BAB III

AQIDAH ISLAMIYAH

 

BAGIAN PERTAMA

AQIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA'AH

 

Aqidah: adalah sesuatu yang harus dibenarkan dalam hati dan dapat menenangkan jiwa, sehingga menjadi keyakinan yang mantap, yang tidak diliputi oleh keraguan dan tidak tercampur oleh kebimbangan.

 

Aqidah Ahlusunnah Wal Jama'ah:

1.         Aqidah salaf yang bersumber dari Rasul dan shahabat-shahabatnya, serta orang-orang yang mengikutinya de-ngan baik hingga akhir kelak.

2.         Orang Islam yang berada pada aqidah yang benar, yakni mereka yang berkumpul atas dasar kebenaran yang jelas dari kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya.

وَالَّذِيْنَ اهْتَدًوا زَادَهُمْ هُدَى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ. (محمد 17).

"Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambahkan petunjuk kepada mereka, dan memberikan balasan ketaqwaannya".

 

Aqidah  kita mewajibkan untuk mengimani kepada:

1.         Allah

2.         Malaikat

3.         Kitab

4.         Utusan

5.         Hari kebangkitan (hari akhir), dan

6.         Qadar, baik dan buruk adalah dari Allah.

 

A.       IMAN KEPADA ALLAH

Dalam hal ini akan kita perinci  pembahasannya  meliputi:

1.         Dzat Allah (mengapa kita dilarang berfikir ke arah itu)

2.         Wujud Allah dan sebahagian pendapat ahli fisika.

3.         Nama-nama Allah.

 

DZAT ALLAH

Dzat Allah adalah lebih besar dari jangkauan pemikiran atau akal manusia, karena akal dan pikiran apabila telah sampai ke puncaknya maka kekuatan dan kemampuannya akan membeku.  Akal tidak akan menembus hakekat sesuatu, apalagi hakekat dzat Allah swt. Hal ini dapat dibuktikan dengan contoh:

One. Kita mengetahui bahwa manusia sampai kepada kesanggup-annya memecahkan alam raya ini, ia mengambil manfa'at dari sesuatu, tetapi tidak mengetahui hakekat sesuatu itu sendiri, seperti halnya listrik dan magnit.

Two.Kita menemukan mikroskop, bila mungkin ia dapat memeriksa badan kita dari ujung rambut sampai ke telapak kaki, terus ke bahagian dalam lainnya, maka apakah manusia sanggup menemukan hakekatnya?

وَلِلَّهِ الْمَثَــــــلُ اْلاَعْلَى (النحل 60)

"Bagi Allah adalah idea yang tertinggi".

Kalau dibandingkan kebesaran Ilahi dengan manusia, ia akan lebih tidak berarti dari satu sel atom bagi diri manusia. Kalau kita mempelajari tentang alam ini, baik itu langit atau bumi, kita akan mengetahui rahasia-rahasia dan keistime-waannya, sedang kita mengetahui bahwa semua itu adalah makhluk Allah.

Kalau demikian maka bagaimanakah Dzat Allah?

Disinilah keterbatasan yang pasti, oleh karena itu Rasulullah bersabda :

تَفَكَّرُوْا فِى خَلْقِ اللهِ، وَلاَ تَفَكَّرُوْا فِى اللهِ فَإِنَّكُمْ لَنْ تَقْدِرُوْا قَدْرَهُ. "وفى رواية" وَلاَ تَفَكَّرُوْا فِى ذَاتِ اللهِ فَتَهْلِكُوْا

"Berfikirlah  tentang mahluk  Allah,  dan  janganlah berfikir tentang Dzat Allah, sebab akal tidak akan sanggup mengetahuinya. (riwayat lain) dan janganlah berfikir tentang Dzat Allah,niscaya kalian akan binasa".

 

Mengapa kita dilarang memikirkan Dzat Allah?

Hal ini bukan berarti membatasi ruang lingkup kebebasan berfikir, dan bukan membekukan pembahasan, dan bukan pula menyempitkan gerak akal, namun khawatir kalau-kalau terjerumus dalam kesesatan yang menjauhkan pembahasan, dimana akal kita tak mampu membahasnya.  Oleh karena itu pantaslah ada sementara Ulama mengatakan dalam sya'irnya:

اَلْعَجْزُ عَنْ دَرْكِ اْلإِدْرَاكِ إِدْرَاكٌ، وَاْلبَحْثُ فِى كُنْهِ ذَاتِهِ إِشْرَاكٌ

"Merasa lemah menemukan Tuhan adalah  penemuan, dan membahas hakekat Dzat-Nya adalah kesyirikan."

