PROPOSAL TESIS

NASIONALISME ARAB ISLAM ALJAZAIR

(STUDI KRITIS KARAKTERISTIK TAFSIR IBNU BADIS)

 

A.    Latar Belakang Masalah

Aljazair jatuh di bawah kekuasaan Perancis pada tahun 1830. Langkah yang diambil dalam rangka penjajahannya adalah merubah negeri arab muslim ini menjadi bagian wilayah Perancis. Strategi yang diterapkan berupa memecah belah dan mengadu domba rakyat Aljazair yang secara garis besar terbagi menjadi dua yakni ; bangsa Arab dan Barbar. Penduduk Barbar memang yang mula-mula dikenal sebagai penduduk Aljazair. Suku ini telah memiliki bahasa dan adat istiadat tersendiri. Adapun para muslim Arab  pada akhir abad ke-7 datang belakangan secara damai, dan banyak warga yang dengan sukarela memeluk agama islam. Kedua komunitas ini hidup berdampingan tanpa ada masalah yang menyebabkan perseteruan diantara keduanya. Namun setelah pendudukan Perancis mereka dipecah belah, dengan mengembangkan wacana bahwa Barbar adalah etnis Perancis yang menjadi bagiannya pada masa purbakala, sedangkan golongan Arab adalah penganut ajaran islam dalam ahwalus syakhsyiah. Meskipun demikian, tidak ada yang tahu secara pasti dari kalangan para ahli, dari manakah sebenarnya suku Barbar berasal.

Akibat dari pendudukan Perancis muncul berbagai macam perlawanan rakyat Aljazair terutama dari kalangan muslim. Kekuatan dan kegigihan perjuangan bangsa Aljazair ini berasal dari konsep nasionalisme keagamaan. Usaha Perancis berupa aneksasi secara esensial menyingkirkan sistem pemerintahan dan administrasi tradisional Aljazair dan merusak integritas bahasa, budaya dan agama masyarakat. Perlawanan secara militer dilakukan oleh Amin Abdul Qadir meskipun kandas ditengah jalan. Setelah itu muncullah para pemimpin tarekat dan ulama seperti Bu Zian (1849), Sidhi Saduq (1858), Bu Khitasyi (1860), Syekh Musthafa Azzuz (1866), Al-Muqrani (1870) dan Amzian (1879)

Dalam rangka meredam pemberontakan ini maka Perancis berusaha mengisolasi penduduk muslim serta menyingkirkan elite agama dan suku. Namun usaha ini tetap saja tidak dapat menghentikan semangat perlawanan terhadap Rezim kolonial. Usaha Perancis memanfaatkan para marabout menimbulkan efek samping yang begitu berat. Timbul pendiskreditan terhadap para marabout dan menimbulkan peluang bagi kelompok salafiyah untuk muncul sebagai wakil islam. Disamping itu pendidikan modern berpengaruh positif pada regenerasi kepemimpinan muslim.

Para generasi muslim baru tersebut banyak yang menduduki jabatan birokrasi, fraksi dan tentara. Sejak tahun 1920-an mereka menuntut persamaan hak dan perbaikan nasib rakyat. Dalam kondisi inilah muncul gerakan pembaharuan islam salafiyah di bawah payung jam’iyyah al-‘ulama al-muslimin al-jazariyyah yang dipimpin oleh Abdul Hamid bin Badis (1889-1940) yang secara resmi didirikan pada tahun 1931.

Organisasi ini dalam menggalang pendukungnya dengan memanfaatkan perubahan sosial-keagamaan sebagai akibat semakin tingginya urbanisasi, meningkatnya jumlah kaum terpelajar dan sekaligus menurunnya wibawa para marabaout. Organisasi ini mencurigai usaha Perancis yang berinisiatif perbaikan sebagai taktis asimilasi. Untuk menepis dampak asimilasi ini maka mereka berusaha menerbitkan berbagai majalah untuk menyebarkan gerakan pembaharuannya. Salafiyah di Aljazair berjasa membina sarana pendidikan, penggunaan bahasa Arab, perbaikan sosial-ekonomi, dan identitas nasional hingga akhirnya tercapai kemerdekaan Aljazair pada tahun 1962[1].

Suatu  hal yang menarik dari berbagai usaha kemerdekaan Aljazair adalah tentang gerakan salafiyyah Ibnu Badis yang mengembangkan ide-idenya melalui media tafsir Al-Qur’an, sehingga muncullah identitas negara sebagai salah satu unsur nasionalisme. Ibnu Badis dengan asosiasinya telah berhasil menggabungkan reformasi islam dan nasionalisme. Nasionalisme Aljazair ini dapat bertahan kuat berkat jasa para ulama dan tokoh-tokoh yang memberi legitimasi dan menggerakkan dukungan dengan bergabung bersama pemimpin islam tradisional dalam rangka penyebaran nasionalisme tersebut. Nasionalisme ini bercorak Arab Islami. Hal ini sangat mudah diterima oleh masyarakat karena Arab dan Islam telah mengakar pada diri mereka[2].

