BAB III

HISTORISITAS TAFSIR IBN BA>DI>S

 

A.    Latar Belakang Penafsiran

1.      Pandangan Ibn Ba>di>s Tentang Tafsir dan Penafsiran

Ibn Ba>di>s menilai bahwa sebagian kitab tafsir yang telah ada membuat simpang siur dan hanya merupakan pemaparan berbagai pendapat yang saling berbeda sehingga membuat pandangan-pandangan parsial yang mengacu pada dialektika madzhab. Hal ini membuat para pengkaji tafsir hanya berkisar pada pendapat-pendapat tersebut sehingga tidak dapat mengembangkan pemikirannya serta menciptakan sistem taklid pada suatu pendapat dan membuat corak yang berbeda-beda karena banyaknya pendapat. Ia mengatakan :

Dalam benakku ada kegelapan ketaklidan dan rasa hormat pada pendapat-pendapat yang berbeda-beda itu. Pendapat-pendapat yang simpang siur ini menjatuhkan orang yang jatuh, dan pendapat yang shahih akan tetap ada dan Anda pun mantap dengannya. Dengan pesannya ini membuat wawasanku terbuka luas, dan belum pernah aku alami sebelumnya.[1]

 

Walaupun demikian, ia tetap menghormati kitab-kitab tafsir sebe!umnya sebagai karya ulama yang dapat dijadikan rujukan. Hal ini dapat dilihat dalam pembukaan kitab tafsirnya, dimana ia menegaskan bahwa penafsirannya diambil dari beberapa kitab tafsir, diantaranya Tafsir al-T}abari>, Tafsir al-Kasysya>f, Tafsir Abi> H}ayya>n al-Andalusi> dan Tafsir al-Ra>zi>.

Dalam bidang penafsiran, Ibn Ba>di>s menegaskan bahwa dalil-dalil akidah telah dipaparkan di dalam, al-Quran dengan sangat jelas dan mudah. Al-Quran berlaku umum, bagi semua manusia di mana dan kapan saja tidak hanya bagi masyarakat yang dekat dengan turunnya, al-Quran (Arab) meskipun terdapat ayat-ayat yang secara eksplisit berbicara kepada orang-orang Arab. Hal ini disampaikan Ibn Ba>di>s dalam. tafsirnya bahwa Nabi diutus secara khusus untuk kaumnya yaitu Arab dan beliau juga diutus untuk semua manusia secara umum.[2]

Asosiasi ulama Aljazair membuat anggaran dasar bahwa sunnah Nabi yang shahih merupakan penafsiran dan penjelasan al-Quran, perilaku orang-orang salaf yang shalih, para shahabat dan tabiin adalah pemahaman yang paling benar tentang hakekat Islam serta nash-nash al-Quran dan al-Sunnah.[3] Anggaran dasar organisasi ini menunjukkan bahwa manhaj penafsiran yang dipergunakan Ibn Ba>di>s adalah manhaj salaf, sebagaimana dikatakan Ibra>hi>m al-Basyi>r ketika menanggapi pelajaran tafsir Ibn Ba>di>s kepada para muridnya. Alasan utama yang mungkin dapat dijadikan indikator bahwa pandangan Ibn Ba>di>s tersebut mengacu pada manhaj salaf adalah kesesuaiannya dengan pandangan Ibn Taymiyah. Ibn Taymiyah menegaskan bahwa cara atau jalan menafsirkan al-Quran yang paling shahih adalah penafsiran al-Quran dengan al-Quran dan sunnah Nabi sebagai penjabaran dan penjelasan al-Quran. Dalam hal ini Ibn Taymiyah menukil pendapat al-Sya>fii>, Segala hukum yang ditetapkan Rasulullah saw adalah pemahaman terhadap al-Quran.[4]

2.      Kebutuhan Manusia akan Peringatan

Ibn Ba>di>s memandang perlunya masyarakat muslim di negaranya khususnya dan manusia pada umumnya terhadap peringatan-peringatan. Barang kali inilah yang menjadi latar belakang penulisan sebuah kitab tafsir yang dinamai dengan Maja>lis al-Tadzki>r. Peringatan dalam pandangannya merupakan hal yang terpenting yang dibutuhkan manusia sekaligus merupakan hal paling mulia dan lazim dibutuhkan. Hakekat kebahagiaan manusia dalam kehidupan adalah terangnya akal pikiran, kebersihan hati, tindakan yang lurus.[5] Untuk menerangi akal manusia dapat dicapai dengan ilmu dan memikirkan ciptaan-ciptaan Allah SWT. Dengan hal ini manusia didorong untuk mempelajari ilmu-ilmu alam. Jadi dengan adanya peringatan yang dituangkan dalam penafsiran Ibn Ba>di>s, ia mendorong umat Islam untuk memikirkan ilmu pengetahuan alam.

Peringatan yang dimaksud olehnya mencakup tentang dalil-dalil wujud Tuhan, ke-Esaan-Nya, ketetapan-Nya dalam mengurusi makhluk, kesan-kesan keutamaan, ihsan, dan kemurahan-Nya. Hal itu semua merupakan argumen terhadap keberadaan-Nya, penjelasan kepada orang-orang yang lemah akalnya, namun kebanyakan manusia terbelenggu oleh keterbatasan akalnya dan tertutup oleh segala bentuk kelalaian sehingga membabi buta memandang dalil-dalil tentang ketuhanan sehingga jatuh kedalam lumpur dosa dan kedurhakaan. Maka dari itu manusia perlu peringatan.[6]

Hal inilah mungkin menjadi salah satu faktor yang melatar belakangi Ibn Ba>di>s menafsirkan al-Quran untuk mengingatkan umat Islam khususnya di negaranya yang telah banyak melakukan kelalaian karena terlalu berat merasakan tindasan-tindasan imperialisme Perancis. Dengan kata lain Ibn Ba>di>s menafsirkan al-Quran secara langsung untuk menanggapi kebutuhan masyarakatnya disamping didorong oleh pribadinya melaksanakan kewajiban sebagai seorang ulama menjelaskan kandungan-kandungan al-Quran.

 

B.     Karakteristik Tafsir Ibn Ba>di>s

Sebagaimana telah disebutkan pada bagian pendahuluan skripsi ini bahwa metode yang dimaksud dalam pembahasan di sini adalah apakah metode ini dalam tafsir Ibn Ba>di>s menggunakan metode penafsiran ayat dengan ayat, hadits, kisah Isra>iliyya>t, atau pikiran lainnya.

Berbagai kitab tafsir yang telah tersebar di kalangan umat Islam sangat jarang yang menggunakan satu metode, misalnya hanya penafsiran ayat dengan ayat atau hadits. Kitab Tafsi>r al-T{abari> yang notabenenya disebut sebagai tafsir matsur ternyata di dalamnya banyak dijumpai penafsiran dengan rayu dari pengarangnya. Begitu pula tafsir tulisan al-Baid}awi> yang dikenal sebagai tafsir rayu ternyata juga ditemukan penafsiran dengan hadits Nabi. Kenyataan ini menunjukkan bahwa dikotomi tafsir matsur dan rayu adalah sudut pandang yang mengacu pada gha>lib (umum) metode yang ditempuh oleh seorang mufassir yang bersangkutan.

Terlepas dari perbedaan dikotomi di atas, pembahasan tafsir Ibn Ba>di>s dalam skripsi ini akan mengungkapkan berbagai metode yang ada dalam kitab tersebut. Jadi hasil pembahasan ini tidak akan menggiring kesimpulan untuk masuk salah satu dikotomi tafsir seperti di atas :

  1. Metode

a.       Penafsiran ayat dengan ayat

Metode penafsiran ayat dengan ayat banyak ditempuh oleh para ulama tafsir termasuk Ibn Ba>di>s. Metode ini ditempuh Ibn Ba>di>s dapat dilihat misalnya pada penafsiran surat al-Isra> ayat 18-19 yang berbunyi :

.

Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahanam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya itu dibalas dengan baik.[7]

 

Dalam menafsirkan ayat tersebut Ibn Ba>di>s menyampaikan bandingan ayat yang sepadan dengannya. Ia mengatakan bahwa ayat tersebut setara dengan surat al-Syu>ra> ayat 18 yang berbunyi :

Dan barang siapa menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian di akhirat.

 

Setelah itu Ibn Ba>di>s juga memberikan komentar bahwa beramal untuk dunia akan memperoleh sebagian saja dan yang tidak beramal untuk di akhirat maka tak ada bagian sedikitpun yang didapatkan di akhirat kelak.[8]

Yusuf Qardhawi mengatakan bahwa penafsir yang paling sempurna adalah yang mengikuti metode Nabi dalam menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran. Sebagaimana juga dilakukan oleh Ibn Katsi>r.[9] Apa yang terungkap secara global pada suatu tempat maka akan dirinci pada tempat yang lain, oleh karena itu ayat-ayat Al-Quran harus dikonfirmasikan satu sama lain sehingga pemahamannya menjadi utuh dan sempurna. Pada masa sahabat Nabi, mereka ketika menafsirkan al-Quran maka berpegang pada tiga hal, yaitu al-Quran yang dinamai tafsir al-Qura>n bi al-Qura>n, Nabi Muhammad saw, dan kepahaman mereka melalui ijtihad.[10]

b.      Penafsiran ayat dengan hadits Nabi

Sumber atau metode penafsiran yang ditempuh untuk memahami suatu ayat yang dilakukan oleh para shahabat adalah Rasulullah saw.[11] Hadits Nabi merupakan penafsiran al-Quran dalam praktek atau penerapan ajaran Islam secara nyata dan ideal. Hal ini merupakan sebuah keyakinan umat Islam bahwa pribadi Nabi saw merupakan perwujudan dari al-Quran yang ditafsirkan untukmanusia serta ajaran Islam yang dijabarkan dalam realitas kehidupan. Hal inilah yang dipahami oleh Umm al-Mukmini>n Aisyah r.a. dengan pengetahuannya yang dalam dan ketajaman perasaannya serta pengalaman hidupnya bersama dengan Nabi saw. Maka jelaslah bagi orang yang ingin mengetahui metode praktis Islam dengan berbagai karakteristik dan pokok-pokok ajarannya, maka hal itu dapat dipelajari melalui sunnah nabawiyah.[12]

Setiap kali Nabi menerima ayat al-Quran, beliau langsung menyampaikannya kepada para sahabat serta menafsirkan dengan sunnah qauliyah, adakalanya dengan sunnah filiyah, dan adakalanya dengan sunnah taqri>riyah namun dalam pada itu tafsir yang diterima dari Nabi sendiri sangat sedikit.[13] Hal ini menunjukkan bahwa riwayat-riwayat dari Nabi saw yang secara tekstual adalah penafsiran beliau terhadap al-Quran memang benar adanya, namun tidak semua ayat al-Quran ditafsirkan beliau dalam bentuk redaksi kata-kata yang secara eksplisit menafsirkan suatu ayat. Dalam sejarah perkembangan periwayatan hadits, Imam al-Bukhari telah meriwayatkan hadits-hadits khusus yang berisi penafsiran ayat al-Quran oleh Nabi. Dalam kitabnya S}ah}i>h} al-Bukha>ri>, menurut perhitungan Ibn H}ajar, terdapat 548 hadits marfu[14] dan hadits maus}u>l[15] sebanyak 365 yang berisi tentang hadits-hadits tafsir.[16]

Ibn Ba>di>s dalam menafsirkan ayat-ayat al-Quran juga mengambil hadits-hadits Nabi dengan tanpa menyebutkan sanadnya secara keseluruhan. Ia hanya menyebutkan rawi terakhir dan terkadang disertakan rawi pertama. Sebagai contoh, ketika menafsirkan Surat al-Furqa>n ayat 77, ia menyebutkan hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Ima>m Ma>lik.[17] Begitu pula ketika menafsirkan ayat ke 75 dan 76, ia menyitir hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Ima>m Bukha>ri> dan Musli>m dari Sad al-Khudri>.[18] Setelah mengajukan suatu hadits kemudian ia memberikan komentar secukupnya tentang makna hadits yang disebutkannya. Metode ini ia tempuh karena ia beranggapan bahwa hadits-hadits yang shahih merupakan tafsir yang baik. Hal ini dinyatakannya dalam ungkapannya, Sangatlah baik bila sebuah tafsir diikuti dengan hadits yang shahih.[19]

c.       Penafsiran ayat dengan perkataan shahabat, tabiin, tabiit tabi'in atau mufassir sebelumnya.

