c

1

www.darulfatwa.org.au



2

www.darulfatwa.org.au



P

engantar

P

enerbit

3

www.darulfatwa.org.au



Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah atas

Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya.

Seiring dengan merebaknya berbagai paham yang menyimpang

di kalangan masyarakat kita, seperti tasybih (menyerupakan Allah

dengan makhluk-Nya), takfir (pengkafiran) tanpa alasan, penolakan

dan pengingkaran terhadap empat madzhab dan lain-lain, maka

pemahaman dan pengajaran aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah harus

kembali ditekankan. Karena aqidah ini adalah aqidah mayoritas umat

Islam, dari masa Rasulullah hingga kini, aqidah golongan yang selamat

(al Firqah an-Najiyah). Karena itulah para ulama empat madzhab

menulis berbagai karya, dari mulai tulisan mukhtasharat (ringkasan)

hingga muthawwalat (buku-buku besar) dalam menerangkan aqidah

Ahlussunnah ini (seperti bisa dilihat dalam kutipan-kutipan buku ini).

Aqidah sunniyyah adalah aqidah yang telah disepakati

kebenarannya oleh segenap kaum muslimin di seluruh penjuru bumi.

Aqidah inilah aqidah yang telah dibawa oleh Rasulullah dan para

sahabat. Aqidah ini kemudian dijelaskan kembali berikut dengan dalil-

dalil naqli dan aqli serta bantahan terhadap golongan-golongan yang

menyempal oleh dua imam besar; al Imam Abu al Hasan al Asy'ari

dan Al Imam Abu Manshur al Maturidi -semoga Allah meridlai

keduanya-. Akhirnya pada awal abad IV H Ahlussunnah dikenal

dengan nama baru al Asya'irah dan al Maturidiyyah. Mereka adalah

mayoritas umat yang tergabung dalam pengikut madzhab empat.

Sesuatu yang patut disayangkan adalah merebaknya paham-

paham yang berseberangan dengan aqidah Ahlussunnah dengan klaim

sebagai Ahlussunnah. Seperti paham yang mengatakan bahwa Allah

bersemayam di atas 'Arsy atau Kursi (sebagian mereka menyatakan di

langit), mengharamkan ziarah kubur, memusyrikkan orang yang

bertawassul, menyatakan semua bid'ah (hal yang tidak disebut secara

4

www.darulfatwa.org.au



eksplisit dalam al Qur'an dan Sunnah) adalah sesat, dan banyak hal

lainnya. Bahkan pada kurun terakhir ini telah timbul paham baru -

mengikut paham salah satu sub sekte Khawarij- yang mengkafirkan

penduduk suatu negara yang tidak memakai syariat Islam. Mereka

mengkafirkan semua orang, baik yang duduk dalam pemerintahan

negara tersebut maupun rakyat biasa. Paham-paham inilah yang mulai

merebak di masyarakat kita. Paham-paham yang jelas-jelas menyalahi

apa yang telah disepakati oleh Ahlussunnah Wal Jama'ah.

Buku ini semoga menjadi penawar bagi kegelisahan-

kegelisahan. Kandungan buku ini adalah sesuatu yang telah disepakati

kebenarannya di kalangan Ahlussunnah Wal Jama'ah. Referensi yang

menjadi rujukannya adalah semua kitab-kitab mu'tabar yang beredar di

kalangan Ahlussunnah. Beberapa rekomendasi para ulama kami

cantumkan sebagai apresiasi dan persetujuan mereka terhadap isi buku

ini yang memang tidak menyimpang sedikitpun dari jalur Ahlussunnah

Wal Jama'ah yang secara berkesinambungan diwarisi oleh masyarakat

muslim Indonesia dari generasi ke generasi.

Wabillah at-Taufiq .

 

Lembaga LITBANG

Syabab Ahlussunnah Wal Jama'ah

(SYAHAMAH)

Jakarta, 1 Agustus 2003

5

www.darulfatwa.org.au



Pengantar

Ulama Sunni Indonesia

K.H. Muhammad Syafi'i Hadzami

Mantan Ketua Umum MUI Prop. DKI Jakarta

dan Pimpinan Perguruan Islam AL 'ASYIROTUS SYAFI'IYYAH

JAKARTA

 

6

www.darulfatwa.org.au





 



 



 

Saya telah menelaah risalah berharga ini, yang berjudul Aqidah

Ahlussunnah Wal Jama'ah. Saya merasa senang dengan adanya

risalah ini, ia merupakan obat dan kesembuhan bagi generasi muda

muslim. Risalah ini sekalipun ringkas tetapi maknanya luas dan

bermanfaat. Maka kami menasehatkan kepada segenap penuntut ilmu

untuk memiliki, mempelajari dan mengajarkannya. Dan Allah Maha

pemberi taufiq.

K.H. Mundzir Tamam, M.A

Ketua Umum MUI Prop. DKI Jakarta sekarang

7

www.darulfatwa.org.au





 



 

Sebagai umat Islam yang dalam kehidupan beragamanya

menganut faham Ahlussunnah Wal Jama'ah, diperlukan untuk

mengetahui lebih banyak faham tersebut, baik aqidah, syari'ah

maupun tasawwufnya.

Buku yang berjudul "Aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah"

ini baik sekali untuk dibaca dalam rangka mendalami faham Islam

yang benar tersebut.

Dengan memahami kandungan buku ini, pembaca juga tidak

akan terpengaruh oleh faham-faham lain yang menyesatkan. Buku

"Aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah" ini disusun oleh ulama yang

ahli sehingga dapat dipercaya.