Dalam rangka penyebaran ide-idenya, yang muaranya adalah pergerakan islam menuju  kemerdekaan Aljazair, Ibnu Badis menggunakan berbagai  macam usaha, terutama dengan menggunakan metodologi tafsirnya. Peneliti bermaksud mengungkap metodologi yang diaplikasikannya. Hal ini menjadi  menarik ketika dikaitkan dengan keberhasilannya menggiring pemikiran muslim di Aljazair menuju perubahan yang lebih baik. Sampai-sampai Mushalli Hajji yang dianggap sebagai Bapak Nasionalisme, mula-mula ia berorientasi sosialisme-populis, bergabung dengan gerakan islami Ibnu Badis. Dengan hal ini maka terjadilah pergumulan pemikiran antara nasionalisme yang berorientasi pada sosialisme-populis dengan gerakan salafiyyah reformis. Tentunya ini akan muncul dialektika yang saling take and give dari kedua belah pihak.

Secara garis besar berkenaan dengan arah gerakan islam, tanmpaknya perlu diingat bahwa sumber ajaran muslim adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dalam pengertian lain, islam adalah satu. Akan tetapi masing-masing gerakan di berbagai belahan dunia islam terdapat berbagai kecenderungan, sehingga muncul banyak aliran pemikiran. Meskipun Ibnu Badis berlatar belakang  penganut madzhab Maliki, namun ia berusaha keluar dari batas-batas madzhab guna memurnikan ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadits tanpa perantara, meskipun tidak menafikan pendapat-pendapat dari para ulama sebelumnya. Ia berusaha menggabungkan diri dengan kaum salaf yakni generasi muslim awal.

Aliran gerakan Ibnu Badis ini dapat dikategorikan sebagai Reformisme salafi. Pemikiran ini muncul sebagai pengaruh para pemikir reformis di akhir abad ke-19 dan pada pertama abad ke-20. Para tokoh aliran ini memiliki karakter yang dinamis ketika berhubungan dengan sumber-sumber agama, kehendak yang konsisten untuk menggunakan naluri dalam mengkaji teks, demi memperhitungkan tantangan-tantangan zaman dan perkembangan sosial, ekonomi, dan politik dalam masyarakat. Pemikiran ini bertekad melindungi identitas muslim dan mengamalkan ibadah, mengakui kerangka konstitusi luar, serta selalu terlibat pada tingkat sosial sebagai warga negara tempat tinggal[3].

Jika kita berbicara tentang identitas, maka dalam kaitannya dengan sebuah negara, perlu dikaitkan dengan nasionalisme. Pada pertengahan abad ke-19, ketika islam mulai mengadakan hubungan dengan bangsa barat, ketegangan antara nasionalisme dengan islam telah ada seperti digambarkan oleh ketegangan antara Pan-Arabisme dan Pan-Islamisme di dunia Arab. Bagaimanapun juga banyak orang Arab yang berusaha menyelesaikan problem ini dengan menyamakan Arabisme dengan Islam, dan dengan membuat kebangkitan islam bergantung pada kebangkitan kembali apa yang disebut sebagai bangsa Arab[4].

Secara umum dipandang bahwa nasionalisme dan islam pada dasarnya tidak sejalan. Akan tetapi sebelum menerima atau menolak penegasan ini, perlu mengetahui apa yang dimaksud dengan nasionalisme. Apabila yang dimaksud nasionalisme adalah rasa cinta tanah air (patriotisme) maka islam tidak menolak pandangan ini (ada sebuah hadits Nabi yang menyatakan bahwa “Cinta tanah air adalah bagian dari kesempurnaan iman”). Imam Khomeini menyebutkan pula bahwa nasionalisme adalah rasa cinta tanah air dan rakyatnya serta melindungi batasan-batasannya[5]. Akan tetapi jika nasionalisme didefinisikan sebagai sebuah ideologi yang didasarkan pada penegasan atas keterpisahan suatu bangsa atau bahkan superioritas atas bangsa lain dan menjadikan bangsa itu sebagai satu-satunya sumber legitimasi atau fokus kesetiaan, maka pengertian ini ditolak oleh kalangan revivalis. Kalangan militan, yang diwakili oleh Khomeini, meyakini bahwa nasionalisme ini merupakan tipu muslihat yang dibuat oleh pihak asing untuk memecah-belah islam.