 

WUJUD  ALLAH

Wujud Allah secara hakiki tetap mantap dalam jiwa, terkukuhkan dengan keajaiban makhluk-Nya dan keanehan ciptaan-Nya serta kebesaran tanda-tanda kekuasaan-Nya.  Allah berfirman:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّموَاتِ وَاْلأَرْضِ لِيَقُوْلُنَّ اللهُ (الزمر: 38).

"Dan jika kamu bertanya kepada  mereka (orang kafir) 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?'. Mereka pasti menjawab: 'Allah' (yang menciptakan)."

 

Dalam hal ini dapat kita kutipkan beberapa pendapat ahli fisika:

1.         Descartes (sarjana Perancis)

"Menurut perasaanku yang serba kekurangan ini, merasakan pada diriku sendiri adanya Dzat yang maha sempurna, dan aku berkeyakinan dengan tekad yang mantap bahwa perasaan itu ditanamkan dalam diriku oleh dzat yang sempurna yang dilipuli dengan segala sifat kesempurnaannya, yaitu Allah".

2.         Lenet dalam buku "Allah dalam Fisika" karangan Kamil, menyatakan:

"Sesungguhnya Allah yang azali, abadi, mengetahui segala sesuatu, menentukan atas segalanya, telah menjelma bagiku dalam keanehan ciptaanNya sampai-sampai aku menjadi bengong, kekuasaan mana, hikmat apa dan mana penciptaan, semuanya adalah ciptaannya di dalam diri makhluknya"

3.         Isac Newton (penemu Hukum Gravitasi)

"Janganlah kau ragu tentang pencipta, karena tidak masuk akal segala sesuatu hanya dengan kebetulan, tetapi sebenarnya ada Maha Pembimbing segala wujud ini".

 

4.         Harsel (Ahli Falak Inggeris)

"Apabila meluas cakrawala ilmu, maka bertambahlah tanda-tanda yang mendalam, yang menguatkan terhadap adanya pencipta yang azali, yang tak terbatas kekuasaannya dan tidak ada henti-hentinya.  Geolog, mathematikus, astronom dan ahli fisika, semuanya membantu untuk menerangkan kejelasan alam, yaitu menerangkan kebesaran Allah semata".

 

NAMA-NAMA ALLAH

Nama yang tunggal yang telah diberikan kepada Dzat-nya yang suci adalah ALLAH, dan dengan nama ini kembalilah segala nama dan sifat dalam diri-Nya.

Nama-nama lain bagi Dzat Allah dapat kita tilik dari:

1.         Jika nama itu menunjukkan kepada dzat-Nya, maka akan terdapat arti sifat, yang dengan ini bukan berarti menghilangkan nama dan sifatnya; yakni nama-nama itu mengandung sifat yang berhubungan dengan dzat yang munasabah dengan keagungan Tuhan dan kebesarannya, seperti Ar-Rahman, nama dzat yang mengandung sifat Rahmah.  Ghafur yang mmgandung sifat maghfirah, Azizi yang mengandung sifat Izzah.

2.         Selain nama-nama Allah yang tauqifi dengan nama syara', dan tidak boleh nengada-adakan sebutan nama atau sifat Allah yang tak terdapat dalam Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah.

 

B.       IMAN KEPADA MALAIKAT

Malaikat adalah makhluk Allah yang tidak makan dan minum, tidak berbuat maksiat serta patuh atas segala perintah Allah, sebagaimana firman Allah:

لاَيَعْصُوْنَ اللهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ (التحريم 6).

"... yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang dipeintahkan-Nya".

يُسَبِّحُوْنَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لاَيَفْتُرُوْنَ (الأنبياء 20).

"Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya".

لاَيَسْبِقُوْنَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُوْنَ  (الانبياء 27)

"Mereka itu didak mendahuluinya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya."

 

Malaikat jumlahnya tak terbilang.

Allah memberikan kekuatan yang luar biasa kepada mereka.

جَاعِلِ الْمَلاَئِكَةِ رُسُلاً أُوْلِى أَجْنِحَةٍ مَثْنى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ، يَزِيْدُ فِى الْخَلْقِ مَايَشَاءُ  (فاطر 1).

"... Yang menjadikan Malaikat sebagai utusan (untuk mengurus berbagai urusan), yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, ada yang tiga dan empat. Allah menambahkan ciptaannya sesuai dengan kehendak-Nya".

Diantara Malaikat  ada  yang  disebut  Malaikat  Hafadhah.

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً، حَتّى إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لاَ يُفَرِّطُوْنَ  (الأنعام 61).

