Akses gratis pada jaringan Telkomsel.
facebook
Hasanul Zain > Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah - KTB (PISS-KTB)
assalamu'alaikum wr wb...!
permisi kepada para admin yang saya muliakan dan para anggota PISS-KTB yang saya hormati berikut kutipan dari seseorang yang berpaham wahhaby yang sangat berbahaya tentang aqidahnya...!

Adapun Bagi yang tidak mengimani bahwa Allah di atas langit, di atas ‘arsy di atas semua mahluknya, TOLONG PERTANYAAN INI DIJAWAB.. (Dan ingat, yang menyimpulkan bahwa Allah dibatasi arah dan tempat, karena meyakini Allah di atas Arsy, berarti Allah butuh makhluk-Nya, itu hanya ro’yu Kalian sendiri, bukan saya!):
1. ”Apakah kamu merasa aman terhadap DZAT yang di atas langit, bahwa Ia akan menenggelamkan ke dalam bumi, maka tiba-tiba ia (bumi) bergoncang ?” (Al-Mulk : 16)
Pertanyaan : Siapakah DZAT yang di atas langit tsb ?
2. ”Mereka (para Malaikat) takut kepada Tuhan mereka yang berada di atas mereka, dan mereka mengerjakan apa-apa yang diperintahkan”. (An-Nahl : 50).
Pertanyaan : Siapakah Tuhan mereka yang berada di atas mereka ?
3.”Wahai Isa ! Sesungguhnya Aku akan mengambilmu dan mengangkatmu kepada-Ku” (Ali Imran : 55). Artinya : ”Tetapi Allah telah mengangkat dia (yakni Nabi Isa) kepada-Nya” (An-Nisa’ : 158).
Pertanyaan : mengangkat itu dari mana ke mana ? berarti Yang mengangkat dimana ?
3.Artinya : ”Dan berkata Fir’aun : Hai Haman! Buatkanlah untukku satu bangunan yang tinggi supaya aku (dapat) mencapai jalan-jalan. (Yaitu) jalan-jalan menuju ke langit supaya aku dapat melihat Tuhan(nya) Musa, karena sesungguhnya aku mengira dia itu telah berdusta”. (Al-Mu’min : 36-37. Al-Qashash : 38).
Pertanyaan : kira-kira apa yang dikatakan Musa as kpd fir’aun sehingga fir’aun membuat bangunan yang tinggi supaya dapat menuju ke langit supaya dapat melihat Tuhan(nya) Musa ?
4. Nabi kita SAW telah bersabda : Artinya : ”Orang-orang yang penyayang, mereka itu akan disayang oleh Allah Tabaaraka wa Ta’ala (Yang Maha berkat dan Maha Tinggi). oleh karena itu sayangilah orang-orang yang di muka bumi, niscaya Dzat yang di atas langit akan menyayangi kamu”. (Shahih. Diriwayatkan oleh Imam-imam : Abu Dawud No. 4941. Ahmad 2/160. Hakim 4/159. dari jalan Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash. Hadits ini telah dishahihkan oleh Imam Hakim dan telah pula disetujui oleh Imam Dzahabi.
”Barangsiapa yang tidak menyayangi orang yang dimuka bumi, niscaya tidak akan di sayang oleh Dzat yang di atas langit”. (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Thabrani di kitabnya ”Mu’jam Kabir No. 2497
Pertanyaan : Siapakah Dzat yang di atas langit yang dimaksud?
5. ”Tidakkah kamu merasa aman kepadaku padahal aku orang kepercayaan Dzat yang di atas langit, datang kepadaku berita (wahyu) dari langit di waktu pagi dan petang”. (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim 3/111 dan Ahmad 3/4 dari jalan Abu Sa’id Al-Khudry).
Pertanyaan : Siapakah Dzat yang di atas langit yang dimaksud?
6. ”Silih berganti (datang) kepada kamu Malaikat malam dan Malaikat siang dan mereka berkumpul pada waktu shalat shubuh dan shalat ashar. Kemudian naik malaikat yang bermalam dengan kamu, lalu Tuhan mereka bertanya kepada mereka, padahal Ia lebih tahu keadaan mereka : ”Bagaimana (keadaan mereka) sewaktu kamu tinggalkan hamba-hamba-Ku ? Mereka menjawab : ”Kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat dan kami datang kepada mereka dalam keadaan shalat”. (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari 1/139 dan Muslim 2/113 dll).
Pertanyaan : kemana malaikat pergi menghadap Tuhannya?
7. ”Jabir bin Abdullah telah meriwayatkan tentang sifat haji Nabi dalam satu hadits yang panjang yang didalamnya diterangkan khotbah Nabi SAW di padang ‘Arafah : ”(Jabir menerangkan) : Lalu Nabi SAW mengangkat jari telunjuknya ke arah langit, kemudian beliau tunjukkan jarinya itu kepada manusia, (kemudian beliau berdo’a) : ”Ya Allah saksikanlah ! Ya Allah saksikanlah ! ( Riwayat Imam Muslim 4/41).
