1



PAHAM-PAHAM

YANG HARUS DILURUSKAN

 

Oleh :

Imam Ahlussunnah Wal Jamaah Abad 21

Prof. DR. Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani

 

BAB I

AQIDAH

KESALAHAN PARAMETER KEKUFURAN DAN

KESESATAN DI ZAMAN SEKARANG

 

LARANGAN MENJATUHKAN VONIS KUFUR ( TAKFIR )

SECARA MEMBABI BUTA

 

Banyak orang keliru dalam memahami substansi faktor-faktor yang membuat seseorang

keluar dari Islam dan divonis kafir. Anda akan menyaksikan mereka segera memvonis

kafir seseorang hanya karena ia memiliki pandangan berbeda. Vonis yang tergesa-gesa

ini bisa membuat jumlah penduduk muslim di dunia tinggal sedikit. Kami, karena

husnuddzon, berusaha memaklumi tindakan tersebut serta berfikir barangkali niat mereka

baik. Dorongan kewajiban mempraktekkan amar ma'ruf nahi munkar mungkin

mendasari tindakan mereka. Sayangnya, mereka lupa bahwa kewajiban mempraktekkan

amar ma'ruf nahi munkar harus dilakukan dengan cara-cara yang bijak dan tutur kata

yang baik (bil hikmah wal mau'idzoh al-hasanah). Jika kondisi memaksa untuk

melakukan perdebatan maka hal ini harus dilakukan dengan metode yang paling baik

sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Nahl : 125, yang artinya: Serulah (manusia)

kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka

dengan cara yang baik.

 

Praktek amar ma'ruf nahi munkar dengan cara yang baik ini perlu dikembangkan karena

lebih efektif untuk menggapai hasil yang diharapkan. Menggunakan cara yang negatif

dalam melakukan amar ma'ruf nahi munkar adalah tindakan yang salah dan tidak

semestinya.

 

Jika Anda mengajak seorang muslim yang sudah taat mengerjakan sholat, melaksanakan

kewajiban-kewajiban yang ditetapkan Allah, menjauhi hal-hal yang diharamkan-Nya,

menyebarkan dakwah, mendirikan masjid, dan menegakkan syi'ar-syi'ar-Nya untuk

melakukan sesuatu yang Anda nilai benar sedangkan dia memiliki penilaian berbeda dan

para ulama sendiri sejak dulu berbeda pendapat dalam persoalan tersebut kemudian dia

tidak mengikuti ajakanmu lalu kamu menilainya kafir hanya karena berbeda pandangan

denganmu maka sungguh kamu telah melakukan kesalahan besar yang Allah melarang

kamu untuk melakukannya dan menyuruhmu untuk menggunakan cara yang bijak dan

tutur kata yang baik.

 

2



Al-Allamah Al-Imam Al-Sayyid Ahmad Masyhur Al-Haddad mengatakan, " Telah ada

kesepakatan ulama untuk melarang memvonis kufur ahlul qiblat (ummat Islam) kecuali

akibat dari tindakan yang mengandung unsur meniadakan eksistensi Allah, kemusyrikan

yang nyata yang tidak mungkin ditafsirkan lain, mengingkari kenabian, prinsip-prinsip

ajaran agama Islam yang harus diketahui ummat Islam tanpa pandang bulu (Ma 'ulima

minaddin bidldloruroh), mengingkari ajaran yang dikategorikan mutawatir atau yang

telah mendapat konsensus ulama dan wajib diketahui semua ummat Islam tanpa pandang

bulu.

 

Ajaran-ajaran yang dikategorikan wajib diketahui semua ummat Islam (Ma'lumun

minaddin bidldloruroh) seperti masalah keesaan Allah, kenabian, diakhirinya kerasulan

dengan Nabi Muhammad SAW, kebangkitan di hari akhir, hisab (perhitungan amal),

balasan, sorga dan neraka bisa mengakibatkan kekafiran orang yang mengingkarinya dan

tidak ada toleransi bagi siapapun ummat Islam yang tidak mengetahuinya kecuali orang

yang baru masuk Islam maka ia diberi toleransi sampai mempelajarinya kemudian

sesudahnya tidak ada toleransi lagi.

 

Hadits Mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan sekelompok perawi yang mustahil

melakukan kebohongan kolektif dan diperoleh dari sekelompok perawi yang sama.

Kemutawatiran bisa dipandang dari :

1.

Aspek isnad seperti hadits :

 

"Barangsiapa berbohong atas namaku maka carilah tempatnya di neraka."

 

Aspek tingkatan kelompok perawi seperti kemutawatiran Al-Qur'an

___ __ fffi_ ffi,-./ 0,ff_ 2.3 5 __

2.

yang

kemutawatirannya terjadi di muka bumi ini dari wilayah barat dan timur dari aspek

kajian, pembacaan, dan penghafalan serta di-transfer dari kelompok perawi satu

kepada kelompok lain dari berbagai tingkatannya sehingga ia tidak membutuhkan

isnad. Kemutawatiran ada juga yang dikategorikan mutawatir dari aspek praktikal

dan turun-temurun (__ _ ff___) seperti praktik atas sesuatu hal sejak zaman

Nabi sampai sekarang, atau mutawatir dari aspek informasi (fi __) seperti

kemutawatiran mu'jizat-mu'jizat. Karena mu'jizat itu meskipun satu persatunya

malah sebagian ada yang dikategorikan hadits ahad namun benang merah dari semua

mu'jizat tersebut mutlak mutawatir dalam pengetahuan setiap muslim. Memvonis

kufur seorang muslim di luar konteks di muka adalah tindakan fatal. Dalam sebuah

hadits disebutkan :

. (_09 ___ __ fi/ !/_ _" #-$% &'!_ _) )

"Jika seorang berkata kepada saudara muslimnya "Hai kafir!" maka vonis kufur

telah jatuh pada salah satu dari keduanya" (HR.Bukhari dari Abu Hurairah R.A)

 

Vonis kufur tidak boleh dijatuhkan kecuali oleh orang yang mengetahui seluk-beluk

keluar masuknya seseorang dalam lingkaran kufur dan batasan-batasan yang memisahkan

antara kufur dan iman dalam hukum syari'at Islam.

3



Tidak diperkenankan bagi siapapun memasuki wilayah ini dan menjatuhkan vonis kufur

berdasarkan prasangka dan dugaan tanpa kehati-hatian, kepastian dan informasi akurat.

Jika vonis kufur dilakukan dengan sembarangan maka akan kacau dan mengakibatkan

penduduk muslim yang berada di dunia ini hanya tinggal segelintir. Demikian pula, tidak

diperbolehkan menjatuhkan vonis kufur terhadap tindakan-tindakan maksiat sepanjang

keimanan dan pengakuan terhadap syahadatain tetap terpelihara.

 

Dalam sebuah hadits dari Anas RA, Rasulullah SAW bersabda :

_ _2- 9"5 / #$ff%& ' (&) *ff+1& ' , ' #2 ' : -. / 012 - 45 _6 /8 9_

- / ' ff0-$ _$ #124 ' -$/2 348 ff56 __-74 82 , 39:_ )98 -8 -<=2

/.?- - 45

"Tiga hal pokok iman ; menahan diri dari orang yang menyatakan Tiada Tuhan kecuali

Allah. Tidak memvonis kafir akibat dosa dan tidak mengeluarkannya dari agama Islam

akibat perbuatan dosa ; Jihad berlangsung terus semenjak Allah mengutusku sampai

akhir ummatku memerangi Dajjal. Jihad tidak bisa dihapus oleh kezhaliman orang yang

zhalim dan keadilan orang yang adil ; dan meyakini kebenaran takdir".

(HR. Dawud)

 

Imam Al-Haramain pernah berkata, " Jika ditanyakan kepadaku : Tolong jelaskan dengan

detail ungkapan-ungkapan yang menyebabkan kufur dan tidak". Maka saya akan

menjawab," Pertanyaan ini adalah harapan yang bukan pada tempatnya. Karena

penjelasan secara detail persoalan ini membutuhkan argumentasi mendalam dan proses

rumit yang digali dari dasar-dasar ilmu Tauhid. Siapapun yang tidak dikarunia puncak-

puncak hakikat maka ia akan gagal meraih bukti-bukti kuat menyangkut dalil-dalil

pengkafiran".

 

Berangkat dari paparan di muka kami ingatkan untuk menjauhi pengkafiran secara

membabi buta di luar point-point yang telah dijelaskan di atas. Karena tindakan

pengkafiran bisa berakibat sangat fatal. Hanya Allah yang memberi petunjuk ke jalan

yang lurus dan hanya kepada-Nya lah tempat kembali.

