PEMIKIRAN MUHAMMAD YUNUS TENTANG

PENGENTASAN KEMISKINAN

DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

SKRIPSI

 

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Tugas Guna Memperoleh Gelar

 

Sarjana Hukum Islam (S. HI) Jurusan Syari'ah

 

Universitas Muhammadiyah Surakarta

 

Oleh :

 

JONI YUSUF

NIM: I000990010

 

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2008



BAB I

 

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

 

Kemiskinan merupakan fenomena sosial yang bersifat umum.

 

Fenomena ini terdapat pada berbagai masyarakat, baik yang mayoritas

 

penduduknya beragama Islam, maupun non-Islam. Menurut Parsudi Suparlan

 

(Hamdar Arraiyyah, 2007: 1) kemiskinan bukanlah sesuatu yang terwujud

 

sendiri, terlepas dari aspek-aspek lainnya, tetapi terwujud sebagai hasil

 

interaksi antara berbagai aspek yang ada dalam kehidupan manusia. Aspek-

 

aspek yang utama adalah sosial dan ekonomi.

 

Keadaan miskin tidak dikehendaki oleh manusia sebab dalam kondisi

 

seperti itu mereka dalam keadaan serba kekurangan, tidak mampu

 

mewujudkan berbagai kebutuhan utamanya di dalam kehidupannya, terutama

 

dari segi materiaal. Akibat dari ketidakmampuan di bidang material, orang

 

miskin mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan gizinya, memperoleh

 

pendidikan, modal kerja, dan sejumlah kebutuhan utama lainnya. Akibat lain

 

yang mungkin timbul di antara mereka, antara lain, kurangnya harga diri,

 

moralitas yang rendah, dan kurangnya kesadaran beragama (James C. Scott

 

dalam Hamdar Arraiyyah, 2007: 2).

 

Kemiskinan menjadi momok bagi Indonesia dan negara miskin

 

berkembang lainnya. Oleh karena itu, Indonesia menyatukan komitmennya

 

bersama 189 pemimpin negara lain guna mengubah dunia menjadi lebih baik,

1



2

dengan mendeklarasikan pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium atau

 

Millenium Development Goals (MDGs). MDGs yang menargetkan pencapaian

 

perubahan pada tahun 2015 memberikan ruang untuk pemenuhan kebutuhan

 

dasar seluruh warga, menjamin warga bebas dari rasa takut dan menjamin hak

 

warga untuk hidup bermartabat dalam kerangka hak asasi manusia.

 

Delapan poin MDGs adalah: (1) menghapuskan tingkat kemiskinan

 

dan kelaparan, di mana target untuk 2015 adalah mengurangi setengah dari

 

penduduk dunia yang berpenghasilan kurang dari 1 dolar AS sehari dan

 

mengalami kelaparan; (2) mencapai pendidikan dasar secara universal, di

 

mana target tahun 2015 adalah memastikan bahwa setiap anak, laki-laki dan

 

perempuan, menyelesaikan tahap pendidikan dasar; (3) mendorong kesetaraan

 

gender dan memberdayakan perempuan, di mana target 2015 adalah

 

mengurangi perbedaan dan diskriminasi gender pada semua tingkatan; (4)

 

mengurangi tingkat kematian anak, di mana target tahun 2015 adalah

 

mengurangi tingkat kematian anak usia di bawah 5 tahun hingga dua pertiga;

 

(5) meningkatkan kesehatan ibu, dengan target 2015 adalah mengurangi rasio

 

kematian ibu dalam proses melahirkan hingga 75%; (6) memerangi

 

HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lainnya; (7) menjamin keberlanjutan

 

lingkungan serta merehabilitasi sumber daya yang hilang, di mana tahun 2015

 

ditargetkan jumlah orang yang tidak memiliki akses air minum yang layak

 

dikonsumsi berkurang setengahnya; (8) mengembangkan kemitraan global

 

untuk pembangunan.



3

Kenyataannya, di kawasan Asia-Pasifik hingga kini jutaan orang,

 

sebagian besar anak, tidak berpendidikan dan tidak memperoleh makanan

 

secara tetap. Perempuan dan anak perempuan masih mengalami diskriminasi.

 

Sebanyak 20 anak meninggal tiap menit karena kemiskinan dan penyakit yang

 

bisa dicegah. Dua perempuan meninggal tiap jam akibat kehamilan atau

 

melahirkan. Amrtya Sen menyebut, 100 juta perempuan "hilang" akibat hal-

 

hal seperti pembunuhan bayi perempuan, trafficking, pembunuhan,

 

HIV/AIDS, dan wabah lain terus merebak. Lebih banyak orang "hilang"

 

akibat kelaparan dan penyakit, ketimbang konflik, peperangan, dan bencana

 

alam (R. Valentina Sagala, 21 April 2007).

