BAB V

AL-QUR'AN DAN ETHIKA

 

1.        AL-QUR'AN KALAMULLAH

Turunnya Al-Qur'an dimuka bumi ini, adalah merupakan revolusi besar yang telah diakui oleh semua pihak, Al-Qur'an telah menunjukkan manusia keluar dari kegelapan, dapat merubah segi kehidupan baik dalam aqidah,politik, sosial, ekonomi,, kebudayaan dan lain-lainnya.

Kalau kita selami Al-Qur'an sebagai kalam Allah, akan kita dapati bahwa sesuatu yang ada didunia ini tak ada sesuatu apapun yang tertinggal dari pembicaraannya sebagaimana firman Allah

مَا فَرَّطْنَا فِى الْكِتَابِ مِنْ شَيْئٍ

"Tidak ada sesuatu yang kami tinggalkan dalam kitab ini".

Andaikata alam ini dilipat-lipat menjadi buku, maka buku itu adalah Al-Qur'an, dan andaikan al-Qur'an itu dijadikan sejumlah benda yang ada maka benda-benda itu adalah Al-Qur'an. Andaikata batang-batang kayu dijadikan pena dan laut dijadikan tintanya, maka lautan tinta itu akan kering untuk menulis Kalam Ilahi walaupun ditambah dua kali lipat banyaknya

قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّى، لَنّفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّى وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا (الكهف: 109).

Kalam Allah yang diturunkan adalah merupakan deklarasi terhadap dunia, bahwa manusia pada hakekatnya terlepas dari isolasi, belenggu dan pengucilan serta putusnya komunikasi antara manusia dengan Tuhannya, antara sesama manusia, antara manusia dengan alam sekitarnya. Kita belajar mentadbiri ayat  yang  mula  pertama  ini:

إِقْرَأ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِى خَلَقَ (العلق: 1).

 

Renungan suci dari kalimat yang  pendek  ini, mengandung arti yang sangat dalam "Bacalah dengan asma Tuhanmu".

Walaupun Nabi kita tidak bisa membaca dan menulis, sebagai nabi ummi (terkandung maksud agar terhindar dari tuduhan bahwa Al-Qur'an itu adalah ciptaan Muhammad) namun disuruhnya membaca, membaca tulisan yang kecil dan yang besar, aksara dan angkasa, manusia dan alam buana, bumi dengan segala isinya, langit dengan cakrawalanya, semuanya itu dikenali dengan  "إسم ربك  Tuhan pemelihara-mu".

 

Tadbiran berikutnya adalah:

خَلَقَ اْلإِنْسَانَ مِنْ عَلَقَ  (العلق: 2).

"Dia telah menciptakan manusia dari persenyawaan"

Lebih dalam lagi bacalah diri manusia yang diciptakan dari persenyawaan antara sperma (mani) dengan ovum (telur) yang menempel dalam dinding rahim yang dilapis فى ظلمات ثلاث Secara evolusi dari  hari  ke hari diukir dan dibentuk dengan segala tulis warisnya, nyawa menghampirinya, lahir sendirian sebagaimana kembalinya sendirian, diberinya kekuatan dan dikembalikannya kelemahan.

Dalam diri manusia terdapat pabrik yang telah dikontrak dalam waktu tertentu sesuai dengan perjanjian, yaitu pabrik paru-paru dan jantung yang setia bekerja sampai kontrak habis ditelan masa.  Manusia dengan jaring-jaring elektris yang peka sanggup berkomunikasi antara kepala, dada dan perutnya, antara otak, hati dan nafsunya, diberinya akal yang merancang, kehendaknya yang membangun, dan perasaan serta keimanan yang mempunyai dissision. Dari dua ayat ini tersimpul kematangan aqidah sebagai dasar yang strategis dalam kehidupan ini, sesuai dengan ayat Allah:

سَنُرِيْهِمْ آيَاتِنَا فِى اْلآفَاقِ، وَفِى أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ  (الفصلت: 52).

