Usaid bin Hudhair

02/27/2003

 Kedatangan seorang pemuda Mekah, Mush'ab bin Umair, ke Yatsrib (Madinah) pada awal kemunculan dakwah Islamiyah tercatat dalam sejarah Islam. Mush'ab bin Umair tinggal di rumah As'ad bin Zurarah, seorang bangsawan suku Khazraj. Selain menjadi tempat tinggalnya, rumah tersebut dijadikan pula sebagai tempat menebarkan dakwah islamiyah dan menyampaikan berita gembira mengenai Muhammad Rasulullah saw.

Penduduk Yastrib (Madinah) mendatangi majelis dakwah pemuda Mush'ab dalam jumlah besar. Mereka terpikat dengan gaya bicaranya yang menawan, keterangan-keterangannya yang jelas dan masuk akal, kehalusan budi pekertinya dan sinar iman yang selalu memancar dari wajahnya. Tetapi, di atas segalanya itu, yang lebih menarik hati mereka adalah ayat-ayat Alquran yang dibacakan Mush'ab bin Umair di sela-sela pembicaraannya, yang dibacakannya ayat demi ayat. Dengan suaranya yang empuk dan merdu, serta alunannya yang manis menawan, lunaklah hati yang kasar dan bercucuran air mata menyesal orang-orang jahat. Akhirnya, tidak ada yang meninggalkan majelis itu, melainkan setelah masuk Islam dan bergabung dengan kelompok orang-orang mukmin.

Pada suatu hari As'ad bin Zurarah pergi dengan tamunya, Mush'ab bin Umair, menemui kelompok Bani Abd Asyhal untuk mengajarkan Islam kepada mereka. Keduanya masuk ke sebuah kebun Bani Abd Asyhal, lalu duduk di pinggir sebuah telaga yang indah di bawah pohon-pohon kurma.

Mush'ab dikelilingi orang-orang yang sudah Islam dan orang-orang yang ingin mendengarkannya berbicara. Mush'ab berbicara untuk dakwah dan tabsyir (memberi kabar gembira). Orang-orang mendengarkan dengan tenang dan diam. Mereka bagaikan terpesona karena pembicaraannya yang mengagumkan.

Usaid bin Hudhair dan Sa'ad bin Mua'dz adalah dua pemimpin Aus. Mereka mendapatkan berita bahwa seorang dai Mekah tinggal dekat kampung mereka. Yang mendukung dai tersebut adalah As'ad bin Zurarah, keluarga dekat Sa'ad bin Mua'dz, yaitu anak bibinya sendiri.

Sa'ad bin Muadz berkata, "Hai Usaid! Sebaiknya engkau datangi pemuda Mekah itu. Dia telah mempengaruhi rakyat kita yang bodoh-bodoh dan menghina Tuhan kita. Cegahlah dia, beri peringatan supaya jangan menginjak negeri kita lagi sejak hari ini." Kemudian Sa'ad melanjutkan pembicaraannya, "Seandainya dia bukan tamu anak bibiku, As'ad bin Zurarah, sungguh aku lakukan sendiri."

Usaid mengambil tombaknya, lalu pergi ke kebun di mana Mush'ab bin Umair berdakwah. Ketika As'ad bin Zurarah melihat kedatangan Usaid, dia berkata kepada Mush'ab, "Kebetulan hai Mush'ab! Itu pemimpin kaumnya datang. Seorang yang sangat cemerlang otaknya dan brilian akalnya. Itulah Usaid bin Hudhair. Jika dia masuk Islam, akan banyak orang mengikutinya. Memohonlah kepada Allah dan bijaksanalah menghadapinya!"

Usaid bin Hudhair berdiri di tengah-tengah jamaah. Dia memandang kepada Mush'ab dan sahabatnya, As'ad bin Zurarah, seraya berkata, "Apa maksud tuan-tuan datang ke sini? Tuan-tuan hendak mempengaruhi rakyat kami yang bodoh-bodoh. Pergilah tuan sekarang juga, jika tuan-tuan masih ingin hidup."

Mush'ab menoleh kepada Usaid dengan wajah berseri-seri memantulkan cahaya iman. Dia berbicara dengan gayanya yang simpatik dan menawan, "Wahai Pemimpin! Maukah Anda mendengarkan yang lebih baik dari itu?

Tanya Usaid, "Apa itu?" Kata Mush'ab, "Silahkan duduk bersama-sama kami, mendengarkan apa yang kami bicarakan. Jika Anda suka apa yang kami bicarakan, silakan ambil, dan jika Anda tidak suka, kami akan meninggalkan Anda dan tidak kembali lagi ke kampung Anda." Usaid berkata, "Anda memang pintar!" Lalu ditancapkannya lembing ke tanah, kemudian dia duduk.

Mush'ab mengarahkan pembicaraan kepadanya tentang hakikat Islam, sambil membaca ayat-ayat Alquran di sela-sela pembicaraanya. Rasa gembira terpancar di muka Usaid. Lalu dia berkata, "Alangkah bagusnya apa yang kamu katakan. Dan alangkah indahnya apa yang kamu baca. Apa yang dapat saya lakukan jika kami hendak masuk Islam?"

Mush'ab berkata, "Mandi (bersihkan badan), bersihkan pakaian, ucapkan dua kalimat syahadat, sesudah itu salat dua rakaat."

Usaid langsung berdiri dan pergi ke telaga menyucikan badan, kemudian mengucapkan dua kalimat syahadat, dan sesudah itu dia salat dua rakaat. Mulai hari itu bergabunglah ke dalam pasukan berkuda Islam, seorang Arab penunggang kuda yang terkenal mengagumkan, pemimpin suku Aus yang diperhitungkan. Usaid digelari kaumnya "Al-Kamil" (yang sempurna) karena otaknya yang cemerlang dan kebangsawanannya yang murni. Dia mengusai pedang dan qalam (pena). Sebagai penunggang kuda yang cekatan dia memiliki ketepatan memanah. Selain itu dia sebagai pembaca dan penulis dalam masyarakat.

Dengan Islamnya Usaid, menyebabkan Sa'ad bin Muadz masuk Islam pula. Dan, dengan Islamnya kedua tokoh ini, seluruh masyarakat Aus masuk Islam. Maka, jadilah Madinah sesudah itu menjadi tempat hijrah Rasulullah saw, dan tempat berdirinya pusat pemerintahan Islam yang besar.

Usaid bin Hudhair sangat mencintai Alquran sejak pertama kali ia mendengar Mush'ab bin Umair membacanya, bagaikan cinta seseorang terhadap kekasihnya. Dia menghadapi Alquran seperti orang kehausan di Panas terik menghadapi jalan yang membawanya ke telaga sejuk, sehingga Alquran menjadi kesibukan baginya setiap waktu. Jika tidak pergi berperang, tentu dia i'tikaf di masjid membaca Alquran.

Suaranya empuk, jelas, dan merdu, menyebabkan bacaan Alqurannya indah dan menawan. Lebih-lebih bila dia membaca di tengah malam, saat orang sedang tidur dan ketika hati sedang jernih. Para sahabat yang mulia senantiasa menunggu-nunggu waktu Usaid membaca Alquran. Bila dia membacanya, mereka berebut mendengarkan bacaannya. Berbahagia berkesempatan mendengarkan bacaan Alquran darinya dengan lidahnya yang fasih, seperti yang diberikan Allah kepada Nabi-Nya Muhammad saw. Bahkan, penduduk langit merasa sejuk dan sedap mendengarkan bacaannya seperti halnya penduduk bumi.

Pada suatu tengah malam, Usaid bin Hudhair duduk di beranda belakang rumahnya. Anaknya, Yahya, tidur di sampingnya. Kuda yang selalu siap sedia untuk berjihad fi sabilillah ditambat tidak jauh dari tempat duduknya. Suasana malam tenang, lembut, hening. Permukaan langit lembut dan jernih. Bintang-bintang melayangkan pandangannya ke permukaan bumi yang sedang tidur dengan perasaan kasihan dan penuh simpati. Terpengaruh oleh suasana malam yang hening dan kudus itu, Usaid tergerak untuk menyebarkan harum-haruman ke udara lembab dan bersih berupa harum-haruman Alquran yang suci. Maka, dibacalah Alquran dengan suaranya yang empuk dan merdu membangkitkan kasih. (Di sini Usaid membaca surah Al-Baqarah ayat 1 -- 4).

Mendengar bacaan tesebut, kudanya lari berputar-putar hampir memutuskan tali pengikatnya. Ketika Usaid diam, kuda itu diam dan tenang pula. Usaid melanjutkan membaca: "Mereka itulah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan merekalah orang-orang yang menang." (Al-Baqarah: 5).

Kudanya lari dan berputar-putar pula lebih hebat lagi. Usaid diam, diam pula kuda tersebut. Hal seperti itu terjadi berulang-ulang. Bila dia membaca, kudanya lari dan berontak; bila dia diam, tenang pula kuda itu. Usaid khawatir anaknya akan terinjak oleh kuda, lalu dibangunkanya. Ketika dia melihat ke langit, terlihat olehnya awan seperti payung yang mengagumkan, dan belum pernah dia melihat sebelumnya. Payung itu sangat indah dan berkilat-kilat, tergantung seperti lampu-lampu memenuhi ufuk dengan sinarnya yang terang. Awan itu bergerak naik hingga hilang dari pemandangan. Setelah hari pagi, Usaid pergi menemui Rasulullah saw. Diceritakanlah kepada beliau peristiwa yang dialaminya semalam.

Rasulullah saw berkata, "Itu malaikat yang ingin mendengarkan engkau membaca Alquran, hai Usaid. Seandainya engkau teruskan bacaanmu, pastilah orang banyak akan melihatnya pula. Pemandangan itu tidak akan tertutup dari mereka."

Sebagaimana Usaid bin Hudhair mencintai Alquran, seperti itu pula cintanya kepada Rasulullah saw.
Rasulullah saw pernah berkata tentang pribadi Usaid, "Dia sangat bersih dari yang bersih, sangat halus dari yang halus, penuh iman ketika membaca Alquran atau ketika mendengarkanya." Ketika Rasulullah saw berpidato atau berbicara, dia selalu menatap wajah beliau. Dia sangat rindu untuk menyentuh tubuh Rasulullah saw, merangkul, dan mencium pipi beliau. Maka pada suatu ketika dia mendapat kesempatan melepaskan kerinduannya. Pada suatu hari, Usaid menepikan orang banyak dengan ujung tombaknya. Karena itu, Rasulullah saw mencubit perut Usaid yang telanjang dengan tangan beliau, untuk memperingatkan Usaid agar jangan bertindak kasar.

Lalu Usaid berkata kepada beliau, "Mengapa Anda menyakitiku wahai Rasullah?" Balaslah, hai Usaid. Usaid berkata, Anda pakai baju. Sedangkan aku Anda cubit tanpa memakai baju." Rasulullah saw menyingkapkan bajunya, sehingga kelihatan perut beliau. Lalu dipeluk oleh Usaid dan diciuminya antara perut dan ketiak beliau. Sesudah itu Usaid berkata, "Ya Rasulullah! Kini terlaksanalah keinginanku yang terpendam sejak aku mengenal Anda."

Rasulullah saw membalas cinta kasih Usaid kepadanya dengan cinta kasih pula. Rasulullah memelihara cintanya kepada Usaid, sebagai rombongan yang pertama-tama masuk Islam, dan yang membela beliau dalam perang Uhud, sehingga pada hari itu Usaid mendapatkan tujuh luka besar. Rasulullah saw pun tahu derajat dan kedudukan Usaid di kalangan rakyatnya. Karena itu, apabila Rasulullah memohonkan syafaat bagi seseorang, beliau tidak lupa memohonkannya pula bagi Usaid.

Usaid pernah bercerita, "Suatu ketika aku datang kepada Rasulullah saw, lalu kuceritakan kepada beliau seorang warga kaum Anshar yang miskin dan membutuhkan santunan. Apalagi, warga itu seorang wanita." Rasulullah menjawab, "Ya Usaid! Engkau datang kepada kami sesudah apa yang ada pada kami telah habis kami nafkahkan. Tunggulah, apabila engkau dengar rezeki datang kepada kami, ingatkanlah kami akan warga itu."

Tidak lama sesudah itu, harta rampasan dari Khaibar datang kepada Rasulullah. Beliau membagi-bagikannya kepada kaum muslimin. Kaum Anshar dibaginya pula, bahkan dilebihkannya. Warga tersebut dibaginya pula dan dilebihkannya. Aku berkata kepada beliau, "Semoga Allah membalas kebaikan Anda terhadap mereka dengan kebaikan berlipat ganda, ya Nabiyyallah!"

Rasulullah saw menjawab, "Semoga kalian kaum Anshar dibalas Allah pula dengan balasan yang lebih baik. Setahuku, sesungguhnya kalian adalah sekelompok awan suci. Kalian akan menemui orang-orang yang mementingkan diri sendiri sepeninggalku. Karena itu, bersabarlah kalian sampai kalian menemuiku nanti di telaga surga."

Usaid berkata, "Ketika pucuk pemerintahan pindah ke tangan Khalifah Umar bin Khaththab, beliau membagi-bagikan harta kekayaan kepada kaum muslimin. Beliau mengirimkan pakaian, tetapi pakaian itu sempit bagiku, ketika aku berada di masjid, aku melihat seorang pemuda Quraisy berpakaian serupa dengan pakaian yang dikirimkan Khalifah kepadaku. Pakaian itu sangat longgar dan panjang baginya hingga menyapu tanah. Maka kuingatkan kepada orang yang di sampingku sabda Rasulullah saw, "Sesungguhnya, sepeninggalku nanti kalian akan menemui orang-orang yang mementingkan diri sendiri tanpa mempedulikan orang lain." Kemudian aku berkata kepada orang itu, "Ucapan Rasulullah tersebut sekarang telah terbukti."

Orang yang di sampingku itu pergi menemui Khalifah Umar dan menyampaikan ucapanku kepada beliau. Khalifah Umar buru-buru mendatangiku ketika aku sedang salat. Dia berkata, "Teruskan salat Anda, hai Usaid!"

Setelah selesai salat, dia menghampiriku seraya bertanya, "Apa sebetulnya yang telah Anda ucapkan?" Maka kuceritakan kepada beliau apa yang kulihat dan apa yang kuucapkan. Khalifah Umar berkata, "Semoga Allah memaafkan Anda! Pakaian itu sesungguhnya aku kirimkan kepada si Fulan dari golongan Anshar yang ikut bersumpah di Aqabah dan ikut pula berperang di Badar dan di Uhud. Kemudian, pakaian itu dijualnya kepada pemuda Quraisy tersebut, lalu dipakainya. Apakah karena itu Anda mengira hadis Rasulullah saw sudah terjadi pada masa pemerintahanku ini?

Usaid menjawab, "Demi Allah, Ya Amiral Mukminin! Aku tidak menyangka yang demikian terjadi pada masa Anda!"

Tidak lama sesudah itu Usaid bin Hudhair dipangil Allah ke sisi-Nya. Dia meninggal pada masa Khalifah Umar. Justru dia meninggalkan hutang empat ribu dirham. Ahli warisnya bermaksud menjual tanah untuk membayar hutang tersebut.

Ketika Khalifah Umar mengetahui hal itu, beliau berkata, "Jangan dibiarkan anak-anak saudaraku Usaid ditinggalkannya hidup miskin." Khalifah Umar meminta kesediaan orang yang berpiutang agar dia sudi dibayar dengan hasil panen selama empat tahun, dengan cicilan seribu dirham.

Majzaah bin Tsaur as-Saduusi

 
02/21/2003

Dia adalah seorang pahlawan yang berani mati dari bala tentara Allah yang baru selesai memenangkan Perang Qadisiyah. Kini mereka sedang mengirapkan debu-debu pertempuran Qadisiyah dari tubuh mereka. Mereka sedang bergembira dan bersyukur atas kemenangan yang diberikan oleh Allah SWT. Mereka bertekad bulat hendak syahid di medan tempur menyusul kawan-kawannya yang telah gugur, semata-mata karena mengharapkan balasan pahala dari Allah SWT. Mereka mengharapkan kematian itu di medan tempur berikutnya, yang sama sengit dan dahsyatnya dengan pertempuran Qadisiyah.

Kini mereka sedang menunggu perintah Khalifah Umar bin Khaththab untuk meneruskna jihad fi sabilillah, mencabut singgasana Raja Kisra (Persia) dari tampuknya. Tidak berapa lama tibahlah utusan khusus Khalifah Umar dari Madinah. Utusan tersebut membawa surat perintah dari Khalifah untuk Panglima Abu Musa al-Asy'ari yang sedang menunggu di Kufah dengan seluruh angkatan perangnya.

Khalifah memerintahkan Pangliman Abu Musa supaya bergabung dengan tentara muslimin dari Bashrah. Kemudian, dengan tentara gabungan itu supaya menyerang angkatan perang Persia di Ahwaz, sebuah distrik di Teluk Persi, sebelah selatan Iran sekarang, yang dipimpin Panglima Hurmuzan. Selanjutnya membebaskan kota Tustar, sebuah kota yang menjadi permata bagi mahkota kerajaan dan mutiara Persia.

Dalam surat perintah itu, Khalifah memberikan pula beberapa petunjuk praktis, antara lain supaya mengikutsertakan Majzaah bin Tsaur as-Saduusi, penunggang kuda yang cekatan, pemimpin dan penguasa Bani Bakar yang dipatuhi.

Setelah memahami setiap perintah Khalifah dengan cermat, Panglima Abu Musa al-Asy'ari langsung menyiapkan seluruh pasukannya dan menempatkan Majzaah bin Tsaur as-Saduusi di sayap kiri pasukan tempur, kemudian bergabung dengan tentara muslimin yang datang dari Bashrah. Lalu, mereka maju serentak menuju Ahwaz, berperang fi sabilillah.

Setiap melalui kota, mereka membebaskan penduduk dari penindasan pemerintahan otokratis yang zalim, lalu mereka ganti dengan pemerintahan demokratis yang tauhid. Mereka membersihkan seluruh benteng pertahanan musuh dari prajurit-prajurit yang bertahan. Panglima Hurmuzun lari terbirit-birit dari satu kota ke kota yang lain, sehingga akhirnya dia sampai ke kota Tustar dan bertahan di kota itu mati-matian.

Tustar yang merupakan benteng terakhir bagi Hurmuzun adalah sebuah kota yang indah dan termegah di Persia serta beriklim nyaman. Kota tua dan kota budaya yang terkenal dalam sejarah serta bentengnya kokoh dan kuat. Kota itu terletak di pegunungan dekat Sungai Dujal yang besar. Di atasnya terdapat sebuah bendungan besar yang dibangun oleh Raja Sabur. Air bendungan itu dialirkan dari gunung melalui terowongan yang digali di bawah tanah.

Bendungan Tustar termasuk salah satu keajaiban dunia yang pernah dibangun manusia. Terbuat dari batu-batuan gunung berkualitas tinggi, dengan tiang-tiangnya kokoh, kuat, dan berlantai marmer. Ahli-ahli sejarah mengatakan bahwa dinding tembok Tustar adalah yang pertama terbesar yang pernah dibangun manusia di muka bumi.

Hurmuzan telah menggali parit yang dalam dan lebar sekeliling pagar tembok, untuk menghalangi musuh menerobos masuk kota Tustar. Di belakang parit ditempatkan pasukan tempur tentara Persia yang pilihan.

Tentara muslimin mengepung kota Tustar sekitar parit selama delapan belas bulan. Selama masa itu, telah terjadi delapan puluh kali pertempuran sengit dengan tentara Persia yang mempertahankan Tustar. Namun, pertahanan mereka tidak dapat ditembus tentara muslimin. Biasanya, setiap pertempuran dimulai dengan perang tanding satu lawan satu antara prajurit pasukan berkuda dari kedua belah pihak. Kemudian, berkecamuk perang yang besar yang meminta korban besar pula dari masing-masing pihak.

Dalam perang tanding tersebut, Majzaah bin Tsaur memperlihatkan keberanian dan ketangkasan yang luar biasa, sehingga membingungkan pihak lawan maupun kawan sendiri. Majzaah dengan mudah dapat menewaskan seratus orang tentara musuh. Karena itu, namanya cepat tersebar ke seluruh barisan, menimbulkan gentar pasukan musuh, dan membangkitkan semangat keberanian di hati kaum muslimin. Orang yang belum mengetahui kini mengerti, mengapa amirul mukminin mendesak supaya menempatkan pahlawan yang gagah berani ini dalam pasukan inti barisan penyerang.

Setelah pertempuran yang kedelapan puluh, tentara muslimin melakukan serangan yang mengejutkan dan sangat berani. Bangkai-bangkai kuda mereka tumpuk di dalam parit untuk titian. Lalu mereka melaju menyeberangi parit. Tetapi, mereka tidak berhasil mencapai kota, karena semua pintu dikunci dari dalam oleh tentara Persia.

Ketangguhan tentara muslimin kini mendapat malapetaka besar. Tentara Persia menghunjani mereka dengan panah dari menara-menara tinggi, sehingga korban dari pihak muslimin banyak berjatuhan. Dari puncak pagar tembok terjulur pula rantai besi, di ujung setiap rantai terdapat pengait yang sudah dibakar merah membara. Bila tentara muslimin memanjat tembok atau mendekat ke tembok, mereka dikait oleh tentara Persia, lalu ditariknya ke atas. Tentara muslimin yang terkait tubuhnya akan hangus terbakar, lalu dagingnya mengelupas, kemudian tewas.

Tentara muslimin mengalami cobaan hebat dalam serangan kali ini, sementara orang-orang Persia tetap bertahan di benteng mereka yang kokoh. Sesudah melakukan pengepungan yang lama di luar parit, kini mereka menghadapi tembok benteng yang tinggi dan kokoh, dan sangat sukar untuk ditembus. Dalam usaha mereka merebut benteng yang satu ini, tentara muslimin harus membayar dengan harga yang sangat mahal.

Akan tetapi, mereka tidak pernah mundur, apalagi putus asa. Mereka telah bertekad bulat hendak syahid. Karena itu, mereka memohon kepada Allah dengan hati rendah dan penuh khusyu', semoga Allah melepaskan mereka dari kesulitan yang mereka hadapi dan memenangkan mereka atas musuh-musuh Allah.

Ketika Panglima Abu Musa mengamat-amati tembok Tustar yang tangguh ini, tiba-tiba sebuah anak panah jatuh di dekatnya. Panglima Abu Musa mengamati anak panah tersebut, dan sepucuk surat tampak terselip padanya. Panglima Abu Musa mengambil surat tersebut dan membacanya: "Hai, kaum muslimin! Saya percaya akan janji kalian jika kalian berjanji. Saya pribadi, harta saya, keluarga, dan pengikut saya, memohon perlindungan dari kalian. Saya berjanji akan menunjukkan kepada kalian satu-satunya jalan yang dapat membawa kalian masuk kota."

Panglima Abu Musa al-Asy'ari segera membalas surat tersebut. Katanya, "Anda kami lindungi!" Setelah itu surat tersebut dilemparkannya dengan panah ke arah datangnya surat yang diterima.

Si pengirim surat penuh percaya dengan perlindungan yang dijanjikan kaum muslimin. Karena, dia tahu benar kaum muslimin tidak akan mengingkari janji. Dia keluar dengan sembunyi-sembunyi ke daerah tentara kaum muslimin, dan berbicara panjang lebar dengan Panglima Abu Musa.

Katanya, "Kami adalah pemimpin-pemimpin kaum. Hurmuzan membunuh abang saya, dan bertindak sewenang-wenang terhadap harta dan keluarganya. Dia menaruh dendam kepadaku dan mengancamku dengan tindakan serupa terhadap diriku dan anak-anakku. Saya terkesan dengan keadilan Anda terhadap setiap kezaliman, dan tindakan Anda atas setiap penyelewengan. Saya bertekad hendak menunjukkan jalan rahasia kepada Anda, yang dapat membawa Anda ke Tustar. Berilah saya beberapa orang yang berani mati, tetapi pintar dan tangkas berenang. Nanti saya tunjukkan kepadanya jalan."

Panglima Abu Musa memanggil Majzaah bin Tsaur as-Saduusi dan membisikkan perintah rahasia kepadanya, "Beri saya orang-orangmu yang pintar, berani, dan tangkas berenang." "Tunjukklah saya, panglima!" jawab Majzaah memperlihatkan kesediaannya.

"Jadi, engkau bersedia, semoga Allah memberkatimu," jawab Abu Musa. Lalu, Abu Musa memberikan petunjuk kepada Majzaah supaya mengingat dengan teliti jalan-jalan yang dilalui menuju sasaran, menandai dengan pasti segala pintu rahasia, memastikan tempat persembunyian atau markas Hurmuzan dan mengetahui orang-orangnya dengan segala cirinya. Dan, jangan bertindak atau melakukan sesuatu di luar perintah. Lakukan, semua serba rahasia!"

Majzaah bin Tsaur berangkat bersama orang Persia: penunjuk jalan. Mereka memasuki terowongan bawah tanah lewat sungai. Kadang-kadang jalan terowongan itu lebar, memungkinkan seratus pejalan kaki lewat. Terkadang sempit, hanya muat seorang perenang. Di samping itu, jalan tersebut bersimpang siur penuh jebakan-jebakan. Terkadang mendaki atau rata dan menurun. Begitulah seterusnya, sehingga bertemu dengan sebuah lubang yang langsung tembus sampai ke kota.

Penunjuk jalan menunjukkan Hurmuzan yang telah membunuh abangnya kepada Majzaah, dan tempat persembunyiannya. Ketika Majzaah melihat Hurmuzan, timbul niatnya hendak memanah batang lehernya. Tetapi, untunglah Majzaah cepat ingat perintah Panglima Abu Musa, supaya jangan bertindak di luar perintah, karena dapat menggagalkan rencana yang lebih besar. Majzaah segera mengendalikan diri. Kemudian, dia kembali ke pos komando sebelum fajar.

Abu Musa menyiapkan tiga ratus tentara muslimin yang paling berani, tangguh, dan tangkas berenang. Kemudian, diangkatlah Majzaah menjadi komandan mereka. Abu Musa memberikan perintah dan petunjuk-petunjuk praktis dalam melaksanakan tugas berat, berbahaya, tetapi sangat rahasia. Kata-kata sandi bila mereka menerjunkan diri ke dalam kota adalah kalimah takbir "Allahu Akbar".

Majzaah memerintahkan pasukannya memakai pakaian seringkas mungkin supaya tidak menyulitkan ketika berenang. Dia mengingatkan mereka, jangan membawa senjata selain pedang. Dia memerintahkan supaya mengikat pedang erat-erat ke tubuh, di bawah pakaian masing-masing. Kemudian, Majzaah berangkat dengan pasukannya setelah lewat sepertiga malam. Dua jam lamanya pasukan Majzaah bergumul dengan halangan dan rintangan yang berbahaya sepanjang terowongan. Kadang-kadang dapat menundukkannya dengan mudah, tetapi tidak jarang pula mereka yang terbanting. Tatkala mereka sampai ke muka pintu yang langsung menuju kota, jumlah pasukannya tinggal delapan puluh orang saja. Dua ratus dua puluh orang hilang ditelan terowongan yang amat berbahaya itu.

Serentak tumit Majzaah berjejak di dalam kota, mereka segera menghunus pedang dan membunuh pangawal-pengawal yang tidak menduga kehadiran mereka. Kemudian, mereka lompat ke segala pintu dan membukanya sambil membaca takbir. Takbir mereka disambut dengan takbir-takbir kawannya yang di luar. Kaum muslimin tumpah ruah memasuki kota Tustar tepat ketika fajar.

Akhirnya, berkecamuklah perang tanding yang lebih dahsyat dan mengerikan antara kaum muslimin dengan musuh-musuh Allah. Suatu perang tanding yang belum pernah terjadi sedahsyat itu dalam sejarah peperangan sebelumnya, baik mengenai banyaknya korban yang jatuh maupun kedahsyatannya.

Saat pertempuran berkecamuk, Majzaah bin Tsaur melihat Hurmuzan di pekarangan. Majzaah segera memburu dan melompatinya dengan pedang. Hampir saja Hurmuzan di telan gelombang pertempuran. Tetapi, untung baginya, dua orang pengawal segera melindunginya. Majzaah melihat peluang yang lain. Secepat kilat dia bergerak menyerang Hurmuzan dan mereka saling melompati satu sama lain. Pedang mereka saling memukul. Tetapi, sayang bagi Majzaah, pedangnya meleset, sedangkan pedang Hurmuzan tepat mengenai sasaran. Majzaah bin Tsaur, pahlawan yang gagah berani jatuh terbanting. Dia syahid dalam pertempuran yang sangat diidam-idamkannya. Dia menghadap Allah dengan tenang sebagaimana telah ditetapkan Allah baginya. Tentara muslimin terus bertempur, sehingga kemenangan akhir berada di pihak mereka.

Hurmuzan menyerah sebagai tawanan kaum muslimin. Perutusan yang menyampaikan laporan kepada khalifah atas kemenangan kaum muslimin tiba di Madinah. Mereka membawa oleh-oleh kemenangan bagi khalifah. Mereka menghalau Hurmuzan dan memakaikan mahkota bertatahkan mutiara. Di bahunya bergantung tanda-tanda kebesaran kerajaan Persia dari benang emas berumbai-umbai untuk diperlihatkan kepada khalifah. Para utusan sengaja membawa Hurmuzan menghadap Khalifah dengan pakaian demikian untuk menghibur beliau, karena pahlawan andalan beliau Majzaah bin Tsaur as-Saduusi yang gagah berani tewas sebagai syahid dalam pertempuran

 

Abdullah bin Ummi Maktum

02/14/2003

Siapakah laki-laki itu, yang karenanya Nabi yang mulia mendapat teguran dari langit dan menyebabkan beliau sakit? Siapakah dia, yang karena peristiwanya Jibril al-Amin harus turun membisikkan wahyu Allah ke dalam hati Nabi yang mulia? Dia tidak lain adalah Abdullah bin Ummi Maktum, muazzin Rasulullah.

Abdullah Ummi Maktum, orang Mekah suku Quraisy. Dia mempunyai ikatan keluarga dengan Rasulullah saw, yakni anak paman ummul mukminin Khadijah binti Khuwailid ra. Bapaknya Qais bin Zaid, dan ibunya Atikah binti Abdullah. Ibunya bergelar "ummi maktum", karena anaknya, Abdullah, lahir dalam kedaan buta total.

Ketika cahaya Islam mulai memancar di Mekah, Allah melapangkan dada Abdullah bin Ummi Maktum menerima agama baru itu. Karena itu, tidak diragukan lagi dia termasuk kelompok yang pertama-tama masuk Islam. Sebagai muslim kelompok pertama, Abdullah turut menanggung segala macam suka dan duka kaum muslimin di Mekah ketika itu. Dia turut menderita siksaan kaum Quraisy seperti yang diderita kawan-kawannya seagama, berupa penganiayaan dan berbagai macam tindak kekerasan lainnya. Tetapi, apakah karena tindak kekerasan itu lantas Ibnu Ummi Maktum menyerah? Tidak…! Dia tidak pernah mundur dan tidak lemah iman. Bahkan, dia semakin teguh berpegang pada agama Islam dan kitab Allah (Alquran). Dia semakin rajin mempelajari syariat Islam dan sering mendatangi majlis Rasulullah.

Begitu rajin dan rakusnya dia mendatangi majlis Rasulullah, menyimak dan menghafal Alquran, sehingga tiap waktu senggang selalu diisinya, dan setiap kesempatan yang baik selalu direbutnya. Karena rewelnya, dia beruntung memperoleh apa yang diinginkan dari Rasulullah, disamping keuntungan bagi yang lain-lain juga.

Pada masa permulaan tersebut, Rasulullah saw sering mengadakan dialog dengan pemimpin-pemimpin Quraisy, seraya mengharap semoga mereka masuk Islam. Pada suatu hari beliau bertatap muka dengan 'Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, 'Amr bin Hisyam alias Abu Jahal, Umayyah bin Khalaf dan Walid bin Mughirah, ayah Saifullah Khalid bin Walid.

Rasulullah berunding dan bertukar pikiran dengan mereka tentang Islam. Beliau sangat ingin mereka menerima dakwah dan menghentikan penganiayaan terhadap para sahabat beliau. Sementara, beliau berunding dengan sungguh-sungguh, tiba-tiba Abdullah bin Ummi Maktum datang mengganggu minta dibacakan kepada ayat-ayat Alquran. Kata Abdullah, "Ya Rasulullah, ajarkanlah kepadaku ayat-ayat yang telah diajarkan Allah kepada Anda!"

Rasulullah terlengah memperdulikan permintaan Abdullah. Bahkan, beliau agak acuh terhadap interupsinya itu. Lalu beliau membelakangi Abdullah dan melanjutkan pembicaraan dengan para pemimpin Quraisy tersebut. Mudah-mudahan dengan Islamnya mereka, Islam bertambah kuat dan dakwah bertambah lancar. Selesai berbicara dengan mereka, Rasulullah saw bermaksud pulang. Tetapi, tiba-tiba penglihatan beliau menjadi gelap dan kepala beliau terasa sakit seperti kena pukul. Kemudian, Allah mewahyukan firman-Nya kepada beliau, "Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena seorang buta datang kepadanya. Tahukah kamu, barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberikan manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal, tidak ada (celaan) atasmu kalau mereka tidak membersihkan diri (beriman). Adapun orang yang datang kepadamu dengan bergegas (untuk mendapatkan pengajaran), sedangkan ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (begitu)! Sesungguhnya ajaran itu suatu peringatan. Maka siapa yang menghendaki, tentulah ia memperbaikinya. (Ajaran-ajaran itu) terdapat di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para utusan yang mulia lagi (senantiasa) berbakti." (Abasa: 1 -- 6).

Enam belas ayat itulah yang disampaikan Jibril al-Amin ke dalam hati Rasulullah saw sehubungan dengan peristiwa Abdullah bin Ummi Maktum, yang senantiasa dibaca sejak diturunkan sampai sekarang, dan akan terus dibaca sampai hari kiamat.

Sejak hari itu Rasulullah saw tidak lupa memberikan tempat yang mulia bagi Abdullah apabila dia datang. Beliau menyilakan duduk di tempat duduknya, beliau tanyakan keadaannya, dan beliau penuhi kebutuhannya. Tidaklah heran kalau beliau memuliakan Abdullah sedemikian rupa, bukankah teguran dari langit itu sangat keras!

Tatkala tekanan dan penganiayaan kaum Quraisy terhadap kaum muslimin semakin berat dan menjadi-jadi, Allah SWT mengizinkan kaum muslimin dan Rasul-Nya hijrah. Abdullah bin Ummi Maktum bergegas meninggalkan tumpah darahnya untuk menyelamatkan agamanya. Dia bersama-sama Mush'ab bin Umair, sahabat-sahabat Rasul saw yang pertama-tama tiba di Madinah. Setibanya di Yatsrib (Madinah), Abdullah dan Mush'ab segera berdakwah, membacakan ayat-ayat Alquran dan mengajarkan pengajaran Islam.

