Amalan-Amalan Nishfu Syaban& Bulan Rajab

 

 

 

Daftar isi bab 10 ini diantaranya:

 

  • Cara ibadah, berdoa pada malam nishfu Syaban
  • Dalil-dalil orang yang membantah dan jawabannya
  • Ibnu Taimiyyah menghidupkan malam nishfu Sya'ban dengan amalan khusus
  • Keterangan singkat amalan ibadah pada bulan Rajab

 

 

 

 

 

 

 

Setelah ada keterangan sebelum ini mengenai cara memperingati hari-hari Allah swt. dan lain sebagainya didalam bab Maulidin (kelahiran) Nabi saw., maka kami ingin mengutip berikut ini kemuliaan bulan/malam nishfu Syaban dan bulan Rajab. Didalam Islam telah dikenal adanya hari-hari, bulan-bulan yang di muliakan oleh Allah swt. umpamanya hari Jumat, bulan Ramadhan, bulan Haji dan lain sebagainya. Allah swt. akan lebih meluaskan Rahmat dan Karunia-Nya melebihi daripada hari-hari atau bulan-bulan biasa. Dengan demikian siapa yang beramal sholeh pada waktu-waktu tersebut lebih besar harapannya Allah swt. akan mengampunkan dosanya dan doanya dikabulkan oleh-Nya

 

Bulan Syaban/malam nishfu Syaban

Bulan Syaban adalah termasuk bulan suci atau mulia dan cukup dikenal di kalangan kaum muslimin karena banyak riwayat hadits yang mengemukakan kemuliaan bulan tersebut.

 

Nama Syaban adalah salah satu nama bulan dari 12 bulan Arab lainnya yaitu satu bulan sebelum bulan Ramadhan. Sedangkan yang dimaksud nishfu (pertengahan) Syaban yaitu tanggal 15 bulan Syaban, sedangkan malam nishfu Syaban yaitu mulai waktu Maghrib pada tanggal 14 Syaban. Banyak hadits Hasan yang dipandang mutamad oleh para ulama pakar mengenai keutamaan bulan Syaban dan malam nishfu Syaban, diantaranya,  Hadits  dari Aisyah

 

     .. : , ,                    

                                                        

Tidak terlihat olehku Rasulallah saw. berpuasa satu bulan penuh, kecuali pada bulan Ramadhan, dan tidak satu bulan yang hari-harinya lebih banyak dipuasakan Nabi daripada bulan Syaban.   (Bukhari dan Muslim)

 

Riwayat dari Usamah bin Zaid ra. katanya :

 

:  

,

  .

                                             

Tanya saya: Ya, Rasulallah kelihatannya tidak satu bulan pun yang lebih banyak anda puasakan dari Syaban. Ujar Nabi;  Bulan itu sering dilupakan orang, karena letaknya antara Rajab dan Ramadhan, sedang pada bulan itulah (bulan Syaban) diangkatnya amalan-amalan kepada Allah Rabbul alamin. Maka saya ingin amalan saya dibawa naik selagi saya dalam berpuasa . (HR.Abu Daud dan Nasai dan disahkan oleh Ibnu Khuzaimah)

 

Hadits dari Ummu Salamah ra., katanya: Belum pernah aku melihat Nabi saw. berpuasa dua bulan berturut-turutterkecuali di bulan Syaban dan Ramadhan(HR. Tirmidzi dengan sanad Hasan)

 

Abu Dawud mengemukakan hadits dari Abdullah bin Abi Qais dari Aisyah ra. sebagai berikut: Bulan yang paling disukai Rasulullah saw. ialah berpuasa di bulan Syaban. Kemudian beliau menyambung puasanya hingga ke Ramadhan. (Sulaiman bin al-Asyat al-Sijistani, Sunan Abu Daud, t.th, Dar al-Fikr : Beirut , hlm 323 juz 2)

 

Hadits lainnya adalah riwayat al-Nasa'i dan Abu Dawud (dan dishohihkan oleh Ibnu Huzaimah): "Usamah berkata pada Nabi saw, 'Wahai Rasulullah, saya tak melihat engkau melakukan puasa (sunat) sebanyak yang engkau lakukan dalam bulan Sya'ban'. Rasul menjawab: 'Bulan Sya'ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan oleh kebanyakan orang' .

Hadits dari Imran Ibnu Hushain ra. bahwasanya Nabi saw. pernah berkata pada seseorang lelaki; Apakah engkau pernah berpuasa sebagian dari bulan Syaban ini? Jawab lelaki itu: Tidak . Sabda Nabi saw.: Jika engkau telah menyelesaikan bulan Ramadhan, maka puasalah dua hari sebagai puasa pengganti bulan Syaban . (HR. Bukhori dan Muslim)           

 

Mengenai nishfu Syaban yang diriwayatkan Tirmudzi didalam An-Nawadir dan oleh Thabarani serta Ibnu Syahin dengan sanad Hasan (baik), berasal dari Aisyah ra. yang menuturkan bahwa Rasulallah saw. pernah menerang- kan bahwa:

 

,  

         

Pada malam nishfu Syaban ini Allah mengampuni orang-orang yang mohon ampunan dan merahmati mereka yang mohon rahmat serta menangguhkan (akibat) kedengkian orang-orang yang dengki.

 

Disekitar hadits terakhir diatas ini beredar sejumlah hadits lainnya yang memandang mustahab/baik kegiatan menghidupkan (ihya) pada malam nishfu tersebut. Diantaranya; hadits riwayat Ibnu Majah dari Amirul mukminin Alira.;  Hadits riwayat Ibnu Majah, Tirmidzi dan Ahmad dari Aisyah ra., riwayat Ibnu Majah dan Ahmad dari Abu Musa ra. dan sebagainya. Terkabulnya doa yang dipanjatkan pada malam tersebut lebih besar harapannya dan pada bulan itu lah diangkatnya amalan-amalan kepada Allah Rabbul alamin.

 

Ada hadits lagi yang dikemukakan juga oleh ulama yang diandalkan golongan pengingkar ini yaitu Syeikh al-Albani(dalam silsilah al-Ahadits al-Sahihah, No. 1144) yaitu: Allah melihat kepada hamba-hambaNya pada malam nishfu Syaban, maka Dia ampuni semua hamba-hambaNya kecuali musyrik (orang yang syirik) dan yang bermusuh (orang benci membenci).

 

Hadits dari A'isyah ra: "Suatu malam Rasulullah salat, kemudian beliau ber-sujud panjang, sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah telah diambil, karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Rasulullah usai salat beliau berkata: Hai A'isyah engkau tidak dapat bagian?. Lalu aku menjawab: Tidak ya Rasulullah, aku hanya berpikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama. Lalu beliau bertanya: Tahukah engkau, malam apa sekarang ini. Rasulullah yang lebih tahu, jawabku. Malam ini adalah malam nisfu Sya'ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini, maka Dia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki ". (HR. Baihaqi) Menurut perawinya hadits ini mursal (ada rawi yang tidak sambung ke Sahabat), namun cukup kuat.


