ABSTRAKSI

 

 

Ulfatun, Profesionalitas Guru Kimia Dalam Menghadapi Kurikulum Berbasis Kompetensi (Studi Kasus Guru-guru Kimia di Kotamadya Yogyakarta). Program Studi Pendidikan Kimia Jurusan Tadris MIPA Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Yogyakarta 2003.

Menurut rencana, tahun 2004 akan diberlakukan kurikulum berbasis kompetensi untuk semua mata pelajaran, termasuk kimia, perubahan ini membawa dampak perubahan terhadap semua komponen yang ada dalam sistem pembelajaran diantaranya guru sebagai pelaksana kurikulum pada tingkat Nasional sangat tergantung pada keberhasilan guru sebagai ujung tombak pelaksana di lapangan. Oleh karena itu perlu diketahui kesiapan guru-guru kimia terhadap pemberlakuan KBK dan bentuk profesionalitas guru-guru kimia yang dipersiapkan sebelum menjadi guru, dengan mengetahui kesiapan mereka maka dapat diketahui langkah-langkah apa yang dapat ditempuh pemerintah dan semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia dalam mendukung keberhasilan KBK.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode survey melalui instrumen penelitian yaitu: angket, observasi dan dokumentasi terhadap guru-guru kimia MAN di Kotamadya Yogyakarta sebanyak 11 guru yang diselenggarakan pada bulan Juni s/d Agustus 2003, yang menghasilkan data-data tentang kesiapan dan hambatan guru kimia dalam menghadapi kurikulum berbasis kompetensi.

Hasil kesiapan dari bentuk profesioanalitas guru-guru kimia yaitu meliputi jenjang pendidikan yang dimiliki guru kimia, yang berupa jenis ijazah terakhir, pengalaman belajar dan asal jurusan kuliah. Usaha-usaha guru-guru kimia dalam menghadapi KBK, diwujudkan dengan: mengikuti seminar ataupun penataran; menggunakan metode bervariasi; membaca buku-buku pendukung; membuat persiapan mengajar; menggunakan alat peraga dalam pembelajaran; menggunakan penilaian berbasis kelas dan mengadakan pertemuan rutin dengan teman sejawat untuk berdiskusi. Sementara dalam meningkatkan kemampuan profesionalnya dalam mengajar, penelitian ini menghasilkan gambaran yang diperoleh melalui observasi antara lain berupa kompetensi yaitu: kompetensi pribadi, kompetensi sosial, kompetensi profesional dan kompetensi antisipatif. Hambatan-hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan KBK antara lain: Sarana prasarana kurang memadai, Lab. sudah tidak layak pakai, kurangnya dana, kurangnya buku-buku kimia dengan pendekatan KBK yang beredar dan sulit mengaplikasikan antara teori dan praktek dilapangan kalaupun bisa masih bersifat perkiraan.

Hasil Penelitian ini memberikan gambaran tentang kesiapan guru-guru Kimia dalam menghadapi pemberlakuan KBK, bahwa ternyata guru-guru di MAN memiliki kepedulian terhadap peningkatan kualitas pendidikan yang ditunjukkan dengan kemauannya mempersiapkan segala hal yang berkaitan dengan pelaksanaan kurikulum baru ini. Diharapkan pemerintah mengadakan pelatihan, penataran dan sosialisasi secara berkesinambungan terhadap guru-guru agar benar-benar dapat melaksanakan KBK sesuai yang diharapkan.

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Tuntutan akan sumber daya manusia yang unggul merupakan kebutuhan umat manusia di seluruh belahan dunia. Menjelang diberlakukannya liberalisasi di segala bidang dewasa ini, tuntutan tersebut sangatlah mendesak. Pendidikan berperan sebagai gerbang utama untuk memenuhi semua tuntutan itu. Seringkali potensi seseorang itu diukur melalui pendidikannya, sebagai salah satu elemen terpenting dalam penyelenggaraan pendidikan. Jadi, kurikulum dan pendidik (guru) merupakan usaha untuk mewujudkan tuntutan tersebut.[1]

Kehadiran guru dalam proses belajar mengajar atau pengajaran masih tetap memegang peranan penting. Peranan guru dalam proses pengajaran belum dapat digantikan oleh mesin radio, tape recorder ataupun komputer yang paling modern sekalipun. Karena masih banyak unsur manusiawinya seperti sikap, sistem nilai, perasaan, motivasi, kebiasaan dan lain-lain yang diharapkan merupakan hasil dari proses pengajaran, tidak dapat dicapai melalui alat-alat atau teknologi yang diciptakan manusia untuk membantu dan mempermudah kehidupannya.[2] Sehingga faktor guru perlu mendapat perhatian yang pertama dan utama di samping kurikulumnya, karena baik buruknya suatu kurikulum pada akhirnya tergantung pada aktivitas dan kreativitas guru dalam menjabarkan dan merealisasikan kurikulum tersebut.[3]

Al-Quran menjelaskan bahwa tidak sama antara orang yang mengetahui dengan yang tidak mengetahui. Begitu juga guru sebagai seseorang yang dibekali ilmu oleh Allah berbeda kedudukannya dengan orang yang tidak berilmu. Dalam mengemban tugasnya, seorang guru (pendidik) hendaknya meningkatkan kualitas keilmuannya yang berkaitan dengan ilmu kependidikan dan keguruan agar semakin profesional dalam mengelola proses pendidikan. Di sinilah guru mendapatkan kedudukan utama karena kemuliaan tugas yang diembannya, seperti dinyatakan dalam firman Allah:

......

Adakah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui (tidak berilmu)? (Q.S. az-Zumar: 9)[4]

Selain itu Rasulullah memberikan gambaran tentang guru seperti dalam sabdanya:

Matinya suatu kaum lebih enteng dari meninggalnya seorang yang berilmu (guru).[5]

Sabda Nabi di atas menjelaskan betapa berartinya peranan guru dalam kehidupan di dunia ini, sebab di dunia ini tidak ada yang kekal kecuali ilmu, yang akan membawa kita pada keselamatan, dan keselamatan itu akan selalu berada pada seseorang yang mengerti yaitu orang-orang yang berilmu.

Profesi guru pada saat ini masih merupakan sesuatu yang ideal bila dibandingkan dengan profesi di bidang lain. Sebagai ilustrasi, dapat dikemukakan di sini tentang profesi dokter. Dokter dalam menjalankan tugasnya selalu dilandasi kemampuan dan keahlian yang ditunjang oleh konsep dan teori yang mantap, sehingga prosedur kerja serta teknik melaksanakan pekerjaannya membawa hasil yang jelas. Dalam menghadapi pasien selalu menempuh langkah kerja, dari diagnosis (mencari sebab munculnya suatu penyakit), disusul dengan prognosis (menghubungkan sebab dengan gejala suatu penyakit untuk menentukan kemungkinan cara penyembuhan), kemudian melakukan upaya penyembuhan atau pengobatan. Pada akhirnya hasil yang diperoleh pun memuaskan, karena secara konseptual dan teoritis gejala penyakitnya sudah jelas, demikian pula sebab-sebab dan cara pengobatannya.[6]

Berbeda halnya dengan pekerjaan seorang guru. Bila input atau masukan pendidikan diibaratkan sebagai pasien, proses pendidikan belum tentu akan menghasilkan output atau keluaran sesuai dengan yang diinginkan. Jika guru dianalogikan sebagai seorang dokter, maka ia menangani pasiennya agar sembuh, artinya anak bodoh yang ditangani seorang guru seharusnya menjadi pandai. Keahlian seorang guru secara profesional belum dapat menjamin sepenuhnya bahwa cara-cara atau prosedur kerja dan teknik yang digunakan dalam mengajar akan dapat menyebabkan anak memperoleh hasil belajar sesuai yang diinginkan. Suatu cara yang cocok digunakan untuk mengajarkan materi pelajaran kepada individu atau sekelompok individu, belum tentu cocok untuk yang lain. Demikian pula ditangani seorang guru mungkin suatu cara efektif, namun ditangani yang lain tidak efektif.

Meskipun demikian, bukan berarti profesionalitas keguruan atau kependidikan itu mustahil untuk diwujudkan, sebaliknya justru menjadi tantangan bagi siapa saja yang berkecimpung dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan sebagai guru.[7] Oleh karena itu, analisis tentang guru profesional diharapkan dapat lebih mendekatkan kita kepada suatu tujuan, yaitu terwujudnya ide yang secara bersama-sama dapat dinikmati hasilnya dalam bentuk kurikulum.

Kurikulum sering dipandang sebagai penyebab kegagalan atau rendahnya mutu pendidikan setelah faktor pendidik, padahal mestinya masalah pendidikan kita tidak bersifat parsial yang mencakup satu atau dua persoalan, tetapi bersifat sistematik yang terkait dengan banyak hal. Oleh karena itu, upaya untuk memecahkan persoalan-persoalan pendidikan mestinya tidak saja bertumpu pada satu objek saja tetapi mencakup seluruh komponen yang ada di dalamnya.

Perubahan kurikulum ini dilakukan sesuai dengan GBHN 1999 khususnya yang menyangkut bidang pendidikan yang menyatakan bahwa pemerintah perlu mengadakan pembaharuan sistem pendidikan, termasuk pembaharuan kurikulum.[8] Selain itu, kurikulum tahun 1994 yang sedang berjalan tampak menjunjung supremasi kognitif. Dalam konteks pendidikan, kurikulum tersebut begitu padat materi. Akibatnya proses pengajaran di kelas mengabaikan dimensi afektif siswa. Para guru berpacu untuk menyelesaikan seluruh bahan demi mengejar ulangan umum bersama, sehingga proses pengajaran di kelas sekedar sebagai penjejalan materi.[9] Alasan penting lainnya adalah isu tentang otonomi daerah, era otonomi daerah menuntut tersedianya sumber daya manusia di seluruh daerah yang memahami kondisi daerahnya masing-masing. Pendidikan yang cenderung konfomistik menjadi tidak relevan lagi. Konsekuensinya, dalam urusan pelaksanaan pendidikan, daerah harus diberi peluang untuk mengembangkan dirinya secara optimal. Pengelolaan pendidikan tidak lagi bersifat sentralistik, namun menghargai kebhinekaan dan aspirasi daerah.

Berkaitan dengan perubahan kurikulum, berbagai pihak menganalisis dan melihat perlu diterapkannya kurikulum berbasis kompetensi (competency based curiculum) atau disingkat KBK, yang dapat membekali siswa dengan berbagai kemampuan sesuai dengan tuntutan zaman dan reformasi. Kurikulum berbasis kompetensi merupakan suatu format yang menetapkan apa yang dapat dicapai siswa dalam setiap tingkatan. Setiap kompetensi menggambarkan langkah kemajuan siswa menuju kompetensi pada tingkat yang lebih tinggi. Kompetensi dalam hal ini adalah suatu pernyataan tentang apa yang sepantasnya dapat dilakukan siswa secara terus menerus (tetap) dalam suatu kajian atau mata pelajaran pada suatu tingkat tertentu. Dengan demikian KBK merupakan pergeseran penekanan dari isi (apa yang tertuang) ke kompetensi (bagaimana harus berpikir, belajar dan melakukan) dalam kurikulum. Oleh karena itu guru dan siswa diharapkan dapat mengetahui apa yang harus dicapai dan sejauhmana efektifitas belajar telah dicapai.[10]

Banyak faktor yang menyebabkan pelajaran kimia begitu sulit dipahami. Ada anggapan bahwa ilmu kimia merupakan bidang studi yang sulit diajarkan di sekolah lanjutan tingkat atas. Hal ini bisa dilihat dalam sebuah studi kasus. Pertama, data yang didapat dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa rata-rata nilai Ebtanas murni mata pelajaran kimia rendah. Kedua, salah seorang juri Olimpiade Kimia Seluruh Indonesia yang dilaksanakan pada bulan April 2003 oleh Himpunan Mahasiswa Kimia Universitas Gajah Mada menyimpulkan bahwa dari seluruh peserta yang mengikuti olimpiade, banyak peserta yang tidak memahami, mengerti dan menguasai praktik kimia di laboratorium sehingga nilai mereka sangat rendah.[11] Kenyataan ini tentunya menjadi renungan para pengajar untuk mencari solusi bagaimana menghilangkan hambatan-hambatan yang ada sehingga proses belajar mengajar dapat berhasil maksimal dengan output yang memuaskan sesuai harapan. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi guru kimia untuk senantiasa meningkatkan profesionalitasnya, wawasan keilmuan dan kualitas pendidikan serta harus peka dan tanggap terhadap setiap permasalahan kimia, karena hakikat belajar kimia adalah mengembangkan sejumlah kompetensi adaptif yang terkait dengan perubahan kondisi kini dan kondisi masa depan,[12] sehingga apa yang disampaikan kepada siswanya tidak ketinggalan zaman.

Namun permasalahannya sekarang adalah Siapkah guru-guru kita, yang selama puluhan tahun dituntut patuh pada Petunjuk Pelaksanaan (juklak) dan Petunjuk Teknis (juknis) kurikulum yang sentralistis? Guru-guru kita yang selama ini terlena mengikuti arahan juklak, akan terkaget-kaget apabila secara tiba-tiba harus dipaksa berfikir menyusun silabus sendiri. Apabila mereka tidak disiapkan dengan baik, kiranya KBK akan banyak menghadapi kendala, bahkan seperti kurikulum-kurikulum sebelumnya. Jadi, pentingnya kesiapan guru kimia dalam menghadapi penerapan KBK tidak lain sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikan kimia melalui guru yang profesional. Bagaimanapun juga, keberadaan dan kesiapan guru yang profesional tetap menjadi faktor utama yang menentukan dalam usaha pencapaian tujuan pendidikan.

Begitu pentingnya kesiapan guru kimia dalam meningkatkan kualitas keilmuannya, maka penulis tertarik menjadikan MAN di Kotamadya Yogyakarta sebagai objek penelitian, karena merupakan sekolah yang berciri khas islam, terdiri dari MAN Yogyakarta I, II, III dan MAN Lab. Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dalam Penelitian ini lokasi tidak semuanya berada di wilayah Kotamadya Yogyakarta dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:

1.       MAN Lab. Fakultas Tarbiyah berada di wilayah Sleman, menjadi objek penelitian karena di bawah naungan Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga yang sekarang menjadi tempat belajar penulis.

2.       MAN Yogyakarta III, menjadi objek penelitian ini karena sudah menerapkan kurikulum berbasis kompetensi, ditunjuk sebagai MAN model pertama untuk menjadi contoh bagi madrasah-madrasah yang lain.[13] Selain itu dalam sejarah, sejak berdirinya pada tahun 1950 sampai tahun 1970 MAN Yogyakarta III berada di wilayah Kotamadya Yogyakarta, tetapi dengan perkembangannya pada tahun 1972-1982 MAN Yogyakarta III masih berstatus di wilayah Kotamadya Yogyakarta walaupun berada di wilayah Sleman, akhirnya pada tahun 1992 MAN Yogyakarta III resmi berada di wilayah Sleman.

Berangkat dari latar belakang yang telah dipaparkan di atas, penulis berpendapat perlu mengangkat tema profesionalitas guru kimia dalam menghadapi kurikulum berbasis kompetensi (studi kasus guru-guru kimia MAN di Kotamadya Yogyakarta) dalam penulisan skripsi ini.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan pokok-pokok masalah yang perlu dijelaskan dalam skripsi ini, yaitu:

  1. Bagaimana bentuk profesionalitas guru-guru kimia MAN di Kotamadya Yogyakarta?
  2. Bagaimana kesiapan guru-guru kimia MAN di Kotamadya Yogyakarta untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya dalam menghadapi kurikulum berbasis kompetensi?
  3. Apakah hambatan-hambatan yang dihadapi guru-guru kimia MAN di Kotamadya Yogyakarta dalam menghadapi kurikulum berbasis kompetensi?

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan rumusan masalah di atas, secara garis besar permasalahannya dapat dibatasi pada bentuk profesionalitas guru-guru MAN di Kotamadya Yogyakarta ini atas dasar ijazah yang dimiliki, program studi asal sekolah / perguruan tinggi tempat guru belajar dan atas dasar lama bekerja sebagai guru. Untuk mengetahui secara lengkap dan mendalam tentang kesiapan dan hambatan-hambatan yang dihadapi guru-guru kimia dalam meningkatkan profesionalitasnya, masalah ini dibatasi pada proses pengajaran guru kimia, dalam hal ini akan diwujudkan sebagai indikator kecakapan dan kesiapan dalam menghadapi kurikulum berbasis kompetensi.

Istilah studi kasus guru-guru kimia MAN di Kotamadya Yogyakarta yang dimaksudkan di sini adalah bahwa kegiatan penelitian dibatasi pada guru-guru kimia MAN yang berada di Kotamadya Yogyakarta dan pada saat penelitian berlangsung.

D. Alasan Pemilihan Judul

1.       Kegagalan mengajar yang sering terjadi dikarenakan berbagai faktor diantaranya: faktor guru, siswa, kurikulum dan lingkungan, maka penulis mengambil 2 dari beberapa indikator tersebut yakni: guru dan kurikulum karena kedua faktor tersebut adalah inti dari proses belajar mengajar.

2.       Berlakunya penerapan kurikulum baru yaitu kurikulum berbasis kompetensi (KBK) merupakan solusi alternatif untuk meningkatkan kualitas pendidikan khususnya bidang studi kimia melalui profesionalitas guru kimia.

3.       Menurut sepengetahuan penulis, belum ada yang membahas tema tersebut mengingat KBK adalah kurikulum baru yang pada saat ini sedang disosialisasikan kepada sekolah-sekolah.

E. Tujuan Penelitian

Tujuan Penelitian ini antara lain:

1.      Untuk mengetahui bentuk profesionalitas guru-guru kimia MAN di Kotamadya Yogyakarta.

2.      Untuk mengetahui kesiapan guru-guru kimia MAN di Kotamadya Yogyakarta untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya dalam menghadapi kurikulum berbasis kompetensi.

3.      Untuk mengetahui hambatan-hambatan yang dihadapi guru-guru kimia MAN di Kotamadya Yogyakarta dalam menghadapi kurikulum berbasis kompetensi.

F. Kegunaan penelitian

Adapun kegunaan yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

1.      Dapat dijadikan masukan yang membangun bagi para guru kimia untuk meningkatkan profesionalitasnya dalam upaya penerapan kurikulum berbasis kompetensi.

2.      Dapat memberikan masukan bagi Departemen Agama untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan guru-guru kimia MAN dalam penerapan kurikulum berbasis kompetensi.

3.      Sebagai sumbangan pemikiran bagi khazanah ilmu pengetahuan bahwa kurikulum berbasis kompetensi diharapkan dapat diterapkan pada proses belajar mengajar ilmu kimia di MAN dengan baik.

