BAB I

PENDAHULUAN

 

A.  Penegasan Istilah

Agar tidak terjadi kesalahpahaman tentang judul, serta uraian lebih lanjut, kiranya penyusun perlu menegaskan istilah-istilah yang terkandung dalam judul diatas.

1.    Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum

Madrasah berasal dari bahasa Arab yaitu Madrasah yang artinya tempat untuk belajar atau sistem pendidikan klasikal yang didalamnya berlangsung proses belajar mengajar dengan materi-materi kajian yang terdiri dari ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum.[1] Sedangkan menurut Malik Fadjar pengertian Madrasah secara umum dapat diartikan sebagai sekolah umum yang bercirikhas Islam yang menjadi bagian keseluruhan dari sistem pendidikan nasional.[2] Dalam SKB tiga mentri disebutkan bahwa madrasah adalah lembaga pendidikan yang menjadikan mata pelajaran agama Islam sebagai mata pelajaran dasar yang diberikan sekurang-kurangnya 30% disamping mata pelajaran umum.[3] 

 

 

Berdasar kepada Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0489/U/1992 tahun 1992, disebutkan bahwa Madrasah Aliyah adalah sekolah setingkat Sekolah Menengah Umum (SMU) yang bercirikhas agama Islam.[4] Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa MA Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta telah mewujudkan pengembangan kurikulum.

2.    Pondok Pesantren Krapyak

Pondok pesantren berasal dari bahasa Arab ÇáãÚåÏ yang artinya lembaga, badan.[5]

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia dikatakan bahwa pesantren merupakan suatu asrama tempat murid-murid belajar mengaji.[6] Yakni merupakan sebuah asrama pendidikan Islam tradisional dimana para siswa (santri) tinggal bersama dan belajar bersama dibawah bimbingan seorang atau lebih guru yang dikenal dengan Kiyai atau Ustadz.[7]

Menurut Abdul Qadir Jaelani, pondok pesantren adalah lembaga  pendidikan dan penyiaran Islam, tempat pelaksanaan pengajian dan pusat pengembangan masyarakat yang diselenggarakan dalam kesatuan tempat pemukiman dengan Masjid sebagai pusat kegiatan ditambah ruang kelas dan asrama pondokan.[8]

Jadi Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta adalah suatu lembaga pendidikan Islam formal berbasis pesantren yang setingkat dengan sekolah menengah umum (SMU, MAN) dan berada dibawah naungan Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak. Madrasah ini terletak di Jln. D.I. Panjaitan atau Jln. KH. Ali Maksum, diperbatasan kota Yogyakarta dan kabupaten Bantul.

Di Madrasah Aliyah Ali Maksum, terdapat tiga jurusan atau Program Studi dimana siswa-siswi terbagi menjadi tiga program studi yaitu I’dadiyyah, MAK (Madrasah Aliyah Keagamaan) dan MAU (Madrasah Aliyah Umum).

Bertitik tolak dari penegasan istilah diatas dapat diambil kesimpulan bahwa skripsi ini adalah suatu penelitian lapangan terhadap pengembangan kurikulum yang berlangsung di Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta.

3.    Pengembangan Kurikulum

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, pengembangan secara etimologi berasal dari kata kembang yang berarti menjadi tambah sempurna (tentang pribadi, fikiran, pengetahuan dan sebagainya), pengembangan berart proses, cara, perbuatan.[9] Sedangkan menurut istilah pengembangan berarti penyusunan, pelaksanaan, penilaian dan penyempurnaan dalam suatu kegiatan.[10] Adapun kata pengembangan lebih banyak digunakan daripada pembinaan. Nampaknya kedua istilah tersebut diambil dari literature barat dengan istilah Curriculum development dan Curriculum engineering. Pembinaan kurikulum (Curriculum improvement/Curriculum building) adalah kegiatan yang mengacu pada usaha untuk melaksanakan, mempertahankan dan menyempurnakan kurikulum-kurikulum yang telah ada, guna memperoleh hasil yang maksimal. Sedangkan pengembangan kurikulum (Curriculum development/Curriculum design) sebagai tahap lanjutan dari pembinaan, yakni kegiatan yang mengacu untuk menghasilkan suatu kurikulum baru.[11]

Menurut Geane, Topter dan Alicia bahwa Pengembangan Kurikulum adalah suatu proses dimana partisipasi pada berbagai tingkatan dalam membuat keputusan tentang tujuan, bagaimana tujuan direalisasikan melalui proses belajar mengajar dan apakah tujuan dan alat itu serasi dan efektif.[12]

Menurut Caswell Pengembangan Kurikulum adalah sebagai alat untuk membantu guru dalam melakukan tugas mengajarkan bahan menarik minat murid dan memenuhi kebutuhan masyarakat.

Dari kedua pendapat tersebut, bahwa pengembangan kurikulum adalah suatu proses yang merencanakan, menghasilkan suatu alat yang lebih baik dengan didasarkan pada hasil penelitian terhadap kurikulum yang tidak berlaku, sehingga dapat memberikan kondisi kegiatan belajar mengajar yang lebih baik.[13]

Yang penulis maksud adalah suatu pengembangan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia khususnya Departemen Pendidikan Nasional terhadap kurikulum sekolah menengah. Yaitu suatu pengembangan untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ada dalam kurikulum 1994 serta untuk meningkatkan kualitas pendidikan sesuai dengan tujuan dan cita-cita pendidikan negara Indonesia.

4.    Kurikulum

Istilah “kurikulum” berasal dari bahasa latin, yakni “curricullae”. Pada waktu itu, pengertian kurikulum ialah jangka waktu pendidikan yang

harus ditempuh oleh siswa yang bertujuan untuk memperoleh ijazah.[14]

Kurikulum juga mempunyai arti sejumlah mata pelajaran tertentu yang harus ditempuh (pengetahuan yang harus dikuasai) untuk mencapai suatu tingkatan.[15] Menurut Hilda Taba, kurikulum merupakan cakupan dari tujuan, isi dan metode yang lebih luas/umum.[16]

Dari beberapa pengertian diatas, dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan judul “Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta (Studi Tentang Pengembangan Kurikulum Tahun 1994-2004)” adalah penelitian lapangan tentang analisis pengembangan kurikulum dimana kurikulum sebagai unsur dasar pendidikan, dan bagaimana Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam mampu mengangkat citranya sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional yang oleh sebagian masyarakat masih dianggap sebagai lembaga pendidikan kelas dua atau lembaga tradisional.

 

B.  Latar Belakang Masalah

Dalam proses pendidikan, kurikulum memiliki kedudukan yang penting yaitu sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Tanpa adanya kurikulum, sulit rasanya bagi perencana dan pelaksana pendidikan mencapai cita-cita pendidikan. Hal ini disebabkan proses kurikulum yang berlangsung secara berkesinambungan merupakan wujud keterpaduan dari semua dimensi pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan.

Kurikulum dapat dirancang sebagai suatu rancangan pendidikan, kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan.[17] Perlu diketahui bahwa hubungan dalam hubungan antara pendidikan dan kurikulum seperti tujuan dan isi pendidikan. Tujuan pendidikan akan tercapai dan dapat dilaksanakan jika sarana maupun alat dapat melengkapi atau tegasnya kurikulum dapat terlaksana jika yang dijadikan dasar kerangka acuannya itu relevan, sesuai dengan tujuan pendidikan.

 Disadari bahwa kurikulum pendidikan disemua tingkat sekolah harus selalu sesuai dengan tingkat pengembangan dan kebutuhan masyarakat. kurikulum sebagai perangkat dan upaya pelaksanaan pendidikan nasional merupakan satuan kegiatan dan usaha-usaha pendidikan yang terorganisir dan terintegrasi yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan (sekolah) yang terarah tercapainya tujuan pendidikan nasional.[18]

 

Untuk merealisasikan tujuan tersebut guna menyelesaikan terhadap perkembangan dan kebutuhan masyarakat, tentunya diperlukan model kurikulum yang bersifat lokal, artinya kurikulum yang materinya disesuaikan dengan daerah atau tempat dimana peserta didik berada.

 Kurikulum muatan lokal yang diberikan disekolah bertujuan untuk menyelaraskan apa yang diberikan peserta didik dengan kebutuhan dan kondisi yang ada didaerahnya, mengoptimalkan potensi dan sumber belajar yang ada disekitarnya bagi kepentingan peserta didik sesuai dengan kebutuhan yang ada disekitarnya memperkenalkan dan menanamkan kehidupan social budaya serta nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang dimasyarakatnya kepada peserta didik sendiri mungkin.[19]

 

Dengan demikian materi kurikulum muatan lokal harus disesuaikan dengan daerah yang bersangkutan, sehingga sangat ironis sekali jika ada sebuah sekolah yang berada dilingkungan pesantren yang terkenal dengan tradisi keagamaannya yang kuat tidak mengajarkan ilmu-ilmu agama. Karena semua ini sangat dibutuhkan oleh peserta didik ketika mereka membaur dengan masyarakat, apabila peserta didik merasa kesulitan bersosialisasi dengan masyarakat.

 Untuk merealisasikan tujuan tersebut sekolah sebagai lembaga pendidikan formal harus mampu memberikan materi yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk terjun dimasyarakat. Karena sekolah adalah sebagai institusi pendidikan sekaligus berperan sebagai institusi social kemasyarakatan karena melalui lembaga tersebut peserta didik dipersiapkan untuk terjun dan aktif dalam kehidupan masyarakat.[20]

 

Adapun pengembangan kurikulum yang ada selama ini merupakan salah satu alternatif yang ditempuh oleh suatu lembaga pendidikan, seperti seperti Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. Madrasah ini berusaha untuk membuat kurikulum yang sesuai dengan kondisi masyarakat sekitar. Dengan cara menerapkan dua kurikulum yaitu perpaduan antara kurikulum Depag dengan kurikulum Kepesantrenan. Kurikulum yang dikembangkan sebagai upaya untuk memudahkan mencapai tujuan-tujuan pendidikan di madrasah ini. Kurikulum kepesantrenan ini dirancang oleh madrasah dengan nuansa pesantren, kurikulum Madrasah Aliyah Ali Maksum ini tidak lepas dari Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta.

Pesantren atau pondok, adalah salah satu subsistem dari Sistem Pendidikan Nasional yang secara otomatis ikut bertanggung jawab dalam mengembangkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang tangguh dan tahan uji. Ini terbukti dengan tujuan utama yang diembannya yaitu membentuk pribadi muslim yang memiliki nilai-nilai Islami.[21]

Madrasah Aliyah Ali Maksum sebagai lembaga pendidikan swasta yang memiliki kewenangan untuk mengembangkan kurikulumnya dibandingkan dengan Madrasah-madrasah yang memiliki status negeri. Dalam proses pengembangan kurikulum ini Madrasah Aliyah Ali Maksum dituntut untuk melaksanakan dengan seimbang dalam menyampaikan materi yang bermuatan lokal maupun materi pelajaran umum. Hal ini berkaitan dengan tujuan Madrasah tersebut sebagai lembaga pendidikan menengah dalam upaya mengajarkan diri dengan Madrasah-madrasah lain, terutama pada pelajaran umum. Disamping itu juga karena Madrasah Aliyah Ali Maksum ini berbeda dengan Madrasah umum lainnya. Namun demikian, bukan berarti Madrasah Aliyah Ali Maksum ini sama sekali berbeda dengan Madrasah Aliyah lainnya. Tetapi di Madrasah Aliyah Ali Maksum ini hanya menambahkan kurikulum Depag dengan kurikulum Kepesantrenan sebagai ciri khas Madrasah tersebut.

Mengingat betapa pentingnya pengembangan kurikulum di Madrasah Aliyah Ali Maksum demi tercapainya tujuan lembaga pendidikan secara menyeluruh maka Madrasah Aliyah Ali Maksum berupaya semaksimal mungkin untuk mengembangkan dan menghasilkan kurikulum yang benar-benar sesuai dengan yang diharapkan oleh semua pihak, baik sekolah maupun masyarakat.

 

 

C.  Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis dapat merumuskan masalah pokok penelitian ini adalah:

Bagaimana Pelaksanaan Pengembangan Kurikulum Madrasah Aliyah Yayasan Ali-Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta?

Dari masalah pokok ini ada beberapa hal yang akan diteliti:

1.    Tujuan

2.    Bahan ajar (materi)

3.    Proses (metode dan media)

4.    Evaluasi

 

D.  Alasan Pemilihan Judul

Adapun alasan pemilihan judul dari karya tulis ini adalah :

             1.     Pergantian kebijakan dalam pendidikan termasuk pergantian kurikulum merupakan sesuatu yang selalu akan terjadi dan dalam pelaksanaannya tentulah menemui permasalahan dan hambatan, oleh karena itu perlu kiranya masalah-masalah tersebut untuk diteliti.

             2.     Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan kurikulum Madrasah Aliyah antara tahun 1994-2004, sehingga mampu meningkatkan mutu pendidikan dimasa yang akan datang.

 

E.  Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1.    Tujuan

a.       Untuk mengetahui proses pelaksanaan pengembangan kurikulum di Madrasah Aliyah Ali Maksum.

b.      Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan kurikulum tersebut.

2.    Kegunaan Penelitian

a.    Memberikan masukan bagi Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum tentang pemberdayaan SDM dalam rangka pengembangan kurikulum.

b.    Untuk memberikan sumbangan pemikiran bagi Fakultas Tarbiyah  Jurusan Kependidikan Islam khususnya yang berkaitan dengan pengembangan kurikulum.

c.    Memberikan sumbangan terhadap ilmu pengetahuan pada umumnya.

d.   Sebagai syarat untuk memenuhi gelar sarjana Strata1 (S1) di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Fakultas Tarbiyah.

F.   Telaah Pustaka

1.    Skripsi-skripsi yang digunakan sebagai acuan penulisan

Sejauh pengamatan penulis, kajian tentang kurikulum telah dilakukan oleh beberapa orang, dalam hal ini berkaitan dengan pelaksanaan kurikulum pada sebuah lembaga atau institusi pendidikan. Sedangkan penelitian yang khusus  membahas tema seperti judul penelitian ini memang sudah ada, akan tetapi untuk pembahasan kurikulum yang baru masih belum ada. Dalam melakukan kajian pustaka penulis menemukan sebuah penelitian tentang pembaharuan kurikulum yang ditulis oleh Sobariyah BT. Abu Bakar (Fakultas Tarbiyah Jurusan Kependidikan Islam lulus pada tahun 1990) yang berjudul Pembaharuan Kurikulum Sekolah Menengah Di Malaysia (Tinjauan Tentang Peningkatan Penerapan Nilai-nilai Islam). Garis besar dari judul skripsi ini adalah mengenai pembaharuan atau perubahan yang dilaksanakan dalam Kurikulum Sekolah Menengah Biasa di Malaysia serta penerapan nilai-nilai Islam dalam pelaksanaan kurikulum tersebut. Kurikulum yang dikenal dengan sebutan Kurikulum Bersepadu Sekolah Sekolah Menengah (KBSM) merupakan kurikulum baru bagi sekolah-sekolah menengah di Malaysia yang mulai dilaksanakan pada tahun 1988/1989.

Kemudian skripsi saudari Fitriyana (Fakultas Tarbiyah Jurusan Kependidikan Islam yang lulus pada tahun 2001) yang membahas tentang Pengembangan Kurikulum Di SMU Takhassus Al-Qur’an Kalibeber Wonosobo, adapun didalamnya dibahas mengenai suatu kegiatan dalam rangka mengembangkan kurikulum yang dilaksanakan oleh SMU TakhassusAl-Qur’an Kalibeber Wonosobo untuk menghasilkan kurikulum yang lebih baik.

Kemudian skripsi saudari Fatkhul Hidayati (Fakultas Tarbiyah Jurusan Kependidikan Islam yang lulus pada tahun 1995) yang membahas tentang Perkembangan Kurikulum Madrasah Aliyah Tahun 1975-1994, adapun didalamnya dibahas mengenai bagaimana pengungkapan fakta-fakta tentang perjalanan sejarah perkembangan kurikulum Madrasah Aliyah dari tahun 1975-1994.

Kemudian skripsi saudari Nurul Imamah (Fakultas Tarbiyah Jurusan Kependidikan Islam yang lulus pada tahun 2003) yang membahas tentang Kurikulum Berbasis Kompetensi Dalam Mengembangkan Kreativitas Anak Didik (Perspektif Pendidikan Islam), adapun didalamnya dibahas mengenai  suatu upaya penelitian ilmiah untuk mengetahui kurikulum berbasis kompetensi dalam mengembangkan kreativitas anak didik (perspektif pendidikan Islam). Ingin mengkaji secara mendalam konsep kurikulum berbasis kompetensi itu sendiri dalam mengembangkan kreativitas anak didik, dalam perspektif pendidikan Islam.

2.    Buku-buku yang digunakan sebagai acuan penulisan

Dalam bukunya Prof. DR. Nana Saodih Sukmadinata, yang berjudul “Pengembangan Kurikulum teori dan praktek”, ditekankan tentang kurikulum sebagai rancangan pendidikan yang berawal dan dan bertolak dari pengembangan kurikulum pendidikan.

Drs. H. Muhammad Ali, M.Pd., M.A., dalam bukunya “Pengembangan Kurikulum Di Sekolah”, dikatakan bahwa pengembangan kurikulum di sekolah pada dasarnya merupakan penyusunan kurikulum berdasarkan kurikulum resmi untuk dijadikan pegangan dalam pelaksanaan di sekolah.

Dalam bukunya S. Nasution, Pengembangan Kurikulum, dijelaskan bahwa untuk dapat menghasilkan suatu kurikulum yang rasional dan aplicable (dapat dilaksanakan) diperlukan kerjasama yang erat antara berbagai pihak. Itulah sebabnya guru sebagai salah satu aparat yang perlu dilibatkan dalam pengembangan kurikulum perlu mempunyai pengetahuan dasar dalam pengembangan kurikulum.

Kemudian Oemar Hamalik, dijelaskan dalam bukunya Pengembangan Kurikulum: dasar-dasar dan perkembangannya, dijelaskan bahwa kurikulum disusun untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan memperhatikan tahap perkembangan peserta didik dan kesesuaiannya dengan lingkungan, kebutuhan pembangunan nasional perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian, sesuai dengan jenis dan jenjang masing-masing suatu pendidikan.

Dalam bukunya Dr. E. Mulyasa, M.Pd., yang berjudul “Kurikulum Berbasis Kompetensi”, ditekankan tentang bagaimana Kurikulum Berbasis Kompetensi diharapkan mampu memecahkan berbagai persoalan bangsa, khususnya dalam bidang pendidikan, dengan mempersiapkan peserta didik, melalui perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi terhadap sistem pendidikan secara efektif, efisien, dan berhasil guna.

Dan juga dalam bukunya Abdul Majid, S.Ag dan Dian Andayani, S.Pd, yang berjudul “Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi”, dijelaskan bahwa implementasi KBK dalam PAI merupakan pengembangan kurikulum pada tingkat bidang studi (penyusunan silabus) dan pelaksanaan pembelajaran (actual curriculum), yang mencakup Perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

Dilihat dari beberapa judul skripsi diatas memang sudah banyak yang mengkaji tentang kurikulum, akan tetapi dalam penulisan-penulisan skripsi diatas belum ada yang membahas secara khusus tentang pengembangan kurikulum di Madrasah Aliyah Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. Oleh karena itu penulis mencoba untuk membahas mengenai pengembangan kurikulum di Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak Yogyakarta.

 

G. Kerangka Teoritik

Dalam rangka menjelaskan konsep pengembangan kurikulum, maka kami bagi pembahasan ini menjadi dua yaitu:

1.    Anatomi (Komponen-komponen Kurikulum)

Kurikulum dapat diumpamakan sebagai suatu organisme manusia ataupun binatang, yang memiliki susunan anatomi tertentu.unsur-unsur atau komponen-komponen dari anatomi tubuh kurikulum yang utama adalah tujuan, isi atau materi, proses atau sistem penyampaian dan media, serta evaluasi. Keempat komponen tersebut berkaitan satu sama lain.

Suatu kurikulum harus memiliki kesesuaian atau relevansi. Kesesuaian ini meliputi dua hal. Pertama kesesuaian antara kurikulum dengan tuntutan, kebutuhan, kondisi, dan perkembangan masyarakat. Kedua kesesuaian antara komponen-komponen kurikulum, yaitu isi sesuai dengan tujuan, proses sesuai dengan isi dan tujuan, demikian juga evaluasi sesuai dengan proses, isi dan tujuan kurikulum.[22]

1)   Tujuan

          Dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah 1975/1976 dikenal kategori tujuan sebagai berikut. Tujuan pendidikan nasional merupakan tujuan jangka panjang, tujuan ideal pendidikan bangsa Indonesia. Tujuan institusional, merupakan sasaran pendidikan sesuatu lembaga pendidikan. Tujuan kurikuler, adalah tujuan yang ingin dicapai oleh suatu program studi. Tujuan instruksional yang merupakan target yang harus dicapai oleh sesuatu mata pelajaran. Yang terakhir ini, masih dirinci lagi menjadi tujuan instruksional umum dan khusus atau disebut juga objektif, yang merupakan tujuan pokok bahasan.[23]

2)   Bahan ajar

Ada beberapa cara untuk menyusun sekuens bahan ajar, yaitu:

a)    Sekuens kronologis. Untuk menyusun bahan ajar yang mengandung urutan waktu, dapat digunakan sekuens kronologis. Peristiwa-peristiwa sejarah, perkembangan historis suatu institusi, penemuan-penemuan ilmiah dan sebagainya dapat disusun berdasarkan skuens kronologis.

b)   Sekuens kausal. Masih berhubungan erat dengan sekuens kronologis adalah sekuens kausal. Siswa dihadapkan pada peristiwa-peristiwa atau situasi yang menjadi sebab atau pendahulu dari sesuatu peristiwa atau situasi lain. Dengan mempelajari sesuatu yang menjadi sebab atau pendahulu para siswa akan menemukan akibatnya. Menurut Rowntree “skuens kausal cocok untuk menyusun bahan ajar dalam bidang meteorologi dan geomorfologi”.

c)    Sekuens struktural. Bagian-bagian bahan ajar suatu bidang studi telah mempunyai struktur tertentu. Penyusunan sekuens bahan ajar bidang studi tersebut perlu disesuaikan dengan strukturnya. Dalam fisika tidak mungkin mengajarkan alat-alat optik, tanpa terlebih dahulu mengajarkan pemantulan dan pembiasan cahaya, dan pemantulan dan pembiasan cahaya tidak mungkin diajarkan tanpa terlebih dahulu mengajarkan masalah cahaya. Masalah cahaya, pemantulan-pembiasan, dan alat-alat optik tersusun secara struktural.

d)   Sekuens logis dan psikologis. Bahan ajar juga dapat disusun berdasarkan urutan logis. Rowntree melihat perbedaan antarasekuens logis dengan psikologis. Menurut sekuens logis bahan ajar dimulai dari bagian menuju pada keseluruhan, dari yang sederhanakepada yang kompleks, tetapi menurut sekuens psikologis sebaliknya dari keseluruhan kepada bagian, dari yang kompleks kepada yang sederhana. Menurut sekuens logis bahan ajar disusun dari yang nyata kepada yang abstrak, dari benda-benda kepada teori, dari fungsi kepada struktur, dari masalah bagaimana kepada mengapa.

e)    Sekuens spiral, dikembangkan oleh Bruner. Bahan ajar dipusatkan pada topik atau pokok bahan tertentu. Dari topik atau pokok tersebut bahan diperluas dan diperdalam. Topik atau pokok bahan ajar tersebut adalah sesuatu yang popular dan sederhana, tetapi kemudian diperluas dan diperdalam dengan bahan yang lebih kompleks.

f)    Rangkaian ke belakang. (backward chaining), dikembangkan oleh Thomas Gilbert. Dalam sekuens ini mengajar dimulai dengan langkah terakhir dan mundur kebelakang. Contoh, proses pemecahan masalah yang bersifat ilmiah, meliputi 5 langkah, yaitu: (a) Pembatasan masalah (b) Penyusunan hipotesis, (c) Pengumpulan data, (d) Pengetesan hipotesis, (e) Interpetasi hasil tes. Dalam mengajarnya mulai dengan langkah, (e) kemudian guru  menyajikan data tentang sesuatu masalah dari langkah (a) sampai (d),dan siswa diminta untuk membuat interpretasi hasilnya (e). pada kesempatan lain guru menyajikan data tentang masalah lain dari langkah (a) sampai (c) dan siswa diminta untuk mengadakan pengetesan hipotesis (d) dan seterusnya.

g)   Sekuens berdasarkan hierarki belajar. Model ini dikembangkan oleh Gagne, dengan prosedur sebagai berikut: tujuan-tujuan khusus utama pembelajaran dianalisis, kemudian dicari suatu hierarki urutan bahan ajar untuk mencapai tujun-tujuan tersebut. Gagne mengemukakan 8 tipe yang tersusun secara hierarkis mulai dari yang paling sederhana: signal learning, stimulus-respons learning, motor-chain learning, verbal association, multiple discrimination, concept learning, principle learning, dan problem-solving learning.[24]

3)   Strategi mengajar

          Penyusunan sekuens bahan ajar berhubungan erat dengan strategi atau metode mengajar. Pada waktu guru menyusun skuens suatu bahan ajar, ia juga harus memikirkan strategi mengajar mana yang sesuai dengan untuk menyajikan bahan ajar dengan urutan seperti itu.

