SEJARAH INTERNASIONAL

Bab I: Pembentukan Internasional Pertama (1864-1876)

Internasional pertama dilahirkan di Inggris. Kelahirannya di Ingris ini bukanlah merupakan suatu kebetulan belaka. Inggris --yang merupakan tempat kelahiran kapitalisme industrial -- adalah negeri yang paling maju secara ekonomi pada abad 19. Antagonisme-antagonisme klas modern pertama kali muncul dan berkembang secara sangat kuat di Inggris. Tidak mengherankan kalau bentuk-bentuk esensial dari perjuangan proletarian melawan kapitalis, pada awalnya di wujudkan disana juga. Dalam pergerakan besar kaum Chartis di tahun 1840-an, Inggris menjadi saksi bagi gerakan politik pertama dari proletariat sebagai sebuah klas. Di Inggris, pulalah klas buruh pertama kalinya mengorganisir dirinya ke dalam serikat-serikat buruh. Adalah pimpinan-pimpinan klas buruh Inggris -- yang berani dan berwawasan jauh kedepan-- yang pada mulanya sampai kepada pemahaman jernih tentang perjuangan klas; baik sebagai faktor historis maupun sebagai prinsip dalam merumuskan taktik. Di Ingggris juga proletariat pertama kali memproleh wawasan yang mendalam (tentang solidaritas kaum buruh secara internasional), dan melihat adanya keharusan bagi aksi terpadu dalam perjuangan melawan kaum kapitalis, berlandaskan solidaritas.

Internasional Pertama tidaklah jatuh begitu saja dari langit, dalam bentuknya yang sudah matang/sempurna. Internasional Pertama juga bukanlah hasil buah pikiran Marx yang jenius semata. Internasinal Pertama merupakan produk sejati dari pergerakan klas buruh, buah dari inisiatif keras yang di hasilkan oleh pelopor-pelopornya. Internasional tumbuh dalam rangkaian panjang perjuangan klas, yang di semai dengan benih-benih internasionalisme. Kehadirannya juga telah dipersiapkan oleh sejumlah perintis yang telah menyebarkan gagasan dan sentimen-sentimen solidaritas proletarian; yang tumbuh dan berkembang dalam lingkaran-lingkaran kecil kaum buruh yang paling sadar. Hal ini tetap berlangsung, bahkan dibawah kondisi yang paling keras dan menindas.

Terhitung sejak tahun 1854 sampai dengan 1864, telah berlangung serangkaian usaha yang dilaksanakan oleh organisasi-organisasi klas buruh; yang berpuncak pada pendirian Internasional Pertama. Kami akan mengedepankan tiga organisasi yang paing signifikan pada masa-masa itu. Yang pertama adalah Masyarakat Fraternal Demokrat ( Society of Fraternal Democrats). Organisasi ini di bangun pada tahun 1845 oleh Julian Harney di London; dimana pelarian -pelarian politik dari seantero benua Eropa datang berkumpul. Inilah juga organisasi klas pekerja yang pertama. Yang kedua adalah Liga Komunis (Communist League). Lewat liga inilah untuk pertama kalinya karya-karya Marx dan Engels -- dalam Manifesto Komunis-- membrikan arahan program dan teoritis yang benar bagi perjuangan buruh internasional. Yang ketiga adalah Komite Internasional (International Commitee), yang diorganisir oleh Ernest Jones di London. Lewat manifestonya dan rapat-rapat akbarnya, organisiasi ini tetap mempertahankan tradisi internasionalisme selama tahun -tahun reaksioner 1850-an.

Demikianlah setelah kondisi-kondisi bagi pembentukannya telah matang, Internasional Pertama didirikan berpondasikan kerja-kerja keras yang di hasilkan oleh para perintisnya. Setelah kekalahan revolusi 1848 -- dan perkembangan kapitalis yang melonjak selama tahun 1850-an gerakan buruh menjadi sangat tertekan. Banyak orang mengira bahwa gerakan buruh tidak akan pernah berhasil memulihkan api revolusionernya'; sebagaimana yang pernah ditampilkan pada masa-masa puncak Revolusi 1848. Walau gagasan internasionalisme sementara memudar, ia tidak pernah benar-benar lenyap. Gagasan ini tetap dipelihara dalam keloimpok-kelompok kecil di berbagai tempat yang terpencar, oleh pimpinan klas-klas buruh yang teruji. Mereka yang pernah mengalami sendiri periode-periode reaksi yang pasang surut sepanjang abad 19; dapat di mengerti suasana macam apa yang berkecamuk saat ini .

Kemudian pada tahun-tahun akhir 1850-an terjadilah serangkaian peristiwa yang mengubah situasi internasional. Peristiwa ini membangkitkan kembali gerakan buruh, dan mengobarkan semangat internasionalisme. Peristiwa-peristiwa penting tersebut diantaranya adalah krisis ekonomi di tahun 1857 (tercatat sebagai krisis yang sangat parah dan menyebar paling luas selama abad 19), yang lainnya adalah perang kemerdekaan Italia di tahun 1859, dan pecahnya perang saudara di Amerika Srerikat sejak tahun 1860-1861.

Peristiwa-peristiwa sejarah tersebut membawa konsekuensi-konsekuensi yang sangat besar secara ekonomi politik -- di Perancis dan Inggris -- dua negeri industrial yang paling maju di Eropa saat itu, peristiwa-peristiwa tersebut mengakibatkan melemahnya kediktatoran Napoleon III, dan memaksanya untuk memperluas konsesi-konsesi ekonomi politik dalam rangka meredam kaum buruh Perancis. Selangkah demi selangkah kaum buruh mencapai berbagai kemajuan. Mereka di berikan kesempatan untuk memilih dalam Pemilu, dan Undang-undang yang melarang serikat buruh untuk memperbaiki kondisi kaum buruh juga di cabut. Betapapun, perkembangan yang menentukan terjadi di Inggris. Walau kaum buruh Inggris telah memenangkan hak untuk membentuk serikat-serikat buruh sejak tahun 1825, massa buruh tetap tidak di perbolehkan memilih dalam pemilu. Sementara itu perkembangan kapitalis di benua Eropa, telah melahirkan persaingan yang mengancam buruh-buruh di Inggris. Ketika kaum buruh di Inggris berjuang untuk upah yang lebih tinggi dan jam kerja yang lebih singkat ; kaum pemilik modal di Inggris mengancam untuk mendatangkan tenaga-tenaga buruh murah dari Prancis, Belgia, Jerman dan negeri-negeri lainnya. Pecahnya perang di Amerika dan embargo atas produk-produk ekspor, menyebabkan krisis persediaan kapas; yang akibatnya sangat memberatkan buruh-buruh pabrik tekstil di Inggris.

Kondisi-kondisi ini mengguncang serikat-serikat buruh Ingggris dan mendesak mereka untuk mengembangkan apa yang kemudian di kenal dengan "Unionisme Baru"; yang dikepalai oleh sejumlah pimpinan berpengalaman dari kalangan buruh permesinan, buruh bangunan, buruh pabrik sepatu, dan serikat-serikat buruh lainnya. Orang-orang tersebut di atas mulai menyadari arti pentingnya perjuangan politik bagi serikat buruh, dan mereka mulai menaruh perhatian besar pada urusan-urusan politik dalam dan luar negeri. Mereka juga mulai menyelenggarakan rapat-rapat akbar raksasa, menuntut Perdana Menteri Palmerston, atas konspirasinya yang mengintervensi "pihak utrara" dalam perang saudara Amerika. Pada saat yang sama, mereka menyelenggarakan resepsi penyambutan atas Mazzini -- seorang pejuang kebebasan dari Italia -- ketika ia mengunjungi London di tahun 1864.

Kebangkitan klas buruh di Inggris dan Perancsis juga membangkitkan kembali gagasan Internasionalisme. Kunjungan delegasi buruh Perancis ke pameran dunia di London pada tahun 1864. Terlebih lagi dengan konspirasi bersama antara negeri Perancis, Inggris dan Rusia untuk memukul usaha Polandia untuk memisahkan diri di tahun 1863… telah mendorong terjadinnya kontak, korespondensi, pertukaran hubungan yang timbal balik ---antar kaum buruh di negeri-negeri tersebut untuk membicarakan dan berusaha memecahkan persoalan kaum buruh secara bersama-sama pula. Ini semua bermuara pada kesepakatan untuk menyelenggarakan pertemuan bersama secara resmi, dari perwakilan-perwakilan kaum buruh Perancis dan Inggris di gedung St. Martin's Hall, London, pada 26 September 1864. Pertemuan ini berhasil mengeluarkan keputusan-keputusan, antara lain dengan terpilihnya sebuah komite -- yang bertugas merancang statuta AD/ART Pperhimpunan klas pekerja internasional - untuk di timbang-terimakan/di sahkan dalam kongres Internasional yang akan diselenggarakan di Belgia tahun depan. Pemberitaan-pemberitaan surat kabar meliputi tentang pembentukan komite tersebut, yang terdiri dari perwakilan barbagai serikat buruh yang berasal dari berbagai negeri. Sedikit disinggung juga tentang Karl Marx. Sungguhpun kita semua tahu betapa besar sumbangan yang diberikannya bagi organisasi tersebut.

PERANAN KARL MARX

Kegagalan revolusi tahun 1848, mengakibatkan terguncangnya Liga Komunis, yang tidak lama kemudian diikuti pembubarannya. Dalam tahun-tahun terakhir reaksi yang panjang ini -- walaupun masih mengikuti perkembangan berbagai peristiwa dengan cermat-- Marx dan Engels dalam pengasingannya, mencurahkan perhatian pada kerja-kerja ilmiah mereka. Memaklumi bahwa "untuk segala sesuatu ada musim/masanya sendiri-sendiri". -- Mereka menanti-- kan saat yang tepat bagi arus balik gelombang sejarah -- yang dapat mengembalikan mereka pada aktifitas-aktifitas praktis keorganisasian gerakan buruh. Masa-masa dimana gerakan revolusioner dan kaum buruh menampilkan semangat baru, saat-saat dimana para pejuang sejati mengenakan perisai dan perlengkapan perangnya, maju ke medan laga . Pada 13 februari 1863, Marx menulis surat kepada Engels, " era revolusi telah kembali terbentan di Eropa " (Marx - Engels, Korespondensi Terseleksi New York, halaman 144) . Ketika Komite Buruh Internasional telah terbentuk, Marx menuliskan kepadakawan-kawannya di Amerika, " walau selama bertahun-tahun aku menolak secara sistimatis segala keterlibatanku dalam organisasi manapun juga kali ini aku menerimanya, karena benart-benar ada peluang untuk melakukan kerja-kerja yang berubah" (Mehring, Halaman 323)

Tidak lama kemudian Marx tampil kemuka sebagai pemimpin imtelektual komite tersebut, yang beranggotakan 50 orang, setengah daripadanya adalah buruh-buruh Inggris. Setelah yang lainnya menyatakan tidak sanggup, Marx mengambil alih tugas penyusunan draft/rancangan program dan statuta Internasional Pertama. Secara antusias dan suara bulat, komite tersebut menerima rancangan " Amanat Inagural/Pelantikan " dan Aturan-aturan Peralihan" yang disusun oleh Marx. Hanya ada sedikit tambahan permintaan tentang penambahan beberapa ungkapan abstrak, perihal hak dan kewajiban, kebenaran, moralitas, dan keadilan". Marx kemudian menceritakan kepada Engels bahwa --Ia menyisipkan ungkapan-ungkapan tersebut sedemikian rupa -- sehingga ia tidak menyinggung harapan para peserta lainnya.

"Amanat Pelantikan Bagi Asosiasi Klas Pekerja Internasional" tersebut disampaikan dalam sebuah pertemuan publik di gedung St. Martin, London, pada 28 september 1864. Bersama-sama dengan Manifesto Komunis, "Amanat" tersebut merupakan sebuah dakwaan yang keras dan berat terhadap kapitalisme yang sekaligus juga memaparkan tujuan-tujuan klas buruh. Amanat itu di buka dengan rangkaian catatan tentang sebuah fakta yang tajam --bahwa selama tahun-tahun 1848 sampai dengan 1864, penderitaan dan penindasan atas klas buruh tidak kunjung berkurang -- walau dalam periode ini terjadi perkembangan yang sangat pesat dalam lapangan industrial dan perdagangan. Hal ini di buktikan dengan menunjukan angka-angka statistik yang diterbitkan dalam "buku-buku" resmi (yang mencatrat penderitaan/penindasan klas buruh Inggris). Angka-angka tersebut diperbandingkan dengan catatan resmi yang di buat oleh ketua bendahara, Gladstone, dalam laporan keuangannya. Hal ini sekali lagi menunjukan bahwa " penumpukan kekayaan dan pemebesaran kekuasaan yang menjijikan " (yang terjadi selama periode tersebut); hanya terpusat seluruhnya pada klas-klas penindas/penghisap. Kalaupun ada pengecualian, maka hal ini hanya berlaku pada segelintir buruh aristokrat yang menerima upah agak lebih besar; walaupun perbaikan ini diikuti lagi dengan kenaikan harga-harga secara umum . "dari waktu ke waktu , gelombang besar masa klas buruh senantiasa terbenam dalam kemiskinan; sementara pada saat yang sama klas-klas atas menikmati peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan sosial … tiap perkembangan segar dalam kekuatan-kekuatan produktif buruh, harus mengarah pada semakin mendalam dan curamnnya jurang perbedaan sosial ; yang bermuara pada antagonisme sosial … masa ini akan di tandai dalam catatan sejarah dunia dengan percepatan, pembesaran dan efek-efek mematikan dari apa yang di --sebut sebagai wabah sosial yang menular-- dari krisis industrial dan komersial" (Karya-Karya Terseleksi Marx-Engels, Volume 1, Halaman 345-346).

Amanat di atas tersebut juga mencatat bahkan dalam tahun-tahun reaksioner 1850-an, setidaknya kaum buruh telah mencapai dua kemajuan yang berarti. Pertama, adalah pengakuan dan pemberlakuan 10 jam kerja secara legal; yang merupakan buah dari perjuangan keras klas buruh Inggris. 'Undang-undang sepuluh jam kerja (the ten hourse'bill) bukan hanya merupakan sebuah keberhasilan praktis yang besar, itu juga merupakan kemenangan secara prinsip. Hal ini merupakan yang pertama kalinya dalam sejarah; di mana secara ekonomi politik klas menengah, tunduk pada ekonomi politik klas buruh" (Karya-Karya Terseleksi , Volume 1 Halaman 345-346). Kemenangan lainnya adalah pendirian gerakan koperasi dan pabrik-pabrik kooperatif (pabrik yang dikelola bersama-sama). Ini membukrtikan bahwa dalam prakteknya kaum buruh sanggup dan mampu mengorganisir sendiri produksi dan distribusi, tanpa bantuan apapun dari kaum penghisap.

Namun lanjutnya, "Tuan-tuan tanah dan tuan pemilik modal akan tetap bertahan dengan menggunakan segala hak istimewa mereka, demi perlindungan dan kelanggengan monopoli mereka (atas alat-alat produksi) ". Itulah sebabnya, sudah menjadi kewajiban besar klas buruh untuk merebut kekuasaan politik. Kaum buruh nampaknya sudah mulai menangkap keharusan semacam ini. Sebagaimana yang di buktikan dengan menjalarnya kesadaran pergerakan klas buruh Inggris, Perancis, Jerman, Italia … dengan segala usahanya mengorganisir buruh secara politis. Kaum buruh setidaknya "memiliki satu elemen untuk keberhasilan yakni keunggulannya dengan jumlah yang sangat besar. Namun jumlah tadi hanya memiliki bobot dan arti , jika mereka di persatukan dalam organisasi dan berderap maju kearah tujuannya secara sadar" (halaman 347) . Pengalaman-pengalaman lalu telah menunjukan kepada kita: bila kita mengabaikan solidaritas yang seharusnya terjalin di antara kaum buruh sedunia … atau bila kita gagal dalam menggalang kaum buruh untuk berjuang bersama -- bahu membahu-- maka segala usaha kita hanya akan bermuara pada kegagalan. Pertimbangan-pertimbangan inilah dan juga pertimbangan-pertimbangan yang menytangkut kebijakan luar negeri (sebagaimana yang telah di uraikan di depan) … yang telah mendorong rapat-rapat di (gedung) St. Martins Hall, untuk mencertuskan pendidikan Asosiasi Klas Pekerja Internasional (lihat Mehring, halaman 327). Amanat tersebut di tutup dengan seruan perang yang tak tergoyahkan, "kaum buruh sedunia… bersatulah!".

Dalam "aturan-aturan peralihan" termaktubkan pula prinsip-prinsip dasar Marxisme. Tugas pembebasan klas buruh bukanlah semata-mata untuk mengakkan hak-hak istimewa bagi klas yang baru berkuasa, namun untuk menghapuskan keberadaan klas-klas itu sendiri. Penundukan kaum buruh secara ekonomis kepada pihak-pihak yang memiliki, menguasai peralatan/alat-alat produksi (yang merupakan sumber penghidupan): menghasilkan segala bentuk perhambaan: kemelaratan sosial pengkerdilan intelektuan dan ketergantungan secara [politik karenanya segenap gerakan politik haruslah juga merupakan sarana bagi pembebaan klas buruh secara ekonomis. Pembebasan klas buruh bukanlah sebuah tugas di tingkat lokal ataupun nasional belaka, namun harus meliputi tingkat dunia. Mencakup juga seluruh negeri yang masyarakat modern. Dengan demikian tugas ini hanya di capai lewat kerja sama dari perwaklan-perwakilan negeri-negeri tersebut. Aturan-aturan yang dirumuskan, menetapkan tugas dan kewenangan Dewan umum; yang terdriri atas buruh-buruh dari berbagai negeri yang terwakilkan dalam asosiasi.

Amanat inugerasi yang dicetuskan, memang berbeda dalam bentuknya, di bandingkan dengan yang terdapat di dalam Manifesto Komunis. "Di butuhkan waktu yang wajar " tulis Marx kepada Engels, sbelum pergerakan yang baru bangkit ini, kembali dengan semangat yang setara sebagaimana yang setara sebagaimana yang pernah kita capai dulu. Kebutuhan saat ini adalah bagaimana agar kita tetap setia pada prinsip, namun tetap luwes pada saat yang sama" (Mehring, halaman 329). Karenanya, dokumen-dokumen yang di hasilkan di London tersebut memiliki beberapa perbedaan juga, dari segi isinya … sebab tujuan pokoknya adalah untuk merangkul buruh-buruh dari berbagai level perkembangan politik -- dalam satu kerangka kerja yang sama. Namun walaupun secara implisit (tak langsung), dokumen-dokumen itu tetap memiliki muatan gagasan-gagasan fumdamental komunisme. Marx bertumpu pada kesadaran klas kaum buruh yang berkembang lebih tinggi lewat aksi bersama mereka (united action) … dalam rangka memastikan kemenangan final sosialisme ilmiah ( yang sudah di mulai dalam Internasional ) untuk menaklukan klas kapitalis.

PENCAPAIAN-PENCAPAIAN INTERNASIONAL PERTAMA

Internasional pertama berlangsung seama 14 tahun, terhitung sejak tahun 1864 sampai dengan 1878. Karena tidak mungkin untuk membentangkan semua hasil-hasil kerja, maupun perdebatan/pertimbangan-pertimbangan yang di hasilkan lewat kongres-kongresnya… maka hanya pencapaian dan aktifitas-aktifitas organisasional yang paling signifikan sajalah, yang akan kami kedepankan dalam kesempatan ini.

Internasional mencatat tanda-tanda sukses pertamanya dalam perjuangan anggota-anggotanya, yang menghasilkan perombakan franchise di Inggris. Pada 7 juli 1866, dengan bersemangat Marx menulis surat kepada Engels, " Demonstrasi buruh yang berlangsung di Inggris cukup dahsyat, di bandingkan dengan apa yang pernah kita saksikan di Inggris, sejak tahun 1849. Semua ini sepenuhnya merupakan kerja-kerja Internasional. Lucraft, contohnya seorang pemimpin demonstrasi di Trafalgar Square lapangan/alun-alun Trafalgar; ia juga adalah anggota dewan kami. Dalam akbar di Trafalgar Square tersebut, Lucraft menyerukan agar massa melakukan aksi yang sama di whitehall Gardeens, 'dimana suatu ketika kita pernah memenggal kepala seorang raja'. Tak lama kemudian di galang pula aksi di taman Hyde (Hyde Park) , yang melibatkan tidak kurang dari 60.000 massa. Aksi tersebut hampir saja berkembang menjadi sebuah pemberontakan" (Mehring, halaman 349-350) .

Anggota-anggota Internasional melancarkan kampanye yang bersemangat untuk peraturan kerja yang progresif. Mereka menuntut hari kerja yang lebih pendek, mengutuk kerja malam dan semua bentuk kerja yang beresiko bagi perempuan dan anak-anak. Kongres Internasional di Jenewa 1866 menyerukan, bahwa pemaksaan pemberlakuan peraturan/undang-undang semacam itu …klas buruh bukanlah mengkonsolidasikan kekuatan klas yang berkuasa, malahan sebaliknya; klas buruh akan memanfaatkan instrumen-instrumen klas yang berkuasa untuk menghantam 'majikannya' sendiri" (Mehring, halaman 354).

Internasional mendorong tumbuhnya organisasi-organisasi serikat buruh di berbagai negeri. Internasional juga berusaha untuk meningkatkan level politik gerakan serikat buruh dengan membuat anggota-anggotanya sadar akan misi/tugas historisnya, "Menegakkan perang gerilya yang tak putus-putusnya -- dalam kehidupan sehari-hari -- antara buruh dengan modal serikat-serikat buruh akan menjadi jauh lebih penting lagi, sebagai pendorong utama bagi penghapusan kerja upahan secara terorganisir. Pada masa yang lalu, serikat-serikat buruh terlalu mengkonsentrasikan aktifitasnya bagi perjuangan yang segera dan frontal melawan modal. Namun di masa-masa yang akan datang serikat buruh tersebut tidak boleh pasif --dalam mengantisipasi pergerakan sosial politik secara umum-- dari klas buruh itu sendiri. Serikat-serikat itu juga harus sanggup memandu massa buruh yang luas, agar massa tersadarkan akan tujuan-tujuan mereka yang lebih tinggi. Sehingga dengan tidak mementingkan diri sendiri, seorang buruh telah berpartisipasi dalam pembebasan kaumnya yang jutaan jumlahnya (Mehring, halaman 355). Segaris dengan pandangan di atas, Internasional mendokong aksi-aksi pemogokkan buruh yang melanda berbagai negeri; menyusul terjadinya krisis ekonomi yang parah di tahun 1866. Dimanapun terjadinya, Internasional meyerukan agar kaum Buruh menggalang dukungan bagii perjuangan kawqan-kawannya di negeri lain ( demi kepentingan mereka sendiri). Para kapitalis yang merasakan betul akibat-akibatnya, dengan murka menyebiutkan bahwa aksi-aksi buruh itu 'di beli' , di danai, atau di 'tunggangi' oleh Internasional Pertama. Tudingan-tudingan mereka ini (persis seperti yang biasa dilakukan oleh kaum mapan dewasa ini) terhadap aktifitas-aktifitas gerakan, dengan sebutan-sebutan "kaum kiri", "orang-orang merah" ataupun "kaum Trotskys" , dan lain-lain . Beberapa pemilik modal dari swiss, bahkan mengirimkan utusan ke Londaon , untuk menginvestigasi dan mencari tahu sumber-sumber keuangan Internasional. Ternyata di luar dugaan mereka sumber-sumber kkeuangan tersebut hanyalah sedikit saja, dan jauh dari cukup untuk "membeli " atau menyogok kaum buruh. Marx menggambarkan kekonyolan mereka dengan kalimat sebagai berikut;" Kalau mereka-- orang-orang kristen kolot dan ortodoks itu -- sudah lahir pada abad-abad pertama penyebaran agama kristen … mungkin mereka sudah mentogok orang-orang untuk membocorkan nomor rekening bank yang di pakai St. Paulus di Roma." (Mehring, halaman 395).

