ISLAM DI MASA AL-KHULAFA AL-RASYIDIN

 

 

Wafatnya Sang Teladan

Sesaat setelah Nabi SAW. wafat, ada sebagian kaum Muslimin yang beranggapan bahwa beliau sebenarnya tidak meninggal, melainkan diangkat oleh Allah Swt. ke haribaan-Nya di surga sebagaimana yang dialami oleh Nabi Isa as. Diantara yang tidak percaya akan wafatnya Nabi SAW. adalah Umar bin al-Khathab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Sedangkan sebagian yang lain bersikap lebih realistis; mereka menyadari dan mau menerima atas kenyataan bahwa Nabi SAW. memang benar-benar telah dipanggil oleh Allah Swt. dan meninggalkan mereka untuk selama-lamanya.

Persoalannya, sahabat yang tidak mempercayai kematian Nabi SAW. jumlahnya cukup banyak dan termasuk orang-orang berpengaruh, sehingga membuat kaum Muslimin yang lain ikut-ikutan tidak percaya. Hal ini tentu akan mempengaruhi kondisi psikologi dan mental umat Islam secara keseluruhan. Apalagi dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa, ketika Umar bin al-Khattab mendengar bahwa Nabi SAW meninggal, dia langsung menghunus pedangnya sambil berteriak Siapa yang berani mengatakan bahwa Muhammad telah Mati, maka batang lehernya akan kutebas dengan pedang ini!.[1]

Sebelum perbedaan asumsi tersebut meluas menjadi perpecahan, Abu Bakar (573-634)[2] kemudian mengeluarkan statemen bijak dengan menyitir firman Allah Swt. dalam surat Ali Imran: 185:

(Setiap jiwa pasti akan mati), lalu surat al-Zumar: 30:

(Kamu [Muhammad] akan mati dan mereka pun [juga] akan mati),[3] serta surat Ali Imran: 144:

(Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang utusan, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang utusan. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, lalu kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudlarat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur).

Setelah membacakan dua ayat tersebut, Abu Bakar kemudian berkata:

,

(Barangsiapa menyembah Muhammad, maka sesunggunya dia telah mati. Dan barangsiapa yang menyembah Tuhan Muhammad, maka Dia adalah Dzat yang Maha Hidup dan tidak akan mati). [4] Seketika itu para sahabat yang pada mulanya tidak percaya bahwa Nabi sudah meninggal, akhinya menyadari kekhilafannya dan berusaha bersabar dan tabah menghadapi peristiwa yang sangat menyedihkan hati mereka.

 

Tempat Pemakaman Nabi SAW.

Setelah memperselisihkan tentang status kematian Nabi SAW. berlalu, kaum muslimin saat itu masih dihadapkan oleh perbedaan aspirasi tentang tempat penguburan jenazah Nabi SAW. Penduduk Mekah menginginkan agar jenazah Nabi SAW. dikebumikan di kota Mekah. Menurut mereka, Nabi lahir di Mekah, diangkat sebagai utusan di Mekah, kiblat umat Islam juga di Mekah, serta keturunannya juga tinggal di Mekah, apalagi di sana juga terdapat makam nenek moyangnya, Nabi Ismail as. Jadi menurut warga Mekkah, amat wajar bila jenazah beliau dimakamkan di Mekah. Sementara penduduk Madinah juga menginginkan hal yang sama; mengebumikan jenazah Nabi di kota itu. Alasannya, di Madinah lah Nabi SAW. hijrah dan meninggal dunia, serta di kota ini pula beliau membangun agama, akidah, serta nilai-nilai peradaban umat. Selain penduduk Mekah dan Madinah, masyarakat Palestina juga berkeinginan agar jenazah Nabi dimakamkan di Baitul Muqaddas (Palestina), karena di sana juga terdapat makam kakek moyang beliau, yaitu Nabi Ibrahim as.[5]

Sebelum meluas menjadi perseteruan, perbedaan aspirasi dan keinginan itu akhirnya dapat diselesaikan secara damai setelah Abu Bakar membacakan hadits Nabi yang berbunyi: (Para Nabi itu dikuburkan di tempat mereka wafat). Mendengar riwayat hadis tersebut, akhirnya para sahabat Nabi yang berasal dari beragam golongan itu mau menerima bila Nabi disemayamkan di tempat beliau wafat, Madinah.[6]

 

Pemimpin Pengganti Nabi SAW.

Pembahasan soal kepemimpinan pasca Nabi ini bermula ketika Sad bin Ubadah,[7] pimpinan kaum Anshar, berinisiatif untuk mengumpulkan beberapa sahabatnya dari golongan Anshar untuk bersama-sama membahas siapa yang akan menjadi pemimpin pengganti Nabi SAW. Mereka berkumpul di sebuah balairung yang disebut Saqifah Bani Saidah[8] dan tidak ikut serta dalam proses pemakaman jenazah Nabi SAW. Absennya mereka dari prosesi pemakaman Nabi SAW. berdasarkan alasan bahwa, masalah kepemimpinan merupakan persoalan krusial yang perlu segera dibahas. Sebab bila terjadi kekosongan kepemimpinan maka akan timbul fitnah yang amat besar bagi umat Islam, disamping bahwa urusan pemakaman diserahkan sepenuhnya kepada keluarga Nabi (ahl al-bait), terutama sahabat Ali ra.dan Abbas bin Abdul Muthallib.[9]

Ketika mendengar kabar bahwa sebagian sahabat Anshar berkumpul di Tsaqifah Bani Saidah, Abu Bakar, Umar, Abu Ubaidah, dan beberapa sahabat dari golongan Muhajirin lainnya ikut serta menghadiri pertemuan Saqifah. Dalam pertemuan itu, terjadi perdebatan sengit antara golongan Muhajirin dan Anshar seputar golongan manakah yang lebih berhak memegang tampuk kepemimpinan. Kaum Anshar lebih memilih pemimpin mereka, Sad bin Ubadah, sebagai pengganti Nabi SAW., sementara kaum Anshar mengklaim bahwa golongan merekalah yang berhak menduduki jabatan itu.

Perdebatan semakin alot dan semakin meruncing, terutama setelah Umar bersikukuh bahwa tidak selayaknya pemimpin berasal dari selain kaum Muhajirin,[10] sementara kaum Anshar berpandangan bahwa: . (Kami punya pemimpin dan kalian pun punya pemimpin). Melihat kecenderungan akan timbulnya perpecahan, Abu Bakar segera tampil bicara. Abu Bakar pertama-tama berupaya mengadopsi aspirasi dari dua golongan yang berkepentingan dengan mengakui bahwa kaum Anshar memang telah berjasa besar membela dan menegakkan ajaran Islam, serta memberi pertolongan kepada Nabi SAW. dengan segenap jiwa, raga, bahkan harta benda mereka. Begitupun kaum Muhajirin juga tidak kalah mulia dari kaum Anshar, sebab mereka lah golongan yang pertama kali menyembah Allah di muka bumi, golongan yang pertama kali mengimani Nabi SAW. dan mempercayai kerasulannya, serta selalu menyertai Nabi dalam kondisi apapun termasuk di saat Nabi SAW. diusir dari Mekkah. Setelah itu, Abu Bakar kemudian menyitir hadits Nabi yang berbunyi: . (Para pemimpin itu berasal dari Kaum Quraisy), yang berarti mengharuskan kaum Anshar merelakan kursi kekhalifahan diserahkan pada kaum Muhajirin.

Setelah diingatkan dengan hadits tersebut, akhirnya kedua golongan bersepakat untuk mengangkat pemimpin dari golongan Muhajirin. Abu Bakar kemudian mengajukan nama Umar bin al-Khattab dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah sebagai calon yang akan dipilih. Namun baik Umar maupun Abu Ubaidah justru meminta kesediaan Abu Bakar untuk dibaiat. Abu Bakar dinilai sebagai sahabat terdekat Nabi SAW. yang telah banyak berjasa bagi kemajuan Islam. Abu Bakar lah yang setia menyertai Nabi saat bersembunyi di gua Tsur karena dikejar-kejar kaum Kuffar Mekkah. Abu Bakar pula orang yang selalu ditunjuk oleh Nabi SAW. untuk menjadi imam shalat menggantikan beliau saat berhalangan, didukung pula oleh sikapnya yang bijak dan berakhlak mulia. Karena desakan anggota sidang, akhirnya Abu Bakar dibaiat secara aklamasi oleh seluruh peserta sidang yang hadir. Hanya Sad bin Ubadah yang tidak bersedia melakukan baiat atas kepemimpinan Abu Bakar.[11] Baiat ini kemudian dikenal dengan baiat khashah, atau pengangkatan terbatas yang dilakukan oleh para pemuka masyarakat.[12]

Setelah prosesi baiat di Saqifa Bani Saidah selesai, keesokan harinya Abu Bakar dibaiat secara massal oleh kaum Muslimin di Masjid Nabawi. Baiat kedua ini kemudian dikenal dengan baiat ammah, atau pengangkatan secara massal.[13] Dalam baiat yang kedua ini, terdapat beberapa sahabat yang tidak hadir, yakni beberapa orang dari golongan Bani Hasyim dan Abu Sufyan dari golongan Bani Umayyah. Sementara ketidak hadiran Ali ra. lebih disebabkan oleh kesibukan beliau dalam mengurus dan mengawasi pemakaman Nabi SAW. Sahabat Ali ra. memang diserahi tugas khusus oleh Nabi SAW. untuk mengurus segala hal yang berkaitan dengan prosesi pemakaman Nabi SAW. Selain Ali ra., sahabat-sahabat lain yang paling banyak berperang dalam prosesi perawatan jenazah Nabi SAW adalah Usamah bin Zaid, Abbas bin Abdul Muthalib (paman Nabi), dan dua putra Abbas, yakni Fadl dan Qutham.[14]

 

PERIODE ABU BAKAR[15]

Selasa malam Rabu menjelang salat Isya, beberapa saat setelah jenazah Muhammmad SAW. dikebumikan, Abu Bakar naik ke mimbar di masjid Nabawi. Ia menyampaikan pidato pertamanya sebagai khalifah. Pidato yang ringkas dan sangat berkesan di kalangan umat itu terjadi pada Juni 632 M., atau 11 Hijriah. Diantara isi pidatonya adalah: Saya telah terpilih menjadi pemimpin kamu sekalian meskipun saya bukanlah orang yang terbaik di antara kalian. Karena itu, bantulah saya bila saya berada di jalan yang benar dan bimbinglah saya bila saya berbuat salah... Taatilah saya selama saya taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah ikuti saya bila saya durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya.[16]

Pada mulanya, Abu Bakar digelari sebagai KhalifatuLlah (khalifah Allah), namun gelar itu ditolaknya. Abu Bakar lebih suka digelari Khalifah Rasulullah (pengganti Rasulullah). Dari sinilah penggunaan gelar khalifah bagi para pemimpin Islam bermula.[17]

Terpilihnya Abu Bakar sebagai Khalifah pertama penganti Rasulullah SAW. mendapatkan reaksi yang beragam dari kaum Muslimin di luar Madinah. Sebagian diantara mereka ada yang ikut membaiat kepemimpinan Abu Bakar, tapi ada pula yang tidak. Mereka yang tidak membaiat ada yang beranggapan bahwa baiat tidak perlu, tapi ada pula sebagian- yang tidak membaiat karena mereka memang keluar dari Islam (murtad).

Di Mekkah, berita meninggalnya Rasulullah SAW. disampaikan oleh Utthab bin Usaid. Utthab menyamar dan mengharap agar penduduk Mekkah tidak murtad ketika mendengar bahwa Nabi mereka sudah wafat. Mendengar kabar meninggalnya Rasulullah SAW., Suhail ibn Ammar lalu berdiri di depan pintu Ka'bah dan berteriak kepada penduduk Mekkah: Berkumpullah wahai penduduk Mekkah! Janganlah kalian menjadi orang terakhir yang masuk Islam kemudian menjadi orang yang murtad paling awal. Demi Allah, pastilah Allah akan memberi anugerah (kepada kalian) sebagaimana pernah disabdakan Rasulullah SAW; Ucapkan besertaku kalimat la ilaha illa Allah, maka niscaya kalian akan menguasai orang Arab dan non-Arab. Mereka akan membayar pajak kepada kalian.[18] Kedatangan Utthab dan seruan Suhail ini mampu meredam timbulnya kemurtadan massal di Mekkah.