          Ada beberapa strategi yang dapat digunakan dalam mengajar. Rowntee membagi strategi mengajar itu atas Exposition-Discovery Learning dan Groups-Individual Learning. Ausubel and Robinson membaginya atas strategi Reception Learning-Discovery Learning dan Rote Learning-Meaningful Learning.

a)    Reception/Exposition Learning-Discovery Learning.

     Reception dan exposition sesungguhnya mempunyai makna yang sama, hanya berbeda dalam pelakunya. Reception learning dilihat dari sisi siswa sedangkan expotion dilihat dari sisi guru.

b)   Rote Learning-Meaningful Learning.

     Dalam rote learning bahan ajar disampaikan kepada siswa tanpa memperhatikan arti atau maknanya bagi siswa. Siswa menguasai bahan ajar dengan menghafalkannya. Dalam meaningful learning penyampaian bahan mengutamakan maknanya bagi siswa. Menurut Ausubel and Robinsin sesuatu bahan ajar bermakna bila dihubungkan dengan struktur kognitif yang ada pada siswa.

c)    Group Learning-Individual Learning.

     Pelaksaan discovery learning menuntut menuntut aktivitas belajar yang bersifat individual atau dalam kelompok-kelompok kecil. Discovery learning dalam bentuk kelas pelaksanaannya agak sukar dan mempunyai beberapa masalah. Masalah pertama, karena kemampuan dan kecepatan belajar siswa tidak sama. Dan masalah lain adalah kemungkinan untuk bekerja sama, dalam kelas besar tidak mungkin semua anak dapat bekerja sama.

4)   Media mengajar

          Rowntree mengelompokkan media mengajar menjadi lima macam dan disebut modes, yaitu Interaksi insani, realita, pictorial, symbol tertulis, dan rekaman suara.

a)    Interaksi insani. Media ini merupakan komunikasi langsung antara dua orang atau lebih. Dalam komunikasi tersebut kehadiran sesuatu pihak secara sadar atau tidak sadar mempengaruhi perilaku yang lainnya. Terutama kehadiran guru mempengaruhi siswa-siswanya.

b)   Realita. Realita merupakan bentuk perangsang nyata seperti orang-orang, bintang, benda-benda, peristiwa, dan sebagainya yang diamati siswa.

c)    Pictorial. Media ini menunjukkan penyajian sebagai bentuk variasi gambar dan diagram nyata ataupun symbol, bergerak atau tidak, dibuat diatas kertas, film, kaset, disket, dan media lainnya.

d)   Simbol tertulis, simbol tertulis merupakan media penyajian informasi yang paling umum, tetapi tetap efektif. Ada beberapa macam bentuk media simbol tertulis seperti buku teks, buku paket, paket program belajar, modul, dan majalah-majalah.

e)    Rekaman suara. Berbagi bentuk informasi dapat disampaikan kepada anak dalam bentuk rekaman suara.[25]

5)   Evaluasi

          Komponen utama selanjutnya setelah rumusan tujuan, bahan ajar, strategi mengajar, dan media mengajar adalah evaluasi dan penyempurnaan. Tiap kegiatan akan memberikan umpat balik, demikian juga dalam pencapaian tujuan-tujuan belajar dan proses pelaksanaan mengajar. Umpan balik tersebut digunakan untuk mengadakan berbagai usaha penyempurnaan baik bagi penentuan dan perumusan tujuan mengajar, penentuan sekuens bahan ajar, strategi, dan media mengajar.

a)    Evaluasi hasil belajar-mengajar

     Menurut lingkup luas bahan dan jangka waktu belajar dibedakan antara evaluasiformatif dan evaluasi sumatif.

     Evaluasi formatif ditujukan untuk menilai penguasaan siswa terhadap tujuan-tujuan belajar dalam jangka waktu yang relatif pendek.

     Evaluasi sumatif ditujukan untuk menilai penguasaan siswa terhadap tujuan-tujuan yang lebih luas, sebagai hasil usaha belajar dalam jangka waktu yang cukup lama, satu semester, satu tahun atau selama jenjang pendidikan.

b)   Evaluasi pelaksanaan mengajar

     Komponen-komponen yang dievaluasi dalam pengajaran bukan hanya hasil belajar-mengajar tetapi keseluruhan pelaksanaan pengajaran, yang meliputi evaluasi komponen tujuan mengajar, bahan pengajaran (yang menyangkut skuens bahan ajar), strategi dan media pengajaran, serta komponen evaluasi mengajar sendiri.[26]

2.    Desain Kurikulum

Berdasarkan pada apa yang menjadi fokus pengajaran, sekurang-kurangnya dikenal tiga pola desain kurikulum, yaitu:

a.    Subject centered design, suatu desain kurikulum yang berpusat pada bahan ajar.

b.    Learner centered design, suatu desain kurikulum yang mengutamakan peranan siswa.

c.    Problems centered design, desain kurikulum yang berpusat pada masalah-masalah yang dihadapi dalam masyarakat.

          Walaupun bertolak dari hal yang sama, dalam suatu pola desain terdapat beberapa variasi desain kurikulum. Dalam subject centered design, dikenal ada: the subject design, the disciplines design dan the broad fields design. Pada problems centered design dikenal pula dengan areas of living design dan the core design.

3. Dasar Pengembangan Kurikulum

a.    Kurikulum merupakan rancangan pendidikan yang merangkum semua pengalaman belajar yang disediakan bagi siswa disekolah. Merupakan tempat untuk melaksanakan dan menguji kurikulum. Disana semua konsep, prinsip, nilai, pengetahuan, metode, alat dan kemampuan guru diuji untuk mewujudkan kurikulum yang nyata dan hidup sesuai dengan tuntutan dan tantangan perkembngan masyarakat.[27]

b.    Dengan prinsip dan model pengembangan kurikulum yang telah dikembangakan dalam lembaga pendidikan akan lebih jelas jika kita memandang kurikulum sebagai sebuah komponen dasar dan tubuh kurikulum dengan komponen ini akan lebih jelas dalam mengerahkan anak didik sebagai subyek didik yang harus dikembangkan. Menurut Nana Syaodih komponen kurikulum terdiri dari :

1)   Tujuan-tujuan kurikulum

2)   Bahan ajar (materi)

3)   Strategi (metode)

4)   Media (alat)

5)   Evaluasi pengajaran

Evaluasi ditujukan untuk menilai pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan serta menilai proses pelaksanaan mengajar secara keseluruhan. Tiap kegiatan akan memberikan umpan balik, demikian juga dalam pencapaian tujuan-tujuan belajar dan proses pelaksanaan mengajar.[28]

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengembangan Kurikulum

Seiring perkembangan tatanan masyarakat yang ditandai oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, tuntutan adanya kurikulum yang sesuai dengan zamannya menjadi relevan. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kurikulum menurut Nana Syaodih adalah :

a.    Perguruan tinggi, dimana perguruan tinggi mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi perkembangan dalam perkembangan dalam pendidikan serta persiapan guru (tenaga pendidik) yng memahami terhadap bidangnya.

b.    Masyarakat, sekolah merupakan bagian dari masyarakat dan mempersiapkan anak untuk hidup dimasyarakat.

c.    Sistem nilai, dimana lingkungan terdapat sistem nilai yang menentukan sekolah sebagai lembaga pendidikan yang dibentuk oleh masyarakat hendaknya mampu memelihara dan meneruskan nilai-nilai pemahaman nilai hendaknya tidak dipahami secara kognitif dan menghafal tetapi tetapi perlu internalisasi nilai-nilai terhadap siswa.[29]

5. Hambatan-hambatan

  Dalam pengembangan kurikulum terdapat beberapa hambatan antara lain:

a)    Kemampuan guru, hambatan yang dilami karena kurang waktu, kurang kerjasama dengan guru lain, pengetahuan yang kurang.

b)   Masyarakat sebagai umpan balik

c)    Biaya sebagai kekuatan finansial.[30]

Sedangkan Kurikulum Berbasis Kompetensi merupakan suatu konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performansi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserts didik, berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu. Kurikulum Berbasis Kompetensi diarahkan untuk mengembangkan kemampuan, pemahaman, pengetahuan, nilai, sikap dan minat peserta didik agar dapat melakukan sesuatu dalam bentuk kemahiran ketepatan dan keberhasilan dengan penuh tanggung jawab.[31]

Kurikulum ini sendiri sebagai pergeseran penekanan dari content atau isi (apa yang tertuang) ke kompetensi (bagaimana harus berfikir, belajar dan melakukan) dalam kurikulum. Kurikulum Berbasis Kompetensi dapat dibilang sebagai kurikulum humanistik, karena kurikulum humanistik lebih memberikan tempat utama kepada anak didik.

Kurikulum Berbasis Kompetensi sendiri memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

1)        Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa, baik secara individual maupun klasikal.

2)        Berorientasi pada hasil belajar dan keberagaman.

3)        Penyampaian pada pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.

4)        Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar yang lainnya memenuhi unsure edukatif.

5)        Penilaian menekankan pada proses dan hasil dalam upaya penguasa atau pencapaian suatu kompetensi.[32]

Sedangkan kalau kita melihat konsep kurikulum bahwa dalam upaya menerapkan, mengimplementasikan dan mengelola kurikulum memiliki peranan yang meliputi :

a)    Peranan Konservatif

Kurikulum harus mampu menafsirkan dan mewariskan nilai-nilai sosial budaya yang ada dalam masyarakat yang mengandung makna dalam membina perilaku anak didik.

b)   Peranan Kreatif

Kurikulum harus mampu melaksanakan kegiatan-kegiatan kreatif dan konstruktif, dalam arti harus menyusun atau mendesain pengalaman belajar yang bersumber dari masyarakat dan dibuat dalam bentuk mata pelajaran yang akan disajikan pada anak didik. Upaya ini dapat membantu mengembangkan semua potensi yang ada pada anak didik. Dengan demikian, kurikulum diharapkan akan dapat membawa para siswa menuju masyarakat yang berbudaya, ini berarti bahwa kurikulum harus mampu mendorong dan membuat para siswa berkembang daya kreatifnya.

c)    Peran Kritis dan Evaluatif

Kurikulum amat berperan aktif sebagai kontrol sosial dan menekankan pada unsur berfikir kritis.[33]

Jadi sebuah kurikulum itu harus memiliki peranan aktif dan evaluatif guna pengembangan dalam proses belajar.

      Maka dari itu Kurikulum Berbasis Kompetensi harus bisa berperan secara konservatif, kreatif, kritis dan evaluatif, sehingga mampu menciptakan sumber daya manusia (out put pendidikan) yang perofesional dan kreatif.

H.      Metode Penelitian

Adapun metode-metode yang dipakai penulis dalam rangka penelitian ini yaitu meliputi Metode Penentuan Subyek atau Sumber Data, Metode Pengumpulan Data dan Metode Analisa Data.

1.    Metode Penentuan Subyek atau Sumber data

Sebelum memperoleh data yang dapat dijadikan sebagai informasi dalam pemecahan masalah secara ilmiah penulis menentukan terlebih dahulu subyek yang akan diteliti.

 

Menurut Drs. Anas Sudijono dalam bukunya Metodologi Research dan Bimbingan Skripsi disebutkan bahwa:

Metode penentuan subyek juga sering disebut metode penentuan sumber data, yaitu menentukan populasi sebagai tempat diperoleh data. Yang dimaksud dengan populasi disini adalah keseluruhan yang seharusnya menjadi sarana penelitian.[34]

Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto dalam bukunya Manajemen Penelitian disebutkan bahwa  sumber data adalah benda, hal atau orang tempat peneliti mengamati, membaca atau bertanya tentang data. Secara umum sumber data dikelompokkan menjadi tiga jenis yakni orang, kertas atau dokumen dan tempat berlangsungnya suatu kegiatan.[35] Yang dijadikan sumber dalam penelitian di Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta adalah :

1)        Kepala Sekolah Madrasah Aliyah Ali Maksum

2)        Team Sie. Akademik, pengajaran dan kurikulum

3)        Guru dan karyawan Tata Usaha

 

 

 

 

2.    Metode Pengumpulan Data

Yang dimaksud cara mengumpulkan data disini adalah proses diperolehnya data dari sumber data, sedangkan sumber data adalah subjek dari penelitian dimaksud.[36]

Dalam pengumpulan data ini, penulis menggunakan beberapa metode antara lain :

a.    Metode Observasi

Sebagai metode ilmiah observasi dapat diartikan sebagai metode yang berfungsi untuk pengamatan  dan  pencatatan  dengan  sistematik

fenomena-fenomena yang diselidiki.[37]

Metode ini penulis gunakan untuk mengamati dan mencatat situasi belajar-mengajar secara umum, sarana dan prasarana (keadaan fisik sekolah, dan lain sebagainya), letak geografis dan seluruh data yang diperlukan dalam penelitian ini.

b.    Metode Interview

Yaitu metode pengumpulam data dengan cara tanya jawab sepihak yang dikerjakan secara sistematis berdasarkan pada tujuan penelitian.[38]

Interview (wawancara) sebagai metode untuk memperoleh data dengan mengadakan tanya jawab langsung dengan pertanyaan yang telah disusun. Dalam penelitian ini penulis menggunakan interview bebas terpimpin. Dimana jenis-jenis pertanyaan sudah dipersiapkan dengan cermat, namun cara penyampaiannya dengan bebas, tidak terikat oleh pertanyaan dan dengan kebebasan akan dicapai kewajaran secara maksimal, sehingga diperoleh data secara maksimal.[39]

Metode ini akan penulis pergunakan untuk memperoleh data antara lain tentang :

1)        Sejarah berdirinya Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum

2)        Keadaan guru, siswa, organisasi dan sarana prasarana yang diteliti

3)        Pengembangan Kurikulum di Madrasah Aliyah Ali Maksum

c.    Metode Dokumentasi

Yang dimaksud metode dokumentasi disini adalah metode untuk mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan/transkrip, buku-buku dan lain-lain yang berhubungan dengan  penelitian.[40]

Metode ini penulis pergunakan untuk mengetahui tentang :

1.      Daftar latar belakang pendidikan guru Madrasah Aliyah Ali Maksum

2.      Jumlah guru dan daftar nama-namanya

3.      Jumlah siswa Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum

4.      Struktur Organisasi Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta

5.      Data-data sebagai pedoman bagi pengembangan kurikulum

3.    Metode Analisa Data

Yang dimaksud menganalisis data adalah menyeleksi dan menyusun serta menafsirkan data yang sudah masuk dengan tujuan agar data tersebut dapat dimengerti isi atau maksudnya, karena data yang sudah masuk atau terkumpul itu belum dapat berbicara sebelum dianalisa dan diinterpretasikan.

Menurut Prof. Dr. Winarno Surakhmad metode analisa data adalah usaha yang konkrit untuk membuat data itu “berbicara”.[41]

Untuk data kualitatif menggunakan metode deskriptif analitik non statistik dengan cara berfikir:

a. Deduktif , yaitu pengambilan kesimpulan dari pernyataan yang bersifat umum kesuatu pernyataan yang bersifat khusus.[42] Metode ini digunakan untuk memperoleh gambaran umum pelaksanaan pengembangan kurikulum madrasah dari tahun 1994-2004.

b.      Induktif  , yaitu penarikan kesimpulan dari pernyataan yang bersifat khusus kesuatu yang bersifat umum.[43] Metode ini digunakan untuk melihat secara detail perkembangan kurikulum Madrasah Aliyah dari tahun 1994-2004, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.

 

 

 

c.       Deskriptif analitik, metode ini digunakan untuk menyusun data yang telah dikumpulkan, dijelaskan, kemudian dianalisa.[44] Adapun pendekatan yang dipakai dalam pembahasan skripsi ini adalah pendekatan historis yakni pendekatan yang dilakukann dengan upaya merekonstruksi masa lampau secara sistematis dan obyektif yaitu dengan cara mengumpulkan, mengoreksi, memferivikasi dan mensintesiskan bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan.[45]

 

I.     Sistematika Pembahasan

Sistematika keruntutan logika dan konsistensi gagasan merupakan sesuatu yang penting dalam sebuah tulisan. Hal ini sangat membantu dalam memahami gagasan-gagasan pokok, baik yang tersirat maupun yang tersurat dalam tulisan tersebut. Karena itu penulisan ini disajikan dengan sistematika sebagai berikut :

Bab satu, berisi Pendahuluan terdiri dari Penegasan Istilah, Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Alasan Pemilihan Judul, Tujuan dan Kegunaan Penelitian, Kerangka Teoritik, Metode Penelitian dan Sistematika Pembahasan.

Bab dua, berupa Gambaran Umum Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta yang terdiri dari Letak Geografis, Sejarah Singkat Berdirinya, Keadaan Siswa, Guru dan Karyawan, Keadaan Sarana dan Fasilitas Madrasah, Struktur dan Personalia Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta.

Bab tiga, berupa Pengembangan Kurikulum Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta yang terdiri dari Landasan Pengembangan Kurikulum, Tujuan Pengembangan Kurikulum, Materi yang dikembangkan, dan Metode dan Pengembangannya.

Bab empat, berupa Materi Kurikulum Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta yang terdiri dari Kurikulum 1994, Kurikulum 2004, Perbedaan antara Kurikulum 1994 dengan Kurikulum 2004, Faktor pendukung dan penghambat dalam pengembangan kurikulum, dan Usaha-usaha untuk mengatasi hambatan yang timbul. 

Bab lima, Penutup yang terdiri dari Kesimpulan dan Saran-saran, Kata Penutup.

Daftar Pustaka

Lampiran-lampiran

 

 

 

 

 

 

 

 

 


DAFTAR PUSTAKA

Abdul Qadir Jaelani, (1994), Peran Ulama Santri Dalam Politik di Indonesia, Bina Ilmu, Surabaya.

Abu Hamid, Taufiah Abdullah, (1983)., Sistem Pendidikan Madrasah dan Pesantren di Sulawesi Selatan, Agama dan Perubahan Sosial, Rajawali, Jakarta.

Ahmad, dkk, (1997), Pengembangan Kurikulum, Pustaka Setia, Bandung.

A.D. Marimba, (1989), Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Al-Ma’arif, Bandung.

Anas Sudijono, (1983), Metodologi Research dan Bimbingan Skripsi., UD Kami, Yogyakarta.

____________, (2001), Pengantar Evaluasi Pendidikan., PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

____________, (1999), Pengantar Statistik Pendidikan, Rajawali Pers, Jakarta.

A.W. Munawwir, (1984), Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia., Pustaka Progressif, Yogyakarta.

Cece Wijaya, dkk, (1992), Upaya Pembaharuan dalam Pendidikan dan Pengajaran, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.

Cholid Narbuko-Abu Ahmadi, Metodolgi Penelitian, (Jakarta: Bumi Aksara, 1997), hlm. 115

Departemen Agama RI, (1985), Pedoman Pembinaan Pondok Pesantren, Proyek Pembinaan Pondok Pesantren, Jakarta.

Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, (1990), Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta.

Departemen Pendidikan Nasional, (2002), Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi, Pusat Kurikulum Balitbang, Jakarta.

Harun Nasution, (1992), Pembaharuan dalam Islam. Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Bulan Bintang, Jakarta.

Hilda Taba dalam tulisan S. Nasution, (1995), Asas-Asas Kurikulum, Bumi Aksara, Jakarta.

Hirimurti Kridalaksana, (1993), Kamus Linguistik, Gramedia, Jakarta.

H.M. Arifin, (1994), Filsafat Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta.

Imam Barnadib, (1990), Filsafat Pendidikan Islam Sistem dan Metode, Andi Offset, Yogyakarta.

Iskandar Wiryokusumo, Usman Mulyadi, (1988), Dasar Pengembangan Kurikulum, Bina Aksara, Jakarta.

Jalaludin Rakhmad, (1994), Metode Penelitian Komunikasi, Remaja Karya, Bandung.

John M. Echols dan Hasan Shadily, (1992), Kamus Inggris-Indonesia, Gramedia, Jakarta.

Maksum, (1999), Madrasah Sejarah dan Perkembangannya, Logos Wacana, Jakarta.

Malik Fadjar, (1998), Madrasah dan Tantangan Modernitas, Mizan, Bandung.

Marwan Saridjan, (1996), Bunga Rampai Pendidikan Agama Islam, CV. Amissco, Jakarta.

Mukti Ali, (1971), Beberapa Masalah Pendidikan di Indonesia, Yayasan Nida, Yogyakarta.

M. Subana, M.Pd., (2001), Dasar-Dasar Penelitian Ilmiah, Pustaka Setia, Bandung.

Nana Syaodih Sukmadinata, (1999), Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.

Nurcholis Madjid, (1997), Bilik-Bilik Pesantren Sebuah Potret Perjalanan, Paramadina, Jakarta.

Oemar Hamalik, (1995), Kurikulum dan Pembelajaran, Bumi Aksara, Jakarta.

Pius A. Partanto, M. Dahlan Al-Bony, (    ), Kamus Bahasa Indonesia Populer, Arkplla, Sulawesi.

Suharsimi Arikunto, (2002), Kurikulum Berbasis Kompetensi, LPS, Yogyakarta

________________, (1998), Manajemen Penelitian, Rineka Cipta, Jakarta.

_________________, (1983), Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, PT. Aneka Cipta, Jakarta.

Sutrisno Hadi, (1987), Metodologi Research I, Hadi Offset, Yogyakarta.

___________, (1985), Metodologi Research, jilid 2, Yayasan Penerbitan Fak. Psikologi UGM, Yogyakarta.

S. Nasution, (1991), Pengembangan Kurikulum, Citra Aditya, Bandung.

__________, (1993),  Pengembangan Kurikulum, Citra Aditya Bakti, Bandung.

Tesis Siswadi, (2000), Ibnu Khaldun dan Progressivisme (Analisis Komparatif Konsep Belajar), Yogyakarta.

Winarno Surakhmad, (1982), Pengantar Penelitian Ilmiah,  Tarsito, Bandung.

_________________, (1984),  Pengantar Penelitian Ilmiah, Dasar Metode dan Teknik, Tarsito, Bandung.

W.J.S. Poerwadarminta, (1982), Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta.

Zakiyah Daradjat, (1996), Ilmu Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta.

Zamakhsyari Dhofier, (1994), Tradisi Pesantren, Studi Tentang Pandangan Terhadap Kiyai, LP3ES, Yogyakarta.

Zamroni, (2000), Paradigma Pendidikan Masa Depan, Bigraf Publishing, Yogyakarta.

BAB II

H.  GAMBARAN UMUM MADRASAH ALIYAH YAYASAN

I.     ALI MAKSUM PONDOK PESANTREN KRAPYAK YOGYAKARTA

 

Letak Geografis

Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum pondok pesantren Krapyak Yogyakarta terletak di jalan KH. Ali Maksum PO. BOX. 1165 Yogyakarta 55001. berada di Dusun Krapyak, Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dusun Krapyak berbatasan antara lain :

Sebelah Barat        : Desa Dongkelan

Sebelah Utara       : Kecamatan Jogokaryan

Sebelah Timur       : Dusun Kalasan

Sebelah Selatan     : Dusun Janganan, Kecamatan Sewon

Secara geografis, jarak Dusun Krapyak dengan Desa Panggungharjo 1,5 km, dengan ibukota kecamatan 2,5 km. Dengan demikian, secara geografis Dusun Krapyak berada lebih dekat dengan ibukota propinsi daripada ibukota kabupaten.

Sejarah Singkat Berdirinya

Sejarah berdiri dan perkembangan Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta tidak bisa terlepas dari sejarah Pondok Pesantren Al-Munawwir yang didirikan oleh KH. M. Munawwir pada tanggal 15 November 1910 dengan nama Pondok Pesantren Krapyak karena memang terletak didusun Krapyak. Lalu pada tahun 1976 diubah menjadi Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak. Pondok pesantren ini terkenal hingga sekarang dengan pesantren Al-Qur’annya.

Lalu pada perkembangannya, pondok AL-Munawwirtidak lagi mengkhususkan pengajaran dibidang Al-Qur’an saja, melainkan merambah keilmu-ilmu lainnya, seperti pendalaman kitab kuning yang disusul dengan penerapan sistem madrasah (klasikal) yang pada gilirannya melahirkan lembaga-lembaga madrasah.

Pertumbuhan Pondok Pesantren Al-Munawwir dapat dilihat dari periodisasi kepemimpinan sebagaimana berikut:[46]

1.       Periode KH. M. Munawwir (1911-1942)

Pada periode pertama ini, kepemimpinan Pondok Pesantren dipegang oleh KH. M. Munawwir. Kegiatan pendidikan pada masa ini dispesialisasikan pada pengajian Al-Qur’an, baik dengan cara menghafal (bil-ghaib) ataupun dengan cara membaca (bin-nadlor), sedangkan pelajaran kitab kuning pada saat itu hanya sebagai pelajaran tambahan.

