MUNAFIK

"Penyebab Kehancuran Umat Islam

Perilaku manusia sehari-hari, baik dalam konstruksi sosial kemasyarakatan maupun keagamaan, seringkali menampakkan profil-profil manusia yang pandai bermanis muka, bersilat lidah, atau menampakkan kebaikan tapi hatinya menyembunyikn keburukkan. Hal itu bisa muncul sebagai akibat dari rasa inferior, kalah power, menyembunyikan kekurangan, menghilangkan jejak tertentu, atau memasang topeng agar tidak mencurigakan. Cara-cara seperti ini memang paling efektif guna memperoleh kemenangan di atas kekuatan dan keunggulan lawan.

Secara empiris, sumber perpecahan umat manusia tidak lepas dari ulah orang-orang yang berperilaku kronis semacam ini. Tidak terkecuali dengan Umat Islam. Benih-benih perpecahan umat timbul sebagai akibat faktor kemunafikkan dari dalam.

MAKNA MUNAFIK

Istilah munafik (Arab: munafiq) berasal dari akar kata na-fa-qa. Secara linguistika, kata na-fa-qa dapat berarti terowongan atau lubang tembus.1 Dari akar kata ini, lahirlah kata nafiqa, yaitu sejenis tikus. Sebagai ilustrasi, biasanya tikus tikus bersembunyi di dalam terowongan. Mereka memiliki dua jalan masuk dan keluar, yaitu mulut terowongan yang ada pada kedua ujungnya. Apabila si tikus ditemukan berada di mulut terowongan yang satu, maka ia akan lari ke mulut terowongan yang lain. Demikian juga dengan orang munafik; saat belangnya diketahui orang, ia akan berkelit dengan menunjukkan sikap yang dibuat-buat agar dirinya selamat. Inilah akar kata munafik dalam bahasa Arab yang mempunyai kemiripan karakter dengan realitas empirik.

Dalam perkembangan selanjutnya, kata na-fa-qa kemudian dijadikan term bagi setiap orang yang menampakkan keimanan, padahal di dalam hatinya tersimpan benih-benih penentangan.2 Dalam bahasa pergaulan sehari-hari, istilah munafik mungkin searti dengan penghianat agama dan sosial.

Sementara Ibnu Katsir mendefinisikan munafik dengan tindak-perbuatan yang melahirkan kebaikan tapi hatinya menyimpan keburukkan. Menurutnya, sifat munafik terutama--bisa dijumpai dalam akidah. Jenis kemunafikan ini menyebabkan pelakunya masuk ke neraka selamanya. Juga dalam hal amaliyah, kemunafikan dalam domain ini termasuk pelanggaran agama (dosa) paling besar. Ibnu Jarir menjelaskan, orang-orang munafik memiliki karakter pribadi yang tidak konsisten antara ucapan dan perbuatannya. Perilaku mereka berbeda di saat kondisi ramai dan sepi, atau ketika berada di hadapan orang lain dan saat beraktivitas seorang diri.3

Ketika mulut seseorang mengatakan iman, lalu secara lahiriyah ia menampakkan sikap hati-hati menjaga norma-norma syariat, padahal di dalam hatinya menentang, maka itulah yang dinamakan munafik.4 Jadi sangat kontras perbedaan antara perilaku seorang mukmin dan munafik. Orang mukmin adalah mereka yang berserah diri kepada Allah sehingga selaras antara hati dan tindakan. Pengakuannya sangat tulus bahwa Allah-lah satu-satunya sumber otoritas yang serba mutlak. Konsekwensi keimanan seperti itu tidak tampak pada seorang munafik. Seorang munafik, ucapan dan tindakan yang kelihatan beriman tidak didasari oleh kesungguhan berpasrah diri (dalam hati) kepada Allah Swt. Tapi Allah Swt. mengetahui semua itu. Allah Swt. Maha Mengetahui mana yang mukmin dan mana yang munafik. Sebagaimana dalam firman-Nya:

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui orang-orang beriman dan orang-orang munafik (QS. Al-Ankabt [29]: 11)

