Seputar Ahmadiyah, Pendiri, Paham dan Asalnya

Kelompok ‘Ahmadiyah’ atau ‘al-qodiyaniah’, adalah kelompok gerakan yang berkembang sekitar tahun 1900 M. di daratan India dengan prakarsa dari penjajah Inggris yang tujuannya untuk menjauhkan umat islam dari agamanya dan menghilangkan syariat jihad melawan orang kafir, khususnya melawan penjajah Inggris dengan mengatasnamakan “Islam”.

Pendiri kelompok ini bernama Mirza Ghulam Ahmad Al-Qodiyani, lahir di Qodyan India tahun 1839 M. wafat tahun 1908 M. Dia menyebarkan ajarannya dengan berbagai cara, dengan ceramah, karya tulis dan lainnya. Di antara karya tulisnya berjudul ‘Menghilangkan Keraguan’, Mukjizat Ahmadiyah’, Argumentasi Ahmadiyah’, ‘Cahaya Islam’ dan lainnya. Berkat kepiawiannya dan dukungan penjajah sampai kemudian membentuk kelompok yang dikenal dengan ‘Ahmadiyah Al-Qodyaniah’.

Ajaran Ahmadiyah al-Qodiyaniah yang dianggap menyimpang di antaranya :

Meyakini bahwa Tuhan itu berkebangsaan Inggris, karena dapat berbahsa Inggeris.
Meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah ‘al-Masih’ yang dijanjikan.
Meyakini bahwa Nabi Muhammad saw bukan nabi terakhir tetapi Allah akan terus mengutus nabi sesuai kebutuhan dan Mirza Ghulam Ahmad adalah paling utamanya para nabi.
Kitab sucinya bukan Al-Qur’anul Karim yang diturunkan kepada Nabi Muhammad tetapi kitab suci mereka bernama ‘al-Kitab al-Mubin’ yang diturrunkan kepada Mirza Ghulam Ahmad.
Kota al-Qodiyan diyakini sebagai kota suci sebagi kiblat umat islam dan tempat pelaksanaan ibadah haji, karena kota Qodiyan lebih utama dari Makkah dan Madinah.
Setiap seorang yang mengaku muslim menurut mereka masih dianggap kafir sebelum masuk al-Qodiyaniah
Tidak disyari’atkannya jihad melawan penjajah dan harus tunduk patuh pada pemerintahan Inggris, karena pemerintah Inggris itu waliulamr menurut nash kitab suci.

Al-Qodiyaniah banyak tersebar di India, Pakistan, Jazirah Arab, Asia tenggara dan lainnya berkat dukungan para zionis dan penjajah serta kegigihan para kholifah dan tokoh-tokoh al-Qodiyaniah. Di antaranya :

Nuruddin, kholifah pertama pengganti setelah Mirza Ghulam meninggal dunia.
Muhammad Ali, Amir al-Qodiyaniah di Lahore, penerjemah Al-Qur’an ke bahasa Inggris.
Muhammad Shodiq, mufti al-Qodiyaniah, pengarang buku ‘Khodim Khotaminnabiyin’
Basyir Ahmad Bin Al-Ghulam, pengarang buku ‘Sejarah al-Mahdi’
Mahmud Ahmad bin Al-Gulam, kholifah kedua. Dan banyak lainnya (lihat : al-Mausu’ah al-Muyassaroh Fil Adyan wal Madzahib al-Mu’ashirah. WAMY. Hal. : 389)

Kalau benar kelompok Ahmadiyah al-Qodyaniah “(saya tidak berani menyebut kelompok islam)”  punya keyakinan sesuai ajarannya yang dijelaskan tadi maka jelas itu tidak sesuai dengan ajaran islam yang sebenarnya dan sikap kita hendaknya tidak mempercayai, tidak mengikuti dan jangan gampang terpedaya dengan tipu dayanya. Karena Allah tidak sama dengan makhluknya dan bukan berkebangsaan Inggris, Nabi Muhammad adalah nabi terakhir dan tidak ada nabi lagi setelah Nabi muhammad, kitab suci umat islam adalah Al-Qur’an al-Karim yang diturunkan kepada Nabi Muhammad bin Abdillah, Ka’bah kiblat umat islam Makkah dan Madinah adalah dua kota suci tempat melaksanakan haji dan ziarah, seorang dianggap muslim kalau sudah membaca dua kalimah syahadah dan jihad itu disyari’atkan untuk menolak kedzoliman dan itu dilaksanakan oleh Rasulullah SAW serta tidak boleh taat kepada seorang makhluk yang mengajak maksiat kepada Allah SWT. wallahu a’lam bisshowab.

