NARASI HASIL HALAQAH NASIONAL ALIM ULAMA NU

YANG DISELENGGARAKAN OLEH PENGURUS WILAYAH NAHDLATUL ULAMA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

DI PP. SUNAN PANDANARAN PADA 2 APRIL 2009

 

 

LATAR BELAKANG

 

Peran strategis NU sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah yang menjadikan NU eksis dan diperhitungkan banyak pihak, dirasakan kian memudar. Kepeloporan NU dalam menyikapi persoalan, terkait negara maupun masyarakat dirasa semakin kurang. Juga dalam menyikapai persoalan sosial, budaya dan ekonomi. Padahal NU dengan Sarbumusi, Lesbumi dan lembaga lain pernah menjadi garda depan dan mengukir nama besar dalam sejarah bangsa. Begitupun di lapangan politik praktis; NU memainkan peran sangat signifikan berupa upaya mendorong revitalisasi politik kebangsaan dan kerakyatan.

Namun dalam perkembangannya, semua kebesaran NU yang pernah diraih itu kini semakin hari dirasa kian luntur.  Banyak orang prihatin, NU kini  terjebak dalam permainan politik praktis yang lebih mementingkan kekuasaan sesaat. Ini dibuktikan dengan keterlibatan pengurus NU dalam berbagai event politik seperti Pilkada, Pilgub, Pileg dan Pilpres. Memang benar NU tidak melarang warganya atau pengurusnya untuk terlibat dalam politik praktis. Namun tentunya tidak menyeret NU secara organisatoris. Bila sudah menyeret NU sebagai organisasi, terlebih menjadikan NU sebagai tunggangan, hal itu mencederai Khittah NU 1926.   

Disinilah pentingnya menegaskan kembali posisi Khittah NU 1926 sebagai payung bersama praktik berpolitik warga NU, khususnya di era multipartai. Khittah 1926 hendaknya dapat menjadi pedoman bagi warga NU untuk tidak menyeret-nyeret NU kedalam ranah politik, tetapi pada saat yang bersamaan bisa menjadi ruh progresif yang memberi kebebasan warganya untuk terjun kedunia politik.  Ruh progresif ini yang hendaknya dapat menjadi daya dorong bagi politisi NU di tengah merebaknya money politic, korupsi, golput dan intrik politik. Khittah NU 1926 hendaknya menjadi payung bagi segala upaya menyelesaikan beragam persoalan terkait jama’ah dan jam’iyyah NU.

Khittah NU 1926 juga diharapkan mampu menjaga visi kebangsaan NU terkait hubungan agama dan negara. Banyak kelompok Islam baru mewacanakan kembali perlunya negara agama. Ide tentang khilafah Islamiyah dan Islam trans-nasional serta mewabahnya gerakan Islam untuk menggoyang ideologi dan  identitas kebangsaan Indonesia perlu mendapatkan perhatian serius NU.

            Tak kalah pentingnya ialah merumuskan posisi NU, Khittah Nu 1926 dalam konteks lahirnya beragam produk perundangan yang terkait dengan publik, dan nasib NU sebagai jam’iyyah dan jama’ah. Misal, soal tidak terkawalnya amandemen UUD 45, khususnya pasal-pasal yang terkait dengan pemenuhan hajat hidup rakyat banyak. Juga lahirnya berbagai UU yang tidak lagi ”memenuhi hajat hidup rakyat banyak” tetapi justeru menjadi ”memenuhi hajat perusahaan dan pemilik modal”. Ini bisa dilihat pada kasus UU Sumber Daya Energi dan Mineral, UU Kelistrikan, dan sebagainya. Bagaimanakah sebenarnya NU berposisi di tengah berbagai proses kelahiran undang-undang tersebut?

            Pertanyaan-pertanyaan ini dirasa perlu diperbincangkan dalam halaqah sebagai forum akademik yang berbasis tradisi NU untuk membahas persoalan yang dianggap mendesak, gawat dan krusial bagi kehidupan masyarakat luas. NU sebagai lembaga sosial-keagamaan dilahirkan tidak sebagai partai politik. Namun, NU merupakan potensi kekuatan politik yang sangat besar. Anggotanya puluhan juta di berbagai daerah. Semua partai berlomba memperebutkan suara nahdliyin ini. Partai berlomba mempengaruhi pimpinan NU untuk mengarahkan suara nahdliyin pada partai mereka. Dalam konteks ini, barangkali NU memang harus memainkan peran politik untuk memengaruhi partai politik, bukan dipengaruhi partai politik.

            NU bermain politik pada tingkat tinggi (high politics), tidak memburu-buru kursi politik, tetapi bagaimana pemain politik dapat dikerahkan dan diarahkan sesuai garis politik NU dan demi kemaslahatan masyarakat luas, khususnya nahdliyin. Maka, boleh dikatakan, jalan politik NU adalah politik kebangsaan, bukan politik kekuasaan partai atau kelompok.

Konteks demikian, halaqah diharapkan menjadi ruang introspeksi bersama kalangan pemimpin NU dan jamaah NU: bagaimanakah sebenarnya posisi strategis NU dalam hajatan demokrasi, seperti pileg, pilpres, pilgub, dan sebagainya? Juga, bagaimana Khittah NU 1926 bicara soal etika politik kaum santri? Bagaimana khittah NU 1926 bicara tentang konsep hubungan agama dan negara, dalam konteks kebangsaan Indonesia? Bagaimana Khittah NU terkait tata negara, produk perundang-undangan, dan sebagainya? Renungan ini diharapkan menghasilkan rumusan etis, yang bisa menjadi panduan bersama bagaimana selayaknya etika politik santri, bagaimana pemimpin NU berperilaku politik, bagaimana para santri dan jamaah berperilaku politik? Juga, bagaimana seharusnya NU –jam’iyah dan jamaah- bersikap dalam mengawal produk politik seperti undang-undang yang menyangkut hajat hidup orang banyak? Selain itu, diharapkan ada desiminasi wacana yang terstruktur dan massif soal pentingnya mengawal hubungan agama dan negara di Indonesia.

Halaqoh akan mendedah kembali khittah NU 1926 dalam konteks beragam masalah di atas.

 

RUMUSAN MASALAH

Dari latar belakang di atas, ada tiga hal penting yang menjadi fokus:

  1. Visi kebangsaan NU dalam Khittah Nahdliyah.

-       Apa hakekat NU dan apa hubunganya dengan politik, partai politik dan Negara?

-       Bagaimanakah khittah dulu dirumuskan (sebagai jati diri jam’iyah dan jama’ah) dan bagaimana seharusnya khittah  dirumuskan  dalam konteks kekinian dan keindonesiaan?

 

  1. Etika politik dan budaya pesantren.

-       Landasan etis apakah yang harus digunakan oleh warga NU dalam berpolitik?

-       Budaya pesantren apakah yang dapat disumbangkan kepada bangsa kaitanya dalam pemecahan masalah kebangsaan. Seperti korupsi, kemiskinan, pemanfaatan sumber daya alam dll.

-                

  1. Hubungan Agama dan Negara di Indonesia

-       Sejauh manakah porsi keterlibatan lembaga Negara dalam persoalan Agama. Demikian juga sebaliknya, sejauh manakah porsi keterlibata lembaga  agama dalam negara?

 

TUJUAN

  1. Menyediakan ruang bertegursapa para perumus Khittah NU 1926 dengan pengurus Jam’iyyah dan jama’ah NU.
  2. Merumuskan alternatif kontekstualisasi Khittah NU dalam berbagai lini kehidupan berbangsa dan bernegara.
  3. Merumuskan alternatif panduan etik praktik politik kaum santri, hubungan agama dan negara, serta visi kebangsaan NU.
  4. Memberikan informasi dan desiminasi wacana tentang peran NU dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat kepada khalayak.
  5. Menyediakan bahan-bahan informasi berbasis kajian sebagai referensi meningkatkan kualitas Muktamar NU 2010.

