BAB I

PENDAHULUAN

 

 

A.    Penegasan Istilah

Untuk memberi gambaran yang jelas dan untuk menghindari kesalahpahaman dalam memahami judul skripsi diatas, penulis perlu memberi penegasan dari pengertian istilah judul skripsi tersebut, sebagai berikut :

1.      Pengembangan, menurut kamus besar Bahasa Indonesia berasal dari kata dasar kembang yang artinya mekar, terbuka menjadi bertambah sempurna (pribadi, pemikiran, pengetahuan) menjadi banyak. Dengan demikian bahwa pengembangan adalah berarti perbuatan mengembangkan atau menjadikan sesuatu lebih baik atau sempurna.[1] Maksudnya disini adalah suatu proses atau perbuatan untuk mengembangkan kinerja profesi guru agama Islam.

2.      Profesionalitas adalah suatu usaha untuk mencapai tingkat profesional. Dibidang pendidikan dijelaskan dalam PP No. 38 Tahun 1992, yaitu tentang tenaga pendidikan. Tenaga kependidikan dibentuk melalui pendidikan.2 

3.      Guru, menurut Zakiyah Darajat adalah pendidik profesional karena secara implisit ia telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan yang terpikul di pundak para orang tua.3

4.      Agama, menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah kepercayaan terhadap Tuhan (dewa dsb) dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan itu. 4

5.      Islam, menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah agama yang diajarkan oleh Nabi Muhamad SAW,  berpedoman pada kitab suci Al Qur’an yang diturunkan ke dunia melalui wahyu Allah SWT. 5

6.      Sekolah Dasar di SeDesa Sidoarum, Godean, adalah lembaga pendidikan dasar  (sekolah  dasar) untuk  anak-anak  yang  berumur 6  sampai  dengan  12 tahun sebagai lembaga pendidikan dasar 6 tahun pertama.

Berdasarkan pada pengertian istilah-istilah diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan judul  Pengembangan Profesionalitas Guru Agama Islam di Sekolah Dasar Desa Sidoarum, Godean adalah sebuah upaya untuk mengamati dan melihat secara langsung setiap kegiatan untuk meningkatkan potensi profesi guru agama Islam dalam mengajar dan mendidik. 

 

B.     Latar Belakang Masalah

Profesi guru pada saat ini masih banyak dibicarakan orang atau masih saja dipertanyakan orang, baik dikalangan para pakar pendidikan maupun di luar pakar pendidikan. Selama dasawarsa terakhir ini hampir setiap hari, media masa khususnya media masa cetak baik harian maupun mingguan memuat berita tentang guru. Ironisnya berita-berita  tersebut banyak yang cenderung melecehkan posisi guru, baik yang sifatnya sangat pribadi sedangkan dari pihak guru sendiri nyaris tak mampu membela diri. Masyarakat atau orang tua murid pun kadang-kadang mencemoohkan dan menuding guru tidak kompeten, tidak berkualitas dan bahkan pada kenyataannya dilapangan banyak oknum yang berprofesi guru melakukan tindakan asusila atau tindak pidana lainnya. Sikap prilaku masyarakat tersebut memang bukan tanpa alasan, karena memang ada sebagian kecil oknum guru yang melanggar/ menyimpang dari kode etiknya.

Anehnya kesalahan sekecil apapun yang diperbuat guru mengundang reaksi yang begitu hebat di masyarakat. Hal ini dapat dimaklumi karena dengan adanya sikap demikian menunjukkan bahwa memang guru seyogyanya menjadi panutan bagi masyarakat di sekitar. Dan untuk menjadi seorang guru tidaklah mudah seperti yang dibayangkan orang selama ini. Mereka menganggap hanya dengan pegang kapur dan membaca buku pelajaran maka cukup bagi mereka utnuk berprofesi sebagai guru. 

Guru dalam Islam adalah orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik dengan mengupayakan seluruh potensinya, baik potensi afektif, potensi kognitif maupun potensi psikomotorik. Guru juga berarti orang dewasa yang bertanggung jawab memberikan pertolongan pada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai tingkat kedewasaan serta mampu berdiri sendiri dalam memenuhi tugasnya sebagai hamba Allah dan ia mampu sebagai makhluk sosial dan makhluk individu yang mandiri. 6

Guru dalam Islam sebagai pemegang jabatan profesional membawa misi ganda dalam waktu yang bersamaan, yaitu misi agama dan misi ilmu pengetahuan. Misi agama menuntut guru untuk menyampaikan nilai-nilaia ajaran agama kepada anak didik, sehingga anak didik dapat menjalankan kehidupan sesuai dengan norma-norma agama tersebut. Misi ilmu pengetahuan menuntut guru menyampaikan ilmu sesuai dengan perkembangan zaman.7

            Allah berfirman dalam Al-Qur’an, sebagai berikut :

 

 

 

 

 

 

 

“Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rosul dari golongan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan jiwa mereka dan mengajarkan kepada mereka  al-kitab dan al-hikmah. Dan sesungguhnya sebelum kedatangan Nabi itu, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata (QS. Ali Imran, 3 : 164) 8

 

            Dari  ayat diatas, dapat ditarik kesimpulan yang utama bahwa Rasulullah selain Nabi juga sebagai pendidik (guru). Oleh karena itu tugas utama guru menurut ayat tersebut adalah :

1.      Penyucian, yakni pengembangan, pembersihan dan pengangkatan jiwa kepada pencipta-Nya, menjauhkan diri dari kejahatan dan menjaga diri agar tetap berada pada fitrah.

2.      Pengajaran, yakni pengalihan berbagai pengetahuan dan akidah kepada akal dan hati kaum Muslimin agar mereka merealisasikannya dalam tingkat laku kehidupan.

Jadi tugas guru dalam Islam tidak hanya mengajar dalam kelas, tetapi juga sebagai norm drager (pembawa norma) agama di tengah-tengah masyarakat. Jika manusia lahir membawa kebaikan-kebaikan (fitrah) maka tugas pendidikan harus mengembangkan elemen-elemen (baik) tersebut yang dibawanya sejak lahir. Dengan begitu apapun yang di ajarkan di sekolah jangan sampai bertentangan dengen prinsip-prinsip fitrahnya tersebut. Oleh karena itu fitrah harus  tetap dikembangkan dan dilestarikan.   

            Ada penyebab yang khas mengapa orang begitu terhipnotis untuk menghargai guru yaitu karena adanya pandangan dalam Islam bahwa ilmu itu sumbernya dari Tuhan. Sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an yang artinya “tidak ada pengetahuan yang kami miliki kecuali yang engkau ajarkan kepada kami” (QS Al-Baqarah, 2 : 32) 9

 

 

 

 

 

            Ilmu datang dari Tuhan, dengan demikian pendidik pertama adalah Tuhan. Pandangan yang menembus langit ini dalam Islam telah melahirkan sikap bahwa ilmu itu tidak terpisah dari Allah dan guru, maka wajar kalau kedudukan guru amat tinggi dalam Islam. Hubungan guru dan anak didik dalam Islam tidak berdasarkan untung rugi. Hubungan guru dengan anak didik dalam Islam adalah suatu hubungan keagamaan,  suatu hubungan yang bersumber dari Allah.

Pada lazimnya pendidikan dipahami sebagai fenomena individual di satu pihak dan fenomena sosial di pihak lain. seorang guru akan terbantu jika ia memahami dan memiliki gagasan yang jelas tentang fitrah manusia, sebagaimana seorang pelukis atau pandai besi yang harus memahami karakteristik material yang dihadapinya. Praktek pendidikan akan menemui kegagalan kecuali jika dibangun di atas konsep yang jelas tentang fitrah manusia.

Tugas mengajar dan mendidik diumpamakan dengan sumber air. Sumber air itu mengalir dan bergabung dengan air lainnya, berpadu menjadi satu berupa sungai yang mengalir sepanjang masa. Kalau sumber air tidak diisi terus menerus, maka sumber air itu kering. Demikian juga jabatan guru, jika guru tidak berusaha menambah pengetahuan yang baru melalui membaca dan terus belajar maka materi sajian waktu mengajar akan gersang.

Oleh karena itu ia perlu berusaha untuk tumbuh baik secara pribadi maupun secara profesi. Karenanya jabatan guru dapat diilustrasikan sebagai sumber air yang terus menerus mengalir sepanjang karir seseorang.  Dan proses pertumbuhan profesi dimulai sejak guru mulai mengajar dan berlangsung sepanjang hidup dan karir. Yang masih dipertanyakan kapankah dorongan untuk berkembang itu mulai padam ?

Ilustrasi diatas merupakan gambaran yang ingin di telaah lebih jauh mengenai pengembangan profesionalitas guru Agama Islam di Sekolah Dasar Kelurahan Sidoarum, Godean dengan tujuan agar terjadi peningkatan kuantitas dan kualitas bagi profesi guru khususnya guru Agama Islam. 

 

 

C.    Rumusan Masalah

Dari gambaran permasalahan di atas dapat dirumuskan beberapa pokok kajian yang penting untuk diteliti sebagai berikut :

1.      Bagaimana upaya pengembangan profesionalitas guru Agama Islam di Sekolah Dasar - Sekolah Dasar di Desa Sidoarum ? 

2.      Bagaimana dampak pengembangan profesionalitas guru Agama Islam terhadap peningkatan kualitas pendidikan  di Sekolah Dasar - Sekolah Dasar di Desa Sidoarum ?

 

 

D.    Alasan Pemilihan Judul

1.      Mempertegas persepsi bahwa guru yang profesional selalu mempersiapkan diri sematang-matangnya sebelum ia mengajar, menguasai apa yang akan disajikan dan bertanggung jawab atas semua yang diajarkan serta segala tingkah lakunya. 

2.      Profesi guru agama Islam selain sebagai pendidik siswa juga memberikan pendidikan tentang agama yang wajib di jalankan oleh setiap manusia, dengan cara tersebut diharapkan menjadi satu paket pengajaran yang dapat di transfer kepada anak didiknya secara langsung. 

 

E.     Tujuan dan Kegunaan

1.      Untuk mengetahui upaya pengembangan profesionalitas guru Agama Islam di Sekolah Dasar - Sekolah Dasar di Desa Sidoarum ? 

2.      Untuk mengetahui dampak pengembangan profesionalitas guru agama Islam terhadap peningkatan kualitas pendidikan  di Sekolah Dasar - Sekolah Dasar di Desa Sidoarum ?

            Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah :

1.      Sebagai kontribusi ilmu pengetahuan bagi khasanah keilmuan, khususnya bagi lembaga pendidikan. 

2.      Sebagai bahan acuan bagi penelitian selanjutnya, khususnya dalam permasalahan-permasalahan yang berkaitan profesi seorang pendidik. 

 

 

F.     Telaah Pustaka

Penelitian dan penelaahan pustaka yang pernah penulis lakukan terhadap literatur-literatur  yang ada mengenai pengembangan profesionalitas  guru agama Islam  adalah sebagai berikut :

Skripsi M.Ainur Rafiq yang berjudul “kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam dan Minat Siswa Belajar PAI di SLTPN 1 Lamongan” yang mencoba membahas tentang tingkat kompetensi guru pendidikan agama Islam dan bagaimana pengaruhnya terhadap minat siswa belajar PAI”.

Skripsi  Alfa   Zamrotin  yang  berjudul  “kompetensi   guru    menurut   Al-Ghozali” dengan tujuan penelitian untuk menemukan, memahami dan mendalami tentang kompetensi guru yang bagaimana yang harus dimiliki oleh para guru untuk  menimngkatkan  kualitas pendidikan berdasar pada pemikiran Al-Ghozali. 

Skripsi Nana Mulyana yang berjudul “hubungan guru bahasa Arab dengan prestasi bahasa Arab siswa kelas II MAN  Cigugur Kuningan Jawa Barat” yang membahas tentang ada tidaknya hubungan antara kompetensi guru bahasa Arab dengan prestasi belajar bahasa Arab siswa.