K.H.M. Irfan Zidny, M.A

Almarhum pada masa hidupnya adalah

Rektor Institut Agama Islam al Aqidah, Kayu Manis Jakarta

dan salah satu Rais Syuriah PBNU Jakarta

8

www.darulfatwa.org.au





 

: 

]

[ 3 :ﺓﺪﺋﺎ ﺓﺭﻮﺳ] [ﺎﻨ ﺳﻹﺍ ﺿ

 

Maknanya: "Pada hari ini telah Aku (Allah) sempurnakan agamamu

(kaidah-kaidah agama) dan telah Aku sempurnakan nikmatKu atas

kalian dan aku rela bagi kalian Islam sebagai agama"

Maidah: 3)

 

: 

(Q.S. al



 



 

Maknanya: "Dan sesungguhnya umat ini (Umat Islam) akan terpecah

menjadi tujuh puluh tiga golongan; tujuh puluh dua di neraka (sesat) dan

satu golongan di surga, mereka adalah al Jama'ah (mayoritas umat

Islam). (H.R. Abu Dawud)

Umat Islam Indonesia dalam menjalankan ajaran agamanya baik

aqidahnya, syari'atnya (peribadatan, perkawinan dan mu'amalat) dan

tasawwuf atau akhlaknya mengikuti faham Ahlussunnah Wal Jama'ah.

Buku yang ada pada pembaca ini berisi prinsip-prinsip faham

Ahlussunnah Wal Jama'ah, perlu dibaca, difahami dan diamalkan oleh

pengikutnya maupun umat Islam pada umumnya.

Sekarang beredar buku-buku yang mengandung faham yang

oleh Ahlussunnah Wal Jama'ah dianggap sesat seperti Mu'tazilah,

9

www.darulfatwa.org.au



Syi'ah, Ahmadiyah dan lain-lain. Belum lagi buku-buku yang ditulis

oleh Jaringan Islam Liberal (JIL) tentang masalah-masalah keislaman.

Dengan membaca buku yang ada pada pembaca tentang faham

Ahlussunnah Wal Jama'ah ini umat Islam dapat diselamatkan dari

faham-faham yang tidak benar terutama masalah aqidah.

Selamat membaca, semoga mendapat petunjuk Allah, Amin.

K.H. Saifuddin Amsir

Rais Syuriyah PBNU Jakarta.

10

www.darulfatwa.org.au







 

Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam menyatakan dalam

sabdanya:

ﻩﺍﻭﺭ)    

 

(ﻧﺍﻄﻟﺍﻭ

 

Maknanya: "Jangan kamu tangisi agama ini apabila masih ditangani

oleh ahlinya, namun tangisilah agama ini apabila ditangani oleh orang

yang bukan ahlinya" (H.R. Ahmad dan Ath-Thabarani)

Aqidah adalah pokok ajaran Islam, sepanjang aqidah yang

diyakini umat Islam itu lurus dan benar, maka sepanjang itu pulalah

agama yang hak ini menjamin keselamatan pemeluknya di dunia dan

di akhirat.

Manakala hal yang penting ini diurus oleh orang yang bukan

ahlinya, al Islam sebagai satu-satunya agama yang diterima oleh Allah,

justru akan menjadi rusak ketimbang menjadi lebih baik untuk

difahami dan diyakini.

Risalah "Aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah" ini adalah

pemaparan tentang aqidah yang wajib difahami dan diyakini oleh

setiap muslim baik dari kalangan awamnya maupun dari kalangan

cendekiawannya. Karena dalam risalah tersebut dijelaskan perkara-

perkara dalam aqidah yang terpenting secara sederhana dan menjauhi

pelik-pelik aqidah. Dengan demikian risalah ini menjadi risalah

(tulisan) yang dapat dihayati dan sangat layak dibaca oleh siapa saja

yang ingin menyelamatkan aqidahnya.

11

www.darulfatwa.org.au



Semoga Allah melimpahkan pahala yang besar kepada penyusun

risalah ini atas usahanya, serta kiranya Allah memperbanyak orang-

orang yang mau mengikuti langkah-langkah mulia ini dalam membela

aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah.

 

Jakarta, 9 Juni 2003

H. Fathur Rahman Baidhawi, Lc.

Rektor INISA Tambun, Bekasi.

12

www.darulfatwa.org.au



         



 

Mayoritas pemeluk agama Islam di Indonesia menganut aqidah

Ahlussunnah Wal Jama'ah. Bahkan aqidah ini dianut oleh sebagian besar

kaum muslimin di dunia.

Ketika Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam ditanya tentang

siapakah satu golongan yang selamat dari neraka, beliau menjawab: ﺎﻣ

 

ﺎﺤﺻﺃﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﺎﻧﺃ yaitu golongan yang berpegang pada aqidah yang aku dan

sahabat-sahabatku berpegang teguh kepadanya (H.R. at-Tirmidzi).

Dan ketika Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam ditanya tentang

siapakah satu golongan yang masuk surga sedangkan golongan-

golongan yang lain masuk neraka, beliau menjawab: satu golongan

yang masuk surga itu adalah Ahlussunnah Wal Jama'ah (H.R. Imam

ath-Thabarani).

Buku yang berjudul "Aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah"

dan disertai dengan dalil naqli dan aqli ini sangat besar faedahnya

untuk memberikan pengertian tentang Ahlussunnah Wal Jama'ah dan

juga untuk membentengi pemeluk agama Islam Indonesia yang

sebagian besar berhaluan Ahlussunnah Wal Jama'ah dari faham-

faham dan aqidah lain yang dianggap oleh Ahlussunnah Wal Jama'ah

itu sendiri sebagai faham yang sesat. Buku ini juga sebelum naik cetak

pernah diseminarkan di Forum Senat Mahasiswa Fakultas Adab

INISA.

Institut Agama Islam Shalahuddin al Ayyubi (INISA) Tambun

Bekasi menyambut dengan baik terbitnya buku ini, semoga buku yang

disusun dengan bahasa dialog yang mudah difahami dapat dibaca

dengan cermat oleh seluruh lapisan masyarakat Islam Indonesia.

13

www.darulfatwa.org.au



Akhirnya, mudah-mudahan Allah ta'ala memberikan petunjuk

kepada hamba-hamba-Nya ke jalan yang lurus, Amin.