"Akan kami  perlihatkan  tanda-tanda  kebenaran kami di atas cakrawala dan dalam diri mereka, sehingga jelas bagi mereka, bahwa Al-Qur'an itu adalah benar."

Ayat ini sebagai pembuka jalan untuk mengenal Tuhan dengan ayat-ayatnya yang متلوة (terbaca dalam tulisan Al-Qur'an) dan  مجلوة (terlihat nyata dalam alam raya).

Ayat berikut kita analisa:

إِقْرَا وَرَبُّكَ اْلأَكْرَمُ (العلق: 3).

"Bacalah dan Tuhanmu yang lebih mulia".

Dengan diulangi "membaca dan mengenal Tuhan" yang lebih mulia dalam segala-galanya, terpatrilah dalam ta'abbud terhadap Yang Maha Esa dan tersimpul dalam, keajaiban:

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلاً، سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (آل عمران: 71).

"Ya Tuhan kami, tidaklah kau ciptakan  ini sia-sia, Maha suci Engkau oleh karenanya hindarkanlah kami dari bara api neraka".

 

Renungan berikutnya:

اَلَّذِى عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ اْلإِنْسَانَ مَالَمْ يَعْلَمْ (العلق:4-5).

"Dialah yang telah mengajar  dengan  pena mengajar manusia sesuatu yang belum diketahui".

Tulisan-tulisan yang berhuruf kecil diajarkan melalui pena, melalui apersepsi indra, tulisan yang besar melalui rohani dan melalui aposteriori akal dan kasyaf.

وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَاْلأَبْصَارَ وَاْلأَفْئِدَةَ، قَلِيْلاً مَا تَشْكُرُوْنَ (السجدة: 9).

Dialah yang telah  menjadikan  pendengaran (apersepsi indra) pengetahuan (aposteriori akal) dan hati (ilham, intuisi, kasyaf)."

Al-Qur'an diturunkan dalam tempo 22 tahun 2 bulan dan 22 hari secara berangsur, dan ditutup dengan ayat:

اَلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى، وَرَضِيْتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِيْنًا (المائدة: 3)

"Pada hari ini Aku sempurnakan untukmu agamamu dan Kugenapkan untukmu ni'matku dan Aku rela bagimu Islam sebagai agama".

Ayat ini merupakan statemen bahwa agama dengan segala aspeknya telah sempurna, dan ni'mat Allah yang tercurah dapat dipecahkan dengan sempurna pula, dan Islam adalah satu-satunya agama yang diridloi-Nya. Firman Allah :                 

إِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللهِ اْلإِسْلاَمُ (آل عمران: 29).

"Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah agama Islam".

 

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ اْلإِسْلاَمِ دِيْنًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِى اْلآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ (آل عمران: 85).

"Barangsiapa  yang  mencari  agama selain Islam, maka tidak akan diterima daripadanya, dan dia di akherat termasuk orang-orang yang merugi".

 

Kalau kita melihat kenyataan dan kita bertanya, apakah agama kita ini sudah sempurna, dan ni'mat yang telah diberikan ini kita rasakan?.  Bagi kita yang realistis akan menjawab belum !!! Kalau begitu kemana ridlo Allah ?. Kalau kita kita ingin mencapai ridlo Allah maka kita harus memenuhi dua syarat :

1.         Ikmalun fiddin

2.         Itmamun finni'mah

Bagaimana kita mendapatkan ridlo Allah kalau agama kita tidak disempurnakan dalam amaliyahnya, sedangkan pemba-ngunan dalam bidang agama belum sempurna baik sarana maupun prasarananya.

