BAB II

LATAR BELAKANG KEHIDUPAN IBN BA>DI>S

 

A.    Situasi dan Kondisi Tanah Air Ibn Ba>di>s

Penduduk yang mula-mula dikenal di Aljazair adalah suku Barbar yang punya bahasa dan adat sendiri. Tidak ada seorang pun dari sekian banyak para ahli yang mengetahui dari mana mereka berasal. Setelah bangsa Arab datang dari semenanjung Arabia pada akhir abad ke-7, maka agama Islam tersebar dan bahasa Arab menjadi bahasa masyarakat. Jadi penduduk Aljazair terutama terdiri dari keturunan bangsa Arab dan Barbar.

Perancis menyerbu Aljazair pada tahun 1830 dan mendirikan sebuah negara protektorat di Tunis pada tahun 1881 dan di Maroko pada tahun 1912.[1] Jadi sejak tahun 1830 Aljazair berada di bawah imperialisme Perancis. Selama berada di bawah jajahannya, banyak terjadi perubahan yang signifikan mengenai keadaan. sosial, politik, ekonomi, dan budaya, Walaupun Perancis ketika datang mengklaim bahwa kedatangannya untuk membebaskan orang-orang Aljazair dari para tiran Turki, namun dalam kenyataannya mereka justru memiliki tujuan-tujuan tersembunyi baik dalam bidang politik, ekonomi dan imperialisme. Pengaruh Perancis terhadap kondisi Aljazair meluas pada bidang-bidang sosial, budaya, ekonomi, pendidikan, politik dan agama.[2]

Langkah-langkah imperialisme Perancis dalam rangka mengubah negeri Arab Islam Aljazair menjadi bagian wilayahnya adalah dengan cara memecah belah rakyat Aljazair; Arab dan Barbar. Mereka beranggapan bahwa bangsa Arab adalah penganut Islam yang memegang aturan Islam dalam hal politik, sedang golongan Barbar adalah suku yang menjadi penduduk Perancis pada zaman purbakala.[3] Dengan tindakan ini Perancis berusaha menghapuskan bahasa Arab yang telah lama digunakan masyarakat Barbar serta menghalang-halangi pendirian masjid-masjid dan lembaga-lembaga pendidikan.[4] Langkah lain yang ditempuh adalah memberikan dorongan kepada warga Perancis pada khususnya dan bangsa Eropa pada umumnya agar berimigrasi ke Aljazair. Untuk menarik para imigran, mereka disediakan daerah-daerah yang subur dan strategis. Apabila daerah itu sudah ditempati warga Aljazair, maka mereka digusur dengan semena-mena dan disuruh tinggal di daerah-daerah yang gersang padang pasir.

Politik Perancis di Aljazair sejak awal diwarnai dengan tindakan pemiskinan, pembodohan, Kristenisasi, dan Perancisisasi. Politik pemiskinan dan pembodohan ini dilakukan oleh angkatan bersenjata milik Perancis. Angkatan bersenjata ini melakukan berbagai aksi pembunuhan terhadap rakyat Aljazair yang membangkang para imperialis. Selain itu mereka membantu orang-orang Perancis sipil dan warga Eropa dalam penggusuran tanah serta jabatan-jabatan strategis dalam pemerintahan. Dengan tindakan angkatan bersenjata ini maka rakyat Aljazair menjadi miskin sehingga mereka menjadi putus asa setelah sekian lama mengadakan perlawanan. Akibat dari keputusasaan ini menyebabkan pendidikan mereka juga terlantar dan berakibat pada kebodohan. Periode antara tahun 1871 hingga 1914 dipandang sebagai puncak ketertindasan Aljazair atas penjajahan Perancis. Periode inilah Ibn Ba>di>s lahir dan tumbuh dewasa. Pada periode ini Perancis menguasai semua faktor penting di Aljazair yang meliputi sektor politik, militer, dan kekayaan negeri tersebut.[5]

Dalam rangka politik pembodohan, Perancis menghancurkan pusat-pusat pendidikan baik secara fisik maupun dengan memperlemah lembaga-lembaga tersebut. Pada masa penaklukan, Konstantin telah dikenal sebagai pusat perdagangan maupun pendidikan dengan fasilitas 35 masjid, 7 madrasah, dan 90 madrasah Al-Qur’an yang mampu menampung 1350 siswa. Pendidikan di Konstantin meliputi berbagai bidang yaitu: bahasa, retorika, logika, metafisika, teologi, hukum, dan astronomi. Di daerah Tlemcen terdapat 50 buah sekolah Al-Qur’an dan dua madrasah. Sekolah-sekolah itu telah memiliki manuskrip namun setelah penaklukan Perancis telah dimusnahkannya.[6]

Politik Kristenisasi dilakukan oleh para missionaris dengan membawa berbagai bahan makanan, pakaian, dan obat-obatan yang diberikan kepada warga Aljazair yang mau memeluk agama Kristen. Politik ini sangat mengancam keberagamaan umat Islam di Aljazair ketika itu karena akibat politik pemiskinan dan pembodohan rakyat Aljazair menjadi terjepit ekonominya. Rusaknya kondisi sosial, ekonomi yang disebabkan oleh pencabutan dan penyitaan hak milik oleh para imigran Perancis dan warga Eropa berakibat semakin memburuknya kondisi kesehatan Aljazair, ditambah lagi penderitaan para pemilik kebun yang telah diambil alih pemilikannya oleh para imigran. Setelah kehilangan kebun-kebun, mereka diperbudak untuk bekerja pada kebun-kebun mereka sendiri dengan gaji yang sangat rendah. Dengan keadaan itu semua maka kelaparan merupakan realitas di Aljazair pada masa penjajahan. Dalam kondisi yang serba sulit inilah para missionaris Kristen Perancis bergerak melakukan aksi Kristenisasi. Politik Kristenisasi Perancis berhubungan erat dengan dunia pendidikan. Anak-anak orang Islam yang orang tuanya gugur dalam pertempuran melawan Perancis dieksploitasi dan dididik dalam sekolah-sekolah missionaris agar mereka memiliki kecenderungan untuk menganut agama Kristen. Para penguasa Perancis telah memusatkan sebagian besar usaha Kristenisasi terhadap warga Barbar sebagai rangkaian pecah belah antar sesama warga Aljazair.[7]

Langkah politik Perancisasi yang dilakukan penjajah adalah dengan penggantian bahasa Arab yang telah resmi menjadi bahasa Aljazair dengan bahasa Perancis. Perancis juga berusaha membiasakan warga untuk melakukan adat kesukuan dan melepaskan hukum Islam. Disamping itu program naturalisasi juga telah dimulai oleh sebagian tokoh sekuler yang menyerukan kepada warga Aljazair untuk mengambil kewarganegaraan Perancis dengan dasar agar mendapatkan hak yang lebih banyak. Tokoh yang sangat menonjol dalam gerakan asimilasi atau naturalisasi adalah Farh}ah} Abba>s (lahir 1809). Ia meyakini bahwa masa depan Aljazair berada di tangan Perancis. Ia juga menolak pemikiran tentang kemerdekaan Aljazair.[8] Pemikiran semacam ini adalah sebagai imbas dari terlalu kuatnya cengkeraman kolonialisme Perancis yang telah masuk pada masa semua sektor.

