SYARAT MENUNTUT ILMU

Oleh: Dede Alimuddin

 

Manusia dibedakan dengan makhluk hidup yang lain seperti hewan. Bumi diserahkan kepada hewan-hewan itu sudah siap pakai. Akan tetapi manusia tidak demikian, bumi diserahkan kepada manusia itu sudah siap olah, manusia berkewajiban mengolah. Yang berarti manusia dituntut berupaya, berusaha, dan bekerja keras. Dalam arti belajar dengan tekun bagi para penuntut ilmu untuk mencapai hasil atau tujuan yang diinginkan.

Dengan demikian berarti kerja keras manusia itu adalah bagian dari  kewajibannya. Atau belajar dengan tekun adalah bagian dari kewajiban penuntut ilmu untuk mencapai tujuannya yang lebih baik. 

Menuntut ilmu hukumnya sangat wajib bagi setiap muslim yang berakal, baik miskin atau kaya, orang kampung atau pun orang kota, selama dia berakal sehat wajib hukumnya menuntut ilmu. Dikatakan dalam Hadis :

 

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَی كُلِّ مُسلِمٍ وَ مُسْلِمَةٍ

“Menuntut ilmu itu sangat wajib bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan” —Al-Hadis— 

 

Dalam kajian hukum Islam, bahwa standar hidup yang ideal bagi manusia adalah Haddul Kifâyah, Lâ Haddul Kafaf (batas kecukupan, bukan batas pas-pasan)[1]. Dan kita tahu bahwa kewajiban dalam menuntut ilmu dimulai dari rahim ibu sampai liang lahat. Dengan demikian untuk memenuhi standar hidup yang ideal hendaknya tidak hanya pas-pasan. Dalam kitab “Ta’lim al-Muta’allim” yang ditulis oleh Imam Al-Zarnuji, beliau menulis bahwa syarat-syarat mencari ilmu ada 6, yaitu:

 

  1. Cerdas. Adalah salah satu syarat untuk menuntut ilmu. Kecerdasan adalah bagian dari pengaruh keturunan jalur psikis. Dari ayah dan bunda yang cerdas akan lahir anak-anak yang cerdas, kecuali adanya sebab-sebab yang memungkinkan menjadi penghalang transformasi sifat-sifat tersebut baik situasi fisis maupun psikis.

      Sehat jasmani dan lemah jasmani, makanan bayi dalam kandungan maupun situasi psikis ayah bunda seperti semangat dan himmah menuntut ilmu, melakukan kejahatan, emosi, maupun warna pikiran akan ikut memberikan pengaruh yang besar bagi keturunan. Itulah buktinya bahwa dari ayah dan bunda yang sama akan lahir anak-anak dengan kondisi fisik, watak, sifat dan kecerdasan yang berbeda.

      Tentang kaitan keturunan dengan ilmu pengetahuan maka kita perlu mengingat bahwa yang diturunkan dari orangtua adalah tingkat kecerdasannya saja bukan kekayaan ilmu pengetahuan. Kekayaan ilmu pengetahuan tidak ada jalan lain kecuali belajar dengan baik. Sabda nabi Saw:

إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ (الحديث)

    “Bahwasanya ilmu itu diperoleh dengan (melalui) belajar”. —Al-Hadis—

 

      Dan yang menjadi masalah sekarang bagaimana anak yang cerdas (karena keturunan) tetapi tidak memiliki ketekunan dan kesungguhan dalam menuntut ilmu, jawabannya sudah pasti bahwa dia tidak akan menjadi orang pandai/‘Alim.

 

2. Rakus (punya kemauan dan semangat untuk berusaha mencari ilmu)

      “Kejarlah cita-citamu setinggi langit”. Peribahasa ini memberikan arti bercita-citalah setinggi-tingginya dan raihlah cita-cita itu sampai dimana pun. Peribahasa tersebut memberikan motivasi kepada kita untuk pantang menyerah mengejar cita-cita (pendidikan) kita.

      Orang yang menuntut ilmu haruslah seperti peribahasa di atas: “selalu berusaha dan berusaha menuntut ilmu untuk mencapai cita-cita yang tinggi”.