2.       Periode KH. Abdullah Affandi, KH. Abdul Qadir (1942-1968)

Sepeninggal KH. M. Munawwir kepemimpinan Pondok Pesantren dipegang oleh kedua putra beliau yaitu KH. R. Abdullah Affandi dan KH. R. Abdul Qadir. KH. R. Abdullah Affandi selain menjabat sebagai pimpinan umum, beliau juga menangani, hubungan antara pesantren dengan dunia luar (ekstern). KH. R. Abdul Qadir selain menjabat sebagai pengasuh pengajian Al-Qur’an juga menangani urusan intern Pondok Pesantren. Dan saat itu KH. Ali-Maksum sebagai penanggung jawab pengajian kitab kuning.

Pada periode ini Pondok Pesantren mengalami perkembangan yang pesat, sehingga melahirkan banyak lembaga pendidikan antara lain :

1.       Madrasah Ibtida’iyyah Putra, berdiri tahun 1946

2.       Madrasah Banat, berdiri tahun 1951

3.       Madrasah Khuffadz, berdiri tahun 1955

4.       Madrasah Tsanawiyyah Putra, berdiri tahun 1948

5.       Sekolah Menengah Pertama (eksakta), berdiri tahun 1950

6.       Madrasah Aliyah Putra, berdiri tahun 1955

7.       Madrasah Diniyyah, berdiri tahun 1960

8.       Madrasah Tsanawiyyah 6 Tahun, berdiri tahun 1962.

Selama 19 tahun KH. R. Abdul Qadir bersama saudaranya mengelola dan mengembangkan Pondok Pesantren yang telah dirintis ayahandanya, banyak menghasilkan hafidz dan hafidzah yang juga mendirikan Pondok Pesantren di kampung halamannya. Beliau wafat pada tanggal 02 Februari 1961. Tujuh tahun kemudian tepatnya 10 Januari 1968 KH. R. Abdul Qadir wafat menyusul adiknya.

3.       Periode KH. Ali Maksum

Sebagaimana yang telah diuraikan diatas, KH. Ali Maksum sudah mulai ikut membina pesantren sejak tahun 1943 dan baru menjadi kyai sejak KH. R. Abdullah, kakak ipar beliau wafat. Sejak waktu itu kepemimpinan Pondok Pesantren Al-Munawwir dipegang oleh KH. Ali Maksum.

Pada periode ini, Pondok Pesantren Al-Munawwir mengalami perkembangan yang semakin pesat. Pada bidang pendidikan, dengan dibantu oleh adik-adik ipar beliau, para santri senior digembleng dan ditempa sebagai kader-kader yang disiapkan dalam menangani dan mengembangkan Pondok Pesantren. Diantaranya: KH. Zainal Abidin, KH. Zaini Munawwir, KH. Dalhar Munawwir, KH. Warson Munawwir, KH. Ahmad Munawwir, KH. Mufid Mas’ud, KH. Attabik Ali, KH. Muhammad Hasbullah, KH. R. Najib Abdul Qadir dan lain-lain. Pada masa ini dikembangkan beberapa lembaga pendidikan klasikal baru diantaranya :

1.       Madrasah Tsanawiyyah 3 tahun putra-putri, berdiri 1978

2.       Madrasah Aliyah 3 tahun putra-putri berdiri tahun 1978

3.       Madrasah Takhassus Bahasa Arab dan Syari’ah.

Selain itu dikembangkan pula pengajian kitab seperti sorogan, bandongan, mumarosah, dan ketrampilan lainnya. Pada masa KH. Ali Maksum juga dibentuk Korps Dakwah Mahasiswa yang disingkat KODAMA beranggotakan santri-santri senior berstatus mahasiswa dari berbagai perguruan tinggin di Yogyakarta. Lembaga ini memiliki obyek desa binaan didaerah Kabupaten Bantul dan Kodya Yogyakarta.

Pada tahun 1989, tepatnya setelah Muktamar NU’ ke-28 di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, KH. Ali Maksum wafat. Sepeninggal beliau pondok pesantren dikembangkan menjadi dua pengelolaan yaitu pendidikan formal dan non formal. Pendidikan formal yang meliputi Madrasah Diniyyah, Madrasah Tsanawiyyah dan Madrasah Aliyah penanganannya diserahkan pada KH. Zainal Abidin Munawwir dengan tetap bernama Pondok Pesantren Al-Munawwir.

Disamping pengajian kitab bin Nadlor wal Ghaib, berdiri pula Lembaga Kajian Islam Mahasiswa dengan sistem sks dengan lama pendidikan 8 semester. Dengan demikian lembaga pendidikan yang ada dibawah bendera Ali Maksum adalah:

1.       LKIM (Lembaga Kajian Islam Mahasiswa)

2.       Madrasah Diniyyah Putra-Putri

3.       Madrasah Huffadz Putra-Putri

4.       Madrasah Tsanawiyyah Putra-Putri

5.       Madrasah Aliyah Putra-Putri

Keadaan Siswa, Guru dan Karyawan

Keadaan Siswa

Setiap calon siswa yang hendak masuk kedalam sekolah melewati test terlebih dahulu. Hal ini dilakukan agar bisa memperlancar pengumpulan dan penyaringan data tentang siswa untuk selanjutnya dilakukan pengelompokan siswa.[47]

Hal ini sesuai dengan Test Penerimaan Siswa Baru yang dilakukan Panitia Siswa Baru Madrasah Aliyah Ali Maksum untuk selanjutnya diadakan pengelompokan siswa. Test Penerimaan Siswa Baru berbentuk dua test, yaitu: (1) Wawancara calon siswa seputar data pribadi, bakat, minat, latar belakang pendidikan dan sosial-budaya-ekonomi, serta potensi calon siswa, dan (2) Test tertulis yang menguji dasar kemampuan pengetahuan keagamaan calon siswa. Adapun yang berhak menjadi siswa dan santri Madrasah Aliyah Ali Maksum adalah mereka yang memiliki nilai STTB SMP/MTs dan nilai test cukup baik. kriteria ini dimaksudkan agar calon siswa yang lulus test mampu dan siap menerima pelajaran Aliyah yang begitu padat. Sedangkan bagi calon siswa yang memiliki nilai STTB SMP/MTs cukup baik tapi nilai test-nya kurang atau sebaliknya, mereka biasanya ditempatkan di Program Studi I’dadiyyah (persiapan).[48]

Secara keseluruhan jumlah siswa Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum Krapyak Yogyakarta pada tahun ajaran 2003-2004 ini sebanyak 597 siswa-siswi, yang terdiri dari 131 murid kelas III, 156 murid kelas II, 206 murid kelasI dan 97 murid I’dadiyyah (untuk lebih jelasnya lihat tabel jumlah siswa-siswi). Sebagai sebuah lembaga pendidikan yang secara historis lahir dari sebuah Pondok Pesantren, maka Madrasah Yayasan Ali Maksum Krapyak Yogyakarta mengklasifikasi siswanya berdasarkan beberapa klasifikasi yaitu:

1.       Jenis Jurusan, dimana seluruh siswa terbagi atas 3 kelompok yaitu: (1) Program I’dadiyyah adalah berorientasi pada pelajaran dasar pesantren dalam rangka mempersiapkan siswa agar mampu mengikuti pelajaran di kelas I dengan alokasi waktu selama satu tahun, (2) Madrasah Aliyah Umum (MAU) kelas I dan II yang berorientasi pada kurikulum Madrasah Aliyah sebagaimana pada umumnya ditambah kurikulum kepesantrenan (dikelas III, siswa Madrasah Aliyah Umum akan dibagi lagi dalam III IPA dan III IPS). Lalu (3) Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) kelas I, II dan III yang mutlak berorientasi pada pelajaran kepesantrenan.

Sebagaimana telah diutarakan pada Penegasan Istilah Bab I, siswa yang menjadi obyek penelitian kami adalah siswa-siswi kelas I. Dengan demikian unsure dan aspek analisa tidaklah menyentuh Program I’dadiyyahb(Pra-Aliyah).

2.       Jenis Kelamin, dimana antara siswa putra dan putri mengalami kegiatan belajar-mengajar diruang yang berbeda. Hal ini diupayakan agar: (1) Menyesuaikan pembauran dan pergaulan dengan aturan Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta,            (2) Mengoptimalkan konsentrasi belajar, (3) Pembatasan jumlah siswa per kelas demi keefektifan Belajar-mengajar.

Adapun untuk tempat bermukim siswa putra mereka ditempatkan didua tempat, yaitu asrama Diponegoro (utara komplek mahasiswa H) dan Sakan-Thullab (satu gedung dengan kantor Madrasah Aliyah Ali Maksum). Untuk siswa putri ditempatkan secara khusus dikomplek N. Hal ini dilakukan demi terciptanya lingkungan belajar yang kondusif dan sesuai dengan suasana pesantren sekaligus Madrasah Aliyah.

Untuk mengetahui pembagian siswa menurut dua spesifikasi diatas secara lebih rinci dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel : I

REKAPITULASI JUMLAH SISWA-SISWI

MADRASAH ALIYAH YAYASAN ALI MAKSUM

TAHUN AJARAN 2003/2004 [49]

KELAS

JUMLAH

JUMLAH KESELURUHAN

I’DAD A (Putra)

I’DAD B (Putra)

I’DAD C (Putri)

19

20

24

63

I MAK A (Putra)

I MAK B (Putri)

24

16

40

I MAU A (Putra)

I MAU B (Putra)

I MAU C (Putri)

I MAU D (Putri)

27

30

32

33

122

II MAK A (Putra)

II MAK B (Putri)

30

16

46

KELAS

JUMLAH

JUMLAH KESELURUHAN

II MAU A (Putra)

II MAU B (Putra)

II MAU C (Putri)

II MAU D (Putri)

27

32

41

33

133

III MAK A (Putra)

III MAK B (Putri)

23

16

39

III IPS A (Putra)

III IPS B (Putri)

III IPA A (Putra)

III IPA B (Putri)

30

31

22

28

111

TOTAL

 

554

 

Keadaan Guru

Tenaga edukatif atau guru merupakan faktor yang sangat vital, gurulah yang akan mengantarkan siswa pada tujuan yang akan dicapai. Melihat besarnya jumlah siswa Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum Krapyak Yogyakarta, dibutuhkan tenaga edukatif yang setidaknya dapat memenuhi kebutuhan pendidikan banyak siswa tersebut. Oleh sebab itu Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta memiliki tenaga DAI sebanyak 35 orang. Adapun kriteria guru (tenaga pengajar) agama dan mata pelajaran yang berhubungan dengan ilmu-ilmu kepesantrenan pada umumnya berasal dari Pondok Pesantren Krapyak itu sendiri baik Kyai ataupun santri senior. Sebagian besar guru Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak adalah sarjana perguruan tinggi seperti: IKIP, UGM, IAIN, dan sebagainya.

Jangka waktu mengajar guru PAI di Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum tidak ada yang mengajar kurang dari 1 tahun. Sedangkan guru yang mengajar kurang dari 5 tahun ada 8 orang, 5 sampai 10 tahun ada 21 orang, dan yang lebih dari 10 tahun ada 6 orang.

Sedangkan guru mata pelajaran umum di Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum terdapat 2 guru yang mengajar kurang dari 1 tahun, sedangkan guru yang mengajar kurang dari 5 tahun ada 6 orang, 5-10 tahun ada 22 orang, dan yang lebih dari 10 tahun mengajar ada 6 orang. Ini menandakan bahwa sebagian guru mata pelajaran umum di Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum termasuk guru yang cukup senior dan memiliki pengalaman mengajar yang cukup terutama di Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum itu sendiri.[50]

Keadaan Karyawan

Salah satu faktor penting yang mendukung keberhasilan proses belajar-mengajar adalah karyawan, yang membantu bidang pelayanan, terutama untuk mempercepat proses administrasi yang meliputi pencatatan, pengarsipan dan pengeluaran data-data penting. Di Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum Krapyak yogyakarta ini, pelaksana administrasi dipegang oleh sebagian karyawan murni dan ada yang dipegang oleh tenaga edukatif atau guru yang merangkap karywan. Hal ini dikarenakan terbatasnya dana yang dimiliki Madrasah Aliyah untuk menggaji mereka. Jumlah karyawan yang ada di Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum  Krapyak sebanyak 19 orang dan semuanya pegawai tetap. Besarnya jumlah karyawan disesuaikan dengan bertambahnya jumlah siswa, guru dan berbagai kebutuhan lain, dan ini adalah suatu konsekwensi logis dalam rangka peningkatan pelayanan.

Keadaan Sarana dan Fasilitas Madrasah

Tersedianya sarana dan fasilitas yang memadai akan sangat membantu proses tercapainya tujuan pendidikan yang diinginkan, begitu pula sebaliknya. Hal ini membuat Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum Krapyak Yogyakarta mengusahakan sarana dan fasilitas yang hingga saat ini memiliki perincian sebagai berikut:

Pergedungan

Gedung Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum Krapyak yang dipakai untuk kegiatan-mengajar ada di empat (4) lokasi. Gedung (sarana belajar) khusus putri yang berada di Komplek Diniyah (sebelah barat jln K.H. Ali Maksum) yang terdiri atas 9 ruang, dan komplek Ibu Noto yang terdiri atas 4 ruang. Sedangkan khusus untuk putra ada tiga tempat yaitu dilingkungan masjid Krapyak (3 ruang), diarea Gedung Pengajian (2 kelas dan 1 ruang pengajian).

Untuk gedung perkantoran meliputi ruang Kepala Madrasah, ruang tamu, ruang TU, ruang Perpustakaan, ruang laboraturium Bahasa dan stok barang, berada digedung Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren yang berlantai 4.

Peralatan Mebelair

Berikut ini daftar peralatan berupa mebelair yang merupakan sarana pendukung kegiatan belajar-mengajar di Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum.

Tabel II

Daftar Peralatan Meubelar

Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum

Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta

Tahun Pelajaran 2003/2004[51]

II.    No

III. Keperluan

Jenis Barang

IV. Jumlah

01

 

 

02

 

 

 

 

03

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

04

 

05

 

 

 

 

 

 

06

 

 

 

07

Ruang guru dan ruang tamu

 

 

Ruang Kepala Madrasah

 

 

 

 

Ruang Tata Usaha

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ruang BP

 

Ruang Perpustakaan

 

 

 

 

 

 

Ruang Kelas

 

 

 

Ruang Komputer

Meja

Kursi

Buffet

Meja/kursi

Buffet

Fax/Telepon

Almari kabinet

Kipas Angin

Meja/kursi

Buffet

Almari kabinet

Komputer/Printer

Telepon/airphone

Kipas Angin

Meja pelayanan

Jam dinding

Rak kertas

TV

File box

Meja/Kursi

Almari

Meja/Kursi

Almari buku

Meja pelayanan

TV

Kipas Angin

Komputer/Printer

Almari TV

Meja/kursi Guru

Meja/kursi Siswa

Meja ganda

Kipas Angin

Meja/kursi

Komputer

Printer

Almari dok

5 buah

17 buah

3 buah

2/4 buah

2 buah

1 buah

1 buah

1 buah

12/17 buah

1 buah

4 buah

3/4 buah

1/1 buah

1 buah

3 buah

1 buah

1 buah

1 buah

12 buah

2/4 buah

2 buah

10/20 buah

10 buah

3 buah

1 buah

1 buah

1/1 buah

1 buah

22/22 buah

235 buah

62 buah

12 buah

12 buah

10 buah

3 buah

1 buah

 

Media

Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum telah menyiapkan sarana media sebagai alat bantu pengajaran baik Umum maupun Pendidikan Agama Islam. Selain alat-alat yang sudah lazim dimiki, seperti papan tulis dan white board, ada alat-alat bantu yang berbentuk media yang tersedia sebagai berikut:

VCD Player sebanyak dua buah

OHP sebanyak 1 buah

Proyektor sebanyak 1 buah[52]

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

V.    PENGEMBANGAN KURIKULUM MADRASAH ALIYAH YAYASAN

ALI MAKSUM PONDOK PESANTREN KRAPYAK YOGYAKARTA

 

Landasan Pengembangan Kurikulum

Pendidikan mempunyai peranan penting dalam membentuk manusia. Dalam seluruh proses pendidikan kurikulum mempunyai kedudukan yang sangat penting, karena kurikulum mengarahkan segala bentuk aktivitas pendidikan. Oleh karena itu demi terbentuknya manusia yang berkualitas baik Iptek maupun Imtaqnya, dalam pengembangan kurikulum dibutuhkan landasan-landasan yang kuat. Di Madrasah Aliyah Ali Maksum kurikulum yang dikembangkan merupakan kurikulum yang disusun oleh tim penyusun kurikulum Madrasah tersebut. Ada beberapa landasan utama dalam mengembangkan suatu kurikulum, yaitu antara lain:[53]

Landasan Filosofis

Filsafat mengandung suatu pemikiran yang sangat dalam tentang suatu nilai atau nilai-nilai filsafat pendidikan yang menggambarkan manusia ideal yang diharapkan dimasyarakat. Madrasah Aliyah Ali Maksum adalah suatu lembaga pendidikan yang berasaskan Islam. Maka sebagai landasan filosofis dalam penentuan kurikulumnya adalah dengan menggunakan Al-Qur’an dan As-Sunah. Adapun Al-Qur’an dan As-Sunah merupakan pandangan hidup umat Islam yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dalam semua aspek kehidupan termasuk pendidikan. Dalam kurikulum pendidikan di Madrasah Aliyah Ali Maksum hal ini nampak dalam materi-materi yang dikembangkan. Seperti mata pelajaran Fiqh, Al-Qur’an Hadits, dan ditambah Aswaja atau ahlussunah wal jama’ah. Kurikulum kepesantrenan ini sebagai manifestasi dari ajaran Islam yaitu Al-Qur’an dan As-Sunah yang bernuansa Aswaja.

Landasan Psikologis

Interaksi yang tercipta dalam situasi pendidikan harus sesuai dengan kondisi para peserta didik maupun kondisi pendidiknya. Agar proses pendidikan di Madrasah Aliyah Ali Maksum dapat efektif dan efisien maka dalam mengembangkan kurikulumnya disesuaikan dengan tahap perkembangan peserta didik dan cara atau metode belajar. Adapun peserta didik yang belajar di Madrasah Aliyah Ali Maksum rata-rata berusia 15 – 18 tahun. Masa ini sedang dalam tingkat perkembangan yang disebut masa remaja. Peserta didik berada dalam masa perubahan-perubahan psikologis dan tekanan-tekanan kultural. Sehingga peserta didik pada umumnya mengalami kesulitan dalam melakukan penyesuaian terhadap lingkungannya. Oleh karena itu dalam upaya melaksanakan pengembangan kurikulum yang efektif perlu pertimbangan perkembangan peserta didik. Supaya peserta didik dapat menerima semua mata pelajaran baik kurikulum Depag maupun kurikulum Kepesantrenan. Selain itu juga perlu diperhatikan metode atau cara belajar peserta didik, karena kemampuan mereka berbeda-beda.

Landasan Sosial Budaya

Faktor sosial budaya sangat penting dalam rangka penyusunan kurikulum yang relevan. Oleh karena itu kurikulum merupakan alat untuk merealisasikan sistem pendidikan, sedangkan pendidikan itu sendiri merupakan salah satu dimensi dari kebudayaan-kebudayaan. Adapun kurikulum atau materi yang diberikan di Madrasah Aliyah Ali Maksum disesuaikan dengan nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat, peserta didik merupakan anggota masyarakat dan mereka harus belajar tentang tata cara hidup dalam masyarakat. Oleh karena itu dalam menyusun kurikulum disesuaikan dengan sosial budaya dimana peserta didik berada. Sehingga mereka dalam sosialisasi dengan masyarakat dapat diterima.

Landasan Perkembangan IPTEK

Pada abad ke-21 ini perkembangan ilmu dan teknologi semakin pesat. Maka agar generasi Islam tidak menjadi generasi yang ketinggalan zaman, maka kurikulum yang disusun harus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam membentuk peserta didik yang dapat berguna bagi agama dan bangsanya, Madrasah Aliyah Ali Maksum tidak hanya mengembangkan aspek rohani saja akan tetapi akal dan tingkah laku. Sesuai dengan visinya Madrasah Aliyah Ali Maksum yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan jati diri manusia Indonesia seutuhnya, manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah yang Maha Esa dan budi pekerti luhur, sehat jasmani dan rohani, berkepribadian mantap dan mandiri, serta memiliki rasa tanggungjawab keagamaan, kemasyarakatan, dan kebangsaan.[54]

Dengan perkembangan rohani, akal dan akhlaknya secara seimbang diharapkan peserta didik mampu mengolah alam dan mengembangkan teknologi yang selaras dengan nilai-nilai agama, nilai-nilai luhur budaya, sosial dan lingkungan hidup.

Tujuan Pengembangan Kurikulum

Dengan berpijak pada dasar dan tujuan berdirinya Madrasah Aliyah Ali Maksum, maka dapat menentukan beberapa tujuan yang ingin dicapai setelah dilaksanakannya, pendidikan dan pengajaran dengan kurikulum yang telah disusun.

Tujuan Institusional

Tujuan Pendidikan SMU secara umum

à Meningkatkan kemampuan siswa untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi dan untuk mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian.

à Meningkatkan kemampuan siswa sebagai anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan alam sekitar.

à  Mengutamakan penyiapan siswa untuk jenjang pendidikan tinggi.[55]

Tujuuan Pendidikan Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum

Mencerdaskan kehidupan masyarakat melalui pembinaan dan pengembangan pondok pesantren.

Mendidik dan membina masyarakat untuk menjadi manusia yang bertaqwa dan berkepribadian, trampil serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga mampu menunaikan tugas dan kewajibannya dalam beragama, berbangsa, dan bernegara ala ahlussunnah wal jama’ah.[56]

Tujuan Kurikuler

à Meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi-materi pelajaran agama sehingga siswa mempunyai wawasan yang luas tentang ilmu-ilmu agama.

à Memberikan bekal pengetahuan dan kemapuan mengamalkan ajaran Islam dalam rangka membentuk manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.

à Menyiapkan siswa agar dapat berakhlakul karimah mulai dari hidup pribadi bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang dijiwai oleh suasana keagamaan.[57]

Pada dasarnya tujuan pengembangan kurikulum adalah mempersiapkan siswa agar mampu memahami kondisi lingkungannya sehingga terhindar dari keterasingan. Jika diamati secara mendalam bahwa tujuan yang ingin dicapai dari penerapan pengembangan kurikulum tersebut di Madrasah Aliyah Ali Maksum adalah mengarah pada terbentuknya manusia yang mampu mensosialisasikan dirinya dengan lingkungan serta membentuk manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, serta terampil menjalankan ajaran Islam yang dibutuhkan oleh dirinya sendiri maupun masyarakat sekitarnya. Pada akhirnya akan melahirkan manusia yang berjiwa sosial dan selalu berhubungan dengan Allah SWT dan lingkungan masyarakat atau hablum minallah wa hablum minannas. Inilah sebenarnya tujuan ideal dari lembaga pendidikan yang bernuansa pesantren dan ingin membentuk manusia yang berakhlakul karimah dan memiliki mentalitas yang tangguh.[58]

 

Materi yang dikembangkan

Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Kurikulum disusun sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Di Madrasah Aliyah Ali Maksum dalam menyusun kurikulumnya disesuaikan dengan tujuan institusional madrasah tersebut. Adapun kurikulum yang dikembangkan di Madrasah Aliyah Ali Maksum ini adalah perpaduan antara kurikulum Depatemen Agama dengan kurikulum Kepesantrenan yang memiliki nilai-nilai Islami atau Qur’ani. Dari kurikulum kepesantrenan akan tampak ciri khas Madrasah Aliyah Ali Maksum. Muatan materi yang dikembangkan atau kurikulum kepesantrenan ini berorientasi pada ilmu yang berwawasan keIslaman yang merujuk pada kitab kuning, buku keIslaman dan diktat yang dibuat oleh madrasah sendiri. Akan tetapi kurikulum kepesantrenan lebih memprioritaskan kepada pengembangan bahasa asing, penguasaan kitab-kitab kuning dan Al-Qur’an. Kurikulum ini dirancang oleh pihak madrasah sendiri dengan tujuan untuk mencapai tujuan pendidikan yang ada di Madrasah Aliyah Ali Maksum, sehingga akan tampak kecirikhasannya yaitu mencetak peserta didik untuk menjadi manusia yang berbudi pekerti yang luhur, Qur’ani, menguasai kitab kuning dan mampu berbahasa asing. Oleh karena itu pihak madrasah berupaya mengembangkan kurikulumnya yang sesuai dengan karakteristik masyarakat sekitar dengan membuat kurikulum kepesantrenan. Sehingga dalam pelaksanaannya pengembangan kurikulum ini membutuhkan waktu jam pelajaran yang lebih atau tambahan.

 

Metode dan Pengembangannya

Proses kegiatan belajar mengajar secara keseluruhan yang dilaksanakan di Madrasah Aliyah Ali Maksum ini dapat berjalan secara efektif, sebab dalam operasionalnya guru dituntut untuk membuat program satuan pelajaran pada masing-masing semester sehingga muatan materi kurikulum yang ditargetkan oleh Madrasah Aliyah Ali Maksum dapat dilaksanakan dengan baik.