Dalam hadits Ali kw, Rasulullah bersabda: "Malam nisfu Sya'ban, maka hidup- kanlah dengan salat dan puasalah pada siang harinya, sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam itu, lalu Allah bersabda: Orang yang meminta ampunan akan Aku ampuni, orang yang meminta rizqi akan Aku beri dia rizqi, orang-orang yang mendapatkan cobaan maka aku bebaskan, hingga fajar menyingsing ". (H.R. Ibnu Majah dengan sanad lemah).


Ingat sekali lagi bahwa para Ulama berpendapat bahwa hadits lemah dapat di gunakan untuk Fadhail Amal(keutamaan amal). Walau pun sebagian hadits-hadits tersebut tidak shahih, namun melihat dari hadits-hadits lain yang menunjukkan keutamaan bulan Sya'ban, dapat diambil kesimpulan bahwa malam Nisfu Sya'ban jelas mempunyai keutamaan dibandingkan dengan malam-malam lainnya..

 

Menurut seorang ahli ilmu Ibn Thawus dalam buku Iqbal, riwayat dari Kumail bin Ziyad Nakhai (sahabat Imam Ali bin Abi Thalib kw.), yang katanya: "Pada suatu hari, saya duduk di Masjid Basrah bersama maulana Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib kw., membicarakan hal nishfu Syaban. Ketika beliau ditanya tentang firman Allah swt dalam surat Ad-Dukhaan: 4:

 

                                                                                                                 

 

Pada malam itu dijelaskan segala uruasan yang penuh hikmah   

 

Amirul Mukminin mengatakan bahwa ayat ini mengenai malam nishfu Syaban, orang yang beribadat dimalam itu, tidak tidur, dan membaca doa Hadrat Hidr as. akan lebih besar harapan diterima doanya. Ketika beliau pulang kerumah- nya, dimalam itu, saya menyusulnya. Melihat saya, Imam Ali bertanya: Apakah keperluan anda kemari? Jawab saya;  Saya kemari untuk mendapatkan doa Hadrat Hidr. Beliau mempersilahkan saya duduk seraya berkata: Ya, Kumail, apabila anda menghafal doa ini dan membacanya setiap malam Jumat, cukuplah itu untuk melepaskan anda dari kejahatan, anda akan ditolong Allah swt., di beri rezeki, dan doa ini akan makbul. Ya, Kumail, lamanya persahabatan serta kekhidmatan anda, menyebabkan anda dikarunia nikmat dan kemuliaan untuk belajar.

 

Dalam Mafatih, muhaditts besar Al-Qummi, yang dikutip dalam Mishbah-ul-Mutahajjid, disebutkan bahwa doa Hadrat Hidr adalah doa terbaik, dan ter- masyhur sebagai doa hadrat hidr, serta Imam Ali kw, mengatakan pada Kumail untuk membacanya di malam nishfu Syaban dan setiap malam Jumat. Dikatakan bahwa doa ini dapat memperluas pintu rezeki dan melawan niat jahat musuh.

           

Disamping doa hadrat hidr diatas tersebut ada doa malam nishfu Syaban yang masyhur/terkenal juga diriwayatkan oleh Abu Syaibah di dalam Al-Mushannif  dan oleh Abu Dunya didalam Ad-Dua, berasal dari Ibnu Masud ra. Juga ada hadits dari Ibnu Umar yang mengatakan, Seorang hamba Allah yang memanjatkan doa doa itu, Allah pasti meluaskan penghidupannya(rezekinya)   

Ibnu Jarir, Ibnul Mundzir dan At-Thabarani meriwayatkan juga hadits tersebut dengan lafadh (versi) tidak jauh berbeda. Banyak berita-berita riwayat yang menerangkan, bahwa orang yang memanjatkan doa malam nishfu Syaban ini akan diluaskan rezekinya dan sebagainya. Juga beberapa sumber rujukan yang mengisnadkan sebagian isi doa nishfu dari Umar bin Khattab ra.

           

Sebagian isi doa yang diriwayatkan oleh Ibnu Masud antara lain berbunyi: Ya Allah, jika Engkau telah menyuratkan nasibku..dan seterusnya. Bagi yang ingin mengetahui lafadh doa ini, bisa baca pada kitab majmu syarif yang banyak dijual pada toko-toko buku agama dan harganya terjangkau dikalangan umum.

             

Keterangan-keterangan demikian ini tentu atas dasar taufiq atau persetujuan dari Nabi saw. Sebab tidak adakewenangan pada seorang sahabat atau lain- nya untuk memberitahu suatu imbalan pahala yang bersifat ghaib kalau tidak dari Nabi saw. Jadi doa-doa nishfu Syaban baik yang dari Imam Ali kw.(doa Hadrat Hidhr) serta dari sahabat-sahabat Nabi lainnya diatas ini sudah terkenal di kalangan para salaf, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang menyangkal atau mensesatkannya, kecuali golongan pengingkar ini!

  

Cara ibadah, berdoa yang dilakukan oleh kaum muslimin pada malam nishfu Syaban itu bermacam-macam: 

Ibadah dan berdo'a pada malam Nishfu Sya'ban walau pun bermacam-macam tapi makna dan intinya sama yaknibermohon kepada Allah swt. untuk kebaik- an didunia dan akhirat. Ada yang shalat sunnah enam rakaat pada waktu antara maghrib dan Isya, banyak hadits yang tidak diragukan ke- benarannya mensunnahkan shalat enam rakaat tersebut. Jika seorang hamba Allah ber tawassul kepada-Nya melalui shalat enam rakaat itu, sungguhlah bahwa tawassul yang dilakukannya itu adalah amalan shalih, dan itu tidak dapat di sangkal. Karena itu sama halnya orang yang melakukan sholat Hajat, yaitu shalat sunnah yang dengan bulat dibenarkan oleh semua umat Islam.

           

Cara ibadah lainnya yaitu berdoa dengan tawassul membaca surat Yaasin pada malam nishfu Syaban ini, setiap setelah baca Yaasin sekali langsung disambung dengan doa dan hal yang sama ini diulangi sampai tiga kali. Bacaan pertama dengan niat agar diampuni dosa-dosanya oleh Allah swt., bacaan yang kedua dengan niat agar Allah swt. menjauhkan dari berbagai kesusahan dan bacaan yang ketiga dengan niat agar Allah swt. menjauhkan dari rasa minder/rendah diri terhadap manusia (Istighna anin Naas). Ini semua tidak lain merupakan tawassul kepada Allah swt. dengan Kitab Suci-Nya, dengan firman-Nya dan dengan kesucian sifat-sifat-Nya.

           

Kebaikan yang diminta oleh seorang hamba Allah dari Tuhannya pada hakikat kenyataannya berharapan agar Allah swt. berkenan menghapus keburukannya atau dosanya, karena amal kebaikan itu akan meniadakan keburukan, sebagaimana firman-firman Allah swt. berikut ini :

                                                        

 

"Sungguhlah bahwa kebaikan meniadakan keburukan    ( Hud : ayat 114 ).

