Masihkah

Wali-Wali Allah Swt. Abad ke-21

Kedudukan posisi antar manusia jika mau dikatakan sama, mungkin juga benar. Sama-sama diciptakan dalam bentuk sempurna, inna al-insan fi ahsan taqwim. Akan tetapi itu bukan alasan menolak status derajat-derajat manusia yang berkonsekwensi perbedaan di antara manusianya. Seorang dokter tidak bisa kita samakan dengan pasien-sama-sama manusianya- kenapa, karena seandainya kita memaksa dokter disamakan seorang pasien berarti sama dengan memaksa seorang pasien mengobati dokter. Irasional, tindakan bodoh.

Pandangan seperti itu terhasrati oleh filsafat al-Quran yang menjelaskan akan kedudukan manusia termulia ialah mereka para pentaqwa (muttaqin). Meski tidak dapat dipungkiri bahwa semua manusia itu setara (egalitarianisme), pada realitasnya perilaku dan perbuatan telah jujur menceritakan predikat-predikatnya secara terstruktur (bertingkat-tingkat). Artinya, semua kerangka fisik boleh sama namun jangan memaksa sama juga dalam isinya. Gelas-gelas mungkin sama tapi air (isi)-nya berbeda.

Dalam Islam, dikenalkan istilah wali (awlia), yang secara tidak langsung melegalkan diferensiasi tingkatan manusia. Secara semantik, kata wali bermakna penolong, pecinta. Perwalian (wilayah) berarti nushrah (pertolongan), atau mahabah (kecintaan). Sedangkan secara tekhnikal ialah orang kudus (suci), orang yang ada di bawah perlindungan khusus. Dalam literatur orientalis biasa disebut saint.

Teori perwalian dalam kalangan sufi baru muncul pada abad kesembilan ketika sufi-sufi ahli tasawuf yakni al-Kharraj, Sahl al-Tustari dan Hakim al-Tirmidzi menulis hal itu. Abu Qasim Abdul Karim al-Qusairi mengartikan wali dengan pengertian pasif, yaitu seseorang yang diurutkan urusannya (tuwulliya), dan dalam pengertian aktif, ialah orang yang melakukan kepatuhan kepada Tuhan.1 Wali-wali diartikan sebagai teman-teman Tuhan seperti disebut dalam firman Allah Swt.:

Ingatlah! Sesungguhnya pada kekasih-kekasih (wali-wali) Allah itu tidak ada perasaan takut dan perasaan menderita (Q.S. Ynus, ayat 62).

Nabi Muhamad Saw. mengemukakan bahwa, sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah ada yang disenangi (pujaan) para nabi dan syuhada2. Mendengar Nabi bersabda demikian, para sahabat menjadi penasaran, kemudian menanyakan siapa sebenarnya yang dikehendaki, barangkali mereka juga akan menjadikannya pujaan. Selanjutnya Nabi menegaskan: mereka adalah sekelompok manusia yang hidup rukun (saling mencintai, menyayangi) dengan sinar cahaya illahi tanpa terpengaruhi oleh faktor harta dan nasab (garis keturunan), wajah-wajahnya bersinar bagaikan cahaya, mereka berada di atas mimbar (terbuat) dari cahaya, dan tidak pernah khawatir (ketakutan) pada saat manusia sedang didera ketakutan serta tidak pernah merasa susah ketika manusia yang lain sedang bersusah.

Secara literal, dua landasan di muka membuktikan bahwa di dunia ada kekasih-kekasih Allah yang dikembangkan dengan panggilan wali. Yang menjadi perhatian, dapatkah wali-wali itu teridentifikasi. Menurut Abu Abdillah al-Salimi - tokoh sufi awal abad kesepuluh- menuturkan definisi wali, mereka yang dapat dikenali karena bicaranya yang baik-baik, tingkah laku yang sopan dan merendahkan diri, murah hati, tak suka berselisih dan menerima permintaan maaf dari siapa saja yang meminta maaf kepadanya, halus budi terhadap segala ciptaan, baik yang bagus maupun yang jelek.3

Ia lebih cenderung mendefinisikan seorang wali dengan perilaku (akhlak). Sementara menurut Ibnu Arabi, seorang bisa dikatakan wali apabila ia sudah mencapai tingkatan makrifat4 (gnosis), tingkatan tertinggi dalam kalangan tasawuf. Kaum sufi yakin bahwa makrifat bukan hasil pemikiran manusia, tetapi tergantung pada kehendak dan rahmat Allah.

 

 

Yang terbayang pada seorang wali adalah peristiwa menakjubkan. Bahkan kebanyakan orang mudah menyebut seorang itu wali kalau sudah terbukti kehebatan-kehebatan diluar kebiasaan. Hal ini, dalam teori tasawuf dinamakan dengan karamah (Jawa: keramat).5 Keyakinan bahwa keramat itu ada pada seorang wali termasuk dilegitimasi aliran Ahlusunah Wal-Jamaah.



1 Ensiklopedi Islam, Perpustakaan Nasional: katalog Dalam Terbitan (KDT), PT. Ichtiar Baru van Hoeve, jakarta (th. 1999), bag. V, hlm. 172.

 

2 Syuhada adalah bentuk jamak dari kata tunggal syahid. Ialah orang-orang muslim yang meninggal dunia ketika perang menegakkan agama Islam. Dinamakan syahid karena yang bersangkutan melakukan kesaksian terhadap kebenaran (al-haqq) dalam urusan Allah Swt.

3 Ensiklopedi Islam, loc. cit.

4 Makrifat dalam arti umum, ilmu atau pengetahuan yang diperoleh melalui akal. Dalam ilmu tasawuf, ia berarati mengetahui Allah Swt. dari dekat. Dengan makrifat seorang lewat hati sanubarinya dapat melihat Tuhan. Karenanya, para sufi mengatakan, jika mata yang terdapat dalam hati sanubari manusia terbuka, maka mata kepalanya akan tertutup dan ketika itu yang dilihatnya hanya Allah Swt. Makrifat merupakan cermin, jika dilihatnya cermin itu maka yang akan dilihatnya hanya Allah Swt. Yang dilihat orang arif sewaktu tidur maupun bangun hanya Allah. Ungkapan para sufi tersebut selain menggambarkan dekatnya seorang arif dengan Tuhannya, juga menjelaskan bahwa pengetahuan dalam bentuk makrifat merupakan pengetahuan langsung yang ada pada Allah Swt. yang dianugerahkan-Nya kepada mereka yang diberi kemampuan menerimannya. Makrifat merupakan cahaya yang memancar ke dalam hati, menguasai daya yang ada dalam diri manusia dengan sinarnya yang menyilaukan.

5 Karamah ialah kejadian luar biasa-yang tidak disertai pengakuan sebagai nabi-yang nampak pada seorang berperilaku baik dengan secara tulus mengikuti tuntunan-tuntunan syariat, keyakinan yang benar dan berakhlak. Periksa: Syeh Muhamad Amin al-Kurdi al-Irbili (w. 1332), Tanwir al-Qulub, al-Hidayah, Semarang, hlm. 431