Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

 

 

 

MADARIJUS

SALIKIN

 

(PENDAKIAN MENUJU ALLAH)

 

Penjabaran Kongkret

 

"lyyakaNa 'budu wa lyyaka Nasta'in "

 

(Tiga Jilid Lengkap)

 

 

 

Penerjemah: Kathur

Suhardi

 

 

 

A

 

 

 

PUSTAKA AL-KAUTSAR

 

Penerbit Buku Islam Utama

 

 

 

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)

 

Al-Jauziyah, Ibnu Qayyim

 

Madarijus-Salikin (Jalan Menuju Allah)/ Ibnu Qayyim Al-Jauziyah;

penerjemah: Kathur Suhardi; Cet. 1 Jakarta: Pustaka Al-

Kautsar, 1998. 481 + xxivhal.: 24 cm.

 

Judul Asli: Madarijus-Sahkin Baina Manazili lyyaka Na'budu wa lyyaka

 

Nasta'in ISBN 979-592-1 10-X

1. Tafsir Al-Qur'an I. Judul. H. Suhardi, Kathur

 

Judul asli: Madarijus-Salikin Manazih lyyaka Na'budu wa lyyaka Nasta'in

Pengarang: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

Muhaqqiq: Muhammad Hamid Al-Faqqy

Penerbit: Darul I'ikr. Beirut, 1408 H.

 

Edisi Indonesia:

 

MADARIJUS-SALIKIN (PENDAKIAN MENUJU ALLAH)

 

Penjabaran Kongkrit "lyyaka Na'budu Wa lyyaka Nasta'in"

 

Penerjemah: Kathur Suhardi

 

Editor: Team Al-Kautsar

 

Setting: Robiul Huda

 

Desain sampul: Dea Advertising

 

Cetakan: Pertama, Desember 1998

 

Cetakan: Kedua. Agustus 1999

 

Penerbit: PUSTAKA AL-KAUTSAR

 

Jin. Kebon Nanas Utara 1 1/12

 

Jakarta Timur 13340

 

Telp. (021)8199992, Fax. 8517706.

 

AnggotalKAPlDKI

 

Dilarang memperbanyak isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit

 

All Rights Reserved

 

Uak terjemahan dilindungi undang-undang

 

 

 

Ebook Ini diambil dari http:kampuiigsuiiiiah.co.iir

 

 

 

PENGANTAR PENERBIT

 

Segala puji bagi Allah. Salam dan shalawat semoga tetap tercurah

bagi junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam beser-ta

segenap shahabat dan keluarganya serta para pengikutnya yang setia

hingga hari kiamat nanti.

 

Kesuksesan seseorang di zaman sekarang ini banyak di nilai dari

keberadaan dan status sosial ekonomi seseorang. Orang yang disebut

sukses seringkali hanya diukur dengan perhitungan-perhitungan materi

dan kekayaan duniawi, padahal bisa jadi orang tersebut di mata AUah

dinilai sebagai orang yang gagal dan terkecoh dengan godaan duniawi.

 

Padahal tugas utama manusia selaku seorang hamba adalah ber-

ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah dengan sekuat tenaga dan

segala daya. Kita terus dituntut untuk memperkaya rohani kita dan bu-kan

jasmani kita agar sukses menjadi hamba yang dekat dan dicintai Allah.

Ibnu Qayyim Al- Jauziyah sebagai ulama yang sangat utama dalam karyanya

ini mengajak kita untuk bersusah payah mendaki jalan yang berat dan

penuh lika-liku dan cobaan agar kita bisa sampai pada tujuan-nya secara

selamat tanpa terkecoh dan tertipu oleh tipuan dan jebakan di sepanjang

jalan.

 

Dalam edisi aslinya, kitab Madarijus-SaliUn diterbitkan dalam 3 jihd

tebal. Selain karena ketebalannya yang amat memberatkan kami, buku

tersebut juga sangat berat dan suUt dipahami dan ditelaah, maka dengan

berat hati kami terpaksa memberanikan diri untuk meringkasnya sehing-ga

bisa seperti ini. Toh di Timur Tengah, kitab-kitab klasik yang tebal banyak

dibuat ringkasannya untuk memudahkan ditangkap pesannya. Se-hingga

upaya kami bisa dibilang sah-sah saja, sepanjang kami berhati-hati dan

tetap berupaya semaksimal mungkin untuk mendekati seperti aslinya.

Sebab tanpa upaya ini rasanya sulit buku ini dapat kami tampil-kan secara

utuh. Untuk itu kami mohon maaf atas kelancangan ini. Teri-ma kasih.

 

Penerbit

 

 

 

KATA PENGANTAR PENERJEMAH

 

Masya Allah dan segala puji Allah. Itulah komentar kami yang

pertama terhadap karya-karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah secara umum,

yang karena taufik Allah kami berkesempatan menerjemahkan beberapa

buah di antaranya, dan secara khusus terhadap kitab ini. Dengan

kelempangan istiqamahnya, dengan kedalaman bashirah-nya, dengan

kekuatan akidah-nya, dengan ketajaman mata penanya, dengan

kelembutan bahasanya, dan dengan segala potensi yang dikaruniakan Allah

kepadanya, dia mam-pu menjabarkan berbagai masalah aqidiyah dan

sulukiyah seperti aliran air yang tiada henti-hentinya, dengan suara

gemerisik, enak didengar dan indah untuk dinikmati. Tapi bagi ahli bid'ah,

ahli thariqah, sufi dan orang-orang yang menyimpang, ketajaman penanya

ini menorehkan luka dan membuat hati mereka berdarah. Apalagi kitab ini

dimaksudkan untuk meluruskan berbagai pengertian dan kandungan yang

ditulis di dalam Kitab ManazHus-Sa'irin karangan Abu Isma'il Al-Harawy,

sebuah kitab yang membahas masalah thariqah ilallah (perjalanan kepada

Allah), yang kemudian diklaim sebagai dunia sufi, atau di negeri kita ini

lebih terkenal dengan istilah toriqot.

 

Pada hakikatnya tidak ada yang perlu diributkan dengan kata

thariqah itu sendiri. Apalagi jika thariqah itu ilallah. Karena memang setiap

orang Muslim haras senantiasa berada dalam perjalanan kepada Allah,

dan bahkan setiap manusia, Mukmin maupun kafir, akan kembali kepada

Allah (ilaihin-nusyur). Setiap orang Muslim haras membekali diri dalam

menempuh perjalanannya, haras melewati manzilah-manzilah yang

memang seharasnya untuk dilewati. Tapi kata thariqah ini menjadi istilah

tersendiri ketika ia dinisbatkan kepada golongan tertentu, dengan

pakaian, amaliah, perilaku, sikap, doktrin, norma-norma dan segala ciri-

cirinya tertentu, disertai dengan penggunaan istilah-istilah tertentu pula,

yang sama sekali tidak ada dalam kehidupan orang-orang salafush-sha-lih,

apalagi dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Tentu saja banyak ajaran yang

haras di-lakoni setiap hari dan bahkan setiap saat oleh siapa pun yang

bergabung ke golongan ahli thariqah. Terlebih lagi jika dia sudah

mencapai tataran tertentu dari berbagai tataran yang mereka ciptakan.

Yang buntut-buntutnya mengarah kepada ghuluw. Memang di satu sisi

mereka bisa melepaskan diri dari pesona keduniaan, dan hal ini juga

merapakan keadaan atau kedudukan yang harus dipelihara oleh orang

yang sedang mengadakan perjalanan kepada Allah. Tapi sekiranya syetan

menyusup ke dalam hatinya, lalu berbisik, "Engkau adalah calon penghu-ni

 

 

 

surga", maka apa kira-kirayang terjadi dengan dirinya? Dia pun menja-min

seseorang yang menjalani kehidupan seperti dirinya atau masuk ke dalam

golongan ahli thariqah, akan menjadi penghuni surga. Atau mungkin ada

pula anggapan mereka tentang ilmu ladunny, ilmu atau ma'rifat yang

langsung disusupkan Allah ke dalam hati. Sehingga dengan ilmu ladunny ini

mereka tidak perlu mempelajari ilmu-iknu zhahir, seperti ilmu syariat, wajib,

sunat, makruh, haram, halal dan ilmu apa pun yang harus dibaca,

dihapalkan dan ditekuni dengan amal.

 

Hal-hal seperti inilah yang ingin dilempangkan Ibnu Qayyim Al-

Jauziyah dan juga lain-lainnya, termasuk penjelasan tentang berbagai

istilah yang digunakan ahli thariqah, khususnya dalam kitab Manazilus-

Sa'irin. Boleh jadi Ibnu Qayyim mempunyai pandangan tersendiri yang

bemilai positif terhadap kitab tersebut, sehingga dia menyempatkan diri

untuk mengupasnya kembali, menjelaskan dan meluruskan isinya yang

dirasa kurang pas.

 

Tentang kitab (Madarijus-Salikin) ini sendiri seakan mempunyai dua

visi. Satu visi berupa tulisan Ibnu Qayyim dan visi lain merupakan kritik

atau pun pembenahan terhadap kandungan kitab ManazUus-Sa'irin. Pada

permulaannya Ibnu Qayyim mengupas Al-Fatihah, yang merupakan in-duk

Al-Qur'an dan yang mengintisarikan semua kandungan di dalam Al-Qur'an.

Kemudianyang lebih inti lagi adalah pembahasan tentang makna iyyaka

na'budu wa iyyaka nasta'in, yang menjadi ruh dari keseluruhan kitab ini.

Pada sisi inilah ketaajuban layak disampaikan kepada Ibnu Qayyim oleh

siapa pun yang membacanya. Begitu dalam pengkajiannya dan begitu luas

pembahasannya.

 

Pembahasan berikutnya berkisar pada masalah perjalanan kepada

Allah dengan manzilah, etape, tempat persinggahan, keadaan dan kedu-

dukan-kedudukannya. Di antaranya yang dikupas dalam masalah ini,

bahwa manusia memiliki dua substansi, sesuai dengan hikmah penciptaan

Allah: Substansi rohani dan substansi jasadi. Yang pertama merupakan

alam atas/tinggi dengan segala kelembutannya, dan yang kedua meru-

pakan alam bawah/rendah dengan segala kekasatannya. Sementara pada

diri manusia juga ada dua kekuatan yang saUng menolak. Yang satu mena-

riknya ke atas dan yang satu menariknya ke bawah. Sasaran yang dikehen-

daki dalam perjalanan ini adalah berpaling dari alam bawah dan

membebaskan diri dari daya tariknya, untuk berpindah ke alam atas, agar

terjadi penyatuan hati dengan AUah.

 

Sewaktu kami meringkas salah satu karangan Ibnul Jauzy, yaitu ki-tab

Talbis Mis, ada di antara ikhwan yang merasa keberatan. Karena dengan begitu

ada semacam penyerobotan terhadap hak pengarang, yang tentu-nya telah

mengerahkan segala kekuatan dan potensinya untuk penuUsan kitabnya,

dan juga hak pembaca yang ingin menikmati secara utuh dan lengkap

 

 

 

kandungan kitab tersebut. Sebenarnya bukan kami sendiri yang

meringkasnya. Tapi memang sudah ada seseorang yang meringkasnya

dalam Bahasa Arab, lalu kami menerjemahkan (Mukhtashar)-nya, meski-pun

bagian depan kitab itu kami ringkas sendiri, karena saat itu kami belum

mendapatkan kitab Mukhtashar-nya. Namun ada pula hikmah yang bisa

kami rasakan dari pengalaman ini. Ternyata ringkasan yang kami buat dari

kitab aslinya terasa lebih pas, meskipun mungkin hal ini juga tidak lepas

dari unsur subyektivitas kami. Tapi kami kira siapa pun memang tidak

akan mampu melepaskan diri dari subyektivitas ini. Kami benar-benar bisa

memahami koreksi dan perasaan ikhwan tersebut, apalagi jika dia

termasuk orang yang doyan membaca kitab.

 

Maka sebelumnya kami menyampaikan beribu maaf kepada pem-

baca, terutama kepada semacam ikhwan yang kami isyaratkan di atas,

sekiranya kami memberanikan diri untuk meringkas kitab Madarijus-

Salikin ini, yang mestinya cukup banyak yang tidak kami terjemahkan dari

buku aslinya yang berjumlah tiga jilid. Tapi kalau boleh dibilang alasan

(bukan apologis), ada pula sisi keuntungannya bagi pembaca yang ingin

mengetahui kandungan kitab ini. Sebab jika tiga jiM kitab ini diterje-mahkan

apa adanya, tentu akan menjadi tiga buku terjemahan yang semuanya jauh

lebih tebal dari buku aslinya. Bagaimana pun juga kami tetap berusaha

untuk mengambil yang pokok-pokok dari kitab aslinya, sehingga tidak

akan mengecewakan pembaca, dan semoga hal ini bukan merupakan

kezhaliman terhadap pengarang.

 

Semoga AUah mengampuni dosa kita semua.

 

Kathur Suhardi

 

 

 

DAFTAR ISI

 

 

 

FENGAOTARFENERBrr

FENGANTARPENERJEMAH

DAFTARBI

FENGANTARFENULB

 

BUKUPERTAMA

 

FENJABARANMENYELURUH lYYABCANABUDU WA lYYAKA NASTATN

 

Al-Fatihah Yang Mencakup Berbagai Tuntutan

 

Ash-Shirathul-Mustaqim

 

Cakupan Surat Al-Fatihah terhadap Macam-macam Tauhid

 

Hakikat Asma' Allah

 

Tingkatan-tingkatan Hidayah Khusus dan Umum

 

Kemujaraban Al-Fatihah Yang Mengandung Kesembuhan bagi Hati

 

dan kesembuhan bagi Badan

 

Al-Fatihah Mencakup Bantahan terhadap Semua Golongan

 

Yang Batil, Bid'ah dan Sesat

 

Cakupan lyyaka Na'budu wa lyyaka Nasta'in terhadap Makna-makna

 

Al-Qur'an, Ibadah dan Isti'anah

 

Pembagian Manusia Berdasarkan Kandungan lyyaka Na'budu wa

 

lyyaka Nasta'in

 

Bangunan lyyaka Na'budu dan Keharusan Ibadah Hingga Akhir

 

Hayat

 

Tingkatan-tingkatan lyyaka Na'budu dan Penopang Ubudiyah

 

Persinggahan lyyaka Na'budu di dalam Hati Saat Mengadakan

 

Perjalanan kepada AUah

 

Muhasabah dan Pilar-pilamya

 

Taubat Sebagai Persinggahan Pertama dan Terakhir

 

Kendala-kendala Taubat Orang-orang Yang Bertaubat

 

Pemik-pernik Hukum Yang Berkaitan dengan Taubat

 

Antara Orang Taat Yang Tidak Pernah Durhaka dan Orang Durhaka

 

Yang Melakukan Taubatan Nashuhan

 

Taubat Menurut Al-Qur'an dan Kaitan Taubat dengan Istighfar

 

Dosa Besar dan Dosa Kecil

 

Jenis-jenis Dosa Yang Harus Dimintakan Ampunan (Taubat).

 

Taubat Orang Yang Tidak Mampu Memenuhi Hak atau Melaksa-

 

nakan Kewajiban Yang Dilanggar

 

Taubat Yang Tertolak

 

 

 

Kesaksian atas Tindakan Hamba.

 

Inabah kepada Allah

 

Tadzakkur dan Tafakkur

 

I'tisham

 

Firar dan Riyadhah

 

Sima'

 

Kazan

 

Khauf

 

Isyfaq

 

Khusyu'

 

BUKU KEDUA

 

TEMPAT-TEMPATPERSINGGAHANIYYAKANA'BUDU WAIYYAKA

 

NASTATN

 

Ikhbat

 

Zuhud

 

Wara'

 

Tabattul

 

Raja'

 

Ri'ayah

 

Muraqabah

 

Mengagungkan Apa-apa Yang Dihormati di Sisi Allah

 

Ikhlas

 

Tahdzib dan Tashfiyah

 

Istiqamah

 

Tawakkal

 

Tafqidh :

 

Keyakinan terhadap Allah

 

Sabar

 

Ridha

 

Syukur

 

Malu-

 

Shidq :

 

Itsar

 

Tawadhu'

 

Futuwwah

 

Muru'ah

 

Azam

 

Iradah

 

Adab

 

Yaqin

 

Dzikir

 

Fakir

 

Kaya

 

Ihsan

 

 

 

Ilmu

 

Hikmah

 

Firasat

 

Pengagungan

 

Sakinah

 

Thuma'ninah

 

Himmah

 

BUKU KETIGA

 

TEMPAT-TEMPATPERSINGGAHAN lYYAKANABUDUWAIYYAKA

NASTATN

 

Mahabbah

 

Cemburu

 

Rindu

 

Keresahan

 

Haus

 

Al-Barqu

 

Memperhatikan

 

Waktu

 

Kejernihan

 

Kegembiraan

 

Rahasia

 

Napas

 

Ghurbah

 

Tamakkun

 

Mukasyafah

 

Musyahadah

 

Hayat

 

Al-Basthu

 

As-Sukru

 

Ittishal

 

Ma'rifat

 

Al-Fana'

 

Al-Baqa'

 

Wujud

 

Al-Jam'u

 

Tauhid

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Segala puji bagi Allah, Yang Pengasih lagi Penyayang, Yang Me-

nguasai hari pembalasan, dan akibat yang baik itu bagi orang-orang yang

bertakwa serta tidak ada siksaan kecuali bagi orang-orang yang zhalim.

Shalawat, salam dan barakah semoga dilimpahkan kepada penutup para

rasul dan pemimpin orang-orang yang mendapat petunjuk, yang telah

dipilih Allah lalu diutus sebagai rahmat bagi semesta alam dan sebaik-

baik panutan bagi orang-orang yang bertakwa, dialah hamba dan rasul

Allah Muhammad, begitu pula atas seluruh kerabat dan pengikutnya. Se-

moga Allah menjadikan kita termasuk golongannya yang beruntung di

dunia dan di akhirat, wa ba'd.

 

Buku Madarijus-SaliUn ini dikarang Syaikhul-Islam yang rajin men-

jelaskan kebenaran dan menyebarkan agama, yang menciduk dari Sun-nah

pemimpin para rasul, yang meletakkan penanya yang tajam d i tengkuk para

ahli bid'ah, yang membabat leher para ahli khurafat dengan pedang

kebenarannya, yang aktif menjelaskan Al-Qur'an, yang menguasai sastra

bahasa, yang mendapat ilham petunjuk dan pemahaman dari Allah, yang

menjabarkan pengertian, dialah Abu Abdullah Muhammad bin Abu Bakar

bin Ayyub bin Sa'd Az-Zar'y Ad-Dimasqy, yang lebih terkenal dengan

sebutan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Semoga Allah mengampuni dosa kita

dan dosanya, menempatkannya di surga-Nya dan mengumpulkan kita

dengannya pada kebenaran iman.

 

Di dalam buku ini Ibnu Qayyim ingin meluruskan kandungan buku

Manazilus-Sa'irin karangan Abu Isma'il (Abdullah bin Muhammad bin Ali

Al-Harawy Al-Hambaly, seorang sufi yang meninggal pada tahun 481

Hijriyah), agar dapat menjadi menara yang menuntun kepada petunjuk

dan jalan AUah yang lurus. Pasalnya, Abu Isma'il menyusun buku

Manazilus-Sa'irin berdasarkan jalan para guru sufi yang terlalu melebih-

lebih-kan pemahaman tentang jalan kepada Allah dan yang biasanya

berpegang teguh kepada simbol-simbol sufisme, prinsip dan tujuan-

tujuan-nya. Semenjak golongan pertama yang mencuatkan sufisme hingga

yang terakhir pada masa sekarang telah sepakat tentang kemanunggalan

mere-ka. Sehingga mereka tidak bisa beralih dan tidak bisa melepaskan

diri dari pemahaman ini selagi mereka tetap meniti cikal bakal jalan yang

diciptakan orang-orang sufi yang pertama dari India dan Persi, bahkan

semenjak jauh sebelum itu yang sudah berkembang di suatu kaum, yang

kemudian Allah mengutus Nabi Nuh kepada mereka dan juga kaum-kaum

 

 

 

sesudahnya. Kemanunggalan inilah yang juga ditetapkan secara gamblang

oleh Abu Yazid Al-Busthamy, Al-Husain Al-Hallaj, Ibnu Araby Al-Hatimy,

Ibnu Sab'in, Ibnu Al-Faridh, Abdul-Karim Al-Jaily dan konco-konconya

yang berpegang kepada paham wihdatul-wujud.

 

Mereka mengatakan dan meyakini bahwa sesembahan mereka ada-lah

inti atom yang pertama dan materi yang keluar dari inti atom itu, yang

berupa wujud apa pun di langit dan di bumi, yang diam dan yang

bergerak, yang berakal dan benda mati. Ini semua merupakan hakikat

Ilahiyah yang tidak bisa diketahui orang awam, sebab mereka tidak meniti

jalan filsafat seperti yang dilakukan orang-orang sufi. Menurut mereka,

yang termasuk orang awam ini adalah para nabi dan rasul.

 

Hanya ada satu tujuan yang hendak diraih orang-orang sufi itu, dan

untuk meraihnya mereka berbuat apa pun yang bisa diperbuat, meski harus

mengorbankan sesuatu yang paling beharga, yaitu agar mereka men-jadi

pemimpin yang suci dan pemuka-pemuka yang dielu-elukan di mata

manusia. Karena menurut mereka, hanya merekalah orang-orang yang

memiliki ma'rifat, hanya merekalah yang beriknu, hanya merekalah yang

mengetahui hakikat Ilahiyah ini dan orang awam tidak mengetahuinya,

hanya merekalah yang bisa menggambarkan hakikat Ilahiyah ini. Yang

demikian ini dapat terlihat jelas dalam pengakuan Ibnu Araby, yang sekali-

gus membenarkan pengakuan rekan dan saudaranya, Fir'aun, "Aku adalah

sesembahan kalian yang tertinggi, dan aku tidak mengenal sesembahan

selain aku bagi kalian". Apa yang tersembunyi di balik semua ini? Mereka

ingin menjadikan orang awam sebagai hamba bagi mereka, selain menjadi

hamba bagi Allah. Karena itu siang malam mereka banting tulang

menghimpun faktor-faktor yang bisa mendongkrak pamor dan kehebatan

mereka di mata orang awam, agar mereka menjadi sesembahan di samping

Allah.

 

Sementara Allah telah mengutus para nabi di setiap umat, dengan

menyatakan, "Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut." Para nabi ini bertu-gas

membebaskan manusia dari para thaghut dan menyelamatkan mereka dari

perbudakan yang terus-menerus menghantui mereka dan merupakan

sumber penderitaan, yang selama itu mereka telah mengganti nik-mat

Allah dengan kekufuran, sehingga keseluruhan hidup mereka menjadi

apes dan mereka hanya menjadi penolong bagi para thaghut untuk

melawan Allah. Sementara Dzat yang menciptakan mereka semua dari

tanah, kemudian menciptakan mereka dari setetes air mani, yang mem-

berikan pendengaran, hati dan penglihatan, mengharapkan agar mereka

mau bersyukur, mengetahui i?fl&& mereka dengan asma' dan sifat-sifat-Nya

serta pengaruh ciptaan-Nya yang ada pada diri mereka dan yang ada di

seluruh alam ini, agar mereka memurnikan ibadah kepada-Nya dan

mengerjakan amal-amal shalih yang mendatangkan kebahagiaan. Dengan

begitu Allah akan menganugerahkan kehidupan yang baik bagi mereka.

 

 

 

mengangkat derajat mereka dengan karunia dan taufik-Nya. Akhir-nya

mereka tertuntun kepada perkataan dan perbuatan yang baik serta akhlak

yang mulia, tidak tersesat, tidak menderita di dalam kehidupan ini dan

kehidupan sesudahnya.

 

Jika ada rasul yang diutus, para thaghut yang congkak dan merasa

dirinya hebat itu menyatakan permusuhan, dengan mengandalkan kekuat-

an yang dibisikkan syetan dan jin, serta memanfaatkan ketidak-berdayaan

orang-orang awam yang tahunya hanya ikut-ikutan semata dan orang-

orang yang tunduk layaknya mayat yang ada di tangan orang yang

memandikannya. Karena di mata orang-orang awam, para thaghut inilah

yang bisa diandalkan dan menjadi gantungan hati, yang di dalam dirinya

ada bagian dari Dzat Allah dan cahaya yang memancar dari-Nya. Mahasuci

Allah dari apa yang mereka katakan.

 

Peperangan antara para rasul dan pengikutnya yang merupakan

wali-waU Allah dengan musuh-musuh mereka dari kalangan thaghut yang

congkak dan takabur senantiasa berkobar, hingga Allah menyempumakan

cahaya-Nya dan melimpahkan pertolongan kepada para waU-Nya, sehing-ga

hanya kalimat-Nyalah yang paling tinggi sedangkan kalimat orang-orang

kafir menjadi hina. Kemudian sunnatuUah berlaku pada diri rasul-Nya yang

juga merupakan manusia biasa. Beliau meninggal dunia dan meninggalkan

manusia berada di atas jalan yang lurus dan jelas rambu-rambunya. Beliau

menegakkan ayat-ayat-Nya bagi mereka, sehingga tak seorang pun di antara

mereka mempunyai hujjah untuk melawan AUah. Hari terus berlalu, hingga

musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya yang beru-pa syetan, jin dan manusia

berani mendongakkan kepala sedikit demi sedikit, sambil mencari-cari

peluang emas, dengan menyesuaikan kekuatan dan kelemahan manusia

untuk berpegang kepada petunjuk Allah dan taU-Nya yang kokoh.

Sementara syetan-syetan saUng membisikkan perka-taan-perkataan yang

manis sebagai tipu daya, lalu banyak manusia yang mengikuti IbUs, dan

hanya sebagian kecil dari orang-orang Mukmin yang tidak mengikutinya.

 

Begitulah yang senantiasa terjadi dan begitulah ketetapan Allah. Di

sana ada dua jalan yang saling bertentangan:

 

1. Jalan AUah yang lurus. Di barisan terdepannya ada para rasul

Allah yang menyatakan kebenaran dan menyerukan kepada manusia, "Ing-

karilah para thaghut, sembahlah AUah dengan memurnikan ketaatan

kepada-Nya, ikutilah apa yang diturunkan kepada kaUan dari Rabb kalian

danjanganlah ikuti para peno long selain-Nya."

 

2. Jalan syetan dan golongannya. Mereka berseru kepada manusia,

"Jadikanlah Kitab Allah dan ayat-ayat-Nya sebagai bahan olok-olok dan

mainan. Barakah ayat-ayat Allah ialah dengan menjadikannya sebagai jimat,

sementara ia hanya layak dibaca untuk orang yang meninggal. Maka dari

 

 

 

itu waspadailah orang yang mengajak kalian untuk memahami dan

menelaahnya, mengambil hukum dan akidah darinya. Waspadalah jika

kalian berasaha untuk memahami sabda Rasul-Nya, karena yang demikian itu

akan menghalangi kalian untuk memahami asal mula penciptaan."

 

Islam adalah agama semua rasul yang merupakan satu millah. Islam

adalah agama fitrah semenjak zaman Nuh hingga hari ini.

 

"Dan, barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidak

akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk

orang-orang yang rugi. " (Ali Imran: 85).

 

Islam tegak berdasarkan ubudiyah yang sempurna dengan segala

kekhususannya yang berlaku bagi semua orang, yang setiap unsur ibadah itu

haras dikerjakan secara tulus dan benar, penuh rasa cinta, ketundukan,

kepasrahan dan ketaatan kepada Allah semata, yang tidak beranak dan

tidak diperanakkan, yang tiada seorang pun yang setara dengan-Nya, yang

tiada sesuatu pun yang serapa dengan-Nya, dan Dia Maha Mende-ngar lagi

Maha Mengetahui, yang tidak bodoh, tidak lalai dan tidak lupa. Engkau

tidak boleh mengatakan terhadap Allah atau tentang Allah kecuali seperti

yang difirmankan-Nya atau yang disabdakan Rasul-Nya. Engkau haras

mensyukuri nikmat AUah yang dilimpahkan ke semua lapisan kehidupan

manusia yang dapat mendengar, melihat dan berakal, dengan disertai

keyakinan bahwa Allah tidak menciptakan langit dan bumi serta seisinya

secara sia-sia. Dia menciptakan segala sesuatu dengan kebenar-an yang

pasti, yang tidak berubah karena nafsu, kebodohan dan kebatilan manusia.

Allah adalah Rabb kita, Dialah yang benar, janji-Nya benar, firman-Nya

benar, kitab-Nya benar dan qadha'-Nya juga benar.

 

Sementara agama Jahiliyah adalah agama milik syetan yang berupa

jin dan manusia, agama musuh-musuh AUah dan Rasul-Nya serta musuh diri

sendiri. Agama ini laku di pasaran selagi kegelapan Jahiliyah dan taqUd

semakin pekat, selagi di mana-mana tercium bau busuk karena penyim-

pangan pengarah asma' Allah dan sifat-sifat-Nya pada diri manusia dan

alam semesta, penyimpangan dari sunnatuUah, kitab-Nya dan petunjuk

para rasul-Nya. Pada saat itu manusia menyimpang dari jalan petunjuk

dan kebenaran, mereka tidak bisa melihat hakikat yang ada di langit dan di

bumi serta pada diri mereka. Mereka berpencar-pencar mengikuti syetan di

lembah kehancuran dan melalaikan ayat-ayat Allah. Padahal ayat-ayat ini

bisa mengingatkan mereka tentang asma' dan sifat-sifat Allah.

 

"Dan, barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya

baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunnya

pada hari kiamat dalam keadaan buta. la berkata, Ya Rabbi, mengapa

Engkau menghimpun aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya

adalah seorang yang melihat?' Allah befirman, Demikianlah, telah

 

 

 

datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan

begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan'. Dan, demikianlah kami

membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-

ayat Rabbnya. Dan, sesungguhnya adzab di akhirat itu lebih berat dan

lebih kekal. "(Thaha: 124-127).