 

                                                             

 

 Mereka itulah orang orang yang keburukannya diganti Allah dengan kebaikan.  (Al-Furqan : 70).

 

  

Kemudian keburukan (yang ada pada mereka) Kami ganti dengan kebaikan.   (Al-Araf:95).

 

Sedangkan dalam hadits dari Ibn Masud ra berkata:

 

() 

 : .

  : : (

  

 Seorang lelaki mencium wanita, maka ia datang kepada Nabi saw. memberitahu hal itu. Maka Allah menurunkan (firman-Nya): Tegakkan sholat pada pagi dan sore, dan pada waktu malam. Sesungguhnya kebaikan itu dapat menghapus keburukan. Maka orang itu bertanya: Apakah hukum ini khusus untukku? Jawab Nabi saw: Untuk semua umatku ". (HR.Bukhori dan Muslim)

           

Setiap hari kita dianjurkan beramal sholeh disamping amalan wajibnya, dan Allah swt. akan memberi pahala bagi orang yang mengamalkannya. Lepas dari itu, kita mengenal dalil-dalil didalam Islam yang menunjukkan bahwa ada hari-hari, bulan dan malam-malam tertentu yang mana pada waktu-waktu tertentu tersebut Allah swt. lebih meluaskan ampunan,kurnia serta rahmat-Nya kepada hamba Allah yang sedang beramal sholeh pada waktu-waktu tersebut melebihi daripada hari-hari, malam-malam atau bulan-bulan biasa. Masalah-masalah ini semua yang penting adalah agar orang tidak menyakini bahwa pembacaan-pembacaan doa, peribadatan dan lain-lain pada hari atau bulan yang dimuliakan diantaranya malam nishfu Syaban itu diwajibkan atau ditekankan oleh syariat, sehingga nanti orang yang tidak sependapat dengan mereka, me- mandang  salah dan durhaka. Tidak lain kegiatan ibadah sunnah pada waktu-waktu tersebut adalah fadhilah mubah bagi siapa yang beroleh taufiq Ilahi. Dan orang-orang yang beroleh taufiq ilahi tidak banyak jumlahnya.

 

Masih banyak hadits lainnya yang tidak kami kemukakan di bab ini mengenai keistemewaan-keistemewaan serta pahala beramal ibadah pada hari atau bulan-bulan tertentu umpama: hari Jumat, puasa pada hari Senin dan Kamis, bulan Ramadhan, puasa 6 hari setelah hari Raya Idul Fithri, puasa pada hari Asyura, giat beribadah pada malam lailatul Qadr dan keistemewaan mengenai bacaan surat tertentu dari Al-Quran dan lain sebagainya.

           

Juga hadits-hadits yang meriwayatkan kemuliaan tempat-tempat tertentu seperti tempat-tempat yang disebutkan pada manasik haji, keutamaan dari tiga masjid, kesucian lembah Thuwa, tempat bekas berdirinya nabi Ibrahin as. dan lain sebagainya. Dengan demikian kita bisa ambil kesimpulan bahwa didalam Islam telah dikenal adanya keistemewaan dari Allah swt. bagi orang yang beramal ibadah pada waktu-waktu dan ditempat-tempat tersebut.

           

Bila ada orang mengatakan bahwa semua hari, bulan, pembacaan ayat-ayat Quran, serta tempat-tempat tertentu itu sama semuanya tidak ada yang lebih utama satu sama lain, begitu juga amalan-amalan ibadah pada hari dan tempat-tempat tertentu sama juga pahalanya, maka kami ingin bertanya pada mereka:

 

Apakah gunanya  riwayat-riwayat mengenai; pahala-pahala amalan tertentu, bacaan yang mempunyai manfaat tertentu, pahala ibadah pada tempat-tempat dan bulan-bulan tertentu serta malam yang Allah meluaskan Rahmat dan Karunia-Nya dan lain sebagainya, kalau semuanya itu tidak ada keistimewaannya atau kalau semua sama pahalanya dan keutamaannya? Apakah semua dalil-dalil tersebut palsu, bohong, dhoif, harus dibuang dan dimunkarkan karena tidak sesuai dengan akal kita atau karena berlawanan dengan pahamnya sebagian ulama?  

 

Kami sayangkan masih adanya golongan muslimin yang sering aktif menteror sesama saudara muslim yang mengamalkan amalan-amalan ibadah nawafil / sunnah atau mubah yang banyak telah kami kemukakan dibuku ini. Golongan pengingkar ini setiap kali datang bulan-bulan diantaranya bulan Maulidin Nabi saw., bulan Syaban, bulan Rajab menyebarkan makalah-makalah dari website mereka yang ditulis oleh ulama  golongan ini. Ulama mereka menulis hadits-hadits dan ayat Ilahi yang menurut paham mereka sebagai larangan mengamalkan amalan-amalan mubah yang tersebut diatas ini. Mereka ini tidak segan-segan langsung menvonnis bahwa amalan-amalan yang diamalkan oleh kaum muslimin didunia pada bulan-bulan tertentu itu sebagai amalan Haram, Bidah Munkar atau syirik dan lain sebagainya. Tetapi herannya kaum muslimin yang mengamalkan ini bertambah banyak, jadi bertambah banyak makalah-makalah yang mereka tulis bertambah banyak orang yang mengamalkan amalan-malan sunnah atau mubah tersebut. Subhanallah.

 

Kalau kita teliti lagi, perbedaan paham setiap ulama atau setiap madzhab selalu ada, dan tidak bisa disatukan. Sebagaimana yang sering kita baca di kitab-kitab fiqih para ulama pakar yaitu, Satu hadits bisa dishohihkan oleh sebagian ulama pakar dan hadits yang sama ini bisa dilemahkan atau dipalsukan oleh ulama pakar lainnya. Kedua kelompok ulama ini sama-sama berpedoman kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulallah saw. tetapi berbeda cara penguraiannya. Begitu juga halnya dengan hadits-hadits tentang keutama an bulan Rajab dan amalannya,keutamaan bulan Syaban dan amalannya, keutamaan nishfu Syaban dan amalannya. Perbedaan pendapat amalan nawafil/ sunnah atau mubah ini sebenarnya tidak perlu diperuncing atau dipertajam sehingga sering mengakibatkan sesat-mensesatkan atau benci-membenci antar sesama muslim. Siapa yang akan mengamalkan kebaikan itu, silahkan, dan yang tidak akan mengamalkan amalan-amalan kebaikan itu itu yah silahkan juga !!

 

Kalau kita telaah dalil-dalil keutamaan bulan dan malam nishfu Syaban, dalam kenyataannya banyak beredar hadits baik yang dhoif mau pun yang shohih atau hasan yang juga diakui oleh sebagian ulama golongan pengingkar ini sendiri. Hanya sayangnya ulama golongan tertentu ini karena fanatiknya dengan  paham mereka sendiri tidak segan-segan dan berani menvonnis bahwa amalan-amalan itu semuanya bidah munkar yang harus diperangi dan lain sebagainya.