Internasional menyatakan solidaritas aktifnya kapan saja perjuangan rakyat mencapai titik perang saudara ataupun perang berlevel nasional. Dari tahun 1864 sampai dengan 1869, Internasional mengirimkan empat amanat yang di tujukkan kepada rakyat Amerika Serikat. Yang pertama di kirim kepada Presiden Lincol, untuk mendukung perlaanan pemerintahnya terhadap kekuasaan perbudakaan. Yang kedua kepada Presiden Johnson , sehubungan dengan peristiwa pembunuhan terhadap Lincoln. Yang ketiga di tujukan kepada rakyat atas kemengannya melawan perbudakan. Yang keempat keempat kepada William Sylvis, Presiden serikat buruh nasional (National Labour Union). Di tujukan sebagai bentuk protes terhadap usaha-usaha klas yang berkuaa di Eropa, agar dapat menggiring Amerika Serikat ke dalam kancah peperangan.

Internasional membangkitkan kegeraman segenap borjuasi dan orang-orang murtad yang mau saja tunduk menghamba kepada mereka. Dalam dua amanat yang ditulis oleh Marx, Internasional menyatakan salut dan dukungan kaum buruh Perancis … ketika mereka bangkit pada akhir perang Perancis-Prussia di tahun 1871 untuk mendirikan Komune Paris. Sementara pasukan tentara musuh telah begitu dekat mengepung pintu gerbang Paris (dan penguasa Perancis tidak bisa berbuat banyak untuk mencegahnya)… Kaum buruh beraninya bergerak maju, menggalang kekuatan untuk membentuk Republik Kaum Buruh. Melihat hal ini, borjuasi Perancis malah menikam pergerakan rakyat tersebut dari belakang; justru dengan kekuatan/senjata yang mereka pinjam dari musuh (yakni tentara Bismarck). Pembantaian atas kaum buruh ini begitu keji dan berdarah. Seperti halnya ketika Jendral Badoglio menjagal dan memadamkan revolusi Italia (1943-1945), yang didukung oleh kekuatan Anglo-Amerika dan kaum Stalinis.

Pencapaian nyata Internasional antara lain pada keberhasilannya dalam menyatukan perjuangan kaum buruh secara internasional. Sungguhpun di tingkat internalnya masih terbelakang, namun Internasional Pertama telah menyediakan model/percontohan bagi semua Organisasi prolewtar berskala internasional. Betapapun istilah "Internasionalisme" telah tercantuim dalam kamus-kamusb umum, dan lagu "Internationale" di tulis berkat tegakannya Internasional Pertama.

PERJUANGAN BAGI MARXISME

Bersamaan dengan semakin gencarnya unjuk kekuatan solidaritas klas buruh, Internasional telah menampilkan diri sebagai sarana dan ajang bagi penyebaran gagasan-gagasan Marxisme. Sungguhpun Marx di akaui sebagai pemanduy teoritis dan inspirator bagi Internasional; namun doktrin-doktrinnya perlu di perdebatkan terlebih dahulu, sebelum dapat terima secara dominan… di dalam tubuh organisasi maupun jajaraan kaum buruh yang berkesadaran klaas. Sejak semula Marx harus menghadapi arus idiologi borjuis liberal, dan juga menangkal tekanan-tekanan yang dilancarkan oleh pemimpin serikat-serikat buruh Inggrisyang duduk di Dewan Umum.

Namun saingan yang paling keras terhadap sosialisme ilmiah (yang berusaha mempengaruhi kaumn buruh yang maju) datang dari berbagai macam sosialisme burjuis kecil --anarkisme, berbagai bentuk sektarianismedan oportunisme-- sehubungan dengan persoalan-persoialan yang di hadapi pergerakan buruh. Tulis Marx dalam suratnya kepada Bolte (23 Nonember 1871) , "sejarah internasoiponal mewrupakan perjuangan berkelanjutan dari Dewan umum dalam menangkal/menghadapi --kelompok-kelompok kecil (sects) , para petualang amatiran -- yanjg berusaha menonjolkan dirinya didalam tubuh Internasional. Merekalah yang melawan gerakk maju pergerakan sejati klas buruh. Ajang pertarungan itu sendiri resminya memang terselenggara di kongres-kongres. Namun telah terlebih dahulu berlangsung dalam perundingan-perundingan perorangan di Dewan Umum, juga dalam sesi-sesi individual "( Korespondensi, Terseleksi Karl Marx-Engels, Moscow, hlm 326)..

Marx juga harus bergulat dengan ide-ide yang di ajarkan oleh Prodhoun (Prodhounisme). Memang dewasa ini ide-ide semacam itu sudah tak terdengar lagi, namun pada pada massanya, merupakan sosialismew borjuis kecil yang paling populer. Kedua menantu lelaki Marx sendiri -- Paul Lapargue dan Charles Longuet -- sempat menjadi penganjur setia ajaran Proudhon yang merepotkan sebelum menjadi Marxis.

Berbeda dengan sosialisme ilmiah, Proudhonisme memang menghendaki penghapusan kepemilikan perorangan, namun konyolnya tetap mempertahankan pertukaran produk-produk yang dimiliki secara perorangan. 'Resep praktis' mereka untuk mereformasi masyarakat borjuis adalah dengan membentuk suatu masyarakat koperasi. Sementara itu, tanpa kapasitas/pengetahuan yang memadai, mereka hendak ,merombak begitu saja sistim moneter yang ada. Kaum sosialis borjuis kecil ini tidak sepakat dengan metode dan bentuk-bentuk pokok perjuanbgan proletarian. Proudhon sendiri menentang tpembentukan serikat-serikat buruh, bahkan ia menyayangkan aksi-aksi pemogokan buruh. Singkatnya ia menolak segala bentuk partisipasi langsung dalam politik. Para pengikutnya beranggapan bahwa sebuah bangsa seharusnya di pecah-pecah menjadi kelompok-kelompok kecil; yang kemudian akan membentuk semacam perhimpunan sukarela sebagai penggantinya .

Marx dan kawan-kawan harus bergelut secara terus menerus melawan kecenndrungan semacam itu. Kecendrungan tersebut memang sangat kuat di kalangan buruh-buruh dari Perancis dan Swiss. Mereka sendiri kebanyakanlah buruh-buruh pabrik , namun para perajin tukang kecil yang masih begitu di liputi dengan cara pandang borjui kecil.

Betapapun, pertarungan teoritik dan organisasional paling keras yang di hadapi oleh Karl Marx, adalah melawan gagasan -gagasan anarkisme Mikhail Bakunin. Bakunin seorang veteran revolusioner Rusia, yang di anggap sebagai bapak pergerakan politik anarkis. Perbedaan pokok antara Marx dan Bakunin akan coba kami paparkan secara singkat saja. Marxisme mendasarkan diri sepenuh-penuhnya kepada klas buruh industrial; sebagai kekuatan sosial yang paling menenntukan dalam masyarakat modern. Sementara Bakunin mencari basis sosialk gerakan revolusionernya pada petani, kaum miskin kota (lumpen proletariat) dan elemen-elemen borjuis kecil lainnya yang miskin dan sengsara.

Marxisme memerangi segala bentuk pemerintah ataupun otoritas yang reaksioner… dengan menegakkan kekuasan negara di tangan klas buruh -- sebagai sebuah transisi yang di jalani -- dalam rangka penghapusan segenap kekuasaan negara, maupun segala bentuk penindasan. Sedangkan anarkisme menentang segala otorita maupun negara -- tidak perduli apakah negara tersebut berkarakter progresif atau reaksioner-- anarkisme tidak memandang hakikat klas sebagai yang perlu di pertimbangkan. Itulah sebabnya kaum anarkis menolak segala bentuk partisipasi dalam politik. Sementara kaum Marxis mendidik kaum buruh agar terlibat secara aktif dalam politik; dan merebut kekuasaan negara dengan "segala sarana yang memungkinkan".

Perbedaan-perbedaan prinsipil ini mendorong Bakunin untuk menyusun sebuah organisasi rahasia di dalam tubuh Internasional; yang bertujuan untuk mengambil alih kepemimpinan Internasional lewat taktik-taktik konspirasi. Tak pelak lagi pertarungan internal di dalam tubuh internasional (antara dua arus kecendrungan yang tak terdamaikan ini), mengganggu dan memperlemah kekuatan Internasional.

Kaum Marxis juga masih menghadapi pimpinan gerakan buruh Jerman (yang cenderung ikut ajaran-ajaran Lassale) . Kaum Marxis harus menghadapinya, paling tidak dalam dua persoalan pokok . Pertama mengenai Oportunis mereka dalam menurunkan taktik --sehubungan dengan persoalan kekuatan manakah yang akan dilibatkan bersama-- dalam perjuangan. Mereka mendorong kebijakan proletarian yang independen pada saat yang sama "kaum sosialis Bismarck" ini bersikap sektarian terhadap serikat-serikat buruh. Mereka menolak atau memasuki ataupun mengorganisisr serikat buruh manapun; yang tidak menjalankan kepemimpinan dan program-program mereka sendiri. Mereka tidak mengerti perbedaan antara serikat buruh sebaghai organisasi massa (yang merangkul buruh dari bermacam latar belakang politik maupun ekonomi) … dengan partai proletar, yang merupakan organisasi kaum buruh revolusioner dengan cara pandang yang khas , yakni cara pandang sosialis.

Sepanjang hayatnya para pendiri internasional harus mengahadapi berbagai musuh (secara ekternal), maupun meladeni perlawanan-perlawanan di dalam (secara internal ). Kekuatan-kekuatan destruktif tersebut semakin tak tertahankan, apalagi di bawah kondisi-kondisi yang keras. Yakni tertekannya pergerakan buruh secara internasional, dengan di pukulnya Komune Paris. Kesemuanya ini mengakibatkan terjadinya demoralisasi, perpecahan, dan akhirnya pembubaran Internasional Pertama secara formal. Persisnya terjadi pada tahun 1878, setelah markas besarnya di pindahkan ke New York.

Sungguhpun Internasional Pertama telah bubar, tapi hasil kerjanya masih bertahan. Pada tahun 1878, untuk menangkis kesimpulan bahwa Internasional telah gagal, Marx menulis sebagai berikut ,"lihatlah dari fakta bahwa partai-partai buruh sosial demokrasi di Jerman, Swiss , Denmark, Portugis, Italia, Belgia, Belanda, dan Amerika Utara ( yang diorganisir dalam batas wilayah nasional) … tidak lagi merupakan bagian-bagian yang sama sekali terpisah-pisah. Mereka lebih nampak sebagai klas buruh itu sendiri dalam hubungannya yang langsung, aktif dan berkesinambungan yang di persatukan oleh tujuan-tujuan yang sama , pertukaran bantuan , pertukaran gagasan.. jauh dari lenyap sama sekali, internasional telah tumbuh dari satu tahap menuju tahap yang lebih tinggi lagi (dimana semua potensi awalnya, harus dituntaskan/ dilampaui terlebih dahulu sebelum menginjak tahap yang lebih tinggi). Selama menempuh rangkaian perkembangan yang yang berkesinambungan ini, Internasional harus menjalani berbagai perubahan sebelum bab final dalam sejarahnya dapat di terapkan (Mehring , halaman 383-384).

Akan terlihat bahwa pandangan kenabian Marx, tentang pergantian/perubahan yang dijalani Internasional telah di benarkan sejarah.


Bab II : Kebangkitan Kaum Buruh dan Sosialis Internasional (1889-1904)

Trotsky pernah mengkatagorikan periode aktifitas klas buruh dalam Internasional Pertama sebagai periode antisipasi. Manifesto Komunis di pandang olehnya sebagai antisipasi teoritik dari pergerakan buruh modern. Internasional Pertama sebagai antisipasi praktis dari perhimpunan (organisasi) buruh di tingkat dunia. Sedangkan Komune Paris dilihatnya sebagai antisipasi revolusioner atas kediktatoran proletariat.

Lenin sendiri kemudian memandang internasional ketiga sebagai periode aksi internasional (baca periode internasional dalam aksi). Yang telah menempatkan sumbangan besar Marx atas teori politik ke dalam praktek : gagasan bahwa klas buruh harus berjuang untuk mendirikan kediktatoran proletariat.

JembaTan historia anatara penyambung antara periode -antisipasi- internasional dengan periode -aksi- internasional kedua, Sehingga Internasional Kedua itu sendiri merupakan periode -organisasi- internasional; yang mengangkat massa buruh yang tersebar di seluruh dunia dari himpitan ketertindasannya, dan mengorganisir mereka dalam serikat-serikat buruh dan partai-partai politik kaum buruh. Ringkasnya menyiapkan lahan bagi pergerakan massa buruh yang independen.

Walau masih bertahan sampai sekitar enam tehun ke muka. Namun International Pertama benar-benar bubar pada tahun 1872. "Tulang punggungnya" di patahkan oleh kekuatan Komune Paris. Dibutuhkan waktu selama selama 17 tahun, sebagai masa penyembuhan, sampai kekuatan klas buruh benar-benar di pulihkan. Untuk kembali berderap di arena internasional dan membentuk Internasional yang baru.

Tahun-tahun sekitar 1870-an sampai 1880-an adalah masa penindasan politik yang reaksioner di seantero Eropa . Ini merupakan hasil kondisi-kondisi eksternal yang pada hakekatnya sama., dengan mendorong terciptanya konservatisme di tahun 1850-an. Yang disebabkan oleh perkembangan kapitalisme yang luar biasa atas negara -negara bangsa. Kesemuanya ini tidak hanya memberikan kepercayaan diri pada penguasa-penguasa kapitalis, namun juga membuat takjub kaum buruh. Membuat kaum buruh terkungkung dalam sistim kapitalis, di bawah negeri kapitalis dan idiologinya. Sikap yang menghamba/patuh terjadi pada buruh-buruh aristokrat dan birokrat, yang juga mendapatkan jatah dari penghisapan kapitalis, yang dilakukan oleh negeri-negeri yang lebih maju . nampaknya sudah menjadi hukum sejarah; bahwa dengan semakin mapannya kekuatan material kaum kapitalis, semakin keras pula reaksi-reaksi yang ditimpakkan kapada kaum buruh., Hal ini tercermin dalam pengalaman Amerika Seriakt, dari tahun 1923 sampai dengan 1929, dan dari tahun 1923-1929, dan tahun 1947 sampai dengan saat ini.

Namun ironisnya, perkembangan industri yang pesat pada saat yang sama; memberikan benih bagi kelahiran gerakan buruh dalam bentuk yang paling sederhana. Perkembangan industri yang pesat ternyata juga menyefdiakan kondisi-kondisi material bagi pembentukan organisasi buruh. Sungguhpun di bawah kondisi politik yang menekan, serikat-serikat buruh -- bahkan dalam kasus-kasus tertentu partai sosialis -- masih dapat menghimpun kekuatannya. Bahkan tampil secara cukup di perhitungkan. Gejala yang sama ini juga terjadi di Amerika Serikat… di mana serikat-serikat buruh tertentu berkembang cukup baik dari segi kuantitas; waklau harus di akui terdapat kecendrungan untuk mengalami keterbelakangan secara politik maupun idiologi.

Proses kontradiktif di atas, secara mencolok terjadi di Jerman. Sehingga pusat International Pertama adalah di Inggris, maka pusat Internasional Kedua di Jerman. Setelah kemenangan dalam perang Perancis-Prusia di tahun 1871 --Jerman yang bersatu di bawah monarki Prusia -- bangkit sebagai kekuatan industrial. Proses yang hampi sama, dengan yang terjadi di Inggris dua puluh tahun lalu Dengan dilakukannya perombakan besar-besaran atas pondasi ekonomi Jerman, gerakan buruh menjadi lebih hidup dan bersemangat … bagi perjuangannya bagi kondisi-kondisi kerja dan penghidupan yang lebih baik, kaum buruh menemukannya salurannya di dalam organisasi.

Konsekuensi dan karakter revolusi industrial di Jerman ini di gambarkan oleh Engels dalam suratnya kepada Bebel. Bebel adalah seorang Marxis pimpinan massa gerakan sosial Demokrasi Jerman. Pada tanggal 11 desember 18874, Engels menulis dari London:
Fakta-fakta yang menguntungkan kita dalam revolusi industrial di Jerman, adalah pada laju pertumbuahan yang begitu deras. Sementara hal yang sama, tidak terjadi di Perancis ataupun Inggris. Di Inggris dan Perancis, berpedesaan dengan perkotaan, daerah agraris dengan industrial -- begitu jauh. (Sehingga di butuhkan proses/waktu yang begitu lama agar tani dapat ke kota menjadi buruh). Massa rakyat yang luas, masih demikian terikat dengan kebiasaan/tradisi yang berlaku di Inggris ataupun Perancis. Ini semua di tambah dengan ingatan masa akan pengalaman buruk, atau kegagalan gerakan di Perancis tahun 1848. Di lain pihak berbeda dengan kita (di Jerman) .. di sini segala sesuatunya bergerak dengan arus yang deras . Revolusi industri di Jerman justru menemukan momentum gerakannya setelah revolusi 1848 .
Dengan tumbuhnya borjuasi Jerman (walau masih sangat rapuh) . Namun ini semua di percepat oleh beberapa faktor. Pertama, disingkirkannya hambatan-hambatan internal pada tahun 1866 sampai dengan 1870. Kedua , Pembayaran pampasan perang oleh Perancis, akibat kekalahan dari Jerman pada tahun 1870 ( kemudian material pampasan perang I itu di tanamkan sebagai modal secara kapitalistik). Maka kita dapat membangun revolusi Industrial yang lebih dalam dan menyeluruh. Dan khhusunya yang lebih luas dan komprhensif di bandingkan negeri-negeri lain. Masih di tambah lagi dengan klas buruh yang utuh dan masih segar, tidak mengalami demoralisasi ( akibat pukulan atau kekalahan telak). (Korespodensi Terseleksi Marx-Engels, Moscow ,hal 455-456)

Dalam rangka membela kepentingan klas borjuis , para tuan tanah kaya , dan juga kerajaannya; Perdana Menteri Bismarck berusaha mematahkan gerakan sosial Demokratik yang tengah berkembang, di kalangan kaum buruh Jerman yang maju, namun fakta menunjukan, bahwa total suara yang di peroleh sosial Demokratik mengalami peningkatan dari 102.000 suara (tahun 1871) menjadi 493.000 suara (tahun 1877). Kemudian pada tahun 1879 penguasa Jerman mengeluarkan UU anti Sosialis. UU ini melarang/mengilegalkan aktifitas propaganda sosialis demokratik Jerman. UU ini juga membatasi aktifitas partai, sebab kegiatan-kegiatan parlementer (persis seperti apa yang terjadi pada saat pemberlakuan Smith Act di Amerika Serikat, yang mengilegalkan Partai Pekerja Sosialis (Sosialis Workers Party/SWP) dan Partai Komunis). Akibat di berlakukannya UU tersebut, tak terhitung banyaknya tindak kekerasan /penganiayaan yang dilakukan oleh aparat negara, terhadap buruh-buruh dan pimpinan Sosial Demokratik.

Namun penindasan yang dilakukan terhadap partai Marxis tersebut, bukannya menghancurkan… malah menaikan popularitasnya di hadapan massa Buruh. Setelah sempat mengalami penurunan (pada tahun pertama pelarangan) pertumbuahn/ Kenaikan suara melonjak dengan cepat pada tahun-tahun berikutnya. Pada tahun 1884 Partai Sosila Demokrasi meraih angka perolehan suara tertinggi pada saat itu, yakni 550.000 suara . Pada tahun 1890 , ketika UU itu di canbut, angkanya malah melonjak tiga kali lipat.

Pemilihan umum telah menunbjukan", tulis Engels kepada Babel tanggal 18 November 1884 , " Bahwa kita tidak boleh terlena, misalkan dengan memberikan kompromi-kompromi kepada lawan-lawan kita. Kita sendiri telah mendapatkan popularitas … dan menjadi kekuatan perlawanan yang di perhitungkan. Nyatalah bahwa kekuasaanlah yang "berbicara ",; dan hanya selama kita cukup kuat (berkuasa) sajalah, kita akan di dengarkan oleh orang-orang murtad sekalipun. Proletariat Jerman saat ini telah menjadi partai yang besar, semoga kehadirannya tidak di sia-siakan " (Korespodensi Terseleksi Marx-Engels, New York, hal 429-430).

Sementara perkembangan yang menggembirakan telah berlangsung dalam gerakan buruh Jerman, Organinsasi-organisasi buruh di Inggris justru sedang mengalami kemandekan (stagnasi). Engels menggambarkan hal ini dalam suratnya kepada Bebel (30 agustus1883) : "Keikut sertaan dalam penguasaan (pendominasian dan Monoipoli) pasar dunia adalah merupakan basis bagi kemandulan politik klas buruh di Inggris. Penghisapan eksternal memang di lakukan oleh klas Borjuis tarhadap klas buruh di Inggris , namun di pihak lain, mereka dengan cerdiknya membiarkan kaum buiruh ikut srta " mencicipi", segelintir dari keuntungan berlimpah yang mereka peroleh. Pengekoran seperti inilah yang membuat kaum Inggris mengikuti jejak langkah patai liberal. Sayang sekali hal seperti ini luput dari antisipasi kaum buruh di Inggris…" (Korespodensi Terseleksi, New York, hal 420). Kemudian pada tanggal 17 Juni 1889 Engels menjelaskan kepada Barnstein, " Pada prinsipnya, serikat-serikat buruh di Inggris bahkan membatasi semua aksi-aklsi politik dalam ketetapan-ketetapan mereka . sehingga pada hakikatnya mereka juga memberangus -- seluruh aktifitas umum klas buruh-- sebagai sebuah klas tersendiri. Dengan demikian yang kita lihat hanyalah fenomena gerakan buruh … sebagai aksi-aksi pemogokan di berbagai tempat secara terpisah-pisah … tanpa adanya peningkatan gerakan, atau langkah kemuka" (Korespodensi Terseleksi, Moscow hal 386) .

Di bawah sarat-sarat seperti ini, Marx menganggap tiap usaha untuk segera membentuk Internasional baru sebagai sesuatu yang prematur. Karenanya Marx menulis surat kepada seorang revolusioner berkebangsaan Belanda F. Domela Nieuwenhuis, pada tahun 1881. Tulisnya ."Aku yakin bahwa momentum yang tepat bagi sebuah asosiasi Internasional yang baru bagi klas pekerja, belum tiba, . Sehingga aku menimbang bahwa semua -- kongres-kongres kaum buruh atau kongres-kongres kaum sosialis … sejauh tidak berkaitan langsung dengan pembahasan persoalan negeri-negeri mereka sendiri -- sebagai upaya yang sia-sia, bahkan membahayakan. Pada saat ini, segencar apapun di adakannya pertemuan/kongres-kongres berlevel intrernasionaal … hanya akan terbentur pada kejenuhan yang menjenuhkan (Korespodensi Terseleksi, Moscow, hal 411) . Pandangan Marx ini teruji dalam kenyataan, ketika sejumlah kaum sosialis Belgia dan Jerman, berusaha membangkitkan kembali Internasional pada tahun 1880-an, tanpa hasil yang nyata.

Barulah pada akhir 1880-an terjadi perubahan situasi, akibat beberapa faktor penting. Pertama, pertumbuhan yang bertahap dengan penguatan gerakan sosialis dan serikat-serikat Buruh di seantero Eropa. Kedua, Inggris kehilangan monopolinya secara industrial atas dunia ; yang mengakibatkan munculnya serikat buruh dengan semangat baru di Inggris (New Unionisme). Ketiga , Perjuangan kaum buruh-buruh sosialis di Jerman sebagaimana telah di uraikan sebelumnya .