Ayat al-Quran yang secara literal menyinggung kata munafik dapat ditemukan dalam surat-surat Madaniyah, yakni ayat-ayat yang turun di kota Madinah. Ini artinya, embrio kemunafikan umat Islam muncul setelah Nabi Saw. dan para sahabatnya hijrah ke Madinah. Ketika masih berada di Mekah, sikap-sikap munafik belum ada sama sekali. Sebab penduduk Mekah (Kuraisy) bersikap terbuka dalam melakukan penentangan dan permusuhan terhadap Nabi, meskipun dalam hati mereka percaya akan kenabian Muhammad Saw. Saat tiba pertama kali di Madinah, kehadiran Nabi Muhammad Saw. disambut baik dan diterima dengan penuh antusias oleh penduduk Madinah, terutama oleh Suku Aws dan Khazraj. Para penyambut ini kemudian dinamakan kaum Anshar (baca: penolong Nabi). Padahal sebelumnya mereka terdiri dari para penyembah berhala (paganis) dan penganut agama Yahudi. Mayoritas yang tulus memeluk agama Islam adalah Suku Aws dan Khazraj ini, sementara dari penganut Yahudi hanya Abdullah ibn Salam r.a.

Pada permulaan kedatangan Nabi, penduduk asli (indegenous) Madinah tidak menyimpan benih-benih kemunafikkan, karena pada waktu itu kekuatan kaum muslimin belum dinilai membahayakan. Disamping itu, Islam hanyalah agama baru yang tergolong minoritas, sehingga tidak begitu diperhitungkan oleh suku-suku ataupun agama-agama lain yang telah lebih dahulu menempati Madinah. Bahkan pada perkembangan selanjutnya, Nabi Muhammad Saw. berhasil menandatangani memorandum perdamaian dengan kaum Yahudi dan kabilah-kabilah berpengaruh di Madinah. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan nama Piagam Madinah.

Pasca perang Badar5 (kemenangan di pihak muslimin), Nabi menerima wahyu dari Allah Swt. yang berisi perintah untuk mengangkat tinggi-tinggi panji agama Islam dan melindungi martabat pemeluknya. Sebelumnya, penduduk Madinah sepakat mendaulat Muhammad Saw. sebagai pemimpin mereka. Penobatan tersebut secara lahiriyah disetujui oleh seluruh lapisan masyarakat Madinah. Dari sinilah embrio kemunafikan mulai tertanam pada penduduk asli Madinah, yang merasa dilancangi karena pemimpin mereka berasal dari luar Madinah. Berbeda dengan Kaum Muhajirin yang tidak diragukan keyakinan dan ketulusan hati mereka mengikuti ajaran Islam. Bahkan dengan setulus hati mereka rela meninggalkan harta benda dan tempat tinggal guna menuai kebahagiaan abadi di akhirat kelak.6

Pada saat situasi dan kondisi umat Islam mulai kurang harmonis, karena di antara mereka tertanam benih-benih kemunafikan, Allah Swt. menurunkan wahyu-Nya:

Dan sebagian dari manusia ada yang mengatakan: kami beriman kepada Allah dan hari akhir, padahal mereka tidak beriman. (QS. Al-Baqrat [2]: 8)

Ayat ini secara gamblang menuturkan bahwa orang-orang munafik adalah mereka yang secara lahiriyah kelihatan beriman, padahal di dalam hatinya tidak beriman. Menurut Abu al-Aliyah, Hasan dan Qatadah, diturunkannya wahyu ini bertujuan untuk memberitahukan Nabi Muhammad Saw. tentang keberadaan orang-orang munafik dari Suku Aws dan Khazraj. Allah Swt. menghendaki agar umat Islam lebih waspada dan mawas diri, sehingga mereka tidak terbujuk dengan perilaku lahiriyah orang-orang munafik yang kelihatan manis. Jika tidak diwaspadai, maka hal ini akan membawa bencana besar bagi muslimin, karena orang-orang munafik itu sebenarnya adalah kafir. Mereka tampak beriman hanya di hadapan Nabi Muhammad Saw., tapi di lain waktu kembali ke habitatnya sebagai orang kafir.7

MUNAFIK DALAM KONTEKS AL-QURAN DAN HADITS

Al-Quran menyebutkan kata munafik dalam 27 tempat dan diungkapkan dengan bangunan kata (sighat) berupa kata sifat/mashdar nifq. Bahkan ada surat khusus yang memakai istilah Munfiqn (subyek nifaq, yang berarti: orang-orang munafik).

Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari, suatu hari Zayd ibn Arqam dengan tidak sengaja mendengar pembicaraan (bisik-bisik) Abdullah ibn Ubay ibn Salul beserta Cs-csnya. Mereka mengatakan: Kalian jangan memberikan perbelanjaan kepada orang-orang yang ada di sekitar Rasulullah, biar mereka bubar. Jika kita kembali ke Madinah, sungguh orang-orang yang kuat akan mengusir orang yang lemah daripadanya. Lalu Zayd laporan kejadian itu kepada pamannya. Tanpa banyak bicara, pamannya langsung mengadukan hal itu kepada Rasulullah Saw. Setelah mendengar pengaduan itu, beliau memerintahkan salah seorang sahabatnya untuk meminta klarifikasi kepada Abdullah ibn Ubay dan teman-temanya. Tapi apa yang terjadi, Abdullah dan teman-temannya justru menuduh laporan tersebut sebagai fitnah, dan untuk meyakinkannya mereka berani bersumpah.

Zayd sebagai orang yang pertama kali membawa berita itu tentu saja tidak habis pikir dengan tindakan Abdullah bin Ubay dan kawan-kawannya itu. Mereka berani bersumpah walaupun jelas-jelas salah. Imbasnya, kaum Muslimin lainnya menganggap Zayd membawa berita bohong kepada Nabi Muhammad Saw. Hal itu menjadikan Zayd tertekan mental, merasakan kesusahan dan kebingungan luar biasa. Di tengah kebingungan itu, ia terus memikirkan kejadian yang baru saja dialami dengan mendekam seorang diri di dalam rumah. Pada saat itu juga Allah Swt. mewahyukan kepada Nabi Saw. bahwa kejujuran berada di pihak Zaid. Setelah menerima berita dari langit itu, Nabi Saw. kemudian menemui Zayd, dan setelah bertemu dengannya beliau mengatakan: Allah telah membenarkan kamu.8

Secara umum, sikap-sikap munafik itu sebenarnya cuma dimiliki oleh penduduk asli Madinah yang tidak sepenuh hati menerima kepemimpinan Rasulullah SAW. Sementara kaum Anshar yang terdiri dari suku Aws dan Khazraj, benih-benih kemunafikan di kalangan mereka tidak begitu signifikan. Tak heran bila kebaikan dan kejujuran kaum Anshar ini sering mendapat pujian dan pembelaan dari Allah Swt. dan Rasulullah SAW. Di antara pembelaan Nabi Muhammad Saw. terhadap kaum Anshar ialah pengakuan bahwa mereka disenangi oleh orang-orang beriman, dan seandainya ada orang yang membenci kaum Anshar maka itu adalah kelompok orang-rang munafik. Nabi Saw. bersabda: Barangsiapa mencintai kaum Anshar maka akan dicintai oleh Allah, dan berangsiapa membenci mereka maka akan dibalas dengan kebencian juga oleh Allah. (HR. Muslim).

 

KARAKTERISTIK ORANG MUNAFIK

Dalam menjauhi perbuatan munafik, para sahabat diakui sangat berhati-hati. Fakta ini disaksikan oleh Ibn Abi Malikah ketika ia bertemu dengan tiga puluh orang sahabat. Ibn Abi Malikah sangat kagum pada kepribadian mereka, terutama dalam menjaga diri dari perbuatan munafik. Para sahabat tidak berani mendekati kemunafikan dan menganggapnya sebagai racun berbahaya. Bagi yang merasa sifat munafik itu membahayakan tentu akan berusaha menghindarinya.9

Mengenai karakteristik orang-orang munafik, Nabi Muhammad Saw. bersabda: Ada tiga perbuatan yang apabila salah satunya ditemukan pada seseorang maka ia termasuk orang munafik meskipun dia berpuasa atau menjalankan shalat dan mengaku sebagai muslim. Yakni, orang yang ketika berbicara berdusta, ketika berjanji menginkari, dan ketika dipercaya berkhianat.10

Sementara riwayat lain menyebutkan, ada empat karakteristik munafik. Hal ini terungkap dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim:

Empat sifat yang apabila seseorang melakukannya maka ia dinamakan munafik. Dan apabila salah satu sifat saja melekat pada seseorang maka berati ia menyimpan satu sifat munafik sebelum meninggalkannya: yaitu, seorang yang ketika berkata ia dusta, ketika berjanji tidak menepati, ketika bermusuhan licik, dan ketika mengadakan perjanjian dia berkhianat. (HR. Bukhari dan Muslim).11