Setelah Rasulullah saw tiba di Madinah, beliau mengangkat Abdullah bin Ummu Maktum serta Bilal bin Rabah menjadi muadzdzin Rasulullah. Mereka berdua bertugas meneriakkan kalimah tauhid (azan) lima kali sehari semalam, mengajak orang banyak beramal saleh dan mendorong masyarakat merebut kemenangan. Apabila Bilal azan, Abdullah Qamat; Abdullah azan, Bilal qamat.

Dalam bulan Ramadhan tugas mereka bertambah. Bilal azan tengah malam membangunkan kaum muslimin untuk makan sahur dan Abdullah azan ketika fajar menyingsing, memberi tahu kaum muslimin waktu imsak sudah masuk, agar menghentikan makan dan minum dan segala yang membatalkan puasa.

Untuk memuliakan Abdullah bin Ummi Maktum, beberapa kali Rasulullah mengangkatnya menjadi wali kota Madinah menggantikan beliau apabila meninggalkan kota. Tujuh belas kali jabatan tersebut dipercayakan beliau kepada Abdullah. Salah satu di antaranya ketika meninggalkan kota Madinah untuk membebaskan kota Mekah dari kekuasaan kaum musyrikin Quraisy.

Setelah perang Badar, Allah menurunkan ayat-ayat Alquran, mengangkat derajat kaum muslimin yang pergi berperang fi sabilillah. Allah melebihkan derajat mereka yang pergi berperang atas orang-orang yang tidak pergi berperang, dan mencela orang yang tidak pergi karena ingin bersantai-santai. Ayat-ayat tersebut sangat berkesan di hati Abdullah Ummi Maktum. Tetapi, baginya sukar mendapatkan kemuliaan tersebut karena dia buta. Lalu dia berkata kepada Rasulullah, "Ya Rasulullah! Seandainya saya tidak buta, tentu saya pergi perang." Kemudian, dia memohon kepada Allah dengan hati yang penuh tunduk semoga Allah menurunkan ayat-ayat yang menerangkan tentang orang-orang yang cacat (uzur) seperti dia, tetapi hati mereka ingin sekali hendak berperang. Dia senatiasa berdoa dengan segala kerendahan hati. Dia berkata, "Wahai Allah! Turunkanlah wahyu mengenai orang-orang yang uzur seperti aku!" Tidak berapa lama, kemudian Allah SWT memperkenankan doanya.

Zaid bin Tsabit, sekretaris Rasulullah saw yang bertugas menuliskan wahyu, menceritakan, "Aku duduk di samping Rasulullah saw. Tiba-tiba beliau diam, sedangkan paha beliau terletak di atas pahaku. Aku belum pernah merasakan beban yang paling berat melebihi berat paha Rasulullah ketika itu. Sesudah beban berat yang menekan pahaku hilang, beliau bersabda, "Tulis, hai zaid!" Lalu aku menuliskan, "Tidak sama orang-orang mukmin yang duduk (tidak turut berperang) dengan pejuang-pejuang yang berjihad fi sabilillah." (An-Nissa': 95).

Ibnu Ummi Maktum berdiri seraya berkata, "Ya Rasulullah, bagaimana dengan orang-orang yang tidak sanggup pergi berjihad (berperang) karena cacat?" Selesai pertanyaan Abdullah, Rasulullah saw terdiam dan paha beliau menekan pahaku, seolah-olah aku menanggung beban berat seperti tadi. Setelah beban berat itu hilang, Rasulullah saw berkata, "Coba, baca kembali yang telah engkau tulis!" Aku membaca, "Tidak sama orang-orang mukmin yang duduk (tidak turut berperang)" Lalu kata beliau, "Tulis!" "Kecuali bagi orang-orang yang tidak mampu."

Maka, turunlah pengecualian yang ditunggu-tunggu Ibnu Ummi Maktum. Meskipun Allah SWT telah memaafkan Ibnu Ummi Maktum dan orang-orang yang uzur seperti dia untuk tidak berjihad, dia enggan bersantai-santai beserta orang-orang yang tidak turut berperang. Dia tetap membulatkan tekad untuk turut berperang fi sabiilillah. Tekad itu timbul dalam dirinya, karena jiwa yang besar tidak dapat dikatakan besar, kecuali bila orang itu memikul pula pekerjaan yang besar. Maka, karena itu dia sangat gandrung untuk turut berperang dan menetapkan tugasnya sendiri untuk berperang dan menetapkan sendiri tugasnya di medan perang.

Katanya, "Tempatkan saya antara dua barisan sebagai pembawa bendera. Saya akan memegangnya erat-erat untuk kalian. Saya buta, karena itu saya pasti tidak akan lari."

Tahun ke empat belas hijriyah, khalifah Umar bin Khaththab memutuskan akan memasuki Persia dengan perang yang menentukan, untuk menggulingkan pemerintah yang dzalim dan menggantinya dengan pemerintahan Islam yang demokratis dan bertauhid. Umar memerintahkan kepada setiap gubernur dan pembesar dalam pemerintahannya. "Jangan ada seorang jua pun yang ketinggalan dari orang-orang yang bersenjata, atau orang yang mempunyai kuda, atau yang berani atau yang berpikiran tajam, melainkan hadapkan semuanya kepada saya sesegera mungkin!"

Maka, berkumpullah kaum muslimin di Madinah dari segala penjuru, memenuhi panggilan khalifah Umar bin Khaththab. Di antara mereka terdapat seorang prajurit buta, yaitu Abdullah bin Ummi Maktum. Khalifah Umar mengangkat Sa'ad bin Abu Waqqash menjadi panglima pasukan yang besar itu. Kemudian, khalifah memberikan instruksi-instruksi dan pengarahan kepada Sa'ad.

Setelah pasukan besar itu sampai di Qadisiyyah, Abdullah bin Ummi Maktum memakai baju besi dan perlengkapan yang sempurna. Dia tampil sebagai pembawa bendera kaum muslimin dan berjanji akan senantiasa mengibarkannya atau mati di samping bendera itu.

Pada hari ketiga perang itu, perang berkecamuk dengan hebat, yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Kaum muslimin berhasil memenangkan perang tersebut dengan kemenangan paling besar yang belum pernah direbutnya. Maka, pindahlah kekuasaan kerajaan Persia yang besar ke tangan kaum muslimin, dan runtuhlah mahligai yang termegah. Berkibarlah bendera tauhid di bumi penyembah berhala itu.

Kemenangan yang meyakinkan itu dibayar dengan darah dan jiwa dan ratusan para syuhada. Di antara mereka yang syahid itu terdapat Abdullah bin Ummi Maktum yang buta. Dia ditemukan terkapar di medan tempur berlumuran darah syahidnya, sambil memeluk darah kaum muslimin.

 

Adi bin Hatim at-Tha'i

02/07/2003

Pada tahun kesembilan hijriyah, beberapa raja Arab yang melarikan diri mulai mendekat kepada Islam. Hati mereka lembut menerima iman setelah menentang keras. Mereka menyerah, tunduk, dan patuh kepada Rasulullah saw sesudah enggan. Tersebutlah kisah "Adi bin Hatim at-Tha'i" yang pemurah seperti bapaknya.

Adi mewarisi kepemimpnan dari bapaknya. Karena itu, suku at-Tha'i mengangkatnya jadi penguasa suku tersebut. Kaum Tha'i mengeluarkan seperempat harta mereka sebagai pajak yang diserahkannya kepada Adi, sebagai imbalan bagi kepemimpinannya memimpin suku tersebut.

Tatkala Rasulullah saw memkoklamirkan dakwah Islam, bangsa Arab mendekat kepada Rasulullah suku demi suku. Adi melihat pengaruh Rasulullah saw sebagai suatu ancaman yang akan melenyapkan kepemimpinannya. Karena itu, dia memusuhi Rasulullah saw dengan sikap keras. Padahal dia sendiri belum mengenal pribadi Nabi saw yang mulia itu. Dia benci kepada Rasulullah saw sebelum bertemu dengan orangnya. Hampir dua puluh tahun lamanya dia memusuhi Islam, sampai pada suatu hari hatinya lapang menerima dakwah yang hak itu.

Islamnya Adi mempunyai kisah tersendiri yang tak dapat dilupakannya. Karena itu, marilah kita simak, dia menceritakan kisahnya sendiri, kisah yang menarik dan patut dipercaya. 'Adi berkata:

Tidak seorang pun bangsa Arab yang lebih benci daripada aku terhadap Rasulullah saw ketika aku mendengar berita tentang beliau dan kegiatan dakwahnya. Aku seorang pemimpin yang dihormati. Aku tinggal dengan kaumku dalam daerah kekuasaanku. Aku memungut pajak dari mereka seperempat dari penghasilan mereka, sama dengan yang dilakukan raja-raja Arab yang lain. Karena itu ketika aku mendengar da'wah Rasulullah saw, aku membencinya. Ketika pengaruh dan kekuatan Rasulullah saw b ertambah besar dan tentaranya bertambah banyak yang tersebar di Timur dan Barat negeri Arab, aku berkata kepada sahaya gembala ontaku, "Hai, anak manis! Siapkan onta betina yang gemuk dan jinak, lalu tambatkan selalu di dekatku. Bila kamu dengar tentara Muhammad atau ekspedisinya menjejakkan kaki di negeri ini, beritahukan kepadaku segera!"

Maka, pada suatu pagi sahayaku datang menghadap kepadaku. Katanya, "Wahai Tuanku! Apa yang akan Tuanku perbuat jika tentara berkuda Muhammad datang ke negeri ini, maka lakukanlah sekarang!" Tanyaku, "Mengapa?" Jawabnya, "Hamba melihat beberapa bendera sekeliling kampung. Lalu aku bertanya, bendera apa itu. Jawabnya, itulah bendera tentara Muhammad ".

Kemudian, aku perintahkan kepada sahayaku, "siapkan onta yang kuperintahkan kepadamu, bawa kemari."Aku bangkit, ketika itu juga aku memanggil istri dan anak-anakku untuk segera berangkat ke negeri yang kami anggap aman, (Syam). Di sana kami bergabung dengan orang-orang seagama dengan kami dan bertempat tinggal di rumah mereka. Aku terburu-buru mengumpulkan semua keluargaku. Setelah melewati tempat yang mencemaskan, ternyata ada di antara keluargaku yang tertinggal. Saudara perempuanku tertinggal di negeri kami, Nejed, beserta pendduk Tha'i yang lain. Tidak ada jalan lain bagiku untuk mendapatkannya kecuali kembali ke Tha'i. Aku terus berjalan dengan rombonganku sampai ke Syam dan menetap di sana di tengah-tengah penduduk yang seagama denganku. Saudara perempuanku aku biarkan tertinggal di Tha'i, tetapi mencemaskan hatiku.

Sementara, ketika berada di Syam, aku mendapatkan berita, tentara berkuda Muhammad menyerang negeri kami. Saudara perempuanku tertangkap beserta sejumlah wanita menjadi tawanan, kemudian mereka dibawa ke Yatsrib. Di sana mereka ditempatkan dalam sebuah penjara dekat pintu masjid. Ketika Rasulullah saw lewat, saudaraku menyapa, "Ya Rasulullah! Bapakku telah binasa. Yang menjaminku telah lenyap. Maka, limpahkan kepadaku karunia yang dikaruniakan Allah kepada Anda." Rasul bertanya, "Siapa yang menjamin engkau?" Jawab saudaraku, "Adi bin Hatim!" Rasululah menjawab, "Dia lari dari Allah dan Rasul-Nya." Sesudah berkata begitu, Rasulullah pergi meninggalkannya. Besok pagi Rasulullah lewat pula dekat saudaraku. Saudaraku berkata pula seperti kemarin kepada beliau. Dan beliau menjawab seperti kemarin pula. Hari ketiga Rasulullah lewat, saudaraku lupa menyapa beliau dan tidak berkata-kata kepadanya. Seorang laki-laki memberi isyarat kepadaku supaya menyapa beliau. Saudaraku berdiri menghampiri Rasulullah seraya berkata, "Ya Rasulullah! Bapakku telah meninggal. Yang menjaminku telah lenyap. Maka, limpahkanlah kepadaku karunia yang dikaruniakan Allah kepada Anda."

Rasulullah menjawab, "Saya penuhi permintaanmu!" Saudaraku berujar, "Saya ingin pergi ke Syam menemui keluargaku di sana." Rasulullah saw berkata, "Tetapi, engkau jangan terburu-buru pergi ke sana, sebelum engkau dapatkan orang yang dapat dipercaya dari kaummu untuk mengantarmu. Bila engkau dapatkan orang yang dipercaya, beri tahukan kepada saya."

Setelah Rasulullah pergi, saudaraku menanyakan siapa laki-laki yang memberi isyarat kepadanya supaya menyapa Rasulullah. Dikatakan orang kepadanya, orang itu adalah Ali bin Abu Thalib.

Saudaraku tinggal di Madinah sebagai tawanan sampai datang orang yang dipercaya untuk membawanya ke Syam. Setelah orang itu datang, dia memberitahu kepada Rasulullah. Katanya, 'Ya Rasulullah! Telah datang serombongan kaumku yang dipercaya dan mereka menyanggupi mengantarku. Rasulullah memberi saudaraku pakaian, onta untuk kendaraan dan belanja secukupnya. Maka berangkatlah dia beserta rombongan tersebut.

Kata Adi, selanjutnya, "Kami selau mencari-cari berita tentang saudaraku itu dan menunggu kedatangannya. Kami hampir tidak percaya apa yang diberitakan kepada kami tentang Muhammad dengan segala kebaikan beliau terhadap saudaraku, di samping rasa tinggiku dari beliau.

Demi Allah! Pada suatu hari ketika aku sedang duduk di lingkungan keluargaku, tiba-tiba muncul seorang wanita dalam hawdaj(sekedup) menuju ke arah kami. Aku berkata, "Nah, itu anak perempuan Hatim!" Dugaan itu betul. Dia adalah saudaraku yang ditunggu-tunggu.

Setelah turun dari kendaraan, dia segera menghampiriku seraya berkata, "Anda tinggalkan kami, Anda dzalim! Istri dan anak-anak Anda, Anda bawa. Tetapi, bapak dan saudara perempuan Anda, serta yang lainnya Anda tinggalkan."

Aku menjawab, "Hai Adikku! Janganlah berkata begiutu!" Aku berhasil menenangkannya. Setelah itu aku minta dia menceritakan pengalamannya. Selesai bercerita, aku berkata kepadanya, "Engkau wanita cerdik dan pintar. Bagaimana pendapatmu tentang orang yang bernama Muhammad itu?" Dia menjawab, "Menurut pendapatku, demi Allah sebaiknya Anda temui dia segera. Jika dia Nabi, maka yang paling dahulu mendatanginya beruntunglah dia. Dan jika dia raja, tidak ada hinanya Anda berada di sampingnya. Anda adalah seorang raja pula."

Adi berkata, "Maka, aku siapkan perlengkapanku, lalu aku pergi ke Madinah menemui Rasulullah saw. Tanpa Iman dan Kitab, aku mendengar berita bahwa beliau pernah berkata, "Sesunguhnya saya berharap semoga 'Adi bin Hatim masuk Islam di hadapan saya." Aku masuk ke majlis Nabi saw, ketika beliau berada di dalam masjid. Aku memberi salam kepadanya. Mendengar salamku beliau bertanya, "Siapa itu?" Jawabku, "'Adi bin Hatim!"

Rasululah saw berdiri menyongsongku. Beliau menggandeng tanganku lalu dibawanya ke rumahnya. Ketika beliau membawaku, tiba-tiba seorang wanita tua yang dhaif (lemah) sedang menggendong seorang bayi, menemuinya minta sedekah. Wanita tua itu berbicara dengan beliau mengatakan kesulitan hidupnya. Beliau berhenti mendengarkan bicara wanita itu sampaui selesai. Dan aku pun tegak menunggumu.

Aku berkata kepada diriku, "Demi Allah! Ini bukan kebiasaan raja-raja!" Kemudian beliau menggandeng tanganku dan berjalan bersama-sama denganku sampai ke rumah beliau. Tiba di rumah, beliau mengambil sebuah bantal kulit yang diisi dengan sabut kurma, lalu diberikannya kepadaku. Beliau berkata, "Silahkan Anda duduk di atas bantal ini!" Aku malu. Karena itu aku berkata, "Andalah yang pantas duduk di situ." Jawab Rasulullah, "Anda lebih pantas." Aku menuruti kata beliau. Lalu aku duduk di atas bantal. Nabi saw duduk di tanah, karena tidak ada lagi bantal lain selain yang satu itu. Aku berkata dalam diriku, "Demi Allah! Ini bukan kebiasaan raja-raja." Kemudian, beliau menoleh kepadaku seraya berkata, "Hai Adi! Sudahkah Anda membanding-bandingkan agama yang Anda anut, antara Nasrani dengan Shabiah?" Jawabku, "Sudah." Beliau bertanya lagi, "Bukankah Anda memungut pajak dari rakyat Anda seperempat penghasilan mereka. Bukankah itu tidak halal menurut agama Anda?" Jawabku, "Betul". Sementara itu, aku telah yakin Muhammad ini sesungguhnya Nabi dan rasul Allah. kemudian, beliau berkata pula, "Hai 'Adi! Agaknya Anda enggan masuk Islam karena pernyataan yang Anda lihat tentang kaum muslimin, mereka miskin. Demi Allah! Tidak lama lagi harta akan berlimpah-ruah di kalangan mereka, sehingga susah didapat orang yang mau menerima sedekah.

Atau barangkali Anda hai Adi enggan masuk agama ini karena kaum muslimin sedikit jumlahnya sedangkan musuh-musuh mereka banyak. Demi Allah! Tidak lama lagi Anda akan mendengar berita seorang wanita datang dari Qadisiyah mengendarai onta ke Baitullah tanpa takut kepada siapa pun selain kepada Allah.

Atau mungkin juga Anda enggan masuk Islam karena ternyata raja-raja dan para Sultan terdiri dari orang-orang yang bukan Islam. Demi Allah! Tidak lama lagi Anda akan mendengar Istana Putih di negeri Babil (Iraq) direbut kaum muslimin dan kekayaan Kisra bin Hurmuz pindah menjadi milik mereka.

Aku bertanya kagum, "Kekayaan kisra bin Hurmuz?" Jawab beliau, "Ya kekayaan Kisra bin Hurmuz."
Adi berkata, "Maka seketika itu juga aku mengucapkan dua kalimah syahadat di hadapan beliau dan aku menjadi muslim."

Adi bin Hatim dikaruniai Allah usia yang panjang. Adi bercerita lagi, "Dua perkara yang dikatakan Rasulullah sudah terbukti kebenarannya. Tinggal lagi yang ketiga. Namun, itu pasti terjadi. Aku telah menyaksikan seorang wanita berkendaraan onta datang dari Qadisiyah tanpa takut kepada siapa pun, sehingga dia sampai ke Baitullah. Dan aku adalah tentara berkuda yang pertama-tama menyerang masuk ke gudang perbendaharaan Kisra dan merampas harta kekayaannya. Aku bersumpah demi Allah, yang ketiga pasti akan terjadi pula.

Allah pasti membuktikan setiap perkataan Nabi-Nya yang mulia. Peristiwa ketiga terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Yakni, ketika kemakmuran merata di kalangan kaum muslimin. Ketika itu setiap orang mencari-cari dengan susah payah orang yang berhak menerima zakat. Tetapi, mereka tidak mendapatkan orang yang mau menerima, karena kaum muslimin hidup berkecukupan seluruhnya. Memang benar ucapan Rasulullah dan tepat pula sumpah yang diucapkan Adi bin Hatim. Semoga Allah meridhainya.

Zaid al-Khair
02/02/2003

Rasulullah saw bersabda, "Dalam pribadi Anda terdapat dua perkara yang disukai Allah dan Rasul-Nya, yaitu kesabaran dan penyantun."

Manusia bagaikan logam tambangan. Mereka yang terbaik pada masa jahiliah, terbaik juga pada masa Islam. Milikilah dua karakter yang keduanya telah diterapkan oleh seorang sahabat yang mulia pada masa jahiliyah, kemudian ditonjolkan pula pada masa Islam. Sahabat tersebut pada masa jahiliyah adalah Zaid al-Khail dan pada masa Islam dipanggil "Zaid al-Khair", sesuai dengan panggilan Rasulullah kepadanya sesudah ia masuk Islam.

Adapun karakternya yang pertama ialah seperti diceritakan dalam buku-buku sastra. Imam Syaibani menceritakan dari seorang tua Bani 'Amir, katanya, "Pada suatu ketika kami dapat musibah mengalami musim kemarau sehingga tanaman dan ternak kami binasa. Seorang laki-laki di antara kami pergi dengan keluarganya ke Hirah, lalu ditinggalkan keluarganya di sana. Tunggu aku di sini sampai aku kembali."

Kemudian dia bersumpah tidak akan kembali kepada mereka, kecuali setelah berhasil memperoleh harta untuk mereka, atau dia mati. Maka, disiapkannya perbekalan, lalu dia berjalan sepanjang hari. Ketika hari sudah malam, dia sampai ke sebuah kemah. Di dekat kemah itu terdapat seekor kuda. Katanya, "Inilah rampasanku yang pertama." Lalu dihampirinya anak kuda itu dan ikatannya dilepaskan. Ketika dia hendak mengendarainya, tiba-tiba ia mendengar suatu suara memanggil, "Lepaskanlah anak kuda itu dan pergilah kamu!" Maka ditinggalkannya kuda itu, kemudian dia pergi meninggalkan tempat itu.

Tujuh hari tujuh malam lamanya dia belajar. Akhirnya, dia sampai ke tempat peristirahatan onta. Tidak jauh dari situasi terdapat sebuah kemah besar bertenda kulit, menunjukkan kekayaan dan kemewahan pemiliknya.

Laki-laki (musafir) itu berkata kepada dirinya sendiri, "Di sini tentu ada unta, dan di dalam kemah itu tentu ada penghuninya."

Ketika itu hari hampir maghrib. Dia masuk ke dalam kemah, dan didapatinya seorang tua yang sudah uzur/jompo. Lalu, dia duduk di belakang orang tua itu dengan sembunyi-sembunyi.

Tidak berapa lama kemudian hari pun mulai gelap. Seorang penunggang kuda (al-Faris) bertubuh tinggi besar datang ke kemah. Dua orang hamba sahaya mengikuti dari belakang di sebelah kiri dan kanan dengan berjalan kaki. Mereka menggiring kira-kira seratus ekor unta yang didahului oleh seekor onta jantan yang besar. Bila unta jantan berlutut di tempat peristirahatan, berlutut pula seluruh unta-unta betina.

Sambil menunjuk seekor unta betina yang gemuk, al-Faris berkata kepada sahayanya, "Perah susu unta ini, kemudian suguhkan kepada syekh (bapak)."

Sahaya itu segera memerah susu unta tersebut semangkuk penuh, lalu dihidangkannya kepada syekh. Sesudah itu dia pergi. Orang tua itu meneguk susu tersebut seteguk, dua teguk, sesudah itu diletakkannya kembali.

Kata si musafir, "Saya merangkak perlahan-lahan mendekati syekh. Saya ambil bejana di hadapannya, lalu saya habsikan semua isinya."

Kemudian, sahaya datang mengambil mangkuk susu. Dia berkata kepada majikannya, "Syekh telah menghabiskan minumannya."

Al-Faris (si penunggang kuda) gembira seraya berkata kepada sahayanya, "Perah lagi susu unta ini" sambil menunjuk seekor unta yang lain. Sahaya itu segera melaksanakan perintah majikannya dan menghidangkan lagi semangkuk susu kepada syekh. Syekh meminum susu seteguk, lalu diletakkannya. Kemudian, mangkuk susu itu diambil oleh si musafir dan diminumnya setengah. Katanya, "Saya enggan menghabiskannya, karena saya khawatir si penunggang kuda menaruh curiga." Kemudian, al-Faris memerintahkan sahaya yang lain menyembelih domba. Al-Faris memasak domba itu, kemudian memberi makan syekh dengan tangannya sendiri sampai dia kenyang. Sesudah syekh kenyang, barulah al-Faris makan bersama-sama dengan kedua hamba sahanya. Tidak lama kemudian, mereka semua pergi tidur. Ketika mereka tidur nyenyak, aku pergi ke tempat unta jantan. Lalu, kulepas ikatannya, aku kendarai lalu pergi. Onta-onta lainnya mengikuti onta jantan pergi dan aku terus pergi tengah malam itu. Setelah hari mulai siang, aku melihat sekeliling. Ternyata tidak tampak seorang pun yang menyusulku. Aku terus berjalan sampai tengah hari. Pada suatu ketika aku menoleh ke belakang, tiba-tiba terlihat olehku di kejauhan suatu bayangan bergerak cepat menuju ke arahku, bagaikan seekor burung yang amat besar. Semakin lama, bayangan itu tambah dekat kepadaku dan tambah nyata. Akhirnya, jelas bagiku, bayangan itu tak lain melainkan al-Faris (si penunggang kuda) mencari ontanya yang aku bawa pergi. Aku segera turun menambatkan unta jantan. Kemudian, aku keluarkan anak panah dari tabung dan aku pasang pada busur. Aku berdiri dengan posisi membelakangi unta-unta. Agak jauh di hadapanku berdiri al-Faris. Dia berkata kepadaku, "Lepaskan unta jantan."

Aku menjawab, "Tidak! keluargaku kutinggalkan di Hirah sedang kelaparan. Aku telah bersumpah tidak akan kembali kepada mereka sebelum berhasil membawakan mereka makanan atau aku mati karenanya."

Kata al-Faris, "Jika tidak kamu lepaskan, kubunuh kamu. Lepaskan! Terkutuklah kamu."

Jawabku, "Tidak! Tidak akan kulepaskan walau apa yang akan terjadi.
Al-Faris berkata, "Celakalah kamu! Kamu pencuri!"
Katanya pula menlanjutkan, "Rentangkanlah tali unta jantan itu. Di situ terdapat tiga buhul! Tunjukkan buhul mana yang harus kupanah!"

Saya tunjukkan kepadanya buhul yang di tengah. Dia membidik, lalu melepaskan anak panahnya tepat mengenai sasaran bagai ditancapkan layaknya dengan tangan. Kemudian, dipanahnya pula buhul kedua dan ketiga tanpa meleset sedikit pun. Melihat kenyataan itu, anak panahku kumasukkan kembali ke dalam tabung. Aku berdiri dan menyerah. Dia datang menghampiriku. Lalu diambilnya pedang dan panahku. Katanya memerintahkanku, "Bonceng di belakangku!"

Aku naik membonceng di belakangnya. Dia bertanya, "Hukuman apa menurutmu yang akan kujatuhkan terhadap dirimu?" Jawabku, "Tentu hukuman berat!"Dia bertanya pula, "Mengapa?" Jawabku, "Karena perbuatanku yang tidak terpuji dan menyusahkan engaku. Allah memenangkan engkau dan mengalahkanku!"

Katanya, "Mengapa kamu menyangka begitu?" Bukankah kamu telah menemani Muhalhil (bapakku) makan, minum, dan tidur semalam dengannya?"
Mendengar dia berkata "Muhalhil", aku bertanya kepadanya, "Apakah engkau ini "Zaid al-Khail?" Dia menjawab, "Ya." Aku berkata, "Engkau penawan yang baik." Jawabnya, "Jangan khawatir." Dia membawaku kembali ke perkemahannya. Katanya, "Demi Allah, seandainya unta-unta itu milikku sendiri, sungguh kuberikan semuanya kepadamu. Tetapi sayang, unta-unta ini milik saudara perempuanku. Tinggallah di sini barang dua, tiga hari. Tidak lama lagi akan terjadi peperangan, di mana aku akan menang dan memperoleh rampasan."

Hari ketiga dia menyerang Bani Numair. Dia menang dan memperoleh rampasan hampir seratus ekor unta. Unta rampasan itu hampir semuanya diberikan kepadaku. Kemudian, ditugaskannya dua orang pengawal untuk mengawal unta-unta itu selama dalam perjalanan sampai ke Hirah.

Itulah karakter Zaid al-Khail pada masa jahiliyah. Adapun bentuk kehidupannya dalam Islam, banyak ditulis oleh buku-buku sejarah.

Ketika berita mengenai munculnya Nabi saw dengan dakwah yang didakwahkannya terdengar oleh Zaid al-Khail, maka disiapkannya kendaraannya. Kemudian, diajaklah para pemimpin terkemuka dari kaumnya berkunjung ke Yatsrib (Madinah) menemui Nabi Muhammad saw. Satu delegasi besar yang terdiri dari para pemimpin kaum Thayi pergi bersama-sama dengannya menemui Nabi yang mulia, antara lain terdapat Zur bin Sadus, Malik bin Jubair, 'Amir bin Juwain, dan lain-lain. Setibanya di Madinah, mereka terus menuju ke masjid Nabawi yang mulia dan memberhentikan untanya di depan pintu masjid. Ketika mereka masuk ke masjid, kebetulan Rasulullah saw sedang berkhotbah di atas mimbar. Mereka tergugah mendengar ucapan-ucapan Rasulullah saw dan kagum melihat kaum muslimin diam mendengarkannya dengan penuh perhatian.

Ketika Rasulullah saw melihat mereka, beliau mengucapkan pidatonya kepada kaum muslimin:
"Aku lebih baik bagi tuan-tuan sekalian daripada berhala 'Uzza dan sekalian berhala yang tuan-tuan sembah. Aku lebih baik bagi tuan-tuan daripada unta hitam dan daripada segala yang tuan-tuan sembah selain Allah."

Ucapan-ucapan Rasulullah saw dalam pidatonya itu sangat berkesan dalam hati Zaid al-Khail. Orang-orang serombongannya terbagi dua. Sebagian menerima panggilan yang hak, dan sebagian lagi menolak dengan sombong. Sebagian mendambahkan surga dan sebagian lagi pasrah ke neraka.

Melihat Rasulullah saw yang berpidato mempesona pendengarnya, dikelilingi orang-orang mukmin yang mncucurkan air mata kesedihan, timbul rasa benci dalam hati Zur bin Sadus yang penuh ketakutan. Dia berkata kepada kawan-kawannya, "Demi Allah! Orang ini pasti akan menguasai seluruh bangsa Arab. Demi Allah! Saya tidak akan membiarkan kuduk saya dikuasainya selama-lamanya."

Kemudian, dia pergi ke negara Syam. Di sana dia mencukur rambutnya seperti pendeta, kemudian dia masuk agama Nasrani.

Zaid al-Khail lain lagi. Ketika Rasulullah saw selesai berpidato, ia berdiri di antara jamaah kaum muslimin. Zaid seorang laki-laki ganteng, cakap, dan berperawakan tinggi. Kalau menunggang kuda, kakinya tergontai hampir sampai ke tanah. Dia berdiri dengan tubuhnya yang tegap dan berbicara dengan suaranya yang lantang. Dia berkata, "Ya Muhammad! Saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, dan sesungguhnya engkau Rasulullah."

Rasulullah menoleh kepadanya seraya bertanya, "Siapa Anda?" Zaid menjawab, "Saya Zaid al-Khail bin Muhalhil." Rasulullah saw berkata, "Tentunya Anda Zaid al-Khair, bukan al-Khail. Segala puji bagi Allah yang membawa Anda ke sini dari kampung Anda, dan melunakkan hati Anda menerima Islam."

Sejak itu Zaid al-Khail terkenal dengan nama Zaid al-Khair. Kemudian, Rasulullah saw membawanya ke rumah beliau, diikuti Umar bin Khaththab dan beberapa sahabat lain. Sesampainya di rumah Rasulullah saw, beliau melepaskan alas duduknya kepada Zaid. Tetapi, Zaid al-Khair segan menerimanya dan mengembalikannya kepada beliau. Rasulullah saw melemparkannya sampai tiga kali, tetapi Zaid al-Khair tetap menolak, karena merasa rikuh duduk di alas duduk Rasulullah saw yang mulia. Setelah Zaid duduk dengan tenang di dalam majlis, Rasulullah saw berkata, "Belum pernah saya mengenal seseorang yang ciri-cirinya berlainan daripada yang disebutkan orang kepadaku. Hai Zaid! Dalam diri Anda terdapat dua sifat yang disukai Allah dan Rasul-Nya. Apa itu ya Rasulullah? tanya Zaid. Jawab Rasulullah saw, "Kesabaran dan penyantun." Kata Zaid, "Segala puji bagi Allah yang telah menjadikanku memiliki sifat-sifat yang disukai Allah dan rasul-Nya." Kemudian. Dia berkata lebih lanjut, "Berilah saya tiga ratus penunggang kuda yang cekatan. Saya berjanji kepada Anda akan menyerang negeri Romawi (Ruum) dan mengambil negeri itu dari tangan mereka." Rasulullah saw mengagumi cita-cita Zaid itu. Kata beliau, "Alangkah besarnya cita-cita Anda, hai Zaid. Belum ada orang yang seperti Anda." Ketika Zaid dan orang-orang yang sepaham dengannya hendak kembali ke Nejed, Rasulullah saw berkata, "Alangkah baiknya dia. Banyak keuntungan yang mungkin terjadi seandainya dia selamat dari wabah yang berjangkit di Madinah." Justru Madinah al-Munawwaroh sedang dilanda wabah demam panas. Pada suatu malam Zaid al-Khair diserang penyakit tersebut. Zaid al-Khair berkata kepada para pengikutnya, "Singkirkan saya ke kampung Qais! Sesungguhnya antara kita dengan mereka tidak ada permusuhan jahiliyah. Tetapi, demi Allah! Saya tidak ingin membunuh kaum muslimin sehingga mereka mati kena wabah penyakit ini." Zaid al-Khair meneruskan perjalanan ke kampungnya di Nejed. Tetapi sayang, demamnya semakin menjadi-jadi.

Dia ingin menemui kaumnya di Nejed dan mengharapkan agar mereka masuk Islam di tangannya. Dia telah bercita-cita yang baik. Tetapi, suatu cobaan mendahuluinya sebelum cita-citanya terlaksana. Tidak lama kemudian dia menghembuskan nafasnya yang terakhir di perjalanan. Sedikit sekali waktu terluang baginya sesudah dia masuk Islam, sehingga tidak ada peluang untuk berbuat dosa. Dia meninggal tidak lama sesudah dia menyatakan Islamnya di hadapan Rasulullah saw. Semoga Allah meridhai Zaid al-Khair.