Di Perancis misalnya , Julies Gaude, yang telah mendapatkan pengampunan (amnesti), sehubungan dengan keterlibatannya dalam "pemberontakkan" komune Paris … telah memperoleh sambutan dan perhatian yang antusias dari gerakan/serikat-serikat buruh yang baru. Bahkan setelah tahun 1880 ia berhasil mengorganisir pembentukan partai sosialis yang kuat. Di Inggris sendiri, telah dibentuk kelompok-kelompok propagandis bagi penyebaran ajaran-ajaran Marx dan gagasan sosialis. Misalnya Federasi Sosial Demokratik (the Sosial democratic Federation ), masyarakat Fabian (fabian society) . melewati tahun 1880-an partai-partai buruh maupun sosialis , di organisir atau bahkan telah di tegakkan di berbagai negeri antara lain ; Denmark, Sewedia, Belgia, Austria, Swiss dan Italia. Kelompok-kelompok Marxis sudah mulai bekerja di Finlandia dan Rusia. Di Amerika Serikat, Partai buruh Sosialis (Socialist Labour Party) di bentuk tahun 1877; kemudian pada tahun 1886 kita dapat saksikan masa-masa kejayaan Knights of Labour (Ksatria-ksatria buruh ) yang menggelar aksi-aksi pemogokan buruh berskala nasional.

Kejatuhan monopoli Inggris atas pasar dunia (setelah 1878), berakibat pada melonjaknya angka pengangguran dan tekanan-tekanan sosial. Hal ini secara tajam terjadi di pojok timur kota London. Tahun 1886 di Hyde Park, terjadi aksi demonstrasi kaum pengangguran yang berakhir dengan kekerasan. Dengan anjloknya industri (yang berakibat menyempitnya lapangan kerja) , membanjirlah gerakan besar dari kalangan massa pengangguran (yang tak berpendidikan/tak berketrampilan) . Ini terjadi pada tahun 1889. Momen yang paling mengesankan dari gerakan "Unionisme Baru" tersebut di pimpin oleh John Burns, Tom Mann dan Bemn Tillet ( yang juga adalah anggota-anggota Federasi Sosial Demokratik /Social Federatinj Democratic, yang bersimpati dengan gagasan-gagasan ssosialis). Momen tersebut ketika buruh-buruh galangan kapal dan minyak melancarkan aksi pemogokan besar-besaran. Berikut ini adalah pengamatan ringkas yang di buat Engels sehubungan gerakan ini (di tulis oleh Engels tahun 1892);

Pojok timur kota London (East end of London) tidak lagi merupakan "kubangan" yang mandul sebagaimana halnya 6 tahun lalu. Ia telah kembali hidup -- menggugurkan sisa-sisa ketidak berdayaannya-- dengan menjadi pusat markas Unionisme baru ("New Unionism"). Yakni oirganisasi massa buruh yang " tak berketrampilan" . Organisasi iini mungkin saja menyerap sebagian bentuk dari serikat-serikat buruh lama (yang beranggotakan buruh-buruh yang "terampil") namun sama sekali berbeda dalam wataknya. Serikat-serikat buruh yang lama di bangun dan bekerja, dengan berlandaskan tradisi mapan yang masih juga di pertahankan. Contohnya saja mereka memandang sistim pengupahan sebagai sesuatu yang sudah baku, mapan, sinal; sesuatu yang hanya perlu di 'sesuaikan ' saja, sesuai kebutuhan anggota-anggotanya. Sementara serikat-sertikat buruh yang baru, di lahirkan ketika kepercayaan/jaminan bagi kelanggengan sistim pengupahan tengah terguncang sangat keras. Para pendiri dan penganjur gerkan ini adalah --kaum sosialis-- secara sadar ataupun secara emosional. Massa buruh yang berlimpah ini -- yang di persatukan dalam ketertindasan yang sama-- memang nampak lugu, kasar, di pandang remeh oleh kalangan aristokrat klas buruh. Namun harus di camkan. Pikiran mereka masih benar-benar murni. Semuanya terbebas dari prasangka-prasangka/pandangan-pandangan "terhormat" kaum borjuis. Sesuatu yang masih juga di pertahanakan dan diwarisi oleh para pimpinan/anggota serikat - serikat buruh "lama". Dan sekarang kita lihat sendiri, betapa serikat-serikat buruh yang baru ini mengambil posisi memimpin. Memberikan arah gerakan kepada klas buruh pada umumnya. Bahkan dari waktu ke waktu mulai menyeret serikat buruh lama yang kaya dan sombong (Korespondensi Terseleksi, New York, halaman 465).

Momen penting yang melatari intrernasional kedua adalah peringatan ke-100 tahun Revolusi Besar Perancis 1889. Tercatat tidak kurang dari 69 kongres bertaraf internasional di selenggarakan -- bersamaan dengan pameran internasional yang juga di adakan di Paris oleh Pemerintah Perancis -- untuk memperingati peringatan bersejarah tersebut. Di antara kongres-kongres tersebut, terdapat dua kongres terpisah yang mewakili kaum buruh dan sosialis dari dua kubu yang berbeda. Yang satu di rancang oleh kaum sosialis Jerman dan di selenggarakan oleh kaum Guesdites Perancis, sedangkan yang lainnya di rancang oleh pimpinan serikat Buruh Inggris bersama kauam reformis Perancis (biasa di sebut kaum Posibilis)

Mengenai hal ini, Hyndman, seorang sosialis dari Inggris berkomentar," Dua kongres yang dsaling menjelek-jeelekkan satu sama lain itu, diselenggarakan di gedung yang terpisah; oleh kaum posibilis dan imposibilis. Sedangkan kaum anarkis, bersikap[ netral dengan menghadiri kedua-duanya. Pemberitaan di koran-koran tyentang pertengkaran di antara persaudaraan sosialis yang tidak mau akur, di sambut dengan cemooh/ ejekan oleh dunia yang bebal " (lihat-Braunthal, Sejarah Internasional, Volume 1 halaman 198-200).

Apapun juga, adalah kongres kaum Imposibilis yang berbasiskan prinsip-prinsip Marxis; yang ternyata menghasilkan kesatuan dan vitalitas. Sejarah mencatat bahwa kongres itu pulalah yang merupakan tonggak pendirian Internasional Kedua. Kongres itu sendiri secara resmi di sahkan menjadi kongres Internasional Kedua.

Ada dua persoalan praktis yang mengedepan dalam kongres ini. Untuk menangkis anggapan pihak-pihak yang bersikap bahwa, " Undang-undang perburuhan adalah tidak sesuai dengan prinsip-prinsip sosialis"; kongres ini justru menyerukan kaum buruh untuk mendukung program legislassi/undang-undang perburuhan secara internasional. Kongres juga menetapkan dukungan untuk perjuangan delapan kerja, yang di lancarkan oleh Federasi Buruh Amerika (American Federation of Labour/AFL) Walaupun pada saat itu, AFL tidak hadir dalam salah satu kongres tersebut di atas; AFL telah mengirimkan pesan dukuhgan kepada kedua-duanya. Pada saat yang sama AFL mengajak kaum buruh, untuk ikut mendukung kampanye tuntutan delapan jam kerja. Kampanye itu sendiri di jadwalkan untuk di mulai pada 1 Mei 1890. Kongres Pertama Internasionbal kedua menetapkan, untuk melakukan persiapan bagi demonstrasi serentak yang akan di lancarkan secara Internasional pada tanggal tersebut. Dengan demikian, di awalilah tradisi peringatan 1 Mei (May Day) secara Internasional. AFL sendiri,-- yang ajakannya melahirkan peringatan 1 Mei -- di kemudian hari ternyata memisahkan diri dari tradisi peringatan hari libur kaum sosialis (secara internasional) . Mereka malah mempromosikan hari buruh secara tersendiri, dengan semangat nasionalis borjuis.

Tahun-tahun awal internasional kedua… diwarnai dengan perjuangan prinsip secara politik, dalam menangkis gagasan maupun metode anarkisme. Anarkisme yang tidak lain adalah kelanjutan dari pertarungan Marx melawan Bakunin(di inrternasional pertama). Kaum anarkis yang di gelari sebutan "internasional Hitam" (Black Internasional) menentang segala aksi politik dan bentuk parlementarian . Mereka justru mempraktekan bentuk aksi-aksi terorissme dan sedemikian mendewa-dewakan aksi-aksi pemogokan besar (yang spontan/tak terorganisi, tanpa oriewntasi penerjemah). Pengaruh-pengaruh anarkisme ini di perangi oleh kaum Marxis dari Jerman. Bahkan pada kongres Internasional di London (tahun 1896) kaum anarkis dan anti parlementarian tidak di ikut sertakan. Di tetapkanlah aturan, bahwa peserta kongrees hanya berasal dari serikat-serikat buruh atau partai-partai politik saja. Pengentalan kaum sosialis ini menasndai konsolidasi dan organisasi permanen dari internasional kedua. Terhitung sejak saat itu, sampai sekitar tahun 1914, kepemimpinan internasional kedua di akui sebagai garda depan klas buruh.

Sepuluh tahun kemuka mencatat Internasional Kedua dalam puncak ketinggian kekuatan dan prestasinya. Dalam Kongres Internasional Kedua -- pimpinan-pimpinan utama kaum buruh dari berbagai negeri memperdebatkan semua problem pokok klas buruh -- hasil-hasilnuya di tetapkan dalam resolusi-resolusi. Sebelum dan sesudah kongres-kongres tersebut, persoalan-persoalnn pokok tadi di godok dan di tetapkan di berbagai partai nasional. Watak Internasiomal dari perdebatan-perdebatan tersebut memperkaya, dan memajukan gerakan buruh secara pesat di berbagai berbagai perdebatan yang berlangsung di angkat ke level teoritik secara berkala. Sehingga cara pandang sempit yang yang mementingkan perjuangan nasional/bangsanya sendiri, dapat dituntaskan disini. Sejak saat itu, persoalan-persoalan besar yang dihadapi klas buruh di sebuah negeri tertentu; menjadi tanggungan bersama kaum buruh maju di segenap negeri.

Salah satu juga persoalan yang mengedepan adalah mengenai masalah hubungan reformasi (perbaikan) dengan revolusi. Teori Marxis kedua masalah ini dengan tepat. " perjuangan sehari-hari bagi reformasi -- bagi perbaikan kondisi-kondisi kerja dan buruh (dalam kerangka kerja tatanan masyarakat yang ada) dan juga perjuangan bagi lembaga-lembaga demokratis -- hanya merupakan saran/alat bagi kaum sosial demokratik . sebuah sarana untuk memasuki kancah peperangan klas proletarian … untuk bekerja bagi tujuan final… yakni perebutan kekuasaan politik dan penjungkiran kaum upahan ", demikianlah tulis Rosa Luxemburg dalam pamfletnya Reformasi atau Revolusi (Reform or Revolution, halaman 8) di tulis tahun 1899.

Dalam menghadapi persoalamn di atas ini, kaum Marxis harus memerangi dua kecendrungan yang keliru dan membahayakan dalam gerakan sosialis. Yakni, kecendrungan oportunis dan sektarian. Kaum oportunis yang mandasarkan dirinya pada pada praktek-praktek yang menitikberatkan kapada partai-partai sosial demokrat (karena pada saat itu tahap perkembangan perjuangan baru sebatas reformasi/sebatas kerja di tingkat nasional dalam tubuh negara-negara kapitalis)… kaum oportunis ini berusaha untuk memutar balikan rerformasi dengan revolusi sosial. Mereka justru menjadikan reformasi sebagai esensi/hakikat, yang di pandangnya sebagai puncak pencapaian total pergerakan sosialis. " Kesalahan kaum revisionis adalah… bahwa mereka mau mengabadikan/ melanggengkan reformisme negara teoritik; dan bahkan hendak membuat reformisme sebagai satu-satunya metode perjuangan klas proletar"' demikianlah pernyataan Trotsky dalam tulisannya Perang dan Internasional (the war and the international). "Dengan demikian kaum revisioinis gagal mengantisipasi kecendrungan-kecendrungan obyektif dalam perkembangan kapitalistik. Padahal dengan semakin mendalamnya perdebatan-perdebatan klas, semakin terbuka pulalah jalan revolusi sosial, sebagai satiu-satunya jalan menuju pembebasan proletariat". (halaman 60)

Cara pandang kaum reformis dapat tergambarkan dengan jelas dalam pernyataan Bernstein : " Bagi saya apa-apa yang di sebut tujuan utama sosialisme, bukanlah apa-apa, bagiku gerakan adalah segala-galanya" (Reformasi atau Revolusi, halaman 64) Dalam kecamannya Rosa Luxemburg menunjukkan bahwa di antara reformasi dan revolusi sosial, terdapat dua hal yang tak terjembatani bagi kaum sosial demokratik. Perjuangan reformasi sebagai alat/sarana, revolusi sebagai tujuan sejati" (halaman 8).

Sekarang tentang kaum sektarian. Kaum sektarian justru melakukan kesalahan yang sebaliknya. Kaum sektarian ataupun ultra radikal sama sekali menolak reformasi sebagai alat/sarana revolusi. Mereka menolak perjuangan lewat reformasi secara prinsip, karena menurut mereka , reformasi cenderung melunakkan kaum buruh ke haribaan kapitalisme. Sehingga hanya akan merepotkan/menghalang-halangi perjuangan revolusioner bagi pembebasan klas buruh. Amerika merupakan contoh yang mengerikan pihak sektarianisme yang sangat kaku di dalam Partai Buruh Sosialis (Socialis Labour Party). Socialis labour Party memandang segala bentuk aksi massa bagi reformasi sebagai tindakan reaksioner, dan oleh karena itu menolaknya sama sekali.

Dalam perdebataan teoritik menghadapi dua kecendrungan di dalam tiubuh internasional, Marxisme muncul sebagai pemenangnya. Dalam menghadapi kaum oportunis yang berusaha untuk melunakan gerakan sosialis ke dalam 'pelukan' tatanan kapitalis .. Kaum Marxis menekankan keharusan untuk mempromosikan perjuangan klas , untuk merebut kekuasaan, dalam rangka menjungkirkan kapitalisme dan menegakkan sosialisme. Sedangkan dalam menghadapi kaum ultra kitri, kaum Marxis menunjukkan arti pentingnya perjuangan lewat reformasi … untuk, memanfaatkan semaksimal mungkin lembaga-lembaga demokrasi dan parlemen, demi mendidik, mengorganisir dan mencerahkan kaum buruh.. sampai mayoritas rakyat siap bagi pengambil alihan kekuasaan; bagi sebuah hujaman telak yang revolusioner atas kapitalisme.

Konflik berkesinambungan antara kaum Marxis melawan kaum oportunis meletup dengan keras di Eropa. Di negeri-negeri dengan perkembangan pergerakan sosialis yang paling maju, yakni Jerman dan Perancis. Di Perancis, Konflik tersebut mengedepan sehubungan dengan persoalan politik praktis yang dilakukan oleh Alexandre Millerand. Millerand adalah seorang anggota Partai Sosialis Independen (Independent Socialis Party) . Pada tahun 1899 ia menerima tawaran (dengan pertanggung jawaban perorangan) untuk menduduki jabatan menteri urusan industri, dalam sebuah kabinet kapitalis. Ini adalah yang pertama kalinya seorang pimpinan sosialis menerima tawaran jabatan di dalam pemerintahan borjuis; namun ini bukanlah yang terakhir kalinya. Millerand membela dirinya dengan dalih, bahwa hal tersebut merupakan sebuah keharusan, demi menyelematkan demokrasi Perancis dari kaum Monarkis dan Bonapartis. Menurutnya kaum Monarkis dan Bonapartis sedang mengeruk keuntungan lewat agitasi-agitasi yang di lancarkan atas kasus Dreyfus; dengan tujuan untuk mengahancurkan republik Perancis yang ketiga (Third Republik). Pertikaian berkelanjutan atas penyelewengan Millerand dari garis sosialisme, mengakibatkan terkjadinya perpisahan (split) ; antara sayap kiri dan sayap kanan dalam partai sosialsi Perancis. Polemik dan kontoversi ini bahlkan menyebar juga seluruh kalangan Sosial Demokrasi Eropa.

Persoalan mendasar tentang politik koalisi (tentang kolaborasi/kerjasama persekongkolan klas kaum sosialis dengan sayap liberal dari klas kapitalis) dalam menghadapi kekuatan reaksioner lainnya… bukan lagi permasalahan masa lalu, melainkan persoalan yang masih harus kita hadapi sampai saat ini. Persoalan ini kembali berulang dari waktu ke waktu, dalam rangkaian perkembangan sosialis. Dan selalu saja kaum oprtunis menyeruhkan slogan-slogan dan argumen-argumen palsu yang itu-itu juga … sambil mencari upaya merusak klas buruh, pada tahun 1918, misalnya, Ebert dan scheidemann memasuki pemerintah republikan kaum borjuis, dengan dalih "Untuk menyelamatkan demokrasi Jerman ". hasil nyatanya adalah : Pemukulan keras atas revolusi proletarian, dan kemenangan Nazi. Ketika sosialis dan belakangan juga kaum Stalinis, berpartisipasi dalam pemerintahan republiken klas borjuis Spannyol;(dengan alasan yang kurang lebih sama , menyelematkan demokrasi Spamyol dari ancaman kaum monarkis dan fasios). Hasil bersih; naiknya Franco ke panggung kekuasaan. Suatu ketika pimpinan kaum buruh dan kaum stalinis menyatakan Bahwa; Presiden Roosevelt harus di dukung, dalam rangka menangkal kaum ultra reaksioner di Amerika Serikat … Dan program perangnya harus di ikuti untuk memukul balik Fasisme dari Eropa. Hasil melimpah ruahnya pengangguran dan pengupahan yang rendah; masih di tambah dengan tindakan keras pemerintah atas setiap aksi-aksi pemogokan buruh. Dan inilah 'buah' yang dapat di petik setelah mengikuti perang: di lancarkannya program "pembersihan orang-orang merah" dari serikat-serikat buruh; dan perburuhan kaum kiri oleh Mc Carthy, di bawah restu dari "kawan" kawan buruh liberal, yaitu Harry Truman. Lagi-lagi pada tahun 1968 terdengar seruan untuk mendukung Presiden Lyndon Johnson, untuk menghadapi "pedagang perang" Barry Goldwater. Semua ini sama saja.

Hal-hal tersebut di atas maupun pengalaman-pengalaman sejarah lainnya yang memiliki kesamaan selama abad ke-20 … telah menguji dan membuktikan, ketetapan pandangan kaum Marxis (yang sudah di lontarkan semasa Millerand); Bahwa kolaborasi politik kaum sosialis dengan representasi perwakilan kapitalisme manapun juga, hanya akan memperkuat klas penguasa yang reaksioner. Dengan menyingkirkan kaum buruh dan merongrong demokrasi. Bukti-buktinya sudah terdapat dalam diri Millerand, yang di kemudian hari "memotong" aksi pemogokan buruh-buruh kereta api Perancis. Kolaborasi semacam itu menjadi basis bagi pendirian "Front-front rakyat" (palsu), yang ternyata menggiring kaum buruh Eropa ke dalam jurang kekalahan sebelum perang dunia II … ataupun persatuan masyarakat dengan imprealis (yang berkedok) demokratik, yang terbukti hanya membawa kehancuran selama peperangan. Kaum buruh dapat membela hak-hak ekonomi dan demokratiknya, dengan mengorganisir diri mereka sendiri dalam perjuangan melawan pemerintah mereka. Dan sama sekali bukan dengan menggabungkan kekuatan (dengan musuh-musuh klas mereka sendiri), dalam sebuah koalisi politik.

Dua persoalan ini merupakan bagian integral dari perjuangan yang lebih luas , antara kaum marxis dengan sayap-sayap revisionis sosial demokrasi. Penganjur utama dan pimpinan teoritik kaum revisionis adalah Edward Bernstein. Dalam rangkaian artikelnya yang berjudul problem Sosialisme (Problem of Socialism) yang di terbitkan tahun 1897-1898; maupun dalam bukunya yang berjudul Sosialisme Evolusioner (Evolutionary Socialism) yang di terbitkan tahun 1899 … Bernstein menganjurkan revisi (perbaikan) atas Marxisme, di bawah terang "realitas hidup" (yang palsu). Ia adalah pimpinan teoritik oposisi borjuis kecil yang menytimpang dari garis Marxisme. Bernstein-lah yang dengan pongahnya memperolok-olok dialektika, dengan cara yang sama seperti yang di lakukan oleh Burnham-Shachtman, ketika menentang Socialist Workers Party (SWP)/ Partai Pekerja Sosialis) pada tahun 1939-1940. Ia mencampakkan metode historical materialism (Materialisme historis); bahkan ia menentang makna pentingnya teori pergerakan sosialis secara keseluruhan. Masih juga ia melakukan hal yang sama terhadap teori nilai kerja/labour theory of value (yang merupakan pondasi dari keseluruhan struktur ekonomi politik Marxis)… yang mencakup: Keniscayaan(keharusan) historis atas sosialisme, keruntuhan yang tak terhindarkan dari kapitalisme, hukum akumulasi modal dan kecendrungan penghisapan yang sermakin mendalam atas klas buruh … ringkasnya ia menjadi penganjur aliansi dengan partai-partai borjuis demokrat dan metode-metode oportunisme.

Sejarah telah menunjukan ketidakbenaran teori maupun maupun ramalan-ramalan Bernstein. Bernstein sendiri sangat meyakini bahwa kapitalisme telah berkembang secara lebih damai, lebih progresif, menghapuskan krisis-krisis yang ada, meningkatkan standar kehidupan massa. Ia meramalkan bahwa reformasi dengan sendirinya (secara bertahap) akan membuka jalan bagi sosialisme; bahwa negara kapitalis akan berubah menjadi sosialisme (secara damai/tanpa konflik sama sekali). Dan bahwa antagonisme klas akan hilang dengan sendirinya. Padahal paruh dari abad ini sendiri telah mempertunjukan barbagai konflik krisis yang menganga, kelaparan/kemelaratan, pengangguran… berbagai proses pembusukan Kapitalisme. Bersamaan dengan antagonisme klas yang bergerak/berkonflik, dan meletus dalam bentuk perang maupun revolusi.

Bahkan pada masa seperti itu, kaum Marxis-- yang di persenjatai dengan sosialisme ilmiah-- memenangkan pertarungan teoritik melawan ide-ide revisionisme. Walaupun memang masih ada saja orang yang senang memelihara kebiasaan dan praktek-praktek reformis di tubuh partai. Di Jerman : Babel, Kautsky, Rosa Luxemburg -- ketika itu -- memukul mundur kaum revisionis yang di piimpin oleh Bernstein dan Vollmar ( yang 'kebetulan' merupakan pendahulu Stalin, dalam menganjurkan teori tentang "sosialisme di satu negeri").

Dalam kongres kaum sosial demokrasi Jerman pada tahun 1903 di kota Dresden, Bebel dan Kautsky berhasil mempetahankan keutuhan partai, sekaligus mengeluarkan sebuah resolusi yang di tujukkan kepada kaum revisionis. Resolusi tersebut berbunyi antara lain:

Dengan ini kongres mengutuk keras, upaya-upaya para revisionis untuk mengubah garis-garis taktik yang sudah teruji dan sukses. Yang telah kita emban selama ini, yang juga berasal dari perjuangan klas .
Taktik para revisionis ini secara tak terhindarkan akan mengubah watak partai kita .. dari sebuah gerakan yang bertujuan-- uintuk melakukan penyingkiran secepatnya atas masyarakat borjuis (dan menggantikan dengan masyarakaat sosialis ) -- menjadi sebuah kelompok yang puas dengan perbaikan-perbaikan dalam masyarakat borjuis. Selanjutnya, kongres mengutuk tiap upaya untuk menyembunyikan antagonisme-antagonisme klas (pertentangan-ppertentangan klas) yang semakin meningkat terlebih-lebih bila di maksudkan untuk memfasilitasi kerja sama dengan partai-partai borjuis (di kutip dari Landauer, Sosialisme Eropa/ European soocialism, vol.1, halaman 359).

Pada kongres Internasional di Amsterdam tahun 1904, resolusi Dresden di atas, menjadi pusat perdebatan sengit yang berlangsung sampai empat hari. Kongres ini juga menjadi saksi bagi terjadinya " duel dua raksasa berkaliber internasional" antara Jaures (seorang sosialis Peranncis) melawan Babel (pimpinan sosialsi Jerman) . Dengan menerima resolusi Dresden , internasional secara resmi menyingkirkan teori kaum revisionis, dan sekali lagi mengukuhkan dirinya berdiri tegak di bawah panji-panji revolusi Marxisme.