 

Siapa yang menajamkan pandangan dan pikiran terhadap ayat-ayat

(tanda-tanda kekuasaan) Allah di alam, mengamati dan menelaah secara

tulus dan benar sentuhan-sentuhan ilmu dan petunjuk yang dilimpah-kan

Allah, yang terdapat pada pendengaran, penglihatan dan akalnya,

memahami kisah-kisah Al-Qur'an, ibrah, peringatan dan ancamannya,

tentu dia akan mengetahui bahwa semua gambaran penderitaan yang

dialami manusia pada zaman sekarang dan juga kapan pun, beraiula dari

taqM buta yang dibisikkan musuh para rasul, baik oleh syetan yang berapa

jin maupun syetan yang berapa manusia. Syetan-syetan ini menciptakan

perkataan yang manis-manis sebagai tipu daya, menciptakan bid'ah-bid'ah

yang dijadikan syariat, menciptakan khurafat yang dianggap baik, sehingga

lama-kelamaan hati manusia menjadi keras, jiwa menjadi kelam dan dada

menjadi gelap. Benar nasihat yang disampaikan RasuluUah Shallallahu

Alaihi wa Sallam, andaikan mereka mau memahaminya,

 

"Aku meninggalkan kalian berada di atas hujjah yang putih, malam-

nya seperti siang, yang tidak akan menyimpang darinya kecuali orang

yang rusak. "

 

Beliau juga bersabda,

 

"Kutinggalkan sesuatu di tengah kalian, yang andaikan kalian berpe-

gang teguh kepadanya, maka sekali-kali kalian tidak akan tersesat, yaitu

Kitab Allah dan Sunnahku. "

 

Kehidupan manusia pada zaman sekarang, di Barat maupun di Ti-

mur, sangat perlu dikembalikan ke hujjah yang putih ini, berpegang teguh

kepada tali Allah yang kokoh, berapa petunjuk firman- Nya yang tetap utuh

seperti sediakala saat Jibril menurunkannya kepada hamba pilihan dan

penutup para rasul, yang datang dari sisi Allah, agar beliau memberi-kan

petunjuk kepada jalan yang paling lurus. Demi AUah, jika mereka mau

kembali kepada AUah dan berkenan memahami Kitab-Nya secara tulus

dan mau menasihati diri sendiri, tentu mereka akan tertuntun kepada jalan

Allah yang Maha Terpuji.

 

Semoga AUah merahmati Syaikhul-Islam Ibnu Qayyim dan juga

mengampuni dosa-dosa kita, karena dia telah banyak berusaha, dengan

mencuci Manazilus-Sa'irin, sehingga buku ini bersih dari noda-noda sufi

JahUiyah. Tapi di beberapa tempat dia mengaku tak mampu membersih-

kannya. Dia juga mengaku tetap mencintai Abu Isma'il Al-Harawy, karena

 

 

 

dia seorang pengikut madzhab Hambali, di samping karena dia juga

menyusun buku yang mencela ta'wil tentang asma' dan sifat. Tapi kebe-

naran tetap yang paling dia cintai daripada kecintaannya kepada Al-

Harawy atau kepada ratusan orang yang seperti Al-Harawy. Bahkan kami

tahu persis bahwa kebenaran lebih dia cintai daripada kecintaan kepada

dirinya sendiri. Dia rela mengorbankan dirinya sehina mungkin dalam

rangka meninggikan kalimat Allah.

 

Yang pasti, buku Madarijus-Salikin ini termasuk buku terbaik karya

Ibnu Qayyim. Tentunya engkau juga sudah tahu kiprah Ibnu Qayyim dalam

mengarahkan jiwa dan mendidik akhlak dengan adab orang-orang yang

bertakwa. Hal ini sudah cukup membuktikan bahwa Ibnu Qayyim

termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk dan benar, yang jiwanya

menjadi baik karena takwa kepada AUah, yang pandangannya menjadi

bersinar karena petunjuk Allah, sehingga hal ini sudah cukup menjadi

jaminan baginya bahwa insya Allah dia akan berada di surga bersama

orang-orang yang bertakwa dan benar.

 

Buku Madarijus-Salikin tidak jauh dari gambaran ini. Cetakan per-

tama buku ini pada tahun 1334 Hijriyah sudah lama habis. Sementara

masih banyak orang yang memerlukannya, terutama orang-orang pada

masa sekarang yang lebih sering dihembus badai materiaUsme, yang pikir-an

manusia lebih banyak memikirkan materi, yang keberhasilan mereka lebih

banyak diukur dari kaca mata materi, sehingga bara permusuhan dan

kebencian semakin berkobar, kejalangan mewamai setiap masyarakat,

kehidupan terasa semakin berat, kesengsaraan ada di mana-mana, pe-

maksaan menjadi mode, ujian dan cobaan merajalela dan materi menjadi

sesuatu yang disanjung di dalam hati manusia.

 

Maka besar harapan kami untuk mencetak kembali buku ini, un-tuk

memenuhi kebutuhan manusia terhadap buku ini, sambil berharap agar

Allah memberikan manfaat lewat buku ini, menghimpun hasrat material

pada diri manusia untuk mensucikan ruh, menguatkan jiwa dan

mengarahkan akhlak. Sehingga di samping Allah telah melimpahkan

kekayaan material kepada bangsa Arab dan kaum Muslimin, Dia juga

memberikan kehidupan yang mulia, tehormat, baik dan aman dalam lin-

dungan Islam, seperti yang dialami orang-orang salaf yang shalih. Aga-ma

dan dunia telah dihimpun AUah bagi mereka, mengokohkan agama

mereka dan ridha terhadap mereka, sehingga Allah merubah ketakutan

mereka menjadi aman. Hanya satu sebabnya, mereka menyembah Allah

semata dan tidak menyekutukan sesuatu pun dengannya.

 

Muhaqqiq

 

Muhammad Hamid Al-Faqqy

 

 

 

BUKU

 

PERTAMA

 

 

 

PENJABARAN MENYELURUH

 

lYYAKA NA'BUDU

 

WA lYYAKA NASTAW

 

 

 

Al-Fatihah Yang Mencakup Berbagai Tuntutan

 

Mengingat kesempumaan manusia itu hanya tercapai dengan ilmu

yang bermanfaat dan amal yang shalih seperti yang terkandung di dalam

surat Al-Ashr, maka Allah bersumpah bahwa setiap orang akan meragi,

kecuali siapa yang mampu menyempurnakan kekuatan ilmiahnya dengan

iman dan kekuatan amaliahnya dengan amal shalih serta

menyempurnakan kekuatan selainnya dengan nasihat kepada kebenaran

dan kesabaran menghadapinya. Yang paling penting adalah iman dan

amal, yang tidak bisa berkembang kecuali dengan sabar dan nasihat.

 

Selayaknya bagi manusia untuk meluangkan sedikit waktunya, agar dia

mendapatkan tuntutan yang bernilai tinggi dan membebaskan diri-nya dari

kerugian. Caranya ialah dengan memahami Al-Qur'an dan mengeluarkan

kandungannya. Karena hanya inilah yang bisa mencukupi ke-maslahatan

hamba di dunia dan di akhirat serta yang bisa menghantarkan mereka ke

jalan lurus.

 

Berkat pertolongan Allah, kami bisa menjabarkan makna Al-Fatihah,

menjelaskan berbagai macam isi yang terkandung di dalam surat ini,

berupa berbagai macam tuntutan, bantahan terhadap golongan-golongan yang

sesat dan ahli bid'ah, etape orang-orang yang berjalan kepada Allah,

kedudukan orang-orang yang berilmu, perbedaan antara sarana dan

tujuan. Tidak ada sesuatu pun yang bisa mewakili kedudukan surat

 

Al-Fatihah ini. Karena itu Allah tidak menurunkan di dalam Taurat,

Injil maupun Jabur, yang menyerupai Al-Fatihah.

 

Surat Al-Fatihah mencakup berbagai macam induk tuntutan yang

tinggi. la mencakup pengenalan terhadap sesembahan yang memiliki ti-ga

nama, yaitu Allah, Ar-Rabb dan Ar-Rahman. Tiga asma ini merupakan

rujukan Asma'ul-Husna dan sifat-sifat yang tinggi serta menjadi poros-

nya. Surat A-Fatihah menjelaskan ilahiyah, Rububiyah dan Rahmah. lyyaka

na'budu merupakan bangunan di atas Ilahiyah, lyyaka nasta'in di atas

Rububiyah, dan mengharapkan petunjuk kepada jalan yang lurus merupakan

 

 

 

sifat rahmat. Al-Hamdu mencakup tiga hal: Yang terpuji dalam Ilahiyah-

Nya, yang terpuji dalam Rububiyah-Nya dan yang terpuji dalam rahmat-

 

Nya.

 

Surat Al-Fatihah juga mencakup penetapan hari pembalasan, pem-

balasan amal hamba, yang baik dan yang buruk, keesaan Allah dalam

hukum, yang berlaku untuk semua makhluk, hikmah-Nya yang adil, yang

semua ini terkandung dalam maliki yaumiddin.

 

Surat Al-Fatihah juga mencakup penetapan nubuwah, yang bisa di-

lihat dari beberapa segi:

 

1. Keberadaan Allah sebagai Rabbul-'alamin. Dengan kata lain, tidak layak

bagi Allah untuk membiarkan hamba- hamba- Nya dalam keadaan sia-sia

dan telantar, tidak memperkenalkan apa yang bermanfaat bagi

kehidupan dunia dan akhirat mereka, serta apa yang mendatangkan

mudharat di dunia dan di akhirat.

 

2. Bisa disimpulkan dari asma-Nya, Allah, yang berarti disembah dan di-

pertuhankan. Hamba tidak mempunyai cara untuk bisa mengenal

sesembahannya kecuali lewat para rasul.

 

3. Bisa disimpulkan dari asma-Nya, Ar-Rahman. Rahmat Allah mence-

gah-Nya untuk menelantarkan hamba-Nya dan tidak memperkenalkan

kesempurnaan yang harus mereka cari. Dzat yang diberi asma Ar-

Rahman tentu memiliki tanggung jawab untuk mengutus para rasul dan

menurunkan kitab-kitab. Tanggung jawab ini lebih besar daripada

tanggung jawab untuk menurunkan hujan, menumbuhkan tanaman dan

mengeluarkan biji-bijian. Konsekuensi rahmat untuk menghidupkan hati

dan ruh, lebih besar daripada konsekuensi menghidupkan badan.

 

4. Bisa disimpulkan dari penyebutan yaumid-din, yaitu hari di mana Allah

akan memberikan pembalasan terhadap amal hamba. Dia memberikan

pahala kepada mereka atas kebaikan, dan menyiksa mereka atas

keburukan dan kedurhakaan. Tentu saja Allah tidak akan menyiksa

seseorang sebelum ditegakkan hujjah atas dirinya. Hujjah ini tegak

lewat para rasul dan kitab-kitab-Nya.

 

5. Bisa disimpulkan dari iyyaka na'budu. Beribadah kepada AUah tidak

boleh dilakukan kecuali dengan cara yang diridhai dan dicintai-Nya.

Beribadah kepada-Nya berarti bersyukur, mencintai dan takut kepada-

Nya, berdasarkan fitrah, sejalan dengan akal yang sehat. Cara beribadah

ini tidak bisa diketahui kecuali lewat para rasul dan berdasarkan

penjelasan mereka.

 

6. Bisa disimpulkan dari ihdinash-shirathal-mustaqim. Hidayah adalah

keterangan dan bukti, kemudian berupa taufik dan iUiam. Bukti dan

keterangan tidak diakui kecuali yang datang dari para rasul. Jika ada

bukti dan keterangan serta pengakuan, tentu akan ada hidayah dan

taufik, iman tumbuh di dalam hati, dicintai dan berpengaruh di

 

 

 

dalamnya. Hidayah dan taufik berdiri sendiri, yang tidak bisa diperoleh

kecuali dengan bukti dan keterangan. Keduanya mencakup pengakuan

kebe-naran yang belum kita ketahui, baik secara rinci maupun global.

Dari sini dapat diketahui keterpaksaan hamba untuk memanjatkan

peraio-honan ini jika dia dalam keadaan terdesak, serta menunjukkan

keba-tilan orang yang berkata, "Jika kita sudah mendapat petunjuk, lalu

untuk apa kita memohon hidayah?" Kebenaran yang belum kita ketahui

jauh lebih banyak dari yang sudah diketahui. Apa yang tidak ingin kita

kerjakan karena menganggapnya remeh atau malas, sebenarnya serupa

dengan apa yang kita inginkan atau bahkan lebih banyak. Se-mentara

kita membutuhkan hidayah yang sempurna. Siapa yang menganggap

hal-hal ini sudah sempurna di dalam dirinya, maka permohonan hidayah

ini merupakan permohonan yang bersifat peneguh-an dan

berkesinambungan. Memohon hidayah mencakup permohonan untuk

mendapatkan segala kebaikan dan keselamatan dari kejahatan.

 

7. Dengan cara mengetahui apa yang diminta, yaitu jalan yang lurus. Tapi

jalan itu tidak bisa disebut jalan kecuali jika mencakup lima hal: Lurus,

menghantarkan ke tujuan, dekat, cukup untuk dilalui dan merupakan satu-

satunya jalan yang menghantarkan ke tujuan. Satu cirinya yang lurus,

karena garis lurus merupakan jarak yang paling dekat di antara dua

titik, sehingga ada jaminan untuk menghantarkan ke tujuan.

 

8. Bisa disimpulkan dari orang-orang yang diberi nikmat dan perbedaan

mereka dari golongan yang mendapat murka dan golongan yang sesat.

Ditilik dari pengetahuan tentang kebenaran dan pengamalannya, maka

manusia bisa dibagi menjadi tiga golongan ini (golongan yang diberi

nikmat, yang mendapat murka dan yang sesat). Hamba ada yang me-

ngetahui kebenaran dan ada yang tidak mengetahuinya. Yang menge-

tahui kebenaran ada yang mengamalkan kewajibannya dan ada yang

menentangnya. Inilah macam-macam orang mukaUaf. Orang yang me-

ngetahui kebenaran dan mengamalkannya adalah orang yang mendapat

rahmat, dialah yang mensucikan dirinya dengan ilmu yang ber-manfaat

dan amal yang shalih, dan dialah yang beruntung. Orang yang

mengetahui kebenaran namun mengikuti hawa nafsunya, maka dia

adalah orang yang mendapat murka. Sedangkan orang yang tidak

mengetahui kebenaran adalah orang yang sesat. Orang yang mendapat

murka adalah orang yang tersesat dari hidayah amal. Orang yang

tersesat mendapat murka karena kesesatannya dari ilmu yang haras

diketahuinya dan amal yang haras dikerjakannya. Masing-masing di

antara keduanya sesat dan mendapat murka. Tapi orang yang tidak

beramal berdasarkan kebenaran setelah dia mengetahui kebenaran itu,

jauh lebih layak mendapat murka. Karena itu orang-orang Yahudi lebih

layak mendapat murka. Sedangkan orang yang tidak mengetahui

kebenaran lebih pas disebut orang yang sesat, dan inilah sifat yang

layak diberikan kepada orang-orang Nashara, sebagaimana firman-

Nya,

 

 

 

"Katakanlah, 'Hai Ahli Kitab, janganlah kalian berlebih-lebihan

(melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agama kalian, dan

janganlah kalian mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat

dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah

menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat darijalan yang

lurus'. "(Al-Maidah: 77).

 

Penggal pertama tertuju kepada orang-orang Yahudi dan penggal

kedua tertuju kepada orang-orang Nashara. Di dalam riwayat At-Tirmidzy

dan Shahih Ibnu Hibban, dari hadits Ady bin Hatim, dia berkata, "Ra-

sulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hersabda/'Orang-orang Yahudi

adalah orang-orang yang mendapat murka dan orang-orang Nashara adalah

orang-orang yang sesat. "Nikmsit dikaitkan secarajelas kepada Allah.

 

Sedangkan pelaku kemurkaan disamarkan. Hal ini bisa dilihat dari

beberapa pertimbangan:

 

1. Nikmat itu merupakan gambaran kebaikan dan karunia, sedangkan

kemurkaan berasal dari pintu pembalasan dan keadilan. Sementara

rahmat mengalahkan kemurkaan.Tentang pengkhususan nikmat yang

diberikan kepada orang-orang yang mengikuti jalan lurus, maka itu

adalah nikmat yang mutlak dan yang mendatangkan keberuntungan

yang abadi. Sedangkan nikmat itu secara tak terbatas diberikan kepa

da orang Mukmin dan juga orang kafir. Jadi setiap makhluk ada dalam

nikmat-Nya. Di sinilah letak rincian perselisihan tentang pertanyaan,

"Apakah AUah memberikan kepada orang kafir ataukah tidak?" Nik

mat yang tak terbatas hanya bagi orang yang beriman, dan ketidakter-

batasan nikmat itu bagi orang Mukmin dan juga bagi orang kafir. Inilah

makna firman-Nya,

 

"Dan, jika kalian menghitung nikmat Allah, tidaklah kalian dapat

menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu sangatzhalim dan sa-

ngat mengingkari (nikmat Allah). " (Ibrahim: 34).

 

2.. AUahlah satu-satunya yang memberikan nikmat, sebagaimana firman-

Nya,

 

 

 

S*!-' -♦-'o.o oA< 4'"''

 

AJJI ^j^ 5'<"tJ (jA A^ Laj

 

 

 

"Dan, apa saja nikmat ycmg ada pada kalian, maka dari Allahlah (da-

tangnya). " (An-Nahl: 53).

 

Sedangkan kemurkaan kepada musuh-musuh-Nya, maka bukan Allah

saja yang murka, tapi para malaikat, nabi, rasul dan para wali-Nya juga

murka kepada musuh-musuh Allah.

 

3. Ditiadakannya pelaku kemurkaan menunjukkan keremehan orang yang

mendapat murka dan kehinaan keadaannya. Hal ini berbeda dengan

disebutkannya pemberi nikmat, yang menunjukkan kemuliaan orang

yang mendapat nikmat.

 

Perhatikanlah secara seksama rahasia penyebutan sebab dan balasan bagi

tiga golongan ini dengan lafazh yang ringkas. Pemberian nikmat kepada

mereka mencakup nikmat hidayah, berupa ilmu yang bermanfa-at dan

amal yang shalih atau petunjuk dan agama yang benar, di samping

kesempumaan nikmat pahala. Lafazh an'amta 'alaihim mencakup dua

perkara ini.

 

Penyebutan murka Allah terhadap orang-orang yang dimurkai, juga

mencakup dua perkara:

 

- Pembalasan dengan disertai kemurkaan, yang berarti ada siksa

dan pelecehan.

 

- Sebab yang membuat mereka mendapat murka-Nya.

 

Allah terlalu pengasih untuk murka tanpa ada ke jahatan dan kesesatan

yang dilakukan manusia. Seakan-akan murka Allah itu memang layak

diberikan kepada mereka karena kesesatan mereka. Penyebutan orang-

orang yang sesat juga mengharuskan murka Allah dan siksa-Nya terhadap

mereka. Dengan kata lain, siapa yang sesat layak mendapat siksa, sebagai

konsekuensi dari kesesatannya.

 

Perhatikanlah kontradiksi antara hidayah dan nikmat dengan murka dan

kesesatan. AUah menyebutkan orang-orang yang mendapat murka dan

yang sesat pada sisi yang berseberangan dengan orang-orang yang

mendapat petunjuk dan mendapat nikmat. Yang pertama seperti firman

Allah,

 

"Dan, barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya

baginya penghidupan yang sempit". (Thaha: 124).

 

Yang kedua seperti firman Allah,

 

 

 

"Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabbnya dan

merekalah orang-orang yang beruntung. " (Al-Baqarah: 5).

 

Ash-Shirathul-Mustaqim

 

Allah menyebutkan Ash-Shiratul-mustaqim dalam bentuk tunggal dan

diketahui secara jelas, karena ada lam ta'rif dan karena ada keterang-an

tambahan, yang menunjukkan kejelasan dan kekhususannya, yang berarti

jalan itu hanya satu. Sedangkan jalan orang-orang yang mendapat murka

dan sesat dibuat banyak. Firman-Nya,

 

"Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus,

maka ikutilah ia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang

lain), karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kalian dari jalan-Nya. "

(Al-An'am: 153).

 

Allah menunggalkan lafazh ash-shirath dan sabilihi, membanyakkan

lafazh as-subula, sehingga jelas perbedaan di antara keduanya. Ibnu Mas'ud

berkata, "RasuluUah Shallallahu Alaihi wa Sallam menorehkan satu garis di

hadapan kami, seraya bersabda, 'Ini adalah jalan Allah'. Kemudian be-liau

menorehkan beberapa garis lain di kiri kanan beliau, seraya bersabda, 'Ini

adalah jalan-jalan yang lain. Pada masing-masing jalan ini ada syetan yang

mengajak kepadanya'. Kemudian beliau membaca ayat, 'Dan bahwa...'."

 

Pasalnya, jalan yang menghantarkan kepada Allah hanya ada satu,

yaitu jalan yang karenanya Allah mengutus para rasul dan menurunkan

kitab-kitab. Tak seorang pun bisa sampai kepada AUah kecuali lewat jalan

ini. Andaikan manusia melalui berbagai macam jalan dan membuka ber-

bagai macam pintu, maka jalan itu adalah jalan buntu dan pintu. itu terkunci.

 

Ash-Shirathul-mustaqim adalah jalan Allah. Sebagaimana yang per-

nah kami singgung, Allah mengabarkan bahwa ash-shirath itu ada pada

Allah dan Allah ada pada ash-shirathul-mustaqim. Yang demikian ini dise-

butkan di dua tempat dalam Al-Qur'an:

 

 

 

Amui^a Jal jj-ia ^Jic ^j ^]

 

 

 

 

 

 

"Sesungguhnya Rabbku di atas jalan yang lurus. " (Hud: 56).

 

 

 

^J^ (jS \^^ fls^ Ls^ J^. *^ (*^' IaA^I (jjl^J ^^^ ^1 '-r'^>*^J

 

"Don A/to/z membuat perumpamaan: Dua orang lelald, yang seorang

bisu, tidak dapat berbuat sesuatu pun dan dia menjadi beban ataspe-

nanggungnya, kemana saja dia disuruh oleh penanggungnya itu, dia

tidak dapat mendatangkan suatu kebajikan pun. Samakah orang itu

dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan dia beradapula di

atas jalan yang lurus?" (An-Nahl: 76).

 

Inilah perumpamaan yang diberikan Allah terhadap para berhala

yang tidak dapat mendengar, tidak dapat berbicara dan tidak berakal, yang

justru menjadi beban bagi penyembahnya. Berhala membutuhkan

penyembahnya agar dia membawa, memindahkan dan meletakkannya di

tempat tertentu serta mengabdi kepadanya. Bagaimana mungkin mereka

mempersamakan berhala ini dengan AUah yang menyuruh kepada keadilan

dan tauhid, Allah yang berkuasa dan berbicara, yang Maha-kaya, yang ada

di atas ash-shirathul-mustaqim dalam perkataan dan perbuatan-Nya?

Perkataan AUah benar, lurus, berisi nasihat dan petunjuk, perbuatan-Nya

penuh hikmah, rahmat, bermaslahat dan adil.

 

Inilah pendapat yang paling benar tentang hal ini, dan sayangnya

jarang disebutkan para mufassir atau pun ulama lainnya. Biasanya mereka

lebih mem-prioritaskan pendapat pribadi, baru kemudian menyebutkan

dua ayat ini, seperti yang dilakukan Al-Baghawy. Sementara Al-Kalby

berpendapat, "Artinya Dia menunjukkan kalian kepada jalan yang lurus."

 

Kami katakan, petunjuk-Nya kepada jalan yang lurus merupakan

keharusan keberadaan Allah di atas ash-shirathul-mustaqim. Petunjuk-Nya

dengan perbuatan dan perkataan-Nya, dan Dia berada di atas ash-shirathul-

mustaqim dalam perbuatan dan perkataan-Nya. Jadi pendapat ini tidak

bertentangan dengan pendapat orang yang mengatakan bahwa Dia berada

di atas ash-shirathul-mustaqim.

 

Jika ada yang mengatakan, "RasuluUah Shallallahu Alaihi wa Sal-lam

menyuruh kepada keadilan", berarti beliau berada di atas ash-shirathul-

mustaqim. Hal ini dapat kami tanggapi sebagai berikut: Inilah yang memang

sebenarnya dan tidak bertentangan dengan pendapat di atas. AUah berada

di atas ash-shirathul-mustaqim, begitu pula Rasul-Nya. Beliau tidak

menyuruh dan tidak berbuat kecuali menurut ketentuan dari Allah.

Berdasarkan pengertian inilah perumpamaan dibuat untuk meng-

gambarkan pemimpin orang-orang kafir, yaitu berhala yang bisu, yang

tidak mampu berbuat apa pun untuk menunjukkan kepada hidayah dan

kebaikan. Sedangkan pemimpin orang-orang yang baik, RasuluUah Shal-

 

 

 

lallahu Alaihi wa Sallam menyurah kepada keadilan, yang berarti beliau

berada di atas ash-shirathul-mustaqim.

 

Karena orang yang mencari ash-shirathul-mustaqim masih mencari

sesuatu yang lain, maka banyak orang yang justru menyimpang dari jalan

luras itu. Karena jiwa manusia diciptakan dalam keadaan takut jika sendiri-an

dan lebih suka mempunyai teman karib, maka Allah juga mengingat-kan

tentang teman karib saat melewati jalan ini. Orang-orang yang layak

dijadikan teman karib adalah para nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin.

Mereka inilah orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah. Dengan begitu

rasa takut dari gangguan orang-orang di sekitamya karena dia sendi-rian saat

meniti jalan, menjadi sirna. Dia tidak risau karena harus berbe-da dengan

orang-orang yang menyimpang dari jalan tersebut. Mereka adalah

golongan minoritas dari segi kualitas, sekaUpun mereka merupakan

golongan mayoritas dari segi kuantitas, seperti yang dikatakan se-bagian

salaf, "Ikutilah jalan kebenaran dan jangan takut karena minimnya orang-

orang yang mengikuti jalan ini. Jauhilah jalan kebatilan dan jangan tertipu

karena banyaknya orang-orang yang mengikutinya." Jika engkau meniti

jalan kebenaran, teguhkan hatimu dan tegarkan langkah kakimu, jangan

menoleh ke arah mereka sekaUpun mereka memanggil-manggilmu, karena

jika sekaU saja engkau menoleh, tentu mereka akan menghambat

perjalananmu.

 

Karena memohon petunjuk jalan yang lurus merupakan permo-

honan yang paling tinggi nilainya, maka AUah mengajarkan kepada hamba-

hamba-Nya bagaimana cara berdoa kepada-Nya dan memerintahkan agar

mereka mengawahnya dengan pujian dan pengagungan kepada-Nya,

kemudian menyebutkan ibadah dan pengesaan-Nya. Jadi ada dua macam

tawassul dalam doa:

 

1. Tawassul dengan asma' dan sifat-sifat-Nya serta memuji-Nya.

 

2. Tawassul dengan beribadah dan mengesakan-Nya.

 

Surat Al-Fatihah juga memadukan dua tawassul ini. Setelah dua ta-

wassul ini digunakan, bisa disusul dengan permohonan yang paling pen-

ting, yaitu hidayah. Siapa pun yang berdoa dengan cara ini, maka doanya

layak dikabulkan.

 

Cakupan Surat Al-Fatihah terhadap Macam-macam

Tauhid

 

Tauhid itu ada dua macam:

 

1. Tauhid dalam iknu dan keyakinan.

 

2. Tauhid dalam kehendak dan tujuan.

 

 

 

Yang pertama disebut tauhid ilmu karena keterkaitannya dengan

pengabaran dan pengetahuan. Tauhid kedua yang disebut tauhid kehendak

dan tujuan, dibagi menjadi dua macam: Tauhid dalam Rububiyah dan

tauhid dalam Uluhiyah.

 

Tauhid ilmu berkisar pada penetapan sifat-sifat kesempurnaan,

penafian penyerapaan, peniadaan aib dan kekurangan. Hal ini bisa dike-

tahui secara global maupun secara terinci. Secara global dapat dikatakan,

"Penetapan pujian hanya bagi Allah". Adapun secara terinci dapat dika-

takan, "Penyebutan sifat Uluhiyah, Rububiyah, rahmah dan kekuasaan.

Empat sifat ini merupakan pusaran asma' dan sifat."

 

Pujian di sini berarti pujian terhadap Dzat yang dipuji dengan me-

nyebutkan sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan-Nya, disertai kecin-

taan, ridha dan ketundukan kepada-Nya. Seseorang tidak bisa disebut

orang yang memuji jika dia mengingkari sifat-sifat yang dipuji, tidak

mencintai, tidak tunduk dan ridha kepadanya. Jika sifat-sifat kesempur-

naan yang dipuji lebih banyak, maka pujian pun semakin sempurna.

Begitu pula sebaliknya. Karena itu segala pujian hanya tertuju kepada

Allah karena kesempurnaan dan banyaknya sifat-sifat yang dimiliki-Nya,

yang selain AUah tidak mampu menghitungnya. Karena itu pula Allah

mencela sesembahan orang-orang kafir dengan meniadakan sifat-sifat

kesempurnaan darinya. Allah mencelanya sebagai sesuatu yang tidak bisa

mendengar, melihat, berbicara, memberi petunjuk, mendatangkan man-

faat dan mudharat. Maka AUah menjelaskan hal ini seperti dalam perka-

taan Ibrahim Al-Khalil,

 

 

 

.tU

 

 

 

Lnjoi tiic. t5^. ^J J' ^.U ^J 2:'*^. ^ ^ "^^ (*^

 

"Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak

mendengar, tidak tnelihat dan tidak dapat menolongmu sedikitpun?"