Ketika al-Quran diturunkan, Nabi Muhammad saw yang berkedudukan sebagai penjelas, menjelaskan kepada shahabat-shahabatnya tentang arti atau kandungan al-Quran, terutama mengenai ayat-ayat yang samar. Keadaan ini berlangsung hingga wafatnya Nabi. Penjelasan-penjelasan beliau harus diakui tidak semuanya dapat diketahui akibat tidak sampainya riwayat-riwayat tentang itu dan memang beliau tidak menjelaskan al-Quran secara keseluruhan.

Setelah beliau wafat maka para shahabat terpaksa harus melakukan ijtihad sendiri ketika menghadapi permasalahan tentang makna suatu ayat. Diantara para shahabat yang terkenal dalam hal tafsir adalah Ali> ibn Abi> T}a>lib, Ibn Abba>s, Ibn Masu>d dan Ubay ibn Kaab. Dari sekian ahli tafsir dari para shahabat, Ibn Abba>s memiliki otoritas yang sangat tinggi. Banyak pttjian yang ditujukan kepadanya, diantaranya dikatakan bahwa Ibn Abba>s bagaikan lautan ilmu bagi umat Islam. Ia seorang ahli dalam menerjemahkan pesan-pesan al-Quran. Ibn Abba>s mendapat julukan Bapak Ahli Tafsir dalam kalangan para shahabat. Ia juga pernah didoakan oleh Nabi saw agar oleh Allah diberikan keahlian bidang agama dan ilmu tafsir kepadanya.[20]

Yusuf Qardhawi berpendapat bahwa apabila ada riwayat yang shahih dari para sahabat tentang tafsir maka umat Islam harus menerimanya karena mereka menyaksikan langsung sebab-sebab turunnya al-Quran, mengetahui indikator-indikator yang menyertainya, dan mereka melihat dan mendengar apa yang tidak didengar dan dilihat orang lain, lagi pula mereka berbekal ketinggian kemampuan bahasa yang terakumulasi dari pergaulan sehari-hari, kejernihan pemahaman, keaslian fitrah, dan kekuatan keyakinan.[21]

Pendapat-pendapat atau penafsiran para sahabat dan tabiin banyak diambil oleh Ibn Ba>di>s dalam memahami suatu ayat. Sebagai contoh ketika menafsirkan surat al-Furqa>n ayat 70 yang berbunyi :

Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti dengan kebajikan dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

 

Ibn Abba>s berkata, Ayat ini turun di Makkah, ketika itu orang-orang musyrik berkata, Apakah Islam masih membutuhkan (menerima) kami, padahal (dulu) kami telah menyekutukan Allah dan kami membunuh jiwa yang Allah telah mengharamkannya untuk dibunuh, lagi pula kami telah mengerjakan perbuatan-perbuatan keji ? Maka Allah menurunkan ayat ini.[22]

 

Setelah memberikan komentar panjang lebar tentang ayat tersebut kemudian Ibn Ba>di>s kembali mengutip pendapat Ibn Abba>s mengenai masalah orang yang membunuh dengan cara tidak adil. Permasalahan yang diajukan adalah tentang taubat pembunuh itu apakah diterima atau tidak.

Ibn Abba>s berkata :

Ayat di atas diturunkan mengenai orang-orang musyrik. Adapun orang yang telah masuk Islam dan ia tahu akan hukum-hukum Islam kemudian ia melakukan pembunuhan maka tidak ada taubat baginya. Ayat ini, ayat Makkiyah yang telah dihapus oleh ayat Dan barang siapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya.[23]

 

Kutipan-kutipan pendapat para sahabat dan tabiin masih banyak dijumpai di tempat-tempat lain dalam penafsirannya. Mufassir dari kalangan para sahabat dan tabiin yang dijadikan rujukan Ibn Ba>di>s dalam penafsirannya yang lain misalnya terdapat dalam penafsiran ayat ke-7 dan 63 surat al-Furqa>n ia mengutip pendapat Muja>hid dan Ibn Abba>s.

Adapun pendapat dari para mufassir sebelumnya dari kalangan selain para sahabat dan tabiin juga merupakan salah satu metode Ibn Ba>di>s dalam menafsirkan al-Quran. Ia tidak memberikan rincian atau seleksi pendapat tokoh yang dinukilnya. Ia tidak peduli apakah tokoh yang pendapatnya diambil berasal dari kalangan Mutazilah ataupun Ahlussunnah. Hal ini dapat dilihat ketika menafsirkan al-Furqa>n ayat 72, ia mengambil pendapat Imam al-Zamakhsyari> pengarang tafsir al-Kasysya>f. Imam al-Zamakhsyari> adalah seorang tokoh ulama terkenal dari kalangan Mutazilah. Ia sangat gigih membela madzhabnya dengan argumentasi yang sangat jelas serta mengecam ulama-ulama Ahlussunnah.[24] Imam al-Jas}s}a>s} seorang ulama yang terlampau fanatik terhadap madzhab Hanafi yang telah habis-habisan melakukan pentawilan ayat-ayat al-Quran agar sejalan dengan madzhabnya,[25] juga diambil pendapatnya oleh Ibn Ba>di>s. Dalam masalah teologi al-Jas}s}a>s} mengikuti faham Mutazilah.[26] Pendapat al-Jas}s}a>s} dikutip Ibn Ba>di>s ketika memberikan penafsiran ayat 68 surat al-Furqa>n. Pendapat al-Jas}s}a>s} diambilnya ketika ia menetapkan bahwa penghalalan dan pengharaman suatu hal hanya boleh dilakukan oleh orang (mujtahid) yang mengetahui tentang kemaslahatan.

Masih banyak lagi kutipan-kutipan pendapat para mufassir sebelumnya yang diambil oleh Ibn Ba>di>s. Dalam mengambil pendapat-pendapat tersebut biasanya untuk mendukung penafsirannya, namun terkadang pendapat yang disampaikan ditampilkan Ibn Ba>di>s untuk disoroti dan dikritisi bahkan menyatakan ketidakcocokannya dengan pendapat yang dinukilnya dengan berbagai argumentasi. Cara seperti ini adalah cara yang ditempuh oleh al-Ra>zi> dalam tafsirnya Mafa>tih al-Ghayb. Al-Ra>zi> mengemukakan pendapat seseorang kemudian ia kritisi lalu membantai kemungkinan-kemungkinan sanggahan yang timbul dari pihak lainnya. Pendapat-pendapat yang dinukil oleh Ibn Ba>di>s dari kalangan tersebut meliputi pendapat Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, al-T}abari>, Ibn al-Arabi>, al-Ra>zi> al-Naysa>bu>ri>, al-Ghaza>li>, al-Qusyayri>, dan lain-lain. Dari sekian banyak kutipan Ibn al-Arabi> mendapat prioritas terbanyak dari kutipan-kutipan yang diambil pendapatnya dari para mufassir lainnya. Hal ini merupakan salah satu indikator bahwa Ibn Ba>di>s masih memiliki kecenderungan untuk menganut suatu madzhab tertentu. Indikator lainnya adalah pensyarahan kitab hadits milik Imam Ma>lik yaitu al-Muwat}t}a dan pendapat-pendapat Imam Ma>lik juga banyak diambil oleh Ibn Ba>di>s. Ibn al-Arabi> adalah seorang ulama ahli tafsir dari kalangan madzhab Ma>liki>. Dalam sejarah memang para penduduk Aljazair bermadzhab Ma>liki> sebagai hasil dari perjuangan al-Muiz ibn Ba>di>s salah seorang leluhur dari Ibn Ba>di>s.[27]

d.      Penafsiran dengan Kisah-kisah Isra>i>liyya>t[28]

Dalam memandang Isra>i>liyya>t, terjadi perbedaan pendapat Ibn Taymiyah memandang Isra>i>liyya>t bertolak tiga bagian : Isra>i>liyya>t yang termasuk dalam bagian yang sejalan dengan Islam perlu dibenarkan dan boleh diriwayatkan, sedangkan yang tidak sejalan dengan Islam harus ditolak dan tidak boleh diriwayatkan. Sementara itu yang tidak termasuk dalam bagian pertama dan kedua maka tidak boleh dibenarkan dan tidak boleh didustakan tetapi boleh diriwayatkan. Ibn Taymiyah memformulasikan pendapatnya tersebut atas dasar hadits yang diriwayatkan Imam Ah}mad dan Abu> Da>wu>d.[29] Abduh, sebagai seorang ulama khalaf, mengatakan bahwa cara-cara ulama tafsir generasi pertama yang.telah mengkaitkan al-Quran dengan Isra>i>liyya>t mengakibatkan terdistorsinya pemahaman Islam.[30] Dari sekian banyak motivasi penafsiran Abduh terhadap al-Quran, salah satunya adalah menghindari ulama tafsir yang suka menggunakan Isra>i>liyya>t sebagai penafsir al-Quran.[31] Murid Abduh, Rasyi>d Rid}a> sependapat dengan gurunya, ia mendukung untuk membawa perhatian orang-orang semasanya kepada Islam yang sesuai dengan salaf al-s}a>lih. Mereka tidak memperhatikan sedikit pun kisah-kisah orang Yahudi dan Nasrani yang masuk Islam namun senantiasa memperhatikan agar tetap bersih dari pengaruh-pengaruh asing. Rid}a> sering mengecam keras keterangan-keterangan dan komentar-komentar yang dibuat-buat yang diambil dari sumber-sumber legendaris non-Islam yang dijumpainya dari tafsir-tafsir klasik.[32]

Ibn Ba>di>s sebagaimana Abduh berpendapat bahwa riwayat-riwayat Isra>i>liyya>t yang diantaranya diriwayatkan oleh Kaab al-Akhbar dan Wahb ibn Munabbih adalah jelas kebatilannya.[33] Dari pernyataan ini jelas ia menolak penafsiran dengan kisah-kisah Isra>i>liyya>t dan kenyataannya sejauh penelitian penulis skripsi ini memang tidak ditemukan kisah-kisah Isra>i>liyya>t yang menafsirkan suatu ayat.

e.       Penafsiran dengan akal

Yang dimaksud dengan akal (rayu) adalah ijtihad yang didasarkan pada pilar-pilar yang shahih, kaidah yang murni dan tepat, bisa diikuti serta sewajarnya yang diambil oleh orang yang hendak mendalami tafsir al-Quran.[34]

Para ulama berbeda pendapat tentang kebolehan menafsirkan al-Quran dengan akal. Ada yang melarang dan ada yang memperbolehkan. Masing-masing pihak memiliki argumentasi Mahmud Basuni Faudah mengemukakan pendapatnya setelah ia melakukan kajian tentang pendapat-pendapat dari masing-masing kubu. Dari hasil kajiannya ia berkesimpulan bahwa tafsir dengan rayu terbagi menjadi dua yaitu yang tercela dan yang dipuji. Tafsir rayu yang terpuji adalah apabila penafsirannya sesuai dengan syarat-syarat yang ia tetapkan,[35] dan sesuai dengan aturan tata bahasa Arab serta uslub-uslubnya, sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah. Adapun tafsir yang tidak memenuhi syarat-syarat yang tidak disebutkan maka tafsir tersebut tidak diperbolehkan.