Sementara di beberapa kawasan lainnya, terjadi pembelotan yang dilakukan oleh beberapa kabilah yang baru masuk Islam. Mereka tidak lagi mengakui pemerintahan Abu Bakar di Madinah. Motif pemberontakan ini beraneka ragam; ada yang keluar dari Islam (murtad), ada yang menolak membayar zakat, ada pula yang hanya karena fanatisme kesukuan. Beberapa orang malah menyatakan diri sebagai Nabi-nabi baru, seperti Tulaihah dan Musailamah. Nabi-nabi palsu ini umumnya didukung oleh suku asal mereka. Bahkan Uyainah pernah berkata: Seorang Nabi dari suku Asad dan Ghathfan lebih aku sukai daripada seorang Nabi dari suku Kuraisy[19]

 

Memadamkan Pemberontakan[20]

Menghadapi fenomena ini, Abu Bakar berencana menumpas semua kabilah yang memberontak itu. Namun tidak semua rencananya bisa diterima oleh kaum Muslimin. Penyerangan terhadap orang-orang murtad dan mereka yang mengaku Nabi memang disetujui, sementara rencana penyerangan atas kabilah-kabilah yang menolak membayar zakat masih diperselisihkan. Menurut pihak yang anti penyerangan, orang-orang yang tidak mau membayar zakat itu bukanlah orang kafir atau murtad, mereka masih sahabat sesama muslim. Sebagian sahabat lainnya yang mendukung langkah Abu Bakar beralasan, kewajiban membayar zakat merupakan salah satu tiang agama Islam (rukun) sehingga harus ditegakkan demi tegaknya tiang agama, dan orang-orang yang menolak melaksanakannya berarti telah meruntuhkan agama.[21]

Sebagai pemimpin yang juga bertanggungjawab atas kesatuan akidah dan pemeliharaan ajaran agama, Abu Bakar kemudian memutuskan untuk memerangi mereka walaupun di kalangan internal umat Islam sendiri masih terdapat silang pendapat. Abu Bakar memiliki landasan hadits Nabi SAW. yang menyatakan: (Aku [Nabi SAW.] diperintahkan nuntuk memerangi umat manusia, keculali bila mereka bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dan mereka mendirikan shlata dan membayar zakat. Jika mereka menjalankannya, berarti mereka telah menjaga darah dan harta mereka dariku, kecuali atas hak-haknya). Dengan demikian, memerangi para pengkhianat agama itu menjadi absah adanya.[22]

Namun Abu Bakar berjanji bahwa dalam penyerbuannya nanti, orang-orang ingkar itu akan diperlakukan secara manusiawi, terurtama jika mereka mau bertaubat dan bersedia kembali ke jalan Allah. Abu Bakar juga menyatakan bahwa dirinya tidak akan menawan atau memenjarakan mereka beserta keluarga, sebab penyerangan itu bukan ditujukan untuk menumpas, melainkan untuk shock therapy agar mereka mau menyadari kesalahannya.[23]

Setelah berhasil meyakinkan kaum Muslimin, dipersiapkanlah pasukan besar yang diproyeksikan untuk emnumpas semua jenis pemberontakan. Abu Bakar dalam usianya yang sudah 61 tahun memimpin sendiri kaum Muslimin untuk menggempur nabi palsu, Thulaihah. Pasukan Abu Bakar ini berhasil menumpas pasukan Thulaihah dalam waktu relatif singkat. Setelah itu, Abu Bakar kemudian membentuk 11 regu yang masing-masing dipimpin oleh Khalid bin Walid, Amr bin al-Ash, Ikrimah bin Abi Jahl, dan Syurahbil bin Hasanah. Mereka diberi tugas untuk menaklukkan kabilah-kabilah yang melakukan pemberontakan atau menolak membayar zakat. Pasukan muslim bergerak ke berbagai penjuru, mulai dari Tihamah di Laut Merah, Hadramaut di ujung Lautan Hindia (sekarang Yaman), sampai ke Oman, Bahrain, Yamamah, hingga Kuwait di Teluk Persia.

Dalam operasi militer kedua ini, pertempuran paling sengit terjadi antara pasukan Khalid bin Walid melawan pasukan Musailamah yang memiliki 40 ribu tentara. Pasukan dari Madinah sempat kalang kabut menghadapi mereka. Namun berkat kecerdikan Khalid bin Walid, mereka berhasil memukul balik lawan. Seorang tentara muslim bernama al-Barak berhasil melompati benteng pertahanan Musailamah dan pasukannya, Al-Hadikat, lalu ia membukakan pintu gerbang benteng dari dalam. Dalam pertempuran sengit itu, sang Nabi palsu Musailamah tewas.

Setelah itu, pasukan Khalid kemudian bergerak ke Utara, menuju lembah Irak yang saat itu dikuasai kerajaan Persia. Ketika Nabi SAW. masih hidup, tepatnya pada tahun ke-8 Hijriah, beliau pernah berkirim surat kepada Ratu Persia, Kishra. Namun surat Rasulullah SAW. itu dirobek di hadapan utusan Nabi SAW. Rasulullah SAW. lalu menyebut Allah akan merobek-robek kerajaan Persia pula. Dan saat itu telah tiba melalui tangan Khalid bin Walid yang hanya membawa sedikit pasukan. Dalam perang di Allais tercatat 70 ribu orang tewas. Setelah itu Kerajaan Hira pun ditaklukkan. Jadilah seluruh wilayah Persia (sekarang Irak) masuk dalam wilayah kekhalifahan Abu Bakar.

Setelah Persia berhasil ditaklukkan, Khalifah Abu Bakar kemudian mengirim 24.000 pasukan ke arah Syria, di bawah komando empat orang panglima perang. Ke 24 ribu tentara Muslim itu akan menghadapi 240.000 pasukan Romawi -kekuatan terbesar di dunia pada masa itu-yang diperintah Heraklius. Abu Bakar menetapkan Yarmuk sebagai pangkalan mereka. Ia juga memerintahkan Khalid bin Walid -yang saat itu masih berada di wilayah Irak-untuk segera pergi ke Yarmuk dan menjadi Panglima Besar guna mengahdapi pasukan Romawi. Khalid bin Walid membawa 9000 tambahan dari Irak guna bergabung dengan pasukan Muslimin yang telah tiba terlebih dahulu di Yarmuk.

Dari sekian keberhasilan yang dicapai pasukan Muslimin di bawah pemerintahan Abu Bakar, terutama dalam upaya memadamkan pemberontakan di berbagai kawasan serta keberhasilan mengembalikan kemurtadan massal bangsa Arab pasca meninggalnya Nabi SAW., maka sebagian besar kaum muslimin menyadari bahwa Abu Bakar sangat berjasa dan memdapat legitimasi rakyat. Apalagi sebelumnya memang telah ada isyarat dari al-Quran mengenai akan datangnya masa dimana kaum muslimin akan banyak yang murtad namun berhasil dikembalikan oleh orang-orang muslim lain yang cukup kokoh memegang ajaran agama dan saling mencintai satu sama lain. Isyarat al-Quran tersebut tertera dalam surat :

Wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa yang murtad diantara kalian dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan segolongan kaum yang dicintai-Nya dan Allah juga mencintai mereka

Menurut Hasan al-Bashri, kaum yang akan mengembalikan orang-orang murtad itu tidak lain adalah pasukan muslimin dibawah komando Abu Bakar. Dan apa yang diisyratkan al-Quran jauh sebelumnya ternyata terbukti ketika Abu Bakar telah memegang pucuk pimpinan umat Islam menggantikan Nabi.[24]

 

Dua Tahun dengan Keberhasilan Besar

Secara umum, pemerintahan Abu Bakar hanya berlangsung kurang lebih 2 tahun. Namun dalam masa yang relatif singkat itu, Abu Bakar berhasil mencatat banyak keberhasilan, terutama dalam hal perluasan wilayah, pembentukan lembaga-lembaga negara, pengelolaan ekonomi, serta pencapaian kesejahteraan umum yang merata bagi seluruh rakyat. Di jazirah Arab, ia telah berhasil menyatukan kembali umat Islam yang pecah setelah meninggalnya Rasulullah SAW. Di masanya pula, Islam semakin berkembang dan menyebar ke luar jazirah Arab, seperti Afrika utara dan Persia. Meskipun demikian, Abu Bakar tetap dikenal sebagai seorang yang sangat sederhana. Abu Bakar hidup sebagaimana rakyat kebanyakan. Ia tetap pergi sendiri ke pasar untuk berbelanja, serta tetap menjadi imam salat di masjid Nabawi sebagaimana dicontohkan Nabi SAW.

Selama dua tahun tiga bulan memimpin umat, Abu Bakar hanya mengeluarkan 8.000 dirham uang negara untuk kepentingan keluarganya. Jumlah yang sangat sedikit untuk ukuran waktu itu. Abu Bakar juga berjasa besar dalam upaya mengumpulkan ayat-ayat al-Quran atas saran dari Umar ra. Abu Bakar menunjuk sahabat Zaid bin Tsabit untuk memimpin tugas itu, dan mencatat ayat-ayat Quran dari para sahabat yang dahulu pernah menjadi sekretaris Rasulullah SAW. Catatan-catatan itu kemudian dikumpulkan di rumah Hafshah, putri Umar. [25]

 

Tanah Fadak

Dibalik semua keberhasilan itu, di tengah-tengah masa pemerintahan Abu Bakar sempat terjadi peristiwa penting yang selalu menjadi perbincangan di kalangan rakyat, yakni tentang tanah Fadak. [26] Tanah yang konon pernah dimiliki Rasulullah SAW. itu diminta oleh putrinya, Fathimah, kepada Abu Bakar sebagai tanah warisan. Namun Abu Bakar tidak memenuhi permintaan tersebut dan membiarkan tanah Fadak tetap sebagai tanah milik negara.

Pada mulanya, pertentangan seputar tanah Fadak terjadi antara sahabat Ali ra. dan Ibnu Abbas ra. Ali mengklaim bahwa tanah Fadak adalah milik Nabi SAW. yang diberikan kepada putrinya, Fathimah ra. yang kebetulan menjadi istri Ali. Sementara Ibnu Abbas juga menyatakan bahwa dialah yang berhak mewarisi tanah yang dimiliki Nabi saat perang Khaibar itu. Sebagai solusinya, Ali dan Ibnu Abbas kemudian menemui Umar bin al-Khattab untuk meminta pertimbangan dan masukan kepadanya. Namun Umar menolak dengan alasan bahwa keduanya lebih mengetahui permasalahan yang mereka hadapi.

Pada kesempatan lain, Fathimah datang sendiri menemui Abu Bakar dan meminta hak warisnya. Kedatangan Fathimah disertai oleh suaminya, Ali ra., dan mantan pembantu Rasulullah, Ummi Hani. Keduanya datang sebagai saksi atas tuntutan Fathimah. Namun Abu Bakar menolak tuntutan itu dengan alasan bahwa saksi yang dihadirkan cuma satu orang laki-laki dan satu orang perempuan. Padahal dalam kasus persengketaan seperti itu seharusnya saksi yang dihadirkan berjumlah tiga orang, yakni dua orang laki-laki dan satu orang perempuian.

Dalam riwayat lain dikisahkan, para janda Nabi SAW. mengutus Utsman bin Affan untuk menemui Abu Bakar guna menuntut hak waris mereka. Namun permohonan ini juga ditolak oleh Abu Bkara dengan alasan bahwa Nabi SAW. pernah bersabda: (Kami -para Nabi- tidak dapat memberi warisan. Harta benda yang kami tingalkan adalah shadaqah). Mendengar hal itu, mereka pun tidak meneruskan tuntutannya. [27]

Suksesi Kepemimpinan

Di masa akhir pemerintahannya, Abu Bakar sempat menyelesaikan persoalan besar yang berpotensi menimbulkan konflik di kalangan umat, yakni soal pergantian kepemimpinan. Dikisahkan, Khalifah Abu Bakar sibuk bertanya pada banyak orang dalam berbagai pertemuan, baik di majlis resmi atau di tempat-tempat umum. "Bagaimana pendapatmu tentang Umar?" tanya Abu Bakar kepada setiap orang yang di temuinya. Rata-rata mereka menyebut bahwa Umar adalah seorang yang keras, namun jiwanya sangat baik.

Ketika Khalifah Abu Bakar jatuh sakit, beliau kemudian mengumpulkan para sahabat untuk diajak bermusyawarah membahas figur yang akan menggantikannya. Setelah melalui pembahasan cukup alot, akhirnya Umar bin al-Khattab disetujui sebagai Khalifah pengganti Abu Bakar. Setelah itu, Abu Bakar minta Utsman bin Affan untuk menuliskan wasiat bahwa penggantinya kelak adalah Umar. Penunjukan khalifah secara langsung ini diambil oleh Abu Bakar karena khawatir akan timbulnya pertentangan soal suksesi kepemimpinan seperti peristiwa Saqifah Bani Saidah. Dengan cara ini, Abu Bakar telah menutup kemungkinan terjadinya pertikaian atau perebutan kekuasaan khalifah di antara umat Islam, sehingga kesatuan umat tetap terjaga.

Penunjukan Umar ra. sebagai penganti Abu Bakar tidak lah berjalan mulus. Ada sebagian kaum Muslimin yang tidak setuju jika Umar yang menjadi khalifah. Sebab menurut mereka, Umar ra. adalah pemimp[in yang keras dan kasar. Mendengar hal itu, Abu Bakar meyakinkan kaum Muslimin dalam pidatonya, yang antara lain berbunyi: . (Jika Tuhan mempertanyakan [penunjukan Umar] di hari kiamat kelak, maka aku akan menjawab: Aku telah menunjuk orang yang terbaik diantara mereka). Jaminan yang bersifat vertikal-transendental ini akhirnya mampu meredakan ketegangan yang sempat terjadi dan meyakinkan kaum Muslimin bahwa Umar memang pantas menjadi pemimpin umat pasca Abu Bakar.[28] Abu Bakar sendiri meninggal pada 22 Jumadil Akhir tahun ke 13 Hijriyah/23 Agustus 634 Masehi, dalam usia yang hampir sama dengan Rasul, 63 tahun.

 

PERIODE UMAR BIN AL-KHATTAB[29]

Ketika Umar menerima tugas sebagai khalifah, pasukan Islam tengah bertempur sengit di Yarmuk -wilayah perbatasan dengan Syiria. Umar tidak memberitakan kepada pasukannya bahwa Abu Bakar telah wafat dan bahwa dia lah yang sekarang menjadi khalifah. Umar tidak ingin mengganggu konsentrasi pasukan Muslim yang tengah melawan kerajaan Romawi yang dikenal sangat besar dan kuat itu.

Di Yarmuk, pasukan muslim yang dipimpin Khalid bin Walid mengambil kedudukan di bukit-bukit yang menjadi benteng alam, sedangkan pasukan Romawi terpaksa menempati lembah yang berada di hadapannya. Ketika kedua pasukan saling menyerang, dalam waktu yang tak begitu lama banyak diantara tentara Romawi -baik yang berasal dari Arab Syiria maupun Yunani- tewas bersimbah darah.

Melihat keadaan ini, panglima perang Romawi, Gregorius Theodore, berteriak dengan lantang mengajak duel panglima Islam, Khalid bin Walid. Gregorius tidak ingin anak buahnya terus berguguran dan menjadi korban sia-sia. Tantangan Gregorius diterima oleh Khalid.

Setelah melangsungkan pertarungan agak lama, tombak Gregorius patah terkena sabetan pedang Khalid. Gregorius lalu mengambil pedang besar lainnya. Namun sebelum duel itu dilanjutkan, Gregorius terlebih dahulu bertanya kepada Khalid tentang motivasinya berperang, serta bagaimana hakikat Islam yang sebenarnya.