(Maryam: 42).

 

Andaikata sesembahan Ibrahim seperti sesembahan bapaknya, Azar,

tentu bapaknya akan menjawab, "Toh sesembahanmu seperti itu pula.

Maka buat apa kamu mengingkari aku?" Sekalipun begitu sebenarnya

Azar juga tahu siapa Allah, sama seperti orang-orang kafir Quraisy yang tahu

siapa AUah, tapi mereka menyekutukan-Nya. Begitu pula kaum Musa. Firman

Allah,

 

"Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat

dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh

 

 

 

dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu

tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menun-jukkan

jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sesembahan) dan

mereka adalah orang-orang yang zhalim. " (Al-A'raf: 148).

 

Jika ada yang berkata, "Bukankah Allah tidak bisa berbicara dengan

hamba-Nya?" Maka dapat dijawab sebagai berikut: Allah berbicara dengan

hamba-hamba-Nya. Di antara mereka ada yang diajak berbicara dengan

AUah dari balik hijab, yang lain ada yang tanpa perantara, seperti Musa,

ada yang berbicara dengan Allah lewat perantara malaikat yang diutus,

yaitu para nabi dan rasul, dan Allah berbicara dengan seluruh ma-nusia lewat

para rasul-Nya. Allah menurunkan firman-Nya kepada mereka yang

disampaikan para rasul, "Ini adalah firman Allah dan Dia meme-rintahkan

agar kami menyampaikannya kepada kalian." Berangkat dari sinilah orang-

orang salaf berkata, "Siapa mengingkari keadaan AUah yang dapat berbicara,

berarti dia mengingkari risalah para rasul." Begitu pula kaitannya dengan

sifat-sifat Allah selainnya.

 

Dari sini dapat diketahui bahwa hakikat pujian mengikuti ketetapan

sifat-sifat kesempurnaan, dan penafian hakikat pujian ini juga mengikuti

penafian sifat-sifat kesempurnaan.

 

Hakikat Asma' Allah

 

Pembuktian asma' AUah yang Uma (AUah, Ar-Rabb, Ar-Rahman, Ar-

Rahim dan Al-Malik), dilandaskan kepada dua dasar:

 

Dasar Pertama:

 

Asma' Allah menunjukkan sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Asma' ini

merupakan sifat, yang semuanya baik, husna. Sebab jika asma' itu hanya

sekedar lafazh yang tidak mempunyai makna apa pun, maka ia tidak bisa

disebut husna dan tidak menunjukkan kesempurnaan, lalu akan terjadi

kerancuan antara dendam dan marah yang menyertai rahmat dan ihsan,

sehingga kalau berdoa kita harus mengucapkan, "Ya Allah, sesungguh-nya

aku menganiaya diriku sendiri, maka ampunilah aku karena Engkau

pendendam". Penafian makna Asma'ul- husna termasuk kufur yang ter-

besar. Jika Allah mensifati Diri-Nya Al-Qawiyyu, berarti memang Dia benar-

benar mempunyai kekuatan. Begitu pula sifat-sifat lainnya.

 

Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sal-

lam, behau bersabda.

 

 

 

 

 

 

JL&ajuO

 

 

 

"Sesungguhnya Allah tidak tidur dan tidak sehanisnya Dia tidur. Dia

merendahkan timbangan dan meninggikannya Amalpada malam hari

disampaikan kepada-Nya sebelum siang hari, dan amal slang hari di-

sampaikan kepada-Nya sebelum malam hari. Hijab-Nya adalah cahaya,

yang andaikan hijab ini disingkap, maka kemuliaan Wajah-Nya be-

nar-benar membakar pandangan makhluk yang memandang-Nya. "

 

Menafikan makna asma'-Nya juga termasuk kufur yang paling be-

sar. Gambaran kufur lainnya adalah menamakan berhala dengan asma'

Allah, sebagaimana mereka menamakannya alihah (sesembahan). Ibnu

Abbas dan Mujahid berkata, "Mereka mengambil asma' Allah lalu mena-

makan berhala-berhala mereka dengan asma'-Nya, dengan sedikit me-

ngurangi atau menambahi. Mereka mengambil nama Lata dari AUah, Uzza

dari Al-Aziz, Manat dari Al-Mannan."

 

DasarKedua:

 

Satu dari berbagai asma' Allah, di samping menunjukkan kepada

Dzat dan sifat yang disesuaikan dengannya, maka ia juga menunjukkan

dua bukti lainnya yang sifatnya kandungan dan keharusan. As-Sami'

menunjukkan kepada Dzat Allah dan pendengaran-Nya, juga kepada Dzat

semata dan kepada pendengaran yang menjadi kandungannya. Begitu pula

sifat- sifat lainnya.

 

Jika sudah ada kejelasan tentang dua dasar ini, maka asma' Allah

menunjukkan kepada keseluruhan Asma'ul-husna dan sifat-sifat yang

tinggi. Hal ini menunjukkan kepada Ilahiyah-Nya, dengan penafian keba-

likannya.

 

Maksud sifat-sifat Ilahiyah adalah sifat-sifat kesempurnaan, yang

terlepas dari penyerupaan dan permisalan, aib dan kekurangan. Karena

Allah menambahkan semua Asma'ul-husna ke asma'-Nya yang agung ini

(Allah).

 

Asma' "Allah" layak untuk semua makna Asma'ul-husna dan me-

nunjukkan kepadanya secara global. Sedangkan Asma'ul-husna itu sendiri

merupakan rincian dari sifat-sifat Ilahiyah yang berasal dari asma"'Allah".

Asma' "Allah" menunjukkan keadaan-Nya sebagai Dzat yang disembah.

Semua makhluk menyembah-Nya dengan penuh rasa cinta, pengagungan

dan ketundukan. Hal ini mengharuskan adanya kesempurnaan Rububiyah

 

 

 

dan rahmat-Nya, yang juga mencakup kesempurnaan kekuasaan dan puji-

 

Nya.

 

Sifat keagungan dan keindahan lebih dikhususkan untuk nama

"Allah". Perbuatan, kekuasaan, kesendirian-Nya dalam memberi manfaat

dan mudharat, memberi dan menahan, kehendak, kesempumaan kekuatan

dan penanganan urusan makhluk, lebih dikhususkan untuk nama " Ar-

Rabb". Sifat ihsan, murah hati, pemberi dan lemah lembut lebih dikhususkan

untuk nama "Ar-Rahman". Masing-masing disesuaikan dengan kaitan sifat.

Ar-Rahman artinya yang memiUki sifat rahmat. Sedang-kan Ar-Rahim

adalahyang mengasihi hamba-hamba-Nya. Karena itu dik-takan dalam firman-

Nya, "Dia Ar-Rahim (Maha Pengasih) terhadap hamba-hamba-Nya", dan

tidak dikatakan, "Ar-Rahman (yang memiliki sifat rahmat) terhadap

hamba-hamba-Nya".

 

Perhatikanlah kaitan penciptaan dan urusan dengan tiga asma' ini,

yaitu Allah, Ar-Rabb dan Ar-Rahman, yang dari tiga asma' ini ada pen-

ciptaan, urusan, pahala dan siksa, bagaimana makhluk dihimpunkan dan

dipisah-pisahkan.

 

Asma' Ar-Rabb memiliki cakupan yang menyeluruh terhadap semua

makhluk. Dengan kata lain, Dia adalah pemilik segala sesuatu dan

penciptanya, yang berkuasa terhadapnya dan tidak ada sesuatu pun yang

keluar dari Rububiyah-Nya. Siapa pun yang ada di langit dan bumi meru-

pakan hamba-Nya, ada dalam genggaman dan kekuasaan-Nya. Mereka

berhimpun berdasarkan sifat Rububiyah dan berpisah dengan sifat Ilahi-

yah. Hanya Dialah yang disembah, kepada-Nya mereka tunduk, bahwa

Dialah Allah yang tidak ada sesembahan selain-Nya. Ibadah, tawakal,

berharap, takut, mencintai, pasrah, tunduk tidak boleh diperuntukkan

kecuali bagi-Nya semata.

 

Berangkat dari sinilah manusia terbagi menjadi dua golongan: Go-

longan orang-orang musyrik yang berada di neraka, dan golongan orang-

orang muwahhidin yang berada di surga. Yang membuat mereka terpi-sah

adalah Ilahiyah, sedangkan Rububiyah membuat mereka bersatu. Agama,

syariat, perintah dan larangan berasal dari sifat Ilahiyah. Penciptaan,

pengadaan, penanganan urusan dan perbuatan berasal dari sifat Rububiyah.

Pahala, balasan, siksa, surga dan neraka berasal dari sifat Al- Malik. Artinya,

Dialah yang menguasai hari pembalasan. Dia memerin-tahkan mereka

berdasarkan Ilahiyah- Nya, menunjuki dan menyesatkan mereka berdasarkan

Rububiyah-Nya, memberi pahala dan siksa berdasarkan kekuasaan dan

keadilan-Nya. Setiap masalah ini tidak bisa dipisah-kan dari yang lain.

 

Disebutkannya asma'-asma' ini setelah al-hamdu (pujian) dan pe-

ngaitan al-hamdu dengan segala cakupannya, menunjukkan bahwa me-

mang Dia adalah yang terpuji dalam Ilahiyah-Nya, terpuji dalam Rubu-

 

 

 

biyah-Nya, terpuji dalam Rahmaniyah-Nya, terpuji dalam kekuasaan-Nya, Dia

adalah sesembahan yang terpuji, ilah dan Rabb yang terpuji, Rahman yang

terpuji, Malik yang terpuji. Dengan begitu Dia memiliki seluruh

kesempumaan; kesempumaan dalam asma' Allah secara sendirian dan

kesempumaan dalam asma'-asma' lainnya secara sendirian serta kesem-

pumaan dalam penyertaan satu asma' dengan asma' lain. Karena itu sering

disebutkan dua asma' secara berurutan, seperti: Wallahu ghaniyyun ha-

mid, -wallahu alimun hakim, wallahu ghafurur rahim. Al-Ghaniyyu meru-

pakan sifat kesempumaan dan Al-Hamid merupakan sifat kesempumaan

pula. Penyertaan dua asma' ini merupakan kesempurnaan-Nya, begitu

pula penyertaan sifat- sifat yang lain.

 

Tingkatan-tingkatan Hidayah Khusus dan Umum

 

Tingkatan Pertama:

 

Tingkatan pembicaraan Allah dengan hamba-Nya secara sadar dan

langsung tanpa perantara. Ini merupakan tingkatan hidayah yang pahng

tinggi, sebagaimana Allah yang berbicara dengan Musa bin Imran. Allah

befirman.

 

 

 

f ^j]^'^ (_gJUO^ AIII aJS

 

 

 

"Dan, Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung. " (An-Nisa':

164).

 

Sebelum ayat ini disebutkan wahyu Allah yang diberikan kepada

Nuh dan para nabi sesudahnya, kemudian mengkhususkan Musa, bahwa

Allah berbicara dengan beliau. Ini menunjukkan bahwa pembicaraan ini

lebih khusus dari sekedar memberikan wahyu seperti yang disebutkan

dalam ayat sebelumnya. Lalu hal ini ditegaskan lagi dengan adanya mash-

dar dari kallama. Hujjah ini untuk menyanggah pendapat jahmiyah, Mu'-

tazilah dan golongan-golongan lain yang mengatakan bahwa itu artinya

wahyu atau isyarat atau pengenalan terhadap suatu makna, yang artinya

bukan bicara secara langsung. Al-Fara' berkata, "Orang-orang Arab menye-but

kontak dengan orang lain adalah bicara, dengan cara apa pun dan

bagaimana pun. Tetapi makna ini tidak disertai dengan mashdar dari fi'il

yang sama. Jika dikuatkan dengan mashdar, berarti hakikatnya memang

bicara. Maka apabila dikatakan, "Fulan araada iraadatan", artinya Fulan

benar-benar menghendaki.

 

Ada firman Allah yang lain tentang hal ini,

 

(iljll jlaJl (_5Jjl i-Jj Jli Ajj A^aKj UjllLa] (_gJuoj-a ^l^ UJj

 

 

 

"Dan, tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu

yang telah Kami tentukan dan Rabbnya telah berbicara (langsung)

kepadanya, Musa berkata, 'Ya Rabbi, tampakkanlah (Diri Engkau) kepa-

daku agar aku dapat melihat kepada Engkau '. " (Al- A'raf: 143).

 

Pembicaraan ini berbeda dengan yang pertama saat Dia mengu-

tusnya kepada Fir'aun. Dalam pembicaraan kali ini Musa meminta untuk

dapat melihat Allah. Pembicaraan kali ini berasal dari janji Allah kepada-

nya. Sementara pada pembicaraan yang pertama tidak didahului dengan

janji.

 

Tingkatan Kedua:

 

Tingkatan wahyu yang secara khusus diberikan kepada para nabi.

Allah befirman,

 

"Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana

Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang ke-

mudiannya. " (An-Nisa': 163).

 

"Dan, tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata dengan

dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir. " (Asy-

Syura: 51).

 

AUah menjadikan wahyu dalam ayat kedua ini termasuk bagian dari

bicara, sedangkan dalam ayat pertama menjadi la wan bicara. La wan bica-ra

secara khusus artinya tanpa ada perantara, sedangkan bagian dari bicara

yang bersifat umum, berarti penyampaian makna dengan berbagai macam

cara.

 

Tingkatan Ketiga:

 

Mengirim utusan dari jenis malaikat kepada utusan dari jenis manusia,

lalu utusan malaikat ini menyampaikan wahyu dari Allah seperti yang

diperintahkan-Nya.

 

Tiga jenis tingkatan ini dikhususkan hanya bagi para rasul dan nabi,

tidak berlaku untuk selain mereka. Utusan malaikat itu bisa berwujud

manusia berjenis laki-laki, yang bisa dilihat dengan mata telanjang dan

juga berbicara empat mata, dan adakalanya dia menampakkan diri dalam

wujud aslinya. Adakalanya malaikat ini masuk ke dalam diri rasul dan

menyampaikan wahyu seperti yang diperintahkan, lalu dia melepaskan diri

 

 

 

darinya. Tiga cara ini pemah dialami nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi

wa Sallam.

 

Tingkatan Keempat:

 

Dengan cara bisikan. Tingkatan ini berbeda dengan wahyu yang si-

fatnya khusus dan juga berbeda dengan tingkatan para shiddiqin, seperti

yang dialami Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu Anhu. Hal ini pernah

ditegaskan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,

 

LjlkaJl jjj jjuxk aJ^\ oJiA ^ jjj jli jjj.la^ ~<^;S ^'^| ^ j\ Al\

 

"Sesungguhnya di tengah umat-umat sebelum kalian ada orang-orang

yang mendapat bisikan. Sedangkan dalam umat ini adalah Umar bin

Al-Khaththab. "

 

Orang yang mendapat bisikan ialah orang yang mendapat bisikan

(firasat) itu secara rahasia di dalam hatinya tentang sesuatu, kemudian dia

menyatakannya. Lalu bagaimana dengan sekian banyak orang yang

dikuasai imajinasi dan hayalan, yang mengatakan, "Hatiku mendapat

bisikan dari Allah?" Memang tidak bisa disangkal bahwa hatinya mendapat

bisikan itu. Tapi dari mana dan dari siapa? Dari syetan ataukah dari Allah?

Jika dia mengaku berasal dari AUah, berarti dia menyandarkan bisikan itu

dari seseorang yang sebenarnya dia pun tidak mengetahuinya secara pasti,

bahwa yang membisikkan kepadanya itu benar-benar mem-bisikkan. Ini

sama saja bohong. Sementara Umar bin Al-Khaththab, salah seorang dari

umat ini yang telah dilejitimasi oleh RasuluUah Shallallahu Alaihi wa

Sallam sebagai orang yang mendapat bisikan dari Allah, tidak membuat

pengakuan seperti itu dan berkata seperti itu, kapan pun, karena Allah telah

melindungi dirinya agar tidak berkata seperti itu. Bahkan suatu hari saat

sekretarisnya menulis, "Inilah yang diperlihatkan Allah kepada Amirul-

Mukminin, Umar bin Al-Khaththab", dia berkata, "Tidak, hapus itu. Tapi

tuhslah: Inilah yang dilihat Umar bin Al-Khaththab. Jika benar, maka ini

datangnya dari Allah, dan jika salah, maka ini dari Umar, sedangkan Allah

dan Rasul-Nya terbebas darinya." Dia juga pernah berkata ketika

memutuskan perkara tentang seorang anak yang tidak jelas bapak ibunya,

"Aku memutuskannya berdasarkan pendapatku. Jika benar, maka itu

datangnya dari Allah, dan jika salah, maka itu dariku dan dari syetan."

 

Dengan begitu engkau bisa membedakan antara sosok Umar bin Al-

Khaththab dengan sekian banyak orang yang dikuasai hayalan, pem-bual

dan permisivis yang mengatakan, "Hatiku mendapat bisikan (wang-sit) dari

Allah." Perhatikan dan bandingkan antara keduanya, kemudian berikan

hak kepada masing-masing secara proporsional, jangan samakan pembual

dengan orang yang tulus.

 

 

 

Tingkatan Kelima:

 

Dengan cara pemahaman. Allah befirman,

 

Lalc-j LaL^ UjjI !il^j ^LuLuo IaLla^ 4(jJ^ljuo M/"^^j

 

"Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman di waktu keduanya mem-

berikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh

kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan, adalah Kami menyaksikan

keputusan yang diberikan oleh mereka itu, maka Kami telah memberikan

pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat) dan ilmu. "

(Al-Anbiya': 78-79).

 

AUah menyebutkan dua nabi yang mulia ini, memuji keduanya de-

ngan ilmu dan hukum, mengkhususkan Sulaiman dengan pemahaman

dalam peristiwa ini.

 

Ah bin Abu Thalib pemah ditanya seseorang, "Apakah RasuluUah

Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah mengkhususkan kalian para shahabat

dengan sesuatu tanpa yang lain?" Ali menjawab, "Tidak pernah, kecuali

hanya pemahaman tentang Kitab-Nya seperti yang diberikan Allah kepada

seorang hamba."

 

Pemahaman ini datangnya dari Allah dan Rasul-Nya, yang meru-

pakan inti kebenaran. Ada perbedaan di antara orang-orang yang berilmu

sehubungan dengan pemahaman ini, sampai-sampai ada satu orang yang

disamakan dengan seribu orang. Perhatikan pemahaman yang dimiliki

Ibnu Abbas, saat dia ditanya Umar dalam pertemuan yang dihadiri para

shahabat yang pernah ikut perang Badr dan juga lain-lainnya tentang

makna surat An-Nashr. Menurut Ibnu Abbas, surat ini merupakan

pengabaran tentang kedekatan ajal beliau. Ternyata jalan pikiran Ibnu

Abbas ini cocok dengan jalan pikiran Umar sendiri. Hanya mereka ber-dua

yang memahami seperti ini, sekalipun Ibnu Abbas adalah orang yang paling

muda di antara para shahabat yang ada pada waktu itu. Dari sisi mana

surat ini bisa dipahami sebagai pengabaran tentang ajal beliau yang sudah

dekat kalau bukan karena pemahaman yang sifatnya khusus?

 

Tingkatan Keenam:

 

Penjelasan secara umum. Artinya, penjelasan tentang kebenaran dan

kemampuan untuk membedakannya dari yang batil, berdasarkan dalil,

bukti dan saksi-saksi penguat, sehingga lalu berubah seperti sebuah

kenyataan di dalam hati, seperti sebuah kenyataan yang tampak jelas di

depan mata kepala. Tingkatan ini merupakan hujjah Allah atas makhluk-Nya.

 

 

 

Dia tidak mengadzab dan tidak menyesatkan seseorang kecuali sete-lah orang

tersebut mendapatkan kejelasan ini. Firman-Nya,

 

ijjSin {jd k^ ^JJJJ (^^^ >A 1^ Jl ^JLi Laji ISi-^aA AjII ij\^ {jdj

 

"Dan, Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah

Allah memberi petunjuk kepada mereka hingga dijelaskan-Nya kepada

mereka apa yang hams dijauhi. " (At-Taubah: 115).

 

Kesesatan ini merapakan hukuman bagi mereka yang datangnya

dari Allah, karena Dia telah menjelaskan kepada mereka, namun mereka

tidak mau menerima dan tidak mengamalkannya. Maka Allah menghu-

kum mereka dengan cara menyesatkannya dari petunjuk. Jadi, AUah sama

sekali tidak menyesatkan seseorang kecuali setelah ada penjelasan ini.

Jika engkau sudah memahami hal ini, tentu engkau bisa memahami ra-

hasia takdir, sehingga engkau tidak terasuki sekian banyak keragu-raguan dan

syubhat tentang masalah ini.

 

Penjelasan ini ada dua macam: Penjelasan dengan ayat-ayat yang bisa

didengar, dan penjelasan dengan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) yang

bisa diUhat mata. Keduanya merupakan bukti dan penjelasan tentang

keesaan Allah dan kesempurnaan sifat-sifat-Nya. Karena itu Allah menyeru

hamba-hamba-Nya lewat ayat-ayat-Nya yang bisa dibaca agar memikirkan

tanda-tanda kekuasaan-Nya yang bisa diUhat mata. Karena penjelasan

inilah para rasul diutus dan pengemban sesudah para nabi adalah para

ulama. Setelah ada penjelasan itu, maka Allah menyesatkan siapa pun yang

dikehendaki-Nya. Allah menjelaskan, dan Allah menyesatkan siapa yang

dikehendaki-Nya serta memberikan petunjuk kepada siapa pun yang

dikehendaki-Nya berdasarkan hikmah-Nya.

 

Tingkatan Ketujuh:

 

Penjelasan bersifat khusus. Maksudnya penjelasan yang mendatang-kan

petunjuk khusus, atau penjelasan yang disusul dengan pertolongan, taufik

dan pengenyahan sebab-sebab kehinaan dari hati, sehingga dia tidak

kehilangan hidayah. Allah befirman,

 

"Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk maka

sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang

disesatkan-Nya. " (An-Nahl: 36).

 

 

 

"Sesungguhnya kami tidak akan dapat memberi petimjuk kepada orang

yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang

dikehendaki-Nya. " (Al-Qashash: 56).

 

Tingkatan Kedelapan:

 

Lewat pendengaran. Allah befirman,

 

(*^*^^^ 'J:i^ ^ ^^ ^ y3

 

"Kalau sekiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentu-

lah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. " (Al- Anfal: 23)

 

Memperdengarkan di sini lebih khusus daripada memperdengarkan

hujjah dan tabUgh, sebab yang demikian itu berangkat dari diri mereka sendiri

dan karenanya AUah menegakkan hujjah atas mereka. Yang demikian itu

berarti memperdengarkan teUnga, sedangkan yang ini memperdengarkan

hati. Perkataan mempunyai lafazh dan makna, yang berkaitan dengan

teUnga dan hati. Mendengarkan lafazh merupakan bagian telinga,

sedangkan mendengarkan hakikat makna dan tujuannya merupakan

bagian hati. Allah meniadakan pendengaran maksud dan tujuan yang

merupakan bagian hati dari orang-orang kafir, dan hanya menetapkan

pendengaran lafazh-lafazh yang merupakan bagian telinga.

 

Perbedaan antara tingkatan ini dengan tingkatan pemahaman, bahwa

tingkatan ini diperoleh lewat sarana telinga, sedangkan tingkatan

pemahaman sifatnya lebih umum. Jadi tingkatan ini lebih khusus daripada

tingkatan pemahaman, jika dilihat dari sisi ini. Tapi tingkatan pemahaman

juga bisa lebih khusus jika dilihat dari sisi yang lain lagi, yaitu karena ia

berkaitan dengan makna yang dimaksudkan, kaitan dan isyarat-nya. Inti

tingkatan mendengar ialah penyampaian maksud ke hati, yang berarti

haras ada penerimaan pendengaran. Berarti dalam tingkatan ini ada tiga

tingkatan lain: Telinga yang mendengar, hati yang mendengar dan

penerimaan atau pemenuhan.

 

Tingkatan Kesembilan:

 

Ilham. Allah befirman,

 

IaIjSjj lAjjaJ l^Ja^U cIaI^^ Laj /jAjj

 

"Demi jiwa dan penyempumaannya (ciptaannya). Maka Allah

mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. "

(Asy-Syams: 7-8).

 

 

 

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada Hushain bin Al-

Mundzir saat dia masuk Islam,

 

"Katakanlah, 'Ya Allah, ilhamkanlah kepadaku petunjukku dan

lindungilah aku dari kejahatan diriku. "

 

Pengarang Manazilus-Sa'irin (Abu Ismail) menganggap ilham ini sama

kedudukannya dengan bisikan di dalam hati. Jadi ilham lebih tinggi dari-

pada firasat. Sebab boleh jadi firasat itu jarang-jarang terjadi atau bersifat

insidental dan pelakunya tidak bisa menentukan kapan waktunya atau

bahkan ia bisa mengecohnya. Sementara kedudukan ilham sudah jelas.

Saya katakan, bisikan di dalam hati lebih khusus daripada ilham. Ilham

bersifat umum bagi orang-orang Mukmin, tergantung pada iman mereka.

Setiap orang Mukmin mendapat ilham petunjuk dari Allah, yang

menghasilkan keimanan kepada- Nya. Sedangkan bisikan dalam hati ha-nya

dikhususkan bagi orang-orang yang memang mendapatkannya, se-perti

Umar bin Al-Khaththab. Jadi bisikan hati ini merupakan ilham khusus, atau

bisa dikatakan wahyu yang diberikan kepada selain para nabi, baik mukaUaf

atau bukan mukaUaf. Wahyu yang diberikan kepada mukallaf seperti firman

Allah,

 

"Dan, Kami ilhamkan kepada ibu Musa, 'Susuilah dia'. " (Al-Qashash:7).

Wahyu yang diberikan kepada yang bukan mukallaf,

 

"Dan, Rabbmu mewahyukan kepada lebah, 'Buatlah sarang-sarang di

bukit-bukit, di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibikin

ma/2M^/fl'. "(An-Nahl: 68).

 

Jika ilham ini dianggap lebih tinggi daripada kedudukan firasat,

maka justru bisa melemahkan anggapan itu sendiri. Sebab seperti yang

sudah dikatakan di atas, firasat itu jarang-jarang terjadinya. Sementara

sesuatu yang jarang-jarang terjadi tidak mempunyai hukum. Jelasnya

tentang masalah ini, masing-masing dari firasat dan ilham dibagi menjadi

umum dan khusus. Yang khusus pada masing-masing lebih tinggi dari yang

umum pada selainnya. Tapi perbedaan yang jelas di antara kedua-nya,

firasat lebih berkaitan dengan satu jenis tindakan atau perbuatan.

 

 

 

sedangkan ilham murni pemberian, yang tidak bisa diperoleh dengan

tindakan atau usaha tertentu.

 

Tingkatan Kesepuluh:

 

Mimpi yang benar, yang merupakan satu bagian dari nubuwah, seperti

yang dikabarkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda,

 

"Mimpi yang benar itu merupakan satu bagian dari empat puluh enam

bagian dari nubuwah. "

 

Tapi dalam riwayat lain yang shahih disebutkan merupakan satu

bagian dari tujuh puluh bagian dari nubuwah. Yang pasti, mimpi meru-

pakan permulaan wahyu. Kebenarannya tergantung kepada orang yang

bermimpi, dan mimpi yang pahng benar ialah mimpinya orang yang per-

kataannya paling benar dan jujur. Jika kiamat sudah dekat, maka hampir

tidak ada mimpi yang meleset, karena jaraknya yang jauh dari masa nubu-

wah. Sementara pada masa nubuwah tidak membutuhkan mimpi-mimpi

yang benar ini, karena sudah ada kekuatan cahaya nubuwah.

 

Kebalikan dari mimpi yang benar ini adalah karamah yang muncul

setelah masa shahabat, namun tidak muncul pada masa dekatnya hari

kiamat. Hal ini disebabkan kuat dan lemahnya iman. Begitulah yang dite-

gaskan Al-Imam Ahmad.

 

Ubadah bin Ash-Shamit berkata, "Mimpi orang Mukmin merupa-

kan perkataan yang disampaikan AUah kepada hamba-Nya ketika dia ti-

dur."

 

Mimpi itu layaknya suatu pengungkapan, di antaranya ada yang

berasal dari Allah, ada yang berasal dari kejiwaan dan ada yang berasal

dari syetan, sebagaimana sabda RasuluUah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

 

Aj djJi^. U^ hjjj jUa^l t> jjjpu hjjj ill t> hjj :AjMj hjj\

 

"Mimpi itu ada tiga macam: Mimpi dari Allah, mimpi sedih dari syetan

dan mimpi yang terbawa bisikan seseorang ke dalam hatinya saat

terjaga, lalu dia memimpikannya saat tidur. "

 

Mimpi yang menjadi sebab hidayah adalah mimpi yang secara khu-

sus datangnya dari Allah. Sementara mimpi para nabi sama dengan wahyu,

karena mimpi mereka terUndung dari syetan. Begitulah kesepakatan umat.

 

 

 

Karena itu Al-Khalil Ibrahim hendak menyembelih putranya, sekalipun

itu bermula dari perintah dalam mimpi yang beliau alami. Sedangkan

mimpi selain para nabi, bisa dilaksanakan seperti halnya wahyu yang jelas,

jika memang tepat. Jika tidak, maka tidak perlu diamalkan. Lalu apa ko-

mentar kalian tentang mimpi yang benar? Jika mimpi itu mimpi yang

benar, maka ia tidak akan bertentangan dengan wahyu. Siapa yang ingin

agar mimpinya benar, maka hendaklah dia terus-menerus menjaga keju-

jurannya, memakan yang halal, menjaga perintah dan larangan, tidur

dalam keadaan suci, menghadap ke arah kiblat, menyebut asma Allah

hingga matanya terlelap. Jika dia berbuat seperti ini, hampir pasti mimpi-

nya bukan mimpi yang dusta.