 

BENTUK KEGIATAN

Kegiatan halaqah ini mengambil bentuk sarasehan, sidang-sidang komisi dan pleno hasil sidang komisi. Dalam sesi sarasehan, peserta diajak untuk mendengarkan testimoni para perumus khittah NU 1926 untuk kemudian kita refleksikan bersama-sama dengan para peserta halaqah yang lain. Sedangkan dalam sesi sidang komisi, peserta diharapkan bisa mendiskusikan kembali secara lebih dalam tentang persoalan-persoalan yang terkait dengan etika politik kaum pesantren, nasib khittah NU 1926, dan kaitannya juga dengan relasi agama dan negara. Dalam sidang komisi ini dibagi 3 sub tema, yaitu:

  1. Etika Politik dan Budaya Pesantren
  2. Visi Kebangsaan Khittah NU 1926
  3. Hubungan Agama dan negara di Indoensia

Selanjutnya, hasil-hasil sidang komisi kemudian dibawa ke dalam sidang pleno untuk kemudian dirumuskan menjadi rekomendasi-rekomendasi.

PESERTA KEGIATAN

Acara halaqah ini akan diikuti oleh beberapa unsur sebagai berikut:

1.    Perumus Khittah NU 1926 yang meliputi:

·         KH Muchit Muzadi

·         KH. Ma’ruf Amin

·         K.H. A. Musthofa Bisri

·         K.H. Abdurrahman Wahid

·         K.H. Said Agil Sirodj

·         K.H. Masdar Farid Mas’udi

·         K.H. Ahmad Bagja

·         Drs. H. Slamet Effendi Yusuf

2.    Perwakilan dari unsur PBNU

3.    Syuriah dan Tanfidiyah PWNU Se-Indonesia

4.    Syuriah dan tanfidiyah PCNU DIY

5.    Pimpinan Banom dan Lembaga di lingkungan PWNU DIY

6.    Pengasuh Pondok Pesantren se-DIY

7.    Tamu undangan lain

 

WAKTU DAN TEMPAT

Seluruh rangkaian Halaqah ini akan diselenggarakan pada hari Kamis tanggal 02 April 2009 dari pukul 07.00 s/d 21.30 WIB di PP. Sunan Pandanaran, Jl. Kaliurang, KM.12,5 Yogyakarta.

 

SUSUNAN ACARA

Waktu

Acara

Pj

07.30 - 08.00

Registrasi peserta

Panitia

08.00 – 09.00

Pembukaan

Panitia

09.00 – 11.30

Sarasehan dengan tema: ”Etika Politik dan Visi Kebangsaan Khittah NU” yang akan diikuti oleh:

1.          Perumus Khittah NU 1926 yang meliputi:

·         KH Muchit Muzadi

·         KH. Ma’ruf Amin

·         K.H. A. Musthofa Bisri

·         K.H. Abdurrahman Wahid

·         K.H. Said Agil Sirodj

·         K.H. Masdar Farid Mas’udi

·         K.H. Ahmad Bagja

·         Drs. H. Slamet Effendi Yusuf

2.          Perwakilan dari unsur PBNU

3.          Syuriah dan Tanfidiyah PWNU Se-Indonesia

4.          Syuriah dan Tanfidziyah PCNU DIY

5.          Pimpinan Banom dan Lembaga di lingkungan PWNU DIY

6.          Pengasuh Pondok Pesantren se-DIY

 

Fasilitator

11.30 – 13.00

Istirahat, sholat, makan

Panitia

13.00 – 16.30

Sidang Komisi

  • Komisi Etika Politik dan Budaya Pesantren
  • Komisi Visi Kebangsaan Khittah NU
  • Komisi Hubungan Agama dan Negara di Indonesia

Fasilitator

16.30 -19.00

Istirahat, sholat, makan

Panitia

19.00 – 21.00

Pleno dan rekomendasi

Fasilitator

21.00 – 21.30

Penutupan

Panitia

 

 

Proses Forum

 

1.         Tentang Pembicara dan Peserta.

Manusia hanya bisa merencanakan, namun Tuhan jualah yang menentukan. Adagium ini nampaknya relevan untuk menyikapi proses halaqah ini. Karena dari rencana yang semula diharapkan bisa dihadiri oleh semua pembicara yang telah tercatat dalam undangan, namun ternyata Tuhan berkata lain. Sebagian besar nara sumber yang kami undang berhalanga hadir dkarena, tentunya, illat masing-masing.  Di antara undangan nara sumber, hanya Bapak Slamet Efendi Yusuf dan Bapak Masdar Farid Mas’udi yang bisa memenuhi undangan kami untuk menjadi nara sumber dalam halaqah ini.

Begitu juga dengan peserta yang dalam undangan telah kamikan ke semua pengurus silayah NU se Indonesia, namun dalam acara ini tidak semua pengurus PWNu dari seluruh Indoensia bisa hadir. Akan tetapi setidaknya  di antara peserta sudah ada yang mewakili dari masing-masing kepulauan, yaitu ada yang dari NTB, dari Sumatera utara, dari kalimantan Selatan, dan tentunya dari jawa. Secara lebih jelas tentang kehadiran peserta ini berikut kami lampirkan dalam daftar presensi peserta halaqah dalam lampiran. 

 

2.         Konsistensi waktu

 

 

 

Dinamika dalam Halaqah

 

1. Sambutan PJS ketua PWNU DIY, Dr. Maksum

 

Sambutan PJS ketua PWNU DIY disampaikan oleh Dr. Maksum, yang intinya mengemukakan beberapa hal di bawah ini:

 

·         Deklarasi pendirian NU sebagai respon terhadap penjajahan, termasuk penjajahan terhadap keagamaan, yang  paling nampak waktu itu adalah penjajahan paham keagamaan wahhabi.

·         Pejajahan Belanda yang menginspirasi untuk lepas dari  penjajah dan merebut kemerdekaan.

·         Ada tiga persoalan besar yang sedang dihadapi bangsa Indonesia sekarang ini: pengkafiran yang dilakukan kelompok agama tertentu yang marak; neo-kolonealisme yang menghancurkan bangsa Indonesia; dan penjajahan domestik, dimana kebajikan negara yang cenderung merugikan Negara  dan rakyat, terjadi eksploitasi kekayaan alam untuk kepentingan kapitalisme global dan korupsi yang merajalela.

·         NU berkepntingan untuk mempunya peran, dan karenanya perlu penguatan visi-misi, dan cita-cita NU sebagai jam’iyyah, sangat relevan untuk digunakan mengatasi persoalan bangsa.  Maka, memahami kembali eksistensi Khittah ini sangat diperlukan di tengah pencaturan politik nasional saat ini, termasuk bagaimana membangun etika politik dan visi kebangsaan agar NU memiliki andil yang relevan di tengah-tengah situasi yang carut marut.

 

 

2. Tausiyah Rais Syuriyah PWNU NU DIY, KH. Asyhari Abta

 

Setelah PJS ketua PWNU DIY membuak acara halaqah, ketua Syuriyah Dalam PWNU DIY memberikan tausiyah yang intinya memicarakan  hal-hal penting di bawah ini:

 

·         Khittah sebagai kendaraan yang sudah sangat jelas bagi warga nahdliyyin dan diputuskan oleh organisasi NU, akan tetapi pada saat ini khittah NU sudah banyak disalahgunakan, sehingga dapat merugikan NU sebagai jam’iyyah.

