PENGANTAR SEJARAH

 

Melihat Sejarah Secara Komprehensif

(DURUNG BERES)

Disadari atau tidak, penulisan buku-buku sejarah dalam berbagai literatur ilmu tauhid yang ada selama ini lebih banyak didominasi oleh sejarah perpecahan dan sejarah opini. Artinya, penulisan fakta sejarah secara obyektif boleh dibilang sulit kita temukan dalam buku-buku teologi masa lampau, karena yang menjadi titik tekan (stressing) penulisan mereka adalah pembelaan (dan pembenaran?) terhadap alirannya.

 

a. Sejarah Perpecahan

Yang kami maksud dengan sejarah perpecahan di sini adalah timbulnya firqah-firqah dalam sejarah Islam. Sejauh pengamatan kami, penulisan sejarah teologi yang berkembang selama ini lebih banyak didominasi oleh fakta-fakta perpecahan, seperti perpecahan antara Khalifah Ali ra. dengan Muawiyah, atau Syiah dan Khawarij. Sementara fakta-fakta lain yang menunjukkan adanya persatuan tidak mendapat porsi memadai. Akibatnya, fakta-fakta yang menunjukkan persatuan, integrasi, dan kebersamaan umat menjadi kabur ditelan kepentingan penulisan, terutama kepentingan aliran.

Padahal saat timbulnya perpecahan itu, bisa jadi masih terdapat kelompok lain yang kurang mendapat perhatian karena mereka hanya diam dan tidak terlibat langsung dalam konflik yang terjadi. Kelompok ini bisa saja adalah kelompok mayoritas, atau mayoritas yang diam (Silent Majority). Sedangkan faksi-faksi yang bertikai justru kelompok minoritas, tapi karena punya power maka suara mereka begitu menggema sehingga mampu menguasai tataran publik, dan pada akhirnya ”diekspos” habis-habisan oleh para sejarahwan.

 

b. Sejarah Opini

Selain fakta-fakta perpecahan, penulisan sejarah yang lebih menonjolkan nuansa opini dan kepentingan masing-masing aliran juga merupakan tradisi yang perlu direkonstruksi. Sebab fakta-fakta yang diajukan oleh penulis-penulis sejarah teologi umumnya hanya dijadikan media pembenaran atas faham yang mereka anut. Akibatnya, yang disodorkan bukan lagi fakta murni, melainkan penggalan-penggalan fakta bermodus opini. Upaya pembenaran melalui fakta-fakta parsial seperti ini tentu saja akan berdampak pada biasnya ”fakta hakiki” yang seharusnya menjadi concern para sejarawan. Korban dari kecenderungan seperti ini tentu saja adalah pembaca. Sebab mereka hanya menerima fakta secara sepotong-sepotong dan tidak mampu memahami sejarah secara komprehensif.

 

Disamping itu, diskursus tauhid cenderung statis dan tidak menerima bentuk-bentuk baru selain yang telah terbangun pada masa lalu. Suatu aliran tauhid seakan merupakan ”konsep suci” yang tidak bisa menerima perubahan. Bahkan dalam realitasnya, perbedaan pendapat antar sekte dalam kajian ilmu tauhid seakan menutup kemungkinan dialog antar sekte; dalam arti, prinsip-prinsip yang dimiliki setiap sekte seakan tidak dapat dipertemukan dengan prinsip sekte lainnya. Dari sinilah kemudian lahir klaim-klaim pengkufuran, penyesatan, atau penistaan oleh satu golongan terhadap golongan lainnya, yang berujung pada permusuhan di kalangan bawah (grass root). Keharmonisan hidup beragama pada akhirnya luntur oleh kecurigaan-kecurigaan yang terbangun atas dasar fanatisme golongan. Namun di balik semua itu, pengamalan tauhid pada periode-peride awal Islam begitu kuat sehingga tidak mudah goyah oleh terpaan apapun.

 

Tauhid Abad Modern

Sebaliknya, umat Islam masa kini cenderung kurang memperhatikan nilai-nilai akidah dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan jika ditanya tentang arti akidah, mereka banyak yang tidak tahu. Apalagi bila dikonfrontir pertanyaan mengenai konsep akidah Ahlussunnah wal Jamaah, misalnya, mereka pasti angkat tangan walaupun dalam kesehariannya mereka mengaku sebagai penganut paham tersebut.

Fenomena lain yang tak kalah pentingnya adalah sikap para intelektual muslim kontemporer yang cenderung selalu ingin merasionalkan aspek-aspek ketuhanan dalam nalar-nalar kemanusiaan. Keterbatasan nalar manusia dipaksakan agar mampu menjawab setiap pesan ketuhanan yang abstrak dan di luar jangkauan realitas fisik. Segala hal yang bersinggungan dengan nafas-nafas ilahiyah diharuskan bersifat rasional, sehinga kesan yang timbul kemudian adalah diposisikannya kebesaran dan kemahakuasaan Tuhan hanya sebatas nalar manusia.