      Bahkan menurut Imam as-Syafi’i, dalam menuntut ilmu janganlah langsung merasa puas terhadap apa yang telah didapat dan jangan hanya menuntut ilmu di satu daerah saja.

 

 

مَافِى الْمَقَامِ لِذِيْ عَقْلٍ وَذِيْ أَدَبٍ  .   مِنْ رَاحَةٍ فَدَعِ اْلاَوْطَانَ وَاغْتَرِبِ

سَافِرْ تَجِدْ عِوَضًا عَمَّنْ تُفَارِقُهُ   .  وَانْصَبْ فَإِنَّ لَذِيْذَ الْعَيْشِ فِى النَّصَبِ

 

      “Tidak cukup teman belajar di dalam negeri atau dalam satu negeri saja, tapi pergilah belajar di luar negeri, di sana banyak teman-teman baru pengganti teman sejawat lama, jangan takut sengsara, jangan takut menderita, kenikmatan hidup dapat dirasakan sesudah menderita.” (diambil dari kitab Sejarah Hidup dan Silsilah Syekh Kiyai Muhammad Nawawi Tanara Banten yang ditulis oleh H. Rofiuddin. Hal. 4)

 

Dan ada tiga kategori manusia:

      Berjaya: jika hari ini lebih baik dari kemarin, Terpedaya: hari ini sama seperti kemarin, Celaka: hari ini lebih buruk dari kemarin.

 

3. Sabar. Dikutip dari bukunya Prof. KH. Ali Yafie “Manusia dan Kehidupan” bahwa manusia pada hakekatnya dihadapkan kepada pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab (tantangan). Seorang manusia harus mampu menjawab berbagai pertanyaan menyangkut kehidupannya yang terkait dengan berbagai tantangan dan persoalan. —2006: 1

      Seorang yang menuntut ilmu sudah barang tentu akan menghadapi macam-macam gangguan dan rintangan. Selain berusaha maka bersabarlah untuk menghadapi semuanya itu, dan perlu diketahui bahwa sabar adalah sebagian dari Iman, “As-Shobru mina al-îmân”. Dan Sabar disini mengandung arti tabah, tahan menghadapi cobaan atau menerima pada perkara yang tidak disenangi atau tidak mengenakan dengan ridha dan menyerahkan diri kepada Allah Swt. Sabda nabi Saw:

اَلصَّبْرُضِيَاءٌ

     “Bersabar adalah cahaya yang gilang-gemilang”.

 

      Akan tetapi kesabaran disini harus diartikan dalam pengertian yang aktif bukan dalam pengertian yang pasif. Artinya nrimo——menerima— apa adanya tanpa usaha untuk memperbaiki keadaan. Sesuai ajaran agama pengertian sabar dan kata-kata sabar itu misalnya dapat ditemukan di dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran. Yakni satu surat yang terdiri dari 200 ayat yang menjelaskan tentang keseluruhan perjuangan besar dan berat yang telah dilakukan rasulullah Saw sepanjang hidupnya dan itu semua direkam dalam Surat Ali Imran. Ada dua perjuangan berat dan sangat menentukan yaitu pertempuran badar dan uhud. Di dalamnya terdapat banyak kata-kata sabar, tetapi kata-kata sabar itu selalu diletakan dalam konteks perjuangan bukan dalam konteks seseorang ditimpa musibah. Dengan demikian dapat diperoleh gambaran dan kesimpulan pengertian bahwa sabar yang aktif itu artinya suatu mentalitas ketahanan belajar, memiliki mental yang kuat untuk tekun belajar dan berusaha keras seoptimal mungkin dengan penuh daya tahan, tidak jemu, tidak bermalas-malasan, tetapi belajar dengan penuh semangat. Selain itu, dalam belajar harus berkonsentrasi (Khudzurul Qalb) karena jika belajar pikirannya bercabang maka tidak bisa optimal. Salah satu bagian dari sabar adalah Khudzurul Qalb.

 

4. Bekal (biaya). Setiap perjuangan pasti ada pengorbanan, itulah logikanya, manusia menjalani hidup ini butuh pengorbanan begitupun menuntut ilmu.