Mendengar jawaban Khalid, bahwa dirinya berperang hanya mencari ridla Allah Swt. semata dan tidak ada motivasi duniawi seperti ingin mengejar jabatan, maka di hadapan ratusan ribu pasukan Romawi dan Muslim, Gregorius menyatakan diri masuk Islam. Kenyataan ini membuat pasukan Romawi kalut, namun akhirnya mereka memutuskan untuk terus melanjutkan pertempuran.

Gregorius sendiri lalu diajak oleh Khalid ke tempat yang aman. Di sana ia membaca syahadat dan sempat menunaikan salat dua rakaat. Setelah itu Gregorius kemudian ikut bersama-sama bertempur di samping Khalid dengan mengibarkan bendera Islam. Namun dalam pertempuran itu, Gregorius tewas secara syahid di tangan bekas pasukannya sendiri. Pasukan Islam sendiri mencatat kemenangan besar di Yarmuk, meskipun sejumlah sahabat meninggal di sana. Di antaranya adalah Juwariah, putri Abu Sofyan.

Setelah perang Yarmuk selesai, dan di saat pasukan Muslimin sedang mempersiapkan diri guna melakukan penyerangan ke Damaskus, tiba-tiba datang utusan dari Madinah yang membawa surat dari Khalifah Umar ra. Isi surat tersebut sungguh mengejutkan. Khalifah Umar ra. memecat Khalid secara hormat, dan mengangkat Abu Ubaidah sebagai Panglima Besar umat Islam pengganti Khalid guna melanjutkan penyerangan. Khalifah Umar mungkin khawatir, padukan Islam akan sangat mendewakan Khalid karena kehebatan pribadinya dan kelihaiannya mengatur strategi perang. Pendewaan atau okultisme jelas sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip agama Islam.

Sebagai seorang ksatria, Khalid ikhlas menerima keputusan itu. Khalid tetap ikut serta dalam pertempuran berikutnya sebagai prajurit biasa bersama tentara muslim lainnya. Beberapa sahabatnya tentu dibuat heran sekaligus kagum atas keputusan Khalid tersebut. "Saya berjihad bukan karena Umar, tapi demi mencari ridla Allah" kata Khalid saat ditanya beberapa sahabatnya. Bahkan di medan tempur, Khalid terus membantu Abu Ubaidah dan selalu memberi masukan-masukan cukup positif bagi setiap kemenangan Islam.

Dalam penyerangan pertama pasca perang Yarmuk, kota Damaskus berhasil dengan mudah dikuasai. Dengan menggunakan "tangga manusia", pasukan Muslimin berhasil menembus benteng Aleppo yang menjadi basis kekuatan Romawi yang berada di Syiria. Dengan sangat terpaksa, Kaisar Heraklius menarik mundur seluruh pasukannya kembali ke Konstantinopel. Itu artinya, kemenangan berada di tangan kaum Muslimin dan Syiria yang telah lima abad dikuasai Romawi kini berada di bawah kekuasaan Madinah.

Setelah Syiria berhasil ditaklukkan, pasukan Muslim kemudian bergerak menuju Yerussalem guna merebut kota suci Baitul Maqdis. Sebelum memasuki kawasan Yerussalem, Abu Ubaidah terlebih dahulu mengirimkan utusan kepada penguasa Yerusalem dan meminta kesediaannya untuk menyerah. Mengetahui besarnya kekuatan pasukan Isklam, penguasa Yerussalem bersedia menyerah, tapi ia hanya bersedia menyerahkan kekuasaan atas kota itu kepada pemimpin tertinggi Islam.

Mendengar hal itu, Abu Ubaidah kemudian mengirim utusan ke Madinah untuk menemui Khalifah Umar ra. dan memberitahukan perihal syarat yang diajukan penguasa Yerussalem. Ternyata Khalifah Umar bersedia memenuhi syarat tersebut, dan berangkat ia ke Yerusalem. Ketika tentara Islam menawarkan diri untuk memberi pengawalan, Khalifah Umar menolaknya. Khalifah Umar berangkat menemui pemimpin Yerussalem hanya menunggang seekor unta dan ditemani satu orang pembantu. Setibanya di Yerusalem, Umar dan pembantunya yang hanya mengenakan pakaian sangat sederhana disambut dengan upacara kebesaran layaknya seorang raja. Namun hal itu tidak membuat Khalifah Umar silau. Ia tetap tampil apa adanya; mengendarai unta merah dan membawa sendiri kantung makanan serta persediaan air minum.

Kesederhanaan Umar itu mengundang simpati penduduk Yerussalem. Bahkan orang-orang non Muslim di pelbagai kawasan yang dikunjungi Umar juga banyak yang menaruh simpati kepadanya. Apalagi kaum Gereja Syria dan Gereja Kopti-Mesir, mereka memang mengharap kedatangan Islam karena selama berada di bawah kekuasaan Romawi, mereka hidup sengsara dan tertindas. Kekaisaran Romawi hanya mengakui Gereja Yunani sebagai corong keagamaan bagi masyarakat, sementara agama-agama lainnya dimarginalkan. Karena itu, kedatangan Islam yang mengajarkan kesederajatan dan kesahajaan seperti dicontohkan Umar langsung menarik simpati masyarakat luas.

Selain diterima di kawasan Asia Barat, Islam juga segera menyebar ke kawasan barat tepatnya di Afrika Utara, seperti ke Memphis (Kairo), Iskandaria, hingga Tripoli. Daerah-daerah tersebut berhasil direbut pasukan Islam di bawah komando Amr bin Ash dan Zubair, menantu Abu Bakar. Sementara ke wilayah timur, pada 637 Masehi pasukan Saad bin Abu Waqqas juga merebut Ctesiphon -pusat kerajaan Persia. Setelah berada dibawah kekuasaan Islam, tiga putri raja Persia kemudian dibawa ke Madinah dan dinikahkan dengan Muhammad bin Abu Bakar, Abdullah bin Umar, serta Hussein bin Ali.[30] Dari Persia, Islam kemudian menyebar ke wilayah Asia Tengah, mulai Turkmenistan, Azerbaijan, bahkan hingga wilayah Afghanistan sekarang.

 

Keadilan Sang Pemimpin

Selama masa pemerintahannya, Umar bin al-Khaththab dikenal sebagai pemimpin yang sangat adil. Ia tidak membedakan perlakuan terhadap siapapun, baik itu majikan atau budak, kaya atau miskin, penguasa maupun rakyat jelata. Semuanya mendapat perlakuan yang sama. Dikisahkan, suatu hari datanglah seorang penduduk Mesir beragama Yahudi ke Madinah. Setiba di Madinah, saat itu Umar bin al-Khaththab sedang berkhotbah di masjid mengenai keadilan. Demi Allah, apabila ada di antara pemimpin dari kamu sekalian menindas yang lemah, maka orang yang ditindas itu mempunyai hak untuk membalasnya. Begitu pula jika seorang pemimpin menghina seseorang di hadapan umum, maka orang itu diberikan hak untuk membalas hal yang setimpal." Ujar Umar. Selesai khalifah berkhotbah, lelaki asal Mesir tadi bangkit seraya berkata; "Ya Amiirul Mu'minin, saya datang dari Mesir dengan menembus padang pasir yang luas dan tandus, serta menuruni lembah yang curam. Semua ini hanya dengan satu tujuan, yakni ingin bertemu dengan Tuan."

"Katakanlah apa tujuanmu bertemu denganku," ujar Umar.

"Saya telah dihina di hadapan orang banyak oleh 'Amr bin 'Ash, gubernur Mesir. Dan sekarang saya akan menuntutnya dengan hukum yang sama."

"Ya saudaraku, benarkah apa yang telah engkau katakan itu?" tanya khalifah Umar ragu-ragu.
"Ya Amiirul Mu'minin, apa yang saya katakan adalah benar adanya." jawabnya tegas.

"Baiklah, kepadamu aku berikan hak yang sama untuk menuntut balas. Tetapi, engkau harus mengajukan empat orang saksi, dan kepada 'Amr aku berikan dua orang pembela. Jika tidak ada yang membela gubernur, maka kau dapat melaksanakan balasan dengan memukulnya 40 kali."

Setelah mendapat izin dan legitimasi dari Khalifah, si Yahudi kemudian pulang kembali ke Mesir. Sesampainya di Mesir, ia langsung menyampaikan titah Khlaifah Umar kepada gubernur Amr bin Ash. Pada mulanya, pengaduan sang Yahudi banyak ditentang oleh para bawahan gubernur. Namun Amr bin Ash sendiri menyadari kesalahannya sehingga ia bersedia mendapat balasan dari si Yahudi. "Ini rotan, ambillah! Laksanakanlah hakmu," kata gubernur 'Amr bin 'Ash sambil membungkukkan badannya siap menerima hukuman balasan. "Apakah dengan kedudukanmu sekarang ini engkau merasa mampu untuk menghindari hukuman ini?" tanya lelaki itu. "Tidak, jawab gubernur, Jalankan saja keinginanmu itu," tambahnya. Mendengar jawaban terakhir ini, si Yahudi lalu berkata, "Tidak, sekarang aku memaafkanmu," katanya seraya melamparkan rotan tersebut dan memeluk gubernur sebagai tanda persaudaraan.

Inilah salah satu bukti keteladanan para pemimpin Islam di masa sahabat, khususnya keteladanan yang ditunjukkan oleh Umar sebagai pimpinan tertinggi yang tidak pilih kasih dalam menjalankan kebijakan, dan dari seorang Amr bin Ash yang bersedia menerima hukuman dari seorang gembel yang datang membawa kebenaran.[31]

Kedekatan dengan Rakyat

Selain dikenal dengan sikap adilnya, Umar juga dikenal sangat dekat dengan rakyatnya. Ia sering berkeliling seorang diri ke rumah-rumah penduduk, terutama pada malam hari saat penduduk tidak mengenali wajahnya karena gelap. jika diantara mereka ada yang kekurangan bahan makanan, maka Umar segera mengambilkan bahan makanan yang berada di gudang penyimpanan dan tak segan-segan mengangkatnya sendiri.

Dalam satu riwayat diceritakan, bahwa Usaid berkata, "Ketika pucuk pemerintahan pindah ke tangan Khalifah Umar bin Khaththab, beliau membagi-bagikan harta kekayaan kepada kaum muslimin. Beliau mengirimkan pakaian kepadaku, tetapi pakaian itu sempit bagiku. Ketika aku berada di masjid, aku melihat seorang pemuda Kuraisy berpakaian serupa dengan pakaian yang dikirimkan Khalifah kepadaku. Pakaian itu sangat longgar dan panjang baginya hingga menyapu tanah. Maka kuingatkan kepada orang yang berada di sampingku akan sabda Rasulullah saw, "Sesungguhnya sepeninggalku nanti, kalian akan menemui orang-orang yang mementingkan diri sendiri tanpa mempedulikan orang lain." Kemudian aku berkata kepada orang itu, "Ucapan Rasulullah tersebut sekarang telah terbukti." Mendengar penuturanku, orang yang tadi berada di sampingku itu pergi menemui Khalifah Umar dan menyampaikan ucapanku kepada beliau. Khalifah Umar buru-buru mendatangiku ketika aku sedang salat. Dia berkata, "Teruskan salat Anda, hai Usaid!" Setelah selesai salat, Umar menghampiriku seraya bertanya, "Apa sebetulnya yang telah Anda ucapkan?" Maka kuceritakan kepadanya tentang apa yang kulihat dan apa yang kuucapkan. Khalifah Umar berkata, "Semoga Allah memaafkan Anda! Pakaian itu sesungguhnya aku kirimkan kepada si Fulan dari golongan Anshar yang ikut bersumpah di Aqabah dan ikut pula berperang di Badar dan di Uhud. Kemudian, pakaian itu dijualnya kepada pemuda Quraisy tersebut, lalu dipakainya. Apakah karena itu Anda mengira hadis Rasulullah saw sudah terjadi pada masa pemerintahanku ini?. Usaid menjawab, "Demi Allah, Ya Amiral Mukminin! Aku tidak menyangka yang demikian terjadi pada masa Anda!" Tidak lama sesudah itu Usaid bin Hudhair dipangil Allah ke sisi-Nya. Dia meninggal pada masa Khalifah Umar. Usaid meninggalkan hutang empat ribu dirham sehingga ahli warisnya bermaksud menjual tanah untuk membayar hutang tersebut.

Ketika Khalifah Umar mengetahui hal itu, beliau berkata, "Jangan biarkan anak-anak saudaraku Usaid dalam keadaan hidup miskin." Khalifah Umar meminta kesediaan orang yang berpiutang agar dia sudi dibayar dengan hasil panen selama empat tahun, dengan cicilan seribu dirham. Inilah secuail kisah keteladanan Umar dalam memperhatikan nasib warganya.

Dalam kesehariannya, Umar meneladani perilaku Rasulullah SAW. dalam semua aspeknya. Ia berpakaian sangat sederhana, rumah dan makanan hariannya juga apa adanya. Prinsip hidup sederhana ini dimulai dari keluarganya sendiri, lalu (disarankan) kepada bawahannya. Bahkan istri dan anak-anak Umar dilarang menerima pemberian dari sipa pun dan dalam bentuk apapun.[32]

 

DIANTARA JASA-JASA UMAR

Umar bukan saja seorang yang sederhana, tapi juga seorang administratur ulung. Terbukti, ia berani berijtihad dan melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah dilakukan Rasulullah SAW. Contohnya dalam masalah pengelolaan administrasi pemerintahan; Umar mengatur administrasi negara dan membentuk departemen-departemen. Umar juga membentuk majelis permusyawaratan (layaknya DPR sekarang), dan memisahkan lembaga pengadilan dari lembaga eksekutif.[33] Yang lebih mengagumkan lagi adalah upaya Umar ra. untuk membersihkan lembaga pemerintahannya dari tindak penyelewengan dan korupsi. Ia mendaftar jumlah kekayaan calon pejabat yang akan dilantik dan melakukan verifikasi di pada periode-periode tertentu.[34]

Di bidang teritorial, Umar ra. membagi wilayah-wilayah Islam ke dalam 8 propinsi yang membawahi distrik-distrik dan subdistrik, dan dipimpin oleh seorang gubernur. Ke delapan propinsi tersebut adalah Mekkah, Madinah, Suriah, Basrah, Kuffah, Palestina, Mesir, dan Jazirah. Di masing-masing propinsi, managemen gaji pegawai dan administrasi perpajakan disusun sedemikian secara konseptual.