 

Tambun Bekasi, 25 Mei 2003

Rektor INISA

 

H. Fathur Rahman Baidhawi, Lc.

K.H.Mahfudz Asirun

Pengasuh Pondok Pesantren Mirqot Ilmiyah AL ITQON

Duri Kosambi, Cengkareng-Jakarta Barat

14

www.darulfatwa.org.au







 

Buku yang ada pada tangan anda ini adalah penjelasan ringkas

tentang aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah dengan dalil-dalil yang

bersumber dari al Qur'an, Sunnah, Ijma' dan perkataan para ulama.

Umat Islam sekarang ini sangat membutuhkan penjelasan

aqidah semacam ini, dikarenakan banyaknya sekte-sekte baru yang

sesat dan berkedok Islam seperti kelompok Musyabbihah (yang

menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), Mujassimah (meyakini

bahwa Allah merupakan benda), Mu'aththilah (menafikan keberadaan

Allah), Wahdatul Wujud (meyakini bahwa Allah inti dari alam

sedangkan makhluk adalah bagian dari Allah), Hulul (meyakini bahwa

Allah menyatu dengan makhluk-Nya) dan lain-lain. Begitu juga

mereka yang mengharamkan istighatsah, bertawassul dengan para nabi

dan orang-orang shalih, bertabarruk dengan peninggalan-peninggalan

nabi dan orang-orang shaleh, kesemuanya ini oleh umat Islam

dianggap sesat karena telah menyimpang dari jalan kebenaran.

Lewat buku yang singkat dan padat ini penulis mencoba untuk

membantah kesesatan-kesesatan kelompok yang telah disebutkan di

atas. Dan buku ini juga sangat bermanfaat bagi kaum muslimin yang

butuh mengenal lebih jauh kelompok yang dijamin keselamatannya

dari neraka yaitu Ahlussunnah Wal Jama'ah.

Berbahagialah mereka yang berpegang teguh kepada aqidah

Ahlussunnah Wal Jama'ah dan surga adalah tempat kembalinya untuk

selama-lamanya. Dalam salah satu haditsnya Rasulullah shallallahu

'alayhi wasallam bersabda:

15

www.darulfatwa.org.au



(ﻱﺬﻣﺮﺘﻟﺍ ﻩﺍﻭﺭ) "ﺔﻋﺎﻤ ﻡﺰﻠﻴﻠﻓ ﺔﻨ ﺔﺣﻮﺒ ﺩﺍﺭﺃ ﻦﻤﻓ"

 

Maknanya: "Barangsiapa yang mengharapkan tempat yang lapang di

surga maka hendaknya dia menetap bersama al Jama'ah (Ahlussunnah

Wal Jama'ah)" (H.R. at-Tirmidzi)

Semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita untuk tetap

berpegangteguh dalam kebenaran, aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah,

Amin.

 

Cengkareng, 30 mei 2003

K.H. Drs. Ahmad Masduqi Mahfudz

Rois Syuriyah PWNU Jawa Timur, Ketua MUI Jawa Timur dan Pengasuh

Pon-Pes. Nurul Huda, Malang-Jawa Timur

16

www.darulfatwa.org.au



   

  

    

           

 



 

Ahlussunnah Wal Jama'ah adalah al Firqah an-Najiyah (golongan

yang selamat) dari golongan-golongan yang ada dalam Islam. Untuk

itu, penting sekali bagi seluruh umat Islam di manapun berada

mengetahui dan memahaminya dengan baik. Terlebih dengan

banyaknya kelompok-kelompok yang tidak jelas aqidah dan

thariqahnya mengklaim dirinya adalah Ahlussunnah Wal Jama'ah.

Telah banyak buku yang menjelaskan tentang aqidah

Ahlussunnah Wal Jama'ah, namun begitu saya telah membaca buku

ini, yang meskipun kecil namun memuat banyak hal yang perlu

diketahui tentang aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah. Cara

penyajiannya yang ditulis dengan model tanya jawab mempermudah

para pembaca untuk memahaminya dengan baik.

Saya berharap buku ini menjadi buku panduan bagi pemuda

muslim di manapun saja berada agar selalu terjaga dari aqidah yang

sesat di tengah godaan duniawi yang begitu hebatnya.

Semoga Allah membalas jerih payah penyusun buku ini dengan

pahala yang berlipat ganda. Dan semoga Allah juga memberikan

hidayah dan petunjuk bagi mereka yang membaca dan ikut

menyebarkan buku ini.

 

Malang, 19 mei 2003

17

www.darulfatwa.org.au



Habib Syekh Ibnu Ahmad al Musawa



 

Kami telah menelaah kitab aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah

ini, maka kami mendapatkan kitab tersebut sesuai dengan apa yang

diyakini oleh Ahlussunnah Wal Jama'ah di seluruh negara, dan di

dalamnya ada pengetahuan (ma'lumat) yang sangat penting dan sangat

dibutuhkan oleh setiap siswa dan mahasiswa. Barang siapa yang

memahaminya dengan sebenarnya ia akan dapat membedakan antara

Ahlussunnah dan aliran atau faham-faham yang lainnya.

Nasehat saya agar setiap siswa dan mahasiswa untuk membaca

kitab ini dan menyebarkan di seluruh lembaga-lembaga pendidikan di

Indonesia karena kitab ini adalah benteng bagi para pemuda

Ahlussunnah Wal Jama'ah.

18

www.darulfatwa.org.au



Tuan Khalifah Syaufi Madlawan

Pendiri Pondok Pesantren Dar Ahlussunnah Wal Jama'ah Kubu Riau



 

Kami keluarga besar pondok pesantren Dar Ahlussunnah Wal

Jama'ah merasa gembira dan berbangga hati serta bersyukur sedalam-

dalamnya atas terbitnya buku aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah.

Karena buku ini memuat hal-hal yang paling utama dan pertama

dalam kehidupan manusia, yakni pengetahuan terhadap Allah dan

Rasul-Nya. Buku ini juga merupakan perisai bagi setiap muslim untuk

melindungi aqidahnya dari faham-faham sesat (Wahhabiyyah, Hizb al

Ikhwan dan Hizb at-Tahrir) yang sedang merajalela dalam dekade

belakangan ini karena buku ini dalam setiap ulasannya menyertakan

dalil maupun hujjah yang sangat sesuai dengan al Qur'an, hadits dan

ijma' para ulama.

