BAB IV

MANIFESTASI KEIMANAN

 

Seorang murid yang percaya bahwa ujian tinggal seminggu lagi, kemudian tidak siap-siap, tidak menaruh perhatian, bahkan dia hanya bermain-main, dia sebenarnya tidak percaya tentang dekatnya ujian.  Seorang yang sedang bingung, minta ditunjukkan ke jalan yang kiranya akan menyampaikan kepada tujuan, dia membenarkan dan percaya, tetapi dia mangambil jalan kiri, padahal yang ditunjukkannya ke jalan kanan, dia tidak sepenuhnya percaya kepada petunjuk jalan. Iman yang sempurna akan menimbulkan pengaruh dalam amal seorang mu'min di dalam tingkah lakunya.

 

I. IMAN DAN AMAL

Iman tidak terlepas dari amal, karena amal adalah natijah (kongklusi) iman, buah dari keimanan ia merupakan manifestasi keimanan yang ditimbulkan manusia.  Oleh karenanya Allah selalu menggandengkan iman dengan amal shaleh:

“اِنَّمَاالْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ، وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آياتُهُ زَادَتْهُمْ إِيــْمَـانًا، وَعَلَى رَبِّهِــمْ يَتَــوَكَّلُوْنَ، اَلَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُوْنَ، أُولئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ حَقًّا” (الانفال: 4 - 3 ).

"Hanya  orang-orang  mu'min  yang  apabila  disebut nama Allah maka bergetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka dan kepada Tuhan mereka bertawakal, mereka mendirikan shalat, dan segala apa yang Kami rizqikan kepada mereka menginfakkannya, mereka itu adalah orang-orang mu'min yang sebenarnya".

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا بِااللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَإِذَا كَانُوْا مَعَهُ عَلى أَمْرٍ جَامِعِ لَمْ يَذْهَبُوْا حَتَّى يَسْتَأْذِنُوْهُ (النور: 12).

"Hanya orang-orang mu'min yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, apabila mereka berada beserta dia (rasul) tentang sesuatu yang komplek, mereka tidak pergi, sehingga mereka meminta idzin kepadanya".

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ، اَلَّذِيْنَ هُمْ فِى صَلاَتِهِمْ خَاشِعُوْنَ، وَالَّذِيْنَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُوْنَ، وَالَّذِيْنَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُوْنَ، وَالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حَافِظُوْنَ، إِلاَّ عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَ، فَمَنِ ابْتَغى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولئِكَ هُمُ الْعَادُوْنَ، وَالَّذِيْنَ هُمْ ِلأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُــوْنَ، وَالَّذِيْنَ هُــمْ عَلَى صَـلَوَاتِـهِــمْ يُحَافِظُوْنَ. (المؤمنون: 1 - 9).

"Sungguh  telah  berbahagia  orang-orang  mu'min yang melakukan shalat dengan khusyu' dan berpaling dari permainan, yang menunaikan zakat, menjaga farji mereka kecuali kepada isteri-isteri, mereka atau hamba sahaya (amat) karena itu tidak tercela, dan barangsiapa yang mencari selain itu, maka mereka itu melampaui batas,dan orang-orang yang menjaga amanat dan janji mereka, dan menjaga shalat-shalat mereka".

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، وَلكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمَ اْلآخِرِ وَالْمَلاَئِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّيْنَ، وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِىالْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ، وَالسَّائِلِيْنَ وَفِى الرِّقَابِ، وَأَقَامَ الصَّلاَةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوْا، وَالصَّابِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِ ... (البقرة: 177).

"Bukanlah yang disebut kebaktian itu memalingkan wajahmu ke arah timur dan barat, namun kebaktian itu adalah orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat dan Nabi, dan orang yang memberikan harta-bendanya atas kecintaannya kepada kerabat, anak yatim, miskin dan anak jalanan dan bagi orang yang meminta-minta dan hamba sahaya; dan dia mendirikan shalat dan memberikan zakat, menunaikan janjinya apabila dia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesusahan dan kemelaratan, dan ketika ada perang ...".

 

II. IMAN ITU BERTAMBAH

Sebagian ulama mengatakan bahwa iman adalah sebagai aqidah tidak bisa dibagi-bagi, seseorang tidak ada alternatif lain kecuali di antara mu'min atau kafir, tidak ada pertengahan di antara dua hal tersebut, dengan itu mereka  berpendapat bahwa iman itu tidak bertambah dan berkurang, namun sebagian besar ulama menganggap bahwa iman itu bertam-  bah dengan beramal shaleh; inilah pendapat yang benar sebagaimana terdapat dalam nash yang pasti, dimana Allah berfirman :

وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيْمَانًا (الأنفال: 2).

"Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah maka bertambahlah iman mereka".

فَأَمَّا الَّذِيْنَ آمَنُوْا فَزَادَتْهُمْ إِِيْمَانًا (التوبة: 124).

"Adapun orang-orang,yang beriman maka bertambahlah iman mareka".

وَمَا زَادَهُمْ إِلاَّ إِيْمَانًا وَتَسْلِيْمًا (الأحزاب: 22).

"Dan tidak bartambah lagi bagi mereka kecuali iman dan penyerahan diri".

 

III. MENINGGALKAN AMAL TIDAK DIHUKUMI KAFIR

Ulama Ahlussunnah sependapat bahwa orang yang dengan sadar berbuat dosa, dan sengaja meninggalkan kewajiban dengan menganggap remeh, maka dia akan disiksa di akherat; namun tidak digolongkan ke dalam orang kafir, dan tidak kekal di neraka.

Apa yang terdapat di dalam hadits  bahwa seorang yang berzinah tidak akan melakukan perzinahan selagi dia beriman. Artinya bahwa ketika melakukan perbuatan zina itu tidak ingat bahwa Allah melihat dia, andaikan dia ingat niscaya akan tercegah karena malu kepada Allah.  Andaikan seorang fasik berunding akan berbuat zina, kemudian dia melihat bahwa orang-tuanya memperhatikan perbuatannya apakah dia sanggup untuk melanjutkan rencananya itu, atau tercegah, karena malu terhadap orang tuanya? Mengapa manusia tidak tercegah berbuat dosa karena rasa malu terhadap Allah, sedangkan dia ingat bahwa Allah selalu  mengawasinya?