Disamping itu, Umar ra. juga tidak lagi membagikan harta rampasan perang untuk pasukannya, melainkan menetapkan gaji buat mereka. Besarnya gaji disesuaikan dengan tugas dan pos masing-masing. Umar juga mendirilkan beberapa pos militer di tempat-tempat strategis guna memberi rasa aman kepada penduduk.

Pada masa pemerintahan Umar pulalah dimulai pencatatan dan pemberlakuan kalender Hijriah, serta melanjutkan pengumpulan catatan ayat Quran yang dirintis Abu Bakar. Di masa Umar pula salat tarawih dilangsungkan secara berjamaah, yang pada masa hidupnya Rasulullah Saw. biasanya dilakukan secara sendiri-sendiri karena khawatir shalat tarawih akan diwajibkan bagi umat Islam.

Diantara kebijakan Umar lainnya adalah pemberian gaji bagi para imam shalat dan muadzin, penghapusan pendirian baitul mal, penghapusan sistem pembagian tanah rampasan perang (fay), dan pembangunan lembaga-lembaga pendidikan keagamaan, pembangunan bendungan dan terusan, serta pengembangan kota-kota baru, seperti Basrah, Fustat, Kuffah, dan Mosul.[35]

 

MINIMNYA FRIKSI

Pada masa pemerintahan Umar bin al-Khattab ra., friksi internal diantara umat Islam tidak berlangsung begitu tajam seperti yang terjadi pada masa Abu Bakar. Persoalan yang dihadapi umat Islam pada masa pemerintahan Umar lebih banyak dikonsentrasikan untuk perluasan wilayah dan konsolidasi ke dalam. Sementara perselisihan internal hanya bersifat furuiyyah dan sama sekali tidak berpengaruh besar pada sendi-sendi akidah umat Islam. Bisa dibilang, masa pemerintahan Umar termasuk era paling tenang dan sepi dari hiruk-pikuk perselisihan internal.

Dari sedikit uraian di muka dapat ditarik kesimpulan bahwa perbedaan pendapat di kalangan Umat Islam pasca meninggalnya Nabi himgga masa pemerintahan Umar ra. tidak berpengaruh besar pada keutuhan dan persatuan umat Islam secara keseluruhan. Sebab perbedaan pandangan itu hanya bersifat asumtif-politis atau soal-soal furuiyyah (fiqh) semata, dan tidak sampai menyentuh persoalan akidah. Apalagi setelah mendengar riwayat hadits yang menjelaskan persoalan yang mereka hadapi, maka mereka langsung mengamininya dan tidak banyak mempersoalkannya lebih jauh.

Keberhasilan Umar dalam membangun dan menata negara menimbulkan rasa iri dan ketidaksenangan pihak-pihak yang memusuhi Islam, termasuk dari sebagian umat Islam sendiri. Saat itu, seperti biasa Umar datang ke masjid hendak menimami salat subuh. Namun tiba-tiba dari arah belakang, seorang muslim asal Persia Firuz bernama Abu Luluah, menikamnya dan mengamuk di masjid dengan pisau beracun. Umar meninggal bersama enam orang jamaah shalat lainnya, sedangkan Abu Luluah sendiri juga tewas. Banyak dugaan mengenai alasan pembunuhan tersebut. Yang pasti, sejak periode Nabi SAW. inillah pembunuhan pertama seorang muslim oleh muslim lainnya. Dan kebetulan, salah satu korbannya adalah Umar bin al-Khaththab, pemimpin sederhana dan bersahaja setelah 10 tahun memegang pucuk pimpinan tertinggi umat Islam.

 

PERIODE UTSMAN BIN AL-AFFAN[36] (33-45 Hijriah/644-656 Masehi).

Beberapa saat sebelum meninggal dunia, Umar bin Khaththab sempat berpesan agar selama tiga hari, imam masjid hendaknya diserahkan kepada Suhaib Al-Rumi. Namun pada hari keempat hendaknya telah dipilih seorang pemimpin penggantinya. Umar memberikan enam nama sebagai alternatif pilihan. Mereka adalah Ali bin Abu Thalib, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Saad bin Abi Waqas, Abdurrahman bin Auff, dan Thalhah bin Ubaidillah.

Pesan Umar ini pun dilaksanakan. Keenam orang yang diwasiati Umar itu berkumpul di rumah Abdurrahman bin Auff. Dalam pertemuan itu, mereka memulai pembicaraan tentang siapa dia antara mereka yang bersedia mengundurkan diri. Sebelum peserta lain mengeluarkan pendapat, Abdurrahman bin Auff selaku tuan rumah dan moderator terlebih dahulu menyatakan dirinya mundur dari pencalonan. Melihat kenyataan itu, dua orang lainnya yakni Zubair bin Awwam dan Saad bin Abi Waqas juga menyatakan mengundurkan diri, sehingga tinggallah Utsman dan Ali. Ketika itu, Abdurrahman bin Auff ditunjuk menjadi penentu. Untuk menentukan pilihan, Abdurrahman terlebih dahulu menemui banyak orang meminta pendapat mereka. Namun pendapat masyarakat pun terbelah; ada yang cenderung ke Ustman dan ada pula yang lebih memilih Ali ra.

Konon, sebagian besar warga memang cenderung memilih Utsman. Saat itu, kehidupan ekonomi warga Madinah memang sangat baik, sehingga perilaku masyarakat pun bergeser. Mereka mulai enggan dipimpin oleh tokoh yang kesehariannya sangat sederhana dan tegas seperti Abu Bakar atau Umar. Sementara Ali mempunyai kepribadian yang serupa itu. Berbeda dengan Ustman yang dikenal sangat kaya dan pemurah.

Setelah selesai berkeliling, Abdurrahman bin Auff -yang juga sangat kaya dan masih saudara ipar Ustman - pun memutuskan untuk memilih Ustman sebagai khalifah. Ali sempat protes pada pilihan Abdurrahman yang cenderung memilih berdasarkan ikatan tali kekeluargaan. Keduanya memang sama-sama keluarga Bani Umayah, sedangkan Ali, sebagaimana Nabi Muhammad SAW., adalah keluarga Bani Hasyim. Sejak lama kedua keluarga itu memang selalu bersaing dalam berbagai hal. Namun Abdurrahman meyakinkan Ali bahwa keputusannya adalah murni dari nurani. Ali pun akhirnya mau menerima keputusan itu. Setelah semua anggota formatur dinilai mencapai kata sepakat, akhirnya dibaiatlah Ustman sebagai khalifah pengganti Umar. Pada saat diangkat, Ustman sudah berusia 70 tahun dan tercatat sebagai khalifah tertua sepanjang sejarah Islam.

Enam Tahun Pertama, Periode Keberhasilan

Para ahli sejarah pada umumnya memetakan pemerintahan Utsman yang berlangsung selama 12 tahun dalam dua periode. Periode 6 tahun pertama adalah masa dimana banyak keberhasilan dan kejayaan dicapai oleh kaum Muslimin. Sementara periode 6 tahun kedua ditandai dengan banyaknya kekecewaan penduduk yang berujung pada pecahnya kekacauan dan pemberontakan di berbagai kawasan.

Pada masa awal pemerintahannya, Utsman tetap menjalankan kebijakan sebagaiamana kebijakan yang telah ditempuh pendahulunya, Umar bin al-Khaththab. Para pejabat gubernur yang telah diangkat pada masa Umar tidak dimutasikan oleh Utsman sesuai pesan yang disampaikan Umar menjelang wafatnya. Karena itulah, Utsman tetap mengukuhkan tiga gubernur utama, yakni Gubernur Mesir, Amr bin Ash, Gubernur Syam, Muawiyah bin Sufyan, dan Gubernur Persia, Abu Musa al-Asyari.

Ustman juga membuat langkah penting bagi umat. Ia memperlebar bangunan Masjid Nabawi di Madinah dan Masjid Al-Haram di Mekah. Pada masa ini pula, al-Quran yang sebelumnya hanya dihafalkan oleh para sahabat dan sempat dikumpulkan dan disimpan dalam bentuk naskah oleh Hafsah, putri Umar ra., kini dikodifikasi dalam bentuk mushaf. Orang yang mula-mula mengusulkan penulisan al-Quran itu adalah Hudzaifah bin Yaman. Ia sangat khawatir melihat banyaknya sahabat penghafal al-Quran yang meninggal dunia dalam berbagai peperangan, sehingga ia berinisiatif mengusulkan pembukuan al-Quran kepada Khalifah Utsman bin Affan. Usul itu diteima oleh khalifah dan dia segera membentuk panitia pembukuan yang terdiri dari Zaid bin Tsabit sebagai ketua, Said bin Ash, Abdullah bin Zubair, dan Abdurrahman bin Harits sebagai anggota. Kertas didatangkan dari Mesir dan Syria. Setelah selesai terbukukan, mushaf pertama itu kemudian disalin sebanyak lima buah. Satu buah mushaf tetap berada di Madinah dan kemudian dikenal sebagai mushaf al-imam, kemudian empat buah lainnya dikirimkan ke Mekkah, Suriah, Bashrah, dan Kuffah.[37]

Sementara di bidang pengembangan wilayah, pemerintahan Utsman mencapai keberhasilan cukup besar dengan semakin meluasnya kekuasaan Islam ke berbagai wilayah. Pada masa ini, untuk pertama kalinya Islam mempunyai armada laut yang tangguh. Armada tersebut dibangun oleh gubernur Muawiyah bin Abu Sofyan yang menguasai wilayah Syria, Palestina, dan Libanon. Sekitar 1.700 kapal dipakainya untuk mengembangkan wilayah ke pulau-pulau di Laut Tengah. Pada masa ini pula Siprus dan Pulau Rodhes digempur, dan Konstantinopel sempat dikepung. Bahkan pada masa Ustman ini, kaum muslimin melakukan ekspedisi damai ke Tiongkok. Pasukan Muslim yang dipimpin oleh Saad bin Abi Waqqas sempat bermukim di Kanton dan mengadakan pertemuan bilateral dengan Kaisar Chiu Tang Su.

Untuk memudahkan pelayanan administrasi pemerintahannya, Utsman kemudian mengangkat Marwan bin al-Hakam sebagai sekertaris negara. Marwan adalah seorang keturunan Bani Umayyah yang diusir oleh Rasulullah Saw. ke Yaman, dan sempat meminta ampunan kepada Abu Bakar dan Umar dan meminta untuk kembali ke Madinah, namun permintaan itu ditolak oleh keduanya. Ketika Utsman diangkat sebagai khalifah, Marwan kemudian dipanggil kembali ke Madinah dan diangkat menjadi sekertaris negara. Bahkan Marwan juga dinikahkan dengan salah seorang putri Utsman bin Affan. Pada mulanya, pengangkatan Marwan ini tidak menimbulkan kontroversi berarti di kalangan masyarakat. Namun ketika Marwan yang notabene tidak memiliki jasa apa-apa diberi bagian ghanimah sebesar dua ratus ribu dinar oleh Utsman, beragam reaksi pun bermunculan.[38]

 

Enam Tahun Kedua, Timbulnya Gejolak Internal

Dalam perkembangan selanjutnya, pengaruh Marwan semakin besar sehingga sering melampui tugas-tugasnya sebagai sekertaris. Banyak kebijakan Utsman yang dipengaruhi pikiran-pikiran Marwan. Bahkan akhirnya, dialah yang mengendalikan berbagai kebijakan khalifah, termasuk dalam hal pengangkatan pejabat-pejabat baru yang berasal dari keluarganya sendiri, yakni keluarga besar Bani Ummayyah (nepotisme). Selain itu, Utsman tampak sangat longgar memberi pengawasan kepada bawahan serta keluarganya yang hidup bermewah-mewah dan berlebih-lebihan dalam menampakkan kekayaan. Pada akhirnya, terdaat jurang pemisah dan kesenjangan ekonomi antara pejabat keturunan Bani Ummayyah yang kaya raya dan masyarakat biasa yang umumnya berada di bawah garis kemiskinan.

Posisi-posisi penting di pemerintahan pada akhirnya didominasi oleh keturunan Bani Umayyah. Dari sini rakyat semakin yakin bahwa Marwan-lah yang sebenarnya memegang kendali kekuasaan di masa Ustman. Pada masa ini pula, posisi Muawiyah bin Abu Sufyan mulai menjulang tinggi menyingkirkan nama besar seperti Khalid bin Walid. Bahkan Amr bin Ash yang sukses menjadi Gubernur Mesir, diberhentikan dan diganti dengan Abdullah bin Abu Sarah saudara sesusuan dengan Utsman dan orang yang paling aktif berkampanye untuk kemenangan Ustman dalam pemilihan khalifah. Padahal dulunya Abdullah bin Abi Sarah pernah membuat kesalahan besar sehingga darahnya dihalalkan oleh Nabi SAW. [39]

Namun ketika Abdullah bin Sarah menghadapi kesulitan dalam mengatur pemerintahan di Mesir, Utsman kemudian mengangkat kembali Amr bin Ash. Setelah kesulitan behasil diatasi, Ustman kembali memecat Amr bin Ash dan memberikan kembali kursi gubernur kepada Abdullah bin Sarah. Kebijakan ini temtu saja menimbulkan kekecewaan besar rakyat Mesir yang memang mencintai Amr bin Ash.

Sementara untuk posisi gubernur Irak, Azerbaijan, dan Armenia, Ustman mengangkat saudara seibunya, Walid bin Uqbah menggantikan tokoh besar lainnya, Saad bin Abi Waqqas. Namun Walid tak mampu menjalankan pemerintahan secara baik, sehingga menumbuhkan ketidakpuasan di kalangan masyarakat.