Dengan diterbitkannya buku "Aqidah Ahlussunnah Wal

Jama'ah" ini, kami juga bisa bernafas setelah sekian lama menahan

nafas melihat lambannya atau bahkan terhentinya sama sekali

penerbitan buku-buku yang berfaham Ahlussunnah Wal Jama'ah,

dengan harapan semoga buku ini menjadi motifator bagi muncul dan

ramainya buku-buku yang sesuai dengan aqidah Ahlussunnah Wal

Jama'ah, Amin.

Mengakhiri sambutan ini kami pesankan kepada seluruh umat

Islam jangan sampai mengabaikan ataupun melewatkan buku ini

begitu saja, mengingat urgennya aqidah yang benar dalam hidup dan

19

www.darulfatwa.org.au



kehidupan

ini,

dan

semakin

bahayanya

faham-faham

yang

disebarluaskan oleh orang-orang yang berbaju Islam. Maka melalui

buku ini kami yakin dan percaya kita akan lebih mantap dalam

memahami agama ini.

 

Riau, 15 Rabi' al Awwal 1423 H

17 Mei 2003

20

www.darulfatwa.org.au



Drs.H. Muhammad Khotbah Arrafie

Pengasuh Pondok Pesantren HUBBUL WATHAN-RIAU.

 

Allah ta'ala berfirman dalam al Qur'an dalam surat al Isra ayat

36 yang berbunyi:

 

ﻥﺎ ﺌﻟ ﱡﻞ ﺩﺍﻟﺍ ﻟﺍ ﺴﻟﺍ ﱠﻥ ]

 

[36 :ﺀﺍﺮﺳﻹﺍ ﺓﺭﻮﺳ] [

 

Maknanya: "Jangan kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak ada

ilmu (pengetahuan) tentang itu, sesungguhnya pendengaran, penglihatan

dan hati semuanya akan dipertanggungjawabkan (di akhirat)" (Q.S. al

Isra: 36)

Satu di antara sendi yang fundamental di dalam Islam adalah

aqidah (Tauhid) yang merupakan asas di mana seorang muslim

berbuat, bertindak dan berprilaku yang didasarkan kepada aqidah

tersebut. Kebenaran sebuah aqidah akan beraplikasi terhadap

kebenaran tindakan, perbuatan dan perkataan seorang muslim.

Sebaliknya kebatilan sebuah aqidah akan juga melahirkan kebatilan

tindakan, perbuatan dan perkataan seorang muslim.

Ahlussunnah Wal Jama'ah sebagai salah satu faham yang sangat

hati-hati terhadap pengkajian aqidah ini mengetengahkan pembahasan

yang sesuai dengan apa yang digariskan al Qur'an dan Sunnah.

Ahlussunnah Wal Jama'ah juga mengetengahkan berbagai argumentasi

yang menolak faham-faham yang bertentangan dengan syari'at Allah

dan Rasul-Nya. Dengan argumentasi logis ('aqliyyah) yang disandarkan

kepada firman Allah (naqliyyah) aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah

21

www.darulfatwa.org.au



berdiri tegak mempertahankan kebenaran aqidah yang telah banyak

disusupi oleh aliran-aliran dan pemahaman yang keliru bahkan salah

dari madzhab-madzhab lainnya.

Buku kecil ini merupakan standar bagi pemula untuk

mengenal secara sederhana I'tiqad Ahlussunnah Wal Jama'ah disamping

diselingi berbagai hukum kemasyarakatan yang perlu diketahui oleh

seorang muslim. Meskipun sederhana namun isinya sudah dapat

dijadikan bekal bagi seorang muslim untuk membekali dirinya dengan

pemahaman yang benar. Sebelum buku ini, di Pondok Pesantren juga

telah dipelajari buku Allah Maujud bila Makan (Allah ada tanpa tempat)

sebagai buku standar untuk mempelajari aqidah Ahlussunnah Wal

Jama'ah. Dan insya Allah buku ini juga akan dijadikan sebagai lanjutan

dari buku sebelumnya. Semoga upaya ini mendapatkan berkah dari

Allah ta'ala, Wassalam.

 

Riau, 28 Mei 2003

22

www.darulfatwa.org.au



K.H. Tengku Zulkarnain

Ketua Yayasan Ahlussunnah Wal Jama'ah Sumatera Utara dan Aceh, Wakil

Ketua Majelis Fatwa Ormas Islam Mathla'ul Anwar, Ketua Penasehat

Yayasan Al Hakim Menteng Jakarta Pusat.

 

ﺎﻤﻠﺴﻣﻭ ﺎﻴﻠﺼﻣﻭ ﺍﺪﻣﺎﺣ ﺮﻜﻟﺍ ﻪﻟﻮﺳﺭ ﻰﻠﻋ ﻢﻠﺴﻧﻭ ﻲﻠﺼﻧﻭ ﻩﺪﻤ

 

Telah lama pengajaran dan pengembangan faham Ahlussunnah

Wal Jama'ah beredar serta telah berurat berakar dalam kehidupan

beragama masyarakat Islam di Indonesia. Ratusan buku dan risalah

telah ditulis oleh para ulama baik yang berasal dari Indonesia sendiri

atau dari luar negeri.

Namun akhir-akhir ini, kelihatannya hampir semua toko buku

yang ada di tanah air sudah didominasi oleh faham dari kelompok lain

di luar Ahlussunnah Wal Jama'ah. Anehnya faham-faham baru ini

justru mengaku sebagai penganut dan pembela faham Ahlussunnah

Wal Jama'ah itu sendiri. Padahal kebanyakan aqidah mereka justru

terpengaruh oleh faham Mujassimah, Musyabbihah, khawarij, Ahmadiyah

dan lain-lain di luar faham Ahlussunnah.