Dalam penelitian ini disimpulkan tentang kompetensi seorang guru Agama Islam dalam menjalankan profesinya. Kemudian dalam penelitian yang penulis lakukan tentang bagaimana pengembangan profesionalitas guru Agama Islam  ketika menjalankan profesinya dan dalam proses belajar mengajar di Sekolah Dasar - Sekolah Dasar Desa Sidoarum, Godean sebagai kelanjutan dari pengembangan penelitian yang telah dilakukan diatas.

 

G.    Kerangka Teoritik

1.      Pengembangan Profesionalitas

Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan  dengan guru sebagai pemegang peranan utama. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung edukatif untuk mencapai tujuan tertentu.10 Guru sebagai jabatan profesional memegang peranan utama dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Bahwa mengajar adalah membimbing aktivitas belajar murid, agar belajar menjadi efektif dan dapat mencapai hasil yang optimal maka aktivitas murid dalam belajar sangat diperlukan dan guru harus meningkatkan kesempatan belajar siswanya.

Tatty S.B. Amran, seorang profesional muda mengatakan bahwa “untuk pengembangan profesionalitas diperlukan KASAH”. Oleh karena itu didalam pembahasan masalah pengembangan profesionalitas tidak akan terlepas dari kata kunci tersebut yaitu : 11

1.      Knowledge (pengetahuan),  adalah sesuatu yang didapat dari membaca dan pengalaman. Sedangkan ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang didapat dengan jalan keterangan (analisis). Jadi pengetahuan adalah sesuatu yang bisa dibaca, di pelajari dan dialami oleh setiap orang. Namun, pengetahuan seseorang harus di uji dulu melalui penerapan di lapangan. Penerapan pengetahuan tergantung pada wawasan, kepribadian dan kepekaan seseorang dalam melihat situasi dan kondisi.  Dalam mengembangkan profesionalisme guru, menambah ilmu pengetahuan adalah hal yang mutlak. Guru harus mempelajari segala macam pengetahuan, akan tetapi juga harus mengadakan skala prioritas. Karena menunjang keprofesionalan sebagai guru, menambah ilmu pengetahuan tentang keguruan sangat perlu. Semakin banyak ilmu pengetahuan yang dipelajari semakin banyak pula wawasan yang di dapat tentang ilmu.

2.      Ability (kemampuan), adalah terdiri dua unsur yaitu yang bisa dipelajari dan  yang alamiah. Pengetahuan dan keterampilan adalah unsur kemampuan yang bisa dipelajari sedangkan yang alamiah orang menyebutnya dengan bakat. Jika hanya mengandalkan bakat saja tanpa mempelajari dan membiasakan kemampuannya maka dia tidak akan berkembang. Karena bakat hanya sekian persen saja menuju keberhasilan, dan orang yang berhasil dalam pengembangan profesionalisme itu ditunjang oleh ketekunan dalam mempelajari dan mengasah kemampuannya. Oleh karena itu potensi yang ada pada setiap pribadi khususnya seroang guru harus terus diasah. Seorang guru yang mempunyai kemampuan tinggi akan selalu memperhitungkan segala sesuatunya, yaitu seberapa besar kemampuan bisa menghasilkan prestasi profesionalisme di dapat dari unsur kemauan dan kemampuan. Kemampuan paling dasar yang diperlukan adalah kemampuan dalam mengantisipasi setiap perubahan yang terjadi. Oleh karena itu seorang guu yang profesional tentunya tidak ingin ketinggalan dalam percaturan global.

3.      Skill (keterampilan), merupakan salah satu unsur kemampuan yang dapat dipelajari pada unsur penerapannya. Suatu keterampilan merupakan keahlian yang bermanfaat untuk jangka panjang. Banyak sekali keterampilan yang dibutuhkan dalam pengembangan profesionelisme, tergantung pada jenis pekerjaan masing-masing. Keterampilan mengajar merupakan pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas guru dalam pengajaran. Bagi seorang guru yang tugasnya mengajar dan peranannya di dalam kelas, keterampilan yang harus dimilikinya adalah  guru sebagai pengajar, guru sebagai pemimpin kelas, guru sebagai pembimbing, guru sebagai pengatur lingkungan, guru sebagai partisipan, guru sebagai ekspeditur, guru sebagai perencana, guru sebagai supervisor, guru sebagai motivator, guru sebagai penaya, guru sebagai pengajar, guru sebagai evaluator dan guru sebagai konselor.

4.      Attitude (sikap diri), sikap diri seseorang terbentuk oleh suasana lingkungan yang mengitarinya. Oleh karenanya sikap diri perlu dikembangkan dengan baik. Bahwa kepribadian menyangkut keseluruhan apsek seseorang baik fisik maupun psikis dan dibawa sejak lahir maupun yang diperoleh dari pengalaman. Kepribadian bukan terjadi dengan tiba-tiba akan tetapi terbentuk melalui perjuangan hidup yang sangat panjang.  Karena kepribadian adalah dinamis maka dalam proses kehidupan yang dijalani oleh setiap manusia pun berbeda-beda. Namun karena setiap manusia itu mempunyai tujuan maka dengan usaha yang sistematis dan terencana sesuai dengan tujuan akhir pendidikan peran guru sangat menentukan sekali.

5.       Habit (kebiasaan diri),  adalah suatu kegiatan yang terus menerus dilakukan yang tumbuh dari dalam pikiran. Pengembangan kebiasaan diri harus dilandasi dengan kesadaran bahwa usaha tersebut memutuhkan proses yang cukup panjang. Kebiasaan positif diantaranya adalah menyapa dengan ramah, memberikan rasa simpati, menyampaikan rasa penghargaan kepada kerabat, teman sejawat atau anak didik yang berprestasi dan lain-lain. Menilai diri sendiri sangatlah sulit. Kecenderungan orang adalah menilai sesuatu secara subjektif dan bila menyangkut diri sendiri orang akan mencari pembenaran atas sikap perbuatannya.

Oleh karena itu pendidikan harus difungsikan sebagai upaya pengembangan potensi yang dimiliki oleh manusia tersebut. Dan pandangan diatas mengisyaratkan bahwa persoalan pendidikan adalah bagaimana memberikan suasana yang kondusif bagi pengembangan etos kultural manusia, sehingga dalam kehidupan riil dapat melakukan dialog dengan lingkungan sekitar. Oleh sebab itu, pendidikan harus berperan dalam hal pengembangan potensi yang dikandung manusia tersebut.

Kondisi belajar mengajar yang efektif adalah adanya minat dan perhatian siswa dalam belajar. Bakat yang terdapat dalam diri seseorang merupakan suatu sifat yang relatif menetap. Dengan adanya pengembangan terhadap profesi guru diharapkan dapat membangkitkan minat anak terhadap belajar. Karena tugas guru adalah membangkitkan motivasi anak sehingga ia mau melakukan belajar. Motivasi dapat timbul dari dalam diri individu dan dapat pula timbul akibat pengaruh dari luar dirinya.

Motif adalah daya dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu atau keadaan seseorang atau organisme yang menyebabkan kesiapannya untuk memulai serangkaian tingkah laku atau perbuatan. Dan motivasi adalah proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan atau keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu. 12

 

2.      Profesi Guru 

Profesi  pada hakekatnya adalah suatu pernyataan atau suatu janji terbuka yang menyatakan bahwa seseorang itu mengabdikan dirinya pada suatu jabatan atau pelayanan karena orang tersebut merasa terpanggil untuk menjabat pekerjaan itu.  Mengenai istilah  profesi,  Everett  Hughes  yang  dialih  bahasakan  oleh  Piet A. Sahertian menjelaskan bahwa istilah profesi merupakan simbol dari suatu pekerjaan dan selanjutnya menjadi pekerjaan itu sendiri. 13

Menurut Chandler yang dialih bahasakan oleh Piet A. Sahertian menegaskan bahwa profesi mengajar adalah suatu jabatan yang mempunyai kekhususan. Kekhususan itu memerlukan kelengkapan mengajar dan atau keterampilan yang menggambarkan bahwa seseorang melakukan tugas mengajar yaitu membimbing manusia dan mempunyai ciri-cirinya adalah sebagai berikut : 14

 Suatu profesi menunjukkan bahwa orang itu lebih mementingkan layanan kemanusiaan dari pada kepentingan pribadi.

a.       Masyarakat mengakui bahwa profesi itu punya status yang tinggi.

b.      Praktek profesi itu didasarkan pada suatu penguasaan pengetahuan yang khusus.

c.       Profesi itu selalu di tantang agar orangnya memiliki keaktivan intelektual.

d.      Hak untuk memiliki standar kualifikasi profesional ditetapkan dan dijamin oleh kelompok organisasi profesi.

Seorang guru dikatakan profesional bila guru memiliki kualitas mengajar yang tinggi. Padahal profesional mengandung makna yang lebih luas dari hanya berkualitas tinggi dalam hal teknis. Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pendidik. Melalui pengajaran guru membentuk konsep berpikir, sikap jiwa dan menyentuh afeksi yang terdalam dari inti kemanusiaan subjek didik.

Guru berfungsi sebagai pemberi inspirasi. Guru membuat si terdidik dapat berbuat. Guru menolong agar subjek didik dapat menolong dirinya sendiri. Guru menumbuhkan prakarsa, motivasi agar subjek didik mengatualisasikan dirinya sendiri. Jadi guru yang ahli mampu menciptakan situasi belajar yang mengandung makna relasi interpersonal. Relasi interpersonal harus diciptakan sehingga subjek didik merasa “diorangkan”, subjek didik mempunyai jati dirinya.

Perlu diketahui bahwa terdapat sedikit perbedaan mengenai pengertian dalam menjalankan profesi sebagai guru. Dalam penelitian yang dilakukan penulis adalah profesi tentang guru agama Islam. Pengertian guru sebagaimana telah disinggung diatas menurut Zakiyah Darajat, adalah  pendidik profesional karena secara implisit ia telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan yang terpikul di pundak para orang tua. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa guru secara umum dapat memberikan sebuah tanggung jawab kepada anak didiknya melalui ilmu secara umum. Kemudian  guru agama Islam lebih khusus kepada ilmu secara khusus, yaitu memberikan pengajaran secara formil kepada anak didiknya untuk mempelajari ilmu agama Islam dalam jangka waktu tertentu dengan kurikulum dan metode yang telah disiapkan.

Hakikat manusia adalah sebagai pribadi yang utuh, yang mampu menentukan diri sendiri atas tanggung jawab sendiri. Guru yang ahli harus dapat menyentuh inti kemanusiaan subjek didik melalui pelajaran yang diberikan. Ini berarti bahwa cara mengajar guru harus diubah dengan cara yang bersifat dialogis dalam arti yang ekstensial. Jadi jabatan guru di samping sebagai pengajar, pembimbing dan pelatih pula dipertegas sebagai pendidik.

Guru dibentuk bukan hanya untuk memiliki seperangkat keterampilan teknis saja, tetapi juga memiliki kiat mendidik serta sikap yang profesional.  Dengan demikian praktek pengalaman calon guru harus lebih lama sekurang-kurangnya satu tahun agar mereka memperoleh peningkatan dan kelengkapan profesional yang mantap sebelum terjun dalam dunia mengajar.

Guru yang profesional di samping ahli dalam bidang mengajar dan mendidik, ia juga memiliki otonomi dan tanggung jawab. Yang dimaksud dengan otonomi adalah suatu sikap yang profesional yang disebut mandiri. Ia telah memiliki otonomi atau kemandirian yang dalam mengemukakan apa yang harus dikatakan berdasarkan keahliannya. Pada awalnya ia belum punya kebebasan atau otonomi. Ia masih belajar sebagai magang. Melalui proses belajar dan perkembangan profesi maka pada suatu saat ia akan memiliki sikap mandiri.