Kongres Amsterdam sendiri menandai titik puncak internasional kedua. Kongres di hadiri oleh 444 delegasi, yang merupakjan kelompok perwakilan gerakan sosialis terbesar dan paling solid, sejauh yang pernah di catat. Ketika Van Kol (seorang sosialis dari Belanda) memberikan sambutan, ia membandingkan perbedaan yang sangat ,mencolok antara kongres internasional tahun 1872 dengan 1904 ini. Di tahun 1872 seingatnya, beberapa lusin delegasi International Pertama bertemu di Den Haag (*Belanda) , di sebuah Kafe … hanya untuk membubarkan organisasinya . Dalam waktu 30 tahun orang-orang pengasingan dan pejuang-pejuang buruh yang tadinya di buru-buru tersebut telah menggerakan dunia.

Tahun itu (1904), merupakan masa kejayaan internasional kedua dan gagasan Marxisame yang di embannya. Kejayaan ini masih tetap di tingkatkan, ketika revolusi Rusia yang pertama meletus pada tahun berikutnya (1905) … ketika klas buruh yang masih begitu mudah -- di bawah kepemimpinan sosial demokrasi -- untuk pertama kali menunjukkan kegagahan Revolusionernya.

Itulah titik puncak internasional kedua. Titik tersebut turun bersama dengan surutnya gelombang pasang revolusioner.

Bab III : Menjangkitnya Oportunisme dalam Sosialis Internasional (1904-1914)

Kongres Amsterdam tahun 1904 dan revolusi Rusia tahun 1905 adalah dua puncak semangat revolusioner dalam sejarah internasional kedua. Kongres tersebut menandai kemenangan Marxisme atas ide-ide sayap kanan kaum revisionis. Juga kemengan cita-cita kaum proletarian terhadap upaya-upaya penggiringan buruh yang terorganisir ke arah demokrasi parlementer. Kemenangan taktik yang berbasiskan perjuangan klas yang tegar, atas taktik yang berbasiskan oportunisme dan reformisme sosialis. Pendeknya, kemenangan semangat proletarian atas pengaruh-pengaruh borjuis kecil di dalam internasional kedua.

Revolusi Rusia tahun 1905 menjadi saksi atas program dan semangat ini, yang memandu aksi pengerahan massa secara besar-besaran. Harap di ingat sejak di pukulnya komune Paris tahun 1871, di Eropa tidak pernah ada lagi gejolak revolusioner dalam skala besar, selama sekitar tiga puluh lima tahun terakhir. Sekarang , justru di kekaisaran Tsar yang terbelakang, yang merupakan negeri yang paling reaksioner di Eropa … dengan sebuah rejim absolut yang menindas lembaga-lembaga demokrasi, memburu-buru kaum sosialis dan gerakan buruh… justru segenap rakyat Rusia yang tertindaslah yang mulai bergerak lebih dulu di Eropa; terutama setelah kekalahan menyakitkan yang di alami Rusia dalam perang Rusia- Jepang. Adalah klas buruh Rusia yang masih muda, yang berdiri paling depan dalam barisan massa rakyat; dan ini semua di pandu oleh kaum sosial Demokratik Rusia.

Dalam sebuah kuliah tentang revolusi 1905 (yang di berikan Lenin dalam dalam pembuangan di Swiss, satu bulan sebelum pecahnya revolusi tahun 1917) Lenin mengamati:
Sebelum 22 Januari 1905 partai revolusioner Rusia belum memiliki keanggotaan secara luas … saat itu kaum reformis menyebut kita sebuah "sekte" (kelompok kecil). Seratusan organiser revolusioner, sekian ribu anggota organisas lokal, setengah lusin koran revolusiner yang terbit tidak lebih dari sekali bulan (material-material/ koran ini biasanya di terbitkan di luar negerri dan di selundupkan ke Rusia dengan kesukaran luar biasa; dan dengan bayaran pengorbanan yang tidak kecil.) Seperti itulah partai-partai yang revolusioner dan khususnya Partai Sosial Demokrasi Rusia, sebelum 22 Januari 1905. Kondisi seperti itu membuat kaum reformis yang picik dan pongah, mengeluarkan justifikasi (pembenaran) Revolusi Rusia adalah peristiwa besar pertama yang membawa hembusan segar dalam atmosfir Eropa yang pengap/membosankan, selama 35 tahun terakhir sejak komune Paris. Perkembangan cepat dalam klas buruh Rusia, dan kekuatan tak terbayangkan dari pemusatan sktifitas revolusioner mereka….menghasilkan kesan yang mendalam bagi dunia dan dimana-mana menghasilkan menih yang mempertajam perbedaan-perbedaan politik. Di Inggris, revolusi telah mempercepat pembentukan partai buruh independen. Di Austria terjadi desakan-desakan yang kuat untuk menegakkan hak-hak politik rakyat. Di Perancis, gaung revolusi Rusia ( mengambil bentuk dalam gerakan sindikalisme) … memberikan pencerahan pada tingkat praktek dan teori … bagi terbangunnya kecendrungan revolusioner proletariat Perancis . Di Jerman revolusi Rusia menunjukan pengaruhnya dalam penguatan buruh dalan sayap Kiri partai; menyeret mayoritas kaum tengah ke Kiri . Menghasilkan penyingkiran kaum revisionis (Kanan). Sehingga secara prinsip partai menetapkan metode revolusioner dalam aksi-aksipemogokan umum. (Perang dan Internasional , halaman 61).

Pemberontakan besar tahun 1905 juga meninggalkan jejak yang mendalam, di seluruh Asia dan merangsang revolusi-revolusi melawan kekuatan kolonial di Turki, Persia dan China.

Betapapun revolusi itu di pukul balik dengan sangat keras. Kekalahan revolusi dan kemenangan kekuatan kontra revolusi; telah mendorong berlangsungnya periode reksi yang berkepanjangan , hal ini bukan hanya berlangsung di Rusia, namun juga ditiap penjuru Eropa. Trotsky menggambarkan kemunduruan politik tersebut sebagai berikut:

Di Rusia kekuatan kontra revolusi menang . dan bersamaan dengan ini dimulailah periode kemunduran dalam proletariat Rusia; kemunduran kekuatan, baik secara politik maupun organisasi di Austria , jalinan-jalinan kemajuan uang telah di capai oleh klas buruh terpotong-putus. Tuntutan bagi pengesahan jaminan sosial untuk rakyat banyak, terbengkalai di kantor-kantor pemerintah. Tuntutan-tuntutan bagi hak-hak politk universal terpuruk dalam kepentingan kaum nasionalis belaka; semua ini bermuara pada semakin melemah dan terpecahnya kekuatan Sosial Demokrasi. Di Inggris, setelah sekian lama Partai Buruh melepaskan diri dari Partai Liberal , belakangan ini mulai menjalim hubungan kembali. Di Perancis, kaum sindikalis menyerah pada posisi kaum reformis . Dalam waktu yang singkat Gustave Harve memutar balik ketetapan yang diambil sendiri. Di Jerman sendiri , kaum revisionis dalam tubuh partai Sosial Demokrasi, mengangkat kembali kepala mereka dengan pongahnya. Kaum Marxis dipaksa untuk merubah taktik mereka dari taktik ofensif menjadi taktik defensif. Upaya-upaya kaum kiri dalam mengarahkan partai-partai untuk mengambil kebijakan yang lebih aktif , tidak membuahkan hasil. Kaum tengah makin bergerak ke arah kanan, smbil mengepung akum radikal/kiri. Kekuatan-kekuatan konservatif menarik nafas lega atas kekalahan revolusi 1905 (Perang dan Revolusi, halaman 63).

Dalam kuliah- kuliah (sebagaimana yang telah disbutkan di muka) Lenin menegaskan ,"bahwa revolusi Rusia 1905, dikarenakan watak proletariatnya … adalah merupakan prolog (pendahuluan), bagi kedatangan revolusi Eropa " (Karya-Karya Terseleksi Lenin, Volume 23, Halaman 252). Pandangan jernih yang tajam ini -ketika itu- di akui juga oleh Kautsky. Namun pandangan itu tidak menjadi pandangan yang dominan dikalangan pemimpin-pemimpin Internasional Kedua; sehingga tidak pernah di pakai sebagai sebuah panduan strategi (terutama pada tahun 1904-19914). Para pemimpin Internasional Kedua tersebut, bekerja dengan menggunakan cara pandang dan analisis yang berbeda. Walau tidak di akui secara terbuka, sesungguhnya cara pandang kaum reformis

Apa sajakah premis-premis (landasan argumen) mereka? Kini mereka percaya bahwa kapitalisme akan tetap berlanjut bertahan sampai dengan mas depan yang tak terbatas. Seperti yang sudah hidup di bawah kondisi kolonial. Keuntungan luar biasa yang ditumpuk dan akumulasi oleh penguasa-penguasa kapitalis, memungkinkan negeri-negeri besar tersebut… (selama masa 'naik daunnya' kapitalisme global) … memiliki kemampuan untuk memberikan lapisan buruh sedikit remah-remah ( sisa-sisa makanan) yang tercecer dari mejan makan majikan besar mereka yang rakus. Lapisan buruh yang menikmati hal- hak istimewa inilah yang merupakan aristokrat-aristokrat buruh mereka; lazimnya membentuk partai buruh yang besar dan mapan , ataupun juga serikat-serikat buruh yang birokratis.

Pimpinan-pimpinan partai buruh mapan maupun serikat buruh birokratis tersebut biasanya memilih jalan parlementer; dan menjadi penganjur-penganjur utama bagi kampanye pengambilan jalan damai, gampangan dan hidup berdampingan secara 'berbudaya'. Mereka tidak bertindak, berpikir dan merasakan -sebagaimana seharusnya perwakilan klas yang tertindas- namun, lebih mirip penjaga-penjaga toko borjuis kecil, majikan-majikan kecil, guru-guru sekolahan… bersamaan dengan semakin kentalnya kecendrungan borjuis mereka - orang-orang mapan tersebut juga menjadi semakin terisolasi (terasingkan) - dari penderitaan, kesukaran-kesukaran hidup maupun aspirasi massa rakyat. Mereka juga sudah tidak merasa penting untuk memintakan pertanggungjawaban majikan mereka, apalagi melawannya.

Kaum borjuis kecil bersikap sama terhadap rakyat tanah jajahan (daerah-daerah kolonial) . Sungguhpun mereka tahu betul bahwa --hasil-hasil bumi--, kenyamanan penghidupan, standar penghidupan yang lebih tinggi, hak-hak istimewa yang mereka kecap - sebagian besar dihasilkan dari penghisapan atas rakyat-rakyat tanah jajahan. Dengan dinginnya mereka membiarkan begitu saja pengambilalihan daerah-daerah koloni… mereka juga tidak mempedulikan kekerasan, penindasan, maupun kemorosaotan penghidupan yang menimpa rakyat tanah jajahan. Sekali lagi mereka memilih bungkam terhadap proses perbudakan yang berlangsugn bersamaan dengan kebijaksanaan dan praktek-praktek kolonial maupun imprealis. Sama sekali tak terlintas dalam mereka, perihal keharusan untuk memblejeti praktek-praktek tersebut di atas ; dalam rangka mendidik kaum buruh. Dengan membangkitkan keadaran klasnya, dan membangun ikatan solidaritan/persaudaraan antar klas buruh dari negeri-negeri yang paling terinjak-injak.

Sebagai konsekwensi logisnya , kaum sayap kanan dalam gerakan buruh, justru menjalin aliansi dengan borjuasi pribumi, untuk menindas rakyat di tanah jajahan (khusunya klas buruh di perkotaan atau di pinggiran kota ) . Ternyata praktek kolaborasi klas (kerja sama antar klas) inilah yang pakai untuk menggantikan perjuangan klas yang konsisten; dan inipulalah yang menjadi akar oportunisme . Lenin menggambarkan hal ini sebagai," pengorbanan atas kepentingan fundamental massa klas buruh, demi kepentingan-kepentingan sesaat minoritas kaum buruh (yang tak penting) . Atau dengan lain perkataan aliansi sebagian kecil kaum buruh dengan kaum borjuis, untuk menindas massa proletariat.

Ada empat yang persoalan yang menandai petumbuhan elemen-elemen kanan kaum oportunis , terhitung sejak tahun 1906 sampai dengan tahun 1914; di internasional kedua. Yang pertama dan paling utama adalah dalam menghadapi persoalan kolonial.

Pada kongres di Stuttgart yang tahhun 1907, kaum sayap kiri menyerukan perjuangan yang prinsip bagi kebijakan sosialis yang sejati. Dengan demikian sebagai konsekuensi, kaum kiri menentang tiap penaklukan, praktek-praktek perhambaan, pemerkosaan, panjarahan yang menjadi ciri khas dalam operasi-operasi kolonial kekuatan-kekuatan imprealis.

Kaum oportunis yang di pimpin oleh serikat-serikat buruh Jerman, menentang tiap upaya untuk melawan kekuatan-kekuatan imprealis . Mereka cenderung memilih untuk beradaptasi/ menyesuaikan diri dengan kekuatan-kekuatan imprealis tersebut. Seorang delegasi Jerman bernama Eduard David, berargumentasi: Karena kebijakan dan penindasa kolonial adalah sesuatu yang tak terhindarkan di bawah kapitalisme ; maka kaum sosial demokrasi tidak perlu melakukan perlawanan atasnya. Yang perlu dilakukan kaum Sosial-Demokrasi adalah berjuang bagi perbaikan-perbaikan kondisi kerja penduduk pribumi di tanah jajahan. Ringkasnya Eduard David mau mengatakan, bahwa perjuangan yang perlu dilakukan bukannya untuk mengakhiri perbudakan; namun untuk memperbaiki kondisi- kondisi perbudakan.

Barnstein juga berpendapat, bahwa masyarakat memang dapat di bagi dalam dua kategori: kaum penguasa dan kaum yang dikuasai. Bagian tertentu dalam masyarakat memang sepeti kanak-kanak, yang selalu harus di bimbing , dan tidak sanggup mengembangkan diri mereka sendiri. Sehingga kebijakan kolonial --menurutnya - adalahg sesuat yang tak bisa di elakan, bahkan di bawah tatanan sosialisme sekalipun. Bagi idiologi-idiologi (palsu) tersebut bangsanya sendirilah yang paling beradab, dan memang terlahirkan sebagai " bangsa yang di pertuan" ( dan tidak mungkin terjadi sebaliknya sebagai bangsa yang di perbudak).

Kongres menyelenggarakan pemungutan suara (voting) sehubungan dengan 'persoalan kolonial' ini. Dan hasilnya adalah kaum revisionis memperoleh 127 suara, sedangkan kaum oportunis 108 suara, sisa 10 suara menyatakan abstain (tidak memilih). Semua kaum sosialis Rusia yang yang hadir dalam kongres memilih dengan semangat revolusioner; sementara mayoritas pimpinan serikat-serikat buruh Jerman mendukung kaum oprtunis. Pilihan-pilihan yang mereka ambil ini sudah merupakan isyarat tersendiri, yang akan terbukti nanti dalam sejarah.

Perdebatan kedua adalah mengenai kebijakan imigrasi. Seorang delegasi Amerika berpendapat bahwa Internasional seharusnya mengeluarkan tuntutan bagi pemberlakuan Undang-undang yang membatasi masuknya kaum buruh-buruh berkulit kuning ke "negeri-negeri beradab". Yang hakikatnya adalah usulan untuk membangun tembok pemisah antara klas buruh di Asia dengan yang tinggal di Amerika /Eropa; lewat sebuah perundang-undangan kapitalis. Cara pandang semacam initelah menjadi semacam tradisi dalam kebijakan buruh Amerika, yang masih berlaku sampai hari ini.

Perdebatan ketiga yang lebih penting , adalah menyangkut hubungan antar partai-partai sosialis dengan serikat-serikat buruh. Di satu pihak, ada kecendrungan bahwa para pimpinan serikat buruh, merasa nyaman dengan hak-hak istimewayang dimilinya; sambil 'membina' kaum buruh yang masih terbelakang. Mereka inilah yang menentang dan berusaha melepaskan diri dari segala bentuk kontrol/pengawasan politik; yang lazim bagi sebuah partai yang menggunalkan metode perjuangan klas. Karenanya orang-orang tersebut senantiasa menyerukan 'netralitas' serikat buruh, sehubungan dengan program-program ataupun aktifitas -aktifitas partai sosialis. Harap di catat bahwa lahan subur bagi pertumbuhan oportunisme dan arah gerak ke kanandalam internasionale kedua , justru di pelopori oleh serikat-serikat buruh.

Memang kita pahami benar bahwa otonomi organisasional bagi serikat-serikat buruh adalah sebuah keharusan. Namun independensi total bagi serikat-serikat buruh adalah sebuah keharusan. Namun independensi total bagi serikat-serikat buruh dalam praktek dan kebijakan adalah sesuatu yang mustahil. Mengingat bahwa dalam peta pertarungan kekuasaan politik , serikat-serikat buruh tersebut hanya punyta dua pilihan : jatuh ke bawah cengkeraman kapitalis dan pemerintahannya, atau berjuang bersama kaum oposisi/penentang klas kapitalis, yakni bersama massa proletariat. Sehingga kita tidak mengenal 'jalan tengah' dalam menghadapi persoalan diatas dengan melakukan pemisahan antara perjuangan politik dengan perjuangan ekonomi, kaum sayap kanan hanya menginginkan mendapatkan pengesahan atas oportunisme mereka.

Dalam kongres di Stuttgart tersebut, keinginan-keinginan atas 'netralitas' serikat-serikat buruh berhasil diselesaikan oleh kaum revolusionis yang berpegang teguh pada prinsip-prinsip fundamental Marxime. Mengenai hal ini Clara Zetkin menuliskan catatannya sebagai berikut, " Kini secara prinsip, tidak ada lagi suara-suara yang mempertanyakan kecendrungan historis yang poko dari perjuangan klas proletar; untuk mempersatukan pengorganisasian kerja-kerja ekonomi dan politik seerat mungkin, dalam sebuah klas buruh sosialis" (dikutip dari Karya-Karya Terkoleksi Lenin , Volume 13, Halaman 89).

Komentar Lenin sendiri atas perdebatan tersebut: "Sambil menjalani proses pentahapan dan hubungan timbal balik yang yang tak terelakan (antara partai revolusioner dengan serikat buruh --penerjemah)… Dengan tidak mengambil langkah-langkah yang gegabah/tak bijaksana… Kita harus bekerja bekerja secara konsisten dengan serikat-serikat buruh, dlam rangka memandu mereka ke arah yang lebih dekat dengan Partai Sosial Demokratik" (Karya-Karya Terkoleksi Lenin, Volume 13, Halaman 89).

Problem mengenai hubungan antara partai pelopor (Vanguard party) dengan proletriatnya sebagaimana seharusnya, dikaitkan dengan hubungan antara serikat buruh yang mencerminkan proletariat sebagaimana seadanya (betapapun kurang maksimalnya) … adalah salah satu persoalan penting dalam khasanah revolusioner Marxisme. Hal ini juga sekaligus merupakan problem yang paling sukar untuk di tangani di tingkat praktek.

Hubungan-hubungan ini tidak hanya memiliki perbedaan-perbedaan di negeri-negeri yang berlainan ; namun hubungan ini bahkan telah memiliki perbedaan-perbedaan dalam tingkatan-tingkatan perkembangannya, di negeri yang sama. Pergerakan serikat buruh telah menjadi saksi bagi terjadinya dua macam hubungan yang mewakili dua kubu yang berbeda. Di Jerman dan Rusia pada umumnya, Partai Sosial Demokrasi-lah yang mengambil inisiatif dalam membentuk dan memipimpin organisasi serikat-serikat buruh. Bagi Inggris dan Amerika Serikat --dilain pihak-- gerakan sosialis dengan gerakan serikat-srikat buruh dilahirkan dan berkembang secara terpisah bahkan saling bertentangan satu sama lain.

Kaum sindikalis yang cukup berpengaruh di Perancis dan Spanyol, jug amenentang segala kaitan/hubungan antara serikat buruh dengan partai politik klas buruh.

Belakangan -di beberapa negeri imprealis utama- seperti Inggris dan juga Kanada,… pergerakan politik di awali kebangkitan dari serikat-serikat buruh. Dan secara bertahap melebur dengan partai pelopor, dalam bentuk partai-partai buruh … (dengan ataupun tanpa program/idiologi sosialis yang dinyatakan secara terbuka) .

Dengan variasi peluang/ kemungkinan yang begitu beragam -dari dua kubu besar tadi- nampaknya tidak akan ada satu formula yang final/absolut, untuk menentukan hubungan hubungan antara pergerakan ekonomi dan politik kaum buruh. Apakah pilihan terbaik yang perlu diambil -dalam tahapan perkembangan tertentu- sangat tergantung pada keseluruhan faktor politis historis yang kompleks.

Betapapun, ada satu pertimbangan yang akan tetap konsisten bagi kaum Marxis. Yaitu soal peranan politik yang dinilai lebih menentukan/lebih penting dibandingkan peran ekonomi (yang secara organisasional tercerminkan dalam peranan partai atas urusan-urusan serikat-serikat buruh). "Politik" demikian ungkap Trotsky, " Adalah pencerminan umum yang terfokus, yang berangkat dari persoalan-persoalan ekonomi".

Trotsky menggambarkan tujuan ideal atas hubungan (partai dan serikat buruh), sebagai berikut: Partai - kalau memang cukup berharga untuk disebut demikian- mencakup keseluruhan pelopor klas buruh. Partai menggunakan pengaruh pengaruh idiologisnya, untuk membangun tiap 'cabang' dari pergerakan buruh menghasilkan buah (khusunya bagi gerakan serikat buruh). Namun kalau serikat-serikat buruh juga hendak benar-benar dianggap cukup berharga … serikat-serikat buruh itu juga harus merangkul massa buruh yang terus tumbuh berkembang, meliputi juga elemen-elemen buruh yang belum maju. Sehingga mereka (serikat-serikat buruh) baru akan menuntaskan tugas mereka, ketika berhasil memandu buruh-buruh tersebut, secara sadar denagn prinsip-prinsip yang fundamental. Dan mereka hanya akan meraih kepemimpinan semacam ini, bila elemen-elemen terbaik dari buruh-buruh tersebut telah dipersatukan didalam partai proletariat yang revolusioner" (tulisan Leon Trotsky mengenai serikat-serikat buruh, halaman 12) Internasional Kedua memang sudah cukup baik dalam menyerukkan hal diatas, sayang sekali masih kurang cukup dalam meyadari sepenuh-penuhnya.

Sementara itu, kekuatan-kekuatan utama di Eropa telah terlibat dalam manuver-manuver diplomatik dan berpacu dalam perlombaan senjata, yang akan memuncak dalam perang tujuh tahun kemudian… Dengan demikian dalam rangka mengantisipasi persipan tersebut di ata, kaum sosialis memberikan porsi yang sentral dalam kongres Internasional kedua di Stuttgart.

Ada tiga posisi klasik yang mengedepan pada kongres internasional kedua di Stuttgart tersebut … cara pandang oportunistik diwakili oleh georg Vollmar (seorang pemimpin sayap kanan dari Partai Sosial Demokrasi Jerman). Vollmar secara terbuka menolak prinsip-prinsip revolusioner proletariat, dan malah berkhotbah tentang petriotisme bagi 'tanah air' (baca : membela negeri jerman yang kapitalistik). Bukanlah tanpa alasam bila kita menelusuri akar perkembangan teori sosialisme di satu negeri ;dalam pernyataan Vollmar ini Vollmar menyatakan :" Tidak benar kalau ada yang mengatakan bahwa kita tidak memiliki air. Segala kecintaan kita akan kemanusiaan, tidak dapatr menghindarkan kita untuk menjadi orang-orang Jerman yang baik… Kami berpendapat bahwa prpaganda anti militer bukan saja tidak benar dari sudut pandang teori, tapi juga sama sekali berbahaya secara prinsip".

