti pada tataran telaah argumentatif, tapi sudah disusun melalui metodologi dan epistemologi yang sistematis dan dengan argumen yang berlipat-lipat. Washil bin Atha’ misalnya, ia menulis Kitab al-Tawhid, Kitab al-Futya, dan Kitab al-Manzilah baina al-Manzilatain guna menyebarkan dan mempertahankan konsep akidahnya. Begitu juga dengan Amr bin Ubaid; ia berupaya meruntuhkan teori-teori akidah kaum Qadariyah melalui kitabnya, al-Radd ‘ala al-Qadariyah. Sementara Imam Hanafi menyusun kitab al-Fiqh al-Akbar guna mengukuhkan keyakinan akidahnya yang dikalim sebagai akidah warisan tradisi Nabi Saw. dan sahabat-sahabatnya (Sunni).

Masuknya filsafat Yunani ke dunia Islam semakin menyemarakkan diskursus teologis di kalangan umat. Aliran pertama yang sangat dipengaruhi filsafat Yunani adalah Mu’tazilah, sehingga pembahasan tauhid mereka cenderung rasional dan liberal. Pada saat yang sama, tepatnya pada masa khalifah al-Ma’mun, pihak pemerintah juga menaruh perhatian dan minat yang cukup besar terhadap filsafat Yunani. Akibatnya, aliran Mu'tazilah yang memang rasional dan filosofis mendapat dukungan cukup besar dari penguasa, bahkan sejak masa al-Ma’mun dijadikan madzhab resmi negara.

Dalam perkembangan selanjutnya, penguasa Bani Abbasyiah cenderung memaksa pegawai-pegawai pemerintahan dan tokoh-tokoh masyarakat di seantero negeri agar mereka menganut paham Mu'tazilah. Dari sini kemudian timbul perlawanan di berbagai kawasan yang pada akhirnya melahirkan aliran baru bernama Ahlussunnah wal Jamaah (Sunni). Di Baghdad hadir Abu al-Hasan al-Asy’ari sebagai orang terdepan yang siap menghadang faham Mu'tazilah. Sementara di Samarkhan dan di Bukhara, Abu Manshur al-Maturidi dan Abu al-Yusr Ali al-Bazdawi juga menngelorakan perlawanan terhadap faham Mu'tazilah dengan nafas dan semangat yang tidak jauh berbeda dengan apa yang didengungkan al-Asy’ari di Baghdad. Ketiganya memulai langkah aliran Sunni untuk terus berjuang membawa  akidah umat Islam kembali ke ‘habitat’-nya semula, yakni tradisi yang diwariskan oleh Nabi Saw. dan para sahabatnya.

Pada masa-masa berikutnya, dua aliran ini (Mu'tazilah dan Sunni) nyaris mendominasi percaturan diskursus tauhid umat Islam hingga bertahun-tahun lamanya, disamping aliran Syi’ah yang sesekali muncul walaupun tidak sampai mempengaruhi desain sejarah umat. Ketiganya terus berkompetisi memperebutkan kantong-kantong suara umat Islam. Perbedaannya, jika aliran Sunni terus berkembang dan semakin diminati mayoritas umat, maka aliran Syi’ah lebih banyak jalan di tempat dan Mu'tazilah justru semakin menurun.

Sejak permulaan abad ke-5 Hijriyah, tepatnya pada masa kemunduran Islam, aliran Mu'tazilah lambat laun mulai ditinggalkan dan pada akhirnya mati sama sekali. Tinggallah kaum Syi’ah dan Sunni yang terus bertahan dan terus survive di tengah terpaan badai yang terus menghadang.