Pertanyaan : Kenapa Nabi SAW mengangkat jari telunjuknya ke arah langit ?
8. Umar bin Khatab pernah mengatakan : Artinya : ”Hanyasanya segala urusan itu (datang/keputusannya) dari sini”. Sambil Umar mengisyaratkan tangannya ke langit ” [Imam Dzahabi di kitabnya ''Al-Uluw'' hal : 103. mengatakan : Sanadnya seperti Matahari (yakni terang benderang keshahihannya)].
Pertanyaan : Kenapa Umar mengisyaratkan tangannya ke langit?
9. Anas bin Malik menerangkan : Artinya : ”Adalah Zainab memegahkan dirinya atas istri-istri Nabi SAW, ia berkata : ”Yang mengawinkan kamu (dengan Nabi) adalah keluarga kamu, tetapi yang mengawinkan aku (dengan Nabi) adalah Allah Ta’ala dari ATAS TUJUH LANGIT”. Dalam satu lafadz Zainab binti Jahsyin mengatakan : ”Sesungguhnya Allah telah menikahkan aku (dengan Nabi) dari atas langit”. (Riwayat Bukhari juz 8 hal:176).
Pertanyaan : dimanakah Allah menurut Zainab ?
Pertanyaan bonus :
Rasulullah SAW pernah mengajukan pertanyaan kepada seorang budak perempuan milik Mua’wiyah bin Al-Hakam As-Sulamy sebagai ujian keimanan sebelum ia dimerdekakan oleh tuannya yaitu Mu’awiyah : Artinya : ”Beliau bertanya kepadanya : ”Di manakah Allah ?. Jawab budak perempuan : ”Di atas langit. Beliau bertanya (lagi) : ”Siapakah Aku ..?. Jawab budak itu : ”Engkau adalah Rasulullah”. Beliau bersabda : ”Merdekakan ia ! .. karena sesungguhnya ia mu’minah (seorang perempuan yang beriman)”.. Hadits shahih. Dikeluarkan oleh Jama’ah ahli hadits, diantaranya : 1. Imam Malik (Tanwirul Hawaalik syarah Al-Muwath-tho juz 3 halaman 5-6). 2. Imam Muslim (2/70-71) 3. Imam Abu Dawud (No. 930-931) 4. Imam Nasa’i (3/13-14) 5. Imam Ahmad (5/447, 448-449) 6. Imam Daarimi 91/353-354) 7. Ath-Thayaalis di Musnadnya (No. 1105) 8. Imam Ibnul Jaarud di Kitabnya ”Al-Muntaqa” (No. 212) 9. Imam Baihaqy di Kitabnya ”Sunanul Kubra” (2/249-250) 10. Imam Ibnu Khuzaimah -Imamnya para Imam- di Kitabnya ”Tauhid” (hal. 121-122) 11. Imam Ibnu Abi ‘Aashim di Kitab As-Sunnah (No. 489 di takhrij oleh ahli hadits besar Muhammad Nashiruddin Al-Albanni). 12. Imam Utsman bin Sa’id Ad-Daarimi di Kitabnya ”Ar-Raddu ‘Alal Jahmiyyah” (No. 60,61,62 halaman 38-39 cetakan darus Salafiyah). 13. Imam Al-Laalikai di Kitabnya ”As-Sunnah ” (No. 652).
Pertanyaan :
1. Apakah jawaban budak tsb “Allah Di atas langit” dibenarkan oleh Nabi ?
2. dengan keyakina bahwa Allah Di atas langit, budak tsb termasuk berakidah benar (mukminah) apa sesat ?
Dalil-dalil diatas adalah dari Al-Qur’an dan As-Sunnah…!
HANYA ADA DUA PILIHAN :
1. engkau beriman dg apa yang dikatakan Allah dan Rasulnya dengan mengucapkan sami’na wa ato’na dan engkau akan selamat,
2. engkau ingkari ayat dan hadits tsb, engkau dustakan dan berani membantah kalamulloh dengan ilmu kalaam…!
Satu bonus pertanyaan: Apakah kemudian Saudara berani menggolongkan Imam Muslim dan lain2 dari periwayat hadits di atas, bahkan Rasulullah sendiri, sebagai Mujassim atau Musyabbihah?? Apalagi menganggap menyebar kekufuran?? Berani anggap demikian? Mudah-mudahan tidak. Naudzubillah…
Wassalam
mereka telah menyelewengkan makna ayat2 alqur'an serta hadits
dan berkeyakinan bahwa ALLOH ASWT ADA DI ATAS na'udzubillah
bagaimana tanggapan anda...?
dan maaf jika postingan ini berbahaya akan saya hapus...!
WASPADAI...PERTANYAN2 SEPERTI DI ATAS....
1 jam yang lalu ·  · Ikuti Kiriman
Banie Abie Misyka
na'udzubillah..
54 menit yang lalu · Suka · 1 orang · Hapus
Hasanul Zain
BANTAHAN...!
bismillahir rohmanir rohim...baik saya jawab semampu saya mudah2an anda menerimanya...!
1. ”Apakah kamu merasa aman terhadap DZAT yang di atas langit, bahwa Ia akan menenggelamkan ke dalam bumi, maka tiba-tiba ia (bumi) bergoncang ?” (Al-Mulk : 16)
Pertanyaan : Siapakah DZAT yang di atas langit tsb ?