 

IV. BUAH KEIMANAN

Buah keimanan adalah pekerjaan hati, yang digambarkan oleh Rasulullah saw. dalam hadits shahih, dengan kalimat yang pendek, menyeluruh, mengandung pengertian yang dalam sebagai bukti kenabian, yang tidak pernah diucapkan oleh manusia biasa, yakni sabdanya dalam menerangkan tentang Ihsan:

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ.  (متفق عليه).

"Hendaknya engkau menyembah kepada Allah seolah-olah engkau melihatnya, namun apabila tidak bisa melihatnya maka sesungguhnya Dia melihat kepadamu".

 

1.        Dzikir

Buah keimanan yang pertama adalah dzikir. Saya pernah membaca dari salah seorang shaleh (lupa namanya).  Dia mempunyai seorang paman ahli ibadah, dia selalu menekuninya, kemudian  dia menanyakan kepada pamannya: "Hai paman, apa yang kulalukan agar aku seperti engkau? Paman menjawab: "Katakan setiap hari tiga kali: 'Allah memperhatikan kepadaku, Allah melihat kepadaku'. Kemudian dilakukannya selama seminggu. Lantas pamannya menyuruh membaca kalimat tersebut tiga kali setiap selesai shalat; kemudian dilakukannya selama seminggu lagi, selanjutnya paman memerintahkan untuk membacanya di dalam hati sebagai pengganti ucapan lisannya. Akhirnya demikian dilakukan sepanjang hayatnya berdzikir dengan tekun.

Allah memerintahkan dalam Al-Qur'an untuk berdzikir, dan Allah sangat memuji terhadap orang-orang yang berzikir. Dzikir menurut bahasa Arab, yang terdapat dalam Al-Qur'an, mengandung dua pengertian:

a. Berdzikir dengan hati.

إِنِّى نَسِيْتُ الْحُوْتَ، وَمَا أَنْسَانِيْهُ إِلاَّ الشَيْطَانُ أَنْ اَذْكُرَهُ. (الكهف: 63).

"Sesungguhnya aku lupa tentang ikan itu, dan tidak ada yang  membuat aku lupa untuk menceritakannya kecuali syaitan". 

yakni  ingat dan tergores dalam hati, juga:

أُذْكُرْ نِعْمَتِى عَلَيْكَ وَعَلَى وَالِدَتِكَ (المائدة: 11).

"Ingatlah ni'mat-Ku kepadamu dan kepada orang-tuamu".

يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُـوا أذْكُرُوْا نِعْمَــــةَ اللهِ عَلَيْــكُمْ. (الاحزاب: 90).

"Hai orang-orang  yang  beriman!  ingatlah  kepada  ni'mat  Allah  yang  ddiberikan  kepadamu".

 

Two.Berdzikir dengan lisan :

وَأذْكُرْفِى الْكِتَابِ إِبْرَاهِيْمَ (مريم: 42).

"Ceritakanlah (hai Muhammad) tentang Ibrahim dalam kitab".

وَأذْكُرْفِى الْكِتَابِ مَرْيَمَ (مريم: 16).

"Ceritakanlah (hai Muhammad) tentang Maryam dalam kitab".

وَأذْكُرْفِى عِنْدَ رَبِّكَ (يوسف: 42).

"Sebutlah aku di sisi Tuhanmu!

وَأذْكُرُوا اسْمَ اللهِ عَلَيْكُمْ (المائدة: 4).

"Sebutlah asma Allah atas-Nya".

Jika engkau hendak membuktikan sifat orang yang berdzikir, maka ingatlah selalu dalam hatimu (dan dalam akalmu) engkau di kala sendirian di keramaian di pasar dan di jalanan ingat setiap waktu setiap keadaan bahwa Allah melihat kepadamu.  Engkau tak akan berbuat kecuali apa yang Allah sukai.  Jika engkau menjalankan kewajiban, ingatlah bahwa menunaikan kewajiban itu karena menuruti perintah-Nya; dan jika engkau meninggalkan hal-hal yang haram juga karena  mengikuti larangan Allah.  Jika engkau mengerjakan hal yang mubah maka niatilah karena Allah dengan mengharapkan pahala, jika engkau disuruh memilih di antara dua jalan, maka pilihlah jalan yang mendekati syurga dan menjauhi neraka, jika engkau  lupa dan mengerjakan dosa, kemudian ingat, segeralah bertaubat dan mintalah ampunan Allah.

إِنَّ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوْا فَإِذَاهُمْ مُبْصِرُوْنَ (الأعراف: 201).

"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa waswas dari syaitan, mereka ingat kepada Allah maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya".

Berdzikirlah dengan lisanmu, karena keutamaannya adalah dengan lisan yang dibarengi dengan hati. Jika fikiran melayang dan tidak memperhatikan apa yang diucapkan oleh lisan sama dengan kata-kata yang tak berma'na, seperti salah seorang penjual barang mengatakan:     الله كريم (Allah karim) tidak dimaksud  berdzikir  kepada  Allah atau orang mengatakan  “الله الدائم (Allahudda'im).

Kadang-kadang berdzikir dengan lisan terdapat kema'siatan, seperti mengucapkan Basmalah ketika minum, khamar. Barangsiapa menyebut Allah dalam nyanyian yang dibawakan oleh panyanyi fasik, jika bermaksud mengejek dengan tanda-tanda yang jelas, maka dzikirnya adalah kekufuran. Berdzikir yang paling utama adalah membaca Al-Qur'an, kecuali pada tempat tertentu yang telah ditetapkan oleh Allah, seperti tasbih dalam ruku' dan sujud, dan dzikir yang terkenal dari Rasulullah saw.

Adapun apa yang ada pada masa kini seperti halnya pesta dzikir yang disebut "Raqash" yang terdiri dari gerakan-gerakan; berdiri ruku, jongkok, rata, dengan gerakan-gerakan yang serasi, lagu-lagu tertentu, tidak diucapkan lafadl tahlil atau tahmid, namun dengan suara yang samar seperti: Ah, Akh (menurut Kitab Khasyiyah Ibnul Abidin, sebagai pokok madzhab Hanafi) adalah haram. Apabila tindakan-tindakannya keterlaluan, menghilangkan perasaan yang tidak ada pegangannya, kemudian dihalalkan, maka ini hukumnya adalah kafir.