·         Pada kesempatan kali ini, dalam halaqah, kita yang hadir di sini akan mengkaji dan memahami kembali: Apa itu NU? Apa itu Khittah NU? Hasil-hasil Halaqah diharapkan menjadi acuan pada masa sekarang dan pada generasi yang akan datang.

·         Pada saat ini sebagian orang cenderung senang mengkafirkan kelompok lain, meskipun sama-sama telah mengaku seorang muslim. Ini akibat dari adanya paham wahhabi yang sedang marak dan perlu mendapatkan perhatian serius dari seluruh warga NU, karena paham itu tetap menyerang NU, baik dalam soal tahlilan, yasinan, ataupun dalam soal akidah. Rais Syuriyah kemudian mengungkapkan  dengan mengutip: “Besok akan datang suatu masa di mana: Islam tinggal masanya; Al-Qur’an tinggal tulisannya saja; orang rame-rame ke masjid tapi tidak ada kegiatan ibadah; dan seburuk-buruknya perusak zaman adalah ulama’ dengan fitnah-fitnah.”

·         Pada kesempatan halaqah ini, peserta diharapkan memberikan kontribusi untuk memberikan masukan-masukan dan jalan keluar memabngun jam’iyah NU di tengah situasi politik yang semakin carut marut ini; dan di tengah maraknya kembali paham wahhabi yang masuk ke kantong-kantong NU.

 

3. Acara Halaqah Dimulai

 

Moderator

 

Pada kesempatan kali ini kita ingin menelusuri kembali rumusan khittah nahldiyyah ketika diputuskan di  Situbondo. Termasuk kita akan mendengar kesaksian saksi dari Gus Dur, KH Muchid Muzadi, dan KH. Mustafa Bisri.  Khittah penting diicarakan karena ia menjadi landasan berfikir dan bertindak bagi kaum Nahdliyin.

 

Kesaiksian KH. Musthofa Bisri

 

Tausiyah KH. Musthofa Bisri dikemukakan lewat pemutaran CD setelah tim panitia mewawancarainya. Inti dari wawancara dengan KH. Musthofa Bisri berkaitan dengan Khittah NU:

 

·         NU dan Khittah mulai dibacaran sekitar tahun 80-an, dan sejarah Khittan NU itu pada saat ini sudah banyak yang dilupakan oleh warga NU sendiri;

·         Wacana Khittah dimuliai sejak  70-an, kemudian membentuk tim perumus yang merumuskan tentang langkah dan strategi politik NU pada masa Orde Baru, ketika partai-partai Islam difusikan menjadi satu partai (saat itu PPP), maka wacana ditegaskan perlunya kembali dengan mengambil fungsi NU tahun 1926;

·         Sayangnya, sosialisi Khittah NU ini berbarengan dengan musim kampanye. Maka orang-orang NU di PPP menjadikan NU sebagai alat kepentingan politik. Pada saat itu, PPP diklaim sebagai rumah bagi warga NU;

·         Yang terjadi kemudian adalah penjaiyyahan jama’ah NU yang tidak jelas. NU belum menjamiyyah, belum memliki tradisi organisasi yang baik. Sehingga NU sering dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok yang lain. Pada masa sekarang, NU dijadikan alat untuk memenangkan Pilkada;

·         Pada saat ini, maraknya ideology dengan munculnya pemahaman Islam yang tidak sesuai dengan NU, yaitu Islam yang sangat ekstrim,  fundamentalis, dan suka mengkafirkan disebabkan karena tidak diimbangi dengan pemahaman Islam yang rahmatal lil ‘alamin sebagaimana diajarkan oleh NU.

·         Dengan dasar itu, pemahaman tentangg Islam menjadi sangat penting untuk disegarkan pada masa sekarang yang diorientasikan bagi kepentingan bangsa dan Negara.     

 

Kesaksian Drs. Slamet Effendi Yusuf, MSi.

 

            Setelah mendengarkan tausiyah KH. Musthofa Bishri, acara dilanjutkan dengan mendengarkan pembicaraan Slamet Effendi Yusuf yang saat itu menjadi salah satu tim perumus Khittah NU bersama-sama aktivis NU. Slamet Effendi Yusuf pada kesempatan ini mengemukakan eberapa hal penting, di antaranya:

 

·         NU berada di tengah perjalanan dengan segala dinamikanya, NU hadir di tengah negara yang sedang bangkit dan menggeloranya nasionalisme bangsa.

·         Pada masa itu para Ulama’ bukan mendirikan partai politik, tetapi mendirikan jam’iyyah, sebagai gerakan moral bagi bangsa yang sedang akan muncul.

·         Terjadi kecelakaan, Partai Masyumi pada waktu itu tidak menjamin untuk meyaluran politik warga NU.

·         NU membentuk politik tersendiri yang terpisah dari Masyumi. Ketika saat ini NU masuk dalam dewan konstutuante, termasuk merumuskan dasar-dasar negara. Dalam konteks ini, NU tidak bisa lepas dari kepentingan pragmatisme politik.

·         Pada masa selanjutnya, ada suara kritis dari kelompok NU yang kosen terhadap NU, maka pada tahun 1979, kyai-kyai NU berpendapat sudah saatnya dipikir kembali NU untuk kembali ke Khittah. KH. Ahmad Siddiq merumuskan buku kecil “Khittah Nahdliyyah”.

·         Khittah adalah pedoman berfikir NU sebagaimana rumusan NU 1926. Termasuk pemeliharaan tradisi-tradisi, sikap kemasyarakatan (tawassuth, I’tidal, tasamuh, ihtiyath, dan amar ma’ruf nahi munkar), termasuk juga hubungan NU dan Negara.

·         Kejadian selanjutnya NU Kembali ke Khittah 1926, dengan keputusan penting: menegaskan NU kembali ke Khittah 1926; dan NKRI berdasarkan Pancasila merupakan suatu yang final.

·         NKRI berdasarkan Pancasila merupakan sesuatu yang final, maka NU tidak hanya mengakui negara tetapi NU juga mengakui dasar negara Pancasila, sehingga NU juga menyumbangkan pemikiran tentangg rumusan negara Pancasila sebagai suatu yang syah.

·         NU harus bisa merumuskan konsep-konsep politik termasuk etika politik, NU sangat berperan panting dalam persoalan bangsa termasuk politik yang bersifat trans-nasional.

 

Pertanayan-pertanyaan dari Forum

Ada beberapa penanya atas presentasi dari Slamet Effendi Yusuf, yaitu yang muncul dari:

 

 

Jawaban Slamet Effendi Yusuf

Jawaban Slamet Effendi Yusuf pada intinya memberikan penekanan-penenkanan pada hal-hal sebagai berikut:

 

·         Leadership harus ditanamkan dalam kader-kader NU;

·         Dalm proses globalisasi NU sebagai filter;

·         Lembaga Pendidikan NU harus ditingkatkan dan dikelola dengan professional;

·         IT bagi warga NU juga menjadi sangat penting pada saat in;

·         Yang terpenting adalah bagaimana kita mengisi khittah untuk kepentingan umat;

·         NU sebagai rumah besar yang didalamnya terdiri dari berbagai macam profesi dan partai politik, dll;

·         Sebaiknya NU tidak dipolitisasi;

·         Dakwah NU harus mencerminkan rahmatal-lil ‘alamin. Tawazun, I’tidal, amar ma’ruf nahi munkar;

·         Konsep ahlul halli wal aqdi, menjadi sesuatu yang harus di kaji ulang, agar tidak salah interpretasi. Yang paling penting adalah kaderisasi NU mulai dari tingkat yang paling bawah.