Sedangkan dalam penggunaan metode pengajarannya guru tidak hanya menggunakan satu metode saja, tetapi bervariasi tergantung dari materi apa yang disampaikan. Selain itu juga melihat kondisi dan situasi saat pengajaran berlangsung. Dalam proses pengajaran ini pendekatan yang digunakan untuk menentukan metode adalah pendekatan yang berpusat pada mata pelajaran.

Metode Ceramah

            Metode ini diterapkan pada semua pelajaran. Dalam dataran operasionalnya metode ceramah ini menekankan pada keaktifan guru sehingga murid tampakfat pasif.

Metode Tanya Jawab

            Metode ini diterapkan dalam upaya memancing keaktifan siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam hal ini guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang materi yang belum difahami.

Metode Pemberian Tugas

            Dalam metode ini pemberian tugas tergantung pada materi yang diajarkan. Metode ini memudahkan siswa dalam menghadapi evaluasi baik yang formatif maupun sumatif.

Metode Demonstrasi

            Metode ini digunakan untuk mempraktekkan materi pelajaran yang berkaitan dengan kaifiyah (tata cara). Dengan menggunakan metode ini dapat memudahkan siswa dalam menerima pelajaran, sebab mereka tidak hanya memperoleh materi saja akan tetapi praktek secara langsung.

Metode Diskusi

            Metode ini baik ditrapkan dalam rangka merangsang siswa untuk berfikir, serta siswa akan termotivasi untuk membaca, bertanya, berbicara serta sebagai ajang tukar fikiran.

Metode Mutholaah

            Metode ini yang diprioritaskan adalah mata pelajaran bahasa asing yaitu bahasa Arab dan bahasa Inggris, dan dengan metode ini siswa diharapkan mampu untuk membaca secara fasih dan benar.

Metode Hafalan

            Metode seperti ini sering digunakan dilingkungan pesantren sebagai ciri khasnya, dan biasanya berupa hafalan Al-Qur’an, Al-Hadits, Kitab kuning, bahasa Arab serta bahasa Inggris.

Metode Karya Wisata

            Metode ini biasanya untuk membuka wacana pengetahuan siswa supaya mengetahui secara langsung ilmu-ilmu yang dipelajari dimadrasah. Metode ini sering digunakan dalam mata pelajaran IPA (Biologi), maupun pelajaran lainnya seperti Geografi dan Sejarah.

 

Evaluasi Kurikulum

Pengembangan kurikulum yang menekankan isi, membutuhkan waktu mempersiapkan situasi belajar dan menyatukannya tujuan pengajaran yang cukup lama. Kurikulum yang menekankan situasi, waktu untuk mempersiapkannya lebih pendek, sedangkan kurikulum yang menekankan organisasi waktu persiapannya hampir sama dengan kurikulum yang menekankan isi. Meskipun demikian perhatian harus cukup banyak dipusatkan pada struktur konsep yang tidak tampak (covert) daripada analisis tujuan yang tampak (overt).

Kurikulum yang menekankan isi sangat mengutamakan peranan desiminasi, meskipun umpamanya kurikulum itu kurang baik, mereka dapat melaksanakannya melalui jalur birokrasi. Tipe kurikulum seperti ini mengikuti model penyebaran (difusi) dari pusat kedaerah.[59]

Dilihat dari pelaksanaan dan tujuannya, evaluasi kurikulum dapat dibedakan kedalam dua macam, yaitu:

1.      Evaluasi Formatif, yakni evaluasi yang dilaksanakan selama kurikulum itu digunakan dengan tujuan untuk menjadi dasar dalam perbaikan. Evaluasi ini dapat dilakukan terhadap pelaksanaan paket-paket program atau masing-masing mata pelajaran dari suatu kurikulum atau terhadap pelaksanaan kurikulum secara keseluruhan.

2.      Evaluasi Sumatif, yakni evaluasi yang dilakukan diakhir pelaksanaan suatu kurikulum, seperti evaluasi kurikulum SD dilaksanakan setelah (6 tahun) kurikulum itu dilaksanakan, dengan tujuan untuk mengetahui keberhasilan pelaksanaan kurikulum tersebut.[60]

Di madrasah Aliyah Ali Maksum menggunakan bentuk evaluasi yang sama, yaitu dengan evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Sedangkan model evaluasi sekarang ini di Madrasah Aliyah Ali Maksum menggunakan sistem semester, yaitu adanya mid semester dan ujian akhir semester yang juga digunakan dalam perguruan tinggi. Dan yang lebih berbeda dengan Madrasah Aliyah pada umumnya, yaitu adanya pemberlakuan dua raport disetiap semesternya. Dua buah raport yang berlaku tersebut adalah : Raport berbahasa Indonesia yang berisikan daftar hasil belajar siswa sesuai kurikulum Departemen Agama, dan raport berbahasa Arab yang berisikan daftar hasil belajar sesuai kurikulum kepesantrenan. Kedua raport tersebut diterima secara serentak dalam acara Akhirussanah yaitu pengumuman kenaikan kelas bagi siswa-siswi kelas I dan II dan pengumuman kelulusan kelas III yang berlangsung disetiap akhir Semester Genap.

Adapun kriteria kelulusan dan kenaikan kelas yang diberlakukan juga juga berbeda dengan Madrasah Aliyah pada umumnya, yaitu: setiap siswa/siswi belum dikatakan berhak naik kelas/lulus jika ia gagal dalam kurikulum kepesantrenan, walaupun dalam kurikulum Departemen Agama ia telah memenuhi standar kelulusan. Dengan kata lain, kurikulum kepesantrenannya, dapat diasumsikan menjadi kurikulum pedoman atau acuan kelayakan siswa untuk naik kelas atau lulus sekolah, sekaligus sebagai ciri khas yang dimiliki oleh Madrasah Aliyah Ali Maksum.

 

BAB IV

J.    MATERI KURIKULUM MADRASAH ALIYAH YAYASAN ALI MAKSUM

K. PONDOK PESANTREN KRAPYAK YOGYAKARTA

 

Kurikulum 1994

Materi Pelajaran

Madrasah Aliyah Ali Maksum adalah sebuah madrasah yang dikelola oleh Yayasan Pendidikan dan Pondok Pesantren. Dipahami dengan hal tersebut bahwa Madrasah Aliyah Ali Maksum memiliki dua ciri yang melekat padanya yakni, satu sisi Madrasah Aliyah Ali Maksum menunjukkan lembaga pendidikan formal (tingkat menengah atas) dibawah naungan Depag, disisi lain merupakan bagian/komponen Pondok Pesantren yang merupakan lembaga pendidikan Islam. Maka dua ciri itulah yang mewarnai Madrasah Aliyah Ali Maksum baik secara struktural maupun kultural (kelembagaan maupun tradisi keilmuan).

Berdasarkan Keputusan menteri Agama RI nomor 373 tahun 1993 tanggal 22 Desember 1993, kurikulum yang digunakan untuk Madrasah Aliyah adalah kurikulum tahun 1994, maka Madrasah Aliyah menggunakan kurikulum itu adalah suatu keharusan formalitas lembaga pendidikan formal dibawah naungan Departemen Agama.

Pada pelaksanaannya Madrasah Aliyah Ali Maksum menerapkan kurikulum 1994 dan memberikan beberapa tambahan materi tentang ajaran Islam dengan memberi tambahan bidang studi dan pendalaman materi dengan rujukan Kitab Kuning, buku-buku cetakan Pondok Pesantren Modern Gontor dan cetakan Pondok Pesantren Krapyak. Dalam hal ini cara yang digunakan adalah menambah jam pelajaran dan mengembangkan Kurikulum Departemen Agama dengan Kurikulum Pesantren dalam satu jam pelajaran.

Adapun tehnik pengembangannya adalah sebagai berikut: susunan Program Pendidikan Agama Islam yang tercantum dalam kurikulum Departemen Agama adalah :

1.      Al-qur’an Hadits

2.      Fiqh

3.      Aqidah Akhlak dan

4.      Bahasa Arab

Kemudian dikembangkan dengan program Pendidikan Agama Islam pada kurikulum Pesantren yaitu:

1.      Hadits

2.      Mustholahul Hadits

3.      Fiqh

4.      Aqidah

5.      Bahasa Arab

6.      Nahwu Shorof

7.      Insya

8.      Mutholaah

9.      Ushul Fiqh

10.  Balaghoh

11.  Tarbiyah

12.  Mahfudzot

13.  Tafsir/Ilmu Tafsir

Sehingga pengembangan dua kurikulum tersebut menjadi :

1.      Alqur’an Hadits dikembangkan dengan:

a.       Tafsir/Ilmu Tafsir

b.      Hadits

c.       Mustholahul Hadits

2.      Fiqh dikembangkan menjadi:

a.       Fiqh (kajian Bidayatul Muftahid)

b.      Ushul Fiqh

3.      Aqidah Akhlak dikembangkan menjadi:

a.       Aqidah

b.      Addinul Islami

4.      Bahasa Arab dikembangkan menjadi:

a.       Bahasa Arab

b.      Nahwu/Shorof

c.       Insya

d.      Mutholaah

e.       Balaghoh

Kemudian ditambah dengan pelajaran pesantren:

1.      Tarbiyah

2.      Mahfudzot

3.      Tarikh Islam[61]

Maksud hal tersebut adalah diatas adalah untuk mencapai untuk mencapai tujuan formal madrasah, yaitu mendidik peserta didik menjadi manusia seutuhnya yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebagai warga negara yang berpedoman Pancasila dan menyiapkan peserta didik yang akan melanjutkan kejenjang perguruan tinggi umum/agama, serta yang akan terjun kedunia kerja. Juga untuk mencapai cita-cita Pondok Pesantren Ali Maksum yakni mencetak kader muslim yang tangguh dan siap pakai.

Karena itu dalam pengorganisasian kurikulum Madrasah Aliyah Ali Maksum sesuai dengan kurikulum 1994, memilih bentuk keseluruhan. Bentuk ini mengutamakan tujuan yang hendak dicapai yakni: membentuk manusia dalam kepribadian yang bulat (integrated), harmonis dan segala perilakunya selaras dengan situasi dan kondisi yang dialami dalam kehidupannya.

Berdasarkan observasi, pengamatan dan pertimbangan kondisi Madrasah Aliyah Ali Maksum membuka 4 (empat) program pilihan yaitu Program MAK, Program Bahasa, Program IPA dan Program IPS.

Proses Pelaksanaan Program

Proses disini dimaksudkan sebagai kegiatan dari pelaksanaan proses pembelajaran, yakni bagaimana tujuan-tujuan belajar direalisasikan melalui modul. Proses pembelajaran perlu dilakukan dengan tenang dan menyenangkan, hal tersebut tentu saja menuntut aktivitas dan kreativitas guru dalam menciptakan lingkungan yang kondusif. Proses pembelajaran dikatakan efektif apabila seluruh peserta didik terlibat secara aktif, baik mental, fisik maupun sosialnya.

Oleh karena itu seiring dengan perkembangan pendidikan, tuntutan adanya materi yang sesuai dengan zamannya menjadi relevan termasuk tuntutan terhadap metode pengajaran, media dan evaluasi sebagai bahan dari proses pelaksanaan kurikulum. Menurut Fajar S. sebaiknya guru harus mempunyai kompetensi untuk mengajar sehingga dalam mengajar hasilnya dapat menyentuh ke aspek psikososial dan penalaran moral. Khusus untuk materi yang menyangkut terhadap perubahan perilaku pendidikan nilai dan dalam pengajarannya diwujudkan dalam kegiatan yang terprogram dan nyata.[62]

Wujud dari program yang nyata tersebut dapat dilihat dari bagaimana cara pelaksanaan materi-materi kurikulum di Madrasah Aliyah Ali Maksum. Pelaksanaan materi tersebut menggunakan beberapa metode, media dan evaluasi.

a.       Metode

Metode mengajar merupakan proses penyampaian materi dari guru kepada murid didalam kelas ataupun diluar kelas. Adapun beberapa metode yang digunakan oleh para guru di Madrasah Aliyah Ali Maksum antara lain:

1)      Metode ceramah

Yaitu metode penuturan secara lisan. Metode ini tidak senantiasa jelek bila dipersiapkan dengan cara baik seperti sebelum mengajar guru harus mengucapkan salam, berdo’a, tanya jawab, mengulang materi sebelumnya dan menyimpulkan.

2)      Metode diskusi

Yaitu metode yang sering digunakan untuk tukar menukar informasi sehingga didapatkan kesepakatan bersama, metode ini berfungsi untuk memecahkan permasalahan (problem solving) dengan cara menghargai pendapat orang lain, menambah kreatifitas siswa dalam berfikir ataupun dalam mengambil keputusan.

3)      Metode tugas belajar

Metode ini berfungsi untuk merangsang anak untuk aktif belajar baik secara individu ataupun kelompok.

4)      Metode active learning

Yaitu metode yang menuntut siswa ataupun guru untuk sama-sama aktif dalam belajar.[63]

b.      Media

Untuk dapat menerapkan media yang efektif, maka kehadiran dan kelengkapan fasilitas sekolah menjadi suatu keharusan. Pengelolaan dan pendayagunaan media menjadi suatu keputusan bagi seorang guru. Sedangkan dalam proses belajar mengajar para guru di Madrasah Aliyah Ali Maksum menggunakan media yang ada, walaupun sangat sederhana seperti yang telah ditegaskan oleh Bp. Juyamto dalam wawancaranya pada tanggal 22 Mei 2004, beliau mengatakan bahwa fasilitas, sarana prasarana di Madrasah Aliyah Ali Maksum yang masih sederhana harus digunakan dengan seoptimal mungkin.

Dengan penguasaan guru atas media, kemampuan merancang dan mengembangkan media akan meningkatkan adanya dinamika baru dalam kegiatan belajar mengajar.[64]

c.       Evaluasi

Evaluasi kurikulum merupakan kegiatan yang sangat luas tidak hanya berkaitan dengan hasil belajar siswa tapi juga menyangkut aspek kurikulum sendiri,kemampuan dan karya guru, kemajuan siswa, sarana prasarana, manajemen sekolah (administrasi) dan lain-lain. Evaluasi dapat dikategorikan secara khusus dan umum. Untuk evaluasi secara umum yang dilaksanakan antara lain:

1)      Pertemuan antar pimpinan pondok yang membahas pelaksanaan kurikulum, kedisiplinan, peran guru (tugas-tugasnya), karyawan,kenakalan siswa, penerimaan siswa baru, SPP dan lain-lain.

2)      Pertemuan direktur, dan kepala-kepala Madrasah yang membahas pelaksanaan proses belajar mengajar, meningkatkan profesionalitas guru, meningkatkan, memperbaiki dan mempertahankan prestasi siswa.

3)      Pertemuan guru-guru yang membahas tentang laporann hasil belajar, kenakalan siswa, prestasi siswa dan keseluruhan dari proses pembelajaran.

Dengan evaluasi seperti diatas dapat menumbuhkan rasa persaudaraan antar guru, karyawan, pimpinan dan direktur, sehingga dengan adanya pertemuan-pertemuan ini menjadi pertemuan silaturahmi yang semakin erat.[65]

Sedangkan untuk evaluasi secara khusus dapat dilihat dari hasil pelaksanaan materi pelajaran dikalas. Untuk menilai hasil belajar siswa dapat digunakan dengan sistem semester mulai tahun ajaran 2002/2003, tapi sebelum ujian semester (tertulis) dimulai terlebih dahulu diadakan ujian lesan untuk mengetahui kemampuan dan pengusaan siswa terhadap materi. Keahlian dan kecakapan membuat soal merupakan suatu persyaratan yang mutlak bagi seorang guru, dengan soal yang baik dan tepat akan diperoleh gambaran prestasi seorang siswa, adapun penyusunan soal tes menggunakan:

1)      Tes esai, yaitu siswa diminta menjawab pertanyaan dengan uraian dan penjelasan dengan menggunakan kata atau kalimat sendiri. Pembuatan soal seperti ini dapat menilai proses mental yang tinggi terutama dalam hal kesanggupan menyusun jawaban, berekspresi, menggunakan bahasa, dan kreatifitas siswa dalam berfikir untuk memecahkan soal/permasalahan.

2)      Tes obyektif, dalam soal ini siswa harus memilih salah satu alternatif yang dikehendaki oleh guru, soal seperti ini hanya digunakan untuk soal-soal materi umum, siswa tinggal memilih jawaban yang telah tersedia.

Evaluasi dalam pembelajaran sangatlah penting karena untuk mengukur kemampuan terhadap pencapaian materi dan prestasi belajar siswa selama proses belajar mengajar. Untuk evaluasi tahap akhir (EBTA) untuk Madrasah Aliyah tidak digunakan karena materi-materi Depag telah menjadi bagian dari materi-materi lokal (pondok) sehingga proses EBTA menggunakan ujian murni dari pondok pesatren Ali Maksum. Sedangkan untuk EBTANAS mulai tahun ajaran 2002/2003 telah ditiadakan dalam SK No. 11/V/2002.[66]

Langkah-langkah Guru di Madrasah Aliyah Ali Maksum

Guru merupakan faktor penting yang besar pengaruhnya terhadap keberhasilan pendidikan, bahkan sangat menentukan berhasil tidaknya peserta didik dalam belajar.

Adapun langkah-langkah yang ditempuh guru Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum adalah sebagai berikut:

a.       Membuat program semester

b.      Membuat program tahunan

c.       Rapat antar guru

d.      Membuat ringkasan materi

e.       Menentukan/membuat LKS, Modul (pada mata pelajaran tertentu), Menentukan buku pokok/acuan bagi siswa.[67]

Kegiatan Intra Kurikuler

Kegiatan intra kurikuler merupakan pelaksanaan kegiatan belajar yang dilakukan dengan cara tatap muka didalam kelas dengan berdasarkan pada alokasi waktu yang telah ditetapkan. Yang harus diketahui adalah bahwa sebelum melaksanakan proses belajar-mengajar seorang guru harus memahami isi kurikulum dan membuat persiapan program pengajaran.

Proses kegiatan belajar-mengajar dilakukan oleh guru dengan langkah-langkah sebagai berikut:

Langkah Pendahuluan

Kegiatan pendahuluan merupakan tahap pra instruksional yaitu yang ditempuh guru pada saat memulai proses belajar-mengajar. Dalam kegiatan pendahuluan ini, guru memberikan motivasi, apersepsi serta mengadakan test awal (pra test).

Berdasarkan hasil wawancara, dalam kegiatan pendahuluan ini, ada beberapa kegiatan yang dilakukan baik oleh guru atau oleh siswa, antara lain:

1)      Guru menanyakan kehadiran dan mencatatnya

2)      Bertanya kepada siswa sampai dimana pembahasan pelajaran sebelumnya

3)      Mengajukan pertanyaan kepada siswa tentang bahan pelajaran yang sudah diberikan sebelumnya

4)      Memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya tentang bahan yang belum dikuasainya

5)      Mengulang kembali bahan yang lalu dengan singkat.[68]

Kegiatan Inti

Kegiatan ini merupakan tahap instruksional atau pengajaran yakni tahap memberikan bahan pelajaran yang disusun guru sebelumnya. Dalam kegiatan inti ini guru menjelaskan tujuan yang ingin dicapai, menjelaskan bahan pelajaran dengan menggunakan metode mengajar yang tepat, sumber belajar dan sarana belajar, memberi latihan, membantu pemahaman siswa dan memberikan bimbingan untuk perbaikan serta pengawasan.

Kegiatan Penutup

      Kegiatan penutup merupakan kegiatan evaluasi atau penilaian dan tindak lanjut dari pelaksanaan program pengajaran dan penyampaian materi. Tujuan dari kegiatan inti ini adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari tahapan kedua (kegiatan inti). Dalam kegiatan penutup ini langkah yang ditempuh oleh guru adalah:

1)      Membuat resume pelajaran yang baru disampaikan

2)      Mengajukan pertanyaan (mengadakan post test)

3)      Memberikan tugas rumah dan kokurikuler

4)      Memberi informasi tentang materi/bahan pelajaran yang akan dibahas pada pelajaran berikutnya.[69]

      Untuk mengatasi proses pembelajaran atau proses belajar mengajar yang dianggap tidak berhasil, biasanya para guru mengadakan pengulangan kembali materi yang belum dikuasai dengan menempuh tiga cara, yaitu:

Guru menjelaskan sendiri materi atau menyuruh siswa yang sudah dianggap menguasai untuk menjelaskan kegiatan yang sudah terjadwal.

Mengadakan diskusi kelompok, membahas materi yang belum  dikuasai.

Memberikan tugas pekerjaan rumah yang berhubungan dengan pokok materi yang belum dikuasai melalui kegiatan mandiri.[70]

         Ketiga rangkaian kegiatan yang telah dibahas diatas merupakan suatu rangkaian kegiatan yang terpadu dan tidak terpisahkan satu sama lain. Seorang guru dituntut untuk dapat mengatur waktu dan kegiatan secara fleksibel, sehingga ketiga rangkaian kegiatan tersebut dapat diterima siswa secara utuh.

Kegiatan Ekstra Kurikuler

Kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan yang diselenggarakan diluar jam pelajaran yang tercantum dalam susunan program sesuai dengan kebutuhan sekolah. Kegiatan ekstra kurikuler ini dapat dilakukan disekolah maupun diluar sekolah dengan tujuan agar siswa dapat memperluas wawasan atau kemampuan peningkatan dan penerapan nilai pengetahuan dan kemampuan yang telah dipelajari dari berbagai mata pelajaran.

Adapun bentuk kegiatan ekstrakurikuler di Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta adalah:

Perpustakaan

Perpustakaan sebagai tempat pengembangan ilmu pengetahuan perlu dilembagakan secara formal. Tujuannya karena untuk meningkatkan kualitas kemampuan siswa terhadap ilmu pengetahuan.

Madrasah Aliyah Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta telah mempunyai perpustakaan sendiri. Diperpustakaan tersebut tersedia beberapa buku pengetahuan umum, buku-buku agama, kitab-kitab yang berbahasa Arab (kitab kuning) sebagai literature para siswa, dan buku pegangan guru. Penempatan buku dan pelayanan peminjaman ditempatkan di Gedung Serbaguna (lingkungan perkotaan) lantai II.

Laboratorium

Laboratorium ini adalah laboratorium dasar untuk IPA (fisika, kimia dan biologi). Laboratorium ini dibangun dalam rangka meningkatkan keberhasilan siswa terutama dalam bidang IPA.

Peralatannya sudah cukup memadai untuk praktikum IPA. Praktikumnya langsung dibawah bimbingan guru yang mengasuh pelajaran IPA. Sedangkan waktu praktikumnya biasanya diselenggarakan sesudah kegiatan jam belajar atau diberikan pada jam-jam pelajaran (ketrampilan).

Komputerisasi

Untuk menunjang keberhasilan siswa dalam bidang ketrampilan, Madrasah Aliyah Ali Maksum menyediakan 10 unit komputer. Ketrampilan dalam bidang komputer ini dilembagakan dalam bentuk kursus. Melalui lembaga komputerisasi ini seluruh siswa diharapkan terampil mengoperasikan komputer, minimal program Windows.

Pencak Silat LPSNU Pagar Nusa

Pencak Silat LPSNU Pagar Nusa adalah salah satu cabang olah raga bela diri yang didirikan oleh para pendekar Nahdlatul Ulama (NU) yang biasa dilakukan dipondok-pondok pesantren baik di Jawa maupun di luar Jawa.

Hingga sekarang anggota pencak silat ini, khususnya di Madrasah Aliyah Ali Maksum, tiap tahunnya mencapai 50 orang dengan dilatih oleh para pendekar senior. Tujuan diselenggarakannya olah raga pencak silat LPSNU Pagar Nusa adalah untuk mengembangkan bakat, minat dan kemampuan siswa dalam cabang olah raga bela diri.

Seni Baca Al-Qur’an (Qira’ah)

Qira’ah adalah salah satu bentuk kesenian/ketrampilan yang sudah biasa dijalani dan dilakukan oleh para santri dimanapun berada. Tujuan utama diadakannya ekstrakurikuler seni baca Al-Qur’an di Madrasah Aliyah Ali Maksum adalah untuk mengembangkan bakat dan minat siswa dalam cabang olah vokal seni baca Al-Qur’an. Melalui kegiatan ini diharapkan siswa semakin mencintai kitab suci Al-Qur’an.

Seni Hadrah dan Seni Samrah

Seni hadrah dan seni Samrah adalah salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan di Madrasah Aliyah Ali Maksum dengan tujuan untuk mengembangkan bakat dan minat siswa dalam bidang seni musik yang bernuansa Islam.

Palang Merah Remaja (PMR)

Tujuan diselenggarakannya kegiatan Palang Merah Remaja (PMR) ini adalah untuk membina dan melatih para siswa dalam memberi pertolongan pertama pada kecelakaan. Setiap tahunnya diadakan pelatihan kepada anggota baru baru yang pelatihnya diambilkan dari para instruktur kabupaten dan kadang juga dari instruktur propinsi.