Akibat dari penjajahan Perancis yang banyak merubah keadaan sosial, ekonomi, budaya, dan aspek-aspek lainnya maka muncullah berbagai perlawanan di daerah dan munculnya berbagai paham. Paham yang dimaksud adalah seperti nasionalisme yang merupakan proses paling kompleks di Aljazair. Dalam beberapa hal nasionalisme Aljazair telah berkembang bukan hanya sebagai gerakan untuk mengatasi hilangnya identitas Aljazair, namun juga sebagai upaya untuk menciptakan dan menekankan identitas kliusus dalam menghadapi kekuatan, destruktif kolonialis Perancis.[9]

Betapapun keadaannya Islam telah mampu memainkan peranan penting dalam sejarah perkembangan politik Aljazair. Ia tidak saja hanya sebagai. agama rakyat, namun juga merupakan sumber solidaritas dan persatuan. Ia merupakan suatu komponen integral dalam gerakan kemerdekaan dan nasionalisme. Sejak penyerbuan Perancis pada tahun 1830, Islam telah memberikan perlindungan terhadap identitas kolektif kepada rakyat Aljazair. Sentimen Islam merupakan sumber perlawanan anti sosial yang terus mengalir. Ibn Ba>di>s sebagai tokoh pembaharu Islam di sana berhasil mendirikan Perhimpunan Ulama Aljazair (Association of Muslim ‘Ulama’ of Algeria) yang slogannya adalah: “Islam Agamaku, Arab Bahasaku, Aljazair Tanah Airku”. Asosiasi ini telah berhasil menggabungkan reformasi Islam dan Nasionalisme. Media untuk menyebarkan ajaran-ajarannya adalah melalui jaringan masjid-masjid dan sekolah-sekolah.[10]

Nasionalisme Aljazair dapat tertanam kuat di kalangan generasi muda Aljazair berkat jasa para ulama dan tokoh-tokoh yang telah memberi legitimasi Islam dan menggerakkan dukungan dengan cara bergabung bersama para pemimpin Islam tradisional dalam rangka penyebaran nasionalisme tersebut. Nasionalisime ini tidak hanya bercorak Arab namun bercorak Islam. Usaha ini merupakan hal yang mudah diterima oleh rakyat Aljazair karena memang masyarakat dan kebudayaan mereka berakar kuat pada agama Islam.[11]

Kendala yang dihadapi dalam mengembangkan nasionalisme ada beberapa hal, antara lain sedikitnya lembaga-lembaga yang dijadikan jaringan untuk itu sehingga sulit berkembang karena tekanan penguasa Perancis. Faktor dari dalam Islam sendiri adalah sebagian dari tokoh-tokoh agama telah berkolaborasi dengan Perancis sebagai usaha mereka untuk mencari kedudukan. Sebenarnya gerakan nasionalisme juga pernah dilakukan oleh para penganut sufi yang dengan melakukan perlawanan daerah mereka berhasil melakukan persaudaraan keagamaan sebagai dasar melakukan perlawanan penjajah. Selama periode awal penjajahan mereka telah memainkan peranan penting dalam perlawanan kultural dan militer. Tokoh sufi terkenal yang pernah melakukan perlawanan terhadap Perancis tersebut adalah Ami>r ‘Abd al-Qadi>r al-Jaza>iri> dengan tarekatnya Rah}ma>niyah.

Organisasi gerakan nasionalis pertama abad ke-20 di Aljazair didirikan di Perancis, pada tahun 1926 di bawah pimpinan Mus}alli> H}ajji>.[12] Organisasi ini bertujuan untuk kemerdekaan Aljazair secara penuh. Gerakan ini pada mulanya berorientasi pada Marxisme, akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya menekankan nilai-nilai Islam dan nasionalis Arab. Perubahan orientasi pada Mus}alli> H}ajji terhadap organisasinya ini terjadi setelah ia bertemu dan banyak berdiskusi dengan Arsalan,[13] seorang tokoh yang telah menghidupkan dua kutub spektrum politik di Aljazair. Dua spektrum ini adalah majelis ulama yang berorientasi pada reformasi Islam dan kelompok Mus}alli> H}ajji yang berorientasi pada sosialisme-populis.

Gerakan-gerakan politik yang muncul sebagai dampak nasionalisme setelah akhir Perang Dunia pertama bersamaan dengan kembalinya sejumlah tentara Aljazair dalam jaiaran angkatan bersenjata Perancis adalah sebagai berikut:

  1. Gerakan Wih}dat al-Nuwwa>b al-Muslimi>n

Gerakan ini didirikan oleh Ami>r Khali>d ibn al-Hasyi>m. Tujuan gerakan ini adalah memberi hak memilih kaum muslimin Aljazair dalam hal penghapusan undang-undang pengecualian, persamaan hak secara penuh antar warga Aljazair dengan Perancis untuk mendapat pengakuan dalam menduduki semua jabatan di segala sektor, hak dalam pendidikan, kebebasan pers, pengampunan politik, dan kebebasan pekerja Aljazair dalam bekerja dan imigrasi. Dalam rangka menyebarkan gerakan tersebut maka orgardsasi ini menerbitkan harian al-Iqda>m.[14]

  1. Perhimpunan Najm Syamal Afri>qi>

Perhimpunan ini didirikan oleh Mus}alli> H}ajji yang bertujuan untuk menyerukan kemerdekaan penuh bagi Maroko, Aljazair, dan Tunisia. Pada perkembangannya perhimpunan ini dibubarkan oleh Perancis pada tahun 1937. Setelah perhimpunan ini dibubarkan selanjutnya Mus}alli> H}ajji mendirikan organisasi H}izb al-Sya’ab al-Jaza>’iri>. Tujuan organisasi ini tidak jauh berbeda dengan perhimpunan yang didirikan sebelumnya yaitu kemerdekaan penuh bagi Aljazair dalam kerangka peradaban Arab Islam.[15]