Suatu hal yang menarik pada pemikiran Ibnu Badis dalam tafsirnya adalah pemikiran tafsir / corak yang memadukan antara konsep Islam dengan kenyataan yang ada ketika itu, guna merespon penjajahan Perancis. Tema pemikiran ini tentunya tidak terlepas dari pemikirannya tentang Nasionalisme, entah Arab ataukah Islam, karena keduanya tampak mewarnai dalam arah pemikiran dan pergerakannya. Dialektika antara Arab-Islam sangat efektif ketika itu, sehingga diakui banyak kalangan nasionalisme, Ibnu Badislah yang telah berhasil membebaskan bumi Aljazair dari Perancis.

Ibnu Badis menuangkan ide-idenya tentang nasionalisme Arab-Islam ini tentunya juga berpengaruh pada metodologi penafsirannya terhadap Al-Qur’an. Hal ini menjadi uptodate ketika dikontekskan dengan pada era sekarang ataupun konteks ke-Indonesiaan yang seolah-olah nasionalisme dan islam di Indonesia adalah dua spektrum yang berhadapan dan bertentangan. Pemikiran penggabungan atau dialektika antara keduanyapun dijalankan dengan salah satu aplikasinya adalah pengangkatan Gus Dur sebagai presiden RI dengan wakilnya Megawati Sukarno Putri. Tetapi mengapa hal ini membutuhkan jawaban yang serius. Benarkah islam dan nasionalisme di Indonesia ini tak dapat bersatu ?. Apakah dapat disatukan seperti Aljazair ketika itu, sehingga berhasil memutus sejarah penjajahan Perancis ?. Masih banyak pertanyaan jika problematika politik di Indonesia ini dibahas secara mendalam. Dengan demikian, jelaslah urgensi dari pengangkatan pembahasan tafsir Ibnu Badis terutama dalam kaitannya dengan konteks historisitas dan konteks ke-Indonesiaan.

B.     Batasan dan Rumusan Masalah

Beradasarkan latar belakang masalah di atas, maka peneliti berusaha membatasi pembahasan pokok pemikiran dalam tafsir Ibnu Badis. Hal ini dilakukan karena peneliti menyadari arti pentingnya kitab tersebut dalam rangka penyebaran ide-ide Ibnu Badis dalam melanjutkan proses sejarah metodologi penafsiran Al-Qur’an yang tidak terlepas dari konteks historisitasnya. Untuk itulah maka persoalan yang mungkin relevan untuk menjadi rumusan masalah adalah sebagai berikut :

Pertama : Dalam konteks apa dan bagaimanakah kitab ini muncul dengan menonjolkan diskusi kebangkitan dan pembaharuan.

Kedua : Apa metodologi yang diterapkan Ibnu Badis dalam rangka kebangkitan Aljazair.

Ketiga : Unsur-unsur apa yang menjadi pra syarat kebangkitan Aljazair dalam bingkai konsep nasionalisme

C.    Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1.      Tujuan

Peneliti bertujuan untuk mengembangkan dan memperdalam pemikiran Ibnu Badis dengan rincian sebagai berikut :

a.       Mengetahui historisitas kitab tafsir Ibnu Badis

b.      Mengetahui metodologi tafsir Ibnu Badis serta corak politik nasionalisme dalam rangka kebangkitaan Aljazair

2.      Kegunaan

Setelah penelitian ini dapat terselesaikan maka peneliti berharap agar hasilnya berguna untuk :

a.       Salah satu bahan pertimbangan dalam pengembangan metodologi tafsir dengan corak baru yang membumi dan selalu uptodate.

b.      Corak baru dan ide-ide yang tergali dalam tafsir tersebut diharapkan dapat menjaaadi rangsangan kreatifitas berfikir umat islam khususnya di Indonesia, sehingga mampu menghadapi tantangan modernitas dengan menciptakan konsep pemikiran baru dalam membangun Islam-Indonesia yang sesuai dengan realitasnya.

D.    Telaah Hasil Penelitian Terdahulu

Telaah hasil penelitian terdahulu sangat berguna untuk mengetahui sejauh mana keaslian dan keontentika suatu penelitian. Ia juga bermanfaat untuk mengekplorasi lebih jauh informasi atau data baik yang   berupa tulisan berbentuk buku atau dokumen lainnya.