Kelompok Ilmiah Remaja (KIR)

KIR adalah salah satu kegiatan kelompok ilmiah yang tujuannya untuk meningkatkan kualitas berfikir dan keilmuan siswa, sekaligus membina kemampuan menulis, meneliti, dan membuat laporan serta mempresentasikannya.

Patroli Keamanan Sekolah (PKS)

Kegiatan ekstrakurikuler yang banyak manfaatnya bagi para siswa adalah Patroli Keamanan Sekolah (PKS). Kegiatan PKS ini dimaksudkan untuk melatih siswa agar mampu lebih berdisiplin diri dan membantu tugas-tugas kemadrasahan mendisiplinkan orang lain.

Seni Kaligrafi

Tujuan seni kaligrafi bagi para siswa adalah untuk melatih dan memberi ketrampilan seni penulis Aran secara benar dan indah.

Jurnalistik

Kegiatan jurnalistik diselenggarakan dengan tujuan melatih dan mengembangkan bakat siswa dalam bidang tulis-menulis. Jika mampu, maka para siswa dapat menyalurkannya dalam tulis-menulis dimajalah dinding milik Madrasah Aliyah yaitu majalah An Nasyath dan majalah Khoirul Ummah.

 

Seni Drama/Teater

Kegiatan seni drama/teater dimaksudkan untuk membina dan mengembangakan ketrampilan siswa dalam bidang seni drama, olah raga jiwa, mengekspresikan dirinya guna mendekatkan diri dengan Allah SWT.

Tata Boga dan Tata Busana

Kegiatan Tata Boga dan Tata Busana dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan ketrampilan siswa dalam bidang masak-memasak dan merangkai bunga, serta menata busana dengan baik, benar dan sopan-Islami, juga menarik.

Pelatihan Kepemimpinan/Keorganisasian

Kegiatan Pelatihan Kepemimpinan atau Keorganisasian ini diselenggarakan sekali setahun. Tujuan pelatihan untuk membina dan memupuk jiwa ketrampilan dan kepemimpinan siswa dalam menghadapi kepemimpinan dimasa mendatang.[71]

 

Kurikulum 2004

Materi Pelajaran

Madrasah Aliyah adalah lembaga lanjutan bagi program pendidikan sebelumnya. Dalam perkembangannya Madrasah Aliyah memiliki program Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) maupun Madrasah Aliyah Umum (MAU), dengan maksud untuk menyiapkan santri agar mampu mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi, yang dijiwai akhlak al-karimah dan landasan ajaran Islam.

Madrasah Aliyah juga membuka Kelas Persiapan (al-Qism al-I’dady) untuk satu tahun pelajaran. Kelas ini bermaksud untuk menampung santri-santri yang dapat diterima langsung dikelas I Madrasah Aliyah.

Pada hakekatnya antara kurikulum 1994 dan kurikulum 2004 sama, akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya sekolah diberi keleluasaan untuk menyusun dan mengembangkan silabus mata pelajaran sehingga dapat mengakomodasi potensi sekolah, kebutuhan dan kemampuan peserta didik, serta kebutuhan masyarakat sekitar sekolah.[72]

Berikut merupakan daftar materi pelajaran mulai kelas persiapan (I’dad), kelas I, kelas II dan kelas III. Tahun pelajaran 2003/2004.

Tabel : I [73]

Kurikulum Madrasah Aliyah Ali Maksum

Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta

 

*Kurikulum MA Ali Maksum Kelas I’dad

No

Mata Pelajaran

Alokasi

1.

Pendidikan Umum

1.1

Matematika

4

1.2

Bahasa Inggris

4

1.3

Pendidikan Jasmani-Kesehatan

2

2.

Kurikulum Kepesantrenan

2.1

Bahasa Arab

4

2.2

Nahwu I

6

2.3

Shorof

8

2.4

Aqidah

4

No

Mata Pelajaran

Alokasi

2.5

Akhlak

2

2.6

Fiqh

4

2.7

Tarekh

2

2.8

Tajwid

4

2.9

Tafsir

2

2.10

Hadits

2

2.11

Mumarosah

4

2.12

Khat dan Imla’

2

2.13

Nahwu II/Matn al-Jurumiya*)

4

2.14

Ketrampilan Agama*)

2

 

 

60

          *) Ekstrakurikuler

Tabel : II

*Kurikulum MAK

No

II.    Mata Pelajaran

I

II

III

1.

Kurikulum Pendidikan Nasional (Diknas)

1.1

PPKn

2

2

2

1.2

Bahasa dan Sastra Indonesia

2

2

2

1.3

Matematika

4

4

4

1.4

Bahasa Inggris

4

4

4

1.5

Penjaskes

2

2

2

1.6

Sejarah Nasional dan Umum

2

2

-

1.7

Pendidikan Seni

2

2

-

1.8

Sosiologi-Antropologi

-

-

2

2.

Kurikulum Departemen Agama (Depag)

2.1

Aqidah Akhlaq

2

2

2

2.2

Fiqh

4

4

4

2.3

Bahasa Arab

4

4

4

2.4

Sejarah Kebudayaan Islam

2

2

2

2.5

Al-Qur’an-Al-Hadits

4

4

4

2.6

Ilmu Tafsir

4

4

4

2.7

Ilmu Hadits

4

4

4

2.8

Ushul Fiqh

4

2

4

3.

Kurikulum Kepesantrenan

3.1

Nahwu

4

4

4

3.2

Shorof

2

2

2

3.3

Nahwu II (Alfiyah ibn Malik)

2

2

2

3.4

Tarikh Tasyri’ al-Islamy

2

2

2

No

III. Mata Pelajaran

I

II

III

3.5

Qowaid al-Fiqh

2

2

2

3.6

Balaghoh

2

2

-

3.7

Ilmu Faroid

-

2

-

3.8

Ketrampilan Agama*)

-

-

2

 

 

60

60

60

            *) Ekstrakurikuler

 

Tabel : III

*Kurikulum MAU

No

Mata Pelajaran

I

II

III IPS

III IPA

1.

Kurikulum Pendidikan Nasional (Diknas)

1.1

PPKn

2

2

2

2

1.2

Bahasa dan Sastra Indonesia

4

4

4

4

1.3

Matematika

4

6

4

6

1.4

Sejarah Nasional dan Umum

2

2

2

2

1.5

Bahasa Inggris

4

4

4

4

1.6

Penjaskes

2

2

2

2

1.7

Ekonomi

4

2

8

-

1.8

Fisika

4

4

-

6

1.9

Biologi

4

4

-

4

1.10

Kimia

4

4

-

6

1.11

Geografi

2

2

-

-

1.12

Pendidikan Seni

2

-

-

-

1.13

Sosiologi

-

2

4

-

1.14

Antropologi

-

-

4

-

1.15

Tata Negara

-

-

4

-

2.

Kurikulum Departemen Agama (Depag)

2.1

Al-Qur’an-Al-Hadits

2

2

2

2

2.2

Fiqh

4

2

2

2

2.3

Bahasa Arab

4

4

2

2

2.4

Aqidah Akhlaq

2

2

-

-

2.5

Sejarah Kebudayaan Islam

-

-

4

-

3.

Kurikulum Kepesantrenan

3.1

Nahwu

4

4

2

2

3.2

Shorof

2

2

-

-

3.3

Qowaid al-Fiqh

2

2

-

-

3.4

Ulum al-Qur’an al-Hadits

-

2

2

2

3.5

Ushul al-Fiqh

-

-

2

2

3.6

Ilmu Faroid

-

-

2

2

No

IV. Mata Pelajaran

I

II

III IPS

III IPA

3.7

Mumarosah

2

2

2

2

3.8

Qiroatul Kutub*)

-

-

2

2

3.9

Ketrampilan Agama*)

-

-

2

2

 

 

60

60

60

60

            *) Ekstrakurikuler

            Kurikulum yang diterapkan di Madrasah Aliyah Ali Maksum yaitu kurikulum yang berbasis kompetensi. Sehingga dalam kebijakannya diputuskan, bahwa dalam pengetarapan kurikulum di Madrasah Aliyah menerapkan pola 100% kurikulum Departemen Agama (Depag RI), dan 100% kurikulum kepesantrenan.

Proses dan Strategi Pelaksanaan Program

Proses disini dimaksudkan sebagai kegiatan dari pelaksanaan proses pembelajaran, yakni bagaimana tujuan-tujuan belajar direalisasikan melalui modul. Proses pembelajaran perlu dilakukan dengan tenang dan menyenangkan, hal tersebut tentu saja menuntut aktivitas dan kreativitas guru dalam menciptakan lingkungan yang kondusif. Proses pembelajaran dikatakan efektif apabila seluruh peserta didik terlibat secara aktif, baik mental, fisik maupun sosialnya.

Proses pembelajaran, dewasa ini masih terdapat kecenderungan bersifat memaksakan target bahan ajar, bukan pada pencapaian dan penguasaan kompetensi. Menurut Husni Rahim (Republika, 18/2000): “Penyampaian materi akhlak disekolah oleh guru diberikan kepada siswa sebatas teori”. Padahal materi akhlak sarat dengan muatan nilai-nilai yang perlu menampilkan figur atau keteladanan. Dengan demikian guru harus mengubah paradigma (pandangan) tentang proses pembelajaran yang hanya terfokus pada aspek kognitif (pencapaian target bahan ajar) yang bersifat hafalan, ceramah dan sejenisnya yang selama itu dilakukan, dengan pendekatan yang lebih menyeluruh menyentuh aspek emosional (afektif) dan psikomotor.[74]

Sedangkan yang dimaksud dengan strategi dalam kurikulum adalah pendekatan dan metode serta peralatan mengajar yang digunakan dalam pengajaran, penilaian, serta bimbingan dalam mengatur kegiatan.[75] Pendekatan dalam pengajaran dapat dibedakan menjadi pendekatan materi, tujuan dan proses. Pendekatan materi merupakan pendekatan konvensional. Pada pendekatan ini keberhasilan belajar diukur dari selesai tidaknya pembahasan terhadap materi yang telah diprogramkan. Pendekatan tujuan memandang keberhasilan kegiatan belajar cukup diukur dengan tercapai tidaknya tujuan yang telah ditetapkan. Sedangkan pada pendekatan proses beranggapan bahwa kegiatan belajar-mengajar hendaklah memperhatikan proses dengan memperoleh hasil belajar dan menolak hasil perolehan tersebut.[76]

Kualitas pembelajaran dapat dilihat dari segi proses dan dari segi hasil. Dari segi proses, pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruh atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) peserta didik terlibat secara aktif, baik fisik, mental, maupun sosial dalam proses pembelajaran, disamping menunjukkan kegairahan belajar yang tinggi, semangat belajar yang besar, dan rasa percaya pada diri sendiri. Sedangkan dari segi hasil, proses pembelajaran dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan perilaku yang positif pada diri peserta didik seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%). Lebih lanjut proses pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila masukan merata, menghasilkan output yang banyak dan bermutu tinggi, serta sesuai dengan kebutuhan, perkembangan masyarakat dan pembangunan.[77]

Langkah-langkah Guru di Madrasah Aliyah

Guru merupakan faktor penting yang besar pengaruhnya terhadap keberhasilan implementasi KBK, bahkan sangat menentukan berhasil- tidaknya peserta didik dalam belajar.

Beberapa hal yang harus dipahami guru dari peserta didik, antara lain: kemampuan, potensi, minat, hoby, sikap, kepribadian, kebiasaan, catatan kesehatan, latar belakang keluarga, dan kegiatannya disekolah. Agar implementasi KBK berhasil memperhatikan perbedaan individual, maka guru perlu memperhatikan hal-hal berikut: (1) mengurangi metode ceramah, (2) memberikan tugas yang berbeda bagi bagi setiap peserta didik, (3) mengelompokkan peserta didik berdasarkan kemampuannya, serta disesuaikan dengan mata pelajaran, (4) bahan harus dimodifikasi dan diperkaya, (5) jangan ragu untuk berhubungan dengan specialist, bila ada peserta didik yang mempunyai kelainan, (6) gunakan prosedur yang bervariasidalam membuat penilaian dan membuat laporan, (7) ingat bahwa peserta didik tidak berkembang dalam kecepatan yang sama, (8) usahakan mengembangkan situasi belajar yang memungkinkan setiap anak bekerja dengan kemampuannya masing-masing pada tiap pelajaran, dan (9) usahakan untuk melibatkan peserta didik dalam berbagai kegiatan.[78]

Adapun langkah-langkah yang ditempuh guru Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum adalah sebagai berikut:

a.       Membuat program semester

b.      Membuat program tahunan

c.       Rapat antar guru

d.      Membuat ringkasan materi

e.       Menentukan/membuat LKS, Modul (pada mata pelajaran tertentu), Menentukan buku pokok/acuan bagi siswa.

Dan dalam mengoptimalkan perkembangan siswa, ada tiga langkah yang harus ditempuh yaitu:

a.       Mendiagnosis kemampuan dan perkembangan siswa

b.      Memilih cara pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa

c.       Kegiatan pembimbingan[79]

Adapun jumlah guru (Tenaga Pengajar) di Madrasah Aliyah Ali Maksum pada tahun pelajaran 2002/2003 sebanyak 76 orang yang perincian pertahunnya sebagaimana ada dalam tabel. Dari jumlah guru (Tenaga Pengajar) tersebut ada tiga orang guru tetap (guru negeri yang diperbantukan), dan 73 orang guru tidak tetap. Sedangkan dilihat dari jenjang pendidikannya terdapat 66 orang alumni perguruan tinggi (99%) baik Strata 1 maupun Strata 2 (baik dari dalam maupun luar negeri), dan dalam 5 orang guru dari alumni Aliyah dan selebihnya adalah dari Pondok Pesantren sendiri, sedangkan pada tahun ajaran 2003/2004 jumlah guru berkurang menjadi 71 orang.

Tabel : IV [80]

Keadaan Guru Madrasah Aliyah Ali Maksum

Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta

No

Pertahun Pelajaran

Jenis

Jumlah

Laki-laki

Perempuan

01

02

03

04

05

06

07

08

09

10

11

12

13

14

1990/1991

1991/1992

1992/1993

1993/1994

1994/1995

1995/1996

1996/1997

1997/1998

1998/1999

1999/2000

2000/2001

2001/2002

2002/2003

2003/2004

35

38

46

44

47

48

55

65

57

58

57

56

58

43

6

8

10

7

9

15

15

12

17

14

12

16

17

28

41

46

56

51

56

63

70

77

74

72

69

72

76

71

 

Kegiatan Intra Kurikuler

Proses Belajar Mengajar

Proses belajar dilaksanakan dalam rangka memberi kesempatan kepada siswa memperoleh pengalaman belajar. Proses belajar mengajar itu diselenggarakan bergantung kepada jenis kurikulum yang dipakai. Kurikulum yang berpusat pada mata pelajaran mempunyai perbedaan dengan yang berpusat pada pengalaman atau fungsi kehidupan.

Pada kurikulum yang berpusat pada mata pelajaran proses belajar-mengajar dilaksanakan sekitar penguasaan siswa terhadap bahan pelajaran. Prosesnya dapat beraneka ragam, dari mulai yang sederhana dengan menggunakan ceramah sampai kepada yang kompleks seperti dengan metode penemuan.[81]

Mulai Tahun Pelajaran 2002/2003, sistem yang digunakan dalam proses belajar-mengajar di Madrasah Aliyah Ali Maksum adalah dengan menggunakan sistem Semester. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan daya serap siswa dan keberhasilan usaha komulatif dalam mata pelajaran pendidikan, lebih khusus bagi para pengajar.

Dalam penyelenggaraan proses belajar-mengajar, Madrasah Aliyah Ali Maksum didukung oleh fasilitas-fasilitas antara lain: laboraturium IPA, komputer, perpustakaan, bimbingan dan penyuluhan, dan ruang kelas putra-putri yang terpisah.

Metode

Berbicara mengenai metode tidak akan terlepas dari keahlian seorang guru, karena guru adalah salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan. Para pakar menyatakan bahwa, betapapun bagusnya sebuah kurikulum (official, hasilnya sangat bergantung pada apa yang dilakukan guru didalam maupun diluar kelas (actual).[82]

Dalam proses belajar-mengajar guru-guru Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum menggunakan metode antara lain; metode ceramah, metode tanya jawab, metode diskusi dengan menggunakan audio visual, penugasan dan lain sebagainya.[83]

Alat/Sarana/Fasilitas

Dalam rangka menyelenggarakan pendidikan, lembaga pendidikan formal seperti Madrasah Aliyah memerlukan fasilitas yang cukup memadai dalam menjalankan fungsinya. Fasilitas dan sarana yang ada, baik fisik maupun non fisik mempunyai peranan penting dalam mencapai keberhasilan proses belajar-mengajar. Oleh karena itu suatu lembaga pendidikan yang baik dan yang mampu memenuhi harapan untuk mencapai tujuan pendidikan adalah bagaimana memenuhi fasilitas-fasilitas yang diperlukan, sehingga dengan demikian anak didik dapat belajar dengan baik.

Fasilitas-fasilitas berupa fisik yang diperlukan dalam pendidikan meliputi sarana pergedungan (24 Kelas) dan perlengkapannya, laboraturium, perpustakaan, sarana perkantoran, sarana olah raga, kesenian, sarana-sarana ketrampilan juga sarana-sarana pendukung lainnya.

Sedangkan fasilitas non fisik yang diperlukan meliputi suara tenang, gembira dan rasa aman serta rasa sejuk. Diantara sekian banyak fasilitas yang terpenting adalah fasilitas gedung atau ruangan kelas.

Disamping fasilitas pokok, ada fasilitas penunjang lainnya yang harus dipenuhi yaitu, buku-buku tambahan bantuan dari Depag RI Pusat, LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab), buku terbitan dari kalangan sendiri yang disusun oleh para guru senior Pondok Pesantren Krapyak maupun buku-buku dari penerbit lain yang dipandang dapat memacu keberhasilan siswa.

Gedung Madrasah atau ruangan kelas merupakan sarana yang paling penting dalam kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu selalu diupayakan bagaimana agar anak didik dapat belajar dengan tenang dan bisa menguasai serta menerima apa yang disampaikan oleh guru melalui pemenuhan sarana fisik (gedung).

1)      Fasilitas Gedung

Secara umum kondisi pergedungan di Madrasah Aliyah Ali Maksum cukup memadai, karena gedung tersebut milik sendiri. Gedung yang dimiliki adalah berlantai satu, dua dan empat. Semua digunakan untuk sarana belajar mengajar dan sarana perkantoran.

Gedung Madrasah Aliyah Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta yang dipakai untuk kegiatan belajar mengajar ada dalam empat lokasi. Gedung (sarana belajar) khusus putri yang berada di Komplek Diniyah (sebelah barat jalan K.H. Ali Maksum) yang terdiri atas 9 lokal, dan komplek Ibu Noto yang terdiri dari 4 lokal.

Sedangkan khusus untuk putra ada tiga tempat yaitu, di lingkungan Masjid Krapyak dan lingkungan perkantoran yang terdiri atas 11 lokal.

Sedangkan gedung untuk perkantoran meliputi ruang Kepala Madrasah, ruang tamu, ruang TU, perpustakaan, laboraturium bahasa (menurut rencana) dan ruang khusus untuk cetak stensil dan gedung penyimpanan.

2)      Peralatan Meubelar

Fasilitas meubelar adalah seperangkat alat-alat perlengkapan kantor seperti meja, kursi, mesin ketik, komputer dan sebagainya. Adapun perlengkapan meubelar yang dimiliki oleh Madrasah Aliyah Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta sebagaimana dijelaskan pada bab sebelumnya.

Evaluasi

            Evaluasi dilakukan untuk mengukur sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan itu tercapai.[84] Sedangkan evaluasi hasil belajar adalah keseluruhan kegiatan pengukuran (pengumpulan data dan informasi), pengolahan, penafsiran dan pertimbangan untuk membuat keputusantentang tingkat hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar mengajar dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Hasil belajar menunjuk pada prestasi belajar, sedangkan prestasi belajar itu merupakan indikator adanya dan derajat perubahan tingkah laku siswa.[85]

Dilihat dari pelaksanaan dan tujuannya, evaluasi kurikulum dapat dibedakan kedalam dua macam, yaitu:

1)      Evaluasi formatif, yakni evaluasi yang dilaksanakan selama kurikulum itu digunakan dengan tujuan untuk menjadi dasar dalam perbaikan. Evaluasi ini dapat dilakukan terhadap pelaksanaan paket-paket program atau masing-masing mata pelajaran dari suatu kurikulum atau terhadap pelaksanaan kurikulum secara keseluruhan. Karena Madrasah Aliyah Ali Maksum sekarang menggunakan sistem semester, maka evaluasi dilakukan dua kali tiap semesternya.

2)      Evaluasi sumatif, yakni evaluasi yang dilakukan diakhir pelaksanaan suatu kurikulum.[86] Evaluasi hasil belajar dalam implementasi kurikulum berbasis kompetensi di Madrasah Aliyah Ali Maksum sekarang ini sama dengan sekolah-sekolah lainnya, dan dalam UAN kelas III juga telah menggunakan standar penilaian nasional yaitu dengan nilai kelulusan 4,01.

Kegiatan Ekstra Kurikuler

Kegiatan ekstrakurikuler ini bertujuan agar siswa lebih memperkaya dan memperluas wawasan, mendorong pembinaan nilai dan sikap, serta memungkinkan penerapan lebih lanjut pengetahuan yang telah dipelajari dari berbagai mata pelajaran dalam kurikulum, baik program inti maupun program khusus.

Adapun bentuk kegiatan ekstrakurikuler di Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta adalah:

Bidang Ilmiah

Karya Ilmiah  Remaja (KIR)

Bertujuan: meningkatkan kualitas keilmuan santri, sekaligus membina kemampuan menulis, meneliti, dan membuat laporan sekaligus mempresentasikan.

Palang Merah Remaja (PMR)

Bertujuan: membina dan melatih santri dalam memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan.

Patroli Keamanan Sekolah (PKS)

Bertujuan: melatih santri agar mampu lebih mendisiplinkan diri dan mendisiplinkan orang lain.

Majalah Dinding

Bertujuan: melatih dan mengembangkan bakat santri dalam bidang tulis menulis.

 

Bulletin Siswa an-Nahdloh dan Khoirul Ummah

Bertujuan: melatih dan mengembangkan kreatifitas santri dalam bidang tulis menulis dengan mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi.

Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan

Bertujuan: membina dan memupuk jiwa kepemimpinan santri dalam kehidupan, dengan mencerminkan kepemimpinan yang islami.

Bidang Ketrampilan

Komputer

Bertujuan: mengenalkan komputer kepada santri, sekaligus mampu menggunakannya. Program yang dipelajari diantaranya WordStar, MS. Office, MS. Excel, dan Lotus. Untuk sementarakegiatan ini baru dapat diikuti oleh santri Madrasah Aliyah.

Tata Boga dan Tata Busana

Bertujuan: membina dan mengembangkan ketrampilan santri dalam bidang busana sesuai dengan perkembangan mode, masak memasak dan membuat kue, serta menyajikannya secara baik dan menarik.

Bidang Kesenian

Seni Baca al-Qur’an (Qiro’ah)

Bertujuan: mengembangkan bakat dan minat santri dalam olah vocal seni baca al-Qur’an. Melalui kegiatan ini diharapkan santri semakin mencintai Kitab Sucinya.

Seni Hadroh dan Qosidah

Bertujuan: mengembangkan bakat dan minat santri dalam bidang seni musik yang bernuansa keislaman.

Seni Kaligrafi

Bertujuan: melatih dan memberi ketrampilan seni menulis Arab secara benar dan indah.

Seni Drama

Bertujuan: membina dan mengembangkan ketrampilan santri dalam bidang olah jiwa dan mengekspresikan diri untuk lebih mendekatkan diri dengan Allah SWT.

Pencak Silat LPSNU Pagar Nusa

Bertujuan: mengembangkan bakat, minat, dan kemampuan santri dalam cabang olah raga bela diri.

Olahraga

Bertujuan: mengembangkan bakat dan minat santri dalam bidang olahraga. Untuk sementara cabang olahraga yang dikembangkan adalah sepak bola dan bola voli.

 

Perbedaan antara Kurikulum 1994 dengan Kurikulum 2004

Kurikulum berbasis kompetensi (KBK) lahir sebagai jawaban terhadap berbagai kritikan masyarakat terhadap kurikulum 1994, serta sesuai dengan perkembangan kebutuhan dan dunia kerja. Untuk lebih memantapkan pemahaman tentang inovasi kurikulum ini dirasakan perlu untuk mengkaji dan menganalisis beberapa hal mendasar yang membedakannya dengan kurikulum sebelumnya. Oleh karena itu, dari tulisan ini disajikan secara khusus bagaimana perbedaan Kurikulum 2004 dengan kurikulum 1994. Perbedaan tersebut adalah sebagai berikut:

Kurikulum 1994

Menggunakan pendekatan penguasaan ilmu pengetahuan, yang menekankan pada isi atau materi, berupa pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi yang diambil dari bidang-bidang ilmu pengetahuan.