G. Telaah Pustaka

Sepanjang penelusuran penulis, belum ada skripsi atau karya ilmiah yang membahas tema profesionalitas guru kimia dalam menghadapi kurukulum berbasis kompetensi dalam bentuk studi kasus guru-guru kimia MAN di Kotamadya Yogyakarta. Penelitian tentang kurikulum berbasis kompetensi sudah ada, tetapi bukan studi kasus dan tidak dalam bidang ilmu kimia serta lebih mengarah kepada analisis buku, seperti skripsi Dede Mustadjab yang mengangkat judul Profesionalisme Guru Pendidikan Islam dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi.[14] Dalam Skripsi tersebut membahas tentang profesionalisme guru secara umum, guru pendidikan agama islam dalam implementasi kurikulum berbasis kompetensi serta upaya pengembangan profesionalisme guru pendidikan agama Islam dalam menghadapi kurikulum berbasis kompetensi dengan menggunakan metode kualitatif yang mengambil buku-buku (Library Reseach) sebagai kajian skripsinya. Selain itu Agustinus Mardiyono yang mengangkat judul skripsi mengenai profil guru fisika SMP di Kodya Yogyakarta, dalam penelitian tersebut membahas tentang bentuk profesionalitas guru di Kodya Yogyakarta yang mencakup jenis ijazah yang dimiliki, pengalaman mengajar serta jurusan asal tempat belajar, tetapi dalam pembahasannya belum menyentuh tentang kurikulum berbasis kompetensi.[15] Penulis menjadikan skripsi ini sebagai penelitian yang relevan karena dalam pembahasan sama-sama mengangkat mengenai bentuk profesionalitas guru-guru di Kotamadya Yogyakarta, hanya saja kajian skripsi penulis tentang guru-guru kimia sedangkan kajian skripsi Agustinus Mardiyono tentang guru-guru fisika. Hasil yang ditemukan dalam penelitian tersebut adalah ada pengaruh yang positif antara jenis ijasah yang dimiliki, pengalaman mengajar serta jurusan asal belajar terhadap prestasi siswa. Kemudian skripsi yang ditulis Siti Chomsatun mengangkat tema tentang Usaha Guru-guru SD dalam menguasai pembelajaran IPA ditinjau dari latar belakang pendidikan, pengalaman mengajar, status SD se-Kecamatan Kota Gede Yogyakarta,[16] dalam penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui usaha-usaha yang telah dilakukan guru-guru SD dalam menguasai pembelajaran IPA SD, dan hasil yang ditemukan mengungkapkan usaha-usaha yang telah dilakukan Guru-guru SD dalam menguasai pembelajaran IPA adalah dengan melanjutkan pendidikan setelah mengajar, mengadakan pertemuan rutin dengan teman sejawat mambaca buku-buku pendukung, mengusahakan alat peraga, mengikuti sisran pendidikan serta mengikuti penataran dan seminar-seminar IPA.

Demikianlah beberapa karya ilmiah yang sudah penulis telaah dan masih banyak yang belum terjangkau dari pengamatan penulis terutama seputar pembahasan profesionalitas guru kimia dalam menghadapi KBK.

H. Deskripsi Teori

1.      Pengertian Profesionalitas Guru

Profesionalitas berasal dari kata profesional yang diartikan dengan hal yang 1). bersangkutan dengan profesi. 2). memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya.[17] Dengan mendapatkan penambahan itas diartikan sebagai suatu kemampuan. Ahmad Tafsir menjelaskan pengertian profesionalitas sebagai suatu kemampuan, artinya suatu jenis pekerjaan pada umumnya akan dapat dikerjakan dan diselesaikan dengan hasil yang baik jika ditangani oleh orang yang memiliki kemampuan dalam bidang tersebut. Kemampuan ini dalam tingkat yang paling dasar dan sederhana ditandai oleh keterampilan kerja. Karena keterampilan kerja yang dimiliki seseorang menyebabkan ia dapat menyelesaikan pekerjaan dengan lebih baik. Atau suatu pekerjaan yang harus dikerjakan oleh orang yang memiliki predikat profesional, sedang orang yang profesional ialah orang yang memiliki profesi.[18]

Dr. Sikun Pribadi, profesi pada hakikatnya adalah suatu pernyataan atau janji terbuka bahwa seseorang akan mengabdikan dirinya kepada suatu jabatan atau pekerjaan karena orang tersebut merasa terpanggil untuk mengemban pekerjaan itu.[19] Das Salirawati juga mengemukakan bahwa profesi merupakan suatu jabatan yang berlandaskan pada keahlian, sedangkan profesi keguruan merupakan jabatan yang dilandasi oleh berbagai keahlian, karena pada umumnya suatu jenis pekerjaan akan dapat dikerjakan dan diselesaikan dengan hasil baik apabila ditangani oleh orang yang memiliki kemampuan dalam bidang tersebut. [20] Kemampuan ini dalam tingkat yang paling dasar dan sederhana ditandai oleh ketrampilan kerja.

Kemampuan dasar tersebut tidak lain adalah kompetensi guru. Cooper mengemukakan 4 kompetensi guru yakni:

a.       Mempunyai pengetahuan tentang belajar dan tingkah laku manusia.

b.       Mempunyai pengetahuan dan menguasai bidang studi yang dibinanya

c.       Mempunyai sikap yang tepat tentang diri sendiri, sekolah dan bidang studi yang diajarkannya

d.      Mempuyai keterampilan teknik mengajar. [21]

Pendapat yang hampir serupa dikemukakan oleh Glasser. Menurut Glasser ada 4 hal yang harus dikuasai guru yakni:

a.       Menguasai bahan pelajaran

b.       Kemampuan mendiagnosis tingkah laku siswa

c.       Melaksanakan proses pengajaran

d.      Mengukur hasil belajar siswa[22]

Secara sederhana kemampuan berarti kompetensi, namun bila dikaji lebih mendalam ternyata mempunyai arti yang cukup luas, karena kemampuan bukan semata-mata menunjukkan kepada ketrampilan dalam melakukan sesuatu. Kemampuan ini dapat diamati dengan menggunakan sedikitnya 4 macam petunjuk yaitu:

a.       Ditunjang adanya latar belakang pengetahuan

b.       Adanya penampilan atau performance

c.       Kegiatan yang menggunakan prosedur dan tehnik yang jelas

d.      Adanya hasil yang dicapai. [23]

Piet A. Sahertian yang mengemukakan tiga definisi mengenai kompetensi guru; pertama, kompetensi guru adalah kemampuan guru untuk mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan yang telah dirancangkan. Kedua, kompetensi guru adalah ciri hakiki dari kepribadian guru yang menuntunnya kearah pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Ketiga, kompetensi adalah perilaku yang dipersyaratkan untuk mencapai tujuan pendidikan.[24]

Nana Syaodih Sukmadinata mengemukakan tenang kompetensi yang dikutip dari Depdikbud, yang dirumuskan dalam suatu kemampuan, kemampuan tersebut antara lain sebagai berikut:[25]

1.        Kemampuan profesional, yang diwujudkan dengan:

a.       Penguasaan terhadap materi pelajaran.

b.      Penguasaan terhadap landasan dan wawasan kependidikan dan keguruan.

c.       Penguasaan terhadap proses kependidikan, keguruan dan pembelajaran.

2.        Kemampuan sosial

Seorang guru harus mampu berperan aktif bagi pengembangan kehidupan masyarakat, kemampuan guru disini harus dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat dan lingkungannya.

3.        kemampuan personal, yang mencakup:

a.       Penampilan sikap yang positif terhadap keseluruhan tugasnya sebagai guru.

b.      Pemahaman, penghayatan dan penampilan yang seyogyanya dimiliki oleh seorang guru.

c.       Penampilan upaya untuk menjadikan dirinya sebagai anutan dan teladan bagi para siswanya.[26]

Sedangkan Zakiah Darodjat mengemukakan tentang kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru, yaitu:[27]

1.      Kompetensi Kepribadian

a.       Merencanakan atau menyusun setiap program satuan pelajaran.

b.      Menggunakan dan mengembangkan media pendidikan (alat bantu atau alat peraga) dalam proses belajar mengajar.

c.       Mengembangkan dan menggunakan semua metode mengajar agar terjadi variasi dan kombinasi yang efektif.

2.      Kompetensi penguasaan atas bahan ajar

b.      Menguaraikan ilmu pengetahuan atau kecakapan dan apa-apa yang harus diajarkannya ke dalam bentuk komponen-komponen dan informasi yang sebenarnya dalam bidang ilmu.

c.       Menyusun komponen-komponen atau informasi itu sedemikian rupa sehingga akan memudahkan siswa untuk memperoleh pelajaran yang diterimanya.

3.      Kompetensi dalam cara-cara mengajar

a.       Merencanakan atau menyusun setiap program satuan pelajaran, demikian pula merencanakan keseluruhan kegiatan untuk satuan waktu ( cawu atau semester atau tahun ajaran).

b.      Menggunakan dan mengembangkan media pendidikan (alat bantu atau alat peraga) bagi siswa dalam proses belajar mengajar yang diperlukannya.

c.       Mengembangkan dan menggunakan semua metode mengajar agar terjadi variasi dan kombinasi yang efektif.

Menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, gambaran tentang kemampuan yang harus dimiliki seseorang yang memangku jabatan sebagai guru yaitu kemampuan yang ditampilkannya itu menjadi ciri keprofesionalitasannya. Pada dasarnya kompetensi seorang guru mengacu pada 3 faktor, yaitu kompetensi pribadi, kompetensi profesional dan kompetensi kemasyarakatan. Bertitik tolak dari pengertian tersebut, maka pengertian guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru secara maksimal atau dengan kata lain guru profesional adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik, serta memiliki pengalaman yang kaya di bidangnya.[28]

Kompetensi-kompetensi diatas dijadikan indikator sebagai tehnik kesiapan mengajar yang baik (profesional). Profesionalitas berkembang sesuai dengan kemajuan zaman. Hal ini menuntut aneka ragam spesialisasi yang berfungsi mempersiapkan tenaga guru yang terdidik dan terlatih dengan baik. Implikasi dari gagasan tersebut ialah perlunya dikembangkan program pendidikan guru yang serasi dan memudahkan pembentukan guru yang berkualifikasi profesional, serta dapat dilaksanakan secara efisien dalam kondisi sosial dan kultural masyarakat Indonesia.[29]

Seorang guru yang dikatakan profesional tidak terlepas dari tugas dan perannya sebagai pendidik. Para ahli pendidikan telah sepakat bahwa tugas guru adalah mendidik. Dalam arti yang luas mempunyai makna mengajar, membimbing, membina dan melatih peserta didik (siswa). Seperti yang diungkapkan Roestiyah N.K., tugas dan peran guru dalam proses belajar mengajar adalah sebagai berikut:

a.       Sebagai pengajar, seorang guru harus mampu:

a)       Merencanakan program pengajaran.

b)      Melaksanakan program pengajaran.

c)       Mengevaluasi hasil belajar siswa serta program pengajaran yang telah dilaksanakan.

b.       Sebagai pendidik, seorang guru bertanggung jawab dalam usaha pencapaian kedewasaan dan kemandirian peserta didik.

c.       Sebagai manajerial, seorang guru harus dapat menjadi pemimpin bagi diri sendiri, bagi siswa maupun bagi masyarakat yang terwujud dari sikap:

a)       Memberi kesempatan pada siswa untuk mengeluarkan pendapat.

b)      Mengakui siswa sebagai pribadi yang lain dari yang lainnya.

c)       Berhasil tidaknya proses belajar mengajar merupakan tanggung jawab guru dan siswa.

d)      Membimbing anak belajar.

e)       Menciptakan suasana belajar yang demokratis dalam interaksi belajar mengajar. [30]

 

Tugas guru sangatlah berat bukan sekedar sebagai pengajar yang hanya memberikan pelajaran dan ilmu pengetahuan, namun tugas utama yang harus diemban guru sebagai tenaga pengajar dan yang merupakan komponen dari sistem pendidikan adalah mempersiapkan perangkat pembelajaran terlebih dahulu di rumah seperti merancang: bagaimana membuka pelajaran, tujuan dan strategi menyampaikan tujuan pembelajaran khusus yang sesuai dengan kemampuan siswa, bagaimana menutup pelajaran sehingga membawa kesan yang sangat baik oleh siswa.[31] Sehingga dalam mengemban tugas-tugasnya, guru dituntut untuk memainkan peranan dan fungsinya secara optimal sebab gurulah yang bertanggung jawab dalam menentukan arah pendidikan.

Moh Uzer Usman mengungkapkan bahwa guru mempunyai 3 jenis tugas yakni:

1)      Tugas dalam bidang profesi. Tugas ini meliputi mendidik, mengajar dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkan ketrampilan-ketrampilan siswa.

2)      Tugas kemanusiaan. Tugas dalam bidang ini harus dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua. Seorang guru harus mampu menarik simpati sehingga ia menjadi idola bagi para siswanya, karena siswa akan enggan menghadapi guru yang tidak menarik.

3)      Tugas kemasyarakatan. Tugas ini menempatkan guru pada tempat yang lebih terhormat di lingkungannya karena dari seorang guru diharapkan masyarakat dapat memperoleh ilmu pengetahuan. Ini berarti seorang guru berkewajiban mencerdaskan bangsa menuju pembentukan manusia Indonesia berdasarkan pancasila. [32]

 

Guru di samping sebagai pendidik, adalah warga masyarakat. Seorang guru diharapkan dapat baradaptasi dengan lingkungannya. Pengertian terhadap lingkungannya akan membuka jalan bagi seorang guru untuk mengetahui masalah yang timbul dan harus diatasinya. Guru sebagai pendidik dan warga masyarakat berkewajiban untuk mengamalkan suatu dasar ing ngarso sung tulodho ing madyo mangun karso tut wuri handayani yang mempunyai makna guru adalah seorang yang patut diteladani tidak hanya bagi murid-muridnya di kelas tetapi juga kehidupan pribadinya sebagai warga masyarakat.[33]

Guru diharapkan dari sinilah harus mempunyai pemahaman, penghayatan dan pengamatan standar serta memiliki profesionalisme sebagai tuntutan profesi di era kompetisi sekarang ini. Di samping ada kewajiban imperatif, yaitu berkewajiban mengembangkan profesionalisme dalam rangka meningkatkan kemampuan mengajar.[34] Semua itu harus dikuasai oleh guru sebagai modal awal bagi penghayatan dan penerapan dalam kehidupan sehari-hari dalam mengemban tugasnya. Jadi seorang guru tidak hanya boleh beranggapan bahwa tugasnya hanya mengajar semata.

2. Persyaratan Umum Profesionalitas Guru

Menurut Projek Pengembangan Pendidikan Guru (P3G), seorang guru dikatakan profesional bila telah menguasai:

a.       Bidang studi yang akan diajarkan.

b.      Menguasai strategi belajar mengajar.

c.       Mempunyai teknik mengelola kelas.

d.      Mampu menggunakan media pendidikan.

e.       Melaksanakan evaluasi hasil belajar.

f.       Mempunyai landasan kependidikan.

g.      Melaksanakan bimbingan belajar.

h.      Melaksanakan administrasi sekolah.

i.        Mampu menafsirkan hasil-hasil penelitian untuk kepentingan peningkatan kualitas kerja.[35]

 

Tinjauan sikap profesionalitas seorang guru dapat dilihat dari standar profesionalitas guru yang diantaranya adalah:

1.      Memiliki pendidikan khusus (memiliki ijazah)

2.      Mengajar berdasarkan keahlian

3.      Memiliki prosedur tetap dan berstandar

4.      Mengajar bukan hanya sekedar mencari nafkah

5.      Memiliki pengabdian yang tinggi dan mengutamakan mutu dalam pembelajaran. [36]

 

Ciri-ciri penting yang lain dari guru profesional menurut Donald K. Cruicksank adalah sebagai berikut:

a.       Landasan pengetahuan keguruan yang kuat.

b.       Menguasai bahan bidang yang digelutinya.

c.       Dari ciri di atas lalu menimbulkan kompetensi yang tinggi.

d.      Profesi guru itu dicapai dengan seleksi dan sertifikasi.

e.       Untuk mengembangkan profesinya ia melakukan kerjasama dengan sesama guru.

f.        Bertanggung jawab atas tugas yang diserahkan kepadanya.

g.       Menjunjung tinggi nilai moral sebagai kode etik yang telah menjadi kesepakatan bersama.

h.       Selalu gigih memperjuangkan diri dan selalu siap meningkatkan kemampuannya. [37]

 

Selain itu, M. Ngalim Purwanto menjelaskan persyaratan umum menjadi guru yang dapat disimpulkan sebagai berikut:[38]

a.       Berijazah.

Ijazah sebagai syarat untuk menjadi guru bukanlahsemata-mata sehelai kertas saja ijazah adalah surat bukti yang menunjukkan bahwa seseorang telah mempunyai ilmu pengetahuan dan kesanggupan-kesanggupan yang diperlukan untuk suatu jabatan /pekerjaan.

Sudah dapatkah dipastikan bahwa setiap orang yang berijazah itu dapat menjalnkan tugas dengan baik? Tentu saja belum! Tiap-tiap orang membutuhkan pengalaman-pengalaman dalam pekerjaannya untuk memperbaiki pekerjaannya. Biarpun demikian, untuk menjadi seorang pendidik haruslah memiliki ijazah yang diperlukan. Itulah bukti bahwa yang bersangkutan telah mempunyai wewenang, telah dipercaya oleh negara dan masyarakat untuk menjalankan tugasnya sebagai guru.[39]

Sementara Paul Suparjo dan Rahandi mengemukakan idealnya guru SD dan SMP harus sudah menempuh jenjang SI pendidikan guru dan guru SMU harus sudah menempuh S-2.[40] Sedangkan Rustiyah NK mengemukakan juga mengenai persyaratan yang harus dimiliki oleh seorang guru salah satu diantaranya adalah memiliki ijazah dalam konteks ijazah keguruan, karena dengan ijazah akan menjamin seseorang ahli dalam mata pelajaran dan mampu mengejar dibidangnya. [41]

b.       Sehat jasmani dan rohani.

c.       Taqwa kepada Tuhan YME.

d.      Bertanggung jawab.

e.       Berjiwa nasional.

Dalam penelitian ini yang dibahas mengenai bentuk profesionalitas guru salah satunya adalah berijazah, artinya mempunyai jenjang pendidikan yang dapat digunakan sebagai bekal sebelum menjadi tenaga pengejar. Dan mempunyai pengalaman mengajar serta jurusan asal tempat belajar.

B. Konsep Dasar Kurikulum Berbasis Kompetensi

1.      Pengertian Kurikulum Berbasis Kompetensi

Salah satu kebijakan pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan adalah dengan memperbaharui kurikulum, yang tidak lain kurikulum berbasis kompetensi. Gambaran yang lebih jelas tentang kurikulum, kompetensi dan kurikulum berbasis kompetensi yaitu sebagai berikut:

a.        Kurikulum

Kurikulum berasal dari bahasa Yunani, yakni dari kata Curir artinya pelari. Kata Curere artinya tempat berpacu. Curiculum diartikan jarak yang ditempuh oleh seorang pelari. Pada saat itu kurikulum diartikan sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa/murid untuk mencapai ijazah. Rumusan kurikulum tersebut mengandung makna bahwa isi kurikulum tidak lain adalah sejumlah mata pelajaran (subjek matter) yang harus dikuasai siswa agar siswa memperoleh ijazah. Itulah sebabnya kurikulum sering dipandang sebagai rencana pelajaran untuk siswa.

Beane dan Topfer merangkum dari berbagai pengertian kurikulum dengan mengelompokkan menjadi 4 kategori yaitu:

1.      Kurikulum sebagai produk pendidikan, akan menghasilkan lulusan yang memilki kemampuan tertentu.

2.      Kurikulum sebagai program pendidikan berisi mata pelajaran sebagai satu kebulatan studi..

3.      Kurikulum sebagai proses belajar yang direncanakan, terwujud sebagai pelajaran, teori, praktik dan kegiatan lapangan.