"Dan  Dialah  yang  mempunyai  kekuasaan   tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat Hafadhah (penjaga), sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia dimatikan oleh Malaikat Kami, dan Malaikat itu tidak melalaikan kewajibannya".

Malaikat yang wajib kita kenal adalah: Jibril, Mikail, Israfil, Izrail (Malakul-Maut), Munkar dan Nakir yang ditugaskan sebagai penanya di alam kubur, Rakib dan Atid, Malik dan Ridwan.

 

C.       IMAN KEPADA KITAB ALLAH

Kitab Allah yang diturunkan, yang kita kenaI adalah Shuhuf Ibrahimdan Musa, Taurat, Zabur, Injil dan Al-Qur'an.  Dalam perkembangan kitab-kitab tersebut mengalami per-ubahan dan penukaran yang dilakukan oleh tokoh-tokoh mereka sesuai dengan selera nafsu dan tujuan masing-masing, hanya Al-Qur'anlah satu-satunya yang dipelihara oleh Allah swt. dari tangan-tangan kotor manusia.

لاَيَأْتِيْهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلاَ مِنْ خَلْفِهِ، تَنْزِيْلٌ مِنْ عَزِيْزٍ حَمِيْدٍ (فصلت: 42).

"Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur'an) kebathilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji".

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّالَهُ لَحَافِظُوْنَ  (الحجر 9).

"Dan  sesungguhnya  Kamilah  yang  menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya".

 

D.       IMAN KEPADA RUSUL  ALLAH

Para Rasul adalah manusia biasa, dari keturunan manusia biasa, yang telah Allah pilih untuk mmunjukkan dan membimbing manusia ke jalan yang benar, sebagaimana firman Allah swt.:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍ رَسُوْلاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوْا الطَّاغُوْتَ   (النحل 36).

"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada setiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thaghut itu".

Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain Allah.

Kita mempercayai bahwa semua utusan itu menyampaikan segala apa yang Allah telah berikan kepada mereka, dan menyam-paikan amanat dengan sempurna tanpa nengurangi sedikit pun, mereka mengajak ke jalan Allah dengan sentuhan bathin. Jumlah mereka tidah ada yang tahu kecuali Allah semata.  Yang wajib kita ketahui adalah sebagaimana yang tercantum dalam sya'ir ini:

فِى تِلْكَ حُجَّتُنَا مِنْهُمْ ثَمَانِيَةٌ # مِنْ بَعْدِ عَشْرٍ وَيَبْقى سَبْعَةٌ وَهُمُوْا # إِدْرِيْسٌ هُوْدٌ شُعَيْبٌ صَالِحٌ وَكَذَا# ذُوالْكِفْلِ آدَمُ بِالْمُخْتَارِ قَدْ خُتِمُوْا #

"Dalam ayat تلك حجتنا  terdapat 18 (delapan belas) nabi, tinggal 7 (tujuh) nabi, yakni Idris, Hud, Syu'aib, Sholeh, Dzulkifli, Adam dan Muhammad saw. nabi terakhir."

 

وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيْمَ عَلَى قَوْمِهِ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيْمٌ عَلِيْمٌ، وَوَهَبْنَــالَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوْبَ كُلاًّ هَدَيْنَا وَنُوْحًا هَدَيْنَا مِنْ قَبْلُ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِ دَاوُوْدَ وَسُلَيْمَانَ وَأَيُّوْبَ وَيُوْسُفَ وَمُوْسَى وَهَارُوْنَ، وَكَذَلِكَ نَجْزِىْ الْمُحْسِنِيْنَ، وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَى وَعِيْسَى وَإِلْيَاسَ، كُلٌّ مِنَ الصَّالِحِيْنَ، وَإِسْمَاعِيْلَ وَالْيَسَعَ وَيُوْنُسَ وَلُوْطًا، وَكُلاًّ فَضَّلْنَا عَلَى الْعَالَمِيْنَ (الأنعام: 83 - 87).

"Dan itulah hujjah kami, yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya, Kami tinggikan siapa yang kami kehendaki beberapa derajat, sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui.  Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Ya'kub kepadanya, kepada keduanya masing-masingtelah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu, (juga ) Kami telah beri petunjuk, dan pada sebahagian keturunannya yaitu Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun.  Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik; dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas.  Semuanya termasuk orang-orang yang sholeh; dan Ismail, Ilyasa', Yunus dan Luth, masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (pada masanya)."