Ibn Ba>di>s dalam menggunakan akal pada penafsirannya memakai pendekatan yang berbeda-beda, namun yang paling banyak adalah dengan pendekatan bahasa. Dalam uraian tafsirnya ia menerapkan tentang irab dan gaya bahasa Arab. Contoh metode ini terdapat dalam penafsiran surat al-Furqa>n ayat 32 :

Berkatalah orang-orang yang kafir: Mengapa Al-Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja? Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).

 

Huruf disertai fiil mud}a>ri berfaedah takhs}i>s} contoh : (mengapa kamu semua tidak meminta ampunan hanya kepada Allah?). Apabila disertai fiil ma>d}i maka berfaedah lawm (mencela) dan taubi>kh (menegur) contoh : mengapa mereka tidak datang dengan beserta empat saksi). Dalam ayat ini kata disertai fiil ma>d}i maka berfaedah lawm (mencela) atas ketidakterwujudnya hal yang dituturkan orang-orang kafir bahkan yang terjadi adalah sebaliknya. Yang dimaksud celaan di sini adalah kenyataan bahwa al-Quran diturunkan tidak sekaligus sebagaimana keinginan orang-orang kafir namun al-Quran diturunkan berangsur-angsur, kata ini sama artinya dengan (diturunkan). Tasydid pada kata adalah padanan hamzah. Kata tersebut juga berfaedah taktsir (pengulangan) maka kata tersebut berarti diturunkan berulang kali. Adapun firman Allah :

adalah keluar dari kaedah ini. Pada ayat ini kata tidak berarti taktsir yang memiliki implikasi pada faedah tadrij (berangsur-angsur), supaya ucapan orang-orang kafir ini tidak kontradiksi dengan jumlah yang satunya lagi, maka kata tersebut sama artinya dengan yang bertasydid.

 

Kemudian Ibn Ba>di>s memberikan komentar bahasa mengenai kata tersebut. Ia mengatakan :

Menurut saya kata yang dibaca dengan tasydid berfaedah. intensitas dan kuatnya suatu pekerjaan. Faedah pengulangan pada pekerjaan terdapat dalam surat Ali Imra>n ayat 3 di atas dan yang berfaedah kuatnya pekerjaan adalah pada ayat ini. Alasannya adalah bahwa menurunkan sejumlah barang sekaligus adalah lebih kuat dibandingkan dengan menurunkan dengan berangsur-angsur.

Kata yang berarti mengkokohkan, berdirinya sesuatu dengan tanpa gerakan (goncangan) karena kokoh, adalah tafsir yang lazim maknanya karena maksudnya adalah makna asal yaitu ketenangan tanpa disertai goncangan sedikitpun. Dengan demikian kata tersebut berarti menenangkan dan menguatkan hati.

Kata berarti mengembalikan pada aturan yang ada dan memperindah susunan kata (mentartilkan al-Quran) dalam hal bacaan adalah mengucapkan huruf-huruf al-Quran satu-persatu, kata demi kata, ayat per ayat dengan pelan-pelan, sehingga dapat didengar dengan jelas oleh pembaca dan pendengarnya, tanpa ada yang samar sedikitpun. Adapun tartil dalam kaitannya dengan turunnya al-Quran adalah turunnya al-Quran dengan satu ayat, dua ayat, atau beberapa ayat secara terpisah-pisah sesuai dengan keadaan.

 

Susunan (Struktur kalimat)

Kalimat ( ...) adalah kalimat yang masih bersambung satu rangkaian) karena di sini dikatakan bahwa yang berkata adalah orang-orang kafir padahal kalimat sebelumnya juga berisi perkataan orang-orang kafir. Jumlah/ kalimat ini di-at}af-kan (disambung) dengan kalimat sebelumnya.

Kalimat secara lengkap asalnya adalah dalam kalimat itu terjadi pemendekan karena ada sesuatu indikator yang menunjukkan adanya hubungan, yaitu keberpalingan orang-orang kafir. Kalimat ini merupakan kalimat yang berdiri sendiri () karena merupakan jawaban dari keberpalingan mereka.

Kalimat adalah jumlah/kalimat yang masih bersambung karena di-at}af-kan dengan kalimat yang dibuang yang apabila diucapkan . Tanwin pada kata adalah tanwin tanwi (macam) dan taz}i>m (pengagungan) sehingga arti kata tersebut adalah dengan berbagai macam tartil yang agung.

Adapun arti kalimat adalah orang-orang kafir telah berkata. Yang dimaksud orang-orang kafir adalah Yahudi, Nasrani, dan keseluruhan orang kafir.[36]

 

Dengan melihat semua uraian di atas, maka jelaslah bahwa metode penafsiran yang diterapkan Ibn Ba>di>s dalam kitabnya adalah metode gabungan antara riwayat dan dirayat. Metode seperti ini sebenarnya sudah banyak ditempuh oleh para mufassir sebelumnya.[37] Namun yang paling dominan dalam tafsir ini adalah metode dirayat dengan berbagai macam kaitan dengan keadaan sosial masyarakat.

  1. Teknik Penafsiran

Teknik penafsiran yang digunakan Ibn Ba>di>s dalam kitabnya tidaklah sama antar satu tempat dengan tempat yang lain. Ia menafsirkan al-Quran secara tertib mushaf, meskipun banyak tidak semua penafsirannya terkumpul dalam satu kitab dan dimungkinkan tidak ditemukannya catatan-catatan tafsir yang telah dipublikasikan hanya sebagian saja. Sebenarnya ia telah selesai menafsirkan al-Quran, namun yang masih tertinggal hanyalah yang tertulis dalam jurnalnya al-Syiha>b yang tidak semuanya termuat penafsiran satu al-Quran penuh.

Adapun teknik atau prosedur penafsirannya adalah sebagai berikut:

a.       Mengemukakan satu tema yang diikuti dengan satu ayat atau beberapa ayat yang memiliki hubungan dan masih terletak dalam urutan ayat pada sebuah surat.

b.      Setelah mengemukakan tema, beserta ayat yang ingin ditafsirkan kemudian memulai penafsiran dengan muna>sabah (hubungan), penjelasan kata-kata sulit, sabab nuzul, apabila memang ada riwayat yang menerangkan dan ia anggap sah. Prosedur ini terkadang tidak runtut, dengan menempatkan sabab nuzul terlebih dahulu atau yang lainnya.

c.       Mengemukakan makna ayat secara global. Terkadang penjelasan ini diletakkan di depan setelah mengemukakan ayat dan terkadang setelah ayat didahului dengan pendahuluan.[38]

d.      Menjelaskan ayat secara panjang lebar dengan memberikan perincian permasalahan dengan sub judul tersendiri, misalnya ia mengatakan masalah pertama ..; masalah kedua ; dan seterusnya. Teknik ini ditempuh oleh Ibn al-Arabi> dalam tafsirnya Ahka>m al-Qura>n dan al-Ra>zi> dalam tafsirnya Mafa>tih al-Ghayb.

e.       Teknik dialogis. Teknik ini merupakan cara yang ditempuh oleh Imam al-Zamakhsyari>. Hal ini merupakan dampak dari dirinya yang merujuk tafsir tersebut sebagai salah satu sumber penafsirannya. Ketika menampilkan masalah terkadang yang dijadikan objek adalah perkataan orang lain, yang selanjutnya diberi jawaban oleh Ibn Ba>di>s, namun kebanyakan ia hanya menampilkan pertanyaan lalu diberikan solusi dengan panjang lebar. Contoh teknik ini dapat dilihat dalam surat al-Furqa>n ayat 20.

Dan Kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain maukah kamu bersabar ? Dan adalah Tuhanmu Maha Melihat".

 

Soal dan jawabannya

 

Soal : Apakah hikmah cobaan Allah ? Allah mengetahui segala sesuatu yang terjadi setelah mereka dicoba sebelum Allah memberikan cobaan kepada Allah.

Jawabannya : Sesungguhnya Allah menghitung amal perbuatan hamba-hamba-Nya dengan kemampuan mereka baik dalam hal pelaksanaan maupun dalam hal meninggalkan yang dilarang. Allah tidak menghitungnya berdasarkan pengetahuan Allah sebelum mereka berbuat. Sebab itulah mereka diberi cobaan oleh Allah. Mereka dicoba agar hakekatnya jelas dan balasannya dapat sesuai dengan amal perbuatan serta usaha mereka sendiri. Dengan begitu bagi mereka tidak ada bantahan tentang pengetahuan Allah yang bersifat Qadi>m. Allah mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya karena ilmu-ilmu Allah itu Qadi>m., namun tidak berarti bahwa Allahlah yang menyediakan atau mendatangkan amal perbuatan hamba-hamba-Nya. Didalam cobaan Allah ini terdapat argumen Allah atas orang-orang yang berbuat dan mereka bertanggungjawab atas dirinya sendiri dan sebagaimana mereka mengaktualisasikan dirinya sendiri di hadapan orang-orang lain.[39]

 

f.       Memberi peringatan

Salah satu karateristik teknik penafsiran Ibn Ba>di>s adalah banyak menampilkan peringatan-peringatan. Hal ini sesuai dengan judul kitabnya Maja>lis al-Tadzki>r (forum peringatan).