Kondisi umat Islam yang mengalami kemunduran di berbagai bidang, baik di bidang politik, ekonomi, ilmu pengetahuan, pemikiran, sosial, dan moral selama berabad-abad lamanya, membangkitkan semangat para pembaharu muslim yang ingin menghidupkan kembali tradisi keilmuan dan peradaban yang sudah runtuh itu. Dari sini lahirlah gerakan pembaharuan (tajdid) yang diprakarsai oleh Ibnu Taimiyah. Dengan semangat kembali ke aliran salaf, penganut madzhab Hanbali ini menggelorakan semangat ijtihad yang oleh mayoritas umat Islam sudah dianggap tertutup sejak berabad-abad sebelumnya. Kelahiran gerakan tajdid ini pada akhirnya semakin memperkaya corak pemikiran kaum Sunni yang saat itu memang mendominasi pola pikir mayoritas umat Islam. Sehingga dominasi kaum Asy’ariyah mendapat patner baru sekaligus pesaing baru dalam mengawal langkah umat Islam menghadapi era modern.

 

Keempat, Ketebukaan Akidah

Memasuki permulaan abad millenium ini, gerakan Syi’ah dan Sunni (dengan segala variannya) terus bertahan dan tetap dianut mayoritas umat Islam. Namun pada saat yang sama, muncul pula madzhab baru yang menamakan diri dengan gerakan ”teologi pluralis”, yakni pemikiran teologis yang mampu merangkul semua aliran, bahkan semua agama sekalipun.

Kemunculan gerakan pluralis yang didorong oleh perasaan jengah atas racikan teologi lama yang dinilai aus dan tidak mampu menjawab problematika kontemporer, pada akhirnya mendorong mereka untuk membentuk sebuah konsep teologi yang benar-benar baru dan berbeda sama sekali dengan aliran teologi yang pernah ada sebelumnya. Akhirnya lahirlah apa yang disebut dengan teologi atau tauhid antar agama. Mereka sudah kecewa dengan aliran Syi’ah yang dinilai terlalu mendewakan ahlul bait, sementara Sunni dianggap terlalu banyak berkutat dengan pola lama yang eksklusif. Padahal pola masyarakat modern mengharuskan umat Islam untuk bersikap toleran dan terbuka menerima keyakinan pihak manapun, termasuk dari mereka yang berbeda agama. Inilah sumber utama lahirnya teologi pluralis, yang di Indonesia diprakarsai oleh Nurcholis Madjid dan diteruskan oleh anak-anak muda yang menamakan diri dengan Jaringan Islam Liberal (JIL).

 

KESIMPULAN AKHIR

Nah, dari semua uraian di muka maka dapat ditarik satu kesimpulan bahwa ajaran tauhid yang paling ”aman” dan paling patut kita ikuti adalah apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah Saw. dan para sahabatnya. Sebab pada masa mereka lah ajaran Islam dijalankan secara benar dan murni. Berbeda dengan periode-periode berikutnya yang sudah semakin kabur atau bahkan cenderung bercampur aduk dengan berbagai hal yang justru menodai kemurnian tauhid itu sendiri.

Jika kita hendak mengaca pada tauhid periode tabiin dan periode munculnya firqah-firqah, maka kita akan terhalang oleh meluasnya kepentingan antar golongan. Sebab perdebatan teologis antar golongan pada periode ini lebih banyak didorong oleh adanya unsur politis dan kepentingan tertentu. Kecenderungan mau menang sendiri dan tidak bersedia menerima pendapat pihak lain sudah cukup menjadi bukti bahwa akidah yang dipertahankan masing-masing golongan lebih banyak didasarkan pada kepentingan golongan (sektarian), bukan kemurnian akidah.