Kiranya kurang berarti kalau hanya kesempurnaan daIam agama saja sedang ni'mat yang kita rasakan bukan oleh kita.  Oleh karenanya kalau kita ingin mendapat ridlo dari Allah kita harus penuhi kesempurnaan agama dan kita kejar keni'matan yang paripurna.  Firman Allah:

وَابْتَغِ فِيْمَا آتَاكَ اللهُ الدَّارَ اْلآخِرَةَ، وَلاَ تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا اَحْسَنَ اللهُ اِلَيْكَ، وَلاَ تَبْغِ الْفَسَادَ فِى اْلأَرْضِ، إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ (القصص: 77).

"Dan carilah apa yang Allah  berikan  kepadamu tentang (kebahagiaan) kampung akherat, dan jangan lupa bagianmu (kesejahteraan) di dunia, dan berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu, dan janganlah mencari kebinasaan di atas bumi ini, sesungguhnya Allah tidak suka terhadap orang-orang yang berbuat binasa".

 

Doa yang selalu kita panjatkan bernada sama:

رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (البقراة: 201).

"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan (kesejahteraan ) di dunia dan kebaikan (kebahagiaan) di akherat dan jauhkanlah kami dari bara api neraka".

 

Diantara ayat yang pertama dan terakhir inilah pedoman hidup, aturan permainan yang fleksibel dan elastis, dinamika dan aktualita, tuntunan rohani, aqidah, syari'ah dan akhlaq (ethika) serta kissah, wa'ad dan wa'id, cara-cara ibadat dan tuntunan hidup lainnya untuk kesejahteraan dan kebahagiaan di dunia dan akherat.

 

2.  AL-QUR'AN DAN MUHAMMAD SAW.

 

Muhammad sebagai manusia pilihan tumbuh dalam lingkungan jahiliyah, namun dibesarkan dan dibentuk bukan oleh masyarakat jahiliyah itu sendiri. Andaikan Muhammad dibentuk dan diukir sesuai dengan sosial kulturil jahiliyah, maka Muhammad akan tenggelam dalam kesesatan dan terjun dalam kepekaan jahiliyah. Allah berfirman:

وَوَجَدَكَ ضَالاًّ فَهَدَى  (الضهى: 7)

"Dan Dia menemuimu sebagai orang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk".

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِى اْلأَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ  (الأنعام: 116).

"Dan jika engkau menta'ati kebanyakan orang yang berada di atas bumi ini, maka mereka akan menyesatkan engkau dari jalan Allah".

 

Muhammad sebagai pembawa risalah mempunyai tugas (mission sacry) untuk membawa masyarakat ke arah tauhid, terlepas dari kesyirikan dan kekufuran, mensterilkan aqidah yang dibawa oleh Nabi Isma'il dan ayahnya Nabi lbrahim di tanah Makkah ini, membuang anasir khurafat dan bid'ah. Allah berfirman:

وَإِلَهُكُمْ إِلهُ وَاحِدٌ (النحل: 23، الكهف: 117، وغيره).

"Tuhanmu adalah Tuhan Yang Mahaesa".

قُلْ هُوَ اللهُ اَحَدٌ، اَللهُ الصَّمَدُ، لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (الإخلاص: 1 - 4).

"Katakanlah bahwa Tuhan adalah Allah  yang Maha esa, Allahlah tempat bergantung, tak melahirkan dan dilahirkan, dan tak ada yang menyamai sesuatu apapun bagi-Nya."

 

Sebagai pemimpin, Muhammad dapat menciptakan suasana yang akrab dijunjung setinggi-tingginya nilai musyawarah sebagai dasar politik untuk bertindak, diikatnya untuk mufakat, dan tak boleh seorangpun membuka ikatan itu sebelum dimusyawarahkan kembali. Firman Allah:

وَأَمْرُهُمْ شُوْرَى بَيْنَهُمْ (الشورى: 37).

"Dan urusan mereka dimusyawarahkan diantara mereka".

وَشَاوِرْهُمْ فِى اْلأَمْرِ، فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ (آل عمران: 7).

"Dan musyawarahlah dengan mereka dalam suatu perkara, dan apabila engkau ber'azam, maka tawakallah kepada Allah."