Dikisahkan, ketika Nabi Muhammad Saw. dan para sahabat sedang dalam perjalanan pulang dari perang, tiba-tiba mereka dikagetkan dengan suara angin kencang, bahkan pelana-pelana kuda mereka banyak yang terlepas. Spontan Nabi Saw. memberitahukan bahwa ini merupakan pertanda kematian orang munafik. Setelah sampai di Madinah, mereka menyaksikan dengan kepala sendiri bahwa perkataan Nabi Saw. tidak keliru. Bahkan orang munafik yang mati itu termasuk orang yang memang terkenal licik, sehingga para sahabat tidak sampai geger dibuatnya.12

Dalam riwayat lain dikisahkan, ketika Umar ibn al-Khatthab menyampaikan pidato di atas mimbar yang biasa digunakan Nabi Saw., ia mengatakan lebih dari hitungan jari: Hal yang paling aku takutkan pada umat Islam ialah orang munafik yang pandai. Saat itu, ada hadirin yang menanyakan: Bagaimana orang munafik disebut pandai? Kemudian Umar menjawab: Yang saya maksud ialah orang yang pandai berbicara tapi tidak memperhatikan hati dan amalnya.

Jika ditelusuri, sebenarnya pesan itu berasal dari sabda Nabi Saw. Akan tetapi, dalam sabda Nabi Saw. itu, kalimat yang beliau sampaikan hanya: orang munafik yang pandai. Dengan demikian, Umar hanya menafsiri sabda tersebut dengan mengatakan, bahwa maksud munafik yang pandai adalah kepandaian dalam bicara tapi tidak ada buktinya.

Berdasarkan ayat-ayat al-Quran dan hadits-hadits Nabi Saw. yang telah di sebutkan sebelumnya, serta dukungan dari riwayat-riwayat lainnya, dapat disimpulkan bahwa karakter dasar orang munafik terbagi dalam lima perilaku:13

1)     Berkata dusta di hadapan orang yang membenarkan. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi Saw. yang artinya: Sangat besar penghianatan kalian ketika berkata kepada seorang saudara yang membenarkan (serius) tapi kalian membohonginya.

2)     Berjanji tapi tidak menepati. Karakter ini terbagi dua macam: pertama, berjanji yang didahului niat untuk tidak akan memenuhinya. Misalkan berjanji akan datang pada hari jumat, dan sudah berniat tidak akan menepati, maka janji semacam itu disamping kedustaan juga penghianatan; kedua, saat berjanji berkeinginan menepati, tapi ketika telah tiba saatnya dia tidak memenuhi tanpa ada alasan yang benar.

3)     Berbuat licik dan curang dalam permusuhan (fujr).14 Perbuatan semacam ini umumnya didorong oleh sikap dusta dan kebohongan. Nabi Muhammad Saw. bersabda: Takutlah pada perbuatan dusta karena itu hanya akan mengajak pada kecurangan, dan kecurangan akan menggiring ke neraka.

4)     Tidak konsisten atas kesepakatan, dan mudah merusak janji. Padahal Allah mengajak manusia menepati janji, sebagaimana firman-Nya: Dan penuhilah perjanjian, sesungguhnya janji itu akan dimintai pertanggungjawabannya. (al-Isr, ayat: 34)

5)     Mengkhianati amanat. Padahal seharusnya amanat disampaikan kepada yang berhak. Pesan itu diuraikan dalam surat al-Nis [4]: 58, yang artinya: Sesunggguhnya Allah memerintahkan kalian menyampaikan amanat pada yang berhak.

 

KLASIFIKASI DAN BALASAN ORANG MUNAFIK

Di awal telah disinggung bahwa, sifat munafik terkadang bersentuhan dengan aspek akidah dan terkadang dengan aspek amal-lahiriyah. Sifat munafik bagian pertama disebut sebagai kemunafikan yang besar (nifq al-akbar),15 dan yang kedua disebut munafik yang kecil (nifq al-asghar).