Pengertian bertanggung jawab menurut teori ilmu mendidik mengandung arti bahwa seseorang mampu memberi pertanggung jawaban dan kesediaan untuk diminta pertanggung jawaban. Tanggung jawab yang mengandung makna multidimensional ini berarti bertanggung jawab terhadap diri sendiri, terhadap siswa, terhadap orang tua, lingkungan sekitarnya, masyarakat, bangsa dan negara, sesama manusia dan akhirnya terhadap Tuhan Yang Maha Pencipta. 15

 Guru sebagai sosial worker (pekerja sosial) sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Namun kebutuhan masyarakat akan guru belum seimbang dengan sikap sosial masyarakat terhadap profesi guru. Rendahnya pengakuan masyarakat terhadap guru menurut Nana Sudjana disebabkan oleh beberapa faktor yaitu :

a.       Adanya pandangan sebagian masyarakat bahwa siapa pun dapat menjadi guru, asalkan ia berpengetahuan, walaupun tidak mengerti didaktikmetodik.

b.      Kekurangan tenaga guru di daerah terpencil memberikan peluang untuk mengangkat seseorang yang tidak mempunyai kewenangan profesional untuk menjadi guru.

c.       Banyak tenaga guru sendiri yang belum menghargai profesinya sendiri, apabila berusaha mengembangkan profesi tersebut. Perasaan rendah diri karena menjadi guru masih menggelayut di hati mereka sehingga mereka melakukan penyalahgunaan profesi untuk kepuasaan dan kepentingan pribadi yang hanya akan menambah pudar wibawa guru dimata masyarakat. 16

Salah satu hal menarik pada ajaran Islam adalah penghargaan yang tinggi terhadap guru. Begitu tingginya penghargaan ini sehingga menempatkan kedudukan guru setingkat di bawah kedudukan Nabi dan Rosul. Mengapa demikian, karena guru adalah bapak rohani (spiritual father) bagi anak didik yang memberi santapan jiwa dengan ilmu pengetahuan.

Penghargaan Islam terhadap orang yang berilmu tergambar dalam hadist seperti dikutip oleh Ahmad Tafsir, yaitu :

a.       Tinta ulama lebih berharga dari pada darah para syuhada.

b.      Orang yang berpengetahuan melebihi orang yang senang beribadah, orang yang berpuasa, melebihi kebaikan orang yang berperang di jalan Allah.

c.       Apabila meninggal seorang alim maka terjadilah kekosongan dalam Islam yang tidak dapat diisi kecuali oleh orang yang alim pula. 17

Guru merupakan faktor yang sangat dominan dan paling penting dalam pendidikan formal pada umumnya karena bagi siswa guru sering dijadikan tokoh teladan bahkan menjadi tokoh identifikasi diri. Oleh sebab itu guru seyogyanya memiliki perilaku dan kemampuan yang memadai untuk mengembangkan siswanya secara utuh. Untuk melaksanakan tugasnya secara baik sesuai dengan profesi yang dimilikinya guru perlu menguasai berbagai hal sebagai kompetensi yang dimilikinya.

Guru harus memahami dan menghayati para siswa yang dibinanya karena wujud siswa pada setiap saat tidak akan sama. Sebab perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memberikan dampak serta nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia sangat mempengaruhi gambaran para lulusan suatu sekolah yang diharapkan. Oleh sebab itu gambaran perilaku guru yang diharapkan sangat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh keadaan itu sehingga dalam melaksanakan proses belajar mengajar, guru diharapkan mampu mengantisipasi perkembangan keadaaan dan tuntutan masyarakat pada masa yang akan datang.

           

H.    Metode Penelitian

1.      Metode Penentuan Subjek

Penelitian ini menggunakan teknik “penentuan subjek” yaitu salah satu cara untuk menentukan siapa saja yang menjadi subjek penelitian ini. Adapun yang menjadi subjek penelitian ini adalah :

a.       Kepala Sekolah

b.      Guru Agama Islam

c.       Siswa

 

2.      Metode Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data penelitian maka penulis menggunakan metode sebagai berikut :

a.       Metode Interview

Yaitu cara pengumpulan data dengan jalan bertanya jawab kepada sepihak yang dikerjakan secara sistematis dan berdasarkan pada tujuan penelitian.18 Interview terhadap Kepala Sekolah, untuk mengetahui sejarah perkembangan Sekolah Dasar yang dipimpinnya. 

b.      Metode Observasi

Pengambilan data melalui pengamatan dan pencatatan secara sistematis fenomena-fenomena yang di selidiki.19 Tujuan penggunaan metode ini adalah agar bisa diperoleh dan diketahui data sebenarnya. Adapun yang di observasi adalah  semua kegiatan yang dilakukan oleh guru Agama Islam dalam mengajar dan mendidik murid-murid di sekolah dasar tersebut.

c.       Metode Angket

Angket (questioner) merupakan suatu daftar pertanyaan atau pernyataan tentang topik tertentu yang diberikan kepada subjek, baik secara individual atau kelompok untuk mendapatkan informasi tertentu seperti referensi, keyakinan, minat dan perilaku. 20

Metode angket ini mempunyai empat bentuk, yaitu bentuk terbuka dan tertutup, bentuk skala, bentuk daftar cek dan bentuk rangking. Dalam penelitian ini penulis memilih menggunakan angket bentuk skala, karena yang menjadi objek penelitian adalah penilaian sebuah profesi yang sulit di ukur secara eksak. 21  

d.      Metode Dokumentasi

Adalah suatu cara untuk memperoleh data yang bersumber pada data-data yang tertulis seperti : peraturan-peraturan, raport dan lain-lain. 22 Metode  ini untuk memperoleh data tentang letak geografis, sejarah singkat berdirinya sekolah dan lain-lain.

3.      Metode Analisa Data

Untuk menyeleksi dan menyusun serta menafsirkan data dengan tujuan agar data tersebut dapat di mengerti isi dan maskudnya. Dan dilakukan secara deskriptif kualitatif,  yaitu menggambarkan atau melukiskan keadaan subjek maupun objek penelitian pada saat penelitian dilakukan berdasarkan fakta-fakta yang berkualitas. 23

Untuk menganalisa data yang ada, penulis menggunakan metode analisa kuantitatif yaitu skala likert.  Untuk menganalisa data yang diperoleh, penulis menggunakan rumus presentase sebagai berikut :

  P   =   f   x   100  %

                        N

Keterangan :

f       =    Jumlah frekuensi

N     =    Number of Case ( jumlah referensi/banyaknya individu)

p      =    persentase 24

 

I.  Sistematika Pembahasan  

Bab Pertama, pendahuluan yang mendeskripsikan tentang penegasan istilah, latar belakang masalah, rumusan masalah, alasan pemilihan judul, tujuan dan kegunaan penelitian, telaah pustaka, kerangka teoritik, metode penelitian dan sistematika pembahasan.

Bab Kedua mendeskripsikan secara umum tentang Sekolah Dasar - Sekolah Dasar di Desa Sidoarum, Godean yang meliputi : letak geografis, sejarah berdirinya dan perkembangan.  

Bab Ketiga adalah analisa data hasil penelitian yaitu mengenai upaya pengembangan profesionalitas guru di Sekolah Dasar yang di Desa Sidoarum, Godean dan  dampak pengembangan profesionalitas guru terhadap pendidikan di Sekolah Dasar (peningkatan kualitas pendidikan) Desa Sidoarum, Godean.

Pada pembahasan yang terakhir, yaitu bab keempat berisi kesimpulan dari seluruh pembahasan sebelumnya, saran-saran dan kata penutup.

BAB II

GAMBARAN UMUM

SEKOLAH DASAR SEDESA SIDOARUM

 

 

A.     Letak Geografis

Desa Sidoarum merupakan salah satu bagian dari wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta yang berada di kecamatan Godean Kabupaten Sleman. Di lingkungan Desa Sidoarum terdapat 7 buah sekolah dasar negeri, 1 sekolah dasar Muhamadiyah dan 1 sekolah dasar Madrasah Ibtida’iyah.  Masing-masing sekolah dasar berada di 6 dusun yang berada di Desa Sidoarum.

Desa Sidoarum dibatasi oleh :

·         Sebelah barat berbatasan dengan Desa Sidokarto

·         Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Sungai

·         Sebelah Utara berbatasan dengan persawahan

·         Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Ambar Ketawang Gamping

Adapun nama dan letak dari masing-masing sekolah dasar yang ada di Desa Sidoarum adalah :

1.      Sekolah Dasar Negeri Semarangan IV

Berada di dusun Tangkilan Sidoarum, Godean Kabupaten Sleman dengan batas wilayah sebagai berikut :

  • Sebelah barat dibatasi dusun Wirokraman 
  • Sebelah Timur dibatasi persawahan
  • Sebelah Utara dibatasi Makam 
  • Sebelah Selatan dibatasi dusun Karang25

2.      Sekolah Dasar Negeri Pengkol

Berada di dusun Pengkol Sidoarum, Godean Kabupaten Sleman dengan batas wilayah sebagai berikut :

  • Sebelah barat dibatasi sungai
  • Sebelah Timur dibatasi dusun Krapyak
  • Sebelah Utara dibatasi dusun Gesikan
  • Sebelah Selatan dibatasi persawahan26

3.      Sekolah Dasar Negeri Krapyak

Berada di dusun Krapyak Sidoarum, Godean Kabupaten Sleman dengan batas wilayah sebagai berikut :

  • Sebelah barat dibatasi dusun Kramat
  • Sebelah Timur dibatasi dusun Mejing
  • Sebelah Utara dibatasi dusun Krapyak Lor
  • Sebelah Selatan dibatasi persawahan dan dusun Jengkelingan27

4.      Sekolah Dasar Negeri Sidoarum

Berada di dusun Krapyak Sidoarum, Godean Kabupaten Sleman dengan batas wilayah sebagai berikut :

  • Sebelah barat dibatasi dusun Kramat
  • Sebelah Timur dibatasi dusun Mejing
  • Sebelah Utara dibatasi dusun Krapyak Lor
  • Sebelah Selatan dibatasi persawahan dan dusun Jengkelingan 28

5.      Sekolah Dasar Negeri Tinom

Berada di dusun Tinom Sidoarum, Godean Kabupaten Sleman dengan batas wilayah sebagai berikut :

  • Sebelah barat dibatasi persawahan
  • Sebelah Timur dibatasi perumahan dan  persawahan
  • Sebelah Utara dibatasi dusun Beji
  • Sebelah Selatan dibatasi dusun Candran 29 

6.      Sekolah Dasar Muhamadiyah Sidoarum

Berada di dusun Cokrobedog Sidoarum, Godean Kabupaten Sleman dengan batas wilayah sebagai berikut :

  • Sebelah barat dibatasi jalan raya Gamping
  • Sebelah Timur dibatasi persawahan
  • Sebelah Utara dibatasi perumahan Sidoarum Blok I 
  • Sebelah Selatan dibatasi dusun Mejing 30

7.      Madrasah Ibtida’iyah Ma’arif Candran

Berada di dusun Candran Sidoarum, Godean Kabupaten Sleman dengan batas wilayah sebagai berikut :

  • Sebelah barat dibatasi belokan kecil dan jalan umum
  • Sebelah Timur dibatasi persawahan dan dusun nglarang
  • Sebelah Utara dibatasi persawahan
  • Sebelah Selatan dibatasi sawah dan beberapa rumah baru.31 

 

B.     Sejarah Singkat Berdirinya32

Keberadaan suatu sekolah atau lembaga pendidikan di tengah-tengah masyarakat sampai saat ini terus diharapkan keberadaannya. Sebab dengan adanya suatu sekolah atau lembaga pendidikan akan mampu mengangkat derajat kehidupan masyarakat di mana suatu sekolah itu berada.

Derajat kehidupan masyarakat yang diharapkan terus meningkat khususnya pendidikan. Dan pendidikan dapat dilalui dengan cara berdirinya sekolah-sekolah di lingkungan tempat tinggal.  Sehingga dengan pendidikan yang cukup seorang anak akan memiliki pengetahuan yang benar-benar dapat menunjang pertumbuhan diri pribadi di masa mendatang.

Seiring dengan meningkatnya anggota masyarakat di Desa Sidoarum Godean Kabupaten Sleman, tentu saja membutuhkan sarana dan prasarana kelangsungan masa depan masyarakat melalui pendidikan.  Yaitu diberdirikannya sekolah-sekolah dasar di dusun-dusun tempat tinggal masyarakat Desa Sidoarum. Sebagaimana telah diuraikan diatas, terdapat 7 sekolah dasar diperuntukan bagi masyarakat Desa Sidoarum. 