  1. Gerakan Ittih}a>d al-Muntakhabi>n al-Muslimi>n

Pada tahun 1930 Mah}mu>d ibn Jala>l dan Farh}ah} Abba>s menyerukan tuntutan politik pembauran Perancis dengan dasar persamaan Aljazair dengan Perancis dalam hal pemerintahan, perundang-undangan, hak dan kewajiban. Farh}ah} Abba>s menolak segala pemikiran tentang kemerdekaan Aljazair, Pada tahun 1936 ia menulis:

“Apabila saya menemukan bangsa Aljazair, saya mesti akan jadi nasionalis dan saya tidak akan malu karenanya meskipun itu merupakan suatu kriminal, ...... tetapi saya tidak akan mati bagi tanah air Aljazair, karena tanah air yang demikian itu tidak ada. Saya tidak menemukannya. Saya mempertanyakan sejarah, saya mempertanyakan kehidupan dan kematian. Saya telah mengunjungi pemakaman-pemakaman, tidak seorangpun yang menceritakan kepada saya tentang hal itu ...... Kita suatu ketika dan selamanya menyebarkan fantasi bagi masa depan kita dengan karya Perancis di tanah ini.[16]

 

  1. Jam’iyyat Ulama>’ al-Muslimi>n al-Jaza>’iriyyah

Organisasi ini didirikan oleh para ulama Aljazair pada tanggal 5 Mei 1931 dan Ibn Ba>di>s terpilih sebagai ketua. Tujuan organisasi ini adalah memperbaiki akidah umat Islam, memahamkan hakekatnya serta menghidupkan warisan serta sejarahnya, menuntut kembalinya masjid-masjid dan tanah-tanah wakaf yang telah dirampas oleh Perancis, kebebasan pengajaran bahasa Arab, membela identitas Aljazair, persaudaraan Islam, dan lain-lain. Meskipun organisasi ini dalam anggaran dasarnya melarang keras pembahasan masalah politik dan masuk dalam gerakan politik apapun bentuknya, namun organisasi ini dengan melihat tujuannya jelas merupakan suara yang mengekspresikan cita-cita umat dalam mengembalikan kejayaannya dan mengembalikan perannya dalam sejarah Islam dan bahasa Arab.[17]

Timbulnya gerakan-gerakan dan organisasi Aljazair pada masa penjajahan Perancis tidak akan terlepas dari berbagai pengaruh luar negara-negara Islam. Negara-negara Islam seperti Tunisia yang di sana terdapat Universitas Zaytunah yang menyebarkan pembaharuan Islam telah disaksikan oleh para mahasiswa Aljazair yang belajar di sana. Kebangkitan sekolah-sekolah dengan metode pendidikan yang modern, asosiasi sastra dan-politik, dan media yang bebas dalam mengobarkan kampanye tentang perlawanan terhadap kolonialisme berkembang di Tunisia. Propaganda anti Perancis masuk ke Aljazair terutama melalui media di Tunisia dan Arab. Kegiatan intelektual di Aljazair berkembang melalui penyelundupan buku-buku melalui Tunisia. Semua buku-buku dan koran Mesir semuanya ada di Tunisia. Media belajar yang berupa buku-buku dan koran meliputi unsur-unsur bidang sastra, politik, dan keilmuan lainnya. Bahkan kaum terpelajar Aljazair di Tunisia memiliki hak istimewa untuk membaca sejumlah surat kabar, jurnal, buku-buku Arab dan Tunisia Universitas Masjid Zaytunah sehingga memberikan sumbangan bagi kebangkitan Aljazair pada masa peralihan abad ini sangat efektif melalui saluran-saluran pendidikan, politik, dan intelektual terutama media cetak.[18]

Mesir, bagi orang-orang terpelajar adalah jantung atau pusat dunia Islam yang memang pada masa itu Mesir merupakan pusat kemajuan budaya yang besar. Mesir telah memberikan sumbangan yang tak kalah pentingnya bagi Aljazair dibandingkan dengan Tunisia. Pengiriman majalah, buku, dan surat kabar yang diterbitkan di Kairo banyak mengembangkan ajaran Pan-Islamisme dan. Berbagai pandangan sosio-politik revolusioner. Terbitan ini banyak dibaca oleh kaum terpelajar Aljazair. Koran yang terbit di Mesir juga banyak membahas tentang situasi dan kondisi Aljazair dan juga sebagai penyambung lidah pandangan orang-orang Mesir dengan pandangan orang-orang Aljazair, intiatif-inisiatif pribadi dan kolektif untuk memelihara identitas budaya, semakin nyata. Buku-buku pembaharuan Islam dari Mesir menjadi tersebar dan sehingga dibangunlah tempat-tempat pusat baca bagi orang-orang Aljazair. Gagasan-gagasan pembaharuan sosial politik yang sampai ke Aljazair melalui artikel-artikel yang ditulis dalam media massa Mesir dan Arab, telah mengilhami pembaharuan mereka sendiri. Jadi jelaslah bahwa perkembangan pemikiran di Mesir kala itu telah banyak masuk dan mempengaruhi perkembangan pemikiran di Aljazair.[19]

Akibat dari banyaknya artikel, koran, buku-buku, dan media lainnya dari Mesir dan Tunisia yang masuk ke Aljazair maka tidak dapat dihindari bahwa pemikiran ‘Abduh dan Rasyi>d Rid}a> yang telah banyak menyebar di kedua negara itu juga ikut mempengaruhi pemikiran yang berkembang di Aljazair. Selain itu kunjungan Abduh pada tahun 1903 ke Aljazair yang disambut oleh para pembaharu awal Aljazair juga merupakan salah satu faktor pendorong penyebaran pemikiran Abduh. Selama kunjungannya ke Aljazair Abduh sempat memberikan ceramah tentang tafsir dan sekaligus menafsirkan surat al-Ashr di depan para tokoh muslim pembaharu Aljazair. Faktor terpenting masuknya pemikiran Abduh dan Rasyi>d Rid}a> di Aljazair adalah jurnal al-Mana>r yang memiliki popularitas besar di Tunisia yang banyak dihuni oleh para imigran Aljazair. Selain itu dukungan ‘Abduh kepada muridnya, Rasyi>d Rid}a> yang berupaya menetapkan kebijakan agar al-Mana>r tidak bermusuhan dengan Perancis, dapat mempercepat masuknya pemikiran ‘Abduh ke Aljazair dan Tunisia dengan leluasa. Pemikiran ‘Abduh yang tertuang dalam bukunya Risa>lat al-Tauh}i>d, banyak berkembang di Aljazair karena kitab tersebut menjadi sumber utama para pengajar di berbagai pusat pendidikan di Aljazair. Begitulah pengaruh Abduh meluas ke Aljazair bahkan meluas dari Ibn Ba>di>s sebagai individu sampai ke organisasi dan penerbitan-penerbitannya sehingga merata ke Aljazair.[20]