Dari sudut pandang yang sama sekali bertolak belakang belakang dengan yang diatas; seorang Perancis yang bernama Herve, mewakili posisi kaum ultra kiri. Herve berpendapat bahwa tiap peperangan dapat diantisipasi dengan aksi pemogokan buruh besar besaran, yang diikuti dengan pemberontakan. Menurut Lenin, Herve telah melupakan, " Bahwa penggunaan atas suatu alat/sarana (maupun sarana-sarana lainnya), dalam perjuangan ( menghadapi perang) … sangat bergantung pada kondisi-kondisi obyektif dari krisis tersebut -secara ekonomi ataupun politik - yang dipercepat oleh perang tersebut. Sehingga bukanlah bergantung pada keputusan-keputusan yang telah dibuat oleh kaum revolusioner " (Karya-Karya Terkoleksi Lenin, Volume 13, halaman 91).

Pengalaman yang telah menunjukan , bahwa aksi pemogokan umum (ditingkat nasional) adalah sesuatu yang mustahil pada saat pecahnya perang … ketika chauvinisme dan persatuan nasional sedang begitu memuncak. Ketika klas pemodal begitu kuat dan klas buruhnya masih sangat lemah. Menurut Lenin formula yang diusulkan oleh Herve adalah salah, karena, "tidak sanggup mengaitkan perang dengan rejim kapitalis secara keseluruhan ; dan juga agitasi anti milite rdengan kerja-kerja sosialisme secara keseluruhan " (dikutip dari Lenin, volume 13).

Kasus herve ini terutama sangat penting untuk mempertunjukan bagaimana semua seruan kaum borjuis kecil bagi avonturisme (petualngan) dai arah ultra kiri, dengan berjudi atas persoalan-persoalan sedemikian pentingnya, yang merupakan kebalikan ekstrim oportunisme … justru dapat merupakan sisi lain dari mata uang yang sama : sejarah mencatat bahwa Herve -si anti militer yang fanatik- menjadi patriot yang bebal pada tahun 1914.

Sayap Marxis dalam Internasional Kedua yang dipimpin oleh Lenin, Roxa Luksenburg dan Clara Zetkin memenangkan perdebatan (keempat) terakhir mengenai peperangan. Zetkin mengekspresikan momen tersebut sebagai berikut :" keberanian semangat dan energi revolusioner klas buruh dalam kapasitas tempurnya… berhasil memukul mundur keyakinan mandul yang digrenggam erat oleh orang-orang yang bersandar pada metode perjuangan parlementarian ; dan juga berhasil mengatasi kedangkalan cara pandang anti militeris kaum semi anarkis Perancis yang di kampanyekan oleh orang-orang seperti Herve " (Lenin, Volume 13, Halaman 92)

Kongres mengeluarkan kesimpulan yang ditetapkan dalam resolusi yang menyatakan bahwa peperangan, "adalah bagian yang tak terpisahkan dari Kapitalisme. Peperangan hanya bisa dihentikan ketika sistim kapitalisme itu sendiri di hapuskan …" Resolusi ini mengumandangkan seruan yang menolak segala pengeluaran untuk pembelian senjata dan juag bago propaganda anti militer , Dinyatakan pula bahwa sementara belum ada ketentuan umum "bentuk-bentuk baku dari aksi-aksi antimilitrer yang perlu dilakukan oleh klas buruh.( dalam mengantisipasi momen-momen ancaman perang… betapapun adalah tugas internasional kedua untuk "mengkordinasi dan meningkatkan upaya-upaya yang paling maksimal klas buruh dalam menghadapi peperangan". Sebagai tambahan, resolusi ini juga mengutip sejumlah contoh mengenai aksi anti perang oleh klas buruh yang cukup berhasil. Antara lain di sebutkan pula revolusi Rusia 1905 yang dipercepat oleh perang Rusia-Jepang. Bahaya ancaman tak langsung yang dapat mengarah ke revolusi, di jelaskan dalamn alinea penutup resolusi, yang di rancang bersama Rosa Luxemburg Lenin dan Martov:
"Bila sebuah perang nampaklnya akan meletus, adalah tugas klas buruh dan perwakilan-perwakilan parlementer mereka di negeri-negeri yang bersangkutan… Untuk mencurahkan dukungan ( dengan aktifitas-aktifitas yang di kordinasi dari kantor pusat sosialis Internasional) , dengan mengerahkan sgala upaya dal;am rangka mewncegah meletusnya perang. Juga dengan sarana apapun, yang paling efektif menurut mereka. Yang kesemuanya ini sangat bergantung pada penguatan perjuangan klas dan juga penajaman situasi politik secara umum".
Bila peperangan tersebut nampaknya tidak dapat di cegah dengan cara apapun juga. .. Maka adalah tugas klas buruh untuk melakukan intervensi (campur tangan). Kesemuanya ini dalam rangka untuk mendorng terjadinya percepatan, dan bersamaan dengan segenmap kekuatannya … Memanfaatkan krisis ekonomi dan politik (yang diciptaka oleh peperangan) untuk membangkitkan massa rakyat , agar memacu kejatuhan kekuasaan klas kapitalis " ( untuk teks selengkapnya dari resolusi , lihat Braunthal, hal 361-363).

Nampaknya bahwa dari ringkasan pertimbangan mauoun kettapan yang di buat dalam satu kongres internasional kedua di Stuttgart ( yang merupakan ciri khas bagi kongres-kongres lainnya sampai dengan tahun 1914)… Bahwa selain gangguan-gangguan yang di picu oleh kaum oportunis gagasan Marxis tetap bertahan di dalam tubuh Internasional kedua,. Penilaian semnacam ini akan keliru bila kita bila kita hanya melihat posisi-posisi formal yang diambil oleh orang-orang ( dilihat dari luar saja )… Sehubungan dengan situasi nyata yang melingkupi Internasional kedua.

Penampilan yang kontradiktif dari Internasional Kedua menjadi semakin nyata setelah kongres di Copenhagen tahun 1910. Dari tahun 1910 sampai dengan 1913 pergolakan sosial dan konflik-konflik klas yangtajam mengguncang hampir semua negeri. Para buruh tambang, buruh-buruh kereta rel api. Di Rusia buruh-buruh mesin dan buruh-buruh penambangan emas Di Amerika buruh-buruh perusahaan tekstil maupun penambangan. Ternyata kondisi-kondisi sosial ini malah bermuara pada gerakan reformasi, yang nenotong kebangkitan elan revolusioner.

Perjuangan nasionalis juga menyebar di Turki, di Timur Dekat, di China. Semua perkembangan domestik ini, berjalan erat dengan krisis-krisis di tingkat imternasioal: Insiden agadir yang memoicu bentrokan antara Perancis-Jerman di Maroko tahun 1911, Perang merebut Libya antara Turki-Italia, Perang Balkan pertama tahun 1912 dan lain-lain.

Inilah goncangan-goncangan yang menggoyahkan Eropa di tahun 1914. Namun sementara itu sentimen-sentimen nasionalisme, kekuatiran akan perubahan-perubahan drastis, keraguan atas daya kekautan klas buruh dan aliansi-aliansinya… mengakibatkan merebaknya kecendrungan-kecendrungan oportunis dan munafik, yang merupakan perpaduan yang pengecut dari oportunisme dari kaum tengah.

Pertumbuhan yang menular ini di dalam tubuh partai-partai sosial utama, ternyata memang sangat berbahaya. Mengakibatkan mandul dan runtuhnya Internasional kedua, sebagai sebuah kekuatan progresif .. padahal gejolak konflik perang dunia sudah mulai pecah tepat di hadapan mukanya.

Bab IV : Perang Dunia Pertama dan Keruntuhan Internasional

Pada bulan Oktober 1912 Montenegro menyatakan perang terhadap Turki, yang tak lama kemudian menjalar ke seluruh wilayah Balkan. Bau aroma mesiu sudah tercium sampai ke Eropa, dan hanya di butukan sedikit percikan api untuk membuatnya meledaknya. Kantor pusat Internasional segera me rancang rapat-rapat anti perang, dan mempersiapkan KLB ( Kongres Luar Biasa) sosialis Internasional yang akan di selenggarakan di Basle pada tanggal 24-25 November 1912.

Sungguhpun dipisahkan dalam jangka waktu yang kurang dari satu bulan, kongres tersebut dihadiri tidak kurang dari 555 delegasi dari 23 negeri Kongres yang juga bertujuan sebagai ajang 'unjuk gigi' soliudaritas klas buruh internasional, dalam mengantisipasi ancaman perang yang akan segera menjalar. Pada hari kedua kongres, para delegasi secara bulat telah menandatangani manifesto yang telah dirancang kantor pusat.

Manifesto Basle-lah untuk pertama kalinya mengumandangkan bahwa- perang Eropa yang akan segera menjelang - pada hakikatnya berwatak imprealis. Manifesto Basle juga mengukuhkan posisi prinsipil perjuangan kaum buruh berkenaan dengan persoalan peperangan, yang telah di tetapkan kongrews-kongres interrnasional kedua di Stuttgart (1907) dan Copenhagen (1910). Manifesto Basle juga menggarisbawahi peluang revolusi sosial yang dapat meletus menyusul pecahnya perang.. Dengan mengambil contoh-contoh sperti pemberontakan Komune Paris yang meletus menyusul perang Perancis- Prussia (Jerman) tahun 1871, juga revolusi 1905 di Rusia selama perang Rusia Jepang. Manifesto tersebut antara lain juga menyatakan bahwa "Adalah suatu ketololan yang luar biasa, bila pemerintah-pemerintah yang berkuasa saat ini tidak menyadari luar biasanya ancaman perang dunia… yang dapat dengan mudah memicu revolusi klas buruh" (Landauer, sosialisme Eropa, halaman 495).

Lenin dan perwakilan-perwakilan kaum bolshevik lainnya pada kongres Basle ini 'sangat puas' dengan resolusi tersebut . Lenin dan kawan-kawan manifesto Basle ini sebagai pernyataan penting tentang sikap kaum marxis dalam menghadapi perang kaum imprealis. Sungguhpun demikian Lenin sendiri menyadari bahwa kata-kata/ pernyataan belaka, tidaklah boleh disamakan bobotnya dengan tindakan-tindakan konkrit/aksi. Lenin menyadari betul tentang kecendrungan patriotik (nasionalis) dan arus oportunisme yang sedang berkembang di dalam internasional kedua. Menurut Zinoviev, setelah selesai membaca manifesto Basle tersebut Lenin berkata. "Mereka telah memberikan kita catatan-catatan yang menjanjikan, mari kita lihat seberapa besar usaha mereka untuk mencapainya".

Catatan yang menjanjikan tersebut di uji pada bulan Juli 1914 kaetika Austria dan Hungaria menyampaikan ultimatum kepada Serbia. Anggota-anggota internasional kedua langsung mananggapi krisis ini, dengan mengacu pada ketetapan pertama resolusi stuttgart (1907) , yang berbunyi : "Bila sebuah perang nampaknyua akan meletus, adalah tugas klas-klas buruh … dan seterusnya … untuk mencurahkan dukungan… dengan mengerahkan segenap upaya dalam mencegah meletusnya perang".

Pada tanggal 19 juli 1914, sementara pasukan tentara Austria sedang bergerak di Belgrade ; Kantor pusat sosialis Internasional menggelar demonstrasi anti perang besar-besaran di Jerman, Austria, Italia, Perancis dan Belgia. Demonstrasi besar-besaran itu di pindah ke Wina pada 23 Agustus 1914, dan kemudian pindah ke Paris pada 9 agustus. Dua hari kemudian Partai Sosialis Jerman mencanangkan Manifesto, yang mendesak agar pemerintah Jerman tidak perlu ikut-ikutan dalam perang yang mengerikan" tersebut. Partai Sosialis Jerman juga menggelar rapat-rapat akbar untuk perdamaian, yang dihadiri jutaan kaum buruh. Pada hari di mana Jerman mengumumkan perang terhadap Rusia … Herman Muellle yang telah menjanjikan bahwa partainya sama sekali tidak akan mentokong peperangan, di kirim ke Paris. Sehari sebelumnya Jean James pimpinan sosialis Perancis terbunuh oleh seorang nasionalis fanatik

Di tengah hawa patriotik untuk membela tanah air yang menjalar ke seluruh penjuru negeri, pimpinan-pimpinan partai sosialis demokrasi nampaknya terlalu optimis … bahwa aksi-aksi dan tekanan yang mereka berikan, akan dapat memaksa pemerintah-pemerintah untuk menunda rencana perang mereka. Sejarah menunjukan bahwa sungguhpun aksi-aksi demonstrasi massal mendapatkan perhatian juga dari pemerintahan negeri-negeri imprealis ; namun kepentingan yang lebih besar di antara kekuatan-kekuatan imprealsi (untuk memperluas cakupan kekuasaannya), membuat mereka tidak kuasa menahan diri.

Setelah gagal untuk mencegah meletusnya peperangan di anttara kekuatan-kekuatan imprealis; Kantor pusat dan anggota-anggota Internasional kedua kemudian menimbang-nimbang momnen dan cara yang paling tepat untuk mengemban tugas kedua yang di tetapkan oleh Resolusi Stuttgart: " Bila peperangan tersebut nampaknya tidak dapat di cegah dengan cara apapun juga… maka, dalam rangka untuk mendorong terjadinya percepatan… memanfaatkan krisis ekonomi dan politik (yang diciptakan oleh peperangan) untuk membangkitkan massa rakyat, agar mamacu kejatuhan kekuasaan klas kapitalis".

Inilah saat yang genting bagi persaudaraan internasionalisme klas proletar untuk menguji dirinya sendiri. Menguji kapasitas anggota-anggota dan partai-partai yang tergabung di dalamnya, untuk mengatasi tekanan-tekanan kaum bojuis. Pada titik inilah kaum revolusionis sejati akan dapat di bedakan dengan kaum peng-ekor/pem-bebek, yang dapat dengan segera mengubah-ngubah prinsipnya sendiri. Seperti halnya dewasa ini --peperangan dan revolusi menyediakan batu penjuru-- yang dapat membedakan kaum Marxis sejati.

Namun kesatuan dan kebulatan tekad yang di pertunjukan oleh kaum sosialis dari berbagai negeri untuk mencegah meletusnya perang ; di kacaukan oleh seruan-seruan untuk segera melakukan mobilisasi (wajib militer). Seruan-seruan wajib militer dengan dalih menyelematkan "tanah air tercinta" ternyata di sambut oleh mayoritas massa. Sedemikian rupa sehingga begitu memukul solidaritas sosial Internasional.

Peperangan ternyata memecah Imternasional menjadi tiga pengelompokan yang berbeda ; Kaum sayap kanan, kaum tengah, kaum kiri. Kecendrungan-kecendrungan yang telah menjalar dalam periode -periode sebelumnya, ternyata semakin di percepat akibat peperangan. Dalam manifesto pertamanya yang di keluarkan pada bulan nopember 1914, kaum Bolshevik menuding para penganjur nasionalsime (dengan dalih-dal;ih "patriotoknya") , hanya sekedar mencari-cari alibi … bagi jalur oportunis yang telah mereka tempuh dan khotbahkan selama tahun-tahun terakhir ini.

"Mereka mengatakan bahwa keruntuhan Internasional Kedua --adalah keruntuhan yang telah di picu oleh oportunisme-- yang tumbuh dengan subur selama periode sejarah (yang di sebut sebagai "masa terang dan tanpa gejolak") … masa-masa yang kini telah lewat ; namun selama tahun-tahun terakhir ini, praktis telah mendominasi Internasional Kedua. Kaum oportunis memang telah lama mempersipkan landasan bagi keruntuhan ini; dengan menolak revolusi sosialis dan menggantikannya dengan reformasi borjuis. Dengan menentang perjuangan klas (yang pada titik tertentu secara tak terjhindarkan akan berubah menjadi perang saudara) … dan dengan menganjurkan kolaborasi klas, maupun dengan meyerukan nasionalisme borjuis (dengan topang/selubung 'patriotisme' untuk membela tanah air)… Atau dengan menolak kebenaran fundamental atas sosialisme ( yang telah sekian lama termaktubkan dalam Manifesto Komunis) ; " Bahwa kaum buruh tidak memiliki tanah air". Denagan membatasi diri mereka pada cara pandang orang-orang murtad, dan bukanya menyadari keharusan untuk mengemban perang revolusiner yang sesungguhnya bagi kaum buruh sedunia, dengan melawan borjuasoi di seluruh permukaan bumi ini… Akhirnya juga dengan terlalu mendewa-dewakan penggunaan parlementarisme borjuis … sedemikian rupa sehingga melupakan bahwa bentuki-bentuk ilegal dari organisasi dan propaganda adalah sebuah keharusan, di masa-masa krisis". (Lenin, Karya-Karya Terkoleksi Lanin, Volume 21, halaman 32).

Tidaklah mengherankan bahwa mayoritas partai dan pimpinan-pimpinannya kemudian membuat manuver 'banting setir, peperangan yang telah mereka nyatakan pada bulan juli sebagai "agresi antar kekuatan-kekuatan imprealis ". Tidak sampai satu bulan kemudian pada bulan Agustus, mereka menjilat ludah mereka sendiri, dengan mencanangkan perang sebagai upaya pembelaan bangsa secara umum.

Partai sosial demokrasi Jerman menyerukan "pembelaan bangsa" dalam menghadapi Rusia. Seturut sikap partai, anggota-anggota sosialis demokrasi di parlemen (reichstag), memberikan suara mereka untuk mendukung pernyataan perang negeri Jerman pada tanggal 4 Agustus 1914. Baru saja pada malam sebelumnya tanggal 3 agustus pada rapat fraksi di parlemen di adakan pemungutan suara. Dan hasilnya adalah 14 banding 110. Hanya sekali suara yang menentang posisi partai untuk menolak dukungan terhadap perang. Termasuk di antaranya adalah Haase, pimpinan kaum tengah dan Liebknecht pimpinan kaum sayap kiri. Betapapun sehari kemudian pada pertemuan 4 agustus di Reichstag, Haase mewnyampaikan pernyataan yang sama sekali bertolak belakang. Haase menggambarkan perang sebagai sebuah "fakta suram yang tak bisa dielakkan" dan dengan demikian "menolak untuk meninggalkan tanah air dalam ancaman mara bahaya dan teror yang di akibatkan negeri Belgia, yang saat itu sedang di serang dan hampir di duduki oleh Jerman.

Di Belgia sendiri kaum sosialis dan pimpinan-pimpinan serikat buruhg berhimpundan meyatakan dukungan mereka pada raja Albert. Bahkan Vandervelde sendiri, kepala kantor Pusat Sosialis Internasional, menyatakan kesediaannya menjadi menteri dalam kabinet perang raja Albert!. Di Perancis bukan saja kaum sosialis, bahkan kaum sindikalis (yang secara teoritis menolak segala bentuk pemerintahan) kali ini bangkit mendukung pemerintah Perancis. Rupanya sebuah "serikat suci" yang meliputi segenap kelompok maupun partai untuk membela "la patrie " (tanah air) telah di kumandangkan.

Di Inggris pada tanggfal 1 sampai dengan 2 Agustus 1914 memang di selenggarakan rapat-rapat akbar uyntuk "menghentikan peperangan" , yang di prakarsai oleh kaum sosialis dan partai Buruh. Namun hanya beberapa hari kemudian Partai Buruh dan Kongres Serikat-serikat Buruh memberikan dukungan penuihnya kepada pemerintahan perang. Memang masih ada juga kecendrungan pasifis (yang pasif /menolak segala bentuk kekerasan) yang di kampanyekan oleh Ramsay Mac Donald ( yang keluar dari jabatannya sebagai ketua Partai Buruh), ataupun juga oleh Partai Buruh Independen … bersama-sama dengan kelompok-kelompokj kecil kaum sosialis, yang meneruskan upaya-upaya penentangan perang. Namun jumlahnya memang sedikit. Hal-hal yang sama juga terjadi di Austria dan Hungaria.

Dengan cara seperti inilah partai-partai yang tadinya sangat berbobot tersebut jatuh ke dalam oportunisme (lewat dalih patriotisme) . Melepaskan prinsip perjuangan klas demi pembelaan tanah air dan persatuan nasional. Tunduk pada para penguasa/ tuan-tuan kapitalis dan menghianati sosialisme. Tindakan-tindakan yang memalukan ini manandai keruntuhan internasional kedua, tidak hanya secara organisasional (karena pengaturan dalam peperangan melarang berfungsinya Kantor pusat sosialis Internasional )namun terutama pada urusan-urusan politik yang menentukan (decisive polical sense) . Dengan demikian internasional kedua talah lalai menjalankan tugas-tugas (yang telah di perjanjikannya pada trahun 1912), yang harus di pertanggungjawabjkan oleh para pemimpinya di hadapan klas proletar. Penghianatan yang oprtunistik atas sosialisme sedemikian menodai dan mendiskreditakan Internasional kedua, sehingga citra dan kekuatannya tidak pernah bisa di pulihkan lagi (seperti masa sebelum perang).

Sikap yang selalu berubah-rubah dari pimpinan-pimpinan kaum tangah sepereti Haase dan Kautsky mewngenai persoalan perang, ada;lah sebuah ciri yang manandai watak mereka yang tidak teguh (sepanjang karir politik mereka) . Lewmnin menggambarjkan kaum tengah sebagai orang-orang yang di bimbangkan oleh pilihan untuk menjadi chauvinis -sosial atau atau internasional sejati. Pada bulan April 1917 Lenin menuliskan:
"Kaum 'tengah' senantiasa bersumpah dan mengikrarkan bahwa bahwa diri mereka adalah marxis dan internasionalis sejati, bahwa mereka selalu cinta damai dan tak ragu-ragu untuk melakukan segala 'tekanan' terhadap pemerintah… Lewat 'tuntutan-tuntutan mereka ' agar pemerintah'memastikan kelangsungan perdamaian yang di kehendaki rakyat'. Bahwa dalam kecintaan mereka terhadap perdamaian mereka menentang segala bentuk aneksasi (pencaplokan wilayah/negeri tertentu) , dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya… singkatnya kaum tengah senantiasa berorienbtasi pada persatuan, kaum tengah senantiasa menentang segala pertengkaran dan perpecahan…"
" Inti dari persoalannya adalah bahwa kaum tengah tidak yakin pada keharusan jalan revolusioner dengan sepenuh hati , tidak pernah juga menyeruhkan revolusi dengan sungguh-sungguh. Sehingga dalam rangka mengelakkan tanggung jawab tersebut mereka berlindung di balik jargon-jargon ultra kiri yang sudah usang".
"Kaum 'tengah' terdiri dari orang-orang yang terjangkit penyangkit legalis, sangat menyandarkan diri pada kecendrungan-kecendrungan parlementarian. Orang-orang yang sudah mulai terbiasa dengan tugas dan posisi-posisi yang 'empuk '. Secara ekonomi dan historis, mereka bukanlah orang-orang yang terpisah/tersendiri dari gerakan klas buruh. Namun dalam proses transisi dari tahapan yang sudah lampau (tahapan antara tahun 1871s/d 1914) ke tahapan yang baru, mereka hanya 'mandeg' atau jalan di tempat sajaSebagaimana yang kita ketahui, dalam tahapan antara tahun 1971-1914, adalah momen ketika pergerakan masih dalam tahap merangkak; tumbuh dan bertahan dalam kerja-kerja organisasional yang masih seadanya. Namun dengan pecahnya pertarungan antara kekuatan imperealis dalam perang dunia pertama … sampailah kita pada tahapan baru, yang seharusnya merupakan pintu gerbang bagi era revolusi sosial (Karya-Karya Terkoleksi Lenin, Volume 24, halaman 76-77).