4.      Kurikulum sebagai pengalaman peserta didik perlu menghayati dan melakukan apa yang telah dicapai.

 

b.       Kompetensi

Kompetensi merupakan pengetahuan, ketrampilan dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak untuk melakukan suatu pekerjaan yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain yang tidak memiliki kemampuan tersebut. Ada 4 aspek konsep kompetensi kurikulum, aspek tersebut antara lain:

1)      Kompetensi berkenaan dengan kemampuan siswa melakukan sesuatu dalam berbagai konteks.

2)      Kompetensi menjelaskan pengalaman belajar, mengenai hal-hal yang dapat dilakukan siswa melalui proses pembelajaran.

3)      Kompetensi merupakan hasil belajar, mengenai hal-hal yang dapat dilakukan siswa melalui proses pembelajaran.

4)      Kehandalan kemampuan siswa melakukan sesuatu yang didefinisikan secara jelas, berstandar yang dapat diukur.

 

KBK adalah kurikulum yang dikembangkan berdasarkan kompetensi (keahlian) tertentu yang menekankan pada standar kompetensi.[42] Ada 3 komponen standar kompetensi yang harus dicapai siswa setelah belajar, yaitu:

1)      Standar kompetensi dasar, merupakan ukuran minimal yang ditetapkan untuk menguasai kemampuan, pengetahuan, ketrampilan dan sikap suatu materi.

2)      Standar materi, merupakan materi pokok suatu bahan kajian yang dapat berupa bidang ajar, gugus isi, proses, ketrampilan, konteks atau pengertian konseptual sebagai bagian dari struktur keilmuan suatu mata pelajaran.

3)      Indikator pencapaian, standar hasil belajar disajikan dalam bentuk indikator pencapaian hasil belajar berupa kompetensi dasar yang lebih spesifik yang dapat dijadikan ukuran untuk menilai ketercapaian hasil pembelajaran.

 

c.        Kurikulum Berbasis Kompetensi

Menurut A. Syafii dalam seminar nasional menjelaskan bahwa kurikulum berbasis kompetensi merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dan pengembangan kurikulum sekolah. Sedangkan kompetensi itu sendiri mengarahkan kepada apa yang diharapkan dapat diketahui, disikapi atau dilakukan siswa dalam setiap tingkatan dan satuan pelajaran, sekaligus menggambarkan kemajuan siswa yang dicapai secara bertahap dan berkelanjutan untuk menjadi kompeten.[43]

Tujuan utama KBK adalah kemandirian atau memberdayakan sekolah dalam mengembangkan kompetensi yang akan disampaikan kepada peserta didik sesuai dengan kondisi lingkungan. KBK itu sendiri, memberi peluang bagi kepala sekolah, guru dan peserta didik untuk melakukan inovasi dan improvisasi di sekolah berkaitan dengan masalah kurikulum, pembelajaran, manajerial dan lain sebagainya yang tumbuh dari aktivitas, kreativitas dan profesionalisme yang dimiliki.[44]

Kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kebiasaan berpikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus memungkinkan seseorang menjadi kompeten, dalam arti memiliki pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai dalam melakukan sesuatu.[45]

Kurikulum berbasis kompetensi menekankan dasar perencanaan dan pengembangan kurikulum pada kompetensi yang harus dikuasai dan dimiliki siswa setelah menyelesaikan pembelajaran atau proses pendidikan di sekolah. Ada 3 landasan teoritis yang mendasari implementasi kurikulum berbasis kompetensi:

a.       Adanya pergeseran dari pembelajaran kelompok ke arah pembelajaran individual. Pembelajaran lebih menekankan pada kegiatan individu meski dilaksanakan secara klasikal, dan perlu memperhatikan perbedaan peserta didik.

b.      Pengembangan konsep belajar tuntas (mastery learning) atau belajar sebagai penguasaan ( learning for mastery).

c.       Pendefinisian kembali bakat peserta didik. Perbedaan peserta didik perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran dengan pemberian waktu yang cukup. [46]

 

Mulyasa menjelaskan yang dikutip dari Mars bahwa ada tiga faktor yang mempengaruhi implementasi kurikulum yaitu:

a.                  Dukungan kepala sekolah

b.                 Dukungan rekan sejawat guru

c.                  Dukungan yang datang dari guru itu sendiri.[47]

 

Ciri-ciri kurikulum berbasis kompetensi adalah:

 

a.       Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa, baik secara individual maupun klasikal

b.       Berorientasi pada hasil belajar dan keberagaman

c.       Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.

d.      Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.

e.       Penilaian menekankan pada proses dan hasil dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi. [48]

 

Taksonomi yang dikembangkan KBK sedikit berbeda dengan apa yang dikembangankan oleh Bloom, Krathwohl dkk. yang meliputi:

1.       Kompetensi kognitif; yaitu pengetahuan, pemahaman dan kesadaran yang spesifik

2.       Kompetensi afektif; yaitu nilai, sikap, minat dan apresiasi yang saling berhubungan

3.       Kompetensi kinerja; yaitu perilaku yang didemonstrasikan yang merupakan persyaratannya

4.       Kompetensi konsekuensi atau hasil; yaitu kemampuan yang menghasilkan perubahan lain dan di demonstrasikan yang merupakan persyaratannya

5.       Kompetensi eksploratif atau ekspresif yaitu pengalaman yang bermanfaat.[49]

 

Setidaknya ada tujuh asumsi yang mendasari KBK, ketujuh asumsi tersebut adalah sebagai berikut:

a.       Banyak sekolah yang memiliki sedikit guru profesional dan tidak mampu melakukan proses pembelajaran secara optimal. Oleh karena itu penerapan KBK menuntut peningkatan kemampuan profesional guru.

b.      Banyak sekolah yang hanya mengoleksi mata pelajaran dan pengalaman, sehingga mengajar diartikan sebagai kegiatan menyajikan materi yang terdapat dalam setiap mata pelajaran.

c.       Peserta didik bukanlah tabung kosong yang harus diisi oleh guru sekehendaknya tanpa mengembangkan potensi yang dimiliki.

d.      Peserta didik memiliki potensi yang berbeda dan bervariasi sehingga pengembangan kemampuannya sesuai dengan yang dimilikinya.

e.       Pendidikan berfungsi mengkondisikan lingkungan untuk membantu peserta didik mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya secara optimal.

f.       Kurikulum sebagai rencana harus berisi kompetensi-kompetensi potensial yang tersusun secara sistematis yang akan dicapai dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari oleh peserta didik.

g.      Kurikulum sebagai proses pembelajaran harus memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi yang dimiliki secara optimal sesuai dengan kemampuannya masing-masing. [50]

 

 

 

 

 

2. Komponen KBK

Kurikulum Berbasis Kompetensi merupakan kerangka inti yang memiliki 4 komponen:[51] kurikulum dan hasil belajar, penilaian berbasis kelas, kegiatan belajar mengajar dan pengeloaan kurikulum

a.       Kurikulum dan Hasil Belajar

Kurikulum dan hasil belajar memuat perencanaan kompetensi peserta didik yang ingin dicapai dan pelaksanaan pencapaiannya secara keseluruhan pada jenjang pendidikan masing-masing. Kurikulum dan hasil belajar terfokus pada siswa dan hasil belajar serta dimaksudkan agar siswa dan orangtua dapat memperoleh kejelasan tentang hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa di sekolah.

b.       Penilaian Berbasis Kelas

Penilaian Berbasis Kelas memuat prinsip, sasaran dan pelaksanaan penilaian keberlanjutan yang akurat dan konsisten sebagai akuntabilitas publik, adanya standar pencapaian, serta kemajuan siswa dan pelaporan. Penilaian dilaksanakan secara terpadu dengan kegiatan belajar mengajar meliputi aspek: pengumpulan hasil kerja siswa, penugasan, penampilan dan tes tertulis. Prinsip-prinsip Penilaian berbasis kelas adalah valid, edukatif, berorientasi pada kompetensi, adil, terbuka, berkesinambungan, menyeluruh dan bermakna.

c.       Kegiatan Belajar Mengajar

Kegiatan belajar mengajar memuat proses pembelajaran yang mencakup pendekatan pedagogis dan andragogis, fasilitas, metode dan mencapai kompetensi. Prinsip-prinsip kegiatan belajar mengajar adalah :

1)      Berpusat pada siswa. Materi pembelajaran disesuaikan dengan karakteristik siswa

2)      Memberikan pengalaman nyata kepada siswa, guru menghubungkan teori dengan kehidupan sehari-hari

3)      Mengembangkan kemampuan sosial

4)      Mengembangkan kehidupan kreativitas siswa untuk bebas berkreasi

5)      Mengembangkan ketrampilan identifikasi dan pemecahan masalah

6)      Mengembangkan kemampuan menggunakan teknologi masa kini untuk mendapatkan informasi

7)      Menumbuhkan kesadaran, wawasan, nilai-nilai moral dan sosial akan kemajemukan bangsa

 

d.      Pengelolaan Kurikulum Berbasis Sekolah

Pengelolaan kurikulum berbasis sekolah memuat berbagai pola pemberdayaan tenaga kependidikan dan sumber daya lain untuk meningkatkan mutu hasil belajar. Adanya jaringan pengembangan kurikulum dan silabi, pembinaan profesi tenaga kependidikan, pengembangan sistem informasi dan adanya penyusunan silabus, sehingga sekolah memiliki hak untuk menggali dana dari masyarakat melalui kemitraan dengan dunia usaha dan industri.

3. Perbedaan Kurikulum sebelumnya dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi

Berdasarkan sejarahnya kurikulum di negara kita telah mengalami beberapa kali perubahan, minimal pada tahun 1954, 1961, 1968, 1975, 1984 dan 1994 suplemen tahun 1999. demikian pula pada tahun 2002/2003 telah dicanangkan kurikulum baru yang dikenal dengan kurikulum berbasis kompetensi, selanjutnya disebut KBK.

Ada beberapa perbedaan penekanan dari masing-masing kurikulum tersebut, kurikulum 1954, 1961 dan 1968 menerapkan pendekatan materi pelajaran, maksudnya yang dipentingkan di dalam kegiatan belajar mengajar adalah pemberian materi pelajaran sebanyak-banyaknya sehingga siswa memiliki pengetahuan yang banyak dan memadai namun dalam hal ketrampilan terutama ketrampilan hastawi kurang mendapatkan perhatian atau bahkan sama sekali diabaikan. Kurikulum 1975 bertitik dari pendekatan tujuan instruksional baik umum maupun khusus maksudnya bahwa di dalam KBM yang penting adalah dicapainya target atau tujuan yang hendak dicapai sementara materi dimaksudkan untuk keperluan pencapaian tujuan pengajaran. Kurikulum 1984 diberlakukan juga dengan maksud untuk pencapaian tujuan, namun tujuannya lebih bersifat komprehensif jika dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya. Dalam kurikulum 1984 penyampaian materi pelajaran di klasifikasi dalam tiga ranah yaitu kognitif, afektif dan psikomor. Namun pada kenyataannya kegiatan pembelajaran lebih didominasi materi kognitif saja. Penekanan dalam kurikulum 1984 diberlakukan dengan menggunakan pendekatan tematis, yaitu berupa tema-tema yang sangat padat, sehingga guru hanya mengejar target untuk menghabiskan materi. Karena itu pembelajaran guru belum banyak menyentuh kemampuan dasar peserta didik. Adapun 2002 merupakan kurikulum berbasis kompetensi yang di dalamnya memiliki baerabagai aspek kompetensi yang diharapkan dikuasai peserta didik.[52]

Konsep dasar kurikulum berbasis kompetensi sebagai konsep kurikulum baru yang ditawarkan memiliki perbedaan dengan kurikulum yang terdahulu, dan perbedaan yang ada menuntut guru profesional dan berkualitas. Perbedaan yang mendasar antara kurikulum 1994 dan KBK, menurut A. Syafii dibedakan dari berbagai segi di antaranya:

1.        Fokus program pembelajaran

         Dulu : Guru dan apa yang harus mereka ajarkan

         Sekarang : Siswa dan apa yang akan mereka capai sebagai hasil belajarnya.

2.        Tujuan program pembelajaran kurikulum berbasis kompetensi

         Dulu : Mendapatkan hasil-hasil yang baik pada akhir semester, akhir tahun dan ujian akhir.

         Sekarang : Mengembangkan kompetensi-kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum sepanjang waktu persekolahan.

3.        Orientasi kurikulum berbasis kompetensi

         Hasil dan implikasi/dampak yang diharapkan muncul pada diri peserta didik melalui serangkaian pengalaman belajar.

         Keberagaman yang dapat diwujudkan sesuai dengan kebutuhannya

Menurut Djohar perubahan kegiatan pembelajaran akibat KBK adalah sebagai berikut: [53]

Dari : Menjadi:

Teacher centered Student centered

Siswa pasif Siswa aktif

Transformasi informasi Konstruktivisme

Mono-media Multi media

Singgle method Metode bervariasi

Berbasis pada materi Berbasis kompetensi

Tugas individu Tugas kelompok

Orientasi ke produk Orientasi ke ketrampilan proses

Ada kesamaan pendapat Djohar dengan pendapat Paul Suparjo, SJ, yang menyatakan bahwa pembelajaran yang terjadi pada kurikulum berbasis kompetensi menekankan pada proses pembentukan pengetahuan yang memerlukan paradigma pembelajaran kepada hal-hal yang utama, hal-hal yang utama itu adalah:[54]

Dari Menjadi

Mengajar Belajar

Indoktrinasi Partisipatif sebagai mediator dan fasilitator

Guru sebagai subjek Siswa sebagai subjek

Mengumpulkan Menemukan pengetahuan

Pengetahuan Mengembangkan kerangka berfikir

Berangkat dari pendapat di atas, perubahan kurikulum terdahulu menuju kurikulum berbasis kompetensi menuntut perubahan cara dan metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Kurikulum baru ini, mengisyaratkan kepada para guru untuk dapat memenuhi tuntutan kompetensi peserta didik dalam proses pembelajaran. Oleh sebab itu guru perlu mengetahui kompetensi siswa melalui pembelajaran dan mengetahui mana yang harus dikembangkan secara maksimal serta bagaimana menerapkannya.

Secara umum perbedaan kurikulum 1994 dengan kurikulum berbasis kompetensi dasar adalah:[55]

a.       Kurikulum 1994 kurang jelas menyajikan target-target yang ingin dicapai disetiap jenjang, sedangkan KBK disajikan secara jelas kemampuan-kemampuan yang harus dicapai pada setiap jenjang dan kelas.

b.      KBK memberi peluang kepada daerah, sekolah, guru untuk mengembangkan potensinya, sedangkan dalam kurikulum 1994 kurang memberi peluang

c.       Dalam KBK memuat kompetensi kemampuan dasar, materi standar dan indikator pencapaian hasil belajar disajikan secara terpadu, sedangkan dalam kurikulum 1994 komponen tersebut disajikan secara terpisah.

 

4.       Kelebihan Kurikulum Berbasis Kompetensi

 

Kurikulum Berbasis kompetensi yang mulai diujicobakan pada 36 sekolah dalam tahun 2002 diharapkan menjadi pengganti kurikulum tahun 1994. dibandingkan dengan kurikulum tahun 1994, kurikulum berbasis kompetenssi memiliki beberapa karakteristik yang melebihi kurikulum 1994, yaitu sebagai berikut:[56]

1.       Mengakomodasikan karakteristik individual siswa

Maksudnya siswa tidak lagi seluruhnya secara klasikal menyelesaikan materi pada waktu yang sama, tetapi siswa yang cebat dalam menuntaskan pelajarannya tidak terhambat oleh siswa yang lambat. Sementara siswa yang lebih lambat tetap dilayani sesuai dengan kemampuannya dengan mengikuti pembelajaran remidi. Hal ini bisa terjadi karena KBK menggunakan pembelajaran tuntas (mastery learning) dengan berbasis kompetensi (kemampuannya).

2.       Relatif menjamin obyektivitas penilaian

Maksudnya guru tidak harus mendongkrak nilai hanya supaya siswa dapat naik kelas.karena, meskipun sudah naik kelas, bagi siswa yang ingin memperbaiki nilai pada kelas sebelumnya tetap dioberi kesempatan dengan mengikuti ulangan perbaikan.

3.       Kualitas lulusan akan lebih baik

Hal ini disebabkan parameter keberhasilan belajar siswa tersebut harus mengulang sampai memperoleh kemampuan dalam kategori tuntas. Apalagi dengan obyektivitas penilaian, siswa dipaksa untuk benar-benar menguasai suatu kompetensi.

4.       Semua nilai yang tertera dalam rapor tidak terbuang

Nilai rapor mulai dari semester satu sampai semester terakhir, yang merupakan gambaran penguasaan siswa terhadap kompetensi yang pernah dipelajari, digabung dengan nilai ujian akhir nasional. Dengan begitu ukuran keberhasilan tidak lagi diukur dari ujian akhir nasional sajamelainkan secara menyeluruh. Sehingga akan memberikan nilai yang valid dan komprehensif tentang kemampuan lulusan.

Menurut Puskur Balitbang Kelebihan dari kurikulum berbasis kompetensi adalah:

a.       Dapat dijadikan acuan nasional dan masing-masing daerah dapat mengembangkan mata pelajaran sesuai dengan kondisi daerah masing-masing.

b.       Memudahkan daerah untuk mengembangkan mata pelajaran sesuai dengan lingkungannya.

c.       Memberi peluang kepada kepala sekolah untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan potensinya.

d.      Memudahkan guru dalam menentukan mata pelajaran.

e.       Memudahkan sistem evaluasi. [57]

 

C.     Guru dan Kurikulum Berbasis kompetensi

Setiap kebijakan selalu menimbulkan pro dan kontra, terutama bagi mereka yang terlibat didalamnya. Guru sebagai salah satu komponen dalam sistem pembelajaran adalah orang yang bertanggung jawab langsung dalam upaya mewujudkan yang tertuang dalam kurikulum Nasional.[58] Hal ini berarti keberhasilan ketercapaian Kurikulum Nasional ditentukan oleh keberhasilan guru didalam menjabarkan secara operasional dalam kegiatan belajar mengajar. Agar guru dapat mengimplementasikan KBK secara efektif, serta dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik guru perlu memiliki beberapa hal sebagai berikut.

1.       Menguasai dan memahami bahan dan hubungannya dengan bahan lain dengan baik

2.       Menyukai apa yang diajarkannya

3.       Memahami peserta didik, pengalaman, kemampuan dan prestasinya

4.       Menggunakan metode bervariasi dalam mengajar

5.       Mampu mengeliminasi bahan-bahan yang kurang penting dan kurang berarti

6.       Selalu mengikuti perkembangan pengetahuan mutakhir

7.       Proses pembelajaran selalu dipersiapkan

8.       Menghubungkan pengalaman yang lalu dengan bahan yang akan diajarkan. [59]

 

Kurikulum berbasis kompetensi bertujuan memberitahukan kepada para guru tentang apa yang harus mereka ajarkan, namun hal itu terfokus pada penggambaran apa yang harus mereka lakukan sebagai hasil belajarnya. Dengan perkataan lain, dalam KBK fokus program pembelajaran di sekolah sudah bergeser dari guru apa yang harus mereka ajarkan kepada siswa dan apa yang akan dicapai sebagai hasil belajarnya.[60]

Ada beberapa peran guru yang harus dilakukan dalam kurikulum berbasis kompetensi, yaitu:

a.       Mempelajari dokumen kurikulum.

b.       Menyusun program pembelajaran (termasuk silabus).

c.       Melaksanakan KBK di kelas.

d.      Mengumpulkan dan berbagi gagasan dengan sesama guru.

e.       Berbagi gagasan mengenai penilaian berbasis kelas.

f.        Mengumpulkan contoh-contoh pekerjaan siswa.

g.       Menghadiri pertemuan-pertemuan.

h.       Menyelesaikan tugas-tugas pemantauan dan penilaian yang diperlukan. [61]

 

Fokus program pembelajaran disekolah dalam KBK, sudah begeser dari guru apa yang harus mereka ajarkan kepada siswa apa yang akan mereka capai sebagai hasil belajarnya.[62] Sehingga hal ini menuntut paradigma sistem pembelajaran yang telah tereduksi menjadi pengajaran, dan pengajaran lalu menyempit menjadi kegiatan guru mengajar murid dengan target kurikulum dan bagaimana mengajar nilai tetapi hal terpenting dalam KBK adalah cara dan metode yang digunakan guru dalam kegiatan belajar mengajar.