 

Pertanyaan-Pertanyaan selanjutnya

Setelah Slamet Effendi Yusuf memberika tanggapan atas beberapa pertanyaan di sesi pertama, kemudian dibuka kembali sesi kedua, dan muncul beberapa pertanayan, di antaranya:

 

·         Mahasiswa UGM: Apa yang dimaksud gerakan perjuangan garis tengah? Apa yang dilakukan oleh elit-elit NU, tentang fenomena gerakan wahabisme di kampus?

·         PWNU Bali: Pembenahan organisasi dari tingkat bawah, dan dikelola dengan organisasi yang baik. Kader-kader harus dibina dengan baik sehingga tidak terjabak pada partai politik, yang hal ini hanya menyebabkan konflik antar warga NU sendiri.

 

Jawaban Kedua Slamet Effendi Yusuf

Jawaban dari Slamet Effendi Yusuf tentang beberapa pertanyaan, pada intinya dapat dirangkum di bawah ini:

 

·         Kita perlu merancang bersama baik dari tingkat elite NU sampai pada pelajar NU, melakukan action pleaning mengatasi  persoalan bangsa, termasuk kita harus kritis terhadap persoalan-persoalan sosial maupun menjamurnya gerakan-gerakan wahabi, baik di kampong-kampung maupun di kampus-kampus.

·         Dengan potensi ulama’ yang sangat besar di NU dan pesantrenini, kita harus optimis bahwa NU akan mempunyai peranan besar terhadap kehidupan Negara. Maka dari itu, NU harus membangun organisasinya ke dalam maupun ke luar, agar NU menjadi tambah besar.

 

4. Masuk Forum Komisi-komisi   

 

Forum di bagi dalam tiga komisi dan masing-masing komisi didampingi dua fasilitator: Komisi Visi Kebangsaan NU dalam Khittah Nahdliyah, dengan fasilitator Zuhdi Muhdor, Ahmad Suaedy dan Agus Maftuh; Komisi Etika Politik dan Budaya Pesantren dengan fasilitator Anas Saidi dan Jadul Maula; dan Komisi Hubungan Agama dan Negara Indonesia dengan fasilitator Susetiawan dan Sahiron Syamsuddin.

 

-               Komisi Visi Kebangsaan NU dalam Khittah Nahdliyah

 

Zuhdi Muhdlor

Komisi ini akan membahas visi kebangsaan NU dalam kaitannya dengan Khittah Nahdliiyah. Kami yakin peserta sekalian sudah membaca khittah, menghayati, dan meresapinya. Saya kira, keterlibatan NU untuk membangun bangsa ini adalah keniscayaan dan bukan barang baru lagi. Kalau kita baca hasil muktamar Banjarmasin tahun 1936, NU sudah bicara soal bangsa, padahal masih masa penjajahan Belanda. Ini terus dilakukan, termasuk ada resolusi Jihad, dan perebutan kemerdekaaan. Di Situbondo bahkan NU sudah mmutuskan bahwa NKRI adalah bentuk final. Keputusan muktamar yang sangat mendasar Situbondo itu terus bergema dan diulang-ulang. Intinya untuk urusan NKRI, NU selalu berada di garis depan.

Persoalannya sekarang, tantangan datang dari berbagai arah, dan banyak yang belum pernah terjadi sebelumnnya. Yang terbaru adalah kultur keagamaan yang baru. Kalau, kata pak Masdar, orang Indonesia dulu kulluhum Nahdliyyun, illa man aba (haha), sekarang sudah jadi abau atau jamak, semakin banyak. Padahal kalau kita melihat hasil survey LSI, kita sudah kehilangan 60% jamaah dari yang kulluhum 100 % itu.

Nah, menyusutnya jumlah ini menandakan bahwa orang NU jumlahnya semakin menyusut sementara “yang lain” menanjak. Pertanyaannya, apakah hal ini berpengaruh pada visi kebangsaan?

Yang akan memandu acara ini nanti mas agus maftuh. Mas Suaedy juga akan memberikan beberapa catatan.

 

Agus Maftuh

Assalamualaikum, semuanya. Saya baru dihubungi tadi malam untuk ikut bicara di sini, jadi maaf tidak sempat NUlis banyak soal tema besar ini. Tapi, saya banyak menyampaikan soal NU dan kebangsaan di mana-mana, di kartasura terutama, juga di Sirampok, Pekalongan.

Sebenarnya soal ini sudah selesai, tapi NU ini ibarat gajah lumpuh. Ya, gara-gara gejala an nahdlah musayyasah. Judul presentasi saya kali ini al difa’ an nahdlatil ulama’.  Kita harus tahu dulu ada apa saja di sekitar kita, ideologi-ideologi impor, transnasional. Antara lain, al ikhwan al muslimun. Gerakan iini sebenaranya bikinan Inggris. Ada Al wahabiyah ang di Indonesia jadi macam2 wujudnya. Sukanya, menghancurkan simbol-simbol kegamaan. Ada orang KH hilmi amiNUdin punya connecting dengan IM. Ada juga Salafiyah, padahal istilah salaf dulu milik NU.

Saya pernah ngomong di luar negeri kalau pondok salaf di indonesia beda dengan gerakan salaf di luar Indonesia.  Salafiyah di luar indonesia sangat literalis. Ada juga fatwa yang alla insaniyah, alla tarikhiyyah, alla tsaqafiyah

Jadi NU itu tekepung di tengah. Saya ingin tunjukkan bahwa “luar NU” itu melihat kebangsaan NU itu menjadikan darah Kiai jadi halal. Kita harus tanggap, setidaknya di tiap kecamatan ada dua orang NU militan di tiap kecamatan, dan digaji.

Ini saya punya dokumen NU tahun 75, dari jamaah thariqah mutabarah, berisi tekad bulat mendukungan kebangsaan.  Kalau HT percaya khilafah, ya di Indonesia nggak ada yang bisa jadi khalifah, lha wong nggak ada yang quraisy kok, keturunan tunggul ametung atau empu gandring. (haha). Dokumen ini sangat penting karena pada tahun 1975 para kiai kita sudah punya komitmen kuat mengenai ketekadan kuat soal ketahanan bangsa.

Ini dokumen lagi, lihat poin nomer 5, kali ini gerakannya abu bakar baasyir: orang islam yang menolak dan menghalangi usaha untuk mewujudkan daulah islamiyah berati menghalangi tegaknya daulah islamiyah, orang semacam ini halal darahnya.

            Saya ingin perlihatkan juga. Ini dokumen lain, ada pondo yang mengajari bikin Bom. Teknik makna gundul yang akrab di pesantren kita, sekarang ada juga yang pakai untuk ngajari bikin bom. Lihat ini, para santri ternyata tidak tahu apa itu porselen sehingga di atasnya ada makna gandul seperti piring kaca.

            Saya hanya ingin garisbawahi bahwa visi kebangsaan NU sudah jelas dan selesai. Tinggal aktualisasi dan implementasinya. Sekali lagi, minimal ada dua orang NU militan di tiap kecamatan. NU harus segera tanggap pada ideologi transnasional atau yang justru dari dalam NU sendiri terutama politisasi NU.  Oya, saya juga katakan kalau Pak Hasyim mau nyalon ketua lagi, sudah declar di Malaysia, dalilnya baqau ma kana ala ma kana. Kalau meNUrut

Sekian terima kasih

 

Zuhdi Muhdlor

      Terima kasih, ada beberapa yang bisa saya catat: NU di bawah kepungan; Penyebab NU terkepung, sekarang banyak tokoh NU alih profesi dari mengurusi umat berubah jadi fariman politik atau preman politik; Solusi untuk menyiapkan dua tenaga militan NU di tiap kecamatan; dan Kaderisasi sudah sama hukumnya dengan menjalankan sholat. Saya buka sesi tanya jawab, empat dulu. Silakan.