      Biasanya, dalam hal biaya ini menjadi dalih masyarakat yang sangat utama dalam menuntut ilmu khususnya pada pendidikan formal. Sehingga ketika ditanya salah seorang yang tidak belajar di pendidikan formal misalnya, “kenapa kamu atau dia tidak sekolah?” jawabannya sungguh gampang sekali, “saya atau dia tidak sekolah karena tidak punya biaya.

      Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa pendidikan wajib hukumnya bagi setiap muslim, dan dijelaskan lagi dalam hadis “Tuntutlah ilmu mulai dari rahim ibu sampai liang lahat”. Dari hadis tersebut kita bisa mengetahui bahwa, seumur hidup kita wajib menuntut ilmu. Pendidikan bukan hanya pendidikan formal tetapi non formal pun ada. Rasul menjanjikan kepada para penuntut ilmu,

 

إنَّ ﺍﷲَتَكَفَّلَ لِطَالِبِ اْلعِلْمِ بِرِزْقِهِ 

“Sesungguhnya Allah pasti mencukupkan rezekinya bagi orang yang menuntut ilmu”

 

      Dalam lafal hadis di atas tertulis lafazh takaffala dengan menggunakan fi’il madhy yang aslinya mempunyai arti ‘telah mencukupkan’ yang “seolah-olah” sudah terjadi. Maka lafazh tersebut mempunyai makna pasti, asalkan dibarengi dengan keyakinan terhadap kekuasaan Allah. Dan yakinkanlah bagi para penuntut ilmu walaupun dengan segala kekurangan——biaya— pasti mampu atau bisa menyelesaikan pendidikan. Karena pasti akan ada jalan lain selama manusia berusaha dan yakin terhadap kekuasaan dan pertolongan Allah Al-Yaqinu Lâ Yuzâlu bi as-Syak Artinya: ”keyakinan tidak bisa dihilangkan oleh keragu-raguan”. Dan akhirnya maka tidak ada alasan orang tidak bisa menuntut ilmu karena biaya, seperti keterangan sebelumnya carilah jalan lain, solusi lain untuk bisa menuntut ilmu.

 

5. Petunjuk Guru; Profesionalisme Guru

      Ilmu didapat dengan dua cara. Pertama dengan bil kasbi. Yakni didapat dengan cara usaha keras sebagaimana layaknya pencari ilmu biasa. Ia belajar menuntut ilmu dengan tekun belajar dari bimbingan yang benar. Kedua dengan bil kasyfi. Yakni dengan cara mendekatkan diri kepada Allah Swt secara total. Dengan kedekatannya kepada Allah Swt, Allah akan memberi apa yang ia minta. Cara ini adalah cara untuk orang khusus. Sebagai penuntut ilmu berusahalah semaksimal mungkin untuk dapat mengkorelasikan keduanya. Juga, berusaha semaksimal mungkin untuk mendapat petunjuk guru karena tanpa petunjuk guru dan tanpa taqarrub (ibadah mendekatkan diri) total kepada Allah bisa jadi ilmu tersebut datangnya dari iblis la’natullah ‘alaih. Profesionalisme guru artinya seorang guru harus mampu menguasai pelajaran sesuai dengan bidangnya.

      Sebagai guru haruslah mempunyai sifat-sifat yang mencerminkan kemuliaan ilmu dan tabi’at——akhlaq—yang baik. Kita analogikan seorang petani profesional akan merawat tanamannya dari rumput pengganggu, ia akan membasmi hama dan penyakitnya. Demikian pula seorang pendidik haruslah membersihkan dirinya dari segala kebiasaan buruk dalam masyarakat. Ia akan tanggap dan waspada dengan para penyeru maksiat. Hendaklah ia membenahi dirinya sebelum ia menebarkan benih-benihnya. Ia harus menanamnya dalam lahan yang subur. Hendaklah ia menyibukkan diri dengan amal kebaikan, kesibukan-kesibukan akhirat yang akan menjadi tameng dari syahwat dan syubhat. Kemudian sebaik-baik pendidik adalah yang konsisten dengan Al-Qur’an dan Al-Sunnah yang tercermin lewat akhlak dan amalan-amalannya yang shalih. Cerdas dalam mendeteksi penyakit hati serta berpengalaman dalam mengobatinya, remaja yang tumbuh dari pendidikan—tarbiyah—yang baik maka akan menjadi buah yang segar nan ranum. Ia bermanfaat bagi diri dan masyarakat sekitar.