Sejalan dengan kemajuan perkembangan dan keberhasilan kegiatan belajar mengajar model kurikulum ini diharapkan lebih membantu guru karena dilengkapi dengan pencapaian target yang jelas, materi pokok, standar hasil belajar siswa dan prosedur pelaksanaan pembelajaran, KBK memudahkan guru dalam menyajikan pengalaman belajar yang sejalan dengan prinsip belajar sepanjang hayat yang mengacu pada empat pilar pendidikan universal, yaitu belajar mengetahui, belajar melakukan, belajar menjadi diri sendiri dan belajar hidup dalam kebersamaan.[63]

Guru bersama-sama ahli pendidikan atau institusi dan ahli kurikulum mempunyai 3 tugas utama:[64]

b.       Menyusun silabus sebagai bentuk penjabaran dari standar kompetensi dan indikator hasil belajar, kedalam satuan rencana pembelajaran yang yang lebih rinci dan aplicable di lapangan

c.       Membuat panduan pembelajaran dan penularan sesuai dengan kebutuhan daerah masing-masing . perlu diperhatikan bahwa menyusun perangkap ini hendaknya lebih memperhatikan keanekaragaman kompetensi peserta didik bukan target materi yang harus diselesaikan dalam kurun waktu tertentu sebagaimana yang dilakuakn sebagian pengajar dengan kurikulum selama ini.

d.      Menentukan sumber belajar yang sesuai untuk mendukung pembelajaran seperti penyusunan LKS dan sejenisnya akan sangat membantu diberlakukannya KBK.

D. Kesiapan Guru Kimia dalam Menghadapi Kurikulum Berbasis Kompetensi

Kurikulum Nasional yang dalam pelaksanaannya dijabarkan dalam kuriulum institusional dan berakhir pada kurikulum tingkat pembelajaran, keberhasilan pengembangan-nya di tungkat pembelajaran sangat ditentukan oleh kemampuan dan kemauan guru. Oleh karena itu sebagian besar daerah di indonesia telah dilakukan sosialisasi, peltihan, TOT dalam rangka mempersiapkan guru-guru di daerah masing-masing untuk menyongsong pelaksanaan KBK. Namun demikian tidak sedikit pula guru-guru yang belum terjamah dalam kegiatan tersebut, artinya mereka belum memiliki cukup bekal dalam melaksanakan KBK di sekolahnya. Untuk mencapai keberhasilan dalam suatu pekerjaan, termasuk pekerjaan sebagai guru, sangat diperlukan kesiapan yang matang dari diri si pekerja, baik kesiapan fisik, mental maupun kognitif.

Mohammad Ali menjelaskan tentang kesiapan (readiness) yang dikutip oleh Das Salirawati adalah suatu kemampuan potensial untuk melakukan perbuatan yang sesuai dengan tingkat kecerdasannya. Dengan demikian seorang guru yang telah siap melaksanakan KBK kimia khususnya akan berusaha membekali diri dengan berbagai aktivitas yang menunjang keberhasilan pelaksanaan di sekolah masing-masing dan tanpa ragu-ragu mempraktikan apa yang mempunyai kesiapan diri maka ia akan mencoba menunjukkan dengan berbuat sesuatu dengan kemampuan dan kecerdasan yang dimiliki[65]

Menurut The Liang Gie (1982), yang diutip oleh Das Salirawati bahwa kesiapan adalah sesuatu kemauan, keinginan, dan kemampuan untuk mengusahakan kegiatan tertentu, termasuk mengikuti perubahan yang terjadi dari kegiatan tersebut.[66] Berdasarkan pendapat ini, maka seseorang yang telah siap menghadapi pemberlakuan KBK Kimia khususnya, maka ia akan berusaha melakukan kegiatan apapun agar dapat melaksanakan kegiatan tersebut dengan sebaik-baiknya. Seorang guru yang telah siap melaksanakan KBK berarti telah siap pula melaksanakan pembelajaran KBK di depan siswa-siswanya.

Pendapat lain dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto yang dikutip oleh Das Salirawati bahwa kesiapan sebagai suatu kompetensi untuk berbuat sesuatu yang berkaitan dengan penguasaan tentang konsep ilmu pengetahuan tertentu.[67] Hal ini berarti guru-guru yang memiliki kesiapan terhadap pemberlakuan KBK Kimia akan memiliki kesiapan tentang materi kimia yang ada dalam KBK sebagai bekal melaksanakan pembelajaran kimia. Kesiapan tentang materi kimia ini dapat diperoleh guru melalui membaca buku-buku kimia, menggunakan metode bervariasi, menggunakan alat peraga, menggunakan penilaian berbasis kelas, mengikuti seminar, berdiskusi dengan teman sejawat dan bertanya kepada orang lain yang lebih mengerti tentang kimia. Usaha inilah yang dijadikan indikator kesiapan guru kimia dalam menghadapi kurikulum berbasis kompetensi.

Kesiapan seorang guru dalam melaksanakan KBK Kimia khususnya bukan berarti hanya siap dalam artian ada kemauan untuk melaksanakan, tetapi lebih dari itu guru harus siap pula dalam menguasai berbagai hal yng berkaitan dengan KBK yaitu kesiapan kompetensi, seperti pengetahuan, keterampilan dan sikap.

J. Metode Penelitian

1.      Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk penelitian kancah atau lapangan, yaitu penelitian yang data-datanya diperoleh dari lapangan (empirik).

2.      Sifat Penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif yaitu penelitian yang berusaha membuat pencandraan secara sistematis, faktual dan akurat. Penelitian ini akan mendeskripsikan profesionalitas guru-guru kimia di Kotamadya Yogyakarta dalam menghadapi kurikulum berbasis kompetensi.

3.      Metode Penentuan Subyek

Populasi dalam penelitian ini adalah guru-guru kimia yang mengajar di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) di wilayah Kotamadya Yogyakarta antara lain: MAN I, MAN II, MAN III dan Man Lab. Yogyakarta.

Adapun guru yang mengajar kimia di kedua madrasah itu berjumlah 11 orang. Dan karena jumlah populasi yang tidak homogen maka penelitian ini tidak menggunakan sampel.

4.      Metode pengumpulan data

Penulis menggunakan beberapa metode sebagai upaya pengumpulan data metode pengumpulan data tersebut adalah sebagai berikut:

a.       Angket.

Metode angket yaitu suatu cara pengumpulan data berbentuk pengajuan pertanyaan tertulis melalui sebuah daftar pertanyaan yang sudah dipersiapkan sebelumnya.[68] Dalam penelitian ini, angket diberikan kepada guru-guru yang mengajar kimia untuk memperoleh data-data yang berhubungan dengan gambaran profesionalitas guru kimia ditinjau dari pengalaman mengajar, asal jurusan sekolah tempat guru belajar. Dan untuk mengetahui kesiapan-kesiapan guru kimia dalam menghadapi kurikulum berbasis kompetensi.

b.      Observasi

Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang diselidiki.[69] Metode ini digunakan untuk memperoleh data dari pengamatan langsung tentang penggunaan kurikulum berbasis kompetensi di madrasah.

c.        Dokumentasi

Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, prasasti, surat kabar, majalah dan sebagainya.[70]

5. Metode analisis data

Hasil penelitian diperoleh dari analisis data, penulis menggunakan analisis data kualitatif dan kuantitatif untuk menganalisis data.

1.      Analisis kualitatif

Jenis data yang dianalisis secara kualitatif adalah data yang tidak dapat diukur secara langsung. Menurut Drs. Anas Sudijono, analisis kualitatif adalah menganalisis data dengan mendeskripsikan melalui bentuk kata-kata atau kalimat dan dipisahkan menurut kategori yang ada.[71] Dengan menggunakan metode deduktif yaitu metode analisis data yang didasarkan pada pengetahuan yang sifatnya umum, dan bertitik tolak dari pengetahuan yang umum itu hendak menilai suatu kejadian yang khusus, kemudian pada akhirnya ditarik kesimpulan sehingga diperoleh suatu kebenaran. Dalam skripsi ini, Analisis kualitatif digunakan untuk mengolah data dari hasil observasi, data tersebut dianalisis menggunakan metode deskriptif, yaitu data yang dikumpulkan, dirumuskan, dijelaskan kemudian dianalisis. Data ini tidak diolah dengan skala penilaian tetapi mendiskripsikan apa adanya.[72]

2. Analisis kuantitatif

Penulis menggunakan metode ini dalam menganalisis data yang masih mentah yang berhubungan dengan angket untuk guru mengenai kesiapan pengajaran dalam menghadapi penerapan kurikulum berbasis kompetensi. Adapun cara metode analisis ini adalah dengan cara statistik sederhana atau statistik deskriptif yaitu statistik yang mempunyai tugas mengorganisir dan menganalisis data angka, agar dapat memberi gambaran peristiwa atau keadaan, sehingga dapat ditarik pengertian atau makna tertentu.[73] Dalam hal ini, rumus yang digunakan adalah rumus distribusi relatif:[74]

P =

Keterangan:

P = Angka persentase

f = Frekuensi yang sedang dicari persentasenya

N = Number of cases (banyaknya individu)

K. Sistematika Pembahasan

Skripsi ini terdiri dari empat bab, dan terbagi menjadi beberapa sub bab pada tiap babnya. Sebelum memasuki tiap-tiap babnya, terlebih dahulu diawali dengan adanya halaman formalitas. Untuk lebih detailnya akan penulis jelaskan sebagai berikut:

Bab pertama adalah pendahuluan yang memaparkan secara jelas latar belakang masalah, rumusan masalah, pembatasan masalah, alasan pemilihan judul, tujuan dan kegunaan penelitian, telaah pustaka, deskripsi teori, metode penelitian dan sistematika pembahasan.

Bab kedua berisi tentang gambaran umum Madrasah Aliyah Negeri di Kotamadya Yogyakarta yang terdiri dari tujuan dan sejarah berdirinya madrasah, kondisi lingkungan madrasah serta pembelajaran kimia di madrasah.

Bab ketiga membahas tentang kesiapan-kesiapan profesionalitas guru-guru kimia dalam menghadapi kurikulum berbasis kompetensi. Bab ini merupakan ground idea skripsi, karena dalam bab ini, data akan diolah kemudian dibahas atau dikaji masalah yang berkaitan dengan bentuk profesionalitas guru kimia, usaha-usaha guru kimia dalam menghadapi implementasi kurikulum berbasis kompetensi, hal ini bisa dijadikan indikator profesionalitas guru kimia yang terdiri dari kesiapan serta hambatan yang dihadapi dengan menggunakan kurikulum berbasis kompetensi.

Bab keempat ini mengakhiri pembahasan dalam penulisan skripsi yang merupakan jawaban atas semua rumusan masalah dalam penelitian ini, yang terangkum dalam sebuah kesimpulan. Untuk melengkapinya, akan dikemukakan saran-saran penulis berkaitan dengan penelitian ini dan kata penutup. Jadi, bab ini berisi kesimpulan, saran-saran dan kata penutup.

 

 

BAB II

GAMBARAN UMUM MADRASAH ALIYAH NEGERI I, II, III DAN LABORATORIUM FAKULTAS TARBIYAH IAIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA

A. GAMBARAN UMUM

Madrasah Aliyah Negeri Yogyakarta I

Sejarah dan Tujuan Berdirinya

Madrasah Aliyah Negeri Yogyakarta I merupakan lembaga pendidikan yang dikelola oleh Departemen Agama RI. Pada awalnya MAN Yogyakarta I bernama Madrasah Hakim Islam (SGHI) yang didirikan pada tanggal 16 Januari 1950. Pada saat itu, lembaga ini belum memiliki gedung sendiri, sehingga dalam pelaksanaan kegiatan pembelajarannya harus meminjam gedung madrasah rakyat (SR) yang terletak dijalan Malioboro dan sebagian di jlan pasar kembang.

Pada tahun 1951, SGHI berubah nama menjadi madrasah Guru dan Hakim Agama (SGHA) yang terdiri dari empat jurusan, yaitu: Jurusan Sastra, Jurusan IPA, Jurusan Hakim Agama dan Perkantoran dan Jurusan Agama. Khusus untuk Jurusan Hakim Agama Dan Perkantoran, siswa yang diperbolehkan mendaftar adalah siswa yang telah lulus dari Pendidikan Guru Agama (PGA) 4 tahun. Jurusan Hakim Agama dan Perkantoran ini memisahkan diri dengan SGHA dan menjadi sebuah lembaga yang mandiri bernama Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN), sedangkan jurusan-jurusan yang lainnya di SGHA tetap berjalan hingga tahun 1957. perkembangan selanjutnya SGHA bergabung kembali dengan PHIN. Dengan bergabungnya SGHA dengan PHIN tersebut, maka menjadi satu kelembagaan kembali yang bernama PHIN.

Sebagai tindak lanjut dari upaya pembeharuan dibidang pendidikan berdasarkan Surat Keputusan Menteri (SKB) tiga menteri, yaitu Menteri Agama, menteri Dalam Negeri dan Mernteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 6 Tahun 1975, No. 36 tahun 1975 dan No. 137/I/1975 pada tanggal 24 Maret1975 dan sebagai implementasi dari keputusan Presiden No. 34 tahun 1972 dan Instruksi Presiden No. 15 tahun 1974, maka Menteri Agama mengeluarkan Surat Keputusan No. 17 tahun 1978 mengganti PHIN menjadi Madrasah Aliyah Negeri Yogyakarta I, penggantian nama menjadi MAN Yogyakarta I ini memiliki maksud sebgai berikut:

1.      Ijazah madrasah mempunyai nilai yang sama dengan ijazah madrasah umum

2.      Siswa madrasah dapat pindah ke madrasah umum, demikian pula sebaliknya

3.      Alumni madrasah melanjutkan kejenjang pendidikan yang lebih tinggi manapun tanpa diskrikinasi dengan madrasah umum

Dengan digantinya nama PHIN menjadi MAN Yogyakarta I tersebut diikuti dengan dibukanya beberapa jurusan, yaitu jurusan Pendidikan Agama (PA), jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

Dengan diberlakukannya kurikulum 1994, maka untuk meningkatkan mutu pendidikan dan memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat, MAN Yogyakarta I memberlakukan kurikulum tersebut dengan program-program pilihan antara lain: Program IPA, IPS, Bahasa dan Program Madrsah Aliyah Khusus (MAK). Program-program tersebut dilaksanakan secara bertahap sejak tahun ajaran 1994/1995 sampai 1996/1997. perkembangan saat ini, kurikulum yang diberlakukan adalah kurikulum 1994 dengan pengembangan kurikulum berbasis kompetensi.

Kondisi Lingkungan Madrasah

MAN Yogyakarta I terletak di Jl. C. Simanjuntak No. 60. tepatnya depan Mirota Kampus, sebelah selatan FMIPA UGM. Lokasi madrasah sangat strategis, karena terletak di pusat kota dan dilalui berbagai jalur angkutan umum.

Kondisi fisik madrasah terdiri dari 18 ruang MAU dan 3 ruang MAK, daya tampung kelas 42 siswa MAU dan MAK, 1 aula, 1 ruang guru, 1 ruang tata usaha, 1 ruang Kepala Madrasah, 1 ruang wakil kepala madrasah dan BK, 1 perpustakaan, 2 laboratorium bahasa, 1 lab. IPA, 1 lab. IPA terpadu, 1 lab, computer, 2 asrama, 1 ruang penjaga, 1 kantin, 1 masjid (2 lantai), 2 ruang kecil tonti musik, 4 ruang urusan kegiatan siswa, 1 lapangan basket, 1 lapangan bulu tang kis, 1 ruang UKS dan 1 ruang OSIS.

Jumlah guru sebanyak 58 orang, terdiri dari 32 orang guru tetap, 9 orang guru DPK dan 17 orang guru GTT. Adapun karyawan MAN Yogyakarta I sebanyak 7 orang.

Madrasah Aliyah Negeri Yogyakarta II

Sejarah dan Tujuan Berdirinya

Pada tahun 1950 di Yogyakarta berdiri suatu lembaga pendidikan Islam swasta bernama madrasah Guru Agama Islam Puteri yang diasuh oleh Ibu Siti Antinah (Alm). Pada tahun itu juga atas prakarsa Drs. A. Sigit Alm. (Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan UGM) bersama Ibu Sri Antinah (Alm.), Ibu Siti Wasilah barozie, Ibu Maria Sumitro, Bapak H. Wasil Aziz, S.H., Bapak Drs. Sukirin, Bapak R. Dawam Narzuki (Pemuka-pemuka Islam di Yogyakarta) mengajukan permohonan penegerian kepada Departemen Agama RI.

Dengan SK Menteri Agama No. 162/A/C.9 tanggal 25 Agustus 1950, maka terhitung mulai tanggal 1 September 1950 resmilah berdiri SGAIP Negeri Yogyakarta, Sekaligus Ibu Sri Antinah diangkat sebgai Kepala madrasah. Tahun 1978 sebagai akibat:

Kepres No. 44 dan 45 tahun 1974;

SKB 3 Menteri No. 6/1975;

SKB 3 Menteri No. 037/1975;

SKB 3 Menteri No. 36/ 1975;

SK Menteri Agama No. 18/1975.

Maka terbitlah SK Menteri Agama No. 17 tahun 1978 yang mengatur susunan kerja pada MAN ex PGAN 6 tahun, yang sekaligusdalam lampirannya disebutkan bahwa PGAN 6 tahun upteri Yogyakarta berubah menjadi:

         MTsN Yogyakarta II ex kelas. I, II dan III

         MAN Yogyakarta II untuk ex. KelasIV, V dan VI

Dan MAN Yogyakarta II sejak Tahun 1978-1980 mulai menerima siswa putera-puteri, untuk jurusan IPS

Kondisi Lingkungan Madrasah

Bangunan gedung MAN Yogyakarta II luasnya kurang lebih 3685 m2 . berlokasi di Jl. K.H. Ahmad dahlan No. 130, Ngampilan Yogyakarta. Adapun sarana dan fasilitas pendukung proses belajar mengajar yang dimiliki meliputi: 19 Ruang kelas, 1 ruang Kepala Madrasah, 1 ruang Wakamad, 1 ruang Guru, 1 ruang Perpustakaan, 1 ruang BP, OSIS, Kesenian, Komputer, Koperasi, UKS, Lab. Bahasa, Lab. IPA, Gudang, Kepanitiaan, Lapangan Olah Raga/ Upacara, Mushola, 15 kamar mandi dan WC, 2 kantin dan 1 Tempat Parkir.