Peringatan-peringatan yang disampaikannya ditujukan kepada umat Islam di Aljazair khususnya dan umat Islam pada umumnya. Peringatan itu banyak terkait dengan keadaan masyarakat Aljazair, misalnya, peringatannya terhadap guru-guru tarekat yang sering mengeksploitasi para muridnya untuk mengumpulkan harta benda yang dipersembahkan kepada mereka. Hal ini sering terjadi di Aljazair sehingga Ibn Ba>di>s memberikan nasehat kepada guru tarekat tersebut lewat tafsirnya.[40]

Bentuk-bentuk peringatan Ibn Ba>di>s dalam tafsirnya yang dijadikan sub judul tersendiri memakai redaksi yang berbeda-beda, namun memiliki kesamaan arti (sinonim). Kata-kata yang dipergunakannya adalah tahdzi>r, tanbi>h, dan terkadang digunakan secara bersamaan.[41]

  1. Corak Penafsiran

Corak penafsiran pada tafsir Ibn Ba>di>s meliputi hal-hal pokok sebagai berikut :

a.       Al-Qur'an dan al-Hadits yang shahih adalah sumber utama akidah dan syariah

Pengarang kitab tafsir ini berpendapat bahwa al-Quran dan al-Hadits yang shahih adalah sumber utama ajaran Islam. Untuk menetapkan suatu ketetapan hukum harus kembali kepada keduanya. Tidak boleh menerima pendapat seseorang kecuali harus mendasarkan pada sumber tersebut.

Ibn Ba>di>s mengatakan bahwa dalil-dalil akidah dan pokok-pokok hukum Islam semuanya telah disebutkan di dalam al-Quran, sedang penjelasan dan perinciannya terdapat di dalam sunnah Nabi yang shahih. Ia juga menganjurkan pada para ulama untuk mendasari akidah-akidah agama dengan al-Quran. Hal ini wajib dilakukan karena setiap orang yang mukallaf (wajib melaksanakan syariat agama) difardhukan mengetahui dasar-dasar ilmu akidah.[42]

Ia juga mengecam orang-orang yang berpaling dari al-Quran, dan mengambil pendapat atau dalil-dalil ahli ilmu teologi yang sangat fanatik dengan alirannya. Hal ini dinilainya sebagai perbuatan meninggalkan al-Quran dan menggiring manusia untuk berfanatik terhadap suatu aliran tertentu.[43]

b.      Tidak menjelaskan hal-hal yang samar.

Penulis kitab tafsir ini tidak menjelaskan hal-hal yang samar atau hal-hal ghaib yang terdapat dalam al-Quran. Ia tidak menjelaskannya walaupun ada hadits-hadits yang menjelaskannya namun ia pandang tidak shahih. Ia mengatakan :

Keadaan yang berhubungan setelah mati dan semacamnya adalah hal yang ghaib, maka kami tidak berbicara tentangnya kecuali apa yang kami ketahui dari al-Qur'an atau ketetapan hadits shahih. Sangatlah banyak penjelasan-penjelasan mengenai hal itu dalam khabar-khabar dan riwayat-riwayat yang tidak shahih. Tidaklah diperkenankan melihat hadits-hadits tersebut. Hal-hal yang sama dengan keadaan setelah mati antara lain tentang malaikat, jin, 'arsy, al-kursy, al-nawm, al-qalam, tanda-tanda hari kiamat, dan semua yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan ilmu kemanusiaan.[44]

 

c.       Menolak adanya sihir terhadap Nabi

Ima>m al-Suyu>t}i> dalam kitabnya Luba>b al-Nuqu>l mengemukakan bahwa sebab turunya surat al-Falaq adalah tentang sihir Nabi. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Ibn al-'Arabi> dalam Ahka>m al-Qur'a>n.

Ibn Ba>di>s mengakui bahwa riwayat tentang sihir terhadap Nabi memang terdapat dalam kitab shahih, namun ia menolak pendapat bahwa riwayat itu menjadi.sebab turunnya surat al-Falaq. Ia berpendapat bahwa Nabi itu mas}u>m (terjaga) maka mustahil beliau terkena sihir dari seorang Yahudi yang bernama Lubayd ibn al-As}am.[45] Ibn Ba>di>s mengecam para mufassir sebelumnya yang mempermudah dalam memberikan batasan sebab-sebab turunnya suatu ayat. Ia juga mengecam para ulama yang begitu senang dengan riwayat-riwayat tentang keutamaan dari kedua surat tersebut (al-Na>s dan al-Falaq).[46]

d.      Keumuman kandungan al-Quran

Ketika menafsirkan al-Quran Ibn Ba>di>s banyak mengemukakan pelajaran-pelajaran, janji dan ancaman, kabar gembira dan siksa, akidah, akhlak, dan ibadah yang berlaku pada setiap masa. Ia berpegang pada al-Ibrah bi umu>m al-lafz}i la> bi khus}u>s} al-sabab (pemahaman ayat terletak pada keumuman lafazhnya, tidak hanya pada sebabnya yang khusus).[47]

Apabila Ibn Ba>di>s mengemukakan sebab-sebab turunnya suatu ayat maka yang dituju adalah pemberian contoh kasus yang dituju ayat. Dalam pada itu ia menerangkan bahwa sabab nuzul adalah salah satu bentuk penjelasan konteks turunnya ayat sehingga untuk memahami ayat tersebut harus mengambil kesimpulan dari sabab nuzul ayat kemudian dikorelasikan dengan masa sekarang. Sehingga pemahaman tentang ayat dapat sesuai dengan masanya. Menurut Abduh, sabab nuzul adalah pengetahuan akan fakta dan peristiwa dimana suatu ayat diturunkan. Dengan pengetahuan ini maka kita dapat menentukan pemahaman dan pendalaman tentang hikmah dan rahasia hukum-hukum yang dikandungnya, sehingga tidak perlu lagi terikat dengan sebab khusus dengan konteks ayat.[48]

Kaidah yang dipakai tersebut telah digunakan Ibn Ba>di>s, misalnya dalam menjelaskan tafsir Surat al-Furqa>n ayat 68 :

Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah SWT (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barang siapa yang melakukan demikian itu niscaya mendapat (pembalasan/dosanya).

 

Sebab turunnya ayat :

 

Di dalam kitab S}ahi>h Bukha>ri> dan Muslim terdapat suatu riwayat tentang sebab turunnya ayat tersebut: Abd Alla>h ibn Masu>d berkata, Ada seorang laki-laki berkata, Wahai Rasulullah dosa apakah yang paling besar ? Rasulullah menjawab, Kamu meminta kepada Allah SWT namun kamu lari dari ketentuannya padahal Dialah yang menciptakan kamu. Lalu ia bertanya lagi, Apa lagi wahai Rasulullah ? beliau bersabda, Kamu membunuh anakmu karena takut tidak dapat memberi nafkah lalu bertanya lagi, Apa lagi ya Rasulullah ? Beliau menjawab, Kamu berzina dengan wanita halalnya tetangga.[49] Lalu turunlah ayat tersebut untuk membenarkan semua jawaban Nabi kepada orang yang bertanya itu. Ayat dan hadits tersebut menjelaskan tentang dosa yang pertama dengan satu contoh, begitu pula tentang dosa kedua dan ketiga, hanya saja hadits tersebut menyodorkan salah satu dari sekian banyak kejelekan masing-masing dosa serta besarnya dosa. Ayat tersebut menyebutkan sesuatu yang bersifat umum.

Tidaklah diragukan bahwa kejelekan yang paling buruk dalam pembunuhan adalah membunuh anak sendiri karena berarti telah memutus jiwa yang akan lahir selanjutnya serta melanggar kewajiban orang tua yaitu memelihara dan menanggung anak serta. berprasangka jelek kepada Allah SWT yang senantiasa memberikan rejeki kepada semua makhluk-Nya.

Begitu pula berzina dengan wanita tetangga, adalah bentuk kejelekan yang paling buruk dalam perzinaan, karena disamping berzina juga telah melanggar kehormatan tetangga dan menyalahi amanat, disamping telah memasukkan kerusakan dalam pilar-pilar pembentukan kekerabatan dalam bermasyarakat.

 

Bentuk negatif yang terdapat dalam fiil mud}a>ri ( ) memberikan pemahaman kepada kita bahwa larangan tersebut berlaku terus menerus.[50]

 

e.       Terpengaruh Akidah Mu'tazilah.

Aliran kalam yang terdapat dalam tafsir Ibn Ba>di>s terpengaruh oleh paham Mutazilah. Hal. ini dapat dflihat ketika menafsirkan Surat al-Furqa>n ayat 20. Dalam menafsirkan ayat ini ia mengatakan bahwa manusia berbuat atas kehendak dan usahanya sendiri tanpa ada intervensi dari Tuhan.[51] Pada tempat yang. lain ia juga menyatakan kebebasan dan tanggung jawab manusia atas segala perbuatannya secara penuh yaitu dalam menafsirkan Surat Ya>si>n ayat 7-10 dan surat al-Falaq. Ketika menafsirkan surat al-Falaq ini ia mengatakan bahwa manusia dengan kemampuan pikirannya dapat membedakan antara baik dan buruk, membedakan yang lebih baik dari yang baik dan sesuatu yang lebih buruk dari yang buruk.[52]

Kalangan Mutazilah memandang bahwa manusia memiliki daya yang besar dan bebas. Al-Jubai, seorang pemuka Mutazilah mengatakan bahwa manusia menciptakan perbuatannya sendiri, apakah ingin berbuat baik atau buruk, patuh atau membangkang perintah Tuhan. Adapun daya yang digunakan untuk menciptakan perbuatan manusia menurut Abd al-Jabba>r adalah daya yang terdapat dalam diri manusia sendiri yang diwujudkan oleh Allah SWT.[53] Aliran ini juga berpandangan bahwa baik dan buruk dapat diketahui melalui perantaraan akal sebagaimana disampaikan Abu Hudzayl.[54]

Pengaruh ini masuk dalam pemikiran Ibn Ba>di>s disebabkan oleh berbagai fakta. Salah satunya adalah pendidikannya di Zaytunah yang telah banyak dipengaruhi oleh pemikiran Abduh. Pemikiran Abduh sedikit banyak telah terpengaruh dengan paham-paham Mu'tazilah dalam hal tah}si>n dan taqbi>h}, serta penolakan terhadap sihir Nabi.[55] Melalui majalah al-Mana>r, ajaran-ajaran Abduh banyak tersebar di dunia Islam termasuk Tunis dan Aljazair. Kunjungan Abduh ke Tunis selama empat puluh hari untuk melakukan pertemuan organisasi juga sangat berpengaruh bagi pembaharuan di Zaytunah. Kerangka kerja keislamannya ini disampaikan kepada pembaharu Zaytunah yang akhirnya memiliki bias kepada para mahasiswanya. Pemikiran Abduh banyak diserap oleh warga Aljazair termasuk Ibn Ba>di>s melalui media cetak, misalnya buku Risa>lat al-Tawh}i>d. Buku Risa>lat al-Tawh}i>d banyak tersebar di Aljazair dan yang paling efektif menyebarkan ajaran-ajaran Abduh di Aljazair..