 

SIKAP SYAIKH MUHAMMAD IBN 'ABDUL WAHHAB MENYANGKUT

PENGKAFIRAN

 

Syaikh Muhammad ibn 'Abdul Wahhab Rahimahullah memiliki sikap mulia dalam hal

pengkafiran. Sebuah sikap yang dipandang aneh oleh mereka yang mengklaim sebagai

pendukungnya kemudian memvonis kafir secara serampangan terhadap siapapun yang

berbeda jalan dan menolak pemikiran mereka. Padahal Syaikh Muhammad ibn 'Abdul

Wahhab sendiri menolak semua pandangan-pandangan tak berharga yang dialamatkan

kepadanya. Dalam sebuah risalah yang dikirimkannya kepada penduduk Qashim pada

bahasan tentang aqidah ia menulis sebagai berikut:

 

"Telah jelas bagi kalian bahwa telah sampai kepadaku berita mengenai risalah Sulaiman

ibn Suhaim yang telah sampai kepada kalian dan bahwa sebagian ulama didaerah kalian

menerima dan membenarkan isi risalah tersebut. Allah mengetahui bahwa Sulaiman ibn

4



Suhaim mengada-ada atas nama saya ucapan-ucapan yang tidak pernah aku katakan dan

kebanyakan tidak terlintas sama sekali di hatiku".

 

"Diantaranya ucapan Sulaiman bahwa saya menganggap sesat semua kitab madzhab

empat Bahwa manusia semenjak 600 tahun yang silam tidak menganut agama yang

benar. Saya mengklaim mampu berijtihad dan lepas dari taqlid. Perbedaan para ulama

adalah malapetaka dan saya mengkafirkan orang yang melakukan tawassul dengan orang-

orang shalih, dan saya mengkafirkan Imam Al-Bushoiri karena ucapannya: "Wahai

Makhluk paling mulia".

 

"Seandainya saya mampu meruntuhkan kubah Rasulullah SAW maka saya akan

melakukannya dan jika mampu mengambil talang Ka'bah yang terbuat dari emas maka

saya akan menggantinya dengan talang kayu. Saya mengharamkan ziarah ke makam Nabi

SAW, mengingkari ziarah ke makam kedua orang tua dan makam orang lain, saya

mengkafirkan orang yang bersumpah dengan selain Allah, mengkafirkan Ibnu Faridl dan

Ibnu 'Araby, dan bahwasanya saya membakar kitab Dalailul Khairaat dan Raudlul

Rayaahin yang kemudian saya namakan Raudlul Syayaathiin".

 

"Jawaban saya atas tuduhan telah mengucapkan perkataan-perkataan di atas adalah

firman allah :

fiAC -4< ) H&-I2"

Artinya : "Maha suci Engkau (ya Tuhan kami), ini adalah Dusta yang besar."

(Q.S. An-Nuur : 16)

 

Sebelum apa yang saya alami terjadi, peristiwa mirip pernah dialami Nabi SAW. Beliau

dituduh telah memaki Isa ibn Maryam dan orang-orang shalih. Hati mereka yang

melakukan perbuatan terkutuk ini sama persis sebab menciptakan kebohongan dan

ucapan palsu. Allah berfirman :

{J4K } #2 -4M _98N4 ' /4)O2 )12 ff4+4 - O&

"Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak

beriman kepada ayat-ayat Allah." (Q.S. An-Nahl : 105)

 

Kafir Quraisy melontarkan tuduhan palsu bahwa Nabi SAW mengatakan bahwa

Malaikat, Isa dan 'Uzair berada di neraka. Lalu Allah menurunkan firman-Nya :

/_28 -<9 HR2 89SI2 -O9T8 fi<2 U72" /4)O2 O

"Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami,

Mereka itu dijauhkan dari neraka."(Q.S. Al-Anbiyaa` : 101)

 

RISALAH PENTING LAIN KARYA SYAIKH MUHAMMAD IBN ABDUL

WAHHAB DALAM MASALAH PENGKAFIRAN

 

Risalah ini dikirimkan kepada As-Suwaidi, seorang ulama Iraq. Sebelumnya As-Suwaidi

mengirimkan buku dan menanyakan mengenai apa yang diperbincangkan masyarakat.

Kemudian Syaikh menjawab dalam risalahnya :

5



"Tersebarnya kebohongan adalah hal yang membuat orang yang berakal merasa malu

untuk menceritakannya apalagi untuk membuat-buat hal-hal yang tidak ada faktanya.

Sebagian dari apa yang kalian katakan adalah bahwasanya saya mengkafirkan semua

orang kecuali mereka yang mengikutiku. Sungguh aneh, bagaimana mungkin

kebohongan ini masuk ke akal orang yang berakal? Dan bagaimana mungkin seorang

muslim akan melontarkan ucapan demikian?"

 

"Dan apa yang kalian katakan : Seandainya saya mampu meruntuhkan kubah Nabi SAW

niscaya saya akan merealisasikannya, membakar dalailul khairaat jika mampu dan

melarang bersholawat kepada Nabi dengan ungkapan sholawat apapun. Perkataan-

perkataan ini dikategorikan kebohongan. Dalam hati seorang muslim tidak terbesit dalam

hatinya sesuatu yang lebih agung melebihi Al-Qur'an."

 

Pada halaman 64 dari kitab yang sama Syaikh berkata : "Apa yang kalian katakan bahwa

saya telah mengkafirkan orang yang melakukan tawassul dengan orang-orang shalih,

mengkafirkan Bushiri karena ungkapannya : Wahai makhluk paling mulia, mengingkari

diperkenankannya ziarah kubur Nabi SAW, kuburan kedua orang tua dan kuburan-

kuburan orang lain serta mengkafirkan orang yang bersumpah menggunakan nama selain

Allah, maka jawaban saya atas semua tuduhan ini adalah Firman Allah :

fiAC -4< ) H&-I2"

"Maha suci Engkau (ya Tuhan kami), ini adalah Dusta yang besar."(Q.S. An-Nuur : 16)

 

MEMAKI ORANG ISLAM ADALAH TINDAKAN FASIQ

DAN MEMERANGINYA ADALAH TINDAKAN KUFUR

 

Ketahuilah bahwa membenci, memboikot dan berseberangan dengan kaum muslimin

adalah haram, memaki orang Islam adalah tindakan fasiq dan memeranginya adalah

tindakan kufur jika menilai tindakan tersebut adalah halal.

 

Kisah mengenai Khalid ibn Walid bersama pasukannya ketika menuju Bani Jadzimah

untuk mengajak mereka masuk Islam cukup digunakan untuk menolak pemahaman

harfiah (literal) dari judul di atas. Saat Khalid tiba di tempat mereka, mereka

menyambutnya. Lalu Khalid mengeluarkan instruksi, "Peluklah agama Islam!". " Kami

adalah kaum muslimin," Jawab mereka. " Letakkan senjata kalian dan turunlah." Lanjut

Khalid. "Tidak, demi Allah. Karena setelah senjata diletakkan pasti ada pembunuhan.

Kami tidak bisa mempercayai kamu dan orang-orang yang bersama kamu." Jawab

mereka kembali. "Tidak ada perlindungan buat kalian kecuali jika kalian mau turun,"

Kata Khalid. Akhirnya sebagian kaum menuruti perintah Khalid dan sisanya tercerai-

berai.

 

Dalam riwayat lain redaksinya sebagai berikut : Ketika Khalid tiba bertemu mereka,

mereka menyambutnya. Lalu Khalid bertanya, "Siapakah kalian? Apakah kaum muslimin

atau kaum kafir?". "Kami adalah kaum muslimin yang menjalankan sholat, mem-

benarkan Muhammad, membangun masjid di tanah lapang kami dan mengumandangkan

adzan di dalamnya." Jawab mereka. Dalam lafadz hadits, mereka tidak bisa

mengucapkan Aslamnaa (Kami berserah diri), akhirnya mereka mengatakan Shoba'naa

 

6



Shoba'naa. " Buat apa senjata yang kalian bawa?, tanya Khalid. "Ada permusuhan antara

kami dan sebuah kaum Arab. Oleh karena itu kami khawatir kalian adalah mereka hingga

kami pun membawa senjata." Jawab mereka. " Letakkan senjata kalian!" Perintah Khalid.

Mereka pun mengikuti perintah Khalid untuk meletakkan senjata. "Menyerahlah kalian

semua sebagai tawanan!" Lanjut Khalid. Kemudian Khalid menyuruh sebagian dari kaum

untuk mengikat sebagian yang lain dan membagikan mereka kepada pasukannya.

 

Ketika tiba waktu pagi, juru bicara Khalid berteriak : "Siapapun yang memiliki tawanan

bunuhlah ia!". Maka Banu Sulaim membunuh tawanan mereka. Namun kaum Muhajirin

dan Anshor menolak perintah ini. Mereka malah melepaskan para tawanan. Ketika

tindakan Khalid ini sampai kepada Nabi SAW, beliau berkata, " Ya Allah, saya tidak

bertanggung jawab atas tindakan Khalid." Beliau mengulang ucapan ini dua kali.