Pada awalnya, reaksi negatif masyarakat ini hanya berupa pembicaraan-pembicaraan kecil oleh beberapa individu atau sekelompok masyarakat yang merasa tidak puas atas kebijakan-kebijakan khalifah. Namun dari waktu ke waktu, ketika tidak ada perbaikan dalam pemerintahan, reaksi masyarakat itu semakin membesar dan berubah menjadi aksi massa yang tersebar di berbagai kawasan. Bersamaan dengan itu, muncul pula tokoh Abdullah bin Saba, seorang mantan Yahudi dan kini mengaku menjadi telah memeluk agama Islam. Dengan penampilanya yang santun dan saleh, Abdullah bin Saba memperoleh simpati dari banyak orang. Abdullah berpendapat bahwa yang paling berhak menjadi pengganti Nabi Muhammd SAW. adalah Ali ra. Ia juga menyebut bakal adanya Imam Mahdi yang akan muncul menyelamatkan umat di masa mendatang -sebuah konsep mirip kebangkitan Nabi Isa yang dianut oleh orang-orang Nasrani. Konsep itu diterima oleh masyarakat di wilayah bekas kekuasaan Persia, khususnya di wilayah Iran dan Irak. Pengaruh Abdullah bin Saba meluas. Di saat bersamaan, khalifah Ustman gagal mengatasi beragam masalah secara bijak. Abdullah bin Saba diusir ke Mesir., dan Abu Dzar Al-Ghiffari, tokoh yang sangat saleh dan dekat dengan Abdullah serta dikenal sebagai bapak kaum sufi, diasingkan ke luar kota Madinah sampai meninggal.

Sebelum itu, Utsman yang dikendalikan oleh Marwan juga membuat kebijakan membagi-bagikan harta baitul mal untuk beberapa kerabatnya. Hal ini dilakukan dengan alasan bahwa khalifah mempunyai kewenangan mengatur dan mengalokasikan uang negara untuk kepentingan umum, termasuk untuk khlafiah dan keluarganya. Kebijakan ini tentu saja membuat rakyat semakin kecewa.

Melihat situasi sudah semakin tidak kondusif, beberapa sahabat mendesak agar Ustman bersedia mengundurkan diri. Pada suatu hari, Ali menemui Utsman dan mengingatkan agar Ustman kembali ke garis pemerintahan yang telah dibangun oleh Abu Bakar dan Umar. Namun Ustman merasa bahwa tidak ada yang keliru dalam langkahnya. Malah sekertarisnya, Marwan, berdiri dan berseru bahwa pihaknya siap mempertahankan kekhalifahan itu dengan pedang.

Pada bulan Zulkaedah 35 Hijriah atau 656 Masehi, sekitar 500 pasukan dari Mesir, 500 pasukan dari Basrah, dan 500 pasukan dari Kufah bergerak menuju Madinah. Mereka berdalih bahwa kedatangan mereka hanya untuk menunaikan ibadah haji. Namun setelah tiba di Madinah, pasukan tersebut justru mendatangi rumah Khalifah dan mendesak agar Ustman--yang ketika itu telah berusia 82 tahun--segera mengundurkan diri. Pasukan yang berasal dari Mesir mencalonkan Ali, dari Basrah mendukung Thalhah, dan dari Kufah memilih Zubair untuk menjadi khalifah pengganti Utsman. Baik Ali, Thalhah, maupun Zubair sama-sama menolak dijadikan khalifah, bahkan mereka malah melindungi Ustman dan membujuk para prajurit tersebut untuk segera pulang. Namun mereka menolak dan jutru mengepung Madinah selama 40 hari. Mereka menuntut agar Utsman menyerahkan Marwan bin al-Hakam serta meminta Utsman bersedia mengundurkan diri. Namun tak satupun permintaan mereka yang ditanggapi oleh Utsman. Suatu malam, ketika Ustman sedang berkhutbah mengecam tindakan mereka, ia dilempari batu hingga pingsan.

Setelah sadar dari pingsannya, Ustman kemudian meminta kesediaan Ali agar meyakinkan para pemberontak dan membujuk mereka untuk segera meninggalkan Madinah. Ali menyatakan kesiapannya dengan catatan, Ustman tidak lagi menuruti kata-kata Marwan. Ustman pun bersedia menuruti permintaan Ali.

Ali kemudian mendatangi para pengepung, dan setelah melalui pembicaraan yang sangat alot, serta atas jaminan Ali, akhirnya para pengepung itu bersedia menarik diri dari Madinah. Namun tak lama setelah itu, Utsman atas saran Marwan tiba-tiba mencabut janjinya. Hal ini tentu membuat Ali ra. marah, terutama pada Marwan yang selalu memanfaatkan Utsman untuk kepentingan pribadinya.

Berita pencabutan janji secara sepihak itu tentu saja membuat rakyat marah. Bahkan para pengepung dari Mesir yang telah menarik diri dari Madinah, ketika mendengar pengingkaran janji oleh Utsman akibat bujukan Marwan, maka mereka kembali berangkat ke Madinah dan berencana membunuh Marwan dan Utsman.

Melihat kedatangan tentara Mesir ini, Ali ra. menyuruh dua putranya, Hasan dan Husein untuk melindungi Utsman. Namun karena keadaan sudah sangat kacau, keduanya tidak mampu menenangkan massa. Rumah Utsman dikepung ribuan massa. Mereka terdiri dari para pendatang yang sebelumnya telah mengepung rumah Utsman, ditambah dari penduduk Madinah sendiri yang ikut bergabung bersama para pengepung dari luar kota itu.

Beberapa orang diantara massa itu memasuki rumah Utsman satu persatu, sementara yang lain tetap tinggal di luar. Namun satu persatu pula orang-orang yang masuk ke dalam rumah Utsman itu keluar kembali dan kemudian berlalu meninggalkan tempat itu. Akhirnya, pemimpin pengepung dari Mesir, Al Ghafiqi, ikut menerobos masuk ke dalam rumah dan menghantamkan besi ke kepala Ustman, disusul kemudian oleh Sudan bin Hamran yang menusukkan pedangnya ke perut Utsman. Pada tanggal 8 Zulhijah 35 Hijriah, Ustman menghembuskan nafas terakhirnya sambil memeluk Quran yang sedang dibacanya.[40]

 

 

 

 

PERIODE ALI BIN ABI THALIB[41] (35-41 Hijriah/655-661 Masehi)

Setelah Khalifah Utsman terbunuh, tiga pasukan pengepung meminta kesediaan Ali bin Abi Thalib untuk menggantikan kedudukan Ustman. Pada mulanya, Ali ra. tidak menerima permintaan itu. Sebab urusan pergantian kepemimpinan menurut Ali harus dilalui dengan proses musyawarah dengan para pemimpin masyarakat (ahl al-hall wa al-aqd) sebagaimana Utsman dulu diangkat menjadi khalifah menggantikan Umar. Ali mengatakan, Urusan ini bukan urusan kalian. Masalah kepemimpinan adalah hal yang sangat penting dan krusial. Ini adalah urusan tokoh-tokoh masyarakat (ahl al-syura) bersama para pejuang perang Badr

Namun tak berapa lama kemudian, para sahabat besar seperti Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sad bin Abi Waqqash, dan beberapa sahabat lainnya berkumpul dan menyepakati pengangkatan Ali sebagai khalifah. Mereka menilai bahwa tidak ada lagi yang pantas menduduki jabatan itu kecuali Ali. Baiat para pembesar sahabat itu kemudian diikuti oleh masyarakat luas dengan melakukan prosesi baiat di Masjid Nabawi tepat pada tanggal 25 Dzulhijjah tahun 33 H. Pada saat pembaiatan itu, situasi dan kondisi Madinah belum kondusif betul setelah peristiwa pembunuhan atas Utsman.[42]

Setelah resmi menjadi pemimpin kaum Muslimin, Ali langsung mengambil langkah-langkah politis guna menanggulangi terjadinya hal yang sama seperti yang dialami Utsman. Dia langsung memberhentikan para pejabat yang diangkat Utsman dan menunjuk penganti baru. Sebagaimana diketahui, pada masa pemerintahan Utsman, dari 20 gubernur yang ada, hanya Gubernur Irak -Abu Musa Al-Asyari-yang bukan keluarga Umayah. Selain mengganti gubernur, Ali juga mengambil kembali tanah-tanah yang dulunya dibagikan oleh Ustman kepada sanak saudaranya tanpa alasan yang dapat dibenarkan. Disamping itu, Ali juga memberikan tunjangan kepada kaum Muslimin tanpa membedakan sahabat yang lebih dulu masuk Islam dengan yang masuk Islam belakangan. Langkah penting lainnya yang diambil Ali pada awal pemerintahannya adalah memindahkan ibu kota negara dari Madinah ke Kuffah. Sejak pemerintahan Ali inilah Kuffah menjadi pusat pemerintahan khilafah islamiyah.[43]

Pada masa awal pemerintahannya, Ali berhasil mengembalikan suasana menjadi lebih kondusif dan stabil. Stabilitas kemananan yang sempat kacau pasca terbunuhnya Ustman berhasil dikendalikan sehingga roda pemerintahan dapat berjalan normal. Namun kondisi tersebut tidak berlangsung lama, karena banyak di antara sahabat, terutama pihak keluarga Ustman, yang menuntut balas atas kematian Ustman. Sementara Ali sendiri tidak ingin mengungkit-ungkit masalah tersebut dan lebih memilih mendiamkannya agar persoalan tidak berkepanjangan dan umat Islam dapat bersatu kembali. Sayangnya, sikap Ali yang demikian justru menimbulkan kekecewaan beberapa pihak, terutama dari Thalhah bin Zubair. Thalhah menuntut agar Ali segera menangkap pembunuh Ustman dan segera mengadilinya. Namun Ali tetap berpegang teguh pada sikapnya yang tidak ingin timbulnya perselisihan baru.

Tuntutan serupa juga banyak diajukan tokoh netral seperti janda Rasulullah -Aisyah, juga Zubair, orang pertama yang masuk Islam seperti Ali. Bahkan beberapa orang menuding Ali terlalu dekat dengan para pembunuh itu. Ali menyebut pengadilan sulit dilaksanakan sebelum situasi politik reda. Ia bermaksud menyatukan negara lebih dahulu sebelum mengadili para pembunuh Utsman. Untuk itu, ia mendesak Muawiyah bin Abu Sufyan -Gubernur Syam yang juga pimpinan Bani Umayah-untuk segera berbaiat kepadanya. Namun Muawiyah menolak berbaiat sebelum pembunuh Ustman dihukum.

 

Perang Jamal, Perang Saudara Pertama

Tuntutan di atas bermula ketika para janda Nabi SAW. yang dipimpin oleh Aisyah berpindah ke Mekkah dan tinggal di kota suci itu. Mereka meninggalkan Madinah dengan maksud hendak melaksanakan ibadah haji. Namun setelah mendengar kematian Utsman, mereka kemudian memutuskan untuk tetap tinggal di Mekkah dan tidak ingin kembali ke Madinah demi menghindari fitnah besar atas kematian Utsman. Mereka terus memantau perkembangan di Madinah melalui berita yang dibawa para pedagang Mekkah yang datang dari sana.

Tak berapa lama kemudian, banyak sahabat-sahabat lainnya yang menyusul ke Mekah. Di awali oleh Thalhah dan Zubair; keduanya meninggalkan Madinah dan pindah ke Mekkah untuk menyemarakkan kehidupan di kota suci itu. Kepindahan Zubair dan Thalhah dikuti oleh beberapa kabilah yang juga ikut pindah ke Mekkah.

Sementara di Madinah, Ali ra. berencana menyerang Syam (Suriah) karena Muawiyah menolak memberi baiat kepadanya, setelah sebelumnya berkali-kali dikirimi surat. Namun sejumlah sahabat penting seperti Mughirah, Saad bin Abi Waqas, Abdullah bin Unar, dan sepupunya, Ibnu Abbas, menyarankan agar Ali menunda serangan itu. Tapi Ali bersikeras melakukannya, sehingga Ibnu Abbas mengeritiknya: "Anda ini benar-benar panglima perang, bukan negarawan."

Sebagai reaksi atas penolakan itu, Abdullah bin Umar kemudian ikut pindah ke Mekkah. Di saat hampir bersamaan, di Mekkah datang pula rombongan dari Yaman yang dipimpin mantan gubernur Yaman yang dipilih Utsman dan diberhentikan oleh Ali, Yala bin Umayyah. Setelah itu, datang pula Abdullah bin Amir, mantan gubernur Bashrah yang diangkat Utsman dan juga diberhentikan Ali, ke Mekkah dan ikut menetap di kota itu. Akhirnya, berkumpullah para tokoh-tokoh dari golongan sahabat, tabiin, dan para janda Rasulullah SAW. di kota ini.[44]

Keberadaan keturunan Bani Umayyah di Mekah mampu mempengaruhi para sahabat yang lain tentang perlunya mengadili para pembunuh Utsman. Orang-orang yang dikecewakan oleh Ali ini juga mampu menghasut para istri Nabi SAW. agar bergabung dengan kelompok Bani Umayyah untuk bersama-sama menuntut Ali atas tindakannya menunda-nunda pengadilan atas orang-orang yang membunuh Utsman.

Ali sendiri berada dalam situasi serba dilematis. Di satu sisi ia harus mengadili para pembunuh Utsman, namun di sisi lain pemerintahannya di dukung penuh oleh mereka. Bahkan orang-orang tersebut sangat berperang besar menaikkan Ali sebagai khalifah. Dan di saat bersamaan, Ali juga menghadapi pembangkangan Muawiyah yang menolak untuk memberi baiat. Dalam situasi yang demikian sulit, Ali kemudian memutuskan untuk pindah ke Kuffah, wilayah yang masyarakatnya mendukung Ali. Ia tinggalkan ibukota Madinah sepenuhnya, bahkan seterusnya. Dari Kufah inilah Ali menyusun pasukan guna menyerang Suriah dan menumpas para pemberontak pimpinan Muawiyah.