 

Di antara para nabi ada yang berpangkat Ulul-Azmi, yaitu "Nabi Termulia" yang disebut dalan Al-Qur'an:

وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِـيِّيْنَ مِيْثَاقَهُمْ وَمِنْكَ وَمِنْ نُوْحٍ وَاِبْرَاهِيْمَ وَمُوْسَى وَعِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ 

وَأَخَذْنَا مِيْثَاقًا غَلِيْظًا (الأحزاب: 7).

"Dan ingatlah ketika  Kami  mengambil  perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu sendiri, dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam.  Dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh".

 

E.        IMAN KEPADA HARI AKHIR

Iman kepada hari akhir ini termasuk didalamnya segala apa yang telah diberitakan oleh Nabi kita Muhammad  saw. yang terjadi setelah mati.  Kita beriman adanya ujian di alam kubur, mendapat siksa dan pahala di dalamnya.

Arti fitnah dalam kubur adalah bahwa setiap manusia itu diuji dan ditanya dalam kuburnya mengenai:

1.         Siapa Tuhanmu                                                         من ربك ؟

2.         Apa agamamu                                                                مادينك؟

3.         Siapa nabimu                                                             من نبيك ؟

Allah menetapkan bagi orang yang beriman dengan kata-kata yang mantap dalam kehidupan di dunia dan akhirat yaitu kata-kata dua kalimat syahadat:

أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

"Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah".

 

Jawaban bagi orang mu'min adalah bahwa:

Tuhanku adalah Allah,                                                            الله ربى

Islam adalah agamaku                                                 والاسلام ديني

Muhammad  adalah Nabiku.                                           ومحمد نبيي

Adapun jawaban orang yang ragu-ragu, mengatakan: "Aaah, saya tidak tahu, saya mendengar dari orang, katanya begini dan begitu, dan kusampaikan sebagaimana kata orang."

 

Siksa Orang yang Ragu

Dipukul dengan gada, dia menjerit dengan sekuat-kuatnya, sehingga terdengar oleh semua makhluk kecuali manusia, sebab kalau manusia mendengarnya, maka ia akan sesak nafasnya.

 

Apa yang terjadi setelah soal kubur?

Setelah manusia diuji adakalanya lulus mendapatkan ni'mat, dan adakalanya tidak dengan mendapatkan siksa sampai datangnya hari kiamat, kemudian dikembalikan ruh mereka ke dalam jasad mereka semula.  Kubur adakalanya sebagai taman syurga dan adakalanya sebagai taman neraka. Manusia sekarang ini sedang tidur, apabila mereka mati maka terbangunlah ia.

Siksa kubur ada dua macam:

1.         Adzab yang terus menerus, sebagainana firman Allah:

اَلنَّارُ يُعْرَضُوْنَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا، وَيَوْمَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ أَدْخِـــلُوْا آلَ فِرْعَـوْنَ أَشَــدَّ الْعَذَابِ. (المؤمن:46).

"Neraka disodorkan kepada mereka pagi dan sore, dan pada hari kiamat mereka dipanggil, masuklah keluarga Fir'aun dengan mendapatkan siksa yang sangat pedih."

 

2.         Adzab yang temporer, yakni adzabnya orang yang maksiat, yang diperhitungkan lama atau tidaknya dari kemaksiat-annya, setelah itu mereka dibebaskan. Barangsiapa yang mati sedangkan dia berhak mendapatkan adzab, maka dia pasti akan mendapatkan adzab kubur. Soal kubur ini akan dialami semua orang, tidak terkecuali orang yang matinya terbakar hangus, terlempar di udara, dimakan binatang buas, terhempas ombak, sehingga tidak ada kuburannya.

 

Kiamat Kubra (Ba'ats dan Hasyar)

Kiamat Kubra itu pasti terjadi, sebagaimana Allah telah menyampaikan dalam kitab-Nya dan sabda para utusan-Nya.  Manusia dibangunkan dari kuburnya untuk menghadap Tuhannya tanpa alas kaki, telanjang dan gundul. Matahari didekatkan  sehingga manusia bersimbah keringat.

 

Mizan (Timbangan)

Timbangan ditegakkan untuk menimbang amal perbuatan manusia, sebagaimana digambarkan oleh Al-Qur'an:

فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِيْنُهُ فَأُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ، وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِيْنُهُ فَأُولئِكَ الَّذِيْنَ خَسِرُوْا أَنْفُسَهُمْ فِى جَهَنَّمَ خَالِدُوْنَ. (الاعراف: 7).

"Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikannya), maka mereka adalah orang-orang yang mendapatkan kebahagiaan, dan barangsiapa yang ringan timbangan (kebaikannya) maka mereka adalah orang yang merugikan dirinya masuk ke neraka Jahanam untuk selama-lamanya."