 

2.         Antara Cemas dan Harap

Seorang mu'min hendaknya berada di antara cemas dari siksa Allah dan harapan atas ampunannya.  Ingatlah bahwa Allah adalah dzat yang cepat memberikan perhitungan, dan di sinilah timbul kecemasan, dan ingat bahwa Allah adalah dzat yang Maha Pengampun dan Pengasih, dzat yang Maha Penyayang dari segala penyayang di sinilah timbul harapan.  Jika hati hanya terpenuhi oleh kecemasan maka bisa jadi timbul keputus-asaan dari rahmat Allah;

إِنَّهُ لاَ يَايْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللهِ اِلاَّ الْقَوْمُ الْكَافِرُوْنَ (يوسف: 87).

"Sesungguhnya tidaklah berputus-asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang kafir".

Sebaliknya jika hari terpenuhi oleh harapan semata, maka ia merasa aman dari kemurkaan Allah:

فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُوْنَ (الأعرف: 99).

"Tidaklah merasa aman terhadap murka Allah kecuali orang-orang yang merugi".

 

Telah diterangkan bahwa Allah adalah Maha pencipta, tidak menyerupai makhluknya, dan takut kepada Allah bukan seperti takut kepada makhluk, engkau takut kepada harimau yang mengunjukkan taringnya dengan geram yang menyeramkan, kau sendirian menghadapinya tanpa senjata. Takut kepada Allah bukan seperti takut kepada harimau, karena bisa jadi akan menerkammu, tetapi Allah adalah Tuhannya harimau dan ciptaan-Nya, dan tidak mungkin memberikan keputusan jika Dia telah memastikannya untukmu.

Engkau takut kepada banjir yang hampir melandamu, sedangkan engkau berada di tempat alirannya, tak sanggup bagimu menolaknya, namun bukanlah seperti takut kepada Allah yang mengalirkan banjir, yang dapat menghentikan dan mengeringkan apabila Dia menghendaki bahkan Dia bisa membalikkannya, banjir bisa jadi lari dari tempatmu, tidak sampai ke tempatmu; dan siksa Allah apabila datang tak ada tempat berlari, engkau takut sakit dan penyakit, hilangnya kekasih, lenyapnya harta benda, namun bukanlah demikian halnya takut kepada Allah yang di tangan-Nya segala peristiwa. Jika Dia menghendaki maka Dia menimpakan bahaya kepadamu, dan jika Dia berkehendak menyembuhkan, tak ada yang wujud yang dapat menghalangi kesembuhanmu.

Seorang mu'min seyogyanya berada di antara takut (cemas) dan harap.  Jika sedang melakukan shalat dan membaca:الرحمن الرحيم , merasa adanya harapan dan jika membaca:   ملك يوم الدين , merasa cemas.  Kebanyakan muslim sekarang lebih banyak mengharap dari pada merasa cemas, dan mengangan-angan ampunan dan dijauhkan dari siksaan.

Dengan dasar ini seorang muslim bila menunaikan kewajiban dan menjauhi keharaman, maka dia adalah orang yang takut dan takwa, namun dia tidak mendapatkan tingkatan yang tinggi di syurga, ibarat seorang murid yang berhasil mendapatkan nilai kenaikan yang minimal, dia tidak tinggal di kelas, nanun tidak mendapatkan rangking yang baik, kelulusannya hanya berada di tengah-tengah, tidak baik dan tidak istimewa.

 

3.        Tawakal

Allah berfirman:

إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوْا (يونس: 83).

"Jika engkau telah beriman kepada Allah, maka tawakallah kepada-Nya".

 

Juga firman-Nya:

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ (آل عمران: 149).

"Sesungguhnya Allah menyukai kepada orang yang bertawakal".

Apa itu tawakal dan apa hakekatnya?

Sudah kita bicarakan bahwa Allah telah menjadikan sesuatu baik itu yang manfa'at atau madarat dan menjadikan hukum alam (sunnatullah) sebagai sebab pembawa manfa'at dan madarat. Apakah tawakal itu meninggalkan sebab (usaha)?. Ada sementara ahli tasawuf menganggap bahwa tawakal itu adalah meninggalkan sebab, tidak usah bekerja mencari rizki, menantikan datangnya rizki tanpa usaha, membiarkan sakit tanpa ke dokter, mengharapkan sembuh tanpa obat, berjalan di padang pasir tanpa bekal, mengharapkan datangnya bekal tanpa kepayahan, meninggalkan mencari ilmu, meyakini bahwa ilmu itu akan datang tanpa dicari. Pendapat ini menyalahi aturan, karena agama memerintahkanya:

... فَأنْتَشِرُوْا فِى اْلأَرْضِ وَابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللهِ (الجمعة: 10).

"... maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah".

Juga sabda Rasul:

يَا عِبَادَ اللهِ! تَدَاوُوْا

"Hai hamba Allah! Bertobatlah kamu".

وَتَزَوَّدُوْا

"Berkemas-kemaslah (membawa bekal).

Lagi pula hadits Rasul:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ

"Mencari ilmu adalah kewajiban ....".

Barangsiapa yang meninggalkan mencari ilmu, dan menyangka bahwa ilmu itu datang dengan sendirinya, maka ini bertentangan dengan agama dan tabeat manusia.

Di segi lain ada orang yang hidupnya tergantung semata-mata hanya dengan materi, menekadkan bahwa sebab adalah menciptakan akibat (musabbab), obatlah yang menyembuhkan karena dzatnya, usaha adalah satu-satunya jalan untuk mencapai kesuksesan, ini pun tidak sesuai dengan buktinya. Terkadang sebab tidak menimbulkan akibat (musabbab). Kadang-kadang obat tersedia tetapi kesembuhan tak kunjung datang, kadang-kadang terdapat di rumah sakit dua orang pasien di satu kamar, penyakitnya sejenis, dokternya  seorang, obatnya sama, tetapi  mengapa  yang seorang mati dan yang lain sembuh?. Seorang petani membajak tanahnya dengan alat mutakhir, ditaburkannya bibit unggul, diberinya pupuk yang mahal, datanglah musim yang sangat dingin atau musim yang sangat panas, kering yang membakar atau banjir yang menghanyutkan, maka tanamannya musnah, usahanya gagal total.