 

Mimpi yang paling benar adalah mimpi pada waktu sahur, karena

itulah waktu turunnya wahyu, rahmat, ampunan dan saat syetan me-

nyingkir jauh. Sebaliknya, mimpi pada permulaan malam adalah mimpi

yang banyak ditebari syetan dan ruh-ruh syetan.

 

Kemujaraban Al-Fatihah Yang Mengandung Kesembuhan

bagi Hati dan Kesembuhan bagi Badan

 

Kandungan Al-Fatihah yang mampu menyembuhkan hati meru-

pakan kandungannya yang paling komplit. Sumber penyakit hati dan

deritanya ada dua macam: Ilmu yang rusak dan tujuan yang rusak. Dari

dua sumber ini muncul dua penyakit lain: Kesesatan dan kemarahan.

Kesesatan merupakan akibat dari ilmu yang rusak, sedangkan kemarahan

merupakan akibat dari tujuan yang rusak. Dua jenis penyakit ini merupakan

inti dari semua jenis penyakit hati. Hidayah ke jalan yang lurus men-jamin

kesembuhan dari penyakit kesesatan. Karena itu memohon hidayah ini

merupakan doa yang paling wajib bagi setiap hamba, yang juga diwa-

jibkan atas dirinya setiap malam dan siang, dalam setiap shalat dan saat

terdesak keperluan.

 

Sedangkan penegasan iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in secara ilmu dan

ma'rifat, amal dan kondisional, menjamin kesembuhan dari penya-kit hati

dan tujuan yang rusak. Sebab tujuan yang rusak ini berkaitan dengan

sasaran dan sarana. Siapa yang mencari tujuan yang pasti akan ter-putus

dan fana, menggunakan berbagai macam sarana untuk dapat me-raihnya,

maka hal itu justru akan menjadi beban baginya dan tujuannya jelas salah.

Inilah keadaan setiap orang yang tujuannya untuk mendapatkan hal-hal

selain Allah dari kalangan orang-orang musyrik, orang-orang yang hanya

ingin memuaskan nafsunya, para tiranyang menopang kekuasaannya dengan

segala cara, tak peduH benar maupun batil. Jika ada kebenaran yang

menghambat jalan kekuasaannya, maka mereka mendepaknya. Jika tidak

mampu mendepaknya, mereka akan menepis kebenaran itu, layaknya

pemelihara sapi yang menyingkirkan sampah di kandang. Jika mereka

tidak bisa melakukannya, mereka menghentikan langkah di jalan itu lalu

 

 

 

mencari jalan lain. Dengan cara apa pun mereka siap menolaknya. Jika ada

kebenaran yang mendukung kekuasaan, mereka mendukungnya, bukan

karena itu merapakan kebenaran, tapi karena kebenaran itu yang kebetulan

sejalan dengan tujuan dan nafsunya.

 

Karena tujuan dan sarana yang dipergunakan rusak, maka mereka

adalah orang-orang yang paling menyesal dan merugi, jika tujuan yang

mereka raih meleset. Merekalah orang-orang yang paling menyesal dan

merugi di dunia, yaitu jika kebenaran dikatakan benar dan kebatilan dika-

takan batil. Yang demikian ini seringkali terjadi di dunia. Penyesalan ini

akan semakin nyata tatkala mereka meninggal dunia dan menghadap

Allah serta berada di alam Barzakh.

 

Begitu pula orang yang mencari tujuan yang tinggi dan sasaran yang

mulia, namun tidak menggunakan sarana yang mendukungnya untuk

meraih tujuan itu, dia hanya mendugaduga sarana yang digunakannya itu

akan mendukungnya. Keadaan orang ini tak jauh berbeda dengan orang

yang pertama. Dia tidak akan mendapatkan kesembuhan dari penyakit ini

kecuali dengan obat iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in.

 

Obat ini mempunyai empat komposisi: Ibadah kepada Allah, perintah

dan larangan-Nya, memohon pertolongan dengan beribadah kepada-Nya,

tidak dengan hawa nafsu, tidak dengan pendapat manusia dan

pemikirannya, tidak dengan diri manusia dan kekuatannya. Inilah unsur-

unsur yang terkandung di dalam obat iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in. Jika

unsur-unsur ini diramu oleh seorang dokter yang berpengalaman, tentu

akan menjadi obat yang sangat mujarab.

 

Hati itu mudah terjangkiti dua macam penyakit yang kronis. Jika

seseorang tidak mengobatinya, tentu dia akan binasa, yaitu riya' dan taka-bur.

Obat riya adalah iyyaka na'budu, sedangkan obat takabur adalah iyyaka

nasta'in. Seringkali kami mendengar Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah

berkata, "Iyyaka na'budu menolak penyakit riya', dan iyyaka nasta'in

menolak penyakit takabur."

 

Jika seseorang diberi kesembuhan dari penyakit riya' dengan iyyaka

na'budu, diberi kesembuhan dari penyakit takabur dan ujub dengan iyyaka

nasta 'in, diberi kesembuhan dari penyakit kesesatan dan kebodohan dengan

ihdinash-shirathal-mustaqim, berarti dia telah diberi kesembuhan dari

segala macam penyakit. Namun di antara orang-orang yang menda-pat

kenikmatan juga ada yang mendapat murka. Mereka adalah orang-orang

yang tujuannya rusak, yang sebenarnya mengetahui kebenaran namun

menyimpanginya. Ada pula di antara mereka yang adh-dhallin (sesat),

yaitu mereka yang memiUki iknu yang rusak dan tidak mengetahui

kebenaran.

 

 

 

Tentang surat Al-Fatihah yang mengandung obat bagi penyakit

badan, maka akan kami jelaskan seperti yang telah dijelaskan As-Sunnah

dan dikuatkan ilmu medis serta berdasarkan pengalaman. Di dalam Ash-

Shahih disebutkan dari hadits Abul-Mutawakkil An-Najy, dari Abu Sa'id

Al-Khudry, bahwa ada beberapa orang dari shahabat Nabi Shallallahu

Alaihi wa Sallam yang melewati sebuah perkampungan Arab dalam per-

jalanannya. Para penduduk kampung itu tidak mau menerima mereka

sebagai tamu, apalagi menjamu. Pada saat yang sama pemimpin mereka

disengat hewan. Maka penduduk kampung mendatangi mereka dan ber-

tanya, "Adakah kalian mempunyai mantera atau adakah di antara kalian

yang bisa menyembuhkan dengan mantera?"

 

"Ya, ada. Tapi karena kalian tidak mau menjamu kami, maka kami

tidak mau mengobati kecuali jika kalian memberikan imbalan kepada

kami."

 

Maka penduduk kampung itu sepakat untuk memberikan beberapa

ekor kambing. Maka setiap orang di antara para shahabat itu memba-cakan

Al-Fatihah. Seketika itu pula pemimpin kampung itu bangkit, se-akan-

akan sebelumnya dia tidak pernah sakit. Kami berkata, "Janganlah kalian

terburu-buru menerima imbalan ini sebelum kita menemui Nabi

Shallallahu Alaihi wa Sallam. "

 

Setelah bertemu beliau, mereka menceritakan kejadian ini. Beliau

bersabda, "Apa pendapat kalian kalau memang Al-Fatihah itu benar-benar

merupakan ruqyah? Terimalah imbalan itu dan sisihkan bagianku."

 

Hadits ini menjelaskan keampuhan Al-Fatihah yang bisa menyem-

buhkan sengatan hewan, sehingga ia berfungsi sebagaimana obat, atau

bahkan lebih mujarab daripada obat itu sendiri. Padahal orang yang di-

sembuhkan itu tidak terlalu tepat untuk disembuhkan dengan cara terse-

but, entah karena penduduk kampung itu bukan orang Muslim atau karena

mereka orang-orang yang kikir. Lalu bagaimana jika yang disembuhkan

tidak seperti mereka?

 

Sedangkan dari teori medis, dapat dibuktikan sebagai berikut, bahwa

sengatan itu berasal dari hewan yang mempunyai racun, yang berarti

mempunyai jiwa yang kotor dan terbentuk karena amarah, lalu menyalur-

kan unsur racun yang panas lewat sengatan itu. Jika jiwa yang kotor ini

terbentuk bersamaan dengan terbentuknya kemarahan, maka ia akan

merasa senang jika dapat menyalurkan racun ke tempat yang layak mene-

rimanya, sebagaimana orang jahat yang merasa senang jika dapat me-

nyalurkan kejahatannya terhadap orang yang layak menerimanya. Bah-

kan dia merasa tersiksa jika tidak bisa menyalurkan kejahatannya itu

kepada seseorang.

 

 

 

Prinsip penyembuhan ialah dengan menggunakan kebalikannya dan

menjaga dengan sesuatu yang serapa. Kesehatan dijaga dengan sesuatu

yang serupa dan penyakit disembuhkan dengan kebalikannya. Ini

merapakan hukum sebab-akibat yang sudah diatur sedemikian rapa oleh

Allah Yang Maha Bijaksana. Namun hal ini tidak akan berhasil kecuaU de-

ngan kekuatan jiwa pelakunya dan reaksi penerimanya. Jika jiwa orang

yang disengat tidak layak menerima ruqyah itu dan jiwa yang membaca-kan

ruqyah tidak mampu memberikan pengarah apa-apa, maka kesem-buhan

tidak akan berhasil.

 

Jadi di sini ada tiga unsur: Kesesuaian obat dengan penyakit, ke-

sungguhan orang yang mengobati dan orang yang diobati bisa meneri-

manya. Jika tidak ada kelaikan pada salah satu unsur ini, maka kesem-

buhan tidak akan terjadi.

 

Siapa yang bisa memahami hal ini, tentu dia bisa memahami rahasia

ruqyah tersebut, bisa membedakan antara yang bermanfaat dan yang tidak

bermanfaat dan bisa mencocokkan obat dengan penyakit yang hendak

diobati, seperti penggunaan pedang untuk memotong barang yang

memang bisa dipotong dengan pedang itu.

 

Sedangkan dari kesaksian pengalaman, maka cukup banyak orang

yang mengalaminya. Saya sendiri pernah mempunyai pengalaman dalam

penggunaan Al-Fatihah sebagai ruqyah ini dengan hasil yang benar-benar

menakjubkan, terutama pada saat-saat saya menetap di Makkah. Suatu saat

saya sakit yang benar-benar amat menyiksa, hingga hampir-hampir saya

tidak bisa menggerakkan badan karenanya. Padahal saat itu saya harus

mengerjakan thawaf dan lain-lainnya. Maka saya segera membaca Al-

Fatihah, lalu mengusapkan telapak tangan ke bagian-bagian tubuh yang sakit.

Seakan-akan dari bagian yang sakit itu ada kerikil yang jatuh. Pengalaman

seperti ini tidak terjadi hanya sekali saja, tapi beberapa kali. Pernah juga

saya mengambil air Zamzam lalu membacakan Al-Fatihah pada air itu dan

saya meminumnya. Hasilnya, saya merasa mendapat kekuatan baru yang

tidak pernah kurasakan yang seperti itu. Tentu saja semua ini harus didasari

kekuatan iman dan keyakinan yang benar.

 

Al-Fatihah Mencakup Bantahan terhadap Semua Golongan Yang

Batil, Bid'ah dan Sesat

 

Hal ini dapat dilakukan dengan dua cara: Global dan terinci. Secara

global dapat diketahui bahwa ash-shirathul-mustaqim mencakup penge-

tahuan tentang kebenaran, memprioritaskan kebenaran daripada yang lain,

mencintai, menyeru dan memerangi musuh-musuh kebenaran me-nurut

kesanggupan. Kebenaran di sini adalah apa yang dibawa RasuluUah

Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para shahabat, seperti ilmu dan amal

tentang sifat Allah, asma', perintah, larangan, janji, ancaman dan haki-kat-

 

 

 

hakikat iman, yang semuanya merapakan etape orang-orang yang berjalan

kepada Allah. Semua masalah ini diserahkan kepada beliau dan bukan

kepada pendapat dan pemikiran manusia. Jadi tidak dapat diragu-kan

bahwa ilmu dan amal yang ada pada diri RasuluUah Shallallahu Alaihi wa

Sallam dan para shahabat adalah pengetahuan tentang kebenaran, yang

haras diprioritaskan daripada yang lain. Inilah yang disebut ash-shirathul-

mustaqim. Dengan cara yang global ini dapat diketahui bahwa siapa pun

yang bertentangan dengan jalan ini adalah batil, atau merapa-kan satu

jalan dari dua jenis golongan: Golongan yang mendapat murka dan

golongan yang sesat.

 

Adapun dengan cara yang rinci, maka kita perlu mengetahui satu

persatu setiap madzhab yang batil. Namun yang pasti, setiap kalimat Al-

Fatihah mencakup penjelasan tentang kebatilannya.

 

Manusia secara umum dapat dibagi menjadi dua macam: Golongan

yang mengakui kebenaran dan golongan yang mengingkari kebenaran.

Sementara Al-Fatihah mencakup penetapan adanya Khaliq dan penolak-an

orang yang mengingkari keberadaan-Nya, yaitu dengan penetapan

Rububiyah-Nya atas semesta alam. Perhatikanlah semua benda alam, baik

alam atas maupun alam bawah, tentu engkau akan melihat bukti ke-

beradaan Sang Pencipta. Keberadaan Allah ini lebih nyata bagi akal dan

fitrah daripada keberadaan sungai yang mengalir. Siapa yang tidak mem-

punyai pandangan seperti ini dalam akal dan fitrahnya, berarti harus

dipertanyakan, adakah sesuatu yang tidak beres pada akalnya?

 

Seiring dengan kebatilan orang-orang yang mengingkari keberadaan

Allah, batil pula pendapat orang-orang yang mengatakan tentang

wahdatul-wujud (kesatuan wujud), bahwa wujud alam ini juga merupa-kan

wujud Allah dan Allah merapakan hakikat wujud alam ini. Jadi menu-rut

mereka tidak ada lagi istilah Rabb dan hamba, penguasa dan yang

dikuasai, pengasih dan yang dikasihi, pemberi pertolongan dan yang me-

minta pertolongan, pemberi petunjuk dan yang diberi petunjuk, pemberi

nikmat dan yang diberi nikmat, sebab Allah adalah hamba itu sendiri,

yang disembah adalah yang menyembah itu sendiri. Perbedaan wujud

hanya sekedar masalah relatifitas yang bergantung kepada fenomena dzat

dan penampakannya, sehingga terkadang bisa berwujud seorang hamba

biasa, terkadang berwujud Fir'aun, pemberi petunjuk, nabi, rasul, ulama

dan lain sebagainya. Sekalipun berbeda-beda, semua berasal dari satu inti,

bahkan Allah adalah inti itu sendiri.

 

Surat Al-Fatihah, semenjak pertama hingga akhirnya menjelaskan

kebatilan dan kesesatan golongan ini.

 

Orang-orang yang menetapkan adanya Khaliq ada dua macam:

 

 

 

1. Golongan yang mengesakan Khaliq atau ahli tauhid.

 

2. Golongan yang menyekutukan Khaliq atau ahli syirik.

 

Ahli syirik ada dua macam:

 

1. Orang-orang yang menyekutukan Rububiyah dan Uluhiyah-Nya, se-

perti orang-orang Majusi dan yang serupa dengan mereka dari golongan

Qadariyah. Mereka menetapkan adanya pencipta Allah yang menyertai

Allah, sekalipun mereka tidak mengatakan adanya kesetaraan di antara

keduanya. Golongan Qadariyah Majusi menetapkan adanya para

pencipta perbuatan di samping Allah. Perbuatan ini di luar ke-hendak

Allah dan Allah tidak mempunyai kekuasaan terhadapnya, tapi para

pencipta selain-Nya itulah yang menjadikan diri mereka bisa berbuat

dan berkehendak. Di dalam lyyaka na'budu terkandung sanggahan

terhadap pendapat mereka. Sebab pertolongan yang mereka mohonkan

kepada-Nya berarti mengharapkan sesuatu yang ada di Ta-ngan Allah

dan ada dalam kekuasaan serta kehendak-Nya. Lalu bagaimana mungkin

orang yang katanya mampu berbuat, tapi dia masih meminta

pertolongan?

 

2. Orang-orang yang menyekutukan Uluhiyah-Nya. Mereka mengatakan

bahwa hanya AUah penguasa dan pencipta segala sesuatu, bahwa Allah

adalah Rabb mereka dan bapak-bapak mereka semenjak dahulu. Tetapi

sekalipun begitu mereka masih menyembah selain-Nya, mencintai dan

mengagungkannya. Mereka menciptakan tandingan bagi Allah. Mereka

tidak menetapi hak iyyaka na'budu. Sekalipun memang mereka na'buduka

(kami menyembah- Mu), tapi mereka tidak murni dalam iyyaka na'budu,

yang mengandung pengertian: Kami tidak menyembah kecuali Engkau

semata, dengan penuh kecintaan, harapan, ketakutan, ketaatan dan

pengagungan. lyyaka na'budu merupakan penge-jawantahan dari tauhid

dan peniadaan syirik dalam Uluhiyah, seba-gaimana iyyaka nasta'in

merupakan pengejawantahan dalam tauhid Rububiyah dan peniadaan

syirik dalam Rububiyah.

 

Surat Al-Fatihah juga mengandung sanggahan terhadap pendapat

berbagai golongan yang menyimpang dan sesat, seperti:

 

1. Al-Jahmiyah yang meniadakan sifat-sifat Allah.

 

2. Al-Jabariyah yang meniadakan pilihan dan kehendak bagi manusia,

yang segala sesuatu pada diri manusia berdasarkan kehendak Allah.

 

3. Golongan yang menetapkan perbuatan Allah pada hal-hal yang pasti dan

Dia tidak mempunyai pilihan serta kehendak.

 

4. Golongan orang-orang yang mengingkari keterkaitan iknu-Nya dengan

hal-hal parsial.

 

5. Golongan orang-orang yang mengingkari nubuwah.

 

6. Golongan yang mengatakan tentang keberadaan alam semenjak dahulu

 

 

 

kala.

7. Ar-Rafidhah yang menganggap hanya keturunan Rasulullah yang benar,

sedangkan selain mereka tidak benar dan tidak akan masuk surga,

sekalipun itu semacam shahabat Abu Bakar.

 

Cakupan lyyaka Na'budu wa lyyaka Nasta'in terhadap

Makna-makna Al-Qur'an, Ibadah dan Isti'anah

 

Rahasia penciptaan, perintah, kitab-kitab, syariat, pahala dan siksa

terpusat pada dua penggal kalimat ini, yang sekaligus merupakan inti

ubudiyah dan tauhid. Sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa Allah

menurunkan seratus empat kitab, yang makna-maknanya terhimpun da-

lam Taurat, Injil dan Al-Qur'an. Makna-makna tiga kitab ini terhimpun di

dalam Al-Qur'an. Makna-makna Al-Qur'an terhimpun dalam surat-surat

yang pendek. Makna-makna dalam surat-surat yang pendek terhimpun

dalam surat Al-Fatihah. Makna-makna Al-Fatihah terhimpun di dalam

iyyaka na'budu wa iyya-ka nasta'in. Dua kalimat ini dibagi antara miUk

Allah dan milik hamba-Nya. Separoh bagi Allah, yaitu iyyaka na'budu,

dan separoh lagi bagi hamba-Nya, yaitu iyyaka nasta'in.

 

Ibadah mengandung dua dasar: Cinta dan penyembahan. Menyem-

bah di sini artinya, merendahkan diri dan tunduk. Siapa yang mengaku

cinta namun tidak tunduk, berarti bukan orang yang menyembah. Siapa

yang tunduk namun tidak cinta, juga bukan orang yang menyembah. Dia

disebut orang yang menyembah jika cinta dan tunduk. Karena itu orang-

orang yang mengingkari cinta hamba terhadap Allah adalah orang-orang

yang mengingkari hakikat ubudiyah dan sekaligus mengingkari

keberadaan AUah sebagai Dzat yang mereka cinta, yang berarti mereka

juga mengingkari keberadaan Allah sebagai Ilah (sesembahan), sekalipun

mereka mengakui Allah sebagai penguasa semesta alam dan pencipta-nya.

Inilah tauhid mereka yang terbatas pada tauhid Rububiyah, seperti

pengakuan bangsa Arab, tapi mereka tidak keluar dari syirik, sebagaimana

firman Allah,

 

"Dan, sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, 'Siapakah yang

menciptakan langit dan bumi?' niscaya mereka menjawab, 'Allah'."

(Az-Zumar; 38).

 

Isti'anah (memohon pertolongan) menghimpun dua dasar: Keper-

cayaan terhadap Allah dan penyandaran kepada-Nya. Adakalanya seorang

hamba menaruh kepercayaan terhadap seseorang, tapi dia tidak menyan-

darkan semua urusan kepadanya, karena dia merasa tidak membutuhkan

dirinya. Atau adakalanya seseorang menyandarkan berbagai urusan kepada

seseorang, padahal sebenarnya dia tidak percaya kepadanya, karena dia

 

 

 

merasa membutuhkannya dan tidak ada orang lain yang memenuhi

kebutuhannya. Karena itu dia bersandar kepadanya.

 

Tawakal merapakan makna yang juga cocok dengan dua dasar ini,

kepercayaan dan penyandaran, yang sekaligus merapakan hakikat iyyaka

na'budu wa iyyaka nasta'in. Dua dasar ini, tawakal dan ibadah disebut-kan

di beberapa tempat dalam Al-Qur'an, yang keduanya disebutkan secara

beraratan, di antaranya,

 

AjIc, ^jJj oAJC-li aS jlaV ^^. ^\j O^'ji'^J i^ljl-*JJ^I 4-4^ >^J

 

"Dan, kepunyaan Allahlah apa yang gaib di langit dan di bumi dan ke-

pada-Nyalah dikembalikan semua urusan, maka sembahlah Dia dan

bertawakallah kepada-Nya. " {Hud: 123).

 

"Ibadah" didahulukan daripada "Isti'anah" di dalam Al-Fatihah me-

rapakan gambaran didahulukannya tujuan daripada sarana. Hal ini bisa

dilihat dari beberapa sebab:

 

1. "Ibadah" merapakan tujuan penciptaan hamba, sedangkan "Isti'anah"

merapakan sarana untuk dapat melaksanakan "Ibadah" itu.

 

2. Iyyaka na'budu berkaitan dengan Uluhiyah-Nya dan asma "Allah".

Sedangkan iyyaka nasta'in berkaitan dengan Rububiyah-Nya dan asma

"Ar-Rabb". Karena itu iyyaka na'budu didahulukan daripada iyyaka nas-

ta'in, sebagaimana asma Allah yang didahulukan daripada asma Ar-

Rabb di awal Al-Fatihah.

 

3. Iyyaka na'budu merapakan bagian AUah dan juga merapakan pujian

terhadap Allah, karena memang Dia layak menerimanya, sedangkan

iyyaka nasta'in merapakan bagian hamba, begitu pula ihdinash-shirath-al-

mustaqim hingga akhir surat.

 

4. "Ibadah" secara total mencakup "Isti'anah" dan tidak bisa dibalik. Se-tiap

orang yang beribadah kepada Allah dengan ibadah yang sempurna

adalah orang yang memohon pertolongan kepada-Nya, dan tidak bisa

dibalik. Sebab orang yang dikuasai berbagai macam tujuan pribadi dan

syahwatnya, juga bisa memohon pertolongan kepada-Nya, hanya karena

ingin memuaskan nafsunya. Karena itu ibadah harus lebih sempurna.

Berarti "Isti'anah" merapakan bagian dari "Ibadah" dan tidak bisa

dibalik, sebab "Isti'anah" merapakan permohonan dari-Nya, sedang

"Ibadah" merapakan permohonan bagi-Nya.

 

5. "Ibadah" hanya dilakukan orang yang ikhlas, sedangkan "Isti'anah" hisa

dilakukan orang yang ikhlas dan yang tidak ikhlas.

 

6. "Ibadah" merapakan hak Allah yang diwajibkan kepada hamba, se-

dangkan "Isti'anah" merapakan permohonan pertolongan untuk dapat

melaksanakan "Ibadah".

 

7. "Ibadah" merapakan gambaran syukur terhadap nikmat yang dilim-

 

 

 

pahkan kepadamu, dan Allah suka untuk disyukuri. Pemberian perto-

longan merupakan taufik Allah yang diberikan kepadamu. Jika engkau

komitmen dalam beribadah kepada-Nya dan ibadahmu lebih sempurna,

maka pertolongan Allah yang diberikan kepadamu juga lebih besar.

8. lyyaka na'budu merapakan hak Allah dan iyyaka nasta'in merupakan

kewajiban Allah. Hak-Nya haras didahulukan daripada kewajiban-Nya.

Sebab hak Allah berkaitan dengan cinta dan ridha-Nya, sedangkan

kewajiban-Nya berkaitan dengan kehendak-Nya. Apa yang bergantung

kepada cinta-Nya haras lebih sempurna daripada apa yang bergantung

kepada kehendak-Nya. Semua yang ada di alam, para malaikat maupun

syetan, orang-orang Mukmin maupun orang-orang kafir, orang yang

taat maupun orang yang durhaka, semuanya bergantung kepada

kehendak-Nya. Apa yang bergantung kepada cinta-Nya adalah ketaatan

dan iman mereka. Orang-orang kafir ada dalam kehendak-Nya dan

orang-orang Mukmin ada dalam cinta-Nya.

 

Dari beberapa rahasia ini dapat diketahui secara jelas hikmah dida-

hulukannya iyyaka na'budu daripada iyyaka nasta'in.

 

Pembagian Manusia Berdasarkan Kandungan lyyaka

Na'budu wa lyyaka Nasta'in

 

Jika engkau sudah mengetahui secara jelas masalah ini, maka ber-

dasarkan dua dasar (Ibadah dan isti'anah) manusia bisa dibagi menjadi

empat golongan:

 

1. Ahli ibadah dan isti'anah kepada Allah. Mereka merapakan golongan

yang paling mulia dan paling tinggi. Ibadah kepada Allah merupakan

tujuan mereka, dan mereka pun memohon agar Allah menolong dan

memberikan taufik, sehingga mereka dapat melaksanakan ibadah itu.

Karena itu permohonan paling utama yang disampaikan kepada Allah

ialah pertolongan menurut keridhaan-Nya, seperti yang diajarkan Nabi

Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada orang yang beliau cintai, Mu'adz

bin Jabal Radhiyallahu Anhu. Beliau bersabda, "Wahai Mu'adz, demi

Allah, aku benar-benar mencintaimu. Maka janganlah engkau lalai

untuk mengucapkan seusai setiap shalat, 'Ya Allah, tolonglah aku untuk

menyebut nama-Mu, bersyukur dan beribadah secara baik kepada-

Mu'."

 

2. Orang-orang yang tidak mau beribadah dan tidak mau memohon per-

tolongan kepada-Nya. Mereka tidak mengenal ibadah dan isti'anah. Ini

kebalikan dari golongan yang pertama. Bahkan jika salah seorang di

antara mereka memohon kepada-Nya, maka hal itu dimaksudkan untuk

memuaskan nafsunya, bukan berdasarkan keridhaan dan hak-Nya.

Semua yang ada di langit dan di bumi memohon kepada-Nya. Bahkan

makhluk yang paling dibenci Allah dan musuh-Nya, Iblis, ma-sih sempat

memohon kepada Allah dan Allah pun memenuhinya. Tapi karena apa

 

 

 

yang dimohon itu bukan untuk mendapatkan keridhaan-Nya, maka ia

semakin menambah penderitaan, kesengsaraan dan dia semakin jauh

dari Allah. Begitulah keadaan setiap orang yang memohon pertolongan

kepada Allah, namun tidak dimaksudkan untuk menambah ketaatan

kepada-Nya, sehingga dia menjadi budak dari apa yang dimintanya.

 

Hendaklah diketahui, bahwa kalaupun Allah memenuhi permintaan

orang yang meminta kepada-Nya, bukan karena ada kemuhaan pada

diri orang yang meminta itu. Hamba meminta kepada-Nya dan Allah

memenuhinya, padahal permintaannya itu boleh jadi menjadi sumber

kehancuran dan penderitaannya, sehingga pemenuhan Allah ini justru

menjadi kehinaan baginya. Sebaliknya, tidak adanya pemenuhan Allah

atas permintaan hamba justru merupakan kemuliaan dan gambaran

cinta Allah kepadanya, perlindungan dan penjagaan Allah baginya dan

bukan merupakan gambaran kekikiran Allah. Tapi orang yang bodoh

akan mengira bahwa Allah tidak mencintai dan tidak pula

memuliakannya, sehingga dia berburuk sangka terhadap AUah. Pem-

berian dan pencegahan Allah merupakan ujian. Firman-Nya,

 

La I J ;;j-ajSl ^__^J Jj^ A^ajUj A^ajSU Ajj o!iljjl iJa 1 3] ^IjoiJ^I LU

"^ cjjjIa! ^Jij cij^ ''^jj ^^ J-^ ^^' ^ '^i

 

"Adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya lalu dimuliakan-Nya

dan diberikan-Nya kesenangan, maka dia berkata, 'Rabbku telah memu-

liakanku'. Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezkinya,

maka dia berkata, Rabbku menghinakanku'. Sekali-kali tidak

(demikian)." (Al-F&ir: 15-16).

 

Allah menyanggah dugaan orang, bahwa keluasan rezkiyang diUmpah-

kan-Nya merupakan kemuliaan dari-Nya, sedangkan kemiskinan

merupakan kehinaan dari-Nya, dengan befirman, "Aku tidak menguji

hamba-Ku dengan kekayaan karena dia mulia di Mata-Ku. Aku tidak

mengujinya dengan kemiskinan karena dia hina di Mata-Ku." Dia mem-

beritahukan bahwa kemuliaan dan kehinaan tidak berkisar pada ke-

luasan harta dan pembatasannya. Toh Allah menghamparkan harta

seluas-luasnya kepada orang kafir, bukan karena dia mulia, dan mem-

batasi harta pada orang Mukmin, bukan karena dia hina. Segala puji

bagi AUah atas semua ini, dan Dia Mahakaya lagi Maha Terpuji. Jadi

kebahagiaan dunia dan akhirat tetap kembali kepada iyyaka na'budu

wa iyyaka nasta 'in.

