BAGIAN KEDUA

BEBERAPA PENDAPAT AHLUSSUNNAH

 

وَكَذلِكَ جَعَلْنَاكُمْ اُمَّةً وَسَطًا.  (البقرة: 143).

"Dan demikian (pula) Kami  telah  menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan...".

 

Ahlussunnah dalam menengahi pendapat umat yang berkem-bang, telah dapat menunjukkan hasil yang memuaskan, yakni dalam lima perkara:

1.         Nama dan sifat Allah                                            (الأسماء واصفات)

2.         Pekerjaan Manusia                                                         ( أفعال العباد )

3.        Peringatan Allah                                                                   ( وعيد الله )

4.         Nama Iman dan Agama, dan           ( أسماء الايمان والدين ) dan

5.         Shahabat Rasulullah                                        ( أصحاب رسول الله )

 

Untuk lebih jelasnya, maka dapat kita uraikan sebagai berikut:

 

1. NAMA DAN SIFAT ALLAH

Dalam hal nama dan sifat Allah, Ahlussunnah menengahi beberapa pendapat yang berlawanan; disatu pihak ada yang menghilangkan sifat Allah, sebagaimana pendapat Jahamiyah, dilain pihak ada yang menetapkannya, sebagaimana golongan Tamtsil-Musyabbihah.

Jahamiyah :      Tidak menetapkan sifat bagi Allah, bahkan menghilangkannya, karena menghindari tasy-

bih (penyerupaan Allah terhadap makhluk).

Mu'tazilah :      Menghilangkan dalil-dalil sifat Allah.

Asya'riah :       Menetapkan sebahagian sifat dan menghi-langkan sebahagian.

Ahlussunnah :        Menetapkan sifat Allah dan menghilangkan panyerupaan terhadap makhluk.

Ahli Tamstil-Musyabbihah                : Menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk.

 

2. PEKERJAAN MANUSIA

Ahlussunnah dalam masalah pekerjaan manusia, berada di tengah-tengah antara pendapat Jabariyah dan Qadariyah.

Jabriyah :   Menghilangkan pekerjaan manusia samasekali, ia berpendapat bahwa manusia itu terpaksa dalam segala perbuatannya, kalau manusia itu bekeria, maka yang bekerja adalah Allah.

Ahlussunnah : Manusia itu mempunyai kekuasaan, kehendak dan pekerjaan yang diberikan oleh Allah, agar supaya pekerjaan itu betul-betul pekerjaannya.  Bukan pekerjaan yang sifatnya semu, dengan tekad bahwa Allah-lah yang menciptakannya.

Qadariyah :  Manusialah yang  menciptakan  pekerjaan  dan mengetahuinya, bukan karena kehendak dan qudrat Allah. Dengan pendapat ini mereka disebut sebagai golongan Majusinya umat Islam.

 

3. ANCAMAN (PERINGATAN)  ALLAH

Tentang ancaman Allah ini Ahlussunnah berada di tengah-tengah pendapat golongan Murjiah Wa'idiyah dari Qadariyah.

Murji'ah : Dosa tidak mempengaruhi keimanan, baik itu yang shaleh ataupun yang fasik.  Bagi pelaku dosa besar tidak mendapatkan siksaan.  Amal tidak termasuk kategori keimanan.

Ahlussunnah : Orang yang melakukan  dosa  besar  adalah  orang mu'min yang kurang keimanannya, dia digolongkan kepada orang fasik bukan kafir.  Apabila dia mati dengan dosa besar, maka itu di bawah kehendak Tuhan, jika Allah menghendaki untuk disiksa, maka disiksalah dia, dan jika Allah menghendaki untuk diampuni, maka diampunilah dia.

Al-Wa'diyah : Orang Islam yang menumpuk-numpuk  dosa  besar apabila dia mati dan tidak bertaubat, maka dia kekal di neraka, karena dia telah keluar dari keimanan secara keseluruhan.

 

4.  NAMA IMAN DAN AGAMA

Ahlussunnah dalam persoalan ini berada di antara pendapat Al-Harauriyah dan Mu'tazilah serta Murji'ah dan Jahamiyah.