Namun betapapun perlu di catat bahwa tidak semua partai sosialis mendukung peperangan, dengan mengabaikan amanat yang di serukan oleh resolusi Basle. Ada dua pengecualian yang mencolok di Eropa. Di Rusia, perwakilan-perwakilan sosial demokratik, yakni kaum Bolshevik dan Menshevik keduanya menolak peperangan. Di Serbia, invasi(penyerbuan) Austria dan Hungaria, membuat sukarnya menolak teori pembelaan diri. Namun orang-orang Sosial Demokrat Serbia (tidak seperti rekan-rekannya di Perancis dan Belgia), merekaa dengan tegas menolak segala dukungan terhadap rejim borjuasi. Mereka bersikukuh dengan menegaskan bahwa invasi (penyerbuan) Perancis dan Belgia, tidaklah cukup untuk di jadikan alasan yang sah untuk meninggalkan prinsip-prinsip kaum sosialis.

Dalam pada itu, Lenin menggambarkan Internasionalisme sejati sebagai berikut:
Watak imternasionalisme di cirikan dengan penolakan total atas kecendrungan chauvinis-sosial ataupun sentrisme (yang di anut kaum tengah). Juga perjuangan revolusioner yang tak gentar melawan pemerintahan imprealis ataupun imprealis borjuasi negerinya sendiri. Prinsipnya adalah 'lawan kita yang utama sesungguhnya ada di rumah kita sendiri'. Para internasionalis sejati mengemban perlawanan yang keras terhadap ungkapan-ungkapan manis kaum pasifis sosial (kaum pasifis sosial adalah seorang 'sosialis di mulut' namun seorang pasifis borjuis dalam perbuatan; mereka adalah orang-orang yang memimpikan penciptaan perdamaian tanpa penyingkiran/penghapusan dominasi kapital). Mereka -- sekali lagi-- adalah orang-orang yang menentang segala dalih yang di kemukakan opleh orang-orang oportunis… dengan segala alasan-alasannya, berkilah bahwa penbcanangan revolusi sosialis proletarian, pada saat peperangan tersebut adalah tidak tepat, karena saatnya belum tiba, ataupun untuk singkatnya mereka mengeluarkan kesimpulan sepihak bahwa revolusi tidak dapat di lancarkan pada masa-masa perang (lihat Karya-Karya Terkoleksi, Lenin, Halaman 77-78).

Lenin menunjuk Karl Liebknecht sebagai contoh, yang di penjarakan oleh pemerintah. Karena dari tribun parlemen, secara terbuka menyerukan kepada kaum buruh maupun prajurit prajurit-- sebagai representasi arus revolusioner yang sedang melanda Jerman-- untuk berbalik; dan mengartahkan moncong senjatanya kepada pemerintah mereka sendiri. Lenin menambahkan (sambilmengutip kata-kata tajam Rosa Luxemburg) Bahwa kaum sosial demokrasi yang selebihnya … tidak lain dari pada 'mayat-mayat kaku yang menjijikan' (sementara Liebknecht sebagai anggota sekaligus pimpinan "kelompok separatis").

Kaum internasionalis yang paling konsisten dan berpandangan paling jauh ke depan adalah kaum Bolshevik yang di pimpinoelh Lenin. Namun anggota-anggota Bolshevik yang di buru-buru dan yang banyak berada di pengasingan menghadapi kesukaran/kendala dan tekanan-tekanan selama krisis peperangan ini. Komite Organisasi Luar Negeri (yang berfungsi sebagai kantor pusat perwakilan Bolshevik di luar Rusia), bermarkas di Paris. Komite inipun ternyata pecah. Dua anggota komite mendaftarkan diri sebagai anggota tentara Perancis, sementara selebuhnya mengundurkan diri. Jaringan yang seharusnya terjalin antara Komite Sentral Bolshevik di Rusia ; antara lain --Zinoviev-- anggota-anggota kantor Komite Sentral di luar negeri terputus.

Ketika Lenin dan Zinoviev berangkat dari Galicia ke Swiss pada permulaan perang. Mereka mengangkut semua yang masih tertinggal di sekretariat Komite Sentral Bolshevik di luar negeri.

Lenin bekerja keras untuk membangun kembali, menghidupkan lagi Sosial Demokrat (baca organ sentral Partai). Juga memperbarui kontak, jaringan-jaringan, seksi-seksi Bolshevik yang tercerai berai; mengupayakan penyelundupan literatur-literatur partai ke dalam Rusia dan menyerap informasi perkembangan terakhir di Rusia. Di atas segalanya, Lenin tak jemu-jemunya melancarkan polemik -- melawan kaum nasionalis/'patriotis' maupun kaum tengah -- tidak hanya di Rusia, tapi juga poada tingkatan internasional. Secara khusus Lenin memacu kebijakan Bolshevik, agar menolak keikutsertaan dalam perang.

Berikut ini adalah butir-butir pokok dari program yang di kedepankan oleh Lenin, pada bulan Oktober 1914 (dalam tulisannya, tentang perang dan sosial demokrasi di Rusia).
1. Peperangan pada hakikatnya adalah beradunya kekuatan imprealis dalam tapal batas masing-masing (batlefronts). Pertahanan/pembelaan tanah air tidak memiliki relevansi dalam agresi yang saling bertarung tersebut di atas.
2. "Adalah kewajiban dari segenap proletariat yang berkesadaran klas, untuk membela dfan mempertahankan solidaritas klasnya, juga untuk membela semangat internasionalisme, maup[un ketegaran sosialisnya… melawan chauvinime yang tak terkendalikan dari klik-klik 'Patriotik' Borjuis di seluruh dunia. Bila kaum buruh yang berkesadaran klas pada akhirnya 'angkat tangan' dari kewajiban ini… maka ini berarti bahwa mereka telah mencampakan aspirasi bagi demokrasi dan kebebasan; singkatnya mencampakan aspirasi sosialis diri mereka sendiri" (Karya-Karya Terkoleksi Lenin, Volume 21, Halaman 29).
3. Kaum oporutnis telah menghianati prinsip-prinsip sosialisme. Untuk itu perlawanan tanpa akhir harus di tujukan kepada mereka. Kaum oportunis tersebut adalah 'penghianat-penghianat keji yang paling membahayakan'. Kami memandang tidak ada lagi penyatuan ataupun perdamaian dengan mereka; sebagaimana yang di usulkan oleh kaum tengah.
4. Internasional yang lama( baca;internasional kedua)telahg gugur. Dan kita hanya perlu melakukan up[acara penguburan sekedarnya. Yang terpenting adalah, kita harusa belajar dari sebab-sebab keruntuhannya, dan segera bangkit untuk meletakkan pondasi/syarat-syaratbagi kelahiran internasional yang baru.
5. Musuh utama kita sesungguhnya ada di dalam rumah kita sendiri (baca; didalam negeri). Tugas mendesak dan strtegis bagi kita sesungguhnya adalah, untuk mengembalikan perang imprealis … menjadui perang kaum buruh bagi penggulingan yang revolusioner atas kapitalisme. Satu-satunya jalan bagi sosialisme dan perdamaian sejati adalah justru lewat akasi massa yang revolusioner.
Sungguhpun kemudian, Trotsky tidak lagi menjadi anggota Bolshevik, namun ia tetap menerima cara pandang di atas. Trotsky masih harus mengatasi sisa-sisa kecendrungan untuk 'rujukan' atau 'berbaik-baikan' kembali dengan kaum tengah Rusia, maupun untuk memformulasikan posisinya setegas dan stajam Lenin. Betapapun, ia memiliki cara pandang internasionalis dan masih berpegang kepadanya.

Dalam otobiografinya, Trotsky mengingat pemungutan suara pada tanggal 14 Agustus 1914, sebagai berikut: "Hari itu membekaskan salah satu kenangan yang paling tragis dalam hidupku" (Aku kira Lenin juga mengalami hal yang sama). Kemudian pada 9 agustus 1914 Trotsky kembali menulis di buku hariannya, "Jelaslah sudah bahwa persoalan yang menimpa kita di sini, bukanlah sekedar kekeliruan atau kesalahan akibat tindakan beberapa kaum oportunis … bukannya sekedar statemen (pernayataan) yang keliru dalam tribun di parlemen, ataupun sekedar pemungutan suara bagi penetapan anggaran belanja partai Sosial Demokrasi. Bukan pula di karenakan terobosan yang coba-coba di lakukan dengan militerisme Prancis, di mana beberapa pimpinan membelot menjadi petualang… Tidak. Persoalannya adalah tentang keruntuhan internasional, pada saat di mana tanggung jawab yang sepenuh-penuhnya justru sangat di butuhkan. Saat-saat ini di mana keseluruhan kerja-kerja terdahulu kita, masuk dalam persiapan " (dikutip dari Trotsky, My Life/Kehidupanku, halaman 238).

"Pada tanggal 11 Agustus 1914, "tulis Trotsky, "Aku manyatakan hal ini: 'hanya kebangkitan pergerakan yang berbobot setara dengan kondisi awal peperangan … yang akan memberikan syarat-syarat bagi penegakkan internasional yang baru. Tahun-tahun ke muka akan menjadi saksi bagi periode revolusi sosial" ( lihat, Kehidupanku)

Sementara kegagalan internasional telah di ketahui secara um,um oleh perwakilan-perwakilan dari arus/kecendrungan yang berbeda-beda tersebut tidak mempunyai kesepakatan tentang apa yang seharusnya mereka kerjakan. Kaum oportunis berkayikanan bahwa -- setelah peperangan usai, dan tanah air merka menang perang-- maka internasional akan kembali memutar roda kegiatannya. Sungguhpun konstalasi seluruh dunia telah tergeser, bahkan mengalami perubahan yang sangat besar akibat guncangan peperangan … dalam sudut pandang mereka, tidak ada hal-hal pokok yang benar-benar berubah; dan mereka sendiri siap untuk kembali ke cara-cara maupun sarana-sarana yang lama, ketika perdamaian sudah pulih.

Kaum tengah yang menyesuaikan diri dengan kaum oportunis, berusaha untuk menutup-nutupi keruntuhan internasional. Mereka bimbang, dan menolak untuk memutuskan hubungan sama sekali dengan kaum 'patriot' (nasionalis). Mereka terilusi dengan kemungkinan untuk membenahi internasional yang lama; dan tidak bersedia menanggung konsekuensi untuk membangun internasional dengan pondasi/landasan yang sama sekali baru.

Dalam berkilah tentang kegagalan internasional, Kautsky kemudian berdalih bahwa, " Internasional adalah alat/instrumen bagi perdamaian, dan bukannya bagi peperangan". Stalin menyatakan hal yang sama ketika ia mencampakan komintern pada tahun 1943. Bagi Marxis sejati -- betapapun-- internasional paling di perlukan keterlibatannya, bukan pada periode tenang dan tanpa gejolak … justru pada periode ketika antagonisme sosial maupun nasional mencapai titik puncaknya, justru ketika perang saidara, atau ketika kekuatan-kekuatan imprealis atau kolonial saling berperang.

Atau andil mereka yang brengsek, kaum internasionalis sejati tentulah menuntut kaum oportunis dengan kebijakan 'patriotik' -- nasionalnya; yang mengakibatkan keruntuhan internasional kedua. Kaum internasionalis sejati tak akan berkompromi dalam program maupun organisasi dengan agen-agen busuk borjuasi tersebut.

Sewlama tahun-tahun pertama peperangan, tiga pengelompokan tersebut (kiri, tengah, kanan) melakukan upaya-upaya untuk menyatukan bagian-bagian yang memisahkan diri dari sosial demokrasi (terutama sehiubungan dengan cara pandang dan posisi mereka secara umum) . Partai-partai sosialis Italia, Swiss, dan Amerika yang mewakili negeri-negeri netral … mnereka berusaha untuk menyerukan sebuah konfrensi bersama, tanpa hasil. Pertemuan kelompok-kelompok skandinavia pada januari 1915 untuk meraih titik temu juga berakhir sia-sia.

Konfrensi perempuan sosialis yang di adakan pada tanggal 26s/d 28 maaret 1915 di Berne, Swiss ; adalah konfreensi internasional kaum sosialis pertama, yang berhasio di selenggarakan setelah pecahnya perang. Kaum perempuan Bolshevik Rusia, bekerja sama dengan Clara Zetkin (Seorang pimpinan sosial demokrasi Jerman) mengambil inisiatif untuk menyelenggarkan konfrensi tersebut. Dalam konfrensi tersebut terjadi dua kubu perdebatan besar . mayoritas suara -- di sponsori oleh Zetkin-- mengutuk peperangan sebagai ajang kekuatan-kekuatan imprealis, dan menyerukan agar kaum buruh 'memperjuangkan perdamaian'. Akan tetapi tidakj ada kesimpulan final yang terakhir dari kubu ini. Sementara minoritas di kedepankan oleh kaum Bolshevik… yang menekankan bahwa mayoritas partai sosialis "telah menjadi penghianatdengan menggantikan sosialisme dengan nasionalisme". Sehingga mereka menyerukan agar kaum buruh berjuang untuk menumbangkan kapitalisme, dan menegakkan perdamaian lewat sosialisme.

Konfrensi anti perang kaum sosialis yang penting lagi adalah yang di selenggarakan pada bulan spetember 1915 di zimmerwald,Swiss. Konfrensi ini di hadiri oleh 42 delegasi, Trotsky termasuk di antaranya. Berikut ini adalah cuploikan tentang konfrensi tersebut:
Hari-hari penyelengaraan konfrensi tersebut yakni antara tanggal 5 s/d 8 September 1915, begitu dipenuhi dengan perdebatan yang keras. Lenin -- mewakili sayap revolusioner-- menghadapi sayap pasifis. (yang merupakan mayoritas dalam delegasi) … masing-masing pihak memaklumi kesulitan untuk menghasilkan manifesto bersama (yang rancangannya aku buat). Akhirnya redaksional manifesto yang di hasilkan ternyata jauh dari yang di harapkan oleh masing-masing pihak. Namuyn, betapapun itu adalah satu langkah maju ke muka. Dalam konfrensi itu Lenin berada di pihak kiri jauh. Ia berada di posisi yang minoritas dalam banyak perdebatan di kongres. Bahkan Lenin sendiri tidak mendapatkan dukungan mayirotas, di dalam sayap kiri tuan rumah/penyelenggara kongres (baca: kaum kiri di Zimmerwald, Swiss) . Aku sendiri, --walaupun secara formal tidak gabung dengannya -- namun punya banyak kesamaan dalam persoalan-persoalan pokok. Betapapun harus dicamkan bahwa di konfrensi inilah, Lenin memperkuat 'kuda-kuda' bagi kebangkitan kembali Internasional di masa yang akan datang. Di sebuah dusun pegunungan Swiss, ia meletakkan batu penjuru bagi Internasional yang revolusioner (Trotsky, Kehidupanku, Halaman 249-250).

Konfrensi berikutnya yang masih membahas persoalan yang sama, di selenggarakan pada bulan April tahun berikutnya (1916) ; di kota Kienthal, masih di Swiss, konfrensi tersebut menetapkan resolusi yang mengancam pasifisme dan sepak terjang kantor Pusat Sosialis Internasional. Konfrensi mencatat satu langkah maju berkenaan dengan pematokan/ garis batas yang tegas antara arus/kecendrungan yang berbeda-beda perihal persoalan peperangan. Perjuangan idiologi dan politik yang di emban oleh Lenin, trotsky dan Luxemburg maupun kawan-kawan sejawatnya, tercatat memiliki makna historis yang penting. Dalam tahun-tahun pertama perdebatan, mereka nampaknyaterdesak, terisolasi tanpa harapan …menggerutu dan mengecam di pojok forum … menyayangkan perihgal alur perklembangan ataupun rangkaian perjalanan yang di pilih/ di tempuh oleh sebagian terbesar orang-orang di muka bumi.

Betapapun mereka bertahan dengan tegar atas gagasan-gagasan yang mereka perjuangkan. Mereka juga optimis dengan kapasitas daya-penyembuhan-diri yang di miliki oleh kekuatan-kekuatan anti kapitalis; maupun dengan prospek atas revolusi sosial. Kekuatan mereka yang teguh, berasal dari wawasan teoritik perihal arah perkembangan kapitalisme, yang telah di sediakan oleh Marxisme. Dan juga dari pengalaman praktek mereka, dalam bergabung dengan kekuatan dan kapasitas perlawanan proletariat..yang disingkapkan (walaupun hanya sebentar) dalam revolusi 1905 dan pertarungan klas lainnya.

Semangat mereka di cerminbkan dengan sangat mengesankan dalam penutupan buku Trotsky yang berjudul Perihal Perang dan Internasionale (The War and The Interntional);
Kalaupun peperangan ternyata berkembang sedemikian rupa melampaui jangkauan yang dapat di kontrol oleh internasional kedua … maka konsekuensi langsungnyapun akan berbalik menghantam ; di luar kemampuan kontrol kaum borjuis di seluruh dunia. Kami kaum sosialis yang revolusioner tidak menghendaki peperangan, namun kami tidak jeri atau gentar atasnya. Kami tidak menyerah dan berputus asah aytas fakta keruntuhan internasional ( kedua ). Sejarah telah senantiasa meletakkannya kembali, pada posisi sebenarnya. Era revolusioner akan menumbuhkan kembali benih-benih berupa bentuk-bentuk baru organisasi, yang bermunculan dari "sumber-sumber mata air" yang tak pernah kering dari sosialisme proletariat. Bentuk-bentuk baru perjuangan akan setara dengan tugas-tugas baru yang tidak kalah besarnya, kami akan tetap menjaga kejernihan pikiran dan orientasi yang tak terpadamkan. Kami merasakan betul kekuatan-kekuatan kreatif hasir bersama kami, memberikan panduan bagi masa depan. Sudah hadir bersama-sama kami, bahkan lebih banyak dari yang nampak di permukaan. Esok akan menunjukan, bahwa kita lebih besar dari hari ini. Dan esok lusa, jutaan kawan akan bangkit, tegak bersama di bawah panji-panji kita. Jutaan kawan buruh -- bahkan setelah 67 tahun sejak kelahiran manifesto komunis -- akan bangkit berjuang. Seberat apapun tekanan yang akan menimpa … Mereka tidak akan kehilangan apa-apa, selain mata rantai yang membelenggunya (Trotsky, Perihal Perang dan Internasional, Halaman 76-77).

Terdorong oleh gagasan-gagasan ini, kaum sosialis revolusioner memanggul ke muka, perjuangan bagi internasionalisme, dari tahun 1914 s/d 1917. Sejarah memulihkan kembali keharuman nama baik mereka, dalam Revolusi Oktober 1917. Kejayaan inilah yang menghantarkan syarat-syarat bagi penegakkan kembali Internasional Ketiga.

* * *

Tentang Penulis Pamflet ini:

George Novack (1906-1992) menjadi seorang Marxis di awal 1930-an. Novack bergabung dengan Liga Komunis Amerika / Communist League of America (yang beraliran Trotskys). Liga ini merupakan pendahulu SWP /Socialist Workers Party (Partai Pekerja Sosialis). Ia menjadi anggota komite Nasional SWP dari tahun 1940s/d 1972. Novack juga menghasilkan berbagai tulisan dengan tema tentang filsafat dan sejarah.


Periode Pertama Partai Komunis Indonesia:
1914-1926 - Sebuah Ringkasan

Dokumen ini menyusuri kembali periode pertama PKI sampai pemberontakan yang kurang persiapannya pada tahun 1926. dokumen ini memuat berbagai pelajaran yang amat berharga bagi pembangunan partai Marxis dewasa ini. Dalam analisis historis ini, ribuan aktivis yang terlibat dalam pengorganisiran kaum buruh, petani, penduduk miskin di kota, pelajar dan mahasiswa akan mencapai pemahaman strategi yang lebih dalam, sekaligus dokumen ini juga merupakan alat yang perlu untuk mencapai sosialisme di Indonesia. Kita selayaknya tidak melulu belajar dari segala kesuksesan yang dicapai pada masa tersebut, melainkan juga memetik pelajaran dari kelemahan-kelemahan fatal yang dilakukan oleh PKI waktu itu. Di dalam dokumen ini disajikan bimbingan yang penting bagi generasi baru angkatan muda Indonesia yang bertekad membangun organisasi yang sosialis Marxis.

 

Periode Pertama Partai Komunis Indonesia:
1914-1926 - Sebuah Ringkasan

 

Latar Belakang Historis

Kepulauan Indonesia berada di bawah kekuasaan Belanda sejak 1596 sampai 1903. Sekarang jumlah penduduknya adalah 200 juta - di urutan keempat negara yang berpenduduk paling padat - tersebar tersebar di banyak pulau dan terbagi dalam berberapa suku bangsa. Jawa ialah pulau yang paling penting, 75% dari penduduk hidup di pulau ini. Ibukota Jakarta (di jaman penjajahan dikenal dg sebutan Batavia), pusat perindustrian tertua Surabaya, dan pusat tradisional dari politik radikal di Semarang, dan berberapa kota lain yang penting, semuanya berada di Jawa

Sejak dulu, dan hingga sekarang, Indonesia terutama terdiri dari petani. Padi ditanam para petani untuk makanan pokok. Penjajahan Belanda mendirikan pekebunan, dimiliki kapital besar, untuk memproduksi barang ekspor [gula, kopi, teh, kakao, tembakao, karet, dll.). Kemudian minyak diexploitir Royal Dutch Shell, suatu perusahaan kapital Inggris dan Belanda

Indonesia merupakan daerah jajahan Belanda yang terpenting, dan penjajahan atasnya menjadi kunci pembangunan negeri Belanda modern. Perdagangan komoditas Indonesi menjadi sumber untung yang besar bagi kaum kapitalis di Belanda, dan berberapa industri di Belanda (contohnya, pembuatan cerutu, coklat, dll.) berdasar impor dari tanah Indonesia.

Bagaimanakah Belanda, yang jumlah penduduknya hanya seperpuluh Indonesia, berhasil mendirikan rezim yang berkuasa selama tiga abad? Tentulah, alasan yang paling fundamental bagi hal itu ialah perkembangan kekuatan produktif yang jauh lebih tinggi, dengan pemerintah dengan kontrol politik dan militer yang sesuai dengan kemajuan industri. Kekuasaan Belanda tergantung pada tidak adanya persatuan di antara suku-suku bangsa yang mendiami kepulauan Indonesia. Penjajah Belanda menerapkan sistem kekuasaan yang tidak langsung, dengan menggabungkan pemerintahan dengan kaum priyayi pribumi, aristokrasi pra-Islam. "Regen" pribumi menjalankan pemerintahan daerah besama "saudara muda" mereka, wakil regen asal Belanda.

Sekolah administrasi dan kedokteran didirikan oleh Belanda untuk mendidik anak priyayi kecil, dan melibatkannya dalam pemerintahan penjajahan. Meskipun demikian, sekolah-sekolah ini juga menghasilkan banyak pemimpin awal yang nasionalis dan radikal.

Kaum petani menderita akibat penjajahan Belanda dalam banyak segi, yang pertama dan paling berat adalah mereka menedita akibat diterapkannya bentuk perpajakan. Ironisnya, beban pajak menjadi lebih berat pada zaman diterapkannya kebijakan "etis" (liberal), yang diadopsi oleh administrasi kolonial pada pergantian abad ke-20, ketika dibangun infrastruktur yang dibiayi pajak. Kebijakan tanam paksa yang mengharuskan petani menanam tanaman keras merupakan beban lain yang ditanggung petani dan memusnahkan kebebasan petani (kebijakan ini kemudian dihapuskan). Sewaktu itu petani terpaksa menjadikan sepertiga sampai setengah tanah mereka tersedia untuk dipakai perkebunan gula. Karena dipaksa bayar pajak, makin banyak tanah dipakai, dan petani makin terpuruk dalam kemiskinan dan makin tergantung pada sistem kapitalis.

Borjuasi kecil pribumi di perkotaan sangat lemah, sebagian besarnya pedagang (banyak keturunan Tionghoa), dan bagian kecil pegawai. Tanpa industri yang berkembang, kaum buruh kecil sekali. Buruh terpusat di sektor pemerintahan dan transportasi yang dimiliki oleh swasta, yaitu kereta api dan trem.