 

Ada pendapat yang menyatakan bahwa Khalid mengira mereka mengatakan Shoba'naa

Shoba'naa

disesalkan

dengan angkuh dan menolak tunduk kepada Islam. Hanya saja

Rasulullah adalah ketergesa-gesaan dan ketidak hati-hatiannya

yang

dalam

menangani kasus ini sebelum mengetahui terlebih dulu apa yang dimaksud dengan

Shoba'naa Shoba'naa. Nabi SAW sendiri pernah mengatakan :

/A7V-9 2 /4ffV-12 8 , #" , _A" /8 0A" /A2_2 / /2-5 ffAY_2 _5 , /2 fi_&

"Sebaik-baik hamba Allah adalah saudara kabilah Quraisy ; Khalid ibn Walid, salah

satu pedang Allah yang terhunus untuk menghancurkan orang-orang kafir dan munafik".

 

Persis seperti apa yang dialami Khalid adalah peristiwa yang menimpa Usamah ibn Zaid

kekasih dan putra kekasih Rasulullah SAW berdasarkan hadits yang diriwayatkan Al-

Bukhari dari Abi Dzibyan. Abi Dzibyan berkata, "Saya mendengar Usamah ibn Zaid

berkata, "Rasulullah SAW mengirim kami ke desa Al-Huraqah. Kemudian kami

menyerang mereka di waktu pagi dan berhasil mengalahkan mereka. Saya dan seorang

laki-laki Anshar mengejar seorang laki-laki Bani Dzibyan.

 

Ketika kami berdua telah mengepungnya tiba-tiba ia berkata, "La Ilaaha illallah".

Ucapan laki-laki ini membuat temanku orang Anshor mengurungkan niat untuk

membunuhnya namun saya menikamnya dan diapun mati. Ketika kami tiba kembali di

Madinah, Nabi SAW telah mendengar informasi tentang tindakan pembunuhan yang saya

lakukan. Beliau pun berkata, " Wahai Usamah! Mengapa engkau membunuhnya setelah

dia mengatakan Laa Ilaaha illallah?!" "Dia hanya berpura-pura," Jawabku. Nabi

mengucapkan pertanyaannya berulang-ulang sampai-sampai saya berharap baru masuk

Islam pada hari tersebut.

 

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah SAW berkata kepada Usamah,

"Mengapa tidak engkau robek saja hatinya agar kamu tahu apakah dia sungguh-

sungguh atau berpura-pura?". "Saya tidak akan pernah lagi membunuh siapapun yang

bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah". Kata Usamah.

 

Sayyidina Ali RA pernah ditanya mengenai kelompok-kelompok yang menentangnya,

"Apakah mereka kafir ?", "Tidak," jawab Ali, "Mereka adalah orang-orang yang

menjauhi kekufuran". "Apakah mereka kaum munafik?". "Bukan, orang-orang munafik

 

7



hanya sekelebat mengingat Allah sedang mereka banyak mengingat Allah". "Terus

siapakah mereka?" Ali kembali ditanya. "Mereka adalah kaum yang terkena fitnah yang

mengakibatkan mereka buta dan tuli", jawab Ali.

 

STATUS KHALIQ DAN STATUS MAKHLUQ

 

Perbedaan antara status Khaliq dan makhluq adalah garis pemisah antara kufur dan iman.

Kami meyakini bahwa orang mencampur-adukkan kedua status ini berarti dia telah kafir.

Wal 'iyadz billah.

 

Masing-masing dari kedua status di atas memiliki hak-hak spesifik. Namun, dalam

masalah ini masih ada hal-hal, khususnya yang berkaitan dengan Nabi dan sifat-sifat

eksklusif beliau yang membedakan dengan manusia biasa dan membuat beliau lebih

tinggi dari mereka. Hal-hal seperti ini kadang tidak dimengerti oleh sebagian orang yang

memiliki keterbatasan akal, pemikiran, pandangan dan pemahaman. Kelompok ini mudah

terburu-buru memvonis kafir terhadap mereka yang mengapresiasi hal-hal tersebut dan

mengeluarkan mereka dari agama Islam karena menurut kelompok ini menetapkan sifat-

sifat khusus untuk Nabi SAW adalah mencampuradukkan antara status Khaliq dan

makhluq serta mengangkat status Nabi dalam status ketuhanan. Kami sungguh memohon

ampun kepada Allah dari tindakan mencampur-adukkan seperti ini.

 

Berkat karunia Allah kami mengetahui apa yang wajib bagi Allah dan Rasul serta

mengetahui apa yang murni hak Allah dan yang murni hak rasul secara proporsional

tidak melampaui batas sampai memberi beliau sifat-sifat khusus ketuhanan yaitu menolak

dan memberi, memberi manfaat dan bahaya secara independen (di luar kehendak Allah),

kekuasaan yang sempurna dan komprehensif, menciptakan, memiliki, mengatur, satu-

satunya yang memiliki kesempurnaan, keagungan dan kesucian dan satu-satunya yang

berhak untuk dijadikan obyek beribadah dengan beragam bentuk, cara dan tingkatannya.

 

Seandainya yang dianggap melampaui batas adalah berlebihan dalam mencintai, taat dan

keterikatan dengan beliau maka hal ini adalah sikap yang terpuji dan dianjurkan

sebagaimana dalam sebuah hadits :

fi4ff8 / -[92 ff\ - 3&ff1_ '

"Janganlah kalian mengkultuskanku sebagaimana kaum Nashrani mengkultuskan Isa ibn

Maryam".

Maksud dari hadits tersebut berarti bahwa sanjungan, berlebih-lebihan dan memuji beliau

di bawah batas di atas adalah tindakan terpuji. Seandainya maksud hadits tidak seperti ini

berarti yang dimaksud adalah larangan untuk memberikan sanjungan dan memuji secara

mutlak. Pandangan ini jelas tidak akan diucapkan oleh orang Islam paling bodoh

sekalipun. Wajib bagi kita memuliakan orang yang dimuliakan Allah dan diperintahkan

untuk memuliakannya. Betul, memang kita wajib untuk tidak mensifati Nabi SAW

dengan sifat-sifat ketuhanan apapun. Imam Al-Bushiri RA berkata :

.5,9 #-/ _9_ 89: _0_ .59 :: ._-ffi/ 2/ _1__ #,3 __

 

Jauhilah klaim Nashrani akan Nabi mereka

Berilah beliau pujian sesukamu dengan bahasa yang baik

 

8



Memuliakan

Nabi

SAW

tidak

dengan

sifat-sifat

ketuhanan

sama

sekali

bukan

dikategorikan kufur atau kemusyrikan. Malah diklasifikasikan sebagai salah satu ketaatan

dan ibadah yang besar. Demikian pula setiap orang yang dimuliakan Allah seperti para

Nabi, rasul, malaikat, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Allah berfirman yang

Artinya : "Demikianlah (perintah Allah). dan Barangsiapa mengagungkan syi`ar-syi`ar

Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati."(Q.S. Al-Hajj : 32). Kemudian

firman Allah : "Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan apa-apa

yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya."

(Q.S. Al-Hajj : 30)

 

Diantara obyek yang wajib dimuliakan adalah Ka'bah, Hajar Aswad dan Maqam

Ibrahim. Ketiga benda ini adalah batu namun Allah memerintahkan kita untuk

memuliakannya dengan thawaf pada Ka'bah, mengusap Rukun Yamani, mencium Hajar

Aswad, sholat di belakang Maqam Ibrahim, dan wukuf untuk berdoa di dekat Mustajar,

pintu Ka'bah dan Multazam. Tindakan kita terhadap benda-benda yang disebutkan tadi

bukan berarti beribadah kepada selain Allah dan meyakini pengaruh, manfaat, dan

bahaya berasal dari selain-Nya. Semua hal ini tidak akan terjadi dari siapapun kecuali

Allah SWT.

 

STATUS MAKHLUQ

 

Kami meyakini bahwa Rasulullah SAW adalah manusia yang bisa mengalami apa yang

dialami manusia umumnya seperti sifat-sifat yang temporal dan penyakit-penyakit yang

tidak mengurangi kedudukan beliau dan tidak membuat beliau dijauhi. Sebagaimana

dikatakan oleh penyusun 'Aqidatul 'Awam :

ff 2 0A+% `7& ffAa :: ff /8 fi<7^ 3V _0-$

Para rasul boleh mengalami sifat-sifat yang temporer

Yang tidak mengurangi kedudukan mereka seperti sakit ringan.