 

Lembaran Amal

Lembaran amal adalah merupakan catatan amal perbuatan manusia di dunia. Mereka ada yang mendapatkannya dengan tangan kanan, ada yang dengan tangan kiri, dan ada pula yang datangnya dari belakang. Allah berfirman:

وَكُلَّ اِنْسَانٍ أَلْزُمْنَاهُ طَائِرَهُ فِى عُنُقِهِ، وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُوْرًا، اِقْرَأ كِتَابَكَ، كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيْبًا. (الاسراء: 14).

"Dan di dalam diri  manusia  Kami  tetapkan   catatan di atas tengkuknya, dan Kami akan keluarkan kepadanya sebagai buku yang Kami sampaikan dengan menyebarkannya. 'Bacalah bukumu'. Cukup dengan dirimu pada hari ini sebagai hisaban".

 

Hisab

Allah akan menghisab makhluknya, yakni semua orang mu'min, dan waktu itu ditetapkan kadar dosanya, sebagaimana terdapat dalam Al-Qur'an dan sunnah Rasul saw.  Adapun orang-orang kafir tidak melalui hisah (perhitungan baik dan buruk), karena mereka adalah jelas tidak ada kebaikannya, namun mereka hanya dicocokkan dan ditetapkan serta diketahui amal perbuatannya.

 

Telaga yang dilewati

Salah satu hal yang akan terjadi di akherat kelak adalah terdapatnya telaga kepunyaan Nabi Muhammad saw. yang akan dilewati oleh setiap mu'min. Airnya lebih putih dan jernih dari air susu, lebih manis dari madu, cangkirnya sebanyak bintang di langit, panjang dan lebarnya perjalanan sebulan tiap sisinya, barangsiapa yang meminumnya, maka dijamin tak akan haus selama-lamanya.

 

Sirath (titian)

Titian membentang di atas jahannam, yakni jembatan yang menghubungkan antara syurga dan neraka. Manusia berjalan di atas titian ini sesuai dengan amal perbuatannya.  Ada yang seperti kilat, ada yang seperti angin, ada yang seperti orang yang mengendarai kuda, ada yang seperti orang yang seperti mengendarai onta, ada seperti orang yang memburu musuh, ada yang seperti pejalan kaki, ada yang merangkak, dan ada pula yang tergelincir dan terjerumus ke Jahanam.  Di jembatan itu terdapat rintangan-rintangan yang menggelincirkan, barangsiapa yang melalui titian ini dengan selamat, maka dia akan masuk ke sorga.

 

Jembatan

Apabila manusia sudah melalui titian yang membentang di atas Jahanam mereka berhenti di suatu pos di atas jembatan yang menghubungkan syurga dan neraka, satu sama lain berceritera tentang pengalamannya masing-masing, apabila mereka telah diizinkan dan telah bersih, maka barulah dia masuk syurga.

 

Syurga

Orang yang mula-mula membuka pintu syurga adalah Nabi kita Muhammad saw. dan umat yang mula-mula masuk umat Islam (umat Nabi Muhammad saw.).

 

Syafa'at (pembelaan)

Bagi Nabi Muhammad pada hari kiamat itu mempunyai tiga syafa'at, yakni:

1.         Syafa'at di maiqif (pemberhentian sementara) setelah mereka mendatangi nabi Adam, Nuh, lbrahim, Musa dan Isa, sampai kepada Nabi Muhammad saw.

2.         Syafa'at bagi ahli syurga untuk segera masuk ke dalamnya.

3.         Syafa'at bagi orang yang berhak masuk ke neraka, dibelanya untuk tidak masuk ke neraka, dan yang sudah masuk agar keluar dari neraka.

Syafa'at kesatu dan kedua adalah khusus kepada Nabi kita Muhammad saw. sedangkan syafa'at ketiga adalah untuk umum, yakni bagi para nabi, orang-orang yang membela kebenaran dan lain-lainnya.  Kemudian Allah mengeluarkan orang-orang mu'min dari neraka tanpa syafa'at, karena semata-mata kemurahan dan rahmat-Nya belaka.

 

Luasnya Syurga

Manusia tinggal di syurga dengan penuh keutamaan, dan disanalah Allah membikin generasi baru sebagai penghuni syurga.

 

F.    IMAN KEPADA QADAR

Manusia yang selamat (golongar Ahlussunnah wal Jama'ah) adalah percaya kepada qadar baik dan buruk.  Iman kepada qadar ada dua tingkat:

1.         Ilmu Allah yang qadim.

One. llmu Allah atas segala makhluk dengan ilmu-Nya yang qadim,yakni ilmu yang bersifat azali dan abadi.