 

Pemimpin sosial, membentuk masyarakat adil yang berkemakmuran, dan masyarakat makmur yang berkeadilan. Firman Allah:

إِعْدِلُوْا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى (المائدة: 8).

"Berbuat adillah, karena berbuat adit adalah lebih baik mendekatkan kepada taqwa".

وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تُحْكُمُوْا بِالْعَدْلِ  (النساء: 58).

"Apabila engkau menghukumi diantara manusia, maka hendaknya engkau menghukumi dengan adil".

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ  (النحل: 90).

"Sesungguhnya Allah memerintahkan dengan berbuat adil dan baik."

وَأَقْسِطُوْا إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ  (الحجرات: ).

"Berbuat adillah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil".

 

Pimpinan sosial mengatur ekonomi, dilarang berbuat aniaya baik kepada diri sendiri ataupun kepada orang lain, seperti melakukan tindak riba:

وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ رِبَا لِيَرْبُوَا فِى أَمْوَالِ النَّاسِ فَلاَ يَرْبُوْا عِنْدَ اللهِ (الروم: 39).

"Dan sesuatu riba (tambahan) yang kami berikan, agar dia menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak bertambah di sisi Allah".

اَلَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبى لاَ يَقُوْمُوْنَ إِلاَّ كَمَا يَقُوْمُ الَّذِى يَتَخَبَّطُهُ السَّيْطَانَ مِنَ الْمَسِّ. ذلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوْا: إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَى وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَى. (البقرة: 275).

"Orang-orang yang memakan  (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan karena (terkena) penyakit gila, keadaan mereka yang demikianitu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat) bahwa sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba, padahal Allah telahmenghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba".

يَمْحَقُ اللهُ الرَّبَى وَيَرْبِى الصَّدَقَاتُ  (البقرة: 276).

"Allah telah menghapuskan riba dan menambahi shadaqat".

وَلاَ تَأْكُلُوْا الرِّبَى أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً  (آل عمران: 130).

"Dan janganlah memakan riba dengan berlipat ganda".

وَذَرُوْا مَا بَقِىَ مِنَ الرِّبى (البقرة: 278).

"Dan tinggalkanlah apa yang masih bersisa dari pada riba".

 

Problem sosial, yakni semacam prostitusi (perzinahan) dan pemabukan (khamar) juga dilarang sebagaimana mencuri dan membunuh:

وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنى، إِنَّهُ كَانَ فَاخِشَةً وَسَاءَ سَبِيْلاً (إسرى: 32).

"Dan janganlah  kamu  mendekati  perzinahan karena itu adalah keburukan dan sejelek-jeleknya jalan".

يَااَيُّهَا النَّبِى إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَى أَنْ لاَيُشْرِكْنَ بِاللهِ شَيْئًا، وَلاَ يَسْرِقْنَ وَلاَ يَزْنِيْنَ، وَلاَ يَقْتُلْنَ أَوْلاَدَهُنَّ، وَلاَ يَأْتِيْنَ بِبُهْتَانٍ يَفْتَرِيْنَهُ بَيْنَ أَيْدِيْهِنَّ وَاَرْجُلِهِنَّ وَلاَ يَعْصِيْنَكَ فِى مَعْرُوْفٍ فَبَايْعِهُنَّ وَاسْتَغْفِرِ لَهُنَّ اللهَ، إِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ (المممحنة: 12).

"Hai Nabi! Apabila datang  kepadamu  perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan barzinah, tidak akan membunuh anak-anak, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam  urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang."

وَالَّذِيْنَ لاّيَدْعُوْنَ مَعَ اللهِ إِلَهًا آخَرَ وَلاَ يَقْتُلُوْنَ النَّفْسَ الَّتِى حَرَّمَ اللهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَلاَ يَزْنُوْنَ، وَمَنْ يَفْعَلْ ذلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (الفرقان: 67).

"Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya)".

 

Beliau berjiwa besar, tegas dalam pendirian, baik dalam damai maupun dalam keadaan perang:

مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ، وَالَّذِيْنَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ، تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُوْنَ فَضْلاً مِنَ اللهِ وَرِضْوَانًا، سِيْمَاهُمْ فِى وُجُوْهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُوْدِ ذلِكَ مَثَلُهُمْ فِى التَّوْرَاتِ وَمِثْلُهُمْ فِى اْلإِنْجِيْلِ، كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَا عَلَى سُوْقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَاعَ لِيَغِيْظَ بِهِمُ الْكُفَّارً، وَعَدَ اللهُ الذِيْنِ آمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيْمًا (الفتح: 29).

"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama-sama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridloan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman kuat, lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas akar-akarnya, tanaman itu menyenangkan hati penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu'min). Allah menjanjikan  kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh diantara mereka ampunan dan pahala yang besar".

 

 

3.        FUNGSI AL-QUR'AN

 

a. Al-Qur'an sebagai pedoman hidup

Al-Qur'an sebagai petunjuk, sebagai tadzkirah, sebagai nur (cahaya), sebagai furqan (pemisah antara hak dan bathil), sebagai rahmah, sebagai syifa dan sebagai busyra.

Allah berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِى أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنَ هُدًا لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ (البقرة: 185).

"Bulan Ramadlan, dimana diturunkan didalamnya AI-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia, dan keterangan tentang petunjuk itu dan sebagai pemisah (antara hak dan bathil)."

وَشِفَاءٌ لِمَا فِى الصُّدُوْرِ (يونس: 57).

"Dan obat terhadap apa yang ada dalam hati".

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَطِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِ (ابراهيم: 1).

"Kitab, telah kami turunkannya  kepadamu   agar engkau dapat mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya dengan idzin Tuhan mereka ke jalan Tuhan yang Maha perkasa lagi terpuji."

هُدًا وَرَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِيْنَ (يونس: 57).

" ... sebagai petunjuk dan rahmah bagi orang-orang mu'min".

هُدًا وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِيْنَ (النحل: 102).

" ... sebagai petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang Islam."

شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ (الإسرى: 82).

" ... sebagai obat dan rahmat bagi orang-orang mu'min".

وَإِنَّهُ لَتَذْكِرَةٌ لِلْمُتَّقِيْنَ (الحاقة: 48).

"Dan sesungguhnya al-Qur'an adalah sebagai tadzkirah bagi orang-orang yang taqwa".

كِتَابٌ أُنْزِلَ إِلَيْكَ فَلاَ يَكُنْ فِى صَدْرِكَ حَرَجٌ مِنْهُ لِتُنْذِرَبِهِ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِيْنَ (الأعراف: 1).

"Kitab ini diturunkan kepadamu, oleh karena itu hendaknya tidak membuat susah didalamnya agar kamu dapat memberi peringatan dan ingatan bagi orang-orang mu'min".

 

b. Al-Qur'an sebagai mu'jizat

Setiap Nabi mempunyai mu'jizat yang berlaku pada zamannya, seperti halnya Nabi Musa as. pada saat itu sedang memuncaknya ilmu sihir, maka yang diungguli adalah sihir tersebut yakni dengan mu'jizat Nabi Musa yang berupa tongkat ajaib yang diperoleh dari mertuanya,Nabi Syuib as. Pada zaman Nabi Isa terdapat ilmu kedokteran sangat tingggi namun lebih unggul Nabi Isa as. dalam penyembuhan penyakit lepra/kusta, menyembuhkan buta mata, dan bahkan dapat menghidupkan kembali orang mati dalam pembuktian suatu perkara dengan izin Allah, begitu pula menciptakan burung dari tanah dan lain-lainnya.