Oleh karena itu bukanlah satu-satunya bahwa sebab itu pasti menimbulkan akibat dan membiarkannya boleh menurut akal, namun semuanya itu perlu pemikiran dan ini diperintahkan oleh agama, yaitu kita menciptakan sebab sekomplitnya, kemudian minta kepada Allah untuk keberhasilannya. "Ikatlah ontamu dan tawakallah kepada Allah untuk menjaganya", bacalah pelajaran semuanya dan tawakallah kepada Allah, minta lulus dalam ujian. Inilah tawakal yang sebenarnya, bukanlah tawakal itu membiarkan sebab dan tidak memperhatikan hukum alam, dan bukan pula lupa terhadap Allah yang memberikan manfa'at dan madarat.

Sebab harus ada, dan dalam mewujudkan sebab adalah ta'at terhadap perintah dan mengikuti sunnatullah (hukum alam) dalam kenyataan, namun tidak cukup hanya sebab, karena hasilnya di tangan Allah. Oleh karena itu tawakal yang sebenarnya adalah orang yang berusaha untuk mencapai tujuan dengan kerja keras dan menggunakan segala jalan yang diperintahkan, dan meyakini bahwa yang menyampaikan kepada tujuan adalah Allah, dia menyerah kepada-Nya dan minta dihasilkan apa yang dia kehendaki.

 

4.        Syukur

Seorang yang bertawakal akan rela kepada Allah manakala Dia mencegah dan memberi, dan inilah sifat syukur yang sebenarnya.

وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ (النمل: 40)

"Barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya ia mensyukuri kepada dirinya sendiri".

وَسَيَجْزِى اللهُ الشَّاكِرِيْنَ (آل عمران: 144).

"Dan Allah Akan membalas terhadap orang yang bersyukur".

 

Syukur adalah salah satu buah keimanan.

Apabila seseorang berbuat baik kepadamu kemudian engkau tidak bersyukur kepadanya, maka engkau termasuk orang yang keterlaluan, dianggap buruk, padahal itu biasa-biasa saja. Dzat yang berbuat baik secara hakiki adalah Allah, mengapa engkau tidak bersyukur kepadanya?.  Allah yang memberikan ni'mat kepadamu dengan ni'mat pendengaran dan penglihatan, kesehatan dan keamanan. Allah yang memudahkan apa yang ada di bumi ini untukmu. Allah memberikan ni'mat yang engkau sendiri tak sanggup menghitungnya. Manusia tak mengetahui harganya ni'mat, kecuali apabila  ni'mat  tersebut telah hilang; jika sakitnya akan pulih, ia merasakan betapa besar ni'matnya, karena sedikit demi sedikit penyakit akan hilang, namun apabila penyakit telah lenyap, maka dia lupa terhadap ni'mat kesembuhan tersebut. Jika seseorang membutuhkan uang seribu rupiah, kemudian dia tak mendapatkannya, dia merasakan betapa ni'matnya orang yang mempunyai uang, tetapi apabila uang itu telah didapati maka lupalah dia. Jika terputus aliran listrik dan semua penjuru gelap gulita, maka dia mengetahui betapa ni'matnya terang, tetapi setelah menyala, terlupakanlah  ni'matnya.

Jika engkau tak sanggup menghitung ni'mat Allah yang diberikan kepadamu, apakah kau tidak mensyukurinya?.

Engkau bersyukur dengan  lisanmu, memuji  dan  menyanjung, kau katakan: رب لك الحمد، الحمد لله . Kau bersyukur   dengan    amalmu, dengan memberikan alakadarnya kepada orang yang membutuhkannya, orang kaya bersyukur dengan memberikan sebagian kekayaannya kepada si fakir, seorang yang kuat bersukur dengan menolong yang lemah, bersyukurnya orang yang mempunyai kekuasaan ia nenegakkan kebenaran dan menjalankan keadilan. Jika engkau sedang berada, dan hidanganmu ada lima macam, sedangkan tetanggamu kelaparan, dan kau tidak memberikan sesuatu apapun, maka kau tidak termasuk orang yang bersyukur, sekalipun kau katakan dengan lisanmu seribu kali: الحمد لله. Kau bersyukur dalam hatimu, dengan rela kepada Allah, menghemat apa yang menjadi bagianmu, tak membenci dan tak menganggap remeh segala ni'mat, dan tidak dengki kepada orang lain yang diberi ni'mat oleh Allah.

Barangsiapa terkumpul antara syukur hati dengan rela kepada Allah, bersyukur amal dengan memberikan kelebihan kepada orang lain yang membutuhkan dan bersyukur lisan dengan mengucapkan: الحمد لله, maka dia termasuk bersyukur dengan sebenar-benarnya.

 

5.        Shabar

Seorang muslim itu berada di antara dua ni'mat, jika  mendapatkan kebaikan dia bersyukur, dia mendapat pahala, jika dia mendapatkan kemadaratan lantas bershabar, maka dia juga mendapat pahala. Imbangan pahala orang kaya yang bersyukur, sama dengan pahalanya orang miskinyang shabar. 

وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِيْنَ صَبَرُوْا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَاكَانُوْا يَعْمَلُوْنَ  ( النحل: 96 ).

"Niscaya akan kami balas orang-orang yang shabar dengan mendapatkan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka amalkan".

 

Hidup di dunia ini bukanlah kampung kesenangan, ia tidak terlepas dari segala keruwetan, kurang sehat, kehilangan  harta, ditinggalkan kekasih, tipuan kawan, atau hilangnya keamanan, semua ini adalah tabiat manusia yang tak berubah-ubah:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْئٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِنَ اْلأَمْوَالِ وَاْلأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ، وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ  ( البقرة: 155).

"Niscaya akan Kami berikan percobaan kepadamu dengan sesuatu berupa ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, dan berilah khabar gembira terhadap orang-orang yang shabar".