 

Rasulullah juga adalah seorang hamba yang tidak memiliki kemampuan memberi

manfaat, bahaya, mati, hidup membangkitkan kepada dirinya sendiri kecuali apa yang

telah dikehendaki Allah. Firman Allah yang Artinya : Katakanlah: "Aku tidak berkuasa

menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang

dikehendaki Allah. dan Sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat

kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. aku tidak lain

hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang

beriman".(Q.S. Al-A`raaf :188)

 

Beliau juga telah mengemban risalah, menyampaikan amanah, menyadarkan ummat,

membuang kesedihan dan berjihad fii sabilillah sampai ajal menjemputnya. Beliau

berpulang ke sisi Allah dalam kondisi ridho dan mendapat keridhoan, seperti

digambarkan dalam firman Allah yang Artinya : "Sesungguhnya kamu akan mati dan

Sesungguhnya mereka akan mati (pula)." (Q.S. Az-Zumar : 30). Dalam ayat lain : "Kami

tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad);

maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?" (Q.S. Al-Anbiyaa` : 34)

9



Kehambaan adalah sifat beliau yang paling mulia. Karena itu beliau membanggakannya

dan berkata : "Saya hanyalah seorang hamba". Allah menyifati beliau dengan

kehambaan dalam kedudukan tertinggi : "Maha suci Allah, yang telah memperjalankan

hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil-Haram ke Masjidil-Aqsha yang telah Kami

berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda

Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui." (Q.S.Al-

Israa : 1). Kemudian firman Allah yang lain : "Dan bahwasanya tatkala hamba Allah

(Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadah), hampir saja jin-jin itu

desak mendesak mengerumuninya." (Q.S. Al.-Jinn : 19)

 

Kemanusiaan adalah letak sesungguhnya kemu'jizatan Rasulullah. Beliau adalah manusia

dari jenis manusia namun berbeda dengan manusia biasa. Beliau memiliki perbedaan

yang tidak mungkin dikejar atau disamakan dengan manusia biasa. Sebagaimana

penilaian beliau tentang dirinya :

39A7S4 39 _14 3 /9 UA 3& fi14RA< US2 3&

"Saya tidak sama dengan kalian. Sesungguhnya saya bermalam di sisi Allah diberi

kekuatan sebagaimana orang yang makan dan minum".

 

Berdasarkan paparan di atas maka jelaslah bahwa status kemanusian beliau wajib disertai

dengan sifat-sifat yang membedakannya dengan manusia umumnya yaitu menyebut

keistimewaan-keistimewaan beliau yang eksklusif dan sifat-sifat beliau yang terpuji.

Perlakuan ini bukan hanya diberikan khusus untuk Nabi Muhammad SAW namun juga

berlaku untuk rasul-rasul yang lain agar penilaian kita kepada mereka proporsional.

Karena penilaian kepada para rasul semata-mata dipandang dari sisi kemanusiaan saja

tanpa penilaian lain adalah pandangan jahiliyah yang musyrik. Dalam Al-Qur'an terdapat

banyak dalil mengenai masalah ini. Diantaranya adalah :

 

- Ucapan kaum Nuh terhadap Nabi Nuh dalam kisah yang diceritakan Allah tentang

mereka, yang Artinya : "Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari

-

-

kaumnya: "Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa)

seperti Kami, dan Kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan

orang-orang yang hina dina di antara Kami yang lekas percaya saja, dan Kami tidak

melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas Kami, bahkan Kami yakin

bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta".( Q.S. Hud : 27).

 

Ucapan kaum Nabi Musa dan Nabi Harun terhadap mereka berdua dalam kisah yang

diceritakan Allah tentang mereka, yang artinya : "Dan mereka berkata: Apakah

(patut) kita percaya kepada dua orang manusia seperti kita (juga), padahal kaum

mereka (Bani Israil) adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada kita?"

(Q.S. Al-Mu'minuun : 47 )

 

Ucapan kaum Tsamud kepada Nabi mereka Shalih dalam peristiwa yang diceritakan

Allah tentang mereka yang artinya, : "Kamu tidak lain melainkan seorang manusia

seperti kami; Maka datangkanlah sesuatu mukjizat, jika kamu memang Termasuk

orang-orang yang benar". (Q.S. Asy-Syu'araa' : 154).

10



-

-

Ucapan Penduduk Aikah kepada Nabi mereka Syu'aib dalam kisah yang diceritakan

Allah tentang mereka yang artinya : "Mereka berkata: "Sesungguhnya kamu adalah

salah seorang dari orang-orang yang kena sihir. Dan kamu tidak lain melainkan

seorang manusia seperti Kami, dan Sesungguhnya Kami yakin bahwa kamu benar-

benar Termasuk orang-orang yang berdusta". (Q.S. Asy-Syu'araa' : 186).

 

Ucapan kaum musyrikin terhadap Nabi Muhammad SAW yang memandang beliau

semata-mata sebagai manusia dalam kisah yang diceritakan Allah tentang mereka :

"Dan mereka berkata: "Mengapa Rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-

pasar? mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang Malaikat agar Malaikat itu

memberikan peringatan bersama-sama dengan dia? (Q.S. Al-Furqaan : 7)

Nabi telah menginformasikan status dirinya dengan benar akan sifat-sifat luhur dan hal-

hal yang melampauai kebiasaan yang membuatnya berbeda dengan manusia lain.

Sabda beliau dalam sebuah hadits shahih :

32. -94 ' -9A -9_

"Kedua mataku terpejam namun hatiku tetap terjaga".

 

38-8 /8 fi - ff<b /8 fi 3&

"Saya mampu melihat kalian dari belakangku sebagaimana melihatmu dari depan".

 

? /0_5 dA_-+8 UA_

"Saya dianugerahi pintu-pintu gudang dunia".

 

Meskipun telah wafat, Rasulullah tetap hidup dalam bentuk kehidupan barzakh yang

sempurna. Beliau mampu mendengar perkataan, membalas salam dan shalawat orang

yang bershalawat sampai kepada beliau. Amal perbuatan ummat disampaikan kepada

beliau hingga beliau berbahagia atas perbuatan orang-orang yang baik dan beristighfar

terhadap orang-orang yang melakukan dosa. Allah juga mengharamkan bumi untuk

memakan jasadnya. Jasad Nabi terlindungi dari hal-hal yang bersifat merusak dan dari

apapun yang berada dalam tanah.

 

Dari Aus ibn Aus R.A , ia berkata , "Rasulullah SAW bersabda :

ff:fV J7_[2 #AV J%+92 #AV g2. #AV 6 h5 #AV : J_ =2 _4 fi18-4 _eV /8

ff__ 0A ! , _" -4 : _2-. . O3 Jiff_8 fi1_96 jV #AV 9[2 /8 O3

_f_ ? 8 ff^ _$ _ , : -7V UA 39_4 U8 /. HA -9_96

-A2&? -S$

"Salah satu hari kalian yang paling utama adalah hari Jum'at ; di hari itu Adam

diciptakan dan wafat, Israfil meniup sangkakala dan matinya seluruh makhluk. Maka

perbanyaklah bershalawat untukku pada hari Jum'at. Karena shalawat kalian

disampaikan kepadaku". Wahai Rasulullah, bagaimana shalawat kami sampai kepadamu

padahal tubuhmu telah hancur?" tanya para sahabat. "Sesungguhnya Allah 'Azza wa

Jalla mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi." Jawab Rasulullah. ( HR.

Ahmad, Abu Dawud, Ibn Majah dan Ibn Hibban dalam kitab shahihnya serta Al-Hakim

yang menilai hadits ini shahih ).

 

11



Menyangkut keutuhan jasad para Nabi , Al-Hafizh Jalaluddin As-Suyuthi menyusun

sebuah risalah khusus menyangkut hal tersebut yang berjudul 'Inbaa'ul Adzkiyaa' bi

Hayaatil Anbiyaa'.

 

Dari ibnu Mas'ud Rasulullah SAW bersabda :

jV fi12- O3 ff__ fi12 ffA5 3_-V U&- U8 -& jV fi12 /I4 __/I_ fi12 ffA5 3_-A^

fi12 ff+a4" ffp U4 , / ^ ffA5 U4

"Hidupku lebih baik buat kalian. Kalian berbicara dan saya berbicara kepada kalian.

Dan jika saya meninggal dunia maka kewafatanku lebih baik buat kalian. Amal

perbuatan kalian disampaikan kepadaku. Jika aku melihat amal baik aku memuji Allah

dan jika aku melihat amal buruk aku beristighfar buat kalian".

Al-Haitsami berkata, "Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bazzaar dan para perawinya

sesuai dengan standar perawi hadits shahih.