Adapun Nabi Muhammad saw. adalah dalam suasana puncaknya orang bersastra, setiap tahun dipertandingkan hasil sastra mereka, dan setiap pemenang berhak untuk menggan-tungkan hasil sastranya di atas Ka'bah, sehingga setiap orang dapat membacanya, dan dijadikan pedoman hidup bagi mereka. Saat itu kedudukan syair/ sastra di Makkah sama dengan filsafat di Yunani.

Dengan hasil sastra yang tinggi, mereka merasa angkuh, bahwa merekalah yang sangat fasih, dan dengannya dapat menawan rasa, cipta dan karsa seseorang; namun setelah Al-Qur'an datang maka lemahlah mereka, sehingga karena keunggulan dan merasuk jiwa mereka serta tertawan bila Al-Qur'an dibacakan, maka mereka menuduh Muhammad sebagai tukang tenung, tukang sihir dan orang gila; setiap Muhammad saw. membacakan Al-Qur'an meraka terpukau, dan tak terasa bahwa mereka telah hanyut berada dalam suasana terimbas, masuk dalam sukma, menjelujuri rasa simpati, tunduk dan rasa ajaib.

Para sastrawan Makkah ditantang oleh Al-Qur'an untuk menciptakan suatu surat saja, tapi tak ada kemampuan bagi mereka untuk menciptakannya walaupun mereka meminta bantuan kepada syarikat-syarikat mereka dan bahkan seluruh jin dan manusia pun tak sanggup untuk menandinginya.

قُلْ لاَِنِ اجْتَمَعَتِ الْجِنُّ وَاْلإِنْسُ عَلَى أَنْ يُأْتُوْا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لاَ يَأْتُوْنَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيْرًا (الاسرى: 88).

"Katakanlah! Andaikan jin  dan  manusia dikumpulkan untuk membikin semacam Al-Qur'an ini, maka niscaya mereka tidak akan dapat, meskipun mereka saling bantu membantu".

فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِنْ مِثْلِهِ، وَادْعُوْا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُوْنِ اللهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ (البقرة: 23).

"Maka ciptakanlah  satu  surat saja semacam Al-Qur'an ini, dan panggillah pembela-pembelamu selain Allah jika kamu sungguh-sungguh".

 

Al-Qur'an sebagai mu'jizat dalam segala seginya, diakui oleh orang Arab sendiri, apalagi bagi orang di luar Arab. Sedangkan orang Arab sendiri yang berbahasa setiap hari dengan bahasa itu, mereka tak sanggup dan mampu untuk membikin sepatong suratpun.

 

4.        ETHIKA AL-QUR'AN

a. Ethika Sebagai Disiplin Ilmu

Ethika sebagai ilmu yang melepaskan diri dari induknya sejak pembicaraan filsafat telah beralih dari langit ke bumi yang dipelopori oleh Sacrates, seorang filosof ketuhanan dari Yunani.

Orang banyak mengartikan Ethika (ethicos = tingkah laku) itu, namun dapat kita simpulkan bahwa Ethica adalah ilmu yang membicarakan tentang tingkah laku manusia ditinjau dari segi baik dan buruknya apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara melakukannya untuk dirinya sendiri dan orang lain dalam mencapai tujuan.

Ethika disebut pula dengan Moral-Philosophy (Filsafat Moral, Mores-Behaviour = tingkah laku), sedang di kalangan orang Arab populernya disebut Akhlaq.

Ethika mempunyai pengaruh yang besar dalam kehidupan manusia baik terhadap dirinya sendiri, keluarga, atau kepada lingkungannya, bahkan kepada bangsa dan negara.

Ethika ada hubungan yang erat dengan ilmu-ilmu lainnya, seperti Psychologi, Sosiologi, Anthropologi, Biologi, Zoologi, Etnologi, dan lain-lainnya; hal ini pada umumnya berkaitan dengan tingkah laku manusia.