Langkah ini tentu saja mengundang kritik dari kelompok sahabat di Mekkah. Dengan dukungan dana dari keluarga Bani Umayyah, akhirnya Aisyah, Thalhah, dan Zubair memimpin 30 ribu pasukan dari Mekah menuju Madinah. Pada mulanya, pasukan Aisyah ini berniat menghadang pasukan Ali melalui Bashrah, namun karena Aisyah tidak berkenan kecuali menuju Madinah, akhirnya mereka mengarahkan perjalanan menuju kota Nabi tersebut. Pasukan Ali -yang semula diarahkan ke Suriah guna menyerang Muawiyah- terpaksa dibelokkan untuk menghadapi pasukan Aisyah. Pada hari Kamis tahun ke 36 Hijriyah, terjadilah peristiwa menyedihkan itu: perang antar kaum Muslimin.[45]

Aisyah memimpin pasukannya dalam tandu tertutup di atas unta. Banyak pasukan juga mengendarai unta sehingga perang itu disebut Perang Jamal (unta). Sekitar 10 ribu orang tewas dalam perang sesama Muslim ini. Aisyah tertawan setelah tandunya penuh anak panah akibat serangan pasukan Ali. Istri Nabi SAW. yang paling berpengaruh itu kemudian ditemui oleh Ali. Sebagai pimpinan, Ali meminta maaf atas perilaku anak buahnya yang secara tidak sopan menyerang tandu yang dikendarai Aisyah. Atas saran Ali, Aisyah kemudian diajak kembali pulang ke Mekkah.[46] Sementara sahabat Zubair tewas dibunuh di Waha Al-Sibak, dan sahabat Thalhah terluka di kakinya dan meninggal di Basrah.

Perang Shiffin, Perang Saudara Kedua

Kesempatan pun dimanfaatkan oleh Muawiyah. Mendengar terjadinya perang saudara itu antara pihak Ali dan Aisyah, Muawiyyah kemudian menggantungkan jubah Ustman yang berlumuran darah, serta potongan jari istri Ustman, di masjid Damaskus untuk menyudutkan khalifah Ali. Muawiyah bahkan menuding Ali sebagai otak pembunuhan Ustman. Muawiyah berhasil menarik Amr bin Ash, seorang sahabat Nabi dan mantan gubernur Mesir, ke pihaknya. Sejak dahulu, Amr bin Ash dikenal sebagai seorang politisi ulung yang sangat disegani. Muawiyyah mengiming-imingi Amr bin Ash menjadi Gubernur Mesir. Abdullah, anak Amr bin Ash, menyarankan agar ayahnya menolak ajakan Muawiyah. Namun Muhammad -anaknya yang suka politik-menyarankan Amr mengambil kesempatan itu. Amr bin Ash pun tergoda. Ia mendukung Muawiyah untuk menjadi khalifah tandingan Ali. Dukungan Amr bin Ash ini tentu saja sangat berpegaruh besar pada kekuatan Muawiyah, karena Amr bin Ash mempunyai banyak pendukung terutama di Mesir.

Dari Kuffah, Ali yang sudah berkali-kali mengirim surat dan terus ditolak oleh Muawiyah, akhirnya memutuskan untuk menyerang Suriah. Berangkatlah Ali bersama pasukannya menuju arah Suriah, sebelum akhirnya mereka beristirahat di Balbakh, sebuah kawasan yang terletak di pinggir sungai Eufrat (Furrat).[47]

Mendengar Ali hendak menyerang daerah kekuasaannya, Muawiyah atas saran Amr bin Ash segera bertolak keluar kota untuk mengahadang pasukan Ali. Ia langsung memimpin pasukan itu. Namun kedatangan pasukan Muawiyah inipun telah diketahui pula oleh Ali. Akhirnya kedua pasukan bertemu di suatu tempat bernama Shiffin, hulu Sungai Eufrat di perbatasan Irak-Suriah. Pada mulanya, Ali menawarkan penyelelaian damai dan menghindari pertumpahan darah karena mereka semua masih bersaudara sesama muslim. Namun tawaran itu ditolak oleh Muawiyyah; ia tetap tidak bersedia mengakui kekhalifahan Ali. Tak lama berselang, berkobarlah perang saudara kedua yang menodai sejarah keemasan Islam. Dalam perang yang dikenal dengan Perang Shiffin ini, puluhan ribu umat Islam tewas oleh saudara-saudara mereka sendiri. Di pihak Ali, korban berjumlah 35 ribu orang dan di pihak Muawiyah 45 ribu orang.

Setelah berperang selama beberapa hari, pasukan Ali mulai menunjukkan tanda-tanda kemenangan. Karena posisi sudah terdesak, Muawiyah atas usulan Amr bin Ash menyuruh tentaranya mengikat Quran di ujung tombak dan mengangkatnya tinggi-tinggi sebagai isyarat berdamai dan "berhukum pada Quran." Melihat hal itu, pihak Ali terbelah. Sebagian berpendapat bahwa seruan itu harus dihormati karena itu adalah ajakan damai. Sementara yang lain menyebut bahwa itu hanya siasat Muawiyah untuk menghindari kekalahan total. Setelah menimbang untung-ruginya bagi umat Islam, Ali kemudian memutuskan untuk menerima ajakan damai Muawiyah. Keduanya sepakat akan melakukan perundingan damai beberapa hari setelahnya.

 

Munculnya Khawarij[48]

Keputusan Ali menerima tawaran Muawiyah itu menimbulkan tantangan cukup keras dari pendukungnya sendiri, terutama mereka yang tidak setuju untuk berdamai dengan Muawiyah dan tidak mau menerima formulasi pengambilan keputusan hukum yang diserahkan secara mutlak kepada dua orang yang melakukan perundingan (tahkim/arbitrase). Hal inilah yang mendorong Hurqus -komandan pasukan Ali yang berasal dari Bani Tamim, untuk membuat barisan sendiri dan menyatakan diri keluar dari kepemimpinan Ali. Hurqus adalah seorang yang mempunyi pandangan lurus dan keras. Caranya memandang masalah selalu "hitam putih". Karena cara berpikirnya yang sempit, ia pernah menggugat Rasulullah SAW. Sekarang ia menganggap Muawiyah maupun Ali melanggar hukum Allah. Sebab hanya Allah yang berhak memutuskan hukum, bukan manusia seperti yang dikehendaki dalam perjanjian damai yang disepakati Muawiyah dan Ali. Oleh sebab itu, mereka menggembar-gemborkan semboyan; "Laa hukma illa lilLah (tiada hukum selain hukum Allah)". Semboyan ini ditujukan kepada Ali dan Muawiyah yang dinilai telah melanggar hukum Allah karena bersedia mengadakan tahkim. Sementara dalam pandangan mereka, para pelanggar hukum Allah boleh dibunuh. Kelompok Hurqus ini kemudian dikenal dengan sebutan Khawarij (orang-orang yang keluar), karena mereka keluar dari kepemimpinan Ali.[49]

Barisan Khawarij ini berjumlah sekitar 12 ribu orang. Mereka memisahkan diri dari rombongan Ali sepulang dari perang Shiffin. Setelah itu, kelompok radikal ini menetap di Harura, sebuah desa kecil di dekat Kufah. Di tempat ini mereka melakukan konsolidasi dan menyusun kekuatan untuk melakukan perlawanan bersenjata, baik kepada Ali maupun Muawiyah. Mereka mengangkat panglima perang bernama Syibits bin Rubiit al-Tamimi dan memilih imam shalat bernama Abdullah bin al-Kawa,[50] serta pemimpin keagamaan bernama Abdullah bin Wahhab al-Rasibi.[51]

 

Lahirnya Syiah

Sebagai reaksi atas golongan Khawarij, muncul pula golongan yang menyatakan kesetiaan mereka kepada Ali. Mereka menyatakan siap membela Ali bahkan siap mati bersamanya. Golongan ini dikenal dengan sebutan syiatu Ali (pengikut Ali), dan pada akhirnya menjadi embrio lahirnya Syi'ah.

Para pendukung setia khalifah Ali ini sebenarnya sudah ada sejak hari wafatnya Nabi SAW. Ketika diadakan pertemuan di Saqifah Bani Saidah antara golongan Muhajirin dan Anshar, sebagian keturunan Bani Hasyim dan sebagian kaum Muhajirin sebenarnya menjagokan Ali sebagai khalifah pengganti Nabi SAW. Namun suara mereka kalah besar dengan suara pendukung Abu Bakar sehingga dialah yang terpilih. Disamping itu, pada saat pertemuan tersebut Ali tidak hadir karena sedang mengurusi pemakaman jenazah Nabi SAW. Ketika Ali terpilih sebagai khalifah menggantikan Utsman, mereka mulai menguatkan barisan namun belum berbentuk sebuah gerakan. Gerakan mereka menemukan momentum kebangkitan ketika terjadi pembangkangan dari kaum Khawarij, disamping pemberontakan oleh Muawiyah yang menyatakan diri sebagai orang yang paling berhak menggantikan kekhalifahan Utsman. Aliran Syi'ah semakin kuat setelah dan sistematis setelah Ali dan dua putranya, Hasan dan Husein, dibunuh secara sadis oleh lawan-lawannya (akan dijelaskan kemudian).

 

Peristiwa Tahkim (Arbitrasi)

Bulan Ramadlan tahun ke 34 H., waktu untuk mengadakan perundingan antara pihak Ali dan Muawiyah telah tiba. Ali mengutus empat ratus orang utusan yang dipimpin oleh Syuraih bin Hani untuk menemui utusan Muawiyah. Sementara Muawiyah mengutus Abdullah bin Ash guna melakukan perundinan itu. Pada hari pertama, mereka belum menemukan kata sepakat. Lalu pada hari berikutnya, Ali mengutus Ibnu Abbas beserta keempat ratus orang lainnya. Sementara dari pihak Muawiyah, juru runding utamanya tetap Amru bin Ash. Pada mulanya, Ali menunjuk Ibnu Abbas sebagai juru runding di pihaknya, namun hal itu banyak ditentang oleh beberapa orang pendukungnya, terutama dari golongan qurra (penghafal al-Quran). Mereka mengajukan Abu Musa al-Asyari sebagai juru runding. Akhirnya, dengan sangat terpaksa Ali menunjuk Abu Musa al-Asyari sebagai juru runding dari pihaknya.[52]

Abu Musa al-Asyari di pihak Ali dan Amr bin Ash yang mewakili Muawiyah bertemu di sebuah tempat bernama Daumat al-Jandal. Keduanya memulai perundingan dengan saling adu argumentasi tentang keabsahan khalifah yang mereka dukung. Kedua orang juru runding ini mempunyai dua karakter berbeda. Abu Musa al-Asyari dikenal sebagai orang yang saleh, lurus, jujur, rendah hati, lebih mengutamakan kedamaian, tidak suka politik, disamping usianya sudah sangat tua. Sementara Amr bin Ash dikenal sebagai politikus ulung yang sangat cerdik dan pandai mengolah siasat politiknya.[53]

Setelah melalui pembicaraan yang sangat alot, Amr bin Ash kemudian bertanya kepada Abu Musa, Apa pandangan Anda mengenai kedua pemimpin iini (Ali dan Muawiah). Mendengar pertanyaan itu, Abu Musa sontak menjawab, Menurutku, untuk meredakan pertikaian diantara kaum Muslimin, maka baik Ali maupun Muawiyah harus diturunkan dari jabatannya masing-masing. Setelah keduanya turun, maka kaum Muslimin dipersilahkan memilih pemimpin baru bagi mereka semua.[54]

Usulan Abu Musa itu disetujui oleh Amr bin Ash. Sebagai juru runding, Abu Musa dan Amr bin Ash memang diberi kewenangan penuh untuk mengambil keputusan apapun sesuai kesepakatan kedua orang ini. Karena itu, keputusan untuk melengserkan Ali dan Muawiyah secara bersamaan bagi keduanya merupakan langkah terbaik bagi kelanjutan masa depan kaum Muslimin.

Untuk merealisasikan hasil keputusan itu, kedua juru runding itu kemudian keluar dari ruangan dan menemui para khalayak yang berada di luar. Amr bin Ash mempersilahkan Abu Musa untuk tampil terlebih dahulu menyampaikan keputusan yang akan diambilnya. Sebelum tampil bicara, Ibnu Abbas terlebih dahulu mengingatkan Abu Musa bahwa bila ia tampil terlebih dahulu, maka Amr bin Ash bisa saja membohonginya. Namun atas desakan Amr bin Ash yang mengatakan bahwa Abu Musa adalah sahabat Nabi SAW. yang lebih tua daripadanya, akhirnya pesan Ibnu Abbas itu ia lupakan. Abu Musa tetap tampil terlebih dahulu sebelum Amr bin Ash.

Baklah, saudara-saudaraku! seru Abu Musa di hadapan massa yang hadir di sana. Kami telah mencapai kata sepakat bahwa demi menciptakan kedamaian dan kerukunan umat Islam, maka Ali dan Muawiyah harus diturunkan dari jabatannya, untuk kemudian umat Islam dapat menunjuk pemimpin baru sebagai penganti mereka. tambahnya. Karena itu, dalam kesempatan ini saya nyatakan bahwa, saya mencabut kepemimpinan Ali dan Muawiyah, dan saya serahkan kepada kalian untuk memilih pemimpin baru yang memiliki kapabilitas dan keahlian sesuai kehendak kalian semua.

Setelah Abu Musa menyelesaikan pidatonya, giliran Amr bin Ash yang tampil ke depan publik. Saudara-saudaraku! kata Amr memulai pembicaraannya. Saudara saya, Abu Musa al-Asyari, telah menyampaikan keputusannya sebagaimana telah kalian dengar bersama. Ia telah menurunkan pemimpinya sendiri, Ali bin Abu Thalib. Setelah berkata demikian, Abu Musa berhenti sejenak. Ia tampak berpikir dalam. Sekarang, lanjutnya. Giliran saya yang menyatakan bahwa saya pun memutuskan untuk menurunkan Ali, tapi saya tidak akan menurunkan Muawiyah. Muawiyah tetap sebagai pemimpin umat Islam, sebab dialah pewaris Utsman, penuntut balas atas kematiannya, serta orang yang paling pantas menduduki kedudukan yang ditinggalkan Utsman.