Dari berbagai literatur yang sejauh peneliti dapat menjangkau, belum ada seorang penulis yang mengupas secara mendetail dan spesifik terhadap tema yang diajukan. Beberapa tulisan yang menurut peneliti berkaitan dengan tema persoalan penelitian ini dapat dijadikan referensi skunder adalah antara lain sebagai berikut :

1.      Manahij Al-Mufassiriin yang ditulis oleh Muni’ Abd al-Halim Mahmud. Buku ini secara umum mengupas tentang metode-metode tafsir sebnayak empat puluh tujuh tokoh, diantaranya adalah Ibnu Badis. Pada bagian ini hanya dibahas sebanyak 3,5 halaman tentang karya tafsirnya sehingga sangat jauh dari deskripsi secara menyeluruh. Porsi yang demikian sederhana ini membicarakan biografi singkat, komentar-komentar para sarjana, dan sama sekali tidak menampilkan contoh penafsirran Ibnu Badis.

2.      Model Kepemimpinan dalam Amal Islami karya Musthafa Muhammad Thahkan membahas tentang Ibnu Badis secara biografis. Ia banyak memiliki pembicaraan tentang keadaan Aljazair ketika Ibnu Badis hidup. Ia juga sedikit menyinggung tentang pemikiran-pemikirannya namun sangat minim dalam ide penafsirannya terhadap Al-Qur’an.

3.      Visi dan Paradigma Tafsir Al-Qur’an Kontemporer, karya Abdussalam Al-Muntaashib, hanya membahas dimensi ilmiah dalam penafsiran Ibnu Badis dengan menampilkan contoh kecil dari tendensi ilmiahnya.

4.      Malik Bennabi, His Life and Theory of Civilization, karya Fauzia Bariun. Dalam pembahasannya tentang Ibnu Badis ia menyoroti organisasi yang dipimpinnya. Kegiatan-kegiatan dan program organisasi dipaparkan secara umum dan pokok-pokonya saja. Pembahasan itu sangat membantu peneliti dalam mengetahui ide pemikiran Ibnu Badis dan pandangan–pandangannya tentang pembaharuan.

5.      The Politics of Islamic Revivalism Diversity and Unity, yang diedit oleh S.T.Hunter menyinggung tentang kuatnya dimensi nasionalisme pada ajaran Ibnu Badis. Hal ini memperkuat asumsi peneliti bahwa Ibnu Badis memang pembaharu islam yang menyebarkan ide-ide pembaharuannya dalam rangka kemerdekaan Aljazair. Meskipun pembahsan dalam buku ini sangat singkat namun memiliki posisi yang sangat urgen karena ditulis oleh Arkoun, tokoh pemikir Aljazair yang sangat populer.

6.      Nation and Nationalism Since 1780 karangan E.J.Hobsbown mengkaji proses dan perkembangan nasionalisme secara makro. Kajian ini sangt membantu penelitian ini untuk memetakan pengaruh situasi dan kondisi eksternal terhadap Aljazair termasuk Ibnu Badis. Ketika masa hidupnya Ibnu Badis berada dalam masa transformasi nasionalisme, dan puncaknya ketika akhir perang dunia pertama dan perang dunia kedua.

E.     Metode Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian keagamaan yang bersifat library research dengan fokus kajian Ibnu Badis, tentang karakteristik tafsirnya. Untuk mencapai hal-hal yang ingin dicapai, maka metode dan pendekatan yang akan digunakan adalah sebagai berikut :

1.      Sumber Data

Ada dua katagori sumber data yang digunakan. Pertama sumber data primer yang berupa kitab Tafsir Ibni Badis Fi Majalis Al-Tadzkir min Kalami Al-Hakim Al-Khabir karyanya sendiri. Buku-buku pendukungnya meliputi sumber-sumber data yang memuat biografi baik berdasar bidang keilmuan maupun umum. Termasuk dalam model ini adalah karya Mushthafa Muhammad Thahan yang berjudul Model Kepemimpinan dalam Amal Islami yang telah diterjemahkan oleh Mushthafa Maufur, The Encyclopaedia of Islam[6]. Selanjutnya Al-Nahdhah Al-Islamiyyah fi Siyar A’lamiha Al-Muashirin karya Muhammad Rajab Al-Bayumi[7]. Ciri-ciri buku tipe ini adalah kecenderungan penulis pada tokoh-tokoh dengan konsentrasi memaparkan perjuangan, ide, tempat dan tahun kelahiran serta kewatakannya. Dengan bentuk ini, buku tersebut dan lainnya diharapkan sangat membantu dalam mencerna dan mencermati kesejarahan Ibnu Badis.

Kedua, adalah buku-buku yang mengarahkan perhatian khusus pada metodologi, sejarah, atau kritik tafsir dan buku-buku ‘ulumul qur’an. Buku-buku tipe ini jelas hanya membahas atau memberikan penilaian akan capaian Ibnu Badis dalam bidang tafsir. Disamping memaparkan biografi singkat, buku ini terutama berkepentingan dengan karakteristik tafsir dan kredibilitasnya. Walaupun jenis buku ini membahas tentang metodologi tafsir, namun sentral pembahasannya tidak lebih hanya sekedar deskripsi singkat dan sedikit penilaian tentang tafsir tertentu. Termasuk dalam kategori ini adalah Manahij Al-Mufassirin karya Mani’ ‘Abd Al-Halim Mahmud[8] dan ‘Ilm Al- Tafsir karya ‘Abd Mun’im Al-Namr[9].