Madrasah Aliyah Negeri Yogyakarta III

Sejarah dan Tujuan Berdirinya

a. MAN Yogyakarta III Sebagai MAN Model

Sejarah Singkat Lokasi yang pernah ditempati PGAN Yogyakarta mulai tahun 1950 sekarang, Tahun 1950-1954 lokasi / tempat di jalan Malioboro ( sekarang menjadi Toko Samijaya ). 1954-1972 di jalan Ketanggungan (Muallimin) dan sebagian di Semaki jalan kapas yang sekarang ditempati SD Muhammadiyah Sukonandi dan Perpustakaan IKIP Muhammadiyah Yogyakarta. 1972-1982 Di jalan Magelang Kilometer 4 sebelah selatan TVRI Yogyakarta. 1982-sekarang Di jalan Magelang Kilometer 4 sebelah selatan TVRI Yogyakarta.

Dalam perkembangannya, MAN Yogyakarta III untuk wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta ditetapkan sebagai MAN MODEL dengan SK Dirjen Binbaga Islam Departemen Agama RI No.E.IV / PP.00.6 / KEP /17.A / 98.

Secara khusus Madrasah Aliyah Model bertujuan menghasilkan keluaran pendidikan yang memiliki keunggulan dalam hal :

1.      Keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

2.      Nasionalisme dan Patriotisme yang tinggi.

3.      Wawasan Iptek yang mendalam dan luas.

4.      Motivasi dan komitmen yang tinggi untuk mencapai prestasi dan keunggulan.

5.      Kepekaan sosial dan kepemimpinan.

6.      Disiplin yang tinggi dan ditunjang oleh kondisi fisik yang prima.

7.      Kurikulum Plus

8.      Kurikulum yang diberlakukan adalah kurikulum 1994 plus Kurikulum Inovasi MAN Yogyakarta III.

 

Mulai kelas 2 dibuka dua program yang masing-masing terdiri dari Jurusan IPA dan IPS, P3A (Program Pengembangan Potensi Akademik), Terdiri dari dua jurusan : P3A Jurusan IPA dan P3A Jurusan IPS. Program ini disediakan untuk siswa yang berminat dan memiliki kemampuan untuk melanjutkan pendidikannya ke Perguruan Tinggi. Kemudian PPHM (Program Persiapan Hidup Mandiri) Terdiri dari dua jurusan : PPHM Jurusan IPA dan PPHM Jurusan IPS. PPHM IPA memiliki spesifikasi: ketrampilan teknisi komputer dan industri mebel. Sedangkan PPHM IPS memiliki spesifikasi keterampilan tata busana dan kerajinan batik. Program PPHM ini disediakan untuk siswa yang tidak berminat untuk melanjutkan pendidikannya ke Perguruan Tinggi tetapi menginginkan bekal hidup mandiri (ketrampilan / persiapan kerja). Pembekalan penguasaan bahasa asing secara aktif : Pada bahasa Inggris, ditambahkan materi khusus (mata pelajaran) Conversation 12 jam pelajaran untuk cawu 1 kelas 1 dan 4 jam pelajaran pada Cawu berikutnya. Pada bahasa Arab, ditambahkan materi khusus (mata pelajaran) Muhadatsah 10 jam pelajaran untuk cawu 1 kelas 2 dan 2 jam pelajaran pada cawu berikutnya. Pendidikan apresiasi dan aplikasi komputer menjadi mata pelajaran intrakurikuler untuk semua kelas 2 jam pelajaran perminggu. pendidikan jasmani dan kesehatan (Penjakes / Olah raga) diarahkan pada olah raga prestasi. intrakurikuler Olah Raga ini ditangani pelatih profesional dan dilaksanakan sore hari. Ada tambahan mata pelajaran baru : Pendidikan Penalaran dan Minat Baca (PPMB yang jumlah jam mata pelajaran perminggu pada setiap cawu tidak selalu sama, sebagian mata pelajaran tidak ditatapmukakan secara penuh (ada reduksi jumlah jam tatap muka kelas).

b. Ringkasan Sejarah Mayoga

Sejarah Singkat Nama Sekolah PGAN Yogyakarta mulai tahun 1950-sekarang. Pada tahun 1950-1951 bernama SGAI, 1951-1954 PGAN Laki-laki Yogyakarta. 1954-1958 PGA Atas I Laki-laki Yogyakarta. 1958-1959 PGAN Lengkap 6 Tahun Yogyakarta. 1959-1978 PGAN 6 Tahun Yogyakarta. 1978-1982 PGAN Yogyakarta. 1982-1990 PGAN Yogyakarta. 1990/1991 Kelas 1 (MAN), Kelas 2 (PGAN), Kelas 3 (PGAN).1991/1992 Kelas 1 (MAN), Kelas 2 (MAN), Kelas 3 (PGAN). 1992/1993 Kelas 1 (MAN), Kelas 2 (MAN), Kelas 3 (MAN).

Nama Kepala Sekolah PGAN-MAN YOGYAKARTA mulai tahun 1950, pada tahun 1950-1958 Bapak Malikus Suparto, 1958-1962 Bapak Supadi Padmodarsono.1962-1966 Bapak Sutono Brotokartono, 1966-1974 Bapak Drs. Sarbini Hadiwardoyo, 1974-1984 Bapak Sutadji, BA.1984-1989 Bapak Tugono, BA. 1989-1995 Bapak Drs. H. Budi Sudjodo (PGAN / MAN Yogyakarta III).1995-1999 Bapak Drs. M. Taslim (MAN Yogyakarta III), 1999-... Bapak Drs. H. Sukardi (MAN Yogyakarta III).

Madrasah Aliyah Negeri Laboratorium Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Sejarah dan Tujuan Berdirinya

Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Laboratorium Fakultas Tarbiyah (LFT) IAIN Sunan Kalijaga yogyakarta merupakan madrasah Islam dan bernaung dibawah bimbingan Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Keberadaan MAN LFT IAIN Sunan Kalijaga merupakan wujud jawaban atas persoalan yang dihadapi Fakultas Tarbiyah bagi mahasiswa yang telah menyelesaikan teori dan sekaligus juga menghadapkan mahasiswa pada realita pendidikan yang sesungguhnya.

Sebelum mengambil keputusan tentang pentingnya mendirikan madrasah sendiri, terlebih dahulu diadakan serangkaian simposium guna mendapatkan landasan yang kokoh. Sementara sebagai tindak lanjut dari hasil kesepakatan symposium tersebut di keluarkan suatu surat keputusan Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga No. 4/D/1969 tanggal 14 januari 1969 tentang berdirinya madrasah latihanyang berbunyi sebagai berikut: "Terhitung mulai tanggal 5 Syawal 1388 Hijriyah, madrasah latihan Fakultas Tarbiyah IAIN al-jami'ah Sunan Kalijaga Yogyakarta didirikan dengan nama dan bentuk Fakultas Tarbiyah". Dan ini diprakarsai oleh Prof. Dr. H. Muhtar Yahya, Drs. Suroyo, MA., Drs. Busyairi Madjidi, Drs. Fathurrahman dan Drs. Sajad Harjanto.

Sebagai institusi pendidikan MAN LFT tentunya mempunyai tujuan yang mulia. Seperti institusi pendidikan lainnya, tujuan didirikan MAN LFT IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta adalah: ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa, dengan menyiapkan peserta didik menjadi manusia yang berimtaq dan beriptek sehingga mencapai pada taraf insan kamil. Selain itu sebagai tempat latihan atau praktek kependidikan dan keguruan, tempat untuk mengadakan penelitian kependidikan dan mencari pola inovasi baru dibidang pendidikan agama Islam, untuk mengadakan percobaan atau eksperimen bagi metode-metode baru dan menguji metode pembelajaran yang lama serta melaksanakan darma bhakti dan pengabdian kepada masyarakat dengan memberikan pelayanan dalam pendidikan agama Islam.

Kondisi Lingkungan Madrasah

MAN LFT IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta terletak di komplek lingkungan IAIN sunan Kalijaga Yogyakarta. Kondisi fisik madrsah terdiri dari 6 kelas selain itu terdapat ruang TU, Guru, Kepala Madrasah, OSIS, BP, ruang mushola, perpustakaan dan ruang komputer, sedangkan untuk fasilitas laboratorium kimia, fisika ataupun biologi belum ada.sementara untuk fasilitas KBM dan media guru-guru menggunakan seperti White Board, buku pegangan wajib, spidol dan sarana lain yang sesuai dengan bidang studi masing-masing.

2. Proses Pembelajaran Kimia di Madrasah

Madsrsah Aliyah merupakan jenjang pendidikan menengah setingkat SMU. Lembaga pendidikan dibawah naungan Departemen agama ini selain mempelajari metri umum seperti kimia, fisika, ekonomi akuntansi dan lain-lain juga memuat materi agama Islam. Sejalan dengan tujuan madrasah aliyah yaitu menjadikan siswa yang beriman dan bertaqwa dan berilmu pengetahuan.

Kurikulum merupakan rancangan pendidikan yang merangkum semua pengalaman belajar yang disediakan bagi siswa dimadrasah. Rancangan ini disusun dengan maksud memberi dorongan kepada pelaksana pendidikan, dalam proses pembimbingan perkembangan siswa mencapai tujuan yang dicita-citakan oleh siswa dan masyarakat.

Keberhasilan pengajaran atau pelaksanaan suatu kurikulum sangat dipengaruhi oleh kondisi dan aktivitas siswa, guru serta pelaksana kurikulum lainnya, oleh kondisi fisik, sosial budaya dan psikologi sekitar, oleh kondisi dan perlengkapan sarana dan prasarana baik di madrasah atau keluarga. Pendidikan dan pengajaran selalu berlangsung dalam keterbatasan biaya. Yang harus diupayakan oleh para penyususn pengembang dan pelaksana umumnya, adalah mengoptimalkan hasilsiswa dengan kondisi yang ada, disamping mengoptimalkan prosesnya sendiri.[75] Karena pada tahun 2004 sudah akan diterapkan kurikulum berbasis kompetensi, sehingga pada pelaksananya madrsah-madrsah sudah mempersiapkannya.

Kimia merupakan ilmu yang diperoleh dan dikembangkan berdasarkan pada eksperimen yang mencari jawaban atas pertanyaan apa, mengapa dan bagaimana gejala-gejala alam, khususnya yang berkaitan dengan komposisi, struktur, sifat, transformasi, dinamika dan energetika zat. Ini berarti ilmu kimia merupakan produk dan proses.[76]

Pelajaran kimia difokuskan pada pemberian pengalaman langsung dengan memanfaatkan dan menerapkan konsep, prinsip dan fakta sains temuan para ilmuwan. Dalam konteks ini, siswa perlu dibantu untuk mengembangkan sejumlah keterampilan ilmiah untuk memahami perilaku/gejala alam. Keterampilan itu meliputi keterampilan mengamati dengan semua indera, menggunakan alat dan bahan, merencanakan eksperimen, mengajukan pertanyaan, merumuskan hipotesis, melakukan percobaan, menyimpulkan dan menyampaikan temuan.[77] Karena seorang saintis tidak boleh menerima informasi sembarangan apalagi dari nara sumber yang mungkin fasik dan kurang teliti, maka saintis memerlukan ketelitian dalam meneliti dan menggali informasi, seperti disebutkan dalam firman Allah.

) . :6)

 

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa informasi, maka periksalah berita itu dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan sebenarnya yang dapat menyebabkan kamu menjadi menyesal atas perbuatanmu.(Al-Hujuraat:6).[78]

 

Firman di atas menerangkan bahwa suatu informasi itu harus selalu dicek, diuji dan dianalisis, agar didapat gambaran informasi yang utuh dan lengkap tentang realitas kebenarannya. Mengapa demikian, karena bisa saja informasi tersebut menyesatkan, yang bisa berakibat justru bukan menguntungkan tetapi malah sebaliknya merugikan dan menimbulkan kekacauan informasi. Seperti mata pelajaran kimia, yang sangat disadari bahwa sebagian besar konsep kimia bersifat abstrak yang memerlukan kecakapan penghitungan dengan teliti dalam proses perubahan yang terjadi dan memahami akibat langsung dan tidak langsung dari setiap proses kimia dalam kehidupan sehari-hari.[79]

Kurikulum berbasis kompetensi untuk program studi ilmu alam pada Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah menekankan pada pemahaman prinsip-prinsip alam serta mendorong siswa untuk bekerja dan bersikap ilmiah.

Adapun Fungsi dan tujuan mata pelajaran kimia sebagai berikut:

a.       Menanamkan keyakinan kepada kebesaran Tuhan YME berdasarkan keindahan yang terkandung dalam aturan alam ciptaan-Nya.

b.      Memupuk sikap ilmiah.

         Sikap jujur dan objektif terhadap data

         Sikap terbuka, yaitu bersedia menerima pendapat orang lain

         Ulet dan tidak cepat putus asa

         Kritis terhadap pernyataan ilmiah, yaitu tidak mudah percaya tanda ada dukungan hasil observasi empiris

         Dapat bekerja sama dengan orang lain

c.       Memperoleh pengalaman dalam penerapan metode ilmiah melalui percobaan atau eksperimen.

d.      Meningkatkan kesadaran terhadap aplikasi sains yang dapat bermanfaat dan merugikan bagi individu, masyarakat dan lingkungan, serta menyadari pentingnya mengelola dan melestarikan lingkungan demi kesejahteraan masyarakat.

e.       Memahami konsep-konsep kimia dan saling keterkaitannya dan penerapannya untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Pembentukan sikap yang positif terhadap kimia, yaitu merasa tertarik untuk mempelajari kimia lebih lanjut karena merasakan keindahan dalam keteraturan perilaku serta kemampuan kimia dalam menjelaskan berbagai peristiwa alam dan penerapannya dalam teknologi.[80]

Berdasarkan fungsi dan tujuan Madrasah Aliyah maka pelaksanan pembelajaran dimadrsah khususnya pelajaran kimia harus diarahkan pada penguasan materi dalam rangka persiapan kejenjang pergureuan tinggi dan sebagai bekal mengahadapi tantangan hidup dan harus diusahakan mengaitkan penguasaan materi kimia dengan unsur-unsur keagamaan dan kehidupan sehari-hari.

 

 

 

 

BAB III

KESIAPAN GURU-GURU KIMIA DALAM MENGHADAPI KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI

 

Bentuk Profesionalitas Guru Kimia

Jenis Ijazah yang Dimiliki

Berbagai upaya telah dilakukan untuk memberikan isi kepada program tenaga kependidikan melalui berbagai strata D1, D2, D3, S1, S2, dan seterusnya. Semua yang dihasilkan melalui berbagai strata mendapat predikat guru dengan wewenang penuh, bedanya hanya ada yang boleh mengajar di SMP dan ada yang boleh mengajar di SMA. Jelasnya, guru yang berbeda taraf pendidikannya tidak dibatasi pada wewenang dan tanggung jawab profesionalnya pada bidang yang dihadapinya.

Berdasarkan hasil angket yang diedarkan, rata-rata responden berijazah S-I bahkan ada satu guru yang berijazah S-2 dari jurusan kependidikan. Secara rasional guru-guru kimia MAN di Kotamadya Yogyakarta sudah memiliki kemampuan untuk disebut profesional seperti yang sudah dikemukakan pada bab II tentang persyaratan menjadi guru. Atas dasar persyaratan tersebut, jelaslah jabatan profesional harus ditempuh melalui jenjang pendidikan yang khusus mempersiapkan jabatan itu. Gambaran selengkapnya dapat dilihat dari tabel berikut:

 

 

 

TABEL 1

Data Responden Berdasarkan Ijazah yang Dimiliki

No.

Jenis ijazah

f

Prosentase

A. 4

S-I

S-2

10

1

90,9 %

9,1 %

 

Jumlah

11

100 %

 

Tabel tersebut menunjukkan 90,9 % guru kimia MAN di Kotamadya Yogyakarta berijazah S-I, dan 9,1 % berijazah S-2. Data tersebut menunjukkan guru-guru kimia MAN di Kotamadya Yogyakarta sudah bisa disebut ideal, karena menurut Paul Suparjo, idealnya guru SMU berijazah S-I ataupun S-2.

Pengalaman Mengajar

Pengalaman merupakan dasar bagi pengetahuan dan ketrampilan seorang guru baik yang berhubungan dengan penguasaan materi pelajaran maupun yang berhubungan dengan cara penyampaian sehingga kemampuan dalam mengajar guru bisa efektif apabila disertai dengan pengalaman-pengalaman yang diperolehnya. Dengan demikian, guru yang memiliki pengalaman mengajar lebih lama diharapkan lebih baik dalam mengajar. Untuk mengetahui hal tersebut, berikut ini data mengenai lama mengajar responden:

 

 

TABEL 2

Data Responden Mengenai Lama Mengajar

dan Asal Jurusan Kuliah

 

No.

Nama Responden

Lama Mengajar

Asal Jurusan Kuliah

A.5

Responden 1

Responden 2

Responden 3

Responden 4

Responden 5

Responden 6

Responden 7

Responden 8

Responden 9

 

Responden 10 Responden 11

 

18 th

12 th

13 th

19 th

18 th

5 th

17 th

10 th

9 th

 

7 th

1 th

Pendidikan kimia

Pendidikan kimia

Pendidikan kimia

Pendidikan kimia Pendidikan kimia Pendidikan kimia

Pendidikan kimia

Pendidikan kimia

Magister pendidikan kimia

Sarjana kimia

Pendidikan kimia


Berdasarkan tabel di atas diketahui pengalaman yang sudah di didapatkan oleh guru-guru kimia rata-rata lebih dari 10 tahun. Hal ini menunjukkan kesiapan dalam proses belajar mengajar sudah matang, pahit manis sudah dirasakan, pergantian-pergantian kurikulum pun sudah pernah mereka alami. Jadi, mereka diharapkan lebih bisa menyesuaikan diri dengan adanya pergantian kurikulum lama menuju kurikulum berbasis kompetensi.

Pengalaman yang diterima dari perguruan tinggi juga merupakan persiapan yang penting, apalagi dari jurusan kependidikan, yang dibekali PPL (Praktik Pengalaman Lapangan), sehingga dengan pengalaman yang diperoleh dapat dipraktekkan kepada anak didik. Walaupun hasil angket menunjukkan ada satu responden yang berasal dari non kependididikan, namun diharapkan bisa memberikan pengalaman kepada siswa secara maksimal. Dilihat dari pengalaman mengajar dan asal jurusan tempat belajar guru-guru kimia MAN di Kotamadya Yogyakarta, mereka sudah mempunyai bekal persiapan secara formal.

Kemampuan Guru Kimia dalam Mengajar

Mengajar merupakan pekerjaan dan tugas yang kompleks dan sulit, oleh karena itu tugas dan pekerjaan tersebut memerlukan persiapan dan perencanaan yang baik sehingga dapat mencapai hasil yang diharapkan. Pada pembahasan sebelumnya telah diuraikan bahwa profesionalitas berkaitan erat dengan keahlian dan kemampuan yang dalam KBK disebut dengan kompetensi. Berikut ini hasil pengamatan langsung tentang kompetensi yang diwujudkan sebagai kemampuan guru kimia dalam mengajar:

a.       Memberikan bimbingan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar kimia.