Hal yang sama tentu berlaku bagi tauhid yang dikembangkan pada era pembukuan dan sistematisasi ajaran, yakni sejak penghujung era Bani Umayyah hingga runtuhnya dinasti Bani Abbasyiah. Sebab ajaran tauhid yang berkembang pada masa ini juga banyak yang bersifat polemis dan berbentuk perdebatan yang saling menjatuhkan antara satu sekte dengan sekte lainnya. Apalagi pada masa itu filsafat Yunani sudah masuk ke dunia Islam, sehingga persoalan-persoalan akidah yang sebenarnya tidak perlu diperbincangkan menjadi bebas diobral dan dianalisa menggunakan perangkat metodologis filsafat. Akhirnya hal-hal yang dulunya oleh Nabi Saw. dilarang untuk dibicarakan, misalnya mengenai zat Allah Swt., pada periode ini begitu vulgar dibicarakan, seakan-akan para teolog periode ini sudah mampu menembus tirai rahasia Ilahi. Akibatnya, kegersangan akidah menimpa umat Islam. Materi ilmu tauhid pun akhirnya hanya berhenti di mulut (dan otak?) melalui ruang-ruang diskusi, dan tidak mampu menyentuh sisi serap nurani yang paling dalam sebagai pelabuhan terakhir pengesaan terhadap Allah Swt.

Sementara bila kita hendak menerima upaya pengabungan akidah antar agama, seperti di dengung-dengungkan oleh para pemikir kontemporer, maka absurditas peran akidah pun tidak dapat terelakkan. Akidah sebagai media pengesaan dan bukti ketundukan seorang hamba kepada Sang Pencipta, akan sulit dicapai bila kita bersedia bertoleransi dengan mengakui bahwa Tuhan itu berjumlah tiga, atau agama yang diturunkan Allah Swt. tidak lebih dari sekedar simbol kepatuhan belaka. Keharusan memeluk agama Islam yang didakwahkan oleh Allah Swt. melalui perantara Muhammad Saw. tidak akan ada artinya bila akhirnya akidah semua agama kita anggap sama. Lalu untuk apa Muhammad Saw. diutus bila ujung-ujungnya agama apapun sama saja? Bukankah dengan demikian Allah Swt. hanya main-main mengutus Muhammad Saw.? Sungguh absurd dan irasional.

Karena itu, sebagai hamba yang hanya diciptakan dan diharuskan meyakini keesaan dan kebesaran-Nya, maka sudah selayaknya kita kembali ke jalur yang fitri; jalur yang diajarkan oleh Muhammad Saw. bersama sahabat-sahabatnya. Jalur yang tidak memerlukan penalaran analogis maupun filosofis, namun mampu menyirami hati dan nurani dengan sinar-sinar iman dan keyakinan yang teguh. Dan itu semua bisa kita ambil dari perilaku bertauhid Nabi Saw. dan sahabat-sahabatnya.

Sebagaimana kita ketahui, generasi awal yang terdiri dari para sahabat dan tabi'in menerima dan mengajarkan Islam secara utuh, seimbang, mendalam dan komprehensif, tanpa menonjolkan salah satu bidang, sementara bidang yang lain dilupakan. Ketika mereka memperhatikan aspek batiniyah, mereka tidak melupakan aspek lahiriyah. Ketika mereka mengejar urusan ukhrawi, mereka tidak melalaikan urusan duniawi. Ketika mereka meyakini akidah, mereka tidak meninggalkan akhlak dan syariah. Pendek kata, mereka memberi perhatian terhadap akal, ruh, dan jasad secara menyeluruh dan seimbang. Mereka  mengajarkan keseimbangan antara kehidupan ruhani, kehidupan jasmani, dan akal pikiran.

Khusus dalam bidang tauhid atau akidah, mereka mempercayai dan meyakini kebesaran dan keesaan Allah tanpa banyak bertanya atau mengandai-andai pada hal-hal yang tidak mungkin atau tidak masuk akal. Karena itu, kesimpulan kami adalah:

Tauhid yang paling tepat kita ikuti adalah tauhid yang dipraktekkan pada masa Nabi Saw. dan para sahabat-sahabatnya.[1] Wallahu A’lam.

 



[1] Mengenai aliran mana yang mirip –atau palig tidak, mendekati—akidah ala Nabi Saw. dan para sahabat, maka dari uraian sejarah di muka Anda sudah dapat menyimpulkannya sendiri.