Dengan uraian di atas maka secara garis besar spektrum politik dan kebudayaan Aljazair dapat dibagi menjadi tiga :

1.      Majelis ulama (tradisionalis yang mempromosikan Islamisasi dan Arabisme dan memiliki orientasi reformasi Islam). Kelompok ini menolak kebijakan asimilasi dan undang-undang yang sewenang-wenang dan bertentangan dengan penduduk asli, terutama wajib militer.

2.      Kelompok yang berorientasi sosialisine-populis yang pada pertengahan dekade 30-an terjadi pergeseran orientasi menjadi gerakan Islami.

3.      Kelonipok yang berasaskan persamaan yang mencoba meneruskan persahabatan dengan Perancis. Mereka ini sangat memuji kebudayaan Perancis.

Kelompok pertama dipelopori oleh para ulama, kelompok kedua oleh Mus}alli> H}ajji> dan kelompok ketiga oleh Farh}ah} ‘Abba>s.

 

B.     Biografi Ibn Ba>di>s

1.      Keluarga Ibn Ba>di>s

Nama lengkap Ibn Ba>di>s adalah ‘Abd al-H{ami>d ibn Muh}ammad al-Mus}t}afa> ibn Makki> Ibn Ba>di>s. Ia dilahirkan di daerah S{anhaji>, Konstantin, Aljazair, pada tanggal 13 Rabi’ al-Tsa>ni> 1357 H (5 Desember 1889 M). Ayahnya adalah seorang dari ahli agama sekaligus pemuka masyarakat di kotanya. Selain itu ayahnya adalah anggota Majelis Tinggi dan Majelis Pamong Praja Aljazair.[21] Ibunya berasal dari keluarga yang terpelajar, berpangkat, dan hartawan. Leluhur Ibn Ba>di>s adalah orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi. Para leluhurnya pernah menjadi gubernur di wilayah Afrika dan Maghribi tengah selama kira-kira tahun 362-373 H pada masa khilafah Fa>t}imiyah.[22]

Selain berasal dari keluarga bangsawan, keluarganya memiliki kapasitas keilmuan yang tak diragukan lagi otoritasnya. Hal ini dapat dilihat dari beberapa leluhurnya yang pernah menjadi qa>d}i> di kota kelahiran Ibn Ba>di>s. Ditinjau dari kacamata politik keluarga Ibn Ba>di>s adalah keluarga yang pro terhadap Perancis.[23]

2.      Pendidikan Ibn Ba>di>s

Ibn Ba>di>s pada masa kecilnya belajar ilmu-ilmu agama di kota kelahirannya sampai berumur 19 tahun. Ia berhasil menghafal Al-Qur’an pada usia 13 tahun. Setelah berhasil menghafal Al-Qur’an lalu menekuni ilmu-ilmu bahasa Arab dan keislaman lainnya di sebuah sekolah tradisional di bawah bimbingan gurunya H}amdan al-Wa>nisi>.[24]

Setelah menempuh pendidikan di Konstantin, pada tahun 1908 ia melanjutkan belajarnya ke Universitas Zaytunah, Tunisia, selama kurang lebih empat tahun. Setelah itu ia mengajar pada universitas tersebut. Selama belajar di Zaytunah kecerdasan dan kecakapan Ibn Ba>di>s diketahui oleh para dosennya. Di sinilah ia belajar ilmu-ilmu al-Qur'an dan hadits di bawah asuhan Syaikh Muh}ammad al-Mawa>si>. Guru-gurunya yang mewarnai pemikiran Ibn Ba>di>s di Zaytunah ialah Muh}ammad al-Khid}r H{usain, Syaikh al-S{a>lih} al-Nayfar, dan ulama-ulama terkemuka lainnya.[25] Ia menyelesaikan pendidikannya, di Zaytunah pada tahun 1912 dengan mendapat prestasi cum laude.

Setelah selesai pendidikannya di Zaytunah, pada tahun yang sama ia pergi haji dan di Madinah ia bertemu dengan gurunya yang lama yaitu H{amdan al-Wa>nisi> beserta Syaikh al-Basyir al-Ibra>hi>mi>. Di sini ia diberi nasehat oleh gurunya agar ia tidak mencari jabatan di pemerintahan. Ia diminta gurunya untuk inelakukan pembaharuan di Aljazair melalui pengajaran dan dakwah. Untuk beberapa lama, kurang lebih tiga bulan ketiga orang ini selalu berdiskusi mengenai kedudukan negara Aljazair dan mereka bepikir bahwa negara saat itu membutuhkan suatu organisasi yang menghimpun para ulama Aljazair untuk melakukan pembaharuan agama.[26]

Sekembalinya dari Madinah Ibn Ba>di>s berkunjung ke Libanon. Suria, dan Mesir. Ketika berada di Mesir ia bertemu Syaikh Bakhi>t dan diberi ijazah mengajar. Syaikh Bakhi>t adalah mantan penasehat negara Mesir. Setelah itu Ibn Ba>di>s mengajar di Zaytunah, namun tak lama kemudian ia kembali ke kota kelahirannya dan mulai mengajarkan ilmu-ilmu agama di masjid raya Hijau di Konstantin. Dengan modal ilmu-ilmu yang diperolehnya di Zaytunah serta hasil dari kunjungannya ke berbagai negara, Ibn Ba>di>s mengajar masyarakatnya dengan tekun.[27]

Dari berbagai kunjungannya ke negara-negara tersebut ia bertemu dengan para ilmuwan, budayawan, dan juru dakwah. Semua ini ikut andil dalam pembukaan jalan bagi Ibn Ba>di>s untuk membentuk kepribadiannya dan membuka cakrawala ke depan serta melakukan reformasi Islam. Di masjid Hijau inilah Ibn Ba>di>s mulai membina generasi muda Islam yang dipersiapkan melakukan gerakan salafiyah yang bersumber dari Al-Qur’an dan menanamkan kesadaran budaya dan meyakini Islam sebagai peradaban manusia yang sesuai dengan ilmu pengetahuan.[28]