 

Keadaan miskin sebagai hal yang tidak menyenangkan bagi manusia

 

sesungguhnya tidak sejalan dengan kondisi ideal yang diharapkan oleh tujuan

 

utama syariat Islam yang menghendaki agar manusia hidup sejahtera lahir dan

 

bati8n, di dunia dan di akherat. Menurut Soetatwo Hadiwiguno (Hamdar

 

Arraiyyah, 2007: 3) agama dalam kehidupan manusia merupakan salah satu

 

sumber nilai yang dijunjung tinggi. Dalam kaitannya dengan kemiskinan,

 

dikatakan bahwa ajaran-ajaran moral yang ada dalam agama turut

 

menyadarkan manusia akan adanya kemiskinan. Menurut ajaran tersebut,

 

kemiskinan adalah suatu keadaan yang menyedihkan dan menderita bagi

 

orang yang menjalaninya, sehingga mereka perlu dikasihani dan dibantu oleh

 

orang yang lebih baik taraf dihidupnya.

 

Dalam bukunya How to Change the World, David Bornstein (R.

 

Valentina Sagala, 21 April 2007) memaparkan bagaimana wirausahawan



4

sosial di dunia, yang hampir tak terliput oleh media, telah mengubah sejarah

 

dunia dengan terobosan berupa gagasan inovatif, memutus sekat birokrasi,

 

mengusung komitmen moral yang tinggi dan kepedulian mengagumkan yang

 

akan terus menjadi sumber inspirasi. Ia menceritakan puluhan kisah, seperti

 

Jeroo Billimoria (India) yang membangun jaringan perlindungan anak telantar,

 

Vera Cordeiro (Brasil) yang mereformasi perawatan kesehatan, atau Veronika

 

Khosa (Afrika Selatan) dengan model perawatan berbasis rumah (home-based

 

care model) untuk penderita AIDS, yang telah mengubah kebijakan

 

pemerintah tentang kesehatan di negaranya.

 

Dari Bangladesh, dunia mulai diingatkan tentang kewirarusahaan

 

sosial, ketika penghargaan Nobel tahun 2006 jatuh ke tangan seorang

 

wirausahawan sosial bernama Muhammad Yunus. Yunus adalah anggota

 

Global Academy Ashoka, di mana Ashoka dikenal sebagai sebuah organisasi

 

global pertama yang mengembangkan konsep kewirausahaan sosial. Berkat

 

gagasannya memberantas kemiskinan melalui sistem keuangan mikro yang

 

lebih dikenal sebagai Grameen Bank, Yunus telah membantu jutaan kaum

 

miskin di Bangladesh, terutama perempuan yang selama ini sangat sulit

 

memperoleh akses. Melalui Grameen Bank, Yunus membangun sistem untuk

 

memperoleh kesejahteraan yang lebih baik di tengah kemiskinan yang

 

mencekik. Ia membuktikan pentingnya sistem perbankan berubah menjadi

 

sensitif dan berdampak pada masyarakat miskin, khususnya perempuan. Ia

 

tidak hanya menginspirasi masyarakat Bangladesh, tetapi juga masyarakat

 

dunia (R. Valentina Sagala, 21 April 2007).



5

Dalam bukunya Bank Kaum Miskin, Muhammad Yunus (2007: 274)

 

menjelaskan bahwa kemiskinan tercipta karena kita membangun kerangka

 

teoritis berdasarkan asumsi-asumsi yang merendahkan kapasitas manusia,

 

dengan merancang konsep-konsep yang terlampau sempit (seperti konsep

 

bisnis, kelayakan kredit, kewirausahaan, lapangan kerja) atau

 

mengembangkan lembaga-lembaga yang belum matang (seperti lembaga-

 

lembaga keuangan yang tidak mengikutsertakan kaum miskin). Kemiskinan

 

disebabkan oleh kegagalan pada tataran konseptual, dan bukan kurangnya

 

kapabilitas di pihak rakyat.

 

Muhammad Yunus (2007: 264) selanjutnya mengisahkan bahwa

 

dirinya terlibat dalam masalah kemiskinan bukan sebagai pengambil kebijakan

 

atau peneliti. Ia terlibat karena kemiskinan ada di mana-mana di sekilingnya,

 

dan ia tidak bisa berpaling darinya. Tahun 1974, ia merasa sulit mengajarkan

 

teori-teori ekonomi yang elegan di ruang-ruang kelas universitas dengan latar

 

bencana kelaparan yang mengenaskan di Bangladesh. Untuk mengatasi

 

kemiskinan di sekitarnya, Yunus melakukan:

 

1. Membuat daftar korban "bisnis" rentenir di desa yang brsebelahan dengan

 

kampus tempat ia mengajar. Dari 42 korban yang pinjaman totalnya

 

AS$27, kemudian ia mengelurkan AS$27 dari koceknya sendiri untuk

 

membebaskan para korban ini dari cengkeraman rentenir.

 

2. Menjadi penjamin kredit bank bagi kaum miskin. Ia terkesima oleh

 

hasilnya. Orang-orang miskin yang ia jamin dapat membayar kembali

 

pinjamannya, tepat waktu.



6

3. Tahun 1983, ia mendirikan bank tersendiri bagi kaum miskin yang diberi

 

nama Grameen Bank atau Bank Pedesaan, dan kepemilikan penuh berada

 

di tangan kaum miskin. Hingga tahun 2007, Grameen Bank telah memberi

 

kredit ke hampir 7 juta orang miskin di 73.000 desa Bangladesh, 97 persen

 

diantaranya perempuan. Grameen Bank memberi kredit bebas agunan

 

untuk mata pencaharian, perumahan, sekolah, dan usaha mikro untuk

 

keluarga-keluarga miskin dan menawarkan setumpuk program tabungan

 

yang atraktif, dana pensiun, dan asuransi untuk para anggotanya. Secara

 

akumulatif Grameen Bank telah memberi kredit sebesar sekitar AS$6

 

miliar, dengan tingkat pengembalian 99 persen.