      Beberapa ciri-ciri tabi’at guru—pendidik—yang harus ditanamkan adalah sebagai berikut:

 

6. Lama Waktunya. Maksudnya selesaikanlah pendidikan itu samapai tuntas, jangan sampai berhenti di tengah jalan.

 

Kemudian Pesan dan Prinsip menuntut ilmu tergambar pada kata pepatah sebagai berikut:

   “Berfikirlah di waktu pagi. Bekerjalah di waktu siang. Makanlah di waktu   sore. dan Tidurlah di waktu malam”.

 

Pada kalimat pertama dalam pepatah mengatakan, “Berfikirlah di waktu pagi”. Mempunyai pengertian agar kita belajar pada usia muda——mulai dari kecil—dengan sungguh-sungguh, tekun, rajin, percaya diri, serta tidak terpengaruh oleh lingkungan.

 Ungkapan tersebut juga menganjurkan agar kita menggunakan waktu sebaik-baiknya, karena kunci keberhasilan dalam menuntut ilmu adalah pandai mengatur waktu secara efektif, dengan mendahulukan aktifitas yang lebih penting dan membuang aktifitas yang kurang penting. Ini dapat dianalogikan sebagaimana uang yang hilang dapatlah dicari gantinya, kesehatan yang terganggu ada obatnya, tetapi bila waktu dan kesempatan yang hilang atau disia-siakan, maka tidak akan ada gantinya untuk selamanya.

Bagi seorang penuntut ilmu, bila di masyarakat hasil belajarnya tidak sesuai yang diharapkan, maka akan mengeluh dan menyesal. Bahkan masyarakat akan mencemoohnya. Hal ini digambarkan oleh seorang penyair :

 

   “Akan datang kepadamu hari-hari dimana dirimu merasa masih bodoh, dan          akan datang pula berita tentang kekurangan perbekalanmu”.

 

Bagi seorang penuntut ilmu yang hidup di lingkungan pendidikan, tidak boleh merasa dirinya paling bisa dan bersikap gengsi dengan tidak mau mencari tambahan ilmu. Kisah Nabi Musa a.s. Harus menjadi ibarah. Beliau merasa dirinya paling pandai ketika ditanya oleh umatnya, sehingga Allah memerintahkan Nabi Musa untuk mencari tambahan ilmu kepada Nabi Khadir. Diceritakan dalam Al-Qur’an Surat Al-Kahfi Ayat 66-78, sebagai berikut:

Musa Berkata kepada Khidhr: "Bolehkah Aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang Telah diajarkan kepadamu?"

Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama Aku.

Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?"

Musa berkata: "Insya Allah kamu akan mendapati Aku sebagai orang yang sabar, dan Aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun".

Dia berkata: "Jika kamu mengikutiku, Maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai Aku sendiri menerangkannya kepadamu".

Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: "Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?" Sesungguhnya kamu Telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.

Dia (Khidhr) berkata: "Bukankah Aku Telah berkata: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku".

Musa berkata: "Janganlah kamu menghukum Aku Karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani Aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku".

Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, Maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: "Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan Karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu Telah melakukan suatu yang mungkar".

Khidhr berkata: "Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?"

Musa berkata: "Jika Aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, Maka janganlah kamu memperbolehkan Aku menyertaimu, Sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku".

Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, Kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, Maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: "Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu".

Khidhr berkata: "Inilah perpisahan antara Aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.

 

Pada kalimat kedua, “Bekerjalah di waktu siang”. Pepatah ini mengandung pengertian agar mengamalkan ilmu yang sudah diperoleh, baik dengan mengajar maupun terus mencari tambahan ilmu lagi. Rasulullah Saw, bersabda:

 

   “Andai kata seseorang boleh merasa cukup dengan ilmunya, niscaya Nabi             Musa-lah yang paling cukup”.