Pertama, munafik dalam hal akidah ialah perbuatan yang secara lahir menunjukkan keimanan kepada Allah Swt., para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, dan hari kiamat, padahal hatinya tidak beriman, entah pada semua obyek keimanan tersebut maupun hanya pada salah-satunya saja.16 Menurut Abu al-Faraj, munafik jenis ini merupakan realitas sosial dan keagamaan yang dihadapi Rasulullah Saw. mengahadapi penduduk asli Madinah. Saat itu, penduduk asli Madinah menunjukkan kemunafikan yang bertalian dengan aspek akidah. Jadi mereka diragukan keimanan dalam batinnya. Allah Swt. memastikan bahwa golongan munafik adalah termasuk orang kafir. Golongan ini mendapat ancaman (ultimatum) dari Allah Swt. dalam surat al-Tahrm [66]: 9:

Wahai Nabi! Perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka Jahanam, dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.

Menurut Ibn Katsir, ayat itu menjelaskan perintah memerangi orang-orang kafir dan orang munafik, juga berita akan posisi orang munafik, ketika di dunia mungkin bisa berdampingan dengan umat muslim, tapi tidak akan berlanjut sampai akhirat. Sesuai dengan janji Allah Swt., mereka akan berada di neraka Jahanam, sementara orang muslim akan menikmati surga.

Kedudukan orang-orang munafik, baik di dunia maupun akhirat, diilustrasikan oleh Allah Swt. pada istri Nabi Nuh dan Nabi Luth. Hal ini tercermin dalam kelanjutan ayat di muka:

Allah menjadikan istri Nuh dan Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shaleh di antara hamba-hamba Kami: lalu keduanya berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tidak dapat membantu sedikitpun dari (siksa) Allah: dan dikatakan (kepada keduanya), Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).(QS. Al-Tahrm [66]: 10).

Orang-orang munafik, meski saat di dunia berkumpul (musyarah) dengan orang muslim, tidak ada jaminan dia akan selamat seperti orang-orang muslim lainnya di akhirat. Dapat kita bayangkan, istri seorang nabi yang setiap waktu berkumpul, entah saat makan atau tidur, tapi karena hatinya berkhianat,17 di akhirat tetap masuk neraka dan suaminya yang notabene seorang nabi tidak bisa memberi pertolongan.

Kedua, munafik dalam aspek amal-perbuatan. Yakni perilaku seorang yang secara lahiriyah menampakkan gerak-gerik sebagai orang baik padahal hatinya menyimpan keburukkan.

Mengenai jenis kemunafikan pertama (akidah), menurut analisa Hasan ibn Abi Hasan al-Bashri, telah ditemui pada masa Nabi Muhammad Saw. Sementara jenis kedua yang menyangkut amal-perbuatan disinyalir akan tetap eksis sampai datangnya hari kiamat. Dalam konteks kekinian, kemunafikan dalam aspek akidah justru secara terang-terangan memperlihatkan wajah kafirnya setelah sebelumnya menyatakan keimanan.18 Allah Swt. berfirman:

Tidakkah mereka tahu bahwasannya Allah maha mengetahui rahasia dan bisikkan mereka (QS. Al-Tawbat [9]: 78).

Mengutip penafsiran al-Qurthubi, ayat ini mengandung nilai taubikh (celaan) kepada orang-orang munafik yang perbuatannya menggambarkan ketidakpercayaan atas pengawasan Allah Swt. Padahal Allah Swt. tidak pernah lalai atas perbuatan manusia, siapa pun orangnya. Kalau Allah Maha Tahu maka tentu Ia akan memberi balasan atas perilaku busuk orang-orang munafik.19

Hudzaifah ibn Yaman saat ditanya mengenai orang munafik menjawab: Munafik adalah orang yang menamakan diri sebagai orang Islam tapi tidak berperilaku layaknya orang muslim. Menurut Khudzaifah, sifat munafik zaman sekarang lebih jahat dari orang-orang munafik pada masa Nabi Saw. Sebab orang-orang munafik pada masa Nabi Saw. biasanya masih sembunyi-sembunyi, sementara sekarang mereka sudah berani terang-terangan.20