Berdasakan hasil pengamatan, diketahui bahwa guru-guru kimia sering memberikan bimbingan kepada siswa ketika mengalami kesulitan dalam belajar kimia. Ini dilakukan ketika guru kimia memberikan pretest, post test ataupun tugas di rumah dan siswa tidak bisa mengerjakan tugas tersebut di depan kelas, sehingga guru kimia dengan penuh tanggung jawab memberikan bimbingan kepada siswa yang mengalami kesulitan. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada dalam tabel berikut ini:

TABEL 3

Memberikan Bimbingan Kesulitan Belajar Kimia

No.

Alternatif Pilihan

f

Persentase

1

  1. Dilakukan
  2. Tidak Dilakukan

9

2

81,8 %

18,2 %

 

Jumlah

11

100 %

 

Tabel di atas menunjukkan 81,8 % guru kimia memberikan bimbingan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar kimia. Skala penilaian di atas termasuk kategori sangat baik artinya guru-guru kimia sudah mempunyai kesadaran tinggi untuk memberikan bimbingan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar kimia walaupun dalam pengamatan masih ada yang hanya sesekali memberikan bimbingan tetapi masih dalam kategori sangat baik. Karena menurut Das Salirawati ukuran persentase rata-rata skor kesiapan adalah sebagai berikut:

 

 

Persentase kesiapan

(kuantitatif)

Kriteria kesiapan

(kualitatif)

Arti kriteria

80 % - 100 %

Sangat tinggi

Sangat baik

66 % - 79 %

Tinggi

Baik

56 % - 65 %

Sedaang

Sedang

40 % - 55 %

Rendah

Rendah

0 % - 39 %

Sangat rendah

Sangat rendah

 

b.      Membiasakan diri menerapkan sifat sabar, demokratis dan menghargai pendapat siswa.

Berdasarkan pengamatan, terbukti bahwa guru-guru kimia selalu menanamkan sikap sabar, demokratis dan menghargai pendapat siswa. Guru terlihat tidak pernah marah, mampu mengkondisikan siswa, dan demokratis dalam hal menghargai pendapat siswa.Untuk menghargai pendapat siswa, guru memberi kepercayaan siswa untuk mengeluarkan pendapat, mengajukan pertanyaan atau menjawab pertanyaan tanpa menganggap salah suatu jawaban yang diberikannya.

c.       Melaksanakan tugas sebagai guru dengan penuh tanggung jawab dan pengabdian.

Berdasarkan pengamatan langsung, guru-guru kimia melaksanakan tugas dengan tanggung jawab dan pengabdian, ini terlihat dari perilaku guru-guru kimia yang tidak pernah telat dan tidak pernah absen dalam mengajar.

d.      Menguasai materi pelajaran kimia

Menjelaskan peranan ilmu kimia dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hasil pengamatan langsung, dapat diketahui bahwa responden menjelaskan peranan ilmu kimia dalam kehidupan sehari-hari walaupun tidak sepenuhnya tetapi dalam menjelaskan selalu mengaitkan bahan kimia dengan kehidapan sehari-hari. Misalnya menjelaskan tentang larutan elektrolit, guru tersebut mengaitkan dengan mencontohkan larutan elektrolit dalam kehidupan sehari-hari

Memberikan penjelasan ulang bagi siswa yang masih kurang paham

Berdasarkan pengamatan langsung, bahwa guru-guru kimia selalu memberikan penjelasan ulang bagi siswa yang kurang paham, dengan cara setiap mengakhiri pelajaran guru menanyakan kepada siswa siapa yang belum paham, sehingga guru secara tulus memberikan penjelasan ulang bagi yang kurang paham.

e.       Mengelola program pengajaran

1)      Merumuskan tujuan pembelajaran khusus di awal pembelajaran.

Dari hasil pengamatan diketahui bahwa banyak guru kimia yang membuat rencana pembelajaran. Dalam hal mengelola program pengajaran tampaknya para guru kimia selalu siap dalam pelaksanaan pembelajaran, terbukti berdasarkan pengamatan para guru merumuskan tujuan pengajaran di awal pembelajaran, hal ini bertujuan agar siswa mengetahui apa yang akan ia dapatkan sebagai hasil pembelajaran. Misalnya dalam pokok bahasan pengenalan kimia, siswa diberi tahu setelah selesai belajar diharapkan mengetahui atau dapat mengapresiasikan manfaat belajar kimia.

2)      Memberikan latihan soal/tugas setiap selesai satu pokok bahasan/bab

Latihan soal dilakukan untuk mengetahui pencapaian kemampuan yang sudah diberikan kepada siswa dan penguasaan siswa terhadap pelajaran apakah sesuai dengan kompetensi yang sudah ditentukan ataukah tidak sesuai. Latihan soal ini dilaksanakan secara kontinyu yaitu dengan pemberian latihan setiap selesai pembelajaran satu pokok bahasan. Dari hasil pengamatan guru-guru kimia memberikan latihan soal/tugas setiap selesai satu pokok bahasan dan memberi soal sebelum mulai masuk pelajaran (Pra-test).

f.       Mengelola kelas

Kemampuan mengelola kelas menggambarkan keterampilan guru dalam merancang, menata dan mengatur kurikulum, menjabarkannya ke dalam prosedur pengajaran dan sumber-sumber belajar, serta menata lingkungan belajar yang merangsang untuk tercapainya suasana pengajaran yang efektif dan efisien. Kemampuan tersebut adalah:

1)      Mengubah pengaturan tempat duduk dan setting ruangan sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Mengelola kelas berarti mewujudkan kondisi belajar yang baik sebagai sarana penunjang keberhasilan belajar, dengan melakukan pengaturan tempat duduk serta penempatan alat peraga dan fasilitas lainnya sehingga pengajaran berlangsung efektif dan efisien.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan diketahui bahwa tidak ada guru kimia yang merubah pengaturan tempat duduk dan setting ruangan kelas sesuai dengan tujuan pembelajaran. Memang ada guru yang melakukan metode diskusi dalam pembelajaran kimia, tetapi di luar kelas (taman), ini dilakukan dengan tujuan agar pembelajaran tidak monoton di dalam kelas, dan tidak merubah tempat duduk.

2)      Memberikan pertanyaan kepada siswa yang tidak memperhatikan pelajaran.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa semua guru kimia sering memberikan pertanyaan kepada siswa yang tidak memperhatikan pelajaran. Hal ini bertujuan agar siswa tersebut tidak mengganggu siswa lain, kemudian agar siswa berkonsentrasi lagi memperhatikan pelajaran.

3)      Menunjuk siswa untuk mengerjakan latihan soal di depan

Guru-guru kimia memberikan kepercayaan kepada siswa, dengan memberikan latihan dan menunjuk siswa untuk mengerjakan latihan soal di depan. Selama melakukan pengamatan semua guru memberikan soal kemudian menunjuk siswa untuk mengerjakan latihan soal didepan. Hal ini dilakukan untuk menilai kemajuan siswa dan mengetahui seberapa kemampuan siswa yang sudah diserap.

g.      Menggunakan media/sumber belajar

1)      Menggunakan laboratorium dalam proses pembelajaran

Tidak semua madrasah mempunyai laboratorium yang layak pakai, tetapi ada juga madrasah yang menggunakan laboratorium sebagai proses pembelajaran. Misalnya ada seorang guru yang menganjurkan setelah selesai pokok bahasan mengikuti praktikum, hal ini dilakukan dengan melakukan percobaan, dengan maksud agar materi yang sudah diperoleh di ingat, difahami, dilakukan, kompetensi yang diharapkan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

2)      Menugaskan siswa untuk mengerjakan soal-soal dalam LKS

Para guru sering menugaskan siswa untuk mengerjakan soal dalam LKS dengan tujuan agar dapat belajar di rumah, sehingga materi yang sudah disampaikan bisa diperdalam sendiri. Dari pengamatan yang dilakukan tampaknya semua guru kimia sering menugaskan siswa untuk mengerjakan soal-soal yang ada dalam LKS, hal ini dilakukan hampir tiap hari setelah selesai pembelajaran

h.      Menguasai interaksi pembelajaran

Seorang guru di samping harus menguasai bahan pembelajaran, juga harus menguasai interaksi pembelajaran untuk menjalin hubungan yang harmonis antara guru dan siswa, karena perhatian dan motivasi yang diberikan guru akan menambah rasa simpati siswa. Dari hasil pengamatan diketahui interaksi yang dilakukan guru dalam pembelajaran terwujud seperti tanya jawab atau dialog antara guru dengan siswa, bantuan guru terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar, tampilnya guru sebagai pemberi jalan ke luar manakala siswa menghadapi jalan buntu dalam tugas belajarnya, sering memberikan motivasi kepada siswa dengan pujian, bahkan tidak pernah memberikan hukuman. Ini membuktikan bahwa guru-guru kimia dapat menguasai interaksi pembelajaran. Karena dapat menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif dan menarik minat siswa.

i.        Interaksi dengan masyarakat

Guru yang baik adalah guru yang bisa berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungannya. Beradaptasi berarti dapat berkomunikasi dengan baik tidak hanya di madrasah tetapi di luar madrasah. Pengamatan yang dilakukan tidak sampai di luar sekolah, misalnya untuk mengetahui komunikasi guru dengan masyarakat ataupun wali murid, tetapi kalau berinteraksi dengan teman sekantor guru-guru kimia melakukannya dengan baik.

j.        Menghargai hak-hak orang lain.

Menghargai hak-hak orang lain dalam hal ini menghargai siswa, merupakan sifat yang harus dimiliki oleh seorang guru, dari hasil pengamatan guru-guru kimia menghargai hak-hak orang lain (siswa) misalnya dalam hal memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengajukan pertanyaan hingga tuntas, sehingga siswa akan merasa dihargai keberadaannya.

Guru harus peka terhadap apa yang sedang berlangsung disekolah maupun yang sedang berlangsung di sekitarnya. Ini dimaksudkan agar apa yang dilakukan disekolah tetap konsisten dengan kebutuhan dan tidak ketinggalan zaman. Guru harus memahami makna dan hakikat perubahan dan menyampaikan perkembangan IPTEK kepada siswa dengan menjelaskan kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hasil pengamatan, ada guru-guru yang mengaitkan perkembangan IPTEK dengan pembelajaran kimia tetapi ada yang sama sekali tidak menyentuh percakapan tentang IPTEK. Misalnya ketika guru menjelaskan bab pengenalan kimia tentang Phsikotropika, guru tersebut menjelaskan perkembangan obat-obatan yang kandungannya dapat menyebabkan kematian.

Kemampuan yang sudah dijelaskan dari hasil pengamatan diatas, nampaknya guru-guru kimia sudah memiliki kompetensi/kemampuan seperti yang diharapkan. Karena pelaksanaan KBK menuntut sikap mau berubah dan berkembang serta sikap terbuka terhadap yang baru. Perlu dipahami bahwa sesuatu yang baru belum tampak bermanfaat bila belum dicoba dalam jangka waktu cukup lama. Hanya dengan kemauan untuk berubah dan menerima sesuatu gagasan baru yang baik, guru bisa maju. Guru juga harus mempunyai sikap tidak takut gagal untuk mencoba.

Kemampuan yang sudah dimiliki guru di atas dipandang sebagai prasyarat keberhasilan pendidikan dan tenaga kependidikan tidak hanya kompetensi pribadi tetapi kompetensi profesional, kompetensi sosial dan komppetensi antisipatif ikut berperan dalam menunjang keberhasilan belajar mengajar dan keberhasilan dalam rangka implementasi kurikulum berbasis kompetensi sebab untuk kompetensi profesional dan kompetensi sosial guru-guru menjalankannya sesuai apa yang harus dilaksanakan dan sesuai apa yang tertuang dalam persyaratan seorang guru yang dikatakan profesional. Kemampuan-kemampuan yang sudah dimiliki guru-guru kimia tersebut merupakan modal untuk dapat mengimplementasikan kurikulum berbasis kompetensi.

C. Usaha-Usaha Guru Kimia untuk Menghadapi Kurikulum Berbasis Kompetensi

Usaha-usaha yang telah dilakukan oleh guru-guru kimia MAN di Kotamadya Yogyakarta khususnya dalam meningkatkan kemampuan guru kimia sebagai wujud persiapan dalam menghadapi KBK, berikut data usaha-usaha guru kimia yang diperoleh dari angket:

1.      Mengikuti seminar dan penataran tentang kurikulum berbasis kompetensi.

Berikut tabel mengenai keikutsertaan seminar dan penataran guru-guru kimia sebagai wujud kesiapan dalam menghadapi kurikulum berbasis kompetensi.

 

TABEL 4

Pernyataan Responden Mengikuti Seminar dan Penataran Berkaitan dengan Penerapan KBK

 

No.

Alternatif Jawaban

f

Persentase

B.2

  1. Pernah
  2. Belum pernah

10

1

90,9 %

9,1 %

 

Jumlah

11

100 %

Data di atas menunjukkan sebesar 90,9 % guru kimia menyatakan sudah pernah mengikuti seminar dan penataran. skala penilaian untuk kategori ini sangat baik, karena merasa memerlukan tambahan ilmu pengetahuan, ingin menemukan informasi terbaru dan dapat berdiskusi dan bertukar pengalaman tentang kurikulum berbasis kompetensi pada mata pelajaran kimia, sedangkan 9,1 % menyatakan belum pernah, tidak pernah mengetahui ada seminar ataupun penataran. dan untuk frekuensi responden yang mengikuti seminar ataupun pelatihan yang berkaitan kurikulum berbasis kompetensi adalah sebagai berikut:

TABEL 5
Frekuensi Responden Mengikuti Seminar dan Penataran Berkaitan dengan Penerapan KBK

No.

Jawaban

f

Persentase

B. 3

0

1-5

5-10

1

7

3

9,1 %

77,2 %

23,7 %

 

Jumlah

11

100 %

 

Berdasarkan hasil angket, frekuensi yang diperoleh sampai saat penelitian berlangsung terhadap guru-guru kimia dalam mengikuti seminar dan panataran berkaitaan dengan penerapan KBK rata-rata 1-5 kali. Hal ini menunjukkan kurangnya sosialisasi kurikulum terbaru ini dari pemerintah ke madrasah-madrasah.

Berdasarkan hasil di atas penulis dapat menyimpulkan, bahwa sebagian besar guru-guru kimia MAN di Kotamadya Yogyakarta sudah mempunyai usaha untuk mencari pengetahuan tentang KBK melalui pelatihan-pelatihan, karena dengan mengikuti pelatihan diharapkan dapat mengaplikasikan ilmunya kedalam pembelajaran, walaupun belum 100 % sepenuhnya menerapkan tetapi sudah mempunyai usaha untuk mengimplementasikannya.

Setelah mengikuti seminar dan penataran, mereka mempunyai tanggapan tentang diberlakukannya kurikulum berbasis kompetensi. Untuk mengetahui hal tersebut, berikut ini tanggapan guru-guru kimia MAN di Kotamadya Yogyakarta tentang pemberlakuan KBK:

TABEL 6

Pernyataan Mengenai Tanggapan Diberlakukannya Kurikulum Berbasis Kompetensi

 

No.

Alternatif Jawaban

f

Persentase

B. 4

  1. Setuju
  2. Tidak Setuju
  3. Kurang Setuju
  4. Tidak Tahu

8

1

2

0

72,7 %

9,1 %

18,2 %

0 %

 

Jumlah

11

100 %

 

Berdasarkan tabel di atas, 72,7 % guru kimia menyetujui diberlakukannya kurikulum berbasis kompetensi dengan alasan akan berusaha mencoba, 9,1 % menyatakan tidak setuju karena belum tahu penerapannya dan belum siap untuk mengimplementasikan KBK, dan 18,2 % menyatakan kurang setuju dengan alasan kondisi sekolah, siswa, sarana dan prasarana tidak memungkinkan untuk diterapkan KBK.

Menggunakan buku acuan berdasar kurikulum berbasis kompetensi

Pelajaran kimia merupakan pelajaran yang unik banyak sekali konsep yang dibangun secara bertahap, satu konsep mendasari konsep berikutnya, konsep berikutnya lagi dapat dimengerti kalau dua konsep sebelumnya sudah dikuasai dan dimengerti dengan baik dan seterusnya. Misalnya jika ingin mengetahui hukum thermodinamika II, harus mengetahui dulu hukum termodinamika I bahkan thermodinamika 0. Dengan keadaan seperti ini, membaca buku menjadi pilihan yang sangat penting. Tetapi perubahan kurikulum lama menjadi kurikulum berbasis kompetensi mengharapkan guru kimia bisa memadukan kurikulum-kurikulum sedikit demi sedikit ke dalam pembelajaran. Sehingga guru harus mempunyai buku kurikulum lama dan kurikulum berbasis kompetensi, karena keduanya diperlukan untuk memadukan. Untuk mengetahui buku yang sudah digunakan guru-guru kimia, apakah sudah mengacu pada KBK atau masih menggunakan buku yang lama tanpa pendekatan KBK, berikut ini penulis sajikan tabelnya:

TABEL 7

Pernyataan Responden tentang Buku Acuan Berdasar KBK

No.

Alternatif Jawaban

f

Persentase

B. 9

a.       Sudah

b.      Belum

6

5

54,5 %

45,5 %

 

Jumlah

11

100 %

 

Berdasarkan tabel di atas, 54,5 % guru kimia menyatakan sudah memadukan buku acuan lama dengan buku KBK, dan 45,5 % menyatakan belum mempunyai buku acuan kimia berdasar KBK, alasannya karena belum beredar dan pemerintah belum mensosialisasikan buku-buku di sekolah-sekolah.

Berdasarkan pengamatan dan hasil angket yang terkumpul. Guru-guru kimia yang sudah menggunakan buku-buku pendukung KBK misalnya buku terbitan dari Depdiknas Th. 2001, 2002, 2003 dan buku dari penerbit.

Menggunakan alat-alat peraga dalam menjelaskan pelajaran

Alat peraga sangat penting digunakan dalam proses pengajaran untuk meningkatkan daya ingat para siswa karena mudah dipahami Misalnya dalam kimia: elemeyer untuk titrasi, labu takar untuk pengenceran, termometer untuk mengukur suhu, gelas kimia, pipet tetes dan sebagainya. Untuk mengetahui penggunaan alat-alat tersebut dicantumkan pada tabel berikut ini:

TABEL 8

Pernyataan Responden tentang Penggunaan Alat Peraga

No.

Alternatif Jawaban

f

Persentase

B. 13

a.       Ya

b.      Tidak

8

3

72,7 %

23,7 %

 

Jumlah

11

100 %

 

Berdasarkan data di atas, 72,7 % guru kimia menyatakan menggunakan alat peraga dalam menyampaikan materi, karena alatnya sudah tersedia dan lebih mudah menjelaskan dengan alat peraga, selain itu siswa juga lebih bergairah mengikuti pelajaran skala untuk penilaian ini adalah baik artinya sudah ada persiapan walaupun masih banyak kekurangannya. Dan sebesar 27,3 % menyatakan tidak menggunakan alat peraga dalam menyampaikan materi pelajaran, karena tidak tersedianya alat peraga kimia di sekolah.

Alat-alat peraga yang digunakan oleh guru-guru kimia dalam pembelajaran pada saat mengadakan penelitian/pengamatan yaitu dengan menggunakan gambar/peta susunan berkala unsur-unsur, ada yang hanya menggunakan dengan menggambarkan alat-alat di papan tulis karena tidak tersedia alat-alat di sekolah kemudian siswa diberi tugas untuk mencari tahu nama-nama alat-alat tersebut dibuku-buku.