Bahkan ada beberapa buku yang berisikan fitnah dengan

mengatakan bahwa faham al Asy'ari dan al Maturidi yang selama ini

menjadi anutan lebih 90 % muslim di Indonesia adalah faham sesat

yang menafikan sifat-sifat Allah. Na'udzubillah! Padahal Syaikh besar

mereka Ibnu Katsir justru mengakui kedua faham ini adalah faham

sunny yang murni.

Ada juga buku mereka yang mengatakan, bahwa pendekatan

ilmu aqidah pada al Asy'ari dan al Maturidi adalah pendekatan ilmu

kalam (tauhid) yang tidak berdasarkan al Qur'an dan Sunnah dan

hanya berdasarkan akal semata.

Buku ini insya Allah meskipun kecil namun cukup untuk

menjelaskan sekaligus membuktikan bahwa faham yang selama ini kita

23

www.darulfatwa.org.au



anut justru disokong penuh oleh al Qur'an dan Sunnah, bukan

berdasarkan akal semata. Dengan demikian tuduhan dan fitnah yang

mereka sebarkan selama ini dapat terpadamkan.

Kami berharap kiranya para ulama Ahlussunnah Wal Jama'ah

segera terpanggil untuk menulis dan menterjemahkan lebih banyak

lagi kitab-kitab yang membela dan menegakkan faham kita sebagai

warisan berharga untuk anak cucu. Wassalam!

24

www.darulfatwa.org.au



Muqaddimah

25

www.darulfatwa.org.au



Siapakah

AhlussunnahW alJama'ah ?

Ahlussunnah Wal Jama'ah adalah golongan mayoritas umat

Muhammad. Mereka adalah para sahabat dan orang-orang yang

mengikuti mereka dalam dasar-dasar aqidah. Merekalah yang

dimaksud oleh hadits Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam:

 

(ﻱﺬﻣﺮﺘﻟﺍ ﻩﺍﻭﺭ) "ﻋﺎﻟﺍ ﻟﺍ ﺩﺍ ..."

 

Maknanya: "maka barang siapa yang menginginkan tempat lapang di

surga hendaklah berpegang teguh pada al Jama'ah; yakni berpegang teguh

pada aqidah al Jama'ah". (Hadits ini dishahihkan oleh al Hakim,

dan at-Tirmidzi mengatakan hadits hasan shahih)

Setelah tahun 260 H menyebarlah bid'ah Mu'tazilah,

Musyabbihah dan lainnya. Maka dua Imam yang agung Abu al Hasan

al Asy'ari (W 324 H) dan Abu Manshur al Maturidi (W 333 H) -semoga

Allah meridlai keduanya- menjelaskan aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah

yang diyakini para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka,

dengan mengemukakan dalil-dalil naqli (nash-nash al Qur'an dan al

hadits) dan 'aqli (argumen rasional) disertai dengan bantahan-bantahan

terhadap syubhah-syubhah (sesuatu yang dilontarkan untuk

mengaburkan hal yang sebenarnya) Mu'tazilah, Musyabbihah dan

lainnya, sehingga Ahlussunnah Wal Jama'ah dinisbatkan kepada

keduanya. Mereka (Ahlussunnah) akhirnya dikenal dengan nama al

Asy'ariyyun (para pengikut al Asy'ari) dan al Maturidiyyun (para pengikut

26

www.darulfatwa.org.au



al Maturidi). Jalan yang ditempuh oleh al Asy'ari dan al Maturidi

dalam pokok-pokok aqidah adalah sama dan satu.

Al Hafizh Murtadla az-Zabidi (W 1205 H) dalam al Ithaf juz II

hlm. 6, mengatakan: "Pasal Kedua: "Jika dikatakan Ahlussunnah Wal

Jama'ah maka yang dimaksud adalah al Asy'ariyyah dan al Maturidiyyah".

Mereka adalah ratusan juta ummat Islam (golongan mayoritas).

Mereka adalah para pengikut madzhab Syafi'i, para pengikut madzhab

Maliki, para pengikut madzhab Hanafi dan orang-orang utama dari

madzhab Hanbali (Fudhala' al Hanabilah). Sedangkan Rasulullah

shallallahu 'alayhi wasallam telah memberitahukan bahwa mayoritas

ummatnya tidak akan sesat. Alangkah beruntungnya orang yang

senantiasa mengikuti mereka.

Maka diwajibkan untuk penuh perhatian dan keseriusan dalam

mengetahui aqidah al Firqah an-Najiyah yang merupakan golongan

mayoritas, karena ilmu aqidah adalah ilmu yang paling mulia

disebabkan ia menjelaskan pokok atau dasar agama. Rasulullah

shallalllahu 'alayhi wasallam ditanya tentang sebaik-baik perbuatan,

beliau menjawab:

 

(ﻱﺭﺎﺨﺒﻟﺍ ﻩﺍﻭﺭ) " ﷲﺎ ﻥﺎﻤﻳ"

 

Maknanya: "Iman kepada Allah dan Rasul-Nya". (H.R. al

Bukhari)

Sama sekali tidak berpengaruh, ketika golongan Musyabbihah mencela

ilmu ini dengan mengatakan ilmu ini adalah 'ilm al Kalam al Madzmum

(ilmu kalam yang dicela oleh salaf). Mereka tidak mengetahui bahwa

'ilm al Kalam al Madzmum adalah yang dikarang dan ditekuni oleh

Mu'tazilah, Musyabbihah dan ahli-ahli bid'ah semacam mereka.

Sedangkan 'ilm al Kalam al Mamduh (ilmu kalam yang terpuji) yang

ditekuni oleh Ahlussunnah, dasar-dasarnya sesungguhnya telah ada di

kalangan para sahabat. Pembicaraan dalam ilmu ini dengan

27

www.darulfatwa.org.au



membantah ahli bid'ah telah dimulai pada zaman para sahabat.