3.      Karya-karya Ibn Ba>di>s

Selain banyak berdakwah dan mengajar serta berbagai penerbitan majalah dan surat kabar, Ibn Ba>di>s memiliki berbagai karya tulis, di antaranya:

a.       Tafsi>r Ibn Ba>di>s fi> Maja>lis al-Tadzkir min Kala>m al-H}aki>m al-Khabi>r

b.      Min Huda> al-Nabawi

c.       Min Rija>l al-Salafi> wa Nasya>'uh

d.      Aqi>dat al-Tauh}i>d min al-Qur’a>n wa al-Sunnah

e.       Ah}san al-Qas}as}

f.       Risa>lah fi al-Us}u>l

g.      Majmu’ah Khat}b wa Maqa>la>t Ibn Ba>di>s

h.      Majmu’ah Kabi>rah min Maqa>la>t a-Siya>siyyah wa al-Ijtima>’iyyah[29]

 

 

 

C.    Perjuangan Ibn Ba>di>s

Perjuangan Ibn Ba>di>s dalam rangka membangun masyarakat Aljazair dapat dilihat dari keragaman kegiatan yang dilakukannya. Usaha-usaha tersebut meliputi hal-hal sebagai berikut :

1.      Pendidikan

Pada masa penjajahan Perancis, pendidikan di Aljazair ditekan sedemikian rupa oleh berbagai undang-undang yang bermuara pada penghancuran nasionalisme Aljazair yang menyebabkan berbagai perlawanan terhadap tirani kolonialis. Kebijakan-kebijakan Perancis yang berupa larangan terhadap pengajaran tafsir, sejarah Aljazair, kesusastraan Arab, ilmu hitung, dan ilmu pengetahuan bertujuan untuk menekan jumlah kaum terpelajar Aljazairsampai batas minimal, hilangnya nasionalisme dengan hilangnya bahasa Arab, Perancisisasi, dan penggabungan Aljazair menjadi bagian wilayah Perancis. Jelas sekali bahwa kebijakan-kebijakan tersebut bertujuan untuk melestarikan kedudukan Perancis di Aljazair.

Melihat kenyataan itu Ibn Ba>di>s prihatin dan sedih sehingga sekembalinya dari Madinah beliau giat melakukan kegiatan belajar mengajar. Hal ini juga berkaitan erat dengan anjuran gurunya agar ia mengajar dan berdakwah. Dalam rangka menciptakan revolusi pemikiran dan politik di negerinya ia melakukan proses pengajaran di masjid kota kelahirannya. Arah pendidikan Ibn Ba>di>s yang pertaina ditujukan kepada orang tua dan anak-anak usia sekolah. Anak usia sekolah yang tidak dapat pendidikan resmi dari pemerintah Perancis, walaupun orang tua mereka terkena pajak dan wajib militer, telah mencapai 90 %. Anak-anak yang begitu banyak diarahkan Ibn Ba>di>s untuk belajar di bawah asuhannya dengan masih bertempat di masjid Hijau tersebut. Ia percaya bahwa kesempatan mendapat pendidikan bagi anak laki-laki dan perempuan adalah sama. Pendidikan bahasa Perancis, disamping pelajaran tentang ilmu-ilmu agama, juga dimasukkan dalam kurikulum pengajarannya. Ibn Ba>di>s berusaha menggabungkan sistem pengajaran tradisional dengan modern sehingga anak-anak didiknya tidak ketinggalan wacana kemodernan. Ibn Ba>di>s mengajar di masjid Hijau mulai tahun 1913 M sampai akhir hayatnya pada tahun 1940 bulan April.[30]

Golongan orang, tua, oleh Ibn Ba>di>s diberikan ceramah-ceramah agama yang berpusat di masjid. Begitu pula anak-anak sekolah juga berpusat di masjid karena memang belum ada prasarana pendidikan yang menunjang kegiatan Ibn Ba>di>s selain masjid. Baru setelah tahun 1918, ia berhasil mendirikan sekolah muslim untuk anak-anak perempuan. Sekolah itu berhasil mendirikan asosiasi pendidikan dan pengajaran (Jam’iyyah al-Tarbiyyah wa al-Ta’li>m). Biaya yang ia peroleh berasal dari kekayaan orang tuanya dan hartanya sendiri. Berkat kegigihannya dengan dibantu para ulama ia berhasil mendirikan banyak sekolahan yang mencapai 350 buah dan meluluskan 150.000 pelajar yang fasih berbahasa Arab.[31]

Adapun tujuan pendidikan bagi Ibn Ba>di>s adalah :

a.       Membentuk generasi muslim yang mahir dan paham tentang agama Islam secara menyeluruh. Ibn Ba>di>s mengatakan :

“Para pembina putra-putri kita harus mengajar mereka syari’at agar menjadi bekal dan membentuk mereka dengan karakter pendidikan Islam yang tinggi untuk berbagai bidang kehidupan.[32]

b.      Membentuk kepribadian muslim yang sempurna. Ia mengatakan :

“Semua ajaran syari’at yang kita ambil berupa ilmu dan amal, sebenarnya untuk sedapat mungkin agar kita mencapai kesempurnaan dalam kehidupan individu maupun masyarakat. Contoh kesempurnaan itu semua ada pada keteladanan Nabi Muhammad SAW yang agung.”[33].

c.       Mengambil serta memanfaatkan kemajuan teknologi modern. Ibn Ba>di>s berkata.:

“Jika Anda ingin hidup maka jadilah orang yang berjalan mengikuti masa di mana Anda hidup dengan tata aturan pergaulan. Jadilah orang modern dalam pikiran, perbuatan, pengalaman, industri pertanian, peradaban, dan kemajuan Anda.”[34]

d.      Membentuk jiwa yang aktif dan menjadi lambang dalam berjuang meraih kemerdekaan. Dengan mengajar di sekolah-sekolah Ibn Ba>di>s menekankan jati diri Aljazair adalah negara Islam yang berbahasa Arab. Maka jelas bahwa untuk menanggulangi politik penjajahan Perancis yang berusaha melemahkan agama Islam, maka Ibn Ba>di>s telah menanamkan jiwa nasionalisme. Pada saat yang sama ia berarti telah memperjuangkan prinsip-prinsip yang mengacu pada kemerdekaan. Seorang ulama, al-Basyi>r al-Ibra>hi>mi> menggambarkan tindakan-tindakan Ibn Ba>di>s dalam bidang ini seraya mengatakan :