 

Bahrun, Ketua PWNU Sumatera Barat

Baru kali ini saya ketemu mas agus. Saya setuju bahwa NU memang dikepung. Melihat kondisi yang ada, saya kira yang harus segera ditanggapi memang gerakan transnasional.

            Nation state itu kan ide baru dari barat. NU kan menerima itu tanpa ragu. Jadi NU lebih modern sebenarnya. Keislaman kita tidak merusak kebangsaan kita. Begitu sebaliknya. Ini kan NU bisa membedakan Islam antara yang universal dan yang parsial. Persoalannya, karena terkepung, NU dianggap sebagai ahlul bid’ah.

            Barangkali kita perlu perdalam dan perjelas soal pengkaderan di kecamatan yang tadi disebut. Saya kawatir kalau tidak cepat ambil tindakan, NU akan jadi fosil. Terima kasih. Wassalam

 

            Jawahir, PWNU DIY

            Saya kira, kita tahu kelemahan kita ada dimana. Maka, doktrin ajaran NU ini harus lebih diintensifkan sosialisasinya. Benar bahwa sperti yang disampaikan mahasiswa UGM tadi kalau gerakan islam lain sangat ofensif., sehingga SKI di kampus dikuasai mereka.

           

            Aguk Irawan

            Pak Agus, saya kira tetap ikhwaNUl muslimin, bukan muslimun, karena yang benar ada jamiahnya di depan. Kata jamiyahnya itu dihilangkan. Jadi sebenarnya tetap na’at man’ut.

            Menurut saya, NU sekarang dilematis. Saya bisa memaklumi ada tarikan-tarikan politik (suara tidak jelas, jauh microphone dari mulut)

           

Burhan, P3M Jakarta

            Kondisi NU sekarang sangat memprihatinkan. Ini seperti pengulangan sejarah tahun 84. NU ditarik-tarik ke politik yang tidak memikirkan warganya lagi. Saya kira kita mesti kembali ke tujuan NU. Ketika NU berdiri, betul betul apa yang secara tradisi mengakar kemudian diorganisasikan. Jamaah dijamiyahkan. Dan organisasinya bukan partai tapi organisasi keagamaan.

            Saya pikir, isu wahabi ini relevan dikemukakan lagi karena kalau dulu jaman awal NU berdiri adalah serangan wahabi I, maka sekarang yang ke II. Usul kongkrit saya, kita perlu keliling lagi untuk menandingi serangan wahabi II ini. Terima kasih

           

            Zuhdi Muhdlor

            Terima kasih semuanya. Saya kira forum seperti ini perlu ditingkatkan frekuensinya, karena penting sebagai bahan masukan untuk muktamar di Makassar nanti. Sekarang saya persilakan Mas Suaedy. Sama-sama mas agus, mas suaedy ini juga muridnya Gus Dur. Silakan mas Suaedy

 

Ahmad Suaedy

Ini bukan tanya jawab, saya mencatat semuanya untuk masukan di pleno. Saya kira pak Agus sudah menjelaskan dengan baik satu sisi terutama ancaman wahabisme. Sebenarnya kita juga perlu menyikapi globalisasi.

Kalau kita lacak sejarah NU dan kebangsaan Indonesia. Tidak bisa dibedakan dan dipisahkan karena saling berkaitan antara keduanya. Saya penah menulis bahwa ada perbedaan mendasar cara pandang kebangsaan antara NU, kelompok sekuler, dan organisasi ideologi agama. Yang sekuler ingin memisahkan agama dari ruang pblik. Yang ideologi agama menakankan hak-hak tuhan. Nah NU beda karena cara pandangnya adalah apakah sesuatu itu maslahat bagi rakyat atau tidak. Karena itu NU sering bertabrakan dengan organisasi-organisasi ideologis. Wakti DI/TII dulu, NU membela NKRI, bukan Soekarno.

            Tahun 1926 yang jadi isu adalah hak-hak politik di kalangan NU. Orang NU dibebaskan untuk milih partai apapun. Kesadaran kewarganegaraan saat itu adalah kesadaran politik.

            Nah, Sekarang ada dua persoalan atau isu penting mengenai kemaslahatan itu kaitanyya dengan peran negara. Pertama; kepemilikan sumber daya alam, kedua: hak-hak waganegara untuk beragama dan ekspresinya. Menurut saya keduanya butuh dieksplorasi.  Saya kira itu dulu, mari diskusi

 

Agus Maftuh

NU itu ingin hidup bersama, bareng-bareng. Bagi Jamal Al banna, jihad sekarang itu bukan untuk mati tapi dalam konteks sekarang jihad adalah bagaimana bisa hidup bersama. Islam menurutnya diinun wa ummatun laisa diinan wa daulatan. Lha ini kan cocok dengan NU padahal NU sudah jauh lebih lama

            Jadi ini Saya sudah jawab pak bahrun.

            Saya setuju dengan P jawahir kalau kita harus ofensif dalam hal dakwah. Untuk mas Burhan, saya tidak menmbahas semua ideologi yang mengepung NU, memang hanya saya khususkan pada wahabi. Saya kira kita harus tentukan apakah yang akan memimpin NU ini benar2 pemimpin. Apa mau istishab dengan pemimpin yang ada sekarang ini? Jujur saja, ekonomi, kebangsaan, dan intelektual itu harus didayagunakan serempak. Jujur saja, PBNU itu pernah dua kali diputus aliran listriknya gara2 tidak mbayar.

           

            Zuhdi Muhdlor

            Saya harap selanjutnya lebih berupa masukan-masukan. Nanti kita tampung semuanya.

 

            Waryono, NU Kota Yogyakarta

            Kita sdh tahu masalah NU ada dimana. Sekarang prioritas solusinya bagaimana. Pertama, seperti imam ghazali merespon filsafat dengan tahafut, kita orang NU mesti merespon ideologi2 itu dengan wacana produktif. Kedua, Jaringan NU harus diintegrasikan. Di kecaamatan itu sudah ada penyulh dan banyak orang NU. Jadi malah kita tak perlu bepikir soal gaji. Ketiga, nggak masalah sekarang NU dikerubuti politisi, yang penting bargainingnya kuat. Artinya NU tidak dilupakan selepas pemilu.

 

Badawi

            NKRI sudh final bagi NU. Maka, pertama komunitas pesantren perlu diperkuat. Kedua, kaderisasi militan. Ketiga, regu sayap, maksudnya NU mesti mengamankan parpol yang bisa mengamankan khitah.

NU memang keropos dari dlam, tapi tidak semata-mata dari politik. Sekarang ini kan lemah sekali kemampuan ekonomi. Jadi pelu penguatan. Bagaimana NU bisa mencarikan solusi yang praktis dan simpel buat umat.

 

            Mustain, Gunung Kidul

            Ada inkonsistensi khitah. Yang memotori khitah malah membidani PKB. Keleluasaan politik kita saat ini sebenarnya banyak diperjuangkan NU sebenarnya, tapi sekarang NU sendiri malah terjerembab.

            Saya pernah sowan mbah Nawawi ngrukem. Kenapa kok penguasa sekarang jarang mendatangi ulama? Karena sebenatar lagi NU mati. Mbah nawawi bilang, NU tidak akan mati.

            Saya usul, buku buku keterangan dan ajaran aswaja seperti tahlil itu dimurahkan biar bisa diakses orang banyak. Sementara buku2 wahabi murah dan tersebar luas. Termasuk juga di internet.