Dengan tidak adanya oposisi politik yang berarti sebelum perang dunia pertama, kekuasaan Belanda sempat bertindak agak liberal, tetapi bersifat paternalistik, meskipun kebebasan pers dan berorganisasi senantiasa tidak mutlak. Ketika perjuangan mulai timbul di kaum petani, buruh dan kelas menengah, segala kebebasan ini langsung dicabut.

Kemelaratan dan represi politik, hanya dibungkus oleh tabir toleransi liberal yang tipis, merupakan ciri utama rakyat Indonesia pada tahun-tahun awal abad ini. Hampir seluruh rakyat buta huruf, dan berbagai penyakit tersebar luas mayoritas rakyat berada di bawah pengaruh kuat agama (Islam) dan kebudayaan tradisionil. Feodalisme yang ada sebelum penjajahan diidolakan. Bersamaan dengan itu kapitalisme dan pengalaman pejuangan kelas mulai merubah sikap kaum muda, dan khususnya kaum buruh. Pendidikan modern mengajarkan kelas menengah untuk mempersoalkan kekuasaan Belanda

Perang antara Rusia dan Jepang di tahun 1904-05, terlihat sebagai kekalahan satu kekuatan bangsa Eropa oleh suatu negara timur, dan akibatnya memengaruhi suasana politik seluruh kawasan Timur Jauh. Di Indonesia hal itu terutama mempengaruhi kalangan muda yang terpelajar. Kemudian terjadi Perang Dunia Pertama yang mengakibatkan kekurangan pangan, kekacauan, inflasi, dan meningkatnya penderitaan massa, yang pada giliran berikutnya hal itu menyebabkan berberapa gelombang kerusuhan dan militansi di kalangan kaum tani dan buruh. Sejarah gerakan nasionalis modern, termasuk PKI, dimulai pada periode itu.

Makna Penting PKI

PKI didirikan dalam gelombang pertama perjuangan anti Belanda. Pada awal tahun 20-an, dengan adanya perpecahan dalam kepemimpinan kelas menengah yang ada waktu itu, PKI muncul sebagai organisasi terkemuka dalam perjuangan kebangsaan dan kelas. Namun demikian, kelemahan pimpinan PKI dan pergeseran mereka ke politik ultra-kiri, menggiring partai ini menemui kegagalan total pada tahun 1923-26. hal ini memungkinkan para pimpinan kelas menengah nasionalis bercokol di pucuk pimpinan pada perjuangan kemerdekaan di tahun 1940-an.

Pada era awal PKI itu sebenarnya terbuka kemungkinan istimewa u membangun kepemimpinan massa yang Marxis, yang memperjuangan kebebasan nasional dan sosial menurut garis Revolusi Permanen. Hal ini memungkinkan didirikannya republik soviet sebagai hasil kebangkitan di tahun 1940-an, yang, jika ini terjadi, dapat memberi pengaruh krusial pada jalannya revolusi di Cina dan Vietnam. Tetapi karena banyaknya kesalahan pimpinan PKI, terutama tidak ada kader bersifat Bolsevik, jalur tersebut tersedia untuk munculnya rezim bourjuis bonapartis.

Merosotnya Komintern merupakan faktor tambahan dalam proses ini. Sesudah 1926 Stalinisme menjadi rintangan yang amat kuat - akhirnya tidak teratasi - untuk memperbaiki kesalahan masa lalu dan mengembalikan orientasi PKI ke garis Bolshevik.

Walaupun kesempatan ini hilang, pemkembangan awal PKI sangat patut dicatat dan mungkin paling signifikan di antara negara-negara jajahan, temasuk Cina. PKI adalah partai komunis pertama yang didirikan di Asia di luar Uni Soviet dan merintis taktik - terutama blok dalam pejuangan nasionalis - mendahului strategi PK Cina.

Sebaiknya diindahkan, di Cina kaum buruh dan borjuis nasional jauh lebih berkembang daripada di Indonesia. Di sana (Cina) kebijakan "entrisme" dilakukan secara korup oleh Stalinisme (bukan kebijakannya yang salah), mengakibatkan kemusnahan PK Cina pada akhir 20-an.

Tradisi Komunisme yang berakar pada era itu memungkinkan timbulnya PKI baru yang berbasis massa pada tahun 1940-an sebagai organisasi lumrah bagi kaum buruh dan berberapa bagian petani. Namun dengan dihapus tuntasnya Marxisme dari kebijakan-kebijakannya (hal yang amat signifikan, perkembangan partai pra-1920 dihapus dari sejarah resmi partai), PKI mempersiapkan jalan bagi opportunisme dan adventurisme yang berakibat pembunuhan sejuta kaum komunis Indonesia menyusul kup Soeharto 1965.

Semua kesimpulan mendasar yang ditarik oleh Marxisme tentang haluan dan soal pejuangan kolonial, dikukuhkan oleh pengalaman perjuangan di Indonesia. Kesuksesan dan kegagalan PKI, sebagai faktor materail dalam proses perjuangan, penuh mengandung pelajaran bagi kita dalam menghadapi tugas-tugas kita di negeri-negeri yang dulu merupakan daerah jajahan.

Asal Mula PKI

Sebelum 1914 tidak ada tanda apapun bahwa dalam beberapa tahun saja di Indonesia akan ada partai komunis berbasis massa yang pertama di dunia kolonial. Kelas buruh tidak mempunyai organisasi politik dan hanya ada beberapa serikat buruh yang semuanya lemah. Gerakan "nasionalis" masih berupa jabang bayi; dan sebetulnya, imbauan nasionalisme belum terdengar di kalangan rakyat. Aslinya gerakan nasionalis dikuasai pemimpin kolot dari kelas menengah yang berdasarkan agama. Jurang yang dalam memisahkan para pemimpin nasionalis ini dengan kondisi sosial yang begitu buruk di kalangan rakyat. Pada era itu juga belum mulai berkembang sayap kiri apapun yang secara potensial bersifat Bolshevik.

Organisasi pertama yang didirikan oleh kaum muda Indonesia kelas ningrat ialah Budi Utomo , berdasarkan gagasan idealis gotong royong tanpa kesadaran politis. Indische Partij, yang berdasarkan golongan indo yang makmur, ialah partai pertama yang menuntut kemerdekaan Indonesia, tetapi tanpa hubungan dengan rakyat Indonesia. Pada tahun 1913 partai ini dilarang karena tuntutan kemerdekaan itu, dan sebagian besar anggotanya berkumpul lagi dalam Serikat Insulinde .

Gerakan pertama yang berbasis massa bertitik berat bukan pada nasionalisme ataupun program politik, melainkan pada agama. Kira-kira 90% penduduk Indonesia menganut Islam, dan Islam merupakan institusi utama dari masyarakat tradisional yang gagal dilembagakan Belanda dalam kontrolnya yang tidak langsung. Oleh karena itu Islam menjadi pusat perlawanan anti pemerintahan asing, walaupun aslinya oposisi ini belum matang dan tanpa bentuk (tidak ada program politik).

Organisasi berawal dengan pembentukan Serikat Pedagang Islam pada tahun 1911, dan dua tahun kemudian, 1913, di bawah pimpinan Tjokroaminoto, mebuang "Pedagang " dari namanya menjadi Serikat Islam untuk merengkuh dukungan massa. Meski tidak ada gagasan pejuangan nasionalis, tak terelakkan SI memegang peran pemegang kepercayaan perjuangan nasional.

SI tidak mempunyai program politik di luar "melayani kepentingan kaum Islam ", dan keorganisasiannya longgar sekali. Meskipun demikian keanggotaannya tumbuh dengan dahsyat, sampai ratusan ribu pada tahun 1916, dan terutama berpusat di kota. Secara grafikal hal ini mencerminkan pencarian massa buruh untuk menemukan alat perjuangan guna melawan kondisi mereka yang makin memburuk. SI gagal total memenuhi kebutuhan ini; meskipun demikian, karena tidak ada pilihan, kegiatan massa tetap terfokus padanya, jika munculnya PKI tidak memotong perkembangan SI itu.

Apa yang menyebabkan, dalam hanya beberapa tahun dan pula di dalam sebuah negeri yang luar biasa terbelakang, munculnya sebuah PK dengan basis massa yang kemudian merubah situasi politik? Tak dapat disangkal, peran kunci dimainkan oleh Henk Sneevliet, pemimpin sayap kiri Serikat Buruh Kereta Api dan sebelumnya merupakan tokoh sayap kiri gerakan sosialis, yang terpaksa mengunsi ke Indonesia pada tahun 1913 sesudah dimasukkan daftar hitam oleh birokrasi reformis dan kaum majikan. Kesuksenan usaha Sneevliet terutama bukan karena kualitas pribadinya melainkan akibat pengertiaannya atas pembelajaran Marxisme dan cara mengorganisir kaum buruh dan kepemimpinan organisasi kelas buruh. Pengalamannya dalam gerakan buruh yang termaju dan terorganisir di Eropa barat penting sekali. Usahanya menjadi katalis, menyatukan ide-ide Marxisme dan pengalaman itu dengan gerakan kaum buruh Indonesia yang mulai bangkit. Jika ada sesuatu yang dapat mengilustrasikan potensi Marxisme, hal itu adalah pertumbuhan spektakuler PKI, dan keinginannya kaum buruh memeluk pengertian dan senjata politis ini.

Bagaimanapun, sumbangan Sneevliet harus dibatasi dalam dua segi - pertama karena terbatasnya waktu yang dia lewatkan di Indonesia (1914-1918), dan kedua, karena terbatasnya tendensi revolusioner dalam gerakan Sosial-Demokrasi sendiri. Batasan-batasan ini terutama sekali terungkap dalam pemahaman yang tidak lengkap atas tugas-tugas mengenai pembangunan partai revolusioner yang berdasarkan teori Marxis. Keterbatasan ini bahkan terjadi pada tokoh-tokoh terkemuka macam Luxemburg dan Connolly. Pada periode ini kapitalis tumbuh di negeri-negeri imperialis, terjadi ekspansi kelas buruh dan berbagai kondisi yang menguntungkan untuk membangun organisasi kelas. Kepemimpinan diarahkan kepada pembangunan organisasi massa, berpedoman pada analisis umum Marxis mengenai perjuangan kelas, sebagai prakondisi bagi perjuangan berikutnya yang bertujuan mengambil alih kekuasaan pemerintahan. (Sayap kanan, tentu saja, ikut berpartisipasi dalam membangun organisasi-organisasi massa, tetapi perspektifnya sama sekali berbeda).

Di sisi lain, Lenin, memgambil kesimpulan dari situasi di Rusia di mana tugas-tugas revolusioner tampak jelas, menerangkan perlunya kelompok kader yang terdiri dari kaum revolusionaris profesional, beda dengan kelompok propagandis seperti yang dimiliki oleh Sosial Demokrat dan serikat-serikat buruh. Tanpa kader-kader yang digembleng pemikiran-pemikiran dan metode Marxisme, partai-partai buruh tidak akan dapat mempersatukan diri saat menghadapi kekalahan, apalagi mempersiapkan diri untuk pengambil-alihan kekuasaan.

Tugas "pembangunan partai" diakui penting oleh semua pihak dalam International Kedua, berlawanan dengan posisi tugas itu di masa kini, tetapi tugas pembangunan itu diartikan lain oleh berbagai tendensi yang ada di dalam Internasional Kedua itu. Sneevliet membawa pikiran dan metode sayap kiri ke Indonesia, tetapi bukan pemahaman Leninis mengenai pembangunan kader. Kontribus Sneevliet yang terutama terletak pada orientasi kelas yang konsisten yang ia bawa ke dalam perjuangan bangsa Indonesia, mengaitan antara perjuangan kemerdekaan nasional dan perjuangan kelas buruh mengikuti garis yang secara ilmiah dijelaskan oleh Trotsky, dan ia menemukan konklusi ini secara independen terlepas dari Trotsky.

Jelas diskusi dan pendidikan politik diadakan di dalam gerakan bangsa Indonesia tetapi nampaknya hal itu diadakan dengan cara yang "rutin", tanpa kesadaran vital mengenai pentingnya persiapan kader yang revolusioner sebagai prakondisi bagi pertumbuhan basis massa. Dengan majunya pejuangan buruh internasional - dan situasi hukum dari penjajahan Belanda saat itu belum cukup jelas - kebutuhan akan pondasi teritik yang kukuh dan kuat menahan goncangan sosial belum tampak sejelas dan semendesak kebutuhan itu tampak di periode yang penuh "tikungan tajam dan perubahan mendadak" yang baru muncul belakangan. Para pemimpin buruh dan petani dengan mudah menjadi pemimpin-pemimpin partai, tanpa pengembangan politis yang memadai untuk mengemban tanggungjawab yang terkandung dalam posisinya, dan partainya sendiri tidak kuat menahan disiplin pada saat saat yang kritis.

Singkatnya, pertumbuhan organisasional yang melampaui pertumbuhan politis, adalah dikarenakan adanya angapan remeh tentang pentingnya pendidikan politis. Kekurangan ini melatarbelakangi ditempuhnya jalan ultra kiri yang diambil PKI pada pertengahan tahun 1920-an. Selain itu hal ini juga menyebabkan kemerosotan politik Sneevliet sendiri mulai pertengahan 1920-an, dan kemudian menimbulkan perpecahannya dengan Trotsky. Karena wawasan dan metodenya kurang, dan tidak siap menghadapi kekalahan dari Stalinisme dan fasisme, Sneevliet tetap memakai slogan periode sebelumnya yang usang, lebih mencari pengikut massa yang sudah "jadi" untuk mengemban slogan-slogan revolusioner. Diarenakan kelompok-kelompok yang aktif di dalam kelas buruh makin tenggelam dalam keputusasaan dan menjadi pasif, metode tadi menggiring terjadinya berbagai adaptasi oportunis dan kemunduran ke arah sentrisme.

Dengan cara ini seluruh angkatan pemimpin buruh yang militan, yang telah memberi kontribusi luar biasa besar pada pembangunan gerakan dan juga kepada Komintern selama tahun-tahun revolusionernya, menjadi tak dapat menguasai periode babakan sejarah yang baru, dan tidak mampu memahami tunutan jaman serta tak dapat lagi memberi kontribusi lebih jauh.

Walaupun demikian, tidaklah lantas jika Sneevliet mengembangkan suatu pendekatan Leninis maka dengan sendirinya akan mampu dalam waktu singkat membangun kader-kader yang cukup kuat untuk memimpin massa dan menolak kekalahan yang dialami tahun 1920-an. Namun, jika ada suatu organisasi kader yang kecil saja yang selamat dari periode kekalahan itu, dan mengembangkan diri di atas basis pemahaman yang cermat mengenai ikhwal kejadian yang berlangsung, organisasi ini akan mampu bertransformasi menjadi organisasi massa di tahun 1940-an dan merubah sejarah Indonesia dan dunia. Perspektif inilah yang sebaiknya dipakai kalau mau belajar sejarah PKI.

1914-19: Pembangunan Basis Massa

Usaha Sneevliet di Indonesia, yang meletakkan pondasi bagi PKI, ada tiga segi: membentuk nukleus kaum sosialis (dimulai dari para pekerja asing berkebangsaan Belanda); membangun gerakan serikat buruh, dan melakukan intervensi ke dalam gerakan nasionalis.

Atas prakarsa Sneevliet pada tahun 1914 didirikan Persatuan Sosial Demokrat Indonesia (ISDV), yang pada awalnya terdiri dari 85 anggota dua partai sosialis Belanda (Partai Buruh Sosial Demokrat yang berbasis massa di bawah kepemimpinan reformis, dan Partai Sosial Demokrat yang merupakan cikal bakal Partai Komunis, terbentuk setelah perpecahan politik dengan SDAP di tahun 1909)

Sejak mulanya tendensi revolusioner mengendalikan ISDV, sikapnya militan terhadap isu-isu lokal (misalnya, kampanye mendukung seorang jurnalis Indonesia yang diadili karena melanggar hukum pengendalian pers, dan juga mengadakan rapat umum menentang persiapan perang yang dilakukan oleh pemerintah Belanda) dan selain itu ISDV juga melibatkan diri dalam pergerakan nasional. Pada tahap itu orang Eropa anggota ISDV Belanda boleh masuk Insulinde sebagai anggota individual. Pimpinan Insulinde dan Sarekat Islam bersifat kelas menengah, tetapi senang dan bersyukur menerima bantuan dari ISDV, dan hanya kaum sosialis siap membantu pada saat itu.

Namun demikian, tak terelakkan konflik mulai timbul antara kepemimpinan ISDV dan Insulinde, dan juga di dalam ISDV sendiri. ISDV menegaskan bahwa pejuangan melawan penjajahan Belanda harus didukung kaum sosialis, dan menyatakan bahwa hal ini mencakup perjuangan melawan sistem kaptialis. Pimpinan kelas menegah Insulinde (seperti para pemimpin SI kemudian) secara naluriah menolak dengan keras pikiran itu, dan mengedepankan "teori dua tahapan". Dalam ISDV sendiri aliran refomis meninggalkan partai itu di tahun 1916 dan mendirikan Partai Sosial Demokrat Indonesia (ISDP), yang dalam waktu singkat langsung dekat dengan pemimpin kelas menengah nasionalis. Di sisi lain, ISDV makin digemari dan dihormati kaum militan Indonesia karena berani dan berprinsip dalam hal politik lokal. Walaupun diserang para pemimpin nasionalis karena banyak yang berketurunan Belanda, hal ini tidak merupakan rintangan dalam perjuangan membangun organisasi revolusioner, dan merebut dukungan massal.

Banyak masalah sulit yang dihadapi oleh ISDV di periode awal bangkitnya gerakan politik massa ini. Pada 1915-18 penguasa Belanda menanggapi gerakan massa yang tumbuh dengan mendirikan semacam "Volksraad" yang bertujuan membendung militansi massa. ISDV - berlawanan dengan pimpinan nasionalis dan ISDP - pada mulanya memboikot badan ini, tetapi kemudian membatalkan keputusan itu ketika mulai jelas bahwa Volksraad itu dapat dimanfaatkan sebagai medan propaganda revolusioner.

Sneevliet juga memegang peran penting dalam Serikat Staf Kereta Api dan Trem (VSTP), pada saat itu kecil saja, dan sebagian besar anggotanya berkulit putih. Sneevliet mengarahkan VSTP kepada bagian besar buruh yang pribumi, dan pada saat bersamaan berusaha menguatkan struktur organisasinya dengan menegaskan pentingnya pengurusan cabang cabang yang baik, juga konperensi tahunan, penarikan sumbangan anggota, dsb. Dalam jangka waktu singkat anggota serikat ini menjadi dua kali lipat, dan sebagian besar pribumi. Kesuksan VSTP meraih hormat bagi gerakan sosialis, dan memungkinkan Sneevliet merekrut para aktivis buruh ke dalam ISDV. Yang terpenting di antaranya adalah Semaun, seorang pemuda buruh perusahaan kereta api yang pada tahun 1916 (saat berusia 17 tahun), menjadi kepala Serikat Islam di Semarang, dan di kemudian hari menjadi tokoh penting dalam PKI.

Untuk membedakan pemkembangan era itu dari situasi di negara negari bekas jajahan di masa sekarang, dua aspek yang berlawanan sebaiknya diperhatikan, yang pertama lemahnya kaum buruh di Indonesia, dan yang kedua, perkembangan kuat gerakan buruh di tingkat internasional dan diterimanya secara tuntas ajaran marxis dan sosialis. Kondisi kelas buruh Indonesia di saat itu hanya bisa dibandingkan dengan kondisi kelas buruh di negara paling terbelakang sekarang ini, dan saat bersamaan kelas buruh itu dijajah oleh kekuatan imperialis yang maju, bukan rezim Bonapartis yang lemah atau tidak kukuh pemerintahnya.

Liberalisme Belanda tidak mendorong perjuangan buruh. Pemogokan dibalas dengan PHK massal, pembuangan para aktivis ke pulau-pulau terpencil, dan tindakan apa saja yang perlu untuk menghancurkan gerakan buruh. Dalam periode itu jarang sekali pemogokan buruh menemui kesuksesan, dan tidak mungkin berhasil memengaruhi perjuangan luas. Dilawan oleh majikan yang kuat, terbatas kemungkinan memajukan kondisi kaum buruh lewat perundingan.

Meskipun demikian gerakan serikat buruh bertahan dan berkembang. Kenyataan ini hanya bisa diterangkan dengan kekuatan dan daya tahan kaum buruh, dengan tumbuhnya jumlah dan pengalaman kaum buruh, dan di pihak lain, diterangkan oleh kenyataan bahwa perjuangan serikat buruh] tidak dapat dipisahkan dari perjuangan yang lebih luas yang dilakukan oleh rakyat Indonesia dalam melawan penindasan dan penghisapan pemerintah Belanda.

Pasa saat bersamaan, waktu itu gerakan kaum buruh di Belanda dan dunia internasional mempunyai kewibawaan yang tinggi bagi massa kolonial jauh melebihi situasi sekarang, akibat khianat yang bertumpu dari Stalinis dan Reformis. Hal tersebut menambahkan nilai penting gerakan buruh pada waktu awalnya. Dengan gerakan kaum nasionalis sendiri masih belia, para pemimpin buruh dan kaum sosialis berbangsa Eropa dapat terlibat dalam debat setingkat dengan para pemimpin nasionalis.

Meskipun demikian situasi selalu dipengaruhi oleh pentingnya kaum petani. Tidak mungkin suatu gerakan dapat berharap dirinya mempunyai pengaruh di tingkat nasional tanpa ia mampu menarik kaum petani. Sebagian besar kaum petani tetap mengikuti adat dan agama, kelihatannya pasif kalau ditindas, pemandangannya terbatas oleh kepentingan dan masalah kehidupan desa, tidak dapat diharapkan menunjang program sosialis dengan pemikiran yang termaju. Kaum petani hanya bisa memihak segi program sosialis yang merefleksikan kepentingan kaum tani sendiri, dan memihak perjuangan militan yang membantu tuntutan itu. Namun dukungan seperti itu juga biasanya sporadis, ekspolsif, dan tidak lengkap, selaras dengan karakter kaum tani sendiri - yaitu suatu kelas yang heterogen, produsen kecil yang terisolir, dan yang menurut kepentingan sendiri. Oleh karena itu kaum petani mungkin memihak kaum buruh, tetapi juga mungkin memihak demagogi kaum nasionalis, mistik agama atau aliran lain yang menawarkan pemecahan segera bagi persoalan kongkrit yang mereka hadapi.

Faktor lain yang penting di Indonesia, sebagaimana juga hal ini terjadi di dunia kolonial secara umum, ialah kelas menengah yang berpendidikan dan berharta milik - meskipun kecil, mereka ini adalah kekuatan yang signifikan. Kelas menengah juga sulit memihak program kaum buruh karena hanya bergerak di bidang politik untuk menahan kepentingan sendiri kepentingan borjuis, meskipun bertentangan dengan imperialism. Perjuangan bersama mungkin dilakukan antara kelas buruh dan kelas menengah hanya karena keduanya menghadapi musuh imperialisme, tetapi tujuan fundamenatal dan metode kelas menengah berbeda dengan tujuan dan metode kelas buruh. Kelas menengah, atau bagian-bagian darinya, dapat meninggalkan pemikiran bersifat utopis dan dan program reaksioner mereka hanya sebab mereka akhirnya mulai insaf bahwa tidak ada pilihan lain yang praktis, namun kemungkinan ini akan lama prosesnya serta sangat kontradiktif dengan kelas menengah sendiri. Mulanya kelas menengah akan berkembang secara terpisah dari gerakan kelas buruh dan, karena menyuarakan keluhan semua lapisan yang tertindas, mereka bisa memperoleh dukungan massal. Karena berpendidikan dan agak makmur, mereka agak jauh dari kehidupan orang biasa, tetapi oleh karena itu pula mereka makin yakin dan pandai, dan makin wibawa di mata kaum petani dan sebagian kaum buruh yang terbelakang.