 

Yang sering digembar-gemborkan oleh golongan ini seperti biasanya tentang amalan-amalan (Tawassul, Tabarruk, menghidupkan malam Nishfu Sya'ban, peringatan maulidin Nabi saw.dan sebagainya) yaitu omongan berikut ini:

 

Rasulullah saw. tidak pernah memerintahkan dan mencontohkannya. Begitu juga para shahabatnya tidak ada satu pun diantara mereka yang mengerja- kannya. Demikian pula para tabi'in dan tabi'ut-tabi'in. 

 

Atau ucapan mereka: Kita kaum muslimin diperintahkan untuk mengikuti Nabi saw. yakni mengikuti segala perbuatan Nabi. Semua yang tidak pernah beliau lakukan, kenapa justru kita yang melakukannya..? Bukankah kitaharus men- jauhkan diri dari sesuatu yang tidak pernah dilakukan Nabi saw., para sahabat, ulama-ulama salaf..? Karena melakukan sesuatu yang tidak pernah dikerjakan oleh Nabi adalah bidah.

 

Kaidah seperti itulah yang sering dijadikan pegangan dan dipakai sebagai perlindungan oleh golongan pengingkar ini, juga sering mereka jadikan sebagai dalil/hujjah untuk melegitimasi tuduhan bidah mereka terhadap semua perbuatan amalan nawafil atau mubah tersebut. Terhadap semua ini mereka langsung menghukumnya dengansesat, haram, munkar, syirik dan sebagai- nya  tanpa mau mengembalikannya kepada kaidah-kaidah atau melakukan penelitian terhadap hukum-hukum pokok/asal agama.

 

Dengan omongan seperti diatas itu bahwa Rasulallah saw., para sahabat dan tabiin tidak pernah melakukan amalan.... , seakan-akan mereka itu pernah hidup pada zamannya Rasulallah saw. atau zamannya para sahabat beliau saw. sehingga menyaksikan dengan mata kepala sendiri amalan-amalan yang diamalkan oleh Nabi saw. dan para sahabat beliau saw. !! Sebagaimana yang telah kami kemukakan sebelumnya bahwa Allah swt. berfirman:Apa saja yang didatangkan oleh Rasul kepadamu, maka ambillah dia dan apa saja yang kamu dilarangdaripadanya, maka berhentilah (mengamalkannya).  (QS. Al-Hasyr : 7). Dalam ayat ini tidak dikatakan: Dan apa saja yang tidak pernah di kerjakannya (oleh Rasulallah), maka berhentilah (mengerjakannya).

 

Begitu juga hadits Rasulallah saw.: Jika aku menyuruhmu melakukan sesuatu, maka lakukanlah semampumu dan jika aku melarangmu melakukan sesuatu, maka jauhilah dia! (HR.Bukhori). Dalam hadits ini Rasulallah saw. tidakbersabda; Apabila sesuatu itu tidak pernah aku kerjakan, maka jauhilah dia. 

 

Dengan demikian memahami makna ayat dan hadits yang terakhir diatas itu, kita bisa mengambil kesimpulan: Dalil untuk mengharamkan sesuatu perbuat- an haruslah menggunakan nash yang jelas, baik itu dari Al-Quran mau pun Hadits yang melarang dan mengingkari perbuatan tersebut. Jadi bukan seenak  nya menurut pemikirannya sebagian orang.

 

Semua perbuatan yang diharamkan atau dihalalkan oleh syariat Islam sudah jelas diterangkan dalam Sunnah Rasulallah saw., bila tidak ada keterangan yang jelas mengenai suatu amalan, maka para ulama akan meneliti dahulu apakah amalan yang bersangkutan itu berlawanan dengan hukum yang telah digariskan oleh syariat Islam (hukum pokok Islam). Dengan demikian ayat dan hadits terakhir diatas itu jelas maknanya: Bahwa suatu perbuatantidak boleh diharamkan hanya karena alasan bahwa Nabi saw., para sahabat  atau salafus sholih tidak pernah mengamalkannya !!.

 

Begitu juga tidak semua kata-kata Bidah (rekyasa yang baru) itu otomatis haram, sesat dan lain sebagainya. Banyak sekali amalan para sahabat yang Bidah pada zaman Rasulallah saw. mau pun setelah wafat beliau yang tidak pernah diajarkan dan di perintahkan oleh beliau saw.. Tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang mengatakan bahwa amalan Bidah para sahabat itu itu adalah haram, syirik dan lain sebagainya. (keterangan lebih mendetail silahkan membaca bab Bidah dibuku ini). Bagaimana golongan pengingkar ini mengatakan pengikut para Salaf Sholeh, sedangkan tokoh dari paraf Salaf Sholeh yaitu para sahabat tidak pernah memunkar- kan amalan-amalan Bidah yang dikerjakan antar para sahabat itu??

 

Dalil-dalil golongan pengingkar dan jawabannya:

Hadits pertama: "Barangsiapa yang shalat seratus raka'at pada malam nishfu dari bulan Sya'ban, ia baca pada tiap-tiap raka'at sesudah al-Fatihah, Qulhu sepuluh kali, maka tidak seorang pun yang shalat seperti itu melainkan Allah kabulkan semua hajat yang ia minta pada malam itusampai akhir hadits.

 

Hadits Kedua: "Barangsiapa yang membaca pada malam nishfu Sya'ban Qulhuwallahu ahad seribu kali dalam seratus raka'atsampai akhir hadits.

 

Hadits Ketiga: "Barangsiapa yang shalat pada malam nishfu Sya'ban 12 raka'at, ia baca pada tiap-tiap raka'at Qulhu 30 kali sampai akhir hadits.

 

Hadits Keempat: Riwayat yang menerangkan bahwa Nabi saw. Shalat nishfu Syaban 14 rakaat, setelah selesai beliau membaca al-Fatihah 14 kali, qulhu 14 kali, ayat kursi satu kali......sampai akhir hadits.

 

Kata mereka selanjutnya:

Imam Ibnu Jauzi berkata, "Tentang hadits-hadits (diatas) ini kami tidak ragu lagi tentang palsunya, semua rawi-rawinya pada tiga hadits (nomer pertama s/d ketiga) majhul (tidak diketahui keadaannya oleh ahli hadits). Dan (hadits) ini (yang keempat) juga maudhu (palsu) dan sanadnya gelap (tidak diketahui).

 

Kata Imam Nawawi: "Shalat rajab, shalat nishfu Sya'ban adalah dua Bidah, Munkar lagi Jelek". (Bacalah kitab As-Sunan wal Mubtada'at halaman 144,145 karangan Syaikh Muhammad Abdussalam Al-Hudlori).

 

Kata Ibnu Taimiyah: "Shalat ragha'ib (shalat pada malam Jum'at pertama di bulan Rajab), dan shalat pada awal malam bulan Rajab, dan shalat pada awal malam Mi'raj, dan shalat Al-Fiyah (seribu) malam nishfu Sya'ban, adalah Bid'ah dengan kesepakatan pemuka-pemuka Agama (Islam). Sedang hadits-hadits yang diriwayatkan (semuanya??) Dusta dengan Ijma Ahli Ilmu Hadits". (Bacalah kitab: Fatawa Ibnu Taimiyah jilid 23 halaman 131 sampai dengan 135).