 

            Zuhdi Muhdlor

            Karena ada perubahan jadwal, tepaksa forum diakhiri. Semua masukan sudah ditampung dan sedang coba dirumuskan Mas Agus dan Mas Suaedy. Rumusan perlu dibaca dulu atau langsung dbaca di pleno saja?

           

            Peserta

            Langsung plenoooo (suara koor).

 

Zuhdi Muhdlor

            Kalau begitu, kita akhiri sidang ini. Kurang lebihnya mohon maaf. Semoga bermanfaat.Wassalam

 

 

-               Komisi Etika Politik dan Budaya Pesantren

 

Anas Saidi

Dunia politik terlalu mengabdi pada aspek kekuasaan, sehingga melupakan aspek substansial. PKS distigmakan sebagai partai bersih sudah mulai nampak. Sedang PKB sebgai partai bersih, ketika kasus lapindo justru malah diam saja. Bagaimana revitalisasi budaya pesantren dewasa ini??

 

Iskandar Abdurahman

Dalam kehidupan berbangsa, politik itu sangat penting untuk merubah tatanan. Warga NU banyak, ahlinya juga banyak.

Sebaiknya kita PWNU punya komite politik, untuk mengkomunikasikan satu dengan yang lain. Isu-isu politik di tingkat nasional perlu digodog secara konsisten sehingga bisa disebarkanke umat. Komisi politik harus sering kumpul dan kenal sehingga ada jalinan silaturahim.

 

Anas Saidi

NU butuh think thank ditingkat praktis. Berfungsi sebagai dalang. Kiai hanya bicara praktek, belum teori.

 

Tsamin Fauzi

Komitmen NU tidak diragukan. Mengawal NKRI. Aswaja kehilangan akselerasi. PKS muncul sebagai icon baru dalam wahabisme. NU harus mencari hulu dari mana PKS itu berasal? Muktamar ke depan, harus menata system. Jangan menunggu figure.

 

Anas Saidi

Perlunya strategi kebudayaan NU dikalangan NU sendiri.

 

Sastro

NU punya system nilai yang kuat. Itu iya, dan diharapkan menjadi model.

Kegagalan politisi NU dalam mengelola praktik politik yang bersih. Susahnya ketika masuk dunia praktik, ia harus terbawa arus.

Bermain politik di pesantren semakin berat. Karena pesantren harus menghidupi kiai, santri, dll. Andaikan pesantren memiliki jaringan supermarket satu-satu. Jadi tidak perlu jualan proposal, istighosah.

 

            Anas Saidi

Saya setuju dengan Sastro.

 

Fikri

Pengalaman 4 tahun belakangan ke pesantren se jawa-madura. Creative writing  perlu dikenalkan ke santri agar bisa menulis, punya pengetahuan sastra dan jangan dulu berpikir politik. Komunitas mata pena adalah contoh dalam mengembangkan budaya melek sastra.

 

Saifa

Saya khawatir dengan cara NU memasukan aktor2 ke politik, karena akan berbenturan dgn kepentingan ditingkat praktis.

 

KH. Mu’tasim Billah

Kapitalisasi pesantren tidaklah cukup, karena kebutuhan tidak ada habisnya.

Tasawuf sebagai solusi, sifat qo’naah, nrimo dll. Kiai2 perlu memiliki integritas moral, akhlak karimah. Sehingga tidak kemaruk pada dunia.

 

K.H. Najib Salimi

Kiai tidak pernah bingung dalam menyikapi perubahan dunia. Ada kekuatan besar dalam merubah design kekuasaan. Kiai2 lebih memilih posisi aman daripada bermain politik.

 

M Rifki 

            Saya setuju dgn sastro.

 

Saifudin 

Politik adalah kekuasaan. Tanpa politik tidak dapat mencapai kekuasaan dunia-akhirat. Kekuasaan harus diraih, setiap departemen harus ada orang NU nya. Karena kalau tidak, maka NU tidak akan kebagian dalam proses pembagian kue2 departemen tsb.

 

Abdullah Sarifudin

Dalam UU sisdiknas, pesantren masuk menjadi bagian dari system pengembangan. Awalnya ada pro-kontra dalam hal ini.

Pesantren dibikin paten sebagai milik NU, yang lain jangan boleh pakai nama tersebut.

 

Moh Malik

Etika pesantren harus dijaga, jgn dijual dengan murah.

Menjaga image antara politisi dengan pesantren. Etika organisasi harus terus dijaga supaya selamat.

 

Sami’an

kemunduran NU ada 3 hal: bahasa arab aku ra ngerti.

Kiai NU kalau diundng partai selalu datang, tapi diundang NU tidak ada yang datang.

 

Humaidy Abulung

Kalimantan hub NU-pesantren tidak ada hubungan sama sekali. Pesantren sudah nampak garis kerasnya, kembali ke qur’an dan hadist. Dijawa masih banyak kiai yang khittah 26. Semua main politik jadi tim sukses.

Perlu belajar fiqh siyasah lebih dalam, jangan hanya berkutat pada kitabnya mawardi.

 

Rodli (PWNU Bali)

pergeseran rasa hormat santri pada kiai semakin pudar. Ada program short course ke luar negeri, S2, S3 ke luar negeri setelah pulang ke luar negeri menjadi liberal.

Manajemenya kita ambil, liberalnya kita tinggal. Sehingga menjadi tetap santri.

 

Ahmad Fatah (NU Sleman)

Ada klaim2 partai paling NU. Hal ini tidak seharusnya terjadi.

 

Lutfi Hamid

NU kehabisan energi untuk megadakan harlah seperti tahun kemarin.

NU memiliki banyak konsep2 yang bagus tapi harus diimplementasikan secara nyata.

 

Ahmad Faruq (Jember):

Manajemen NU carut-marut, sehingga menyulitkan koordinasi. Di awal berdirinya, posisi social pesantren lebih tinggi dari NU, karena pendiri NU org pesantren. 

 

Muhyi (UGM)

UU BHP menjadi jebakan bagi pesantren. Model diaspora dimiliki masyarakt yahudi. Masyarakat NU harus memiliki imajinasi untuk berkembang.

 

Sastro

Pendidikan dan kaderisasi politik. Biar kader NU berkualitas. Dan punya kemampuan yang memadai. Politik adalah khidmat dan perjuangan cita2. Sekarang politik menjadi arena penghidupan/profesi.

3 modal politisi NU: Kekuatan loby, negosiasi, dan jaringan atau networking.

 

Imam Baehaqi

Jadi kiai itu berat, jangan terlalu sering dikritik. NU tidak bisa mengutak-utik pesantren. Negara punya hutang besar kepada pesantren. Menteri agama pun mengakui hal tersebut. Pesantren, kepribadian, moral akhlak. Apa perhatian negara kepada pesantren?

 

 

-               Komisi Hubungan Agama dan Negara di Indonesia

 

Sangat disyangkan ternysta dokumen rekam proses komisi ini telah hilang dan tidak ditemukan kembali. Panitia hanya bisa menemukan rumusan di dalam Komisi yang isinya sebagai berikut. 