 

4. Grameen kemudian mendirikan perusahaan yang sahamnya mayoritas

 

dimiliki oleh kaum miskin. Salah satunya adalah pabrik yoghurt,

 

memproduksi yoghurt yang diperkaya untuk memberikan asupan gizi bagi

 

anak-anak kurang gizi, sebagai sebuah perusahaan patungan dengan

 

Danone.

 

Upaya mengentaskan kemiskinan ini juga merupakan anjuran agama

 

Islam agar yang bersangkutan menjadi orang yang taqwa. Hal ini seperti yang

 

termuat pada QS Al-Baqarah ayat 177, yaitu:

 

ztB#uÔ tB É9ø9$# Å3s9ur É>Ìøóyϑø9$#ur É-Îyϑø9$# t6Ï% öNä3ydqã_ãr (#q9uq? br& É9ø9$# Š9 *

 

ÏÎm6ãm 4'n?tã tA$yϑø9$# 'tA#uÔur zÍhÎ;Z9$#ur É=tGÅ3ø9$#ur Ïpx6Íׯn=yϑø9$#ur ÌÅzFy$# ÏQöquø9$#ur !$$Î/

 

ÅU$s%Ìh9$# 'Îur t,Î#Í!$¡¡9$#ur ÈÎ6¡¡9$# tøó$#ur tÅ3|¡yϑø9$#ur 4'yϑtGuŠø9$#ur 4n1ö)ø9$# rs

 

tÎÉ9Á9$#ur ( (#rßyg #sÎ) öNÏdÏgyÎ/ šcqqßϑø9$#ur no4q 2"9$# 'tA#uÔur no4qn=Á9$# uQ$s%r&ur



7

ãNd y7Íׯs9'r&ur ( (#q%y| tÏ%!$# y7Íׯs9'r& 3 Ä't7ø9$# tÏnur ÏÔ!#Ø9$#ur ÏÔ!$y't7ø9$#

 

Ç⊇∠∠È tbq)-ϑø9$#

 

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu

kebajikan. Akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada

Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab, dan nabi-nabi, memberikan

harta yang dicintai kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin,

orang-orang di tangah perjalanan (yang memerlukan pertolongan), orang-

orang yang meminta-minta, dan di dalam (membebaskan) perbudakan,

mendirikan sholat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menempati janji

apabila mereka berjanji, dan orang-orang yang sabar di dalam kesempitan,

penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar

(imannya), dan merekalah orang-orang yang bertaqwa. (QS. Al-Baqarah:

177).

 

Berdasarkan ayat tersebut, agama Islam menegaskan bahwa salah satu

 

ciri orang taqwa adalah kesediaannya membantu orang miskin agar dapat

 

hidup lebih layak. A Qodri Azizy (2004: 4) menjelaskan bahwa Islam

 

mengajarkan kepada umatnya untuk mengejar kesejahteraan di dunia dan di

 

akherat, yang menjadi do'a rutin bagi tiap-tiap umat seperti QS Al-Baqarah

 

ayat 20. Kesejahteraan akhirat kita sudah sering mendapatkan

 

pembahasannya. Sedangkan kebaikan dunia adalah tidak bisa lepas dari

 

terwujudnya kualitas hidup yang meliputi kesejahteraan harta. Jelas sekali

 

miskin, terbelakang, bodoh, dan semacamnya tidaklah akan disebut baik atau

 

berkualitas dalam hidupnya. Ini semua tidak menjadi cita-cita Islam secara

 

doktrinal.

 

Islam juga mengajarkan kepada umatnya untuk berupaya

 

menyeimbangkan kesejahteraan antara dunia dan akherat. Hal ini seperti yang

 

termuat pada QS Al-Qashash ayat 77, yaitu:



8

( $uR'9$# šÏB y7t7ŠÅÁtR š[Ys? wur ( notÅzFy$# u'#$!$# ª!$# š9t?#uÔ !$yϑÏ ÆtGö/$#ur

 

Ïtä w !$# bÎ) ( ÇÚö'F{$# yŠ$|¡xø9$# Æö7s? wur ( šøs9Î) ª!$# z|¡mr& !$yϑ 2 Å¡mr&ur =

 

Ç∠∠È tÏÅ¡øßϑø9$#

 

Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan)

negeri akherat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan)

duniawi. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat

baik kepadamu. Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi (QS. Al-Qashas:

77).

B. Perumusan Masalah

 

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dalam penulisan ini

 

permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut:

 

1. Faktor-faktor apa yang membuat individu menjadi miskin menurut

 

Muhammad Yunus?

 

2. Bagaimanakah cara Muhammad Yunus mengentaskan kemiskinan?

 

3. Faktor-faktor apa yang mendukung dan menghambat pengentasan

 

kemiskinan yang dilakukan oleh Muhammad Yunus?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

 

Tujuan dan manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

 

1. Untuk mengetahui faktor-faktor yang membuat individu menjadi miskin

 

menurut Muhammad Yunus.