Abduh juga pernah berkunjung ke Aljazair selama tiga hari dan sempat memberikan kuliah tafsir al-As}r. Begitu kuatnya pemikiran Abduh dalam wacana Aljazair disebabkab pula oleh kebutuhan warga Aljazair yang menginginkan kebangkitan Islam. Wacana kebangkitan dan pembaharuan banyak dipromosikan oleh pemikiran Abduh. Faktor lain yang mempengaruhi perkembangan pemikirannya di Aljazair adalah perkembangan pers AIjazair dan latar belakang budaya keislaman masyarakat yang sejak lama telah mengikuti corak salaf. Begitu pula tentang wacana Pan Islamisme, menurut beberapa kajian Pan Islamisme dilahirkan di Aljazair pada tahun 1830.[56]

f.       Banyak mengemukakan Muna>sabah[57] dan mukjizat Al-Quran

Cara yang ditempuh oleh para ahli tafsir dalam menjelaskan hubungan antar ayat dalam satu tema lalu menjelaskan hubungan antar ayat ada tiga macam :

i.        Mengelompokkan beberapa ayat dalam satu tema lalu menjelaskan hubungannya dengan kelompok ayat yang lain. Cara ini ditempuh oleh Abduh dalam tafsir al-Mana>r.

ii.      Menentukan tema pokok dalam satu surat lalu mengembalikan uraian kelompok ayat kepada tema pokok tersebut. Hal ini ditempuh oleh Mah}mu>d Syalt}u>t.

iii.    Menghubungkan ayat dengan ayat sebelumnya dengan menjelaskan keserasiannya. Cara ini dilakukan oleh al-Biqa'i.[58]

Mufassir yang banyak membahas tentang muna>sabah ayat adalah Fakhr al-Din al-Ra>zi> dalam Mafa>tih} al-Ghayb. Al-Ra>zi> mengatakan, Barang siapa berpikir tentang urutan surat ini (al-Baqarah) dan kehalusan urutannya, maka ia akan tahu bahwa al-Quran memiliki mukjizat dari segi kefasihan kata-katanya dan kemuliaan makna-maknanya.[59]

Dalam menafsirkan al-Quran Ibn Ba>di>s seringkali mengungkapkan keserasian (muna>sabah) ayat dengan ayat sebelumnya. Terkadang ia mengulas muna>sabah ayat per ayat atau antar kelompok ayat dalam satu surat sebagaimana ditempuh oleh al-Mara>ghi>. Ibn Ba>di>s memakai istilah muna>sabah dan irtiba>t} (keterkaitan) dalam menjelaskan keserasian tersebut. Sebagai contohnya adalah dalam menafsirkan surat al-Furqa>n ayat 63, ia menampilkan dua muna>sabah. Hal yang sama juga dapat dilihat dalam penafsirannya terhadap surat Ya>si>n ayat 12.

"Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata.

 

Muna>sabah

Ayat yang telah lalu memuat paparan tentang Rasul, sifat-sifatnya, dan risalahnya yang telah datang serta sifat-sifat risalah tersebut, Dzat yang mengutus, yaitu Yang Maha Perkasa dan Maha Penyayang.

Kerasulan Nabi adalah untuk umatnya. Orang-orang yang diberi peringatan terbagi menjadi dua, pertama adalah yang berpaling disertai penentangan dan kedua adalah yang menerima disertai ketundukan. Ayat ini memuat kesimpulan dari sikap mereka serta hasil yang diperoleh ketika hari kiamat.

Bentuk muna>sabah yang lain adalah bahwasanya induk dari pokok-pokok akidah ada tiga, yaitu iman kepada Allah, Rasulullah dan hari akhir.

Ayat yang lalu diurutkan sebagai penetapan pokok akidah yang kedua dan pertama (iman kepada Allah) dengan adanya penyebutan Dzat Yang Maha Perkasa dan Maha Pengasih secara bersamaan. Ayat sekarang ini untuk menetapkan akidah yang ketiga.

Mengapa pokok akidah pertama dituturkan dengan bersamaan ? Hal ini karena dua sebab. Pertama, pokok-pokok akidah tersebut disebutkan di awal beberapa surat, akan tetapi pada sebagian surat dikhususkan oleh hadits yang berisi tentang sebagian pokok-pokok akidah secara lebih banyak daripada yang lainnya. Bagian lain ini tidak disebutkan dalam ayat ini. Maka dari itu diadakanlah penggabungan antara penyebutan Yang Maha Perkasa dengan Maha Pengasih. Kedua, penetapan pokok akidah pertama karena hal-hal yang menunjukkan keNabian menjadi dalil atas adanya sang Pencipta, kekuasaan-Nya, ilmu-Nya, hikmah-Nya dan sifat sayang-Nya.[60]

 

Dalam memaparkan muna>sabah tersebut Ibn Ba>di>s mengkaitkan ayat dengan ayat sebelumnya yang terletak tidak berurutan. Ayat terdahulu yang dimaksudkannya adalah ayat ke-2 dan ayat ke-5. Dari kenyataan ini dapat dipahami bahwa muna>sabah yang digunakan Ibn Ba>di>s memiliki persamaan dengan muna>sabah al-Ra>zi>, yaitu keserasian ayat dengan ayat lain meskipun tidak berurutan.[61]

Tidak hanya dalam muna>sabah saja Ibn Ba>di>s terpengaruh oleh al-Ra>zi>. Tendensi ilmiahnya juga terpengaruh oleh tendensi ilmiah penafsiran al-Ra>zi>. Banyaknya pemaparan tentang ayat-ayat kawniyyah (alam semesta) dalam sub bahasan tersendiri merupakan indikator pengaruh al-Ra>zi>. Hal ini dapat dilihat ketika ia menafsirkan surat al-Naml ayat 25, Ya>si>n ayat 1-2 dan surat al-Dza>riya>t ayat 46-50.

Ketika menafsirkan surat al-Naml ayat 25 Ibn Ba>di>s memandang bahwa al-Quran mendorong manusia untuk menguasai ilmu pengetahuan alam, mendalami rahasia-rahasianya. Ketika menafsirkan ayat :

Agar mereka tidak menyembah selain Allah yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan.

Ibn Ba>di>s berkata :

Diantara gaya bahasa al-Quran untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam adalah dengan menampilkan bentuk-bentuk alam atas dan bawah yang ditujukan kepada kita, dalam rangka menjelaskan keindahan yang mengherankan, yang mendorong kita untuk merenungkan dan mendalami rahasia-rahasia-Nya. Disini kami ingat akan sesuatu yang masih menjadi teka-teki di langit dan di bumi, agar kita. terdorong untuk ke sana dan termotivasi untuk meneliitinya, mengungkap hakekat-hakekatnya dan manfaat-manfaatnya, karena terdorong oleh naluri ingin tahu dan mengetahui hal-hal yang masih menjadi teka-teki. Dalam konteks inilah, para pendahulu terdorong untuk berkhidmat pada ilmu pengetahuan, serta menggali hal-hal yang ada di alam sampai maksimal. Dengan cara ini maka mereka sesungguhnya telah membela kemuliaan mereka sendiri, terkecuali kami mendalami agama ini sesuai dengan pemahaman mereka dan menjadi pelayan ilmu pengetahuan adalah sebanding dengan pelayanan mereka.[62]

 

Mengenai kemukjizatan al-Quran Ibn Ba>di>s terpengaruh oleh pandangan Abduh, yakni tentang kemukjizatan ilmiah al-Quran. Hal ini dapat dilihat ketika menafsirkan surat al-Isra> ayat 13 :

ѡ

Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.

Ayat ini merupakan tanda yang bisa memberikan penjelasan siang dan malam dengan giliran masing-masing, adalah tanda yang menentukan waktu yang berbeda-beda tambahan dan kurangnya; panjang dan pendeknya, atas dasar sistem yang jelas serta rangkaian yang indah, juga berdasarkan geografis bumi semisal khatulistiwa, kutub utara dan selatan serta tengah-tengah jiwa, sehingga siang dan malam tersebut ada di dua kutub hanya sehari semalam selama satu tahun. Selama enam bulan hanya terjadi satu malam di sana yang merupakan tanda musim hujan dan ada sehari selama enam bulan lain yang merupakan tanda musim panas.

Susunan, perkiraan, dan kemudahan ini merupakan bukti yang absolut tentang adanya Sang Pencipta Yang Maha Bijaksana, Maha Kuasa dan Maha Mengetahui . famah}awna> (lalu Kami hapuskan). Kata mahwu artinya al-hulah (menghilangkan) yakni hilangnya catatan dari Lauh} al-Mah}fu>z} dan hilangnya tanda-tanda tersebut dari suatu negeri.

Makna dicabutnya tanda malam adalah dicabutnya cahaya malam. Hal ini merupakan bukti bahwa pada malam hari terdapat cahaya lalu diambil. Ayat ini juga memberikan pengertian bahwa bulan itu bercahaya, lalu cahayanya dicabut sehingga menjadi gelap.

Para ahli astronomi menyatakan bahwa bulan adalah planet yang bercahaya dengan bersumber dari matahari. Mereka juga sepakat setelah melakukan analisis dan penelitian ilmiah bahwa planet bulan tersebut sebagaimana bumi telah ada sejak beratus-ratus tahun lamanya, berjuta-juta tahun dengan terkena panas dan dingin yang sangat tinggi. Maka hilangnya cahaya terjadi pada zaman yang panas dan hilang pada saat dingin.

 

Mukjizat Ilmiah

Kita hendaknya dengan khusyu' dan sadar dalam mensikapi kemujizatan ilmiah Al-Quran. Al-Kitab itulah yang dijadikan oleh Allah sebagai hujjah bag! Nabi saw juga argumentasi bagi agamanya untuk seluruh umat manusia, seberapa pun ketinggian sains dan kemajuan pengetahuannya, sebab tertutupnya planet bulan, ketika ayat ini turun belum pernah dikenal ummat kecuali hanya segelintir orang saja yakni ahli astronomi. Meski untuk pertama kalinya, mereka sudah mengamati planetnya dan ia hilang karena musim dingin yang kedua, yang merupakan sesuatu yang tidak dikenal kecuali setelah zaman mutakhir ini. Siapa saja yang membaca ayat ini dan mempublikasikan realitas-realitas ilmiah sejak empat belas abad yang lalu di masa Nabi.yang ummi> (tidak bisa membaca dan menulis) dan umat yang ummi> pula. Pada waktu itu umat begitu jauh dari sentuhan ilmu pengetahuan sehingga hal itu benar-benar hanya bisa diketahui melalui wahyu dari Allah yang menciptakan makhluknya dan mengetahui akan hakekatnya. Anda cukup dengan ilmu sebagai mukjizat bagi orang-orang ummi> dan orang-orang bodoh.[63]

 

Abduh berpendapat bahwa kemukjizatan Al-Quran menunjukkan adanya ketidakberdayaan zaman untuk menggugurkan apapun darinya. Al-Quran banyak memuat paparan masalah-masalah ilmiah dan sejarah yang belum dikenal sebelumnya. Selain itu Al-Quran merupakan satu-satunya kitab yang memuat berbagai masalah alam baik secara empiris maupun sosial. Dengan demikian kesesuaian Al-Quran dengan ilmu pengetahuan adalah salah satu bentuk kemukjizatan bagi manusia.[64]

 

 

g.      Menyerang Taklid Buta.[65]

Dalam penafsiran Ibn Ba>di>s ditemukan sikap penentangannya terhadap taqli>d buta dan para muqallid. Muqallid dibagi menjadi dua kelompok, yang fanatik secara ekstrim dan yang moderat. Kelompok pertama selalu melihat pendapat-pendapat dari suatu imam yang diikutinya serta memandang nash-nash dengan cara pandang madzhabnya. Sedangkan kelompok kedua adalah selalu melihat pendapat imam yang diikutinya dengan cara pandang yang obyektif. Jadi kelompok yang kedua ini terkadang dapat menolak pendapat imam tetapi disertai alasan-alasan yang kuat.[66]

Ibn Ba>di>s dalam menyerang taqli>d dan para pelakunya begitu moderat artinya tidak memukul rata kesalahan muqallid. Komentarnya tentang masalah ini ditemukan dalam penafsirannya pada surat Al-Isra> ayat 36 :

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.