Asma' binti Umais (Wanita yang Hijrah Dua Kali)
01/24/2003

Beliau adalah Asma' binti Umais bin Ma'd bin Tamim bin al-Haris bin Ka'ab bin Malik bin Quhafah, dipanggil dengan nama Ummu Abdillah. Beliau termasuk salah satu di antara empat akhwat mukminah yang telah mendapat pengesahan dari Rasulullah saw dengan sabdanya, "Ada empat akhwat mukminah yaitu Maimunah, Ummu Fadhl, Salma dan Asma'."

Beliau ra masuk Islam sebelum kaum muslimin memasuki rumah bin Abi al-Arqam. Beliau adalah istri pahlawan di antara sahabat, yaitu Ja'far bin Abi Thalib ra, sahabat yang memiliki dua sayap sebagaimana gelar yang Rasulullah saw berikan terhadap beliau. Manakala ingin mengucapkan salam kepada Abdullah bin Ja'far beliau Rasulullah saw , "Selamat atas kamu wahai putra dari seorang yang memiliki dua sayap (dzul janahain)."

Asma' ra termasuk wanita muhajirah pertama, beliau turut berhijrah bersama suaminya, yaitu Ja'far bin Abi Thalib menuju Habsyah. Beliau rasakan pahit getirnya hidup di pengasingan. Adapun suaminya adalah juru bicara kaum muslimin dalam menghadapi raja Habsyah an-Najasi.

Di bumi pengasingan tersebut beliau melahirkan tiga putra: Abdullah, Muhammad, dan 'Aunan. Abdullah sangat mirip dengan ayahnya, sedangkan ayahnya sangat mirip dengan Rasulullah saw, sehingga hal itu menggemberikan hati beliau dan menumbuhkan perasaan rindu untuk melihat Rasulullah saw. Rasulullah saw bersabda kepada Ja'far, "Engkau menyerupai bentukku dan juga akhlakku."

Ketika Rasulullah saw memerintahkan bagi para muhajirin untuk bertolak menuju Madinah, hampir-hampir Asma' terbang karena girangnya. Inilah mimpi yang menjadi kenyataan dan jadilah kaum muslimin mendapatkan negeri mereka dan kelak mereka akan menjadi tentara-tentara Islam yang akan menyebarkan Islam dan meninggikan kalimat Allah.

Begitulah, Asma' ra keluar dengan berkendaraan tatkala hijrah untuk kali yang kedua dari negeri Habsyah menuju negeri Madinah. Tatkala rombongan muhajirin tiba di Madinah, ketika itu pula mereka mendengar berita bahwa kaum muslimin baru menyelesaikan peperangan dan membawa kemenangan, takbir pun menggema di segala penjuru karena bergembira dengan kemenangan pasukan kaum muslimin dan kedatangan muhajirin dari Habsyah.

Ja'far bin Ali Abi Thalib datang disambut Rasulullah saw dengan gembira kemudian beliau cium dahinya seraya bersabda, "Demi Allah, aku tidak tahu mana yang lebih menggembirakan, kemenangan Khaibar atau kedatangan Ja'far."

Asma' masuk ke dalam rumah Hafshah binti Umar tatkala Nabi saw menikahinya. Tatkala itu Umar masuk ke rumah Hafshah sedangkan Asma' berada di sisinya, lalu beliau bertanya kepada Hafshah, "Siapakah wanita ini?" Hafshah menjawab, "Dia adalah Asma' binti Umais?" Umar bertanya, "Inikah wanita yang datang dari negeri Habsyah di seberang lautan?" Asma' menjawab, "Benar." Umar berkata, "Kami telah mendahului kalian untuk berhijrah bersama Rasul, maka kami lebih berhak terhadap diri Rasulullah daripada kalian." Mendengar hal itu Asma' marah dan tak kuasa menahan gejolak jiwanya sehingga beliau berkata, "Tidak demi Allah, kalian bersama Rasulullah saw sedangkan beliau memeberi makan bagi yang kelaparan di antara kalian dan mengajarkan bagi yang masih bodoh di antara kalian, adapun kami di suatu negeri atau di bumi yang jauh dan tidak disukai, yakni Habasyah, dan semua itu adalah demi ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya." Kemudian, Asma' ra diam sejenak, selanjutnya berkata, "Demi Allah aku tidak makan dan minum sehingga aku laporkan hal ini kepada Rasulullah saw, kami diganggu dan ditakut-takuti, hal itu juga aku akan sampaikan kepada Rasulullah saw, aku akan tanyakan kepada beliau, demi Allah aku tidak berdusta, tidak akan menyimpang dan tidak akan menambah-nambah."

Tatkala Rasulullah saw datang, maka Asma' berkata kepadanya, "Wahai Nabi saw, sesungguhnya Umar berkata begini dan begitu." Rasulullah saw bertanya kepada Umar, "Apa yang telah engkau katakan kepadanya," Umar menjawab, "Aku katakan begini dan begitu." Rasulullah saw bersabda kepada Asma', "Tiada seorang pun yang lebih berhak atas diriku melebihi kalian, adapun dia (Umar) dan para sahabatnya berhijrah satu kali, akan tetapi kalian ahlus safinah (yang menumpang kapal) telah berhijrah dua kali."

Akhirnya, berbunga-bungalah hati Asma' karena pernyataan Rasulullah tersebut, lalu beliau sebarkan berita tersebut kepada khalayak, hingga orang-orang mengerumuni beliau untuk meminta penjelasan tentang kabar tersebut. Asma' berkata, "Sungguh aku melihat Abu Musa dan orang-orang yang telah berlayar (berhijrah bersama Asma' dan suaminya) mendatangiku dan menanyakan kepadaku tentang hadis tersebut, maka tiada sesuatu dari dunia yang menggembirakan dan lebih besar artinya bagi mereka dari apa yang disabdakan Nabi saw kepada mereka."

Manakala pasukan kaum muslimin menuju Syam, di antara ketiga panglimanya terdapat suami dari Asma', yakni Ja'far bin Abi Thalib ra. Di sana, di medan perang Allah memilih beliau di antara sekian pasukan untuk mendapatkan gelar syahid di jalan Allah.

Rasulullah saw mendatangi rumah Asma' dan menanyakan ketiga anaknya, mereka pun berkeliling di sekitar Rasulullah, kemudian Rasulullah mencium mereka dan mengusap kepala mereka hingga kedua matanya melelehkan air mata. Berkatalah Asma' dengan hati yang berdebar-debar menyiratkan kesedihan, "Demi ayah dan ibuku, apa yang membuat anda menangis? Apakah telah sampai suatu kabar kepada anda tentang Ja'far dan sahabat-sahabatnya?" Beliau menjawab, "Benar, dia gugur hari ini."

Asma' tidak kuasa menahan tangisnya, kemudian Rasulullah menghiburnya dan berkata kepadanya, "Berkabunglah selama tiga hari, kemudian berbuatlah sesukamu setelah itu." Selanjutnya, Rasulullah saw bersabda kepada keluarga beliau, "Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja'far, karena telah datang peristiwa yang menyibukkan mereka."

Tiada yang dilakukan oleh wanita mukminah ini melainkan mengeringkan air mata, bersabar, dan berteguh hati dengan mengharap pahala yang agung dari Allah. Bahkan, suatu malam dia bercita-cita agar syahid sebagaimana suaminya. Terlebih-lebih tatkala beliau mendengar dari salah seorang laki-laki dari Bani Murrah bin Auf berkata, "Tatkala perang tersebut, demi Allah seolah-olah aku melihat Ja'far ketika melompat dari kudanya yang berwarna kekuning-kuningan kemudian beliau berperang hingga terbunuh. Beliau sebelum terbunuh berkata:

Wahai jannah yang aku dambakan mendiaminya
Harum semerbak baunya, sejuk segar air minumnya
Tantara Romawi menghampiri liang kuburnya
Terhalang jauh dari sanak keluarganya
Kewajibankulah menghantamnya kala menjumpainya

Kemudian, Ja'far memegang bendera dengan tangan kanannya, tetapi dipotonglah tangan kanan beliau, kemudian beliau bawa dengan tangan kirinya, akan tetapi dipotonglah tangan kirinya, selanjutnya beliau kempit dengan di dadanya dengah kedua lengannya hingga terbunuh.

Asma' mendapatkan makna dari sabda Rasulullah saw yang pernah berkata kepada anaknya, "Assalamualaikum wahai putra yang memiliki dua sayap."

Rupanya Allah menggantikan kedua tangan Ja'far yang terputus dengan dua sayap yang dengan keduanya beliau terbang di jannah sekehendaknya. Seorang ibu yang salihah tersebut tekun menarbiyah ketiga anaknya dan membimbing mereka agar mengikuti jejak yang telah di tempuh oleh ayahnya yang telah syahid, serta membiasakan mereka dengan tabiat iman.

Belum lama berselang dari waktu tersebut Abu Bakar ra datang untuk meminang Asma' binti Umais setelah wafatnya istri beliau, Ummu Rumaan ra. Tiada alasan bagi Asma' untuk menolak pinangan orang seutama Abu Bakar ra, begitulah akhirnya Asma' berpindah ke rumah Abu Bakar ra untuk menambah cahaya kebenaran dan cahaya iman dan untuk mencurahkan cinta dan kesetiaan di rumah tangganya.

Setelah sekian lama beliau melangsungkan pernikahan yang penuh barakah, Allah mengaruniakan kepada mereka seorang anak laki-laki. Mereka ingin melaksanakan haji wada, maka Abu Bakar menyuruh istrinya untuk mandi dan menyertai haji setelah Rasulullah saw memintanya. Kemudiana Asma' menyaksikan peristiwa demi peristiwa yang besar, namun peristiwa yang paling besar adalah wafatnya pemimpin anak Adam dan terputusnya wahyu dari langit. Kemudian beliau juga menyaksikan suaminya, yakni Abu Bakar memegang tampuk kekhalifahan bagi kaum muslimin, sehingga suaminya merampungkan problematika yang sangat rumit, seperti memerangi orang-orang yang murtad, memerangi orang-orang yang tidak mau berzakat, serta mengirimkan pasukan Usamah dan sikapnya yang teguh laksana gunug tidak ragu-ragu dan tidak bimbang, demikian pula beliau menyaksikan bagaimana pertolongan Allah diberikan kepada kaum muslimin dengan sikap iman yang teguh tersebut.

Asma' senantiasa menjaga agar suaminya senantiasa merasa senang dan beliau hidup bersama suaminya dengan perasaan yang tulus turut memikul beban bersama suaminya dalam urusan umat yang besar.

Akan tetapi, hal itu tidak berlangsung lama sebab Khalifah ash-Shidiq sakit dan semakin bertambah parah hingga keringat membasahi pada bagian atas kedua pipi beliau. Ash-Shidiq dengan ketajaman perasaan seorang mukmin yang shadiq merasakan dekatnya ajal beliau sehingga beliau bersegera untuk berwasiat. Adapun di antara wasiat beliau adalah agar beliau dimandikan oeh istrinya Asma' binti Umais ra, selain itu beliau berpesan kepada istrinya agar berbuka puasa dengan berkata, "Berbukalah karena hal itu membuat dirimua lebih kuat."

Asma' merasa telah dekatnya wafat beliau sehingga beliau membaca istirja dan memohon amun sedangkan kedua mata beliau tidak berpaling sedikit pun dari memandang suaminya yang ruhnya kembali dengan selamat kepada Allah. Hal itu membuat Asma' meneteskan air mata dan bersedih hati, akan tetapi sedikit pun beliau tidak mengatakan sesuatu melainkan yang diridhai Allah Tabaraka wa Ta'ala, beliau tetap bersabar dab berteguh hati.

Selanjutnya beliau menunaikan perkara penting yang diminta oleh suaminya yang telah tiada, karena beliau adalah orang yang paling bisa dipercaya oleh suaminya. Mulailah beliau memandikan jenazah suaminya dan beliau lupa terhadap wasiat yang kedua. Beliau bertanya kepada para muhajirin yang hadir, "Sesungguhnya aku sedang berpuasa, namun hari ini adalah hari yang sangat dingin, apakah boleh bagiku untuk mandi?" Mereka menjawab, "Tidak." (Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam al-Muwatha' I/222 dan Ibnu Sa'ad dalam ath-Thabaqat VIII/284).

Di akhir siang, seusai dimakamkannya as-Shiddiq, tiba-tiba Asma' binti Umais ingat wasiat suaminya yang kedua, yakni agar beliau berbuka (tidak melanjutkan puasa). Lantas apa yang dilakukannya sekarang? Sedangkan waktu hanya tinggal sebentar lagi. Menunggu matahari tenggelam dan orang yang shoum diperbolehkan untuk berbuka? apakah dia akan setia dengan wasiat suaminya ataukah menunggu sejenak saja untuk melanjutkan puasanya?

Kesetiaan terhadap suaminya telah menghalangi beliau untuk mengkhianati wasiat suaminya yang telah pergi, maka beliau mengambil air dan meminum kemudian berkata, "Demi Allah aku tidak akan melanggar janjinya hari ini."

Setelah kepergian suaminya, Asma' ra melazimi rumahnya dengan mendidik putra-putranya, baik dari Ja'far maupun dari Abu Bakar. Beliau menyerahkan urusan anak-anaknya kepada Allah dengan mohon kepada-Nya untuk memperbaiki anak-anaknya dan Allah pun memperbaiki mereka hingga mereka menjadi imam bagi orang-orang yang bertakwa. Inilah puncak dari harapan beliau di dunia dan beliau tidak mengetahui takdir yang akan menimpa beliau yang tersembunyi di balik ilmu Allah.

Dialah Ali bin Abu Thalib ra saudara dari Ja'far yang memiliki dua sayap mendatangi Asma' untuk meminangnya sebagai wujud kesetiaan Ali kepada saudaranya yang dia cintai, yaitu Ja'far, begitu pula Abu Bakar as-shiddiq ra.

Setelah berkali-kali berpikir dan mempertimbangkannya dengan matang, beliau memutuskan untuk menerima lamaran dari Ali bin Abi Thalib sehingga kesempatan tersebut dapat beliau gunakan untuk membantu membina putra-putra saudaranya Ja'far. Maka, berpindahlah Asma' ke rumah tangga Ali ra setelah wafatnya Fatimah az-Zahraa' ra dan ternyata beliau adalah sebaik-baik wanita salihah, dan beliau juga memiliki suami yang paling baik dalam bergaul. Asma' senantiasa memiliki kedudukan yang tinggi di mata Ali hingga beliau sering mengulang-ulang di setiap tempat, "Di antara wanita yang memiliki syahwat telah menipu kalian, maka aku tidak menaruh kepercayaan di antara wanita melebihi Asma' binti Umais."

Allah memberi kemurahan kepada Ali dengan mengaruniai anak dari Asma' yang bernama Yahya dan Aunan, berlalulah hari demi hari dan Ali menyaksikan pemandangan yang asing, yakni putra saudaranya Ja'far sedang berbantahan dengan Muhammad bin Abu Bakar dan masing-masing membanggakan diri dari yang lain dengan mengatakan, "Aku lebih baik daripada kamu dan ayahku lebih baik daripada ayahmu." Ali tidak mengetahui apa yang mereka berdua katakan. Dan bagaimana pula memutuskan antara keduanya karena beliau merasa simpati dengan keduanya. Maka, tiada yang dapat beliau lakukan selain memanggil ibu mereka, yakni Asma' ra, kemudian berkata, "Putuskanlah antara keduanya!" Dengan pikirannya yang tajam dan hikmah yang mendalam beliau berkata, "Aku tidak melihat seorang pemuda di Arab yang lebih baik daripada Ja'far dan aku tidak pernah melihat orang tua yang lebih baik daripada Abu Bakar." Inilah yang menyelesaikan urusan mereka berdua dan kembalilah kedua bocah tersebut saling merangkul dan bermain bersama. Namun, Ali merasa takjub dengan bagusnya keputusan yang diambil oleh Asma' terhadap anak-anaknya, dengan menatap wajah istrinya beliau berkata, "Engaku tidak menyisakan bagi kami sedikit pun wahai Asma'?" Dengan kecerdasan yang tinggi dan keberanian yang luar biasa ditambah lagi adab yang mulia beliau berkata:"Di antara ketiga orang pilihan, kebaikan Anda masih di bawah kebaikan mereka."

Ali ra tidak merasa asing dengan jawaban istrinya yang cerdas, maka beliau berkata dengan ksatria dan akhlak yang utama: "Sendaianya engkau tidak menjawab dengan jawaban tersebut, niscaya aku cela dirimu."

Akhirnya, kaum muslimin memilih Ali ra sebagai khalifah setelah Utsman bin Affan, maka kedua kalinya Asma' menjadi istri seorang khalifah, yang kali ini adalah khalifah rasyidin yang keempat, semoga Allah meridhai mereka semuanya.

Asma' turut serta memikul tanggung jawab sebagai istri khalifah bagi kaum muslimin dalam menghadapi peristiwa-peristiwa besar, begitu pula dengan Abdullah bin Ja'far dan Muhammad bin Abu Bakar ra berdiri di samping ayahnya dalam rangka membela kebenaran. Kemudian, setelah berselang beberapa lama, wafatlah putra beliau Muhammad bin Abu Bakar ra dan musibah tersebut membawa pengaruh yang besar pada diri beliau, akan tetapi Asma' seorang wanita mukminah tidak mungkin menyelisihi ajaran Islam dengan berteriak-teriak dan meratap dan hal-hal lain yang dilarang dalam Islam. Tiada yang beliau lakukan selain berusaha bersabar dan membawa pertolongan dengan sabar dan salat terhadap penderitaan yang beliau alami. Asma' selalu memendam kesedihannya hingga payudaranya mengeluarkan darah.

Belum lagi tahun berganti hingga sakit beliau bertambah parah dan menjadi lemah jasmaninya, dengan cepat kemudian beliau meninggal dunia. Yang tinggal hanyalah lambang kehormatan yang tercatat dalam sejarah setelah beliau mengukir sebaik-baik contoh dalam hal kebijaksanaan, kesabaran, dan kekuatan

Asma' binti Yazid bin Sakan (Juru Bicara Wanita)
01/17/2003

Beliau adalah Asma' binti Yazid bin Sakan bin Rafi' bin Imri'il Qais bin Abdul Asyhal bin Haris al-Anshariyyah, al-Ausiyyah al-Asyhaliyah.

Beliau adalah seorang ahli hadis yang mulia, seorang mujahidah yang agung, memiliki kecerdasan, dien yang bagus, dan ahli argumen, sehingga beliau dijuluki sebagai "juru bicara wanita".

Di antara sesuatu yang istimewa yang dimiliki oleh Asma' ra adalah kepekaan inderanya dan kejelian perasaannya serta ketulusan hatinya. Selebihnya dalam segala sifat sebagaimana yang dimiliki oleh wanita-wanita Islam yang lain yang telah lulus dalam madrasah nubuwwah, yakni tidak terlalu lunak (manja) dalam berbicara, tidak merasa hina, tidak mau dianiaya dan dihina, bahkan beliau adalah seorang wanita yang pemberani, tegar, mujahidah. Beliau menjadi contoh yang baik dalam banyak medan peperangan.

Asma' ra mendatangi Rasulullah saw pada tahun pertama hijrah dan beliau berba'iat kepadanya dengan ba'iat Islam. Rasulullah saw memba'iat para wanita dengan ayat yang tersebut dalam surat Al-Mumtahanah, "Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan menyekutukan sesuatu pun dengan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Mumtahanah: 12).

Ba'iat dari Asma' binti Yazid ra adalah untuk jujur dan ikhlas, sebagaimana yang disebutkan riwayatnya dalam kitab-kitab sirah bahwa Asma' mengenakan dua gelang emas yang besar, maka Nabi saw bersabda, "Tanggalkanlah kedua gelangmu wahai Asma', tidakkah kamu takut jika Allah mengenakan gelang kepadamu dengan gelang dari neraka?"

Maka, segeralah beliau tanpa ragu-ragu dan tanpa argumentasi untuk mengikuti perintah Rasulullah saw, maka beliau melepaskannya dan meletakkan di depan Rasulullah saw.

Setelah itu Asma' aktif untuk mendengar hadis Rasulullah saw yang mulia dan beliau bertanya tentang persoalan-persoalan yang menjadikan dia paham urusan dien. Beliau pulalah yang bertanya kepada Rasulullah saw tentang tata cara thaharah (bersuci) bagi wanita yang selesai haidh. Beliau memiliki kepribadian yang kuat dan tidak malu untuk menanyakan sesuatu yang hak. Oleh karena itu, Ibnu Abdil Barr berkata, "Beliau adalah seorang wanita yang cerdas dan bagus diennya."

Beliau ra dipercaya oleh kaum muslimah sebagai wakil mereka untuk berbicara dengan Rasulullah saw tentang persoalan-persoalan yang mereka hadapi. Pada suatu ketika Asma' mendatangi Rasulullah saw dan bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya adalah utusan bagi seluruh wanita muslimah yang di belakangku, seluruhnya mengatakan sebagaimana yang aku katakan dan seluruhnya berpendapat sebagaiamana aku berpendapat. Sesungguhnya Allah SWT mengutusmu bagi seluruh laki-laki dan wanita, kemudiaan kami beriman kepada anda dan memba'iat anda. Adapun kami para wanita terkurung dan terbatas gerak langkah kami. Kami menjadi penyangga rumah tangga kaum laki-laki, dan kami adalah tempat melampiaskan syahwat mereka, kamilah yang mengandung anak-anak mereka. Akan tetapi, kaum lelaki mendapat keutamaan melebihi kami dengan salat Jumat, mengantarkan jenazah, dan berjihad. Apabila mereka keluar untuk berjihad, kamilah yang menjaga harta mereka, yang mendidik anak-anak mereka, maka apakah kami juga mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapat dengan amalan mereka?"

Mendengar pertanyaan tersebut, Rasulullah saw menoleh kepada para sahabat dan bersabda, "Pernahkan kalian mendengar pertanyaan seorang wanita tentang dien yang lebih baik dari apa yang dia tanyakan?"

Para sahabat menjawab, "Benar, kami belum pernah mendengarnya ya Rasulullah!" Kemudian Rasulullah saw bersabda,"Kembalilah wahai Asma' dan beri tahukanlah kepada para wanita yang berada di belakangmu bahwa perlakuan baik salah seorang mereka kepada suaminya, dan meminta keridhaan suaminya, saatnya ia untuk mendapat persetujuannya, itu semua dapat mengimbangi seluruh amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum lelaki."

Maka, kembalilah Asma' sambil bertahlil dan bertakbir merasa gembira dengan apa yang disabdakan Rasulullah saw.

Dalam dada Asma' terbetik keinginan yang kuat untuk ikut andil dalam berjihad, hanya saja kondisi ketika itu tidak memungkinkan untuk merealisasikannya. Akan tetapi, setelah tahun 13 Hijriyah setelah wafatnya Rasulullah saw hingga perang Yarmuk beliau menyertainya dengan gagah berani.

Pada perang Yarmuk ini, para wanita muslimah banyak yang ikut andil dengan bagian yang banyak untuk berjihad sebagaimana yang disebutkan oleh al-Hafidz Ibnu Katsir dalam kitab al-Bidayah wan-Nihaayah, beliau membicarakan tentang perjuangan mujahidin mukminin. Beliau berkata, "Mereka berperang dengan perang besar-besaran hingga para wanita turut berperang di belakang mereka dengan gagah berani."

Dalam bagian lain beliau berkata, "Para wanita menghadang mujahidin yang lari dari berkecamuknya perang dan memukul mereka dengan kayu dan melempari mereka dengan batu. Adapun Khaulah binti Tsa'labah ra berkata:
Wahai kalian yang lari dari wanita yang bertakwa
Tidak akan kalian lihat tawanan
Tidak pula perlindungan
Tidak juga keridhaan

Beliau juga berkata dalam bagian yang lain, "Pada hari itu kaum muslimah berperang dan berhasil membunuh banyak tentara Romawi, akan tetapi mereka memukul kaum muslimin yang lari dari kancah peperangan hingga mereka kembali untuk berperang."

Dalam perang yang besar ini, Asma' binti Yazid menyertai pasukan kaum muslimin bersama wanita-wanita mukminat yang lain berada di belakang para mujahidin mencurahkan segala kemampuan dengan membantu mempersiapkan senjata, memberikan minum bagi para mujahidin dan mengobati yang terluka di antara mereka serta memompa semangat juang kaum muslimin.

Akan tetapi, manakala berkecamuknya perang, manakala suasana panas membara dan mata menjadi merah, ketika itu Asma' ra lupa bahwa dirinya adalah seorang wanita. Beliau hanya ingat bahwa dirinya adalah muslimah, mukminah, dan mampu berjihad dengan mencurahkan segenap kemampuan dan kesungguhannya. Hanya beliau tidak mendapatkan apa-apa yang di depannya melainkan sebatang tiang kemah, maka beliau membawanya kemudian berbaur dengan barisan kaum muslimin. Beliau memukul musuh-musuh Allah ke kanan dan ke kiri hingga dapat membunuh sembilan orang dari tentara Romawi, sebagaimana yang dikisahkan oleh Imam Ibnu Hajar tentang beliau, "Dialah Asma' binti Yazid bin Sakan yang menyertai perang Yarmuk, ketika itu beliau membunuh sembilan tentara Romawi dengan tiang kemah, kemudian beliau masih hidup selama beberapa tahun setelah peperangan tersebut."

Asma' keluar dari peperangan dengan membawa luka di punggungnya dan Allah menghendaki beliau masih hidup setelah itu selama 17 tahun karena beliau wafat pada akhir tahun 30 Hijriyah setelah menyuguhkan kebaikan bagi umat.

Semoga Allah merahmati Asma' binti Yazid bin Sakan dan memuliakan dengan hadis yang telah beliau riwayatkan bagi kita, dan dengan pengorbanan yang telah beliau usahakan, dan telah beramal dengan sesuatu yang dapat dijadikan pelajaran bagi yang lain dalam hal mencurahkan segala kemampuan dan usaha demi memperjuangkan al-haq dan mengibarkan bendera hingga dien ini hanya bagi Allah.

Ummu Haram binti Malhan (Wanita yang Syahid di Laut)
01/10/2003

Beliau adalah Ummu Haram binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin Adi bin Najar al-Anshariyah an-Najariyah al-Madiniyah.

Beliau adalah saudari Ummu Sulaim, bibi dari Anas bin Malik pembantu Rasulullah saw. Beliau adalah istri dari sahabat yang agung yang bernama Ubadah bin Shamit. Kedua saudaranya adalah Sulaim dan Haram yang keduanya menyertai perang Badar dan Uhud dan kedua-duanya syahid pada perang Bi'ir Ma'unah. Adapun Haram adalah seorang pejuang yang tatkala ditikam dari belakang beliau mengatakan, "Aku telah berjaya demi Rabb Ka'bah."

Ummu Haram termasuk wanita yang terhormat, beliau masuk Islam, berba'iat kepada Nabi saw dan ikut berhijrah. Beliau meriwayatkn hadis dan Anas bin Malik meriwayatkan dari beliau dan ada juga yang lain yang meriwayatkan dari beliau.

Rasulullah saw memuliakan beliau dan pernah mengunjungi beliau di rumahnya dan istirahat sejenak di rumahnya. Beliau dan Ummu Sulaim adalah bibi Rasulullah saw, baik berkaitan dengan persusuan ataupun berkaitan dengan nasab, sehingga menjadi halal menyendiri (berkhalwah) dengan keduanya.

Anas bin Malik ra berkata, "Rasulullah saw masuk ke rumah kami, tidak ada yang di dalam rumah melainkan saya, ibuku (Ummu Sulaim) dan bibiku Ummu Haram. Beliau bersabda: "Berdirilah kalian, aku akan salat bersama kalian." Maka beliau salat bersama kami pada saat bukan waktu salat wajib.

Ummu Haram berangan-angan untuk bisa menyertai peperangan bersama mujahidin yang menaiki kapal untuk menyebarkan dakwah dan membebaskan manusia dari peribadatan kepada sesama hamba menuju peribadatan kepada Allah saja. Akhirnya, Allah mengabulkan angan-angannya dan mewujudkan cita-citanya. Tatkala dinikahi oleh sahabat yang agung yang bernama Ubadah bin Shamit, mereka keluar untuk berjihad bersama dan Ummu Haram mendapatkan syahid di sana dalam perang Qabrus.

Anas ra berkata, "Adalah Rasulullah saw apabila pergi ke Quba', beliau mampir ke rumah Ummu Haram binti Malhan, kemudian Ummu Haram menyediakan makanan bagi beliau. Adapun suami Ummu Haram adalah Ubadah bin Shamit. Pada suatu hari Rasululah saw mampir ke rumah beliau, Ummu Haram pun menyediakan makanan bagi beliau kemudian Rasulullah menyandarkan kepalanya dan Rasulullah saw tertidur. Tidak berapa lama kemudian beliau bangun lalu beliau tertawa. Ummu Haram bertanya, "Apa yang membuat anda tertawa wahai Rasulullah saw?" Beliau bersabda, "Sekelompok manusia dari umatku diperlihatkan kepadaku, mereka berperang di jalan Allah dengan berlayar di lautan sebagaimana raja-raja di atas pasukannya atau laksana para raja yang memimpin pasukannya."

Ummu Haram berkata, "Ya Rasulullah do'akanlah agar aku termasuk golongan mereka."

Kemudian Rasulullah saw mendo'akan Ummu Haram lalu meletakkan kepalanya dan melanjutkan tidurnya. Sebentar kemudian beliau bangun dan tertawa. Ummu Haram bertanya, "Ya Rasulullah apa yang membuat anda tertawa?"

Rasulullah saw bersabda, "Sekelompok manusia dari umatku diperlihatkan kepadaku tatkala berperang di jalan Allah laksana raja bagi pasukannya."

Ummu Haram berkata, "Ya Rasulullah do'akanlah agar saya termasuk golongan mereka."
Rasulullah saw bersabda, "Engkau termasuk golongan para pemula."

Anas bin Malik berkata, "Ummu Haram keluar bersama suaminya yang bernama Ubadah bin Shamit. Tatkala telah melewati laut, beliau naik seekor hewan kemudian hewan tersebut melemparkan beliau ke tanah hingga wafat. Peristiwa tersebut terjadi pada perang Qibris, sehingga beliau di kubur di sana. Ketika itu pemimpin pasukan adalah Mu'awiyah bin Abu Sofyan pada masa khilafah Utsman bin Affan, semoga Allah merahmati mereka seluruhnya.

Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 27 Hijriyah. Begitulah, Ummu Haram adalah termasuk salah satu dari keluarga mulia yang setia terhadap prinsip yang dia pegang. Beliau mencurahkan segala kemampuannya untuk menyebarkan akidah tauhid yang murni. Beliau tidak mengharapkan setelah itu, melainkan ridha Allah Azza wa Jalla.

Shafiyyah binti Abdul Muththalib (Bibi Rasulullah)
01/03/2003

Beliau adalah seorang mukminah yang telah berba'iat kepada Rasulullah saw, seorang mujahidah, wanita yang sabar, ahli sya'ir yang mulia, Shafiyyah binti Abdul Muththalib bin Hisyam bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab al-Qurasyiyah al-Hasyimiyah. Beliau adalah bibi Rasulullah saw, saudari dari singa Allah Hamzah bin Abdul Muththalib. Beliau juga seorang ibu dari sahabat agung, yaitu Zubair bin Awwam.

Shafiyyah ra tumbuh di rumah Abdul Muththalib, pemuka Quraisy dan orang yang memiliki kedudukan yang tinggi, terpandang, dan mulia. Dialah yang dipercaya untuk mengurus pendatang yang berhaji.

Seluruh aktifitas tersebut membekas pada diri Shafiyyah ra, sehingga membentuk kepribadian beliau yang kuat. Beliau adalah seorang wanita yang fasih lisannya dan ahli bahasa. Seorang cendekiawan dan penunggang kuda yang pemberani. Beliau ra termasuk wanita yang awal dalam mengimani putra saudaranya yang jujur dan terpercaya yaitu Muhammad saw, dan bagus keislamannya. Beliau berhijrah bersama putranya yang bernama Zubeir bin Awwam untuk menjaga keislamannya.

Shafiyyah ra menyaksikan tersebarnya Islam dan turut andil dalam menyebarkannya. Sungguh jihad merupakan darah dagingnya. Oleh karena itu, beliau tidak menyia-nyiakan kesempatan pada hari Uhud menjadi pelopor bagi para wanita yang ikut keluar untuk membantu para mujahidin dan mengorbankan semangat mereka untuk bertempur, disamping beliau juga mengobati mujahidin yang luka-luka di antara mereka.

Tatkala takdir Allah menghendaki kaum muslimin terpukul mundur karena pasukan pemanah menyalahi perintah Rasul saw sebagai panglima, maka banyak pasukan yang berpencar dari Rasullah saw. Namun, Shafiyyah tetap berdiri dengan berani, sedangkan di tangannya menggenggam tongkat dan beliau pukul wajah orang-orang yang mudurdari peperangan seraya berkata, "Kalian hendak meninggalkan Rasulullah saw?"

Manakala Shafiyyah mengetahui kesyahidan saudaranya, Hamzah bin Abdul Muththalib ra, yang dijuluki singa Allah yang dibunuh dengan sadis, maka Shafiyyah memberikan teladan yang agung bagi kita dalam hal kesabaran, ketabahan, dan ketegaran. Beliau sendiri mengisahkan kepada kita apa yang beliau saksikan, beliau berkata:

"Pada hari terbunuhnya Hamzah, Zubeir menemuiku dan berkata, 'Wahai ibunda, sesungguhnya Rasulullah saw menyuruh anda agar kembali'. Beliau menjawab, 'Mengapa? Sungguh telah sampai kepadaku tentang dicincangnya saudaraku, namun dia syahid karena Allah, kami sangat ridha dengan apa yang telah terjadi, sungguh aku akan bersabar dan tabah insya Allah. Setelah Zubeir ra memberitahukan kepada Rasulullah saw tentang komentarku beliau bersabda, 'Berilah jalan baginya...!' Maka aku mendapatkan Hamzah dan tatkala aku melihatnya aku berkata, 'Inna Lillahi wa inna ilaihi Raji'un, kemudian aku mohonkan ampun baginya, setelah itu Rasulullah saw memerintahkan untuk menguburkannya'."

Gambaran lain dari Shafiyyah sang mujahidah dan penunggang kuda ini adalah tatkala terjadi Perang Khandaq saat pasukan Yahudi mencoba menyerang tempat kaum wanita ketika itu para wanita muslimah dan anak-anak berada dalam sebuah benteng. Di sana ada juga Hassan bin Tsabit ra. Tatkala ada orang Yahudi mengelilingi benteng, sedangkan kaum muslimin sedang menghadapi musuh, maka berdirilah Shafiyyah ra dan berkata kepada Hassan, "Sesungguhnya lelaki Yahudi ini menjadikan kita tidak aman, karena mereka akan mengetahui kekurangan kita, maka berdirilah dan bunuhlah ia. Kemudian, Hassan berkata, 'Semoga Allah mengampuni anda, sungguh anda mengetahui bahwa seperti itu bukanlah keahlian saya'."

