NU DAN TRADISI

Oleh: Prof. Dr. KH Said Aqil Siradj MA.*)

 

            Membaca wajah NU dengan pendekatan yang serampangan seperti menggunakan kacamata “tradisional” dan “modernis” jelas sangat tidak memadai sekarang ini. Spektrum intelektualisme NU terbukti tidaklah tunggal.  Dinamika pemikiran Islam terutama di kalangan anak-anak muda NU terlihat sudah sedemikian menggejolak. Kalau saya ibaratkan seperti “bom waktu” dalam kapasitas high explosive yang sudah meledak dan seakan menggoncang bangunan pemikiran Islam yang telah terpatri.

            NU yang selama ini dianggap sebagai organisasi tradisional dengan basis pesantren, justru memperlihatkan gairah progresifitas berfikir, dibanding dengan organisasi Islam modernis yang malah nampak stagnan dan resisten. Kitab kuning yang telah ditulis para ulama berabad-abad lalu dan dijadikan sebagai salah satu referensi utama oleh warga nahdhiyin, ternyata justru membuka wawasan yang membentang luas dalam mencermati perubahan sosial. Pemahaman agama bergerak tidak lagi secara tekstual, tetapi “kontekstual”. 

            Menariknya, pembaharuan pemikiran yang dilakukan anak muda nahdhiyin ini bukan karena tuntutan akademis, melainkan semata karena keterpanggilan realitas sosial yang sehari-hari mereka gumuli bersama masyarakat grassroot. Kalau saya membaca pergulatan pemikiran Islam di NU sesungguhnya masih berpijak pada suatu upaya menyambungkan dari tradisi ke modernitas (al-tawashul min al-turats ila al-tajdid). Hal ini, berbeda dengan yang terjadi seperti pada masa pencerahan pemikiran di Barat yang secara tegas melakukan pemutusan dan pemisahan dengan tradisi (al-inqitha’).

             

            Tradisi (al-turâts) merupakan pedoman dan piranti dalam membentuk masyarakat. Tradisi merupakan khazanah pemikiran yang bersifat material dan immaterial yang bisa dikembangkan untuk melahirkan pemikiran yang progresif-transformatif. Di NU, tradisi menjadi salah satu dari sumber rujukan dalam perilaku keagamaan. Ada doktrin yang sudah terlalu sering digemborkan yaitu “al-muhafadzah ‘ala al-qadim al-shalih, wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah”, yakni memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil sesuatu yang baru yang lebih baik.  Dengan prinsip ini, NU tidak sembarangan di dalam melakukan purifikasi terhadap tradisi yang sudah ada, begitupun tidak tergesa mengadopsi temuan-temuan baru. Disini sebenarnya sudah terdapat “tradisi kritis” yang tumbuh pada warga nahdhiyin. Demikian pula, prinsip ini membawa pada sikap fleksibel dan toleransi NU, sehingga NU sulit terpelanting pada pensikapan yang radikal dan ekstrem terhadap masalah sosial, politik maupun kebangsaan. Jadi, melalui prinsip ini pula, problem keotentikan dan kemoderenan (musykilah al-ashalah wa al-hadatsah) diikhtiari untuk terjembatani secara harmonis. Mengadopsi apa yang layak dalam tradisi untuk dikembangkan demi kepentingan masa kini dan masa depan merupakan langkah pemaknaan yang paradigmatis. Karena sebuah transformasi, baik pemikiran maupun sosial tetaplah harus beranjak dan menimba inspirasinya dari dalam tradisi. Maka diperlukan ikhtiar untuk menggali hal-hal yang ada dalam tradisi yang bisa mendukung transformasi tersebut.

           

Tradisi di NU seperti Bahsul Matsail (BM) boleh dikatakan sebagai ekspresi dinamisasi dari sistem pengetahuan dan kepekaan sosial dalam komunitas NU. Forum intelektual ini juga memperlihatkan keinginan untuk merumuskan etik Islam tanpa disarati beban apologetik, sebagaimana yang pernah mewarnai secara dominan pemikiran Islam modernis. Ini berarti bahwa pencarian jawab atas masalah doktrinal bertolak dari kesadaran historis dengan pemikiran yang kontekstual. BM yang telah dilembagakan dari mulai level kecil-kecilan di pesantren hingga pada tingkat ulama secara nasional adalah embrio dari praktik lebih besar yang dimotori oleh NU. Tradisi intelektual ini bergerak mulai dari kitab rujukan, logika hukum dan juga sistem pengambilan keputusan.

Melalui forum inilah, NU berpartisipasi dalam merespon persoalan-persoalan kontemporer, sembari meneguhkan bahwa tradisi penggalian hukum (istinbath al-hukm) sepatutnya perlu menengok pada khazanah klasik (al-turâs) yang memendam banyak pemikiran untuk kemudian “dikontekstualisasikan”. Dengan begitu, modernitas yang hendak dibangun tidak tercerabut dari kearifan-kearifan para ulama salaf serta terus berdekatan dengan sumber primer yaitu al-Quran dan Sunnah Nabi saw. Saya sangat menyambut baik terbitnya buku Kontekstualisasi Turâts ini. Semoga buku ini bermanfaat dan mampu memperkaya terhadap khazanah intelektual kita.

 

Jakarta, 1 Juli 2005 M.

 

*) Alumni PP. Lirboyo, Ketua Syuriah PBNU