 

Dari Abu Hurairah RA dari Rasulullah SAW, beliau berkata :

9S2 #A 84^ 3^ O3 , ' O3 fiS4 /^ /8 -8

"Tidak ada seorangpun yang memberi salam kepadaku kecuali Allah mengembalikan

nyawaku hingga aku membalas salamnya". (HR. Ahmad dan Abu Dawud). Sebagian

ulama menafsirkannya dengan mengembalikan kemampuan berbicara beliau.

 

Dari 'Ammar ibn Yaasir, ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda :

' J8-A72 _4 82 /^ O3 3[4 9V h09%2 - " , *-1 -18 ff27 _ ,

HA 86 /. 9V / 9V ) #A fi" # "- 39a

"Sesungguhnya Allah SWT mewakilkan seorang malaikat yang diberi Allah nama semua

makhluk pada kuburanku. Maka tidak ada seorang pun hingga hari kiamat yang

menyampaikan shalawat untukku kecuali malaikat itu menyampaikan kepadaku namanya

dan nama ayahnya ; ini adalah si fulan anak si fulan yang telah menyampaikan shalawat

untukmu". HR. Al-Bazzaar dan Abu al-Syaikh ibn Hibban yang redaksinya : Rasulullah

SAW bersabda :

 

3[4 /^ rAV U8 ff2. 8 fi0-. _<V h09%2 - " *-1 -18 82-__ -2_ ,

8 82-__ -2_ ff2 3[AV : -. 9V / 9V HA 86 ! / I8 -4 : -. ' O3

ffY /^ _1 _$ff2 H2

 

"Sesungguhnya ada malaikat Allah yang telah diberi semua nama makhluk oleh Allah. Ia

berdiri di atas kuburanku jika aku meninggal. Maka tidak ada seorang pun yang

menyampaikan shalawat kepadaku kecuali si malaikat berkata, "Wahai Muhammad!

fulan bin fulan telah menyampaikan shalawat untukmu". Rasulullah berkata, "Rabb

Tabaraka wa Ta'ala merahmatinya. Untuk satu shalawat dibalas 10 rahmat". Dalam Al-

Kabiir At-Thabaraani meriwayatkan hadits seperti ini.

 

Meskipun Rasulullah SAW telah wafat namun keutamaan, kedudukan dan derajatnya di

sisi Allah tetap abadi. Mereka yang beriman tidak akan ragu akan fakta ini. Karena itu,

bertawassul kepada Nabi Muhammad SAW pada dasarnya kembali kepada keyakinan

keberadaan hal-hal di muka dan meyakini beliau dicintai dan dimuliakan Allah serta

 

12



keimanan kepada beliau dan kepada risalahnya. Dan tawassul bukanlah berarti beribadah

kepada Nabi SAW. Karena beliau betapapun tinggi derajat dan kedudukannya tetaplah

seorang makhluk yang tidak mampu menolak bahaya dan memberi manfaat tanpa izin

Allah. Allah SWT berfirman yang Artinya, : "Katakanlah: Sesungguhnya aku ini

manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan

kamu itu adalah Tuhan yang Esa". (Q.S. Al-Kahfi : 110)

 

ASPEK-ASPEK YANG SAMA ANTARA STATUS KHALIQ DAN MAKHLUQ

TIDAK BERTENTANGAN DENGAN KESUCIAN ALLAH

 

Banyak orang keliru dalam memahami sebagian aspek-aspek yang sama antara status

Khaliq dan makhluq. Mereka menganggap bahwa menisbatkan aspek-aspek di atas

kepada status makhluk adalah menyekutukan Allah. Diantara aspek-aspek di atas adalah

seperti sifat-sifat khusus kenabian yang salah dipahami oleh sebagaian orang dan

menganalogikannya dengan analogi kemanusiaan. Karena itu mereka menilai terlalu

berlebihan bila aspek-aspek tersebut disandarkan kepada Rasulullah. Mereka menilai

bahwa menisbatkan aspek-aspek itu kepada Rasulullah berarti mensifati beliau dengan

sebagian sifat-sifat ketuhanan.

 

Pandangan ini adalah sebuah kebodohan murni. Karena Allah SWT bebas memberi siapa

saja dan sesuai kehendak-Nya tanpa ada tekanan yang mengharuskan. Tapi semata-mata

karunia-Nya kepada orang yang hendak Dia mulyakan, Dia tinggikan derajat dan hendak

ditonjolkan kelebihannya atas orang lain. Hal ini bukan berarti melepas hak-hak dan

sifat-sifat ketuhanan. Hak-hak sifat-sifat ketuhanan tetap terpelihara sesuai dengan

kedudukan Allah SWT. Jika ada makhluk yang memiliki salah satu dari hak atau sifat

ketuhanan maka harus disesuaikan dengan kondisi kemanusiaan, yaitu harus terbatasi dan

diperoleh lewat izin, anugerah, dan kehendak Allah.

 

Bukan karena kekuatan makhluk, rencana dan perintahnya. Karena manusia adalah

makhluk lemah yang tidak mampu menimpakan bahaya, memberi manfaat, kematian ,

kehidupan dan kebangkitan dari kubur untuk dirinya sendiri. Banyak hal-hal yang dalil

yang menunjukkanya sebagai hak Allah, namun Allah SWT memberikannya kepada

Nabi SAW dan orang lain. Berangkat dari penjelasan di atas, pensifatan Nabi SAW

dengan hal-hal di atas tidak meninggikannya sampai ke derajat ketuhanan atau

menjadikan beliau sebagai sekutu bagi Allah SWT.Di antara aspek-aspek di atas adalah :

 

Syafaat,

Syafaat adalah milik Allah. Allah berfirman yang Artinya : "Katakanlah: Hanya

kepunyaan Allah syafaat itu semuanya." (Q.S. Az-Zumar : 44), Namun syafaat juga

dimiliki oleh Rasul SAW dan orang lain atas kehendak Allah seperti terdapat dalam

sebuah hadits :

J-+Y2 UA_

"Saya dikaruniai syafaat", kemudian :

s+Y8 sV-p -&

"Saya adalah orang pertama yang memberi syafaat dan diterima syafaatnya."

13



Mengetahui hal-hal ghaib,

Mengetahui hal-hal ghaib adalah milik Allah. Seperti dalam ayat : "Katakanlah: tidak

ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali

Allah". (Q.S. An-Naml : 65)

 

Namun terdapat dalil yang menunjukkan Allah menginformasikan kepada Nabi hal-hal

gaib :

_"O /8 8e_ /8 -O2 - /^ #2At 8 ff<C4 -V (Aa2 fi2-

"(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, Maka Dia tidak memperlihatkan

kepada seorangpun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya"

(ayat)

 

Hidayah,

Maka sesungguhnya hidayah adalah khusus milik Allah. Allah berfirman yang Artinya :

"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu

kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah

lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk." ( Q.S.Al-Qashash : 56 ),

Akan tetapi terdapat ayat yang menjelaskan bahwa Nabi SAW juga bisa memberi

hidayah. Allah berfirman :

fiA74Sv8 ff6 82 /<42 HO&

"Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus."

(Q.S. Asy-Syuura : 52)

 

Hidayah yang terdapat dalam ayat pertama berbeda dengan hidayah dalam ayat kedua.

Perbedaan ini hanya dapat dipahami oleh kaum mu'minin yang memiliki kemampuan

berfikir yang baik yang mampu membedakan status Khaliq dan makhluk. Jika pengertian

hidayah disamakan niscaya Allah perlu mengatakan "Sesungguhnya engkau memberi

hidayah yang berupa bimbingan, atau sesungguhnya engkau memberi hidayah tapi bukan

seperti hidayah-Ku."

 

Tapi kedua ungkapan ini tidak terdapat dalam Al-Qur'an. Malah Allah membiarkan

lafadz hidayah tanpa keterangan apapun. Karena orang yang mengesakan Allah dari

kaum muslimin bisa memahami kata-kata dan mengerti perbedaan indikasi dari kata-kata

tersebut menyangkut apa yang disandarkan kepada Allah dan Rasulullah SAW. Masalah

ini sama dengan apa yang terdapat dalam Al-Qur'an yang memberi sifat Rasul dengan

Ar-Ra'fah dan Ar-Rahmah saat Allah berfirman :

fiA^O /A98N 2-

"Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin."

 

Dan Allah juga mensifati diri-Nya dengan dua sifat di atas dalam banyak ayat. Sudah

umum diketahui bahwa Ar-Ra'fah dan Ar-Rahmah dalam ayat kedua berbeda arti dengan

Ar-Ra'fah dan Ar-Rahmah dalam ayat pertama. Waktu Allah mensifati Nabi-Nya dengan

kedua sifat tersebut, Dia mensifatinya tanpa embel-embel apapun. Karena orang yang

dikhithabi adalah seorang mu'min yang mengesakan Allah yang mengerti perbedaan

antara Khaliq dan makhluk.