Model ketiga adalah buku-buku yang menyinggung nama Ibnu Badis, yaitu tentang sejarah maupun pergerakan. Berbeda dengan tipe pertama dan kedua, buku-buku ini kebanyakan merupakan hasil penelitian para penulis modern dari barat. Corak buku-buku ini adalah menonjolkan aspek syariah dan pergerakan atapun situasi dan kondisi negara-negara dunia. Tercakup dalam buku ini adalah Islamism and Secularism in North Africa yang diedit oleh John Ruedy, Malik Bennabi, sosiolog muslim masa kini, karya Fawzia Bariun, Politik Islam, Kelangsungan dan Perubahan di Dunia Modern, Karya John O. Ovoll, Nasionalisme Menjelang Abad XXI, karya Hobsbawn, Politik Kebangkitan Islam, Keragaman dan Kesatuan, yang diedit oleh Shiren T. Hunter.

Jadi pada umumnya kepustakaan yang ada sepanjang dapat dicapai, belum ada studi secara khusus yang mengarahkan kajiannya pada pemikiran atau karakteristik tafsir  Ibnu Badis dalam kaitannya dengan dimensi kesejarahannya.

2.      Prosedur Memperoleh Data

Oleh karena penelitian ini bersifat studi literatur maka prosedur untuk memperoleh data dilakukan melalui perpustakaan, konsultasi dan diskusi.

3.      Analisis Data

Data-data yang telah diperoleh dikumpulkan kemudian dideskripsikan, disistematisir dan dianalisis. Setelah itu peneliti mencoba untuk menganalisis ulang dengan pendekatan tertentu yang sesuai dengan objek yang hendak diteliti. Metode deskriptif analitik digunakan untuk menjawab persoalan-persoalan di atas sesuai porsinya.

4.      Pendekatan

Berdasarkan rumusan-rumusan masalah dan target pencapaian penelitian ini, maka peneliti memilih untuk mempergunakan pendekatan historis interpretatif. Dengan metode deskriptif di atas, diharapkan dapat menghaasilkan gambaran yang memadai dan bersifat menjelaskan kitab tafsir Majalis Al-Tadzkir dengan dimensi ruang waktu serta memberi jawaban atas pertanyaan apa, kapan, dan dimana. Sedangkan metode analitik bersifat memaparkan faktor-faktor kondisional dan determinan-determinan dari data yang telah didapat dan dikategorisasikan untuk menjawab pertanyaan bagaimana dan mengapa[10]. Untuk kepentingan tersebut akan digunakan pendekatan historis (historical approach) yakni analisis yang mendekati persoalan dengan tekanan khusus pada “proses” dan hubungan sebab akibat. Untuk mendapatkan analisis historis yang akurat akan dipergunakan kerangka teori mekanisme sejarah tantangan dan jawaban (challance and respons). Teori ini mengatakan bahwa manusia dengan berbagai ide dan gagasannya sehingga terciptalah sejarah, adalah karena adanya tantangan-tantangan tertentu yang membutuhkan jawaban[11].

F.     Kerangka Teori

Menurut Nietszche paling tidak secara umum ada tiga cara memahami dan mencari manfaat sejarah. Ketiga langkah tersebut dilakukan agar sejarah dan manusia tetap survive termasuk di dalamnya akan memahami, menafsirkan, dan memaknai masa lampau dan masa kini.

Langkah pertama adalah dengan pendekatan monumental. Para peneliti sejarah memusatkan perhatian pada hal-hal kebesaran dan kelangkaan monumental pada masa silam. Pendekatan ini bermanfaat untuk membangkitkan semangat dan keberanian orang-orang yang ingin menciptakan kebesaran dan kelangkaan di masa kini. Diharapkan kajian dengan metode ini dapat “mengulang sejarah” kebesaran tempo dulu, dengan wajah yang berbeda tentunya.

Pendekatan kedua adalah antikuarian. Pengkaji sejarah berusaha memahami asal-usul identitas seseorang atau kelompok pada masa lampau. Hasil kajian diharpkan dapat menjadi sarana ilmiah untuk mengetahui kesinambungan masa sekarang dengan masa lalu. Lebih lanjut juga digunakan untuk kesinambungan untuk masa yan akan datang. Kiranya pendekatan ini sangatlah urgen untuk melestarikan sejarah dan meneruskannya sebagai proses dinamis kehidupan manusia.