Adapaun berdirinya sekolah dasar yang ada di Desa Sidoarum beragam sesuai dengan perkembangan kehidupan di lingkungan tersebut, yaitu :

1.      Sekolah Dasar Negeri Semarangan IV,  berdiri  tahun  1959

2.      Sekolah Dasar Negeri Pengkol, berdiri tahun 1977

3.      Sekolah Dasar Negeri Krapyak, berdiri tahun 1985

4.      Sekolah Dasar Negeri Sidoarum, berdiri tahun 1984

5.      Sekolah Dasar Negeri Tinom, berdiri tahun 1984

6.      Sekolah Dasar Muhamadiyah Sidoarum, berdiri tahun 1982

7.      Madrasah Ibtida’iyah Candran, berdiri tahun 1970

Hingga saat ini ke 7 sekolah dasar tersebut diatas telah mencetak anak didik yang berkualitas. Bahkan kuantitas atau jumlah anak didik dari tahun pertama berdiri hingga saat ini semakin meningkat, hal ini ditandai dengan berbagai perubahan terhadap sarana dan prasarana sekolah yang bersangkutan. Hal tersebut di lakukan karena semakin meningkatnya kebutuhan pendidikan bagi masyarakat setempat yang semakin hari semakin menyadari betapa pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya guna kehidupan yang akan datang.

Dengan bantuan dan perhatian aparat setempat hingga kepada tingkat propinsi, ke 7 sekolah dasar di Desa Sidoarum mengalami perkembangan yang cukup baik mulai dari pembangunan fisik atau bangunan, bertambahnya jumlah murid, fasilitas sekolah dan lain sebagainya.

 

 

C.    Perkembangan dan Struktur Organisasi

Untuk menunjang keberhasilan pendidikan di suatu sekolah maka dalam kegiatan proses belajar mengajar harus pula di dukung adanya sarana dan prasarana yang memadai, struktur organisasi serta guru bahkan anak didik. Salah 

Demikian pun dengan sekolah-sekolah dasar yang ada di Desa Sidoarum melalui pengurusnya akan menjalankan lembaga pendidikan tersebut. Jika di hitung sejak awal berdiri hingga saat ini tentu saja 7 sekolah dasar yang ada telah mencetak berbagai sumber daya manusia yang sangat berkualitas. Perkembangan yang terjadi sangat terlihat jelas dari setiap tahunnya. Misalnya melalui pembangunn fisik/bangunan, peningkatan jumlah murid, pengajar atau guru yang berprestasi dan sebagainya.

Pengurus organisasi ke 7 Sekolah dasar di Desa Sidoarum telah membuktikan bahwa kualitas dan kuantitas terus meningkat sesuai dengan perkembangan jaman. Meskipun mengalami berbagai perubahan namun tetap menunjukkkan hasil yang cukup menggembirakan. Melalui struktur organisasi yang ditetapkan di sekolah dasar masing-masing, dengan demikian prestasi yang dicapai setiap sekolah pun berbeda, namun dalam mencetak sumber daya manusia tetap mempunyai kualitas yang sama. 

Dibawah ini penulis uraikan mengenai struktur organisasi, sarana dan prasarana serta jumlah pengajar dan murid sekolah dasar yang ada di Desa Sidoarum,  yaitu :

1.      Sekolah Dasar Negeri Semarangan IV

a.       Struktur Organisasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


b.      Sarana dan Prasarana

Ada pun sarana dan prasarana yang dimiliki oleh Sekolah Dasar Negeri  Semarangan IV adalah :

1.      Ruangan  kelas  sebanyak 6 ruang.

2.      Ruangan Kantor Kepala Sekolah 1 ruang 

3.      Ruangan Kantor Guru sebanyak 1 ruang

4.      Ruangan Perpustakaan  sebanyak 1 ruang

5.      Ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) sebanyak 1 ruang

6.      Ruangan WC dan kamar mandi sebanyak 2 ruang

7.      Sumur 1 buah

c.       Keadaan Guru dan Murid

Jumlah pengajar di Sekolah Dasar Semarangan IV terdiri dari :

1.  Kepala Sekolah sebanyak 1 orang

2.  Guru kelas sebanyak 6 orang

3.  Guru olah raga sebanyak 1 orang

4.  Guru agama Islam sebanyak 1 orang

                        Jumlah murid di Sekolah Dasar Negeri Semarangan IV terdiri dari

1.      Kelas 1 sebanyak 19 orang

2.      Kelas 2 sebanyak 14 orang

3.      Kelas 3 sebanyak 14 orang

4.      Kelas 4 sebanyak 20 orang

5.      Kelas 5 sebanyak 9 orang

6.      Kelas 6 sebanyak 12 orang 33

2.      Sekolah Dasar Negeri Pengkol

a.      

Kepala Ran Din P & K

 Kecamatan

     

     Pemilik TK/         Pemilik  PAI

       SD

 
Struktur Organisasi

 

 

 

 

 


                               

Dewan Guru

Guru Kelas

I , II, III, IV, V, VI

Murid

Orang Tua/wali murid

Masyarakat

 

 
 

 


 

 

 

 

b.      Sarana dan Prasarana

Ada pun sarana dan prasarana yang dimiliki oleh Sekolah Dasar Negeri  Pengkol adalah :

1.      Ruangan  kantor 

2.      Ruangan kelas  sebanyak 6 ruang

3.      Gudang 

4.      Kamar Mandi 

5.      Mushola 

6.      Halaman dan tempat parkir

7.      Fasilitas kelas yaitu meja murid, kursi, papan tulis, almari, rak buku

 

c.       Keadaan Guru dan Murid

Jumlah pengajar di Sekolah Dasar Negeri Pengkol terdiri dari :

1.  Kepala Sekolah sebanyak 1 orang

2.  Guru kelas sebanyak 6 orang

3.  Guru olah raga sebanyak 1 orang

4.  Guru agama Islam sebanyak 1 orang

5.  Guru Pramuka sebanyak 2 orang

6.  Guru Bahasa Inggris & Seni Tari sebanyak 1 orang

            Jumlah murid di Sekolah Dasar Negeri Pengkol terdiri dari :

1.      Kelas 1 sebanyak 40 orang

2.      Kelas 2 sebanyak 49 orang

3.      Kelas 3 sebanyak 43 orang

4.      Kelas 4 sebanyak 44 orang

5.      Kelas 5 sebanyak 40 orang

6.      Kelas 6 sebanyak 42 orang 34

3.      Sekolah Dasar Negeri Krapyak

a.       Struktur Organisasi

Kepala Sekolah

 

BP 3.

 

PEM Des

 
 


                               

 

 

 

GR

PAI

 

 

 

 

 

GR

KLS

 

 

GR

KLS

 

 

GR

KLS

 

 

 

GR

KLS

 

 

 

GR

KLS

 

 

 

 

PENJAS

 

 

 

GR

KLS

 

 

Penjaga SD

 
 

 

 

 


b.      Sarana dan Prasarana

Ada pun sarana dan prasarana yang dimiliki oleh Sekolah Dasar Negeri  Krapyak  adalah :

1.      Ruangan  kantor 

2.      Ruangan kelas  sebanyak 6 ruang

3.      Gudang 

4.      Kamar Mandi 

5.      Mushola 

6.      Halaman dan tempat parker

7.      Fasilitas kelas yaitu meja murid, kursi, papan tulis, almari, rak buku

c.       Keadaan Guru dan Murid 

Jumlah pengajar di Sekolah Dasar Negeri Krapyak  terdiri dari :

1.  Kepala Sekolah sebanyak 1 orang

2.  Guru sebanyak 6 orang

3.  Guru olah raga sebanyak 1 orang

4.  Guru agama Islam sebanyak 1 orang

                        Jumlah murid di Sekolah Dasar Negeri Krapyak terdiri dari :

1.      Kelas 1 sebanyak 40 orang

2.      Kelas 2 sebanyak 37 orang

3.      Kelas 3 sebanyak 29 orang

4.      Kelas 4 sebanyak 30 orang

5.      Kelas 5 sebanyak 31 orang

6.      Kelas 6 sebanyak 34 orang 35

4.      Sekolah Dasar Negeri Sidoarum

a.       Struktur Organisasi

 

Pem. Kec.

 

Kepala Sekolah

 

PEM Des

 
 


                               

 

 


B P

 

 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


b.      Sarana dan Prasarana

Ada pun sarana dan prasarana yang dimiliki oleh Sekolah Dasar Negeri  Sidoarum adalah :

1.      Ruangan  Kepala Sekolah  

2.      Ruangan Guru

3.      Ruangan kelas  sebanyak 6 ruang

4.      Gudang 

5.      Kamar Mandi 

6.      Fasilitas kelas yaitu meja murid, kursi, papan tulis, almari, rak buku

c.       Keadaan Guru dan Murid 

Jumlah pengajar di Sekolah Dasar Negeri Sidoarum  terdiri dari :

1.  Kepala Sekolah sebanyak 1 orang

2.  Guru sebanyak 6 orang

3.  Guru olah raga sebanyak 1 orang

4.  Guru agama Islam sebanyak 1 orang

                        Jumlah murid di Sekolah Dasar Negeri Sidoarum  terdiri dari :

1.      Kelas 1 sebanyak 40 orang

2.      Kelas 2 sebanyak 44 orang

3.      Kelas 3 sebanyak 40 orang

4.      Kelas 4 sebanyak 38 orang

5.      Kelas 5 sebanyak 36 orang

6.      Kelas 6 sebanyak 32 orang 36

5.      Sekolah Dasar Negeri Tinom

a.       Struktur Organisasi

 

Kepala Sekolah

 

BP 3.

 

PEM Des

 

                               

 

 

 

GR

PAI

 

 

 

 

 

GR

KLS

 

 

GR

KLS

 

 

GR

KLS

 

 

 

GR

KLS

 

 

 

GR

KLS

 

 

 

 

PENJAS

 

 

 

GR

KLS

 

 

Penjaga SD

 
 

 

 

 

 

 


b.      Sarana dan Prasarana

Ada pun sarana dan prasarana yang dimiliki oleh Sekolah Dasar Negeri  Tinom adalah :

1.      Ruangan  kelas sebayak 10 ruang 

2.      Ruangan Kantor 

3.      Gudang sebanyak 3 ruang

4.      Parkir sebanyak 2 halaman 

5        Ruangan Perpustakaan  & UKS

c.       Keadaan Guru dan Murid 

Jumlah pengajar di Sekolah Dasar Negeri Tinom  terdiri dari :

1.  Kepala Sekolah sebanyak 1 orang

2.  Guru sebanyak 6 orang

3.  Guru olah raga sebanyak 1 orang

4.  Guru agama Islam sebanyak 1 orang

5.  Guru bahasa Inggris sebanyak 1 orang

6.  Guru KTK sebanyak 1 orang

                        Jumlah murid di Sekolah Dasar Negeri Tinom  terdiri dari :

5.      Kelas 1 sebanyak 37 orang

6.      Kelas 2 sebanyak 30 orang

7.      Kelas 3 sebanyak 40 orang

8.      Kelas 4 sebanyak 38 orang

9.      Kelas 5 sebanyak 30 orang

10.  Kelas 6 sebanyak 45 orang37

6        Sekolah Dasar Muhamadiyah Sidoarum

a.      