Sayyidina Ali -semoga Allah meridlainya- membantah golongan Khawarij

dengan hujjah-hujjahnya. Beliau juga membungkam salah seorang

pengikut ad-Dahriyyah (golongan yang mengingkari adanya pencipta

alam ini). Dengan hujjahnya pula, beliau mengalahkan empat puluh

orang Yahudi yang meyakini bahwa Allah adalah jism (benda). Beliau

juga membantah orang-orang Mu'tazilah. Ibnu Abbas -semoga Allah

meridlainya- juga berhasil membantah golongan Khawarij dengan

hujjah-hujjahnya. Ibnu Abbas, al Hasan ibn 'Ali, 'Abdullah ibn 'Umar -

semoga Allah meridlai mereka semua- juga telah membantah kaum

Mu'tazilah. Dari kalangan Tabi'in; al Imam al Hasan al Bishri, al Imam

al Hasan ibn Muhammad ibn al Hanafiyyah cucu sayyidina 'Ali, dan

khalifah 'Umar ibn Abd al 'Aziz -semoga Allah meridlai mereka- juga

telah membantah kaum Mu'tazilah. Dan masih banyak lagi ulama-

ulama salaf lainnya, terutama al Imam asy-Syafi'i -semoga Allah

meridlainya-, beliau sangat mumpuni dalam ilmu aqidah, demikian pula

al Imam Abu Hanifah, al Imam Malik dan al Imam Ahmad -semoga

Allah meridlai mereka- sebagaimana dituturkan oleh al Imam Abu

Manshur al Baghdadi (W 429 H) dalam Ushul ad-Din, al Hafizh Abu

al Qasim ibn 'Asakir (W 571 H) dalam Tabyin Kadzib al Muftari, al

Imam az-Zarkasyi (W 794 H) dalam Tasynif al Masami' dan al

'Allaamah al Bayadli (W 1098 H) dalam Isyaraat al Maram dan lain-

lain.

Telah banyak para ulama yang menulis kitab-kitab khusus

mengenai penjelasan aqidah Ahlussunnah Wal Jama'ah seperti Risalah

al 'Aqidah ath-Thahawiyyah karya al Imam as-Salafi Abu Ja'far ath-

Thahawi (W 321 H), kitab al 'Aqidah an-Nasafiyyah karangan al Imam

'Umar an-Nasafi (W 537 H), al 'Aqidah al Mursyidah karangan al Imam

Fakhr ad-Din ibn 'Asakir (W 630 H), al 'Aqidah ash-Shalahiyyah yang

ditulis oleh al Imam Muhammad ibn Hibatillah al Makki (W 599 H);

beliau menamakannya Hadaiq al Fushul wa Jawahir al Ushul, kemudian

28

www.darulfatwa.org.au



menghadiahkan karyanya ini kepada sulthan Shalahuddin al Ayyubi

(W 589 H) -semoga Allah meridlainya-, beliau sangat tertarik dengan

buku tersebut sehingga memerintahkan untuk diajarkan sampai

kepada anak-anak kecil di madrasah-madrasah, sehingga buku tersebut

kemudian dikenal dengan sebutan al 'Aqidah ash-Shalahiyyah.

Sulthan Shalahuddin adalah seorang 'alim yang bermadzhab

Syafi'i, mempunyai perhatian khusus dalam menyebarkan al 'Aqidah

as-Sunniyyah. Beliau memerintahkan para muadzdzin untuk

mengumandangkan al 'Aqidah as-Sunniyyah di waktu tasbih (sebelum

adzan Shubuh) pada setiap malam di Mesir, seluruh negara Syam

(Syiria, Yordania, Palestina dan Lebanon), Mekkah dan Madinah,

sebagaimana dikemukakan oleh al Hafizh as-Suyuthi (W 911 H) dalam

al Wasa-il ila Musamarah al Awa-il dan lainnya. Sebagaimana banyak

terdapat buku-buku yang telah dikarang dalam menjelaskan al 'Aqidah

as-Sunniyyah dan senantiasa penulisan itu terus berlangsung.

Bab I

29

www.darulfatwa.org.au



Penjelasan Ringkas

Aqidah Ahlussunnah Wal

Jama'ah

PenjelasanRingkas

AqidahAhlussunnah

W alJama'ah

30

www.darulfatwa.org.au



Allah Ada Tanpa Tempat dan Arah

[11:ﻯﺭﻮﺸﻟﺍ ﺓﺭﻮﺳ] [ ] : ﺎﻌﺗ ﷲﺍ ﻝﺎﻗ .1

 

Allah ta'ala berfirman: "Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun

dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi), dan tidak

ada sesuatupun yang menyerupai-Nya". (Q.S. as-Syura: 11)

Ayat ini adalah ayat yang paling jelas dalam al Qur'an yang

menjelaskan bahwa Allah sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya.

Ulama Ahlussunnah menyatakan bahwa alam (makhluk Allah) terbagi

atas dua bagian; yaitu benda dan sifat benda. Kemudian benda terbagi

menjadi dua, yaitu benda yang tidak dapat terbagi lagi karena telah

mencapai batas terkecil (para ulama menyebutnya dengan al Jawhar al

Fard), dan benda yang dapat terbagi menjadi bagian-bagian (jisim).

Benda yang terakhir ini terbagi menjadi dua macam;

1. Benda Lathif: sesuatu yang tidak dapat dipegang oleh tangan,

seperti cahaya, kegelapan, ruh, angin dan sebagainya.

2. Benda Katsif: sesuatu yang dapat dipegang oleh tangan seperti

manusia, tanah, benda-benda padat dan lain sebagainya.

Adapun sifat-sifat benda adalah seperti bergerak, diam, berubah,

bersemayam, berada di tempat dan arah, duduk, turun, naik dan

sebagainya. Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa Allah ta'ala

tidak menyerupai makhluk-Nya, bukan merupakan al Jawhar al Fard,

juga bukan benda Lathif atau benda Katsif. Dan Dia tidak boleh disifati

dengan apapun dari sifat-sifat benda. Ayat tersebut cukup untuk

dijadikan sebagai dalil bahwa Allah ada tanpa tempat dan arah. Karena

seandainya Allah mempunyai tempat dan arah, maka akan banyak

yang serupa dengan-Nya. Karena dengan demikian berarti ia memiliki

31

www.darulfatwa.org.au



dimensi (panjang, lebar dan kedalaman). Sedangkan sesuatu yang

demikian, maka ia adalah makhluk yang membutuhkan kepada yang

menjadikannya dalam dimensi tersebut.