Pendekatan ketiga adalah pendekatan kritis yang berusaha memisahkan masa sekarang dengan masa lalu. Hal ini terpisahkan karena adanya asumsi bahwa sejarah atau masa lalu adalah beban sehingga harus dilupakan[12].

Secara umum, kajian sejarah tidaklah dapat dilepaskan dari peristiwa masa lampau. Di balik serentetan peristiwa yang telah terjadi, ada seperangkat sistem yang seharusnya justru lebih diperhatikan untuk dipahami dan dipikirkan. Semua peristiwa selalu melibatkan dua komponen pokok, yakni aksi dan pemikiran yang menggerakkan aksi tersebut. Keduanya merupakan domain yang menyatu dalam satu kesatuan yang sinergis[13]. Konsep sentaral sejarah adalah pola pikir pelaku sejarah yang mengekspresikan diri dalam perbuatan praktis. Keyakinan dimulai dari hal-hal yang bersifat fisik namun muaranya adalah sesuatu yang berada di sebaliknya dan bersifat non-fisik.

Dilthey menyatakan bahwa sejarah adalah bagian dari kehidupan yang bersifat dinamis, bukan statis mekanis. Ia menyejarah dan mengalir. Hal ini sesuai dengan dimensi waktu past, present dan future. Bagian-bagian tersebut selalu menyatu dalam sebuah totalitas, sehingga unit-unit kejadian pada waktu tertentu akan memiliki relevansi untuk memahami kejadian masa yang berlainan, baik sebelum maupun sesudahnya[14]. Maka dari itu ia memiliki implikasi makna dan pesan yang ada pada waktu tertentu  adalah mengalir dan menyejarah. Dengan demikan ia bisa dipahami dan diinterpretasikan seiring dengan pergeseran waktu dan tempat.

G.    Sistematika Pembahasan

Secara garis besar kajian yang ada dalam penelitian ini dikelompokan menjadi empat bagian yang kemudian membentuk lima bab. Bab pertama berupa usulan penelitian yang dimaksudkan sebagai kerangka landasan metodologis sebelum dimulai penelusuran prosedur-prosedur yang harus ditempuh dalam penelitian. Di dalam bab ini terdiri atas sub bab latar belakang masalah, batasan dan rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, telaah hasil penelitian terdahulu, metode penelitian, kerangka teori dan sistematika pembahasan.

Data-data kesejarahan tokoh Ibnu Badis menempati urutan bab kedua. Pada bab ini diharapkan dapat dipahami latar belakang sodial, politik, budaya dan keagamaan sebagai tantangan di mana, kapan Ibnu Badis hadir dalam pergulatan penjajahan Perancis yang berdampak sangat buruk pada warga Aljazair. Selanjutnya akan diketahui bagaimana respon Ibnu Badis melalui karya tafsirnya. Dalam bab ini diasumsikan sebagai tantangan dari luar dan dalam yang dihadapinya. Melalui bab ini diharapkan akan terjawab problematika pertama yang telah diajukan pada rumusan masalah.

Bab ketiga diusahakan untuk analisis mengenai gagasan-gagasan Ibnu Badis secara umum dan keterpengaruhannya terhadap pemikiran Muhammad ‘Abduh. Disamping itu juga dipaparkan karakteristik tafsirnya dalam kaitannya dengan sebab-sebab dan latar belakang penafsiran. Pada bagian ini akan terlihat bagaimana Ibnu Badis menuangkan hasil pemikirannya dalam merespon tantangan dalam rangka membangun rakyat muslim Aljazair. Di samping itu juga akan terlihat pula keterpengaruhannya dengan para mufassir sebelumnya sehingga akan menjawab persoalan kedua dari masalah di atas.

Pembahasan bab ke-empat merupakan jawaban atas persoalan ketiga. Pembahsannya spesifik pada unsur-unsur nasionalisme sebagai identitas muslim Aljazair sebagai prasarat kebangkitan. Secara umum perkembangan nasionalisme beserta implikasinya menempati porsi besar, di samping pembahasan pokok dalam nasionalisme dalam nasionalisme Arab-Islam dalam kitab tafsir Ibnu Badis. Pada akhirnya bab kelima akan dijadikan sebagai bagian penutup yang berisi kesimpulan dari pembahasan bab-bab sebelumnya, selain kesimpulan tentang jawaban akhir terhadapan persoalan akhir yang diajukan.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

         Abdullah, Taufiq (ed.), Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Jakarta : PT. Icktiar Baru Van Hoeve, 2002, jilid 2, hal. 325

         Bayumi, Muhammad Rajab Al-, Al-Nahdhah Al-Islamiyyah fi Siyar A’lamiha Al-Muashirin, Beirut, Dar Al-Fikr, 1980

         Enayat, Hamid, Modern Islamic Political Thought / Austin : University of Texas Press, 1982, hal. 111-120.