 

2. Untuk mengetahui cara Muhammad Yunus mengentaskan kemiskinan.



9

3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mendukung dan menghambat

 

pengentasan kemiskinan yang dilakukan oleh Muhammad Yunus.

 

D. Hasil Penelitian Terdahulu

 

Beberapa penelitian terdahulu yang berkaitan dengan pengentasan

 

kemiskinan, antara lain:

 

A. Penelitian M. Hamdar Arraiyyah (2007) dengan mengambil judul

 

"Meneropong Fenomena Kemiskinan: Telaah Perspektif Al-

 

Qur'an" menyimpulkan bahwa kemiskinan yang melanda

 

seseorang tidaklah berarti bahwa ia dibensi oleh Tuhan.

 

Sebaliknya, kekayaan yang dianugerahkan kepada seseorang tidak

 

pula berarti bahwa ia dikasihani oleh Tuhan. Kekayaan ataupun

 

kemiskinan merupakan ujian Tuhan bagi manusia. Manusia yang

 

sabar dalam menghadapi kesulitan hidup akan dikasihani oleh

 

Tuhan. Demikian pula halnya bagi manusia yang bersyukur tatkala

 

diberi nikmat, ia akan dikasihani oleh Tuhan. Orang kaya maupun

 

orang miskin sama-sama berpeluang untuk mendapatkan ridha

 

Allah melalui iman dan amal saleh.

 

B. Penelitian A. Qodri Azizy (2004) yang mengambil judul

 

"Membangun Fondasi Ekonomi Umat: Meneropong Prospek

 

Berkembangnya Ekonomi Islam" menyimpulkan bahwa untuk

 

memperbaiki ekonomi umat Islam memasuki abad 21 ini ada

 

beberapa agenda yang harus dikerjakan. Kesiapan mentalitas umat

 

untuk berubah dan siap maju demi memperbaiki nasib diri menjadi



10

prioritas utama dalam membangun kemajuan ekonomi. Demikian

 

pelurusan pemahaman dan pemaknaan ajaran Islam juga

 

merupakan program yang tidak dapat ditinggalkan. Pemahaman

 

bahwa keduaniaan, terlebih lagi harta kekayaaan, jauh dari ibadah

 

dan keakhiratan adaah sama sekali salah dan menjadi racun

 

terhadap umat Islam. Dunia dan akherat tidak dapat dipisahkan: al-

 

dunya mazra'at al-akherah (keduniaan adalah investasi yang

 

nantinya berbuah di akherat).

 

Penelitian atau tulisan yang berkaitan dengan pengentasan kemiskinan

 

dari perspektif hukum Islam yang dikaitkan dengan pemikiran Muhammad

 

Yunus, sepanjang pengetahuan penulis belum ada. Sehubungan dengan ini,

 

penelitian ini bersifat lebih melengkapi hasil penelitian atau tulisan yang

 

sudah dilakukan oleh orang lain.

E. Tinjauan Pustaka

 

1. Pengertian Kemiskinan

 

Secara etimologis, kemiskinan berasal dari kata "miskin" yang

 

artinya tidak berharta benda dan serba kekurangan. Departemen Sosial dan

 

Biro Pusat Statistik, mendefinisikan kemiskinan dari perspektif kebutuhan

 

dasar. Kemiskinan sebagai ketidakmampuan individu dalam memenuhi

 

kebutuhan dasar minimal untuk hidup layak (Nurhadi, 2007: 13). Lebih

 

lanjut Nurhadi (2007: 13) menyebutkan kemiskinan merupakan sebuah

 

kondisi yang berada di bawah garis nilai standar kebutuhan minimum,



11

baik untuk makanan dan non-makanan yang disebut garis kemiskinan

 

(povertyline) atau batas kemiskinan (povertytresshold). Garis kemiskinan

 

adalah sejumlah rupiah yang diperlukan oleh setiap individu untuk dapat

 

membayar kebutuhan makanan secara 2.100 kilo kalori per orang per hari

 

dan kebutuhan non-makanan yang terdiri dari perumahan, pakaian,

 

kesehatan, pendidikan, transportasi, serta aneka barang dan jasa lainnya.

 

2. Jenis Kemiskinan

 

Menurut Frank Ellis (Nurhadi, 2007: 14) kemiskinan memiliki

 

berbagai dimensi yang menyangkut aspek ekonomi, politik dan sosial-

 

psikologis. Kemudian menurut Tadjuddin (Nurhadi, 2007: 15) membagi

 

kemiskinan menjadi tiga jenis dengan variasi yang berbeda, yaitu:

 

kemiskinan ekonomi, kemiskinan sosial, dan kemiskinan politik. Dari

 

kedua pendapat ini, maka kemiskinan memiliki 3 aspek, yaitu: (1)

 

ekonomis, (2) politik dan (3) sosial-psikologis.

 

a. Kemiskinan ekonomi

 

Secara ekonomi, kemiskinan dapat didefinisikan sebagai

 

kekurangan sumberdaya yang dapat digunakan untuk memenuhi

 

kebutuhan hidup dan meningkatkan kesejahteraan sekelompok orang.

 

Sumberdaya dalam hal ini tidak hanya menyangkut masalah finansial

 

saja, tetapi juga meliputi semua jenis kekayaan (wealth) yang dapat

 

meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam arti luas. Berdasarkan

 

konsepsi ini, maka kemiskinan dapat diukur secara langsung dengan

 

menetapkan persediaan sumberdaya yang dimiliki melalui penggunaan



12

standar baku yang dikenal dengan garis kemiskinan (poverty line).