 

Kata Imam Fatany: "Tentang shalat nishfu Sya'ban itu tidak ada satu pun kabar atau riwayat (yang shahih) melainkan riwayat yang dho'if atau palsu. Oleh karena itu janganlah kita tertipu dengan disebutnya (shalat nisfu itu) di kitab QUT dan Ihya' dan yang selain keduanya". (baca kitab: As-Sunan wal Mubtada'at Halaman 144 dan 145). Di kitab Ihya karangan Imam Al-Gazali memang ada tersebut disunatkannya shalat nishfu Sya'ban itu. Oleh karena itu lah Imam Fatany memperingatkan kita supaya jangan tertipu dengan disebutnya dikitab Ihya itu dimana pengarangnya seorang Imam besar namun manusia manakah yang tidak mempunyai salah?

 

Oleh karena itu Imam Al-Iraqi yang mengoreksi hadits-hadits yang terdapat di Kitab Ihya mengatakan, "Hadits-hadits tentang shalat malam nishfu Sya'ban itu adalah hadits yang Bathil ! dan Ibnu Majah meriwayatkan dari hadits Ali, apabila datang malam nishfu Sya'ban maka shalatlah pada malamnya dan puasalah pada waktu siangnya. Tapi semua sanadnya dlo'if ! (baca kitab: Ihya 'Ulumiddin jilid 1 halaman 203 oleh: Imam Al-Gazali)

 

Jawaban:

Tidak ada pengakuan atau kepercayaan para Imam diatas itu adanya hadits-hadits diatas yang berkaitan dengan sholat pada malam nishfu Syaban yang ditentukan bilangan rakaatnya dan bacaan-bacaan tertentu didalam sholat tersebut, bukan berarti mereka ini mengharamkan orang yang meng- amalkan sholat sunnah atau mubah pada malam nishfu Syaban itu. Para imam ini hanya mengatakan semua amalan yang telah dikemukakan dalam hadits diatas itu bidah (rekyasa baru), karena menurut mereka Rasulallah saw. tidak pernah memerintahkan atau mengucapkan tentang ketentuan atau cara sholat dan bacaannya pada malam nishfu Syaban atau pada bulan Rajab.

 

Bila benar, Rasulallah saw. tidak pernah mensunnahkannya, tidak lain yang dicela oleh para ulama diatas ialah mencela atau mensesatkan kepada orang yang mengemukakan hadits atas nama Rasulallah saw., yang mana beliau saw. tidak pernah mengucapkannya! Jadi bukan amalan ibadahnya yang dicela atau disesatkan, selama amalan ibadah ini tidak keluar dari yang telah di gariskan oleh syariat Islam!! Karena syariat tidak melarang orang sholat sunnah muthlaq berapa rakaat yang mereka kehendaki dengan bacaan apa pun dari Al-Quran.(baca keterangan selanjutnya). Jadi para ulama diatas itu juga tidak mengharamkan atau memunkarkan orang-orang yang mengamalkan amalan sholeh pada malam nishfu Syaban.

 

Para Imam itu juga tidak mengingkari adanya hadits Rasulallah saw. lainnya yang  diakui juga oleh para ulama pakar lainnya mengenai keutamaan bulan dan malam nishfu Syaban tersebut. Umpamanya hadits yang telah kami kemukakan sebelumnya dari Usamah bin Zaid bahwa Rasulallah saw. bersabda: ..pada bulan Syaban diangkatnya amalan-amalan ke Rabbul Alamin....sampai akhir hadits. Begitu juga hadits yang diriwayatkan dari Aisyah ra. bahwa Rasulllah saw. bersabda:....pada malam nishfu Syaban Allah swt. akan mengampuni orang yang mohon ampun ...sampai akhir hadits. Dan hadits lainnya yang telah dikemukakan sebelumnya.

 

Mengapa justru golongan pengingkar ini yang memutuskan bahwa semua amalan-amalan ibadah pada bulan dan nishfu Syaban adalah bidah munkar dan melarang orang extra sholat sunnah dan amalan ibadah lainnya pada waktu yang mulia tersebut? Apa dalil larangannya dari Nabi saw.?

 

Begitu juga golongan pengingkar dan pengikutnya ini mempunyai paham bahwa hadits-hadits yang dhoif walau pun dalam masalah kebaikan tidak boleh untuk diamalkan, dengan lain perkataan, bila amalan yang tercantum di dalam hadits dhoif itu diamalkan maka otomatis menjadi haram atau bid'ah sesat  yang harus diperangi. Akidah mereka seperti itu telah menyalahi Ijma (sepakat) Ulama yang mengatakan: Hadits yang dhoif itu boleh diamalkan bila berkaitan dengan Fadhail Amal (amalan-amalan yang mulia/ baik).

 

Hadits dhoif adalah hadits yang mempunyai asal/akar tetapi belum memenuhi syarat-syarat hadits hasan atau shohih, misalnya karena ada diantara perawi dari hadits tersebut yang majhul (tidak dikenal) atau lemah hafalannya. Tetapi bila banyak beredar hadits dhoif mengenai amalan yang sama dan diriwayatkan oleh berbagai para perawi lainnya maka dia meningkat menjadi hadits Hasan/Baik, begitu juga hadits Hasan bila banyak diriwayatkan oleh para perawi yang berbeda-beda dia akan meningkat menjadi hadits shohih.

 

Hanya dengan satu hadits saja walau pun misalnya hadits ini lemah tetapi banyak diriwayatkan dari berbagai jalan sudah cukup buat kita sebagai anjuran dalil untuk mengamalkan amalan-amalan sholeh pada kesempatan emas tersebut yaitu pada malam nishfu itu. Apalagi masih ada dalil yang tidak dhoif mengenai keutamaan bulan dan malam nishfu Syaban itu. Dengan demikian orang tidak bisa main pukul sama rata bahwa semua hadits mengenai kemulia- an bulan dan malam nishfu Syaban adalah munkar! Itu namanya minta menangnya sendiri !!

 

Sekali lagi, umpama saja, kita benarkan bahwa tidak ada cara tertentu yang sah dari Rasulallah saw. untuk beribadah pada malam tersebut, ini bukan berarti orang tidak boleh atau haram untuk sholat sunnah Muthlaq atau berdoa pada malam nishfu Syaban yang mulia itu. Dimana dalilnya dari Rasulallah saw. atau dari para sahabat atau dari para salaf bahwa orang dilarang/haram mengamalkan ibadah (sholat, membaca do'a dan lain sebagainya) pada malam tersebut? Sudah Tentu Tidak Ada! Karena semuanya itu merupakan amalan-amalan sholeh. Agama Islam tidak pernah melarang orang mengamal- kan kebaikan selama hal ini tidak berlawanan dengan yang telah digariskan oleh syari'at, serta tidak disyariatkan sebagai amalan wajib! Malah sebaliknya syariat sering menganjurkan agar kita selalu mengamalkan amalan-amalan sholeh/ kebaikan !!