 

3. Golongan orang yang memiliki sebagian ibadah tanpa menghendaki

isti'anah. Mereka ada dua kelompok: Pertama, golongan Qadariyah

yang berpendapat bahwa Allah telah melakukan apa yang ditetapkan-

Nya pada hamba dan Dia tidak perlu lagi memberikan pertolongan

kepada hamba, karena Allah telah menolongnya dengan mencipta-kan

 

 

 

alat baginya, memperkenalkan jalan dan mengutus para rasul. Sehingga

setelah adanya pertolongan ini, hamba tidak perlu lagi memo-hon kepada-

Nya. Kedua, golongan yang beribadah namun tidak total dalam tawakal

dan memohon pertolongan kepada-Nya. Pandangan mereka tidak

mengaitkan orang yang bergerak kepada siapa yang meng-gerakkan, tidak

mengaitkan sebab kepada pembuat sebab, tidak mengaitkan alat kepada

pelaku.

4. Golongan yang mempersaksikan bahwa hanya AUahlah satu-satunya

yang memberikan manfaat dan mudharat. Apa pun yang dikehendaki-

Nya pasti akan terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan

terjadi, namun mereka tidak berbuat apa yang dicintai dan diridhai-

Nya.

 

Seorang hamba tidak bisa mewujudkan iyyaka na'budu kecuali de-

ngan dua dasar: Mengikuti RasuluUah dan ikhlas terhadap AUah yang di-

sembah. Ditilik dari dua dasar ini, maka manusia bisa dibagi menjadi

empat golongan:

 

1. Orang-orang yang ikhlas karena Allah dan mengikuti Nabi Shallallahu

Alaihi wa Sallam. Merekalah yang benar-benar menghayati iyyaka

na'budu. Semua perkataan dan perbuatan mereka karena Allah, mem-

beri karena Allah, menahan karena Allah, mencintai karena Allah,

membenci karena Allah. Mu'amalah mereka secara lahir dan batin karena

mengharap Wajah Allah semata, tidak dimaksudkan untuk mencari

imbalan, pujian, pengaruh, kedudukan dan simpati di hati manusia atau

pun menghindari celaan manusia. Bahkan mereka mengang-gap semua

manusia tak ubahnya mayat yang sudah mati, tidak bisa memberi

manfaat dan mudharat. Perbuatan yang dimaksudkan untuk

mendapatkan kedudukan, mengatur manfaat dan mudharat, sama sekali

tidak mereka kenal.

 

Maka Al-Fadhl bin lyadh pernah berkata, "Amal yang baik ialah yang

paling ikhlas dan paling benar." Orang-orang bertanya, "Wahai Abu Ah,

apa yang dimaksudkan paling ikhlas dan paling benar itu?"

 

Dia menjawab, "Jika amal itu ikhlas namun tidak benar, maka ia tidak

diterima. Jika amal itu benar namun tidak ikhlas, maka ia tidak diteri-ma

pula, hingga ia ikhlas dan benar. Ikhlas artinya karena Allah. Benar

artinya berdasarkan As-Sunnah. Inilah yang dimaksudkan dalam firman

Allah,

 

 

 

"Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah

ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan

seorangpun dalam beribadah kepada Rabbnya. " (Al-Kahfi: 1 10).

 

2. Orang yang tidak ikhlas dan tidak mengikuti As-Sunnah. Amalnya tidak

sejalan dengan syariat dan tidak pula ikhlas terhadap Allah yang di-

sembah, seperti perbuatan orang-orang yang ingin pamer di hadapan

manusia. Mereka adalah orang-orang yang paling buruk dan paling

dibenci Allah. Mereka inilah yang digambarkan dalam firman Allah,

 

"Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gem-

bira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya

dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan, janganlah

kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka

siksa yang pedih. " (Ali Imran: 188).

 

3. Ikhlas dalam amalnya namun tidak mengikuti perintah dan As-Sunnah,

seperti yang dilakukan para ahli ibadah yang bodoh, mereka yang

cenderung kepada zuhud dan hidup miskin, orang-orang yang ber-

ibadah kepada AUah dengan cara yang tidak sesuai dengan perintah-

Nya.

 

4. Amalnya sesuai dengan perintah dan As-Sunnah, tetapi untuk tujuan

selain AUah, seperti orang yang berjihad karena riya' dan memamer-kan

patriotismenya, menunaikan haji agar dia dipuji atau membaca Al-

Qur'an agar disanjung. Amal mereka secara zhahir sesuai dengan

perintah, tetapi tidak shalih.

 

Orang-orang yang mengamalkan iyyaka na'budu secara konsisten

memiliki sisi pandang yang berbeda tentang ibadah yang pahng utama,

paling bermanfaat, paling layak untuk diprioritaskan. Dalam hal ini me-

reka ada empat pendapat:

 

1. Orang-orang yang menganggap ibadah yang paling baik dan utama

adalah yang paling sulit dan berat, karena ibadah semacam ini adalah

yang paling jauh dari hawa nafsu. Sementara menurut mereka, pahala

juga diukur dari kadar kesuUtan ibadah. Mereka berpendapat kepada

hadits yang sama sekali tidak ada dasarnya, "Amal yang paling utama

adalah yang paling sulit atau berat."

 

Mereka adalah orang-orang yang memang raj in beribadah, namun

bertindak semena-mena terhadap diri sendiri. Orang-orang yang

menganggap ibadah paling utama adalah zuhud di dunia, meminimkan

andil dalam keduniaan dan tidak peduli terhadap kehidupan dunia.

 

 

 

2. Orang-orang yang menganggap ibadah paling utama adalah yang man-

faatnya merambah secara luas. Menurut mereka, menyantuni orang-

orang miskin, memenuhi kebutuhan orang banyak, membantu mereka

dengan tenaga dan harta adalah ibadah yang paling utama. Mereka

beralasan bahwa amal ahli ibadah hanya bagi dirinya sendiri, sedangkan

amal orang yang bisa memberi manfaat kepada orang lain bisa

dirasakan orang banyak, karena itu kelebihan orang yang berilmu atas ahli

ibadah seperti kelebihan rembulan atas seluruh bintang-gemin-tang.

Mereka juga berhuj jah dengan hadits-hadits tentang pahala yang

diberikan kepada pelaku kebaikan dan dia juga mendapatkan pahala

orang-orang yang mengikuti kebaikan yang dilakukannya itu.

 

3. Orang-orang yang menganggap ibadah paling utama adalah amal yang

dilakukan untuk mendapatkan ridha Allah, sesuai dengan timingnya dan

tugas yang memang harus dilaksanakannya. Ibadah yang paling utama

pada waktu jihad adalah berjihad, sekaUpun harus meninggal-kan shalat

malam dan puasa, bahkan sekalipun dia harus meninggal-kan shalat

fardhu karena kondisi perang. Ibadah yang paling utama sewaktu ada

tamu yang datang ialah memenuhi hak-hak tamu. Ibadah yang paling

utama pada waktu sahur adalah mengerjakan shalat, mem-baca Al-Qur'an,

berdoa dan berdzikir. Begitu pula setiap ibadah yang disesuaikan dengan

situasi dan kondisinya, maka itulah ibadah yang paling utama.

 

4. Golongan yang keempat ini adalah ahU ibadah yang tak mengenal

batasan, sedangkan tiga golongan lain sebelumnya adalah ahli ibadah

yang terbatas. Jika salah seorang di antara tiga golongan ini keluar dari

jenis ibadah yang menjadi andalannya, maka dia menganggap ada yang

kurang dalam ibadahnya itu atau dia telah meninggalkan ibadahnya sama

sekaU, karena dia beribadah kepada Allah dengan satu pola. Sementara

orang yang ibadahnya tidak mengenal batasan, tidak mementingkan satu

ibadah daripada yang lain. Tujuan yang diraihnya adalah keridhaan AUah,

di mana dan kapan pun dia berada. Dia selalu berpindah-pindah di ber-

bagai tempat ibadah. Jika engkau melihat para ulama, maka dia tampak

bersama mereka. Jika engkau melihat para ahli ibadah, dia tampak bersa-

ma mereka. Jika engkau melihat para mujahidin, dia tampak terlihat bersa-

ma mereka. Jika engkau melihat orang-orang yang mengeluarkan sha-

daqah, dia tampak bersama mereka. Inilah hamba yang tidak terikat dan

tidak memiliki gambar tertentu. Dialah orang yang mewujudkan makna

iyyaka na 'budu wa iyyaka nasta 'in secara konsekuen.

 

Bangunan Iyyaka Na'budu dan Keharusan Ibadah Hingga

Akhir Hayat

 

Iyyaka na'budu didasarkan kepada empat kaidah, yaitu mewujudkan

apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, berupa perkataan hati dan lisan,

amal hati dan anggota badan. Ubudiyah merupakan nama yang meliputi

empat tingkatan ini.

 

 

 

Perkataan hati merapakan keyakinan terhadap apa yang dikabarkan

Allah, tentang Diri-Nya, sifat, asma' dan perbuatan-Nya, para malaikat,

perjumpaan dengan-Nya, yang disampaikan para rasul-Nya. Perkataan

lisan adalah pengabaran tentang keyakinan ini. Amal hati ialah seperti

cinta kepada Allah, tawakal, tunduk, takut dan berharap kepada-Nya serta

hal-hal lain yang merupakan gerak hati. Sedangkan amal anggota tubuh

seperti shalat, jihad, melangkah ke masjid untuk shalat Jum'at dan

jama'ah, membantu orang miskin, berbuat baik kepada sesama manusia

dan lain sebagainya.

 

Sementara itu, keharusan melaksanakan iyyaka na'budu berlaku

hingga akhir hayat. Allah befirman,

 

^jjllll '^^"V. C5^ '^J -^'j

 

"Dan, sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini

(ajal)." (Al-Hijr. 99).

 

Di dalam Ash-Shahih juga disebutkan tentang kisah kematian Uts-man

bin Mazh'un, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Telah datang

kepada Utsman ajal dari Rabb-nya. "

 

Hamba tidak terbebas dari ibadah selagi dia berada di dunia. Bah-

kan di alam Barzakh pun dia tetap memiliki bentuk ibadah tersendiri tat-

kala dua malaikat bertanya kepadanya, "Siapakah yang disembah dan

apakah yang dia katakan tentang RasuluUah?" Maka kedua malaikat

menunggu jawaban yang akan keluar dari hamba itu. Bahkan pada hari

kiamat pun masih ada ibadah yang dilakukan, yaitu saat Allah menyeru

semua makhluk untuk sujud. Maka orang-orang Mukmin sujud, sedangkan

orang-orang kafir dan munafik tidak bisa sujud. Jika sudah masuk surga

atau neraka, maka tidak ada lagi kewajiban, selain dari tasbih yang

dilakukan para penghuni surga.

 

Siapa yang berpendapat bahwa dia sudah mencapai suaru tingkatan

yang membuatnya terbebas dari ibadah adalah orang zindiq yang kafir

kepada Allah dan Rasul-Nya.' Padahal orang yang mencapai sekian ba-nyak

 

 

 

' Mereka adalah orang-orang sufi, yang menganggap sesembahannya adalah hakikat

alam yang pertama dan inti yang menjadi sumber kejadian segala sesuatu. Para rasul

menurut pendapat mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui hakikat ini. Karena

itu para rasul tetap bcribadah kepada Allah dan mengajak manusia untuk beribadah,

mengikuti syariat dan hukum-hukum-Nya. Sedangkan orang sufi yang sudah mencapai

tingkatan ma'rifat adalah yang mengetahui hakikat ini dan juga mengetahui bahwa hamba

adalah sesembahan, karena di dalam dirinya ada inti kejadian. Mereka menafsiri "Yang

diyakini" (dalam surat Al-Hijr: 99) seperti anggapan mereka ini. Dengan pengertian,

sembahlah AUah hingga engkau mencapai hakikat ini. Jika engkau sudah mencapai

tingkatan ma'rifat, maka tiada lagi kewajiban atas dirimu, tidak ada batasan wajib dan

haram. Di antara propagandis pendapat ini adalah Ibnu Araby.

 

 

 

tingkatan ibadah, justru ibadahnya semakin besar dan kewajibannya lebih

banyak daripada yang lain, seperti kewajiban para rasul yang lebih banyak

dan lebih berat.

 

Tingkatan-tingkatan lyyaka Na'budu dan Penopang

Ubudiyah

 

Ditilik dari ilmu dan amal, ubudiyah itu mempunyai beberapa ting-

katan. Ubudiyah dari sisi ilmu ada dua tingkatan: Ilmu tentang Allah dan

ilmu tentang agama-Nya. Ilmu tentang Allah ada lima macam: Ilmu tentang

Dzat, sifat, perbuatan, asma' Allah dan membebaskan-Nya dari hal-hal yang

tidak sesuai dengan-Nya. Ilmu tentang agama-Nya ada dua macam: Ilmu

yang berkaitan dengan perintah dan syariat, yang sekaligus merupakan jalan

lurus yang menghantarkan kepada Allah, dan iknu yang berkaitan dengan

pahala serta siksa.

 

Ubudiyah berkisar pada beberapa penopang. Siapa yang dapat me-

nyempurnakan penopang-penopang ini, maka dia dapat menyempuma-kan

tingkatan-tingkatan ubudiyah di atas. Jelasnya, ubudiyah itu terbagi atas

hati, lisan dan anggota tubuh. Masing-masing dari tiga bagian ini

mempunyai ubudiyah yang bersifat khusus. Sementara hukum-hukum

ubudiyah ada lima macam: Wajib, sunat, haram, makruh dan mubah. Lima

hukum ini berlaku untuk hati, lisan dan anggota tubuh.

 

Yang wajib bagi hati ada yang sudah disepakati kewajibannya dan ada

yang diperselisihkan. Yang disepakati kewajibannya adalah: Ikhlas,

tawakal, cinta, sabar, pasrah, takut, berharap, pembenaran, niat dalam

ibadah. Yang diharamkan bagi hati adalah: Takabur, riya', ujub, dengki,

lalai dan kemunafikan. Semua ini dapat dihimpun dalam dua perkara:

Kufur dan kedurhakaan. Kufur seperti keragu-raguan, kemunafikan, syirik dan

segala cabangnya. Kedurhakaan ada dua macam, besar dan kecil.

Kedurhakaan yang besar seperti riya', takabur, ujub, membanggakan diri,

putus asa dari rahmat Allah, merasa aman dari tipu daya Allah, merasa

senang melihat penderitaan orang Muslim, suka jika ada kekejian yang

menyebar di tengah orang-orang Muslim, iri terhadap karunia yang

mereka terima, berharap agar karunia itu sirna dari mereka dan hal-hal lain

yang sejenis. Semua ini jauh lebih diharamkan daripada pengharam-an zina

dan minum khamr serta dosa-dosa besar yang zhahir. Semua keburukan ini

muncul karena ketidaktahuan tentang ubudiyah hati dan tidak

memperhatikannya. Tugas iyyaka na'budu dibebankan kepada hati ter-

lebih dahulu sebelum dibebankan kepada anggota tubuh. Jika tugas ini

diabaikan, maka yang muncul adalah kebalikannya.

 

Dosa-dosa kecil dalam hati seperti menginginkan hal yang haram dan

membayangkannya. Perbedaan tingkat keinginan, tergantung pada

perbedaan tingkat sesuatu yang diinginkan. Keinginan terhadap kufur dan

 

 

 

syirik adalah kufur. Keinginan terhadap bid'ah adalah kefasikan.

Keinginan terhadap dosa besar adalah kedurhakaan. Jika seseorang me-

ninggalkan keinginan ini karena Allah menurut kesanggupannya, maka dia

mendapat pahala.

 

Sedangkan ubudiyah lisan ada lima macam: Yang wajib adalah

mengucapkan syahadatain, membaca apa yang haras dibaca dari isi Al-

Qur'an, seperti yang menjaga keabsahan shalat, mengucapkan dzikir-

dzikir yang wajib dalam shalat seperti yang diperintahkan Allah dan Ra-

sul-Nya, membalas ucapan salam, menyuruh kepada yang ma'raf dan

mencegah dari yang mungkar, mengajari orang yang bodoh, menunjuki

orang yang sesat, memberikan kesaksian yang dibutuhkan, berkata jujur

dan lain-lainnya. Sedangkan yang sunat bagi lisan adalah membaca Al-

Qur'an, teras-meneras menyebut asma Allah, menggali iknu yang ber-

manfaat dan lain-lainnya. Sedangkan yang haram bagi lisan ialah meng-

ucapkan perkataan apa pun yang dibenci Allah dan Rasul-Nya, menyam-

paikan bid'ah yang bertentangan dengan ketetapan Allah dan Rasul-Nya,

menyera kepada bid'ah, menuduh dan mencaci orang Muslim, dusta,

memberikan kesaksian palsu dan mengatakan tentang Allah tanpa dida-

sari pengetahuan. Sedangkan yang makruh bagi lisan ialah mengatakan

sesuatu, padahal andaikata hal itu tidak dikatakan, maka akan lebih baik.

Hal ini tidak mengakibatkan siksaan.

 

Ubudiyah yang haras dilakukan anggota tubuh ada dua puluh Uma,

karena indera ada lima dan masing-masing indera mempunyai lima ke-

wajiban, yang meliputi wajib, sunat, haram, makrah dan mubah.

 

Persinggahan lyyaka Na'budu di dalam Hati Saat Mengadakan

Perjalanan kepada Allah

 

Banyak orang yang mensifati persinggahan ini dan menyebutkan

bilangannya. Di antara mereka ada yang menyebutnya seribu, ada pula

yang menyebutnya seratus, ada yang kurang dan ada yang lebih. Masing-

masing orang mensifatinya menurut perjalanan yang dilakukannya.

Berikut ini akan saya sebutkan secara ringkas namun tuntas masing-masing di

antara persinggahan ini.

 

Yang pertama adalah al-yaqzhah, artinya kegalauan hati setelah

terjaga dari tidur yang lelap. Hal ini sangat penting dan membantu pem-

benahan perilaku. Siapa yang merasakannya, berarti dia telah merasakan

satu keberantungan. Jika tidak, berarti dia tetap dicengkeram kelalaian.

Jika sudah tersadar, dia diberi bekal hasrat untuk memulai perjalanannya

dan menuju persinggahannya yang pertama dan ke tempat dimana dia

ditawan.

 

 

 

Jika perjalanan sudah dimulai, maka hati beralih ke persinggahan al-

azm, yaitu tekad yang bulat untuk melakukan perjalanan, siap meng-

hadapi segala rintangan dan mencari penuntun yang dapat menghantar-

kan ke tujuan. Seberapa jauh seseorang memiliki kesadaran, maka se-jauh

itu pula tekadnya, dan seberapa jauh tekad yang dimilikinya, maka sejauh

itu pula persiapan yang dilakukannya.

 

Jika sudah terjaga, maka dia memiliki al-fikrah, yaitu pandangan hati

yang hanya tertuju ke sesuatu yang hendak dicari, sekalipun dia belum

memiliki gambaran jalan yang menghantarkannya ke sana. Jika fikrah-nya

sudah benar, tentu dia memiliki al-bashirah, yaitu cahaya di dalam hati

untuk melihat janji dan ancaman, surga dan neraka, apa yang telah

dijanjikan AUah terhadap para waU dan musuh-Nya. Dengan semua ini

seakan-akan dia bisa melihat apa yang terjadi pada hari akhirat, semua

orang dibangkitkan dari kuburnya, para malaikat didatangkan, para nabi,

syuhada dan shalihin dihadirkan, jembatan dibentangkan, musuh-musuh

dikumpulkan, api neraka dikobarkan. Di dalam hatinya seakan ada mata

yang dapat melihat berbagai kejadian akhirat, dan dia juga melihat bagai-

mana keduniaan ini yang begitu cepat berlalu.

 

Al-Bashirah merupakan cahaya yang disusupkan AUah ke dalam hati,

sehingga seseorang bisa melihat hakikat pengabaran para rasul, seakan-

akan dia bisa mehhatnya dengan mata kepala sendiri. Dengan begitu dia

bisa mengambil manfaat dari seruan para rasul dan melihat adanya bahaya

yang mengancamnya jika dia bertentangan dengan mereka.

 

Al-Bashirah itu didasarkan pada tiga derajat, siapa yang dapat me-

nyempurnakan tiga derajat ini, berarti dia dapat menyempurnakan bashi-

rah-nya, yaitu: Pertama, bashirah tentang asma' dan sifat. Kedua, bashirah

tentang perintah dan larangan. Ketiga, bashirah tentang janji dan

ancaman.

 

Bashirah tentang asma' dan sifat- sifat Allah, artinya imanmu tidak

dipengaruhi syubhat yang bertentangan dengan sifat- sifat yang diberikan

Allah kepada Diri-Nya sendiri dan juga yang disifati Rasul-Nya. Sebab

syubhat dalam hal ini sama dengan keragu-raguan tentang wujud Allah.

 

Tingkatan bashirah yang dimiliki masing-masing manusia berbe-da-

beda, tergantung dari tingkat pengetahuan mereka tentang pengabaran

Nabawy dan pemahamannya serta ilmu tentang syubhat yang bertentangan

dengan hakikat-hakikatnya. Orang yang paling lemah bashirah-nya adalah

para teolog batil yang biasanya suka mencela orang-orang salaf, karena

mereka tidak mengetahui nash dan tidak memahaminya. Syubhat

mengendap di dalam hati mereka. Orang-orang awam yang bukan termasuk

orang-orang Mukmin yang sesungguhnya, justru lebih sempuma daripada

 

 

 

para teolog itu, lebih kuat imannya, lebih mempercayai wahyu dan lebih

tunduk kepada kebenaran.

 

Bashirah tentang perintah dan larangan artinya membebaskan hati

dari penentangan karena melakukan ta'wil, taqlid atau mengikuti hawa

nafsu, sehingga di dalam hatinya tidak ada syubhat yang bertentangan

dengan ilmu tentang perintah dan larangan Allah, tidak pula dikuasai

nafsu yang menghalanginya untuk melaksanakan perintah dan larangan

itu, tidak pula mengikuti taqlid yang membuatnya merasa tidak perlu

berusaha menggali hukum dari nash.

 

Bashirah tentang janji dan ancaman artinya engkau mempersaksi-kan

penanganan Allah terhadap apa pun yang dilakukan setiap manusia, yang

baik maupun yang buruk, di dunia maupun di akhirat. Ini merupakan

konsekuensi Ilahiyah dan Rububiyah-Nya, keadilan dan hikmah-Nya.

Keraguan tentang hal ini sama dengan keraguan tentang Uluhiyah dan

rububiyah-Nya, bahkan keraguan tentang wujud-Nya.

 

Orang yang berada di persinggahan bashirah mempunyai alternatif

jalan lain, yaitu bashirah yang membebaskannya dari kebingungan.

 

Jika seseorang sudah sadar dan memiliki bashirah, maka dia akan

mengambil maksud dan kehendak yang tulus, menghimpun maksud dan

niat untuk melakukan perjalanan kepada Allah. Setelah tahu dan yakin

tentang hal ini, maka dia mulai melakukan perjalanan, membawa bekal

menuju hari datangnya pembalasan, membebaskan diri dari rintangan

yang menghambat perjalanannya. Maksud bisa dibagi menjadi tiga ting-

katan:

 

Pertama, maksud yang membangkitkan keteguhan dan membe-

baskan diri dari keragu-raguan.

 

Kedua, maksud yang karenanya semua rintangan akan disingkirkan

dan semua penghalang akan dihadapi.

 

Ketiga, maksud yang mendorongnya mencari pengetahuan dan mau

men-dengarkan nasihat dari orang yang lebih bijaksana.

 

Jika maksud sudah kuat, maka ia berubah menjadi tekad yang bu-lat,

lalu mengharuskannya memulai perjalanan sambil disertai tawakal kepada

Allah. Firman-Nya,

 

"Kemudian apabila kamu sudah membulatkan tekad, maka

bertawakallah kepada Allah. " (Ali Imran: 159).

 

 

 

Al-Azin artinya maksud yang bulat dan yang mendorong muncul-

nya aksi. Karena itu ada yang menganggap tekad yang bulat ini merupa-kan

peraiulaan aksi untuk mencari maksud dan tujuan. Pada hakikatnya tekad

ini merapakan kekuatan kehendak yang sudah berhimpun untuk

mengadakan aksi.

 

Tekad ini ada dua macam:

 

Pertama, tekad orang yang hendak mengayunkan langkah melakukan

perjalanan atau bisa juga disebut permulaan perjalanan.

 

Kedua, tekad saat berada di dalam perjalanan. Hal ini sifatnya lebih

khusus lagi.

 

Pada etape ini seseorang perlu membedakan antara apa yang menjadi

haknya dan kewajibannya, agar dia tahu apa yang memang menjadi

bagiannya dan apa yang menjadi kewajibannya, yaitu muhasabah sebelum

taubat. Tetapi pengarang Manazilus-Sa'irin menempatkan taubat sebelum

muhasabah.

 

Yang perlu diketahui bahwa persinggahan ini jangan disamakan

dengan persinggahan menurut kenyataan, dimana seseorang berada di satu

tempat itu lalu meninggalkannya begitu saja untuk berpindah ke tempat

berikutnya. Tentunya engkau juga tahu bahwa al-yaqzhah (kesa-daran)

haras selalu menyertai dan tidak bisa ditinggalkan, di mana pun

tempatnya, begitu pula al-bashirah, al-iradah, al-aztn maupun at-taubah.

Seperti wajamya taubat yang ada di akhir, maka ia juga haras ada di per-

mulaannya dan bahkan ia harus ada di mana-mana. Memang Allah men-

jadikan taubat ini sebagai bagian akhir dari keadaan hamba-hamba-Nya

yang khusus, seperti RasuluUah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para

shahabat beliau dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Allah befirman

berkaitan dengan perang Tabuk, peperangan terakhir yang mereka laku-

kan, dan sekaligus merapakan perjalanan yang paling berat bagi mereka,

 

A,g^iic L-ilJ aJ A44<a ^.^ S-'J^ tJJrJ ■^'^ ^ ^ clfe* ojJudxJI A.Ijuo

 

"SesungguhnyaAllah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muha-

jirin dan Anshar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati

segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima

taubat mereka itu. " (At-Taubah: 1 17).

 

Muhasabah dan Pilar-pilarnya

 

 

 

Siapa pun yang mengadakan perjalanan kepada Allah tidak lepas

dari empat persinggahan, yaitu al-yaqzhah, al-bashirah, al-fikrah dan al-

azm. Empat persinggahan ini tak ubahnya pilar bagi suatu bangunan.

Perjalanan tidak akan sampai kepada- Nya kecuaU dengan melewati empat

persinggahan ini, tak ubahnya perjalanan secara nyata yang harus melewati

beberapa etape. Orang yang hanya menetap di kampung halaman-nya, tidak

berpikir untuk mengadakan perjalanan kecuali dia sadar dari kelalaiannya

untuk mengadakan perjalanan. Jika sudah memiliki kesadaran, maka dia

harus mengetahui segala urusan tentang perjalanannya, bahaya, manfaat

dan kemaslahatannya. Kemudian dia berpikir untuk mengadakan

persiapan dan mencari bekal. Kemudian dia harus memiliki tekad yang

bulat. Jika tekad dan maksudnya sudah bulat, maka dia mulai beralih ke

persinggahan muhasabah, atau memilah antara bagiannya dan

kewajibannya. Dia boleh mengambil apa yang menjadi bagiannya dan

harus melaksanakan kewajibannya. Sebab dia akan mengadakan

perjalanan dan tidak akan kembali lagi.

 

Dari muhasabah dia beralih ke taubah. Sebab jika dia sudah meng-

hisab dirinya, tentu dia akan mengetahui hak yang harus dia penuhi, lalu

keluar untuk memberikan hak itu kepada yang berhak menerimanya.

Inilah hakikat taubat. Tetapi dengan mendahulukan muhasabah akan

menjadi lebih baik. Kalaupun mendahulukannya juga tidak apa-apa, ka-

rena muhasabah tak bisa dilakukan kecuali setelah ada taubat yang sebe-

narnya.

 

Yang pasti, taubat itu ada di antara dua muhasabah, yaitu muhasabah

sebelum taubat yang hukumnya wajib dan muhasabah sesudah taubat yang

hukumnya harus tetap dijaga. Taubat akan tetap terjaga jika berada di antara

dua muhasabah ini, sebagaimana yang ditunjukkan firman Allah,

 

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah

setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok

(akhirat)." (M-Rasyr. 18).

 

Maksud "Memperhatikan" dalam ayat ini ialah memperhatikan ke-

lengkapan persiapan untuk menyongsong hari akhirat, mendahulukan apa

yang bisa menyelamatkannya dari siksa Allah, agar wajahnya menjadi bersih

di sisi Allah. Umar bin Al-Khaththab pemah berkata, "Hisablah diri kalian

sebelum kalian dihisab. Timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang

dan berhiaslah kalian untuk menghadapi hari penampakan yang agung."

 

Menurut Abu Isma'il, pengarang Manalizus-Sa'irin, ada tiga pilar

yang menopang muhasabah, yaitu:

 

 

 

/. Membandingkan antara Nikmat Allah dan Kejahatanmu

 

Maksudnya, engkau haras membandingkan apa yang berasal dari

Allah dan apa yang berasal dari dirimu. Dengan begitu engkau akan

mengetahui letak ketimpangannya, dan engkau juga akan mengetahui

bahwa di sana hanya ada ampunan dan rahmat Allah di satu sisi, dan di

sisi lain adalah kehancuran dan kerusakan.