 

Cara seperti ini sering disebut dengan metode pengukuran kemiskinan

 

absolut.

 

b. Kemiskinan politik

 

Secara politik, kemiskinan dapat dilihat dari tingkat akses

 

terhadap kekuasaan (power). Kekuatan dalam pengertian ini mencakup

 

tatanan sistem politik yang dapat menentukan kemampuan sekelompok

 

orng dalam menjangkau dan menggunanakan resources. Ada tiga

 

pertanyaan mendasar yang berkaitan dengan akses terhadap kekuasaan

 

ini, yaitu: (1) bagaimana orang dapat memanfaatkan sumberdaya yang

 

ada dalam masyarakat, (2) bagaimana orang turut ambil bagian dalam

 

pembuatan keputusan penggunaan sumberdaya yang tersedia, (3)

 

bagaimana kemampuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan

 

kemasyarakatan.

 

c. Kemiskinan sosial-psikologis

 

Secara sosial-psikologis, kemiskinan menunjuk pada

 

kekurangan jaringan dan struktur sosial yang mendukung dalam

 

mendapatkan kesempatan-kesempatan peningkatan produktifitas.

 

Dimensi ini juga dapat diartikan sebagai kemiskinan yang disebabkan

 

oleh adanya faktor-faktor penghambat yang mencegah atau merintangi

 

seseorang dalam memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang ada di

 

dalam masyarakat. Faktor-faktor tersebut dapat bersifat internal

 

maupun eksternal.



13

3. Penyebab Kemiskinan

 

Menurut World Bank dalam Nurhadi (2007: 25) dijelaskan

 

bahwa penyebab kemiskinan adalah strategi pembangunan yang terlalu

 

menitikberatkan dan bertumpu pada pertumbuhan ekonomi. Kenyataan

 

menunjukkan bahwa proses pembangunan sebagian besar negara

 

berkembang kurang menyentuh 40% dari lapisan terbawah jumlah

 

penduduknya. Strategi pertumbuhan yang dianut telah mengakibatkan

 

trickle-up dan bukannya trickle-down, sehingga proses pembangunan terus

 

memperbesar kesenjangan antara golongan miskin dan kaya.

 

Sedangkan menurut Andre Gunder Frank (Nurhadi, 2007: 26)

 

salah satu penyebab kemiskinan adalah pola hubungan ekonomi-politik

 

antar bangsa yang timpang, yang selanjutnya dikenal sebagai Teori

 

Ketergantungan (Dependence Theory). Pola hubungan antara negara

 

berkembang dan negara maju berada dalam posisi yang timpang dimana

 

negara-negara berkembang berada pada posisi tergantung pada negara-

 

negara maju, dan hal ini membawa akibat yang tidak menguntungkan bagi

 

kepentingan negara berkembang. Kemudian Oscar Lewis (Nurhadi, 2007:

 

27) menambahkan bahwa faktor penyebab kemiskinan adalah faktor

 

kebudayaan. Kemiskinan dapat muncul sebagai akibat dari nilai-nilai dan

 

kebudayaan yang dianut oleh kaum miskin itu sendiri. Menurutnya, kaum

 

miskin tidak dapat terintegrasi ke dalam masyarakat luas, bersifat apatis,

 

dan cenderung menyerah pada nasib. Di samping itu, tingkat pendidikan



14

mereka relatif rendah, tidak memiliki etos kerja, tidk memiliki daya juang,

 

dan juga tidak mempunyai kemampuan untuk memikirkan masa depan.

 

Robert Cambers (1987: 145-147) dalam teorinya "Deprivation

 

Trap" (lingkaran setan kemiskinan/ jebakan kemiskinan/ perangkap

 

kemiskinan) menjelaskan bahwa kemiskinan merupakan kondisi deprivasi

 

terhadap sumber-sumber pemenuhan kebutuhan dasar berupa makanan,

 

pakaian, tempat tinggal maupun kebutuhan pendidikan dan kesehatan.

 

Perangkap kemiskinan tersebut terdiri dari:

 

a. Kemiskinan (property propper)

 

Merupakan faktor yang paling menentukan dibandingkan

 

faktor-faktor lainnya. Kemiskinan menyebabkan kelemahan jasmani

 

karena kekurangan makan, yang pada gilirannya menghasilkan ukuran

 

tubuh yang lebih kecil; kekurangan gizi menyebabkan daya tahan

 

tubuh terhadap infeksi dan penyakit menjadi rendah, padahal tidak ada

 

uang untuk berobat ke klinik atau dokter; orangpun menjadi tersisih,

 

karena tidak mampu membiayai sekolah, membeli pesawat radio atau

 

sepeda, menyediakan ongkos untuk mencari kerja, atau bertempat

 

tinggal di dekat pusat keramaian dan di pinggir jalan besar; orang

 

menjadi rentan terhadap keadaan darurat atau kebutuhan mendesak

 

karena tidak mempunyai kekayaan; dan menjadi tidak berdaya karena

 

kehilangan kesejahteraan dan mempunyai kedudukan yang rendah;

 

orang miskin tidak mempunyai suara.