Ketika Shafiyyah mendengar jawaban Hassan, beliau langsung bangkit dan penuh semangat yang ada di jiwanya, beliau mengambil tongkat yang keras kemudian turun dari benteng. Beliau menunggu kesempatan lengahnya orang Yahudi tersebut lalu beliau memukulnya tepat pada ubun-ubun secara bertubi-tubi hingga dapat membunuhnya. Beliau memang "wanita pertama yang membunuh laki-laki". Beliau kembali ke benteng dan tersirat kegembiraan pada kedua matanya, karena mampu menghabisi musuh Allah yang berarti pula menjaga rahasia persembuyian para wanita dan kaum muslimah dari mereka. Kemudian beliau berkata kepada Hassan, "Turunlah dan lucutilah dia, sebab tiada yang menghalangi diriku untuk melucutinya melainkan karena dia seorang laki-laki." Hassan berkata: "Saya tidak berkepentingan untuk melucutinya wahai binti Abdul muththalib."

Begitulah kaum muslimin mendapatkan kemenangan dalam perang ini dengan jiwa yang beriman dan pemberani yang tidak kenal istilah mustahil dalam meraih jalan kemenangan.

Tatkala Perang Khaibar, Shafiyyah ra keluar bersama kaum muslimah untuk memompa semangat pasukan kaum muslimin. Mereka membuat perkemahan di medan jihad untuk mengobati pasukan yang terluka karena perang.

Rasulullah saw merasa senang dengan peran para mujahidah sehingga mereka juga mendapatkan bagian dari rampasan perang.

Nabi saw mencintai bibinya, Shafiyyah ra, dan memuliakan beliau serta memberikan kepada beliau bagian yang banyak. Tatkala turun ayat: "Wa andzir 'Asyiratakal aqrabin' (Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat)." (As-Syura: 214).

Beliau bersabda, "Hai Fathimah binti Muhammad, hai Shafiyyah binti Abdul Muththalib, wahai Bani Abdul Muththalib, aku tidak kuasa menolong kalian dari siksa Allah. Mintalah kepadaku apa saja yang ada padaku."

Shafiyyah ra mencintai Rasulullah saw sejak kecil dan mengikutinya. Beliau takjub dengan keadaan Nabi saw dan akhirnya mengimani kenabian beliau, menyertai beliau dalam peperangan, dan merasa sedih tatkala wafatnya Rasulullah saw yang beliau ungkapkan dengan sya'irnya yang indah:

Wahai mata, tampakkanlah air mata dan janganlah tidur
Tangisilah sebaik-baik manusia yang telah tiada
Tangisilah al-Musthofa dengan tangisan yang sangat
Yang masuk ke dalam hati laksana terkena pukulan
Nyaris aku tinggalkan hidup tatkala takdir datang padanya
Yang telah digariskan dalam kitab yang mulia
Sungguh beliau pengasih kepada sesama hamba
Rahmat bagi mereka dan sebaik-baik Pemberi petunjuk
Semoga Allah meridhainya tatkala beliau hidup dan mati
Dan membalasnya dengan Jannah pada hari yang kekal

Shafiyyah ra hidup sepeninggal Rasulullah saw dengan penuh kewibawaan dan dimuliakan. Semua orang mengetahui keutamaan dan kedudukan beliau. Hingga tatkala beliau wafat pada zaman Khalifah Umar bin Khaththab umur beliau mencapai lebih dari 70 tahun.

Semoga Allah merahmati Shafiyyah, sungguh beliau ibarat menara yang tinggi dalam sejarah Islam dan perjalanan hidup yang baik dalam hal pengorbanan dan jihad untuk menolong dinullah.

Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Thalib
12/27/2002

Beliau adalah Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Thalib, orang yang pertama kali masuk Islam dari golongan anak, memiliki kedudukan yang tinggi dan posisi yang luhur di sisi Rasulullah. Beliau juga putri khalifah Rasyidin yang keempat. Kakeknya adalah penghulu anak Adam. Ibu beliau adalah ratu wanita ahli jannah, Fathimah binti Rasulullah, sedangkan kedua saudaranya adalah pemimpin pemuda ahli jannah dan penghibur hati Rasulullah.

Dalam lingkungan yang mulia seperti inilah pada zaman Rasulullah Ummu Kultsum dilahirkan, tumbuh berkembang dan terdidik. Beliau adalah teladan bagi para gadis muslimah yang tumbuh di atas dien, keutamaan dan rasa malu.

Amirul Mukminin Umar bin Khathab al-Faruq , Khalifah Rasyidin yang kedua mendatangi ayahnya untuk meminang beliau. Akan tetapi, mulanya Imam Ali bin Abi Thalib meminta ditunda, karena Ummu Kultsum masih kecil. Umar berkata: "Nikahkanlah aku dengannya wahai Abu Hasan, karena aku telah memperhatikan kemuliannya, yang tidak aku dapatkan pada orang lain." Maka Ali meridhainya dan menikahkan Umar dengan putrinya pada bulan Dzulqa'dah tahun 17 Hijriyah, dan hidup bersama hingga terbunuhnya Umar. Dari pernikahannya mendapatkan dua anak, yaitu Zaid bin Umar al-Akbar dan Ruqayyah binti Umar.

Yang mengesankan pada Ummu Kultsum, istri dari Amirul Mukminin, bahwa suatu ketika Umar keluar pada malam hari seperti biasanya untuk mengawasi rakyatnya (inilah keadaan setiap pemimpin yang bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya dalam naungan daulah Islamiyah ). Beliau melewati suatu desa di Madinah, tiba-tiba beliau mendengar suara rintihan wanita yang bersumber dari sebuah gubug, di depan pintu ada seorang laki-laki yang sedang duduk. Umar mengucapkan salam kepadanya dan bertanya kepadanya tentang apa yang terjadi. Laki-laki tersebut berkata bahwa dia adalah seorang Badui yang ingin mendapatkan kemurahan hati Amirul Mukminin. Umar bertanya tentang wanita di dalam gubug yang beliau dengar rintihannya. Laki-laki tersebut tidak mengetahui bahwa yang berbicara dengannya adalah Amirul Mukminin, maka dia menjawab, "Pergilah anda dan semoga Allah merahmati anda sehingga mendapatkan yang anda cari, dan janganlah anda bertanya tentang sesuatu yang tak ada gunanya bagi anda."

Umar kembali mengulang-ulang pertanyaannya agar dia dapat membantu kesulitannya jika mungkin. Laki-laki tersebut menjawab, "Dia adalah istriku yang hendak melahirkan dan tak ada seorang pun yang dapat membantunya." Umar bertolak meninggalkan laki-laki tersebut dan kembali ke rumah dengan segera. Beliau masuk menemui istrinya, yakni Ummu Kaltsum dan berkata," Apakah kamu ingin mendapat pahala yang Allah akan limpahkan kepadamu?" Beliau menjawab dengan keadan yang penuh antusias dan berbahagia dengan kabar gembira tersebut yang mana beliau merasa mendapatkan kehormatan karenanya, "Apa wujud kebaikan dan pahala tersebut Wahai Umar?" Maka Umar memberitahukan kejadian yang baru mereka temui, kemudian Ummu Kultsum segera bangkit dan dan mengambil peralatan untuk melahirkan dan kebutuhan bagi bayi, sedangkan Amirul Mukminin membawa kuali yang di dalamnya ada mentega dan makanan. Beliau berangkat bersama istrinya hingga sampai ke gubug tersebut.

Ummu Kultsum masuk ke dalam gubug dan membantu ibu yang hendak melahirkan dan beliau bekerja dengan semangat seorang bidan. Sementara itu, Amirul Mukminin duduk-duduk bersama laki-laki tersebut di luar sambil memasak yang beliau bawa. Tatkala istri laki-laki tersebut melahirkan anaknya, Ummu Kultsum secara spontan berteriak dari dalam rumah, "Beritakan kabar gembira kepada temanmu wahai Amirul Mukminin, bahwa Allah telah mengaruniakan kepadanya seorang anak laki-laki. Hal itu membuat orang badui tersebut terperanjat. Karena ternyata orang di sampingnya yang sedang memasak dan meniup api adalah Amirul Mukminin.

Begitu pula wanita yang melahirkan tersebut terperanjat, karena yang menjadi bidan baginya di gubug tersebut ternyata adalah istri dari Amirul Mukminin. Takjub pula orang-orang yang hadir menyaksikan realita yang berada dalam naungan Islam tersebut ketika seorang kepala negara dan istrinya membantu seorang laki-laki dan istrinya dari Badui.

Setelah berselang beberapa waktu lamanya, tangan yang berdosa dan dengki dengan Islam membunuh Umar bin Khatthab, sehingga Ummu Kultsum menjadi seorang janda.

Tatkala Ummu Kultsum wafat, Ibnu Umar menyalatkannya dan begitu pula putranya, Zaid, yang berdiri di sampingnya dan mereka berdua takbir empat kali.

Ya Allah ridhailah Ummu Kultsum seorang bidan muslimah.

Hindun binti 'Uthbah
12/20/2002

Beliau adalah Hindun binti 'Uthbah bin Robi'ah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf al-Umawiyah al-Qurasyiyah . Ibunya bernama Shafiyyah binti Umayyah bin Haritsah bin al-Auqashi bin Murah bin Hilal bin Falih bin Dzikwan bin Tsa'labah bin Bahtah bin Salim.

Hindun adalah seorang wanita yang memiliki sifat yang luhur di antara wanita-wanita di Arab. Dia adalah wanita yang fasih bicaranya, pemberani, kuat, dan berjiwa besar, seorang pemikir, penyair, dan seorang wanita yang bijak, beliau telah mengangkat kemuliaan dirinya dan nasabnya. Putra beliau yang bernama Mu'awiyah binti Abi Sofyan bercerita tentang beliau, " Ibuku adalah wanita yang sangat berbahaya di masa Jahiliyah dan di dalam Islam menjadi seorang wanita yang mulia dan baik."

Imam Ibnu Abdil Barr berkata tentang Hindun,"Beliau adalah seorang wanita yang berjiwa besar dan memiliki kehormatan."

Ayahandanya menikahkan beliau dengan Fakihah binti Mughirah al-Makhzumi dan darinyalah beliau melahirkan dua anak kemudian setelah itu keduanya cerai. Beliau berkata kepada kedua orang tuanya, "Aku adalah wanita yang memiliki hak, maka janganglah menikahkan diriku dengan seorang laki-laki sebelum menawarkannya kepadaku." Orang tuanya berkata, "Itu terserah kamu."

Pada suatu hari orang tuanya berkata kepadanya, "Sesungguhnya ada dua orang laki-laki dari kaummu sendiri yang datang melamarmu, aku tidak akan menyebutkan nama salah satu di antara mereka sebelum aku sebutkan ciri-ciri mereka kepadamu. Adapun yang satu adalah seorang yang terhormat, terpandang kemuliaannya, engkau dapat mempengaruhinya karena kebodohannya, halus perangainya, pandai bergaul, penurut, jika kamu mengikutinya, maka dia akan mengikutimu, jika kamu menyimpang maka dia tetap bersama kamu, kamu dapat mengurus hartanya dan cukuplah kekurangannya engkau tutup dengan kecerdasanmu."

Adapun yang kedua, dia memiliki kehormatan, nasab dan kecerdasan yang tulen, gesit geraknya, berwibawa keluarganya, dia dapat mengatur keluarganya sedangkan keluarganya tunduk kepadanya, ia akan memberi kemudahan bagi mereka untuk mengikutinya, jika mereka menjauhinya itu adalah aib bagi mereka, memiliki semangat yang tinggi dan amat cepat terbangnya (lincah), kecil perutnya, jika lapar itu sudah biasa, jika berdebat tak dapat dikalahkan.

Ayahnya berkata, "Telah aku jelaskan kepadamu perihal mereka berdua," Hindun berkata: "Adapun laki-laki yang pertama, dia adalah tuan yang akan lenyap kemuliaannya, akan membinasakan isteri jika kelak dia tak dapat menjaga untuk senantiasa berlemah lembut dengannya setelah tadinya menolaknya, dia akan merendahkan diri dibawah lambung isterinya, jika menghasilkan keturunan menjadi anak yang bodoh, jika melahirkan maka menjadi salah karenanya."

Kemudian Hindun melanjutkan, "Urungkanlah laki-laki tersebut dariku dan tidak usah engkau sebutkan namanya kepadaku."

Adapun yang satunya kelak menjadi suami yang memiliki kemerdekaan yang sebenarnya, sesungguhnya aku tertarik dengan kepribadiaannya dan aku menjadi isterinya, karena aku akan dapat bergaul dengannya dengan kesetiaanku dan sedikit kekuranganku, dan sesungguhnya dilihat dari segi nasab antara aku dengannya maka alangkah pantasnya dan tiada penghalang bagi kami untuk berumah tangga, melindungi hakikat kecantikan yang sebenarnya tanpa perwakilan dan perantara tatkala berbincang-bincang, siapakah laki-laki tersebut?"

Berkatalah ayahnya yang bernama Utbah, "Dia adalah Abu Sufyan bin Harb." Hindun berkata, "Nikahkanlah aku dengannya, namun jangan tergesa-gesa seperti orang yang "beser", jangan pula mendiktenya seperti api di tungku dan memintalah pilihan kepada Allah di langit agar memilihkan untukmu dengan ilmu-Nya terhadap qadha."

Begitulah, kita melihat bagaimana Hindun menghadapi kesulitan, dia angkat kepalanya ke atas puncak, dia tidak mau menikah dengan baik-baik, akan tetapi nantinya suaminya hanya menjadi boneka yang dia permainkan seenaknya, akan tetapi dia menghendaki seoang suami yang memiliki kepribadian, mulia dan kuat, sehingga suami tersebut dapat menjadi pendamping dirinya, bukan dirinya yang menjadi pendamping suaminya.

Hindun menjalani kehidupan rumah tangganya bersama Abu Sufyan, dan kita melihat bahwa semangat Hindun untuk mendapatkan kemuliaan lebih besar dari sekedar keinginannya dalam menumpahkan syahwat seorang laki-laki terhadap wanita.

Dia memiliki ambisi yang serius terhadap sesuatu yang dia yakini bahwa dirinya mampu. Di antara bukti yang menunjukkan hal itu adalah bahwa suatu ketika orang-orang melihatnya sedang bersama putranya yang bernama Mu'awiyah, maka ketika itu orang-orang sama bergumam, "Jika anak ini sudah besar, kelak akan memimpin kaumnya."

Pujian tersebut tidak membesarkan hatinya, bahkan dengan rasa tidak puas dan ingin lebih dari itu dia berkata, "Celakalah dia jika hanya menjadi pemimpin kaumnya saja."

Ketika terjadi perang Badar al-Kubra terbunuhlah dalam peperangan tersebut ayah Hindun dan pamannya yang bernama Syaibah dan saudaranya yang bernama al-Walid. Maka tumbuhlah dihati Hindun rasa dendam yang membara, ketika di pasar Ukazh dia bertemu dengan al-Khansa' yang bertanya kepadanya, "Apa yang membuatmu menangis wahai Hindun?", Maka dia menjawab:

Aku menangis karena rasa sakitnya dua luka
Menjaga keduanya dari perusak yang akan membinasakannya
Aku menangis karena ayahku Utbah yang telah berbuat baik
Duhai celakanya….ketahuilah
Juga karena Syaibah yang telah menjaga yang patut untuk dibela
Mereka itulah keluarga yang mulia di atas rata-rata keluarga
Di saat kewibawaan mulai tumbuh berlipat ganda.

Ketika perang Uhud, Hindun bin Utbah memainkan peranan sebagai juru perang yang handal, yang mana dia keluar bersama kaum musyrikin Qurasy dan ketika itu pemimpin mereka adalah suaminya, yakni Abu Sufyan, Hindun memberikan semangat berperang kepada orang-orang Qurasy bersama wanita musyrikin lainnya sambil memukul rebana dan bersyair:

Kami adalah wanita-wanita jalanan
Yang berjalan membawa bantal yang empuk
Jika kalian maju kami peluk
Jika kalian lari akan kami cerai

Dia juga mengulang-ulang syair:

Wahai Bani Abdi Daar
Wahai para pejuang
Pukullah dengan segala senjata yang tajam

Pada masa itu Hindun tertulis dalam lembaran yang hitam kelam yang tak pernah dilupakan oleh sejarah. Lembaran tersebut berupa perlakuannya terhadap bapak dari para syuhada' dan penghulunya, yakni Hamzah bin Abdil Muthallib. Dia telah memerintahkan kepada al-Wahsy bin Harb, budaknya, dengan menjanjikan kemerdekaan bagi dirinya jika mampu membunuh Hamzah dan membalas dendamnya, senantiasa berkobar api permusuhan di dadanya dan dia berkata, "Wahai Abu Dasmah obatilah aku…sembuhkanlah luka hatiku."

Ucapan tersebut tidaklah mengherankan keluar dari mulut seorang yang menyimpan dendam kesumat, akan tetapi yang tidak dapat diterima adalah perlakuannya yang tidak wajar terhadap mayat pahlawan yang syahid --yang telah dibunuh di luar batas kewajaran dengan memotong hidung dan kedua telinganya, kemudian merobek perutnya serta mengambil jantungnya lalu dikunyahnya, hanya saja ia tidak kuasa untuk menelannya maka diludahkan kembali, kemudian dia naik ke atas bukit dengan rasa puas, lalu berteriak dengan suara lantang:

Telah Kami balas kekalahan kami di perang Badar
Perang demi perang terus berkobar
Tiada bersabar diriku atas kematian Utbah ayahku
Tidak juga saudara dan pamanku

Telah kuobati luka hatiku dan telah kutebus nadzarku
Wahsyi telah hilangkan rasa haus di hatiku
Terima kasihku kepada Wahsy terhadap umurku
Hingga terkelupas dagingku di dalam kuburku.

Hindun juga berkata:

Telah terobati dendamku terhadap Hamzah di perang Uhud
Hingga kuambil jantungnya dengan merobek perutnya
Sirna sudah rasa sakit di hati
Dari kegundahan yang tiada berperi

Begitulah, hingga Hindun mendapatkan gelar yang cukup mengganggunya yang terus terngiang-ngiang di telinganya seteleh keislamannya, yaitu julukan "Aklatul Akbad" (Wanita pemakan jantung). Hindun terus menerus dengan kesombongan dan kebanggaan jahiliyahnya hingga kalimat Allah berjaya dan terjadi hari kemenanagan yang nyata (Fathul Makkah). Takdir Allah SWT agar pahlawan jahiliyah wanita berubah menjadi pahlawan Islam wanita. Pada malam penaklukan Mekah dan tatkala Fathu Makkah Abu Sofyan bin Harb kembali bersama Rasulullah saw sebagai seorang Muslim dan dia berteriak lantang: "Wahai orang-orang Qurasy ketahuilah sesungguhnya aku telah masuk Islam, maka masuk Islamlah kalian! Sesungguhnya Muhammad telah datang kepada kalian dengan sesuatu yang tidak mungkin kalian hadapi, barangsiapa yang masuk ke dalam rumah Abu Sofyan maka dia selamat."

Maka berdirilah Hindun dan memegang jambangnya seraya berkata, "Seburuk-buruk pemimpin kaum adalah engkau… wahai penduduk Mekah berperanglah kalian, alangkah buruknya pemimpin kaum ini."

Abu Sofyan berkata, "Celakalah kalian… janganlah kalian terperdaya dengan ocehannya, sungguh Muhammad telah datang dengan membawa kekuatan yang tidak mungkin kalian hadapi, barangsiapa yang masuk ke rumah Abu Sofyan, maka dia aman. Mereka berkata: "Semoga Allah membinasakanmu, mana cukup rumahm untuk menampung kami?" Kemudian dia berkata, " Barang siapa yang menutup pintunya maka dia aman dan barang siapa masuk masjid maka dia aman. "Kemudian ketika itu orang-orang berpencar ada yang masuk ke dalam rumah dan adap pula yang masuk ke dalam masjid.

Pada hari kedua setelah Fathu Makkah Hindun berkata kepada suaminya, Abu Sofyan, "Aku ingin mengikuti Muhammad, maka bawalah aku menghadapnya."Abu Sufyan berkata," Sungguh aku melihat kemarin kamu benci dengan perkataan tersebut?" Berkata Hindun, "Demi Allah aku belum pernah melihat Allah disembah dengan sebenar-benarnya di dalam masjid sebagaimana yang aku lihat kemarin malam, demi Allah kemarin malam aku melihat orang-orang tidak melakukan selain salat dengan berdiri, rukuk, dan bersujud."

Abu Sufyan berkata kepadanya, " Sesungguhnya engkau telah banyak berbuat salah, maka pergilah kamu bersama laki-laki dari kaummu. "Maka Hindun pergi menemui Utsman bin Affan kemudian keduanya menghadap Rasulullah saw yang ketika itu bersamaan pula dengan para wanita. Setelah dia minta izin dan diizinkan masuk, maka dia masuk dengan menggunakan cadar lantaran takut atas apa yang telah ia perbuat terhadap Hamzah, dia takut kalau-kalau Rasulullah akan membalas perbuatan tersebut. Hindun berkata: "Wahai Rasulullah, alhamdulillah yang telah memenangkan dien yang telah dipilih-Nya sehingga bermanfaat bagiku semoga Allah merahmati anda wahai Muhammad, sesungguhnya aku adalah wanita yang telah beriman kepada Allah, membenarkan Rasul-Nya," Setelah itu Hindun membuka cadarnya seraya berkata, "Saya adalah Hindun bin Uthbah."

Rasulullah saw bersabda, "Selamat datang untukmu."

Hindun berkata, "Demi Allah dahulu tiada di muka bumi ini suatu kaum yang paling aku sukai untuk mendapat kehinaan melainkan kamu, akan tetapi sekarang tiada di muka bumi ini suatu kaum yang paling aku sukai untuk mendapatkan kemuliaan melainkan kaummu."

Maka Nabi saw bersabda, "Dan lebih dari itu." Kemudian beliau membacakan Alquran kepada para wanita tersebut dan membai'at mereka. Hindun berkata di tengah-tengah mereka, "Wahai Rasulullah haruskah kami menjabat tanganmu?" Kemudian Nabi saw bersabda:

"Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan wanita dan bahwasanya perkataanku kepada seratus wanita sama sebagaimana kepada seorang wanita."

Selanjutnya Rasulullah saw bersabda, "Apakah kalian membai'atku untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun?" Hindun berkata, "Demi Allah sesungguhnya anda telah meminta dari kami apa yang tidak anda minta dari kaum laki-laki, kami akan menerima dan melaksanakannya."

Kemudian Nabi melanjutkan, "Dan janganlah kalian mencuri."

Hindun berkata, "Wahai Rasulullah saw sesungguhnya Abu Sofyan adalah suami yang bakhil, maka apakah boleh bagiku untuk mengambil makanannya tanpa seijinnya?" Maka Rasulullah saw memberikan rukhsah baginya untuk kurma basah dan tidak memberikan rukhsah untuk kurma kering."

Rasulullah saw melanjutkan, "Dan janganlah kalian berzina."

Hindun berkata, "Mungkinkah seorang wanita merdeka berzina?"

Nabi melanjutkan, "Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian."

Hindun menjawab, "Sungguh telah kami pelihara mereka sejak kecil kemudian kalian telah membunuhnya di perang Badar tatkala dewasa, maka engkau lebih tahu akan hal itu, begitu pula mereka (para sahabat)." Maka ketika itu Umar bin Khattab tertawa mendengar perkataan Hindun tersebut, hingga lama sekali.

Kemudian Rasulullah saw bersabda, "Dan janganlah berbuat dusta yang diada-adakan antara tangan dan kaki kalian."

Hindun berkata, "Demi Allah sesungguhnya kedustaan itu amatlah buruk."

Nabi saw melanjutkan, "Dan janganlah kalian mendurhakaiku dalam urusan yang baik."

Hindun menyahut, "Tidaklah kami akan duduk di majelis ini jika hendak mendurhakai anda dalam urusan yang makruf."

Begitulah sikap Hindun di hadapan Rasulullah saw dengan kepribadiaannya yang kuat dan keimanannya yang tulus berdialog, bertanya dan mengulang-ulangnya.

Tatkala Hindun pulang ke rumahnya, langsung menuju patung-patung di rumahnya dan menghancurkannya dengan sebuah kapak besar hingga berkeping-keping seraya berkata, "Dahulu kami tertipu olehmu… dahulu kami tertipu olehmu."

Hari-hari berlalu dan semakin bertambahlah pengetahuan Hindun dalam masalah keimanan, sehingga membawa dirinya untuk berjihad menyertai kaum Muslimin. Beliau bersama suaminya, yakni Abu Sufyan menyertai perang Yarmuk yang terkenal itu, hingga mendapatkan luka yang serius, beliau juga memompa semangat kaum Muslimin untuk memerangi Romawi dengan mengatakan, "Percepatkalah kematian mereka dengan pedang kalian wahai kaum Muslimin."

Hindun juga turut meriwayatkan dari Nabi dan begitu pula putra beliau Mu'awiyah binti Abi Sofyan meriwayatkan dari beliau dan Aisyah Ummul Mukminin.

Pada tahun ke-14 Hijrah wafatlah Hindun binti Utbah. Selamat jalan Hindun, wanita yang kuat!

Ummu Hakim binti al-Harits
11/29/2002

Beliau adalah Ummu Hakim binti al-Harits bin Hisyam bin Mughirah al-Makhzumiyah. Beliau adalah putri dari saudaranya Abu Jahal Amru bin Hisyam yang menjadi musuh Allah dan Rasul-Nya. Adapun ibu beliau bernama Fathimah binti al-Walid.

Sesungguhnya Ummu Hakim diberi nikmat berupa akal yang cemerlang dan hikmah yang fasih. Ayahanda beliau yakni al-Haris menikahkan beliau pada masa jahiliyah dengan putra pamannya yaitu Ikrimah bin Abu Jahal yang mana dia adalah salah seorang dari orang-orang yang telah diumumkan Rasulullah untuk dibunuh. Ketika kaum muslimin mendapat kemenangan dan kota Mekah telah dibuka, Ikrimah bin Abu Jahal melarikan diri ke Yaman, karena dia mendengar ancaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam terhadapnya.

Manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, masuk Islamlah al-Haris bin Hisyam dan juga putrinya yaitu Ummu Hakim dan baguslah keislamannya. Ummu Hakim termasuk wanita yang berbai'at kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan ia merasakan manisnya iman yang telah memenuhi kalbunya, sehingga kemudian ia ingin agar orang yang paling dia cintai dan paling dekat dengannya yaitu suaminya, Ikrimah bin Abu Jahal, merasakan manisnya iman sebagaimana yang beliau rasakan.

Kebijakan dan kejernihan akalnya telah menuntun beliau untuk menghadap Rasulullah saw untuk meminta keamanan bagi suaminya bila dia masuk Islam. Alangkah girangnya hati beliau mendengar jawaban Rasulullah saw sang pemilik jiwa yang besar yang mau memaafkan dan menjamin keamanan jiwanya.

Selanjutnya, Ummu Hakim segera bertolak untuk mengejar suaminya yang melarikan diri dengan harapan beliau dapat menemukannya sebelum kapal berlayar. Beliau menempuh jalan yang sulit dan membawa perbekalan yang minim namun tidak berputus asa, beliau tidak merasa lemah karena tujuan yang agung telah meringankan penderitaan yang banyak dan banyak lagi. Takdir Allah menghendaki agar beliau dapat bertemu dengan suaminya di sebuah pantai yang tatkala itu kapal nyaris hendak berlayar. Selanjutnya, Ummu Hakim berteriak kepada suaminya, "Wahai putra pamanku…. aku datang kepada kamu karena utusan manusia yang paling suka perdamaian, manusia yang paling berbakti, sebaik-baik manusia, maka janganlah engkau membinasakan dirimu, aku telah meminta jaminan keamanan bagimu!" Ikrimah berkata: "Apakah engkau benar-benar telah melakukannya?" "Benar" jawab Ummu Hakim. Kemudian, beliau menceritakan kepada suaminya tentang akidah yang telah memenuhi kalbunya dan telah beliau rasakan manisnya dan bahwa beliau belum masuk Islam kecuali setelah beliau mengetahui bahwa ternyata Islam adalah agama yang sempurna dan bahwa Islam itu tinggi, tiada yang lebih tinggi darinya. Beliau ceritakan pula tentang pribadi Rasul yang mulia dan bagaimana pula beliau memasuki Mekah dengan menghancurkan berhala-berhala di dalamnya, serta pemberian maaf beliau kepada manusia dengan jiwa yang besar, dan jiwa beliau terbuka bagi setiap manusia untuk memaafkan.

Inilah kemenangan bagi Ummu Hakim ra yang telah menabur benih yang baik pada jiwa suaminya hingga selanjutnya beliau kembali bersama suaminya untuk menghadap Rasulullah saw dan Ikrimah mengumumkan keislamannya di hadapan Rasulullah, dan beliau memulai lembaran barunya dengan Islam yang hampir saja dia terdampar dalam kegelapan Jahiliyah dan paganisme. Maka, Rasulullah saw membuka kedua tangannya untuk menyambut kembalinya seorang pemuda secara total yang hendak menunjukkan loyalitasnya kepada Allah dan Rasulnya.

Selanjutnya, Ikrimah ra senantiasa meneguk dari sumber akidah Islamiyah hingga memancarlah pada jiwanya keimanan yang tulus dan kecintaan yang murni serta mendorong beliau terjun ke dalam kancah peperangan, sedangkan di belakangnya adalah pengikutnya yang masing-masing mampu memanggul senjata.

Di dalam kancah pertempuran beliau membai'at kepada sahabat-sahabatnya untuk mati di jalan Allah Azza wa Jalla, dia tulus untuk mencari syahid sehingga Allah mengabulkannya, beliau berhasil meraih indahnya syahid di jalan Allah. Akan tetapi, Ummu Hakim sebagai wanita mukminah sedikit pun tidak bersedih hati, beliau tetap sabar meskipun saudara, ayah, dan bahkan suaminya telah syahid di medan perang. Sebab, bagaimana mungkin beliau bersedih hati padahal beliau berangan-angan agar dirinya dapat meraih syahid sebagaimana yang telah berhasil mereka raih? Dan syahid adalah angan-angan dan cita-cita tertinggi seorang mukmin yang shadiq.

Setelah berselang beberapa lama dari kesyahidan suaminya, yakni Ikrimah ra, beliau dilamar oleh seorang panglima kaum muslimin dari Umawiyah yang bernama Khalid bin Sa'id ra. Tatkala terjadi perang Marajush, Shufur Khalid hendak mengumpuli beliau, namun Ummu Hakim menjawab, "Seandainya saja engkau menundanya hingga Allah menghancurkan pasukan musuh." Khalid berkata: "Sesungguhnya saya merasa bahwa saya akan terbunuh." Ummu Hakim berkata: "Jika demikian, silahkan." Maka Khalid melakukan malam pengantin dengan Ummu Hakim di atas jembatan yang pada kemudian hari dikenal dengan jembatan Ummu Hakim.

Pada pagi harinya mereka mengadakan walimah untuk pengantin. Belum lagi mereka selesai makan. Pasukan Romawi menyerang mereka, hingga sang pengantin laki-laki yang juga sebagai panglima perang terjun ke jantung pertempuran. Ia berperang hingga syahid. Maka Ummu Hakim mengencangkan baju yang beliau kenakan kemudian berdiri untuk memukul pasukan Romawi dengan tiang kemah yang dijadikan walimatul urs dan bahkan beliau mampu membunuh tujuh orang di antara musuh-musuh Allah.

Alangkah indahnya malam pertamanya dan alangkah indahnya waktu paginya. Begitulah, para wanita mukminah mujahidah dan yang bersabar merayakan malam pertamanya di medan perang kemudian pagi harinya berjihad dan berperang.
Hal ini tidaklah mengherankan karena ternyata Ummu Hakim adalah putri dari saudara wanitanya "saifullah al-maslul" (pedang Allah yang terhunus), seorang panglima yang pemberani yaitu Khalid bin Walid ra.

Semoga Allah merahmati Ummu Hakim, seorang wanita mukminah shadiqah, pencetak para pahlawan, setia dan tulus mengentaskan suaminya dari kesesatan dan kekafiran menuju cahaya Islam. Beliau juga berperang dengan jiwanya memerangi musuh-musuh Allah Subhanahu wa Ta'ala, semoga Allah membalas pengorbanannya terhadap diennya dengan balasan yang baik dan semoga Allah mejadikan putri-putri kita, saudari-saudari kita, dan istri-istri kita termasuk orang-orang yang mendengarkan perkataan kemudian mengikuti yang terbaik.

Asy-Syifa' binti al-Harits (Guru Wanita Pertama dalam Islam)
11/29/2002

Beliau adalah asy-Syifa' binti Abdullah bin Abdi Syams bin Khalaf bin Sadad bin Abdullah bin Qirath bin Razah bin Adi bin Ka'ab al-Qurasyiyyah al-Adawiyah.

Asy-Syifa' ra masuk Islam sebelum hijrahnya Nabi saw dan beliau termasuk muhajirin angkatan pertama dan termasuk wanita yang berba'iat kepada Rasulullah saw. Beliaulah yang disebutkan dalam firman Allah SWT:
"Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia bahwa mereka tidak akan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Mumtahanah: 12)

Asy-Syifa' termasuk wanita yang cerdas dan utama, beliau seorang ulama di antara ulama dalam Islam dan tanah yang subur bagi ilmu dan iman.

Asy-Syifa' ra menikah dengan Abu Hatsmah bin Hudzaifah bin Adi dan Allah mengaruniakan seorang anak kepada beliau yang bernama Sulaiman bin Abi Hatsmah. Asy-Syifa' dikenal sebagai guru dalam membaca dan menulis sebelum datangnya Islam, sehingga tatkala beliau masuk Islam beliau tetap memberikan pengajaran kepada wanita-wanita muslimah dengan mengharapkan ganjaran dan pahala. Oleh karena itulah, beliau disebut sebagai 'guru wanita pertama dalam Islam'. Di antara wanita yang dididik oleh asy-Syifa' adalah Hafshah binti Umar bin Khatthab ra istri Rasulullah saw .

Telah diriwayatkan dalam sebuah hadis bahwa Rasulullah saw meminta kepada asy-Syifa' untuk mengajarkan kepada Hafshah ra tentang menulis dan sebagian Ruqyah (pengobatan dengan doa-doa). Asy-Syifa' berkata, "Suatu ketika Rasulullah saw masuk sedangkan saya berada di samping Hafshah, beliau bersabda: 'Mengapa tidak engkau ajarkan kepadanya ruqyah sebagaimana engkau ajarkan kepadanya menulis'." (HR Abu Daud).