 

Dengan membandingkan seperti ini engkau bisa mengetahui bahwa

Allah adalah Allah dalam pengertian yang sebenarnya, dan hamba adalah

hamba dalam pengertian yang sebenarnya. Engkau juga akan mengetahui

hakikat jiwa dan sifat-sifatnya, keagungan Rububiyah Allah, hanya

AUahlah yang memiliki kesempumaan, setiap nikmat berasal dari-Nya

sebagai karunia, dan siksaan juga berasal dari-Nya yang ditimpakan

secara adil. Jika engkau tidak membuat perbandingan seperti ini, tentu

engkau tidak akan bisa mengetahui hakikat dirimu sendiri dan Rububiyah

Pencipta jiwamu. Jika engkau membuat perbandingan seperti ini, maka

engkau akan tahu bahwa jiwamu adalah sumber segala kejahatan dan

kekurangan. Sedangkan hukum yang dimilikinya adalah kebodohan dan

kezhaliman. Andaikan tidak karena karunia Allah dan rahmat-Nya yang

mensucikan jiwa itu, tentu ia tidak akan menjadi suci sama sekali.

 

Kemudian engkau juga bisa membandingkan antara kebaikan dan

keburakan. Sehingga dengan membandingkan ini engkau bisa mengetahui

mana yang lebih banyak dan mana yang lebih dominan di antara

keduanya. Perbandingan yang kedua ini merupakan perbandingan antara

perbuatanmu dan apa yang datang dari dirimu secara khusus.

 

Seseorang tidak bisa membuat perbandingan ini jika dia tidak

memiliki tiga indikator:

 

1. Cahaya hikmah

 

2. Burak sangka terhadap did sendiri

 

3. Membedakan antara nikmat dan ujian.

 

Cahaya hikmah merapakan cahaya yang disusupkan Allah ke dalam

hati orang-orang yang mengikuti para rasul. Dengan kata lain, cahaya

hikmah adalah iknu yang dimiliki seseorang sehingga dia bisa membe-

dakan antara yang haq dan batil, petunjuk dan kesesatan, mudharat dan

manfaat, yang sempurna dan yang kurang, yang baik dan yang burak.

Dengan cahaya hikmah ini seseorang bisa melihat tingkatanrtingkatan

amal, mana yang harus dipentingkan dan mana yang tidak dipenting-kan,

mana yang haras diterima dan mana yang ditolak. Jika cahaya ini kuat,

maka muhasabah juga akan kuat dan sempurna. Buruk sangka terhadap

diri sendiri amat diperlukan, sebab baik sangka terhadap diri sendiri akan

menghalangi koreksi dan kerancuan, sehingga dia melihat keburukan

 

 

 

sebagai kebaikan, aib sebagai kesempumaan. Membedakan nikmat dari

ujian, artinya membedakan nikmat yang dilihatnya sebagai kebaikan dan

kasih sayang Allah serta yang bisa membawanya kepada kenik-matan

yang abadi, dan membedakannya dengan nikmatyang hanya seke-dar

sebagai tipuan. Sebab berapa banyak orang yang tertipu dengan nik-mat,

sementara dia tidak menyadarinya, tertipu oleh pujian orang-orang bodoh,

terpedaya oleh Umpahan AUah, dan justru kebanyakan manusia termasuk

dalam kelompok yang kedua ini.

 

Tiga indikator ini merapakan tanda kebahagiaan dan keselamatan.

Jika tiga hal ini dilaksanakan secara sempurna, maka seseorang bisa

mengetahui nikmat Allah yang sebenarnya. Selain itu ada ujian yang

berapa nikmat atau cobaan berapa limpahan pemberian. Maka hendaklah

setiap orang mewaspadai hal ini, sebab dia berada di antara anugerah dan

hujjah, dan banyak orang yang timpang dalam membedakan dua hal ini.

 

2. Membedakan antara Bagian dan Kewajiban

 

Haras ada pemilahan antara hak-hak yang haras engkau penuhi,

seperti kewajiban-kewajiban ibadah, ketaatan dan menjauhi kedurhakaan, dan

hak yang menjadi bagianmu. Apa yang menjadi bagianmu adalah mubah

menurat ketetapan syariat, dan apa yang menjadi kewajibanmu haras

engkau penuhi dan engkau haras memberikan hak kepada siapa pun yang

berhak menerimanya.

 

Banyak orang yang mencampur aduk antara kewajiban dan hak-nya,

sehingga dia sendiri menjadi kebingungan antara mengerjakan dan

meninggalkan. Banyak orang yang sebenarnya dia boleh mengerjakan

sesuatu namun dia justru meninggalkannya, seperti orang yang raj in

beribadah dengan meninggalkan apa yang sebenarnya boleh dia kerja-kan,

seperti meninggalkan hal-hal yang mubah, karena dia mengira bah-wa hal

itu tidak boleh dia kerjakan. Begitu pula sebaliknya, orang yang rajin

beribadah dengan mengerjakan sesuatu yang sebenamya haras dia

tinggalkan, karena dia mengira hal itu merapakan haknya.

 

Yang pertama seperti orang yang rajin beribadah dengan tidak mau

menikah, tidak mau memakan daging, buah-buah, makanan yang lezat dan

pakaian yang bagus. Karena kebodohannya dia mengira bahwa semua itu

merapakan larangan baginya, sehingga dia haras meninggalkannya, atau dia

berpendapat bahwa dengan meninggalkannya akan membuat ibadahnya

bertambah afdhal. Dalam Ash-Shahih disebutkan pengingkaran Nabi

Shallallahu Alaihi wa Sallam terhadap beberapa shahabat yang tidak mau

menikahi wanita, teras-menerus berpuasa dan shalat malam. Yang kedua

seperti orang yang rajin beribadah, namun bid'ah. Dia melihat cara

ibadahnya itu benar, karena begitulah yang banyak dilaku-kan orang.

 

 

 

3. Tidak Ridha terhadap Ketaatan Yang Dilakukan

 

Engkau haras tahu bahwa setiap ketaatan yang engkau ridhai, akan

menjadi beban dosa bagimu, dan setiap kedurhakaan yang dituduhkan

saudaramu kepadamu, maka terimalah tuduhan itu dan anggaplah bahwa

memang itulah yang benar. Sebab keridhaan seorang hamba terhadap

ketaatan dirinya merapakan bukti baik sangka terhadap diri sendiri dan

kebodohannya terhadap hak-hak ubudiyah serta tidak tahu apa yang

dituntut Allah darinya, lalu akhirnya melahirkan takabur dan ujub, yang

dosanya lebih besar dari dosa-dosa besar yang nyata, seperti zina, minum

khamr, lari dari medan peperangan dan lain-lainnya.

 

Orang-orang yang memiliki bashirah justru lebih meningkatkan

istighfar setelah mengerjakan berbagai macam ketaatan, karena mereka

menyadari keterbatasannya dalam melaksanakan ketaatan itu dan merasa

belum memenuhi hak-hak Allah sesuai dengan keagungan-Nya. Allah juga

memerintahkan agar RasuluUah Shallallahu Alaihi wa Sallam senantiasa

memohon ampunan dalam setiap kesempatan dan sehabis melaksanakan

tugas-tugas risalah atau setelah melaksanakan suatu ibadah. Dalam surat

terakhir yang diturunkan, Allah juga tetap memerintahkan beliau untuk

memohon ampunan,

 

bljj ^l2 4j] oja.ir_iu)lj tibj }^-^^ r^^J^

 

"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu

lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka

bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-

Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat. " (An-Nashr: 1-3).

 

Maka Umar bin Al-Khaththab dan Ibnu Abbas memahami turunnya

surat ini sebagai isyarat telah dekatnya ajal behau. Seakan-akan Allah

hendak memberitahukan hal ini kepada beliau, dengan memerintahkan

agar beliau memohon ampunan sehabis mengerjakan setiap tugas. Dengan

kata lain, surat ini semacam pemberitahuan: Engkau telah rampung

mengerjakan kewajibanmu dan tidak ada lagi kewajiban yang menyisa

setelah itu. Maka jadikanlah istighfar sebagai kesudahannya.

 

Taubat Sebagai Persinggahan Pertama dan Terakhir

 

Jika seorang hamba sudah berada di persinggahan muhasabah ini

secara benar, maka ada persinggahan lain, yaitu taubat. Dengan muhasabah

dia bisa membedakan mana yang menjadi haknya dan mana yang menjadi

kewajibannya. Maka selanjutnya dia harus tetap membulatkan tekad dan

ambisi dalam melanjutkan perjalanan menuju Allah sampai akhir

hayatnya.

 

 

 

Taubat merapakan awal persinggahan, pertengahan dan akhirnya.

Seorang hamba yang sedang mengadakan perjalanan kepada Allah tidak

pemah lepas dari taubat, sampai ajal menjemputnya. Sekalipun dia ber-alih

ke persinggahan yang lain dan melanjutkan perjalanannya, taubat selalu

menyertainya. Taubat merapakan permulaan langkah hamba dan

kesudahannya. Kebutuhannya terhadap taubat amat penting dan mende-

sak, tak berbeda dengan permulaannya. Allah befirman,

 

"Dan, bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang

beriman, supaya kalian beruntung. "(An-Nur: 31).

 

Ayat ini turan di Madinah. Di sini Allah mengarahkan firman-Nya

kepada orang-orang yang beriman dan orang-orang pilihan-Nya, agar mereka

bertaubat, setelah mereka beriman, bersabar, berjihad dan berhijrah. Bahkan

Allah mengaitkan keberuntungan dengan satu sebab, dan juga

menggunakan kata "supaya", yang mengindikasikan pengharapan. Dengan

kata lain, jika kalian bertaubat, maka diharapkan kalian akan berantung.

Sementara tidak ada yang mengharap keberantungan kecuali orang-orang

yang bertaubat. Semoga Allah menjadikan kita semua termasuk golongan

mereka. Di samping itu, Allah juga befirman tentang kebalikan dari

golongan ini,

 

"Dan, barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-

orang yang zhalim. " (Al-Hujurat: 1 1).

 

Hamba dibagi menjadi orang yang bertaubat dan yang tidak ber-

taubat atau zhalim. Tidak ada orang ketiga setelah itu. Cap zhalim diberi-kan

kepada orang yang tidak bertaubat dan tidak ada orang yang lebih zhalim

dari dirinya, karena dia tidak tahu AUah dan hak-Nya, tidak tahu aib

dirinya dan kekurangan amalnya.

 

Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari RasuluUah Shallallahu Alaihi wa

Sallam, beliau bersabda,

 

"Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah Demi

Allah, aku benar-benar bertaubat kepada Allah lebih dari tujuhpuluh kali

dalam sehari. "

 

 

 

Dalam suatu majlis sebelum beliau beranjak pergi, para shahabat

pemah menghitung, beliau mengucapkan sebanyak seratus kali ucapan

berikut,

 

jjiiJl L_ilj!i]l Clul iiijj (_^ic L_ijj (_^ j^l 4-ij

 

"Wahai Rabbi, ampunilah dosaku dan terimalah taubatku, karena Eng-

kaulah Maha Penerima taubat lagi Maha Pengampun. "

 

Karena taubat itu merupakan langkah kembalinya hamba kepada

Allah dan meninggalkan jalan orang-orang yang mendapat murka lagi

sesat, maka dia tidak bisa memperolehnya kecuaU dengan hidayah AUah

agar dia mengikuti ash-shirathul-mustaqim. Sementara hidayah-Nya tidak

bisa diperoleh kecuali dengan memohon pertolongan kepada-Nya dan

mengesakan-Nya. Urutan-urutan semacam ini sudah terangkum secara

baik dan lengkap di dalam Al-Fatihah. Siapa yang memberikan hak kepada

Al-Fatihah sesuai dengan kapasitas ilmu, kesaksian, kondisi dan ma'-

rifahnya, tentu dia akan mengetahui, bahwa pembacaan surat Al-Fatihah

ini belum dianggap sah dalam ibadah kecuali disertai taubat yang sebe-

nar-benarnya (taubatan nashuha). Sebab hidayah yang sempurna untuk

mengikuti ash-shirathul-mustaqim tidak akan diperoleh jika tidak tahu

terhadap dosa yang telah dilakukan, terlebih lagi jika dosa itu terus-mene-

rus dilakukan. Karena itu taubat dianggap tidak sah kecuali setelah menge-

tahui dosa dan mengakuinya, lalu berusaha mencari jalan keselamatan

dari akibat yang akan diterima di kemudian hari.

 

Ada tiga syarat yang haras dipenuhi dalam taubat, yaitu penyesalan,

meninggalkan dosa yang dilakukan, dan memperlihatkan kelemahan serta

ketidakberdayaan.

 

Hakikat taubat adalah menyesah dosa-dosa yang telah dilakukan di

masa lampau, membebaskan diri seketika itu pula dari dosa tersebut dan

bertekad untuk tidak mengulanginya lagi di masa mendatang. Tiga syarat

ini harus berkumpul menjadi satu pada saat bertaubat. Pada saat itulah dia

akan kembali kepada ubudiyah, dan inilah yang disebut hakikat taubat.

 

Menurat Abu Ismail, rahasia hakikat taubat ada tiga macam:

 

1. Memisahkan ketakutan dari kemuliaan.

 

2. Melupakan dosa dan kesalahan.

 

3. Taubat dari taubat.

 

Memisahkan ketakutan dari kemuliaan, bahwa taubat itu harus

dimaksudkan sebagaiwujud ketakutan kepada Allah, melaksanakanperin-tah

dan menjauhi larangan-Nya, lalu dia melaksanakan ketaatan kepada AUah

berdasarkan cahaya dari Allah dan mengharapkan pahala-Nya. Dia juga

 

 

 

haras meninggalkan kedurhakaan kepada Allah berdasarkan cahaya dari-

Nya, takut terhadap siksa-Nya dan tidak dimaksudkan untuk menda-patkan

kemuliaan. Karena bagaimana pun juga ketaatan itu mempunyai

kemuliaan dalam lahir maupun batin. Siapa yang bertaubat dengan mak-

sud untuk mencari kemuliaan, maka taubatnya itu menjadi sia-sia.

 

Melupakan dosa dan kesalahan haras dirinci lebih lanjut lagi. Bah-

kan ada perbedaan pendapat dalam masalah ini di kalangan orang-orang

yang meniti jalan kepada AUah. Di antara mereka ada yang berpendapat,

sibuk mengingat dosa adalah perbuatan yang sia-sia. Mempergunakan

waktu bersama Allah jauh lebih bermanfaat bagi orang yang bertaubat.

Maka ada pepatah, "Mengingat masa kemarau di musim penghujan adalah

kemarau." Ada pula yang berpendapat, memang yang lebih tepat ialah tidak

melupakan dosa itu dan dosa itu seakan-akan haras selalu hadir di depan

matanya, sehingga membuat hatinya senantiasa sedih.

 

Yang benar dalam masalah ini, jika seorang hamba merasakan ada-

nya ujub pada dirinya, melupakan karunia dan tidak merasa membutuhkan

Allah atau tidak mehhat kekurangan dirinya, maka mengingat dosa lebih

bermanfaat baginya. Namun pada saat dia melihat karania Allah yang

dilimpahkan kepadanya, hatinya dipenuhi rasa cinta kepada Allah,

kerinduan untuk bersua dengan-Nya, merasakan kebersamaan dengan-

Nya, melihat keluasan rahmat dan ampunan-Nya, maka melupakan dosa

dan kesalahan lebih bermanfaat baginya. Sebab jika seorang hamba te-rus-

meneras mengingat dosa dan kesalahannya, sementara dia dalam keadaan

yang kedua ini, maka dia akan turun dari tingkatan yang tinggi ke

tingkatan yang rendah, dan ini termasuk tipu daya syetan. Sebab dua

keadaan ini haras dibedakan.

 

Sedangkan taubat dari taubat, merupakan istilah yang masih ran-cu,

bisa berarti benar dan bisa berarti salah. Taubat termasuk kebaikan yang

paling agung. Taubat dari kebaikan merupakan keburukan yang paling

besar dan kesalahan yang paling burak, bahkan bisa disebut ku-fiir. Sebab

dengan begitu tidak ada bedanya antara taubat dari taubat dan taubat dari

Islam serta iman. Layakkah dikatakan taubat dari iman? Jika seorang

hamba senantiasa beserta Allah, senantiasa mengingat karunia, menyebut

asma' dan sifat-sifat-Nya serta senantiasa menghadap kepada-Nya, namun

dia juga masih mengingat-ingat dosanya yang telah lampau sebagai

perwujudan taubat, maka dia perlu bertaubat dari taubatnya itu.

 

Kendala-kendala Taubat Orang-orang Yang Bertaubat

 

Biasanya taubat orang-orang awam disertai dengan keberatan di

dalam hati karena menganggap jenis-jenis ketaatan dan kebaikan yang

haras dilakukan terlalu banyak. Jika dibandingkan dengan kedudukan

orang-orang yang khusus, hal ini akan menimbulkan tiga kerusakan:

 

 

 

1. Kebaikan-kebaikan yang mereka lakukan merapakan keburukan menurut

orang-orang yang khusus. Kebaikan orang awam bisa menjadi

keburukan bagi orang yang mendekatkan diri kepada Allah. Dia perlu

bertaubat dari kebaikan-kebaikan yang dilakukannya, karena dia

melalaikan aib dan kekurangannya, karena menganggap kebaikan-

kebaikan yang dilakukannya itu sudah banyak. Dia mengingkari

nikmat Allah, karena nikmat itu tidak tampak atau ditangguhkan.

 

Jika engkau menginginkan pemahaman lebih mudah tentang hal ini,

maka perhatikanlah keadaanmu saat membaca Al-Qur'an. Jika engkau

tidak memahami, menelaah dan memikirkannya, menyimak apa yang

dimaksudkan dalam setiap ayat, tidak peduli terhadap seruan yang

seakan ditujukan kepadamu, engkau hanya ingin menamatkan bacaan,

engkau tidak merasakan pengobatannya di dalam hatimu, atau engkau

membacanya secara serampangan, tentu engkau akan merasa bahwa

bacaanmu terlalu banyak. Namun jika engkau menelaah, menyimak

maksud ayat-ayat yang engkau baca, merasa bahwa ayat-ayat itu ditu-

jukan kepadamu, engkau merasakan pengobatannya di dalam hatimu,

maka engkau tidak merasa bahwa engkau telah membaca satu ayat atau

satu surat dan seterusnya. Begitu pula jika engkau memaksakan hatimu

untuk khusyu' saat mengerjakan dua rakaat shalat sunat, maka shalat

berikutnya akan engkau kerjakan dengan berat hati. Tapi jika hatimu

tidak terbebani dengan hal itu, maka berapa pun rakaat yang engkau

kerjakan tidak akan terasa berat. Bertaubat dengan menganggap

ketaatan terlalu banyak tanpa memperhatikan aib dan kekurangannya,

adalah taubatnya orang awam.

 

2. Orang yang bertaubat merasa mempunyai hak terhadap Allah, agar Dia

memberikan pahala atas kebaikan-kebaikan yang dia kerjakan, dengan

memasukkannya ke surga dan memberinya kenikmatan serta

keridhaan. Akibatnya, pikiran seperti ini jauh lebih banyak dari porsi

kebaikan yang dia lakukan. Sementara amalan orang yang lebih raj in

dari dia pun belum menjamin dirinya masuk surga dan terbebas dari

api neraka. Tak seorang pun yangbisa selamat dari neraka dengan

amal-nya, kecuali setelah dia mendapat ampunan dan rahmat Allah.

 

3. Merasa tidak membutuhkan ampunan Allah, padahal dalam kenyataan-

nya dia masih membutuhkan ampunan dari kesalahannya dan pahala

dari kebaikan dan ketaatannya. Jika dia menganggap ketaatan yang

dilakukannya sudah banyak, lalu membuatnya merasa tidak membu-

tuhkan ampunan AUah, maka itu benar-benar merupakan kelancangan

terhadap Allah.

 

Tidak dapat diragukan bahwa hanya sekedar berbuat dengan amal-

amal anggota tubuh tanpa disertai kehadiran hati dan menghadap diri

kepada Allah, maka bisa menimbulkan tiga macam kerusakan ini dan ju-

ga lain-lainnya. Yang demikian ini tidak banyak memberikan manfaat di

 

 

 

dunia maupun di akhirat, seperti amal yang tidak memperhatikan keten-

tuan perintah dan tidak disertai keikhlasan kepada Allah. Sekalipun amal

itu banyak, tapi tidak banyak bermanfaat dan hanya melelahkan. Sesung-

guhnya AUah tidak menetapkan pahala bagi hamba dari shalatnya kecuali

yang dia hayati secara sungguh-sungguh. Begitu pula setiap ibadah yang

mengharuskan adanya kekhusyu'an.

 

Sedangkan kendala taubatnya orang-orang kelas menengah ialah

menganggap sedikit kedurhakaannya. Tentu saja ini merupakan sikap

yang lancang dan merasa dirinya dalam keadaan terjaga dari kesalahan.

Dengan kata lain, menganggap kedurhakaannya hanya sedikit adalah

perbuatan dosa, sebagaimana menganggap ketaatannya banyak, juga do-

sa. Orang yang arif ialah yang memandang kebaikan-kebaikannya remeh

dan dosa-dosanya besar. Selagi kebaikan-kebaikannya dianggap kecil,

maka ia menjadi besar di sisi Allah. Selagi kebaikan-kebaikan itu terasa

banyak dan besar di dalam hatimu, maka ia menjadi sedikit dan kecil di

sisi Allah. Begitu pula sebaliknya yang berkaitan dengan keburukan. Sia-

pa yang mengetahui hak-hak Allah dan melaksanakan ibadah sesuai de-

ngan keagungan-Nya, maka kebaikan-kebaikannya tampak menjadi kecil,

dan dia merasa tidak bisa selamat dari siksaan-Nya.

 

Sedangkan kendala taubatnya orang-orang yang khusus adalah

membuang-buang waktu, lalu lama-kelamaan menjurus kepada

kekurangan, memadamkan cahaya pengawasan dan mengeruhkan

kebersamaan dengan Allah. Maksud membuang-buang waktu di sini

bukan berarti menghabiskan waktu dalam kedurhakaan dan canda atau

meninggalkan kewajiban. Sebab andaikan mereka berbuat seperti ini,

berarti mereka bukan termasuk orang-orang yang khusus, tapi orang-orang

awam. Waktu bagi mereka mempunyai pengertian yang spesifik. Bahkan

di antara mereka ada yang menyebut waktu di sini adalah kebenaran. Ada

pula yang mengartikannya kebenaran yang diselami hamba, atau

pengertian-pengertian lain yang serupa. Kendala taubat golongan ini ialah

dengan membuang waktu-waktu khusus dan yang sebaiknya digunakan

bersa-ma Allah dan tidak dikotori debu.

 

Ada pula kedudukan taubat yang lebih tinggi dan lebih khusus dari

gambaran-gambaran ini, yang tidak diketahui kecuali orang-orang khusus,

yang menganggap perbuatan, perkataan dan tindakannya masih terlalu

sedikit untuk memenuhi hak kekasihnya. Mereka tidak melihat apa yang ada

pada dirinya kecuali dari sisi kekurangannya saja, melihat keadaan

kekasihnya lebih agung, kekuasaannya lebih tinggi dari sekedar meridhai

amalnya. Mereka adalah orang-orang yang paling menghinakan amalnya

sendiri. Jika mereka merasa tidak mampu memenuhi hak kekasihnya,

maka mereka bertaubat seperti taubatnya orang yang melakukan dosa

besar. Jadi taubat tidak pemah mereka tinggalkan. Taubat mereka meru-

 

 

 

pakan satu warna tertentu, sedangkan taubat selain mereka merupakan

wama lain yang berbeda, sehingga tampak jelas perbedaannya.

 

Taubat tidak dianggap sempurna kecuali dengan membebaskan hati

dari maksud-maksud selain Allah, kemudian mengetahui alasan dari

taubat itu, kemudian bertaubat setelah tahu alasan tersebut. Jika sudah

begitu keadaannya, maka dia akan beribadah kepada Allah semata sesuai

dengan perintah-Nya, tidak menyekutukan-Nya dan memohon pertolong-an

kepada-Nya, sehingga semua yang ada pada dirinya bagi Allah dan

bersama AUah. Yang demikian ini tidak akan terjadi kecuali orang yang

sudah dikuasai rasa cinta, hatinya dipenuhi cinta kepada Allah, diisi peng-

agungan, kepasrahan dan ketundukan kepada-Nya.

 

Pernik-pernik Hukum Yang Berkaitan dengan Taubat

 

Di sini perlu saya sebutkan beberapa masalah yang berkaitan dengan

taubat, yang perlu dijabarkan dan tidak boleh diabaikan oleh seseorang. Di

antaranya:

 

Pertama:

 

Bertaubat dari dosa wajib dilakukan secara langsung, seketika itu

pula dan tidak boleh ditunda-tunda. Siapa yang menundanya, berarti dia

telah durhaka karena penundaannya itu. Apabila dia bertaubat dari dosa itu,

maka dia harus bertaubat lagi, yaitu dari penundaan taubatnya. Yang seperti

ini jarang disadari orang yang bertaubat. Biasanya, jika dia sudah bertaubat

dari dosa tersebut, maka dia menganggap tidak perlu lagi bertaubat. Padahal

masih ada taubat yang menyisa karena penundaan taubatnya. Tidak ada yang

menyelamatkan hal ini kecuali taubat yang bersifat umum, yaitu taubat dari

dosa-dosa yang diketahui maupun yang tidak

 

diketahui. Sebab dosa dan kesalahan-kesalahan yang tidak diketahui

hamba justru lebih banyak dari yang diketahuinya. Karena dia tidak me-

ngetahuinya, bukan berarti dia terbebas dari hukuman, kalau memang

sebenarnya memungkinkan baginya untuk mengetahuinya. Dengan begitu

dia telah durhaka karena tidak ingin mengetahui dan tidak ber-amal,

sehingga kedurhakaannya semakin berlipat.

 

Di dalam Shahih Ibnu Hibban disebutkan bahwa Nabi Shallallahu

Alaihi wa Sallam bersabda, "Syirik di dalam umatku ini lebih tersembu-

nyi daripada rangkakan semut."

 

Abu Bakar bertanya, "Wahai RasuluUah, lalu bagaimana cara untuk

menyelamatkan diri darinya?"

 

Beliau menjawab, "Hendaklah engkau mengucapkan.

 

 

 

"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari berbuat syirik kepada-

Mu sedang aku tidak mengetahuinya, dan aku memohon ampunan

kepada-Mu dari dosa-dosa yang tidak kuketahui. "

 

Dalam sebuah hadits dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dise-

butkan bahwa beliau berdoa dalam shalatnya,

 

^ Aj ^1 Cjjl Uj ^jJ ^ i^^J^lj Lsk^J C5%^ iJ J^' f^'

 

jici ^a^l i^^lc- S\'^ (jj ^O^tj ^Uxkj i^y>>J if^ (^ J^\ ^a^l

 

^^^ 4j ale I CllJl Laj Clliicl Laj CJjjjuol Laj CJj^l Laj Clba^ La ^

 

ciijl Vj All V c^j c:il

 

"Ya Allah, ampunilah bagiku kesalahan dan kebodohanku, berlebih-

le-bihanku dalam urusanku dan apa pun yang Engkau lebih

mengetahuinya daripada aku. Ya Allah, ampunilah bagiku

kesungguhan dan sendagurauku, kelalaian dan kesengajaanku, dan

semua itu adapada diriku. Ya Allah, ampunilah bagiku apa yang

telah kudahulukan dan apa yang kuakhirkan, yang kurahasiakan

dan yang kutampakkan, serta apa pun yang Engkau lebih

mengetahuinya daripada aku. Engkau Ilahku yang tiada Ilah selain

Engkau. "

 

Kedua:

 

Apakah taubat dari suatu dosa dianggap sah, sementara dosa yang

lain masih tetap dilakukan?

 

Ada dua pendapat di kalangan ulama tentang masalah ini, yang

keduanya diriwayatkan dari Al-Imam Ahmad. Tapi tidak ditemukan

adanya perbedaan pendapat dari orang yang mengisahkan adanya ijma'

tentang sahnya taubat itu, seperti yang dilakukan An-Nawawy dan lain-

lainnya. Memang masalah ini bisa dianggap rumit, yang perlu ada kepas-

tian untuk salah satu di antara kedua pendapat ini, yang tentu saja harus

disertai dalil yang pasti. Golongan yang menganggap taubat itu sah, ber-

hujjah bahwa selagi seseorang sudah masuk Islam secara benar, yang

berarti dia sudah bertaubat dari kekufuran, maka Islamnya itu sudah sah

sekalipun dia masih melakukan kedurhakaan dan dia belum bertaubat dari

kedurhakaan itu. Maka taubat dari satu dosa sudah dianggap sah sekalipun

dia masih melakukan dosa lain.

 

Golongan satunya lagi menanggapi hujjah ini, bahwa Islam meru-

pakan satu keadaan yang tidak bisa disamakan dengan yang lain, karena

kekuatan, pengaruh dan cara mendapatkannya, yang biasanya anak le-bih

 

 

 

cenderang mengikuti agama kedua orang tuanya, atau budak yang

mengikuti agama tuannya.

 

Yang lain lagi berpendapat bahwa taubat adalah kembali kepada

Allah, yang tadinya durhaka berabah menjadi taat kepada-Nya. Lalu apakah

makna kembali di sini bagi orang yang bertaubat dari satu dosa, dan dia

masih terus melakukan dosa yang lain? Menurut mereka, Allah tidak akan

menghukum orang yang bertaubat, karena dia sudah kembali menaati dan

beribadah kepada-Nya serta bertaubat dengan sebenar-benarnya. Orang

yang masih melakukan dosa seperti dosa yang dia mintakan am-punannya

kepada AUah, berarti belum bertaubat dengan sebenar-benarnya. Jika

orang yang bertaubat kepada Allah dapat menghilangkan cap orang yang

durhaka, sebagaimana orang kafir yang sudah kehilangan cap kafir jika dia

sudah masuk Islam, maka jika dia masih mengerjakan dosa, maka cap

durhaka itu belum hilang darinya, sehingga taubatnya belum dianggap

sah.