 

Yang penting semuanya itu ialah bahwa orang tidak mewajibkan amalan-amalan tersebut karena dia termasuk amalan sunnah atau mubah. Karena amalan yang mubah atau sunnah tidak boleh diwajibkan, begitu juga sebalik- nya amalan yang wajib tidak boleh dihukum sebagai tidak wajib. Tidak ada satu pun dari golongan muslimin yang mengamalkan amalan ibadah pada malam nishfu mempunyai firasat bahwa amalan itu adalah amalan yang di wajibkan oleh syariat Islam, tidak lain ini hanya omongan atau isu-isu yang diada-adakan oleh golongan pengingkar ini !!

 

Jangan lagi pada malam atau bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah swt. yang masih ada dalilnya, pada hari-hari biasa saja tidak ada larangan untuk sholat sunnah atau berdoa kepada Allah swt., selama sholat sunnah Muthlaq (yang hanya berniat sholat saja) tidak dikerjakan pada waktu-waktu yang di larang oleh agama. (ump. setelah sholat Shubuh, setelah sholat Ashar dan lain sebagai- nya yang disebutkan dalam kitab-kitab fiqih).

 

Firman Allah swt. dalam surat (Al- Mumin :60); ..Berdoalah padaKu Aku akan mengabulkannya juga firman-Nya dalam surat Thaahaa:14; ..Dan dirikanlah sholat untuk mengingat-Ku. Dalam ayat ini Allah swt. tidak membatasi lafadh/ kalimat doa yang harus dibaca, begitu juga Dia tidak membatasi hanya sholat wajib saja, malah ada firman Allah swt. agar manusia sholat sunnah tahajjud (sholat waktu malam) atau amalan-amalan disamping amalan wajibnya !!

 

Perkataan Imam Nawawi: Bahwa shalat satu bentuk ritual yang bid'ah di malam itu (malam nishfu) adalah shalat 100 rakaat, hukumnya adalah bid'ah. Sama dengan shalat raghaib 12 rakaat yang banyak dilakukan di bulan Rajab, juga shalat bid'ah. Keduanya tidak ada dalilnya dari Rasulullah saw. Beliau (Imam Nawawi) mengingatkan untuk tidak terkecoh dengan dalil-dalil dan anjuran baik yang ada di dalam kitab Ihya' Ulumiddin karya Al-Ghazali, maupun di dalam kitab Quut Al-Qulub karya Abu Talib Al-Makki.

 

Jelas yang dimaksud Imam Nawawi ialah sholat bentuk ritual yang ditentukan 100 rakaat dimalam nishfu Syaban dan sholat Raghaib 12 rakaat dibulan Rajab itu Bidah (artinya rekyasa yang baru) yang tidak ada dalinya dari Rasulallah saw. Tetapi beliau tidak mengatakan bahwa amalan itu Bidah mungkar yang Haram dikerjakan !Berapa banyak riwayat yang menyebutkan amalan ibadah sholat sunnah atau bacaan-bacaan didalam sholat yang di amalkan para sahabat yang sebelum dan sesudahnya tidak pernah diperintah kan oleh Rasulallah saw. atau tidak dalilnya dari beliau saw.. Begitu juga Sayyidina Umar bin Khattab ra. pernah mengatakan Bidah yang nikmat pada sholat Tarawih, Siti Aisyah ra sendiri membidahkan sholat Dhuha yang beliau kerjakan dan lain sebagainya yang telah kami kemukakan pada bab Bidah dibuku ini. Tetapi tidak ada satu pun dari para sahabat yang mengatakan bahwa kata-kata Bidah itu otomatis Haram, Munkar yang harus diperangi. Pikirkanlah ! 

 

Sebab sholat sunnah Muthlaq itu boleh dilakukan kapan saja (kecuali waktu-waktu tertentu yang dilarang) dan berapa saja jumlah rakaat yang dikehendaki. Sholat sunnah itu menurut ilmu Fiqih dibagi menjadi dua macam yaitu Muthlaq dan Muqayyad. Untuk sunnah Muthlaq cukuplah orang berniat shalat saja (sholat yang tidak ada namanya).

 

Imam Nawawi rahimahullah sendiri berkata: Seseorang yang melakukan sholat sunnah dan tidak menyebutkan berapa rakaat yang akan dilakukan dalam shalatnya itu, bolehlah ia melakukan satu rakaat lalu bersalam dan boleh pula menambahnya menjadi dua, tiga, seratus, seribu rakaat dan seterusnya Apabila seseorang sholat sunnah dengan bilangan yang tidak di ketahuinya, lalu bersalam, maka hal itupun sah pula tanpa perselisihan pendapat antara para ulama. Demikianlah yang telah disepakati oleh golongan kami (madzhab Syafii)  dan diuraikan pula oleh Imam Syafii didalam Al-Imla. (Dinukil dari kitab Fiqih Sunnah Sayid Sabiq ,terjemahan Indonesia, jilid 2 cet.kedua th.1977 hal .11)

 

Pada halaman 12 di kitab yang sama diatas ini ditulis, bahwa Imam Baihaqi meriwayatkan dengan isnadnya, bahwa Abu Dzar ra. melakukan sholat (sunnah) dengan rakaat yang banyak, dan setelah salam ditegur oleh Ahnaf bin Qais ra., katanya: Tahukah anda bilangan rakaat dalam sholat tadi, apakah genap atau ganjil? Ia (Abu Dzar) menjawab: Jikalau saya tidak mengetahui berapa jumlah rakaatnya, maka cukuplah Allah mengetahuinya, sebab saya pernah mendengar kekasihku Abul Qasim (Nabi Muhammad saw.) bersabda sampai disini Abu Dzar menangis kemudian di lanjutkan pembicaraannya; Saya mendengar kekasihku Abul Qasim bersabda: Tiada seseorang hamba pun yang bersujud kepada Allah satu kali, melainkan diangkatlah ia oleh Allah sederajat dan dihapuskan daripadanya satu dosa . (Menurut al-Albani dalam kitabnya ,terjemahan bahasa Indonesia, Tamamul Minnah jilid 1 hal. 292 cet.pertama th.2001 bahwa hadits ini ada dalam shohih al-Baihaqi dan di dalamnya tidak ada perawi yang diperselisih- kan, begitu juga imam Ahmad telah meriwayatkan hadits ini) .

 

Adapun mengenai sholat sunnah Muqayyad itu terbagi dua:

 

1).Yang disyariatkan sebagai sholat-sholat sunnah yang mengikuti sholat fardhu/wajib dan inilah yang disebut sholat Rawatib (ump..sholat sholat sunnah Fajr, Zhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya). 2). Yang disyariatkan bukan sebagai sholat sunnah yang mengikuti sholat Fardhu/wajib (ump. Sholat Tasbih, sholat Istisqa dan lain-lain).