Sebagaimana telah dimaklumi bahwa asy-Syifa' adalah ahli ruqyah di masa Jahiliyah, maka tatkala beliau masuk Islam dan berhijrah beliau berkata kepada Rasulullah saw, "Aku adalah ahli ruqyah di masa Jahliliyah dan aku ingin memperlihatkannya kepada Anda." Lalu Nabi saw bersabda, "Perlihatkanlah kepadaku." Asy-Syifa' berkata, "Maka, aku perlihatkan cara meruqyah kepada beliau yakni meruqyah penyakit bisul." Kemudian, Rasulullah saw bersabda, "Meruqyalah dengan cara tersebut dan ajarkanlah hal itu kepada Hafshah."

Di antara yang termasuk ruqyah adalah do'a:
"Ya Allah Tuhan manusia, Yang Maha menghilangkan penyakit, sembuhkanlah, karena Engkau Maha Penyembuh, tiada yang dapat menyembuhkan selain Engkau, sembuh yang tidak terjangkiti penyakit lagi." (HR Abu Daud).

Inilah, asy-Syifa' telah mendapatkan bimbingan yangn banyak dari Rasulullah saw . Sungguh asy-Syifa' sangat mencintai Rasulullah saw sebagaimana kaum mukminin dan mukminat yang lain, beliau belajar dari hadis-hadis Rasulullah saw yang banyak tentang urusan dien (agama) dan dunia. Beliau juga turut menyebarkan Islam dan memberikan nasihat kepada umat dan tidak kenal lelah untuk menjelaskan kesalahan-kesalahan. Di antara yang meriwayatkan hadis dari beliau adalah putranya yaitu Sulaiman dan cucu-cucunya, hamba sahayanya yaitu Ishak dan Hafshah Ummul Mukminin serta yang lain-lain.

Umar bin Khatthab sangat mendahulukan pendapat beliau, menjaganya dan mengutamakannya dan terkadang beliau mempercayakan kepadanya dalam urusan pasar.

Begitu pula sebaliknya, asy-syifa' juga menghormarti Umar, beliau memandangnya sebagai seorang muslim yang shadiq (jujur), memiliki suri teladan yang baik dan memperbaiki, bertakwa dan berbuat adil. Suatu ketika asy-Syifa' melihat ada rombongan pemuda yang sedang berjalan lamban dan berbicara dengan suara lirih, beliau bertanya, "Apa ini?" Mereka menjawab, "Itu adalah ahli ibadah." Beliau berkata: "Demi Allah, Umar adalah orang yang apabila berbicara suaranya terdengar jelas, bila berjalan melangkah dengan cepat, dan bila memukul mematikan."

Asy-Syifa' menjalani sisa-sisa hidupnya setelah wafatnya Rasulullah saw dengan menghormati dan menghargai pemerintahan Islam hingga beliau wafat pada tahun 20 Hijriyah.

Semoga Allah merahmati asy-syifa' binti Abdullah, sungguh beliau telah mendahului umatnya dengan segala macam kebaikan dengan ilmu dan dien yang telah dikaruniakan kepada beliau agar beliau menjadi uswah hasanah (panutan yang baik) bagi setiap gadis di dalam Islam, sehingga beliau tidak kikir untuk mencurahkan segala yang dimilikinya, baik ilmu ataupun yang lainnya demi membela akidahnya dan mengharap ridha Allah SWT.

Ummu Sulaim binti Malhan
11/23/2002

Beliau bernama Rumaisha' Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin Adi bin Naja al-Anshaiyah al-Khazrajiyah.

Beliau adalah seorang wanita yang memiliki sifat keibuan dan cantik, dihiasi pula dirinya dengan ketabahan, kebijaksanaan, lurus pemikirannya, dan dihiasi pula dengan kecerdasan berpikir dan kefasihan serta berakhlak mulia, sehingga nantinya cerita yang baik ditujukan kepada beliau dan setiap lisan memuji atasnya. Karena, beliau memiliki sifat yang agung tersebut sehingga mendorong putra pamannya yang bernama malik bin Nadhar untuk segera menikahinya yang akhirnya melahirkan Anas bin Malik.

Tatkala cahaya nubuwwah mulai terbit dan dakwah tauhid mulai muncul, orang-orang yang berakal sehat dan memiliki fitrah yang lurus untuk bersegera masuk Islam. Ummu Sulaim termasuk golongan petama yang masuk Islam awal-awal dari golongan Anshar. Beliau tidak mempedulikan segala kemungkinan yang akan menimpanya di dalam masyarakat jahiliyah penyembah behala yang beliau buang tanpa ragu.

Adapun kalangan petama yang harus beliau hadapi adalah kemarahan Malik, suaminya, yang barru saja pulang dari bepergian dan mendapati istrinya telah masuk Islam. Malik berkata dengan kemarahan yang memuncak, "Apakah engkau murtad dari agamamu?" Maka dengan penuh yakin dan tegar beliau menjawab, "Tidak, bahkan aku telah beriman."

"Demi Allah, orang seperti anda tidak pantas untuk ditolak, hanya saja engkau adalah orang kafir sedangkan aku adalah seorang muslimah sehingga tidak halal untuk menikah denganmu. Jika kamu mau masuk Islam, maka itulah mahar bagiku dan kau tidak meminta yang selain dari itu." (Lihat an-Nasa'i VI/144).

Sungguh ungkapan tesebut mampu menyentuh perasaan yang paling dalam dan mengisi hati Abu Thalhah, sungguh Ummu Sulaim telah bercokol di hatinya secara sempurrna, dia bukanlah seorang wanita yang suka bermain-main dan takluk dengan rayuan-rayuan kemewahan, sesungguhnya dia adalah wanita cedas, dan apakah dia akan mendapatkan yang lebih baik darrinya untuk dipeisti, atau ibu bagi anak-anaknya?"

Tanpa terasa lisan Abu Thahah mengulang-ulang, "Aku berada di atas apa yang kamu yakini, aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang hak kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah."

Ummu Sulaim lalu menoleh kepada putranya Anas dan beliau berkata dengan suka cita karena hidayah Allah yang diberikan kepada Abu Thalhah melalui tangannya, "Wahai Anas nikahkanlah aku dengan Abu Thalhah." Kemudian beliau pun dinikahkan Islam sebagai mahar. Oleh karena itu, Tsabit meiwayatkan hadis darri Anas:

"Aku belum penah mendengarr seorang wanita yang paling mulia dari Ummu Sulaim karena maharnya adalah Islam." (Sunan Nasa'i VI/114).

Ummu Sulaim hidup bersama Abu Thahah dengan kehidupan suami istri yang diisi dengan nilai-nilai Islam yang menaungi bagi kehidupan suami istri, dengan kehidupan yang tenang dan penuh kebahagiaan.

Ummu Sulaim adalah profil seorang istri yang menunaikan hak-hak suami istri dengan sebaik-baiknya, sebagaimana juga contoh terbaik sebagai seorang ibu, seorang pendidik yang utama dan orang da'iyah.

Begitulah Abu Thalhah mulai memasuki madrasah imaniyah melalui istrinya yang utama, yakni Ummu Sulaim. sehingga, pada gilirannya beliau minum dari mata air nubuwwah hingga menjadi setara dalam hal kemuliaan dengan Ummu Sulaim.

Marilah kita dengarkan penuturan Anas bin malik yang menceitakan kepada kita bagaimana pelakuan Abu Thalhah terhadap kitabullah dan komitmenya tehadap Alquran sebagai landasan dan kepribadian. Anas bin Malik berkata:

"Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempuna), sebelu kamu menafkahkan sebagian hata yang kamu cintai." (Ali Imran: 92).

Seketika Abu Thalhah bediri menghadap Rasulullah saw dan berkata, "Sesungguhnya Allah telah berfiman di dalam kitabnya (yang artinya), "Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai." Dan sesungguhnya harta yang paling aku sukai adalah kebunku, untuk itu aku sedekahkan ia untuk Allah degan harapan mendapatkan kebaikan dan simpanan di sisi Allah, maka pergunakanlah sesukamu ya Rasulullah."

"Bagus... bagus... itulah harta yang menguntungkan... itulah harta yang mnguntungkan.... Aku telah mendengar apa yang kamu katakan dan aku memutuskan agar engkau sedekahkan kepada kerabat-kerabatmu."

Maka Abu Thalhah membagi-bagikannya kepada anak kerabatnya dan Bani dari pamanya."

Allah memuliakan kedua orang suami istri ini dengan seorang anak laki-laki sehingga keduanya sangat bergembira dan anak tersebut menjadi penyejuk pandangan bagi keduanya dengan pergaulannya dan dengan tingkah lakunya. Anak tersebut diberi nama Abu Umair. Suatu ketika anak tersebut bemain-main dengan seekor burung lalu burung tersebut mati. Hal itu menjadikan anak tersebut bersedih dan menangis. Pada saat itu Rasulullah saw melewati dirinya maka beliau berkata kepada anak tesebut untuk meghibur dan bermain dengannya, "Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan oleh anak burung pipit itu?" (Al-Bukhari VII/109).

Allah berkehendak untuk menguji keduanya denga seorang anak yang cakap dan dicintai. Suatu ketika Abu umair sakit sehingga kedua orang tuanya disibukkan olehnya. Sudah menjadi kebiasaan bagi ayahya apabila kembali dari pasar, petama kali yang dia kerjakan setelah mengucapkan salam adalah bertanya tentang kesehatan anaknya, dan beliau belum merasa tenag sebelum melihat anaknya.

Suatu ketika Abu Thalhah keluar ke masjid dan bersamaan dengan itu anaknya meninggal. Maka Ibu mukminah yang sabar ini menghadapi musibah tersebut dengan jiwa yang ridha dan baik. Sang ibu membaringkannya di temp[at tidur sambil senantiasa mengulangi, "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." Beliau berpesan kepada anggota keluarganya, "Janganlah kalian menceritakan kepada Abu Thalhah hingga aku sendiri yang menceritakan kepadanya."
Ketika Abu Thalhah kembali, Ummu Sulaim mengusap air mata kasih sayangnya, kemudian dengan semangat menyambut suaminya dan menjawab seperti biasanya, "Apa yang dilakukan oleh anakku?" Beliau menjawab, "Dia dalam keadaan tenang."

Anu Thalhah mengira bahwa anaknya sudah dalam keadaan sehat, sehingga Abu Thalhah bergembira dengan ketenangan dan kesehatannya, dan dia tidak mau mendekat karena kahawatir mengganggu ketenangannya. Kemudian Ummu Sulim mendekati beliau dan memperssiapkan makan malam baginya, lalu beliau makan dan minum, sementara Ummu Sulaim bersolek dengan dandanan yang lebih cantik daripada hari-hari sebelumnya, beliau mengenakan baju yang paling bagus, berdandan dan memakai wangi-wangian, kemudian keduanya pun berbuat sebagaimana layaknya suami istri.

Tatkala Ummu Sulaim melihat bahwa suaminya sudah kenyang dan telah mencampurinya serta merasa tenang terhadap keadaan anaknya, maka beliau memuji Allah karena abeliau tidak membuat risau suaminya dana beliau bioarkan suaminya terlelap dalam tidurnya.

Tatkala di akhir malam beliau berkata kepada suaminya, "Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu seandainya ada suatu kaum menitipkan barangnya kepada suatu keluarga kemudian suatu ketika mereka mengambil titipan tersebut, maka bolehkah bagi keluarga tersebut menolaknya?" Abu Thalhah menjawab, "Tentu saja tidak boleh." Kemudian Ummu Sulim berkata lagi, "Bagaimana pendapatmu jika keluarga tersebut berkeberatan tatkala titipannya diambil setelah dia sudah dapat memanfaatkannya?" Abu Thalhah berkata, "Berarti mereka tidak adil." Ummu Sulaim berkata, "Sesungguhnya anakmu adalah titipan dari Allah dan Allah telah mengambil, maka tabahkanlah hatimua dengan meninggalnya anakmu."

Abu Thalhah tidak kuasa menahan amarahnya, maka beliau berkata dengan marah, "Kau biarkan aku dalam keadaan seperti ini baru kamu kabari tentang anakku?"

Beliau mengulangi kata-kata tersebut hingga beliau mengucapkan kalimat istirja' (inna lillahi wa inna ilaihi raji'un) lalu bertahmid kepada Allah sehingga berangsur-angsur jiwanya menjadi tenang.

Keesokan harinya beliau pergi menghadap Rasullah saw dan mengabarkan kepadanya tentang apa yang telah terjadi, kemudian Rasulullah saw bersabda, "Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua."

Mulai hari itulah Ummu Sulaim mengandung seorang anak yang akhirnya diberi nama Abdullah. Tatkala Ummu Sulaim melahirkan, beliau utus Anas bin Malik untuk membawanya kepada Rasulullah saw, selanjutnya Anas berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Ummu Sulaim telah melahirkan tadi malam." Maka Rasulullah saw mengunyah kurma dan mentahnik bayi tersebut (yakni menggosokkan kurma yang telah dikunyah ke langit-langit mulut si bayi). Anas berkata, "Berikanlah nama bayi ya Rasulullah!" beliau bersabda, "Namanya Abdullah."

Ubadah, salah seorang rijal sanad berkata, "Aku melihat dia memiliki tujuh orang anak yang kesemuanya hafal Alquran."

Di antara kejadian yang mengesankan pada diri wanita yang utama dan juga suaminya yang mukmin adalah bahwa Allah menurunkan ayat tentang mereka aberdua yang manusia dapat beribadah dengan membacanya. Abu Hurairah berkata, "Telah datang seorang laki-laki kepada Rasullah saw dan berkata, 'Sesungguhnya aku dalam keadaan lapar'. Maka Rasulullah saw menanyakan kepada salah satu istrinya tentang makanan yang ada di rumahnya, namun beiau menjawab, 'Demi yang mengutusmu dengan haq, aku tidak memiliki apa-apa kecuali hanya air, kemudian beliau bertanya kepada istri yang lain, namun jawabannya sama. Seluruhnya menjawab dengan jawaban yang sama. Kemudian Rasulullah saw bersabda, 'Siapakah yang akan menjamu tamu ini, semoga Allah merahmatinya'. Maka berdirilah seorang Anshar yang namanya Abu Thalhah seraya berkata, 'Saya, ya Rasulullah'. Maka dia pergi bersama tamu tadi menuju rumahnya kemudian sahabat Anshar tersebut bertanya kepada istrinya (Ummu Sulaim), "Apakah kamu memiliki makanan?" Istrinya menjawab, 'Tidak punya melainkan makanan untuk anak-anak'. Abu Thalhah berkata, ' Berikanlah minuman kepada mereka dan tidurkanlah mereka. Nanti apabila tamu saya masuk, maka akan saya perlihatkan bahwa saya ikut makan, apabila makanan sudah aberada di tangan, maka berdirilah dan matikanlah lampu'. Hal itu dilakukan oleh Ummu Sulaim. Mereka duduk-duduk dan tamu makan hidangan tersebut, sementara kedua istri tersebut bermalam dalam keadaan tidak makan. Keesokan harinya keduanya datang kepada Rasulullah saw lalu Rasulullah saw bersabda, 'Sungguh Allah takjub (atau tertawa) terhadap fulan dan fulanah'."

Dalam riwayat lain Rasulullah bersabda, "Sungguh Allah takjub terhadap apa yang kalian berdua lakukan terhadap tamu kalian."

Di akhir hadis disebutkan, maka turunlah ayat:
"Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)." (Al-Hasyr: 9).

Abu Thalhah tak kuasa menahan rasa gembiranya, maka beliau bersegera memberikan kabar gembira itu kepada istrinya sehingga sejuklah pandangan matanya karena Allah menurunkan ayat tentang mereka dlam Alquran yang senantiasa dibaca. Selain berdakwah di lingkungannya, Ummu Sulaim juga turut andil dalam berjihad bersama pasukan kaum muslimin.

Anas ra berkata, "Rasulullah saw berperang bersama Ummu Sulaim dan para wanita dari kalangan Anshar, apabila berperang, para wanita tersebut memberikan minum kepada mujahidin dan mengobati yang luka."

Begitulah, Ummu Sulaim memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Rasulullah saw, beliau tidak pernah masuk rumah selain rumah Ummu Sulaim, bahkan Rasulullah telah memberi kabar gembira bahwa beliau trmasuk ahli jannah. Beliau bersabda, "Aku masuk jannah, tiba-tiba aku mendengar sebuah suara, maka aku bertanya, 'Siapa itu?' Mereka berkata, 'Dia adalah Rumaisha' binti Malhan, ibu dari Anas bin Malik."

Selamat untukmu, wahai Ummu Sulaim, karena Anda memang layak mendapat bintang

Rubai binti Ma'udz
11/16/2002

Beliau adalah Ruba'i bi Ma'udz bin al-Haris bin Fifa'ah bin al-Haris bin Sawad bin Malik bin Ghanam bin Malik al-Anshariyah an-Najariyah. Ibu beliau Ummu Yazid binti Qais bin Za'wa' bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin Adi bin an-Najar.

Ruba'i ra termasuk angkatan pertama yang masuk Islam, sungguh nampak ketulusan imannya dan kokohnya keyakinannya tatkala beliau berbai'at kepada Rasulullah saw di bawah sebuah pohon, itulah bai'at yang diberi nama dengan baitur ridhwan. Sehingga, beliau termasuk orang yang sukses mendapatkan keridhaan dari Allah sebagaimana yang difirmankan Allah, "Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bahwah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). Serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Al-Fath: 18 -- 19).

Rubai binti Ma'udz termasuk sahabiyat agung yang dibina oleh Islam dan kemudian turut andil dalam kehidupan Islamiyah dan mereka terjun dalam membina masyarakat Islam yang agung. Beliau turut berperang di jalan Allah dengan menjaga batas-batas yang telah disyariatkan oleh Islam. Beliau berbaiat kepada Rasulullah saw dan meriwayatkan hadis dari beliau dan adalah beliau seorang wanita yang pandai tentang urusan diennya.

Kaum muslimin mengakui kemampuan beliau, bahkan para sahabat senior bertanya kepada beliau dalam perkara dien, dan beliau telah menggambarkan tentang sifat Rasulullah saw sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Ubaidah bin Muhammad bin Ammar bin Yasir bertanaya kepada Rubai, "Gambarkanlah sifat Rasulullah saw kepadaku!" Beliau menjawab, "Wahai anakku, seandainya engkau melihatnya maka seolah-olah engkau melihat matahari terbit." (Al-Ishabah VIII/267, ath-Thabaqat VIII/279, dan sh-Shaum II/248).

Beliau juga yang telah meriwayatkan tentang sifat wudhu Nabi saw sebagaiamana yang dikeluarkan oleh Abu Dawud di dalam Sunannya dari Rubai berkata:
"Adalah Rasulullah saw mendatangi kami dan berbincang-bincang dengan kami dan beliau bersabda, "Tuangkanlah air agar aku berwudhu dengannya." Kemudian Rubai menyebutnya wudhu Rasulullah saw, beliau berkata, "Maka beliau mencuci kedua telapak tangannya tiga akali...." (Al-Ishabah dalam Tamyizish Shahabah VIII/80).

Diriwayatkan pula oleh beliau yang berkata, " Suatu ketika Rasulullah saw mendatangiku tatkala aku menjadi pengantin, beliau masuk ke dalam rumahku dan duduk di tempat tidurku sedangkan beberapa wanita yang masih kecil menabuh rebana dan menyanjung orang tua mereka yang telah syahid dalam perang Badar. Tatkala di antara mereka ada yang bersenandung:

'Di tengah-tengah kita ada Nabi yang mengetahui apa yang terjadi besok'.

Maka Rasulullah saw bersabda kepadanya, 'Biarkanlah dia dan ucapkanlah apa yang telah diucapkannya tadi'." (Abu Dawud I/90 dan al-Ishabah VIII/79).

Rubai menikah dengan Iyas bin Bakir dari Bani Laits, dan darinyalah beliau melahirkan seorang anak yang bernama Muhammad Iyas. Suatu ketika terjadi dialog antara beliau dengan suaminya karena beliau menyadari bahwa sulit untuk hidup berdampingan dengan suaminya sehingga beliau berkata, "Engkau memiliki seluruh apa yang aku miliki maka ceraikanlah aku." Iyas menjawab, "Sudah aaku cerai kamu."

Rubai melanjutkan, "Maka aku kembalikan seluruh barang yang menjadi miliknya selain baju besiku, namun ia menggugatkan dalam hal itu di hadapan Utsman, beliau berkata, "Itu adalah termasuk syarat!" maka aku kembalikan barang tersebut kepadanya."

Adapun peran serta beliau dalam berjihad bersama kaum muslimin tidak perlu diragukan lagi. Rubai berperang bersama kaum muslimin. Beliau bertugas menyiapkan minuman bagi pasukan dan membantu mereka serta membawa orang yang terbunuh maupun terluka ke Madinah. Beliau melengkapi kepahlawanan para pasukan Islam di medan tempur dengan seluruh apa-apa yang menyebabkan timbulnya kekuatan pada diri mereka, baik berupa motivasi, bekal, dan lain-lain. Apabila beliau telah mencukupi urusan mereka, beliau naik kuda beliau lalu menyerang musuh-musuh Allah dengan anak panah yang beliau arahkan ke leher mereka dan beliau berusaha melawan tipu daya mereka. (Al-Ishabah VIII/80 dan ath-Thabaqat VIII/447).

Akhirnya beliau ra wafat pada masa kekhalifahan Mu'awiyah tahun 45 Hijriah setelah mengukir sejarah hidupnya sebagai teladan bagi wanita muslimah dalam hal berbuat baik, bertakwa, berilmu, dan berjihad di jalan Allah

Khaulah binti Tsa'labah
11/08/2002

Beliu adalah Khaulah binti Tsa'labah bin Ashram bin Fahar bin Tsalabah Ghanam bin Auf. Beliau tumbuh sebagai wanita yang fasih dan pandai. Beliaua dinikahi oleh Aus bin Shamit bin Qais saudara darri Ubadah bin Shamit ra yang beliau menyertai Perang Badar dan Perang Uhud dan mengikuti seluruh peperangan yang disertai Rasulullah saw. Dengan Aus inilah beliau melahirkan anak laki-laki yang benama Rabi'.

Khaulah binti Tsa'labah mendapati suaminya, Aus bin Shamit, dalam suatu masalah yang membuat Aus marah. Dia berkata, "Bagiku engkau ini seperti punggung bibiku." Kemudian Aus keluar setelah mengatakan kalimat tesebut dan duduk-duduk bersama orang-orang beberapa lama, lalu dia masuk dan menginginkan Khaulah. Akan tetapi, kesadaran hati dan kehalusan perasaan Khaulah membuatnya menolak hingga jelas hukum Allah tehadap kejadian yang bau petama kali terjadi dalam sejarah Islam. Khaulah berkata, "Tidak... jangan! Demi yang jiwa Khaulah berada di tangan-Nya, engkau tidak boleh menjamahku kaena engkau telah mengatakan sesuatu yang telah engkau ucapkan tehadapku sehingga Allah dan Rasul-Nya memutuskan hukum tentag peristiwa yang menimpa kita."

Kemudian Khaulah keluar menemui Rasulullah saw, kemudian dia duduk di hadapan beliau dan menceitakan peristiwa yang menimpa diiya dengan suaminya. Keperluannya adalah untukmeminta fatwa dan bedialog dengan Nabi tentang urusan tesebut. Rasulullah saw besabda, "Kami belum penah mendapatkan perintah bekenaan urusanmu tersebut... aku tidak melihat melainkan engkau sudah haram baginya."

Wanita mukminah ini mengulangi perrkataannya dan menjelaskan kepada Rasululah saw apa yang menimpa diinya dan anaknya jika dia harus cerai dengan istrrinya, namun Rasulullah tetapmenjawab, "Aku tidak melihat melainkan engkau telah haram baginya."

Sesudah itu wanita mukminah ini senantiasa mengangkat kedua tangannya ke langit sedangkan di hatinya tersimpan kesedihan dan kesusahan. Pada kedua matanya nampak meneteskan air mata dan semacam ada penyesalan, maka beliau menghadap kepada Yang tiada akan ugi siapa pun yang bedo'a kepada-Nya. Beliau berdo'a, "Ya Allah, sesungguhnya aku mengadu kepada-Mu tentang peristiwa yang menimpa diiku."

Alangkah bagusnya seorang wanita muslimah semacam Khaulah, beliau berdiri di hadapan Rasulullah saw dan berdialog untuk meminta fatwa, adapun istighatsah dan mengadu tidak ditujukan meainkan untuk Allah Ta'ala. Ini adalah bukti kejenihan iman dan tauhidnya yang telah dipelajari oleh para sahabat kepada Rasulullah saw.

Tiada henti-hentinya wanita ini bedoa hingga suatu ketika Rasulullah saw pingsan sebagaimana biasanya beliau pingsan tatkala meneima wahyu. Kemudian setelah Rasulullah saw sadar kembali, beliau bersabda, "Wahai Khaulah, sungguh Allah telah menuunkan Alquran tentang dirimu dan suamimu," kemudian beliau membaca, "Sesungguhnya Allah telah mndengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat, sampai fiman Allah: "dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang pedih." (Al-Mujadalah: 1 -- 4).

Kemudian Rasulullah saw menjelaskan kepada Khaulah tentang kafarah dhihar:

Nabi: Peintahkan kepadanya (suami Khansa') untuk memedekaka seorang budak.
Khaulah: Ya Rasulullah, dia tidak memiliki seorang budak yang bisa dia merdekakan.
Nabi: Jika demikian, perintahkan kepadanya untuk shaum dua bulan beturut-turut.
Khaulah: Demi Allah, dia adalah laki-laki yang tidak kuat melakukan shaum.
Nabi: Peintahkan kepadanya membei makan dai kurma sebanyak 60 orang miskin.
Khaulah: Demi Allah, ya Rasululah, dia tidak memilikinya.
Nabi: Aku bantu dengan sepauhnya.
Khaulah: Aku bantu sepauhnya yang lain, wahai Rasulullah.
Nabi: Engkau benar dan baik, maka pegilah dan sedekahkanlah kurma itu sebagi kafarat baginya, kemudian begaullah dengan anak perempuan itu secara baik. "Maka Khaulah pun melaksanakannya."

Inilah kisah seoang wanita yang mengajukan gugatan kepada pemimpin anak adam yang mengandung banyak pelajaran di dalamnya dan banyak hal yang menjadikan seorang wanita mengangkat kepalanya tinggi-tinggi dengan bangga dan perasaan mulia dan besar perhatian Islam terhadapnya.

Ummul mukminin Aisyah ra berkata tentang hal ini, "Segala puji bagi Allah yang Maha luas pendengaran-Nya terhadap semua suara, telah datang seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada Rasulullah saw dia bebincang-bincang dengan Rasulullah saw, sementara aku berada di samping rumah dan tidakmendenga apa yang dia katakan, maka kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat yang artinya, "Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya dan mengadukan (halnya) kepada Allah...." (Al-Mujadalah: 1).

Inilah wanita mukminah yang dididik oleh Islam yang menghentikan Khalifah Umar bin Khaththab ra saat berjalan untuk memberikan wejangan dan nasihat kepadanya. Beliau berkata, "Wahai umar, aku telah mengenalmu sejak namamu dahulu masih Umair (Umar kecil) tetkala engkau berada di pasar Ukadz engkau mengembala kambing dengan tongkatmu, kemudian berlalulah waktu hingga engkau bernama umar, kemudian berlalu hari demi hari sehingga memiliki nama Amirul mukminin, maka betakwalah kepada Allah perihal rakyatmu, dan ketahuilah barangsiapa yang takut akan siksa Allah maka yang jauh akan menjadi dekat dengannya, dan barangsiapa yang takut mati maka dia aka takut kehilangan da barangsiapa yang yakin akan adanya hisab maka dia takut terhadap adzab Allah." Beliau katakan hal itu, sementara Umar Amirul Mukminin bediri sambil menundukkan kepalanya dan mendenga perkataannya.

Akan tetapi, al-Jarud al-Abdi yang menyetai Umar bin Khaththab tidak tahan mengatakan kepada Khaulah, 'Engkau telah berbicara banyak kepada Amirul Mukminin wahai wanita!" Umar kemudian menegunya, "Biarkan, dia... tahukah kamu siapakah dia? Beliau adalah Khaulah yang Allah mendengarkan pekatannya dari langit yang ke tujuh, maka Umar lebih behak untuk mendengarkan pekatannya."

Dalam riwayat lain Umar berkata, "Demi Allah , seandainya beliau tidak menyudahi nasihatnya kepadaku hingga malam hari, maka aku tidak akanmenyudahinya sehingga beliau selesaikan apa yang dia kehendaki, kecuali jika telah datang waktu salat, maka saya akanmengerjakan salat, kemudian kembali untuk mendengarkannya hingga selesai kepeluannya."

Ummu 'Imarah
11/01/2002

Ia adalah seorang wanita dari Bani Mazin an-Najar yang nama lengkapnya adalah Nusaibah binti Ka'ab bin Amru bin Auf bin Mabdzul al-Anshaiyah.

Beliau wanita yang bersegera masul Islam, salah seorang dari dua wanita yang bersama para utusan Anshar yang datang ke Mekah untuk melakukan bai'at kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Disamping memiliki sisi keuatmaan dan kebaikan, ia juga suka berjihad, pemberani, ksatia, dan tidak takut mati di jalan Allah.

Nusaibah ra ikut pegi berperang dalam Perang Uhud besama suaminya (Ghaziyah bin Amru) dan bersama kedua anaknya dari suami yang prtama (Zaid bin Ashim bin Amru), kedua anaknya bernama Abdullah dan Hubaib. Di siang harri beliau membeikan minuman kepada yang terluka, namun tatkala kaum muslimin porang-poranda beliau segera mendekati Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan membawa pedang (untuk menjaga keselamatan Rasulullah) dan menyerang musuh dengan anak panah. Beliau beperang dengan dahsyat. Beliau menggunakan ikat pinggang pada peutnya hingga teluka sebanyak tiga belas tempat. Yang paling parah adalah luka pada pundaknya yang tekena senjara dai musuh Allah yang bernama Ibnu Qami'ah yang akhirnya luka tersebut diobati selama satu tahun penuh hingga sembuh.

Nusaimah ra sempat mengganggap ringan lukanyayang berbahaya ketika penyeu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berseru agar kaum muslimin menuju Hamraul Asad, maka Nusaibah mengikat lukanya dengan bajunya, akan tetapi tidak mampu untuk menghentikan cucuran daahnya.

Ummu Umarah menutukan kejadian Perang Uhud demikian kisahnya, "Aku melihat orang-oang sudah menjauhi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam hingga tinggal sekelompok kecil yang tidak sampai bilangan sepuluh orang. Saya, kedua anakku, dan suamiku berada di depan beliau untuk melindunginya, sementara orang-orang koca-kacir. Beliau melihatku tidak memiliki perisai, dan beliau melihat pula ada seorang laki-laki yang mundu sambil membawa perisai. Beliau besabda, 'Beikanlah peisaimu kepada yang sedang berperang!' Lantas ia melempakannya, kemudian saya mengambil dan saya pegunakan untuk melindungi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika itu yang menyerang kami adalah pasukan bekuda, seandainya mereka berrjalan kaki sebagaimana kami, maka dengan mudah dapat kami kalahkan insya Allah. Maka tatkala ada seorang laki-laki yang berkuda mendekat kemudian memukulku dan aku tangkis dengan pisaiku sehingga dia tidak bisa berbuat apa-apa degan pedangnya dan akhirnya dia hendak mundu, maka aku pukul urat kaki kudanya hingga jatuh teguling. Kemudian ketika itu Nabi berseu, 'Wahai putra Ummu imarah, bantulah ibumu... bantulah ibumu....' Selanjutnya putraku membantuku untuk mengalahkan musuh hingga aku berhasil membunuhnya." (Lihat Thabaqat Ibnu Sa'ad VIII/412).
Putra beliau yang bernama Abdullah bin Zaid bekata, "Aku teluka. Pada saat itu dengan luka yang parah dan darah tidak berhenti mengalir, maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Balutlah lukamu!' Sementara ketika itu Ummu Imarh sedang menghadapi musuh, tatkala mendenga seuan Nabi, ibu menghampiriku dengan membawa pembalut dari ikat pinggangnya. Lantas dibalutlah lukaku sedangkan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri, ketika itu ibu bekata kepadaku, 'Bangkitlah besamaku dan tejanglah musuh!'Hal itu membuat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Siapakah yang mampu berbuat dengan apa yang engkau pebuat ini wahai Ummu Imarah?'

Keudian datanglah orang yang tadi melukaiku, maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Inilah yang memukul anamu whai Ummu Imarah!" Ummu Imarah becerita, "Kemudian aku datangi orang tersebut kemudian aku pukul betisnya hingga roboh." Ummu Imarah melihat ketika itu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tersenyum karena apa yang telah diperbuat olehnya hingga kelihata gigi geraham beliau, beliau bersabda, "Engkau telah menghukumnya wahai Ummu Imarah."

Kemudian mereka pukul lagi dengan senjata hingga dia mati. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Segala puji bagi Allah yang telah memenangkanmu dan meyejukkan pandanganmu dengan kelelahan musuh-musuhmu dan dapat membalas musuhmu di depan matamu." (Lihat Thabaqat Ibnu Sa'ad VIII/413 -- 414).

Selain pada Perang Uhud, Ummu Imarah juga ikut pada dalam bai'atur ridwan bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam Perang Hudaibiyah, dengan demikian beliau ikut serta dalam Perang Hunain.

Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam wafat, ada bebeapa kabilah yang mutad dari Islam di bawah pimpinan Musailamah al-Kadzab, selanjutnya khalifah Abu Bakar ash-Shidiq mengambil keputusan untuk memerangi orang-orang yang murtad tesebut. Maka, bersegeralah Ummu Imarah mendatangi Abu Bakar dan meminta ijin kepada beliau untuk begabung bersama pasukan yang akan memerangi orang-orang yang mutad dai Islam. Abu Bakar ash-Shidiq bekata kepadanya, "Sungguh aku telah mengakui pranmu di dalam perang Islam, maka berangkatlah dengan nama Allah." Maka, beliau berangkat bersama putranya yang bernama Hubaib bin Zaid bin Ashim.

Di dalam perang ini, Ummu Imarah mendapatkan ujian yang berat. Pada perang tesebut putranya tertawan oleh Musailamah al-Kadzab dan ia disiksa dengan bebagai macam siksaan agarr mau mengakui kenabian Musailamah al-Kadzab. Akan tetapi, bagi putra Ummu imarah yang telah tebiasa dididik untuk besabar tatkala beperang dan telah dididik agar cinta kepada kematian syahid, ia tidak kenal kompomi sekalipun diancam. Tejadilah dialog antaraya dengan Musailamah:
Musailamah: Engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah?
Hubaib: Ya
Musailamah: Engkau besaksi bahwa aku adalah Rasulullah?
Hubaib: Aku tidak mendengar apa yang kamu katakan itu.
Kemudian Musailamah al-Kadzab memotong-motong tubuh Hubaib hingga tewas.