Sumber : Kajian Islam ASWAJA Bersama KH. Abdurrahman Navis Lc.
Editor : Sulaiman

 

BISA BACA KITAB KUNING – PUNYA NASAB PADA “BHUJUK”

Sekedar gambaran, tentang silsilah Ulama-ulama Pesantren yang dikenal sebagai “Kiai” Indonesia, khususnya Jawa (termasuk Madura), dimana kebanyakan dari mereka memiliki garis nasab pada Rasulullah SAW, seperti Kiai-kiai keturunan keluarga Azmatkhan, Basyaiban dan sebagainya. Kemudian, di berbagai daerah, kaum santri sangat didominan oleh keluarga-keluarga yang bernasab sama dengan Kiai-kiai itu, bedanya hanya karena beberapa generasi sebelum mereka tidak berprestasi seperti leluhur “keluarga Kiai”, sehingga setelah selisih beberapa generasi, merekapun tidak dikenal sebagai “keluarga Kiai”, tapi hanya sebagai “keluarga santri”.
Di Madura ada semacam “pepatah” yang mengatakan bahwa kalau ada santri yang sampai bisa membaca “kitab kuning” maka pasti dia punya nasab pada “Bhujuk”. Bhujuk adalah julukan buat Ulama-ulama zaman dulu yang membabat alas dan berda’wah di Madura. Semua Bhujuk Madura memiliki nasab pada Rasulullah SAW. Kebanyakan mereka keturunan Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Gunung Jati dan Sunan Kudus. “Pepatah” itu memang hanya dibicarakan di kalangan “orang awam”, namun kenyataan memang sangat mendukung, karena hampir semua masyarakat santri di Madura adalah keturunan “Bhujuk”, sehingga tidak mustahil apabila di Madura orang yang memiliki “darah Rasulullah” lebih banyak daripada yang tidak. Kami banyak mendapati perkampungan yang mayoritas penduduknya masih satu rumpun dari keturunan seorang Bhujuk yang bernasab pada semisal Sunan Ampel dan sebagainya.
Mungkin hal itu akan menimbulkan pertanyaan “mengapa bisa demikian?”. Maka jawabannya adalah bahwa keluarga Bhujuk dan Kiai Madura dari zaman dulu memiliki anak lebih banyak daripada orang biasa, apalagi hampir semua mereka dari zaman dulu -bahkan banyak juga yang sampai sekarang- memiliki istri lebih dari satu, maka tentu saja setelah puluhan generasi maka keturunan Bhujuk-bhujuk itu lebih mendominan pulau Madura.
Kalau ada yang berkata bahwa tidak semua Kiai keturunan “Sunan” itu bergaris laki-laki, bahkan kebanyakan mereka (?) adalah keturunan “Sunan” dari perempuan, maka pertanyaan itu justru dijawab dengan pertanyaan “kenapa kalau bergaris perempuan?”. Islam dan “budaya berpendidikan” telah “sepakat” untuk membenarkan “status keturunan” dari garis perempuan. Paham “garis perempuan putus nasab” berakibat pada penolakan terhadap keturunan Rasulullah sebagai Ahlul-bayt. Ada orang awam yang berkata bahwa Rasulullah SAW tidak memiliki keturunan dari anak laki-laki, Hasan-Husain adalah putra Fathimah yang berarti putus nasab dari Rasulullah SAW. Paham ini sebenarnya adalah warisan bangsa Arab jahiliyah yang pernah diabadikan dalam syair mereka:
“Anak-anak kami adalah keturunan
dari anak-anak laki-laki kami.
Adapun anak-anak perempuan kami,
keturunan mereka adalah anak-anak orang lain.”
Cucu dari anak perempuan itu hanya keluar dari deretan daftar ahli waris, dalam istilah ilmu “Fara’idh” disebut “mahjub” (terhalang untuk mendapat warisan). Namun dalam deretan “dzurriyyah” (keturunan), cucu dari anak perempuan tidak beda dengan cucu dari anak laki-laki; mereka sama-sama cucu yang akan dipanggil “anakku” oleh kakek yang sama. Apabila kakek mereka adalah orang shaleh maka mereka sama-sama masuk dalam daftar keturunan yang akan mendapat berkah dan syafa’at leluhurnya, sebagaimana firman Allah:
“Dan orang-orang yang beriman dan anak-cucu mereka mengikuti mereka dengan beriman, maka Kami gabungkan anak cucu mereka itu dengan mereka .. “ (Q.S. Ath-Thur : 21)
Jadi, madzhab mayoritas para Kiai adalah bahwa cucu dari garis perempuan dan dari garis laki-laki itu sama-sama cucu, kalau kakek mereka ulama shaleh maka -insyaallah- mereka sama-sama akan mendapat berkah. Termasuk anak cucu Rasulullah SAW, baik yang garis silsilahnya laki-laki semua hingga ke Fathimah binti Rasulillah SAW, maupun yang melalui garis perempuan.
Madzhab ini telah lama dianut oleh Kiai-kiai keturunan Walisongo, terbukti dengan banyaknya kiai-kiai yang menulis nasab mereka yang bersambung pada Walisongo melalui garis perempuan. Terbukti pula dengan yang dikenal oleh Kiai-kiai bahwa Syekh Kholil adalah cucu Sunan Gunung Jati, padahal nasab Syekh Kholil pada Sunan Gunung Jati melalui garis perempuan, sedangkan dari garis laki-laki bernasab pada Sunan Kudus.
Kembali ke bab kita, bahwa di Madura banyak terdapat keluarga-keluarga yang memiliki nasab pada Rasulullah, maka seperti di Madura, begitu pula yang terjadi di berbagai wilayah masyarakat Pesantren lainnya di Jawa. Maka bayangkan saja, betapa keturunan Rasulullah SAW telah memenuhi pulau Jawa, belum lagi di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan lain-lain. Ditambah dengan “jamaah habaib” yang memang sudah dikenal dengan “status menonjol” sebagai keturunan Rasulullah SAW.
Ini yang terjadi di Indonesia, dan demikian pula di negeri-negeri non Arab yang lain, seperti Malaysia, Brunei, Singapura, Thailand, Filipina, India, Pakistan, Afrika dan sebagainya. Banyak dari mereka yang sudah membaur dengan penduduk setempat sehingga mereka tidak lagi dikenal sebagai “Habib”, “Sayyid” atau julukan-julukan lainnya. Dalam kitabnya, “’Allimu Auladakum Mahabbata Aalin Nabi”, Syekh Muhammad Abduh Yamani mengatakan bahwa di Afrika banyak terdapat orang-orang kulit hitam yang ternayata memegang sisilsilah pada Rasulullah. Hal itu dikarenakan leluhur mereka berbaur dengan orang kulit hitam, bergaul dan menikah dalam rangka menjalin hubungan sebagai jembatan da’wah. Kenyataan ini menyimpulkan bahwa masih banyak keturunan Rasulullah SAW yang tidak terdata dan tidak dikenal. Itu adalah gambaran jumlah keturunan Rasulullah SAW yang keluar dari tanah Arab dan tidak lagi dikenal sebagai orang Arab. Jumlah yang amat besar ditambah dengan jumlah keturunan Rasulullah SAW yang di Arab.
Maka kenyataan ini membenarkan apa yang dinyatakan oleh Allah SWT dalam surat Al-Kautsar, bahwa Rasulullah SAW akan diberi karunia agung dengan memiliki keturunan yang amat banyak. Sehingga kalau saja beliau dan orang-orang sezaman beliau masih hidup saat ini, maka beliau akan memiliki keluarga terbesar yang tak tertandingi oleh yang lain. Bisa jadi, bila kita mengumpulkan semua keturunan Rasulullah SAW sejak zaman beliau hingga kini, kemudian kita mengumpulkan seratus orang dari sahabat-sahabat beliau beserta keturunan mereka hingga kini, maka jumlah keturunan beliau akan mengalahkan keturunan seratus orang sahabat beliau.