Pertemuan rutin dengan teman sejawat

Pertemuan rutin dengan teman sejawat bisa dijadikan jalan untuk mendiskusikan permasalahan yang dialami siswa, kurikulum ataupun permasalahan guru-guru itu sendiri. Pertemuan ini bisa dimanfaatkan untuk bertukar pengalaman dan informasi terbaru tentang kurikulum berbasis kompetensi. Untuk mengetahui gambaran pertemuan rutin antar guru-guru kimia, penulis mengajukan angket dengan pertanyaan sebagai berikut: Apakah Bapak/Ibu guru bekerja sama dengan pihak atau guru dari instansi lain kaitannya dengan pengembangan kompetensi sehubungan dengan pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi? Berikut tabel jawabannya:

TABEL 9

Pernyataan Guru tentang Pertemuan Rutin dengan Teman Sejawat

No.

Alternatif Jawaban

f

Persentase

B. 12

a.       Ya

b.      Tidak Pernah

11

0

100 %

0 %

 

Jumlah

11

100 %

 

Data di atas menunjukkan bahwa 100 % guru-guru kimia di Kotamadya Yogyakarta sering mengadakan pertemuan rutin dengan teman satu kantor, ataupun dari instansi lain yang satu bidang studi, alasannya untuk meningkatkan penguasaan pembelajaran, di samping menggali informasi pembelajaran tentang KBK. Untuk mengetahui frekuensi yang dilakukan guru-guru kimia dalam melakukan pertemuan rutin dengan teman sejawat dalam setiap bulan sebagai berikut:

TABEL 10

Frekuensi Responden mengenai Pertemuan Rutin dengan Teman Sejawat

No.

Alternatif Jawaban

f

Persentase

B. 12

a.       1-2 kali

b.      3-4 kali

c.       5-6 kali

5

4

2

45,6 %

36, 4 %

18,2 %

 

Jumlah

11

100 %

 

Berdasarkan hasil angket rata-rata frekuensi guru-guru kimia mengadakan pertemuan rutin dengan teman sejawat setiap bulan dalam penilaian dalam kategori masih rendah, karena guru-guru mengadakan pertemuan hanya ketika ada permasalahan dalam proses belajar mengajar.

5. Menggunakan metode bervariasi

Kimia bukan hanya hitung menghitung, walaupun kemampuan itu merupakan komponen penting dalam kimia. Kimia juga berisi beberapa fakta yang harus diingat, kosakata khusus yang harus dipelajari, dan hukum-hukum yang mengaitkan satu ide lain yang harus dimengerti. Mempelajari fakta tentu saja berbeda caranya dengan mempelajari teknik berhitung, lain lagi dengan mempelajari hukum-hukum kimia. Atas dasar ini, metode yang digunakan harus bervariasi dan tidak hanya satu metode saja atau monoton. Untuk mengetahui hal tersebut berikut disajikan data mengenai penggunaan metode yang digunakan guru dalam mengajar.

TABEL 11

Pernyataan Guru Mengenai Penggunaan Variasi Metode

No.

Alternatif Jawaban

f

Persentase

B. 10

a.       Ya

b.      Tidak

11

0

100 %

0

 

Jumlah

11

100 %


100 % guru kimia menyatakan menggunakan metode bervariasi dengan alasan agar siswa tidak cepat jenuh dan mata pelajaran kimia secara tidak langsung menuntut menggunakan metode bervariasi tidak hanya ceramah dan tanya jawab tetapi eksperimen, demonstrasi dan karyawisata.

Berdasarkan pengamatan selama penelitian, guru-guru kimia sudah menggunakan metode yang bervariasi, misalnya pada pokok bahasan pengenalan kimia menggunakan metode diskusi informasi, struktur atom dan sistem periodik menggunakan game, demonstrasi dan diskusi.

  1. Membuat persiapan mengajar

Seorang guru hendaknya selalu menyiapkan segala sesuatu yang dituntut dalam profesinya, termasuk membuat rencana pelajaran. Dalam KBK, guru diharapkan bisa membuat silabus. Membuat rencana pelajaran dan satuan pelajaran adalah awal untuk bisa membuat silabus. Selain itu dengan membuat persiapan mengajar, proses kegiatan belajar mengajar akan terencana dan mempunyai acuan sehingga berlangsung sesuai panduan. Berikut ini pernyataan responden mengenai persiapan mengajar:

TABEL 12

Pernyataan Responden Membuat Persiapan Mengajar

No.

Alternatif Jawaban

f

Persentase

B. 15

a.       Ya

b.      Tidak

4

7

36,4 %

63,6 %

 

Jumlah

11

100 %

Berdasarkan hasil data di atas, 36,4 % guru kimia menyatakan selalu membuat persiapan mengajar, sementara sebesar 63,6 % menyatakan tidak pernah membuat persiapan mengajar dengan alasan banyak yang mempunyai pekerjaan lain selain mengajar kimia. Hal ini sangat disayangkan mengingat persiapan mengajar itu sangat penting sebagai panduan mengajar dari awal sampai akhir untuk bisa dikatakan efektif dan efisien.

Berdasarkan pengamatan, persiapan yang dilakukan guru sebelum mengajar adalah membuat satuan pelajaran, rencana pelajaran dan ada yang sudah merancang media yang akan di gunakan nantinya.

  1. Menggunakan penilaian berbasis kelas

Penilaian ini dilakukan secara terus menerus dan berkala, terus menerus yaitu selama proses belajar mengajar berlangsung, berkala yaitu setelah siswa mempelajari satu kompetensi, pada setiap akhir semester dan setiap jenjang satuan pendidikan. Jadi, penilaian tidak hanya pada mid dan ujian semester saja, tetapi dilakukan di sepanjang proses pembelajaran. Guru kimia yang sudah menggunakan penilaian berbasis kelas dapat diketahui melalui tabel berikut:

TABEL 13

Pernyataan Responden Mengenai Penggunaan PBK

No.

Alternatif Jawaban

f

Persentase

B. 17

a.       Sudah

b.      Belum

4

7

36,4 %

63,6 %

 

Jumlah

11

100 %

Data di atas menunjukkan 36,4 % guru kimia menyatakan sudah menggunakan PBK karena memudahkan guru dalam penilaian, sedangkan 63,6 % belum menggunakan PBK karena alasannya sekolah belum menggunakan kurikulum berbasis kompetensi, jadi penilaian masih berdasar pada penilaian lama yaitu mid dan ujian.

 

Hambatan-Hambatan dalam Pelaksanaan KBK dan Langkah-langkah mengatasinya

Hambatan-hambatan dalam Pelaksanaan KBK

 

Sebagaimana hambatan yang terjadi pada implementasi kurikulum tahun 1968 sampai 1994, kurikulum tahun 2002 yang diberi predikat kurikulum berbasis kompetensi (KBK) ini juga menghadapi persoalan dan hambatan yang lebih kurang sama pada tahap awal bahkan lebih kompleks. Hambatan besarnya adalah seorang guru sudah merasa puas dengan cara lama. Maka sering dikatakan, guru itu biasanya konservatif (kolot tertutup dan ketinggalan zaman). Pelaksanaan KBK menuntut sikap mau berubah dan berkembang serta sikap terbuka terhadap yang baru. Perlu dipahami bahwa sesuatu yang baru belum tampak bermanfaat bila belum dicoba dalam jangka waktu cukup lama. Hanya dengan kemauan untuk berubah dan menerima sesuatu gagasan baru yang baik, guru bisa maju, guru juga harus mempunyai sikap tidak takut gagal untuk mencoba.

Kegiatan belajar mengajar pada dasarnya selalu mengalami kendala, apalagi untuk menerapkan KBK yang belum ada contoh jadinya. Dalam hal ini, penulis mengemukakan beberapa hambatan dari hasil angket yang didukung data observasi yang dapat dirumuskan sebagai berikut:

a.       Kekurangsiapan para guru kimia untuk menghadapi tuntutan KBK karena kurangnya pemahaman guru. Hal ini bisa dilihat pada kesiapan guru-guru kimia yang belum maksimal di atas.

b.      Kekurangsiapan peserta didik untuk belajar secara mandiri. Mereka masih menganggap bahwa guru adalah satu-satunya informasi yang paling benar.

c.       Masih belum lengkapnya sarana dan prasarana belajar di sekolah-sekolah misalnya laboratorium, peralatan praktikum, ruang khusus untuk diskusi dan berbagai alat pendidikan lainnya seperti overhead projector, video, televisi, alat-alat audio visual dan lain-lain.

d.      Masih belum banyak buku tentang kurikulum berbasis kompetensi mata pelajaran kimia yang beredar, sehingga membaca dan mempelajari berbagai buku pendidikan lainnya sebagai salah satu usaha untuk memperkaya pengetahuan dan meningkatkan kemampuan menjadi terhambat. Buku yang belum banyak beredar juga menjadi penghambat dalam pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi, karena buku adalah alat komunikasi yang mendorong daya baca dan daya pikir. Apabila buku pendukung masih relatif sedikit bagaimana bisa maksimal mengembangkan kompetensi diri dan menentukan metode yang tepat agar kompetensi siswa tercapai

e.       Kesulitan mengaplikasikan antara teori dan praktik lapangan, kalaupun bisa masih bersifat perkiraan

f.       Terbatasnya dana, bagaimanapun perubahan/inovasi kurikulum tidak akan berjalan dengan baik tanpa dukungan dana yang memadai

g.      Laboratorium sudah tidak layak pakai. Pada KBK, untuk mata pelajaran kimia diharapkan minimal seminggu 2x melaksanakan praktikum, hal ini membutuhkan laboratorium. Apabila laboratorium kurang representatif, bagaimana pelaksanaan KBK bisa terwujud

h.      Sulitnya membuat silabus sendiri.

2.      Langkah-langkah mengatasi hambatan

Kurikulum sering dipandang sebagai penyebab kegagalan atau rendahnya mutu pendidikan setelah faktor pendidik, padahal mestinya masalah pendidikan kita tidak bersifat parsial yang mencakup satu atau dua persoalan, tetapi bersifat sistematik yang terkait dengan banyak hal. Oleh karena itu, upaya untuk memecahkan persoalan-persoalan pendidikan mestinya tidak saja bertumpu pada satu objek saja tetapi mencakup seluruh komponen yang ada di dalamnya.

Implementasi kurikulum berbasis kompetensi menempatkan kita pada harapan besar ke depan untuk memacu meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia meskipun banyak hambatan yang dihadapi, namun kita tidak boleh lemah dan menyerah. Langkah-langkah untuk solusi tersebut antara lain:

a.       Guru sebagai ujung tombak keberhasilan pendidikan harus mau, siap dan mampu melaksanakan kurikulum berbasis kompetensi dengan sungguh-sungguh agar KBK bisa mencapai sasaran yang diharapkan.

b.      Untuk menghadapi materi yang padat, ada dua kiat yang perlu dilakukan yaitu: Pertama, persiapan mengajar diperbanyak, paling tidak tiga hari sebelum pelajaran dimulai. Kedua metode mengajar yang variatif sehingga tidak membosankan seperti: peninjauan lapangan dengan membuat laporan dan mengadakan pengamatan di laboratorium.

c.       Mempunyai mental sikap mau berubah. KBK adalah sesuatu yang baru, yang belum pernah dilakukan sehingga tidak ada contoh jadinya. Ada perubahan paradigma dalam KBK dengan kurikulum sebelumnya. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, perubahan ini tidaklah mudah. Usaha awal guru untuk mengimplementasikan KBK dapat berjalan tidak lancar, kadang bingung di tengah jalan dan muncul godaan untuk kembali pada kurikulum lama yang sudah biasa. Maka keinginan untuk terus mencoba, pantang menyerah bila gagal pada awal perlu dipupuk.

d.      Perlunya membaca buku-buku pendukung.

e.       Mengikuti perkembangan informasi terbaru. Ilmu selalu berkembang, penemuan baru terus ada. Pada saat ini, guru bukanlah satu-satunya sumber informasi pengetahuan. Banyak sumber lain yang dapat digunakan oleh siswa seperti internet, CD ROOM, TV, buku-buku dan para ahli yang mereka jumpai di luar sekolah, maka supaya guru tidak ketinggalan informasi, mereka harus memanfaatkan media-media informasi yang ada.

 

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Seluruh uraian yang sudah dipaparkan dalam skripsi ini, penulis dapat memberikan beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1.      Bentuk profesionalitas guru kimia dalam menghadapi KBK diwujudkan dalam Pre-Service Education meliputi: jenis ijazah yang dimiliki guru kimia MAN di Kotamadya Yogyakarta yaitu sebesar 90,9 % berijazah S-I dan 9,1 % berijazah S-2, dan lama mengajar guru yang rata-rata diatas 10 tahun dengan ijazah dari kependidikan kimia.

2.      Kesiapan guru-guru kimia sangat menentukan berlangsungnya kegiatan belajar mengajar, sebab tanpa adanya kesiapan, pembelajaran tidak akan berjalan seperti yang direncanakan. Kesiapan guru-guru kimia dalam menghadapi kurikulum berbasis kompetensi antara lain:

1.      Mengikuti seminar, penataran ataupun loka karya

2.      Membuat persiapan mengajar

3.      Menggunakan alat peraga dalam pembelajaran

4.      Menggunakan metode bervariasi

5.      Mengadakan pertemuan rutin dengan teman sejawat.

6.      Menggunakan penilaian berbasis kelas

3. Pembaharuan pendidikan banyak tidak terwujud karena guru tidak berani memulai berinisiatif, mereka masih menantikan petunjuk dari atas. Sehingga muncul hambatan dalam pelaksanaannya, hambatan yang terjadi Untuk meningkatkan kemampuan dalam mengajar dan mengaktifkan siswa diperlukan berbagai kompetensi yang harus dimiliki guru, kompetensi tersebut adalah kompetensi pribadi, kompetensi profesional dan kompetensi sosial, hal ini mengingat begitu pentingnya peran dan tugas guru sebagai seorang yang langsung menjabarkan konsep kurikulum kepada kompetensi yang harus dicapai siswa, sehingga dibutuhkan upaya pengembangan guru yakni dengan pendidikan Pre-Service Education yang menekankan pada kemampuan dasar sebelum menjadi guru yang berkualitas sesuai dengan jenjang pendidikan dan pengalaman mengajar.

4. Pembaharuan pendidikan banyak tidak terwujud karena guru tidak berani memulai berinisiatif, mereka masih menantikan petunjuk dari atas. Sehingga muncul hambatan dalam pelaksanaannya, hambatan yang terjadi pada guru-guru kimia MAN di kotamadya Yogyakarta dalam pelaksanan KBK adalah:

a. Kekurangsiapan dari berbagai komponen yang belum maksimal

b. Sarana dan prasarana kurang memadai

c. Kurangnya buku-buku pendukung

d. Terbatasnya dana

e. Laboratorium yang kurang representatif

f. Membuat silabus.

B. Saran-saran

1. Pihak Guru

 

a.       Hendaknya para guru kimia terus mengembangkan pembelajarannya dengan pendekatan kurikulum berbasis kompetensi, sebab kimia sangat cocok dengan pendekatam kurikulum berbasis kompetensi yang dalam pembelajarannya berkaitan dengan pengamatan.

b.      Hendaknya pihak guru meningkatkan komunikasi dengan berbagai pihak untuk mendapatkan tambahan informasi tentang pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi pada mata pelajaran kimia.

2. Pihak sekolah

a.       Hendaknya pihak sekolah memperhatikan kelengkapan laboratorium kimia, baik berupa alat-alat praktikum, bahan/zat kimia, dalam upaya menunjang kegiatan pembelajaran kimia.

b.      Hendaknya pihak sekolah memberikan hadiah pujian (reward) yang pantas untuk guru-guru kimia yang rajin dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran.

3.      Pihak Depdiknas

a.       Dinas Pendidikan hendaknya lebih sering memberikan penatara atau workshop tentang KBK agar guru-guru kimia dapat mengimplementasikan kurikulum berbasis kompetensi dengan hasil sesuai yang diharapkan.

b.      Dinas pendidikan hendaknya lebih memperhatikan kebutuhan dan kelengkapan sekolah, khususnya sarana penunjang pembelajaran sehingga akan mempercepat upaya memajukan dunia pendidikan yang ada.

C. KATA PENUTUP

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, yang telah memberikan taufiq, hidayah dan inayah-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan tugas skripsi ini. Tidak ada yang sempurna di dunia ini, demikian juga dengan penulisan skripsi ini, penulis sadar masih banyak kekurangannya, untuk itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik dari pembaca. Terakhir, penulis hanya bisa mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu bagi kesempurnaan skripsi ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TABEL XII

Membiasakan Mengubah Pola Pembelajaran Lama Menjadi Pola Pembelajaran Baru

No.

Alternatif Pilihan

F

Prosentase

3

  1. Dilakukan
  2. Tidak Dilakuakan

8

3

72,7 %

27,3 %

 

Jumlah

11

100 %

 

Tabel di atas menunjukkan 72,7 % guru kimia sering membiasakan mengubah pola pembelajaran lama menjadi pola pembelajaran baru karena mengingat dalam rangka implementasi KBK guru diharapkan bisa memberikan kompetensi kepada siswa. sehingga guru kimia terkadang mencoba menerapkan pola pembelajaran baru dengan menerapkan tidak hanya satu metode tetapi penggabungan beberapa metode yaitu metode tanya jawab dan demonstrasi. Sementara yang tidak pernah mau mencoba mengubah pola pembelajaran lama menjadi baru ada 27,3 % dengan hanya menerapkan satu metode yaitu metode ceramah.

k.      Menggunakan bahasa tubuh untuk menguatkan keterangan

Tujuan pemberian penguatan tidak lain adalah untuk meningkatkan pemahaman siswa serta menarik perhatian siswa dalam proses pembelajaran. Dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwa semua guru kimia memberikan penguatan dengan menggunakan isyarat bahasa tubuh dalam mengajar. Misalnya dalam penyampaian materiSkala penilaian dalam hal ini termasuk kategori baik yakni guru-guru kimia dapat memberi dan menarik perhatian walaupun penjelasannya dengan menggunakan bahasa tubuh.

untuk lebih jelasnya disajikan dalam tabel berikut:

TABEL XIV

Penggunaan Laboratorium untuk Pembelajaran

No.

Alternatif Pilihan

f

Prosentase

17

Dilakukan

Tidak Dilakukan

4

7

36,4 %

63,6 %

 

Jumlah

11

100 %

 

Berdasarkan tabel di atas dan berdasarkan pengamatan, diketahui 36,4 % guru kimia menggunakan laboratorium dalam proses pembelajaran, dan sebesar 63,6 % tidak pernah menggunakan laboratorium. Skala penilaian ini term

 

 

Menguasai landasan pendidikan diperlukan buku-buku sebagai rujukan materi pelajaran karena untuk penguasaan pengetahuan, buku bacaan sangat diperlukan untuk membuka jalan bagi bertambahnya khazanah pengetahuan yang lebih luas dan mendalam. Berdasarkan pengamatan, guru-guru kimia menggunakan buku-buku sebagai rujukan dalam pembelajaran, tidak hanya buku-buku pelajaran kimia tetapi buku-buku lain yang berhubungan dengan kimia. Misalnya membaca majalah-majalah

 

BAB IV

PENUTUP

Kesimpulan

Dari keseluruhan uraian yang terdapat dalam skripsi ini, penulis dapat memberikan beberapa kesimpulan sebagai berikut:

Kurikulum berbasis kompetensi sebagai sebuah kurikulum baru yang ditawarkan merupakan solusi yang dapat ditempuh untuk meningkatkan mutu pendidikan khususnya mata pelajaran kimia yang mempunyai banyak kegiatan seperti pengamatan, pengujian/penelitian sehingga sangat tepat kurikulum berbasis kompetensi diterapkan pada mata pelajaran kimia.