15

b. Kelemahan fisik (physical weakness)

 

Suatu rumah tangga mendorong orang ke arah kemiskinan

 

melalui beberapa cara: tingkat produktivitas tenaga kerja yang sangat

 

rendah; tidak mampu menggarap lahan yang luas, atau bekerja lebih

 

lama, melalui upah yang rendah bagi kaum wanita atau orang-orang

 

yang lemah, serta kelemahan karena sakit. Tubuh yang lemah juga

 

seringkali membuat orang menjadi tersisih karena tidak bisa mengikuti

 

pertemuan-pertemuan untuk mengikuti informasi dan pengetahuan

 

baru yang bermanfaat, terutama bagi kaum wanita yang berkewajiban

 

mengurus anak-anak.

 

c. Isolasi atau keterasingan (isolation)

 

Isolasi disebabkan karena orang tidak dapat mengakses

 

pendidikan, tempat tinggal yang jauh terpencil, atau berada di luar

 

jangkauan komunikasi. Isolasi akan semakin menopang kemiskinan,

 

karena pelayanan dan bantuan dari pemerintah tidak akan dapat

 

menjangkau mereka; orang yang buta huruf tentu saja akan terjauh dari

 

informasi yang memiliki nilai ekonomi dan yang sebenarnya mereka

 

perlukan.

 

d. Kerentanan atau kerawanan (vulnerability to contingencies)

 

Kerentanan adalah salah satu mata rantai yang paling banyak

 

mempunyai jalinan. Faktor ini berkaitan erat dengan kemiskinan

 

karena orang terpaksa menjual atau menggadaikan kekayaan; berkaitan

 

dengan kelemahan jasmani untuk menangani keadaan darurat. Waktu



16

dan tenaga mereka ditukar dengan uang untuk mengatasi goncangan

 

mendadak yang dialami. Mereka terkadang menjadi amat bergantung

 

dengan majikannya ataupun dengan orang yang dijadikan gantungan

 

hidupnya.

 

e. Ketidakberdayaan (powerlessnes)

 

Ketidakberdayaan mendorong proses pemiskinan dalam

 

berbagai bentuk, antara lain pemerasan oleh kaum yang lebih kuat.

 

Orang yang tidak berdaya seringkali tidak mempunyai akses terhadap

 

bantuan pemerintah, setidak-tidaknya terhalang untuk memperoleh

 

bantuan hukum serta membatasi kemampuannya untuk menuntut upah

 

yang layak ataupun menolak suku bunga yang tinggi. Orang miskin

 

selalu menempatkan dirinya pada pihak yang dirugikan dalam setiap

 

transaksi jual beli, dan mereka hampir tidak memiliki pengaruh apa-

 

apa dalam pengambilan keputusan oleh pemerintah, misalnya

 

keputusan tentang bantuan-bantuan yang seharusnya untuk mereka

 

sendiri.

 

Menurut Jazairy dalam Nurhadi (2007: 27-29) mengemukakan

 

bahwa ada sepuluh faktor yang berpengaruh terhadap proses

 

kemiskinan, yaitu :

 

1) Policy induced process, merupakan suatu proses kemiskinan yang

 

disebabkan oleh kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah,

 

dimana kebijakan tersebut tidak bersifat pro-poor, tidak berpihak

 

pada kepentingan masyarakat miskin. Banyak contoh kebijakan di



17

bidang pertanian, sumberdaya air, sumberdaya alam dan lain-lain

 

lebih banyak berpihak pada kepentingan pengusaha/swasta

 

mengakibatkan kemiskinan masyarakat setempat.

 

2) Dualism, yaitu adanya dualisme sistem perekonomian, antara

 

perekonomian modern dan tradisional dimana masyarakat

 

pedesaan yang miskin dan bercorak ekonomi tradisional tidak

 

mampu menyesuaikan dengan perkembangan sistem perekonomian

 

modern. Kasus para petani yang kalah dengan agro-industri dapat

 

menjadi contoh untuk dualisme ini di perkotaan, para pedagang

 

sektor informal harus tersingkir oleh perkembangan pasar modern

 

(mall, supermarket, dll) merupakan contoh lain dari dualisme

 

ekonomi yang mengakibatkan kemiskinan.

 

3) Population growth, pertumbuhan penduduk yang cepat tanpa

 

disertai dengan peningkatan sumberdaya mengakibatkan proses

 

pemiskinan. Di pedesaan misalnya, makin bertambahnya jumlah

 

penduduk tanpa disertai penambahan lahan pertanian

 

mengakibatkan para petani kekurangan lahan sehingga hasil

 

garapannya tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup keluarga.

 

4) Resources management and the environtment, manajemen

 

sumberdaya dan lingkungan yang buruk juga akan mengakibatkan

 

kimiskinan. Eksploitasi sumberdaya hutan, penggalian tambang

 

dengan tidak melihat keberlanjutan eksistensi mengakibatkan



18

masyarakat tidak mampu lagi menompang hidupnya dari

 

hutan/tambang yang ada sehingga mereka menjadi miskin.

 

5) Natural cycles and process, siklus dan proses alamiah. Di pedesaan

 

kekeringan atau banjir menjadi salah satu sebab timbulnya

 

kelaparan dan kemiskinan pada penduduk. Kemarau panjang

 

menjadikan tanaman puso, sebaliknya banjir yang datang tiba-tiba

 

juga dapat mengakibatkan gagal panen.