Demikian itu karena mereka sehari-hari lupa terhadap cobaan dan mendapatkan kesenangan sedangkan sebahagian mereka menanggung kesengsaraan dan tidak mendapatkan apa-apa. Kesulitan dan musibah tidak bisa dihindari, adakalanya terobati dengan kesabaran, kau mendapat pahala, dan adakalanya kau menggerutu kemudian bertambah kesal dari siksaan dan kau tidak sanggup menolak apa yang menimpa pada dirimu. Inilah bentuk pertama dari keshabaran, yakni shabar atas segala musibah.

Bentuk kedua shabar atas segala ma'siat, bershabarnya pemuda yang melihat seorang wanita tanpa busana sedang- kan nafsu menggelora ingin melihat, kemudian dia memejamkan mata karena takut kepada Allah.  Seseorang mengetahui cara untuk mendapatkan kelezatan yang diharamkan, kemudian dirinya melarang, padahal ini merupakan kesenangannya.  Seorang pegawai yang diberi suap yang jumlahnya sama dengan gajinya enam bulan, kemudian dia tidak menerimanya  padahal dia membutuhkan. Shabar seorang pelajar dalam  menghadapi ujian meskipun memung-kinkan mencuri jawaban dari buku, dia tidak melakukannya meskipun kenaikan itu tergantung kepada hasil ujian tersebut.  Kemaksiatan adalah kelezatan hawa nafsu, apabila seseorang dapat mencegahnya padahal terdapat kemungkinan melaku-kannya, dia adalah termasuk orang yang shabar.

Bentuk ketiga adalah shabar atas ketaatan; melakukan shalat shubuh, meninggalkan kepulasan tidur, selimut yang tebal di musim dingin, meninggalkan lapar dan dahaga di bulan puasa yang panas membakar; memaksa hawa nafsu yang cinta harta untuk mengeluarkan zakat dan shadaqah.

Shabar berpegang kepada agama; di masa sekarang yang penuh dengan pancaroba, hampir kembali agama ini dalam keasingan. Orang yang tekun dalam agama ibarat seorang yang menggenggam bara api, orang yang berpegang kepada agama menjadi cacian dan hinaan, kambing hitam para pejabat, kurang ketertiban, terisolir dari kampungnya.  Barangsiapa yang berpegang teguh hanya kepada Allah semata, karena mengharap pahala, mereka adalah sebagian apa yang digambarkan dalam firman Allah:

اَلَّذِيْنَ صَبَرُوْا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ (النحل: 42).

"Mereka adalah orang-orang yang shabar dan kepada Tuhan, mereka berserah diri".

أُولئِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوْا (القصص: 54)

"Mereka akan diberi pahala dua kali lipat, karena kesabaran mereka".

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلاَّ الَّذِيْنَ صَبَرُوْا، وَمَا يُلَقَّاهَا إِلاَّ ذُوْحَظٍّ عَظِيْمٍ ( فصلت: 35 ).

"Tidaklah  dianugerahi  kecuali  bagi  orang-orang yang shabar, dan tidak dianugerahi kecuali orang yang mendapatkan pahala yang besar".

 

6.        Patuh Terhadap Hukum Syara'.

Sebagaimana telah diterangkan, bahwa iman adalah pekerjaan hati, rahasia dari segala rahasia, tidak  ada yang mengetahui kecuali hanya Allah, manusia melihat hanya lahirnya, oleh karenanya kita hanya dapat membedakan antara orang kafir dan mu'min dari perkataan dan perbuatannya. Islam adalah merupakan bukti ke-imanan. Islam menurut bahasa adalah menyerahkan diri: ( تسليم ) dari:  ( أسلم ) dan  ( سلّم ) dalam arti yang sama.

Seorang anak menyerahkan diri kepada orang tuanya karena kepercayaan, seorang yang cinta menyerahkan kepada yang dicintainya karena simpati kepadanya, orang yang diculik menyerahkan diri kepada penculik karena ketakutan. Adapun seorang mu'min menyerahkan diri kepada hukum Tuhannya dengan penyerahan mutlak, mentaati segala perintahnya, meskipun belum tahu apa hikmat yang terkandung dan arah manfaatnya, meninggalkan apa yang dilarangnya, meskipun belum diketahui rahasia larangannya. 

Penyerahan diri ini ada dua aspek:

One. Yang bersifat amali, yaitu mentaati dengan perkataan dan perbuatan. (Insyaallah akan diuraikan kemudian)

Two.Yang bersifat kejiwaan.

Dalam sifat kejiwaan inilah yang dimaksud dengan rela hati terhadap hukum syara', dan ketenteraman jiwa. Kita melakukan kewajiban atau meninggalkan keharaman dari hal yang sederhana tidak keharusan dalam hati dan tidak karena kebencian.

Firman Allah:

فَلاَ وَرَبُّكَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ حَتَّى يُحَكِّمُوْكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ (النساء: 65).

"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak  beriman sehingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan". 

ini adalah segi amali, aspek perbuatan, sedangkan:

ثُمَّ لاَ يَجِدُوْا فِى أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا ( النساء: 65).

"Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kau berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya".  Ini adalah segi kejiwaan (aspek kejiwaan).

 

Tidak  cukup  hanya  menyerahkan hukum kepada Rasulullah apabila di dalam hati  kita  tidak  terdapat   aqidah   yang  benar tentang ketentuan dan rela dengannya serta rasa tenteram karenanya:

 

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِيْنَ إِذَا دُعُوْا اِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ اَنْ يَقُوْلُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا، وَأُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ( النور: 51 ).

"Sesungguhnya jawaban  orang-orang  mu'min  bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah dengan ucapan (dengan lisan mereka mengaku; meresapi dengan hati mereka). 'Kami mendengar dan kami patuh'. Mereka itulah orang-orang yang beruntung".

Ada sebagian orang yang selalu menanyakan tentang hikmat yang terkandung dalam hukum syara' baik yang berhubungan perintah atau larangan, seolah-olah mereka tidak akan ta'at kecuali apabila mereka mengetahui hikmatnya. Bagi Syara' pasti ada hikmatnya, namun kadang-kadang ada yang jelas bagi kita dengan melalui nash atau istimbath (peng-ambilan hukum), dan kadang-kadang samar bagi kita. Apakah kita akan maksiat kepada Tuhan manakala hikmat syari'atnya belum jelas bagi kita?