Suatu ketika Ummu Imarah ikut serta dalam perang Yamamah besama putranya yang lain, yaitu Abdullah. Beliau bertekad untuk dapat membunuh Musailamah dengan tangannya sebagai balasan bagi Musailamah yang telah membunuh Hubaib, akan tetapi takdir Allah menghendaki lain, yaitu bahwa yang mampu membunuh adalah putra beliau yang satunya, yaitu Abdullah. Ia membalas Musailamah yang telah membunuh saudara kandungnya.

Tatkala membunuh Musailamah, Abdullah bekeja sama dengan Wahsyi bin Harb, tatkala ummu imarah mengetahui kematian si Thaghut al-Kadzab, maka beliau bersujud syukur kepada Allah.

Ummu Imarah pulang dari peperangan dengan membawa dua belas luka pada tubuhnya setelah kehilangan satu tangannya dan kehilangan anaknya yang terakhir, yaitu Abdullah.

Sungguh, kaum muslimin pada masanya mengetahui kedudukan beliau. Abu Bakar ash-Shidiq penah mendatangi beliau untuk menanyakan kondisinya dan menenangkan beliau. Khalid si pedang Islam membantu atas penghomatannya, dan seharusnyalah kaum muslimin di zaman kita juga mengetahui haknya pula. Beliau sungguh telah mengukir sejarahnya dengan tinta emas.

Ummu Mahjan
10/25/2002

Beliau seorang wanita berkulit hitam, dipanggil dengan nama Ummu Mahjan. Telah disebutkan di dalam ash-Shahih tanpa menyebutkan nama aslinya, beliau berdomisili di Madinah. (Ibnu Sa'ad dalam ath-Thabaqat VIII/414).

Beliau seorang wanita miskin yang memiliki tubuh yang lemah. Untuk itu, beliau tidak luput dari perhatian Rasulullah saw, sebab beliau senantiasa mengunjungi orang-orang miskin dan menanyai keadaan mereka dan memberi makanan kepada mereka, maka didakkah Anda tahu akan hal ini wahai para pemimpin rakyat?

Ummu Mahjan menyadari bahwa dirinya memiliki kewajiban terhadap akidahnya dan masyaakat Islam, lantas apa yang bisa dia laksanakan, padahal beliau adalah seoang wanita yang tua dan lemah. Akan tetapi, beliau sedikit pun tidak bimbang dan ragu, dan tidak menyisakan sedikit pun rasa putus asa dalam hatinya. Dan, memang putus asa adalah jaln yang tidak dikenal di hati oang-orang yang beriman.

Begitulah, keimanan beliau telah menunjukkan kepadanya untuk menunaikan tanggung jawabnya. Maka, beliau membersihkan kotoran dan dedaunan dari masjid dan beliau sapu lalu beliau buang ke tog sampah dan beliau menjaga kebesihan masjid, sebab masjid memiliki peran yang sangat urgen di dalam Islam. Di sanalah tempat berkumpulnya para pahlawa dan para ulama, dan masjid ibaat parlemen yang sebanyak lima kali sehari digunakan sebagai wahana untuk bermusyawarah, saling memahami, dan saling mencintai, sebagaimana pula masjid adalah universitas tabiyah amaliyah yang mendsar dalam membina umat.

Begitulah fungsi masjid pada zaman Rasulullah saw, demikian pulalah yang tejadi pada zama khulafa'u rasyidin dan demikian pulalah seharusnya peranan masjid hari ini hingga kiamat.

Untuk itulah Ummu Mahjan ra tidak kendor semangatnya, sebabpekejaan itulah meupakan taget yang dapat beliau kerjakan. Beliau tidak meremehkan pentingnya membesihkan koton untuk membuat suasana yang besih bagi Rasulullah saw dan paa sahabatnya dalam bemusyawarah yang senantiasa mereka kerjakan secara rutin.

Ummu Mahjan terus-menerus menekuni pekerjaan tesebut hingga wafat beliau pada zaman Rasulullah saw. Maka para sahabat membawa jenazah beliau setelah gelapnya malam dan mereka mendapatkan Rasulullah saw masih tidur sehingga mereka tidak ingin membangunkan beliau, maka mereka langsung menyolatkan dan menguburkannya di Baqi'ul Ghaqad.

Pada pagi harinya Rasulullah saw merasa kehilangan wanita itu, kemudian beliau tayakan kepada paa sahabat, mereka menjawab, "Beliau telah dikubur wahai Rasulullah, kami telah mendatangi anda dan kami dapatkan anda masih dalam keadaan tidaur, sehinga kami tidak ingin membangunkan anda." Maka beliau besabda, "Marilah kita pergi! Maka pergilah Rasulullah sedangkan para sahabat menyertai beliau sehingga mereka menunukkan kubur Ummu Mahjan. Maka bedirilah Rasulullah saw sementara para sahabat bedii beshaf-shaf di belakang beliau, lantas Rasulullah saw menyolatkannya danbetkbir empat kali.

Dari Abu Hurairah ra, bahwa ada seorang wanita yang bekulit hitam yang biasanya membersihkan masjid, suatu ketika Rasulullah saw kehilangn dia, maka beliau betanya tentangnya. Mereka telah bekata, "Dia telah wafat." Rasulullah saw bekata, "Mengapa kalian tidak memberitahukan hal itu kepadaku?" Abu Huairah berkata, "Seolah-olah mereka menganggap bahwa kematian Ummu Mahjan itu adalah hal yang sepele. Rasulullah saw bersabda, "Tunjukkanlah kepadaku di mana ubunya." Maka mereka menunjukkan kuburnya kepada Rasulullah saw, kemudian Rasulullah menyolatkannya, lalu besabda:

"Sesungguhnya kubur ini terisi dengan kegelapan atas penghuninya dan Allah meneranginya bagi mereka kaena aku telah menyolatkannya."

Semoga Allah merahmati Ummu Mahjan ra yang meskipun seorang yang miskin dan lemah, tetapi tuut bepean sesuai dengn kemampuannya. Beliau adalah pelajaran bagi kaum muslimin dalam peputaran sejarah bahwa tidak boleh mengaggap sepele suatu amal sekalipun kecil.

Oleh karena itu, ia mendapatkan perhatian dai Rasulullah saw hingga ia wafat. Sampai-sampai beliau menyalahkan para sahabatnya yang memberitahukan kematian Ummu Mahjan dengan terlambat. Tidak cukup dengan sikap menyalahkan para sahabatnya, beliau pun langsung menjenguk ke kuburnya untuk menyolatkannya agar Allah menerangi kubunya dengan salatnya. Dan, semoga beliau, Ummu Mahjan, mendapat ampunan dan rahmat dari Allah SWT.

Ummu Ruuman (Istri Abu Bakar as-Shiddiq dan Ibunda as-Shiddiqah/Aisyah)
10/18/2002

Beliau adalah putri dari Amir bin Uwaimar bin Abdi Syams bin Itab bin Adzinah bin Subai' bin Dahman bin Haris bin Ghanam bin Malik bin Kinanah.

Tentang nama asli beliau ada perbedaan pendapat, ada yang mengatakan bernama Zainab, dan ada pula yang mengatakan Da'ad.

Ummu Ruuman tumbuh di jazirah Arab di suatu daerah yang disebut "As-Saarah", beliau seorang wanita yang cantik, memiliki adab dan fasih lidahnya. Pada mulanya beliau dinikahi oleh seorang pemuda yang terpandang pada kaumnya yang bernama al-Haris bin Sakhirah al-Azdi, kemudian melahirkan seorang anak yang bernama Thufail.

Suami beliau ingin menetap tinggal di Mekah, maka dia melakukan perjalanan dengan beliau dan juga putranya menuju ke sana. Telah menjadi kebiasaan bangsa Arab bahwa al-Haris harus mengikuti perjanjian dengan salah satu orang yang terpandang yang akan melindungi dirinya, maka dia mengikat perjanjian dengan Abdullah bin Abi Quhafah (Abu Bakar as-Shiddiq) ra. Hal itu terjadi sebelum datangnya Islam.

Setelah berlalu beberapa lama, wafatlah al-Haris bin Sakhirah, maka tiada yang dilakukan oleh Abu Bakar melainkan melamar Ummu Ruuman sebagaimana yang menjadi kebiasaan ketika itu sebagai bukti memuliakan sahabatnya setelah kematiannya. Ummu Ruuman menerima lamaran Abu Bakar sebagai suami yang mulia yang mau menjaganya setelah wafatnya suaminya yang pertama.

Abu Bakar ra sebelumnya telah menikah dan telah memiliki anak bernama Abdullah dan Asma', kemudian pernikahannya dengan Ummu Ruuman melahirkan dua orang anak yang bernama Abdurrahman dan Aisyah Ummul Mukminin.

Ketika Nabi saw diutus, Abu Bakar ra adalah laki-laki pertama yang beriman kepada beliau dan kemudian berimanlah melalui perantaraan dakwahnya beberapa laki-laki, kemudian beliau juga mendakwahi istrinya Ummu Ruuman. Maka, berimanlah Ummu Ruuman bersama beliau, akan tetapi beliau meminta agar Ummu Ruuman merahasiakan urusan tersebut hingga datangnya keputusan dari Allah SWT tentang urusan tersebut.

Nabi saw sering mondar-mandir ke rumah Abu Bakar as-Shiddiq dari waktu ke waktu, maka Ummu Ruuman dapat menjumpainya dengan gembira dan senang hati. Beliau menjamunya dengan sebaik-baik jamuan dan menyediakan untuk beliau segala sarana istirahat dan bersenang-senang.

Begitulah, rumah Abu Bakar menjadi tempat tinggal yang mulia bagi Rasulullah saw dan rumah yang Islami dan baik. Adapun Ummu Ruuman ra adalah profil wanita salehai halihah yang berdiri di samping suaminya untuk meringankan penderitaan dan membantunya di saat-saat sulit dan rintangan keras yang menimpa kaum muslimin pada permulaan bahkan beliau secara maksimal membantu suaminya dan mendorong semangatnya, dan mendorong agar suaminya mencurahkan segenap kemampuannya di jalan dakwah Islam untuk memenangkan kebenaran dan berjuang demi memerdekakan kebanyakan kaum muslimin yang tertindas.

Dilihat dari sisi lain, beliau adalah sebaik-baik ibu yang penuh kasih dalam mendidik putra-putrinya. Beliau telah mendidik kedua putra-putrinya, yakni Abdurrahman dan Aisyah dengan didikan terbaik dan menjaga keduanya dengan sebaik-baiknya.

Tatkala Rasulullah saw datang untuk melamar Aisyah ra sebagai tanda ketaatan terhadap perintah Allah SWT, bergembiralah Ummu Ruuman dengan kebahagiaan yang tiada tara, karena mendapatkan hubungan mertua dan menantu yang mulia dan tidak ada kemuliaan yang lebih darinya.

Bersamaan dengan semakin kerasnya gangguan dari kaum musyrikin terhadap kaum muslimin dan memuncaknya kekejaman dan kezaliman mereka, Allah SWT mengijinkan kepada kaum muslimin untuk hijrah ke Madinah. Akhirnya, tinggallah Rasulullah saw beserta keluarganya dan sahabatnya, Abu Bakar, bersama keluarganya menunggu perintah dari Allah untuk berhijrah. Kemudian, datanglah perintah dan berhijrlah Nabi saw dengan ditemani oleh Abu Bakar ra. Sekarang yang masih tinggal di Mekah antara lain Ummu Ruuman yang memikul tanggung jawab yang besar dan menanggung kesombongan orang-orang jahiliyah, mereka mengancam dan menakut-nakuti. Asma' binti Abu Bakar berkata, "Tatkala Abu Jahal bin Hisyam keluar kemudian berdiri di depan pintu, maka aku keluar menemui mereka." Mereka berkata, "Di manakah bapakmu wahai anak Abu Bakar?" Aku (Asma') menjawab, "Aku tidak tahu di mana ayahku." Maka, Abu Jahal yang dikenal bengis dan kejam mengangkat tangannya, kemudian menampar pipiku hingga jatuhlah anting-antingku."

Ketika Rasulullah saw dan sahabatnya sampai di Madinah dan menetap di sana, beliau mengutus Zaid bin Haritsah bersama Abu Rafi' dan Abu Bakar mengutus Abdullah bin Uraiqath untuk menjemput keluarganya, kebetulan mereka berpapasan dengan Thalhah yang hendak hijrah, akhirnya mereka bersama-sama hijrah ke Madinah. Mereka bertemu dengan Rasulullah saw dan juga orang-orang yang beriman di Madinah.

Di Madinah itulah Rasulullah saw tinggal seatap dengan Aisyah ra. Adanya ikatan perkawinan yang baru tersebut merupakan salah satu penyebab kuatnya hubungan antara dua rumah tangga yang mulia, dan hal itu juga membesarkan hati Ummu Ruuman, karena beliau melihat betapa sayang dan cintanya Nabi saw kepada Aisyah ra. Begitu pula menjadi leluasa bagi beliau untuk mondar-mandir ke rumah Nabi saw untuk menambah bekal dari mata air nubuwwah (kenabian) yang jernih.

Hari-hari berputar, hingga terjadilah suatu peristiwa yang di luar perhitungan, yaitu tatkala Aisyah Ummul Mukminin as-Shiddiqah binti as-Shiddiq dituduh dengan tuduhan dusta, fitnah tersebut disebarluaskan oleh seorang pendusta dan dedengkot munafik yang bernama Ibnu Salul (Abdullah bin Ubay bin Salul). Kemudian, fitnah itu tersebar dari mulut ke mulut hingga Ummu Rumaan ra mendengar apa yang mereka katakan dan berita yang tersebar tersebut bahkan beliau pingsan karena hebohnya isu yang beliau dengar. Akan tetapi, tatkala beliau tersadar, beliau merahasiakan kabar tentang putrinya tersebut karena kasih sayangnya dan beliau memohon kepada Allah SWT agar berkenan melepaskan tuduhan yang ditujukan kepada putrinya.

Tatkala Allah menghendaki Aisyah mengetahui isu yang telah tersebar dari mulut ke mulut, beliau mendengar dari Ummu Masthah bin Atsatsah. Beliau langsung kembali ke rumah ayahnya untuk mengadukan dan menangis serta menyalahkan ibunya karena menyembunyikan urusan itu.

Berkatalah Ummu Ruuman ra, sedang di pipinya menetes tergenang air mata, "Wahai putriku... ringankanlah urusan ini bagimu, demi Allah tiada seorang wanita pun yang bersuamikan seorang yang mencintainya sedangkan dia memiliki madu melainkan pastilah akan banyak cobaan dari manusia." Maka, Allah menjawab suara hati dari seorang mukminah dan shadiqah tersebut, sehingga turunlah ayat yang membebaskan as-Shiddiqah Ummul Mukminin ra dari tuduhan dusta, ayat yang senantiasa di baca dan bernilai ibadah bagi siapa yang membacanya hingga hari kiamat:

"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu...." (An-Nuur: 11-19).

Sesungguhnya masa tersebut adalah masa yang paling sulit dan pahit yang dialami oleh Ummu Ruuman ra dalam hidupnya, sehingga hal itu berpengaruh besar pada diri beliau yang menyebabkan beliau sakit, maka Aisyah ra merawatnya selama beberapa waktu untuk berkhidmah kepada beliau hingga Allah SWT mewafatkannya.

Rasulullah saw mengunjungi kuburnya dan memohonkan ampun kepada Allah untuknya, kemudian berdo'a:
"Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Tahu apa yang telah dikerjakan oleh Ummu Ruuman karena-Mu dan Rasul-Mu."

Semoga Allah meridhai Ummu Rumaan, karena beliau termasuk rombongan pertama yang masuk Islam, menegakkan seluruh apa-apa yang menjadi konsekuensi iman, beliau berhijrah, bersabar dan menghadapi ujian dakwah karena Allah.

Ummu Syuraik al-Qurasyiah (Seorang Wanita Da'iyah)
10/11/2002

Nama beliau adalah Ghaziyah binti Jabir bin Hakim. Beliau seorang wanita dari Quraisy, wanita dari Bani Amir bin Lu'ai dan ia pernah menjadi istri Abu al-Akr ad-Dausi. Beliau merasa simpati hatinya dengan Islam sejak masih di Mekah, hingga menjadi mantaplah iman di hatinya dan beliau memahami kewajiban dirinya terhadap din yang lurus sehingga beliau mempersembahkan hidupnya untuk menyebarkan dakwah tauhid, meninggikan kalimat Allah dan mengibarkan panji laa ilaha illallahu muhammadur rasulullahi.

Mulailah Ummu Syuraik bergerak untuk berdakwah dan mengajak wanita-wanita Quraisy secara sembunyi-sembunyi. Beliau berdakwah kepada mereka, memberikan dorongan-dorongan agar mereka masuk Islam tanpa kenal lelah dan jemu. Beliau menyadari resiko yang akan menimpa dirinya, baik pengorbanan maupun penderitaan, serta resiko yang telah menghadangnya, berupa gangguan dan siksaan terhadap jiwa dan harta. Akan tetapi, iman bukanlah sekedar kalimat yang diucapkan oleh lisan, melainkan iman pada hakikatnya memiliki konsekuensi dan amanah yang mengandung beban dan iman berarti jihad yang membutuhkan kesabaran.

Takdir Allah menghendaki setelah masa berlalu beberapa lama, mulailah hari-hari ujian, hari-hari menghadapi cobaan yang mana aktivitas Ummu Syuraik ra telah diketahui penduduk Mekah. Akhirnya, mereka menangkap beliau dan berkata, "Kalaulah bukan karena kaum kamu, kami akan tangani sendiri. Akan tetapi, kami akan menyerahkan kamu kepada mereka."

Ummu Syuraik berkata, "Maka datanglah keluarga Abu al-Akr (yakni kelurga suaminya) kepadaku kemudian berkata, 'Jangan-jangan engkau telah masuk kepada agamanya (Muhammad)?' Beliau berkata, 'Demi Allah, aku telah masuk agama Muhammad'. Mereka berkata, 'Demi Allah, aku akan menyiksamu dengan siksaan yang berat'. Kemudian, mereka membawaku dari rumah kami, kami berada di Dzul Khalashah (terletak di Shan'a'), mereka ingin membawaku ke sebuah tempat dengan mengendarai seekor onta lemah, yakni kendaraan mereka yang paling jelek dan kasar. Mereka memberiku makan dan madu, akan tetapi tidak memberikan setetes air pun kepadaku. Hingga manakala tengah hari dan matahari telah terasa panas, mereka menurunkan aku dan memukuliku, kemudian mereka meninggalkanku di tengah teriknya matahari hingga hampir-hampir hilang akalku, pendengaranku dan penglihatanku. Mereka melakukan hal itu selama tiga hari. Tatkala hari ketiga, mereka berkata kepadaku, 'Tinggalkanlah agama yang telah kau pegang!' Ummu Syuraik berkata, 'Aku sudah tidak lagi dapat mendengar perkataan mereka, kecuali satu kata demi satu kata dan akau hanya mmeberikan isyarat dengan telunjukku ke langit sebagai isyarat tauhid'."

Ummu Syuraik melanjutkan, "Demi Allah, tatkala aku dalam keadaan seperti itu, ketika sudah berat aku rasakan, tiba-tiba aku mendapatkan dinginnya ember yang berisi air di atas dadaku (beliau dalam keadaan berbaring), maka aku segera mengambilnya dan meminumnya sekali teguk. Kemudian, ember tersebut terangkat dan aku melihat ternyata ember tersebut menggantung antara langit dan bumi dan aku tidak mampu mengambilnya. Kemudian, ember tersebut menjulur kepadaku untuk yang kedua kalinya, maka aku minum darinya kemudian terangkat lagi. Aku melihat ember tersebut berada antara langit dan bumi. Kemudian, ember tersebut menjulur kepadaku untuk yang ketiga kalinya, maka aku minum darinya hingga aku kenyang dan aku guyurkan ke kepala, wajah dan bajuku. Kemudian, mereka keluar dan melihatku seraya berkata, 'Dari mana engkau dapatkan air itu wahai musuh Allah'. Beliau menjawab, 'Sesungguhnya musuh Allah adalah selain diriku yang menyimpang dari agama-Nya. Adapun pertanyaan kalian dari mana air itu, maka itu adalah dari sisi Allah yang dianugerahkan kepadaku'. Mereka bersegera menengok ember mereka dan mereka dapatkan ember tersebut masih tertutup rapat belum terbuka. Lalu, mereka berkata, 'Kami bersaksi bahwa Rabbmu adalah Rabb kami dan kami bersaksi bahwa yang telah memberikan rizki kepadamu di tempat ini setelah kami menyiksamu adalah Dia Yang Mensyari'atkan Islam'." Akhirnya, masuklah mereka semuanya ke dalam agama Islam dan semuanya berhijrah bersama Rasulullah saw dan mereka mengetahui keutamaanku atas mereka dan apa yang telah dilakukan Allah terhadapku.

Semoga Allah merahmati Ummu Syuraik, yang telah mengukir sebaik-baik contoh dalam berdakwah ke jalan Allah, dalam hal keteguhan dalam memperjuangkan iman dan akidahnya dan dalam bersabar di saat menghadapi cobaan serta berpegang kepada tali Allah.... Marabahaya tidak menjadikan beliau kendor ataupun lemah yang mengakibatkan beliau bergeser walaupun sedikit untuk menyelamatkan jiwanya dari kematian dan kebinasaan. Akan tetapi, hasil dari ketegaran beliau, Allah memuliakan beliau dan menjadikan indah pandangan matanya dengan masuknya kaumnya ke dalam agama Islam. Inilah target dari apa yang dicita-citakan oleh seorang muslim dalam berjihad.

Rasulullah saw bersabda yang artinya, "Sungguh, seandainya Allah memberikan hidayah kepada satu orang karena dakwahmu, maka itu lebih baik dari onta yang merah (harta kekayaan yang paling berharga)."

Al-Khansa' (Ibu Para Syuhada')
10/04/2002

Nama beliau adalah Tamadhar binti Amru bin al-Haris bin asy-Syarid, seorang wanita penyair yang tersohor. Beberapa syair terlantun dari lisan beliau di saat kematian saudaranya Shakhr di masa jahiliyah, maka beliau meratap dengan ratapan yang menyedihkan, yang akhirnya syair tersebut menjadi syair yang paling terkenal dalam hal syair duka cita. Di antara syair yang bagus yang beliau ciptakan adalah sebagai berrikut.

Menangislah dengan kedua matamu atau sebelah mata
Apakah aku akan kesepian karena tiada lagi penghuni di dalam rumah

Dan di antara syair beliau yang bagus adalah:
Kedua mataku menangis dan tiada akan membeku
Bagaimana mata tidak menangis untuk Shakhr yang mulia
Bagaimana mata tidak menangis untuk sang pemberani
Bagaimana mata tidak menangis untuk seorang pemuda yang luhur

Beliau mendatangi Rasulullah saw bersama kaumnya dari Bani Salim, kemudian mengumumkan ke-Islamannya dan menganut akidah tauhid, amat baik keislaman beliau sehingga menjadi lambang yang cemerlang dalam keberanian, kebesaran jiwa dan merupakan perlambang kemuliaan bagi sosok wanita muslimah.

Rasulullah saw pernah meminta kepadanya untuk bersyair, maka beliau bersyair, Rasulullah saw menyahut, "Wahai Khansa' dan hari-hariku di tangan-Nya."

Ketika Adi bin Hatim datang kepada Rasulullah saw, dia berkata kepada Nabi, "Wahai Rasulullah saw, sesungguhnya di tengah-tengah kami ada orang yang paling ahli dalam syair, ada juga orang yang paling dermawan di antara manusia dan orang yang paling ahli dalam menunggang kuda." Kemudian Nabi saw bersabda, "Siapakah nama mereka?" Adi bin Hatim berkata, "Adapun orang yang paling ahli bersyair adalah al-Qais bin Hajar, sedangkan yang paling dermawan adalah Hatim bin Sa'ad (yakni bapaknya Adi), adapun yang paling ahli dalam berkuda adalah Amru bin Ma'di Karib." Rasulullah saw bersabda, "Tidak benar apa yang kamu katakan wahai Adi, adapun orang yang paling ahli dalam syair adalah Khansa' binti Amru, adapun orang yang paling dermawan adalah Muhammad (yakni Muhammad saw), sedangkan orang yang paling ahli berkuda adalah Ali bin Abu Thalib."

Di samping kelebihan tersebut -hingga karena keistimewaannya dikatakan, 'Telah dikumpulkan para penyair dan ternyata tidak didapatkan seorang wanita yang lebih ahli tentang syair daripada beliau- , beliau juga memiliki kedudukan dan prestasi jihad yang mengagumkan dalam berpartisipasi bagi Islam dan membela kebenaran. Beliau turut menyertai peperangan-peperangan bersama kaum muslimin dan menyertai pasukan mereka yang memperoleh kemenangan.

Ketika Mutsanna bin Haritsah asy-Syaibani berangkat ke Qadisiyah di masa Amirul Mukminin Umar bin Khaththab ra, Khansa' berangkat bersama keempat putranya untuk menyertai pasukan tersebut.

Di medan peperangan, di saat malam ketika para pasukan sedang siap berperang satu sama lain, Khansa' mengumpulkan keempat putranya untuk memberikan pengarahan kepada mereka dan mengobarkan semangat kepada mereka untuk berperang dan agar mereka tidak lari dari peperangan serta agar mereka mengharapkan syahid di jalan Allah SWT. Maka, dengarkanlah wasiat al-Khansa' yang mulia tersebut:

"Wahai anak-anakku, sesungguhnya kalian telah masuk Islam dengan ketaatan, kalian telah berhijrah dengan sukarela dan Demi Allah, tiada ilah selain Dia, sesungguhnya kalian adalah putra-putra dari seorang wanita yang tidak pernah berkhianat kepada ayah kalian, kalian juga tidak pernah memerlukan paman kalian, tidak pernah merusak kehormatan kalian dan tidak pula berubah nasab kalian. Kalian mengetahui apa yang telah Allah janjikan bagi kaum muslimin berupa pahala yang agung bagi yang memerangi orang-orang kafir, dan ketahuilah bahwa negeri yang kekal lebih baik dari negeri yang fana (binasa). Allah Azza wa Jalla befirman, "Wahai orang-orang yang berfirman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung." (Ali Imran: 20).

Maka, ketika datang waktu esok, jika Allah menghendaki kalian masih selamat, persiapkanlah diri kalian untuk memerangi musuh dengan penuh semangat dan mohonlah kepada Allah untuk kemenangan kaum muslimin. Jika kalian melihat perang telah berkecamuk, ketika api telah berkobar, maka terjunlah kalian di medan laga, bersabarlah kalian menghadapi panasnya perjuangan, niscaya kalian akan berjaya dengan ghanimah (rampasan perang) dan kemuliaan atau syahid di negeri yang kekal.

Sementara itu keempat putranya mendengarkan wejangan tersebut dengan penuh seksama, mereka keluar dari kamar ibu mereka dengan menerima nasihatnya dan tekad hatinya untuk melaksanakan nasihat tersebut. Maka, ketika datang waktu pagi, mereka segera bergabung bersama pasukan dan bertolak untuk menghadapi musuh, sedangkan mereka berangkat seraya melantunkan syair. Yang paling besar bersenandung:

Wahai saudaraku, sesungguhnya ibunda sang penasehat
Telah berwasiat kepada kita kemarin malam
Dengan penjelasan yang tenang dan gamblang
Maka bersegeralah menuju medan tempur yang penuh bahaya
Yang kalian hadapi hanyalah
kawanan anjing yang sedang menggonggong
Sedang mereka yakin bahwa dirinya akan binasa oleh kalian
Adapun kalian telah dinanti oleh kehidupan yang lebih baik
Ataukah syahid untuk mendapatkan ghanimah yang menguntungkan

Kemudian dia maju untuk berperang hingga terbunuh. Lalu yang kedua bersenandung:
Sesungguhnya ibunda yang tegas dan lugas
Yang memiliki wawasan yang luas dan pikiran yang lurus
Suatu nasihat darinya sebagai tanda berbuat baik terhadap anak
Maka bersegeralah terjun di medan perang dengan jantan
Hingga mendapatkan kemenangan penyejuk hati
Ataukah syahid sebagai kemuliaan abadi
Di Jannah Firdaus dan hidup penuh bahagia

Kemudian dia maju dan berperang hingga menemui syahid. Lalu giliran putra al-Khansa' yang ketiga bersenandung:

Demi Allah, aku tak akan mendurhakai ibuku walau satu huruf pun
Beliau telah perintahkan aku untuk berperang
Sebuah nasihat, perlakuan baik, tulus dan penuh kasih sayang
Maka, bersegeralah terjun ke medan perang yang dahsyat
Hingga kalian dapatkan keluarga Kisra (kaisar) dalam kekalahan
Jika tidak, maka mereka akan membobol perlindungan kalian
Kami melihat bahwa kemalasan kalian adalah suatu kelemahan
Adapun yang terbunuh di antara kalian adalah kemenangan dan pendekatan diri kepada-Nya

Kemudian, dia maju dan bertempur hingga mendapatkan syahid. Lalu giliran putra al-Khansa' yang terakhir bersenandung:

Bukanlah aku putra al-Khansa, bukan pula milik al-akhram
Bukan pula Amru yang memiliki keagungan
Jika aku tidak bergabung dengan pasukan yang memerangi Persia
Maju dalam kancah yang menakutkan
Hingga berjaya di dunia dan mendapat ghanimah
Ataukah mati di jalan yang paling mulia

Kemudian, dia maju untuk bertempur hingga beliau terbunuh.

Ketika berita syahidnya empat bersaudara itu sampai kepada ibunya yang mukminah dan sabar, beliau tidaklah menjadi goncang ataupun meratap, bahkan beliau mengatakan suatu perkataan yang masyhur yang dicatat oleh sejarah dan akan senantiasa diulang-ulang oleh sejarah sampai waktu yang dikehendaki Allah, yakni:

"Segala puji bagi Allah yang memuliakan diriku dengan syahidnya mereka, dan aku berharap kepada Rabb-ku agar Dia mengumpulkan diriku dengan mereka dalam rahmat-Nya".

Adalah Umar bin Khaththab mengetahui betul tentang keutamaan al-Khansa' dan putra-putranya sehingga beliau senantiasa memberikan bantuan yang merupakan jatah keempat anaknya kepada beliau hingga beliau wafat.

Kemudian, wafatlah al-Khansa' di Badiyah pada awal kekhalifahan Utsman bin Affan ra pada tahun 24 Hijriyah.
Semoga Allah merahmati al-Khansa' yang benar-benar beliau sebagai seorang ibu yang tidak sebagaimana layaknya ibu yang lain, kalau saja para ummahatul Islam setelahnya semisal beliau, niscaya tiada hilang mereka yang telah hilang, tak akan dapat tidur mata orang yang sedang gelisah.

Ummu Waraqah (Seorang Wanita yang Syahid)
09/27/2002

Beliau adalah putri dari Abdullah bin al- Haris bin Uwaimar bin Naufal al-Anshariyah. Beliau dikenal dengan kunyah (gelar yang diawali dengan Abu atau ummu) Ummu Waraqah binti Abdullah atau dikenal dengan Ummu Waraqah binti Naufal, dinisbahkan kepada kakeknya.

Beliau termasuk wanita yang mulia dan yang paling mulia pada zamannya. Rasulullah saw telah mengunjungi beliau beberapa kali dan beliau menjulukinya dengan gelar asy-Syahidah.

Beliau ra adalah seorang wanita yang memiliki ghirah (semangat) tinggi terhadap Islam dan bercita-cita untuk mati syahid di jalan Allah dalam rangka meninggikan kalimat Allah. Oleh karena itu, beliau tidak terhalang untuk berjihad bersama kaum muslimin dan mendapatkan pahala mujahidin. Tatkala Rasulullah saw hendak berangkat Perang Badar, Ummu Waraqah berkata kepada Rasulullah saw, "Ya Rasulullah, izinkanlah aku berangkat bersama anda, sehingga aku dapat mengobati orang-orang yang terluka di antara kalian, merawat orang yang sakit di antara kalian, dan agar Allah mengaruniai diriku syahadah (mati syahid)." Kemudian Nabi saw menjawab, "Sesungguhnya Allah akan mengaruniai dirimu syahadah, tapi tinggallah kamu di rumahmu, karena sesungguhnya engkau adalah syahidah (orang yang akan mati syahid)."

Beliau ra turut mengumpulkan Alquran al-Karim, dan beliau adalah seorang wanita yang ahli dalam membaca Alquran. Karena itu, Nabi saw memerintahkan beliau agar menjadi imam bagi para wanita di daerahnya. Dan, Rasulullah saw menyiapkan seorang muadzin bagi beliau.

Disebutkan dalam al-Musnad dan as-Sunan dari hadis Abdurrahman bin Khalad dari Ummu Waraqah mengatakan bahwa Rasulullah saw mengunjungi beliau di rumahnya, kemudian memberikan seorang muadzin untuknya. Abdurrahman berkata, "Aku melihat muadzin tersebut seorang laki-laki yang sudah tua."

Jadilah rumah Ummu Waraqah ra, rumah Allah yang di sana, ditegakkan salat lima waktu. Alangkah terhormatnya seorang wanita yang menduduki posisi sebagaimana seorang wanita mukminah seperti Ummu Waraqah ra.

Ummu Waraqah senantiasa istiqamah dengan keadaannya, yaitu menjaga syari'at-syari'at Allah hingga pada suatu ketika budak dan jariyahnya -yang telah dijanjikan oleh beliau akan dimerdekakan setelah beliau wafat- membunuh beliau. Tatkala pagi Umar bin Khaththab berkata, "Demi Allah, aku tidak mendengar suara bacaan Alquran dari bibiku semalam." Kemudian beliau memasuki rumahnya, namun tidak melihat suatu apa pun, kemudian beliau memasuki kamarnya, ternyata beliau telah terbungkus dengan kain di samping rumah (yakni telah wafat). Umar berkata, "Alangkah benar sabda Rasulullah saw ketika bersabda, 'Marilah pergi bersama kami untuk mengunjungi wanita yang syahid'."

Selanjutnya, Umar ra naik mimbar dan menyampaikan berita tersebut lantas berkata, "Hadapkanlah dua budak tersebut kepadaku."
Maka, datanglah dua orang budak tersebut dan beliau menanyai keduanya dan mereka mengakui bahwa mereka berdua telah membunuhnya, maka beliau perintahkan agar kedua orang budak tersebut disalib, dan mereka berdualah orang yang pertama kali disalib dalam sejarah Islam.