 

6) The marginal of women, marginalisasi perempuan pada sektor

 

publik mengakibatkan kemiskinan terutama kemiskinan kaum

 

perempuan. Standar gaji perempuan yang lebih rendah dari laki-

 

laki menjadikan perempuan dalam kondisi kemiskinan.

 

7) Culture and ethnic factor, adanya faktor kultural dan etnik yang

 

tidak kondusif, misalnya perasaan nrimo, pasrah, atau alon-alon

 

waton kelakon, terkadang menimbulkan halangan upaya

 

pengentasan kemiskinan.

 

8) Exploitative intermediation, hal ini ditunjukkan dengan tidak

 

adanya perantara antara orang miskin dan pemerintah untuk

 

menyampaikan aspirasi. Sebaliknya orang miskin kadang justru

 

diekploitasi untuk perantara mencapai kekuasaan. Fenomena

 

politik akhir-akhir ini misalnya, banyak calon legislatif, calon

 

kepala daerah yang justru "menjual kemiskinan".

 

9) Internal political fragmentation and civil strife, yaitu akibat dari

 

kekacauan politik dan pertentangan sipil, yang berdampak pada



19

memburuknya kemiskinan. Masyarakat tidak dapat bekerja dengan

 

layak karena dicekam suasana konflik. Kasus konflik Poso, Aceh,

 

papua, misalnya, mengakibatkan masyarakat kadang menghentikan

 

aktifitas perekonomian.

 

10) International process, yaitu kemiskinan yang diakibatkan oleh

 

dorongan kekuatan pasar dan non-pasar. Masyarakat golongan

 

lemah tidak mampu mengakses pasar internasional karena adanya

 

ketergantungan terhadap negara-negara maju.

 

4. Pengentasan Kemiskinan

 

Menurut Soetatwo Hadiwiguno (Hamdar Arraiyyah, 2007: 4)

 

kemiskinan adalah masalah yang kronis dan kompleks. Dalam

 

menanggulangi kemiskinan permasalahan yang dihadapi bukan hanya

 

terbatas pada hal-hal yang menyangkut pemahaman sebab-akibat

 

timbulnya kemiskinan, melainkan juga melibatkan preferensi, nilai, dan

 

politik. Kemudian menurut Nurhadi (2007: 40-41), dijelaskan bahwa

 

untuk menanggulangi kemiskinan dapat dilakukan melalui 2 pendekatan,

 

yaitu: (1) pendekatan peningkatan pendapatan, dan (2) pendekatan

 

pengurangan beban. Kedua pendekatan tersebut ditopang oleh empat pilar

 

utama, yaitu: (1) penciptaan kesempatan, (2) pemberdayaan masyarakat,

 

(3) peningkatan kemampuan, dan (4) perlindungan sosial. Kedua

 

pendekatan dan keempat pilar tersebut bertumpu pada perencanaan,

 

penganggaran APBN dan APBD serta perbankan/lembaga keuangan non-

 

bank, swasta dan masyarakat.



20

Pilar pertama, yaitu perluasan kesempatan kerja dimaksudkan

 

sebagai menciptakan suasana dan lingkungan ekonomi makro,

 

pemerintahan, dan pelayanan publik yang kondusif bagi pertumbuhan

 

ekonomi sehingga mampu meningkatkan penciptaan kesempatan kerja dan

 

mendukung upaya-upaya penanggulangan kemiskinan. Pilar kedua, yaitu

 

pemberdayaan masyarakat mengandung maksud bahwa melalui

 

peningkatan kualitas sumber adaya manusia, pemantapan organisasi dan

 

kelembagaan sosial, politik, ekonomi, dan budaya sehingga mampu untuk

 

mendiri dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi

 

masyarakat miskin. Pilar ketiga, yaitu peningkatan kemampuan/ human

 

capital dimaksudkan sebagai peningkatan kemampuan dasar mesyarakat

 

miskin baik individual/ kelembagaan untuk meningkatkan pendapatan

 

melalui langkah perbaikan kesehatan dan pendidikan, peningkatan

 

ketrampilan usaha, permodalan, prasarana, teknologi serta informasi pasar

 

dan mampu mengadaptasi terhadap perkembangan lingkungannya

 

(ekonomi dan sosial). Pilar keempat, yaitu perlindungan sosial memiliki

 

makna memberikan perlindungan dan rasa aman bagi masyarakat yang

 

rentan (vulnerable), misalnya pengemis, lansia, anak-anak terlantar, yatim

 

piatu, penderita cacat, korban bencana alam, korban konflik sosial, serta

 

mereka yang terkena dampak krisis ekonomi.



21

F. Metode Penelitian

 

1. Jenis Penelitian

 

Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Menurut Widodo

 

dan Mukhtar (2000: 24), penelitian deskriptif kualitatif adalah penelitian

 

untuk menemukan pengetahuan seluas-luasnya terhadap obyek penelitian

 

pada suatu saat tertentu. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengumpulkan

 

informasi mengenai status suatu variabel atau tema, gejala atau keadaan

 

yang ada, yaitu keadaan gejala menurut apa adanya pada saat penelitian

 

dilakukan.