Coba gambarkan! Kau memerintahkan kepada anakmu kemudian anak itu tidak menjalankan perintah sebelum jelas tujuan dan hikmat yang terkandung di dalamnya; andaikan tidak ada waktu untuk menerangkannya atau ada rahasia yang tak boleh disebarluaskan, tidakkah kau menganggap bahwa anakmu itu maksiat kepadamu? Ataukah kau membiarkan sampai ia ta'at atas segala perintahmu karena ia adalah anakmu dan kau adalah orang-tuanya? Andaikan ada peraturan yang mengikat agar ia tunduk kemudian tidak mau menjalankan tugas sehingga kau terangkan langkah-langkah yang akan dilakukan tanpa tujuannya, apakah ia tidak berhak untuk mendapatkan siksaan?

Sebenarnya hak Allah terhadap hambanya tidak boleh diukur dengan haknya orang tua terhadap anaknya, dan tidak pula seperti komandan terhadap prajuritnya. Namun hak Allah terhadap kita adalah kita harus menta'atinya baik di waktu senggang atau terpaksa, yang cocok atau tidak bagi kesenangan kita, tidak menempatkan dalil dan alasan berfikir agar kita dapat pegangan dalam fikih yang sesuai dengan kemauan kita? Dan kita tidak menempatkan kebudayaan asing dan adat-istiadatnya yang kita ambil sebagai hujjah terhadap syara' kemudian kita membikin ta'wil yang bukan pada tempatnya dan kita menjungkir balikkan jalan yang lurus dalam pembahasan, agar kita berpendapat bahwa agama tidak menghilangkan adat-istiadat, kemudian apabila telah ditukar adat istiadat sosial atau memindahkan kebudayaan asing dari barat ke timur, kita alihkan, kita alihkan pembahasan kita, dan kita menelurkan ta'wilan baru. Tidak! Bahkan kita tetap bersandar kepada syara' dan mengamalkan ketentuannya, rela kepadanya, rasa tenteram karenanya, ini adalah perbuatan mu'min yang benar, berpegang kepada kebenaran agamanya.

 

7.        Tegas dan lemah lembut

Salah-satu manifestasi keimanan dan tanda-tandanya adalah cinta dan benci karena Allah.  Kita cinta kepada orang yang taat dan takwa, meskipun kita tidak dapat manfaat dari padanya. Kita benci kepada orang kafir yang durhaka meskipun kita tak pernah mendapat madarat karenanya, bahkan kita membenci dan menghindarinya meskipun ada faidahnya bagi kita walaupun mempunyai ikatan keluarga yang kuat. Oleh karenanya, persaudaraan dalam agama lebih kuat dari persaudaraan sedarah, dan hubungan aqidah lebih erat daripada keturunan. Allah telah menerangkan terhadap nabi Nuh as. bagi anaknya yang kafir bahwa dia adalah bukan anaknya, karena dia berbuat tidak baik.  Kepercayaan menghilangkan kasih sayang antara orang mu'min dengan orang yang menentang dan memerangi agama manakala terdapat hubungan yang erat di antara dua golongan. Allah berfiman:

لاَتَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ يُوَادُّوْنَ مَنْ حَادَ اللهَ وَرَسُوْلَهُ ( المجادلة: 22).

"Kamu tidak akan mendapati  sesuatu  kaum  yang beriman kepada Allah  dan  Hari  Akhir  saling berkasih-sayang  dengan  orang-orang   yang menentang Allah dan Rasul-Nya".

Tidak ada yang memaksa mereka dalam Islam, namun melarang mereka untuk menghalangi jalan dan memerangi da'wahnya.  Apabila mereka merasa tenteram karena da'wah kita dan mereka masuk ke dalam agama kita, jadilah mereka apa yang menjadi hak kita, dan kewajiban kita adaLah kewajiban mereka pula.  Apabila mereka telah menyerah, kita selamatkan dan menjaga hak-haknya  walaupun mereka tetap dalam agamanya..

Seorang mu'min cinta hanya karena agama, dan benci hanya karena agama. Apabila cinta maka lahirlah kemuliaan jiwa dan lemah-lembut, timbul toleransi dan kesungguhan merendahkan diri di hadapan saudaranya tetapi tidak rendah diri, mendahulukan kepentingan orang lain dari kepentingan sendiri, walaupun dirinya sendiri membutuhkan. Apabila benci, maka lahirlah kebencian itu semata-mata karena Allah, dan mempertahankan agamanya sekuat tenaga, tegas dalam peperangan karena musuh agamanya.

Seorang mu'min berada diantara lemah lembut dan tegas, lunak dan keras, lembut dan lunak kepada saudaranya yang seiman, sedangkan tegas dan keras kepada musuh-musuh agama di mana mereka itu adalah pembela-pembela syaitan.

مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ، وَالَّذِيْنَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ  (الفتح: 39).

"Muhammad adalah Rasulullah, dan orang-orang yang menyertainya adalah bersikap tegas kepada orang-orang kafir dan berkasih sayang di antara mereka".

اَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِــيْنَ، أَعِـــزَّةٍ عَلَى الْكفِـــرِيْنَ، يُجَاهِدُوْنَ فِى سَبِيْلِ اللهِ وَلاَ يَخَافُوْنَ لَوْمَةَ لاَئِمٍ (المائدة: 54).

"... yang   bersikap   lemah-lembut   terhadap   orang mu'min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjuang di jalan Allah tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela".

Inilah keadaan orang mu'min selagi mereka menjadi mujahidin. Ketika kita meninggalkan jihad, kita menyalahi syara', bertindak tegas kepada diri sendiri dan lemah di hadapan musuh, maka Allah menguasakan kepada orang yang tidak takut dan orang yang tak belas-kasihan, akhirnya mereka merajai kita dan kita berada di bawah kekuasaan hukum mereka.