Two.Ilmu atas tingkah laku makhluk, baik itu yang bersifat ta'at  atau maksiat, rizki atau ajal manusia.

Catatan hal tersebut terdapat di Lauhil-Mahfudl.  Awal ciptaan Allah adalah Qalam (pena). Allah berfirman kepada qalam: "Tulislah". Qalam menjawab: "Apa yang kutulis?" Allah menyuruh: "Tulislah apa yang akan terjadi sampai hari kiamat, apa yang menimpa pada diri manusia bukanlah karena kesalahan-nya, dan apa yang dianggap salah belum tentu terkena musibah", keringlah pena dan terlipatlah kertas.

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ، إِنَّ ذلِكَ فِى الْكِتَابِ، إِنَّ ذلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيْرٌ. (الحج: 70).

"Tidaklah engkau mengetahui bahwa Allah adalah mengetahui apa yang terdapat di langit dan di bumi, sesungguhnya demikian itu terdapat dalam kitab, dan sesungguhnya demikian itu adalah mudah bagi Allah".

مَااَصَابَ مِنْ مُصِيْبَةٍ فِى اْلأَرْضِ وَلاَ فِى أَنْفُسِكُمْ إِلاَّ فِى كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَاَهَا، إِنَّ ذلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيْرٌ. (الحديد: 22).

"Tidaklah terjadi sesuatu musibah di atas bumi dan juga tidak dalam dirimu, kecuali dalam kitab sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah".

 

Taqrir yang mengikuti kepada ilmu Allah ini pasti akan terjadi, sebagaimana telah tertulis dalam Lauhil Mahfudl sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya.  Allah apabila menciptakan janin (sebelum ditiup rohnya) Allah mengutus Malaikat diperintahkan menulis empat perkara, yakni rizkinya, ajal, bahagia dan celakanya.

2.         Kehendak Allah yang umum dan qudratnya yang meliputi yakni apa yang dikehendaki oleh Allah pasti akan terjadi, dan apa yang tak dikehendaki, pasti tidak akan terjadi.  Apa yang di langit dan di bumi, baik yang bergerak atau yang diam, semuanya sesuai dengan kehendak Allah.  Tidak terdapat dalam kerajaan-Nya sesuatu yang Dia tidak kehendaki.  Allah berkuasa atas segala sesuatu dalam mengadakan dan meniadakan (menghilangkan).

Penciptaan Allah bagi segala makhluk, yakni bahwa tak ada suatu makhluk di bumi dan di langit, kecuali Allah yang menciptakannya, tidak ada pencipta lain kecuali Dia.  Oleh karenanya:

One. Allah remerintahkan hambanya untuk menta'ati-Nya ta'at kepada Rasul, dan melarang perbuatan maksiat kepadanya. Allah menciptakan orang yang takwa, muhsin dan muqsithin, suka kepada orang yang beriman, beramal shaleh. Allah tidak cinta kepada orang kafir, dan tidak rela kepada ornng yang fasik. Allah tidak memerintahkan berbuat fakhsya dan tidak suka kekufuran hambanya dan tidak suka kebinasaan.

Two.Hamba Allah ada yang mu'min dan ada yang kafir, ada yang baik dan ada yang buruk, ada yang melakukan shalat, puasa dan lain-lain amalan keislaman tetapi ada juga yang durhaka.

 

Pekerjaan Manusia

Manusia bekerja dengan secara hakiki, dan Allah-lah yang menciptakan pekerjaan itu.  Manusia  berkuasa  dan berkehendak terhadap amalnyat sedang Allah menciptakan mereka, menciptakan kudrat dan iradatnya.  Allah telah berfirman:

لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيْمَ، وَمَا تَشَاؤُوْنَ إِلاَّ أَنْ يَشَاءَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ. (التكرير: 28 - 29).

"... bagi orang yang Dia kehendaki daripada kamu untuk beristiqamah, dan mereka tidak berkuasa kccuali dikehendaki oleh Allah, Tuhan seru sekalian alam".

 

Ayat:  لمن شاء منكم أن يستقيم membantah pendapat kaum Jabariyah yang menyatakan bahwa manusia tidak mempunyai kehendak sama sekali.  Dalam ayat ini pula menempatkan kehendak manusia dengan ijtihad dan memeras tenaga, ikhtiar, berusaha, bukan bermalas-malasan dan menyerah diri dan akan dimintai pertanggung-jawabannya karena istiqamah.