 

Dalam menuntut ilmu pengetahuan, tidak ada kata berhenti. Dalam arti, seorang penuntut ilmu yang telah selesai pendidikannya dan berkecimpung di masyarakat, tidak bisa mementingkan urusan bisnis dan ekonomi saja, tapi juga harus ikut memecahkan problematika yang muncul di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Motivasi yang harus ditanamkan adalah dengan keikhlasan. Sehingga dengan hal tersebut orang lain akan lebih mudah menghargainya. Sikap ikhlas seseorang dapat diketahui dari tidak adanya pamrih apapun dari orang lain. Seorang penuntut ilmu harus mampu menghormati orang lain, karena bagaimana pun juga seseorang tidak akan bisa sukses dalam mencapai tujuan tanpa ada peran orang lain. Sikap dan perilaku hormat ini digambarkan oleh pesan Abu Bakar r.a kepada tentaranya :

 

   “Perbaikilah dirimu, maka niscaya orang lain akan berbuat baik     terhadapmu”.

 

Pada kalimat ketiga, “Makanlah di waktu sore”. Pepatah ini mengandung pengertian bahwa jerih payah seseorang yang telah dikerjakan di waktu muda, pada saat tua tinggal memetik hasilnya. Seorang penyair mengatakan :

  

“Karena orang-orangtua dulu telah menanam maka kita dapat memakan buahnya sekarang. Maka kita sekarang dituntut menanam sehingga buahnya dapat dimakan oleh orang-orang yang akan datang”.

 

Pada kalimat terakhir, “Tidurlah di waktu malam”. Artinya ketika engkau wafat, maka wafatlah dengan tenang.  

 

Mari kita perhatikan persyaratan selanjutnya yang harus dipenuhi bagi penuntut ilmu khususnya bagi penuntut ilmu agama. Ada empat macam persyaratan yang tidak boleh ditinggalkan supaya ilmu yang dipelajarinya menjadi ilmu yang manfaat dan barakah——bertambah kebaikan—.

Pertama: penuntut ilmu, khususnya penuntut ilmu agama ketika keluar dari rumah pergi ke tempat belajar, harus punya niatan semata-mata untuk menghilangkan kebodohan.

نَوَيْتُ طَلَبَ الْعِلْمِ فَرْضًا ِﷲِ تَعلی

“Nawaitu thalaba al-ilmi fardhal lillahi ta’ala”

 

Kedua: niat menuntut ilmu agama supaya kehidupan kita di dunia fana’ ini berguna dan bermanfaat untuk orang lain. Nabi Muhammad Saw bersabda:

 

   “Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain”.

Rasulullah Saw mengumpamakan sifat orang mukmin seperti sifat lebah, dalam sabda-nya:

“Sifatnya orang mukmin seperti sifatnya lebah (tawon madu),

  1. Bila makan, yang dimakan adalah halal——yaitu sari bunga yang dihisapnya¯¯,
  2. Bila mengeluarkan, yang dikeluarkan adalah madu, yang bermanfaat bagi kesehatan. Bila kita mengeluarkan pembicaraan, pembicaraan kita harus berguna dan bermanfaat bagi orang lain. Pembicaraannya tidak menyakitkan orang lain.
  3. Bila hinggap di dahan yang lapuk maka lebah tidak merusak (tidak mematahkan dahan yang lapuk yang dihinggapinya).

Ketiga: ketika berangkat menuntut ilmu mempunyai niatan untuk menghidupkan ilmu agama atau meneruskan perjuangan para ulama ketika pulang nanti. Karena, jika mayoritas umat Islam sudah meninggalkan mempelajari ilmu agama, maka ilmu agama akan lenyap dan hilang dengan sendirinya. Seperti yang disinyalir oleh nabi dalam sabda-nya:

 

“Pelajarilah ilmu agama (tuntutlah ilmu agama dengan bersungguh-sungguh         dan tekun) sebelum ilmu agama itu ditarik, dicabut oleh Allah. Caranya Allah mencabut ilmu agama itu karena wafatnya ulama (yang membidangi ilmu agama itu sendiri)”.