         Kartodirjo, Sartono, Sejarah Nasional Indonesia, Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1975, hal. 4

         Lewis, B., Menage, V.L., Pellat, C.H., and Schacht, J., The Encyclopaedia of Islam, Leiden ; Lusac and Co. 1971

         Lukman, Cecilia (ed.), “Aljazair” dalam Negara dan Bangsa, (Jakarta : Intermasa, 1990), hal. 71

         Mahmud, Mani’ ‘Abd Al-Halim, Al-Manahij Al-Mufassirin, Cairo, Dar Al-Kitab Al-Mishri, t.t

         Namr, Abd Al-Mun’im Al-, ‘Ilm Al-Tafsir, Cairo, Dar Al-Kitab Al-Mishri, t.t

         Nash, Ronald H., Ideas of Historiy, New York : E.P. Dutton and Co., 1969, Vol. I, hal. 177

         Palmer, Ricahard E., Hermeneutics : Interpretatioan Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Badamer, EvaanstonNorth Western University Press, 1969, hal,. 101

         Ramadan, Tariq, Teologi Dialog Islam-Barat, Pergumulan Muslim Eropa, terj. Abdullah Ali, Bandung, Mizan, 2002, hal. 262

         Sunardi, St., “Kematian Sejarah”, dalam Basis, no 11-12 tahun ke-4 (Nopember-Desember), tahun 2000, hal. 39-40

         Wood , R.G. Colling, The Idea of History, London : Oxford University Press, 1976, hal. 312-313

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Adapun rancangan daftar isinya adalah sebagai berikut :

DAFTAR ISI

 

HALAMAN JUDUL

PERNYATAAN KEASLIAN

NOTA DINAS PEMBIMBING

PENGESAHAN

ABSTRAK

PEDOMAN TRANSLITERASI

MOTO DAN PERSEMBAHAN

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

 

BAB I PENDAHULUAN

      A. Latar Belakang Masalah

      B. Rumusan Masalah

      C. Tujuan dan Kegunaan

      D. Tinjauan Pustaka

      E. Kerangka Teori

      F. Metode Pembahasan

      G. Sistematika Penulisan

 

      BAB II  LATAR BELAKANG KEHIDUPAN IBNU BADIS

            A. Situasi dan Kondisi Aljazair

            B. Biografi Ibnu Badis

            C. Perjuangan Ibnu Badis

            D. Ide-Ide Ibnu Badis

 

      BAB III HISTORISITAS TAFSIR IBNU BADIS

            A. Latar Belakang Penafsiran

            B. Karakteristik Tafsir Ibnu Badis

 

      BAB IV DIMENSI NASIONALISME TAFSIR IBNU BADIS

            A. Model-Model Pergerakan Islam

            B. Model Pergerakan Islam Aljazair

            C. Wacana Nasionalisme Pada Masa Ibnu Badis

            D. Nasionalisme Arab-Islam Aljazair

            E. Nasionalisme dalam Pandangan Ibnu Badis

 

      BAB V PENUTUP

 

 

 

 

 

 

BAB II

IMPLIKASI PEMBAHARUAN IBNU BADIS

 

 

 

BAB III

IMPLIKASI PEMBAHARUAN IBNU BADIS

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

IMPLIKASI PEMBAHARUAN IBNU BADIS

DALAM BINGKAI NASIONALISME

 

A.    Arah Gerakan Islam

Secara garis besar, berkaitan dengan arah gerakan islam, tampaknya perlu diingat bahwa sumber ajaran muslim adalah A-Qur’an dan Al-Hadits. Dalam pengertian lain, islam adalah satu. Akan tetapi masing-masing gerakan di berbagai belahan dunia islam terdapat berbagai kecenderungan sehingga muncul banyak aliran pemikiran. Paling tidak ada enam kecenderungan utama dalam gerakan islam.

1.      Tradisionalisme Skolastik

Aliran ini merujuk kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits menjadi sangat penting. Mereka merujuk pada aliran hukum tertentu (Hanafi, Maliki, Syafi’I, Hambali, Zaidi, Ja’fari atau yang lainnya) dengan sangat ekslusif. Wacana yang dikembangkan dan diberikan adalah didasarkan pada agama yang direfleksikan melalui prisma penafsiran tradisional dari prinsip-prinsip yuridis aliran tertentu.