Standar akademis yang diterapkan secara seragam bagi setiap peserta didik

Berbasis konten, sehingga peserta didik dipandang sebagai kertas putih yang perlu ditulis dengan sejumlah ilmu pengetahuan (transfer of knowledge).

Pengembangan kurikulum dilakukan secara sentralisasi, sehingga Depdiknas monopoli pengembangan ide dan konsepsi kurikulum.

Materi yang dikembangkan dan diajarkan di sekolah seringkali tidak sesuai dengan potensi sekolah, kebutuhan dan kemampuan peserta didik, serta kebutuhan masyarakat sekitar sekolah.

Guru merupakan kurikulum yang menentukan segala sesuatu yang terjadi didalam kelas.

Pengetahuan, ketrampilan, dan sikap dikembangkan melalui latihan, seperti latihan mengerjakan soal.

Pembelajaran cenderung hanya dilakukan didalam kelas, atau dibatasi oleh empat dinding kelas.

Evaluasi nasional yang tidak dapat menyentuh aspek-aspek kepribadian peserta didik.

Kurikulum 2004

Menggunakan pendekatan kompetensi yang menekankan pada pemahaman, kemampuan atau kompetensi tertentu disekolah, yang berkaitan dengan pekerjaan yang ada dimasyarakat.

Standar kompetensi yang memperhatikan perbedaan individu, baik kemampuan, kecepatan belajar, maupun konteks sosial budaya.

Berbasis kompetensi, sehingga peserta didik berada dalam proses perkembangan yang berkelanjutan dari seluruh aspek kepribadian, sebagai pemekaran terhadap potensi-potensi bawaan sesuai dengan kesempatan belajar yang ada dan diberikan oleh lingkungan.

Pengembangan kurikulum dilakukan secara desentralisasi, sehingga pemerintah dan masyarakat bersama-sama menentukan standar pendidikan yang dituangkan dalam masyarakat.

Sekolah diberi keleluasaan untuk menyusun dan mengembangkan silabus mata pelajaran sehingga dapat mengakomodasi potensi sekolah, kebutuhan dan kemampuan peserta didik, serta kebutuhan masyarakat sekitar sekolah.

Guru sebagai fasilitator yang bertugas mengkondisikan lingkungan untuk memberikan kemudahan belajar peserta didik.

Pengetahuan, ketrampilan, dan sikap dikembangkan berdasarkan pemahaman yang akan membentuk kompetensi individual.

Pembelajaran yang dilakukan mendorong terjalinnya kerja sama antara sekolah, masyarakat, dan dunia kerja dalam membentuk kompetensi peseta didik.

Evaluasi berbasis kelas, yang menekankan pada proses dan hasil belajar.[87]

Pada kurikulum baru dirancang dan dikembangkan dengan cermat dan penuh pertimbangan, dengan menekan sekecil mungkin kelemahan yang terdapat pada kurikulum sebelumnya, terutama pada beratnya beban pelajaran yang ditanggung oleh siswa Madrasah Aliyah Ali Maksum dan orientasinya yang menekankan pada target hasil belajar, bukan pada prosesnya.

Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Pengembangan Kurikulum

Dalam rangka mencapai tujuan pendidikan di Madrasah Aliyah Ali Maksum ini, maka pengembangan kurikulum selain didukung oleh proses belajar mengajar yang tepat dan baik juga didukung oleh beberapa faktor yaitu:

Faktor Pendukung

Faktor pendukung dalam pengembangan kurikulum di Madrasah Aliyah Ali Maksum diantaranya:

Sarana dan prasarana yang memadai

Tata tertib yang berlaku

Penyediaan asrama bagi siswa

Alokasi waktu yang tepat

Dana yang mencukupi

Lingkungan sekolah yang kondusif.

Faktor Penghambat

Sedangkan hambatan yang dialami dalam pengembangan kurikulum di Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum yaitu:

Kesulitan dalam pembuatan Program Satuan Pelajaran

Kesulitan guru dalam pembuatan Program Satuan Pelajaran. Disamping itu adanya beberapa pendidik yang kadangkala tidak masuk (17,3%) perlu mendapatkan perhatian tersendiri, sehingga hal tersebut tidak dijadikan suatu hal yang biasa, terkadang pendidik hadir didalam kelas namun kemudian hanya memberikan tugas mencatat kemudian keluar kembali. Jika hal ini dibiarkan tentunya akan mengganggu tercapainya tujuan pendidikan.

Sarana dan prasarana yang kurang memadai

Sarana dan pra sarana pengajaran di Madrasah Aliyah Ali Maksum tergolong pada kategori kurang lengkap. Hal ini perlu mendapat perhatian agar proses belajar mengajar dapat berjalan lancar.

Terbatasnya waktu yang tersedia

Waktu sangat dibutuhkan dalam proses belajar mengajar, khususnya pada pembaharuan kurikulum di Madrasah Aliyah Ali Maksum, dimana waktu yang diberikan sangat terbatas walaupun telah mengurangi beberapa jam pelajaran umum kedalam pelajaran khusus (keagamaan), namun masih dianggap kurang kurang memadai, hal ini terjadi karena materi materi pelajaran agama Islam yang harus dikuasai peserta didik terlalu banyak sementara pihak madrasah baru dapat memberikan alokasi waktu 1 atau 2 jam perminggu, sehingga mempersulit pendidik untuk membagi waktu tersebut.

Tingkat kemauan untuk belajar yang kurang

Tingkat kecerdasan yang berbeda-beda.

Terlalu banyak materi pelajaran yang ditempuh

Kegiatan Ekstra Kurikuler

Banyaknya kegiatan ekstra kurikuler didalam/diluar madrasah yang ditawarkan pesantren kepada peserta didik dalam rangka mengembangkan bakat dan minat, hal ini cukup menyita perhatian mereka. Dalam hal ini hendaknya pendidik dapat mengarahkan mereka sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai dengan baik.

Usaha-usaha untuk mengatasi hambatan yang timbul

Usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mengatasi hambatan yang timbul dalam pengembangan kurikulum di Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta adalah:

Membuat buku panduan/pegangan hasil musyawarah yang terdiri dari analisis materi pelajaran, program tahunan, program semester, program satuan pelajaran dan kisi-kisi soal. Sehingga bagi guru yang mengalami kesulitan membuat program satuan pelajaran cukup mempelajari hasil yang telah dibukukan.

Demikian juga dengan kehadiran para guru, dalam hal ini sekolah selalu mengadakan musyawarah untuk menumbuhkan semangat mengajar seorang guru dan kedisiplinannya.

Sarana dan Prasarana yang kurang memadai sehingga untuk mengatasi masalah sarana dan prasarana ini baik guru, sekolah maupun pemerintah berusaha semaksimal mungkin.

Hambatan dari segi ini berupa terbatasnya buku pegangan murid, terbatasnya alat peraga, dan terbatasnya tempat peraktek (laboratorium). Untuk masalah terbatasnya buku pegangan ini bisa diatasi dengan jalan bagi siswa yang belum mendapatkan buku pegangan yang diterbitkan oleh Depag dapat membeli buku-buku pendidikan yang sudah tersebar dan mendapat rekomendasi dari Departemen Agama.

Terbatasnya waktu yang tersedia merupakan salah satu kendala dalam pelaksanaan kurikulum dan proses belajar mengajar. Karena dengan waktu yang sesingkat itu, seorang guru tidak mungkin dapat melaksanakan tugasnya sesuai dengan tujuan yang diinginkan.

Oleh karena itu kepala sekolah Madrasah Aliyah Ali Maksum mengeluarkan kebijakan kepada guru untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar tambahan diluar jam pelajaran dalam bentuk kegiatan ekstra kurikuler.

Dengan kegiatan ini diharapkan para guru dapat mengatasi masalah ini. Karena itu kegiatan ekstra kurikuler ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Disamping menjadi masalah intern guru juga menjadi masalah pemerintah. Untuk mengatasi masalah ini pemerintah telah mengeluarkan aturan/kebijakan agar setiap Sekolah Menengah Umum khususnya Madrasah Aliyah Ali Maksum wajib mengadakan kegiatan tambahan diluar jam pelajaran.

Tingkat kemauan anak yang berbeda menyebabkan kemauan dan minat anak terhadap tiap mata pelajaran berbeda pula. Untuk mengatasi hal ini seorang guru harus berhati-hati dalam mengadakan pendekatan kepada siswa. Dalam hal ini guru dapat bekerja sama dengan guru BP.

Usaha yang dilakukan guru dalam mengatasi masalah kemauan anak yang berbeda-beda adalah:

Mengadakan pendekatan kepada siswa dan orang tua siswa

Memberikan motivasi kepada siswa

Melibatkan siswa dalam setiap aktivitas pendidikan

Mengutarakan pentingnya pendidikan dalam kehidupan terutama untuk mencapai kebahagiaan dunia akherat.

Menceritakan kembali kejayaan Islam serta sejarah nabi dan perjuangannya

Menunjukkan keagungan dan kebesaran Allah SWT.[88]

Tingkat kecerdasan anak yang berbeda

Setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda dalam menerima pelajaran. Biasanya anak yang dari MTs lebih mudah/cepat menerima pelajaran daripada dari SMP. Sehingga anak yang dari SMP biasanya sering ketinggalan pelajaran khususnya pelajaran agama.

Untuk mengatasi masalah ini para guru mengupayakan dengan jalan:

Mengadakan les baik secara individual maupun klasikal

Memberikan ceramah agar timbul motivasi, dan mengadakan praktek ibadah seperti sholat, zakat dan lain-lain.

Memberi tugas pada siswa yang berhubungan dengan pelajaran khususnya bidang agama. [89]

Demikianlah berbagai upaya yang dilakukan baik oleh sekolah, pemerintah maupun oleh guru sendiri dalam mengatasi hambatan yang dirasakan dalam pelaksanaan kurikulum tahun 2004.

 

BAB IV

L.  MATERI KURIKULUM MADRASAH ALIYAH YAYASAN ALI MAKSUM

M.PONDOK PESANTREN KRAPYAK YOGYAKARTA

 

Kurikulum 1994

Materi Pelajaran

Madrasah Aliyah Ali Maksum adalah sebuah madrasah yang dikelola oleh Yayasan Pendidikan dan Pondok Pesantren. Dipahami dengan hal tersebut bahwa Madrasah Aliyah Ali Maksum memiliki dua ciri yang melekat padanya yakni, satu sisi Madrasah Aliyah Ali Maksum menunjukkan lembaga pendidikan formal (tingkat menengah atas) dibawah naungan Depag, disisi lain merupakan bagian/komponen Pondok Pesantren yang merupakan lembaga pendidikan Islam. Maka dua ciri itulah yang mewarnai Madrasah Aliyah Ali Maksum baik secara struktural maupun kultural (kelembagaan maupun tradisi keilmuan).

Berdasarkan Keputusan menteri Agama RI nomor 373 tahun 1993 tanggal 22 Desember 1993, kurikulum yang digunakan untuk Madrasah Aliyah adalah kurikulum tahun 1994, maka Madrasah Aliyah menggunakan kurikulum itu adalah suatu keharusan formalitas lembaga pendidikan formal dibawah naungan Departemen Agama.

Pada pelaksanaannya Madrasah Aliyah Ali Maksum menerapkan kurikulum 1994 dan memberikan beberapa tambahan materi tentang ajaran Islam dengan memberi tambahan bidang studi dan pendalaman materi dengan rujukan Kitab Kuning, buku-buku cetakan Pondok Pesantren Modern Gontor dan cetakan Pondok Pesantren Krapyak. Dalam hal ini cara yang digunakan adalah menambah jam pelajaran dan mengembangkan Kurikulum Departemen Agama dengan Kurikulum Pesantren dalam satu jam pelajaran.

Adapun tehnik pengembangannya adalah sebagai berikut: susunan Program Pendidikan Agama Islam yang tercantum dalam kurikulum Departemen Agama adalah :

5.      Al-qur’an Hadits

6.      Fiqh

7.      Aqidah Akhlak dan

8.      Bahasa Arab

Kemudian dikembangkan dengan program Pendidikan Agama Islam pada kurikulum Pesantren yaitu:

14.  Hadits

15.  Mustholahul Hadits

16.  Fiqh

17.  Aqidah

18.  Bahasa Arab

19.  Nahwu Shorof

20.  Insya

21.  Mutholaah

22.  Ushul Fiqh

23.  Balaghoh

24.  Tarbiyah

25.  Mahfudzot

26.  Tafsir/Ilmu Tafsir

Sehingga pengembangan dua kurikulum tersebut menjadi :

5.      Alqur’an Hadits dikembangkan dengan:

a.       Tafsir/Ilmu Tafsir

b.      Hadits

c.       Mustholahul Hadits

6.      Fiqh dikembangkan menjadi:

a.       Fiqh (kajian Bidayatul Muftahid)

b.      Ushul Fiqh

7.      Aqidah Akhlak dikembangkan menjadi:

a.       Aqidah

b.      Addinul Islami

8.      Bahasa Arab dikembangkan menjadi:

a.       Bahasa Arab

b.      Nahwu/Shorof

c.       Insya

d.      Mutholaah

e.       Balaghoh

Kemudian ditambah dengan pelajaran pesantren:

4.      Tarbiyah

5.      Mahfudzot

6.      Tarikh Islam[90]

Maksud hal tersebut adalah diatas adalah untuk mencapai untuk mencapai tujuan formal madrasah, yaitu mendidik peserta didik menjadi manusia seutuhnya yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebagai warga negara yang berpedoman Pancasila dan menyiapkan peserta didik yang akan melanjutkan kejenjang perguruan tinggi umum/agama, serta yang akan terjun kedunia kerja. Juga untuk mencapai cita-cita Pondok Pesantren Ali Maksum yakni mencetak kader muslim yang tangguh dan siap pakai.

Karena itu dalam pengorganisasian kurikulum Madrasah Aliyah Ali Maksum sesuai dengan kurikulum 1994, memilih bentuk keseluruhan. Bentuk ini mengutamakan tujuan yang hendak dicapai yakni: membentuk manusia dalam kepribadian yang bulat (integrated), harmonis dan segala perilakunya selaras dengan situasi dan kondisi yang dialami dalam kehidupannya.

Berdasarkan observasi, pengamatan dan pertimbangan kondisi Madrasah Aliyah Ali Maksum membuka 4 (empat) program pilihan yaitu Program MAK, Program Bahasa, Program IPA dan Program IPS.

Proses Pelaksanaan Program

Proses disini dimaksudkan sebagai kegiatan dari pelaksanaan proses pembelajaran, yakni bagaimana tujuan-tujuan belajar direalisasikan melalui modul. Proses pembelajaran perlu dilakukan dengan tenang dan menyenangkan, hal tersebut tentu saja menuntut aktivitas dan kreativitas guru dalam menciptakan lingkungan yang kondusif. Proses pembelajaran dikatakan efektif apabila seluruh peserta didik terlibat secara aktif, baik mental, fisik maupun sosialnya.

Oleh karena itu seiring dengan perkembangan pendidikan, tuntutan adanya materi yang sesuai dengan zamannya menjadi relevan termasuk tuntutan terhadap metode pengajaran, media dan evaluasi sebagai bahan dari proses pelaksanaan kurikulum. Menurut Fajar S. sebaiknya guru harus mempunyai kompetensi untuk mengajar sehingga dalam mengajar hasilnya dapat menyentuh ke aspek psikososial dan penalaran moral. Khusus untuk materi yang menyangkut terhadap perubahan perilaku pendidikan nilai dan dalam pengajarannya diwujudkan dalam kegiatan yang terprogram dan nyata.[91]

Wujud dari program yang nyata tersebut dapat dilihat dari bagaimana cara pelaksanaan materi-materi kurikulum di Madrasah Aliyah Ali Maksum. Pelaksanaan materi tersebut menggunakan beberapa metode, media dan evaluasi.

d.      Metode

Metode mengajar merupakan proses penyampaian materi dari guru kepada murid didalam kelas ataupun diluar kelas. Adapun beberapa metode yang digunakan oleh para guru di Madrasah Aliyah Ali Maksum antara lain:

1)      Metode ceramah

Yaitu metode penuturan secara lisan. Metode ini tidak senantiasa jelek bila dipersiapkan dengan cara baik seperti sebelum mengajar guru harus mengucapkan salam, berdo’a, tanya jawab, mengulang materi sebelumnya dan menyimpulkan.

2)      Metode diskusi

Yaitu metode yang sering digunakan untuk tukar menukar informasi sehingga didapatkan kesepakatan bersama, metode ini berfungsi untuk memecahkan permasalahan (problem solving) dengan cara menghargai pendapat orang lain, menambah kreatifitas siswa dalam berfikir ataupun dalam mengambil keputusan.

3)      Metode tugas belajar

Metode ini berfungsi untuk merangsang anak untuk aktif belajar baik secara individu ataupun kelompok.

4)      Metode active learning

Yaitu metode yang menuntut siswa ataupun guru untuk sama-sama aktif dalam belajar.[92]

e.       Media

Untuk dapat menerapkan media yang efektif, maka kehadiran dan kelengkapan fasilitas sekolah menjadi suatu keharusan. Pengelolaan dan pendayagunaan media menjadi suatu keputusan bagi seorang guru. Sedangkan dalam proses belajar mengajar para guru di Madrasah Aliyah Ali Maksum menggunakan media yang ada, walaupun sangat sederhana seperti yang telah ditegaskan oleh Bp. Juyamto dalam wawancaranya pada tanggal 22 Mei 2004, beliau mengatakan bahwa fasilitas, sarana prasarana di Madrasah Aliyah Ali Maksum yang masih sederhana harus digunakan dengan seoptimal mungkin.

Dengan penguasaan guru atas media, kemampuan merancang dan mengembangkan media akan meningkatkan adanya dinamika baru dalam kegiatan belajar mengajar.[93]

f.       Evaluasi

Evaluasi kurikulum merupakan kegiatan yang sangat luas tidak hanya berkaitan dengan hasil belajar siswa tapi juga menyangkut aspek kurikulum sendiri,kemampuan dan karya guru, kemajuan siswa, sarana prasarana, manajemen sekolah (administrasi) dan lain-lain. Evaluasi dapat dikategorikan secara khusus dan umum. Untuk evaluasi secara umum yang dilaksanakan antara lain:

1)      Pertemuan antar pimpinan pondok yang membahas pelaksanaan kurikulum, kedisiplinan, peran guru (tugas-tugasnya), karyawan,kenakalan siswa, penerimaan siswa baru, SPP dan lain-lain.

2)      Pertemuan direktur, dan kepala-kepala Madrasah yang membahas pelaksanaan proses belajar mengajar, meningkatkan profesionalitas guru, meningkatkan, memperbaiki dan mempertahankan prestasi siswa.

3)      Pertemuan guru-guru yang membahas tentang laporann hasil belajar, kenakalan siswa, prestasi siswa dan keseluruhan dari proses pembelajaran.

Dengan evaluasi seperti diatas dapat menumbuhkan rasa persaudaraan antar guru, karyawan, pimpinan dan direktur, sehingga dengan adanya pertemuan-pertemuan ini menjadi pertemuan silaturahmi yang semakin erat.[94]

Sedangkan untuk evaluasi secara khusus dapat dilihat dari hasil pelaksanaan materi pelajaran dikalas. Untuk menilai hasil belajar siswa dapat digunakan dengan sistem semester mulai tahun ajaran 2002/2003, tapi sebelum ujian semester (tertulis) dimulai terlebih dahulu diadakan ujian lesan untuk mengetahui kemampuan dan pengusaan siswa terhadap materi. Keahlian dan kecakapan membuat soal merupakan suatu persyaratan yang mutlak bagi seorang guru, dengan soal yang baik dan tepat akan diperoleh gambaran prestasi seorang siswa, adapun penyusunan soal tes menggunakan:

3)      Tes esai, yaitu siswa diminta menjawab pertanyaan dengan uraian dan penjelasan dengan menggunakan kata atau kalimat sendiri. Pembuatan soal seperti ini dapat menilai proses mental yang tinggi terutama dalam hal kesanggupan menyusun jawaban, berekspresi, menggunakan bahasa, dan kreatifitas siswa dalam berfikir untuk memecahkan soal/permasalahan.

4)      Tes obyektif, dalam soal ini siswa harus memilih salah satu alternatif yang dikehendaki oleh guru, soal seperti ini hanya digunakan untuk soal-soal materi umum, siswa tinggal memilih jawaban yang telah tersedia.

Evaluasi dalam pembelajaran sangatlah penting karena untuk mengukur kemampuan terhadap pencapaian materi dan prestasi belajar siswa selama proses belajar mengajar. Untuk evaluasi tahap akhir (EBTA) untuk Madrasah Aliyah tidak digunakan karena materi-materi Depag telah menjadi bagian dari materi-materi lokal (pondok) sehingga proses EBTA menggunakan ujian murni dari pondok pesatren Ali Maksum. Sedangkan untuk EBTANAS mulai tahun ajaran 2002/2003 telah ditiadakan dalam SK No. 11/V/2002.[95]

Langkah-langkah Guru di Madrasah Aliyah Ali Maksum

Guru merupakan faktor penting yang besar pengaruhnya terhadap keberhasilan pendidikan, bahkan sangat menentukan berhasil tidaknya peserta didik dalam belajar.

Adapun langkah-langkah yang ditempuh guru Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum adalah sebagai berikut:

f.       Membuat program semester

g.      Membuat program tahunan

h.      Rapat antar guru

i.        Membuat ringkasan materi

j.        Menentukan/membuat LKS, Modul (pada mata pelajaran tertentu), Menentukan buku pokok/acuan bagi siswa.[96]

Kegiatan Intra Kurikuler

Kegiatan intra kurikuler merupakan pelaksanaan kegiatan belajar yang dilakukan dengan cara tatap muka didalam kelas dengan berdasarkan pada alokasi waktu yang telah ditetapkan. Yang harus diketahui adalah bahwa sebelum melaksanakan proses belajar-mengajar seorang guru harus memahami isi kurikulum dan membuat persiapan program pengajaran.

Proses kegiatan belajar-mengajar dilakukan oleh guru dengan langkah-langkah sebagai berikut:

Langkah Pendahuluan

Kegiatan pendahuluan merupakan tahap pra instruksional yaitu yang ditempuh guru pada saat memulai proses belajar-mengajar. Dalam kegiatan pendahuluan ini, guru memberikan motivasi, apersepsi serta mengadakan test awal (pra test).

Berdasarkan hasil wawancara, dalam kegiatan pendahuluan ini, ada beberapa kegiatan yang dilakukan baik oleh guru atau oleh siswa, antara lain:

1)      Guru menanyakan kehadiran dan mencatatnya

2)      Bertanya kepada siswa sampai dimana pembahasan pelajaran sebelumnya

3)      Mengajukan pertanyaan kepada siswa tentang bahan pelajaran yang sudah diberikan sebelumnya

4)      Memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya tentang bahan yang belum dikuasainya

5)      Mengulang kembali bahan yang lalu dengan singkat.[97]

Kegiatan Inti

Kegiatan ini merupakan tahap instruksional atau pengajaran yakni tahap memberikan bahan pelajaran yang disusun guru sebelumnya. Dalam kegiatan inti ini guru menjelaskan tujuan yang ingin dicapai, menjelaskan bahan pelajaran dengan menggunakan metode mengajar yang tepat, sumber belajar dan sarana belajar, memberi latihan, membantu pemahaman siswa dan memberikan bimbingan untuk perbaikan serta pengawasan.

Kegiatan Penutup

      Kegiatan penutup merupakan kegiatan evaluasi atau penilaian dan tindak lanjut dari pelaksanaan program pengajaran dan penyampaian materi. Tujuan dari kegiatan inti ini adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari tahapan kedua (kegiatan inti). Dalam kegiatan penutup ini langkah yang ditempuh oleh guru adalah:

5)      Membuat resume pelajaran yang baru disampaikan

6)      Mengajukan pertanyaan (mengadakan post test)

7)      Memberikan tugas rumah dan kokurikuler

8)      Memberi informasi tentang materi/bahan pelajaran yang akan dibahas pada pelajaran berikutnya.[98]

      Untuk mengatasi proses pembelajaran atau proses belajar mengajar yang dianggap tidak berhasil, biasanya para guru mengadakan pengulangan kembali materi yang belum dikuasai dengan menempuh tiga cara, yaitu:

Guru menjelaskan sendiri materi atau menyuruh siswa yang sudah dianggap menguasai untuk menjelaskan kegiatan yang sudah terjadwal.

Mengadakan diskusi kelompok, membahas materi yang belum  dikuasai.

Memberikan tugas pekerjaan rumah yang berhubungan dengan pokok materi yang belum dikuasai melalui kegiatan mandiri.[99]

         Ketiga rangkaian kegiatan yang telah dibahas diatas merupakan suatu rangkaian kegiatan yang terpadu dan tidak terpisahkan satu sama lain. Seorang guru dituntut untuk dapat mengatur waktu dan kegiatan secara fleksibel, sehingga ketiga rangkaian kegiatan tersebut dapat diterima siswa secara utuh.