“Aljazair telah m.ulai bangkit dengan pendidikan seperti ini dan tokohnya ‘Abd al-H}ami>d ibn Ba>di>s menempati posisi tinggi. Dia terjun dalam dunia pendidikan selama dua puluh lima tahun untuk mempersiapkan generasi masa depan sehingga hasil didikannya, satu generasi penuh adalah yang menjadi tiang kebangkitan sekarang yang telah dipersiapkan untuk hidup dan untuk memimpin”.[35]

 

Pendidikan menurut Ibn Ba>di>s adalah bertahap, mulai dari pembentukan pribadi, keluarga, masyarakat dan berakhir pada perhatian umat Islam secara umum. Dengan begitu maka yang ikut berperan dan bertanggungjawab dalam masalah pendidikan adalah semua pihak baik bersifat individu maupun kolektif. Seluruh kehidupan Ibn Ba>di>s banyak dicurahkan untuk kepentingan pembaharuan pendidikan, sosial dan kebudayaan.

 

2.      Jurnalistik

Perkembangan pers sangat berarti bagi kebangkitan Aljazair, karena berbagai pemikiran dapat tersebar melalui pers dalam rangka mencerdaskan dan memperluas cakrawala rakyat Aljazair. Hal ini misalnya dapat dilihat dari kutipan pandangan ‘Abduh yang disebarkan oleh Ibn Ba>di>s melalui majalahnya al-Syiha>b.[36]

Dalam rangka menyebarkan dan mengkampanyekan ide-ide pembaharuan serta membersihkan praktek-praktek agama yang menyimpang, maka Ibn Ba>di>s terjun dalam dunia jurnalistik. Setelah belajar di Universitas Islam Zaytunah Tunisia, ia mencurahkan perhatiannya secara khusus mengajar di masjid Hijau dan memimpin sebuah kehidupan yang hebat hingga tahun 1925. Dalam pada itu ia juga terjun ke dunia jurnalistik dan mendirikan sebuah percetakan surat kabar dan menerbitkan untuk pertama kalinya yang ia beri nama al-Muntaqid (“The Critic”). Surat kabar ini sempat beredar selama beberapa bulan.[37]

Dengan melihat judul surat kabarnya sudah sangat jelas tujuan penerbitan ini. Tujuan dari penerbitan pertania kalinya Ibn Ba>di>s berusaha untuk memberikan kritik kepada kaum sufi di negaranya yang menyebarkan slogan I’taqid la> tantaqid (yakini dan jangan mengkritik). Selain memberikan kritik kepada tindakan kaum sufi ia juga membangun kritik terhadap tindakan-tindakan pemerintahan penjajah terhadap bangsa Aljazair. Ibn Ba>di>s memberikan kritik pada golongan sufi yang dianggapnya telah banyak melakukan praktek-praktek bid’ah dan khurafat.[38]

Pada tahun yang sama ia juga menerbitkan pers cetaknya yang diberi nama al-Mat}ba’ah al-Jaza>’iriyyah al-Isla>miyyah. Setelah al-Muntaqid yang sempat beredar 18 edisi, kemudian Perancis melarang penerbitannya karena disadarinya sebagai suatu ancaman. Setelah al-Muntaqid tidak beredar kemudian ia menerbitkan jurnal al-Syiha>b. Penerbitan ini mula pertama ditetapkan sebagai tabloid namun pada tahun 1929 mulai bulan Februari; al-Syiha>b memuat berbagai pandangan dan pemikiran Ibn Ba>di>s serta para pengikutnya ikut menyumbangkan tulisannya yang mempromosikan pembaharuan. Al-Syiha>b merupakan pers milik pribadi Ibn Ba>di>s yang mewakili pandangan-pandangannya yang dituangkan dalam bentuk tulisan.[39]

Selain memiliki pers secara pribadi Ibn Ba>di>s secara kolektif bersama asosiasi ulama Aljazair menerbitkan jurnal al-Basha>’i>r, al-Sunnah al-Muhammadiyyah, al-Syari>’ah al-Mut}ahharah, dan al-S}ira>t} al-S}a>wi>. Karena asosiasi ulama tersebut dicurigai oleh Perancis maka tidak dapat berumur panjang dan segala bentuk pcnerbitannya pun terhenti termasuk pers milik pribadi Ibn Ba>di>s. Ia memberhentikan penerbitan al-Syiha>b pada bulan September tahun 1939 bukan atas desakan pihak manapun akan tetapi ia lakukan agar tidak memihak Perancis menjelang meletusnya Perang Dunia ke-II.

Media massa sebanyak itu diterbitkan dan ikut ditangani oleh Ibn Ba>di>s sebagai sarana untuk menyampaikan gagasan-gagasan serta pesan-pesannya kepada seluruh lapisan masyarakat Aljazair.[40]

3.      Organisasi

Ibn Ba>di>s dan beberapa temannya berhasil memobilisasi sejumlah ulama Aljazair sehingga pada tahun 1931, ia berhasil mendirikan asosiasi ulama Aljazair. Hal utama yang dituju dalam organisasi dan jurnal al-Syiha>b adalah menentang pemimpin-pemimpin tarekat dan praktek-praktek Islam populer serta mencela asimilasionisme. Tidaklah diragukan lagi bahwa asosiasi ini diilhami oleh gerakan salafiyah terutama ‘Abduh dan murid-muridnya.[41] Ah}mad Taufi>q al-Madani>, salah seorang anggota inti asosiasi ini menyerukan kepada para pembaca bukunya yang berjudul “Kita>b al-Jaza>’ir” untuk mengadopsi ke dalam perkataan tentang slogan: “Islam Agamaku, Arab Bahasaku, Aljazair Tanah Airku.”[42] Slogan tersebut merupakan slogan yang digunakan asosiasi ulama Aljazair dalam rangka menggabungkan reformisme Islam dan Nasionalisme.