Hal lain yang cukup mengemuka adalah kecenderungan melepaskan diri dari segala bentuk otoritas ilmiyah yang bersifat klasik. Teolog muslim kontemporer berkeinginan menyingkirkan otoritas penafsiran oleh siapa pun, termasuk otoritas keilmuan para ulama klasik, apalagi bila tidak sesuai dengan kehendak akal. Akibatnya, timbullah sikap apriori dan nihilistik terhadap khazanah pemikiran masa lampau, bahkan ada kecenderungan mereka terperangkap oleh kebencian pada hasil-hasil pemikiran masa lalu, tanpa di dahului oleh upaya penelusuran dan pemilahan (sharing) yang memadai. Inilah salah satu bentuk absurditas berfikir manusia modern yang ingin bebas berfikir dan berperilaku tanpa terikat pada sekat apapun.

Yang lebih “unik” lagi adalah fenomena munculnya aliran-aliran sempalan yang mengklaim diri sebagai pihak yang paling benar dan “segar”. Mereka merasa sebagai pihak yang membawa hal-hal baru yang menyegarkan dan benar-benar ”benar”. Kaum muslimin yang menolak ide-ide mereka akan dicap sebagai fundamentalis, konservatif, kolot, dan benar-benar “salah”. Contoh dari kalangan akademis adalah Jaringan Islam Liberal (JIL), yang walaupun mengaku sebagai gerakan Islam modernis yang mengembangkan pemikiran liberal-progresif, rasionalis, inklusif, dan pluralis, namun dalam kenyataanya mereka cenderung menolak siapapun yang berlainan “paham” dengan mereka. Hal ini seakan mengulang sejarah lama Kaum Muktazilah yang sebenarnya rasionalis-progresif namun kemudian berubah menjadi tiran karena dukungan pemerintahan al-Ma’mun. Contoh paham yang muncul dari akar bawah adalah ajaran shalat berbahasa Indonesia ala Yusman Roy, pimpinan Pondok I'tikaf Jamaah Ngaji Lelaku, Malang, Jatim, yang sudah sejak tahun 1998 melaksanakan ajaran barunya itu.

 

Dua kecenderungan di muka tampak kontradiktif. Teolog klasik cenderung konservatif dan terjebak pada klaim-klaim pengkufuran dan penyesatan terhadap golongan lain yang tidak sepaham dengan mereka, sementara teolog kontemporer cenderung memberhalakan akal dan bersikap antipati terhadap khazanah keilmuan ulama-ulama klasik sehingga timbullah sikap apriori dan bahkan kebencian terhadap segala hal yang berbau klasik. Kondisi semacam ini tentu saja merupakan sebuah kecenderungan yang tidak sehat. Karena itu, perlu ada ”pihak lain” yang bisa merangkul kedua “entitas” itu tanpa ada unsur pemihakan kepada salah satunya. Harus ada penengah yang tidak berasal dari salah satu diantara dua ranah itu (klasik dan kontemporer) yang mampu merangkul kedua pendapat secara selektif dan proporsional. Hipotesa inilah--salah satunya--yang mendorong kami untuk menulis buku ini.

bukan berarti kami hanya meng-copy-paste hasil pemikiran mereka. Kami pun tidak ingin ikut terjebak dengan sikap-sikap saling mengkafirkan atau memusuhi golongan-golongan tertentu yang kebetulan berlainan paham dengan kami. Kami tetap akan berusaha mempertahankan prinsip-prinsip penghargaan dan mengapresiasi pendapat orang atau kelompok lain, betapa pun pendapat itu tidak kami setujui. Artinya, dalam penulisan buku ini, prinsip kami selaras dengan prinsip ijtihad al-Syafi’i, bahwa pendapat kami (kami yakini sebagai) kebenaran tapi memiliki peluang untuk salah, dan pendapat orang lain (kami yakini) sebagai salah, tapi memiliki peluang untuk benar. Sebab kami berkeyakinan bahwa kebenaran itu berasal dari sumber yang sama, Allah Swt., dan bahwa satu kebenaran tak akan bertentangan dengan kebenaran lainnya.

 

Namun dibalik semua itu, banyaknya perbedaan pendapat yang terjadi, khususnya di bidang akidah, bagi kami merupakan hikmah yang harus diposisikan sebagai sumbangan khazanah pemikiran, yang pada akhirnya akan menumbuhkan sikap saling menghargai pendapat. Hal ini selaras dengan sabda Nabi Saw, yang menyatakan bahwa hikmah (kebijaksanaan) itu layaknya mutiara-mutiara milik seorang mukmin yang tercecer di mana-mana, di berbagai pendapat, sehingga kami berkewajiban memungutnya di mana saja kami temui.

 

c. Parsialitas Khazanah

Selain dua corak tersebut di atas, pola pemisahan disiplin ilmu juga menjadi ciri umum penulisan kitab-kitab tarikh. Setiap disiplin ilmu seakan terpisah jauh dari disiplin ilmu yang lain, sehingga hanya disiplin ilmu tertentu saja yang mempunyai keutamaan dan kelebihan. Sejarah fiqh terpisah dengan sejarah tauhid, sejarah tafsir tidak ada keterkaitan dengan sejarah hadits, dan seterusnya. Akhirnya, timbullah sikap antipati dari pembaca terhadap disiplin ilmu lain yang kebetulan memang “kurang akur” dengan sang penulis sejarah.