  1. NU berpandangan antara agama dan negara tidak dipisahkan secara dikotomis tegas, tetapi juga tidak mencampuradukkan antara agama dan negara. NU tidak menempatkan negara berdasarkan agama. Namun nilai –nilai universal agama harus mewarnai dalam kehidupan soial.
  2. NU harus mendorong kebijakan lokal agar senantiasa menjaga keutuhan NKRI dengan segala kebinekaannya. Agar agama tidak dipergunakan sebagai alat-alat politik identitas dan kepentingan kelompok yang mengataskan agama apapun.
  3. NU, bukan organisasi politik (final). NU organisasi sosial keagamaan. Oleh karenanya harus ada penegasan kembali dan sosialisasi kembali kepada semua pihak agar tidak menjadi kendaraan politik. Perlu ada pemberdayaan berfikir yang transformatif dikalangan nahdliyin, baik sosial, ekonomi dan berpolitik, agar tercerahkan. Khittah harus bekali kali disebar luaskan. Karena khittah adalah pedoman berfikir dan bertingkah laku.
  4. Sikap sosial politik nu moderat, jalan tengah antara posisi extrem, baik extrem pembela neoliberalis dan extrem dalam paham keagamaan.
  5. Posisi seperti ini harus jelas antara NU sebagai organisasi struktural dan NU sebagai gerakan kultural.
  6. Organisasi NU harus diperbaiki agar tidak digunakan sebagai alat kepentingan politik. NU sebg organisasi harus merespon dan menyapa warganya, artinya menjadi rumah besar bagi segenap warga NU

 

6. Pasca Diskusi di Tiga Komisi dan Pleno

 

Moderator

Untuk Pleno ini, sebelum membacakan rumusan dari masing-masing komisi, di sini ada Pak Masdar. Karena waktu terbatas, maka nanti untuk sesi pertanyaan, dua orang saja dari luar jogja. Karena dalam waktu dekat ini, Pak Masdar akan sering ke Jogja, jadi yang dari Jogja mohon maklum, tidak usah banyak memberikan pertanyaan.

 

Presentasi KH. Masdar F. Mas’udi

Assalamulai’kum wr. wb. Saya bahagia bisa bertemu dengan anda sekalian. Karena waktu singkat, saya khawatir malah bisa keracunan. Bicara khitah Nu, lebih dlu saya ingin memberi tarif tentang NU. Nahdlatul Ulama selama ini rasanya agak bergeser. Nu yang didirikan Mbah Hasyim 1926 sesungguhnya pertama-tama adalah organisasi, bukan sekedar paguyuban. Juga bukan sekadar konsep atau setting kultural. Selama ini kita sering diusik dikotomi yang semakin diperuncing antara kultural dan struktural. Yang kultural tahlilan, yasinan dst. Sementara Nu struktural adalah bangunan oranisasi.

Sekali lagi ingin saya tegaskan, NU yg didirikan mbah hasyim itu NU organisiasi, struktural. Kalau yg kultural sudah ada ratusan tahun sebelum mbah hasyim memndirikan NU.

Jadi menurut saya dikotomi itu harus dijernihkan kembali.  Bukan berarti keduanya berbeda. Kultural itu al qadim al shalih. Struktural itu yang al jadid al aslah. Maknanya, kalau pengurus NU sebatas sibuk ngurusi yang kultural, itu artinya kita tidak kemana-mana. Karena sebelum mbah hasyim mauludan, dyibaan sudah ada. Jadi dengan ber-NU harus ada yang baru. Memang salah satu agenda NU adalah melestarikan tradisi. Tapi kalau dengan NU yang hidup hanya NU maka kitatidak kemana-mana.

Sebagai organisasi, NU punya agenda yang khas organisasi. Agenda yang sama bukan agena yang kebetulan sama. Agenda organisasi adalah agenda bersama, kepentingan bersama, yang tidak mungkin terwujud kalau tdak digotong bersama. Nah ini yang sayakira selama beberapa tahun terutama dalam tarikan olitik.

Agenda NU jelas, kita bisa merujuk pada momen2 sejarah pada NU didirikan mula-mula. pertama, Nahdlatut Tujjar, itu sebenarnya keprihatianan ulama utnuk memperhatikan pemberdayaan ekonomi umat. Jadi ini agenda besama.

Kedua, Nahdlatul Wathan. Waktu itu mbah wahab dkk memerhatikan pendidikan yang berwawasan kebangsaan. Kedua, tashwirul afkar, ini kepedulian intelektual untuk menyikapi tantangan kontekstual. Keempat, komite hijay. Tidak ada lain misi komite hijas adalah menyikapi ideologi yang bertentangan dengan tradisi lokal dan ideologi asing yang berseberangan dengan kepentingan dalam negeri. Melawan invasi ideologi yang taksesuai dengan karakter Indonesia.

Keempat agenda ini adalah substansi khittah. Dan di sana tidak ada sama sekali agenda politik praktis. Nu tidak seperti PSI, misalnya. Jadi kalau kita kembali ke Khittah jelas kita kembali pada empat agenda tersebut.dan ini terbengkalai hampir 100 %.

Pertanyaan sederhana,kenapa mbah Hasyim perlu bikin organisasi. Saya dengar cerita, Kyai Kholil Bangkalan dan mbah hasyim sendiri, ketika memastikan pendirian organisasi beristikharah erminggu2. Apakah sah sesuai agama atau justru semakin mengkotak-kotakkan, firqah2. keputusan terakhir ternyata positif, dirikan NU.

Jadi kalau malu mengaku NU, ngaku dong. Kalau malu itu menyalahi khitahnya mbah hasyim. Sebagaimana kita nasyhadu bahwa kita islam. Jadi kalau kita malu mengaku NU, eksistensi kita tidak akan diakui orang. Kadang-kadang kita terlalu toleran. Toleran pada toleransi, pluralisme juga kebablasan, mengaku diri sendiri ada saja rikuh. Jadi wujudnya diberbagai tempat ka[adamihi.

Satu keniscayaan umat islam atau masyarakat apapun kalau tidak mengorganisir diri tidak ada kekuatan. La quwwata illa bil jamaah. Yadullah fauqal jamaah. Jadi bil jamaah ini jangan hanya diatikan solat. Sholat jamaah itu kan juga solat yang terorganisir. Adaimam, makmum, dan tata cara. Itulah etika berjamaah, berorganisasi.

Nah disiplin ini sudah lama tak ada. Kekuatan kitapun jadi hilang. Memang jamaah di masjid masih ada, jamaah di luar masjid tidak ada. Padahal amal soleh sosial ijtimaiyah jauh lebih wajib daripada amal soleh fardliyah. Jadi, masjid bangunan itu masjid fisik, tapi organisasi itu masjid virtual. Memang yang dijalankan di masjid virtual tidak ada gerak badan.

NU ini ibarat masjid besar, isinya orang banyak, ritual persis sama, tapi ketika imam Allahu akbar, ternyata makmumnya solat sendiri2. ini masalah besar. Dan inilah kelakuan kita sekarang. Tidak ada wihdatul kalimah apalgi harokah. dan karenanya kita kena sabda Nabi dan Ali, kekuatan Allah tidak kita miliki, karena tak ada jamaah, tak ada nidyam.

Kita dikalahkan organisasi-organisasi kecil. LDII itu asetnya 150 miliar. Lha kita mbangun kantor saja susah, mbayar listrik saja, dipedot. Kalau kecil terorganisir saja isa kuat apalagi besar?

Percayalah negeri ini ada di tangan kita. Tapi karena tidak teroganisir nyalon bupati, gubernur saja kalah. Dan tidak punya malu lagi. Karena imamnya juga tidak peduli, tidak mendatangi jamaah.

Persoalannya, kenapa kita sulit merapikan shof, kenapa suka sholat sendiri? Sebagian karena pemimpin tidak suka menyapa. Kedua, karena ada tokoh2 lokal yang ingin mendirikan jamaah sendiri2. Mobil mogok didorong 10 orang jalan. Tapi kita mendorong sndiri2.

Berorganisasi butuh keikhlasan untuk meleburkan ananiyah kepada nahnuwiyah. Kalau tidak baegitu, mustahil jadi jamaah. Nah yang ana-ana ini hamyahnya juga gede2. Maka berorganisasi itu jihad karena pertma melawan nafsu ananiyah dan, kedua, infaq. Dan organisasi keagamaan yang berhasil dimana-mana ya seperti itu.