Yayasan

 
Struktur Organisasi

 

 


 

Kepala Sekolah

 

                               

 

 

 

GR

PAI

 

 

 

 

 

GR

KLS

 

 

GR

KLS

 

 

GR

KLS

 

 

 

GR

KLS

 

 

 

GR

KLS

 

 

 

 

PENJAS

 

 

 

GR

KLS

 

 
 

 

 


b.      Sarana dan Prasarana

Ada pun sarana dan prasarana yang dimiliki oleh Sekolah Dasar Muhamadyah Sidoarum adalah :

1.      Ruangan  Kepala Sekolah  

2.      Ruangan Guru

3.      Ruangan kelas  sebanyak 6 ruang

4.      Ruangan Laboratorium/ Tik

5.      Gudang 

6.      Kamar Mandi 

7.      Mushola

8.      Halaman dan parkir

9.      Fasilitas kelas yaitu meja murid, kursi, papan tulis, almari, rak buku

 

c.       Keadaan Guru dan Murid 

Jumlah pengajar di Sekolah Muhamadiyah Sidoarum terdiri dari :

1.  Kepala Sekolah sebanyak 1 orang

2.  Guru sebanyak 6 orang

3.  Guru olah raga sebanyak 2 orang

4.  Guru agama Islam sebanyak 1 orang

5.  Guru bahasa Inggris sebanyak 1 orang

                        Jumlah murid di Sekolah Dasar Negeri Tinom  terdiri dari :

1.      Kelas 1 sebanyak 28 orang

2.      Kelas 2 sebanyak 22 orang

3.      Kelas 3 sebanyak 36 orang

4.      Kelas 4 sebanyak 23 orang

5.      Kelas 5 sebanyak 28 orang

6.      Kelas 6 sebanyak 21 orang38

7.      Madrasah Ibtida’iyah Ma’arif Candran

a.       Struktur Organisasi

 

 

 


                               

 

 

 

GR

PAI

 

 

 

 

 

GR

KLS

 

 

GR

KLS

 

 

 

GR

KLS

 

 

 

GR

KLS

 

 

 

GR

KLS

 

 
 

 

 


b.      Sarana dan Prasarana

Ada pun sarana dan prasarana yang dimiliki oleh Madrasah Ibtida’iyah Ma’arif Candran  adalah :

1.      Ruangan  Kepala Sekolah  

2.      Ruangan Guru

3.      Ruangan Tamu

4.      Ruangan kelas  sebanyak 6 ruang

5.      Mushola

6.      UKS

7.      Perpustakaan

8.      Gudang 

9.      Kamar Mandi 

10.  Sumur

11.  Fasilitas kelas yaitu meja murid, kursi, papan tulis, almari, rak buku, mesin tik, sound system, dll.

c.       Keaadaan Guru dan Murid 

Jumlah pengajar di Sekolah Dasar Negeri Tinom  terdiri dari :

1.  Kepala Sekolah sebanyak 1 orang

2.  Guru sebanyak 6 orang

3.  Guru agama Islam sebanyak 2 orang

4.  Guru bahasa Inggris sebanyak 1 orang

 

 

                        Jumlah murid di Madrasah Ibtida’iyah Ma’arif Candran terdiri dari

1.      Kelas 1 sebanyak 17 orang

2.      Kelas 2 sebanyak 28 orang

3.      Kelas 3 sebanyak 14 orang

4.      Kelas 4 sebanyak 14 orang

5.      Kelas 5 sebanyak 11 orang

6.      Kelas 6 sebanyak 13 orang39

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN 

 

 

 

Dalam bab ini, penulis akan mengemukakan dan menganalisis hasil penelitian tentang upaya pengembangan profesionalitas guru di Sekolah Dasar yang di Desa Sidoarum, Godean dan dampak pengembangan profesionalitas guru terhadap pendidikan di Sekolah Dasar (peningkatan kualitas pendidikan) Desa Sidoarum, Godean. Karakteristik 10 orang responden adalah guru dan 35 orang responden adalah murid sekolah dasar di desa Sidoarum sebagai berikut :

Tabel 3.1

Karakteristik Responden Guru Sekolah Dasar di Desa Sidoarum

 

Usia

 Jumlah Responden

> 30 tahun

<  30 tahun

10 orang

1 orang

Jenis Kelamin

 

Perempuan

Laki – Laki

 5 orang

5 orang

Masa Kerja

 

> 10 tahun

<  10 tahun

9 orang

1 orang

 

 Karakteristik Responden Murid  Sekolah Dasar di Desa Sidoarum

 

Usia

 Jumlah Responden

11 tahun

 12  tahun

20 orang

15 orang

Jenis Kelamin

 

Perempuan

Laki – Laki

 23 orang

12 orang

Nama Sekolah

 

 SD Muh.Sidoarum  

SDN Krapyak

SDN Pengkol

SDN Tinom

SDN Sdioarum

SDN Semarangan IV

Madrasah Ibtida’iyah  Ma’arif

5 orang

5 orang

5 orang

5 orang

5 orang

5 orang

5 orang

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober  2004

Selanjutnya penulis akan menyajikan dan menganalisis hasil penelitian tentang upaya pengembangan profesionalitas guru sekolah dasar di desa Sidoarum dan Godean dan dampak pengembangan profesionalitas guru terhadap pendidikan di Sekolah Dasar (peningkatan kualitas pendidikan) Desa Sidoarum, Godean.

 

D.    Upaya Pengembangan Profesionalitas Guru di Sekolah Dasar Se Desa Sidoarum, Godean

Selama berdirinya sekolah dasar Se Desa Sidoarum telah membuahkan hasil yang maksimal bagi guru-gurunya. Berbagai upaya dilakukan guna mengembangankan profesionalitas guru sekolah dasar Se Desa Sidoarum. Adapun beberapa upaya yang dimaksud adalah sebagai berikut :

8.      Sekolah Dasar Negeri Semarangan IV

§  Mengadakan diskusi kelompok di dalam kelas

§  Mengadakan belajar kelompok di luar jam pelajaran

§  Ekstrakurikuler baca tulis Al Qur’an

8.      Sekolah Dasar Negeri Pengkol

a.       Memberikan metode belajar di luar gedung sekolah 

b.      Mengikuti Penataran

c.       Mengikuti sarasehan antar guru

9.      Sekolah Dasar Negeri Krapyak

a.       Mengikuti pelatihan

b.      Metode belajar di luar kelas

c.       Ekstrakurikuler

10.  Sekolah Dasar Negeri Sidoarum

a.       Mengikuti kegiatan LSM

b.      Menghadiri pertemuan para guru

c.       Mengadakan perlombaan kecerdasan

11.  Sekolah Dasar Negeri Tinom

a.       Satu minggu sekali mengadakan kerja bakti di sekolah

b.      Mengadakan pertemuan dengan orang tua murid

c.       Membantu mahasiswa PPL dalam mengajar di kelas

12.  Sekolah Dasar Muhamadiyah Sidoarum

a.       Bekerja sama dengan LSM  dalam pembuatan materi ekstarkurlikuler

b.      Mengadakan mountoring setiap minggu

13.  Madrasah Ibtida’iyah Ma’arif Candran

a.       Mengadakan kegiatan rutin yang diadakan sekolah

b.      Berdiskusi dengan para murid setiap saat

c.       Mengadakan program murid berprestasi

Dan untuk mengetahui bagaimana upaya pengembangan profesionalitas guru Agama Islam sekolah dasar di desa Sidoarum, penulis telah memberikan 20 pertanyaan kepada responden yaitu guru Agama Islam pada 7 sekolah dasar di desa Sidoarum. Masing-masing pertanyaan tersebut mempunyai empat alternative jawaban yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS) dan Sangat Tidak Setuju (STS).

 Adapun jawaban yang diberikan oleh responden mengenai pengembangan profesionalitas mengajar, penulis kemukakan melalui hasil kuesioner/pertanyaan yang diuraikam satu persatu. Hasil analisa masing-masing pertanyaan tersebut dapat dilihat dari hasil persentase sebagaimana terdapat dalam tabel-tabel berikut :

Tabel 3.2.

Pernyataan responden tentang

menambah wawasan sebelum mengajar  membaca buku referensi.

No

Jawaban

f

P

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

4

6

-

-

40

60

-

-

Jumlah

10

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

 

Jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan diatas menunjukkan hasil positif. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan sebanyak 40 % menyatakan sangat setuju dan 60 % menyatakan setuju. Artinya setiap guru sangat baik jika menambah wawasan sebelum mengajar  membaca buku referensi.

Tabel 3.3.

Pernyataan responden tentang

Guru perlu berdiskusi tentang pelajaran yang akan di ajarkan

No

Jawaban

f

P

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

2

7

1

-

20

70

10

-

Jumlah

10

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

 

Jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan diatas menunjukkan hasil positif. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan sebanyak 20 % menyatakan sangat setuju dan 70 % menyatakan setuju. Meskipun terdapat jawaban sebanyak 10 % menyatakan tidak setuju. Dengan demikian tetap sebanyak 90 % menyatakan bahwa  guru perlu berdiskusi tentang pelajaran yang akan di ajarkan. 

Tabel 3.4.

Pernyataan responden tentang

Sering mengikuti pelatihan/penataran yang berkaitan dengan pekerjaan

No

Jawaban

f

p

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

3

6

1

-

30

60

10

-

Jumlah

10

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

 

Jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan diatas menunjukkan hasil positif. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan sebanyak 30 % menyatakan setuju dan 60 % menyatakan sangat setuju. Dan terdapat jawaban sebanyak 10 % menyatakan tidak setuju. Dengan demikian tetap sebanyak 90 % menyatakan bahwa baik sekali jika guru sering mengikuti pelatihan/penataran yang berkaitan dengan pekerjaan

Tabel 3.5.

Pernyataan responden tentang

Penguasaan materi, sangat berpengaruh pada kualitas belajar mengajar di kelas

No

Jawaban

f

p

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

7

3

-

-

70

30

-

-

Jumlah

10

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

 

Jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan diatas menunjukkan hasil positif. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan sebanyak 30 % menyatakan setuju dan 70 % menyatakan sangat setuju.  Dengan demikian menyatakan bahwa penguasaan materi, sangat berpengaruh pada kualitas belajar mengajar di kelas.

Tabel 3.6.

Pernyataan responden tentang

 Seorang guru harus memiliki metode dalam mengajar

No

Jawaban

f

p

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

6

4

-

-

60

40

-

-

Jumlah

10

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

 

Jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan diatas menunjukkan hasil positif. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan sebanyak 60 % menyatakan sangat setuju dan 40 % menyatakan setuju. Dengan demikian menyatakan bahwa  seorang guru harus memiliki metode dalam mengajar.

Tabel 3.7.

Pernyataan responden tentang

Menjadi guru Agama Islam, sebagai pendidik dan  suri tauladan

sesama umat muslim

No

Jawaban

f

p

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

4

6

-

-

40

60

-

-

Jumlah

10

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

 

Jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan diatas menunjukkan hasil positif. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan sebanyak 40 % menyatakan sangat setuju dan 60 % menyatakan setuju.  Dengan demikian menyatakan bahwa   menjadi guru Agama Islam, sebagai pendidik dan  suri tauladan sesama umat muslim.

Tabel 3.8.

Pernyataan responden tentang

Metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar harus bervariasi

No

Jawaban

f

p

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

5

5

-

-

50

50

-

-

Jumlah

10

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

 

Jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan diatas menunjukkan hasil positif. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan sebanyak 50 % menyatakan sangat setuju dan 50 % menyatakan setuju.  Dengan demikian menyatakan bahwa   metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar harus bervariasi

Tabel 3.9.

Pernyataan responden tentang

 Guru Agama Islam adalah pekerjaan yang tidak dapat di ukur dengan materi

No

Jawaban

f

p

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

4

5

1

-

40

50

10

-

Jumlah

10

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

 

Jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan diatas menunjukkan hasil positif. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan sebanyak 40 % menyatakan setuju dan 50 % menyatakan sangat setuju. Dan terdapat jawaban sebanyak 10 % menyatakan tidak setuju. Dengan demikian tetap sebanyak 90 % menyatakan bahwa  Guru Agama Islam adalah pekerjaan yang tidak dapat di ukur dengan materi

 

Tabel 3.10.

Pernyataan responden tentang

Perilaku seorang guru merupakan panutan bagi anak didik

No

Jawaban

f

P

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

4

6

-

-

40

60

-

-

Jumlah

10

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

 

Jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan diatas menunjukkan hasil positif. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan sebanyak 40 % menyatakan sangat setuju dan 60 % menyatakan setuju.  Dengan demikian menyatakan bahwa perilaku seorang guru merupakan panutan bagi anak didik

Tabel 3.11.