 

D.    Ide-ide Ibn Ba>di>s

Ide-ide Ibn Ba>di>s dapat dilihat dari berbagai tindakan dan perkataan-perkataanya pada masa hidupnya. Ia merupakan figur gerakan reformasi Islam yang mengambil.inspirasi dari pembaharu Mesir, yakni ‘Abduh dan muridnya Rasyi>d Rid}a> dengan gerakan salafiyah serta menegaskan pentingnya merujuk secara langsung dari al-Qur’an dan al-Hadits sebagai sumber utama umat Islam dalam akidah dan syari’at. Ia menekankan kepercayaan akan keesaan Tuhan, mencela politheisme, dan menegaskan pada umat Islam untuk membuka wacana ilmu pengetahuan. Ibn Ba>di>s mengambil prinsip-prinsip reformasi Islam dengan merujuk kepada al-Qur’an. Prinsip-prinnsip yang ia ambil merupakan prinsip yang masih bersifat umum yang meliputi kepercayaan kepada Tuhan, kasih sayang, respek terhadap kebenaran, perniagaan, dan berpegang teguh pada inti moral.[43]

Penegasannya dalam hal tauhid digunakan sebagai dasar untuk memberikan kritikan atas berbagai keyakinan dan praktek-praktek sufi. Para pembaharu mencela praktek-praktek pengkultusan terhadap orang suci dan kepercayaan terhadap kekuatan ghaibnya serta menggunakan akal untuk menyerang para sufi di daerah pedusunan. Ibn Ba>di>s memandang sebagian aliran-aliran tasawuf sebagai alat penjajah dalam menaklukkan rakyat karena mereka telah membantu dan berkolaborasi dengan penjajah. Ibn Ba>di>s menegaskan bahwa penjajah dapat menancapkan kekuasaannya di negara muslim dengan kekuatan umat Islam sendiri.[44] Sikap yang ditentang ini adalah sikap fatalisme para penganut tarekat tertentu. Di pihak lain ia memuji sebagian tarekat sufi yang telah menjaga kebudayaan Arab Islam dan melakukan perlawanan terhadap penjajahan Perancis seperti tarekat Rah}ma>niyah dan Qadariyah.[45]

Ibn Ba>di>s memiliki pandangan bahwa Islam terbagi menjadi dua, pertama Islam yang diwariskan secara turun temurun dan kedua, Islam yang berdiri pada pikiran yang sehat, sebagai hasil kajian yang mendalam. Bentuk Islam yang kedua inilah yang dapat memahami al-Qur’an dan Hadits sesuai kemampuannya sehingga mampu mengetahui nilai-nilai keislaman yang lebih dibandingkan dengan agama lain. Dengan mengetahui berbagai keunggulan Islam maka orang akan bangkit dengan disertai kekuatan Tuhan. Ibn Ba>di>s mengatakan :

“Kita kemarin, ketika belum menoleh ke masa lalu dan kekuatan ilahiyah tidak seorang pun menganggap keberadaan kita. Adapun sekarang setelah kita berbekal diri meskipun belum sempurna, kita dapat mengatakan keberadaan kita dan membuat takut setelah kita merasa takut”[46]

 

Dalam segi akidah Ibn Ba>di>s berpandangan bahwa akidah Islam semuanya diambil dari al-Qur’an, sedangkan rinciannya terdapat dalam sunnah yang shahih. Hal ini sesuai dengan pendapat ‘Abduh yang telah menetapkan bahwa suatu ketetapan harus kembali kepada al-Qur’an.[47]

Keberhasilan pendidikan menurut Ibn Ba>di>s akan melahirkan generasi yang berakidah lurus sehingga menjadi jaminan bagi kebangkitan rakyat Aljazair dari kesengsaraan. Ia mengatakan :

“Kaum muslimin tidak akan menjadi baik kecuali jika para ulama baik, sebab ulama bagi umat ibarat hati, apabila hati itu baik maka baik pula tubuh, akan tetapi apabila rusak seluruh anggota tubuhpun akan rusak. Karena itu jika kita ingin memperbaiki masyarakat maka kita harus memperbaiki pendidikan.”[48]

 

Tentang politik Ibn Ba>di>s berpendapat :

“Pembicaraan kita sekarang adalah tentang ilmu dan politik sekaligus. Sebagian mereka memandang bahwa bab ini sulit dimasuki karena mereka telah terbiasa membatasi hanya pada ilmu dan menjauhi percaturan politik, padahal kita harus memadukan antara politik dan ilmu. Sedangkan ilmu dan agama tidak dapat bangkit kecuali jika politik dengan sungguh-sungguh dibangkitkan”.[49]

 

Dalam hal politik Ibn Ba>di>s berseberangan dengan tokoh Farh}ah} ‘Abba>s yang berusaha mengadakan asimilasi kebudayaan dengan Perancis. Setelah Farh}ah} ‘Abba>s mengeluarkan pernyataannya secara tertulis sebagaimana dikutip di depan, beberapa bulan kemudian Ibn Ba>di>s memberikan tanggapan atas tulisan tersebut. Ia berkata :

Sejarah telah mengajarkan kepada kita bahwa penduduk muslim Aljazair adalah seperti kita semua. Mereka memiliki sejarahnya, dilukiskan oleh perbuatan-perbuatan mulia mereka. Mereka memiliki kesatuan kesamaan mereka dan bahasa mereka ….[50] Penduduk muslim bukanlah Perancis, umat Islam tidak bisa menjadi Perancis, ia tidak mungkin diinginkan, ia tidak dapat.”[51]

 

Pandangan Ibn Ba>di>s tentang wanita dapat dilihat pada ceramahnya dalam suatu perkumpulan pada tahun 1929. Ia mengatakan bahwa kebudayaan wanita Aljazair harus Islam. Mengapa harus begitu ? Ibn Ba>di>s menjawab:

“Sebab jika mengajarkan wanita Aljazair bahasa yang bukan bahasanya dan sejarah yang bukan sejarahnya, berarti mencetak generasi Aljazair yang tidak mengenal masa lalunya, yang pada gilirannya akan menolak negaranya sendiri. Maka yang dibutuhkan di dalam menanamkan bibit nasionalisme, dimulai dari pendidikan para ibu. Apabila wanita Aljazair rusak dengan mengikuti kebudayaan penjajah maka bibit nasionalisme (cinta tanah air) pertama akan tidak tertanamkan pada anaknya yang pada gilirannya akan menghasilkan generasi yang mengingkari negerinya sendiri dan bangga dengan budaya asing.”[52]

 

Ketika Ibn Ba>di>s mendirikan asosiasi ulama, ia menghadapi gelombang naturalisasi (tajni>s) yang dipelopori oleh sebagian tokoh sekuler. Mereka menyerukan agar warga Aljazair mengambil identitas kewarganegaraan Perancis agar mendapat hak yang lebih banyak. Menanggapi gelombang naturalisasi ini Ibn Ba>di>s mengeluarkan fatwa bahwa mengambil kewarganegaraan dengan identitas bukan Islam dengan sendirinya berarti telah menolak syari’at Islam maka dihukumi sebagai murtad (keluar dari agama Islam). Orang murtad tidak akan diterima tobatnya dan hukum-hukum yang berlaku bagi kaum muslimin tidak berlaku baginya.[53]