14



Seandainya tidak demikian, Allah perlu mengatakan Ra'uuf dengan ra'fah yang berbeda

dengan ra'fah-Ku, dan rahiim dengan rahmat yang berbeda dengan rahmat-Ku, atau

mengatakan Ra'uuf dengan rahmat tertentu dan Rahiim dengan rahmat tertentu, atau bisa

juga mengatakan Ra'uuf dengan ra'fah kemanusiaan dan rahiim dengan rahmat

kemanusiaan. Namun semua ini ternyata tidak ada. Malah Allah memberi Nabi sifat

ra'fah dan rahmat tanpa menambahkan penjelasan apapun.

 

MAJAZ 'AQLI DAN PENGGUNAANNYA

 

Tidak disangsikan lagi bahwa majaz 'aqli digunakan dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Diantaranya yang Artinya : "Dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman

mereka (karenanya)" (Q.S. Al-Anfaal : 2). Penyandaran kalimat ziyadah ke kalimat

aayaat adalah majaz 'aqli. Karena ayat adalah penyebab bertambah sedang yang

menambah sesungguhnya adalah Allah SWT. "hari yang menjadikan anak-anak

beruban." (Q.S. Al-Muzzammil :17)

 

Penyandaran kata Ja'ala pada pada al-Yaum adalah majaz 'aqli. Karena Al-Yaum adalah

tempat mereka menjadi beruban. Kejadian tersebut tercipta pada Al-Yaum sedang yang

menjadikan sesungguhnya adalah Allah SWT. "Dan jangan pula Suwwa`, Yaghuts,

Ya`uq dan Nasr, dan sungguh mereka menyesatkan kebanyakan (manusia)." (Q.S. Nuh :

23-24) Penyandaran Idlal pada ashnam adalah majaz 'aqli karena ashnam adalah

penyebab terjadinya idlal sedang yang memberi petunjuk dan yang menyesatkan

hakikatnya Allah SWT semata.

 

Firman Allah mengisahkan Fir'aun yang Artinya : "Hai Haman, buatkanlah bagiku

sebuah bangunan yang Tinggi." (Q.S.Al-Mu\`min : 36). Penyandaran Al-Binaa

(membangun) kepada Haman adalah majaz 'aqli karena Haman cuma penyebab. Ia hanya

pemberi perintah dan tidak membangun sendiri. Yang membangun adalah para

pekerja. Adapun keberadaaan majaz 'aqli dalam hadits maka di dalamnya terdapat jumlah

yang banyak yang diketahui oleh orang yang mau mengkajinya.

 

Para ulama berkata : "Terlontarnya penyandaran di atas dari orang yang mengesakan

Allah cukup menjadikannya dikategorikan sebagai penyandaran majazi karena keyakinan

yang benar adalah bahwa pencipta para hamba dan tindakan-tindakan mereka adalah

Allah semata. Allah adalah pencipta para hamba dan tindakan-tindakan mereka. Tidak

ada yang bisa memberikan pengaruh kecuali Allah. Orang hidup atau orang mati tidak

bisa memberi pengaruh apapun. Keyakinan semacam ini adalah tauhid yang murni.

Berbeda kalau memiliki

kemusyrikan.

URGENSI

keyakinan

yang berlawanan.

Maka

ia bisa

jatuh dalam

MENETAPKAN

KAITAN

(NISBAT)

DALAM

MENETAPKAN

BATASAN KUFUR DAN IMAN

 

Beberapa kelompok sesat hanya menggunakan pendekatan tekstual tanpa melibatkan

indikasi-indikasi dan tujuan-tujuan, serta tidak menggunakan titik temu yang bisa

15



menghindari kontradiksi antar dalil-dalil yang ada seperti kelompok (Mu'tazilah) yang

berpendapat bahwa Al-Qur'an adalah makhluk dengan menggunakan argumentasi firman

Allah yang Artinya : "Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa

Arab." (Q.S. Az-Zukhruuf : 3).

 

Kemudian kelompok Qadariyyah (free will) yang menggunakan ayat yang Artinya :

"Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri." (Q.S. As-Syuuraa : 20),

dan ayat : "Apa yang telah kamu kerjakan." (Q.S.Yunus : 23)

 

Kelompok Jabariyah yang berpegang teguh dengan ayat : "Padahal Allah-lah yang

menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu." (Q.S. Ash-Shaaffaat : 96), dan ayat :

"Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang

melempar." (Q.S.Al-Anfaal : 17)

 

Untuk menyingkap maksud dari firman Allah di muka bahwa sesungguhnya semua

kelompok ummat Islam diluar kelompok Qadariyyah meyakini bahwa semua tindakan

para hamba adalah diciptakan Allah SWT berdasarkan ayat :

(_ __ -8 fi175 #O2) dan ayat, (88 #2 O/12 UA8 UA8 -8)

meskipun tindakan itu bisa dilekatkan kepada hamba dengan menggunakan pendekatan

lain yang disebut iktisab (bekerja) seperti dalam firman Allah :

U2S4 -8 -<A U2S -8 -<2

"Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari

kejahatan) yang dikerjakannya." (Q.S.Al.Baqarah : 286) dan ayat-ayat lain yang

menunjukkan penyandaran kerja kepada hamba.

 

Keterkaitan qudrah dengan al-maqdur (obyek dari sifat qudrah) tidak harus melalui

penciptaan semata karena qudrah Allah pada masa azali berkaitan dengan alam sebelum

Allah menciptakannya. Dan qudrah Allah ketika menciptakan alam berkaitan dengan

alam dalam corak keterkaitan lain.

 

ESENSI MENISBATKAN TINDAKAN KEPADA PARA HAMBA

 

Berangkat dari keterkaitan qudrah di atas jelaslah bahwa keterkaitan qudrah tidak hanya

dengan terjadinya al-maqdur lewat sifat ini. Hubungan tindakan makhluk dengan mereka

sendiri dengan cara mengerjakan bukan penciptaan. Karena Allah yang menciptakan,

menakdirkan dan menghendakinya. Tidak perlu dipersoalkan bagaimana Allah

menghendaki apa yang Dia larang, karena perintah berbeda dengan kehendak dengan

bukti Allah menyuruh semua manusia untuk beriman namun Allah tidak menghendaki

semuanya beriman. Hal ini berdasarkan firman Allah :

/A98N U6ff^ _2 -O92 ff: -8

Yang Artinya : "Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman - walaupun kamu

sangat menginginkannya." (Q.S. Yusuf : 103).

 

Penisbatan tindakan kepada makhluk masuk kategori penisbatan musabbab (Obyek yang

terkena pengaruh sebab) kepada sabab (penyebab atau wasithah (perantara). Hal ini

bukanlah sebuah kontradiksi karena yang menjadi penyebab dari segala sebab adalah

 

16



pencipta

washithah

yang

menciptakan

makna

keperantaraan

kepada

washithah.

Seandainya Allah tidak memberi makna keperantaraan terhadap segala sebab maka

segala sebab itu tidak layak menjadi washithah baik sebab yang tidak diberi akal oleh

Allah seperti benda mati, cakrawala, hujan dan api atau sebab yang berakal seperti

malaikat, manusia, atau jin.

 

PERBEDAAN ARTI AKIBAT PERBEDAAAN NISBAT LAFAZH

 

Barangkali Anda berkata : Tidaklah rasional menisbatkan satu tindakan kepada dua

pelaku karena mustahil berkumpulnya dua hal yang mampu memberikan pengaruh

kepada satu obyek yang terkena pengaruh. Kami jawab, "Benar pandangan kalian.

Namun konteksnya jika pelaku hanya memiliki satu pengertian dalam penggunaan-

nya". Tapi jika pelaku memiliki dua pengertian maka kalimat tersebut ada kemungkinan

digunakan untuk salah satunya.

 

Kalau demikian tidak boleh kalimat itu digunakan untuk kedua-duanya sebagaimana

telah diketahui dalam penggunaan kalimat yang memiliki lebih dari satu pengertian

(musytarak/ambigu) atau hakikat dan majaz sebagaimana ungkapan "Pemimpin

membunuh si fulan" dan ungkapan "Si fulan dibunuh oleh algojo." Kata membunuh yang

dinisbatkan kepada pemimpin memiliki pengertian yang berbeda dengan kata yang sama

yang dinisbatkan kepada algojo. Maka ungkapan kita : Allah adalah pelaku dengan

pengertian Dia adalah pencipta yang membuat sesuatu menjadi ada dan ungkapan kita :

Sesungguhnya makhluk adalah pelaku, artinya adalah bahwa makhluk adalah obyek yang

Allah ciptakan padanya kemampuan setelah menciptakan padanya kehendak dan

pengetahuan.