Yang dimaksud dari firman Allah dalam QS. Al-Mulk: 16 adalah:

ءَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَآءِ أَن يَخْسِفَ بِكُمُ اْلأَرْضَ (الملك)

Seluruh ayat-ayat mutasyabihat dan hadits-hadits mutasyabihat yang zhahirnya seakan Allah berada di langit, atau seakan berada di atas langit dengan jarak antara Allah dan langit itu sendiri, maka teks-teks tersebut harus ditakwil; tidak boleh dipahami secara zhahirnya. Di antaranya, firman Allah: ”A-amintum Man Fi as-Sama’” (QS. al-Mulk: 16), bahwa yang dimaksud dengan “Man Fi as-Sama’” adalah para Malaikat. Takwil ini sebagaimana telah dinyatakan oleh al-Imam al-Hafizh al-Iraqi dalam penafsiran beliau terhadap hadits yang berbunyi:

ارْحَمُوْا مَنْ فِي الأرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السّمَاء (رواه الترمذي)

Al-Hafizh al-Iraqi menafsirkan hadits ini dengan hadits riwayat lainnya yang berasal dari jalur sanad Abdullah ibn Amr ibn al-Ash, dari Rasulullah, bahwa Rasulullah bersabda:

الرّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرّحِيْمُ ارْحَمُوْا أهْلَ الأرْضِ يَرْحَمْكُمْ أهْلُ السّمَاءِ

Al-Hafizh al-Iraqi menuliskan: “Diambil dalil dari riwayat hadits yang menyebutkan “Ahl as-Sama’” (hadits kedua di atas) bahwa yang dimaksud dengan hadits pertama (yang menyebutkan “Man Fi as-Sama’”) adalah para Malaikat” (Amali al-Iraqi, h. 77).

Apa yang dilakukan oleh al-Hafzih al-Iraqi ini adalah sebaik-baiknya metode dalam memahami teks; yaitu menafsirkan sebuh teks yang datang dalam syari’at (warid) dengan teks lainnya yang juga warid, inilah yang disebut Tafsir al-Warib Bi al-Warid, atau dalam istilah lain disebut at-Tafsir Bi al-Ma-tsur. Karena itu al-Hafizh al-Iraqi sendiri berkata dalam Alfiah-nya:

وَخَيْرُ مَا فَسَّرْتَهُ بالوَارِدِ كَالدُّخِّ بِالدُّخَانِ لاِبْنِ صَائِدِ

“Sebaik-baik cara engkau menafsirkan teks yang warid adalah dengan menafsirkannya dengan teks yang warid pula, seperti penafsiran kata al-Dukh dengan makna al-Dukhan, sebagaimana telah dinyatakan oleh Ibn Sha’id”.
Dengan demikian riwayat hadits ke dua ini menafsirkan makna firman Allah QS. al-Mulk: 16 tersebut di atas. Maka makna “yang ada di langit (Man Fi as-Sama’)” adalah para Malaikat, karena para Malaikat memiliki kekuasaan untuk menggulung bumi terhadap orang-orang musyrik seperti yang dimaksud oleh ayat tersebut. Artinya, jika para Malaikat tersebut diperintah oleh Allah untuk melakukan hal itu maka pastilah mereka akan melakukannya. Demikian pula dalam pengertian ayat seterusnya; ”Am Amintum Man Fi as-Sama...” (QS. al-Mulk: 17), yang dimaksud ayat ini adalah para Malaikat Allah. Artinya, bahwa para Malaikat yang berada di langit tersebut memiliki kekuasaan untuk mengirimkan angin keras yang dapat menghancurkan orang-orang musyrik.
Demikian pula dengan sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya, bahwa Rasulullah bersabda:

وَالّذِيْ نَفْسِي بيَدِه مَا مِنْ رَجُلٍ يَدْعُو امْرَأتَهُ إلَى فِرَاشِهَا فَتأبَى عَلَيْهِ إلاّ كَانَ الّذِيْ فِي السّمَاءِ سَاخِطًا عَلَيْهَا حَتّى يَرْضَى عَنْهَا (رواه مسلم)

“Demi Allah yang jiwaku berada di dalam kekuasaan-Nya, tidaklah seorang laki-laki memanggil isterinya ke tempat tidurnya --untuk melakukan hubungan badan-- kemudian perempuan tersebut enggan menjawabnya, kecuali bahwa ”yang ada di langit” murka kepadanya hingga suaminya tersebut meridlainya” (HR. Muslim).

Yang dimaksud dengan “Yang ada di langit” dalam hadits ini adalah Malaikat Allah.
Penafsiran ini sesuai dengan riwayat hadits shahih lainnya yang diriwayatkan oleh Ibn Hibban dan lainnya, di mana hadits ke dua ini lebih masyhur daripada hadits di atas, yaitu hadits dengan redaksi: ”La’anatha al-Mala-ikah Hatta Tushbiha...”, dalam hadits ini dengan jelas disebutkan bahwa perempuan tersebut dilaknat oleh para Malaikat hingga datang subuh (Lihat Shahih Muslim, Kitab al-Nikah, Bab tentang keharaman menolak seorang istri dari keinginan suami. Lihat pula Tartib Shahih Ibn Hibban, j. 6, h. 187, Kitab al-Nikah, Bab hubungan suami istri).
jawaban selesai...!
50 menit yang lalu · Suka · 1 orang · Hapus
Hasanul Zain
BANTAHAN...!

2. ”Mereka (para Malaikat) takut kepada Tuhan mereka yang berada di atas mereka, dan mereka mengerjakan apa-apa yang diperintahkan”. (An-Nahl : 50).
Pertanyaan : Siapakah Tuhan mereka yang berada di atas mereka ?

Al-Imâm Badruddin ibn Jama’ah dalam Idlah ad-Dalil menuliskan sebagai berikut:
“Allah berfirman: “Wa Huwa al-Qahiru Fawqa ‘Ibadih” (QS. Al-An’am: 18), dan berfirman tentang para Malaikat: “Yakhafuna Rabbahum Min Fawqihim” (QS. An-Nahl: 50). Ketahuilah bahwa penggunaan kata fawq dalam bahasa Arab terkadang dipergunakan untuk mengungkapkan tempat yang tinggi, terkadang juga dipergunakan untuk mengungkapkan kekuasaan, juga untuk mengungkapkan derajat yang tinggi. Contoh untuk mengungkapkan kekuasaan, firman Allah: “Yadullah Fawqa Aidihim” (QS. Al-Fath: 10), dan firman-Nya: “Wa Huwa al-Qahiru Fawqa ‘Ibadih” (QS. Al-An’am: 18). Pemahaman fawq dalam dua ayat ini adalah untuk mengugkapkan kekuasaan. Contoh untuk mengungkapkan ketinggian derajat, firman Allah: “Wa Fawqa Kulli Dzi ‘Ilmin ‘Alim” (QS. Yusuf: 76). Tidak ada seorangpun yang memahami makna fawq dalam ayat ini dalam pengertian tempat, karena sangat jelas bahwa yang dimaksud adalah ketinggian kekuasaan dan kedudukan.