 

8.        Taubat dan Istighfar

Allah menciptakan manusia dan menumbuhkan dalam diri manusia suka tergesa-gesa, angan-angan yang panjang, suka mengumpulkan harta, selalu ingin berdampingan dengan wanita cantik, marah, condong kepada kamurkaan dan celaan, dikuasai oleh syaitan yang menghiasinya dengan segala keburukan, suka berbuat maksiat, menaruh nafsu yang membawa kejelekan, tertarik kepada yang haram, membantu syaitan sehingga menghasilkan kedurhakaan, menumpuk-numpuk dosa.  Sekarang apa yang harus kita kerjakan agar selamat dari siksaan, kamaksiatan dan dosa? Sesungguhnya Allah kasihan kepada manusia maka dibukalah pintu taubat baginya.

Allah mengatakan kepada manusia: Sesungguhnya kau sanggup menghapuskan dosa yang telah kau perbuat sehingga bersih seperti sedia kala; tetapi dapat dituliskan kebaikan berdampingan di tempat keburukan yang telah kau lakukan, seperti catatan seorang pedagang yang mempunyai utang-piutang dengan koleganya. Ia tidak akan begitu saja menghapus piutangnya, tetapi dipindahkannya catatan utang itu kepada piutang.

إِلاَّ مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَاُوْلئِكَ يُبَدِّلُ اللهُ سَيّـِئَاتِهــِمْ حَسَنَاتٍ، وَكَانَ اللهُ غَفُوْرًا رَحِيْمًا (الفرقان: 70).

"Kecuali  orang   yang   taubat   dan   beramal shaleh mereka akan Allah gantikan keburukan mereka dengan kebaikan, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".

 

Pintu taubat selalu terbuka selagi orang itu meminta ma'af. Barangsiapa yang bertaubat dengan sungguh-sungguh pasti taubatnya diterima. Pintu taubat tidak pernah terkunci, kecuali bagi orang yang sedang sakaratul-maut, saat ruh berada di kerongkongan, saat dihadapkan pada hakekat hidup, dia melihat kenyataan berita yang dibawa Rasul, pada saat itu taubatnya sia-sia, karena taubat adalah kembali kepada Allah dengan kesadaran, sedangkan dia kembali karena terpaksa, sehingga manfaat pernyataannya tidak diterima setelah hilangnya ikhtiar.

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللهِ لِلَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ السُّوْءَ بِجَهَالَةٍ، ثُمَّ يَتُوبُوْنَ مِنْ قَرِيْبٍ فَأُولئِكَ يَتُوْبُ اللهُ عَلَيْهِمْ، وَكَانَ اللهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًا، وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ السَّيِّئَاتِ، حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّى تُبْتُ اْلآنَ وَلاَ الَّذِيْنَ يَمُوْتُوْنَ وَهُمْ كُفَّارٌ (النساء: 17).

"Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahahatan lantaran kejahilan yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka itulah yang diterima Allah taubatnya, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang". Dan tidak (puladiterima taubatnya) orang-orang yang mati sedang mereka dalam kekufuran. Bagi mereka itu telah Kami sediakan siksa yang pedih".

 

Dalam bertaubat syarat pertama ialah memutuskan perbuatan buruk dan ber-azam (berniat) tidak mengulangi lagi.  Jika engkau sedang berjalan-jalan di suatu lorong, ada seorang yang membuka jandela, kemudian melemparkan air kotor dan mengenaimu, ketika engkau mencaci maki dan memarahinya, orang itu meminta ma'af. Dia bisa saja akan mengulangi perbuatannya itu atau tidak, namun kalau ternyata dia mengulangi lagi seperti kemarin, apakah kau akan menerima ma'afnya?

Taubat itu mempunyai roh dan jasad; ruhnya adalah merasa bahwa maksiat itu buruk, jasadnya adalah mencegah dari padanya, seperti orang yang berjalan di jalan raya, rambu-rambu yang menunjukkan bahwa jalan itu bukan yang dituju, dia merasa bahwa jalan itu salah, perasaan inilah yang pokok, karena kalau tidak mengetahui kesalahan berarti dia tidak mendapatkan petunjuk ke jalan yang benar.  Namun apabila alasannya adalah pengetahuan, dan tidak mengamalkan dengan apa yang seharusnya, dan dia berjalan di jalan yang keliru, maka tidak manfa'atlah ilmunya, bahkan dia akan mendapatkan dosa yang lebih besar dan menumpuk-numpuk dosa. Kalau kekeliruan itu karena memang dia tidak tahu, ini dapat diterima, namun bagi yang mengetahui jalan dan dia sengaja berbuat keliru, maka tiada ma'af baginya.

Syarat kedua berbuat baik sebagai pengganti perbuatan yang buruk, memperbaiki keadaan yang bobrok, yakni dia betul-betul dengan menggantikan dan mengalihkan amal perbuat-annya:

كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةً، أَنَّهُ مَنْ عَمِلَ سُوْأً بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَصْلَحُ فَإِنَّهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ  (الأنعام: 54).

"Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasihsayang, (yaitu) bahwa barangsiapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan kemudian bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".

فَمَنْ تَابَ مِنْ بَعْدِ ظُلْمِهِ وَاَصْلَحَ، فَإِنَّ اللهَ يَتُوْبُ عَلَيْهِ (المائئدة: 38).

"Barangsiapa yang bartaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahan itu dan memberbaiki diri maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya".

اِلاَّ الَّذِيْنَ تَابُوْا مِنْ بَعْدِ ذلِكَ وَأَصْلَحُوْا (آل عمران: 89).

"Kecuali orang-orang yang taubat sesudah (kafir) itu dan mengadakan perbaikan ...".

إِلاَّ الَّذِيْنَ تَابُوْا وَأَصْلَحُوْا وَبَيَّنُوْا فَأُولئِكَ أَتُوْبُ عَلَيْهِمْ  (البقراة: 16).

"Kecuali  mereka  yang  telah  taubat  dan  mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya".

 

Sebagian perbaikan adalah engkau meninggalkan dosa dengan sungguh-sungguh dan niat yang sebenar-benarnya untuk tidak mengulangi kembali. Jika engkau mengumpulkan niat yang benar kemudian nafsu mengalahkannya atau terserempet oleh keburukan, lantas mengulangi kembali, terus bertaubat, maka taubatnya pasti diterima walaupun berulang-kali berbuat dan berulangkali bertaubat. Adapun sejak semula kau ragu-ragu dan kau katakan pada dirimu bila ada kesempatan akan kulakukan kembali, kemudian kau bertaubat, maka taubatmu bukanlah benar-benar taubat dan tidak akan diterima.