 

Sedangkan generasi penerusnya enggan untuk mempelajarinya, dengan dalih kalau mempelajari ilmu agama dengan tekun, khawatir masa depannya suram, khawatir tidak bisa kaya, tidak punya jabatan, dan lain-lain seperti yang kita saksikan pada masa sekarang ini.

Ilmu  agama itu diangkat, maksudnya ilmu agama sudah tidak dianggap penting lagi. Tidak mendapatkan perhatian yang serius, memandang ilmu agama dengan sebelah mata dan akhirnya lenyap karena tidak ada yang mempelajarinya.

Keempat: niat menuntut ilmu agama untuk diamalkan. Bukan untuk bangga, untuk menyombongkan terhadap orang lain, tapi diamalkan dikala sudah kembali ketempat masing-masing.

 

   “Ilmu tanpa amal membahayakan (bagi yang punya ilmu), dan amal tanpa            ilmu menyesatkan (dirinya sendiri dan orang lain)”.

 

Ketenangan Hati

Segala pekerjaan dilakukan tidak dalam keadaan tenang, maka akan menimbulkan masalah. Begitu juga dengan menuntut ilmu, seyogyanya para penuntut ilmu berkonsentrasi penuh dalam belajar jangan ada keragu-raguan, jangan tergesa-gesa yang akhirnya bisa merusak belajar. Pergunakanlah waktu sebaik mungkin untuk belajar, dengan kata lain tiada hari tanpa belajar. Karena Agama Islam sangat memerhatikan pentingnya soal waktu. Tenangkan hati jangan sampai memikirkan hal-hal yang tidak penting.

Bahwa manusia yang memperoleh kebaikan dalam hidup adalah mereka yang memperoleh ketenteraman batin. Hidup penuh ketenangan, tanpa rasa takut maupun khawatir. Semuanya akan diperoleh mana kala ikhtiyar dan usaha manusia ditopang oleh Taqwa dan Tawakkal. Tawakkal disini berarti kepasrahan setelah berusaha. Penuntut ilmu berusaha belajar setekun mungkin, kemudian berdoa. Itulah yang dimaksud oleh firman Allah Swt:

 

Iwr& žcÎ) uä!$uŠÏ9÷rr& «!$# Ÿw ê’öqyz óOÎgøŠn=tæ Ÿwur öNèd šcqçRt“øts† . šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qçR%Ÿ2ur šcqà)­Gtƒ  .

“Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali (kekasih-kekasih) Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak——pula mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa”. (QS. Yunus: 62-63).

 

Tuntutan Hati

Tuntutan hati dibagi, antara lain:

  1. Ilmu. Bahwa sifat hati selalu ingin tahu sehingga manusia didefinisikan sebagai makhluk yang selalu bertanya atau makhluk filsafat.
  2. Hidayah. Artinya gemar melakukan yang baik, terpuji, menghindari perbuatan yang jelek. Bahkan tiap-tiap perbuatan yang jelek pada hakikatnya bertentangan dengan hati nurani.
  3. Irsyad. Artinya mampu menyerap petunjuk rohani serta mampu membedakan amal yang baik dan jelek.
  4. Taufiq. Artinya mampu melakukan perbuatan yang sesuai dengan tuntutan Rasul Saw, dan akal sehat.
  5. Ma’rifat. Artinya mampu melihat Allah dengan mata hati. Bahkan mata hati adalah satu-satunya alat untuk ma’rifatullah. Tatkala akal dan mata kepala tidak mampu menemukan hakekat Allah.

 

Kemudian hendaknya para penuntut ilmu dapat memelihara dan membersihkan hati dari sifat-sifat sebagai berikut:

  1. Isti’jal (tergesa-gesa)

Bahwa tergesa-gesa adalah pekerjaan syetan. Pada hakikatnya semua kegiatan——pekerjaan— yang baik dengan niat yang baik bagi mukmin bernilai ibadah. Karenanya harus ditunaikan dengan tenang, tidak tergesa-gesa bahkan harus disertai dengan taqwa dan tawakkal.