Tindakan Abu Musa ini tentu saja membuat para pendukung Ali terperanjat, apalagi Abu Musa al-Asyari. Ia sungguh tidak menyangka seorang sahabat sekaliber Amr bin Ash mengingkari kesepakatan yang telah mere buat sebelumnya. Sungguh Allah Swt. tidak memberi pertolongan kepadamu. seru Abu Musa. Kau penghianat dan bejat. Sifatmu seperti anjing yang menjilat ludah sendiri. serapah Abu Musa tak mampu menahan emosinya. Kamu juga! balas Amr bin Ash, kau goblok seperti himar yang membawa buku tambahnya. Namun Ibnu Abbas berusaha menenangkan Abu Musa, Anda tidak berdosa (karena menurunkan Ali, pen), wahai Abu Musa. Dia lah (Amr bin Ash, pen) yang menaggung dosa besar ini. hiburnya. Lalu apa yang harus saya lakukan? tanya Abu Musa dengan nada galau.

Dalam situasi yang sudah memanas itu, tiba-tiba Syuraih bin Hani mendekati Amr bin Ash dan menyabetkan sebilah pisah ke arahnya. Tindakan Suraih ini dibalas oleh Ibnu Umar dengan menusukkan sebuah belati kecil ke arah Syuraih. Untungnya, sahabat-sahabat yang lain berhasil melerai perkelahian itu. Kedua belah pihak akhirnya memutuskan pulang ke tempat masing-masing.[55]

Para pendukung Muawiyah yang dipimpin Arm bin Ash bertolak ke Mekkah untuk mengungsikan Abu Musa ke sana. Setelah itu mereka kemudian kembali ke Suriah dan langsung mengucapkan selamat kepada Muawiyah atas tepilihnya ia sebagai khalifah yang baru. Sementara para pendukung Ali yang dipimpin Ibnu Abbas kembali ke Kuffah dan mengabarkan fakta yang terjadi dalam peristiwa tahkim. Ali tentu saja menolak hasil keputusan yang tidak fair tersebut. Ia tetap merasa masih sah sebagai khalifah.[56]

 

Kebangkitan Khawarij

Seiring perjalanan waktu, Kaum Khawarij yang sejak sebelum tahkim memisahkan diri dari barisan Ali, kini mempunyai pasukan yang sangat kuat. Mereka berhasil menyusun kekuatan di Harura dan memperoleh banyak pengikut setia. Dalam pada itu, mereka juga mendengar kegagalan Ali dalam peristiwa tahkim. Hal ini semakin megokohkan tekad mereka untuk mengadakan perlawanan terbuka terhadap Ali. Namun sebelum itu, Kaum Khawarij terlebih dahulu melakukan teror bahkan pembunuhan terhadap pihak-pihak yang berbeda pendapat dengan mereka. Dalam beberapa waktu, pembunuhan oleh Kaum Khawarij ini berlangsung di beberapa tempat.

Untuk menumpas gerakan ekstrimis itu, Ali menyiapkan tentaranya dan langsung meninggalkan Kufah menuju arah Harura. Mendengar akan adanya serangan dari pihak Ali, tentara Khawarij juga segera bergerak guna mengahadang pasukan Ali. Kedua pasukan akhirnya bertemu di suatu kawasan bernama Nahrawan, dan terjadilan pertempuran sengit di sana. Pasukan Ali dapat menumpas hampir seluruh tentara Khawarij. Bahkan yang tersisa dari mereka tidak lebih dari 10 orang saja. Sebaliknya, korban dari pihak Ali tidak sampai 10 orang. Pasukan Khawarij yang masih selamat berjumlah 9 orang, dan mereka melarikan ke berbagai kawasan; dua orang lari ke Amman, Yordania; yang dua lagi lari ke Rumman; dua orang ke Sijistan; dua orang ke al-Jazirah; dan satu orang lagi ke Yaman.[57]

 

Pembunuhan Khalifah Ali

Kekalahan di Nahrawan tidak membuat kaum Khawarij patah semangat. Kekalahan itu justru membuat semangat mereka semakin berkobar. Sembilan orang yang sebelumnya berpisah dan terpencar-pencar kemudian menyatukan barisan dan kembali menyusun kekuatan mereka. Namun karena pendukung mereka belum begitu banyak, sementara lawan yang akan dihadapi memiliki kekuatan besar, akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan pembunuhan secara sembunyi-sembunyi. Mereka masih beranggapan bahwa negara akan tegak dengan aman jika tiga orang yang dianggap penyebab masalah, yakni Ali, Muawiyah dan Amr bin Ash, sudah dibunuh. Karena itulah, mereka merencanakan pembunuhan pada tiga tokoh tersebut. Hujaj bertugas membunuh Muwawiyah di Damaskus, Amr bin Abu Bakar harus membunuh Amr bin Ash di Mesir, dan Abdurrahman bin Muljam bertugas membunuh Ali di Kufah.

Dalam waktu hampir bersamaan, ketiganya berangkat menuju sasaran masing-masing. Di Suriah, Muawiyah yang saat itu hidup dengan pengawalan ketat bagai raja hanya terluka saat mendapat serangan dari Hujaj. Sementara di Mesir, Amr bin Abu Bakar salah membunuh orang; ia membunuh seorang imam shalat yang menggantikan Amr bin Ash. Lalu di Kaufah, Abdurrahman bin Muljam mendapati Ali tengah berangkat ke masjid. Kesempatan itu tidak disia-siakannya. Seketika itu Ali langsung diserang dengan pedang. Dua hari kemudian, tepatnya pada Ramadhan 40 Hijriah atau 661 Masehi, Ali menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Kematian Ali membuka kesempatan kepada Muawiyah untuk mengikrarkan diri sebagai khalifah. Dengan naiknya Muawiyah ke tampuk tertinggi kepemimpinan umat Islam, maka berakhirlah model kepemimpinan Islam sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW. dan Khulafa al-Rasyidin. Muawiyah menggunakan model "kerajaan" pada pemerintahannya. Ibukota pun dipindah dari Madinah ke Damaskus, Suriah.



[1] Teliti kembali kisah ini dalam, antara lain, Abu Jafar Ahmad bin Abdillah bin Muhammad al-Thabari, al-Riyadl al-Nadlrah, Dar al-Gharb al-Islami, Beirut, vol II tahun 1996, jilid I hal. 41-42.

[2] Abu Bakar al-Shiddiq (573-634), sahabat terdekat Nabi SAW., termasuk orang pertama yang masuk Islam (al-Sabiqun al-Awwalun), dan khalifah pertama umat Islam. Nama lengkapnya Abdullah bin Abi Kuhafah al-Tamimi. Kedua orang tuanya berasal dari suku Taim, suku yang melahirkan banyak tokoh terpandang di kalangan Quraisy. Sejak kecil sudah menunjukkan sifat-sifat terpuji, seperti sabar, lemah-lembut, jujur, dan sangat dermawan. Setelah masuk Islam, Abu Bakar mendermakan segenap jiwa, raga, dan hartanya untuk perjuangan syiar Islam, baik saat agama saat Nabi masih berdakwah secara sembunyi-sembunyi, dalam masa-masa peperangan, saat konsolidasi Madinah dan penguatan pengaruh ke pelbagai kawasan, hingga Abu Bakar diangkat menjadi khalifah.

[3] Telisik dalam Abu Manshur Abd al-Qahir bin Thahir al-Baghdadi, Al-Farq bain al-Firaq wa Bayan al-Firqah al-Najiyah minhum, Dar al-Aft al-Jadidah, Beirut, vol. II tahun 1977, hal. 12-13.

[4] Lihat antara lain dalam Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr bin Farh al-Qurthubi, Tafsir Jami al-Ahkam, Dar al-SyaB, Kairo, vol. II tahun 1372, hal 222-223, dan Abu Jafar Ahmad bin Abdillah bin Muhammad al-Thabari, Op. cit. I/39-42

[5] Abu Manshur Abd al-Qahir bin Thahir al-Baghdadi, Op. cit. hal. 12-13.

[6] Ibid.

[7] Sad bin Ubadah, salah seorang pemimpin utama kaum Anshar dari Kabilah Khazraj, sekaligus panitia musyawarah di Saqifah Bani Saidah. Sad bin Ubadah dikenal sebagai pepimpin yang dermawan dan pemegang bendera dalam setiap jihad yang dilakukan Kaum Anshar. Meninggal pada tahun 15 H.

[8] Saqifah Bani Sadah merupakan sebuah pendapa tempat kaum Anshar mengadakan pertemuan dan memusyawarahkan beragam beragam persoalan yang mereka hadapi. Nama Bani Saidah diambilkan dari nama nenek moyang Bani Khazraj, salah satu elemen kaum Anshar, yang bernama Saidah. Saqifah Bani Saidah hampir mirip funfsinya seperti Dar al-Nadwah di Mekkah. Lihat pada al-Zamakhsyari, al-Kassyaf, Maktabah al-Tijariyah, tahun 1354 H, jilid 3 hal. 407.

[9] Dr. Musthafa Hilmi, Nidzam al-Khilafah fi al-Fikr al-Islami, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, cet. pertama, tahun 1425 H./2004 M., hal. 37.

[10] Dr. Musthafa Hilmi, Op. cit. hal. 38.

[11] Penolakan Sad bin Ubadab ini lebih berdasar interets pribadinya yang ingin menjadi khalifah pengganti Nabi SAW. Bahkan oleh Umar, Sad dinilai sebagai orang munafik. Lihat lebih lanjut kejelasan seputar perdebatan di Saqifah Bani Saidah ini antara lain dalam Dr. Musthafa Hilmi, Ibid. hal. 38. dan Abu Jafar Muhammad bin Jarir al-Thabari, Tarikh al-Thabari, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, vol. 1, tahun 1407 H., jilid 241-246, dan Thabari dalam al-Riyadl al-Nadlrah, Op. cit. jilid 2 hal. 202-208.

[12] Ensiklopedi Islam, PT. Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta, cet. Kelima, tahun 1999. huruf H hal. 38.

[13] Ibid. hal. 39.

[14] Selengkapnya, lihat antara lain pada Abu al-Fath Muhammad bin Abd al-Karim al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, (t.t.) jilid 1 hal. 24. lalu Abu Manshur Abd al-Qahir bin Thahir al-Baghdadi, Op. cit. hal 12., Ensiklopedi Islam, Katalog Dalam Terbitan (KDT). Op. cit. hal. 100, dan Dr. Musthafa Hilmi, Loc. cit. hal. 24.

[15] Nama lengkapnya Abdullah bin Abi Kuhafah al-Tamimi. Dia termasuk golongan pertama yang memeluk Islam (al-sabiqun al-awwalun). Ia dikenal sebagai orang yang selalu membenarkan ucapan Muhammad, sehingga ia digelari al-Shiddiq yang berarti orang yang paling membenarkan, sementara nama Abu Bakar diberikan oleh Nabi karena ia termasuk orang yang paling cepat masuk Islam. Sejak kecil Abu Bakar dikenal mempunyai sikap mulia, baik, sabar, jujur, dan lemah-lembut. Sejak masa remajanya, Abu Bakar sudah akrab dengan Nabi SAW. sehingga ia dapat mengetahui dengan pasti kejujuran dan kebenaran agama yang dibawa Nabi SAW. Ketika orang-orang menghujat Nabi SAW. karena mengatakan baru mengalami peristwa Isra' Mi'raj, Abu Bakar justru menyatakan keyakinannya akan kebenaran peristiwa itu. Ketika Nabi SAW. sedang salat di Masjidil Haram, tiba-tiba datanglah Uqbah bin al-Muith yang langsung mencekik leher Nabi SAW. Abu Bakar lah yang menolong Nabi SAW. dalam peristiwa ini. Abu Bakar pula yang menyiapkan perjalanan serta menemani Nabi Muhammad SAW. saat hijrah ke Madinah. Ia juga menikahkan putrinya, Aisyah, dengan Rasululullah SAW. Abu Bakar juga dikenal sebagai orang dermawan. Ia mendarmabaktikan kekayaannya untuk memerdekakan budak-budak yang mendapat siksaan kaum Kuraiys karena memeluk agama Islam, salah satunnya adalah Bilal bin Rabah. Bahkan dalam perang Tabuk, seluruh harta kekayaan Abu Bakar disumbangkan guna membiayai persiapan pasukan Islam. Ketika Nabi SAW. berhalangan memimpin Umat Islam melaksanakan ibadah haji pasca Fath Mekkah, beliau mempercayainya kepada Abu Bakar. Begitu pula saat Nabi SAW. tidak bisa memimpin shalat jamaah karena sakit, beliau juga menunjuk Abu Bakar sebagai imam. Hal ini membuktikan bahwa Abu Bakar dan Nabi SAW. mempunyai kedekatan luarbiasa melebihi hubungan saudara.

[16] Lihat kutipan lengkap pidato Abu Bakar, antara lain pada, Ahmad bin Abi Yaqub bin Jafar al-Abbasi, Tarikh al-Yaqubi, Dar Shadir, Beirut, (t.t.), jilid 2, hal. 127, dan Abu al-Farj Abdurrahman bin Ali bin Muhammad, Shafwah al-Shafwah, ed. Mahmud Fakhuri dan Muhammad Rawas Qalah, Dar al-Marifat, Beirut, vol. 2 tahun 1399 H./1979 M. jilid 1 hal. 260-263.

[17] Ensiklopedi Islam, Op. cit. huruf. K hal. 51.

[18] Muhammad bin Muhammad bin Abdul Wahid al-Syaibani, al-Kamil fi al-Tarikh, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, vol. 2, tahun 1415 H./1995 M. jilid 2 hal. 324, dikutip oleh Said Aqiel Siradj, Ahlussunnah wal Jamaah dalam Lintas Sejarah, LKPSM, Yogyakarta, vol. 1 hal. 32.

[19] Ibid.

[20] Untuk lebih lengkapnya mengenai upaya pemadaman pemberontakan oleh Abu Bakar, lihat antara lain pada Ahmad bin Yahya bin Jabir al-Baladzuri, Futuh al-Buldan, ed. Ridlwan Muhammad Ridlwan, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1403, jilid 1, hal. 103 dan seterusnya.

[21] Abu al-Fath Muhammad bin Abd al-Karim al-Syahrastani, Op. cit. I/14

[22] Abu al-Abbas Ahmad bin Abd al-Halim bin Taimiyah al-Hirrani, Manhaj al-Sunnah al-Nabawiyah, Muassasah Qurthubah, vol. 1 tahun 1406 H., jilid 6 hal. 348.

[23] Ibid. hal. 348-349.