Sebagai perbandingan, organisasi katolik itu terbesar. Jumlah umatnya1,3 milyar lebih dan semuanya terdata. Semuanya nasyhadu bianna katolik.Dan semua itu meski kecil, tetap berinfak. Coba bayangkan kalau 100 juta orang NU berinfak seribu saja sebulan, kita bisa membangun dan mendanai banyak hal. Ini kan persoalan kebersamaan.

Jadi kultural itu sudah alal haq. Strukturalnya terbengkalai. Padahal yang diwariskan mbah hasyim yang struktural. Berarti kita ini sebenarnya mengalami defisit. Orang lain itu melihat NU itu gregetan. Potenmsinya besar tapi terabaikan.

Jadi kalau kita bicara NU yang dimaksud adalah Nu organisasi. Hilangkan dikotomi kultural struktural. Inilah pesan mbah Hasyim.

 

Pertanyaan-Petanyaan yang Muncul

Sesi ini muncul beberapa pertanyaan, di antaranya:

 

 

Jawaban KH. Masdar F. Masudi

Kata kunci untuk semua pertnyaan adalan tata organisasi. Itulah titik tolak kita. Mbah Muchit penah bilang, kalau kita konsisten dengan ad art, tidak ada pengurus NU yang syah. Karena ujung2nya tidak menyentuh warga juga. Selama ini tidak ada jaringan yang menyentuh sampai warga, jadi ini belum bisa disebut sebagai organisasi menurut ad art. Jadi tidak ada persambungan dengan warga.

Kalau diibaratkan Pohon, seperti asyjar khobitsah, tidak mengakar. Organisasi yang baik harusnya mengakar sampai basis warga. Warga jadi stajeholder utama. Tentang siapa pemimpin dan program2nya. Tidak aneh kalau NU selama ini memang tidak pernah melaunching program yang menyentuh langsung warga. Jadi warga jengkel. Warga akhirnya menghukum, kita lihat pilkada di jawa barat, tengah, timur NU kalah. Itu karena warga tak pernah disapa.

Organisasi NU ke depan harus berbasis rumah umat, yaitu masjid. Asal ada Qunutnya, diorganisir jadi NU. Iamam jadi syuriah, tamir jadi tanfidy, pemuda jadi Ipnu dan seterusnya. Di ditu ada lembaga pelayanan umat. Apalagi masjid adalah tempat yang paling diberkahi. Masjid itulas basis nu di masa depan. Sehingga Umat bisa langsung bertemu pengurus NU.

Kita pasti bisa melakukannya. Jangan bicara kesulitan dulu, keyakinan dulu deh. Di lingkungan nahdliyyin itu memang ada anak2 muda yang sekolah kemana2. mereka agak geregetan juga. Nu itu Cuma punya kiper, g ada penyerang. Jangan takut, Nu itu ulama, intelektual. Jangan takut menendang bola keluar. Kita punya garis batas kok.

Kita ini sudah punya banyak adiluhung, Cuma kita tidak memperhatikan jamaah. Agenda utamanya adalah membangun organisasi. Saya berkeyakinan kalau kita sedikit temata saja. Kita kelihatan besar. Saya wajibkan semua yang hadir di sini untuk memasang simbol Nu di rumah masing-masing. Saya kira juga ke depan Nu harus terdiri dari dua lapis. Lapisan pertama, lapisan terdidik.merekalah yang menghidupkan gerak organisasi. Lapisan kedua, kyai dan ulama dalam posisi sebagai jangkar moralitas. Jadi lebih sekadar sebagai fiqh tapi juga akhlaq. Nu ini juga harus punya wali. Unsur wali ini penting, satu persen saja. Sekalipun saya tak tahu bagaimana mendidik calon wali. Saya kira itu.

 

Sidang Pleno dalam Halaqah

Sidang pleno dipimpin PJS Ketua PWNU DIY yang pada pada intinya muncul beberapa pemikiran bahwa KH. Hasyim Asy’ari menjelaskan NU sebagai organisasi bukan hanya sekedar paguyuban, konsep, atau kultural tertentu saja. NU yang didirikan oleh Hasyim Asy’ari, adalah NU sturktural. Atau NU organisasi. Kalau NU Kultural sudah ada sejak zaman sebelum mbak KH. Hasyim Asy’ari. Kedua hal ini bukanlah menjadi berlawanan,

            NU Kultural; pengurus-pengurus nya pun hanya berdasar pada organisasi yang hanya berjalan dengan tradisi-tradisi lama saja. Seperti tradisi tahlilan, dll. Namun, dari NU Struktural yang didirikan oleh Hasyim Asy’ari. Adalah NU kultural yang sudah berkembang dengan Organisasi tanpa melupakan agenda Kultural.

Agenda organisasi NU sudah mulai ada perubahan sejak adanya perebutan orang NU dalam hal politik.

            NU sebagai organisasi sudah muncul sejak perkumpulan Nahdhotul Wathon; pendidikan,     Gerakan Tasfirul Afkal; merumuskan ajran-ajaran agama yang kontektual, Komite Hijaz; “Perlawanan terhadap hegemoni ideologi, yang melawan nilai-nilai kearifan lokal”.        Ke empat agenda di atas adalah merupakan tujuan pembentukan Khittah NU.

Mbah Hasyim Asy’ari mendirikan organisasi NU. Sebelum beliau membentuk NU, beliau melakukan berbagai macam istikharah. Menyatakan NU merupakan pelaksanakan khittah NU. Ummat islam, jika tidak mengorganisir diri maka tidak ada kekuatan. “Kekuatan Allah akan diberikan kepada orang yang mengorganisir diri”.

            Sekarang tradisi shalat jama’ah di masjid sudah mulai menurun. Organisasi Islam sebenarnya merupakan ibarat Masjid virtual. Seperti halnya fungsi dari masjid. “apa yang kita pegang, apa yang kita yakini adalah yang haq.” Rasulullah Negeri ini di tangan kita semua, yang kecil tapi teroganisir aja bisa mengalahkan yang besar tapi tidak terorganisir. Apalagi yang besar dan bisa terorganisir.

            Kenapa di dalam satu masjid terdapat orang yang shalat tapi tidak bersamaan, mereka shalat sendiri2. intinya adalah kepedulian untuk merubah menjadi berjama’ah. (keihlasan untuk merubah Ana menjadi Nahnu). Berorganisasi merupakan suatu jihad.

 

8. Rumusan Akhir Halaqoh

 

Setelah pleno hasilnya dirumuskan sebagai berikut: Halaqoh Nasional Alim Ulama NU 2009 di Pondok Pesantren Pandanaran, 02 April 2009, telah berlangsung lancar, meriah dan sukses. Acara ini dihadiri oleh utusan dari berbagai PWNU, PCNU, banom, lajnah, serta komunitas-komunitas di lingkungan NU. Hadir dari PBNU K.H. Farid Masdar Mas’udi. Setelah melalui sarasehan, sidang komisi dan sidang pleno yang intensif, halaqoh menghasilkan beberapa hal:

 

 

E. Penutup

            Demikian catatan atas gambaran proses halaqah PWNU DIY yang telah berlangsung di PP. Sunan Pandanaran pada tgl 2 April 2009. semoga apa yang telah dihasilkan dari halaah tersebut mendapat ridho dan ma’unah dari allah Swt dan hasil-hasil halaqah juga bermanfaat bagi kemaslahatan NU, Islam dan Indoensia. Amin, amin ya rabbal ’alamain. Kemudian kepada semua yang sudah terlibat kami mengucapkan terima kasih atas dukungan dan partisipasi. Wabillahi taufik wal hidayah, wassalamu’alaikum wr, wb.