Telah kita jelaskan di atas bahwa adanya tempat dan arah bagi Allah adalah sesuatu batil, maka dengan demikian menjadi jelas pula bagi kita bahwa pemaknaan fawq pada hak Allah pasti dalam pengertian ketinggian derajat dan keagungan-Nya. Karena itu dalam penggunaanya dalam ayat QS. Al-An’am: 18 di atas bersamaan dengan al-Qahhar; salah satu nama Allah yang berarti maha menguasai dan maha menundukan. Kemudian dari pada itu, penggunaan kata fawq jika yang dimaksud pegertian tempat dan arah maka sama sekali tidak memberikan indikasi kemuliaan dan keistimewaan. Karena sangat banyak pembantu atau hamba sahaya yang bertempat tinggal di atas atau lebih tinggi dari tempat tuannya, -apakah itu menunjukan bahwa pembantu dan hamba sahaya tersebut lebih mulia dari majikannya sendiri?!- Karenanya, bila dikatakan dalam bahasa Arab: “al-Ghulam Fawq as-Sulthan” atau “al-Ghulam Fawq as-Sayyid”, maka tujuannya bukan untuk pujian, tetapi yang dimaksud adalah untuk menyatakan tempat dan arah. Adapun penggunaan kata fawq untuk tujuan pujian maka makna yang dituju adalah dalam pengertian menguasai, menundukan, dan ketinggian derajat. Dan pengertian inilah yang dimaksud dengan ayat “Yakhafuna Rabbahum Min Fawqihim” (QS. An-Nahl: 50). Karena sesungguhnya seorang itu merasa takut terhadap yang memiliki derajat dan keagungan lebih tinggi darinya” (Idlah ad-Dalil Bi Qath’i Hujaj Ahl at-Ta’thil, h. 108-109).

Inilah pengertian fawq pada hak Allah, yaitu bukan dalam pengertian tempat dan arah, tapi dalam pengertian ketinggian derajat dan keagungan-Nya. Pemaknaan inilah yang telah disepakati oleh para ulama ahli tafsir, seperti al-Imâm al-Qurthubi, dan lainnya (Lihat al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, j. 3, h. 78, j. 20, 15, j. 12, h. 91, j. 4, h. 217, j. 11, h. 223 dan di banyak halaman lainnya).

selesai...!
49 menit yang lalu · Suka · 1 orang · Hapus
Hasanul Zain
BANTAHAN...!

Pertanyaan bonus :
Rasulullah SAW pernah mengajukan pertanyaan kepada seorang budak perempuan milik Mua’wiyah bin Al-Hakam As-Sulamy sebagai ujian keimanan sebelum ia dimerdekakan oleh tuannya yaitu Mu’awiyah : Artinya : ”Beliau bertanya kepadanya : ”Di manakah Allah ?. Jawab budak perempuan : ”Di atas langit. Beliau bertanya (lagi) : ”Siapakah Aku ..?. Jawab budak itu : ”Engkau adalah Rasulullah”. Beliau bersabda : ”Merdekakan ia ! .. karena sesungguhnya ia mu’minah (seorang perempuan yang beriman)”.. Hadits shahih. Dikeluarkan oleh Jama’ah ahli hadits, diantaranya : 1. Imam Malik (Tanwirul Hawaalik syarah Al-Muwath-tho juz 3 halaman 5-6). 2. Imam Muslim (2/70-71) 3. Imam Abu Dawud (No. 930-931) 4. Imam Nasa’i (3/13-14) 5. Imam Ahmad (5/447, 448-449) 6. Imam Daarimi 91/353-354) 7. Ath-Thayaalis di Musnadnya (No. 1105) 8. Imam Ibnul Jaarud di Kitabnya ”Al-Muntaqa” (No. 212) 9. Imam Baihaqy di Kitabnya ”Sunanul Kubra” (2/249-250) 10. Imam Ibnu Khuzaimah -Imamnya para Imam- di Kitabnya ”Tauhid” (hal. 121-122) 11. Imam Ibnu Abi ‘Aashim di Kitab As-Sunnah (No. 489 di takhrij oleh ahli hadits besar Muhammad Nashiruddin Al-Albanni). 12. Imam Utsman bin Sa’id Ad-Daarimi di Kitabnya ”Ar-Raddu ‘Alal Jahmiyyah” (No. 60,61,62 halaman 38-39 cetakan darus Salafiyah). 13. Imam Al-Laalikai di Kitabnya ”As-Sunnah ” (No. 652).
Pertanyaan :
1. Apakah jawaban budak tsb “Allah Di atas langit” dibenarkan oleh Nabi ?
2. dengan keyakina bahwa Allah Di atas langit, budak tsb termasuk berakidah benar (mukminah) apa sesat ?
Dalil-dalil diatas adalah dari Al-Qur’an dan As-Sunnah…!

saya langsung saja ke pertanyaan bonus anda karena pertanyaan tentang ayat2 alqur'an sudah saya jawab dan saya rasa sudah mencakup smua pertanyaan anda tentang makna ayat2 mutasyabihat di atas...!
48 menit yang lalu · Suka · 1 orang · Hapus
Hasanul Zain
BANTAHAN...!