Pelanggaran agama (dosa) meskipun bertumpuk-tumpuk, menurut Ibn al-Arabi, memang tidak akan menyebabkan pelakunya kafir, selama tidak menyentuh wilayah akidah. Ibn Arabi mendasari argumennya pada perbuatan saudara-saudara Nabi Yusuf as. yang menginkari janji mereka kepada bapaknya, Yaqub as., dan berbicara tapi dusta, hingga dipercaya menemani Yusuf, akan tetapi menghianati kepercayaan itu. Dengan perilaku-perilaku tersebut mereka tidak dikatakan sebagai orang-orang munafik, bahkan dalam pandangan Atha ibn Abi Rabat, mereka telah diangkat sebagai nabi.21

Jadi, kemunafikan dalam konteks ini adalah kemunafikan yang tidak mempunyai keterkaitan dengan akidah. Sebab perbuatan itu hanya berada dalam ranah amal-perbuatan. Lain halnya dengan munafik dalam aspek akidah. Sebab dalam akidah, titik tekan iman berada pada pembenaran batin, sehingga sikap munafik dalam lanskap ini tidak lagi termasuk kategori mukmin.

Dalam hadits riwayat Ibn Masud, diterangkan bahwa barangsiapa yang menipu Nabi Saw., maka dia bukan golongannya. Dan tipu daya (makar) serta penipuan akan menjadi penyebab masuk di neraka. Sifat itu tidak lain tidak bukan--adalah watak orang-orang munafik. Dengan sangat indah, Abu al-Itahiyah merangkai syair mengenai akibat kemunafikan:

  Tiadalah dunia kecuali dengan adanya agama, dan tidak ada agama kecuali berupa pesan-pesan moral (akhlq al-karmat).

  Sesungguhnya makar dan penipuan itu menyebabkan neraka, dan itu adalah karakter orang munafik.22

 

Cara Menghadapi Orang Munafik

Kemunafikan merupakan fenomena sosial yang selalu ada di mana saja dan kapan saja. Karena itu, dalam menghadapi perilaku seperti ini alangkah baiknya kita selalu merujuk pada petunjuk Allah Swt. Sebab jika kita hanya mengandalkan potensi manusiawi, maka bisa saja yang terjadi adalah unsur balas dendam atas tindakan munafik orang lain. Allah Swt. berfirman dalam surat al-Nisa [4]: 89:

Mereka ingin supaya kalian menjadi kafir sebagaaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kalian menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kalian jadikan di antara mereka penolong-penolong, hingga mereka hijrah ke jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka dimana saja kalian menemuinya, dan janganlah kalian menjadikan seorangpun diantara mereka sebagai pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong.

Dalam menafsiri ayat ini, Ibn Katsir menyatakan bahwa orang-orang munafik berharap sekali umat Islam yang lain akan ikut tersesat bersama mereka. Keinginan itu dibangun atas dasar permusuhan dan kebencian kepada kaum muslimin lainnya. Karena itu, Allah Swt. mengingatkan agar umat Islam tidak sekali-kali menjadikan mereka sebagai penolong, sampai mereka mau hijrah di jalan Allah dengan jalan bertaubat. Jika mereka menolak hijrah, maka mereka akan ketahuan belangnya. Selanjutnya, mereka boleh ditawan atau diperangi. Selama mereka masih berada dalam jurang kemunafikan, maka tidak selayaknya menjadikan mereka sebagai pelindung dan penolong.23

Dari sini dapat ditarik benang merah, bahwa cara menghadapi orang-orang munafik adalah dengan langkah berikut: (1) tidak menjadikan mereka sebagai pelindung, penolong, dan pemimpin; (2) bersikap tegas atau memerangi mereka; (3) waspada dan tidak mudah tergoda oleh ajakan mereka, karena orang-orang munafik memang pandai bersilat lidah dan bermanis muka.

Selanjutnya, al-Syahrastani menegaskan bahwa, kemungkinan besar keruntuhan agama atau perpecahan umat pada akhir zaman akan sama dengan benih kerusakan (syubhat) yang terjadi sejak awal sejarah agama bersangkutan, yaitu ulah perbuatan orang kafir dan munafik. Tapi unsur yang paling dominan adalah kerusakan yang ditimbulkan oleh perilaku orang-orang munafik. Di kalangan umat Islam sendiri, akar perpecahan dan pertentangan muncul dari perbuatan orang-orang munafik. Mereka sebenarnya tidak menerima ajaran syariat yang dibawa nabi Muhammad Saw., baik yang berupa perintah maupun larangan. Secara lahir mereka memang percaya, tapi dalam hatinya membenci. Bagaikan musuh dalam selimut, sehingga agak sulit diberangus.