Semoga Allah merahmati Ummu Waraqah, semoga Allah membalas semua kebaikannya, dengan istiqamahnya beliau dalam membaca Alquran dan mengumpulkannya. Beliau adalah imam bagi para wanita di zamannya yang amat sangat rindu untuk berjihad dengan harapan mendapat pahala mujahidin. Akhirnya, Allah pun mengabulkan permohonannya dan beliau mendapatkan pahala mujahidin.

Ummu Fadhal
09/20/2002

Nama lengkapnya adalah Lubabah binti al-Harits bin Huzn bin Bajir bin Hilaliyah. Beliau adalah Lubabah al-Kubra, ia dikenal dengan kuniyahnya (Ummu Fadhl). Ummu Fadhl adalah salah satu dari empat wanita yang dinyatakan keimanannya oleh Rasulullah saw. Keempat wanita tersebut adalah Maimunah, Ummu Fadhl, Asma' dan Salma.

Adapun Maimunah adalah Ummul Mukminin ra, saudara kandung dari Ummu Fadhl. Adapun Asma' dan Salma adalah kedua saudarinya dari jalan ayahnya, sebab keduanya adalah putri dari 'Umais.

Ummu Fadhl ra adalah istri dari Abbas, pamanda Rasulullah saw dan ibu dari enam orang yang mulia, pandai dan belum ada seorang
wanita pun yang melahirkan laki-laki semisal mereka. Mereka adalah Fadhl, Abdullah al-Faqih, Ubaidullah al-Faqih, Ma'bad, Qatsam, dan Abdurrahman. Tentang Ummu Fadhl ini, Abdullah bin Yazid berkata, "Tiada seorang wanita pun yang melahirkan orang-orang terkemuka yang aku lihat sebagaimana enam putra Ummu Fadhl, putra dari dua orang tua yang mulia, pamanda Nabiyul Mushthafa yang mulia, penutup para rasul dan sebaik-baik rasul."

Ummu Fadhl ra masuk Islam sebelum hijrah, beliau adalah wanita pertama yang masuk Islam setelah Khadijah (Ummul Mukminin ra), sebagaimana dituturkan oleh putra beliau Abdullah bin Abbas, "Aku dan ibuku adalah termasuk orang-orang yang tertindas dari wanita dan anak-anak."

Ummu Fadhal termasuk wanita yang berkedudukan tinggi dan mulia di kalangan para wanita. Rasulullah saw terkadang mengunjungi beliau dan terkadang tidur siang di rumahnya.

Ummu Fadhal adalah seorang wanita yang pemberani dan beriman yang memerangi Abu Lahab (si musuh Allah) dan membunuhnya. Diriwayatkan oleh Ibnu Ishak dari Ikrimah berkata, "Abu Rafi' budak Rasulullah saw berkata, 'Aku pernah menjadi budak Abbas, ketika Islam datang, maka Abbas masuk Islam yang kemudian disusul oleh Ummu Fadhal, namun Abbas masih disegani terhadap kaumnya. Abu Lahab tidak dapat menyertai Perang Badar dan mewakilkannya kepada Ash bin Hisyam bin Mughirah, begitulah kebiasaan mereka manakala tidak dapat mengikuti suatu peperangan, maka dia mewakilkannya kepada orang lain. Tatkala datang kabar tentang musibah yang menimpa orang-orang Quraisy pada perang Badar yang mana Allah telah menghinakan dan merendahkan Abu Lahab. Adapun kami merasakan adanya kekuatan dan 'izzah pada diri kami. Aku adalah seorang laki-laki yang lemah, aku bekerja membuat gelas yang aku pahat di bebatuan sekitar zam-zam, demi Allah suatu ketika aku duduk sedangkan di dekatku ada Ummu Fadhal yang sedang duduk, sebelumnya kami berjalan, namun tidak ada kebaikan yang sampai kepada kami, tiba-tiba datanglah Abu Lahab dengan berlari, kemudian duduk, tatkala dia duduk tiba-tiba orang-orang berkata, 'Ini dia Abu Sufyan bin Harits telah datang dari Badar'. Abu Lahab berkata, 'Datanglah ke mari, sungguh aku menanti beritamu'. Kemudian duduklah Abu Jahal dan orang-orang berdiri mengerumuni di sekitarnya. Berkatalah Abu Lahab, 'Wahai putra saudaraku beritakanlah kepadaku bagaimana keadaan manusia (dalam perang Badar)?' Abu Sufyan berkata, 'Demi Allah, tatkala kami menjumpai mereka, tiba-tiba mereka tidak henti-hentinya menyerang pasukan kami, mereka memerangi kami sesuka mereka dan mereka menawan kami sesuka hati mereka. Demi Allah, sekalipun demikian, tatkala aku menghimpun pasukan, kami melihat ada sekelompok laki-laki yang berkuda hitam-putih berada di tengah-tengah manusia, demi Allah mereka tidak menginjakkan kakinya di tanah'."

Abu Rafi' berkata, "Aku mengangkat batu yang berada di tanganku, kemudian aku berkata, demi Allah itu adalah malaikat. Tiba-tiba Abu Lahab mengepalkan tangannya dan memukul aku dengan pukulan yang keras, maka aku telah membuatnya marah, kemudian dia menarikku dan membantingku ke tanah, selanjutnya dia dudukkan aku dan memukuli aku sedangkan aku adalah laki-laki yang lemah. Tiba-tiba berdirilah Ummu Fadhal mengambil sebuah tiang dari batu kemudian beliau pukulkan dengan keras mengenai kepala Abu Lahab sehingga melukainya dengan parah. Ummu Fadhal berkata, 'Saya telah melemahkannya sehingga jatuhlah kredibilitasnya'."

Kemudian bangunlah Abu Lahab dalam keadaan terhina, demi Allah dia tidak hidup setelah itu melainkan hanya tujuh malam hingga Allah menimpakan kepadanya penyakit bisul yang menyebabkan kematiannya.

Begitulah perlakuan seorang wanita muslimah yang pemberani terhadap musuh Allah sehingga gugurlah kesombongannya dan merosotlah kehormatannya karena ternoda. Alangkah bangganya sejarah Islam yang mencatat Ummu Fadhal ra sebagai teladan bagi para wanita yang dibina oleh Islam.

Ibnu Sa'ad menyebutkan di dalam Thabaqat al-Kubraa bahwa Ummu Fadhal suatu hari bermimpi dengan suatu mimpi yang menakjubkan, sehingga ia bersegera untuk mengadukannya kepada Rasulullah saw, ia berkata, "Wahai Rasulullah, saya bermimpi seolah-olah sebagian tubuhmu berada di rumahku." Rasulullah saw bersabda, "Mimpimu bagus, kelak Fathimah melahirkan seorang anak laki-laki yang nanti akan engkau susui dengan susu yang engkau berikan buat anakmu (Qatsam)."

Ummu Fadhal keluar dengan membawa kegembiraan karena berita tersebut, dan tidak berselang lama Fathimah melahirkan Hasan bin Ali ra yang kemudian diasuh oleh Ummu Fadhal.

Ummu Fadhal berkata, "Suatu ketika aku mendatangi Rasulullah saw ra dengan membawa bayi tersebut, maka Rasulullah saw segera menggendong dan mencium bayi tersebut, namun tiba-tiba bayi tersebut mengencingi Rasulullah saw, lalu beliau bersabda, "Wahai Ummu Fadhal, peganglah anakku ini, karena dia telah mengencingiku."

Ummu Fadhal berkata, "Maka aku ambil bayi tersebut dan aku cubit dia sehingga dia menangis."
Aku berkata, "Engkau telah menyusahkan Rasulullah saw, karena engkau telah mengencinginya."
Tatkala melihat bayi tersebut menangis, Rasulullah saw bersabda, "Wahai Ummu Fadhal, justru engkau telah menyusahkanku, karena engkau membuat anakku menangis." Kemudian, Rasulullah saw meminta air lalu beliau percikkan ke tempat yang terkena air kencing tersebut, kemudian bersabda, "Jika bayi laki-laki, maka percikilah air, akan tetapi apabila bayi itu wanita maka cucilah."

Di dalam riwayat yang lain, Ummu Fadhal berkata, "Lepaslah sarung Anda dan pakailah baju yang lain agar aku dapat mencucinya." Namun, Nabi saw bersabda, "Yang dicuci hanyalah air kencing bayi wanita dan cukuplah diperciki dengan air apabila terkena air kencing bayi laki-laki."

Di sisi yang lain, Ummu Fadhal ra mempelajari hadis Nabawi dari Rasulullah saw dan beliau meriwayatkan sebanyak tiga puluh hadis. Adapun yang meriwayatkan dari beliau adalah Abdullah bin Abbas (Ibnu Abbas), Tamam (yakni budaknya), Anas bin Malik dan yang lain.

Di antara peristiwa yang mengesankan Ummu Fadhal (Lubabah binti al-Harits) ra adalah tatkala banyak orang yang bertanya kepada
beliau mengenai hari Arafah, apakah Rasulullah saw berpuasa atau tidak? Untuk menghilangkan problem yang menimpa kaum muslimin tersebut, beliau dengan kebijakannya memanggil salah seorang anaknya kemudian menyuruhnya agar mengirimkan segelas susu kepada Rasulullah saw yang sedang berada di Arafah. Kemudian tatkala dia menemukan Nabi saw dengan dilihat oleh semua orang, beliau menerima segelas susu tersebut kemudian meminumnya.

Kemudian, wafatlah Ummu Fadhal pada masa khilafah Utsman bin Affan ra setelah meninggalkan untuk kita contoh yang baik yang patut ditiru sebagai ibu yang shalihah yang telah melahirkan tokoh semisal Abdullah bin Abbas, tokoh ulama umat ini dan Turjumanul Qur'an (pakar dalam hal tafsir Alquran). Demikian pula, beliau telah memberikan contoh yang terbaik bagi kita dalam hal kepahlawanan yang memancar dari akidah yang benar yang muncul darinya keberanian yang mampu menjatuhkan musuh Allah yang paling keras permusuhannya (yakni Abu Lahab

Ummu Aiman (Budak Nabi dan Pengasuhnya)
09/13/2002

Namanya adalah Barakah binti Tsa'labah bin Amru bin Hishan bin Malik bin Salmah bin Amru bin Nu'man al-Habasyiyah.

Rasulullah saw mewarisi wanita ini dari ayahnya, dan Ummu Aiman senantiasa mengasuh Rasulullah saw hingga dewasa. Tatkala Rasulullah saw menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, beliau memerdekakan Ummu Aiman yang kemudian dinikahi oleh Ubaidullah bin Haris al-Khazraji. Bersama dialah ia melahirkan seorang Aiman ra yang pada gilirannya Aiman ikut berhijrah dan berjihad bahkan syahid tatkala perang Hunain.

Nabi saw memuliakan Ummu Aiman, beliau sering mengunjunginya dan memanggilnya dengan kata, "Wahai ibu ...". Beliau bersabda, "Beliau (Ummu Aiman) adalah termasuk ahli baitku." Beliau juga bersabda, "Ummu Aiman adalah ibuku setelah ibuku."(HR al-Hakim).

Ummu Aiman senantiasa berkhidmah kepada Rasulullah saw dan lemah lembut terhadap beliau. Setelah datangnya masa nubuwwah (kenabian), beliau bersabda, "Barangsiapa yang ingin menikah dengan wanita ahli jannah, maka hendaklah menikahi Ummu Aiman." (HR Ibnu Sa'ad).

Maka, akhirnya Zaid bin Haritsah menikahinya pada malam ketika ia diutus oleh Nabi saw. Bersama dengannyalah akhirnya Ummu Aiman melahirkan Usamah bin Zaid, buah hati Rasulullah saw.

Ketika Rasulullah saw mengizinkan kepada kaum muslimin untuk berhijrah ke Madinah, maka Ummu Aiman termasuk wanita yang ikut berhijrah pada angkatan pertama itu. Ummu Aiman berhijrah di jalan Allah dengan berjalan dan tanpa membawa bekal. Pada saat hari sangat panas, sementara ia sedang melakukan puasa, ia sangat kehausan, tiba-tiba ada ember di atasnya yang menjulur dari langit dengan tali berwarna putih. Lalu Ummu Aiman meminum air yang ada di dalamnya itu hingga kenyang. Ummu Aiman berkata, "Saya tidak pernah merasa haus lagi sesudah itu. Sungguh saya biasa menghadapi rasa haus dengan puasa di siang hari, namun kemudian aku tidak merasakan haus lagi setelah minum air tersebut, meskipun aku puasa pada siang hari yang panas, aku tetap tidak merasakan haus." (HR Ibnu Sa'ad dalam ath-Thabaqat).

Rasulullah saw bersikap lemah lembut kepadanya dan terkadang mengajaknya bercanda, karena ia seperti ibunya sendiri. Telah diriwayatkan bahwa suatu ketika ia berkata kepada Rasulullah saw, "Wahai Rasulullah saw, bawalah (ajaklah) aku." Maka Nabi saw menjawab, "Aku akan membawamu di atas anak onta." Ummu Aiman berkata, "Anak onta itu tidak akan mampu membawaku, lagi pula aku tidak menyukainya." Nabi bersabda, "Aku tidak akan membawamu, kecuali dengan anak onta." Ini adalah canda Rasulullah saw kepada Ummu Aiman, hanya saja, sekalipun beliau bercanda, namun tidak akan mengatakan kecuali yang benar. Sebab, setiap onta seluruhnya adalah anak onta."

Ummu Aiman adalah seorang wanita yang cadal suaranya, suatu ketika beliau ingin menyeru kaum muslimin pada perang Hunain dan berkata, "Sabatallahu Aqdaamakum" (semoga Allah mengistirahatkan kaki kalian). Padahal, mungkin yang dimaksud adalah Tsabatallahu Aqdaamakum(semoga Allah mengokohkan kaki kalian), maka Nabi saw bersabda:
"Diamlah Anda, wahai Ummu Aiman, karena anda adalah seorang yang cadal lisannya."

Suatu ketika Ummu Aiman masuk ke dalam rumah Nabi saw dan mengucapkan salam, "Salaamun Laa 'Alaikum" (keselamatan bukan atas kalian), padahal yang dimaksud adalah Assalamualaikum, akan tetapi beliau memberikan rukhshah (keringanan) kepadanya untuk mengucapkan salam (salamun la alaikum)

Disamping Ummu Aiman memiliki sifat-sifat yang terpuji, di tambah lagi pada usianya yang sudah tua, ia ra tidak mau tinggal diam, beliau ingin menyertai pahlawan Islam dalam menghancurkan musuh-musuh Allah Azza wa Jalla untuk meninggihkan kalimat-Nya. Sehingga ia ikut dalam perang Uhud dan ikut andil dengan kemampuan yang ia miliki, ia memberikan minum bagi pasukan muslim dan mengobati yang terluka dan ia juga menyertai perang Khaibar bersama Rasulullah saw.

Ketika Rasulullah saw wafat, Abu Bakar ra berkata kepada Umar ra, "Pergilah bersama kami menemui Ummu Aiman, kita akan mengunjunginya sebagaimana Rasulullah saw telah mengunjunginya." Tatkala mereka sampai di rumah Ummu Aiman, ternyata ia sedang menangis, keduanya berkata, "Apa yang membuat Anda menangis?" Bukankah apa yang di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah saw?

Ummu Aiman menjawab, "Bukanlah saya menangis karena tidak tahu bahwa apa yang di sisi Allah lebih baik bagi Rasul-Nya, hanya saja saya menangis karena telah terputusnya wahyu dari langit." Hal itu membuat Abu Bakar dan Umar menangis, sehingga keduanya menangis bersama Ummu Aiman.

Pada saat terbunuhnya Umar bin Khaththab ra, Ummu Aiman menangis sambil berkata, "Pada hari ini Islam menjadi lemah."

Ummu Aiman wafat pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan ra, tepatnya dua puluh hari setelah terbunuhnya Umar ra.
Semoga Allah merahmati Ummu Aiman, pengasuh pemimpin anak Adam saw. Beliau adalah seorang wanita yang rajin berpuasa dan tahan lapar, berhijrah dengan berjalan, yang akhirnya diberi minum dengan air yang tidak diketahui asal-usulnya. Air tersebut ternyata minuman dari langit sebagai penyembuh bagi beliau.

Sumayyah binti Khayyat (Wanita Syahidah Pertama dalam Islam)
09/06/2002

Dialah Sumayyah binti Khayyat, hamba sahaya dari Abu Hudzaifah bin Mughirah. Beliau dinikahi oleh Yasir, seorang pendatang yang kemudian menetap di Mekah. Karenanya, tidak ada kabilah yang dapat membelanya, menolongnya, dan mencegah kezaliman atas dirinya. Sebab, dia hidup sebatang kara, sehingga posisinya sulit di bawah naungan aturan yang berlaku pada masa jahiliyah.

Begitulah Yasir mendapatkan dirinya menyerahkan perlindugannya kepada Bani Makhzum. Beliau hidup dalam kekuasaan Abu Hudzaifah, sehingga akhirnya dia dinikahkan dengan budak wanita bernama Sumayyah. Dia hidup bersamanya dan tenteram bersamanya. Tidak berselang lama dari pernikahannya, lahirlah anak mereka berdua yang bernama Ammar dan Ubaidullah.

Tatkala Ammar hampir menjelang dewasa dan sempurna sebagai seorang laki-laki, beliau mendengar agama baru yang didakwahkan oleh Muhammad bin Abdullah saw kepada beliau. Akhirnya, berpikirlah Ammar bin Yasir sebagaimana berpikirnya penduduk Mekah. Karena kesungguhan dalam berpikir dan fitrahnya yang lururs, maka masuklah beliau ke dalam agama Islam.

Ammar kembali ke rumah dan menemui kedua orang tuanya dalam keadaan merasakan lezatnya iman yang telah terpatri dalam jiwanya. Beliau menceritakan kejadian yang beliau alami hingga pertemuannya dengan Rasulullah saw, kemudian menawarkan kepada keduanya untuk mengikuti dakwah yang baru tersebut. Ternyata Yasir dan Sumayyah menyahut dakwah yang penuh barakah tersebut dan bahkan mengumumkan keislamannya, sehingga Sumayyah menjadi orang ketujuh yang masuk Islam.

Dari sinilah dimulainya sejarah yang agung bagi Sumayyah yang bertepatan dengan permulaan dakwah Islam dan sejak fajar terbit untuk yang pertama kalinya.

Bani Makhzum mengetahui akan hal itu, karena Ammar dan keluarganya tidak memungkiri bahwa mereka telah masuk Islam bahkan mengumumkan keislamannya dengan kuat, sehingga orang-orang kafir tidak menanggapinya, melainkan dengan pertentangan dan permusuhan.

Bani Makhzum segera menangkap keluarga Yasir dan menyiksa mereka dengan bermacam-macam siksaan agar mereka keluar dari din mereka, mereka memaksa dengan cara mengeluarkan mereka ke padang pasir tatkala keadaannya sangat panas dan menyengat. Mereka membuang Sumayyah ke sebuah tempat dan menaburinya dengan pasir yang sangat panas, kemudian meletakkan di atas dadanya sebongkah batu yang berat, akan tetapi tiada terdengar rintihan ataupun ratapan melainkan ucapan Ahad... Ahad...,
beliau ulang-ulang kata tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh Yasir, Ammar, dan Bilal.

Suatu ketika Rasulullah saw menyaksikan keluarga muslim tersebut yang tengah disiksa degan kejam, maka beliau menengadahkan ke langit dan berseru:

"Bersabarlah wahai keluarga Yasir, karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah Jannah."

Sumayyah mendengar seruan Rasulullah saw, maka beliau bertambah tegar dan optimis, dan dengan kewibawaan imannya dia mengulang-ulang dengan berani, "Aku bersaksi bahwa Engkau adalah Rasulullah dan aku bersaksi bahwa janjimu adalah benar."

Begitulah, Sumayyah telah merasakan lezat dan manisnya iman, sehingga bagi beliau kematian adalah sesuatu yang remeh dalam rangka memperjuangkan akidahnya. Di hatinya telah dipenuhi akan kebesaran Allah Azza wa Jalla, maka dia menganggap kecil setiap siksaan yang dilakukan oleh para taghut yang zalim. Mereka tidak kuasa menggeser keimanan dan keyakinannya ekalipun hanya satu langkah semut.

Sementara Yasir telah mengambil keputusan sebagaimana yang dia lihat dan dia dengar dari istrinya, Sumayyah pun telah mematrikan dalam dirinya untuk bersama-sama dengan suaminya meraih kesuksesan yang telah dijanjikan oleh Rasulullah saw.

Tatkala para taghut telah berputus asa mendengar ucapan yang senantiasa diulang-ulang oleh Sumayyah, maka musuh Allah Abu Jahal melampiaskan keberangannya kepada Sumayyah dengan menusukkan sangkur yang berada dalam genggamannya kepada Sumayyah. Maka terbanglah nyawa beliau yang beriman dan suci bersih dari raganya. Beliau adalah wanita pertama yang mati syahid dalam Islam. Beliau gugur setelah memberikan contoh baik dan mulia bagi kita dalam hal keberanian dan keimanan. Beliau telah mengerahkan segala apa yang beliau miliki dan menganggap remeh kematian dalam rangka memperjuangkan imannya. Beliau telah mengorbankan nyawanya yang mahal dalam rangka meraih keridhaan Rabbnya. "Dan mendermakan jiwa adalah puncak tertinggi dari kedermawanannya."

Fathimah az-Zahraa' (Bagian II dari Dua Tulisan)
08/31/2002

Diriwayatkan dari Tsauban ra berkata, "Rasulullah saw masuk ke rumah Fathimah, sedangkan aku ketika itu bersama beliau. Lalu Fathimah mengambil kalung emas dari lehernya seraya berkata, 'Ini adalah kalung yang dihadiahkan Abu Hasan kepadaku', maka beliau bersabda, "Wahai Fathimah, apakah engkau senang jika orang-orang berkata, 'Inilah Fathimah binti Muhammad, sedangkan di tangannya terdapat kalung dari Neraka?', kemudian beliau memarahi Fathimah dengan keras dan menghardiknya, lalu beliau keluar tanpa duduk terlebih dahulu. Maka Fathimah mengambil sikap untuk menjual kalungnya, kemudian hasilnya beliau belikan seorang budak wanita, setelah itu beliau merdekakan. Tatkala hal ini sampai kepada Rasulullash saw, beliau bersabda, 'Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan Fathimah dari api Neraka' ."

Oleh karena itu, kedudukan yang diraih oleh Fathimah ra di sisi ayahnya Rasulullah saw tersebut tidaklah menghalangi Rasulullah saw memarahinya, mencelanya, bahkan mengancamnya, dan bahwa sekali-kali Rasulullah saw tidak dapat menolong Fathimah dari kehendak Allah. Bahkan, beliau juga memberikan ancaman, seandainya dia mencuri, maka akan ditegakkanlah hukum atasnya, yakni hukum potong tangan. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hadis tentang seorang wanita Bani al-Makhzumiyah yang mencuri kemudian kaumnya memintakan ampunan agar wanita itu bebas hukuman melalui Usamah bin Zaid bin Haritsah kekasih Rasulullah saw, maka Rasul pun bersabda,

"Demi Allah, seandainya Fathimah binti Muhammad itu mencuri, niscaya aku mesti potong tangannya."

Meskipun kasih sayangnya terhadap Fathimah begitu mendalam, Nabi saw lebih mendahulukan pemberiannya kepada orang-orang fakir-miskin daripada kepada Fathimah, sekalipun dalam keadaan susah. Ali ra berkata kepada Fathimah ra, "Alangkah lelahnya engkau wahai Fathimah, sehingga engkau menyedihkan hatiku. Sungguh Allah telah memberikan tawanan kepada Rasulullah, maka mintalah kepada beliau satu tawanan saja yang akan membantumu dalam bekerja!" Fathimah menjawab, "Akan aku lakukan insya Allah."

Kemudian, Fathimah mendatangi Nabi saw. Tatkala melihat kedatangannya, beliau menyambutnya dan bertanya, "Ada keperluan apa engkau datang ke sini wahai anakku?" Fathimah menjawab, "Kedatanganku ke sini untuk mengucapkan salam buat ayah." Tiba-tiba beliau malu untuk mengutarakan permintaannya, maka beliau pulang dan kembali lagi bersama Ali, lalu Ali menceritakan keadaan Fathimah kepada Nabi saw. Namun, Rasulullah saw bersabda,

"Demi Allah, aku tidak akan memberikan kepada kalian berdua, sedangkan aku membiarkan ahlu sufah dalam keadaan lapar, aku tidak mendapatkan apa-apa untuk aku infakkan kepada mereka, tapi aku akan menjual para tawanan tersebut dan hasilnya aku akan infakkan kepada mereka."

Maka, kembalilah mereka berdua ke rumahnya, kemudian Rasulullah saw mendatangi keduanya. Beliau masuk rumah mereka dan mendapatkan keduanya sedang berselimut yang apabila ditutupkan kepalanya, maka terbukalah kakinya dan apabila ditutupkan kakinya, maka terbukalah kepalanya. Keduanya hendak bangkit untuk menyambut Nabi saw, namun beliau bersabda, "Tetaplah di tempat kalian berdua! Maukah aku beri tahukan kepada kalian tentang sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kalian minta kepadaku itu?" Mereka berdua menjawab, "Mau, ya Rasulullah!" Kemudian beliau bersabda,

"Kuajarkan kepada kalian kata-kata yang diajarkan Jibril kepadaku, ucapkanlah setiap selesai salat fardhu Subhanallah 10 kali, Alhamdulillah 10 kali dan Allahu Akbar 10 kali. Apabila kalian hendak tidur, maka bacalah Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 33 kali. Hal itu adalah lebih baik bagi kalian berdua daripada seorang pembantu."

Maka Ali ra berkata, "Demi Allah, aku tidak meninggalkan kata-kata ini sejak beliau mengajarkannya kepadaku." Salah seorang sahabat bertanya, "Tidak kau tinggalkan juga tatkala malam di Perang Shiffin?" Beliau menjawab, "Walaupun di malam perang shiffin."

Sungguh Fathimah ra telah melalui kejadian-kejadian besar yang ruwet dan sangat keras, hal itu beliau alami sejak usia muda tatkala wafatnya ibu beliau, disusul kemudian saudara perempuannya yang bernama Ruqayyah, kemudian pada tahun 8 Hijriyah wafatlah kakaknya yakni Zainab dan pada tahun 9 Hijriyah menyusul kemudian wafatnya Ummi Kultsum.

Beliau juga menanggung hidup dalam kekurangan dan banyak mengalami kesulitan dan kesusahan. Akan tetapi, seorang wanita yang dibina oleh Rasullah saw tidak akan bersedih hati terlebih lagi berputus asa. Bahkan beliau adalah profil dari wanita yang sabar, konsisten dan muhajirah.

Tatkala Rasulullah saw melakukan haji yang terkhir(Hajjatul Wada') dan telah meletakkan dasar-dasar Islam dan Allah telah menyempurnakan Dienul Islam, Rasulullah saw menderita sakit. Manakala Fathimah mendengar berita tersebut, beliau dengan segera menemui ayahnya untuk menghibur dan menenangkan hatinya, sementara Rasulullah saw ketika itu bersama dengan Ummul Mukminin Aisyah ra. Pada saat nabi saw melihat kedatangan putrinya, dengan riang gembira beliau bersabda, "Selamat datang wahai putriku", kemudian beliau menciumnya dan mendudukkannya di sebelah kanannya atau di kirinya, kemudian Nabi saw membisikkan sesuatu kepadanya sehingga membuat Fathimah menangis dengan tangisan yang memilukan. Namun, ketika Nabi saw melihat kesedihannya, beliau membisikkan kepadanya untuk yang kedua kali, sehingga menyebabkan Fathimah tertawa. Aisyah berkata, Rasulullah saw mengistimewakan engkau dari seluruh wanita anggota keluarganya dalam hal yang rahasia, tapi kamu malah menangis?" Tatkala Rasulullah saw sedang berdiri, Aisyah bertanya, "Apa yang Rasulullah katakan kepadamu" Fathimah menjawab, "Aku tidak akan menyebarkan rahasia Rasulullah saw."

Aisyah berkata: "Ketika Rasulullah saw wafat, aku berkata kepada Fathimah, aku bertekad agar engkau menceritakan kepadaku tentang apa yang telah dibisikkan Rasulullah kepadamu." Fathimah berkata, "Adapun sekarang, baiklah aku ceritakan. Pada saat beliau membisikiku yang pertama, belia mengatakan bahwa biasanya Jibril memeriksa bacaan Alqurannya sekali dalam setahun, akan tetapi sekarang Jibril memeriksa bacaannya dua kali dalam setahun dan beliau merasa ajalnya sudah dekat Maka takutlah kepada Allah dan bersabarlah, sesungguhnya aku adalah sebaik-baik penghulu bagimu. Maka aku menangis dengan tangisan yang engkau lihat. Tatkala beliau melihat aku sedih, beliau membisiki aku untuk yang kedua kalinya, beliau bersabda:

"Wahai Fathimah relakah engkau menjadi ratu bagi para wanita di Sorga? Dan engkau adalah anggota keluargaku yang paling cepat menyusulku." Mendengar kabar tersebut, maka aku pun tertawa.

Semakin bertambahlah rasa sakit yang diderita Rasul saw dan bertambah sedihlah Fathimah. Beliau berdiri di samping ayahnya untuk menjaga dan membantu beliau serta berusaha untuk bersabar. Akan tetapi, manakala Fathimah melihat ayahnya nampak berat dan mulai kesakitan, Fathimah menangis tersedu-sedu dan berkata dengan suara lirih menandakan kesedihan, "Sakit wahai ayah...?" Maka beliau bersabda: "Tidak ada sakit lagi bagi ayahmu setelah hari ini."
Tatkala beliau wafat, Fathimah berkata: "Wahai ayah, engkau telah memenuhi panggilan Rabbmu...Wahai ayah, Jannah Firdaus adalah tempat tinggalmu... Wahai ayah, kepada Jibril kami beritahukan wafatmu."

Ketika Nabi saw dikubur, Fathimah berkata: "Wahai Anas, bagaimana anda tega menimbun ayah dengan tanah?" Maka, menangislah az-Zahraa' ibu dari ayahnya dan menangislah kaum muslimin seluruhnya atas kematian Nabi dan Rasul Muhammad saw dan mereka ingat firman Allah: "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul."(Ali Imran: 144). Dan firman Allah: "Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu wafat, apakah mereka akan kekal?" (Al-Anbiyaa': 34)

Tidak berapa lama kemudian setelah wafatnya Rasulullah saw, kira-kira enam bulan, az-Zahraa' sakit. Namun, dirinya bergembira dengan kabar gembira yang telah dikabarkan ayahnya bahwa dirinya adalah anggota keluarga yang pertama yang akan bertemu dengan Nabi saw, dan berpindahlah Fathimah keharibaan Allah SWT pada malam selasa, tanggal 3 Ramadhan 11 Hijriyah tatkala beliau berumur 27 tahun.

Semoga Allah merahmati az-Zahraa' Raihanah (bunga yang harum) putri dari penghulu anak Adam, istri dari penghulu para prajurit penunggang kuda dan ibu dari Hasan dan Husein, bapaknya para syuhada' dan ibu dari Zainab pahlawan Karbala'

Ummu Kultsum
08/16/2002

Beliau adalah seorang wanita yang padat tubuhnya, cantik wajahnya, dan lebar kedua pipinya. Rasulullah saw memberikan nama untuk beliau Ummu Kultsum. Beliau dilahirkan setelah kakaknya yang bernama Ruqayyah. Keduanya sama besar dan sangat mirip dan saling mengasihi, sehingga seolah-olah mereka berdua kembar.

Sebagaimana yang telah dijelaskan pada profil Ruqayyah dalam edisi sebelum ini, maka tatkala Ummu Kultsum diceraikan oleh Utaibah (putra Abu Lahab), tinggallah beliau bersama adiknya, Fatimah, di rumah ayahnya Muhammad saw di Mekah sambil ikut membantu ibunya, yakni Khadijah Ummul Mukminin yang menghadapi beratnya kehidupan dan ikut meringankan gangguan orang-orang musyrik yang ditujukan kepada kedua orang tuanya.

Hingga sampai puncak kebodohannya, orang-orang Quraisy memutuskan untuk memboikot kaum muslimin dan Bani Hasyim. Pemboikotannya ketika itu berupa menghalangi mereka dari berbagai keperluan, menggencet ekonomi dan kemasyarakatan. Maka, Ummu Kultsum dan keluarganya termasuk orang yang mengalami sempit dan susahnya hidup akibat pemboikotan tersebut. Hal tersebut berlangsung sampai tiga tahun lamanya.

Pada saat itu Ummu Kultsum ra memiliki tanggung jawab yang paling besar karena ibunya, Khadijah ra, menderita sakit akibat pemboikotan tersebut. Beliau hanya bisa berbaring di tempat, karena sakit parah. Ditambah lagi, adiknya, Fatimah az-Zahra', masih butuh penjagaan dan bantuannya.

Setelah kaum muslimin keluar dari ujian pemboikotan, bertambahlah ujian yang menimpa mereka dan bertambah kuat pula tekad mereka dengan adanya cobaan tersebut. Di rumah Nabi saw, Ummul Mukminin Khadijah ra sedang menghembuskan nafas yang terakhir, sedang ketiga putrinya, Zainab, Ummu Kultsum, dan Fatimah mengelilingi beliau. Begitu pula suami tercinta Muhammad saw duduk di sampingnya ikut meringankan sakaratul maut dan memberi kabar gembira kepada istrinya dengan kenikmatan akhirat yang telah Allah janjikan untuk dirinya.

Pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke-10 setelah bi'tsah (kenabian), berangkatlah ruh yang suci menghadap Allah SWT, sehingga Ummu Kultsum menjadi orang yang bertanggung jawab mengurus rumah tangga Nubuwwah yang suci.

Setelah orang-orang Quraisy merasa gagal untuk mencegah beliau saw melalui bidang politik dan kemasyarakatan, mereka memutuskan untuk melenyapkan Nabi saw. Akan tetapi, Allah telah memberitahukan kepada beliau tentang rahasia musuh dan memerintahkan kepada beliau agar hijrah ke Yatsrib (Madinah).

Kaum muslimin hijrah menuju tempat yang memiliki izzah dan pembela, begitu pula Rasulullah saw. Ketika beliau hijrah ditemani oleh Abu Bakar as-Shiddiq, sedangkan Ummu Kultsum dan Fatimah tetap tinggal di Mekah, sampai akhirnya Rasulullah mengirimkan utusan, yakni Zaid bin Haritsah untuk menjemput mereka berdua menuju Yatsrib.

Setelah dua tahun Rasulullah saw tinggal di Madinah, Ummu Kultsum menyaksikan kembalinya Nabi dari perang Badar dengan membawa kemenangan. Namun, beliau juga menyaksikan wafatnya saudarinya yang mirip dengannya, yakni Ruqayyah istri Utsman bin Affan karena sakit yang dideritanya.