Sumber: http://azmatkhanalhusaini.com

 

BAROKAH; DEFINISI, KISAH & PERNAK-PERNIKNYA

Barakah, banyak yang mengenal kata ini, tapi tidak semua mengetahui dengan persis apa sih barakah itu? Apakah barakah benar-benar ada? Siapa saja sih yang punya barakah? Apakah benda-benda juga punya barakah? apakah ada hubungan antara mencari barakah dengan kemusyrikan? Bisakah barakah dibuat ancaman, dijual atau dicabut? Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang mencoba diuraikan dalam ini dengan bahasa yang disederhanakan sebisa mungkin dan referensi sebaik mungkin.Definisi.

Barakah disebut juga dengan berkah dalam istilah masyarakat Indonesia. Yang dimaksud dengan barakah adalah bertambah dan berkembangnya nilai sesuatu atau dalam bahasa Arab adalah الزيادة والنماء. Jadi, dengan kata lain objek oleh barakah adalah peningkatan nilai atau kualitas, bukan peningkatan kuantitas. Kegiatan mencari barakah disebut tabarruk atau ngalap berkah dalam istilah jawa.

Untuk lebih mudahnya dipahami, perhatikan contoh berikut:

* Uang bisa disebut barakah bila uang itu betul-betul bermanfaat bagi kehidupan pemiliknya, meskipun nominalnya tidak banyak. Barakahnya bisa sangat besar bila ternyata uang itu mampu memberikan pertolongan yang lebih besar dari semestinya. Sebaliknya, uang dianggap tidak barakah bila ternyata habis tanpa menjadi hal yang bermanfaat atau tidak dapat memberikan tambahan kebahagiaan yang semestinya bagi sang pemilik, meskipun jumlahnya banyak.
* Rumah bisa disebut barakah bila orang yang tinggal di dalamnya merasa tenteram, nyaman dan aman di rumah itu serta dikelilingi oleh masyarakat yang baik, meskipun rumahnya sederhana. Sebaliknya, sebuah rumah disebut sedikit barakah bila tidak dapat memberikan rasa tenteram, nyaman dan aman itu pada penghuninya atau dikelilingi masyarakat yang buruk, meskipun rumah itu besar dan mewah. Tentang ini, Nabi Nuh mengajarkan kita untuk memohon pada Allah agar menempatkan kita dalam tempat yang barakah (munzalan mubarakan) seperti disebut dalam ayat al-Mu’minun: 29.
* Pernikahan disebut barakah apabila hubungan antara suami-istri berlangsung baik, penuh sakinah (ketenangan), mawaddah (cinta dan empati) serta rahmah (kasih sayang). Sebaliknya, pernikahan dianggap sedikit barakah apabila rumah-tangganya berantakan, penuh percekcokan dan ketidaknyamanan. Karena itu, Rasul mengajarkan kita mendoakan pasangan pengantin baru agar pernikahannya penuh berkah dengan doa yang sudah terkenal: b?rakallah lakum? wa b?raka ‘alaikum? wa jama’a bainakuma fi khair.

Jenis-jenis barakah.

Barakah ada yang bersifat rasional dan ada pula yang bersifat supra-rasional. Yang bersifat rasional berarti barakah tersebut bisa dinalar dengan rasio. Sedangkan yang bersifat supra-rasional berarti barakah tersebut di luar jangkauan rasio atau dengan kata lain akal tidak dapat menjangkaunya, tapi meski demikian tentu tidak tepat bila kemudian barakah jenis ini disebut sebagai irasional atau tidak masuk akal hanya karena akal kita tidak dapat menguraikannya. Betapa banyak hal-hal yang berada di luar jangkauan akal tetapi benar-benar terjadi dalam kehidupan ini, lebih-lebih dalam ranah agama yang berujung pada iman dan keyakinan individual.

Contoh barakah yang rasional: Seseorang berbuat banyak kebaikan kepada masyarakat sekitarnya, maka hidupnya akan dipenuhi barakah berupa berbagai bantuan, penghormatan, penghargaan dan pemberian dari masyarakat kepada dirinya.

Contoh barakah yang supra-rasional: seseorang bersikap hormat, sopan dan patuh pada gurunya, maka dia akan menerima barakah berupa ilmu yang lebih mudah diserap, sulit terlupakan dan bermanfaat di hari depannya. Secara rasio, tentu tidak ada hubungan langsung antara kesopanan terhadap guru dengan manfaat ilmu yang didapat, tapi faktanya hal ini benar-benar banyak terjadi.

Dalam al-Qur’an, ada ayat yang menyebutkan bahwa air hujan itu adalah barakah. Ayat tersebut adalah:

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا فَأَنْبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ [ق: 9]

Aku turunkan dari langit air yang barakah lalu dengan itu Aku tumbuhkan kebun-kebun dan biji-biji tanaman yang diketam.

Barakah dalam ayat tersebut bisa diartikan secara rasional dan dapat pula secara supra-rasional. Arti rasionalnya adalah air hujan tersebut berkualitas dan sifatnya tidak merusak sehingga dengannya tumbuh-tumbuhan dapat tumbuh subur dan menghasilkan manfaat. Air penuh barakah ini berlawanan dengan air hujan yang menjadi siksaan terhadap kaum Nuh yang akhirnya menenggelamkan seluruh kaum kafir seperti dalam ayat Hud: 44. Arti rasional seperti ini ada dalam sebagian besar tafsir al-Qur’an.