[24] Oleh golongan Ahussunnah, ayat ini dijadikan justifikasi atas kekhalifahan Abu Bakar ra. Jadi menurut Ahlussunnah, kekhalifahan Abu Bakar telah mendapat resru dari Allah Swt. jauh sebelum Abu Bakar diangkat menjadi khalifah. Berbeda dengan Syiah yang tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar dan menilainya merebut kekhalifahan Ali ra.

[25] Ibid. 39-40

[26] Fadak adalah sebuah kawasan yang terletak di antara Mekkah dan Madinah. Dikisahkan, ketika Rasulullah SAW. dan kaum muslimin telah berhasil menaklukkan benteng pertahanan Khaibar, dan mengepungnya sampai berhari-hari lamanya, akhirnya penduduk Khaibar menyerah tanpa syarat dan tentara muslim berhasil menguasai tanah Khaibar secara keseluruhan. Mendengar berita itu, penduduk Fadak pun juga khawatir akan diserang oleh tentara muslim. Akhirnya mereka mengirim utusan kepada Rasulullah SAW. dan menyatakan bersedia berdamai dengan tentara muslim, dengan kompensasi bahwa separuh tanah Fadak akan diserahkan hak kepemilikannya kepada Rasulullah SAW. Separuh tanah itu murno diberikan kepada Nabi SAW., dan itulah tanah yang dituntut oleh Siti Fathimah kepada Abu Bakar ra. Lihat dalam Abu al-Qasim Ali bin al-Hasan bin Hibbatullah ibn Asakir, Mu'jam al-Buldan, Dar al-Fikr al-Maashir, Beirut, vol. 1 tahun 1413. hal. 238-239.

[27] Dalam perkembangan selanjutnya, hak milik atas tanah Fadak tetap menjadi milik negara. Sejak masa pemerintahan Abu Bakar, Umar, Utsman, hingga Ali, penghasilan dari tanah Fadak digunakan untuk pemenuhan kebutuhan negara, seperti untuk memenuhi dana kesejahteraan angkatan bersenjata, serta untuk menyantuni fakir miskin. Ketika kekhalifahan jatuh ke tangan Muawiyyah, tanah Fadak diserahkan kepada anaknya yang juga calon penggantinya, Marwan bin al-Hakam. Marwan pun terus mewariskan hak milik tanah ini kepada anak-anaknya. Begitulah seterusnya; penghasilan tanah Fadak menjadi hak milik keturunan khalifah. Ketika tampuk kepemimpinan dipegang oleh khalifah ke-8 Bani Ummayyah, Umar bin Abdul Aziz, tanah Fadak dikembalikan lagi ke kas negara. Hal ini bertahan hingga masa pemerintahan di pegang oleh Dinasti Bani Abbasyiah. Ketika masa pemerintahan al-Mamun, tanah ini kemudian diserahkan kepada keturunan Fathimah. Lalu ketika masa pemerintahan al-Mutawakkil, tanah Fadak kembali dimiliki oleh negara. Untuk lebih jelasnya, periksa pada Ibn Asakir, Op. cit. Jilid 4, hal. 238-239.

[28] Syahrastani, Op. cit. I/25 dan 155, Ensiklopedi Islam, Op. cit. hal. 40.

[29] Bernama lengkap Umar bin al-Khaththab bin Nufail al-Mahzumi al-Quraisy. Ayahnya bernama Khaththab bin Nufail dan ibunya bernama Hanthamah binti Hasyim. Umar masih termasuk keturunan Bani Adiy, salah satu suku terpandang yang masih termasuk rumpun suku Kuraisy. Umar memiliki postur tubuh yang tegap dan kuat, berwatak keras dan tegas, pemberani, dan berdisiplin tinggi. Sejak masa remajanya, Umar dikenal sebagai pegulat tangguh yang sering memenagkan duel tahunan yang diselenggarakan di pasar Ukadz, Mekkah. Disamping itu, Umar juga dikenal sebagai pemuda cerdas dan memiliki kemampuan diplomasi yang cukup hebat. Karena itulah ia sering diberi kepercayaan untuk mewakili kabilah Kuraisy dalam melakukan perundingan-perundingan dengan suku-suku lainnya. Keunggulan berdiplomasi inilah yang membuat nama Umar cukup dikenal oleh suku-suku lain. Umar masuk Islam sekitar tahun 6 Hijriah. Saat itu, ia berniat membunuh Nabi Muhammad SAW. namun tersentuh hatinya ketika mendengar adiknya, Fatimah, melantunkan ayat suci Quran. Ketika Rasulullah masih berada di Mekkah, Umar -bersama Hamzah- adalah orang yang paling ditakuti oleh orang-orang Quraisy. Keduanya selalu siap berkelahi jika Rasulullah SAW. dihina. Saat hijrah, Umar juga satu-satunya sahabat Rasul yang pergi secara terang-terangan. Ia menantang siapapun agar menyusulnya bila ingin "ibunya meratapi, istrinya jadi janda, dan anaknya menangis kehilangan. Ketika ia diangkat sebagai Khalifah, orang-orang menyebutnya sebagai "Amirul Mukminin" (Pemimpin orang mukmin), menggantikan istilah sebelumnya yang disandang Abu Bakar, yakni "Khalifatur- Rasul".

 

[30] Hussein dan istrinya itu melahirkan putra bernama Zainal Ali Abidin yang kemudian menjadi Imam besar kaum Syiah. Zainal Ali Abidin mewarisi darah Nabi Muhammad Saw., Nabi Ismail as, dan Nabi Ibrahim as. dari jalur ayah (Husein), serta mewarisi darah raja-raja Persia dari jalur ibu. Itulah sebabnya mengapa warga Persia (sekarang Iran) umumnya menganut aliran Syi'ah; yakni karena aliran inilah yang mewakili dan mengakui kekhalifahan Ali dan keturunannnya yang notabene memadukan dua garis keturunan besar; keturunan Nabi SAW. dan raja-raja Persia.

[31] Menurut riwayat lainnya, gubernur Amr bin Ash berencana melakukan pelebaran Masjid Jami Mesir dan akan melakukan penggusuran terhadap rumah-rumah yang berada di sekitar masjid, termasuk rumah yang dihuni oleh seorang keturunan Yahudi. Pemilik rumah inilah yang kemudian mengahadap Umar dan melaporkan kesewenang-wenangan Amr bin Ash. Namun menurut riwayat ini, Umar hanya berkirim teguran surat kepada Amr bin Ash dan tidak memanggilnya ke Madinah. Tapi dengan surat itu saja, Amr bin Ash sudah mau mengakui kesalahannya dan bersedia menggagalkan rencananya melakukan penggusuran rumah si Yahudi. Sikap adil Umar ini tentu saja membuat si Yahudi menaruh simpati. Ia akhirnya menyatakan diri masuk Islam dan secara suka rela mengizinkan tanahnya dijadikan masjid sesuai rencana Amr bin Ash semula.

[32] Ensiklopedi Islam, Op. cit. vol. Kelima/1999, huruf U, hal. 126.

[33] Ingat, langkah yang ditempuh Umar ra. ini terjadi jauh sebelum Jhon Loke dan Montequeu, dua pemikir Prancis abad pertengahan, mencetuskan ide Trias Politika atau pemisahan lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif dalam atap berbeda.

[34] Periksa antara lain, Ensiklopedi Islam, Op. cit. vol. Kelima/1999, huruf U, hal. 127.

[35] Ibid.

[36] Ustman lahir di Thalif pada 576 Masehi atau enam tahun lebih muda daripada Nabi Muhammad SAW. Sebelum masuk Islam, Utsman dikenal sebagai pedagang besar dan terpandang. Ustman masuk Islam atas ajakan Abu Bakar. Rasulullah sangat menyayangi Ustman sehingga ia dinikahkan dengan Ruqayyah, putri Nabi SAW. Setelah Ruqayyah meninggal, Nabi Muhammad SAW. kemudian menikahkan kembali Ustman dengan putrinya yang lain, Ummu Khulthum. Karena itulah Ustman kemudian digelari dengan sebutan Dzu al-Nurain (pemilik dua cahaya), karena ia menikah dengan dua putri Nabi SAW.

Masyarakat mengenal Ustman sebagai dermawan. Banyak budak-budak yang masuk Islam dan disiksa oleh majikannya dibebaskan oleh Ustman dengan uang pribadinya. Dalam ekspedisi Tabuk yang dipimpin oleh Rasulullah SAW., Ustman menyerahkan 950 ekor unta, 50 kuda, dan uang tunai 1000 dinar. Artinya, sepertiga dari biaya ekspedisi itu ia tanggung seorang diri. Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Ustman juga pernah memberikan gandum yang diangkut dengan 1000 unta untuk membantu kaum miskin yang menderita di musim kering itu.

[37] Dalam satu riwayat disebutkan bahwa, wilayah yang dikirimi salinan naskah al-Quran adalah Mekah, Damaskus, San'a (Yaman Selatan), Bahrain, Basrah, Kufah.

[38] Periksa antara lain dalam Abu al-Fath Muhammad bin Abd al-Karim al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, Op. cit. 1/26.

[39] Syahrastani, Op. cit. 1/26

[40] Periksa kisah lengkap mengenai pembunuhan Utsman ini, antara lain pada, Abu Jafar Muhammad bin Jarir al-Thabari, Tarikh al-Thabari, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, vol. 1, tahun 1407 H., jilid 2, hal. 676 dan seterusnya, atau Abu al-Fada Ismail bin Umar bin Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, Maktabah al-Maarif, Beirut, jilid 7, hal. 170 dan seterusnya, dan Muhammad bin Muhammad bin Abdul Wahid al-Syaibani, al-Kamil fi al-Tarikh, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, vol. 2, tahun 1415 H./1995 M. jilid. 3 hal. 46 dan seterusnya.

[41] Ali adalah salah seorang sahabat paling dekat dengan Rasul. Sewaktu kecil, Nabi Muhammad SAW. diasuh oleh Abu Thalib paman Nabi yang juga ayah Ali. Setelah berumah tangga dan melihat Abu Thalib hidup kekurangan, Nabi SAW. kemudian mengasuh Ali di rumahnya. Ali dan Zaid bin Haritsah -anak angkat Nabi-adalah dua orang pemeluk Islam pertama setelah Khadijah. Dalam kesehariannya, mereka selalu salat berjamaah dengan dipimpin Nabi SAW. Kecerdasan dan keberanian Ali sangat menonjol di lingkungan Quraisy. Saat anak-anak, ia telah menantang tokoh-tokoh Quraisy yang mencemooh Nabi Muhammad SAW. Ketika Nabi Muhammad SAW. hijrah dan kaum Quraisy telah menghunus pedang untuk membunuhnya, Ali tidur di tempat tidur Muhammad serta mengenakan mantel yang biasa dipakai Rasulullah SAW. Di medan perang, dia adalah petempur yang sangat disegani, baik dalam perang Badar, Uhud, hingga Khandaq. Namanya semakin sering dipuji setelah ia berhasil menjebol gerbang benteng Khaibar yang menjadi pertahanan terakhir Yahudi. Menjelang Rasulullah SAW. menunaikan ibadah haji, Ali ditugasi untuk melaksanakan misi militer ke Yaman dan dijalankan dengan sangat baik. Mengenai kecerdasannya, Nabi SAW. pernah memuji Ali dengan kata-kata: "Saya adalah ibukota ilmu dan Ali adalah gerbangnya." Kefasihan bicara Ali dipuji oleh banyak kalangan. Rasulullah SAW. kemudian menikahkan Ali dengan putri bungsunya, Fatimah. Setelah Fatimah wafat, Ali menikah dengan Asma -janda yang dua kali ditinggal mati suaminya, yakni Ja'far (saudara Ali) dan khalifah Abu Bakar.

[42] Ensiklopedi Islam, Op. cit. jilid 1, huruf A hal. 112.

[43] Ibid. hal. 113.

[44] Abu al-Fada Ismail bin Umar bin Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, Op. cit. 7/223.

[45] Ibid.

[46] Abu Jafar Muhammad bin Jarir al-Thabari, Tarikh al-Thabari, Op. cit. 3/55-56.

[47] Abu al-Fada Ismail bin Umar bin Katsir, Op. cit. 254-255.

[48] Khawarij adalah bentuk jamak dari kharij (orang yang keluar), yakni keluar dari barisan Ali. Ada juga yang mengarakan bahwa gelar Khawarij didasarkan pada surah al-Nisa ayat 100 yang artinya: orang-orang yang keluar dari rumah mereka untuk berjuang di jalan Allah. Kaum Khawarij memang memandang diri mereka sebagai oang-orang yang meningalkan rumah mereka semata-mata untuk berjuang demi Allah. Selain nama Khawarij, ada lagi nama-nama lain yang diberikan kepada golongan ini, yakni al-Mihakkimah (berdasarkan semboyan La Hukma illa li Allah), al-Haruriyah (dinisbatkan pada daerah tempat tingal mereka, Harura), Syurah (artinya membeli, berdasar surat al-Baqarah 207: orang-orang yang menjual diri mereka untuk mendapat keridlaan Allah), dan al-Mariqah (artinya, anak panah yang keluar dari busurnya). Baca dalam Ensiklopedi Islam, Op. cit. huruf K hal. 47.

[49] Ensiklopedi Islam, Op. cit. huruf A hal. 114.

[50] Ibdi, dan Muhammad bin Muhammad bin Abdul Wahid al-Syaibani, al-Kamil fi al-Tarikh, Op. cit, 3/202.

[51] Ensiklopedi Islam, Loc. cit. hal. 115.

[52] Abu al-Fada Ismail bin Umar bin Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, Op. cit.7/276-277. dan Muhammad bin Muhammad bin Abdul Wahid al-Syaibani, al-Kamil fi al-Tarikh, Op. cit, 3/205-206. dan Ensiklopedi Islam, Op. cit. huruf A hal. 113.

[53] Ibnu Katsir, Loc. cit. dan Ensiklopedi Islam, Loc. cit.

[54] Ibnu Katsir, Ibid. 3/208.

[55] Ibid. 3/210.

[56] Ibid.

[57] Syahrastani, al-Mialal wa al-Nihal, Op. cit. jilid. 1, hal. 117.