 

Hadits diatas yang mengemukakan bahwa sahabat Nabi saw. yang terkenal Abu Dzar ra. telah melakukan sholat sunnah Muthlaq (yang hanya niat sholat saja), tanpa mengetahui berapa jumlah raka'at yang beliau kerjakan itu. Tidak ada para sahabat yang menegor beliau dan mengatakan bahwa amalan itu Bidah munkar, Haram dan sebagainya! Abu Dzar ra. juga menyebutkan suatu dalil umum yang membolehkan amalan sholat sunnah itu berapa pun jumlahnya yaitu Tiada seseorang hamba pun yang bersujud kepada Allah ......

 

Mengapa justru golongan pengingkar ini berani menvonnis amalan-amalan sholat sunnah Muthlaq pada malam nishfu sebagai bidah munkar, haram dan lain sebagainya?

 

Sebagaimana yang telah dikemukakan bahwa Imam Nawawi sendiri telah mengatakan bahwa orang dibolehkan/sah sholat sunnah satu, dua, sampai ratusan rakaat dengan satu kali salam bila sholat sunnah itu tidak disebutkan berapa rakaat sebelumnya. Imam yang cukup terkenal ini pun tidak meng- ingkari kebolehan orang untuk sholat sunnah (Mutlaq) terserah berapa rakaat yang dia kehendaki, mengapa golongan pengingkar ini berani membidahkan munkar atau haram orang yang mengamalkan ibadah sholat sunnah Muthlaq dimalam yang mulia yaitu nishfu Syaban? Apakah Abu Dzar, Imam Nawawi itu bodoh, tidak mengerti hukum fiqih hanya ulama golongan pengingkar saja yang pandai, cerdas dan menguasai ilmu fiqih? Jadi para imam yang di kemukakan oleh golongan pengingkar tadi hanya mencela atau memunkarkan kepada orang yang mengemukakan hadits atas nama Rasulallah saw. karena beliau saw. menurut penelitian mereka tidak pernah menganjurkan amalan-amalan tertentu pada malam nishfu atau pada bulan Rajab.  Jadi bukan amal  ibadahnya yang dicela atau disesatkan seperti yang dipahami oleh golongan pengingkar.

 

Umpama saja kita tolerans dengan golongan pengingkar yaitu membenarkan paham mereka bahwa para imam itu benar-benar mengharamkan amalan ibadah pada bulan Syaban atau Rajab. Ini pun bukan suatu dalil yang harus di ikuti karena dalam syariat tidak ada pengharaman sholat sunnah dengan bacaan-bacaan tertentu dalam sholat tersebut. Malah sebaliknya banyak dalil yang menganjurkan agar kita memperbanyak ibadah sunnah dan berdzikir serta banyak riwayat yang menulis bahwa para sahabat mengamalkan amalan bidah hasanah yaitu menambah bacaan dalam sholat fardhu yang tidak pernah dicontohkan atau diperintahkan oleh Rasulallah saw..  

 

Wahai golongan pengingkar janganlah seenaknya menghukum amalan ibadah sunnah atau mubah sebagai bid'ah munkar atau haram dikerjakan! Meng- hukum sesuatu amalan nafilah sebagai bid'ah munkar atau haram harus menunjukkan nash yang khusus atas keharaman amalan tersebut, jadi tidak seenaknya sendiri! Bila kalian tidak mau mengamalkan amalan-amalan mubah ini, silahkan, itu urusan kalian tidak ada orang yang mencela hal itu, karena tidak lain semuanya itu hanya amalan sunnah atau mubah !!

 

Cukup banyak dalil baik dari firman Allah swt. mau pun dari sunnah Rasulallah saw. agar manusia selalu berbuat kebaikan, dan setiap kebaikan walau pun kecil akan dicatat pahalanya! Apakah sholat sunnah atau do'a kepada Allah swt. itu bukan termasuk kebaikan? Begitu juga tidak ada dalil, baik dari Allah swt. maupun dari Rasulallah saw., yang mengatakan bahwa semua amalan  itu haram hukumnya atau bid'ah munkar bila tidak pernahdikerjakan oleh Nabi saw., para sahabat atau para salaf !!! (Sekali lagi bacalah keterangan ulama-ulama pakar dalam bab Bid'ah atau bab lainnya pada buku ini )

 

Ibnu Taimiyyah menghidupkan Nishfu Syaban dengan amalan yang khusus. 

Ibnu Taimiyah mengkhususkan amalan sholat pada nishfu Syaban dan memujinya: Berkata Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Majmu Fatawa pada jilid 24 halaman 131 mengenai amalan Nishfu Sya'ban sebagai berikut:

 

:

 

Artinya: "Apabila seorang itu menunaikan sholat pada malam Nishfu Sya'ban secara individu atau berjamaah secarakhusus sebagaimana yang dilakukan oleh sebilangan masyarakat Islam maka hal itu adalah Baik".


Lihat bagaimana Ibnu Taimiyah sendiri memuji siapa yang menghidupkan amalan khusus pada malam Nishfu Sya'ban yaitu dengan menunaikan sholat sunnah pada waktu itu baik secara perseorangan mau pun secara ber- jamaah Ibnu Taimiyah menyifatkan amalan khusus itu sebagai Hasan/ Baik.

 

Pada halaman 132 dikitab yang sama itu, Ibnu Taimiyyah mengakui adanya hadits yang mengkhususkan untuk ibadah sholat malam Nishfu Syaban:


- - ǡ (( ))

 

"(Berkenaan malam Nishfu Sya'ban) maka telah diriwayatkan mengenai kemuliaan dan kelebihan Nishfu Sya'ban dengan hadits-hadits dan atsar, di nukilkan dari golongan Salaf (orang-orang dahulu) bahwa mereka menunaikan sholat khusus pada malam Nishfu Sya'ban, sholatnya seseorang pada malam itu secara perseorangan sebenarnyatelah dilakukan oleh ulama Salaf dan dalam perkara tersebut terdapat hujjah/dalil maka jangan di-ingkari, manakala sholat secara jamaah (pada malam nishfu sya'ban) adalah dibina atas hujah/ dalil kaedah pada berkumpulnya manusia dalam melakukan amalan ketaatan dan ibadat". Dalam kitabnya Iqtido' As-sirot Al-Mustaqim pada halaman 266 beliau mengatakan yang artinya:


. : . ǡ . ݡ : ǡ :[ ] : . : - - ǡ ɡ

 

"(Malam Nishfu Sya'ban) telah diriwayatkan mengenai kemuliaannya dari hadits-hadits Nabi dan pada kenyataan para sahabat telah menjelaskan bahwa itu adalah malam yang mulia dan dikalangan ulama As-Salaf yang meng- khususkan malam Nishfu Syaban dengan melakukan sholat khusus padanya dan berpuasa bulan Sya'ban, ada pula hadits yang shohih. Ada dikalangan Salaf (orang yang terdahulu), sebagian dari ahli Madinah dan selain mereka sebagian dikalangan Khalaf (orang belakangan) yang mengingkari kemuliannya dan menyanggah hadits-hadits yang diriwayatkan padanya seperti hadits: 'Sesungguhnya Allah swt. mengampuni padanya lebih banyak dari bilangan bulu kambing bani kalb'. Akan tetapi disisi kebanyakan ulama ahli Ilmu atau kebanyakan ulama Madzhab kami dan ulama lain adalah memuliakan malam Nishfu Syaban, dan yang demikian adalah kenyataan Imam Ahmad bin Hanbal dari ulama Salaf, karena cukup banyak hadits yang menyatakan mengenai kemuliaan Nishfu Sya'ban, begitu juga hal ini benar dari kenyataan dan kesan-kesan ulama As-Salaf, dan telah dinyatakan kemuliaan Nishfu Sya'ban dalam banyak kitab hadits Musnad dan Sunan". Demikianlah pendapat Ibnu Taimiyyah mengenai bulan dan malam Nishfu Sya'ban.