Pada dataran politik Ibn Ba>di>s membuat pernyataan yang jelas-jelas membedakan antara apa yang disebut jinsiyyah qawmiyyah atau nasionalisme etnik pada suatu sisi dan jinsiyyah siya>siyah atau nasionalisme politik pada sisi yang lain. Nasionalisme etnik akan mendefinisikan budaya, agama, dan nilai-nilai sebagai konsep yang lebih penting. Sedangkan nasionalisme politik adalah yang berada di luar definisi pada nasionalisme etnik.[54]

Begitulah situasi dan kondisi Aljazair ketika Ibn Ba>di>s hidup. Negara sangat porak poranda baik dari segi sosial, ekonomi, kultural, agama, dan politik sebagai akibat penjajahan Perancis. Sikap sebagian warga Aljazair yang pro terhadap Perancis menjadi tantangan berat bagi Ibn Ba>di>s dalam menggerakkan agenda reformasi Islam yang bermuara pada kemerdekaan umat Islam baik secara politis maupun secara kultural.



[1] Ira M. Lapidus, A History of Islamic Societes, (New York : Cambridge University Press, 1991), hlm. 680.

[2] Fawzia Bariun, Malik Benabi, Sosiolog Muslim Masa Kini, terj. Munir A. Mun’im (Bandung : Pustaka, 1998), hlm. 9.

 

[3] Musthafa Muhammad Thahhan, Model Kepemimpinan dalam Amal Islami, terj. Musthalah Maufur, (Jakarta : Rabbani Press, 1997), hlm. 108.

 

[4] Muh}ammad Rajab al-Bayu>mi>, al Nahdhah al Islamiyah fi ….. al Muashirin, (Beirut : Dar al Fikr, 1980), hlm. 11.

[5] Ibid., hlm. 110.

[6] Fawzia Bariun, op. cit., hlm. 10.

[7] Musthafa M. Thahhan, op. cit., hlm. 112.

 

[8] John O. Voll, Politik Islam, Kelangsungan dan Perubahan di Dunia Modern, terj. Rahman Astuti, (Bandung : Mizan, 1999), hlm. 204.

[9] Ibid., hlm. 268.

 

[10] John L. Esposito, John O. Voll, Demokrasi di Negara-negara Muslim, terj. Rahman Astuti, (Bandung : Mizan, 1999), hlm. 204.

[11] Cecilia Lukman (editor), “Aljazair” dalam Negara dan Bangsa, (Jakarta : Intermasa, 1990), hlm. 71.

[12] John O. Voll, op. cit., hlm. 269.

 

[13] Nama lengkapnya adalah Syaki>b Arsalan (1869-1946). Ia adalah penyalur berita dan peristiwa di Arab Timur melalui majalah al-Fath} dan al-Mana>r (William I. Cleveland, Islam Menghadapi Barat, terj. Ahmad Niamullah, Jakarta : Pustaka Firdaus, 1991, hlm. 148).

[14] Musthafa M. Thahhan, op. cit., hlm. 113.

 

[15] Ibid., hlm. 114.

[16] John O. Voll, loc. cit.

 

[17] Musthafa M. Thahhan, op. cit., hlm. 116.

[18] Fawzia Bariun, op. cit., hlm. 30.

[19] Ibid., hlm. 32.

[20] Ibid., hlm. 34.

[21] Ernest Gellner, Muslim Society, (Melbourne : Cambridge University Press, 1993), hlm. 155.

 

[22] Lihat M. Muhammad Thahhan, hlm. 147.

[23] John O. Voll, op. cit., hlm. 269.

 

[24] Taufiq Muh}ammad Syahi>n, loc. cit.

 

[25] Taufiq Muh}ammad Syahi>n, Ta’ri>f bi al-Ima>m Abd al-H{ami>d ibn Ba>di>s, dalam Tafsi>r ibn Ba>di>s fi> Maja>lis al-Tadzki>r min Kala>m al-H{aki>m al-Khabi>r, (Beirut : Dar al-Fikr, t.t.), hlm. 705-706.

[26] Muh}ammad Rajab al-Bayu>mi>, op. cit., hlm. 13.

 

[27] Fawzia Bariun, op. cit., hlm. 41.

[28] Musthafa M. Thahhan, op. cit., hlm. 125-126.

 

[29] Taufiq Muhammad Syahin, op. cit., hlm. 716-717.

[30] Tawfiq Muh}ammad Syahi>n, loc. cit.

[31] M. Muhammad Thahhan, op. cit., hlm. 131.

 

[32] M. Muhammad Thahhan, op. cit., hlm. 132.

 

[33] Loc. cit.

 

[34] Ibid., hlm. 133.

[35] Ibid., hlm. 134.

[36] Fawzia Bariun, op. cit., hlm. 34.

 

[37] B. Lewis, V. L. Menage, C. H. Pellat and J. Scahcht, The Encyclopedia of Islam, (Leiden : Lusac and C. O., 1971), volume III, hlm. 729.

[38] M. Muhammad Thahhan, op. cit., hlm. 152.

 

[39] B. Lewis, loc. cit.

[40] M. Muhammad Thahhan, op. cit., hlm. 155

 

[41] Fawzia Bariun, op. cit., hlm. 40.

 

[42] John Ruedy, “Continuities and Discontinuities in the Algerian Confrontation with Europe”, dalam Islamism and Secularism in North Afrika, (London : Mac Millan Press, 1996), hlm. 76.

 

[43] Ira Lapidus, op. cit., hlm. 688.

[44] Musthafa M. Thahhan, op. cit., hlm. 146.

 

[45] Musthafa M. Thahhan, loc. cit.

[46] Ibid., hlm. 128.

 

[47] Moh. Natsir Mahmud, Karakteristik Tafsir Syaikh Muhammad Abduh, dalam al-Hikmah, edisi Juli-September, tahun 1993, hlm. 10.

 

[48] Musthafa M. Thahhan, op. cit., hlm. 131.

 

[49] Ibid., hlm. 140-141.

[50] John O. Voll, op. cit., hlm. 271.

 

[51] Ira Lapidus, op. cit., hlm. 690.

 

[52] Musthafa M. Thahhan, op. cit., hlm. 157.

[53] Ibid., hlm. 116-117.

 

[54] John Ruedy, op. cit., hlm. 77.