  Ayat: وما تشاؤون إلا أن يشاء الله membantah pendapat Qadariyah yang mengatakan bahwa manusia itu mempunyai kehendak yang berdiri sendiri dalam menciptakan kerja tanpa campur tangan kehendak Tuhan. Dalam ayat ini pula ditetapkan kehendak manusia dengan pertolongan Allah tawakal dan berpegang teguh kepadanya.  Keyakinan bahwa seseorang tidak mungkin berkehendak dan bekerja kecuali Allah yang menyediakannya, disebutkan dalam ayat:

إلا أن يشاء الله رب العالمين

 

Dua ayat inilah yang mengandung penetapan syara' dan qudrat, sebab dan musabbab, pekerjaan manusia yang disandarkan kepada pekerjaan Allah Rabbil Alamien.

 

 

BAGIAN KEDUA

BEBERAPA PENDAPAT AHLUSSUNNAH

 

وَكَذلِكَ جَعَلْنَاكُمْ اُمَّةً وَسَطًا.  (البقرة: 143).

"Dan demikian (pula) Kami  telah  menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan...".

 

Ahlussunnah dalam menengahi pendapat umat yang berkem-bang, telah dapat menunjukkan hasil yang memuaskan, yakni dalam lima perkara:

1.         Nama dan sifat Allah                                                    (الأسماء واصفات)

2.         Pekerjaan Manusia                                                              ( أفعال العباد )

3.        Peringatan Allah                                                                      ( وعيد الله )

4.         Nama Iman dan Agama, dan                       ( أسماء الايمان والدين ) dan

5.         Shahabat Rasulullah                                             ( أصحاب رسول الله )

 

Untuk lebih jelasnya, maka dapat kita uraikan sebagai berikut:

 

1. NAMA DAN SIFAT ALLAH

Dalam hal nama dan sifat Allah, Ahlussunnah menengahi beberapa pendapat yang berlawanan; disatu pihak ada yang menghilangkan sifat Allah, sebagaimana pendapat Jahamiyah, dilain pihak ada yang menetapkannya, sebagaimana golongan Tamtsil-Musyabbihah.

Jahamiyah                                           :        Tidak menetapkan sifat bagi Allah, bahkan menghilangkannya, karena menghindari tasybih (penyerupaan Allah terhadap makhluk).

Mu'tazilah                                           :        Menghilangkan dalil-dalil sifat Allah.

Asya'riah                                              :        Menetapkan sebahagian sifat dan menghi-langkan sebahagian.

Ahlussunnah                                       :        Menetapkan sifat Allah dan menghilangkan panyerupaan terhadap makhluk.

Ahli Tamstil-Musyabbihah               :        Menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk.

 

2. PEKERJAAN MANUSIA

Ahlussunnah dalam masalah pekerjaan manusia, berada di tengah-tengah antara pendapat Jabariyah dan Qadariyah.

Jabariyah                   :        Menghilangkan pekerjaan manusia samasekali, ia berpendapat bahwa manusia itu terpaksa dalam segala perbuatannya, kalau manusia itu bekeria, maka yang bekerja adalah Allah.

Ahlussunnah              :        Manusia itu mempunyai kekuasaan, kehendak dan pekerjaan yang diberikan oleh Allah, agar supaya pekerjaan itu betul-betul pekerjaannya.  Bukan pekerjaan yang sifatnya semu, dengan tekad bahwa Allah-lah yang menciptakannya.

Qadariyah                  :        Manusialah yang  menciptakan  pekerjaan  dan mengetahuinya, bukan karena kehendak dan qudrat Allah. Dengan pendapat ini mereka disebut sebagai golongan Majusinya umat Islam.

 

3. ANCAMAN (PERINGATAN)  ALLAH

Tentang ancaman Allah ini Ahlussunnah berada di tengah-tengah pendapat golongan Murjiah Wa'idiyah dari Qadariyah.

Murji'ah                      :        Dosa tidak mempengaruhi keimanan, baik itu yang shaleh ataupun yang fasik.  Bagi pelaku dosa besar tidak mendapatkan siksaan.  Amal tidak termasuk kategori keimanan.

Ahlussunnah              :        Orang yang melakukan  dosa  besar  adalah  orang mu'min yang kurang keimanannya, dia digolongkan kepada orang fasik bukan kafir.  Apabila dia mati dengan dosa besar, maka itu di bawah kehendak Tuhan, jika Allah menghendaki untuk disiksa, maka disiksalah dia, dan jika Allah menghendaki untuk diampuni, maka diampunilah dia.

Al-Wa'diyah               :        Orang Islam yang menumpuk-numpuk  dosa  besar apabila dia mati dan tidak bertaubat, maka dia kekal di neraka, karena dia telah keluar dari keimanan secara keseluruhan.