Harauriyah nisbat dari Haraura, nama kota dekat Kufah sedangkan Mu'tazilah adalah pengikut Wasil bin 'Atho dan Amr bin Ubaid yang memisahkan diri jama'ah setelah wafatnya Hasan Al-Bishri.

Pendapat Khawarij, Harauriyah dan Mu'tazilah: Penumpuk dosa besar adalah kekal dalam neraka bila dia mati dan tak bertaubat, karena telah hilang keimanannya, yakni kafir hukumnya.

Ahlussunnah: Orang yang melakukan dosa besar adalah orang mu'min yang kurang keimanannya, keimanan dapat berkurang karena kemaksiatan, dan di akherat persoalannya diserahkan kepada Allah, bila Allah mema'afkan, maka bebaslah dia, dan bila Allah menyiksanya maka disiksalah dia.

Murji'ah dan Jahamiyah  berpendapat: Orang yang melakukan dosa besar itu keimanannya tetap sempurna dan tidak berhak mendapat siksaan, bahkan keimanannya tetap sebagaimana keimanan para Nabi.

Mu'tazilah berpendapat : Mereka ditempatkan dalam suatu tempat yang dikenal "Al-Manzilatu bainal manzilatain" (bertempat di antara dua tempat).  Orang yang berbuat dosa besar itu tidak mu'min dan tidak kafir.

 

5.  SHAHABAT RASUL

Sikap Ahlussunnah dalam menanggapi masalah shahabat Rasulullah berada diantara pendapat Rafidhah dan Khawarij.

Rafidhah adalah mereka yang mengatakan kepada Zaid bin Ali bin Husain, bahwa mereka tidak mengakui kepemimpinan Abu Bakar dan Umar sehingga bergabung dengan Zain, namun Zaid mengatakan bahwa: "Aku mengakui kepemimpinan Abu Bakar dan Umar, dan tidak mengakui terhadap mereka yang tidak mengakui".  Kemudian pendukung Zaid itu mengatakan:  "Kalau begitu engkau  telah  membuang kami" (رفضتمونى ) ,karena itu mereka disebut golongan Rafidhah.

Zaidiyah adalah  mereka  yang  berpendapat  sebagaimana Zain katakan:  (نتولا هى ونبرأ ممن تبرأ منها )yakni, kami mengakui kepemimpinan Abu Bakar, dan kami tidak mengakui kepada orang-orang yang tidak mengakuinya".

Syi'ah adalah suatu aliran yang timbul pada zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib, mereka terbagi dalam tiga golongan:

a. Ghaliyah :   Golongan ini berpendapat bahwa Ali adalah Tuhan.  Hal ini terjadi ketika Ali keluar dari daerah Kidah, mereka bersujud kepada Ali, dan Ali bertanya, "Apa ini? " mereka menjawab "Engkau adalah Allah" Kemudian Ali menghardik mereka, menangkap dan membakar mereka, karena mereka adalah jelas merupakan orang-orang kafir yang keterlaluan.

b. Sabaiyah :   Golongan ini adalah pengikut Abdullah bin Saba' seorang Yahudi dari Shan'a (Yaman) bernaung dalam Islam dengan maksud merusak kaum muslimin dari dalam.  Dia mencaci-maki Abu Bakar dan Umar. Ali mencari jejak Abdullah bin Saba' ini untuk dibunuh, namun dia lari ke Afrika.

c. Mufaddhilah :           Mereka adalah orang-orang yang melebihkan Ali atas Abu Bakar dan Umar, padahal Ali sendiri telah berkata: "Barangsiapa yang mengaggap bahwa aku adalah lebih dari Abu Bakar dan Umar, maka akan kudera dia (sebagai penipuan).

Rafidhah :        Mereka mencaci-maki dan mengutuk  para  shahabat, serta mengkafirkannya terhadap sebagian shahabat. Mereka pada umumnya mengangkat Ali dan anak cucunya ke derajat Tuhan.

Ahlussunnah :               Mengakui keutamaan para shahabat dan mengklasifikasikan keutamaannya, mereka sangat suka karena mereka telah berdiri tegak membela Rasul dan da'wah Islamiyah.

Khawarij :        Mereka mengkufurkan Utsman dan Ali serta sebahagian besar dari para shahabat, bahkan mereka menghalalkan darah dan harta benda mereka.