Kegiatan Ekstra Kurikuler

Kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan yang diselenggarakan diluar jam pelajaran yang tercantum dalam susunan program sesuai dengan kebutuhan sekolah. Kegiatan ekstra kurikuler ini dapat dilakukan disekolah maupun diluar sekolah dengan tujuan agar siswa dapat memperluas wawasan atau kemampuan peningkatan dan penerapan nilai pengetahuan dan kemampuan yang telah dipelajari dari berbagai mata pelajaran.

Adapun bentuk kegiatan ekstrakurikuler di Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta adalah:

Perpustakaan

Perpustakaan sebagai tempat pengembangan ilmu pengetahuan perlu dilembagakan secara formal. Tujuannya karena untuk meningkatkan kualitas kemampuan siswa terhadap ilmu pengetahuan.

Madrasah Aliyah Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta telah mempunyai perpustakaan sendiri. Diperpustakaan tersebut tersedia beberapa buku pengetahuan umum, buku-buku agama, kitab-kitab yang berbahasa Arab (kitab kuning) sebagai literature para siswa, dan buku pegangan guru. Penempatan buku dan pelayanan peminjaman ditempatkan di Gedung Serbaguna (lingkungan perkotaan) lantai II.

Laboratorium

Laboratorium ini adalah laboratorium dasar untuk IPA (fisika, kimia dan biologi). Laboratorium ini dibangun dalam rangka meningkatkan keberhasilan siswa terutama dalam bidang IPA.

Peralatannya sudah cukup memadai untuk praktikum IPA. Praktikumnya langsung dibawah bimbingan guru yang mengasuh pelajaran IPA. Sedangkan waktu praktikumnya biasanya diselenggarakan sesudah kegiatan jam belajar atau diberikan pada jam-jam pelajaran (ketrampilan).

Komputerisasi

Untuk menunjang keberhasilan siswa dalam bidang ketrampilan, Madrasah Aliyah Ali Maksum menyediakan 10 unit komputer. Ketrampilan dalam bidang komputer ini dilembagakan dalam bentuk kursus. Melalui lembaga komputerisasi ini seluruh siswa diharapkan terampil mengoperasikan komputer, minimal program Windows.

Pencak Silat LPSNU Pagar Nusa

Pencak Silat LPSNU Pagar Nusa adalah salah satu cabang olah raga bela diri yang didirikan oleh para pendekar Nahdlatul Ulama (NU) yang biasa dilakukan dipondok-pondok pesantren baik di Jawa maupun di luar Jawa.

Hingga sekarang anggota pencak silat ini, khususnya di Madrasah Aliyah Ali Maksum, tiap tahunnya mencapai 50 orang dengan dilatih oleh para pendekar senior. Tujuan diselenggarakannya olah raga pencak silat LPSNU Pagar Nusa adalah untuk mengembangkan bakat, minat dan kemampuan siswa dalam cabang olah raga bela diri.

Seni Baca Al-Qur’an (Qira’ah)

Qira’ah adalah salah satu bentuk kesenian/ketrampilan yang sudah biasa dijalani dan dilakukan oleh para santri dimanapun berada. Tujuan utama diadakannya ekstrakurikuler seni baca Al-Qur’an di Madrasah Aliyah Ali Maksum adalah untuk mengembangkan bakat dan minat siswa dalam cabang olah vokal seni baca Al-Qur’an. Melalui kegiatan ini diharapkan siswa semakin mencintai kitab suci Al-Qur’an.

Seni Hadrah dan Seni Samrah

Seni hadrah dan seni Samrah adalah salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan di Madrasah Aliyah Ali Maksum dengan tujuan untuk mengembangkan bakat dan minat siswa dalam bidang seni musik yang bernuansa Islam.

Palang Merah Remaja (PMR)

Tujuan diselenggarakannya kegiatan Palang Merah Remaja (PMR) ini adalah untuk membina dan melatih para siswa dalam memberi pertolongan pertama pada kecelakaan. Setiap tahunnya diadakan pelatihan kepada anggota baru baru yang pelatihnya diambilkan dari para instruktur kabupaten dan kadang juga dari instruktur propinsi.

Kelompok Ilmiah Remaja (KIR)

KIR adalah salah satu kegiatan kelompok ilmiah yang tujuannya untuk meningkatkan kualitas berfikir dan keilmuan siswa, sekaligus membina kemampuan menulis, meneliti, dan membuat laporan serta mempresentasikannya.

Patroli Keamanan Sekolah (PKS)

Kegiatan ekstrakurikuler yang banyak manfaatnya bagi para siswa adalah Patroli Keamanan Sekolah (PKS). Kegiatan PKS ini dimaksudkan untuk melatih siswa agar mampu lebih berdisiplin diri dan membantu tugas-tugas kemadrasahan mendisiplinkan orang lain.

Seni Kaligrafi

Tujuan seni kaligrafi bagi para siswa adalah untuk melatih dan memberi ketrampilan seni penulis Aran secara benar dan indah.

Jurnalistik

Kegiatan jurnalistik diselenggarakan dengan tujuan melatih dan mengembangkan bakat siswa dalam bidang tulis-menulis. Jika mampu, maka para siswa dapat menyalurkannya dalam tulis-menulis dimajalah dinding milik Madrasah Aliyah yaitu majalah An Nasyath dan majalah Khoirul Ummah.

 

Seni Drama/Teater

Kegiatan seni drama/teater dimaksudkan untuk membina dan mengembangakan ketrampilan siswa dalam bidang seni drama, olah raga jiwa, mengekspresikan dirinya guna mendekatkan diri dengan Allah SWT.

Tata Boga dan Tata Busana

Kegiatan Tata Boga dan Tata Busana dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan ketrampilan siswa dalam bidang masak-memasak dan merangkai bunga, serta menata busana dengan baik, benar dan sopan-Islami, juga menarik.

Pelatihan Kepemimpinan/Keorganisasian

Kegiatan Pelatihan Kepemimpinan atau Keorganisasian ini diselenggarakan sekali setahun. Tujuan pelatihan untuk membina dan memupuk jiwa ketrampilan dan kepemimpinan siswa dalam menghadapi kepemimpinan dimasa mendatang.[100]

 

Kurikulum 2004

Materi Pelajaran

Madrasah Aliyah adalah lembaga lanjutan bagi program pendidikan sebelumnya. Dalam perkembangannya Madrasah Aliyah memiliki program Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) maupun Madrasah Aliyah Umum (MAU), dengan maksud untuk menyiapkan santri agar mampu mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi, yang dijiwai akhlak al-karimah dan landasan ajaran Islam.

Madrasah Aliyah juga membuka Kelas Persiapan (al-Qism al-I’dady) untuk satu tahun pelajaran. Kelas ini bermaksud untuk menampung santri-santri yang dapat diterima langsung dikelas I Madrasah Aliyah.

Pada hakekatnya antara kurikulum 1994 dan kurikulum 2004 sama, akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya sekolah diberi keleluasaan untuk menyusun dan mengembangkan silabus mata pelajaran sehingga dapat mengakomodasi potensi sekolah, kebutuhan dan kemampuan peserta didik, serta kebutuhan masyarakat sekitar sekolah.[101]

Berikut merupakan daftar materi pelajaran mulai kelas persiapan (I’dad), kelas I, kelas II dan kelas III. Tahun pelajaran 2003/2004.

Tabel : I [102]

Kurikulum Madrasah Aliyah Ali Maksum

Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta

 

*Kurikulum MA Ali Maksum Kelas I’dad

No

Mata Pelajaran

Alokasi

1.

Pendidikan Umum

1.1

Matematika

4

1.2

Bahasa Inggris

4

1.3

Pendidikan Jasmani-Kesehatan

2

2.

Kurikulum Kepesantrenan

2.1

Bahasa Arab

4

2.2

Nahwu I

6

2.3

Shorof

8

2.4

Aqidah

4

No

Mata Pelajaran

Alokasi

2.5

Akhlak

2

2.6

Fiqh

4

2.7

Tarekh

2

2.8

Tajwid

4

2.9

Tafsir

2

2.10

Hadits

2

2.11

Mumarosah

4

2.12

Khat dan Imla’

2

2.13

Nahwu II/Matn al-Jurumiya*)

4

2.14

Ketrampilan Agama*)

2

 

 

60

          *) Ekstrakurikuler

Tabel : II

*Kurikulum MAK

No

V.    Mata Pelajaran

I

II

III

1.

Kurikulum Pendidikan Nasional (Diknas)

1.1

PPKn

2

2

2

1.2

Bahasa dan Sastra Indonesia

2

2

2

1.3

Matematika

4

4

4

1.4

Bahasa Inggris

4

4

4

1.5

Penjaskes

2

2

2

1.6

Sejarah Nasional dan Umum

2

2

-

1.7

Pendidikan Seni

2

2

-

1.8

Sosiologi-Antropologi

-

-

2

2.

Kurikulum Departemen Agama (Depag)

2.1

Aqidah Akhlaq

2

2

2

2.2

Fiqh

4

4

4

2.3

Bahasa Arab

4

4

4

2.4

Sejarah Kebudayaan Islam

2

2

2

2.5

Al-Qur’an-Al-Hadits

4

4

4

2.6

Ilmu Tafsir

4

4

4

2.7

Ilmu Hadits

4

4

4

2.8

Ushul Fiqh

4

2

4

3.

Kurikulum Kepesantrenan

3.1

Nahwu

4

4

4

3.2

Shorof

2

2

2

3.3

Nahwu II (Alfiyah ibn Malik)

2

2

2

3.4

Tarikh Tasyri’ al-Islamy

2

2

2

No

VI. Mata Pelajaran

I

II

III

3.5

Qowaid al-Fiqh

2

2

2

3.6

Balaghoh

2

2

-

3.7

Ilmu Faroid

-

2

-

3.8

Ketrampilan Agama*)

-

-

2

 

 

60

60

60

            *) Ekstrakurikuler

 

Tabel : III

*Kurikulum MAU

No

Mata Pelajaran

I

II

III IPS

III IPA

1.

Kurikulum Pendidikan Nasional (Diknas)

1.1

PPKn

2

2

2

2

1.2

Bahasa dan Sastra Indonesia

4

4

4

4

1.3

Matematika

4

6

4

6

1.4

Sejarah Nasional dan Umum

2

2

2

2

1.5

Bahasa Inggris

4

4

4

4

1.6

Penjaskes

2

2

2

2

1.7

Ekonomi

4

2

8

-

1.8

Fisika

4

4

-

6

1.9

Biologi

4

4

-

4

1.10

Kimia

4

4

-

6

1.11

Geografi

2

2

-

-

1.12

Pendidikan Seni

2

-

-

-

1.13

Sosiologi

-

2

4

-

1.14

Antropologi

-

-

4

-

1.15

Tata Negara

-

-

4

-

2.

Kurikulum Departemen Agama (Depag)

2.1

Al-Qur’an-Al-Hadits

2

2

2

2

2.2

Fiqh

4

2

2

2

2.3

Bahasa Arab

4

4

2

2

2.4

Aqidah Akhlaq

2

2

-

-

2.5

Sejarah Kebudayaan Islam

-

-

4

-

3.

Kurikulum Kepesantrenan

3.1

Nahwu

4

4

2

2

3.2

Shorof

2

2

-

-

3.3

Qowaid al-Fiqh

2

2

-

-

3.4

Ulum al-Qur’an al-Hadits

-

2

2

2

3.5

Ushul al-Fiqh

-

-

2

2

3.6

Ilmu Faroid

-

-

2

2

No

VII.          Mata Pelajaran

I

II

III IPS

III IPA

3.7

Mumarosah

2

2

2

2

3.8

Qiroatul Kutub*)

-

-

2

2

3.9

Ketrampilan Agama*)

-

-

2

2

 

 

60

60

60

60

            *) Ekstrakurikuler

            Kurikulum yang diterapkan di Madrasah Aliyah Ali Maksum yaitu kurikulum yang berbasis kompetensi. Sehingga dalam kebijakannya diputuskan, bahwa dalam pengetarapan kurikulum di Madrasah Aliyah menerapkan pola 100% kurikulum Departemen Agama (Depag RI), dan 100% kurikulum kepesantrenan.

Proses dan Strategi Pelaksanaan Program

Proses disini dimaksudkan sebagai kegiatan dari pelaksanaan proses pembelajaran, yakni bagaimana tujuan-tujuan belajar direalisasikan melalui modul. Proses pembelajaran perlu dilakukan dengan tenang dan menyenangkan, hal tersebut tentu saja menuntut aktivitas dan kreativitas guru dalam menciptakan lingkungan yang kondusif. Proses pembelajaran dikatakan efektif apabila seluruh peserta didik terlibat secara aktif, baik mental, fisik maupun sosialnya.

Proses pembelajaran, dewasa ini masih terdapat kecenderungan bersifat memaksakan target bahan ajar, bukan pada pencapaian dan penguasaan kompetensi. Menurut Husni Rahim (Republika, 18/2000): “Penyampaian materi akhlak disekolah oleh guru diberikan kepada siswa sebatas teori”. Padahal materi akhlak sarat dengan muatan nilai-nilai yang perlu menampilkan figur atau keteladanan. Dengan demikian guru harus mengubah paradigma (pandangan) tentang proses pembelajaran yang hanya terfokus pada aspek kognitif (pencapaian target bahan ajar) yang bersifat hafalan, ceramah dan sejenisnya yang selama itu dilakukan, dengan pendekatan yang lebih menyeluruh menyentuh aspek emosional (afektif) dan psikomotor.[103]

Sedangkan yang dimaksud dengan strategi dalam kurikulum adalah pendekatan dan metode serta peralatan mengajar yang digunakan dalam pengajaran, penilaian, serta bimbingan dalam mengatur kegiatan.[104] Pendekatan dalam pengajaran dapat dibedakan menjadi pendekatan materi, tujuan dan proses. Pendekatan materi merupakan pendekatan konvensional. Pada pendekatan ini keberhasilan belajar diukur dari selesai tidaknya pembahasan terhadap materi yang telah diprogramkan. Pendekatan tujuan memandang keberhasilan kegiatan belajar cukup diukur dengan tercapai tidaknya tujuan yang telah ditetapkan. Sedangkan pada pendekatan proses beranggapan bahwa kegiatan belajar-mengajar hendaklah memperhatikan proses dengan memperoleh hasil belajar dan menolak hasil perolehan tersebut.[105]

Kualitas pembelajaran dapat dilihat dari segi proses dan dari segi hasil. Dari segi proses, pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruh atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) peserta didik terlibat secara aktif, baik fisik, mental, maupun sosial dalam proses pembelajaran, disamping menunjukkan kegairahan belajar yang tinggi, semangat belajar yang besar, dan rasa percaya pada diri sendiri. Sedangkan dari segi hasil, proses pembelajaran dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan perilaku yang positif pada diri peserta didik seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%). Lebih lanjut proses pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila masukan merata, menghasilkan output yang banyak dan bermutu tinggi, serta sesuai dengan kebutuhan, perkembangan masyarakat dan pembangunan.[106]

Langkah-langkah Guru di Madrasah Aliyah

Guru merupakan faktor penting yang besar pengaruhnya terhadap keberhasilan implementasi KBK, bahkan sangat menentukan berhasil- tidaknya peserta didik dalam belajar.

Beberapa hal yang harus dipahami guru dari peserta didik, antara lain: kemampuan, potensi, minat, hoby, sikap, kepribadian, kebiasaan, catatan kesehatan, latar belakang keluarga, dan kegiatannya disekolah. Agar implementasi KBK berhasil memperhatikan perbedaan individual, maka guru perlu memperhatikan hal-hal berikut: (1) mengurangi metode ceramah, (2) memberikan tugas yang berbeda bagi bagi setiap peserta didik, (3) mengelompokkan peserta didik berdasarkan kemampuannya, serta disesuaikan dengan mata pelajaran, (4) bahan harus dimodifikasi dan diperkaya, (5) jangan ragu untuk berhubungan dengan specialist, bila ada peserta didik yang mempunyai kelainan, (6) gunakan prosedur yang bervariasidalam membuat penilaian dan membuat laporan, (7) ingat bahwa peserta didik tidak berkembang dalam kecepatan yang sama, (8) usahakan mengembangkan situasi belajar yang memungkinkan setiap anak bekerja dengan kemampuannya masing-masing pada tiap pelajaran, dan (9) usahakan untuk melibatkan peserta didik dalam berbagai kegiatan.[107]

Adapun langkah-langkah yang ditempuh guru Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum adalah sebagai berikut:

a.       Membuat program semester

b.      Membuat program tahunan

c.       Rapat antar guru

d.      Membuat ringkasan materi

e.       Menentukan/membuat LKS, Modul (pada mata pelajaran tertentu), Menentukan buku pokok/acuan bagi siswa.

Dan dalam mengoptimalkan perkembangan siswa, ada tiga langkah yang harus ditempuh yaitu:

a.       Mendiagnosis kemampuan dan perkembangan siswa

b.      Memilih cara pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa

c.       Kegiatan pembimbingan[108]

Adapun jumlah guru (Tenaga Pengajar) di Madrasah Aliyah Ali Maksum pada tahun pelajaran 2002/2003 sebanyak 76 orang yang perincian pertahunnya sebagaimana ada dalam tabel. Dari jumlah guru (Tenaga Pengajar) tersebut ada tiga orang guru tetap (guru negeri yang diperbantukan), dan 73 orang guru tidak tetap. Sedangkan dilihat dari jenjang pendidikannya terdapat 66 orang alumni perguruan tinggi (99%) baik Strata 1 maupun Strata 2 (baik dari dalam maupun luar negeri), dan dalam 5 orang guru dari alumni Aliyah dan selebihnya adalah dari Pondok Pesantren sendiri, sedangkan pada tahun ajaran 2003/2004 jumlah guru berkurang menjadi 71 orang.

Tabel : IV [109]

Keadaan Guru Madrasah Aliyah Ali Maksum

Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta

No

Pertahun Pelajaran

Jenis

Jumlah

Laki-laki

Perempuan

01

02

03

04

05

06

07

08

09

10

11

12

13

14

1990/1991

1991/1992

1992/1993

1993/1994

1994/1995

1995/1996

1996/1997

1997/1998

1998/1999

1999/2000

2000/2001

2001/2002

2002/2003

2003/2004

35

38

46

44

47

48

55

65

57

58

57

56

58

43

6

8

10

7

9

15

15

12

17

14

12

16

17

28

41

46

56

51

56

63

70

77

74

72

69

72

76

71

 

Kegiatan Intra Kurikuler

Proses Belajar Mengajar

Proses belajar dilaksanakan dalam rangka memberi kesempatan kepada siswa memperoleh pengalaman belajar. Proses belajar mengajar itu diselenggarakan bergantung kepada jenis kurikulum yang dipakai. Kurikulum yang berpusat pada mata pelajaran mempunyai perbedaan dengan yang berpusat pada pengalaman atau fungsi kehidupan.

Pada kurikulum yang berpusat pada mata pelajaran proses belajar-mengajar dilaksanakan sekitar penguasaan siswa terhadap bahan pelajaran. Prosesnya dapat beraneka ragam, dari mulai yang sederhana dengan menggunakan ceramah sampai kepada yang kompleks seperti dengan metode penemuan.[110]

Mulai Tahun Pelajaran 2002/2003, sistem yang digunakan dalam proses belajar-mengajar di Madrasah Aliyah Ali Maksum adalah dengan menggunakan sistem Semester. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan daya serap siswa dan keberhasilan usaha komulatif dalam mata pelajaran pendidikan, lebih khusus bagi para pengajar.

Dalam penyelenggaraan proses belajar-mengajar, Madrasah Aliyah Ali Maksum didukung oleh fasilitas-fasilitas antara lain: laboraturium IPA, komputer, perpustakaan, bimbingan dan penyuluhan, dan ruang kelas putra-putri yang terpisah.

Metode

Berbicara mengenai metode tidak akan terlepas dari keahlian seorang guru, karena guru adalah salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan. Para pakar menyatakan bahwa, betapapun bagusnya sebuah kurikulum (official, hasilnya sangat bergantung pada apa yang dilakukan guru didalam maupun diluar kelas (actual).[111]

Dalam proses belajar-mengajar guru-guru Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum menggunakan metode antara lain; metode ceramah, metode tanya jawab, metode diskusi dengan menggunakan audio visual, penugasan dan lain sebagainya.[112]

Alat/Sarana/Fasilitas

Dalam rangka menyelenggarakan pendidikan, lembaga pendidikan formal seperti Madrasah Aliyah memerlukan fasilitas yang cukup memadai dalam menjalankan fungsinya. Fasilitas dan sarana yang ada, baik fisik maupun non fisik mempunyai peranan penting dalam mencapai keberhasilan proses belajar-mengajar. Oleh karena itu suatu lembaga pendidikan yang baik dan yang mampu memenuhi harapan untuk mencapai tujuan pendidikan adalah bagaimana memenuhi fasilitas-fasilitas yang diperlukan, sehingga dengan demikian anak didik dapat belajar dengan baik.

Fasilitas-fasilitas berupa fisik yang diperlukan dalam pendidikan meliputi sarana pergedungan (24 Kelas) dan perlengkapannya, laboraturium, perpustakaan, sarana perkantoran, sarana olah raga, kesenian, sarana-sarana ketrampilan juga sarana-sarana pendukung lainnya.

Sedangkan fasilitas non fisik yang diperlukan meliputi suara tenang, gembira dan rasa aman serta rasa sejuk. Diantara sekian banyak fasilitas yang terpenting adalah fasilitas gedung atau ruangan kelas.

Disamping fasilitas pokok, ada fasilitas penunjang lainnya yang harus dipenuhi yaitu, buku-buku tambahan bantuan dari Depag RI Pusat, LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab), buku terbitan dari kalangan sendiri yang disusun oleh para guru senior Pondok Pesantren Krapyak maupun buku-buku dari penerbit lain yang dipandang dapat memacu keberhasilan siswa.

Gedung Madrasah atau ruangan kelas merupakan sarana yang paling penting dalam kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu selalu diupayakan bagaimana agar anak didik dapat belajar dengan tenang dan bisa menguasai serta menerima apa yang disampaikan oleh guru melalui pemenuhan sarana fisik (gedung).

3)      Fasilitas Gedung

Secara umum kondisi pergedungan di Madrasah Aliyah Ali Maksum cukup memadai, karena gedung tersebut milik sendiri. Gedung yang dimiliki adalah berlantai satu, dua dan empat. Semua digunakan untuk sarana belajar mengajar dan sarana perkantoran.

Gedung Madrasah Aliyah Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta yang dipakai untuk kegiatan belajar mengajar ada dalam empat lokasi. Gedung (sarana belajar) khusus putri yang berada di Komplek Diniyah (sebelah barat jalan K.H. Ali Maksum) yang terdiri atas 9 lokal, dan komplek Ibu Noto yang terdiri dari 4 lokal.

Sedangkan khusus untuk putra ada tiga tempat yaitu, di lingkungan Masjid Krapyak dan lingkungan perkantoran yang terdiri atas 11 lokal.

Sedangkan gedung untuk perkantoran meliputi ruang Kepala Madrasah, ruang tamu, ruang TU, perpustakaan, laboraturium bahasa (menurut rencana) dan ruang khusus untuk cetak stensil dan gedung penyimpanan.

4)      Peralatan Meubelar

Fasilitas meubelar adalah seperangkat alat-alat perlengkapan kantor seperti meja, kursi, mesin ketik, komputer dan sebagainya. Adapun perlengkapan meubelar yang dimiliki oleh Madrasah Aliyah Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta sebagaimana dijelaskan pada bab sebelumnya.

Evaluasi

            Evaluasi dilakukan untuk mengukur sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan itu tercapai.[113] Sedangkan evaluasi hasil belajar adalah keseluruhan kegiatan pengukuran (pengumpulan data dan informasi), pengolahan, penafsiran dan pertimbangan untuk membuat keputusantentang tingkat hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar mengajar dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Hasil belajar menunjuk pada prestasi belajar, sedangkan prestasi belajar itu merupakan indikator adanya dan derajat perubahan tingkah laku siswa.[114]

Dilihat dari pelaksanaan dan tujuannya, evaluasi kurikulum dapat dibedakan kedalam dua macam, yaitu:

1)      Evaluasi formatif, yakni evaluasi yang dilaksanakan selama kurikulum itu digunakan dengan tujuan untuk menjadi dasar dalam perbaikan. Evaluasi ini dapat dilakukan terhadap pelaksanaan paket-paket program atau masing-masing mata pelajaran dari suatu kurikulum atau terhadap pelaksanaan kurikulum secara keseluruhan. Karena Madrasah Aliyah Ali Maksum sekarang menggunakan sistem semester, maka evaluasi dilakukan dua kali tiap semesternya.

2)      Evaluasi sumatif, yakni evaluasi yang dilakukan diakhir pelaksanaan suatu kurikulum.[115] Evaluasi hasil belajar dalam implementasi kurikulum berbasis kompetensi di Madrasah Aliyah Ali Maksum sekarang ini sama dengan sekolah-sekolah lainnya, dan dalam UAN kelas III juga telah menggunakan standar penilaian nasional yaitu dengan nilai kelulusan 4,01.