Rasulullah SAW pernah mengajukan pertanyaan kepada seorang budak perempuan milik Mua’wiyah bin Al-Hakam As-Sulamy sebagai ujian keimanan sebelum ia dimerdekakan oleh tuannya yaitu Mu’awiyah : Artinya : ”Beliau bertanya kepadanya : ”Di manakah Allah ?. Jawab budak perempuan : ”Di atas langit. Beliau bertanya (lagi) : ”Siapakah Aku ..?. Jawab budak itu : ”Engkau adalah Rasulullah”. Beliau bersabda : ”Merdekakan ia ! .. karena sesungguhnya ia mu’minah (seorang perempuan yang beriman)”.
Pertanyaan :
1. Apakah jawaban budak tsb “Allah Di atas langit” dibenarkan oleh Nabi ?
2. dengan keyakina bahwa Allah Di atas langit, budak tsb termasuk berakidah benar (mukminah) apa sesat ?
Dalil-dalil diatas adalah dari Al-Qur’an dan As-Sunnah…!

bismillah...!
Pemahaman hadits ini bukan berarti bahwa Allah bertempat di langit seperti yang dipahami oleh kaum Wahhabiyyah, tetapi makna "Fi as-Sama'" dalam perkataan budak tersebut adalah untuk mengungkapkan bahwa Allah Maha Tinggi sekali pada derajat dan keagungan-Nya. Pemahaman teks ini harus demikian agar sesuai dengan pemahaman bahasa. Seperti perkataan salah seorang penyair mashur; an-Nabighah al-Ju’di, dalam sebuah sairnya berkata:

بَلَغْنَا السّمَاءَ مَجْدُنَا وَسَنَاؤُنَا # وَإنّا لَنَرْجُو فَوْقَ ذَلِكَ مَظْهَرَا