Pada masa Nabi Saw., perilaku munafik terlihat dalam kebiasaan mereka menanyakan atau menyangkal ajaran yang disampaikan Nabi Muhammad Saw., yang sebenarnya tidak layak ditanyakan. Salah seorang munafik23 pernah berkata kepada Nabi: Wahai Muhammad, berbuat adillah! (kalau begini) maka engkau tidak adil. Kemudian Nabi Saw. mengatakan: Jika aku tidak adil, lalu siapa yang berbuat adil (menurut kamu)?. Setelah itu beliau bersabda lagi: Ini merupakan bagian yang telah ditentukan oleh Allah.24 Dari sini nampak sikap inkonsistensi mereka sebagai mukmin. Mereka yang sejak awal sudah tidak tulus menerima ajaran Rasulullah SAW. selalu merasa keberatan bila harus tunduk dan patuh pada kebenaran pesan-pesan yang diterima Nabi Muhammad Saw. dari Allah Swt.

Ketika Muadz bin Jabal merasakan ajalnya semakin dekat, ia berpesan kepada anaknya, Hasan, bahwa hal yang sangat ia khawatirkan adalah perdebatan kaum munafik mengenai kandungan al-Quran.25 Al-Quran dirurunkan untuk dipahami, tapi bila upaya itu dilakukan oleh orang-orang munafik, menurut Muadz, yang akan muncul bukan penafsiran yang benar, melainkan pemahaman yang ragu-ragu. Terakhir, Muadz berpesan: Apa yang engkau pahami dari al-Quran maka ambil dan terimalah. Dan sesungguhnya orang yang tidak memiliki kekayaan dunia niscaya ia bukan beragama. Setelah itu, Hasan menanyakan maksud ucapan terakhir itu kepada bapaknya. Sahabat Muadz kemudian menjelaskan: Barangsiapa yang tidak memiliki amal kebaikan di dunia, maka sebenarnya dia tidak beragama.

Akhirnya, harus kita sadari bahwa semua bentuk kemunafikan dapat mendatangkan kerugian besar, baik terhadap agama maupun masyarakat. Pendapat atau pandangan orang-orang munafik itu tidak bisa dijadikan tolak ukur dalam menentukan esensi kebenaran dan kabaikan, sebab yang mereka katakan hanyalah apa yang keluar dari lidah, bukan apa yang tertanam dalam hati. Banyak orang pandai tapi tidak berarti memiliki konsistensi beragama yang tinggi. Dan, yang harus dicatat adalah, kemunafikan pada akhirnya akan tersingkap, baik ketika masih di dunia ataupun di akhirat kelak. Wa Allah Alam bi al-Shawab. []



1 Atabik Ali dan Ahmad Zuhdi Muhdhar, Kamus Kontemporer Arab-Indonesia, Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta, cet. Kedua, h. 1934.

2 Syarif Ali ibn Muhammad al-Jarjani, Kitab al-Tarifat, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, h. 236.

3 Sulaiman ibn Umar ibn Katsir al-Dimisyqa Abu al-Fada, Tafsir al-Quran al-Adzim, Dar al-Fikr, Beirut, vol. I, h. 44.

4 Abu Manshur al-Maturidi, al-Tawhid, Dar al-Jamiat al-Mishriyah, Iskandariyah, vol. I, h. 380.

5 Peperangan yang terjadi antara kaum musyrikin Quraisy Mekah melawan kaum muslim yang hijrah ke Madinah bersama-sama dengan kaum Anshar pada 17 Ramadhan di lembah Badar. Badar ialah pangkalan air terkenal yang terletak antara Madinah dan Mekah, tak seberapa jauh dari Laut Merah (di sebelah barat daya Madinah). Peperangan ini dimenagkan oleh kaum muslim meskipun jumlah kaum muslimin jauh lebih sedikit dibanding tentara Quraisy. Kekuatan kaum muslim berjumlah 313 prajurit dengan 70 unta dan tidak lebih tiga ekor kuda yng ditunggangi secara bergantian. Sementara kaum Quraisy berjumlah 1.000 orang, 600 orang di antranya infantri berbaju besi, 100 orang tentara berkuda (kavaleri) merangkap kompi perbekalan (logistik), dan 300 tentara cadangan merangkap sebagai regu musik. Baca : Ensiklopedi Islam, Katalog Dalam Terbitan (KDT), pen. PT Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta, vol. pertama tahun 1999 huruf. B h. 212.