 

Cabang pertama

Barang siapa mengikuti suatu pendapat padahal ia tidak memiliki pengetahuan tentangnya maka ia beritiqad pada suatu kebatilan di dalam masalah agama atau dalam masalah tersebut atau melakukan sesuatu yang terlarang . kalau begitu ia berdosa dari segi.

a.       Mengikuti suatu pendapat dimana ia tidak memiliki pengetahuan tentangnya.

b.      Itiqadnya atau ucapannya terhadap kebatilan dan melakukan sesuatu yang terlarang.

Barang siapa meyakini sesuatu yang benar walaupun ia tidak memiliki pengetahuan tentangnya atau berkata kepada manusia dengan tanpa disertai ilmu atau melakukan sesuatu yang tidak dilarang tanpa sepengetahuannya maka ia berdosa dari satu segi yaitu mengikuti sesuatu tanpa memiliki pengetahuan tentangnya dan menyalahi petunjuk larangan tersebut.

Cabang kedua, hukum muqallid.

Seorang muqallid dalam masalah akidah dimana ia tidak memiliki dahl sama sekali sehingga ia berkata, Aku mendengar para manusia berkata begitu maka aku pun berkata demikian.

Muqallid macam ini berdosa karena mengikuti sesuatu padahal tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Apabila dia memiliki dalil ijmali (umum) maka ia terbebas dari dosa karena telah berhasil mengambil dalil dengan pengetahuannya. Muqallid dalam hal cabang tanpa disertai pengetahuan tentang dalil-dalil ahli fatwa yang diikutinya. Lagipula ia tahu bahwa taklid adalah ketetapan Allah bagi orang-orang awam sebagaimana perintah Allah SWT untuk bertanya pada ahli ilmu. Tidaklah dapat diajukan orang yang lemah dari kesalahan, ia adalah orang awam yang tidak mampu menemukan dalil-dalil hukum. Dalil-dalil akidah banyak dijelaskan Al-Quran, maka kewajiban para ahli ilmu untuk menjelaskan dengan cara yang mudah diterima oleh orang-orang awam dengan disertai dalil-dalil hukumnya.[67]

 

Pandangan yang moderat ini ditujiikan oleh Ibn Ba>di>s kepada orang-orang awam yang memang tidak mampu memecahkan problema keagamaan dalam hal-hal cabang. Adapun dalam hal-hal akidah maka setiap orang wajib memiliki pengetahuan dalil akidah walaupun hanya dengan dasar logika semacam wujud makhluk sebagai dalil adanya Sang Pencipta.

h.      Tidak membenarkan bidah dan sikap pada sebagian ahli tasawuf.

Bidah dalam ibadah adalah segala yang diada-adakan itu tidak ada dalam agama dan pengadaan ini juga dengan sesuatu keterangan yang samar atau karena suatu tawil.[68] Jadi amalan dipandang bidah, apabila diadakan untuk dijadikan agama, dipandang agama, dan dipandang sebagai suatu ibadah.

Muh}ammad Abd al-Sala>m dan al-Sya>fii> berpendapat bahwa bidah adalah pekerjaan yang diadakan setelah Nabi meskipun ada dalilnya. Yang berdalil (sesuai dengan sunnah) dinamai bidah h}asanah (baik) dan yang tidak berdalil adalah bidah qabi>h}ah (buruk).[69] Muh}ammad Abd al-Sala>m berpendapat demikian beralasan dengan suatu hadits :

Barang siapa mentradisikan perbuatan yang baik di dalam Islam maka baginya pahala perbuatan tersebut. (HR. Muslim)

 

dan hadits:

Seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan..Dan segala sesuatu yang diada-adakan adalah bidah. Dan semua bidah adalah sesat. Dan kesesatan, semuanya masuk neraka (HR. Muslim)

 

Dari kedua pendapat itu dapat disimpulkan bahwa bidah adalah segala sesuatu yang diadakan setelah Nabi serta tidak memiliki dalil dari agama.[70]

Dalam rangka pembaharuan, Ibn Ba>di>s melakukan kritik terhadap bidah melalui bagian tafsirnya. Begitulah Ibn Ba>di>s melakukan serangan pada ahli bidah ketika menafsirkan surat An-Nu>r ayat 63 :

Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain). Sesungguhnya Allah SWT mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.

Rasul adalah tauladan

Semua perkataan, perbuatan harus diukur dengan perbuatan Rasul semua gerak-gerak langkah harus ditimbang dengan gerak langkah Rasul, semua yang cocok dengannya itulah yang benar, baik dan diberi petunjuk yakni yang diterima dengan dari Rasul (otoritasnya) dan segala sesuatu yang tidak sesuai dengannya adalah salah, buruk, dan sesat, yakni segala sesuatu itu tidak diterima dari Rasul.

Telah disebutkan bahwasanya Rasul SAW bersabda, Barang siapa mengerjakan sesuatu pekerjaan yang tidak ada dalam agama maka yang dikerjakan itu tertolak.

Bentuk fitnah dan sebabnya

Menyalahi sunnah Nabi dan petunjuknya serta sesuatu yang disetujui Rasulullah saw dalam berlebihan melaksanakan syariat Allah dan menyamai hukumnya dan menampilkan bentuk amalan-amalan Islam yang menyalahi dari tata aturan Nabi di atas adalah penyebab segala bencana yang menimpa kaum muslimin sebab mereka menyalahi sunnah Nabi.

Membuat bidah adalah tercela

Sebagian dari tindakan menyalahi aturan Nabi berupa tindakan yang paling buruk adalah menambah-nambah dalam ibadah dan mengadakan hal-hal yang baru dalam segi ibadah. Kedua tindakan itu adalah bidah yang tercela namun yang melakukannya merasa bahwa ia memperoleh petunjuk untuk taat namun sesungguhnya Rasulullah saw tidak memberikan petunjuk seperti itu. Dengan begitu maka cukuplah menyebabkan adanya fitnah dan bencana, tinggalkanlah perilaku ini.[71]

 

Ibn Ba>di>s dalam rangka melakukan pembaharuan untuk kemajuan negerinya menggunakan media tafsir. Bidah-bidah telah banyak dilakukan oleh sebagian sikap kaum sufi yang fatalissehingga membuat lemah perjuangan melawan kolonialisme Perancis. Untuk itulah Ibn Ba>di>s menyerang para pembuat bidah yang melemahkan kaum muslimin. Karena itulah ia menyebutnya sebagai sebab bencana dari fitnah di negaranya. Dalam kenyataan memang di Aljazair ketika itu banyak penganut sufi yang justru digunakan oleh penjajah untuk melestarikan kolonialismenya. Perancis menjadikan tarekat-tarekat sufi seperti boneka yang mengabdi kepada penjajah. Para kaum sufi yang hanya pasrah dengan takdir Allah mematikan pikiran untuk berjuang dan hanya melakukan ritual-ritual yang berlebihan. Inilah yang dikecam Ibn Ba>di>s.

Ibn Ba>di>s berkeyakinan bahwa untuk mengusir penjajah haruslah membasmi pengaruh-pengaruh fatalisme.[72]

i.        Menyamakan kedudukan pria dan wanita

Salah satu urgensi pembaharuan dalam tafsir Ibn Ba>di>s adalah penyetaraan kedudukan pria dan wanita. Keadaan wanita pada masa hidup Ibn Ba>di>s hanya terbatas di rumah saja. Mereka terkungkung oleh kebodohan yang diciptakan oleh sistem budaya Arab yang mengabaikan peran wanita sehingga berpengaruh keterbelakangan dalam hal pendidikan.

Melalui media tafsirnya ini Ibn Ba>di>s berusaha menyorotinya demi membebaskan keterkungkungan kaum wanita, terutama dalam hal pendidikan mereka. Dalam rangka pembaharuan ini Ibn Ba>di>s menuangkan idenya dalam penafsiran Surat al-Naml ayat 23 :

 

Sesungguhnya Aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.

Kebesaran Kerajaan Arab di Yaman

Bilqis adalah ratu kerajaan Yaman pada tahun ke-10 Sebelum Masehi, kekuasaannya begitu besar. Burung Hud-hud yang telah menyaksikan kebesaran kerajaan Nabi Sulaiman, masih juga merasa takjub terhadap keagungan dan keraton ratu Bilqis.

Kebesaran keratonnya adalah nilai tersendiri bagi keagungan kekuasaannya sehingga secara khusus Hud-hud menyebutkannya dalam suratnya, lalu senanglah Nabi Sulaiman karena suratnya telah sampai.

Ketinggian dan keagungan bangsa Arab dibandingkan dengan orang-orang Israil.

Ketinggian dan keagungan bangsa Arab telah sampai ke Yaman dengan sendirinya sebagai hasil jerih payah pemikiran dan usaha bangsa Arab sejak masa lampau. Sedangkan bangsa Israil mereka sampai dengan lima keturunan dalam sejarahnya namun tidaklah dapat mencapai sedikitpun seperti yang telah diraih bangsa Arab.

Ketika Nabi Sulaiman mendirikan bangunan (keraton-pent), ia dibuatkan oleh jin dan setan seperti yang telah disebutkan beberapa ayat Al-Quran (Surat Al-Anbiya> ayat 82 dan S}a>d ayat 37). Bani Israil tidak pernah meninggalkan kekuasaan yang menunjukkan kebaikan sedikit pun baik berupa kekuatan maupun profesi. Adapun hal-hal yang ditinggalkan oleh negara Yaman sangatlah banyak, masih berdiri, dapat disaksikan, dan diungkap sedikit demi sedikit.[73]

 

Dengan pernyataan ini Ibn Ba>di>s melahirkan kekagumannya terhadap bangsa Arab yang telah mencapai prestasi besar sejak masa silam. Selain itu ia secara jelas menunjukkan kekuasaan perempuan yang mampu menjadi pemimpin suatu bangsa dengan gemilangnya keberhasilan yang telah dicapainya. Hal itu bertolak belakang dengan keadaan wanita di Aljazair ketika Ibn Ba>di>s hidup. Selanjutnya ia menerangkan hal tersebut dengan menyebut hadits Nabi Tidaklah beruntung suatu kaum yang diperintah oleh wanita (HR. Ahmad, al-Turmudzi, dan al-Nasai). Ima>m Suyu>t}i> memandang bahwa hadits ini shahih.[74] Mengkomentari hadits tersebut Ibn Ba>di>s mengatakan :

Nabi mengatakan hal ini ketika bangsa Persia menyerahkan tampuk kekuasaan tertinggi kepada seorang wanita. Dalam rangka inilah Nabi bersabda agar seorang wanita tidak memegang kekuasaan pemerintahan dan keputusan (Qa>d}i).