Usaha-usaha kesiapan guru-guru kimia sangat menentukan berlangsungnya kegiatan belajar mengajar, sebab tanpa adanya kesiapan, pembelajaran tidak akan berjalan seperti yang direncanakan. Kesiapan guru-guru kimia dalam menghadapi kurikulum berbasis kompetensi antara lain:

Mengikuti seminar, penataran ataupun loka karya

Menggunakan metode bervariasi

Membuat persiapan mengajar

Menggunakan alat peraga dalam pembelajaran

Menggunakan penilaian berbasis kelas

Mengadakan pertemuan rutin dengan teman sejawat.

3. Untuk meningkatkan kemampuan dalam mengajar dan untuk mengaktifkan siswa diperlukan berbagai kompetensi yang harus dimiliki guru, kompetensi tersebut adalah kompetensi pribadi, kompetensi profesional dan kompetensi sosial, hal ini mengingat begitu pentingnya peran dan tugas guru sebagai seorang yang langsung menjabarkan konsep kurikulum kepada kompetensi yang harus dicapai siswa.

Saran-saran

Pihak Guru

 

c.       Hendaknya para guru kimia terus mengembangkan pembelajarannya dengan pendekatan kurikulum berbasis kompetensi, sebab kimia sangat cocok dengan pendekatam kurikulum berbasis kompetensi yang dalam pembelajarannya berkaitan dengan pengamatan.

d.      Hendaknya pihak guru meningkatkan komunikasi dengan berbagai pihak untuk mendapatkan tambahan informasi tentang pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi pada mata pelajaran kimia.

2. Pihak sekolah

c.       Hendaknya pihak sekolah memperhatikan kelengkapan laboratorium kimia, baik berupa alat-alat praktikum, bahan/zat kimia, dalam upaya menunjang kegiatan pembelajaran kimia.

d.      Hendaknya pihak sekolah memberikan hadiah pujian (reward) yang pantas untuk guru-guru kimia yang rajin dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran.

3.      Pihak Depdiknas

a.       Dinas Pendidikan hendaknya lebih sering memberikan penatara atau workshop tentang KBK agar guru-guru kimia dapat mengimplementasikan kurikulum berbasis kompetensi dengan hasil sesuai yang diharapkan.

b.      Dinas pendidikan hendaknya lebih memperhatikan kebutuhan dan kelengkapan sekolah, khususnya sarana penunjang pembelajaran sehingga akan mempercepat upaya memajukan dunia pendidikan yang ada.

PENUTUP

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, yang telah memberikan taufiq, hidayah dan inayah-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan tugas skripsi ini. Tidak ada yang sempurna di dunia ini, demikian juga dengan penulisan skripsi ini, penulis sadar masih banyak kekurangannya, untuk itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik dari pembaca. Terakhir, penulis hanya bisa mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu bagi kesempurnaan skripsi ini.

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Al-Abrasyi. M. Athiyah, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, terje.Bustami A. Gani dan Djohar Bahary, Jakarta: Bulan Bintang, 1993

 

Ali. Muhammad, Guru dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2000.

 

Alim. Sahirul, Menguak Keterpaduan Sains, Tehnologi dan Islam, Yogyakarta: Titiaan Ilahi, 1999.

 

Arifin. Mulyati, Pengembangan Pengajaran Bidang Studi Kimia, Surabaya: Airlangga University Press, 1994.tidak dipublikasikan.

 

Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek, Edisi Revisi II, Jakarta: Rineka Cipta, 1989.

 

A. Sahertian. Piet, Profil Pendidik Profesional, Yogyakarta: Andi Offset, 1994.

 

Baker. L. Eva, dan Pophan, W. James, Teknik Mengajar secara Sistematis, Jakarta: Rineka Cipta, 1992.

 

Basri. Marjono & Trihayati.Tugini, Pendidikan Berorientasi Kecakapan Hidup (Life Skill) dalam Workshop Sekolah Target, tanggal 18-25 Maret, Yogyakarta: BPG, 2002.

 

Bashori. Muhammad, KBK dan Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Indonesia, dalam Seminar Regional Kependidikan 19 Mei, Yogyakarta: FKIP UST, 2003.

 

Buchori. Muchtar, Pendidikan dalam Pengembangan, Yogyakarta: Tiara wacana, 1994.

 

Budiyanto & Trihayati.Tugini, Kurikulum Berbasis Kompetensi, dalam Workshop Sekolah Target tanggal 18-25 Maret 2002, Yogyakarta: BPG, 2002.

 

Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1998.

 

Depdiknas, KBK Mata Pelajaran Kimia untuk SMU dan MA, Jaakarta: Dokkur-1 MAN Yogyakarta III, 2003.

 

Djahar, Rektor UST, KBK Memerlukan Peningkatan Profesionalisme Guru dan Meningkatkan Mutu Pendidikan, dalam Seminar Regional Kependidikan 19 Mei, Yogyakarta: FKIP UST, 2003.

 

Edison, F. Thomas, Kurikulum Berbasis Kompetensi harapan dan Tantangan, dalam Ikhlas Beramal Nomor 22 Th.V Mei 2002.

 

Hadi. Amirul, dan Haryanto, Metodologi Penelitian Pendidikan untuk IAIN dan PTAIS semua fakultas dan jurusan komponen MKK, (Bandung: pustaka Setia, 1998).

.

Hamalik. Oemar, Proses Belajar Mengajar, Jakarta: Bumi Aksara, 2001.

 

Hamalik. Oemar, Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi, Jakarta: Bumi Aksara, 2002.

 

Hernowo, Yuli. Peningkatan Kemampuan profesional Guru, dalam Majalah Gerbang Edisi 5 Th.III November 2003

 

Ismunandar, Dosen Kimia FMIPA ITB, Kiat Sukses Belajar Kimia, Dalam Kompas, 21 September 2001.

 

Kuntarno, Guru Antara Idealita dan Realita, Dalam Majalah Gerbang Edisi Th. III November 2003.

 

Mudjiono, Dimyati, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Rineka Cipta, 2002

.

Mulyasa.E, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep, Karakteristik dan Implementasi, Bandung: Rosda Karya, 2002.

 

Muhdi. Nazar, Kompetensi dalam Majalah Ikhlas beramal, Nomor 22 Th.V Mei 2002.

 

N.K. Roestiyah, Masalah-masalah Ilmu Keguruan, Jakarta: Bina Aksara, 1989.

 

Nurdin, Syafruddin dan Basyiruddin Usman, Guru Profesional dan Implementasi kurikulum, Jakarta: Ciputat Pers, 2002.

 

Purba. Michael, Kimia SMU Kelas I Semester I, Pendekatan KBK, Jakarta: Erlangga, 2002.

 

Purwanto. M. Ngalim, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktek, Bandung: Rosda Karya, 2000.

 

Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas, Kurikulum Hasil Belajar, Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Sains Terpadu Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah, Jakarta: Depdiknas, 2002.

Pusat Pembinaan & Pengembangan Bahasa Depdikbud RI, Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah, Bandung: Pustaka Setia, 1996.

 

Salirawati. Das, Kajian Kurikulum SMU, diktat kuliah tidak dipublikasikan, Yogyakarta: FMIPA UNY, 2002.

 

_______, Selayang Pandang Tentang penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi, Antara Harapan dan Kenyataan, Yogyakarta: FMIPA UNY, 2002.

 

_______, Tingkat Kesiapan Guru-guru IPA di SLTP Terhadap Pemberlakuan KBK Kimia Yang Terintegrasi Dalam sains, Yogyakarta: FMIPA UNY, 2002.

 

Samana. A, Profesionalisme Keguruan, Yogyakarta: Kanisius 1994.

 

Soedijarto, Menuju Pendidikan Nasional yang relevan dan bermutu, Jakarta: balai Pustaka, 1993.

 

Soetjipto dan Raflis Kosasi, Profesi Keguruan, Jakarta: Rineka Cipta, 1999.

 

Sudijono. Anas, Pengantar Statistik Pendidikan, Jakarta: Rajawali Press, 1996.

 

Sudjana, Nana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1998.

 

Suparno. Paul, Sikap Guru dalam Menghadapi Kurikulum Berbasis Kompetensi, dalam Majalah BASIS, No. 11-12, November-Desember, th ke 51, 2002 .

 

________, Guru Harus Mengubah Paradigma mengajar, dalam Majalah Gerbang Edisi 5 Th.III November 2003

 

Suparno. Paul, Rahandi.R, dkk., Reformasi Pendidikan Sebuah Rekomendasi, Yogyakarta: Kanisius, 2002.

 

Suwondo MS, Kualitas Guru di Indonesia Masih Rendah, dalam Majalah Gerbang Edisi 5 Th.III November 2003.

 

Syafii. A, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Dalam Seminar Nasional pada juli 2003.

 

Syah, Muhibbin, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung: Rosda Karya, 2001.

 

Syaodih Sukmadinata. Nana, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, Bandung: Rosda Karya, 2001.

 

Tafsir, Ahmad. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung: Rosda Karya, 1994.

 

Tugini Trihayati, KBK meningkatkan Profesionalisme Guru dan Mutu Pendidikan Nasional, dalam Seminar Regional Kependidikan 19 Mei, Yogyakarta: FKIP UST, 2003.

 

Usman. Moh Uzer, Menjadi Guru Profesional, edisi kedua, Bandung: Rosda Karya, 2002.

 

Usman. Moh Uzer dan Lilis Setiawati, Upya Optimalisasi kegiatan Belajar Mengajar, Bandung: Rosda Karya, 1993.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, (Bandung: Rosda Karya, 1997), hlm. 1.

 

[2] Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, cet.4, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1998), hlm. 12.

[3] Mulyasa. E, Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep, Karakteristik dan Implementasi, (Bandung: Rosda Karya, 2002), hlm. 147.

 

[4] Departemen Agama, Al-Quran dan Terjemahnya, (Surabaya: Jaya Sakti, 1997), hlm. 747.

 

[5] M. Athiyah Al-Abrasyi, Dasar-dasar Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1970), hlm. 37.

[6] Das Salirawati, Kajian Kurikulum Kimia SMU, (Yogyakarta: FMIPA UNY, 2001). diktat kuliah tidak dipublikasikan, hlm. 13.

 

[7] Ibid., hlm. 13.

 

[8] Sudiyanto dan Tugini Trihayati, Kurikulum Berbasis Kompetensi, dalam Workshop Sekolah Target, Tanggal 18-25 Maret 2002 di BPG Yogyakarta.

 

[9] Paul Suparjo dan R. Rahandi, dkk., Reformasi Pendidikan Sebuah Rekomendasi, (Yogyakarta: Kanisius, 2002), hlm. 70.

 

[10] Sudiyanto dan Tugini Trihayati, Op.Cit. hlm. 5.

 

[11] Mudjiran (juri Olimpiade April 2003), penjelasan dalam mata kuliah Kimia Analisis I, Senin 28 April 2003.

 

[12] Puskur Balitbang Depdiknas, Kurikulum dan Hasil Belajar (Kompetensi DasarMata Pelajaran Kimia SMU dan MA), (Jakarta: Depdiknas, 2002).

 

[13] MAN III Cetak Lulusan Ultra Prima dalam Kedaulatan Rakyat, Selasa 20 Mei 2003, hlm. 10.

[14] Dede Mustadjab, Profesionalisme Guru Pendidikan Islam dalam Implementasi KBK, (Yogyakarta, Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, 2003), skripsi tidak dipublikasikan.

 

[15] Agustinus Mardiyono, Profil Guru Fisika SMP di Kodya Yogyakarta.(Yogyakarta: FKIP, 1996), Skripsi tidak dipublikasikan.

 

[16] Siti Chomsatun, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Fisika Fakultas MIPA IKIP Yogyakarta, Usaha Guru-guru SD Ditinjau dari Latar Belakang Pendidikan, Pengalaman Mengajar, Status SD Dalam Menguasai Pembelajaran IPA SD se-Kecamatan Kota Gede Yogyakarta, ( Yogyakarta: FMIPA IKIP, 1995). Tidak dipublikasikan.

 

[17] Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1990), hlm. 702.

 

[18] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Rosda Karya, 1994), hlm. 107.

 

[19] Oemar Hamalik, Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2002), hlm. 1.

 

[20] Das Salirawati, Kajian Kurikulum SMU, diktat kuliah tidak dipublikasikan, (Yogyakarta: FMIPA UNY, 2002), hlm.14.

 

[21] Nana Sudjana, Op.Cit., hlm. 17.

 

[22] Ibid., hlm. 18.

 

[23] Das salirawati, Diktat Kuliah Kajian Kurikulum Kimia SMU, (Yogyakarta: FMIPA UNY 2001)., hlm. 15

 

[24] Piet A. Sahertian. Profil Pendidik Profesional, (Yogyakarta: Andi Offset,1994), hlm.56.

 

[25] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek,(bandung: Rosda Karya, 1997) hlm. 192-193.

 

[27] Zakiah Darodjat, Metodik Khusus Pengajaran Agama islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hlm. 263-264.

[28] Das Salirawati, Op.Cit., hlm. 15.

 

[29] Oemar Hamalik, Op.Cit., hlm. 1

 

[30] Roestiyah N.K., Masalah-masalah Ilmu Keguruan, (jakarta: bina Aksara, 1989), hlm. 80-81.

 

[31] Elyman, Beratnya Tugas Guru, Dalam Majalah Gerbang Edisi 5 Th. III November 2003, hlm. 51.

 

[32] Moh.Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: Rosda Karya,1996), hlm.6-7.

 

[33] Mulyati Arifin, Pengembangan Program Pengajaran Bidang Studi Kimia, (Surabaya: Airlangga University Press, 1994), hlm. 183.

 

[34] Yuli Hernowo, Peningkatan kemampuan Profesionalisme Guru, Dalam Majalah Gerbang Edisi 5 Th. III Nov. 2003,hlm. 41.

 

[35] Syafruddin Nurdin dan basyiruddin Usman, Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hlm. 98.

 

[36]Yuli Hernowo, Op.Cit., hlm. 40.

 

[37] Donald K. Cruicksank, The Profesional Teachers Handbook, Boston, Allyn and Bacon , INC, dalam jurnal pendidikan tidak dipublikasikan.

 

[38] M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktek, (Bandung: Rosda Karya), hlm. 139.

 

[39] Ibid. hlm.140.

 

[40] Paul Suparjo dan R. Rahandi, Reformasi Pendidikan Sebuah Rekomendasi, (Yogyakarta: Kanisius 2002), hlm. 24.

 

[41] Roestiyah NK., Op. Cit., hlm. 10-11

 

 

[43] A. Syafii, Kurikulum Berbasis Kompetensi, dalam seminar nasional pada Juli 2003.

 

[44] Mulyasa, E. Op.Cit., hlm. 10.

 

[45] Puskur Balitbang Depdiknas, Ringkasan KBK, (Jakarta: Depdiknas, 2002), hlm. 1.

 

[46] Mulyasa, E, Op.Cit., hlm. 40.

 

[47] Ibid., hlm.94

 

[48] Puskur Balitbang Depdiknas, Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Jakarta: Depdiknas, 2002), hlm. 3.

 

[49] Mulyasa, E. Op.Cit., hlm. 74.

 

[50] E. Mulyasa, KBK: Konsep, Karakteristik dan Implementasi, (Bandung: Rosda Karya, 2002), hlm. 56-57.

 

[51] Bashori Muhammad, Kepala SMUN I YK, dalam Seminar Regional Kependidikan, KBK dan Upaya peningkatan Mutu Pendidikan, (Yogyakarta: FMIPA UST, 2003), hlm. 5-6.

[52] Sri Sumarni, penilaian Berbasis Kelas Dalam Rangka Implementasi Kurikulum PAI Berbasis Kompetensi, hlm.3

[53] Djohar, Rektor UST, Meningkatkan Mutu Pendidikan, dalam Seminar Regional Pendidikan, tanggal 19 Mei, (Yogyakarta: FKIP UST, 2003).

 

[54] Paul Suparjo SJ. dan R. Rahandi, Op.Cit., hlm. 45.

 

[55] Tugini Trihayati dan Sudiyanto, Kurikulum Berbasis Kompetensi, dalam Workshop Sekolah target, pada tanggal 18-25 Maret (Yogyakarta: BPG, 2002), hlm. 6.

 

[56] F. Thomas Edison, Kurikulum Berbasis Komptensi Tantangan dan Harapan, Dalam Majalah Ikhlas Beramal, No. 22 Th V Mei 2002. hlm.7

[57] Puskur Balitbang Depdiknas, Ringkasan Kurikulum Berbasis Kompetensi.( Jakarta: Depdiknas, 2002)

 

[58] Das Salirawati, Selayang Pandang Tentang Penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi. (Jakarta: Depdiknas, 2002). Hlm. 4.

[59] Syafruddin Nurdin dan Basyiruddin Usman, Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum, (jakarta: Ciputat Press, 2002), hlm. 81

 

[60] Depdiknas, Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Jakarta: Puskur Balitbang Depdiknas,2002), hlm.4.

 

[61] Ibid., hlm. 14.

 

[62] Depdiknas, Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Jakarta: Puskur Balitbang Depdiknas, 2002), hlm. 4.

 

[63] Ibid., hlm. 2.

 

[64] Rachmadi Widdiharto, Guru dan perubahan Kurikulum, dalam Kedaulatan Rakyat.

[65] Das salirawati, Tingkat Kesiapan Guru-guru IPA di SLTP Terhadap Pemberlakuan KBK Kimia yang Terintegrasi dalam Sains.,( Yogyakarta: FMIPA UNY, 2003).,hlm.3.

 

[66] Ibid.

[67] Ibid.

[68] Anas Sudiono, Pengantar Statistik Pendidikan, (Jakarta: Rajawali Press, 1996), hlm. 27.

 

[69] Hadi, Amirul, dan Haryanto, Metodologi Penelitian Pendidikan untuk IAIN dan PTAIS Semua Fakultas dan Jurusan Komponen MKK, (Bandung: Pustaka Setia, 1998), hlm. 47

 

[70] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Bina Aksara, 1983), hlm.188.

 

[71] Anas Sudijono, Op.Cit., hlm. 9.

 

[72] Nana sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Rosda Karya, 1995). Hlm. 79

 

[73] Sutrisno Hadi, Metode Reseach II, (Yogyakarta: Fak. Psikologi UGM, 1967), hlm.13.

 

 

[74] Anas Sudijono, Op.Cit., hlm. 40

[75] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, (Bandung: Rosda Karya, 1997) hal. 126-127

 

[76] Puskur Balitbang Depdiknas, Kurikulum dan Hasil Belajar, Kompetensi Dasar Mata Pelajaran KIMIA Madrasah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah, (Jakarta: Depdiknas,2002), hlm. 6.

[77] Ibid.

 

[78] Departemen Agama, Alqur'an dan Terjemahnya, (Surabaya: Jaya Sakti, 1997), hlm. 846.

[79] Depdiknas, KBK Mata Pelajaran Kimia untuk SMU dan MA, (Jakarta: Dokkur-1 MAN Yogyakarta III, 2003), hlm. 5.

 

[80] Ibid., hlm. 6