6 Sulaiman ibn Umar ibn Katsir al-Dimisyqa Abu al-Fada, Loc. cit.

7 Ibid.

8 Syeh Muhammad Nawawi al-Jawi, Tafsir al-Munir al-Mualim al-Tanzil, Dar Ibn Abud, al-Baqa, Libanon, vol. II, h. 431

9 Imam ibn Husayn Muslim bin al-Hujaj bin Muslim al-Qusayri al-Naysaburi, al-Jami al-Shahih Muslim, Dar al-Fikr, Beirut Libanon, vol. I, h. 177.

10 Ibid, h. 490.

11 Zainudin Abi al-Faraj Abdurahman ibn Syihabudin (Ibn al-Rajab), Jamial-Ulum wa al-Hikam, Muasasah al-Risalah, Beirut, Libanon, vol. II, h. 480.

12 Abu al-Hatim Muhamad bin Ahmad Ibnu Hibban, Shahih Ibn Hiban, Muasasah al-Risalah, Beirut, vol. 14, h. 426.

13 Zainudin Abi al-Faraj Abdurahman ibn Syihabudin Ibn al-Rajab, Op. cit. h. 482.

14 Maksud Fujur di sini adalah sengaja tidak peduli dengan kebenaran. Bahkan sesuatu yang benar dianggapnya salah dan juga sebaliknya. Serta, membela diri sendiri dengan cerita-cerita di hadapan orang lain mengaku dalam pihak yang benar. Ibid, h. 486

15 Pembagian sifat munafik ulama sepakat menjadi dua. Antara ulama hanya berbeda dalam sisi pemberian istilah. Sebagian, seperti Hasan ibn Abi Hasan al-Bahsri, ada yang menyebut munafik iqtiqad dan amal, akbar dan asghar, dan lainya. Periksa: masing-masing referensi (kesimpulan penulis)

16 Zainudin Abi al-Faraj Abdurahman ibn Syihabudin Ibnu Rajab, Op. cit, h. 481.

17 Yang dimaksud berkhianat di sini dalam hal keimanan (al-din). Kedua istri nabi itu ternyata tidak mengimani dan tidak membenarkan kerasulan suaminya. Sekali lagi, bukan berkhianat dengan berbuat serong. Karena istri-istri nabi mendapat jaminan kesucian dari perbuatan bersetubuh dengan orang lain, demi nama baik dan kehormatan suami-suaminya. Periksa: Sulaiman ibn Umar ibn Katsir al-Dimisyqa Abu al-Fada, Op. cit, vol. 4, h. 390.

18 Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakar bin Farh Ab Abdillah Al-Qurthubi, Al-Jami li Ahkm al-Quran. t.t. Kairo: Dar al-Syabi, vol. VIII, h. 214.

19 Ibid.

20 Hadis tersebut diriwayatkan oleh imam Bukhari dari Hudzaifah, Ibid.

21 Ibid.

22 Zainudin Abi al-Faraj Abdurahman ibn Syihabudin (Ibn al-Rajab), Op. cit. h. 494.

23 Baca dalam: Ab al-Fid, Isml bin Umar bin Katsr al-Damsqi. Tafsir Ibn al-Katsr. t.t. Beirut: Dr al-Fikr, tepat dalam surat al-Nis, [4]: 89.

23 Munafik itu bernama Dzu al-Khuwaisharah al-Tamimi. Ia adalah Hurqus ibn Zahir yang menyaksikan bersama sahabat Ali r.a. di tanah Shiffin. Setelah itu dia menjadi kelompok Khawarij dan yang paling menentang Ali r.a.

24 Syahrastani, Imam Abu al-Fath Muhamad Abdul Karim, al-Milal wa al-Nihal, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, h. 10.

25 Abu al-Qasim, HibatuLlah bin Hasan bin Manshur al-Lalikai, ed. Ahmad Sad Hamdan, Syarh Ushul Itiqad Ahlusunnah wa al-Jamaah min al-Kitab wa al-Sunnnah ma al-Shahat, vol. I, h. 122.