“Kemuliaan dan kebesaran kami telah mencapai langit, dan sesungguhnya kita mengharapkan hal tersebut lebih tinggi lagi dari pada itu.
Pemahaman bait syair ini bukan berarti bahwa kemuliaan mereka bertempat di langit, tetapi maksudnya bahwa kemuliaan mereka tersebut sangat tinggi.
Kemudian dari pada itu, sebagian ulama hadits telah mengkritik Hadits al-Jariyah ini, mereka mengatakan bahwa hadits tersebut sebagai hadits mudltharib, yaitu hadits yang berbeda-beda antara satu riwayat dengan riwayat lainnya, baik dari segi sanad (mata rantai) maupun matan-nya (redaksi). Kritik mereka ini dengan melihat kepada dua segi berikut;
Pertama: Bahwa hadits ini diriwayatkan dengan sanad dan matan (redaksi) yang berbeda-beda; ini yang dimaksud hadits mudltharib. Di antaranya; dalam matan Ibn Hibban dalam kitab Shahih-nya diriwayatkan dari asy-Syuraid ibn Suwaid al-Tsaqafi, sebagai berikut: ”Aku (asy-Syuraid ibn Suwaid al-Tsaqafi) berkata: “Wahai Rasulullah sesungguhnya ibuku berwasiat kepadaku agar aku memerdekakan seorang budak atas nama dirinya, dan saya memiliki seorang budak perempuan hitam”. Lalu Rasulullah berkata: “Panggilah dia!”. Kemudian setelah budak perempuan tersebut datang, Rasulullah berkata kepadanya: “Siapakah Tuhanmu?”, ia menjawab: “Allah”. Rasulullah berkata: “Siapakah aku?”, ia menjawab: “Rasulullah”. Lalu Rasulullah berkata: “Merdekakanlah ia karena ia seorang budak perempuan yang beriman” .
Sementara dalam redaksi riwayat al-Imam al-Bayhaqi bahwa Rasulullah bertanya kepada budak perempuan tersebut dengan mempergunakan redaksi: “Aina Allah?”, lalu kemudian budak perempuan tersebut berisyarat dengan telunjuknya ke arah langit. Dalam riwayat ini disebutkan bahwa budak tersebut adalah seorang yang bisu.
Kemudian dalam riwayat lainnya, masih dalam riwayat al-Imam al-Bayhaqi, Hadits al-Jariyah ini diriwayatkan dengan redaksi: “Siapa Tuhanmu?”. Budak perempuan tersebut menjawab: “Allah Tuhanku”. Lalu Rasulullah berkata: “Apakah agamamu?”. Ia menjawab: “Islam”. Rasulullah berkata: “Siapakah aku?”. Ia menjawab: “Engkau Rasulullah”. Lalu Rasulullah berkata kepada pemiliki budak: “Merdekakanlah!” .
Dalam riwayat lainnya, seperti yang dinyatakan oleh al-Imam Malik, disebutkan dengan memakai redaksi: “Adakah engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah?”, budak tersebut menjawab: “Iya”. Rasulullah berkata: “Adakah engkau bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?”, budak tersebut menjawab: “Iya”. Rasulullah berkata: “Adakah engkau beriman dengan kebangkitan setelah kematian?”, budak tersebut menjawab: “Iya”. Lalu Rasulullah berkata kepada pemiliknya: “Merdekakanlah ia” .
Riwayat al-Imam Malik terakhir disebut ini adalah riwayat yang sejalan dengan dasar-dasar akidah, karena dalam riwayat itu disebutkan bahwa budak perempuan tersebut sungguh-sungguh datang dengan kesaksiannya terhadap kandungan dua kalimat syahadat (asy-Syahadatayn), walaupun dalam riwayat al-Imam Malik ini tidak ada ungkapan: “Fa Innaha Mu’minah” (Sesungguhnya ia seorang yang beriman)”.
Dengan demikian riwayat al-Imam Malik ini lebih kuat dari pada riwayat al-Imam Muslim, karena riwayat al-Imam Malik ini sejalan dengan sebuah hadits mashur, bahwa Rasulullah bersabda:

أُمِرْتُ أنْ أُقَاتِلَ النّاسَ حَتّى يَشْهَدُوا أنْ لاَ إلهَ إلاّ اللهُ وَأنّي رَسُوْلُ الله (رواه البخاري وغيره)

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa saya adalah utusan Allah” .
Riwayat al-Imam Malik ini juga sejalan dengan sebuah hadits riwayat al-Imam an-Nasa-i dalam as-Sunan al-Kubra dari sahabat Anas ibn Malik bahwa suatu ketika Rasulullah masuk ke tempat seorang Yahudi yang sedang dalam keadaan sakit. Rasulullah berkata kepadanya: “Masuk Islamlah engkau!”. Orang Yahudi tersebut kemudian melirik kepada ayahnya, kemudian ayahnya berkata: “Ta’atilah perintah Rasulullah”. Kemudian orang Yahudi tersebut berkata: “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah”. Lalu Rasulullah berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan dia dari api neraka dengan jalan diriku” .
Ke dua; Bahwa riwayat Hadits al-Jariyah yang mempergunakan redaksi “Aina Allah?”, adalah riwayat yang menyalahi dasar-dasar akidah, karena di antara dasar akidah untuk menghukumi seseorang dengan keislamannya bukan dengan mengatakan “Allah Fi as-Sama’”. Tidak pernah dan tidak dibenarkan jika ada seorang kafir yang hendak masuk Islam diambil ikrar darinya bahwa Allah berada di langit. karena perkataan semacam ini jelas bukan merupakan kalimat tauhid. Sebaliknya kata “Allah Fi as-sama’” adalah kalimat yang biasa dipakai oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani, juga orang-orang kafir lainnya dalam menetapkan keyakinan mereka. Akan tetapi tolak dasar yang dibenarkan dalam syari’at Allah untuk menghukumi keimanan seseorang adalah apa bila ia bersaksi dengan dua kalimat syahadat sebagaimana tersebut dalam hadits mashur di atas.
48 menit yang lalu · Suka · Hapus
Hasanul Zain
BANTAHAN...!