Penjelasan

Tidaklah pantas seorang wanita memegang kekuasaan dari sisi kodrati biologis wanita. Ia diberi sifat lemah lembut dan kasih sayang, yang tidak mengurangi keteguhan hati dan keberanian yang merupakan syarat mutlak untuk memperoleh kekuasaan.

Kesibukan perempuan dalam kekuasaan dapat mengganggu tugas-tugas kodrati, kemasyarakatan yang tidak dapat digantikan orang lain demi tegaknya rumah tangga, mengatur rumah tangga, menjaga keturunan dengan mengandung, melahirkan dan mendidik anak.

Dalam sejarah ummat terdahulu, ada seorang wanita yang memiliki sebuah kerajaan. Di dunia Islam, yang paling masyhur adalah Syajarah al-Duril pada masa Nabi Ayyu>b. Sampai akhir hayatnya ia tetap masih berkuasa dan negerinya tetap jaya.

Apakah maksud peniadaan keberuntungan dari orang yang menyerahkan kekuasaannya pada wanita ? Keberuntungan yang ditiadakan adalah keberuntungan dalam bahasa agama, yaitu keberhasilan kebaikan dunia dan akhirat. Keberadaan suatu komunitas diklaim sebagai yang diridhai Allah tidak hanya berasal dari keberhasilan seorang raja. Barang siapa tidak taat kepada Allah niscaya tidak akan termasuk orang yang beruntung walaupun dilihat dari kehidupannya tampak gemerlapan. Kebanyakan orang yang menyerahkan kekuasaan kepada perempuan maka akan berakibat kekalahan.[75]

 

Hadits yang disampaikan Ibn Ba>di>s di atas semakna dengan hadits yang berbunyi Gagallah suatu. kaum yang menyerahkan urusannya kepada perempuan. Sebagian orang memahami hadits itu secara tekstual. Menurut mereka penyerahan urusan kaum muslimin kepada seorang wanita akan mengakibatkan kegagalan dan kekecewaan. Sebab inilah tidak dibenarkannya menyerahkan jabatan apapun kepada perempuan. Ibn H{azm berpendaput bahwa tidak ada halangan bagi kaum wanita untuk menduduki jabatan apapun kecuali pemimpin tertinggi seluruh negara Islam.[76]

Hadits tersebut sebenarnya merupakan tanggapan Nabi saw ketika negara Persia sedang dalam keadaan kehancuran menghadapi ekspansi pasukan Islam. Agama warga ini adalah penyembah berhala. Keluarga kerajaan bersikap otoriter. Ketika itu pasukan Persia dipaksa mundur dari wilayahnya semakin sempit namun karena kecongkakan pemimpin negeri ini, maka hancurlah negara Persia di bawah seorang ratu wanita.[77]

Sebenarnya Ibn Ba>di>s tidak menolak kepemimpinan wanita, namun sedikit sekali seorang wanita yang berhasil menjadi pemimpin bangsa. Sikap Ibn Ba>di>s terhadap perempuan sebenarnya adalah menginginkan agar perempuan menjadi maju dan banyak belajar. Hal itu dapat dilihat dari pernyataan dan usahanya melalui asosiasi ulama Aljazair yang mengadakan pengajaran kepada kaum perempuan. Begitu pula ia menganjurkan kepada para sahabatnya untuk mengirimkan anak-anak perempuan mereka agar belajar di majelis Ibn Ba>di>s. Hasil usaha Ibn Ba>di>s pada masa sekarang banyak dijumpai baik dalam hal pendidikan, kedokteran, dan bidang-bidang yang lain.

j.        Banyak mengungkapkan Balaghah Al-Quran.[78]

Salah satu karateristik Ibn Ba>di>s adalah ungkapan-ungkapannya dalam membahas keserasian Al-Quran dengan ungkapan balaghahnya. Ketelitian redaksi Al-Quran terkandung hikmah yang dalam dan dapat memberikan sentuhan iman serta rangsangan inte!ektual dan daya imajinatif yang tinggi.

Ibn Ba>di>s mengungkapkan balaghah Al-Quran dengan cara-cara yang segar dan menarik dalam sub judul tersendiri. Dalam mengungkap balaghah Al-Quran, ia membahas ilmu balaghah itu sendiri kemudian mengimplementasikan penafsirannya yang berasal dari sudut pandang ilmu balaghah terhadap problematika sosial. Berbeda dengan para mufassir terdahulu yang melakukan penelitian tentang balaghah Al-Quran banyak disibukkan dengan berbagai masalah yang jauh dari nilai kesusasteraan Al-Quran itu sendiri.[79]

Contoh pembahasannya dalam hal ini adalah penafsiran terhadap surat al-Isra> ayat 35 :

Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawaban.

Sebagian balaghah Al-Quran

Sebagian dari kebalighan, ijaz (ringkas) Al-Quran di dalam keterangannya adalah menuturkan sesuatu untuk menunjukkan pengaruhnya atau menuturkan sesuatu yang kurang berkesan hukumnya untuk menunjukkan adanya perintah hukum syara dan menyuruh melakukan hal yang sama dalam hal lain dengan dampak hukum yang sama atau lebih ringan.

Allah memperbolehkan wali anak yatim membelanjakan harta anak yatim tersebut dengan pengecualiannya dalam firman-Nya: kecuali dengan cara yang baik sehingga diperbolehkan bagi wali anak yatim memperbanyak harta anak yatim yang diasuhnya dengan cara berdagang.[80]

 

Ketika Ibn Ba>di>s hidup telah terjadi kebangkitan sastra Arab terutama dalam irama Al-Quran. Hal ini ditandai dengan adanya kajian-kajian tafsir dan hadits yang menitikberatkan pada pembahasan nilai sastra. Dalam bidang tafsir, misalnya Abduh dan Rasyid Rid}a> melalui tafsir al-Mana>r, banyak menyampaikan balaghah Al-Quran. Pembahasan secara spesifik tentang ilmu ini misalnya telah dilakukan oleh Mus}t}afa S}adiq al-Rifa>i dengan judul Tari>kh al-Adab al-Arabi>.

Di dalam suasana perkembangan sastra Arab, Ibn Ba>di>s telah terpengaruh dalam kajian tafsirnya ini, namun sayangnya, ia tidak menguraikan secara panjang lebar mengenai hal tersebut, walaupun telah membahasnya dalam sub judul tersebut, tetapi memang sasaran penafsirannya tidak untuk itu. Pembahasannya hanya singkat sesuai dengan keinginannya sebagai media untuk menyampaikan maksud penafsiran suatu ayat ditinjau dari ilmu balaghah. Point ini merupakan jalan untuk mengungkapkan ajaran-ajaran al-Quran agar mudah diterima oleh masyarakat Islam.

Dengan mengkaji keserasiannya maka akan menyentuh perasaan orang yang membacanya sehingga merasa tertarik dan mau mengikuti pesan-pesan Al-Quran.

Dapatlah disimpulkan bahwa kajian balaghah dalam tafsir Ibn Ba>di>s hanya sebatas cara untuk menanggapi keadaan masyarakatnya yang menurut penilaiannya telah banyak melupakan ajaran Al-Quran. Ia menganjurkan kepada rakyatnya untuk nienggali kandungan al-Quran secara mendalam. Ia berusaha mencocokkan keadaan masyarakat dengan Al-Quran yang salah satu caranya ialah mengungkapkan nilai sastranya. Jadi walaupun pembahasannya secara khusus menuju pada ilmu itu sendiri, namun penjabarannya diterapkan untuk menjelaskan pesan-pesan Al-Quran pada masyarakatnya.



[1] Musthafa Muhammad Thahhan, Model Kepemimpinan dalam Amal Islami, terj. Musthalah Maufur, (Jakarta : Rabbani Press, 1997), hlm. 127.

[2] Abd al-H{ami>d ibn Ba>di>s, Tafsi>r Ibn Ba>di>s fi> Maja>lis al-Tadzki>r min Kala>m al-H{aki>m al-Khabi>r, (Beirut : Da>r al-Fikr, t.t.), hlm. 492.

 

[3] Musthafa M. Thahhan, op. cit., hlm. 129.

[4] Taqy al-Di>n Ibn Abd al-H{ali>m, Muqaddimah fi> Us}u>l al-Tafsi>r, (Kuwait : Da>r Fikr, t.t.), hlm. 93.

 

[5] Abd al-H{ami>d ibn Ba>di>s, op. cit., hlm. 29.

[6] Ibid., hlm. 30.

[7] DEPAG RI, Al-Quran dan Terjemahnya, Bantuan dari Raja Fath Ibn Abd Aziz al-Suud, tahun 1413 H, hlm. 427. Semua terjemahan petikan ayat al-Quran dalam skripsi ini menggunakan kitab al-Quran dan terjemahnya tersebut.

 

[8] Ibn Ba>di>s, op. cit., hlm. 66.

[9] Yusuf Qardhawi, Berinteraksi dengan al-Quran, terj. Abdul Hayyie al-Kattani, (Jakarta : Gema Insani Press, 1999), hlm. 317.

 

[10] Manna> Khali>l al-Qat}t}a>n, Maba>h}is fi> Ulu>m al-Qura>n, (Mans}u>rat al-As}ri al-H{adits, t.t.), hlm. 335-336.

 

[11] Muh}ammad H{usayn al-Dzahabi>, al-Tafsi>r wa al-Mufassiru>n, (Beirut : Da>r al-Fikr, 1976), Juz I, hlm. 45.

[12] Yusuf Qardhawi, Bagaimana Memahami Hadits Nabi, terj. Muhammad al-Baqir, (Bandung : Karisma, 1995), hlm. 17.

 

[13] Hasbi as-Shiddiqie, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Quran/Tafsir, (Jakarta : Bulan Bintang, 1992), hlm. 205.

 

[14] Hadits marfu adalah hadits yang disanarkan kepada Nabi pada khususnya baik berupa perkataan, perbuatan, maupun penetapan baik yang menyandarkan itu sahabat, tabiin atau orang yang sesudahnya baik sanadnya bersambung atau tidak. (Subh}i> al-S{a>lih}, Ulu>m al-H{adi>ts wa Mus{t{ala>h}uh, (Beirut : Da>r Ilm li al-Mala>yi>n, 1997), hlm. 216.

 

[15] Hadis maus{u>l adalah hadits yang bersambung sanadnya, baik marfu kepada Nabi maupun berhenti pada sahabat atau orang yang berada di bawahnya (Ibid., hlm. 20).