 

4.  NAMA IMAN DAN AGAMA

Ahlussunnah dalam persoalan ini berada di antara pendapat Al-Harauriyah dan Mu'tazilah serta Murji'ah dan Jahamiyah.

Harauriyah nisbat dari Haraura, nama kota dekat Kufah sedangkan Mu'tazilah adalah pengikut Wasil bin 'Atho dan Amr bin Ubaid yang memisahkan diri jama'ah setelah wafatnya Hasan Al-Bishri.

Pendapat Khawarij, Harauriyah dan Mu'tazilah: Penumpuk dosa besar adalah kekal dalam neraka bila dia mati dan tak bertaubat, karena telah hilang keimanannya, yakni kafir hukumnya.

Ahlussunnah: Orang yang melakukan dosa besar adalah orang mu'min yang kurang keimanannya, keimanan dapat berkurang karena kemaksiatan, dan di akherat persoalannya diserahkan kepada Allah, bila Allah mema'afkan, maka bebaslah dia, dan bila Allah menyiksanya maka disiksalah dia.

Murji'ah dan Jahamiyah  berpendapat: Orang yang melakukan dosa besar itu keimanannya tetap sempurna dan tidak berhak mendapat siksaan, bahkan keimanannya tetap sebagaimana keimanan para Nabi.

Mu'tazilah berpendapat : Mereka ditempatkan dalam suatu tempat yang dikenal "Al-Manzilatu bainal manzilatain" (bertempat di antara dua tempat).  Orang yang berbuat dosa besar itu tidak mu'min dan tidak kafir.

 

5.  SHAHABAT RASUL

Sikap Ahlussunnah dalam menanggapi masalah shahabat Rasulullah berada diantara pendapat Rafidhah dan Khawarij.

Rafidhah adalah mereka yang mengatakan kepada Zaid bin Ali bin Husain, bahwa mereka tidak mengakui kepemimpinan Abu Bakar dan Umar sehingga bergabung dengan Zain, namun Zaid mengatakan bahwa: "Aku mengakui kepemimpinan Abu Bakar dan Umar, dan tidak mengakui terhadap mereka yang tidak mengakui".  Kemudian pendukung Zaid itu mengatakan:  "Kalau begitu engkau  telah  membuang kami" (رفضتمونى ) ,karena itu mereka disebut golongan Rafidhah.

Zaidiyah adalah  mereka  yang  berpendapat  sebagaimana Zain katakan:  (نتولا هى ونبرأ ممن تبرأ منها )yakni, kami mengakui kepemimpinan Abu Bakar, dan kami tidak mengakui kepada orang-orang yang tidak mengakuinya".

Syi'ah adalah suatu aliran yang timbul pada zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib, mereka terbagi dalam tiga golongan:

a. Ghaliyah :                  Golongan ini berpendapat bahwa Ali adalah Tuhan.  Hal ini terjadi ketika Ali keluar dari daerah Kidah, mereka bersujud kepada Ali, dan Ali bertanya, "Apa ini? " mereka menjawab "Engkau adalah Allah" Kemudian Ali menghardik mereka, menangkap dan membakar mereka, karena mereka adalah jelas merupakan orang-orang kafir yang keterlaluan.

b. Sabaiyah :                 Golongan ini adalah pengikut Abdullah bin Saba' seorang Yahudi dari Shan'a (Yaman) bernaung dalam Islam dengan maksud merusak kaum muslimin dari dalam.  Dia mencaci-maki Abu Bakar dan Umar. Ali mencari jejak Abdullah bin Saba' ini untuk dibunuh, namun dia lari ke Afrika.

c. Mufaddhilah :           Mereka adalah orang-orang yang melebihkan Ali atas Abu Bakar dan Umar, padahal Ali sendiri telah berkata: "Barangsiapa yang mengaggap bahwa aku adalah lebih dari Abu Bakar dan Umar, maka akan kudera dia (sebagai penipuan).

Rafidhah :                       Mereka mencaci-maki dan mengutuk  para  shahabat, serta mengkafirkannya terhadap sebagian shahabat. Mereka pada umumnya mengangkat Ali dan anak cucunya ke derajat Tuhan.

Ahlussunnah :               Mengakui keutamaan para shahabat dan mengklasifikasikan keutamaannya, mereka sangat suka karena mereka telah berdiri tegak membela Rasul dan da'wah Islamiyah.

Khawarij :                      Mereka mengkufurkan Utsman dan Ali serta sebahagian besar dari para shahabat, bahkan mereka menghalalkan darah dan harta benda mereka.