 

b. Ethika dalam Lintasan Sejarah

Julukan Socrates sebagai orang yang menurunkan filsafat dari langit ke bumi, dibawanya ke kota, dan dimasukkan ke dalam kamar adalah merupakan simbol bahwa Socrates adalah sangat berjasa dalam mengalihkan pandangan filsafat dari alam makro ke alam mikro, dari alam besar ke alam kecil sebagai obyek pembahasan.

Socrates dalam membicarakan keutamaan, dia menya-makan dengan pengetahuan, ia manganggap bahwa orang yang berpengetahuan itu adalah orang utama, dan orang yang utama adalah orang yang berpengetahuan.

Setelah Socrates sebagai "Bapak filsafat akhlaq" maka flsafat akhlaq ini dikembangkan oleh muridnya, Plato, dengan berpokok pangkal kepada pemikiran "alam ide"-nya.  Dari pokok pikiran inilah pengembangan fikiran bahwa keutamaan ditopang oleh empat unsur, yaitu: hikmah, syaja'ah, iffah dan adalah.  Plato dikenal sebagai filsofnya dari pada sebagai ahli filsafat akhlaqnya, karena memang Ethika adalah sebagai bagian dari  filsafat.

Yang paling menonjol dalam dunia ethika diantara murid-murid Socrates adalah Anthestenes dan Aristippus yang corak berfikirnya diantara dua orang ini bertolak belakang, yakni dalam merumuskan kebahagiaan.  Anthestenes mendirikan perguruan Cyneca, sedangkan Aristippus mendirikan perguruan Cyreneca; corak keduanya masing-masing antara hidup zuhud dengan tidak zuhud. Perkembangan dua corak ini diikuti oleh aliran besar sesudahnya yakni aliran Stoisme dan Epicurusme.

Yang mempunyai andil yang sangat besar dalam dunia Ethika ini juga selain mereka adalah murid Plato, yaitu Aristoteles, dia berjasa dalam mengorbitkan pemunculan Alexander de Great dari Macedonia, merumuskan Ethika dalam "Dicotomi" serta aliran Parepatetik.

Dari sejak berkembangnya aliran Stoisme dan Epicurusme, maka nenualah ilmu ini, dengan obyek pembicaraannya tak terlepas daripada itu-itu juga.  Ahkirnya ibarat orang yang sudah berusia lajut dengan wajah yang keriput, tak bisa menarik lagi, kecuali hanya menjadi tonggak orang-orang yang sudah pikun dalam bentuk zuhud dan pantang dunia, sedangkan tokoh-tokohnya berwajah filosof murni semata.

Dalam abad pertengahan, corak ethika yang tadinya hanya hasil pemerasan otak, maka pada saat itu telah muncul norma baru yang bersumber dari agama, dimana tokoh-tokohnya mendasarkan nilai-nilai ethika dengan agama.  Hal ini dipelopori oleh Augustinus dalam dunia Kristen dan Maemonides (Musa bin Maimun) dari dunia Yahudi.

Di tengah-tengah gejolak dunia yang bersumbu dari revalasi ini, maka muncullah Islam yang mewarnai ethika dalam segala seginya dimana tak dapat dipisahkan antara penyandang agama dengan ethika, karena pembawa agama itu sendiri adalah merupakan pembawa ethika sekaligus, yakni nabi Muhammad saw.

 

c. Muhammad saw. Sebagai Sentral Figur Ethika

Ketika Sayyidah 'Aisyah ditanya tentang bagaimana akhlak Rasulullah saw. beliau menjawab, bahwa akhlak Rasulullah adalah Al-Qur'an.

Allah telah mengangkat status ini pada diri Nabi, sebagaimana telah difirmankan Allah:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ (ن: 1).

"Sesungguhnya  engkau  mempunyai  budipekerti/ akhlak/ ethika yang luhur".

Sifat yang dimiliki, sepenuhnya merupakan penerapan al-Qur'an sebagaimana telah dinyatakan:

وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لاَنْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ (آل عمران: 159).