 

ﻩﺍﻭﺭ) " ﷲﺍ ﻥﺎ " :r ﷲﺍ ﻝﻮﺳﺭ ﻝﺎﻗ .2

 

(ﺩﻭﺭﺎ ﻦﺑﺍﻭ ﻲﻘﻬﻴﺒﻟﺍﻭ ﻱﺭﺎﺨﺒﻟﺍ

 

Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam bersabda: "Allah ada pada

azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-

Nya". (H.R. al Bukhari, al Bayhaqi dan Ibn al Jarud).

Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa

permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal

belum ada angin, cahaya, kegelapan, 'Arsy, langit, manusia, jin,

malaikat, waktu, tempat dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum

terciptanya tempat dan arah, maka Ia tidak membutuhkan kepada

keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa

tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru

(makhluk).

Al Imam Abu Hanifah dalam kitabnya al Fiqh al Absath berkata:

"Allah ta'ala ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum

ada tempat, Dia ada sebelum menciptakan makhluk, Dia ada dan

belum ada tempat, makhluk dan sesuatu dan Dia pencipta segala

sesuatu".

Al Imam Fakhruddin ibn 'Asakir (W. 620 H) dalam risalah

aqidahnya mengatakan : "Allah ada sebelum ciptaan, tidak ada bagi-

Nya sebelum dan sesudah, atas dan bawah, kanan dan kiri, depan dan

belakang, keseluruhan dan bagian-bagian, tidak boleh dikatakan

"Kapan ada-Nya ?", "Di mana Dia ?" atau "Bagaimana Dia ?", Dia ada

tanpa tempat".

32

www.darulfatwa.org.au



Maka sebagaimana dapat diterima oleh akal, adanya Allah tanpa

tempat dan arah sebelum terciptanya tempat dan arah, begitu pula akal

akan menerima wujud-Nya tanpa tempat dan arah setelah terciptanya

tempat dan arah. Hal ini bukanlah penafian atas adanya Allah.

Al Imam al Bayhaqi (W. 458 H) dalam kitabnya al Asma wa ash-

Shifat, hlm. 506, mengatakan: "Sebagian sahabat kami dalam

menafikan tempat bagi Allah mengambil dalil dari sabda Rasulullah

shalllallahu 'alayhi wa sallam:

ﻫﺎﱠﻈﻟﺍ " :r ﷲﺍ ﻝﻮﺳﺭ ﻝﺎﻗ

 

(ﻩﺮﻴﻏﻭ ﻢﻠﺴﻣ ﻩﺍﻭﺭ) " ﻃﺎﻟﺍ

.3

Maknanya: "Engkau azh-Zhahir (yang segala sesuatu menunjukkan

akan ada-Nya), tidak ada sesuatu di atas-Mu dan Engkaulah al

Bathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu di bawah-

Mu" (H.R. Muslim dan lainnya).

Jika tidak ada sesuatu di atas-Nya dan tidak ada sesuatu di

bawah-Nya berarti Dia tidak bertempat".

 

Hadits Jariyah

Sedangkan salah satu riwayat hadits Jariyah yang zhahirnya mem-

beri persangkaan bahwa Allah ada di langit, maka hadits tersebut tidak

boleh diambil secara zhahirnya, tetapi harus ditakwil dengan makna

yang sesuai dengan sifat-sifat Allah, jadi maknanya adalah Dzat yang

sangat tinggi derajat-Nya sebagaimana dikatakan oleh ulama

Ahlussunnah Wal Jama'ah, di antaranya adalah al Imam an-Nawawi

dalam Syarh Shahih Muslim. Sementara riwayat hadits Jariyah yang

maknanya shahih adalah:

33

www.darulfatwa.org.au



ﺀﺎ ﺭﺎﻧﻷﺍ ﱠﻥ ﻡﺎﻣﻹﺍ ﻟﺎ ﻡﺎﻣﻹ .4

 

ﱠﻥ ﷲﺍ :ﺎﻗ ﺀﺍ

 

:r ﷲﺍ ﻝﺎ

 

:ﻟﺎ ﷲﺍ :ﻝﺎ :ﻟﺎ ﷲﺍ ﱠﻻ

 

. :ﻝﺎ :ﻟﺎ ﻟﺍ ﺒﻟ :ﻝﺎ

 

Al Imam Malik dan al Imam Ahmad meriwayatkan bahwasanya

salah seorang sahabat Anshar datang kepada Rasulullah

Shallallahu 'alayhi wasallam dengan membawa seorang hamba

sahaya berkulit hitam, dan berkata: "Wahai Rasulullah

sesungguhnya saya mempunyai kewajiban memerdekakan seorang hamba

sahaya yang mukmin, jika engkau menyatakan bahwa hamba sahaya ini

mukminah maka aku akan memerdekakannya, kemudian Rasulullah

berkata kepadanya: Apakah engkau bersaksi tiada Tuhan yang

berhak disembah kecuali Allah? Ia (budak) menjawab: "Ya",

Rasulullah berkata kepadanya: Apakah engkau bersaksi bahwa saya

adalah Rasul (utusan) Allah? Ia menjawab: "Ya", kemudian

Rasulullah berkata: Apakah engkau beriman terhadap hari

kebangkitan setelah kematian? ia menjawab : "Ya", kemudian

Rasulullah berkata: Merdekakanlah dia".

Al Hafizh al Haytsami (W. 807 H) dalam kitabnya Majma' az-

Zawa-id Juz I, hal. 23 mengatakan: "Hadits ini diriwayatkan oleh Imam

Ahmad dan perawi-perawinya adalah perawi-perawi shahih". Riwayat

inilah yang sesuai dengan prinsip-prinsip dan dasar ajaran Islam,

karena di antara dasar-dasar Islam bahwa orang yang hendak masuk

Islam maka ia harus mengucapkan dua kalimat syahadat, bukan yang

lain.