 

Letak permasalahannya, apakah taubat itu bisa dipilah-pilah seperti

halnya kedurhakaan, sehingga orang yang bertaubat dari satu dosa belum

dianggap bertaubat dari dosa yang lain, seperti halnya iman dan Islam?

 

Memang taubat itu bisa dipilah-pilah. Sebagaimana cara pelaksana-

annya yang berbeda, porsinya pun juga berbeda. Jika seseorang melakukan

satu kewajiban dan meninggalkan kewajiban lainnya, maka dia mendapat

hukuman berdasarkan kewajiban yang ditinggalkannya dan bukan

dihukum berdasarkan kewajiban yang dilakukannya. Begitu pula jika dia

bertaubat dari satu dosa dan tetap melakukan dosa yang lain. Berarti dia

haras bertaubat dari dosa itu.

 

Ada pula pendapat lain yang mengatakan bahwa taubat adalah satu

perbuatan. Artinya, taubat adalah membebaskan diri dari hal-hal yang

dimurkai Allah, kembali menaati-Nya dan menyesali apa yang telah diper-

buat. Jika taubat itu tidak dikerjakan secara sempurna, maka ia belum

dianggap sah, karena ia merapakan satu bentuk ibadah. Melakukan seba-gian

di antaranya dan meninggalkan sebagian yang lain lagi, sama dengan

melakukan sebagian ibadah wajib dan meninggalkan sebagian yang lain.

 

Ada pula yang berpendapat, setiap dosa mempunyai taubat yang

khusus baginya, atau merupakan kewajiban darinya. Satu taubat tidak

berkaitan dengan taubat lainnya, sebagaimana satu dosa yang tidak ber-

kaitan dengan dosa lainnya.

 

Menurat pendapat saya dalam masalah ini, bahwa taubat itu tidak

dianggap sah dari satu dosa tertentu, jika dosa lain yang sejenis tetap

dikerjakan. Sedangkan taubat dari satu dosa tertentu dianggap sah, se-

kalipun ada dosa lain yang tidak berkait dengannya masih tetap dilaku-

 

 

 

kan. Contohnya, seseorang bertaubat dari dosa riba, tapi belum bertaubat

dari dosa minum khamr atau bahkan tetap melakukannya. Taubatnya dari

riba ini dianggap sah. Tapi jika dia bertaubat dari riba fadhl dan tidak

bertaubat dari riba nasi'ah, atau dia bertaubat dari mengkonsumi ganja

namun tetap meminum khamr, maka taubatnya itu tidak dianggap sah.

Keadaannya seperti bertaubat dari zina dengan seorang wanita, namun dia

tetap berzina dengan wanita lainnya. Ini pada hakikatnya belum bertaubat

dari dosa tersebut. Dia hanya beralih dari satu jenis dosa ke jenis lainnya

yang serupa, berbeda andaikan dia beralih dari satu kedurha-kaan ke

kedurhakaan lain yang tidak serupa.

 

Ketiga:

 

Agar taubat menjadi sah, apakah ada syarat bagi orang yang ber-

taubat untuk tidak kembali lagi melakukan dosa sama sekali, ataukah

tidak ada syarat seperti itu?

 

Sebagian orang mensyaratkan larangan mengerjakan kembali dosa

yang sama. Jika kembali melakukannya secara sengaja, berarti taubatnya

tidak sah. Namun kebanyakan orang tidak mensyaratkan seperti itu. Sah-

nya taubat tergantung kepada pembebasan dirinya dari dosa itu, menye-

salinya dan bertekad untuk tidak melakukannya kembali. Jika permasalah-

annya menyangkut hak manusia, maka apakah disyaratkan pembebasan

hak itu? Masalah ini haras dirinci lebih lanjut. Jika dia kembali melaku-

kannya, padahal dia sudah bertekad untuk tidak melakukannya kembali

saat bertaubat, maka keadaannya seperti orang yang mulai melakukan

kedurhakaan, dan taubat sebelumnya tidak gugur.

 

Permasalahan ini dikembalikan kepada asal-muasalnya, bahwa jika

seorang hamba bertaubat dari suatu dosa, kemudian dia melakukannya

kembali, maka apakah dosa yang telah dimintakan taubat itu kembali lagi,

sehingga dia berhak mendapat siksaan atas dosanya yang pertama dan

yang terakhir, jika dia mati dalam keadaan tetap melakukan dosa itu?

Dengan kata lain, apakah dia harus menanggung seluruh dosanya?

Ataukah dia hanya mendapat siksa atas dosanya yang terakhir?

 

Dalam hal ini ada dua pendapat. Golongan pertama berpendapat,

dosanya yang pertama kembali kepadanya lagi karena taubatnya dianggap

batal. Menurut mereka, karena taubat itu bisa disejajarkan dengan Islam

setelah kufur. Jika orang kafir masuk Islam, maka keislamannya itu

menghapus segala dosa semasa kekufurannya. Namun jika dia murtad,

maka dosanya yang pertama akan kembali lagi kepadanya dan ditambah

dengan dosa murtad. Hal ini seperti yang disebutkan di dalam Ash-Sha-hih,

dari Nabi ShalMlahu Alaihi wa Sallam, beHau bersabda.

 

 

 

"Barangsiapa berbuat kebaikan semasa Islam, maka tidak ada

hukuman yang dijatuhkan kepadanya dari amalnya semasa

Jahiliyah, dan barangsiapa berbuat keburukan semasa Islam, maka

dia mendapat hukuman karena keburukannya yang pertama dan

yang terakhir. "

 

Inilah keadaan orang yang masuk Islam dan berbuat keburukan

setelah dia masuk Islam. Sebagaimana yang diketahui, murtad merupa-kan

keburukan yang paling besar dalam Islam. Jika dia dihukum setelah murtad

dan juga dosanya sewaktu kufur, sementara Islam yang membatasi dua

keadaannya tidak berperan apa-apa, maka begitu pula taubat yang

membatasi antara dua dosa, yang tidak bisa menggugurkan dosa yang

lampau, sebagaimana ia yang juga tidak bisa menggugurkan dosa

berikutnya.

 

Masih menurut mereka, sahnya taubat ini disyaratkan dengan ke-

langsungannya. Sesuatu yang digantungkan kepada syarat akan diang-gap

musnah jika syaratnya musnah, sebagaimana sahnya Islam yang di-

syaratkan dengan kelangsungannya. Jadi taubat merupakan keharusan

sepanjang hayat, sehingga hukumnya juga berlaku sepanjang hayat. Hal ini

ditunjukkan sebuah hadits shaliih, yaitu sabda beliau,

 

^ ^ ^-^ ''j^ jlj]| (JaI (J-<j iS^axA L-iU^I AjIc (^ijuoja

 

"Sesungguh-nya seorang hamba benar-benar mengerjakan amal

penghuni surga, sehingga jarak antara dirinya dan surga itu hanya

sejengkal. Namun dia didahului ketetapan takdir, sehingga dia

mengerjakan amal penghuni neraka, lalu dia pun masuk ke dalam

neraka. "

 

Dalam As-Sunan juga disebutkan sabda beliau, "Sesungguhnya seorang

hamba benar-benar mengerjakan ketaatan kepada Allah selama enam puluh

tahun. Menjelang kematiannya, dia berbuat aniaya dalam wasiatnya,

sehingga dia masuk neraka." Kesudahan yang buruk lebih umum dari

sekedar kesudahan karena kufur atau suatu kedurhakaan, dan amal-amal itu

diukur dari kesudahannya.

 

Apabila ada yang berkata, "Berarti kebaikan terhapus oleh kebu-

rukan", maka ini adalah pendapat golongan Mu'tazilah. Sementara Al-

Qur'an dan As-Sunnah memberitahukan bahwa kebaikanlah yang meng-

hapus keburukan, bukan sebaliknya, seperti firman AUah,

 

 

 

"Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapus (dosa)

perbuatan-perbuatan yang buruk. " (Hud: 114).

 

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada Mu'adz bin Jabal,

 

^jjud^ c3^^ (JjUII t3^^j ^ ^ ^ ^'' AiutaJl Aijjud]! ^\j Clij l-ali^ ^1 i^\

 

"Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada, dan susulilah

keburukan dengan kebaikan, niscaya ia akan menghapusnya, dan

gaulilah manusia dengan akhlak yang baik. "

 

Hal ini bisa dijelaskan, bahwa Al-Qur'an dan As-Sunnah telah mem-

beritahukan timbangan terhadap kebaikan dan keburukan. Sebagian isi

Kitab Allah tidak akan bertentangan atau menggugurkan sebagian yang

lain, dan Al-Qur'an tidak bisa disanggah oleh pendapat golongan

Mu'tazilah. Di dalam Al-Qur'an juga disebutkan tentang amal yang bisa

gugur karena perbuatan tertentu, seperti firman-Nya,

 

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menghilangkan

(pahala) shadaqah kalian dengan menyebut-nyebutnya dan

menyakiti (perasaan si penerima). " (Al-Baqarah: 264).

 

Jika sudah ada kejelasan tentang kaidah syariat, bahwa sebagian

keburukan itu ada yang bisa menggugurkan kebaikan, maka keburukan

melakukan dosa kembali juga bisa menggugurkan kebaikan taubat, yang

membuat taubat itu seakan-akan tidak pernah terjadi. Dengan begitu tidak

ada lagi pembatas di antara dua dosa itu, yaitu dosa pertama dan dosa

yang diulangi lagi.

 

Al-Qur'an, As-Sunnah dan ijma' sudah menjelaskan adanya tim-

bangan. Faidahnya untuk mengetahui mana yang lebih berat timbang-

annya, sehingga pengaruhnya tertuju bagi yang lebih berat dan meng-

abaikan yang lebih ringan. Ibnu Mas'ud berkata, "Pada hari kiamat manu-

sia akan dihisab. Barangsiapa keburukannya lebih banyak daripada ke-

baikannya, walaupun hanya selisih satu saja, maka dia masuk neraka. Ba-

rangsiapa kebaikannya lebih banyak daripada keburukannya, walaupun

selisih satu saja, maka dia masuk surga." Kemudian dia membaca ayat.

 

 

 

"Maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, mereka itulah

orang-orang yang beruntung. Dan, siapa yang ringan timbangan

kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya

sendiri. " (Al-A'raf: 8-9).

 

Kemudian Ibnu Mas'ud berkata lagi, "Timbangan itu bisa menjadi

ringan atau menjadi berat karena amal yang seberat biji-bijian. Barang-

siapa kebaikan dan keburukannya sama, maka dia termasuk penghuni Al-

A'raf (antara surga dan neraka)."

 

Ini artinya, apakah yang kuat akan menghapus yang ringan, se-

hingga seakan-akan yang ringan itu seperti tidak pernah ada sama sekali,

atau kedua belah pihak cukup hanya dengan ditimbang dan kesudahan-

nya diberikan kepada bagian yang lebih berat? Jika kebaikannya lebih

berat, apakah dia mendapat pahala dan tidak disiksa atas keburukan yang

dia lakukan? Atau jika keburukannya lebih berat walau hanya selisih satu

keburukan saja, apakah dia dilemparkan ke dalam neraka?

 

Tentu saja semua ini haras dikembalikan kepada golongan yang

melihat berlakunya alasan dan hikmah. Jika manusia selamat dari syirik

umpamanya, yang merapakan dosa yang tidak diampuni Allah, maka

tidak ada amalnya yang sia-sia dan tidak ada pahalanya yang dikurangi.

Timbangan atas kebaikan dan keburukannya kembali kepada pengaruh

pensucian jiwa, karena masing-masing akan mendapatkan derajat sesuai

dengan amalnya. Sementara tidak ada yang bisa mengetahui kemantap-an

pensucian jiwa yang bisa menyelamatkan orang Mukmin dari siksa kecuali

Allah semata. Dengan jawaban ini, maka beberapa ayatyang menjelaskan

masalah pahala, amal dan timbangan bisa dikompromikan. Tetapi gugurnya

amal mempunyai tanda-tanda yang bisa diketahui orang yang menghisab

dirinya.

 

Sedangkan golongan Jabariyah yang tidak melihat berlakunya alasan,

sebab dan hikmah, pahala dan siksa, menolak semua ini. Karena semua

perbuatan dan perkataan manusia menurut mereka ada di Tangan Allah,

sementara mereka tidak tahu apa yang dikehendaki Allah. Sehing-ga orang

yang lebih banyak kebaikannya pun bisa mendapat siksa dan orang yang

lebih banyak keburukannya pun bisa mendapat pahala.

 

Sedangkan golongan lain berpendapat bahwa dosa pertama tidak

kembali kepada pelakunya karena taubatnya yang batal atau rasak. Sebab

dosa itu sudah diampuni karena taubat, sehingga sama dengan sesuatu

yang belum pemah dikerjakan dan tidak pemah terjadi. Yang kembali

kepadanya adalah dosa setelah taubatnya yang rusak dan bukan yang

sebelumnya. Keabsahan taubatnya tidak disyaratkan dengan adanya

kema'shuman dirinya dari kesalahan hingga akhir hayat. Tapi jika dia

menyesal, melepaskan diri dari dosa yang lalu dan bertekad untuk tidak

 

 

 

mengulanginya lagi, maka dosanya itu dihapuskan. Jika kemudian dia

mengulanginya lagi, maka dosanya terletak pada pengulangan itu. Hal ini

tidak bisa disamakan dengan kufur yang menggugurkan semua amal. Kufur

merapakan kondisi tersendiri yang menghapus semua kebaikan. Sementara

mengulang kembali dosa yang sudah dimintakan taubat tidak

menggugurkan kebaikan-kebaikan yang lampau.

 

Taubat adalah kebaikan yang paling besar. Andaikan kebaikan ini

terhapus oleh dosa yang dilakukan kembali, tentunya semua kebaikan yang

lampau juga ikut terhapus. Tentu saja logika ini tidak bisa diterima, karena

mirip dengan pendapat Khawarij yang menghapus semua dosa, atau mirip

dengan pendapat Mu'tazilah yang menganggap semua pelaku dosa besar

berada di neraka selama-lamanya, sekalipun dia mempunyai sekian banyak

kebaikan. Sementara dua golongan ini tertolak dalam Islam, karena

pendapat-pendapat dua golongan ini bertentangan dengan prinsip keadilan

dan nash. Allah befirman,

 

"Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang pun walau seberat

dzarrah, dan jika ada kebajikan seberat dzarrah, niscaya Allah akan

melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. "

(An-Nisa': 40).

 

Tentang keberlangsungan taubat, maka itu merapakan syarat kesem-

purnaannya, bukan merapakan syarat sahnya taubat untuk dosa yang telah

lampau. Tidak derrakian halnya dengan ibadah-ibadah lain seperti puasa

selama sehari penuh dan bilangan-bilangan rakaat shalat, karena ini

merapakan satu bentuk ibadah tersendiri, yang tidak bisa diterima kecuali

dengan mengikuti semua rukun dan bagian-bagiannya yang sudah baku. Tapi

taubat merapakan ibadah yang bilangannya banyak, tergan-tung dari

banyaknya dosa. Satu dosa mempunyai satu taubat secara khusus.

Perbandingannya, seseorang puasa Ramadhan. Pada suatu hari dia makan

tanpa ada alasan yang diperbolehkan. Apakah hari batalnya puasa ini

menggugurkan pahala hari-hari lain yang diisi dengan puasa? Apakah

orang yang tidak berpuasa menghapuskan pahala shalat fardhu yang

dikerjakannya? Inti permasalahan ini, bahwa taubat adalah suatu kebaikan

sedangkan mengerjakan dosa kembali adalah suatu keburukan.

Pengulangan dosa ini tidak membatalkan kebaikan. Ini lebih dekat dengan

prinsip Ahlus-Sunnah, bahwa seseorang terkadang menjadi orang yang

dicintai Allah dan juga dimurkai-Nya, terkadang di dalam dirinya ada

iman dan juga nifaq, iman dan juga kufur.

 

Keempat:

 

 

 

Jika orang yang durhaka dihalangi dari sebab-sebab kedurhakaan

dan dia dibuat tidak berdaya untuk melakukannya, maka apakah

taubatnya dianggap sah? Gambarannya seperti pendusta, orang yang suka

menuduh dan orang yang memberi kesaksian palsu, yang lidahnya

dipotong, atau pezina yang kemaluannya dikebiri, atau pencuri yang

tangan dan kakinya dilumpuhkan.

 

Ada dua pendapat tentang hal ini. Golongan pertama berpendapat,

bahwa taubatnya dianggap tidak sah. Sebab taubat itu hanya berlaku bagi

orang yang memungkinkan untuk melakukan sesuatu dan

meninggalkannya. Taubat hanya dari orang yang memungkinkan untuk

berbuat dan bukan dari orang yang mustahil berbuat. Jangan

menggambarkan taubat dari orang yang bisa memindahkan sebuah

gunung dari tempat-nya, mampu mengeringkan lautan dan lain-lainnya.

Karena merekayang digambarkan ini layaknya orang yang dipaksa untuk

meninggalkan suatu perbuatan, sehingga taubatnya dianggap tidak sah.

Beberapa nash juga telah menjelaskan bahwa taubat pada saat menjelang

ajal tidak berguna sama sekali, karena itu merupakan taubat dalam

keadaan terpaksa dan terdesak, bukan atas kesukaan hati. Firman Allah,

 

Lfe* UJ^J^. ^ 5^W^ ^^^1 ^jLakj (JJ^ aIII ^_j1c. AjjjII Iaj]

 

"Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-

orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang

kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah

yang diterima Allah taubatnya, dan Allah Maha Mengetahui lagi

Maha Bijaksana. Dan, tidaklah taubat itu diterima Allah dari

orang-orang yang mengerjakan kejaliatan (yang) hingga apabila

datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia

mengatakan, 'Sesungguhnya saya bertaubat sekarang'. Dan, tidak

pula (diterima taubat) orang-orang yang mati, sedang mereka

dalam kekufuran. " (An-Nisa': 17-18).

 

Kejahilan di sini adalah kejahilan amal sekalipun mengetahui

keharamannya. Qatadah berkata, "Para shahabat sepakat bahwa apa pun

bentuk kedurhakaan terhadap Allah adalah kejahilan, sengaja maupun

tidak disengaja dan setiap orang yang durhaka kepada Allah adalah orang

jahil."

 

Sedangkan taubat dengan segera dalam ayat ini menurut Jumhur

mufassirin adalah taubat sebelum melihat kedatangan malaikat yang akan

mencabut nyawanya. Di dalam Al-Musnad dan lainnya, dari Ibnu Umar

 

 

 

Radhiyallahu Anhuma, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau

bersabda,

 

jLjkj a] La AJxll AjjJ (JjIj ^I ^j

 

"Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba selagi ajal belum

menghampirinya. "

 

Selagi ajal sudah di depan mata, lalu dia menyatakan taubat, maka

taubatnya itu tidak diterima, karena ini merupakan taubat yang terpaksa.

Di samping itu, hakikat taubat adalah menahan hati dari perbuatan yang

berkaitan dengan larangan. Menahan di sini haras berasal dari uras-an

yang memang bisa dikerjakan. Tapi untuk sesuatu yang mustahil bisa

dikerjakan, maka bagaimana mungkin menahan hati darinya?

 

Pendapat kedua, dan ini yang benar, bahwa taubatnya tetap sah dan

dianggap mungkin, bahkan nyata, sebab rukun-rukun taubat sudah

terpenuhi di dalamnya. Yang bisa dilakukan dalam hal ini adalah

penyesalan. Di dalam Musnad disebutkan secara marfu', "Penyesalan itu

sama dengan taubat." Bagaimana mungkin taubat dicabut darinya,

padahal dia sangat menyesali dosanya? Apalagi jika penyesalan ini

disertai dengan tangis, kesedihan, ketakutan dan tekad yang bulat, dengan

disertai niat, bahwa jika dia dalam keadaan sehat dan mampu, tidak akan

mengerjakannya lagi.

 

RasuluUah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menempatkan orang

yang tidak mampu melakukan suatu ketaatan, sama dengan orang yang

melakukannya, yaitu jika niatnya benar dan bulat. Beliau bersabda, "Se-

sungguhnya di Madinah ada beberapa orang. Tidaklah kalian melewati

suatu jalan dan tidaklah kahan melintasi suatu lembah, melainkan mere-

kabeserta kalian."

 

Para shahabat bertanya, "Sementara mereka ada di Madinah?"

 

Beliau menjawab, "Ya, mereka berada di Madinah. Mereka tertahan

halangan."

 

Orang yang memang tak mampu melakukan kedurhakaan dan me-

ninggalkannya dalam keadaan terpaksa, dengan disertai niat untuk me-

ninggalkannya atas inisiatif hatinya, maka kedudukannya sama dengan

orang yang meninggalkannya secara sengaja dan atas inisiatif hatinya.

 

Perbedaan keadaan ini dengan orang yang melihat ajal di depan

matanya atau ketika kiamat sudah tiba, bahwa taklif (keharasan

mengerjakan kewajiban) sudah terputus pada saat ajal di depan mata.

Taubat berlaku hanya pada masa taklif. Orang yang lemah itu belum

 

 

 

terputus dari taklif, berarti perintah dan larangan masih berlaku bagi

dirinya.

 

Kelima:

 

Jika dosa yang dilakukan berkaitan dengan hak orang lain, yang

berkaitan dengan hak harta atau tindak kejahatan terhadap badan, maka

dia harus memenuhi hak orang itu dan meminta pembebasan diri dari

kesalahan setelah memberitahukannya, seperti yang diriwayatkan dari

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda,

 

"Barangsiapa berbuat zhalim terhadap harta atau kehormatan sauda-

ranya, maka hendaklah dia membebaskan dirinya (dengan membayar

tebusan) pada hari ini pula, sebelum (datang hari dimana) dinar dan

dirham tidak ada artinya, selain kebaikan dan keburukan. "

 

Jika kezhaliman itu berupa ghibah, cacian atau tuduhan, maka apa-

kah dalam taubatnya itu disyaratkan agar dia memberitahukan bentuk

ghibahnya itu dan meminta ampunannya agar dia terbebas dari dosa itu?

Ataukah dia cukup memberitahukan bahwa dia telah melanggar kehor-

matannya dan tidak perlu menyebutkan bentuknya secara rinci? Ataukah

tidak ada syarat seperti dua gambaran ini, tapi dia cukup meminta

ampunan bagi dosa saudaranya dan dosa dirinya, tanpa memberitahukan

bahwa dia telah menuduh atau mengghibahnya?

 

Pendapat yang dikenal di dalam madzhab Asy-Syafi'y dan Abu Hani-

fah serta Malik, disyaratkan memberitahukannya dan pembebasan dirinya.

Begitu pula yang disebutkan rekan-rekan mereka di dalam buku-bukunya.

Mereka berhujjah, bahwa dosa itu berkaitan dengan hak manu-sia,

sehingga belum dianggap gugur kecuali setelah ada pembebasan darinya.

Mereka berhujjah dengan hadits di atas. Masih menurut mereka, bahwa

kejahatan ini berkaitan dengan dua hak, yaitu hak AUah dan hak manusia.

Meminta kebebasan kejahatannya dari orang yang dijahati untuk

memenuhi haknya, dan penyesalan atas kejahatannya untuk me-menuhi

hak Allah. Maka dari itu taubatnya seorang pembunuh belum dianggap

sempurna kecuali adanya ketetapan dari wall korban terhadap nasib

dirinya. Jika menghendaki, wall korban bisa menuntut balas darah dengan

pelaksanaan qishash, dan jika menghendaki bisa memaafkan-nya. Begitu

pula taubatnya orang yang memotong tangan orang lain.

 

Pendapat lain, bahwa tidak ada syarat untuk memberitahukan tu-

duhan dan ghibahnya kepada orang yang dighibah. Tapi taubatnya cukup

dengan memohon ampunan kepada Allah bagi dosanya, lalu dia harus

 

 

 

membela orang yang dighibahnya dan mengatakan kebalikan dari ghibahnya

di tempat-tempat dimana dia telah mengghibah. Sebagai contoh, dia

mengganti ghibahnya dengan pujian dan menyebut kebaikan-kebaikan-

nya, lalu memintakan ampunan bagi orang yang dighibahnya itu. Pendapat

ini juga merupakan pilihan Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah.

 

Golongan ini berhujjah, karena dengan memberitahukan ghibahnya

justru hanya akan mendatangkan kerusakan, sama sekali tidak menjamin

adanya kemaslahatan, semakin menambah sakit hati dan suasana menjadi

kerah. Padahal hatinya tenang sebelum mendengar pemberitahuannya.

Bahkan setelah mendengarnya, ada kemungkinan dia tidak mampu

menguasai diri lalu bisa menimbulkan tindak kekerasan terhadap fisik atau

bahkan pembunuhan. Hal ini tentu berlawanan dengan maksud pembawa

syariat yang hendak menyatukan hati manusia, agar mereka saling

menyayangi, mencintai dan mengasihi.

 

Memang hal ini berbeda dengan hak-hak material dan tindak keja-

hatan fisik, yang bisa dilihat dari dua pertimbangan:

 

1. Korban bisa memanfaatkan harta, jika harta itu dikembalikan kepada-

nya, dan hal ini juga tidak boleh ditutup-tutupi, karena harta itu mut-lak

menjadi miliknya, sehingga orang yang mengambilnya harus

mengembalikannya. Berbeda dengan ghibah dan tuduhan, yang sama

sekali tidak ada manfaat secara langsung yang bisa dinikmati korban.

Akibatnya hanya akan menambah sakit hati.

 

2. Jika orang yang mengambil harta orang lain memberitahukan per-

buatannya, tidak akan menyakiti hati korban, tidak memancing ama-

rahnya atau menimbulkan permusuhan, bahkan sebaliknya, akan

membuatnya senang dan gembira. Hal ini berbeda dengan pemberita-

huan pelaku, bahwa dia telah mengoyak kehormatannya, mengghibah

dan menuduhnya dengan berbagai macam tuduhan. Kalaupun dua hal

ini dibandingkan, maka ini merupakan perbandingan yang tidak setara

dan rusak.

 

Keenam:

 

Jika seorang hamba sudah bertaubat dari suatu dosa, maka apakah

keadaannya kembali ke derajat sebelum dia melakukan dosa itu ataukah

tidak bisa kembali seperti semula? Ada perbedaan pendapat mengenai

masalah ini.

 

Ada yang berpendapat, dia kembali ke derajatnya semula, karena

taubat itu memangkas dosanya secara keseluruhan dan menjadikan dirinya

seakan-akan dosa itu tidak pernah ada. Maka iman dan amal shahhnya

kembali ke derajat semula karena taubat. Alasannya menurut mereka, karena

taubat itu kebaikan yang besar dan amal yang shalih. Jika dosa pernah

 

 

 

menyingkirkan dirinya dari derajatnya semula, maka kebaikan-nya dengan

bertaubat itu telah mengembalikan derajatnya. Hal ini seperti orang yang

jatuh ke dalam sumur, lalu saudara kandungnya menjulurkan tali ke dalam

sumur dan menariknya ke atas, ke tempatnya semula. Begitu pula taubat dan

amal shalih yang bisa diibaratkan saudara se-kandung dan pasangan yang

serasi.

 

Ada pula yang berpendapat, dia tidak bisa kembaU ke derajat dan

keadaannya semula sebelum melakukan dosa, karena dia masih dalam

posisi berhenti, yang semestinya dia naik ke atas. Dengan adanya dosa,

berarti dia dalam posisi turun ke bawah. Jika bertaubat, maka dia dalam

posisi siap naik ke atas lagi. Perumpamaan keadaan ini seperti dua orang

yang sama-sama melewati satu jalan dengan cara yang sama dan berjejer.

Salah seorang ada penghalang atau ada sesuatu yang membuatnya meng-

hentikan perjalanan, sementara satunya lagi meneruskan perjalanan. Jika

orang pertama berjalan lagi mengikuti jejak temannya, tentu dia tidak

akan mampu menyusulnya. Orang pertama berjalan dengan kekuatan

amal dan imannya. Kekuatannya semakin bertambah selagi perjalanan-

nya terus bertambah. Sementara orang kedua yang menghentikan perja-

lanan, kekuatannya bisa melemah karena dia berhenti.

 

Saya pernah mendengar Ibnu Taimiyah mengisahkan perbedaan ini,

dan dia berkata, "Yang benar, di antara orang-orang yang bertaubat ada

yang tidak bisa kembali ke derajatnya semula, ada pula yang bisa kembali

ke derajatnya semula, dan ada pula yang justru kembali ke derajat yang lebih

tinggi lagi, sehingga dia menjadi lebih baik daripada keadaan-nya sebelum

melakukan dosa, seperti halnya Nabi Daud yang menjadi lebih baik dari

keadaan beliau sebelum melakukan kesalahan, setelah bertaubat. Tentu

saja hal ini kembali ke keadaan orang yang bertaubat setelah dia

menyatakan taubat, kesungguhan, tekad dan kewaspadaan-nya. Jika

taubatnya lebih sungguh-sungguh dan keadaannya lebih baik, maka dia

menjadi lebih baik daripada keadaan sebelumnya dan derajatnya lebih

tinggi. Jika keadaannya sama dengan sebelumnya, berarti derajatnya juga

sama."

 

Antara Orang Taat Yang Tidak Pernah Durhaka dan Orang

Durhaka Yang Melakukan Taubatan Nashuhan

 

Dari sini pula dapat diketahui satu masalah yang cukup penting,

apakah orang taat yang tidak pernah durhaka lebih baik daripada orang

durhaka yang bertaubat kepada Allah dengan taubatan nashuhan? Atau-kah

orang yang bertaubat itu yang lebih baik?