Namun, bukan hanya ini satu-satunya arti, barakah air hujan yang berkualitas dan tidak merusak tersebut juga bisa diartikan secara supra-rasional seperti yang diajarkan oleh sepupu Rasul yang bergelar Sang Tarjuman al-Qur’an, Ibnu ‘Abbas ra. Imam Bukhari menceritakan bahwa Ibnu ‘Abbas ketika turun hujan berkata pada pembantunya: يا جارية! أخرجي سرجي، أخرجي ثيابي “Wahai pelayan, keluarkan pelana kudaku!, keluarkan baju-bajuku!” kemudian beliau membaca ayat Qaf: 9 di atas. (al-Bukhari, al-Adab al-Mufrad, hadits nomor 1228). Jelas sekali bahwa beliau memahami barakah dalam ayat tersebut secara supra-rasional. Karenanya, pelana dan baju beliau diperintahkan untuk dihujan-hujankan agar terkena barakah air tersebut.

Sekedar catatan, ada beberapa ayat lain dalam al-Qur’an yang biasanya sering dianggap bagian dalam bahasan barakah ini, seperti misalnya ayat Yusuf: 93 yang menceritakan tentang gamis Nabi Yusuf yang dikirimkan ke ayahnya, Nabi Ya’kub, yang mengalami kebutaan sebab terlalu banyak menangis sedih. Setelah Nabi Ya’kub mencium gamis putra kesayangannya tersebut secara ajaib beliau bisa melihat kembali. Kesimpulan bahwa Nabi Ya’kub bisa melihat kembali karena barakah gamis Nabi Yusuf masih bisa diperdebatkan hingga saya lebih memilih untuk tidak menuliskannya di sini. Jadi hanya ayat yang jelas-jelas saja seperti di atas yang saya rasa layak dirujuk dalam masalah ini.

Barakah dimiliki setiap mukmin.

Ada beberapa orang menyangka bahwa barakah hanya dimiliki segelintir orang saja, seperti para tuan guru, ustad, kyai dan sebagainya. Adapun orang-orang biasa kelas bawah yang sering dianggap “bukan siapa-siapa” oleh kalangan di atasnya dianggap tidak punya barakah, tapi justru mereka harus mencari barakah dari orang-orang yang dianggap lebih tinggi kedudukannya. Anggapan seperti ini mutlak merupakan kesalahan. Barakah pada hakikatnya dipunyai Allah dan diberikan pada seluruh hamba-Nya dan pada benda-benda yang berhubungan dengan hambanya yang saleh. Tidak ada seorang pun yang bisa memproduksi barakahnya sendiri.

Dalam sebuah hadith, disebutkan demikian:

وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم يبعث إلى المطاهر فيؤتى بالماء فيشربه يرجو بركة أيدي المسلمين

Rasulullah saw. menyuruh orang ke al-Mathahir (tempat wudlu kaum muslim yang biasanya terletak di dekat pintu masjid) kemudian didatangkan airnya lalu beliau meminumnya sambil berharap barakah tangan-tangan kaum muslim. (Nuruddin al-Haitsami, Majma’ al-Zaw?’id wa Manba‘ al-Faw?’id, Vol. I, hlm. 265, hadits nomor 1071. Juga diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan al-Thabrani)

Begitulah kemuliaan akhlak Rasulullah. Terang-terang tidak ada orang yang lebih mulia dan mempunyai lebih banyak barakah dari dirinya, tapi beliau masih mau meminum air dari tempat wudlu muslimin untuk mendapatkan barakah mereka. Hadits ini juga menjelaskan bahwa setiap mukmin mempunyai barakah, siapa pun dan apa pun kedudukannya di masyarakat. Senada dengan ini, dahulu kala di Jember ada seorang kyai kharismatik yang bernama K. Abdul Aziz yang kemudian juga dikenal sebagai KH. Ali Wafa. Alkisah, beliau pernah didatangi tamu yang meminta barakahnya. Jawaban Sang Kyai ternyata demikian: “Ya, sama-sama. Saya juga minta barakah anda”. Karena itu, tak ada alasan untuk memandang bahwa orang-orang tertentu, semisal para Habib, Kyai, Ustadz dan sebagainya adalah satu-satunya golongan yang dapat memberi barakah. Semua orang hendaknya saling menghargai dan harus membuang perasaan superior atas orang lain dengan dalih barakah.