Pernyataan responden tentang

Guru agama Islam sekaligus mampu mengevaluasi pendidikan  secara menyeluruh

No

Jawaban

f

p

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

6

4

-

-

60

40

-

-

Jumlah

10

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

 

Jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan diatas menunjukkan hasil positif. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan sebanyak 60 % menyatakan sangat setuju dan 40 % menyatakan  setuju.  Dengan demikian menyatakan bahwa Guru agama Islam sekaligus mampu mengevaluasi pendidikan secara menyeluruh.

 

 

Tabel 3.12.

Pernyataan responden tentang

 Strategi yang dipergunakan dalam proses belajar mengajar

 berpedoman kepada peraturan Mendiknas

No

Jawaban

f

p

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

8

2

-

-

80

20

-

-

Jumlah

10

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

 

 

Jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan diatas menunjukkan hasil positif. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan sebanyak 80 % menyatakan sangat setuju dan 20 % menyatakan setuju.  Dengan demikian menyatakan bahwa  srategi yang dipergunakan dalam proses belajar mengajar  berpedoman kepada peraturan Mendiknas

Tabel 3.13.

Pernyataan responden tentang

Keterampilan seorang guru sangat menunjang kualitas mengajar

No

Jawaban

f

p

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

7

3

-

-

70

30

-

-

Jumlah

10

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

 

 

Jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan diatas menunjukkan hasil positif. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan sebanyak 70 % menyatakan sangat setuju dan 30 % menyatakan setuju.  Dengan demikian menyatakan bahwa keterampilan seorang guru sangat menunjang kualitas mengajar.

 

Tabel 3.14.

Pernyataan responden tentang

Rencana kerja dalam mengajar sangat penting untuk pembentukan profesi

No

Jawaban

f

p

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

1

8

1

-

10

80

10

-

Jumlah

10

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

 

Jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan diatas menunjukkan hasil positif. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan sebanyak 10 % menyatakan setuju dan 80 % menyatakan sangat setuju. Dan terdapat jawaban sebanyak 10 % menyatakan tidak setuju. Dengan demikian tetap sebanyak 90 % menyatakan bahwa  rencana kerja dalam mengajar sangat penting untuk pembentukan profesi.

 

Tabel 3.15.

Pernyataan responden tentang

 Organisasi profesi guru sangat baik untuk diikuti

No

Jawaban

f

p

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

-

10

-

-

-

100

-

-

Jumlah

10

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

 

 

Jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan diatas menunjukkan hasil positif. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan sebanyak 100 % menyatakan setuju.  Dengan demikian menyatakan bahwa      keterampilan seorang guru sangat menunjang kualitas mengajar.

 

 

Tabel 3.16.

Pernyataan responden tentang

 Pertanyaan murid dapat membantu penguasaan dan pengembangan ilmunya

No

Jawaban

f

p

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

6

4

-

-

60

40

-

-

Jumlah

10

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

 

 

Jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan diatas menunjukkan hasil positif. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan sebanyak 60 % menyatakan sangat setuju dan 40 % menyatakan  setuju.  Dengan demikian menyatakan bahwa  pertanyaan murid dapat membantu penguasaan dan pengembangan ilmunya.

 

Tabel 3.17.

Pernyataan responden tentang

 Seorang guru perlu memberikan penghargaan kepada murid yang berprestasi

No

Jawaban

f

p

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

4

6

-

-

40

60

-

-

Jumlah

10

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

 

 

Jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan diatas menunjukkan hasil positif. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan sebanyak 40 % menyatakan sangat setuju dan 60 % menyatakan  setuju.  Dengan demikian menyatakan bahwa seorang guru perlu memberikan penghargaan kepada murid yang berprestasi

 

Tabel 3.18.

Pernyataan responden tentang

 Perhatian guru kepada murid sangatlah penting bagi pertumbuhan pribadi murid

No

Jawaban

f

p

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

5

5

-

-

50

50

-

-

Jumlah

10

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

 

 

Jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan diatas menunjukkan hasil positif. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan sebanyak 50 % menyatakan sangat setuju dan 50 % menyatakan  setuju.  Dengan demikian menyatakan bahwa perhatian guru kepada muridn sangatlah penting bagi pertumbuhan pribadi murid

 

Tabel 3.19.

Pernyataan responden tentang

 Murid-muridnya baik jika diberi kesempatan  untuk belajar di luar kelas

No

Jawaban

f

p

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

4

6

-

-

40

60

-

-

Jumlah

10

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

 

 

 Jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan diatas menunjukkan hasil positif. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan sebanyak 40 % menyatakan sangat setuju dan 60 % menyatakan  setuju.  Dengan demikian menyatakan bahwa murid-muridnya baik jika diberi kesempatan  untuk belajar di luar kelas

 

Tabel 3.20.

Pernyataan responden tentang

Guru perlu mengetahui perilaku anak didiknya

No

Jawaban

f

p

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

5

5

-

-

50

50

-

-

Jumlah

10

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

 

Jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan diatas menunjukkan hasil positif. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan sebanyak 50 % menyatakan sangat setuju dan 50 % menyatakan  setuju.  Dengan demikian menyatakan bahwa  guru perlu mengetahui perilaku anak didiknya.

Tabel 3.21.

Pernyataan responden tentang

 Belajar mengajar yang profesional adalah mengikuti secara baku aturan yang di tentukan pemerintah

No

Jawaban

f

p

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

6

4

-

-

60

40

-

-

Jumlah

10

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

 

Jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan diatas menunjukkan hasil positif. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan sebanyak 60 % menyatakan sangat setuju dan 40 % menyatakan  setuju.  Dengan demikian menyatakan bahwa  guru belajar mengajar yang profesional adalah mengikuti secara baku aturan yang di tentukan pemerintah

Dari hasil analisis data diatas menunjukkan bahwa responden mempunyai tanggapan atas pertanyaan yang diberikan penulis adalah positif. Artinya upaya pengembangan profesionalitas seorang guru khususnya Guru Agama Islam memerlukan berbagai usaha meningkatkan kualitas sumber daya manusianya melalui berbagai cara.

Upaya pengembangan professionalitas yang dimaksud dapat melalui cara mengikuti pelatihan, bergabung dengan lembaga atau organisasi, memperhatikan dengan seksama terhadap anak didiknya baik dalam kelas/luar kelas bahkan terhadap perkembangan diri dan kualitas belajar. Juga strategi yang bervariasi dalam proses belajar mengajar memberikan angin segar dan meningkatkan kualitas belajar anak didik, yang tentu saja mengikuti aturan main yang telah di tetapkan oleh pemerintah.

 

E.     Dampak Pengembangan Profesionalitas Guru Terhadap Pendidikan Di Sekolah Dasar (peningkatan kualitas pendidikan) Se Desa Sidoarum Godean 

Untuk mengetahui bagaimana dampak dari upaya pengembangan profesionalitas guru Agama Islam sekolah dasar di desa Sidoarum, penulis telah memberikan 20 pertanyaan kepada 35 responden yaitu murid kelas 6 di pada 7 sekolah dasar yang ada di desa Sidoarum. Masing-masing pertanyaan tersebut mempunyai empat alternatif jawaban yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS) dan Sangat Tidak Setuju (STS).

Adapun jawaban yang diberikan oleh responden mengenai dampak pengembangan profesionalitas guru dalam mengajar, penulis kemukakan melalui hasil kuesioner/pertanyaan yang diuraikam satu persatu. Hasil analisa masing-masing pertanyaan tersebut dapat dilihat dari hasil persentase sebagaimana terdapat dalam tabel-tabel berikut :

Tabel 3.22.

Pernyataan responden tentang

 Senang guru agama Islam selalu melemparkan pertanyaan kepada siswa

No

Jawaban

f

p

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

13

19

3

-

37.1

54.2

8.5

-

Jumlah

35

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

 

Jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan diatas menunjukkan hasil positif. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan sebanyak 37.1 % menyatakan setuju dan 54,2 % menyatakan sangat setuju. Dan terdapat jawaban sebanyak 8,5 % menyatakan tidak setuju. Namun demikian murid tetap menyatakan bahwa senang jika guru agama Islam selalu melemparkan pertanyaan kepada siswa

Tabel 3.23

Pernyataan responden tentang

Senang karena guru memberikan bahan bacaan

No

Jawaban

f

p

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

21

14

-

-

60

40

-

-

Jumlah

35

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

 

Jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan diatas menunjukkan hasil positif. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan sebanyak 60 % menyatakan sangat setuju dan 40 % menyatakan setuju. Dengan demikian murid akan senang sekali jika guru selalu memberikan bahan bacaan karena akan meningkatkan semangat belajar mereka. 

Tabel 3.24

Pernyataan responden tentang

 Senang karena dalam satu minggu sekali berdiskusi di dalam kelas

No

Jawaban

f

P

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

12

21

2

-

34.3

60

5.7

-

Jumlah

35

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

 

Jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan diatas menunjukkan hasil positif. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan sebanyak 34,3 % menyatakan sangat setuju dan 60 % menyatakan setuju. Dan terdapat jawaban sebanyak 5,7 % menyatakan tidak setuju. Sebagian besar murid menginginkan variasi dalam belajar di dalam kelas meskipun terdapat beberapa murid yang tidak suka jika diadakan diskusi, dan hal tersebut menjadi pertimbangkan guru untuk dapat mencari solusi. 

Tabel 3.25

Pernyataan responden tentang

Senang karena di luar kelas, dapat berdiskusi dengan guru di ruangannya

No

Jawaban

f

p

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

8

11

6

-

22.8

31.4

17.1

-

Jumlah

35

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

 

Jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan diatas menunjukkan hasil positif. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan sebanyak 22,8 % menyatakan sangat setuju dan 31,4 % menyatakan setuju. Dan terdapat jawaban sebanyak 17,1 % menyatakan tidak setuju. Sebagian besar murid menginginkan variasi dalam belajar di dalam kelas meskipun terdapat beberapa murid yang tidak suka jika diadakan diskusi, dan hal tersebut menjadi pertimbangkan guru untuk dapat mencari solusi. 

Tabel 3.26

Pernyataan responden tentang

Tidak suka jika dalam mengajar “ia merokok” bagi guru laki-laki dan “memainkan alat komunikasi (HP)” bagi guru perempuan

No

Jawaban

f

p

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

17

3

8

7

48.5

8.5

22.8

20

Jumlah

35

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

 

Jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan diatas menunjukkan  bahwa sebanyak 48,5 % menyatakan sangat setuju dan 8,5  % menyatakan setuju. Dan terdapat jawaban sebanyak 22,8 % menyatakan tidak setuju serta 20 % menyatakan sangat tidak setuju. Menurut jawaban diatas murid mempunyai pemikiran yang seimbang antara guru diberikan kebebasan dalam mengajar dan sebagian murid menyatakan baik jika tidak melakukan sesuatu yang  mengganggu proses belajar mengajar. 

Tabel 3.27

Pernyataan responden tentang

 Senang jika ada siswa yang mengganggu dan diberi sanksi di dalam kelas

No

Jawaban

f

p

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

16

11

4

4

45.7

31.4

11.4

11.4

Jumlah

35

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

 

Jawaban responden terhadap pertanyaan diatas menunjukkan hasil positif. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan sebanyak 45,7 % menyatakan sangat setuju dan 31,4 % menyatakan setuju. Dan terdapat jawaban sebanyak 11,4 % menyatakan tidak setuju serta 11,4 % menyatakan sangat tidak setuju. Dalam hal ini pun terdapat perbedaan sedikit mengenai keadilan bagi seorang murid jika melakukan hal-hal yang mengganggu murid lainnya dan perlu diberikan ganjaran atau sanksi. 

Tabel 3.28

Pernyataan responden tentang

Senang seminggu sekali di adakan test harian

No

Jawaban

f

p

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

16

15

4

-

45.7

42.8

11.4

-

Jumlah

35

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

 

Jawaban responden menunjukkan hasil positif. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan sebanyak 45,7 % menyatakan sangat setuju dan 42,8 % menyatakan setuju. Dan terdapat jawaban sebanyak 11,4 % menyatakan tidak setuju   Dalam hal ini dikarenakan karakter murid yang bermacam-macam, para guru hendaknya dapat memberikan pengertian bahwa metode tersebut adalah baik bagi perkembangan studi mereka. 