Taubat yang dimaksudkan di sini adalah yang berhubungan dengan hak Allah; ia cukup dengan meninggalkan dosa dan menyesal atas perbuatannya, berniat dengan sebenar-benarnya untuk tidak kembali melakukan dosa. Adapun yang berhu-bungan dengan hak sesama manusia, seperti halnya meng-aniaya seseorang atau memakan hartanya, menyakiti badan atau melanggar kehormatannya, bersaksi palsu, mengumpat dan mencaci menyiarkan perkataan jelek seseorang, dan lain sebagainya, maka harus diselesaikan dahulu hak-hak mereka, atau menunjukkan kebaikan dan memberi toleransi, atau meminta rahmat Allah agar orang itu merelakannya  kepadamu, kalau tidak demikian, maka taubatmu tidak akan diterima, dan orang yang teraniaya itu akan mengambil kebaikan-kebaikanmu di hari kiamat, atau keburukannya dipikulkan kepadamu.

Pintu taubat selalu terbuka meskipun banyak dosa. Orang tidak boleh putus asa dari ampunan Allah karena putus asa dari ampunan Allah adalah dosa besar:

قُلْ يَاعِبَادِىَ الَّذِيْنَ أَسْرَفُوْا عَلَى أَنْفُسِهِمْ، لاَ تَقْنَطُوْا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا  (الزمر: 53).

"Katakanlah: 'Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kau berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa...".

 

Taubat ialah meninggalkan keburukan dan kembali kepada kebaikan, adapun Istighfar adalah meminta ampunan dari Allah. Syara'  telah memerintahkan dan mendorongnya, sebagaimana Allah berfirman:

هُوَ اَنْشَاءَكُمْ مِنَ اْلأَرْضِ، وَأَسْتَعْمَرَكُمْ فِيْهَا فَاسْتَغْفِرُوْهُ ثُمَّ تُوْبُوْا إِلَيْهِ (هود: 61).

"Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikannya kemakmuran bagimu, karena itu mohonlah ampunan-Nya kemudian bertaubatlah kepada-Nya".

وَاسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوْبُوْا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّى رَحِيْمٌ وَدُوْدٌ  (هود: 90).

"Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu dan bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanmu adalah Maha Penyayang lagi Maha Pengasih".

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ، ثُمَّ تُوْبُوْا إِلَيْهِ (هود:52).

"Dan (dia berkata): 'Hai  kaumku,  mohonlah ampun kepada Tuhannu, lalu bertaubatlah kepada-Nya".

 

Hal ini juga telah disampaikan melalui para rasul terdahulu, menasehati kaumnya, menunjukkan ke jalan ampunan dari Allah dan keselamatan dari azab-Nya.

Orang yang berdosa itu ada beberapa tingkat: ada yang mati di atas kekufuran, maka dia tidak ada harapan untuk dima'afkan:

إِنَّ اللهَ لاَ يُغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ (النساء: 115).

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik".

Orang yang mensyirikkan kepada Allah mula-mulanya dianggap lebih kufur daripada ahli Kitab, namun semuanya terkena dalam hukum ayat tersebut, oleh karenanya tidak boleh dikatakan terhadap orang yang mati kafir: رحمة الله (Semoga Allah memberi rahmat kepadanya), juga:  عفر الله له (Semoga Allah mengampuni kepadanya) dan tidak pula disebut: المرحوم (al-marhum)  atau:  المغفورله (yang diampuni).

Adapun orang-orang maksiat di kalangan kaum muslimin yang mati tanpa taubat, maka urusannya diserahkan kepada Allah; jika Dia menghendaki, maka diampunilah dia:

وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ (النساء: 48).

"Dan Dia mengampuni selain dari pada dosa syirik bagi yang Dia kehendaki".

 

Dan jika Dia menghendaki, maka disiksalah dia, nanun tidak kekal, dan tidak dianggap rendah orang yang disiksa dalam api neraka, dan juga tidak menganggap enteng.  Kalau saja api di dunia ini mendatangkan ni'mat, tetapi tak seorangpun sanggup membawanya walaupun hanya sedetik, maka bagaimana diri kita disiksa dalam Jahannam untuk selama-lamanya?

Adapun orang-orang yang bertaubat, Allah akan memberi-kan taubatnya, karena karunia dan kemurahannya. Inilah pemberian taubat bagi orang yang telah berbuat dosa.  Adapun orang yang bertaubat dan mengingatkan dirinya serta takut kepada Tuhan-nya sebelum melakukan dosa dan meninggal-kannya karena Allah diikuti dengan rasa senang dan banyak kecondongan kepadanya, maka dia mendapatkan pahala yang besar.  Seperti orang yang digoda oleh rayuan syaitan, kemudain menolak perbuatan zina, padahal sudah dipersiapkan segala-galanya, dan mau serta sengaja, kemudian ingat kepada Allah, lantas berpaling dari padanya, dan mengurungkan kemauannya, sedangkan nafsunya tertarik kepadanya, siapa yang sanggup demikian selain dari pada Allah yang memberikan kekuatan?

Tidak ada seorangpun yang mangadakan experimen semacam ini, karena hal ini ibarat orang yang terkena penyakit yang sangat berbahaya; bila dia selamat maka dia akan mempunyai kekebalan, namun orang yang lolos daripada ini bisa jadi hanya 1%, sedangkan yang 99% adalah binasa. Ini ibarat penyakit fisik, adapun mencegah dosa tidak begitu saja, barangsiapa yang menghendaki keselamatan dari keburukan, hendaklah dia menjauhinya dan harus diputuskan segala sebab dan ditutup jalan-jalannya, menghindari diri dari orang-orang yang suka berbuat dosa dan yang mengajak hal tersebut, karena kawan adalah penuntun, sedang orang itu berada di pihak yang menyenangkan.

Orang dahulu mengatakan: "Katakan padaku, siapa orang yang menemaninya, niscaya dia bersamanya"

Ingatlah tentang hal ini wahai pemuda dan mintalah pertolongan kepada Allah.