Kegiatan Ekstra Kurikuler

Kegiatan ekstrakurikuler ini bertujuan agar siswa lebih memperkaya dan memperluas wawasan, mendorong pembinaan nilai dan sikap, serta memungkinkan penerapan lebih lanjut pengetahuan yang telah dipelajari dari berbagai mata pelajaran dalam kurikulum, baik program inti maupun program khusus.

Adapun bentuk kegiatan ekstrakurikuler di Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta adalah:

Bidang Ilmiah

Karya Ilmiah  Remaja (KIR)

Bertujuan: meningkatkan kualitas keilmuan santri, sekaligus membina kemampuan menulis, meneliti, dan membuat laporan sekaligus mempresentasikan.

Palang Merah Remaja (PMR)

Bertujuan: membina dan melatih santri dalam memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan.

Patroli Keamanan Sekolah (PKS)

Bertujuan: melatih santri agar mampu lebih mendisiplinkan diri dan mendisiplinkan orang lain.

Majalah Dinding

Bertujuan: melatih dan mengembangkan bakat santri dalam bidang tulis menulis.

 

Bulletin Siswa an-Nahdloh dan Khoirul Ummah

Bertujuan: melatih dan mengembangkan kreatifitas santri dalam bidang tulis menulis dengan mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi.

Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan

Bertujuan: membina dan memupuk jiwa kepemimpinan santri dalam kehidupan, dengan mencerminkan kepemimpinan yang islami.

Bidang Ketrampilan

Komputer

Bertujuan: mengenalkan komputer kepada santri, sekaligus mampu menggunakannya. Program yang dipelajari diantaranya WordStar, MS. Office, MS. Excel, dan Lotus. Untuk sementarakegiatan ini baru dapat diikuti oleh santri Madrasah Aliyah.

Tata Boga dan Tata Busana

Bertujuan: membina dan mengembangkan ketrampilan santri dalam bidang busana sesuai dengan perkembangan mode, masak memasak dan membuat kue, serta menyajikannya secara baik dan menarik.

Bidang Kesenian

Seni Baca al-Qur’an (Qiro’ah)

Bertujuan: mengembangkan bakat dan minat santri dalam olah vocal seni baca al-Qur’an. Melalui kegiatan ini diharapkan santri semakin mencintai Kitab Sucinya.

Seni Hadroh dan Qosidah

Bertujuan: mengembangkan bakat dan minat santri dalam bidang seni musik yang bernuansa keislaman.

Seni Kaligrafi

Bertujuan: melatih dan memberi ketrampilan seni menulis Arab secara benar dan indah.

Seni Drama

Bertujuan: membina dan mengembangkan ketrampilan santri dalam bidang olah jiwa dan mengekspresikan diri untuk lebih mendekatkan diri dengan Allah SWT.

Pencak Silat LPSNU Pagar Nusa

Bertujuan: mengembangkan bakat, minat, dan kemampuan santri dalam cabang olah raga bela diri.

Olahraga

Bertujuan: mengembangkan bakat dan minat santri dalam bidang olahraga. Untuk sementara cabang olahraga yang dikembangkan adalah sepak bola dan bola voli.

 

Perbedaan antara Kurikulum 1994 dengan Kurikulum 2004

Kurikulum berbasis kompetensi (KBK) lahir sebagai jawaban terhadap berbagai kritikan masyarakat terhadap kurikulum 1994, serta sesuai dengan perkembangan kebutuhan dan dunia kerja. Untuk lebih memantapkan pemahaman tentang inovasi kurikulum ini dirasakan perlu untuk mengkaji dan menganalisis beberapa hal mendasar yang membedakannya dengan kurikulum sebelumnya. Oleh karena itu, dari tulisan ini disajikan secara khusus bagaimana perbedaan Kurikulum 2004 dengan kurikulum 1994. Perbedaan tersebut adalah sebagai berikut:

Kurikulum 1994

Menggunakan pendekatan penguasaan ilmu pengetahuan, yang menekankan pada isi atau materi, berupa pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi yang diambil dari bidang-bidang ilmu pengetahuan.

Standar akademis yang diterapkan secara seragam bagi setiap peserta didik

Berbasis konten, sehingga peserta didik dipandang sebagai kertas putih yang perlu ditulis dengan sejumlah ilmu pengetahuan (transfer of knowledge).

Pengembangan kurikulum dilakukan secara sentralisasi, sehingga Depdiknas monopoli pengembangan ide dan konsepsi kurikulum.

Materi yang dikembangkan dan diajarkan di sekolah seringkali tidak sesuai dengan potensi sekolah, kebutuhan dan kemampuan peserta didik, serta kebutuhan masyarakat sekitar sekolah.

Guru merupakan kurikulum yang menentukan segala sesuatu yang terjadi didalam kelas.

Pengetahuan, ketrampilan, dan sikap dikembangkan melalui latihan, seperti latihan mengerjakan soal.

Pembelajaran cenderung hanya dilakukan didalam kelas, atau dibatasi oleh empat dinding kelas.

Evaluasi nasional yang tidak dapat menyentuh aspek-aspek kepribadian peserta didik.

Kurikulum 2004

Menggunakan pendekatan kompetensi yang menekankan pada pemahaman, kemampuan atau kompetensi tertentu disekolah, yang berkaitan dengan pekerjaan yang ada dimasyarakat.

Standar kompetensi yang memperhatikan perbedaan individu, baik kemampuan, kecepatan belajar, maupun konteks sosial budaya.

Berbasis kompetensi, sehingga peserta didik berada dalam proses perkembangan yang berkelanjutan dari seluruh aspek kepribadian, sebagai pemekaran terhadap potensi-potensi bawaan sesuai dengan kesempatan belajar yang ada dan diberikan oleh lingkungan.

Pengembangan kurikulum dilakukan secara desentralisasi, sehingga pemerintah dan masyarakat bersama-sama menentukan standar pendidikan yang dituangkan dalam masyarakat.

Sekolah diberi keleluasaan untuk menyusun dan mengembangkan silabus mata pelajaran sehingga dapat mengakomodasi potensi sekolah, kebutuhan dan kemampuan peserta didik, serta kebutuhan masyarakat sekitar sekolah.

Guru sebagai fasilitator yang bertugas mengkondisikan lingkungan untuk memberikan kemudahan belajar peserta didik.

Pengetahuan, ketrampilan, dan sikap dikembangkan berdasarkan pemahaman yang akan membentuk kompetensi individual.

Pembelajaran yang dilakukan mendorong terjalinnya kerja sama antara sekolah, masyarakat, dan dunia kerja dalam membentuk kompetensi peseta didik.

Evaluasi berbasis kelas, yang menekankan pada proses dan hasil belajar.[116]

Pada kurikulum baru dirancang dan dikembangkan dengan cermat dan penuh pertimbangan, dengan menekan sekecil mungkin kelemahan yang terdapat pada kurikulum sebelumnya, terutama pada beratnya beban pelajaran yang ditanggung oleh siswa Madrasah Aliyah Ali Maksum dan orientasinya yang menekankan pada target hasil belajar, bukan pada prosesnya.

Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Pengembangan Kurikulum

Dalam rangka mencapai tujuan pendidikan di Madrasah Aliyah Ali Maksum ini, maka pengembangan kurikulum selain didukung oleh proses belajar mengajar yang tepat dan baik juga didukung oleh beberapa faktor yaitu:

Faktor Pendukung

Faktor pendukung dalam pengembangan kurikulum di Madrasah Aliyah Ali Maksum diantaranya:

Sarana dan prasarana yang memadai

Tata tertib yang berlaku

Penyediaan asrama bagi siswa

Alokasi waktu yang tepat

Dana yang mencukupi

Lingkungan sekolah yang kondusif.

Faktor Penghambat

Sedangkan hambatan yang dialami dalam pengembangan kurikulum di Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum yaitu:

Kesulitan dalam pembuatan Program Satuan Pelajaran

Kesulitan guru dalam pembuatan Program Satuan Pelajaran. Disamping itu adanya beberapa pendidik yang kadangkala tidak masuk (17,3%) perlu mendapatkan perhatian tersendiri, sehingga hal tersebut tidak dijadikan suatu hal yang biasa, terkadang pendidik hadir didalam kelas namun kemudian hanya memberikan tugas mencatat kemudian keluar kembali. Jika hal ini dibiarkan tentunya akan mengganggu tercapainya tujuan pendidikan.

Sarana dan prasarana yang kurang memadai

Sarana dan pra sarana pengajaran di Madrasah Aliyah Ali Maksum tergolong pada kategori kurang lengkap. Hal ini perlu mendapat perhatian agar proses belajar mengajar dapat berjalan lancar.

Terbatasnya waktu yang tersedia

Waktu sangat dibutuhkan dalam proses belajar mengajar, khususnya pada pembaharuan kurikulum di Madrasah Aliyah Ali Maksum, dimana waktu yang diberikan sangat terbatas walaupun telah mengurangi beberapa jam pelajaran umum kedalam pelajaran khusus (keagamaan), namun masih dianggap kurang kurang memadai, hal ini terjadi karena materi materi pelajaran agama Islam yang harus dikuasai peserta didik terlalu banyak sementara pihak madrasah baru dapat memberikan alokasi waktu 1 atau 2 jam perminggu, sehingga mempersulit pendidik untuk membagi waktu tersebut.

Tingkat kemauan untuk belajar yang kurang

Tingkat kecerdasan yang berbeda-beda.

Terlalu banyak materi pelajaran yang ditempuh

Kegiatan Ekstra Kurikuler

Banyaknya kegiatan ekstra kurikuler didalam/diluar madrasah yang ditawarkan pesantren kepada peserta didik dalam rangka mengembangkan bakat dan minat, hal ini cukup menyita perhatian mereka. Dalam hal ini hendaknya pendidik dapat mengarahkan mereka sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai dengan baik.

Usaha-usaha untuk mengatasi hambatan yang timbul

Usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk mengatasi hambatan yang timbul dalam pengembangan kurikulum di Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta adalah:

Membuat buku panduan/pegangan hasil musyawarah yang terdiri dari analisis materi pelajaran, program tahunan, program semester, program satuan pelajaran dan kisi-kisi soal. Sehingga bagi guru yang mengalami kesulitan membuat program satuan pelajaran cukup mempelajari hasil yang telah dibukukan.

Demikian juga dengan kehadiran para guru, dalam hal ini sekolah selalu mengadakan musyawarah untuk menumbuhkan semangat mengajar seorang guru dan kedisiplinannya.

Sarana dan Prasarana yang kurang memadai sehingga untuk mengatasi masalah sarana dan prasarana ini baik guru, sekolah maupun pemerintah berusaha semaksimal mungkin.

Hambatan dari segi ini berupa terbatasnya buku pegangan murid, terbatasnya alat peraga, dan terbatasnya tempat peraktek (laboratorium). Untuk masalah terbatasnya buku pegangan ini bisa diatasi dengan jalan bagi siswa yang belum mendapatkan buku pegangan yang diterbitkan oleh Depag dapat membeli buku-buku pendidikan yang sudah tersebar dan mendapat rekomendasi dari Departemen Agama.

Terbatasnya waktu yang tersedia merupakan salah satu kendala dalam pelaksanaan kurikulum dan proses belajar mengajar. Karena dengan waktu yang sesingkat itu, seorang guru tidak mungkin dapat melaksanakan tugasnya sesuai dengan tujuan yang diinginkan.

Oleh karena itu kepala sekolah Madrasah Aliyah Ali Maksum mengeluarkan kebijakan kepada guru untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar tambahan diluar jam pelajaran dalam bentuk kegiatan ekstra kurikuler.

Dengan kegiatan ini diharapkan para guru dapat mengatasi masalah ini. Karena itu kegiatan ekstra kurikuler ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Disamping menjadi masalah intern guru juga menjadi masalah pemerintah. Untuk mengatasi masalah ini pemerintah telah mengeluarkan aturan/kebijakan agar setiap Sekolah Menengah Umum khususnya Madrasah Aliyah Ali Maksum wajib mengadakan kegiatan tambahan diluar jam pelajaran.

Tingkat kemauan anak yang berbeda menyebabkan kemauan dan minat anak terhadap tiap mata pelajaran berbeda pula. Untuk mengatasi hal ini seorang guru harus berhati-hati dalam mengadakan pendekatan kepada siswa. Dalam hal ini guru dapat bekerja sama dengan guru BP.

Usaha yang dilakukan guru dalam mengatasi masalah kemauan anak yang berbeda-beda adalah:

Mengadakan pendekatan kepada siswa dan orang tua siswa

Memberikan motivasi kepada siswa

Melibatkan siswa dalam setiap aktivitas pendidikan

Mengutarakan pentingnya pendidikan dalam kehidupan terutama untuk mencapai kebahagiaan dunia akherat.

Menceritakan kembali kejayaan Islam serta sejarah nabi dan perjuangannya

Menunjukkan keagungan dan kebesaran Allah SWT.[117]

Tingkat kecerdasan anak yang berbeda

Setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda dalam menerima pelajaran. Biasanya anak yang dari MTs lebih mudah/cepat menerima pelajaran daripada dari SMP. Sehingga anak yang dari SMP biasanya sering ketinggalan pelajaran khususnya pelajaran agama.

Untuk mengatasi masalah ini para guru mengupayakan dengan jalan:

Mengadakan les baik secara individual maupun klasikal

Memberikan ceramah agar timbul motivasi, dan mengadakan praktek ibadah seperti sholat, zakat dan lain-lain.

Memberi tugas pada siswa yang berhubungan dengan pelajaran khususnya bidang agama. [118]

Demikianlah berbagai upaya yang dilakukan baik oleh sekolah, pemerintah maupun oleh guru sendiri dalam mengatasi hambatan yang dirasakan dalam pelaksanaan kurikulum tahun 2004.

 

 



[1] Abu Hamid, Sistem Pendidikan Madrasahdan Pesantren di Sulawesi Selatan Taufiah Abdullah  ed. Agama dan Perubahan Sosial (Jakarta: Rajawali, 1983), hlm.328.

[2] Malik Fadjar, Madrasah dan Tantangan Modernitas , (Bandung: Mizan, 1998), hlm. 15

[3] Maksum, Madrasah Sejarah dan Perkembangannya,  (Jakarta: Logos Wacana, 1999), hlm. 151.

[4] Marwan Saridjo, Bunga Rampai Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: CV. Amissco, 1996), hlm. 124

[5] A.W. Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia,  (Yogyakarta: Pustaka Progressif, 1984), hlm. 1054

[6] W.J.S. Poerwodarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1982), hlm. 998.

[7] Zamakhsari Dhofier, Tradisi Pesantren, Studi Tentang Pandangan Terhadap Kiyai, (Jakarta: LP3ES, 1994), hlm.44.

[8] Abdul Qadir Jaelani, Peran Ulama, Santri Dalam Politik di Indonesia , (Surabaya: Bina Ilmu, 1994), hlm. 7

 

[9] Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1989), hlm. 414.

[10] Burhan Nurgiantoro, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum Sekolah (Sebuah Pengantar Teoritis dan Pelaksanaan), (Yogyakarta: BPFP, 1988), hlm. 13.

[11] Muhammad Zein, Asas dan Pengembangan Kurikulum, (Yogyakarta: Sumbangsih Offset, 1991), hlm. 26.

[12] Subandijah, Pengembangan dan Inovasi Kurikulum, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), hlm. 36.

[13] Ibid., hlm. 38

[14] Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran  (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hlm. 17

[15] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999), cet kedua, hlm. 4

[16] Ibid, hlm. 6

[17] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,2000), hlm. 58.

[18] Muhammad Zein, Op. Cit., hlm. 25

[19] Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah, (Bandung: Sinar Baru, 1991), hlm. 172.

[20] Oemar Hamalik, Pengembangan Kurikulum Dasar dan Pengembangannya, (Bandung: Bandar Maju, 1990), hlm. 49

[21] A.D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Al-Ma’arif, 1989), hlm.23

[22] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, (Bandung, PT. Remaja Rosdakarya, Cet. Ketiga, 2000), hlm. 102.

[23] Ibid., hlm. 103.

[24] Ibid., hlm. 105-107

[25] Ibid., hlm. 108-109.

[26] Ibid., hlm. 110-112.

[27] Ibid,hlm.150

[28] Ibid, hlm. 102-110

 

 

[29] Nana Syaodih, Op. Cit, hlm. 158-159

[30] Nana Syaodih, Pengembangan kurikulum, op.cit, hlm. 160-161.

[31] Hilda Taba, dalam tulisan S. Nasution, Asas-Asas Kurikulum, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hlm. 39.

[32] Departemen Pendidikan Nasional, Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Jakarta: Pusat Kurikulum Balitbang, 2002), hlm. 3.

[33] Iskandar Wiryokusumo, Usman Mulyadi, Dasar Pengembangan Kurikulum, (Jakarta: Bina Aksara, 1988), hlm. 7-9.

[34] Anas Sudijono, Metodologi Research dan Bimbingan Skripsi, (Yogyakarta : UD. Kami, 1983), hlm. 30.

[35] Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), hlm. 116

[36] M.Subana, Dasar-Dasar Penelitian Ilmiah, (Bandung : Pustaka Setia, 2001), hlm. 115.

[37] Ibid, hlm. 136.

[38] Sutrisno Hadi, Metodologi Research I, (Yogyakarta : Andi Offset, 1987), hlm. 183.

[39] Ibid, hlm. 206.

[40] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu…, Op.Cit, hlm. 202.

[41] Winarno Surakhmad, Pengantar Penelitian Ilmiah , (Bandung : Tarsito, 1982), hlm. 109.

[42] Winarno Surakhmad, Pengantar Penelitian Ilmiah, Dasar Metode dan Teknik, (Bandung: Tarsito, 1984), Edisi VII, hlm. 134.

[43] Sutrisno Hadi, Metodologi Research, jilid 2, Cet. XVII: (Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM, 1985), hlm. 242

[44] Winarno Surakhmad, Op.Cit, hlm. 145

[45] Jalaludin Rakhmad, Metode Penelitian Komunikasi, (Bandung: Remaja Karya, 1994), hlm. 14

[46]Buku Profil Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum, Yogyakarta : Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak, 2001, hlm. 08.

[47] M. Basyiruddin, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, Jakarta : Ciputat Pers, 2002, hlm. 120.

[48] Wawancara dengan Bapak Yasin, Panitia Penerimaan Siswa Baru 2003-2004, tanggal 29 Maret 2004, pukul. 10.30

[49] Data disalin dari tabel rekapitulasi jumlah siswa-siswi Madrasah Aliyah Ali Maksum tahun 2003-2004 pada bulan April 2004.

[50] Wawancara dengan Wakil Kepala Sekolah, Drs. Jutyamto, tanggal 26 April 2004

[51] Asyhari Abdullah Tamrin, Profil Madrasah Aliyah Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, (Yogyakarta: MA Ali Maksum, 2003), hlm. 32-33

[52] Wawancara dengan Wakil Kepala Sekolah Ur. Kurikulum dan Pengajaran, Bapak. Juyamto pada tanggal 04 Mei 2004, di Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum, pukul 13. 15 siang

[53] Nana Syaodih Sukmadinata., Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000), hlm. 38.

[54] Djunaidi Abd. Syukur, dkk., Profil Madrasah Aliyah Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, (Yogyakarta: ELHAMRA Press., 2003), hlm. 19.

[55] Dikutip dari dokumen GBPP Kurikulum 1994, pada tanggal. 22 Juni 2004.

[56] Djunaidi Abd. Syakur, dkk., Op. Cit., hlm. 10.

[57] Dikutip dari GBPP Kurikulum Madrasah Aliyah Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, pada tanggal. 22 Juni 2004.

[58] Hasil wawancara dengan waka sek, Juyamto, pada tanggal. 22 Juni 2004.

[59]  Nana Syaodih Sukmadinata, Op. Cit., hlm. 177.

[60] Muhammad Ali., Pengembangan Kurikulum Di Sekolah, (Bandung: Sinar Baru, 1992), hlm. 130.

[61] Wawancara dengan Bapak Juyamto Ur. Kurikulum, tanggal 22 Mei 2004

[62] Paul Suparno, SJ dkk, Reformasi Pendidikan…Op.Cit., hlm. 81.

[63] Wawancara dengan Bapak Juyamto, pada tanggal 22 Mei 2004.

[64] Ibid., tanggal. 22 Mei 2004.

[65] Ibid.

[66] Ibid.

[67] Ibid.,

[68] Hasil wawancara kelas (kegiatan belajar mengajar), dengan Bapak Juyamto, pada tanggal 04 Mei 2004.

[69] Ibid.,

[70] Hasil wawancara dengan guru Madrasah Aliyah Ali Maksum, Bapak Miftahuddin, pada tanggal 04 Mei 2004

[71] Asyhari Abdullah Tamrin, Profil Madrasah Aliyah Ali Maksum, Op. Cit., hlm. 45-48

[72] E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep Karakteristik, dan Implementasi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2003), hlm. 167

[73] Yayasan Ali Maksum, Buku Pedoman MTs dan MA Ali Maksum, (Yogyakarta: PPSB, 2003), hlm. 13

[74] E. Mulyasa, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, Op. Cit., hlm. 106

[75] Subandiyah, Op. Cit., hlm. 6

[76] HM. Ahmad, dkk., Pengembangan Kurikulum, (bandung: Pustaka Setia, 1998), hlm. 93-95

[77] E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Op. Cit., hlm. 101-102

[78] Ibid., hlm. 186

[79] Wawancara dengan Wakil Kepala Sekolah, Bapak Drs. Juyamto, tanggal 22 Mei 2004

[80] Asyhari Abdullah Tamrin, Porfil Madrasah Aliyah Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, (Yogyakarta: Elhamra Press, 2003), hlm. 28

[81] Muhammad Ali, Pengembangan Kurikulum Di Sekolah, (Bandung: Sinar Baru, 1992), hlm. 120-121

[82] E. Mulyasa, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 166

[83] Wawancara dengan Bapak Miftahuddin, S.HI., pada hari Senin, tanggal. 10 Mei 2004, pukul. 12.30 WIB.

[84] E. Mulyasa, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi…, Op.Cit., hlm. 77

[85] Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, Op. Cit., hlm. 159

[86] Muhammad Ali, Pengembangan Kurikulum Di Sekolah, Op. Cit., hlm, 130

[87] E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi…, Op. Cit., hlm. 166-167

[88] Wawancara dengan wakil kepala sekolah Ka.Ur. Kesiswaan Bapak Juyamto, pada tanggal. 22 Mei 2004

[89] Ibid.

[90] Wawancara dengan Bapak Juyamto Ur. Kurikulum, tanggal 22 Mei 2004

[91] Paul Suparno, SJ dkk, Reformasi Pendidikan…Op.Cit., hlm. 81.

[92] Wawancara dengan Bapak Juyamto, pada tanggal 22 Mei 2004.

[93] Ibid., tanggal. 22 Mei 2004.

[94] Ibid.

[95] Ibid.

[96] Ibid.,

[97] Hasil wawancara kelas (kegiatan belajar mengajar), dengan Bapak Juyamto, pada tanggal 04 Mei 2004.

[98] Ibid.,

[99] Hasil wawancara dengan guru Madrasah Aliyah Ali Maksum, Bapak Miftahuddin, pada tanggal 04 Mei 2004

[100] Asyhari Abdullah Tamrin, Profil Madrasah Aliyah Ali Maksum, Op. Cit., hlm. 45-48

[101] E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep Karakteristik, dan Implementasi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2003), hlm. 167

[102] Yayasan Ali Maksum, Buku Pedoman MTs dan MA Ali Maksum, (Yogyakarta: PPSB, 2003), hlm. 13

[103] E. Mulyasa, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, Op. Cit., hlm. 106

[104] Subandiyah, Op. Cit., hlm. 6

[105] HM. Ahmad, dkk., Pengembangan Kurikulum, (bandung: Pustaka Setia, 1998), hlm. 93-95

[106] E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Op. Cit., hlm. 101-102

[107] Ibid., hlm. 186

[108] Wawancara dengan Wakil Kepala Sekolah, Bapak Drs. Juyamto, tanggal 22 Mei 2004

[109] Asyhari Abdullah Tamrin, Porfil Madrasah Aliyah Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, (Yogyakarta: Elhamra Press, 2003), hlm. 28

[110] Muhammad Ali, Pengembangan Kurikulum Di Sekolah, (Bandung: Sinar Baru, 1992), hlm. 120-121

[111] E. Mulyasa, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 166

[112] Wawancara dengan Bapak Miftahuddin, S.HI., pada hari Senin, tanggal. 10 Mei 2004, pukul. 12.30 WIB.

[113] E. Mulyasa, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi…, Op.Cit., hlm. 77

[114] Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, Op. Cit., hlm. 159

[115] Muhammad Ali, Pengembangan Kurikulum Di Sekolah, Op. Cit., hlm, 130

[116] E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi…, Op. Cit., hlm. 166-167

[117] Wawancara dengan wakil kepala sekolah Ka.Ur. Kesiswaan Bapak Juyamto, pada tanggal. 22 Mei 2004

[118] Ibid.