Bersamaan dengan permulaan tahun ketiga Hijriyah, Ummu Kultsum sering melihat Utsman bin Affan bolak-balik menemui ayahnya untuk mencari jalan keluar yang dapat menghibur dirinya setelah kehilangan istri yang sangat berarti bagi dirinya. Pada saat yang sama, Umar bin Khaththab ra menemui Rasulullah saw untuk mengadu dan tampak marah atas sikap Abu Bakar dan Utsman yang menolak tatkala Umar menawarkan kepada mereka agar mereka mau menikahi putrinya, yaitu Hafshah. Ketika itu, Ummu Kultsum mendengar ayahnya saw bersabda kepada Umar dengan lemah lembut, "Hafshah akan dinikahi oleh orang yang lebih baik daripada Utsman, dan Utsman akan menikah dengan wanita yang lebih baik daripada Hafshah." Maka, berdebar-debarlah hati Ummu Kultsum, karena dengan kecerdasannya beliau bisa menangkap maksud ayahnya bahwa dia akan dinikahkan dengan Utsman, sebab siapa lagi yang lebih baik daripada Hafshah binti Umar selain putri Nabi saw?

Ketika Ummu Kultsum mengenang saat-saat bersama saudari dekatnya, Ruqayyah (tatkala masih hidup), tiba-tiba Rasulullah saw memanggil beliau untuk menyampaikan kabar.

Kemudian dilakukanlah akad nikah antara Ummu Kultsum dengan Utsman bin Affan ra. Pada hari itu pula Utsman dijuluki "Dzun Nuurain," sebab belum pernah ada seorang pun yang dinikahkan dengan dua putri Nabi selain dirinya. Berpindahlah Ummu Kultsum ke rumah suaminya dan beliau hidup bersamanya selama enam tahun. Beliau menyaksikan Islam sampai pada puncak kejayaan. Beliau juga menyaksikan ayahnya saw keluar dari peperangan demi peperangan untuk menguatkan Islam dan menjadikan Islam jaya. Adapun suaminya "Dzun Nuurain" bersama dengan para sahabatnya berjihad dengan harta dan jiwa.

Ummu Kultsum juga menyaksikan "Yaumun Nashr al-Akbar" yakni hari dibukanya kota Mekah, sehingga timbullah keinginan hati beliau untuk dapat mengunjungi kubur ibunya, hanya saja wafat telah mendahuluinya pada bulan Sya'ban tahun 9 Hijriyyah. Maka, Rasulullah saw menguburkan beliau di samping saudari dekat yang dicintainya, yakni Ruqayyah.

Semoga Allah merahmati Ummu Kultsum yang ikut andil besar dalam menanggung beban dakwah di jalan Allah, beliau telah merasakan dan mengalami masa yang penuh dengan penderitaan dan posisi dakwah yang paling sulit serta kerasnya hari-hari berjihad.

Ruqayyah
08/09/2002

Ruqayyah ra dilahirkan setelah Zainab, kakaknya. Tidak berapa lama kemudian lahirlah adiknya yang bernama Ummu Kultsum. Mereka tumbuh sejajar dan berkumpul serta saling berkasih sayang.

Setelah Zainab dinikahi oleh Abu al-'Ash bin Rabi', sedangkan umur Ruqayyah dan Ummu Kultsum masih mendekati usia nikah, maka datanglah kepada Nabi saw utusan dari keluarga Abul Muththalib yang mewakilkan Abu Thalib. Dia melamar kedua putrinya, yakni Ruqayyah dan Ummu Kultsum untuk kedua anak Abul 'Uzza bin Abdul Muththalib (Abu Lahab), yakni Utbah dan Utaibah.

Ketika itu Muhammad belum diangkat menjadi Nabi, maka Muhammad menerima lamaran tersebut. Beliau meminta penangguhan hal tersebut sampai beliau mengutarakan kepada keluarganya dan kedua putrinya yang memiliki kepentingan dalam hal itu.

Khadijah ra diam, tidak mengutarakan pendapatnya, karena khawatir akan menyebabkan kemarahan suaminya, atau beliau khawatir kalau suaminya menduga bahwa dia berkeinginan memutuskan hubungan kekerabatan antara suaminya dengan keluarganya. Begitu pula dua gadis Raulullah saw, ia juga diam karena malu. Begitulah keadaannya, maka terlaksanalah akad nikah. Sang ayah memberkahi kedua putrinya yang disayanginya dan mnyerahkan penjagaannya kepada Allah.

Sebentar kemudian, Muhammad menerima risalah dari Rabbnya dan mengajak kepada dien yang haq. Lalu, berkumpullah orang-orang Quraisy untuk membicarakan tentang Raulullah saw. Salah seorang di antara mereka berkata, "Sesungguhnya kalian telah memberi peluang kepada Muhammad saw untuk kepentingannya, maka kembalikanlah kedua putrinya agar dia sibuk mengurusi keduanya...?" Abu Lahab pun mengembalikan kedua putri Nabi saw itu dari pelukan kedua putranya seraya mengatakan kepada kedua putranya itu, "Kepalaku haram atas kepala kalian, jika kalian tidak mau menceraikan kedua putri Muhammad."

Maka, kembalilah kedua putri Rasul saw itu kepada bapaknya sebelum sempurna menjadi istri dari kedua anak Abu Lahab tersebut. Kejahatan dan rekayasa Abu Lahab terhadap Rasul saw ini bukan hanya terhenti sampai di sini saja, melainkan sampai pada tahap menyakiti Rasulullah saw, sebagaimana yang dilukiskan Allah SWT dalam surah Al-Lahab: 1-5.

Akan tetapi, rumah tangga mukmin tiada akan bertambah dengan ujian dan musibah di jalan Allah, melainkan semakin kokoh dan tegar. Maka, Muhammad saw berkata kepada istrinya yang setia sejak beliau diangkat menjadi nabi, "Telah berlalu masa untuk tidur wahai Khadijah...!"

Sayyidah Khadijah menjaga betul pendidikan tersebut, sehingga beliau tetapkan jiwanya untuk berdiri mendampingi suaminya, Nabi yang mulia, maka beliau selalu meneguhkan hati Rasullah saw dan meringankan kesedihan yang menimpa beliau hingga lenyaplah kesedihannya itu.

Begitu pula apa yang dialami oleh Ruqayyah dan Ummu Kultsum, keduanya sesuai dengan apa yang dikehendaki ayahnya. Sehingga, mereka berdua merasa nikmat dengan berbagi rasa dengan kedua orang tuanya menempuh segala macam gangguan dan rintangan di jalan Allah.

Akhirnya, luputlah persangkaan Abu Lahab dan istrinya serta orang-orang Quraisy, karena ternyata Rasulullah saw tidak menderita dengan dikembalikannya kedua putri beliau. Rasulullah saw tidak mendapatkan kesulitan dengan diceraikannya kedua putri beliau, justru hal itu berarti Allah menyelamatkan kedua putrinya tersebut dari ujian hidup bersama kedua putra Abu Lahab dan istrinya. Bahkan, Allah menggantikan keduanya dengan ganti yang lebih baik daripada kedua anak Abu Lahab itu. Allah gantikan dengan seorang suami yang saleh, mulia, dan termasuk di antara delapan orang yang paling awal masuk Islam. Dialah Utsman bin Affan bin Abu al-'Ash bin Umayyah bin Abdu Syams. Beliau juga termasuk salah seorang yang mendapat kabar gembira masuk sorga. Dari segi nasab, beliau adalah pemuda yang paling mulia nasabnya di Quraisy.

Utsman bin 'Affan menikahi Ruqayyah sehingga membuat orang-orang Quraisy tidak bisa tidur karena jengkel dan sekaligus tercengang dengan keadaan kelompok kecil dari manusia yang berada di sekitar Muhammad, dan mereka tidak ragu-ragu mengikuti beliau dengan darah dan jiwa mereka.

Karena itu, meningkatlah gangguan orang-orang Quraisy terhadap kaum muslimin. Kaum muslimin betul-betul mendapat perlakuan buruk dari mereka. Sampai akhirnya Rasulullah saw memberi ijin kepada para sahabat untuk hijrah ke Habsyah dalam rangka menyelamatkan diennya sehingga tidak terkena gangguan. Utsman bin 'Affan adalah orang yang pertama hijrah ke Habsyah, sedangkan istri beliau Ruqayyah turut menyertainya di saat belum lama dilangsungkannya pernikahan antara keduanya.

Kemudian, pemuda Umayyah (Utsman bin 'Affan) meninggalkan negeri nenek moyangnya dan mengikuti 'izzahnya. Beliau tinggalkan pula manusia yang paling dicintai dalam rangka berhijrah ke negeri yang jauh untuk hidup dalam keterasingan, akan tetapi yang menghibur hatinya adalah beliau masih disertai oleh istri tercintanya Ruqayyah, sehingga apa yang beliau alami terasa ringan. Ruqayyah berkata kepada suaminya, "Allah menyertai kita dan orang-orang yang berada di sekitar Baitul 'Atiq."

Negeri Habsyah yang rajanya adalah Najasyi memberi kelonggaran kepada kaum muhajirin yang pertama, sehingga mereka tinggal di sana dengan nyaman dan merdeka untuk beribadah kepada Allah tanpa ada yang mengusik mereka dan mengganggu posisi mereka, melainkan mata-mata Quraisy yang mengikuti mereka hingga mendatangi raja Najasyi.

Lalu, sirnalah masa yang cukup lama, sementara para muhajirin senantiasa mengikuti perkembangan situasi dengan cara mendengar berita-berita tentang Rasul dan para sahabatnya dalam memerangi taghut musyrikin Quraisy. Tatkala mereka mendengar tentang masuk Islamnya Hamzah bin Abdul Muththalib dan Umar bin Khaththab, serta tahapan dakwah telah naik kepada tahapan yang baru, timbul keinginan mereka untuk kembali ke Mekah karena kerinduan mereka terhadap keluarga dan kampung halamannya. Utsman bin 'Affan dan Ruqayyah ra termasuk dari mereka yang rindu untuk kembali ke Mekah. Akan tetapi, belum lagi keduanya menginjakkan kakinya di Mekah, ternyata kekejaman semakin meningkat. Bahkan, mereka mendengar sendiri suara kaum musyrikin yang menghalang-halangi dan mengancam mereka dengan siksa dan pembantaian. Oleh karena itu, sebagian kaum muhajirin masuk dengan jaminan Walid bin Mughirah al-Makhzumi dan yang lain dengan jaminan Abu Thalib bin Abdul Muththalib.

Ruqayyah adalah orang yang paling sedih di antara yang kembali, karena wafatnya ibunya, Khadijah ra. Akan tetapi, beliau senantiasa bersabar terhadap taqdir dan qadha' dari Allah. Disamping itu, beliau dikenal sebagai seorang gadis yang mujahidah dan sabar.

Tidak lama setelah tinggalnya Ruqayyah di Mekah, kaum muslimin berhijrah ke Madinah bersama Rasulullah saw, maka Ruqayyah turut serta berhijrah bersama suaminya. Di negeri yang baru inilah beliau melahirkan putra yang bernama Abdullah. Terasa bahagia rupanya kelahiran seorang Abdullah tersebut, sehingga hilanglah penderitaannya yang telah lampau. Akan tetapi, kebahagiaan tersebut tak berlangsung terlalu lama, sebab putra yang dicintai meninggal di saat berumur enam bulan akibat dipatuk ayam jantan. Karena musibah yang berat tersebut, akibatnya Ruqayyah jatuh sakit demam. Suaminya yang tercinta merawat beliau dan menggantikan tugas-tugasnya. Tidak lama kemudian, yakni hanya beberapa hari kemudian, Utsman mendengar suara panggilan jihad dan seruan untuk keluar ke Badar. Timbullah keinginan Utsman untuk merespon panggilan tersebut, namun Rasulullah saw memerintahkannya agar tetap tinggal di sisi istrinya untuk merawat dan membantunya.

Semakin lama sakitnya, semakin bertambah parah pula penderitaannya. Akan tetapi, Utsman tetap setia mendampinginya hingga wafatnya istri tercinta Ruqayyah ra.

Zainab al-Kubra
08/03/2002

Zainab ra lahir sepuluh tahun sebelum ayahnya menjadi nabi. Beliau putri pertama Rasulullah saw dari Khadijah ra. Sesuai dengan sifat-sifat yang melekat pada diri ibunya, Zainab tumbuh menjadi teladan yang utama dengan seluruh sifat-sifat yang terpuji. Hampir sempurnalah sifat kewanitaan Zainab, sehingga putra dari bibinya yang bernama Abu al-'Ash bin Rabi', salah seorang yang terpandang di Mekah dalam hal kemuliaan dan harta, berhasrat melamar beliau. Dia adalah pemuda Quraisy yang tulus dan bersih, nasabnya bertemu dengan Nabi saw dari jalur bapaknya, yakni pada Abdu Manaf bin Qushay. Adapun dari jalur ibu, nasabnya bertemu dengan Zainab pada kakek mereka berdua, yakni Khuwailid, karena ibunya adalah Halah binti Khuwailid, saudari Khadijah.

Abu al-'Ash mengenal betul tentang kepribadian dan sifat Zainab, karena dia sering berkunjung ke rumah bibinya: Khadijah. Begitu pula Zainab dan kedua orang tuanya juga telah mengenal bagusnya Abu al-'Ash. Oleh karena itu, diterimalah lamaran dari pemuda yang telah diridhai Nabi saw dan Khadijah, juga oleh Zainab.

Maka, masuklah Zainab ke dalam rumah tangga suaminya, yakni Abu al-'Ash. Dalam usianya yang masih muda, Zainab mampu mengatur rumah tangga suaminya hingga menumbuhkan kebahagiaan dan ketenteraman. Allah mengaruniai dalam perkawinan ini dua orang anak yang bernama Ali dan Umamah. Semakin sempurnalah kebahagiaan rumah tangga itu dengan kehadiran keduanya dalam rumah yang penuh dengan kebahagiaan dan kenikmatan.

Pada suatu ketika, Abu al-'Ash berada dalam suatu perjalanan, kemudian terjadilah peristiwa besar dalam sejarah kehidupan manusia. Yaitu, diangkatnya Muhammad saw sebagai Nabi dengan membawa risalah. Bersegeralah Zainab menyambut seruan dakwah yang haq yang dibawa oleh orang tuanya, yakni Rasulullah saw. Beliau jadikan dienullah sebagai pedoman hidup yang dengannya menjadi jalan di atasnya.

Tatkala suaminya kembali dari berpergian, Zainab menceritakan perubahan yang terjadi pada kehidupannya, yang bersamaan dengan kepergian suaminya, muncullah dien yang baru dan lurus. Beliau menduga bahwa suaminya akan bersegera menyatakan keislamannya. Akan tetapi, beliau mendapatkan bahwa suaminya menyikapi kabar tersebut dengan diam dan tidak bereaksi.

Kemudian, Zainab mencoba dengan segala cara untuk meyakinkan suaminya, namun dia menjawab, "Demi Allah, bukannya saya tidak percaya dengan ayahmu, hanya saja saya tidak ingin dikatakan bahwa aku telah menghina kaumku dan mengafirkan agama nenek moyangku karena ingin mendapatkan keridhaan istriku."

Hal itu merupakan pukulan yang telak bagi Zainab, karena suaminya tidak mau masuk Islam. Maka, isi rumah tangga menjadi guncang dan gelisah. Tiba-tiba kegembiraan berubah menjadi kesengsaraan.

Zainab pun tinggal di Mekah di rumah suaminya, dan tidak ada seorang pun di sekelilingnya yang dapat meringankan penderitaannya karena jauhnya dirinya dengan kedua orang tuanya. Ayahnya telah berhijrah ke Madinah al-Munawwarah bersama sahabat-sahabatnya, sedangkan ibunya telah menghadap ar-Rafiiqul A'la, dan saudari-saudarinya pun telah menyusul ayahnya di bumi hijrah. Tatkala pecah perang Badar, kaum musyrikin mengajak Abu al-'Ash keluar bersama mereka untuk memerangi kaum muslimin. Akhirnya, nasib suaminya adalah menjadi tawanan kaum muslimin.

Tatkala Abu al-'Ash dihadapkan kepada Rasulullah saw, beliau bersabda kepada para sahabat, "Perlakukan tawanan ini dengan baik." Ketika itu Zainab mengutus seseorang untuk menebus suaminya dengan harta yang dibayarkan kepada ayah beliau beserta kalung yang dihadiahkan ibu beliau (Khadijah) tatkala pernikahannya dengan Abu al-'Ash. Tiada henti-hentinya Rasulullah memandang kalung tersebut, sehingga hati beliau hanyut mengenang istrinya yang setia, yakni Khadijah yang telah menghadiahkan kalung tersebut kepada putrinya. Setelah beberapa saat, Rasul terdiam. Beliau bersabda dengan lemah lembut, "Jika kalian melihatnya (sebagai kebaikan), maka bebaskanlah tawanan tersebut dan kembalikanlah harta tebusannya, maka lakukanlah!" Para sahabat menjawab, "Baik, ya Rasulullah."

Selanjutnya Rasulullah mengambil janji dari Abu al-'Ash agar membiarkan jalan Zainab (untuk hijrah), karena Islam telah memisahkan hubungan antara keduanya.

Kemudian Abu al-'Ash kembali ke Mekah, sementara Zainab menyambutnya dengan riang gembira. Tetapi, yang terjadi pada diri Abu al-'Ash lain dengan apa yang terjadi pada Zainab. Akhirnya keluarlah Zainab dari Mekah meninggalkan Abu al-'Ash, suami yang tercinta, dengan perpisahan yang mengharukan. Namun, orang-orang Quraisy justru menghalang-halangi beliau (untuk berhijrah), mereka mencegah dan mengancam beliau. Ketika itu beliau sedang hamil dan akhirnya gugurlah kandungannya. Selanjutnya beliau pulang ke Mekah dan Abu al-'Ash merawatnya hingga kekuatannya pulih kembali. Lalu beliau keluar pada suatu hari di saat orang-orang Quraisy lengah perhatiannya. Beliau keluar bersama saudara Abu al-'Ash yang bernama Kinanah bin ar-Rabi' hingga sampai kepada Rasulullah saw dengan aman.

Berlalulah masa selama enam tahun beserta peristiwa-peristiwa besar yang menyertainya, sedangkan Zainab berada dalam naungan ayahnya di Madinah. Beliau hidup dengan penuh optimis dan tak kenal putus asa, yakni berusaha agar Allah melapangkan dada Abu al-'Ash untuk Islam.

Pada bulan Jumadil Ula tahun 6 Hijriyah, tiba-tiba Abu al-'Ash mengetuk pintu Zainab, kemudian Zainab membuka pintu tersebut. Seolah-olah Zainab tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sehingga ia ingin mendekatinya. Akan tetapi, ia menahan diri karena ingin memastikan tentang akidahnya, mengingat bahwa akidah adalah yang pertama dan yang terakhir.

Abu al-'Ash menjawab, "Kedatanganku bukanlah untuk menyerah, akan tetapi saya keluar untuk berdagang membawa barang-barangku dan juga milik orang-orang Quraisy, namun tiba-tiba saya bertemu dengan pasukan ayahmu yang di dalamnya ada Zaid bin Haritsah bersama 170 tentara. Selanjutnya mereka mengambil barang-barang yang saya bawa dan aku pun melarikan diri, dan sekarang aku mendatangimu dengan sembunyi-sembunyi untuk meminta perlindunganmu."

Zainab yang memiliki akidah yang bersih berkata dengan rasa sedih dan iba, "Marhaban (selamat datang) wahai putra bibi… Marhaban wahai ayah Ali dan Umamah (keduanya anaknya Zainab dengan Abu al-'Ash)."

Tatkala Rasulullah saw selesai salat Subuh, dari dalam kamar Zainab berteriak dengan suara yang keras, "Wahai manusia, sesungguhnya aku melindungi Abu al-'Ash bin Rabi." Kemudian Rasulullah saw ke luar seraya bersabda, "Wahai manusia, apakah kalian mendengar apa yang aku dengar?" Mereka menjawab, "Benar Ya Rasulullah." Lalu beliau bersabda, "Adapun demi yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tiadalah aku mengetahui hal ini sedikit pun hingga saya mendengar sebagaimana yang kalian dengar. Dan orang-orang yang beriman adalah tangan bagi selain mereka, sehingga berhak memberikan perlindungan kepada orang yang dekat dengannya, dan sungguh kita telah melindungi orang-orang yang telah dilindungi oleh Zainab."

Kemudian masuklah Rasulullah saw menemui putri beliau: Zainab, lalu berkata, "Muliakanlah tempatnya dan janganlah dia berbuat bebas kepadamu, karena kamu tidak halal baginya."

Selanjutnya Zainab memohon ayahnya agar mau mengembalikan harta dan barang-barang Abu al-'Ash. Maka, keluarlah Rasulullah menuju tempat para sahabat yang sedang duduk-duduk. Beliau bersabda, "Sesungguhnya laki-laki ini sudah kalian kenal. Kalian telah mengambil hartanya, maka jika kalian rela, kembalikanlah harta itu kepadanya dan saya menyukai hal itu, namun jika kalian menolaknya, maka itu adalah fa'i (rampasan) yang Allah karuniakan kepada kalian dan apa yang telah Allah berikan kepada kalian, maka kalian lebih berhak terhadapnya."

Para sahabat menjawab dengan serentak, "Bahkan kami akan mengembalikan seluruhnya ya Rasulullah." Akhirnya mereka mengembalikan seluruh hartanya, seolah-olah dia tidak pernah kehilangan sama sekali.

Selanjutnya Abu al-'Ash pergi meninggalkan Zainab, dia menuju Mekah dengan membawa sebuah tekad. Tatkala orang-orang Quraisy melihat kedatangannya dengan membawa barang dagangan beserta labanya, maka mulailah Abu al-'Ash mengembalikan harta dan laba itu kepada setiap yang berhak. Kemudian beliau berdiri dan berseru, "Wahai orang-orang Quraisy, masih adakah di antara kalian yang hartanya masih berada di tanganku dan belum diambil?" Mereka menjawab, "Tidak, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Sungguh, kami dapatkan bahwa Anda adalah seorang yang setia janji dan mulia." Lalu di tempat itulah Abu al-'Ash berkata, "Adapun aku, aku bersaksi bahwa tiada ilah (tuhan) yang haq (benar) kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Demi Allah tiada yang menghalangi diriku untuk masuk Islam (tatkala di Madinah), melainkan karena saya khawatir kalian menyangka bahwa saya hanyalah ingin melarikan harta kalian. Maka, tatkala Allah mengembalikan barang-barang kalian dan sudah aku laksanakan tanggung jawabku, maka aku pun masuk Islam."

Abu al-'Ash bertolak ke Madinah sebagai seorang muslim. Beliau berhijrah menuju Allah dan Rasul-Nya, dan di sanalah beliau bertemu orang yang dia cintai, yakni Muhammad saw dan para sahabatnya. Akhirnya, Rasulullah saw mengembalikan Zainab ra kepada Abu al-'Ash sehingga berkumpullah keduanya. Mereka bangun rumah tangga sebagaimana sebelumnya dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Akan tetapi, berkumpulnya mereka sekarang dalam akidah yang satu yang tidak dikotori apa pun.

Setelah berlalu setahun, kemudian Zainab wafat pada tahun 8 Hijriyah akibat sakit yang masih membekas karena keguguran ketika beliau berhijrah. Abu al-'Ash menangisi beliau ra hingga menyebabkan orang-orang yang berada di sekitar beliau turut menangis. Kemudian datanglah Rasulullah saw dalam keadaan sedih dan mengucapkan selamat tinggal, lalu bersabda kepada para wanita:

"Mandikanlah dengan bilangan yang ganjil, tiga atau lima, dan yang terakhir dengan kapur barus atau sejenisnya. Apabila kalian selesai memandikan, beritahukanlah kepadaku." Tatkala mereka telah selesai memandikannya, beliau memberikan kain penutup dan bersabda, "Pakaikanlah ini kepadanya."

Semoga Allah merahmati Zainab al-Kubra binti Rasulullah saw dan membalas seluruh amalannya dengan balasan yang baik.

Ummu Habibah
07/26/2002

Beliau adalah Ramlah binti Abu Sufyan, ayahnya seorang pemuka Quraisy dan pemimpin orang-orang musyrik hingga Fathu Makkah. Meski bapaknya memaksa agar kembali kafir, akan tetapi beliau tetap beriman. Beliau rela menanggung beban yang berat dan melelahkan karena memperjuangkan akidahnya. Bapaknya, Abu Sufyan, tak kuasa memaksakan kehendaknya agar putrinya tetap dalam keadaan kafir.

Pada mulanya beliau menikah dengan seorang yang sama-sama telah memeluk Islam, yaitu Ubaidillah bin Jahsy. Tatkala orang-orang kafir berbuat kejam atas orang-orang Islam, Ramlah berhijrah menuju Habsyah bersama suaminya. Di sanalah beliau melahirkan anak perempuan yang diberi nama Habibah, sehingga beliau dikenal dengan sebutan Ummu Habibah.

Beliau senantiasa bersabar dalam memikul beban lantaran memperjuangkan diennya dalam keterasingan dan hanya seorang diri, jauh dari keluarga dan kampung halaman, bahkan terjadi musibah yang tidak beliau sangka sebelumnya. Beliau bercerita, "Aku melihat dalam mimpi, suamiku Ubaidillah bin Jahsy dengan bentuk yang sangat buruk dan menakutkan. Maka aku terperanjat dan bangun, kemudian aku memohon perlindungan kepada Allah dari hal itu. Ternyata tatkala pagi harinya suamiku telah memeluk agama nasrani. Maka aku ceritakan mimpiku kepadanya, namun dia tidak menggubrisnya."

Si Murtad yang celaka ini mencoba dengan segala kemampuannya untuk membawa istrinya keluar dari diennya, namun Ummu Habibah menolaknya dan dia telah merasakan lezatnya iman. Bahkan, beliau justru mengajak suaminya agar tetap dalam agama Islam, namun dia malah menolak dan membuang jauh ajakan tersebut dan dia semakin asyik dengan khamr. Hal itu berlangsung hingga dia meninggal dunia.

Hari-hari berlalu di bumi hijrah Ummu Habibah. Beliau berada dalam dua ujian, yakni ujian karena jauhnya dengan sanak saudara dan kampung halaman dan ujian karena menjadi seorang janda tanpa seorang pendamping. Akan tetapi, beliau dengan keimanan yang tulus yang telah Allah karuniakan kepadanya mampu menghadapi ujian berat tersebut. Allah berkehendak untuk membulatkan tekadnya, maka dia melihat dalam mimpinya ada yang menyeru dia, "Wahai Ummul Mukminin ....!" Karenanya beliau terperanjat bangun sebab mimpi tersebut. Beliau menakwilkan mimpi tersebut bahwa Rasulullah kelak akan menikahinya.

Setelah masa iddahnya, tiba-tiba ada seorang jariyah (budak perempuan) dari Najasyi yang memberitahukan kepada beliau bahwa dirinya telah dipinang oleh Rasulullah saw. Alangkah bahagianya Ummu Habibah mendengar kabar gembira itu hingga berkata, "Semoga Allah memberikan kabar gembira untukmu." Kemudian beliau menanggalkan perhiasan dan gelang kakinya untuk diberikan kepada jariyah karena sangat senangnya. Beliau kemudian meminta Khalid bin Sa'id bin al-'Ash untuk menjadi wakil baginya agar menerima lamaran Najasyi yang mewakili Rasulullah saw untuk menikahkan beliau dengan Ummu Habibah setelah beliau mendengar berita tentang keadaan Ummu Habibah dan ujian yang dihadapinya dalam mempertahankan agamanya.

Maka, pada suatu sore hari raja Najasyi mengumpulkan kaum muslimin yang berada di Habasyah, lalu datanglah mereka dengan dikawal oleh Ja'far bin Abu Thalib, putra paman Nabi saw. Selanjutnya, Raja Najasyi menyambut, "Segala puji bagi Allah Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan. Aku bersaksi bahwa Tiada Tuhan yang Haq Selain Allah, dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah yang telah diberitahukan oleh Isa bin Maryam Alaihi as-Salam.
Amma Ba'du, sesungguhnya Rasulullah saw telah mengirim surat untukku supaya melamar Ummu Habibah binti Abu Sufyan dan Ummu Habibah telah menerima lamaran Rasulullah, adapun maharnya adalah 400 dinar." Kemudian uang tersebut Beliau letakkan di depan kaum muslimin.

Kemudian, Khalid bin Sa'id berkata, "Segala puji bagi Allah, aku memuji-Nya dan memohon pertolongan-Nya, aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang haq kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, Allah mengutusnya dengan membawa hidayah dan dien yang haq untuk memenangkan dien-Nya, sekalipun orang-orang musyrik benci.

Amma Ba'du, akau terima lamaran Rasulullah saw dan aku nikahkan beliau dengan Ummu Habibah binti Abu Sufyan, semoga Allah memberkahi Rasulullah saw. Selanjutnya, Najasyi menyerahkan dinar tersebut kepada Khalid bin Sa'd, kemudian beliau terima. Najasyi mengajak para sahabat untuk mengadakan walimah dengan mengatakan, "Kami persilahkan Anda sekalian untuk duduk, karena sesungguhnya sunnah para nabi apabila menikah hendaklah makan-makan untuk merayakan pernikahan."

Setelah kemenangan Khaibar, sampailah rombongan Muhajirin dari Habasyah. Maka, Raululullah saw menyambut, "Dengan sebab apa aku harus bergembira, karena kemenangan Khaibar atau karena datangnya Ja'far?" Sementara itu, Ummu Habibah juga datang bersama rombongan. Maka, bertemulah Rasululllah saw dengannya pada tahun keenam atau ketujuh hijriyah. Ketika itu Ummu Habibah berumur 40 tahun.

Sebagai seorang istri, Ummu Habibah selalu menempatkan urusan agama di atas segala-galanya, beliau utamakan akidah daripada famili. Beliau telah mengumandangkan bahwa loyalitasnya hanya untuk Allah dan Rasul-Nya. Hal itu dibuktikan dengan sikapnya terhadap ayahnya Abu Sufyan, tatkala Abu Sufyan suatu ketika masuk ke dalam rumah Ummu Habibah, sedangkan beliau sudah menjadi istri Rasulullah saw. Abu Sufyan pada waktu itu meminta bantuan kepada beliau agar menjadi perantara antara dirinya dengan Rasulullah saw untuk memperbaharui perjanjian Hudaibiyyah yang telah dikhianati sendiri oleh orang-orang musyrik. Abu Sufyan ingin duduk di atas tikar Nabi saw, namun tiba-tiba dilipat oleh Ummu Habibah, maka Abu Sufyan bertanya dengan penuh keheranan,"Wahai putriku, aku tidak tahu, mengapa engkau melarangku duduk di atas tikar itu?" Beliau menjawab dengan penuh keberanian dan tanpa rasa takut akan kemarahannya, ini adalah tikar Rasulullah, sedangkan engkau adalah orang musyrik yang najis, aku tidak ingin engkau duduk di atas tikar Rasulullah." Abu Sufyan berkata, "Demi Allah, engkau akan menemui hal buruk sepeninggalku nanti."

Ummu Habibah menjawab dengan penuh wibawa dan percaya diri, "Bahkan semoga Allah memberikan hidayah kepadaku dan juga kepada Anda wahai ayah, pemimpin Quraisy, apa yang menghalangimu masuk Islam? Engkau menyembah batu yang tidak dapat melihat dan tidak dapat mendengar." Abu Sufyan kemudian pergi dengan marah dan membawa kegagalan.

Setelah Rasulullah saw wafat, Ummu Habibah tetap tinggal di rumahnya. Beliau tidak keluar kecuali untuk salat dan beliau tidak meninggalkan Madinah kecuali untuk haji hingga sampailah waktu wafatnya, tatkala berumur tujuh puluhan tahun. Beliau wafat setelah memberikan keteladanan yang paling tinggi dalam menjaga kewibawaan diennya dan bersemangat atasnya, tinggi dan mulya jauh dari pengaruh jahiliyah, dan tidak menghiraukan nasab ketika bertentangan dengan akidahnya, semoga Allah meridhainya.

ISA DAN ORANG-ORANG BIMBANG
 
Diceritakan  oleh  Sang  Guru  Jalaludin   Rumi   dan   yang
lain-lain, pada suatu hari Isa, putra Mariam, berjalan-jalan
di padang pasir dekat Baitulmukadis bersama-sama  sekelompok
orang yang masih suka mementingkan diri sendiri.
 
Mereka  meminta dengan sangat agar Isa memberitahukan kepada
mereka  Kata  Rahasia  yang  telah   dipergunakannya   untuk
menghidupkan  orang  mati. Isa berkata, "Kalau kukatakan itu
padamu, kau pasti menyalahgunakannya."
 
Mereka  berkata,  "Kami  sudah   siap   dan   sesuai   untuk
pengetahuan   semacam  itu;  tambahan  lagi,  hal  itu  akan
menambah keyakinan kami."
 
"Kalian tak memahami apa yang kalian minta," katanya -tetapi
diberitahukannya juga Kata Rahasia itu.
 
Segera  setelah  itu, orang-orang tersebut berjalan di suatu
tempat yang terlantar dan  mereka  melihat  seonggok  tulang
yang sudah memutih. "Mari kita uji keampuhan Kata itu," kata
mereka, Dan diucapkanlah Kata itu.
 
Begitu   Kata   diucapkan,   tulang-tulang   itupun   segera
terbungkus  daging dan menjelma menjadi seekor binatang liar
yang kelaparan, yang kemudian  merobek-robek  mereka  sampai
menjadi serpih-serpih daging.
 
Mereka  yang  dianugerahi  nalar  akan mengerti. Mereka yang
nalarnya terbatas bisa belajar melalui kisah ini.
 
Catatan
 
Isa dalam kisah ini adalah Yesus,  putra  Maria.  Kisah  ini
mengandung  gagasan  yang  sama dengan yang ada dalam Magang
Sihir, dan juga muncul dalam karya Rumi, di  samping  selalu
muncul  dalam  dongeng-dongeng  lisan  para  darwis  tentang
Yesus. Jumlah dongeng semacam itu banyak sekali.
 
Yang  sering   disebut-sebut   sebagai   tokoh   yang   suka
mengulang-ngulang  kisah  ini adalah salah seorang di antara
yang berhak menyandang sebutan Sufi, Jabir  putra  al-Hayan,
yang  dalam  bahasa  Latin  di sebut Geber, yang juga penemu
alkimia Kristen.
 
Ia meninggal sekitar 790. Aslinya ia  orang  Sabia,  menurut
para  pengarang  Barat,  ia  membuat penemuan-penemuan kimia
penting.