Tabel 3.29

Pernyataan responden tentang

 Senang jika guru dalam mengajar tidak membawa buku

No

Jawaban

f

p

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

-

5

20

10

-

14.2

57.1

28.5

Jumlah

35

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

 

Jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan diatas menunjukkan hasil positif. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan sebanyak 14,2 % menyatakan setuju. Dan terdapat jawaban sebanyak 57,1 % menyatakan tidak setuju serta 28,5 % menyatakan sangat tidak setuju. Artinya murid menginginkan bahwa guru dalam mengajar telah siap secara materi di depan kelas. Karena kadang kala ketika tidak membawa buku materi yang akan disampaikan tidak diingat lagi atau untuk mengantisipasi materi yang disampaikan tidak melebar. 

Tabel 3.30.

Pernyataan responden tentang senang jika diberi pekerjaan rumah.

No

Jawaban

f

p

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

18

17

-

-

51.8

48.5

-

-

Jumlah

35

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

 

Jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan diatas menunjukkan hasil positif. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan sebanyak 51,8 % menyatakan sangat setuju dan 48,5 % menyatakan setuju.   Hal ini sangat baik karena murid akan merasakan adanya peningkatan prestasi belajar mereka. 

Tabel 3.31.

Pernyataan responden tentang

 Senang karena selalu di pantau perkembangan nilai yang di dapat

No

Jawaban

f

p

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

15

18

2

-

42.8

51.4

5.7

-

Jumlah

35

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

Jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan diatas menunjukkan hasil positif. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan sebanyak 42,8 % menyatakan setuju. Dan terdapat jawaban sebanyak 51,4 % menyatakan tidak setuju serta 5,7 % menyatakan sangat tidak setuju. Artinya murid merasa diperhatikan oleh gurunya dan hal demikian sangat baik bagi perkembangan diri pribadinya. 

Tabel 3.32.

Pernyataan responden tentang

 Tidak senang jika guru memperhatikan salah satu siswa saja

No

Jawaban

F

p

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

14

3

13

5

40

8.5

37.1

14.2

Jumlah

35

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

 

Jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan diatas sangat beragam. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan sebanyak 40 % menyatakan sangat setuju, sebanyak 8,5 menyatakan setuju. Dan terdapat jawaban sebanyak 37,1 % menyatakan tidak setuju serta 14,2  % menyatakan sangat tidak setuju. Artinya murid menginginkan bahwa guru berlaku adil dalam memperhatikan para anak didiknya. 

Tabel 3.33.

Pernyataan responden tentang

 Senang ketika guru mengajar selalu berjalan-jalan di dalam kelas karena bisa terdengar oleh semua siswa

No

Jawaban

f

p

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

15

16

4

-

42.8

45.7

11.4

-

Jumlah

35

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

Jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan diatas beragam. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan sebanyak 42,8 % menyatakan sangat setuju dan 45,7 % menyatakan setuju. Dan terdapat jawaban sebanyak 11,4 % menyatakan tidak setuju Artinya sebagian murid menginginkan materi yang di sampaikan guru dapat disimak dengan seksama karena kondisi ruangan kelas yang dapat mempengaruhi pendengaran. 

Tabel 3.34.

Pernyataan responden tentang

Senang komunikasi dengan guru selayaknya sebagai orang tua sendiri

No

Jawaban

f

p

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

14

19

2

-

40

54.2

5.7

-

Jumlah

35

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

 

Jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan diatas menunjukkan hasil positif. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan sebanyak 40 % menyatakan setuju. Dan terdapat jawaban sebanyak 54,2 % menyatakan tidak setuju serta 5,7 % menyatakan sangat tidak setuju. Dengan demikian baik bagi guru jika anak didiknya dianggap sebagai anaknya, karena orang tua kedua bagi anak didik di sekolah adalah gurunya. 

Tabel 3.35.

Pernyataan responden tentang

 Senang jika cara guru menerangkan pelajaran, selalu dilemparkan kepada siswa terlebih dahulu

No

Jawaban

f

p

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

9

16

10

-

25.7

45.7

28.5

-

Jumlah

35

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

Jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan diatas beragam. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan sebanyak 25,7 % menyatakan sangat setuju dan sebanyak 45,7 %menyatakan setuju. Dan terdapat jawaban sebanyak 28,5 % menyatakan tidak setuju. Artinya tidak setiap murid menginginkan metode dua arah. Bahkan mereka dapat menyimak pelajaran hanya dengan mendengarkan saja. 

Tabel 3.36.

Pernyataan responden tentang

Tidak senang jika melihat guru duduk diatas mejanya

No

Jawaban

f

p

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

11

4

10

10

31.4

11.4

28.5

28.5

Jumlah

35

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

 

Jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan diatas beragam. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan sebanyak 31,4 % menyatakan sangat setuju dan sebanyak 11,4 % menyatakan setuju. Dan terdapat jawaban sebanyak 28,5 % menyatakan tidak setuju serta 28,5 % menyatakan sangat tidak setuju. Artinya kesopanan guru dalam mengajar perlu diperhatikan. 

Tabel 3.37.

Pernyataan responden tentang

Senang ketika guru berhalangan mengajar, guru lain memberi tahu kepada siswa

No

Jawaban

f

p

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

8

16

9

2

22.8

45.7

25.7

5.7

Jumlah

35

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

 

Jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan diatas beragam. Yaitu sebanyak 22,8 % menyatakan sangat setuju dan sebanyak 45,7 % menyatakan setuju. Dan terdapat jawaban sebanyak 25,7 % menyatakan tidak setuju serta 5,7 % menyatakan sangat tidak setuju. Artinya murid akan tetap menerima pelajaran dengan cara lain meskipun guru tidak dating dan hal demikian baik sekali jika dilakukan oleh seorang guru. 

Tabel 3.38.

Pernyataan responden tentang

Tidak senang jika guru sering terlambat

No

Jawaban

f

p

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

8

9

14

4

22.8

25.7

40

11.4

Jumlah

35

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

 

Jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan diatas beragam. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan sebanyak 22,8 % menyatakan sangat setuju dan sebanyak 25, 7 % menyatakan setuju. Dan terdapat jawaban sebanyak 40 % menyatakan tidak setuju serta 11,4 % menyatakan sangat tidak setuju. Artinya sebagian murid senang jika gurunya terlambat dating begitupun sebagian tidak senang karena akan mengurangi kualitas belajar mereka. 

Tabel 3.39.

Pernyataan responden tentang

 Senang karena guru yang mengajar sangat ramah

No

Jawaban

f

p

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

25

8

2

-

71.4

22.8

5.7

-

Jumlah

35

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

Jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan diatas positif. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan sebanyak 71,4 % menyatakan sangat setuju dan sebanyak 22,8 % menyatakan setuju. Dan terdapat jawaban sebanyak 5,7  % menyatakan tidak setuju Artinya keramahan sangatlah dibutuhkan oleh setiap anak didik ketika belajar. 

Tabel 3.40.

Pernyataan responden tentang

 Membolos karena setiap mengajar guru memberikan test lisan

No

Jawaban

f

p

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

-

-

15

20

-

-

42.8

57.1

Jumlah

35

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

 

Jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan diatas sangat postitf. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan sebanyak 42,8 % menyatakan tidak setuju dan sebanyak 57,1 menyatakan sangat tidak setuju.   Artinya murid menyadari bahwa perbuatan demikian dapat merugikan diri sendiri baik langsung ataupun tidak langsung. 

Tabel 3.41.

Pernyataan responden tentang

Tidak senang karena  di dalam kelas guru kalau mengajar suaranya pelan

No

Jawaban

f

p

a.

b.

c.

d.

Sangat Setuju (SS)

Setuju (S)

Tidak Setuju (TS)

Sangat Tidak Setuju (STS)

8

7

15

2

22.8

20

42.8

5.7

Jumlah

35

100

Sumber : Hasil Penelitian, Oktober 2004

 

Jawaban yang diberikan responden terhadap pertanyaan diatas beragam. Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang diberikan sebanyak 22,8 % menyatakan sangat setuju dan sebanyak 20 % menyatakan setuju. Dan terdapat jawaban sebanyak 42,8 % menyatakan tidak setuju serta 5,7 % menyatakan sangat tidak setuju. Artinya murid menganggap bahwa pelajaran dapat disimak bukan karena keras atau tidaknya suara ketika guru berbicara. 

Dengan demikian berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya murid menginginkan sesuatu yang sangat bermanfaat bagi dirinya. Dan hal tersebut di serahkan sepenuhnya kepada guru yang mengajar, artinya murid akan dengan senang hati menerima apa yang akan diajarkan oleh gurunya baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

Akan tetapi murid pun berhak untuk menerima apa yang dia harapkan. Berbagai kondisi seperti fisik dan daya tangkap murid dalam menjalankan proses belajar di kelas akan berbeda satu dengan yang lain. Perhatian yang cukup dari seorang guru akan memberikan sebuah inovasi bagi perkembangan diri dan daya pikir setiap muridnya. Apalagi bagi murid kelas 6 yang sebentar lagi akan melaknjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Daya pikir yang mereka punya semakin dapat memberikan kritikan bagi para guru. Dan pada saatnya akan menjadikan sebuah akibat yang buruk jika para guru, khususnya guru Agama Islam dalam mendidik murid dengan kehendak hati.

Dalam proses belajar diperlukan sebuah strategi yang tepat. Artinya seorang guru dalam menjadi pendidik juga sebagai orang tua kedua bagi anak didiknya. Sebagai pendidik di sekolah terdapat berbagai mancam metode yang menjadi referensi bagi guru dalam menjalankan profesinya. Dalam hal ini metode-metode yang digunakan diseuaikan dengan kemampuan guru yang bersangkutan.

Strategi yang dimiliki oleh setiap guru adalah berbeda satu dengan yang lain. Artinya improvisasi guru dalam mengajar akan memberikan persepsi bahwa karakter guru tersebut adalah demikian. Namun untuk mengendalikan karakteristik maka diperlukan sebuah kerangka atau skesta metode yang jelas. Salah satunya adalah bagaimana menjaga profesionalitas dalam mengajar didalam kelas. Hal demikian sangatlah mudah jika guru yang bersangkutan maksimal dalam menjalankan profesinya.

Seperti halnya telah disampaikan dalam kuesioner, para guru memberikan pendapatnya profesionalitas guru dapat di lihat jika menikmati jenis pekerjaan dan juga sebagai   pengendali diri. Artinya profesi guru jarang diminati oleh setiap orang karena berbagai factor yang banyak menghambat, seperti penghasilan yang tidak memuaskan, lokasi yang cukup jauh dari rumah dan predikat karir yang tidak dapat berkembang dan sebagainya.

Namun dari faktor lain, bahwa profesi guru adalah sangat di idam-idamkan oleh sebagian kecil masyarakat. Meskipun dalam prakteknya banyak mengalami berbagai hambatan. Hingga saat ini untuk menjadi seorang guru dengan status “pegawai negeri” sangatlah sulit, hal tersebut membuktikan bahwa profesionalitas seorang guru sangatlah diperhitungkan. Khususnya seorang guru Agama Islam yang mengemban tugas bukan hanya sebagai pendidik.

Jawaban yang disampaikan oleh responden atau murid sekolah dasar yang ada di desa Sidoarum menunjukkan hasil yang positif secara keseluruhan. Artinya dari 20 pertanyaan yang di sampaikan adalah memberikan gambaran bagaimana seorang guru yang dapat menjadi pendidik dan sekaligus menjadi orang tua mereka di sekolah. Karena setiap 6 jam dalam sehari bahkan satu minggu mereka berada di sekolah untuk mendapatkan berbagai ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan mereka kelak. Otomatis bahwa guru-guru yang ada di sekolah yang wajib membimbing dan mengawasi berbagai perilaku anak didiknya tanpa kecuali.