 

[16] Mahmud Basuni Faudah, Tafsir-tafsir al-Quran, Perkenalan dengan Metodologi Tafsir, terj. Moechtar Zoerni, (Bandung : Pustaka, 1987), hlm. 31.

 

[17] Lihat Tafsir Ibn Ba>di>s, hlm. 405.

 

[18] Ibid., hlm. 399.

[19] Ibid., hlm. 305.

[20] Fahd bin Abdurrahman al-Rumi, Ulumul Quran, Studi Kompleksitas al-Quran, terj. Amirul Hasan dan Muhammad al-Halabi (Yogyakarta : Titian Ilahi Press, 1999), hlm. 59.

 

[21] Yusuf Qardhawi, op. cit., hlm. 330.

[22] Abd al-H{ami>d Ibn Ba>di>s, op. cit., hlm. 367.

 

[23] Ibid., hlm. 372.

[24] Mahmud Basuni Faudah, op. cit., hlm. 116.

 

[25] Manna> Khali>l al-Qat}t}a>n, op. cit., hlm. 378.

 

[26] Manna> Khali>l al-Qat}t}a>n, loc. cit.

[27] Moenawar Khalil, Biografi Empat Serangkai Imam Madzhab, (Jakarta :Bulan Bintang, 1996), hlrn. 147.

[28] Secara bahasa, Isra>i>liyya>t adalah bentuk jamak dari kata tunggal Isra>i>liyya>h yakni kata yang dinisbatkan kepada kata Isra>i>l yang berasal dari kata Isra> yang berarti hamba dan il yang berarti Tuhan, dalam perspektif sejarah, Israil berkaitan dengan Nabi Yaqu>b ibn Ish}a>q bin Ibra>hi>m dimana keturunannya yang berjumlah dua belas disebut dengan Bani Israil. Secara terminologis, Isra>i>liyya>t merupakan sesuatu yang menyerap ke dalam tafsir dan hadits dimana periwayatan berkaitan dengan sumber Yahudi dan Nasrani (al-Dzahabi>, al-Isra>i>liyya>t fi> al-Tafsir wa al-H{adi>ts, Kairo, Majma al-Buh}u>ts al Isla>miyyah, 1971, hlm. 19.

Formulasi tentang Isra>i>liyya>t di atas telah berkembang di kalangan para ahli tafsir dan hadits sesuai dengan perkembangan dan pemikiran manusia. Di kalangan mereka ada yang berpendapat bahwa Isra>i>liyya>t mencakup informasi-informasi yang tidak ada dasarnya sama sekali dalam naskah kuno dan hanya merupakan sebuah manipulasi yang dilancarkan oleh musuh-musuh Islam yang diselundupkan ke dalam tafsir dan hadits untuk merusak akidah umat Islarn dari dalam (Ibid., hlm. 20)

 

[29] Taqy al-Di>n ibn Abd al-H{ali>m, Muqaddimah fi> Us}u>l al-Tafsi>r, (Kuwait : Da>r al-Qura>n al-Kari>m, 1971), hlm. 57.

 

[30] Rosihan Anwar, Melacak Unsur-unsur Isra>i>liyya>t dalam Tafsi>r al-T{abari> dan Tafsi>r Ibn Katsir, (Bandung : Pustaka Setia, 1999), hlm. 43.

[31] Muh}ammad Abu> Zahrah, Taqdim dalam Abd Alla>h Mah}mu>d Syah}atah, Manhaj al-Ima>m Muh}ammad Abduh fi> al-Tafsi>r, (Kairo : Nas}r al-Rasa>il al-Jamiyyah, 1963), hlm. 4.

 

[32] G. H. A. Juynboll, Kontroversi Hadits Mesir, terj. Ilyas Hasan, (Bandung : Mizan, 1999), hlm. 179.

 

[33] Abd al-H}ami>d Ibn Ba>di>s, op. cit., hlm. 451

[34] Muh}ammad Ali al-S{a>bu>ni>, Pengantar Study al-Quran, terj. Moh. Matsna (Bandung : al-Maarif, 1987), hlm. 213.

 

[35] Syarat-syarat yang dimaksudnya adalah syarat mufassir yaitu mengetahui pengetahuan bahasa Arab, Nahwu, Tas}ri>f, Isytiqa>q, Maani, Baya>n, Badi>, Qiraa>t, Us}u>l al-Di>n, Us}u>l al-Fiqh}<, Sabab al-Nuzu>l, Nasi>kh Mansu>kh, Ilm al-Fiqh, Ilm al-H{adi>ts, yang dibina untuk menafsirkan ayat-ayat Mujmal dan Mubham, dan ilmu Mawhibah (lihat Mahmud Basuni Faudah, op. cit., hlm. 11-19).

[36] Abd al-H{ami>d ibn Ba>di>s, op. cit., hlm. 289-291. Semua kutipan langsung yang diambil dari Tafsir Ibn Ba>di>s dalam skripsi ini, hanya memakai satu footnote pada akhir kutipan meskipun kutipan tersebut memuat beberapa alinea.

[37] Mahmud Basuni Faudah, op. cit., hlm. 69.

[38] Lihat Penafsiran ayat 18-19 Surat al-Isra>

[39] Abd al-H{ami>d ibn Ba>di>s, op. cit., hlm. 269-270

[40] Ibid., hlm. 357

 

[41] Lihat Abd al-H{ami>d ibn Ba>di>s, op. cit., hlm. 90, 175, 187, 387, 406, 487, 514, 543, 565, 577 dan 613.

[42] Ibid., hlm. 577 dan 613

 

[43] Ibid., hlm. 157

[44] Ibid., hlm. 159-160

 

[45] Ibid., hlm. 638

[46] Ibid., hlm. 621.

 

[47] Ibid., hlm. 138.

[48] Abdussalam al-Muntas}ib, Visi dan Paradigma Tafsir al-Quran Kontemporer, terj. Moch. Maghfur Wachid, (Bangil : Izzah, 1997), hlm. 131.

 

[49] Riwayat ini juga dipetik oleh Jas}s}a>s} dalam tafsirnya Ahka>m al-Qura>n (Abu> Bakr Ah}mad ibn Ali> al-Ra>zi> al-H{anafi> al-Jas}s}a>s}, Ahka>m al-Qura>n, (Beirut : Da>r al-Fikr, t.t.), Juz III, hlm. 347.

[50] Ibid., hlm. 358-360.

 

[51] Lihat Tafsir Ibn Ba>di>s, hlm. 269-270 atau penjelasan penafsiran pada teknis dialogis dalam skripsi ini.

[52] Ibid., hlm. 619

 

[53] Harun Nasution, Teologi Islam, Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, (Jakarta: UI Press, 1986), hlm. 102-103

 

[54] Ibid., hlm. 80-81

[55] Abdussala>m al-Muntas}ib, op. cit., hlm. 144.

[56] Fawzia Bariun, Malik Bennabi, Sosiolog Muslim Masa Kini, terj. Munir A. Muin (Bandung : Pustaka, 1998), hlm. 33.

[57] Muna>sabah dalam pengertian bahasa adalah cocok, patut, sesuai, mendekati. Dalam arti istilah, terdapat beberapa pendapat, Manna> Khali>l Qat}t}a>n, menyebutkan bahwa muna>sabah adalah segi-segi hubungan antara kata dengan kata yang lain dalam satu ayat, antara ayat dengan ayat yang lain, atau antara satu surat dengan surat yang lain (Manna> Khali>l Qat}t}a>n, Maba>his fi> Ulu>m al-Qura>n, Mansyu>rat al-As}r al-H{adi>ts, t.t. hlm. 97)

 

[58] M. Quraish Shihab, Ibrahim bin Umar al-Biqai, dalam Ulumul Quran, no. 3 tahun 1989, hlm. 23-24.

[59] Jala>l al-Di>n al-Suyu>t}i>, al-Itqa>n fi> Ulu>m al-Qura>n, (Beirut : Da>r al-Fikr, t.t.), hlm. 108

[60] Lihat Abd al-H{ami>d Ibn Ba>di>s, op. cit., hlm. 509-510

 

[61] Mahmud Basuni Faudah, op. cit., hlm. 80

[62] Abd al-H{ami>d Ibn Ba>di>s, op. cit., hlm. 460

[63] Ibid., hlm. 57-60.

 

[64] Abdussala>m Almuntas}ib, op. cit., hlm. 132-133

[65] Kata Taqlid berasal dari kata qallada, yuqallidu, taqli>d, yang artinya menurut bahasa bermacam-macam menurut letak dan rangkaian katanya, diantaranya berarti menyerahkan, menghiasi, menyelempangkan, meniru, menurut seseorang dan menerima piutang. Sedangkan menurut istilah agama adalah menerima perkataan orang yang berkata padahal ia tak mengetahui dari mana perkataan yang dikatakannya. Ima>m al-Ghaza>li> mengatakan bahwa Taqli>d adalah menerima perkataan dengan tidak disertai alasan (Moenawar Cholil, Kembali kepada al-Quran dan as-Sunnah, (Jakarta: Bulan Bintang, 1991), hIm 340-341

 

[66] Abdussala>m Almuntas}ib, op. cit., hlm. 146

[67] Abd al-H{ami>d Ibn Ba>di>s, op. cit., hlm. 157-158

[68] H{asbi as}-S{iddiqie, Kriteria Antara Sunnah dan Bidah, (Jakarta : Bulan Bintang, 1996), hlm. 68

 

[69] Muh{ammad Abd al-Sala>m Khidhr al-Syaqi>ri>, al-Sunan wa al-Mubtadaa>t, (Beirut : Da>r al-Fikr, t.t.), hlm. 18

[70] H{asbi as}-S{iddiqie, op. cit., hlm. 54.

[71] Abd al-H{ami>d Ibn Ba>di>s, op. cit., hlm. 563-565

[72] M. Muh{ammad T{ahhan, op. cit., hlm. 147.

[73] Abd al-H{ami>d Ibn Ba>di>s, op. cit., hlm. 453-454

[74] Jalal al-Di>n Abd al-Rah}ma>n ibn Abi> Bakr al-Suyu>t}i>, al-Ja>mi al-S{agi>r fi> Ahadi>ts al-Basyi>r al-Nadzi>r, (Beirut : Da>r al-Fikr, t.t.), hlm. 128

 

[75] Ibid., hlm. 453-455.

[76] Muh}ammad al-Ghaza>li>, Analisis Polemik Hadits, terj. Moenawar al-Zahidi (Surabaya : Dunia Ilmu, 1997), hlm. 48-49

 

[77] Muh}ammad al-Ghaza>li>, loc. cit.

[78] Abd al-H{ami>d Ibn Ba>di>s, op. cit., hlm. 455

 

[79] Subhi> al-S{a>lih}, Membahas Ilmu-ilmu al-Quran, terj. Tim Pustaka Firdaus (Jakarta : Pustaka Firdaus, 1995), hlm. 424.

[80] Abd al-H{ami>d Ibn Ba>di>s, op. cit., hlm. 143