 

2. Pendekatan Penelitian

 

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah

 

pendekatan hukum Islam, yaitu mengkaji upaya pengentasan kemiskinan

 

yang dilakukan oleh Muhammad Yunus melalui Gremeen Bank apakah

 

sesuai dengan ajaran agama Islam.

 

3. Metode Pengumpulan Data

 

Dalam penelitian ini metode yang digunakan untuk mengumpulkan

 

data adalah dokumentasi. Teknik ini merupakan cara mengumpulkan data

 

yang dilakukan dengan kategorisasi dan klasifikasi bahan-bahan tertulis

 

yang berhubungan dengan masalah penelitian, baik dari sumber dokumen

 

maupun buku-buku, koran majalah dan tulisan-tulisan pada situs internet.

 

Bahan-bahan tertulis yang dijadikan alat untuk mengumpulkan

 

data ini adalah bahan-bahan yang mengkaji masalah yang berhubungan

 

dengan judul penelitian. Sehubungan dengan hal ini, data peneltian dibagi



22

menjadi 2 bagian, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer

 

bersumber dari buku yang ditulis oleh Muhammad Yunus dan Alan Jois

 

dengan judul aslinya "Vers un monde sans pauvrete" (1997) yang

 

diterjemahkan dalam bahasa Inggris "Banker to the Poor: Micro-lending

 

and the Battle against World Povetry" (2003). Kemudian oleh Irfan

 

Nasution (2007) diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul

 

"Bank Kaum Miskin: Kisah Yunus dan Grameen Bank Memerangi

 

Kemiskinan". Sedangkan data sekunder diambil dari beberapa tulisan

 

orang lain yang berkaitan dengan kajian penelitian ini, antara lain :

 

a. Nurhadi, 2007. Mengembangkan Jaminan Sosial Mengentaskan

 

Kemiskinan, cetakan pertama. Yogyakarta: Media Wacana.

 

b. Qodri Azizy, 2004. Membangun Fondasi Ekonomi Umat:

 

Meneropong Prospek Berkembangnya Ekonomi Islam.

 

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

c. M. Hamdar Arraiyyah, 2007. Meneropong Fenomena Kemiskinan:

 

Telaah Perspektif Al-Qur'an. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

d. Bahan-bahan selain buku yang tersebar di berbagai media termasuk

 

internet, yang berkaitan dengan judul penelitian ini.

 

4. Teknik Analisa Data

 

Obyek penelitian akan dianalisis secara tekstual, yaitu dengan

 

mengamati pandangan atau keyakinan dan upaya Muhammad Yunus

 

dalam mengoperasikan Grameen Bank untuk mengentaskan kemiskinan,

 

baik dari sisi naratifnya maupun sisi kedalam maknanya. Selanjutnya



23

untuk memberikan interpretasi pada obyek tersebut dilakukan analisis

 

yang terjadi dengan situasi lingkungan saat terjadinya peristiwa.

 

Langkah yang dilakukan dalam teknik analisis kualitatif adalah

 

model mengalir dari Matthew B Miles (1992: 72-74) yang meliputi:

 

a. Reduksi Data

 

Data yang terkumpul dicari tema dan pola, ditonjolkan pokok-pokok

 

yang penting kemudian disusun secara sistematis sehingga mudah

 

dikendalikan. Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan

 

perhatian pada penyederhanaan, pengabtrakan, dan tranformasi data

 

yang didapatkan dari berbagai sumber.

 

b. Display Data atau Penyajian Data

 

Membuat deskripsi tentang hasil pengumpulan data sehingga dapat

 

dilihat gambaran secara keseluruhan untuk dapat menarik kesimpulan

 

dengan tepat. Penyajian data sebagai sekumpulan informasi tersusun

 

yang memberi kemungkinan adannya penarikan kesimpulan.

 

c. Mengambil Kesimpulan dan Verifikasi

 

Dengan menggambungkan berbagai informasi atau data yang didapat,

 

selanjutnya dapat ditarik kesimpulan. Jadi kesimpulan senantiasa

 

diverifikasi selama proses pembahasan dan interpretasi data.

G. Sistematika penelitian

 

Laporan hasil penelitian ini akan disajikan menjadi 5 bab, dan masing-

 

masing bab berisi sebagai berikut ini.



24

Bab I

Bab II

Pendahuluan, berisi tentang latar belakang masalah, perumusan

 

masalah, tujuan dan manfaat penelitian, hasil penelitian terdahulu,

 

tinjauan pustaka, metode penelitian dan sistematika penulisan.

 

Perintah Pengentasan Kemiskinan Menurut Hukum Islam, berisi

 

tentang ketentuan dan arahan Islam dalam pengentasan

kemiskinan.

 

Biografi Singkat Muhammad Yunus.

 

Muhammad Yunus dan Upaya Pengentasan Kemiskinan

Bab III

 

Bab IV

di

Bangladesh, berisi tentang: (a) Pengentasan kemiskinan dan

implementasi

 

masyarakat

hukum

Islam

(b)

Bangladesh,

(c)

Faktor-faktor

 

Model-model

kemiskinan

 

pengentasan

Bab V

kemiskinan, (d) Faktor-faktor pendukung dan penghambat

 

pengentasan kemiskinan. (e) Tanggapan penulis tentang upaya

 

Muhammad Yunus

 

Penutup, berisi tentang kesimpulan dan saran.