 

Berarti hubungan qudrah dengan iradah serta gerakan dengan qudrah adalah hubungan

kausalitas dan yang diciptakan dengan yang menciptakan. Hubungan semacam ini

berlaku jika obyeknya adalah makhluk berakal. Namun jika tidak berakal ia termasuk

kategori mengaitkan yang disebabi atas yang menjadi penyebab.

 

Berarti sah-sah saja menyebut setiap hal yang memiliki kaitan dengan qudrah sebagai

Fa'il (pelaku) bagaimanapun bentuk kaitannya. Sebagaimana algojo dan penguasa bisa

disebut pembunuh dengan memandang dari sudut masing-masing. Karena pembunuhan

berkaitan dengan keduanya. Meskipun pembunuhan dilihat dari dua sisi pandang berbeda

namun masing-masing algojo dan penguasa bisa disebut pembunuh. Demikian pula

dalam hal menilai obyek-obyek dari qudrat dengan dua qudrat. .

 

Dalil yang menunjukkan diperbolehkannya menisbatkan hal-hal di atas dan relevansinya

adalah bahwa Allah SWT sendiri kadang menisbatkan tindakan kepada para malaikat dan

terkadang kepada yang lain dan terkadang menisbatkannya kepada diri-Nya sendiri.

 

Allah SWT berfirman yang Artinya : Katakanlah: "Malaikat maut yang diserahi untuk

(mencabut nyawa)mu akan mematikanmu."(Q.S. As-Sajdah : 11), "Allah memegang jiwa

(seseorang) ketika matinya." (Q.S. Az-Zumar :42), "Maka Terangkanlah kepadaku

tentang yang kamu tanam." (Q.S. Al-Waqi`ah : 63) dengan dinisbatkan kepada mereka.

17



"Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami

belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu." (Q.S.

`Abasa : 25-27) "Lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, Maka ia menjelma di

hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna." (Q.S. Maryam : 17) "Lalu Kami

tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh dari Kami dan Kami jadikan Dia dan anaknya tanda

(kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam." (Q.S. Al-Anbiyaa` : 91). Nafkh

(tiupan) disandarkan kepada Allah padahal yang meniup sesungguhnya adalah Jibril AS.

Allah berfirman yang Artinya : "Apabila Kami telah selesai membacakannya Maka

ikutilah bacaannya itu." (Q.S. Al-Qiyaamah : 18 ) padahal pembaca Al-Qur'an yang

didengar bacaannya oleh Nabi Muhammad SAW adalah Jibril.

 

Allah berfirman yang Artinya : "Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh

mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar

ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar." (Q.S. Al-Anfaal : 17) Allah

meniadakan tindakan pembunuhan dari mereka dan menetapkan tindakan itu kepada diri-

Nya dan menafikan tindakan pelemparan darinya lalu menyandarkannya kepada diri-Nya.

 

Maksud dari ayat bukan berarti menafikan fakta kasat mata tindakan mereka membunuh

orang-orang kafir dan menafikan tindakan Nabi melempari mereka dengan kerikil.

Namun maksudnya adalah bahwa mereka tidak membunuh dan melempar dalam

pengertian sebagaimana Allah membunuh dan melempar yaitu penciptaan dan kepastian.

Sebab kedua pengertian ini adalah dua makna yang memiliki arti berbeda.

 

Kadangkala Allah menisbatkan tindakan kepada diri-Nya dan Nabi Muhammad secara

bersamaan sebagaimana firman Allah yang Artinya : "Jikalau mereka sungguh-sungguh

ridha dengan apa yang diberikan Allah dan RasulNya kepada mereka, dan berkata:

"Cukuplah Allah bagi Kami, Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan

demikian (pula) Rasul-Nya, Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang berharap

kepada Allah," (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka)."

(Q.S. At-Taubah : 59).

 

'Aisyah RA meriwayatkan bahwa Allah SWT jika berkehendak menciptakan janin maka

Allah mengutus malaikat. Lalu malaikat memasuki rahim dan memungut sperma dengan

tangannya kemudian membentuknya sebagai jasad. Malaikat bertanya, "Wahai Tuhanku,

laki-laki atau perempuan jenis kelamin janin ini dan apakah ia normal atau cacat ?". Lalu

Allah menetapkan janin sesuai dengan kehendak-Nya dan malaikat pun membentuknya.

 

Dalam versi lain : malaikat membentuk janin dan meniupkan nyawa padanya sebagai

janin yang mendapat bahagia atau celaka. Jika Anda memahami keterangan di atas maka

jelaslah bagi Anda bahwa tindakan digunakan dalam arti beragam dan tidak kontradiktif.

Karena itu tindakan adakalanya disandarkan kepada benda mati seperti dalam firman

Allah yang Artinya : "Pohon itu memberikan buahnya pada Setiap musim dengan seizin

Tuhannya." (Q.S. Ibrahim : 25). Pohon tidak bisa memberikan buah dengan sendirinya.

 

Sebagaimana halnya sabda Nabi kepada orang yang memberikan beliau sebuah kurma :

H4_f2 -<_f_ fi2 _2 -)5

 

18



"Ambillah kurma itu. Jika engkau tidak mendatanginya maka kurma itu akan datang

kepadamu." Sebagaimana tertera dalam riwayat Thabarani dan Ibnu Hibban.

Penyandaran kata Ityan (datang) berbeda pengertian antara yang disandarkan kepada

seorang laki-laki dan kurma. Maksud dari datangnya kurma berbeda dengan datangnya

laki-laki.

 

Pengertian datang dari keduanya adalah dua majaz yang berbeda sudut pandangnya.

Kemajazan penyebutan kedatangan kepada laki-laki bermakna bahwa Allah menciptakan

padanya kemampuan dan kehendak untuk datang pada kurma. Sedang kedatangan kurma

bermakna bahwa Allah akan membuat seseorang sebagai penyebab datangnya kurma.

 

Yang sesungguhnya adalah menyandarkan mendatangkan kepada Allah pada keduanya.

Karena perbedaan sudut pandang dalam perantara maka memandang perantara dalam

tindakan terkadang bisa mengakibatkan kekufuran sebagaimana jawaban Qarun terhadap

Nabi Musa AS yang Artinya : Qarun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu,

karena ilmu yang ada padaku." (Q.S. Al-Qashash : 78) Dan sebagaimana dalam hadits :

ffV- 3 /8N8 -2 /8 d26

"Sebagian hamba-Ku, di pagi hari ada yang beriman kepadaKu dan kafir."

 

Adapun yang berkata : Kami disirami hujan berkat anugerah dan rahmat Allah maka ia

beriman kepada-Ku dan kufur kepada bintang. Sebaliknya orang yang berkata : kami

disirami hujan berkat bintang ini atau itu maka ia kafir kepada-Ku dan beriman kepada

bintang. Kekufuran ini terjadi karena memandang perantara sebagai yang memberikan

pengaruh dan yang menciptakan. Imam al-Nawawi berkata : pendapat para Ulama

terbelah menjadi dua menyangkut kekufuran orang yang mengatakan : Kami disirami

hujan berkat bintang ini. .

 

Pendapat pertama : menyatakan bahwa perkataan ini adalah kekufuran kepada Allah dan

mencabut dasar keimanan serta dapat mengeluarkan dari agama Islam. Dalam pandangan

ulama kekufuran bisa terjadi atas mereka yang mengatakan perkataan tersebut seraya

meyakini bahwa bintang adalah pelaku, pengatur dan pencipta hujan sebagaimana

anggapan sebagian kaum jahiliyyah. Siapapun yang memiliki keyakinan semacam ini

maka tidak disangsikan lagi telah kafir. Ini adalah pandangan mayoritas ulama

diantaranya Imam Asy-Syafi'i dan sesuai dengan makna literal dalam hadits. Karena itu,

dalam pandangan mereka seandainya mengatakan : kami disirami hujan berkat bintang

ini dengan tetap meyakini bahwa hujan itu dari dan berkat rahmat Allah SWT sedang

bintang cuma dianggap sebagai waktu dan ciri berdasarkan kebiasaan maka seolah-olah

ia mengatakan : kami disirami hujan pada waktu bintang ini, berarti ia tidak kufur.

 

Para ulama berbeda pendapat menyangkut kemakruhan perkataan : kami disirami hujan

berkat bintang ini. Namun kemakruhan ini sebatas makruh tanzih yang tidak berimplikasi

dosa. Penyebab kemakruhan adalah karena kalimat ini berada dalam posisi kufur dan

tidak, yang bisa berdampak sangkaan buruk bagi pengucapnya. Dan juga ia adalah

lambang jahiliyyah dan mereka yang meniru cara hidup jahiliyyah.

19



Pendapat kedua : Pada dasarnya penafsiran hadits Nabi menyatakan bahwa kufur

terhadap nikmat Allah sebab membatasi terjadinya hujan terhadap bintang. Kufur nikmat

ini berlaku bagi orang yang tidak meyakini peranan bintang. Penafsiran ini didukung oleh

riwayat terakhir pada bab ini ; Sebagian orang, di pagi hari ada yang bersyukur dan ada

yang kufur..