  1. Hasad (dengki)

        Tidak senang apabila temannya mendapat nikmat atau berusaha dengan segala macam jalan untuk merebutnya. Kalimat bijak menyatakan:

 

الْحَسُوْدُ لاَيَسُوْدُ وَلَوْبَلَغَ اْلمَقْصُوْدُ (الكلمةالحكيمة)

            “Orang hasud (dengki) tidak pernah mampu menjadi pemimpin (yang baik)            sekalipun ia telah berhasil merebut kepemimpinan itu (dari tangan orang           lain)”.

 

       Orang hasud bahkan akan merusak kebaikan bagaikan api melalap kayu bakar. Sebagai mana sabda nabi Saw yang berbunyi:

 

فَإِنَّ الحَسَد يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الخَطَبَ (الحديث)

“Maka sesungguhnya hasud dapat memakan merusakkebaikan seperti api melalap kayu bakar”. —Al-Hadis—

 

       Dengan hasud orang akan menyiksa batin dan dirinya sendiri. Setiap muslim          terhadap orang lain yang memperoleh nikmat harus ikhlas atau bahkan ikut            mensyukuri sambil berusaha dan berdoa kepada Allah, sehingga nantinya akan tiba giliran nikmat untuk dirinya.

  1. Kibr (Sombong)

        Merasa dirinya paling besar, sedang lainnya rendah. Kibr, sifat yang hanya boleh dimiliki oleh Allah Swt. Soal kaya, miskin, pangkat dan tidak, dijadikan Allah sebagai seni kehidupan. Yaitu agar kehidupan ini berjalan harmonis dan saling kasih sayang.

  1. Tulul Amal (Tinggi dan Panjang Angan-angan)

        Berangan-angan terhadap hal yang tidak realistis, melainkan bersifat melamun dan khayalan. Nabi melarang membuang-buang waktu dan melakukan yang tidak berguna. Sebagai mana sabda nabi Saw yang berbunyi:

 

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ المرءِ تَرَكَ مَا لاَ يَعْنِيْهِ (رواه البخاري)

      Agama juga melarang orang berfikir yang melebihi batas dari jangkauan kemampuannya. Sebagaimana sabda nabi Saw yang berbunyi:

 

تَفَكَّرُوْا فِي الْخَلْقِ وَلاَتَفَكَّرُوْا فِي الخَالِقِ فَإنَّكُمْ لاَتَقْدِرُوْنَ قَدْرَهُ (رواه أبوالشيخ)

“Berfikirlah kamu sekalian——sebatasmakhluk Allah dan janganlah berfikir (melebihi batas) tentang dzat Allah. Karena sesungguhnya engkau tidak akan mampu mencapai (hakekatnya)”. (HR. Abu Syekh).

 

 

 

Fungsi hati dalam kehidupan manusia:

ü      Tempat menyimpan suara hati (Concience), manusia akan menjadi baik mana kala mau konsisten dengan panggilan hati nuraninya, karena suara hati adalah pantulan dari fitrah jiwanya. (Lihat Surat ar-Rûm, Ayat. 30)

ü      Fungsi seluruh tubuh manusia, yang dimaksud adalah bahwa kebaikan maupun kejelekan seluruh tubuh. Kebaikan seseorang menentukan kesehatan jasmaninya. Sebaliknya hati yang jelek akan besar pengaruhnya terhadap kejelekan jasmani.

 

Nabi Saw, bersabda:

اَلآ إنَّ فِيْ الجَسَدِ مُضْغَةٌ إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وَإذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ اَلآ وَهِيَ القَلْبُ (رواه البخاري ومسلم)

“Ingat di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik maka akan baik seluruh anggota tubuh dan apabila ia rusak maka akan rusak seluruh anggota tubuh. Ingatlah itulah hati”. (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Obat Hati

Adapun beberapa obat hati yang mungkin sudah kita tahu diantaranya, sebagai berikut:

1)      Membaca Al-Qur’an dan makna-nya

2)      Mendirikan Shalat malam (Qiyamullail)

3)      Berkumpul/ bergaul dengan orang saleh

4)      Memperbanyak puasa sunnah

5)      Berdzikir kepada Allah dengan lama pada malam hari.

 



[1] Prof. KH. Ali Yafie, Upaya Memahami Makna Hakikat Kehidupan Manusia, Pustaka Pelita, 2006 Hal.18