Terbayangkan sangatlah sulit secara kasat mata, bagaimana mendidik anak yang begitu banyak setiap hari selama 6 jam, dan tentu saja mempunyai karakter yang berbeda-beda pula. Untuk dapat menjalani proses demikian, perlu adanya metode dan berbagai referensi yang dimiliki guru sebelum mengahadapi anak didiknya tersebut.

Berbagai cara dilakukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia seorang guru sebelum “ia” terjun ke lapangan. salah satunya adalah mempelajari ilmu secara formil, mengikuti pelatihan-pelatihan, perkumpulan-perkumpulan atau lembaga-lembaga, seminar, studi banding ke berbagai lokasi dan yang terpenting adalah mengikuti aturan main dari pemerintah.

Hal demikian mau tidak mau wajib di jalani oleh seorang guru karena untuk mematang keahlian dan menjaga profesionalitas dalam menjalankan profesi sudah terdapat prosedur dan aturan yang wajib diikuti. Namun demikian bukan berarti jika tidak memiliki hal tersebut diatas tidak dapat menjadi seorang guru, sejarah tidak akan pernah hilang bahkan menjadi referensi yang luar biasa. Artinya jika melihat kembali kebelakang guru jaman dahulu pun tidak memiliki keterampilan yang luar biasa seperti sekarang, tetapi hasil yang dicapai sangatlah baik jika dibandingkan dengan kualitas jaman sekarang.

Semuanya adalah karena tuntutan jaman dan teknologi yang semakin meningkat, mengharuskan keterampilan yang dimiliki oleh setiap guru perlu juga ditingkatkan sesuai dengan bidang dan kondisi serta kemampuannya. Jika seorang guru saat ini tetap berpikiran belajar dari pengalaman saja, akan tertinggal jauh apa yang harus disampaikan. Karena transformasi yang semakin hari semakin berkembang menuntut seorang guru pun wajib mempelajari dan mengikuti perkembangan yang ada secara keseluruhan.

Dampak yang luar biasa dari para profesionalitas seorang guru dapat dirasakan adalah setiap tahun muncul seorang ahli dalam bidang tertentu yang memberikan teorinya dan di eksperimenkan dalam sebuah seminar, dengan harapan teori yang dibuat akan menjadi inovasi bagi perkembangan di masyarakat. Seorang ahli tersebut  pun setiap harinya menambah ilmunya dengan berbagai macam kegiatan guna meningkatkan kualitas diri dalam membidangi sebuah ilmu.  Ia tidak akan bias berjalan sendiri jika tidak ada yang membimbing dan mengawasi ketika ia sekolah. Artinya gurunya yang memberikan bimbingan penuh sehingga ia menjadi ahli di bidangnya.

Contoh tersebut sangatlah menjamur di dunia ini, di Indonesia seorang Habibi sangatlah di banggakan hingga saat ini, perang seorang guru akan selalu melekat pada dirinya. Karena gurunya lah ia dapat menjadi seorang yang sangat luar biasa.

Di Desa Sidoarum terdapat 7 sekolah dasar, dan orang tua yang menitipkan anak-anaknya menginginkan keberhasilan untuk masa depan mereka kelak. Karena pengalaman yang sangat berharga adalah ketika belajar dan mau mempelajari sebuah ilmu. Dimanapun berada ilmu sangat di butuhkan. Khususnya ilmu agama yang dianut oleh setiap manusia di dunia memberikan kesejukan jiwa dalam hati masing-masing.

Agama adalah suatu yang menjadi aturan dasar bagi manusia dalam  menjalankan hidupnya. Namun ketika manusia lahir tidak dapat melakukan apa pun, kemudian lambat laun akan mengetahui dari lingkungan keluarga. Yang menginjak kepada jenjang berikutnya yaitu mempelajari berbagai ilmu di lembaga formil yang pertama yaitu sekolah dasar.

Di sekolah dasar itulah si anak akan diajari berbagai ilmu dan bagaimana menjadikan anak tersebut bisa mengenal bagaimana dalam menjalani kehidupan di dunia, artinya setahap demi setahap si anak akan di berikan pelajaran oleh seorang guru. Guru yang sangat berperan inilah perlu siap sedia jika terdapat berbagai macam pertanyaan atau sikap anak didik yang sekiranya membutuhkan pertolongan dan perlindunganny.

Jika guru dalam kesehariannya tidak pula menambah ilmu yang ia dapat melalui berbagai macam metode, si anak pun akan terlambat mendapatkan ilmu dari gurunya. Dengan demikian dampak dari pengembangan profesionalitas guru dalam mendidik anak sangatlah beragam, karena si anak ketika setelah menyelesaikan sekolah dasar paling tidak ia akan menduplikasi apa yang sudah diajarkan gurunya dan akan diserap bahkan mungkin akan ia praktekan di lembaga pendidikan jenjang berikutnya.

 

BAB IV

PENUTUP

 

 

F.     Kesimpulan

Setelah semua data hasil penelitian dilakukan penulis, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

a.       Bahwa pada dasarnya guru-guru Agama Islam yang ada di Desa Sidoarum memberikan pemikiran positif bagi pengembangan profesioanlitas profesi mereka melalui berbagai metode yang dilakukan baik dari dalam dirinya seperti pengembangan kualitas seperti mengikuti pelatihan dan lain-lain. Misalnya pelatihan yang telah diikuti oleh para guru Agama Islam Di Desa Sidoarum adalah Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), sarasehan antar guru Sekolah Dasar, mengikuti penataran P4 yang dilaksanakan oleh Mendikbud Daerah Istimewa Yogyakarta. Hasil analisis ini dikuatkan dengan berbagai jawaban dari pertanyaan yang penulis berikan kepada mereka selaku responden. Sikap demikian memberikan pandangan bahwa profesionalitas seorang guru Agama Islam bukanlah sekedar seorang guru dalam mendidik muridnya akan tetapi umat yang wajib saling mengingatkan bahwa sebagai hamba Allah wajib melaksanakan ibadah yang telah digariskan oleh-Nya kepada kita.

b.      Dampak yang dirasakan dalam pengembangan profesionalitas seorang guru Agama Islam sangatlah baik. Artinya anak didik tidak hanya diberikan ilmu yang berdasarkan referensi buku-buku pelajaran, akan tetapi ilmu yang dapat membentuk karakter masing-masing anak sesuai dengan perkembangan usianya. Bagaimana dalam berperilaku  sehari-hari baik di di lingkungan rumah bahkan di sekolah.  Hal ini dibuktikan dengan peningkatan prestasi murid Sekolah Dasar Di Desa Sidoarum yaitu nilai yang diperoleh dalam buku raport sangat baik, senang menigkuti kegiatan belajar diluar jam sekolah (privat), mengikuti belajar kelompok.  Dengan demikian semankin terbukti bahwa dampak dari pengembangan profesionalitas seorang guru, khususnya Guru Agama Islam sangat mnentukan perkembangan murid baik pribadi dan perkembangan prestasi di sekolah.

 

G.    Saran-Saran

Dari gambaran hasil analisis data tersebut diatas, penulis memberikan saran sebagai berikut :

a.       Kiranya perlu di tingkatkan kuantitas dari pengembangan profesionalitas guru, khususnya guru Agama Islam. Dimana dapat dilakukan di lingkungan Desa Sidoarum dalam bentuk kegiatan yang diikuti oleh semua guru sekolah dasar, guna mempertajam ilmu dan meningkatkan kualitas guru tanpa melihat apakah masa kerja guru sudah lama atau baru, karena profesionalitas bukan dilihat dari lama bekerjanya.

b.      Agar para anak didik dapat mecermati berbagai tindakan dan ucapan guru di sekolah, perlu kiranya diberikan metode belajar yang lebih bervariasi lagi untuk menghindari kejenuhan di dalam proses belajar mengajar. Anak didik saat ini seolah-olah lebih pintar dari pada gurunya, dan hal ini perlu di cermati oleh guru jangan sampai anak didik memiliki perilaku yang menyimpang jauh dari arahan, karena bagaimanapun guru wajib memberikan contoh dan pengawasan langsung ketika berada di lingkungan sekolah.

 

 

H.    Kata Penutup

Syukur alhamdulillah, penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, karena atas rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa apa yang penulis susun ini jauh dari sempurna, walaupun dalam hal ini penulis telah berupaya maksimal. Penulis juga menyadari bahwa apa yang penulis pikirkan yang kemudian di tuangkan dalam tidak akan luput dari kesalahan dan kealpaan. Hal ini semata-mata karena keterbatasan wawasan dan pengetahuan penulis. Untuk itu kritik dan saran dari pembaca yang budiman senantiasa penulis harapkan dan akan penulis terima dengan segala kerendahan hati.

Terakhir betapapun terbatasnya skripsi ini, harapan penulis semoga bermanfaat bagi semunya. Amin.

 

 

 



[1]  Tim Penyusun Kamus Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1997), hlm. 582. 

2    Piet  A. Sahertian,  Profil  Pendidik  Profesional ,  (Yogyakarta  :  Andi  Offest, 1999), hlm. 36.

3   Muhamad Nurdin, Kiat Menjadi Guru Profesional, (Yogyakarta : Prismasophie, 2004),  hlm. 156.

4   Tim Penyusun Kamus Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1997), hlm. 9. 

5    Ibid,  hlm. 340.

6  Muhamad Nurdin, Kiat Menjadi Guru Profesional, (Yogyakarta : Prismasophie, 2004),  hlm. 156.

7   Ibid, hlm. 156

8   Ibid, hlm. 158

9  Muhamad Nurdin, Kiat Menjadi Guru Profesional, (Yogyakarta : Prismasophie, 2004),  hlm. 195.

10  Muhamad  Nurdin, Kiat  Menjadi  Guru  Profesional, (Yogyakarta : Prismasophie, 2004),  hlm 4.

11  Cece Wijaya, Tabrani Rusyan, Kemampuan  Dasar  Guru  Dalam  Proses  Belajar Mengajar,  (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2000), hlm 11

12  Piet A. Sahertian,  Profil Pendidik Profesional,  (Yogyakarta : Andi Offest, 1999), hlm. 29. 

13   Ibid, hlm. 26.

14   Ibid, hlm  27.

15   Amier Daien Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Surabaya : Usaha Nasional, 1999), hlm. 34

16    Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, (Jakarta : Rajawali, 1999), hlm 192.

17   Ibid, hlm 193.

18   Sutrisno Hadi, Metodologi Penelitian (Yogyakarta : Andi Offset, 1999), hlm.170

19   Ibid, hlm 171.

20  Ibnu Hadjar, Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif  Dalam Pendidikan (Jakarta Grafindo Persada, 1999), hlm. 181.

21   Ibid, hlm. 185.

22  Suharsini Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (Jakarta : Bumi Aksara, 1999), hlm. 107.

23 Lexy  J.  Moleong,  Metode   Penelitian   Kualitatif   (Bandung  : Remaja Rosdakarya, 1999), hlm. 198.

24 Anas Sudijono, Pengantar Statistik Pendidikan, (Jakarta  : Rajawali Pres, 1999), hlm. 40.

25   Wawancara Kepala Sekolah,  30 September 2004.

26   Wawancara Kepala Sekolah,  4 Oktober 2004.

27   Wawancara Kepala Sekolah,  6 Oktober  2004.

28   Wawancara Kepala Sekolah,  7 Oktober  2004.

29   Wawancara Kepala Sekolah,  7 Oktober  2004.

30   Wawancara Kepala Sekolah,  8 Oktober  2004.

31   Wawancara Kepala Sekolah,  8 Oktober  2004.

32   Wawancara Kepala Sekolah Dasar Se Desa Sidoarum Godean,  29 September  2004.

33  Wawancara Kepala Sekolah,  30 September  2004.

34 Wawancara Kepala Sekolah,  4  Oktober  2004.

35  Wawancara Kepala Sekolah,  6 Oktober  2004.

36  Wawancara Kepala Sekolah,  7  Oktober  2004.

37  Wawancara Kepala Sekolah,  7  Oktober  2004.

38  Wawancara Kepala Sekolah, 8 Oktober 2004

39 Wawancara Kepala Sekolah,  8  Oktober  2004.