 

Dalam riwayat lain ; Allah tidak menurunkan berkah dari langit kecuali sebagian manusia

mengkufuri terhadap berkah itu. Kata -< ( terhadap berkah itu ) menunjukkan kekufuran

yang terjadi adalah kufur nikmat. Wallahu A'lam.

 

Anda bisa melihat bahwa Imam An-Nawawi menyatakan adanya kesepakatan ulama

bahwa siapapun yang menisbatkan tindakan kepada perantara tidak berdampak kufur

kecuali disertai keyakinan bahwa perantara itu yang bertindak sebagai pelaku, pengatur

dan pencipta.

 

Namun jika perantara tidak dilihat demikian namun hanya menganggap perantara adalah

ciri atau tempat terjadinya penciptaan yang telah ditakdirkan maka vonis kufur tidak

jatuh. Syara' malah kadang mengajak untuk memandang perantara sebagaimana sabda

Nabi :

*_ _fV- /. fi1& _ __ 84^ #2 _-V __A14S_ fi2 jV *_RV-1V -Vff_8 fi1A2 /" /8

"Siapapun yang memberi kebaikan kepada Anda maka balaslah ia. Jika Anda tidak

mampu membalasnya maka doakanlah ia sampai kalian menyadari telah membalas

kebaikannya."

Dan sabda Nabi yang lain :

, ff1Y4 fi2 -92 ff1Y4 fi2 /8

"Siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, ia tidak akan bersyukur kepada Allah."

 

Ajakan syara' ini berdasarkan pertimbangan bahwa memandang perantara dari sudut

pandang demikian tidak berarti meniadakan anugerah dari Allah. Banyak ayat dimana

Allah SWT memberikan pujian atas perbuatan baik para hamba-Nya dan malah memberi

mereka pahala atas perbuatan tersebut. Allah adalah Dzat yuang mendorong mereka

berbuat baik dan menciptakan kemampuan mereka untuk mengerjakannya. Allah

berfirman yang Artinya : "Dia adalah sebaik- baik hamba. Sesungguhnya Dia Amat taat

(kepada Tuhannya)." (Q.S. Shaad : 30), "Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada

pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya." (Q.S.Yunus :26) "Sesungguhnya

beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu" (Q.S. Asy-Syams : 9).

 

Jika telah jelas di mata Anda bahwa tindakan (al-fi'l) dapat digunakan dalam beragam

makna maka makna-makna tersebut tidaklah berbenturan jika dipahami dengan jernih.

Makna-makna yang terkandung dalam ungkapan lebih luas dari ungkapan itu sendiri dan

hati lebih luas dari buku-buku yang dikarang. Jika kita terpaku pada lafadz dalam arti

hakiki tanpa memandang majaz maka kita tidak akan mampu mengkompromikan antara

teks-teks atau membedakannya.

20



Silahkan Anda perhatikan informasi yang disampaikan Allah tentang Nabi Ibrahim AS

dalam :

-O92 /T8 ffA: /i /<O&

"Wahai Tuhanku, sesungguhnya mereka (berhala-berhala) telah menyesatkan sebagian

besar manusia." (Ayat)

Apakah Anda menilai Nabi Ibrahim menyekutukan Allah dengan benda mati ? Padahal

beliaulah yang bertanya :

_ __ -8 fi175 #O2 _4I9_ -8 /2__

 

Kompromi terhadap dua ayat ini adalah bahwa siapapun yang menyekutukan Allah

dengan yang lain dalam segi penciptaan dan memberikan pengaruh maka ia telah musyrik

baik obyek lain itu benda mati atau manusia, baik Nabi atau bukan. Dan barangsiapa

yang meyakini adanya penyebab dalam hal di atas baik penyebab itu berlaku secara

umum atau tidak kemudian menjadikan Allah sebagai penyebab atas terjadinya musabbab

dan bahwa pelakunya (al-fa'il) adalah Allah semata tidak ada yang menyukutui maka ia

adalah seorang mukmin meskipun salah dalam menilai apa yang bukan sebab dianggap

sebagai sebab. Karena kesalahannya terletak pada sebab bukan pada yang menciptakan

sebab yang notabene adalah Sang Pencipta dan Pengatur SWT.

 

MENGAGUNGKAN ANTARA IBADAH DAN ETIKA

 

Banyak orang keliru dalam memahami substansi pengagungan dan ibadah. Mereka

mencampur kedua substansi ini dan menganggap bahwa apapun bentuk pengagungan

berarti ibadah kepada yang diagungkan. Berdiri, mencium tangan, mengagungkan Nabi

SAW dengan penyebutan sayyidinaa dan maulaanaa sebelum nama beliau, dan berdiri di

depan beliau saat berziarah dengan sopan santun; semua ini tindakan berlebihan di mata

mereka yang bisa mengarah kepada penyembahan selain Allah. .

 

Pandangan ini sesungguhnya adalah pandangan yang salah dan membingungkan yang

tidak diridloi Allah dan Rasulullah SAW serta menyusahkan diri sendiri yang tidak sesuai

dengan spirit syari'ah islamiyyah. Nabi Adam AS, manusia pertama dan hamba Allah

yang shalih yang pertama dari jenis manusia, oleh Allah malaikat diperintahkan untuk

bersujud kepadanya sebagai bentuk penghargaan dan pengagungan atas ilmu

pengetahuan yang diberikan Allah kepada Nabi Adam dan sebagai proklamasi kepada

para malaikat atas dipilihnya Nabi Adam bukan para makhluk lain. Allah berfirman yang

Artinya : "Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada Para Malaikat: "Sujudlah

kamu semua kepada Adam", lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: "Apakah aku

akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?" Dia (iblis) berkata:

"Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku?

Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya

benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil."

Dalam ayat lain Allah berfirman yang Artinya : Menjawab iblis "Saya lebih baik

daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang Dia Engkau ciptakan dari tanah."

(Q.S. Al-A`raaf : 12), "Maka bersujudlah Para Malaikat itu semuanya bersama-sama,

Kecuali iblis. ia enggan ikut besama-sama (malaikat) yang sujud itu." (Q.S. Al-Hijr : 30-

31) Para malaikat mengagungkan makhluk yang diagungkan Allah dan iblis menolak

 

21

O

T



untuk sujud kepada makhluk yang tercipta dari tanah. Iblis adalah yang pertama kali

menggunakan analogi dengan akalnya dan berkata : saya lebih baik dari Adam, dengan

alasan karena ia tercipta dari api sedang Adam dari tanah. Ia enggan menghormati Adam

dan menolak bersujud kepadanya.

 

Iblis adalah makhluk angkuh pertama dan menolak mengagungkan makhluk yang

diagungkan Allah. akhirnya ia dijauhkan dari rahmat Allah karena keangkuhannya pada

Adam yang shalih. Sikap iblis pada dasarnya adalah keangkuhan kepada Allah karena

sujud kepada Adam semata-mata atas perintah Allah. Sujud kepada Adam hanyalah

sebagai bentuk penghormatan kepadanya atas para malaikat. Iblis adalah makhluk yang

mengesakan Allah namun ketauhidannya tidak berguna sama sekali akibat menolak

bersujud kepada Adam.

 

Salah satu firman Allah yang menjelaskan pengagungan terhadap orang-orang sholih

adalah firman Allah menyangkut Nabi Yusuf AS yang Artinya : "Dan ia menaikkan

kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. dan mereka ( semuanya ) merebahkan diri seraya

sujud." (Q.S. Yusuf : 100) Sujud ini adalah sujud sebagai ungkapan penghargaan dan

pemuliaan terhadap Yusuf atas saudara-saudaranya.

 

Sujud menyentuh tanah yang dilakukan saudara-saudara Yusuf ditunjukkan oleh kalimat

ff5 barangkali dalam syari'at saudara-saudara Yusuf sujud dalam bentuk seperti ini

diperbolehkan atau seperti sujud para malaikat kepada Adam untuk memuliakan,

mengagungkan, dan mematuhi perintah Allah sebagai penafsiran terhadap mimpi Yusuf

dimana mimpi para Nabi berstatus wahyu.

 

Adapun Nabi Muhammad SAW maka Allah SWT telah berfirman :

*ffT.__ *T___ #2_" #O2- _98N42 ff4)& ffTY28 /-p -9" -O&

"Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan

pemberi peringatan, Supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya,

menguatkan (agama)Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi

dan petang." Dan firmanNya :

fiA sA " #O2 O #O2 _7O_ #2_" #O2 /4 /A _8T/7_ -2 _986 /4)O2 -<v4 -4