(Masalah): Jika seseorang berkata: Bagaimana mungkin riwayat al-Imam Muslim yang menyebutkan dengan redaksi “Aina Allah?”, yang kemudian dijawab “Fi as-sama’”, sebagai hadits yang tertolak, padahal bukankah seluruh riwayat al-Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya disebut dengan hadits-hadits shahih?
(Jawab): Terdapat beberapa ulama hadits telah menolak beberapa riwayat Muslim dalam kitab Shahih-nya tersebut. Dan andaikan Hadits al-Jariyah tersebut tetap diterima sebagai hadits shahih, maka hal itu bukan berarti maknanya bahwa Allah bertempat di langit seperti yang dipahami oleh sebagian orang bodoh, tetapi maknanya adalah bahwa Allah Maha tinggi sekali derajat dan keagungannya. Dan di atas dasar makna inilah sebagian ulama Ahlussunah ada yang tetap menerima Hadits al-Jariyah dari riwayat al-Imam Muslim tersebut sebagai hadits shahih. Artinya, bahwa mereka tidak memaknai Hadits al-Jariyah ini dalam pemahaman makna zhahirnya yang seakan menetapkan bahwa Allah berada di langit. Pemahaman ulama Ahlussunnah ini berbeda dengan keyakinan kaum Musyabbihah (Wahhabiyyah sekarang) yang mamahami hadits tersebut sesuai makna zhahirnya, hingga mereka mengatakan bahwa Allah berada di langit. Yang aneh, pada saat yang sama mereka juga mengatakan bahwa Allah berada di atas arsy. di dua tempat heh?!! A'udzu Billah. Lebih aneh lagi, teks-teks yang zhahirnya seakan Allah berada di arah bumi/bawah tidak mereka ambil dalam makna-makna zhahirnya. Pemahaman apa ini?!! Jelas, ini namanya pemahaman "seenak perut", pemahaman "semau gue" (tahkkum).
Penjelasan lebih lanjut tentang Hadits al-Jariyah, baca syarah Shahih Muslim (al-Minhaj Bi Syarh Shahih Muslim ibn al-Hajjaj) karya al-Imam an-Nawawi (w 676 H)

SIAPAKAH WAHHABY ITU...?
JAWABANNYA : ORANG YANG BERPAHAM SEPERTI ANDA...
wallohu a'lamu bissowab alfatihah...
47 menit yang lalu · Suka · 1 orang · Hapus
Wafa Noer
Nyemak
46 menit yang lalu · Suka · 1 orang · Hapus
Abdul Basit
kok orang yg berpaham seperti anda????????

lha kalau yg baca bukan wahabi gimana?
33 menit yang lalu · Suka · 1 orang · Hapus
Hasanul Zain
maaf kang basit maksud postingan di atas adalah sanggahan untuk seorang yang membantah postingan yai timur lenk hehehe maaf bukan bermaksud badi yang membaca di group piss ini...!
21 menit yang lalu · Suka · 1 orang · Hapus
Satria Nuzulul Qolbi
Kesadaran ada pd diri kita sndri, sadar gx sdr kita tlh merusak sejati seorang muslim, mka dr t jgnlh cpt emosional, bisakah kita bersabar?
Klo lom bsa brsabar mka beljarlh tuk brsabar.
:)
6 menit yang lalu · Suka · Hapus
Hasanul Zain
postingan sebelumnya yang ada di profil saya yang berpaham wahhaby...!

2. Saudara Zain, semoga Allah selalu membimbing saya dan Anda untuk kembali pada petunjuk-NYA, Karena Allah berfirman: “...Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” QS. An-Nisa: 59)
Mengenai perkataan Anda: “..karena kaum wahhaby telah salah dalam mentafsirkan lafadz istawa 'alal 'arysi dan lafadz yadulloh serta ayat2 mutsysabihah lainnya”.
Saya katakan: Justru kalimat ini menjadi bumerang, sebab justru kaidah penetapan Nama dan Sifat Allah yang saya ikuti adalah jelas seperti di atas. Contoh: “Bersemayam” “Tangan” “Wajah” dan lain2, ya menerima apa adanya Sesuai kebesaran Allah tanpa memalingkan arti, tanpa Tasybih (menyerupakan dengan makhluk) dan tanpa menyamakan dengan jisim makhluk (mujassim) – seperti tuduhan orang2 yang Saudara ikuti.. Justru kalau sifat2 Allah tersebut Anda takwil, anda terkena Sindiran dalam ayat berikut:
“..Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” QS. Ali Imran: ayat 7.
Maukah Saudara termasuk terkena ayat tersebut..? Pilihan ada pada saudara.
4 menit yang lalu · Suka · Hapus