"Andaikan engkau bersikap keras, keras kepala, niscaya  larilah  orang   sekelilingmu".

الكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ (آل عنران: 122).

"Mereka adalah orang-orang yang menahan amarah dan pema'afatas kesalahan manusia".

وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكَ ... (القصص: 77).

"Dan berbuat baiklah, sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu".

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ اَلَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى اْلأَرْضِ هَوْنًا، وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُوْنَ قَالُوْا سَلاَمًا (الفرقان: 63).

"Dan hamba-hamba Allah yaitu  mereka  yang berjalan di atas bumi dengan lemah-lembut, dan apabila orang-orang jahil berdialog dengan mereka, maka mereka mengatakan: 'Selamat' ..."

وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَتَمْشِ فِى اْلأَرْضِ مَرَحًا (لقمان: 19-19).

"Dan  janganlah  kamu memalingkan  wajahmu dari manusia, dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan angkuh".

Banyak lagi ayat-ayat yang berhubungan dengan ethika ini sehingga apabila kita memuatkan semuanya, kami kira bukanlah tempatnya.

 

d.  Implementasi Ethika dalam Kehidupan.

Muhmmad saw. telah membentuk watak manusia yang bersifat strategis dengan ajaran Al-Qur'an, sehingga terwujudlah manusia yang bertaqwa ke hadirat Allah.

Muhammad telah menggenapkan bangunan yang selama ini masih ada batu yang belum diterapkan.  Segala ucapan tindakan, tingkah-laku dan taqrirnya adalah langkah-langkah ethik yang harus diteladani oleh setiap penganut agama Islam, kecuali ada beberapa keistimewaan yang tidak sepantasnya kita ikuti.

Kalau andaikan sekarang dalam suasana yang kurang akrab karena masing-masing membela kepentingannya, baik yang bersifat ideologis, politis, ekonomis, sosial, budaya, dan lain-lain dalam segi kehidupan ini, dan timbul dampak yang kurang sehat, hal ini karena kurang dihayatinya nilai-nilai strategis dalam agama dan ethika. Untuk mengembalikan suasana yang harmonis diantara kita, tak ada pilihan lain kecuali kita kembali ke jalan yang telah ditunjukkan Allah melalui kitab suci-Nya.

Kalau sekarang masih terasa adanya hal-hal yang kurang berkenan dalam alih teknologi tinggi dan perkembangan dunia kita yang sedang membangun, maka gejolak sosial yang kurang sehat seperti halnya tumbuh dekadensi moral, prostitusi, perzinahan, samen leven dan lain-lain yang negatif adalah merupakan penyakit akhlak/ethika.

Penyembuhan dari penyakit akhlak ini harus kita lakukan dengan kesungguhan dan pendidikan jiwa yang matang serta mengendalikan hawa nafsu angkara mereka baik yang bersifat individu maupun kelompok masyarakat.

Ruang lingkup yang harus tertuangkan dalam pengendalian akhlak terutama di kalangan generasi penerus adalah:

1.         Memperluas cakrawala berfikir, sehingga jauh dari "fanatisme buta" yang mengakibatkan malapetaka, ia dapat membandingkan dan mengembangkan yang lebih baik dan manfa'at dalam segala segi.

2.         Menanamkan butir keimanan, memupuk perasaan dan rasa seni yang timbul dari nilai-nilai rohani, mengendalikan kemauan, menundukkan hawa nafsu dan mengarahkannya ke dalam pembangunan.

3.         Melaksanakan ajaran agama secara konsekwen, sebagaimana sabda Rasul:

قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ

"Katakanlah! Aku beriman, kemudian konsekwenlah".

dengan penuh ketaatan menjalankan segala apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. karena dalam diri Rasul terdapat contoh yang baik, sebagaimana firman Allah :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُوْلِ اللهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ (الاحزاب: 21).

"Sungguh terdapat dalam diri Rasul contoh yang baik bagi kamu sekalian ".