Faktor ini dan faktor-faktor lainnya menerangkan pengaruh nasionalisme bersifat kelas menengah di dunia penjajahan. Yang paling penting ialah peran pemimpin nasionalis memusatkan tuntutan ke isu yang bisa didukung dengan penuh hati oleh kaum buruh dan petani, yaitu isu kemerdekaan nasional. Sebaiknya diperhatikan bahwa hanya dari sudut pandang Marxisme dan revolusi permanen-lah kaum buruh dan pemimpinannya akan menyadari peran kepemimpinan mereka dalam perjuangan ini, yang jika dipandang sepintas lalu perjuangan ini kelihatannya lebih luas dari perjuangan konkret kaum buruh. Karena pemimpin nasionalis timbul sebagai pemimpin perjuangan kemerdekaan, program sosialis terlihat sebagai semacam tambahan yang menempeli tujuan utama, yaitu sebagai sesuatu yang bisa ditunda, atau diberi dukungan hanya sebagai tujuan yang masih jauh.

Secara praktis, kaum sosialis hanya bisa memperoleh dukungan massa dengan membuktikan kecakapan menanggulangi soal-soal riil dengan mengungguli pemimpin nasionalis, dan dalam usaha ini perlu membuktikan programnya sebagai partai gerakan kemerdekaan. Untuk memperlihatkan sikapnya perlu mendirikan barisan bersama dengan orang nasionalis dalam perjuangan kemerdekaan berdasarkan kesatuan dalam aksi, sambil terus mempropagandakan ide-ide dan program sendirinya. Selaras itu Lenin dan Konperensi Komintern Kedua menerangkan kebijakan partai-partai Komunis terhadap "nasionalisme revolusioner".

Di segi lain harus dijelaskan bahwa di era kolonialisme usaha bersama tidak cukup mengatasi soal soal yang diderita rakyat yang sedang dijajah. Hanya kaum buruh yang mendirikan sosialisme yang dapat memecahkan soal itu. Dari sudut pandang obyektif, nasionalisme memainkan peran progresif karena bertentangan dengan imperialisme dan memeprlemahnya dengan membangkitkan massa untuk terlibat dalam perjuangan kemerdekaan nasional. Akan tetapi karena bersifat kelas menengah nasionalisme ini tidak stabil dan mungkin membalik sikapnya dengan timbulnya ketegangan antara kaum buruh dan sistem borjuis. (Proses pembedaan kelas ini sudah mencapai puncaknya di India dan Kenya, yang kemimpinan anti kolonialnya, karena bersifat kelas menengah, sudah merobah menjadi rejim neo kolonial yang reaksioner yang menindas massa buruh dan taninya). Persekutuan antara kaum buruh dan kelas menengah di masa perjuangan kemerdekaan nasional mesti penuh prasyarat hubungan - yaitu hanya bisa berupa korelasi kekuatan yang temporer di mana gerkan kelas buruh yang revolusioner selalu berusaha menegakkan kepemimpinannya dalam perjuangan seluruhnya.

Jadi, pada umumnya, beginilah hubungan yang timbul akibat sikap ISDV terhadap Insulinde, dan lebih penting lagi, terhadap SI. Bagian Semarang Serikat Islam, yang memihak ISDV, sudah muncul sebagian oposisi pimpinan nasional, mulai mengajukan tuntutan sosial yang kongkrit, menuntut perjuangan melawan kapitalisme, dan lebih tegas tentang isu-isu praktis. Jumlah anggota bagian Semarang ini naik dari 1,700 pada tahun 1915 menjadi 20,000 pada tahun berikutnya, dan menjadi salah satu daerah SI yang terkuat. Usaha-usaha yang dilakukan oleh kepemimpinan Si untuk menghancurkan "aliran Semarang" semuanya gagal. Dengan begitu, mereka hanya dapat mencabut ide-ide sosialis dari SI dengan cara menghancurkan SI sendiri - suatu langkah yang akhirnya terpaksa mereka lakukan.

Walaupun makin berpengaruh, ISDV - seperti PKI kemudian - tetap merupakan organisasi kecil. Jumlah anggota ISDV naik dari 103 tahun 1915 (dengan hanya tiga anggota pribumi) menjadi 330 di tahun tahun 1919 (300 pribumi). Dalam arti ini ISDV menjadi partai kader - partai para aktivis dan pemimpin yang kuat dukungan di serikat buruh, di perkotaan, dan juga pedesaan. Orientasi kelas ISDV paling jelas terrefleksi dalam kedudukannya yang kuat di dalam gerakan serikat buruh. Ferderasi pertama serikat buruh, didirikan pada tahun 1919, terdiri dari 22 serikat, dan anggotanya berjumlah 72,000, dan sebagian menurut ISDV, dan bagian lain memihak pimpinan nasional SI. Sesudah berberapa tahun kontrol pimpinan SI yang kurang cakap mengalami perpecahan, kecuali di berberapa serikat pegawai (pekerja kerah putih).

Kewibawaan ISDV dicerminkan juga dengan dukungan massa terhadapnya di dalam tubuh SI sendiri. Dengan mengingat populasi Indonesia, jumlah penganut itu merupakan langkah awalan saja yang secara praktis perlu dikonsolidasikan sebagai simpul di setiap daerah yang kemudian menjadi dasar gerakan nasional yang didukung oleh jutaan orang, dengan intinya kader Marxis. Jika kondisi begini sudah tercapai barulah mungkin menempatkan ikhwal perebutan kekuasaan ke dalam agenda partai.

Dalam pengertian perspektif dan teoris, di satu sisi, sebagai organisasi kader ISDV amat lemah. Pengusiran Sneevliet dari Indonesia pada tahun 1918 meninggalkan jurang tak terjembatani di pucuk pimpinan organisasi itu. Tidak ada pemimpin, baik keturunan Belanda maupun pribumi, walaupun trampil sebagai pejuang revolusioner, memiliki pengalaman dan pemandangan marxis yang cukup luas untuk mengemudikan partai secara tepat saat menghadapi tikungan yang tajam dan mendadak.

Potensi revolusioner ISDV yang gemilang pada era itu ditunjukkan tahun 1917-18, saat partai itu segera mendukung Revolusi Rusia dan dengan cepat menarik implikasi revolusi itu bagi revolusi di negara Eropa dan Indonesia sendiri. Belajar dari pengalaman Rusia, ISDV mulai mengorganisir serdadu dan pelaut di Indonesia, dan dengan usaha itu berhasil menarik pengikut sekitar 3,000 orang di angkatan bersenjata Belanda.

Pada akhir tahun 1918, saat Belanda di ambang revolusi, pemerintah kolonial bingung karena kelihatannya mungkin ada perebutan kekuasaan revolusioner di Belanda, dan mungkin sesudahnya di Indonesia juga. Pada saat itu sosial demokrat Belanda kehilangan keberaniannya. Pemerintah kolonial menjanjikan berberapa perbaikan situasi, dan situasi revolusioner reda.

Situasi di Indonesia pada tahun 1918-19 penuh gejolak, karena kisis ekonomi menghantam para pekerja dan timbulkan perlawanan dengan kekerasan di kalangan kaum tani. Kejadian ini melatarbelakangi pertumbuhan ISDV/PKI secara massal, dan juga menyebabkan reaksi dari segi pemerintah. Karena faktor subjektif tidak kuat, pembangunan PKI ditentukan pemerintah kolonial yang makin agresif.

1920-26. Mendekati Bencana

Awal tahun 1920-an merupakan periode kekalahan yang dialami gerakan kaum buruh, baik di Indonesia maupun di tingkat internasional. Pemogokan besar dikalahkan, dengan puncaknya kalahnya pemogokan buruh kereta api pada tahun 1923 - di mana VSTP sebagai pejuang garis depan gerakan serikat buruh mengalami kehancuran. Periode liberalisme "etis" jelas telah berakhir. Dalam periode ini semua pemimpin PKI berbangsa Belanda diusir, diikuti oleh pengusiran para pemimpin pribumi yang penting (khususnya Semaun dan Tan Malaka).

Indonesia terlalu jauh dan tak terjangkau bagi intervensi efektif Komintern. Fokusnya diarahkan kepada Cina, yang dianggap lebih menguntungkan. Dengan cepat, kekuatan organisasional dan momentum yang terbangun di masa ISDV, digabung dengan pemehaman yang tidak lengkap atas program-program kelas buruh, kemudian berubah menjadi tendensi yang condong kepada isme ultra kiri dan juga sektarianisme, yang berkembang di kalangan para pemimpin yang tersisa (Pimpinan ini selalu berobah akibat orang-orangnya sering ditahan dan diusir).

Perdebatan utama di Konferensi Kedua Komintern tentang revolusi kolonial gagal menerangkan situasi bagi PKI, terutama karena terpisah dari intenasional itu. Tentang orientasi kepada gerakan nasionalis, banyak yang merasa bahwa pendapat Lenin tidak bisa diterapkan di Indonesia akibat lemahnya borjuasi nasional, dan tidak usah diperhatikan. Di sisi lain, PKI tidak puas dengan sikap Komintern terhadap gerakan Pan-Islam, yang terhadapnya SI berasosiasi. Posisi Komintern bersifat kesahabatan terhadap buruh dan petani yang menganut Islam, tetapi melawan gerakan Pan-Islam karena dianggap sebagai instrumen imperialisme Turki, pemilik tanah luas dan ulama di negara Islam.

Memang betul bahwa dari sudut pandang ini SI merupakan suatu yang kontradiktif. Sayap kanan kelas menengah secara buka memihak dengan imperialisme Turki dan Jepang. Di lain pihak massa Islam mendukung SI sebagai mesin perjuangannya. Asal bersenjata dengan pendekatan yang seimbang dan pemandangan yang luas dan sabar, dengan kegagahan dalam perjuangan dan pemeriksaan setiap tahap perjuangan, sebenarnya tidak mustahil kaum komunis memecahkan khayal tentang Pan-Islamisme, yang meraja terutama di tengah kaum petani.

Pemimpin pemimpin PKI hanya memperdulikan kekhawatirannya bahwa sikap Komintern akan digunakan oleh musuh-musuh mereka untuk mengasingkan PKI dari massa. Mengganti taktik menjadi perspektif, sikapnya pasif atau hanya mau mempertahankan posisinya, secara sepenuhnya keliru, menemukan "identitas" antara antara Islam dan Komunisme. (Dan karena sangat terkesan dengan kesuksesan Gandhi di India, hingga tahun 1924 PKI mengutarakan hormat kepada pasifisisme borjuis). Campuran impresionistik yang tidak seimbang antara sektarianisme dan penyerahan diri secara politis kepada tendensi borjuis nasionalis ini, lebih lanjut menghambat kemajuan level politis bagi para kader di dalam PKI sendiri. Dibuktikan juga bahwa dekat sekali pikiran ultra kiri dan oportunisme, tidak dengan sengaja diarahkan ke sana, tetapi dalam kasus PKI, hal ini merupakan konsekuensi dari ketidakmampuan partai itu untuk mengembangkan kepemimpinan Marxis yang memiliki pemahaman dialektis mengenai situasi yang terus bergulir.

Meksipun kelemahan ini, pada tengah tahun 20 an PKI muncul sebagai organisasi yang terkemuka dalam perjuangan massa. Bagaimanapun, posisinya yang kuat itu jadi malah menutupi posisinya yang lemah tidak kukuh secara keseluruhan, yang oleh kepemimpinannya gagal terlihat. Kenyataannya zaman itu bersifat reaktioner, mengikuti kekalahan yang dialami oleh kaum buruh di Indonesia, dan di tingkat internasional. Pemerintah kolonial melakukan pengetatan yang kejam bertujuan menghancurkan gerakan revolusioner, yang pertama pecah adalah kepemimpinan SI yang "moderat". Dalam situasi penekanan ini PKI, lebih kuat orgnisasinya, bisa bertahan lebih lama beberapa tahun sebagai organisasi massal; namun peran kepemimpinannya mulai carut marut, merefleksikan turunnya suasana di dalam perjuangan secara umum dan bukan situasi penuh ledakan revolusioner.

Akan tetapi kenyataan ini tidak diperhatikan. Sementara anggota kepemimpinan yang lebih maju membahas kemungkinan perang antara Jepang dan Amerika akan menyebabkan situasi revolusioner di Indonesia, perspektif itu tidak dipakai sebagai analisa bagi partai seluruhnya, atau sebagai petunjuk strategi dan taktik. Pengertian perlunya persiapan revolusioner kurang, dan pada kenyataannya kurang pula pengertian atas revolusi sebagai akibat perkembangan obyektif. Tugas partai dimengertikan secara voluntaristik, yaitu keinginan revolusioner dianggap paling penting, dan revolusi dimengerti sebagai putsch (pemberontakan bersenjata). Mulai tahun 1924 ada bagian pimpinan, yang berkeyakinan bahwa "tidak ada waktu tersisa lagi", bertekad mengikuti jalur ini dengan harapan bahwa contoh yang mereka beri akan menyalakan pemberontakan umum.

Akhirnya ramalan revolusi akan terjadi dalam waktu singkat, dalam beberapa pengertian, menjadi terbukti sendiri, yang sebetulnya proses ini mencerminkan keterbelangkangan daerah pedesaan. Para petani, bahkan banyak buruh yang kurang berpengalaman, mudah memberontak. Mereka amat siap untuk beraksi secara militan, namun, dalam kekalahan dengan kecepatan sama mereka menjadi apatis dan jatuh ke dalam demoralisasi. Agitasi revolusiner yang kurang tajam, didasarkan pengertian yang keliru dan kurang realistis, yang terdiri dari janji-janji utopis dan ancaman terhadap mereka yang memusuhi, dapat menegakkan gelombang perjuangan secara lokal di tengah kekalahan yang lebih luas. Tetapi metode macam begitu - hasil dari semangat revolusioner yang membara sekaligus juga ketidaksabaran - adalah amat sangat berbahaya. Pada pertengahan tahun 1920-an menjadi mungkin bagi ototritas partai untuk menghasut gerombolan bekas anggota PKI yang kecewa di berberapa daerah. Di sisi lain, gairah revolusioner yang menggelora tercipta di beberapa bagian anggota awamnya, menyebabkan pimpinan merasa ditekankan segera "beraksi".

Akibat berantainya pimpinan yang kurang berpengalaman dengan cepat kehilangan kontrol terhadap gerakan yang dibangkitkannya sendiri, dan berkeyakinan bertindak dengan lebih cepat lagi merupakan satu-satunya solusi yang ada. Mereka melaju makin cepat, sampai kecelakaan tak terelakkan.

Dua aspek dari proses ini masih penting bagi kita sekarang: perjuangan antara pimpinan PKI dan SI; intervensi terhadap situasi yang berlangsung, yang dilakukan oleh para pemimpin yang diasingkan dan juga oleh Internasionale.

Pada tahun 1918-19, selama berlangsungnya kebangkitan perjuangan massal, aliran Semarang mengalami kemenangan-kemenangan politis yang penting terhadap sayap kanan SI. Pada tahu 1921 sayap kanan begitu sengit sampai siap mengejar dan mengusir anggota komunis, walaupun diperingatkan bahwa hal itu mungkin menghancurkan SI (akhirnya nyata). Hal itu menggiring terjadinya perpecahan cabang SI itu menjadi cabang "SI Merah" dan "SI Putih". SI Putih, yang berdasarkan agama dan jelas-jelas menentang adanya perjuangan radikal, tidak mendapat dukungan massa, dan segera hancur. PKI kemudian memberi nama baru bagi SI Merah menjadi Sarekat Rakyat pada puncaknya beranggota 60,000 orang.

Lagi-lagi, kebijakan yang tidak jelas yang dilakukan oleh PKI menggiring terjadinya akibat yang kontradiktif. Dalam pengertian dan tujuan apapun, Sarekat Rakyat merupakan bagian PKI, tetapi jumlah anggotanya jauh lebih besar, dan membanjiri PKI dengan suasana populisme radikal. Pada saat bersamaan, sementara mengahangi perkembangan kader, eratnya ikatannya SR dengan partai terbukti menjadi rintangan bagai partai untuk meraih dukungan massa yang lebih luas - ratusan ribu atau jutaan orang tidak siap untuk bergabung ke dalam apa yang mereka lihat sebagai PKI.

Kominern mendesak PKI untuk memisahkan SR dari partai, dan SR mengarahkan SR di bawah "kepemimpinan itelektual" partai dari pada menempatkannya langsung di bawah kontrol dewan pengurus, dan mendesak untuk memastikan bahwa program-programnya mencerminkan aspirasi massa dan bukan himbauan kepada elemen-elemen yang lebih maju semata. Sneevliet dan pemimpin Belanda lain menegaskan perlunya bersatu lagi dengan SI kalau mencari dukungan massal. Kalau menyisihkan hal ini sekarang, sudah jelas pentingnya arti ungkapan pimpinan kaum buruh dalam perjuangan nasionalis.

PKI tidak mampu menangani persoalan jauh ke depan. Kepemimpinannya tampak mengalami kesulitan membedakan orientasi praktis terhadap gerakan nasionalis dengan konsensi-konsesi politik bagi nasionalisme, dan kacau konsepnya mengenai seluruh gerakan nasionalisme dikuasai oleh Komunisme. Indepensi politis dari gerakan nasionalis, dengan logik yang aneh, berarti "perang total" melawan para pemimpin nasionalis. Oleh karena itu semua kesempatan berpropaganda dalam partai lain dari zaman ISDV, dan dari taktik front bersama (SI), semuanya hilang. Di tengah massa, tak diragukan lagi adanya keinginan kuat yang tersebar luas untuk mengakhiri perselisihan di antara para pemimpin. Akan tetapi para pemimpin PKI dan SI tidak mungkin setuju mengenai aksi bersama tanpa segera kemudian saling berpisah kembali di dalam suasana sengit. Hal ini melemahkan perjuangan massa keseluruhan dan Pdan lebih gawat situasi PKI karena gerakan massal berkurang, dan makin keras serangan pemerintah.

Apakah peran kelas buruh dalam kejadian-kejadian ini? Pada awalan tahun 1920-an PKI meraih pimpinan serikat buruh kerah biru. Berberapa bagian kaum buruh diorganisir, misalnya buruh dok dan pelaut (hal ini dimulai oleh pemimpin serikat pelaut yang diusir ke Belanda, yang berusaha komunikasi dengan Indonesia). Namun kemajuan-kemajuan ini, lagi-lagi, terjadi pada saatnya kemunduran gerakan buruh umumnya, dan jumlah anggotanya tidak kunjung bertambah. Pengaruh kaum buruh yang begitu kecil tidak dapat memukul kembali tekanan-tekanan yang terjadi terhadapnya, terutama yang berasal dari desa-desa, hal ini mendorong pimpinan partai terjerembab ke dalam advonturisme. Kaum buruh masih amat baru, dan terlalu dekat dengan pedesaan, dan oleh karena itu tidak kuat kesadaran politis yang kuat mendasarkan sikap independen. Kaum buruh berkecenderungan ikut terpengaruh suasana massa umumnya.

Keputusan PKI Desember 1924 untuk menyiapkan pemberontakan disertai keputusan menguatkan basis proletarnya - tetapi hanya supaya menyiapkan kekuatan pemberontakan yang lebih disiplin. Kejadian itu sebaiknya disertai pemogokan umum. Sebab suasana militan sekali, pemogokan terjadi tanpa direncanakan dan dikalahkan dengan tuntas. Semua ini menunjukkan kontrol kelas penguasa tetap ada, dan di segi lain kontrol pimpinan PKI lemah atas serikat buruh, bahkan serikat yang markasnya di gedung PKI. Akibat berantai dari kejadian ini adalah represi makin ketat dan PKI terpaksa menjadi gerakan bawah tanah. Semua kesempatan mengorganisir gerakan baik di kota maupun di desa hilang, akan tetapi aliran pro berontakan tambah kuat tekadnya bahwa "tak ada alternatif lain kecuali penyerahan atau pemberontakan".

Pemimpin pemimpin yang diasingkan memiliki pemahaman yang lebih jernis atas situasi yang berlangsung, tetapi tanpa pengaruh efektif. Semaun, saat itu berada di Belanda, terperangkap dalam persengketaan dan manuver-manuver organisasional melawan Sneevliet dan bekas pemimpin PKI lain yang berkebangsaan Belanda, membangkitkan tuduhan terhadap dominasi bangsa Belanda dan mengedepankan "masalah nasional" untuk menentang usaha-usaha mereka melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan PKI di Belanda. Semaun memperingatkab adanya bahaya "putsch" di Indonesia, tetapi pada saat hal itu terjadi ia malah menyambutnya sebagai "satu pemberontakan besar" yang akan meluas. Pendapat Tan Malaka di Cina jauh lebih terang. Ia tidak cuma secara konsisten memperingatkan bahayanya aliran ultra kiri, namun juga berjuang secara aktiv melawannya, dan sebagian pimpinan menyetujui pendapatnya, dan mulai membentuk blok melawan faksi pro pemberontakan. Selama tahun 1926 badan exekutif PKI mengikuti aliran Tan Malaka dan Komintern, tetapi situasi terlanjur sudah di luar kontrol, dan sakumpulan ranting liar meluncurkan pemberontakan pada akhir tahun 1926. Tak terelakkan hal itu dimusnahkan dengan telak.

Sampai tahun 1926, walaupun sudah mulai suasana kontra revolusi di Rusia, bagi Komintern tidak ada alasan merobah sikap umum terhadap Indonesia. Sampai saatnya pemberontakan Komintern tetap memperingati PKI untuk melawan adventurisme, dan menegaskan kepada PKI tentang perlunya membangung basis massa di dalam gerakan kemerdekaan nasional secara luas. Namun demikian, pada saat itu, kepentingan pemimpinan Stalinist mulai mendikte jalan baru. Dalam perjuangannya melawan oposisi kiri, dengan segala cara aliran Stalinis membenarkan penyerahan oportunis PK Cina kepada Kuomintang. Pemberontakan yang sia-sia di Indonesia itu disambut sebagai "lompatan kualitatif" yang khas, dan tanggapan itu menandai tahap baru dalam kemerosotan pimpinan Komintern: dari mengutuk rencana pemberontakan yang prematur pada awalnya, kini Komintern berganti posisi memberi dukungan yang sama sekali tidak kritis bagi terjadinya "perang sipil terbuka" di Indonesia, yang, menurut Komintern, menyebar dari Cina!

Kejadian ini menandai beloknya Kaum Stalinis kepada aliran ultra kiri di seluruh dunia. Untuk menyelubungi khianat oportunisnya, mereka mulai mencari-cari situasi yang sangat genting kemungkinan revolusi di mana saja, kecuali di situasi yang nyata penuh kemungkinan revolusioner. Satu tahun kemudian (1927) giliran buruh Shanghai yang dikhianati dan dikalahkan. Bagi gerakan buruh Indonesia, belokan itu mencegah kesempatan mengimbangi pengalaman dan memperbaiki kekeliruan periode itu dalam rangka kerja Komintern. Serentak itu kontak antara Oposisi Kiri dan Indonesia sama sekali putus. Sneevliet meninggalkan Oposisi Kiri, dan melemahkan perkembangan Trotskyisme di Belanda, dan hilang kesempatan terjadinya intervensi Marxis di Indonesia.

Dengan kekalahan pemimpin pemimpin Islam oleh pihak komunis dan kemudian kekalahan yang dialami PKI, hal itu menyebabkan kekosongan politis. Kelowongan itu diisi oleh angkatan baru pemimpin yang berasal kelas menengah yang mendasarkan diri mereka pada doktrin barunya, yaitu nasionalisme sekuler berprogram persatuan perjuangan semua suku bangsa yang mendiami pulau-pulau di Indonesia untuk melawan penjajahan Belanda. PKI muncul kembali dalam gelombang perjuangan baru, sebagai oragnisasi massa yang lebih besar dari sebelumnya. Masih cedera akibat kejadian tahun 1920-an dan 1930-an, parti ini nyaris tidak punya kaitan dengan Marxisme revolusioner. Kaum Marxis di Indonesia masa kini perlu mempelajari lagi periode ISDV dan tahun awalan PKI, untuk menemukan lagi akar gerakan revolusioner di negara ini - salah satu gerakan yang terpenting di dunia kolonial - sebagai bagian esensial dari persiapan yang perlu untuk menghadapi letusan sosial yang tak terelakkan.