 

Ada perbedaan pendapat dalam masalah ini. Ada golongan orang

yang menegaskan bahwa orang yang tidak pernah durhaka lebih baik

 

 

 

daripada orang durhaka yang melakukan taubatan nashuhan (taubat

dengan sebenar-benarnya). Mereka mengemukakan beberapa hujjah:

 

1. Hamba yang paling sempurna dan utama ialah yang paling taat kepada

AUah. Orang yang tidak pemah durhaka berarti orang yang paling taat,

sehingga dia menjadi orang yang paling utama.

 

2. Pada saat orang durhaka sibuk dengan kedurhakaannya, maka orang

yang taat menempuh beberapa tahapan menuju ke atas, sehingga

derajatnya lebih tinggi. Taruklah bahwa orang yang durhaka itu ber-

taubat lalu menyusul perjalanannya. Tapi mana mungkin dia dapat

menyusulnya, karena sebelumnya dia sudah berhenti?

 

3. Maksud taubat adalah untuk menghapus kesalahan-kesalahannya, lalu

setelah itu dia seperti tidak pernah melakukan kesalahan itu. Perbuat-

annya pada masa kedurhakaan tidak mendatangkan keberuntungan dan

tidak pula hukuman baginya. Lalu bagaimana jika keadaannya ini

dibandingkan dengan orang yang berusaha dan mendapat keberun-

tungan?

 

4. Allah membenci kedurhakaan terhadap-Nya dan menyalahi perintah-

Nya. Pada waktu dia melakukan dosa ini, maka dia mendapat keben-

cian dari Allah. Sementara orang yang taat mendapat keridhaan dan

Allah senantiasa ridha kepadanya. Maka tidak dapat diragukan bahwa

keadaan orang kedua ini lebih baik daripada keadaan orang yang di-

ridhai Allah, lalu dimurkai, lalu diridhai. Ridha yang berkelanjutan

lebih baik daripada ridha yang berselang-seling.

 

5. Dosa itu bisa diibaratkan minum racun, sedangkan taubat merupakan

penawar dan obatnya. Sementara ketaatan bisa diibaratkan kesehatan.

Terus-menerus dalam keadaan sehat tentu lebih baik daripada keadaan

sehat yang diseUngi dengan sakit karena sakit atau racun yang masuk,

lalu sembuh dan sehat kembali.

 

6. Orang yang durhaka dalam keadaan gawat dan terancam bahaya, yang

keadaannya tidak lepas dari tiga hal: Mati karena minum racun, kekuat-

annya berkurang dan melemah kalau memang tidak mati, dan kekuat-

annya kembali seperti semula, atau lebih lemah atau lebih baik.

 

7. Orang yang taat berada dalam sebuah kebun yang dikelihngi ketaat-

annya, sehingga membentuk pagar yang kokoh bagi dirinya, dan musuh

pun tidak mampu menyusup ke sana. Tumbuh-tumbuhannya segar dan

buahnya lebat.

 

8. Musuh tamak kepada orang yang durhaka, karena kelemahan ilmu dan

tekadnya, karena itu dia disebut orang jahil.

 

9. Kedurhakaan pasti menimbulkan pengaruh yang kurang baik, entah

berupa kehancuran total, penyesalan atau pun siksaan, dan kesudah-

annya bisa berupa ampunan dan masuk ke surga. Orang yang bertau-bat

haras membebaskan pengaruh ini dan menebus kesalahannya,

sedangkan orang yang taat tinggal menambah dan meninggikan dera-

jatnya. Maka shalat malam yang dilakukan Nabi Shallallahu Alaihi wa

 

 

 

Sallam beraianfaat untuk meninggikan derajat beliau, sedangkan shalat

malam yang dilakukan selain beliau untuk menebus kesalahan. Dua

keadaan ini saja tidak bisa disetarakan.

 

lO.Orang taat kepada Allah berjalan dengan selurah amalnya. Selagi ke

taatan dan amalnya bertambah, maka bertambah pula usaha ketaat-

annya. Dia bisa diibaratkan pedagang yang melancong dan berusaha

untuk mendapatkan keuntungan sepuluh kali lipat dari modalnya.

Lalu dia melancong lagi dengan membawa modal pertama dan ditam-

bah keuntungannya, sehingga dia mendapatkan keuntungan sepuluh

kali lipat lagi. Begitu seterusnya dalam perjalanan ketiga kalinya, de

ngan keuntungan yang berlipat-Upat. Apabila sekali saja dia tidak meng-

adakan perjalanan, maka dia tidak akan mendapatkan keuntungan

seperti yang dia dapatkan dalam satu kali perjalanannya, atau bahkan

lebih. Inilah makna yang tersirat di dalam perkataan Al-Junaid Rahi-

mahuUah, "Jika orang yang beribadah menghadap secara tulus kepa

da Allah selama seribu tahun, kemudian dia berpaling sesaat saja, maka

pahala yang terlepas darinya lebih banyak daripada apa yang didapat-

kannya."

 

Ada golongan lain yang mengatakan bahwa orang yang bertaubat

dengan taubatan nashuhan lebih baik daripada orang yang belum pernah

melakukan kedurhakaan, sekalipun mereka tidak mengingkari keadaan

orang kedua yang lebih banyak kebaikannya. Mereka mengemukakan

beberapa alasan:

 

1. Taubat merupakan ubudiyah yang paling dicintai Allah dan paling

mulia, Allah mencintai orang-orang yang bertaubat. Andaikan taubat

bukan merupakan sesuatu paling Dia cintai, tentunya Dia tidak akan

menguji hamba dengan dosa. Karena kecintaan-Nya kepada taubat

hamba, maka Dia mengujinya dengan dosa, agar hamba itu melakukan

sesuatu yang paling dicintai-Nya, yaitu taubat. Sebagai tambahan atas

kecintaan-Nya kepada hamba, maka orang-orang yang bertaubat

mendapatkan kecintaan secara khusus di sisi-Nya.

 

2. Taubat mempunyai tempat tersendiri di sisi Allah, yang tidak dimiliki

ketaatan-ketaatan lainnya. Karena itu Allah amat gembira melihat

taubat hamba-Nya. Kegembiraan Allah itu dimisalkan RasuluUah Shal-

lallahu Alaihi wa Sallam dengan kegembiraan seorang musafir yang

mendapatkan kembali onta yang membawa seluruh bekalnya, di suatu

tempat yang ganas dan kering, setelah onta itu lepas entah kemana, dan

orang itu sudah putus asa untuk bisa bertahan hidup di tempat itu.

Kegembiraan ini tidak ditampakkan terhadap satu ketaatan pun kecuali

terhadap taubat. Tentu saja kegembiraan AUah ini mempunyai pengaruh

yang amat kuat di dalam hati orang yang bertaubat. Sehing-ga orang

yang bertaubat mendapatkan kecintaan Allah, yang berarti dia menjadi

kekasih Allah.

 

 

 

3. Di dalam taubat terkandung kehinaan, kehancuran hati, kehampaan,

ketundukan dan kebergantungan kepada Allah, suatu sikap yang lebih

dicintai Allah daripada sekian banyak amal-amal zhahir, sekalipun

takaran dan porsinya lebih banyak daripada ubudiyah taubat. Sebab

menghinakan diri merupakan ruh ibadah dan intinya.

 

4. Tingkatan menghinakan diri bagi orang yang bertaubat lebih sempur-na

daripada tingkatan-tingkatan ubudiyah lainnya, karena dia masih bisa

melakukan apa yang dilakukan orang lain, sementara dia memi-liki

keistimewaan dengan menghinakan diri dan merasakan hatinya yang

hampa. Allah lebih dekat dengan hamba-Nya saat dia menghinakan

diri.

 

5. Terkadang dosa justru lebih bermanfaat bagi hamba selagi disertai

dengan taubat daripada berbagai macam ketaatan. Inilah makna

perkataan sebagian orang salaf, "Adakalanya seorang hamba berbuat

dosa lalu masuk surga, dan adakalanya seorang hamba melakukan

ketaatan lalu masuk neraka."

 

Orang -orang bertanya, "Bagaimana itu bisa terjadi?" Dia menjawab,

"Dia berbuat dosa, dan dosa itu selalu tampak di depan matanya. Jika

berdiri, duduk dan berjalan dia selalu teringat dosanya itu lalu membuat

hatinya terasa hancur, bertaubat, menyesal dan memohon ampunan,

sehingga yang demikian ini menjadi sebab keselamatannya. Dia

berbuat kebaikan dan kebaikannya itu selalu tampak di depan matanya.

Jika berdiri, duduk dan berjalan dia selalu teringat kebaikannya itu,

sehingga membuatnya takabur, ujub dan merasa telah mendapat karunia,

sehingga yang demikian ini menjadi sebab kebinasaannya."

 

Jika Allah menghendaki suatu kebaikan pada seorang hamba, maka Dia

memberinya dosa yang membuat hatinya hancur, kepalanya merunduk,

tidak ujub dan tidak takabur, sehingga dosa ini lebih ber-manfaat

daripada sekian banyak ketaatan. Taubatnya ini bisa diumpa-makan obat

yang diminum untuk mengeluarkan seluruh penyakit di dalam tubuh.

 

6. Ada kabar gembira yang disampaikan AUah kepada orang-orang yang

bertaubat, jika taubatnya itu disertai dengan iman dan amal shalih,

sebagaimana firman-Nya,

 

"Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal

shalih, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan,

Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. " (Al-Furqan: 70).

 

Ibnu Abbas berkata, " Aku tidak pemah melihat Nabi Shallallahu Alaihi wa

Sallam menunjukkan kegembiraan karena sesuatu seperti kegembiraan

 

 

 

beliau saat ayat ini turan, begitu pula saat surat Al-Fath turan." Orang-

orang berbeda pendapat tentang sifat penggantian ini, apakah hal itu

berlaku di dunia ataukah di akhirat? Menurut Ibnu Abbas dan rekan-

rekannya, keburukan amal mereka diganti dengan kebaikan, syirik

diganti dengan iman, zina diganti dengan menjaga kehormat-annya,

dusta diganti dengan kejujuran, khianat diganti dengan amanat.

Berdasarkan makna ayat ini, sifat-sifat dan amal-amal mereka yang

buruk diganti dengan sifat dan amal yang shalih, sebagaimana sakit

yang diganti dengan kesehatan.

 

Sedangkan menurut Sa'id bin Al-Musayyab dan lain-lainnya dari

kalangan tabi'in, maksudnya Allah mengganti keburukan yang mereka

lakukan di dunia dengan kebaikan di akhirat, Dia memberi tempat bagi

setiap keburukan dengan kebaikan.

 

7. Dengan penyesalannya, orang yang bertaubat mengganti setiap

keburukannya dengan kebaikan. Penyesalan ini merupakan wujud taubat

dari keburukan itu. Taubat dari segala dosa adalah kebaikan. Sehingga

setiap dosa yang dilakukan akan hilang dengan adanya taubat, karena

tempatnya diganti dengan kebaikan. Berdasarkan logika seperti ini,

porsi kebaikan itu akan menjadi sama dengan keburukan, lebih sedikit

atau lebih banyak. Ini tergantung dari bobot taubat dan ketulusan hati

orang yang bertaubat. Inilah rahasia masalah taubat dan sentuhannya

yang halus.

 

8. Dosa orang yang diakui pelakunya bisa menimbulkan kebaikan yang

lebih besar, lebih banyak, lebih bermanfaat dan lebih mendatangkan

kecintaan Allah daripada dosa itu sendiri. Sampai-sampai syetan berkata,

"Andaikan saja aku tidak pernah menyeretnya untuk melakukan dosa

itu." Syetan merasa menyesal karena mendorong dan menyeret orang

itu untuk melakukan dosa, seperti penyesalan pelakunya karena telah

melakukan dosa itu. Tetapi dua penyesalan ini jauh berbeda. Allah

menyukai hamba-Nya karena telah memancing amarah musuh-Nya,

sementara hamba itu juga mendapatkan sesuatu yang dicintai Allah,

yaitu taubat, apalagi jika taubat itu disertai dengan tambahan amal

shalih, sehingga satu keburukan berubah menjadi satu kebaikan dan

bahkan banyak kebaikan.

 

Perhatikanlah firman AUah, "Maka kejahatan-kejahatan mereka di-ganti

Allah dengan kebaikan-kebaikan". Allah tidak mengatakan satu bilangan

keburukan dan kebaikan, tetapi banyak. Ini bisa berarti satu keburukan

diganti dengan banyak kebaikan, tergantung dari kondisinya.

 

Taubat Menurut Al-Qur'an dan Kaitan Taubat dengan

Istighfar

 

 

 

Banyak orang yang menafsiri taubat dengan tekad untuk tidak

kembali mengulangi dosa, melepaskan diri darinya seketika itu pula dan

menyesali apa yang telah dilakukannya di masa lampau. Jika dosa itu

berkaitan dengan hak seseorang, maka dibutuhkan cara lain, yaitu mem-

bebaskan diri dari dosa itu.

 

Inilah yang mereka sebut dengan taubat, dan bahkan itulah syarat-

syaratnya. Sementara taubat menurut penyampaian Allah dan Rasul-Nya, di

samping meliputi hal-hal itu, juga meliputi tekad untuk melaksana-kan

apa yang diperintahkan dan mengikutinya. Jadi, taubat tidak sebatas

membebaskan diri dari dosa, tekad dan menyesal, yang kemudian dia

disebut orang yang bertaubat, sehingga dia mempunyai tekad yang bulat

untuk mengerjakan apa yang diperintahkan dan mengikutinya. Inilah

hakikat taubat, suatu istilah yang memadukan beberapa hal dari dua

perkara ini. Tapi kalau istilah taubat ini disertakan dengan pelaksanaan

apa yang diperintahkan, memang merupakan ungkapan seperti yang

mereka sebutkan itu. Namun jika disendirikan, maka secara otomatis dia

akan meliputi dua perkara ini. Seperti lafazh "Taqwa", yang jika disendirikan

mengandung pengertian mengerjakan apa yang diperintahkan Allah dan

meninggalkan apa yang dilarang-Nya. Jika disertakan kepada pelaksanaan

apa yang diperintahkan, maka artinya bisa menahan diri dari apa yang

dilarang.

 

Hakikat taubat adalah kembah kepada Allah dengan mengerjakan

apa-apa yang dicintai-Nya dan meninggalkan apa-apa yang dibenci-Nya,

atau kembali dari sesuatu yang dibenci kepada sesuatu yang dicintai.

Kembali kepada apa yang dicintai merupakan bagian dari kelazimannya

dan kembali dari apa yang dibenci merupakan bagian yang lain. Karena itu

Allah mengaitkan keberuntungan yang mutlak dengan pelaksanaan apa

yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang. Firman-Nya,

 

"Dan, bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hoi orang-orang yang

beriman, supaya kalian beruntung. " (An-Nur: 3 1).

 

Setiap orang yang bertaubat adalah orang yang beruntung.

Seseorang tak akan beruntung kecuali dengan mengerjakan apa yang

diperin-tahkan dan meninggalkan apa yang dilarang. Firman-Nya,

 

 

 

rjjAu\\ -A t!lj]jti Luj kl (jAj

 

 

 

"Dan, barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-

orang yang zhalim. " (Al-Hujurat: 11).

 

 

 

Orang yang meninggalkan apa yang diperintahkan dan mengerjakan

apa yang dilarang adalah orang zhalim. Untuk menghilangkan sebutan

zhalim ini, hanya bisa dilakukan dengan taubat, yang menghimpun dua

perkara sekaligus. Karena manusia itu ada dua macam: Orang yang

bertaubat dan orang yang zhalim. Tidak ada yang lain. Orang-orang yang

bertaubat adalah mereka yang disifati Allah,

 

(jj^)^V' (jj-^'-j'j"' uj*^'jr' uj 3 u J '', uj-^*-*^'

 

"Yang beribadah, yang memuji (Allah), yang melawat, yang ruku', yang

sujud, yang menyuruh beri>uat ma'ruf dan mencegah berbuat mungkar

dan yang memelihara hukum-hukum Allah " (At-Taubah: 1 12).

 

Memelihara hukum-hukum Allah merupakan bagian dari taubat.

Jadi taubat merupakan kumpulan dari perkara-perkara ini. Seseorang di-

sebut orang yang bertaubat, karena dia kembali kepada perintah AUah dari

larangan-Nya, kembah kepada ketaatan dari kedurhakaan kepada-Nya. Jadi

taubat merupakan hakikat Islam, dan semua unsur Islam masuk dalam

istilah taubat. Karena itu orang yang bertaubat layak menjadi kekasih

AUah, karena Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan juga orang-

orang yang mensucikan diri. Allah suka jika perintah-Nya dilaksanakan

dan larangan-Nya ditinggalkan. Jika taubat juga disebut kembali dari apa yang

dibenci Allah secara lahir dan batin kepada apa yang dicintai Allah secara

lahir dan batin, berarti di dalamnya terkandung istilah Islam, iman dan ihsan.

Inilah yang menjadi tujuan setiap orang Mukmin, permulaan dan

kesudahan hidupnya. Banyak orang yang tidak mengetahui porsi taubat

dan hakikatnya, terlebih lagi pengamalannya berdasarkan ilmu dan

kondisinya. Karena AUah memberikan kecintaan-Nya kepada orang-orang

yang bertaubat, berarti mereka adalah orang-orang yang khusus di sisi-

Nya.

 

Istighfar ada dua macam: Istighfar yang berdiri sendiri dan istigh-far

yang dikaitkan dengan taubat. Istighfar yang berdiri sendiri seperti

perkatan Nuh Alaihis-Salam atau perkataan ShaUh Alaihis-Salam kepada

kaumnya, atau seperti firman Allah,

 

 

 

a1]I f-,1 aHi

 

 

 

*4 **

 

 

 

"Dan, mohonlah ampun kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Peng-

ampun lagi Maha Penyayang. " (Al-Baqarah: 199).

 

Istighfar yang dikaitkan dengan taubat, seperti firman Allah,

 

 

 

"Hendaklah kalian meminta ampun kepada Rabb kalian dan bertaubat

kepada-Nya. (Jika kalian mengerjakan yang dermkian}, niscaya Dia akan

memberi keniktnatan yang bdk (terus-menerus) kepada kalian sampai

kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-

tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) ke-utamaannya. "

(Hud: 3).

 

Istighfar yang berdiri sendiri seperti taubat, dan bahkan istighfar itu

sendiri adalah taubat, yang berarti menghapus dosa, menghilangkan

pengarahnya dan mengenyahkan kejahatannya, tidak seperti yang dikira

sebagian orang, bahwa artinya adalah menutupi aib. Toh Allah menutupi

alb orang yang diberi-Nya ampunan atau yang tidak diberi-Nya ampunan.

Penutupan aib hanya sekedar kelaziman dari maknanya atau sebagian di

antaranya. Istighfar inilah yang mencegah turunnya adzab, sebagaimana

firman-Nya,

 

 

 

(jj^)a.ir_luLi (sAj ~^,^ '''* ^ '^l (jl-^ l-aj

 

 

 

"Dan, tidaklah Allah akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta

ampun. " (Al-Anfal: 33).

 

Allah tidak akan mengadzab orang yang meminta ampunan.

Sedangkan orang yang masih tetap berbuat dosa, namun dia juga meminta

ampun kepada AUah, maka hal ini tidak bisa disebut istighfar yang mur-ni.

Karena itu, istighfamya tidak mampu mencegah adzab. Istighfar men-cakup

taubat dan taubat mencakup istighfar, masing-masing masuk dalam

pengertian yang lain. Jika keduanya disertakan, maka makna istighfar

adalah menjaga dari kejahatan yang lampau, sedangkan makna taubat

adalah kembali dan mencari penjagaan dari sesuatu yang ditakutinya di

masa mendatang, berupa keburukan-keburukan amalnya. Ada dua macam

dosa, yaitu dosa yang telah lampau dan dosa yang dikhawatirkan akan

terjadi di masa mendatang. Istighfar dari dosa yang telah lampau berarti

mencari perlindungan dari kejahatannya, dan taubat dari dosa yang dikha-

watirkan akan terjadi berarti bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.

Orang yang berdosa diibaratkan orang yang melewati suatu jalan, padahal

jalan ini akan membawanya kepada kehancuran dan tidak meng-

hantarkannya ke tujuan. Maka dia diperintahkan untuk menghentikan

langkah kakinya, meninggalkan jalan itu dan kembali ke jalan yang

membawanya kepada keselamatan dan menghantarkannya ke tujuan.

 

Dari sinilah bisa diketahui secara jelas masalah taubatan nashuhan dan

hakikatnya, seperti firman Allah,

 

 

 

"//fl/ orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat

yang semumi-muminya, mudah-mudahan Rabb kalian akan menghapus

kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga

yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. " (At-Tahrim: 8).

 

An-Nashuh dalam taubat dan ibadah artinya membersihkannya dari

kebohongan, kekurangan dan kerusakan serta mengerjakannya sesem-

puma mungkin. An-Nashuh kebalikan dari tipuan. Orang-orang salaf saling

berbeda dalam mendefinisikannya. Umar bin Al-Khaththab dan Ubay bin

Ka'b Radhiyallahu Anhuma berkata, 'At-Taubatun-nashuh artinya taubat

dari suatu dosa dan pelakunya tidak mengulanginya lagi, sebagaimana air

susu yang tidak bisa kembali ke kantong kelenjarnya."

 

Al-Hasan Al-Bashry berkata, "Artinya, seorang hamba menyesali apa

yang dilakukannya di masa lampau dan bertekad untuk tidak mengu-

langinya lagi."

 

Al-Kalby berkata, "Artinya, seorang hamba harus memohon ampun

dengan lidahnya, menyesal dengan hatinya dan menahan diri dengan

anggota tubuhnya."

 

Sa'id bin Al-Musayyab berkata, "Artinya, kalian harus jujur terhadap

diri sendiri. "

 

Muhammad bin Ka'b Al-Qarzhy berkata, "Artinya, seorang hamba

harus menghimpun empat perkara: Istighfar dengan Udah, membebaskan

diri dengan anggota badan, tekad untuk tidak mengulang lagi dengan hati

dan menjauhi teman-teman yang masih melakukannya."

 

Menurut pendapat saya, at-taubatan-nashuh harus mencakup tiga

perkara:

 

1. Mencakup segala macam dosa yang pernah dilakukan, sehingga tidak

ada satu dosa pun melainkan sudah tercakup di dalamnya.

 

2. Membulatkan tekad dan kemantapan hati secara menyeluruh, sehingga

tidak ada lagi keragu-raguan dan penangguhan. Kehendak dan tekadnya

harus dibulatkan seketika itu pula.

 

3. Membebaskan taubat itu dari kekeruhan dan alasan-alasan tertentu

yang bisa mengotori keikhlasannya, hati didorong untuk takut kepada

AUah semata dan mengharap apa yang ada di sisi-Nya, tidak seperti orang

yang bertaubat karena hendak menjaga kedudukan, pangkat dan harga

dirinya, meUndungi kekuasaan, kekuatan dan hartanya, agar dipuji orang

dan tidak dicela.

 

 

 

Yang pertama berkaitan dengan dosa yang dimintakan taubat. Yang

kedua berkaitan dengan hati orang yang bertaubat dan jiwanya. Yang

ketiga berkaitan dengan diri orang yang bertaubat.

 

Ada perbedaan antara menghapus kesalahan dan mengampuni dosa.

Di dalam Kitab Allah hal ini disebutkan secara berurutan, dan ada pula yang

disebutkan secara sendiri-sendiri. Yang disebutkan secara berurutan seperti

firman Allah yang mengisahkan hamba-hamba-Nya yang Mukmin,

 

"Wahai Rabb kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapus-

kanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami

beserta orang-orang yang berbakd. " (AU Imran: 193).

 

Yang disebutkan secara sendirian seperti firman-Nya,

 

"Dan, orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan mengerjakan amal-

amal yang shalih serta beriman (pula) kepada apa yang diturunkan

kepada Muhammad dan itulah yang hak dan Rabb mereka, Allah meng-

hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan

mereka. " (Muhammad: 2).

 

Firman Allah tentang maghfirah (ampunan),

 

"Dan, mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan

dan ampunan dari Rabb mereka. " (Muhammad: 15).

 

Di sini disebutkan empat perkara: Dosa, kesalahan, ampunan dan

penghapusan.

 

Dosa maksudnya adalah dosa besar. Kesalahan maksudnya adalah

dosa kecil, yang cukup hanya dengan dihapuskan. Sementara pengha-

pusan ini tidak efektif untuk dosa besar, seperti menghapus dosa mem-

bunuh secara sengaja dan sumpah palsu. Inilah daUl bahwa maksud kesa-

lahan di sini adalah dosa kecil dan penghapusannya.

 

 

 

"Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dila-

rang kalian mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan

kalian dan Kami masukkan kalian ke tempat yang mulia (surga). " ( An-

Nisa': 31).

 

Disebutkan di dalam Shahih Muslim, dari hadits Abu Hurairah Radhi-

yallahu Anhu, bahwa RasuluUah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

 

"Shalat-shalat lima waktu, Jum'at ke Jum'at dan Ramadhan ke Rama-

dhan menghapus kesalahan-kesalahan di antara keduanya selagi dosa-

dosa besar dijauhi. "

 

Lafazh "maghfirah" (ampunan) lebih sempurna daripada lafazh "tak-

fir" (penghapusan), karena itu maghfirah berlaku untuk dosa-dosa besar

dan penghapusan berlaku untuk dosa-dosa kecil. Maghfirah mencakup

pemeliharaan dan penjagaan, sedangkan takfiir mencakup penutupan aib

dan pengenyahannya. Namun jika disebutkan secara sendirian, maka

masing-masing bisa masuk ke dalam pengertian yang lain. Jadi takftr bisa

mencakup dosa besar dan dosa kecil, bahkan bisa mencakup amal yang

paling buruk sekalipun, seperti firman-Nya,

 

 

 

IjlaC (Ci3l Ijjuol A^JC Aill J^^

 

 

 

"Agar Allah menghapus (mengampuni) bagi mereka perbuatan yang

paling buruk yang mereka kerjakan. "(Az-Zumar: 35).

 

Orang-orang yang berdosa mempunyai tiga sungai besar yang bisa

dipergunakan untuk membersihkan dosa-dosanya di dunia. Jika belum

juga bersih, maka mereka akan dibersihkan di sungai neraka di hari

kiamat. Tiga sungai itu ialah:

 

1. Sungai at-taubatun-nashuh.

 

2. Sungai kebaikan-kebaikan yang melimpah ruah dan

menghanyutkan berbagai macam kesalahan di sekitamya.

 

3. Sungai musibah dan cobaan yang menghapus semua dosa.

 

Jika Allah menghendaki suatu kebaikan pada diri hamba-Nya, maka

Dia memasukkannya ke dalam salah satu sungai ini, sehingga dia datang

pada hari kiamat dalam keadaan bersih, sehingga dia tidak memerlukan

cara pensucian yang keempat.

 

Dosa Besar dan Dosa Kecil

 

 

 

Menurut nash Al-Qur'an dan As-Sunnah, ijma' orang-orang salaf dan

istilah, dosa-dosa itu dibagi menjadi dua macam: Dosa-dosa besar dan

dosa-dosa kecil. Firman Allah,

 

"J/fca kalian menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang

kalian mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan

kalian." (An-Nisa!: 31),

 

"Orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang

selain dari kesalahan-kesalahan kecil. " (An-Najm: 32).

 

Sedangkan apa yang dikisahkan dari Abu Ishaq Al-Isfira'ainy, bahwa

semua dosa adalah dosa besar dan sama sekali tidak ada dosa yang kecil,

maka bukan itu maksudnya. Sebab kalau tidak, dosa memandang sesuatu

yang diharamkan sama dengan dosa berzina. Tapi yang dimaksudkan

adalah pengaitannya dengan keagungan yang didurhakai, dengan

pengertian, sebagian bisa lebih besar dosanya daripada yang lain.

 

Orang-orang salaf saling berbeda pendapat tentang dosa-dosa besar.

Namun perbedaan pendapat di kalangan mereka ini tidak terlalu tajam, dan

pendapat-pendapat mereka hampir sama.

 

Di dalam Ash-Shahihain disebutkan dari hadits Asy-Sya'by, dari

Abdullah bin Amr, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beUau bersabda,

 

"Dosa-dosa besar adalah: Syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua

orang tua, membunuhjiwa dan sumpahpalsu. "

 

Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari hadits Abu Wa'il, dari Amr bin

Syurahbil, dari Abdullah bin Mas'ud, dia berkata, "Aku bertanya, "Wahai

RasuluUah, apakah dosa yang paling besar itu?"

 

Beliau menjawab, "Jika engkau membuat tandingan bagi Allah,

padahal Dialah yang menciptakan kami."

 

"Kemudian apa lagi?" tanyaku.

 

Beliau menjawab, "Jika engkau membunuh anakmu karena takut dia

makan bersamamu."

 

 

 

ini,

 

 

 

"Kemudian apa lagi?" tanyaku.

 

Beliau menjawab, "Jika engkau berzina dengan istri tetanggamu."

 

Kemudian Allah menurunkan ayat yang membenarkan sabda beliau

 

"Dan, orang-orang yang tidak menyembah sesembahan lain beserta

Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali de-

ngan (alasan) yang benardan tidak berzina. " (Al-Furqan: 68).

 

Di dalam Ash-Shahihain disebutkan dari hadits Abu Hurairah, dari

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda,

 

aSl^\ JU J^lj hj\\ J^lj t3^W *^j ^' (*J^ t5-^' j_>jiill JlSj ja-ui]lj

 

CliLLaj^l CJ^^liliJl CllLL^aa^l LJ^j LJ^^^I ajJ ^j!lllj

 

"Jauhilah oleh kalian tujuh kedurhakaan". Mereka bertanya, 'Apakah

itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Syirik kepada Allah, sihir,

membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang

benar, memakan riba, memakan harta anak yat