Adapun tentang tabarruk-nya para sahabat Nabi terhadap Nabi Muhammad saw, maka merupakan hal yang sepertinya sudah diketahui umum. Mereka berebut sisa air wudlu dan air mandi Nabi, rambut beliau yang telah dicukur, bahkan ludah, dahak, keringat dan darah beliau juga diperebutkan untuk diambil barakahnya. Banyak hadits tentang ini yang hampir semuanya dapat dipertanggungjawabkan kehujjahannya.

Kisah-kisah tabarruk.

Berikut ini adalah beberapa kisah tentang orang-orang mulia yang mengharap barakah dengan cara-cara tertentu sebagai pelajaran bagi kita semua.

1. Suatu saat sepeninggal Rasulullah, kota Madinah terkena kemarau yang parah. Para sahabat kemudian mengadukan hal itu pada istri Nabi, ‘Aisyah ra. Kemudian beliau menginstruksikan para sahabat agar melubangi atap makam Rasulullah hingga tak ada penghalang antara makan termulia tersebut dengan langit. Para sahabat kemudian melakukannya dan secara ajaib hujan pun turun dengan derasnya hingga rumput-rumput tumbuh subur. (Abdurrahman al-D?rimi, Sunan al-D?rimi, sunan nomor 92.)
2. Pada saat perang Yarmuk, jenderal besar Khalid bin Walid kehilangan kopiahnya. Beliau memerintahkan untuk mencari kopiah itu tapi tidak ditemukan. Beliau lagi-lagi memerintahkan untuk mencari kopiah tersebut sekali lagi hingga akhirnya ditemukan. Akhirnya beliau bercerita: “Suatu saat Rasulullah beribadah umrah dan mencukur rambutnya. Orang-orang berebut rambut sisi samping kepala Rasul, sedangkan Aku memperebutkan rambut ubun-ubun beliau lalu aku meletakkannya di kopiah ini. Tak pernah sekalipun aku berperang sewaktu memakai kopiah ini kecuali selalu diberi pertolongan”. (Nuruddin al-Haitsami, Majma’ al-Zaw?’id wa Manba‘ al-Faw?’id, Vol. I, hlm. 582.)
3. Imam Syafi’i mengharap barakah dengan berziarah ke Makam Imam Abu Hanifah setiap harinya. Ketika beliau mempunyai masalah, beliau terlebih dahulu shalat dua rakaat lalu mendatangi makamnya dan memohon kepada Allah di sebelah makam imam mujtahid pendiri mazhab Hanafiyah tersebut. Kata Imam Syafi’i: “Tidak lama kemudian kebutuhanku dikabulkan”. (Abu Bakar al-Baghdadi, Tar?kh Baghd?d, vol. I, hlm. 123).
4. Imam Ibnu Hibban, pengarang kitab hadits terkemuka, bercerita bahwa ketika berada di daerah Thus, beliau sering berziarah ke makam Sayyid Ali al-Ridha bin Musa al-Kazhim yang merupakan salah satu ulama besar keturunan Rasulullah Muhammad saw. Ketika beliau menghadapi masalah pelik, maka di makam tersebut beliau berdoa kepada Allah agar kesulitan itu hilang dan secara ajaib kesulitan itu lekas menghilang. Imam Ibnu Hibban berkata: “Ini adalah hal yang telah aku coba berulang kali dan terjadi demikian. Semoga Allah mematikan kita dalam kecintaan pada Nabi dan keluarganya.” (Ibnu Hibban, Kit?b al-Tsiq?t, vol. VIII, hlm. 456).
5. Imam Abu Ali al-Naisaburi, guru dari Imam al-Hakim pengarang kitab al-Mustadrak konon pernah mengalami kesusahan yang sangat berat. Beliau akhirnya bermimpi bertemu Rasulullah dan dalam mimpi itu Rasul bersabda: “Pergilah engkau ke makam Yahya bin Yahya dan beristigfarlah pada Allah lalu mintalah pada-Nya, maka keperluanmu akan dikabulkan.” Beliau lalu menjalankan instruksi dalam mimpi itu lalu keperluannya benar-benar terkabul. (Husain al-Zhahabi, Tahzhib al-Tahzhib, vol. IV, hlm. 398).