2.      Tradisionalisme “ Salafi “

Kelompok ini menolak perantaraan madzhab dan ulama terdahulu dalam pendekatan dan penafsiran Al-Qur’an dan Hadits. Aliran ini lebih cenderung pada karakter literalis. Mereka menolak interpretasi yang didasarkan pada pencarian maksud atau objek perintah atau ketentuan suatu sikap menjadi ciri ahlu al-ra’yi

3.      Reformisme “ Salafi “

Kedua aliran terakhir ini memiliki karakter yang sama, yaitu sama-sama tertarik untuk keluar dari batas-batas madzhab hukum guna memurnikan ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadits tanpa perantaraan. Mereka berusaha menghubungkan diri dengan kaum salaf yakni generasi muslim awal. Jika aliran tradisionalisme salafi menentang interpretasi yang didasarkan pada pencarian maksud / objek suatu perintah, maka aliran reformisme salafi justru menjadikannya dasr interpretasi.

Aliran ini muncul sebagai pengaruh para pemikir reformis di akhir abad ke-19 dan paruh pertama abad pertama abad ke-20. Para tokoh aliran ini memiliki karakter yang berbeda, namun terdapat persamaan yaitu dinamisnya berhubungan dengan sunber-sunber agama, kehendak yang konsisten unutk menggunakan nalar dalam mengkaji teks demi memperhitungkan tantangan-tantangan zaman dan perkembangan sosial ekonomi dan politik dalam masyarakat. Pemikiran  ini bertekad melindungi identitas muslim dan pengamalan ibadah, mengakui kerangka konstitusi luar, serta selalu terlibat pada tingkat sosial sebagai warga negara tempat tinggalnya. Mereka menginterpretasikan teks Al-Qur’an dan Al-Hadits dengan menyesuaikan metode dengan kebutuhan[15].

4.      Salafiyyah Politik dan Literalis

Sebagian ulama dan intelektual yang pada awalnya terikat pada aliran legalis-reformis………..

5.      Reformisme “ Liberal “ (atau  Rasionalis)

6.      Sufisme

 

B. Ide Pergerakan Pembaharuan Ibnu Badis dalam Bingkai Nasionalisme

            Sebagai suatu proposisi yang dinyatakan Tuhan untuk mengungkapkan sesuatu yang tidak diketahui dan tidak diketahui akal manusia sendiri. Setiap ayat merupakan simbol.

 

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

 



[1] Taufiq Abdullah (ed.), Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Jakarta : PT. Icktiar Baru Van Hoeve, 2002, jilid 2, hal. 325

[2] Cecilia Lukman (ed.), “Aljazair” dalam Negara dan Bangsa, (Jakarta : Intermasa, 1990), hal. 71

[3] Tariq Ramadan, Teologi Dialog Islam-Barat, Pergumulan Muslim Eropa, terj. Abdullah Ali, Bandung, Mizan, 2002, hal. 262

[4] Lihat : Hamid Enayat, Modern Islamic Political Thought / Austin : University of Texas Press, 1982, hal. 111-120.

[5] Lihat : Algar, Islam dan Revolution,  hal. 32

[6] B. Lewis, V.L.Menage, C.H.Pellat, and J. Schacht, The Encyclopaedia of Islam, Leiden ; Lusac and Co. 1971

[7] Muhammad Rajab Al-Bayumi, Al-Nahdhah Al-Islamiyyah fi Siyar A’lamiha Al-Muashirin, Beirut, Dar Al-Fikr, 1980

[8] Mani’ ‘Abd Al-Halim Mahmud, Al-Manahij Al-Mufassirin, Cairo, Dar Al-Kitab Al-Mishri, t.t

[9] ‘Abd Al-Mun’im Al-Namr, ‘Ilm Al-Tafsir, Cairo, Dar Al-Kitab Al-Mishri, t.t

[10] Sartono Kartodirjo, Sejarah Nasional Indonesia, Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1975, hal. 4

[11] Ronald H. Nash, Ideas of Historiy, New York : E.P. Dutton and Co., 1969, Vol. I, hal. 177

[12] St. Sunardi, “Kematian Sejarah”, dalam Basis, no 11-12 tahun ke-4 (Nopember-Desember), tahun 2000, hal. 39-40

[13] R.G. Colling Wood, The Idea of History, London : Oxford University Press, 1976, hal. 312-313

[14] Ricahard E. Palmer, Hermeneutics : Interpretatioan Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Badamer, EvaanstonNorth Western University Press, 1969, hal,. 101

[15] Dalam dunia islam,  gerakan salafi-reformis legalis dalam wilayah politik dan palin sering sebagai oposisi. Sebagian dari mereka mendukung masyarakat model islam yang menjunjung tinggi sumber-sumber islam terutama pada bidang sosial politik, sebuah negara didasarkan pada hak hukum, pluralisme politik, parlementarianisme, pemilu yang didasarkan pada hak pilih universal, yang ini tidak bermaksud tunduk pada model barat.