34

www.darulfatwa.org.au



Tidak Boleh dikatakan Allah ada di atas 'Arsy atau ada di

mana-mana

 

Senada dengan hadits yang diriwayatkan oleh al Bukhari di atas

perkataan sayyidina Ali ibn Abi Thalib -semoga Allah meridlainya-:

 

ﻥﻵﺍ ﻥﺎ ﷲﺍ ﻥﺎ" :t ﻝﺎ .5

 

(333 : / ﻕﺮﻔﻟﺍ ﻕﺮﻔﻟﺍ ﻱﺩﺍﺪﻐﺒﻟﺍ ﺭﻮﺼﻨﻣ ﻮﺑﺃ ﻩﺍﻭﺭ) "ﻥﺎ

 

Maknanya: "Allah ada (pada azal) dan belum ada tempat dan Dia

(Allah) sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap seperti semula, ada

tanpa tempat" (Dituturkan oleh al Imam Abu Manshur al

Baghdadi dalam kitabnya al Farq bayna al Firaq h. 333).

Karenanya tidak boleh dikatakan Allah ada di satu tempat atau

di mana-mana, juga tidak boleh dikatakan Allah ada di satu arah atau

semua arah penjuru. Syekh Abdul Wahhab asy-Sya'rani (W. 973 H)

dalam kitabnya al Yawaqiit Wa al Jawaahir menukil perkataan Syekh Ali

al Khawwash: "Tidak boleh dikatakan bahwa Allah ada di mana-mana".

Aqidah yang mesti diyakini bahwa Allah ada tanpa arah dan tanpa

tempat.

ﺭﺎ ﻟﺍ ﷲﺍ ﱠﻥ" :t ﻝﺎ .6

 

ﻕﺮﻔﻟﺍ ﻱﺩﺍﺪﻐﺒﻟﺍ ﺭﻮﺼﻨﻣ ﻮﺑﺃ ﻩﺍﻭﺭ) "ﺗﺍ ﻧﺎ

(333 : /ﻕﺮﻔﻟﺍ

 

Al Imam Ali -semoga Allah meridlainya- mengatakan yang

maknanya: "Sesungguhnya Allah menciptakan 'Arsy (makhluk Allah yang

paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk

35

www.darulfatwa.org.au



menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya" (diriwayatkan oleh Abu Manshur

al Baghdadi dalam kitab al Farq bayna al Firaq, hal. 333)

 

ﱠﻥ ﻝﺎ ﻳﻷ ﺬﱠﻟﺍ ﱠﻥ ": t ﻝﺎ .7

 

ﻴﻳﺍﺮﻔﺳﻹﺍ ﻔﻈ ﻮﺑﺃ ﻩﺍﻭﺭ) " ﻝﺎ ﻟﺍ ﺬﱠﻟﺍ

(98 : /ﻦﻳﺪﻟﺍ ﺼﺒﺘﻟﺍ ﻪﺑﺎﺘﻛ

 

Sayyidina Ali -semoga Allah meridlainya- juga mengatakan yang

maknanya: "Sesungguhnya yang menciptakan ayna (tempat) tidak boleh

dikatakan bagi-Nya di mana (pertanyaan tentang tempat), dan yang

menciptakan kayfa (sifat-sifat makhluk) tidak boleh dikatakan bagi-Nya

bagaimana" (diriwayatkan oleh Abu al Muzhaffar al Asfarayini dalam

kitabnya at-Tabshir fi ad-Din, hal. 98)

 

A llah Maha suci dari Hadd

ﻥﺎ ﺘﻟﺍ ﺀﺎ .8

 

ﺭﱠﺬﻟ ﻥﺎ ﻥﺎ ﻟﺍ ﻟﺍ

 

. ﱞﻞ ﺮﻟﺍ ﻼﱠﻈﻟﺍ ﻨﻟﺍ ﻟﺍ

 

Maknanya: Menurut ulama tauhid yang dimaksud al mahdud (sesuatu

yang berukuran) adalah segala sesuatu yang memiliki bentuk baik kecil

maupun besar. Sedangkan pengertian al hadd (batasan) menurut mereka

adalah bentuk baik kecil maupun besar. Adz-Dzarrah (sesuatu yang

terlihat dalam cahaya matahari yang masuk melalui jendela) mempunyai

ukuran demikian juga 'Arsy, cahaya, kegelapan dan angin masing-masing

mempunyai ukuran.

36

www.darulfatwa.org.au



ﻟﺎﻟﺍ ﱠﻥ " :t ﻡﺎﻣﻹ ﻝﺎ .9

 

(ﻢﻴﻌﻧ ﻮﺑﺃ ﻩﺍﻭﺭ) "ﻟﺍ

 

Al Imam Sayyidina Ali -semoga Allah meridlainya- berkata yang

maknanya: "Barang siapa beranggapan (berkeyakinan) bahwa Tuhan kita

berukuran maka ia tidak mengetahui Tuhan yang wajib disembah (belum

beriman kepada-Nya)" (diriwayatkan oleh Abu Nu'aym (W. 430 H)

dalam Hilyah al Auliya', juz I hal. 72).

Maksud perkataan sayyidina Ali tersebut adalah sesungguhnya

berkeyakinan bahwa Allah adalah benda yang kecil atau berkeyakinan

bahwa Dia memiliki bentuk yang meluas tidak berpenghabisan

merupakan kekufuran.

Semua bentuk baik Lathif maupun Katsif, kecil ataupun besar

memiliki tempat dan arah serta ukuran. Sedangkan Allah bukanlah

benda dan tidak disifati dengan sifat-sifat benda, karenanya ulama

Ahlussunnah Wal Jama'ah mengatakan: "Allah ada tanpa tempat

dan arah serta tidak mempunyai ukuran, besar maupun kecil".