Berdirinya kerajaan Turki Utsmani (Ottoman) bermula ketika Utsman diangkat oleh Sultan Ala’uddin Kaikobad sebagai panglima perang mengantikan orang tuanya yang wafat. Sepeninggal sultan Ala’uddin tahun 1300 Masehi, Utsman mengambil alih kekuasaannya dan secara resmi menetapkan berdirinya Kerajaan Turki Utsmani. Sejak berdirinya ini hingga runtuh pada rahun 1922 M., kerajaan Turki Utsmani diperintah oleh 36 sultan dan berlangsung lebih dari tujuh abad lamanya.

Sebagai pendiri dan penguasa pertama Dinasti Ottoman, Sultan Utsman lebih banyak mencurahkan perhatiannya pada upaya memantapkan kekuasaan dan melindungi wilayahnya dari serangan luar, terutama dari kerajaan Bizantium di Eropa. Sepeninggal Utsman, ia digantikan putranya, Orkhan, yang terus mengembangkan wilayah kekuasaan Ottoman dengan melakukan ekspansi ke beberapa wilayah baru, seperti Broissa, Izmir di Asia Kecil, dan Ankara.

Ketika kkuasaan berada di tangan Murad I, kerajaan Ottoman berhasil menaklukkan banyak wilayah baru, seperti Balkan, Andrianopel, Macedonia, Sofia (Bulgaria), dan seluruh wilayah kerajaan Yunanai. Ekspansi berikutnya dipimpin oleh pengganti Murad I, yakni Bayazid I. Di bawah komandonya, kerajaan Ottoman berhasil merebut Benteng Philadephia, Gramania, dan Kirman (Iran).

Keberhasilan besar Bayazid I membuat gelisah Paus dan umat Kristen di Eropa, sehingga pada kisaran tahun 1396, tentara Hongaria yang dipimpin Raja Sijismond bergabung bersama pasukan Jerman dan Prancis guna menyerang kerajaan Ottoman. Pecahlah perang besar itu pada 25 September 1396 yang akhirnya dimenangkan oleh tentara Ottoman, sementara tentara Eropa mengalami kekalahan terbesar dan terparahnya.

Memasuki permulaan tahun 1400-an, di wilayah Asia Tengah dan Asia Barat timbul prahara besar dan berdarah yang disebarkan oleh pasukan Timur Lenk, seorang keturunan Mongol-Islam, yang menyebabkan keruntuhan beberapa dinasti yang berkuasa di sana. Kerajaan Ottoman pun tidak luput dari serangan si Timur Pincang itu. Bertepatan pada tahun 1402, Timur Lenk datang membawa 800.000 pasukannya menggempur kerajaan Ottoman. Tentara Sultan Bayazid I yang hanya berjumlah 120.000 orang tidak mampu menahan laju serangan besar itu, dan Bayazid pun tewas beserta sebagian besar pasukannya. Sejak saat itulah seluruh wilayah kerajaan Ottoman jatuh ke tangan Timur Lenk.

…………

Seiring kematian Timur Lenk, kerajaan-kerajaan yang dulu berada di bawah kekuasaannya, kini melepaskan diri dan mendirikan kerajaan baru secara otonom, tak terkecuali kerajaan Ottoman. Di bawah kendali Sultan Murad II, kerajaan Ottoman bangkit kembali dan berhasil mengembalikan wilayah kekuasaan yang dulu sempat hilang akibat serbuan Timur Lenk. Setelah itu, Sultan Murad II kemudian melakukan ekspansi ke beberapa kawasan guna memperluas wilayah kekuasaannya. Secara berturut-turut pasukan Sultan Murad II berhasil mnaklukkan Venesia, Salonika, dan Hongaria.

Sepeningal Murad II, ia digantikan oleh Muhammad II yang bergelar al-Fatih (penakluk). Di bawah kekuasaan Muhammad II, kerajaan Ottoman melakukan ekspansi besar-besaran ke beberapa wilayah penting, seperti ke ibu kota Kerajaan Romawi, Konstatinopel (tahun 1453). Kerajaan Romawi yang sejak masa pemerintahan Umar bin al-Khatthab sangat sulit ditaklukkan, kini telah berada di bawah kekuasaan Islam melalui tangan Muhammad II.

Setelah Konstantinopel berhasil ditaklukkan, ibu kota kerajaan Ottoman dipindahkan ke kota ini dan diganti namanya menjadi Istanbul (yang berarti; Tahta Islam). Dari Istanbul inilah kekuasaan dinasti Ottoman semakin mudah menjangkau wilayah lain, sehingga pada masa ini, Serbia, Albania, dan Hongaria, berhasil ditaklukkan dan berada di bawah dinasti Ottoman. Diamping itu, jatuhnya Konstantinopel yang merupakan jalur perdagangan terpenting yang menghubungkan Eropa Barat dan Timur, membuat perekonomian Eropa bergantung spenuhnya pada Kerajaan Ottoman.

Meskipun Konstantinopel berhasil di taklukkan, namun Sultan Muhammad II tetap memberi kebebasan beragama kepada penduduknya. Di samping itu, Sultan Muhammad II juga tidak melakukan intevensi (campurtangan) terhadap persaoalan kepemimpinan agama lain. Sultan membiarkan orang-orang Kristen memilih ketua mereka, dan setelah itu Sultan hanya melantik kerua terpilih.

Puncak keemasan Dinasti Ottoman dicapai pada masa pemerintahan Sulaiman I