Ada banyak kisah-kisah lain yang tak terhitung jumlahnya tentang tabarruk ini. Seluruh cara tabarruk dalam kisah tersebut di atas dibenarkan dalam islam dan tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang-orang yang pemahamannya masih dangkal. Banyak dari kita melakukan tabarruk dalam kegiatan sehari-hari hingga tidak sadar bahwa yang dilakukan adalah tabarruk, semisal mencium tangan orang tua, para guru yang orang-orang yang dimuliakan.

Beberapa orang menyangka bahwa Khalifah Umar bin Khattab melarang praktek tabarruk seperti itu. Diceritakan bahwa suatu saat Umar melihat orang-orang bergegas beribadah ke tempat tertentu hingga akhirnya beliau bertanya tentang itu. Orang-orang menjelaskan bahwa di tempat tersebut Rasulullah pernah shalat. Mendengar itu kemudian beliau berkomentar: “Barang siapa yang hendak shalat maka shalatlah, yang tidak mau shalat maka teruskanlah perjalanannya. Sesungguhnya Ahlul Kitab celaka karena mereka mengikuti peninggalan Nabi-nabi mereka dan menjadikannya sebagai gereja dan sinagoga”. Pernyataan Umar itu tidak bisa dipahami secara umum bahwa beliau menolak tabarruk karena beliau sendiri juga bertabarruk dengan peninggalan Nabi Ibrahim tatkala mengusulkan untuk menjadikan maqam Ibrahim sebagai tempat shalat hingga akhirnya turun ayat al-Baqarah: 125 yang merestui usul tersebut. Ibnu Hajar al-‘Asqalani, pakar hadits terkemuka dan salah satu imam besar mazhab Syafi’i, mengomentari pernyataan Umar di atas sebagai kekhawatiran beliau takut-takut orang awam menyangka bahwa shalat di tempat itu adalah kewajiban. (Ibnu Hajar, Fath al-B?r?, vol. II, hlm. 231.)

Praktek tabarruk yang salah.

Beberapa orang awam salah paham dengan konsep ini. Dia tidak membedakan mana yang tabarruk dan mana yang kesyirikan (penyekutuan terhadap Allah). Akhirnya dia pergi ke kuburan tertentu yang dianggap keramat, entah itu kuburan orang shalih atau kuburan dukun ternama dia tidak membedakannya atau juga ke pohon-pohon tua atau wilayah-wilayah yang dianggap angker. Dia akhirnya membakar dupa dan memberikan sesajen sambil meminta-minta pada si empunya kubur atau jin si penjaga pohon atau yang mbaurekso (melindungi) wilayah angker itu agar dengan kekuatan gaib yang dimilikinya keinginan orang itu bisa tercapai. Seluruh proses ini dia sebut seenaknya sebagai ngalap berkah. Kenyataannya, yang dia lakukan adalah kesyirikan.

Kisah-kisah tabarruk di atas yang dilakukan oleh tokoh-tokoh ternama jelas berbeda jauh dengan praktek syirik tersebut. Sangat disayangkan, beberapa da’i muslim tidak membedakan mana tabarruk sebenarnya dan mana yang tabarruk palsu, hingga dengan ceroboh memvonis semua kegiatan doa di kuburan adalah syirik, semua tawassul adalah syirik, semua tabarruk dengan atsar/peninggalan para ulama adalah syirik dan seterusnya. Di lain pihak, ada juga yang secara pukul rata mengatakan bahwa setiap praktek tabarruk di kuburan-kuburan adalah benar tanpa memperinci bahwa memang ada praktek sebagian orang awam yang membumbuinya dengan kesyirikan. Wal iy?dzu billah.

Aneh tapi nyata.

Tak dapat dipungkiri, dalam masyarakat terdapat hal-hal yang bisa dibilang lucu yang berkaitan dengan barakah. Sebenarnya hal tersebut berangkat dari kesalahpahaman saja dari beberapa lakonnya atau bisa juga kesengajaan karena tujuan tertentu. Berikut ini contohnya:

* Barakah dijual. Aneh bin ajaib memang, tapi beberapa orang benar-benar “menjual” barakah. Ada yang menjual barakah orang lain semisal yang terjadi di beberapa tempat makam wali songo. Penulis dulu pernah berziarah ke makam Sunan Kalijaga, di pintu gerbang makam tersebut ada seorang pemuda yang menyalami penulis dengan menyodorkan sebuah minyak wangi. Di tangan kiri pemuda tersebut ada selembar uang lima ribu rupiah. Penulis akhirnya sadar bahwa minyak tersebut dijual seharga lima ribu dan penulis pun menolak untuk membelinya karena dirasa tak bermanfaat. Si penjual kemudian mendesak dan memukulkan tangannya beberapa kali ke gerbang pintu makam tersebut sambil berusaha meyakinkan bahwa minyak jualannya adalah barakah Sunan Kalijaga. Penulis hanya bisa tersenyum melihat tingkah orang itu dan tetap memutuskan untuk tidak membeli minyak berkualitas rendah itu.
Ada juga orang yang “menjual” barakahnya sendiri. Ini lebih aneh lagi karena butuh lebih banyak keberanian untuk melakukannya. Ada beberapa orang yang punya silsilah keturunan yang mulia (keturunan orang besar) ketika berdagang kadang “nekat” membumbui bisnisnya itu dengan iming-iming bahwa yang membeli akan mendapat barakahnya. Sebuah senyuman rasanya sudah cukup untuk merespons pernyataan lucu seperti itu.
* Barakah sebagai ancaman. Tak kalah aneh, sering juga barakah dijadikan ancaman dari “orang-orang yang punya barakah” atas orang-orang di bawahnya yang dididik sebagai pemburu barakah, sebutlah misalnya dari guru ke muridnya. Bukan hal yang jarang ada guru yang mengancam muridnya dengan kata-kata: “Kalau kamu tidak patuh pada saya, awas tidak dapat barakah!”. Cukup mengancam bukan?. Tak kalah dari itu, sebuah buku pelajaran cara cepat membaca al-Qur’an—yang tidak etis bila disebut namanya di sini—dengan garang memberikan tulisan di sampulnya yang kurang lebih berbunyi: “Dilarang membeli buku bajakan, hati-hati tidak barakah!”. Untunglah bagi umat ini, dalam kitab-kitab agama Islam karangan para imam terkemuka dari yang hanya beberapa lembar hingga yang puluhan jilid tidak ada yang bertulisan seperti itu. Yang ada justru harapan pengarangnya agar kitabnya disalin dan dipakai orang banyak sebagai bekal di akhirat. Sepertinya jiwa profit oriented memang kurang cocok dalam bidang agama, lebih-lebih bila membawa-bawa urusan barakah segala.
* Barakah dicabut. Ini yang sepertinya paling aneh, sepanjang pengetahuan penulis, tak ada kisah ulama dari kalangan salaf yang mengklaim bisa “mencabut barakah”, tapi ini benar-benar terjadi di masa ini. Beberapa orang yang dianggap sebagai “guru agama” dengan tegas memberikan warning pada muridnya bahwa siapa pun yang membangkang, maka barakah ilmunya akan dicabut! Entah bagaimana caranya barakah yang sejatinya dimiliki setiap mukmin itu dicabut oleh orang lain seolah barang fisik yang bisa diberikan dan dirampas kembali oleh si pemberi. Yang jelas, tampaknya “guru” seperti itu tampaknya tidak sadar bahwa barakah murid pada gurunya sering kali lebih besar dari barakah guru pada muridnya. Barakah murid pada gurunya banyak sekali, berupa penghormatan masyarakat, status sosial yang tinggi, rezeki yang bertambah dan yang jelas penghormatan dan kepatuhan murid itu sendiri. Sedangkan barakah guru terhadap muridnya sifatnya belum jelas, belum tentu ilmu yang diajarkannya bisa melekat dalam otak si murid, apalagi bermanfaat di masyarakat. Secara teoritis, bila seorang guru benar-benar bisa “mencabut” barakahnya atas muridnya, maka si murid juga bisa melakukan hal yang sama terhadap gurunya hingga sang guru kehilangan barakah sebagai seorang guru hingga ucapannya sebagai guru tidak “laku” di masyarakat dan posisinya juga kurang diperhitungkan orang banyak.

Yang penulis tekankan di sini bukanlah mencari barakah dari orang yang lebih tinggi derajatnya itu tidak penting, tapi kesadaran bahwa barakah itu sering kali bersifat supra-rasional atau tidak dapat dijangkau akal. Hanya Allah semata yang dapat menentukan siapa dan apa yang punya barakah lebih dari yang lain. Manusia tak lain hanya berusaha mendapatkannya dengan berbagai cara untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik. Karena itu, tidak ada landasannya apabila barakah diperlakukan seperti barang fisik yang bisa dijual, dibuat promosi, dibuat sebagai ancaman atau bisa dirampas dari orang lain.

Muhammad Nidhomuddin