 

Jelas sebagai bukti bahwa Ibnu Taimiyah sendiri mengakui dan tidak mengingkari kebaikan  amalan khusus pada nishfu Sya'ban termasuk di dalamnya sholat sunnah. Belliau juga mengatakan bahwa amalan ibadah pada malam nishfu Syaban dikerjakan oleh para Salaf !!!


Tetapi sayangnya golongan pengingkar yang mengaku sebagai penerus akidah Ibnu Taimiyyah ini telahmengharamkan dan membidahkan mungkar amalan dalam bulan dan nishfu Syaban ini? Mereka hanya menyebutkan kata-kata Ibnu Taimiyyah yang sepaham dengan mereka tetapi kata-kata Ibnu Taimiyyah yang tidak sepaham dengan mereka dikesampingkannya !!

 

Apakah mereka ini juga berani membidahkan mungkar ulamanya sendiri? Apakah mereka ini akan merubah atau mengartikan kata-kata Ibnu Taimiyah yang sudah jelas tersebut sebagaimana kebiasaan mereka sampai sesuai dengan paham mereka?


Al-Qasthalani dalam kitabnya, Al-Mawahib Alladunniyah jilid 2 halaman 59, menuliskan bahwa para tabiin di negeri Syam seperti Khalid bin Mi'dan dan Makhul telah berjuhud (mengkhususkan beribadah) pada malam nishfu sya'ban. Maka dari mereka berdua orang-orang mengambil panutan.


Selanjutnya Al-Qasthalany berkata perbedaan pendapat para ulama Syam hanya dalam bentuk cara ibadah pada malam nishfu Syaban. Ada yang mengamalkan dimasjid secara berjamaah yaitu pendapat Khalid bin Midan, Luqman bin Amir  dan disetujui oleh Ishaq bin Rahawaih. Ada lagi yang mengamalkan sendiri-sendiri dirumah atau ditempat lainnya, pendapat ini disetujui oleh Al-Auza'i dan para ulama Syam umumnya!!

 

Masih banyak lagi pendapat para ulama yang membolehkan amalan ibadah khusus pada malam nishfu Syaban karena merupakan amalan kebaikan yang mendekatkan/taqarrub kepada Allah swt. Dengan demikian para ulama salaf dari zaman dahulu sampai zaman sekarang telah mengakui adanya amalan-amalan ibadah pada malam nishfu Syaban. Wallahu Alam

 

Amalan-amalan pada bulan Rajab

Alasan-alasan dan dalil-dalil yang telah dikemukakan untuk memperkokoh keabsahan kemuliaan, keutaman bulan dan malam nishfu Syaban, pada dasarnya memperkuat juga keabsahan kemuliaan dan keutamaan bulan Rajab. Lepas dari itu semua, kami ingin mengutip dan mengumpulkan ,secara singkat, riwayat-riwayat mengenai kemuliaan dan amalan pada bulan Rajab berikut ini. Keterangan yang muktamad tentang bulan Rajab adalah bahwa bulan itu termasuk bulan-bulan yang dihormati dan dimuliakan, atau dalam Al-Quran di sebut sebagai Asyhurul Hurum, yaitu,Dzul Qadah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab. Dalam bulan tersebut, Allah swt. melarang peperangan dan ini merupa- kan tradisi yang sudah ada jauh sebelum turunnya syariat Islam. Allah swt berfirman dalam surat At-Taubah: 36 sebagai berikut:

 

 Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semua- nya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.

 

 Didalam surat Al-Maidah:2, Allah swt.berfirman: Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah, dan janganlah melanggar kehormatan bulan-bulan haram".

 

 Empat bulan haram itu disebutkan juga dalam sabda Rasulullah saw. berikut: Sesungguhnya zaman telah berputar seperti pada hari penciptaan langit dan bumi, setahun terdapat dua belas bulan dan empat di antaranya adalah bulan haram dan tiga diantaranya berturut-turut, yaitu dzul qa'dah, dzul hijjah, muharram dan rajab mudhar yang berada di antara jumadil awal, jumadil akhir dan sya'ban". (HR. Bukhari dan Muslim)

 

 Imam al-Qurtubi di dalam tafsir-nya bahwa Nabi saw.sendiri pernah menegaskan bahwa bulan Rajab itu adalah bulan Allah, yaitu bulan Ahlullah. Dan di katakan penduduk (mukmin) Tanah Haram itu Ahlullah karena Allah yang memelihara dan memberi kekuatan kepada mereka. (al-Qurtubi, Jami Ahkam al-Quran, juz.6, hlm 326 )

Bulan-bulan haram memiliki kedudukan yang agung, dan bulan Rajab termasuk salah satu dari empat bulan tersebut.

 

 Hadits dari Anas bin Malik r.a. berkata; Bahwa Rasulullah saw. apabila masuk bulan Rajab selalu berdoa, Allahuma bariklana fii rajab wa syaban, wa balighna ramadan. Artinya, ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Syaban; dan sampaikan kami ke bulan Ramadan . (HR. Ahmad dalam Musnad-nya juz 1: 259 hadits no 2346dan Tabrani). Hadits ini disebutkan dalam banyak keterangan, seperti dikeluarkan oleh Abdullah bin Ahmad di dalam kitab Zawaaid al-Musnad (2346). Al-Bazzar didalam Musnadnya sebagaimana disebutkan dalam kitab Kasyf al-Astaar(616). Ibnu As-Sunny di dalam Amal al-Yawm Wa al-Lailah (658). Ath-Thabarany di dalam (al-Mujam) al-Awsath (3939). Kitab ad-Dua (911). Abu Nuaim di dalam al-Hilyah (VI:269). Al-Baihaqy di dalam Syuab (al-Iman) (3534). Kitab Fadhaail al-Awqaat (14). Al-Khathib al-Baghdady di dalam al-Muwadhdhih (II:473).

 

 Diriwayatkan dari Mujibah al-Bahiliyah, Rasulullah bersabda; "Puasalah pada bulan-bulan haram (mulia)".(Riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad).

 

 Imam Ath-Thabrani meriwayatakan hadits dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi saw. tidak menyempurnakan puasa sebulan setelah Ramadhan kecuali pada Rajab dan Syaban. (ibid, hlm 161 juz 9 hadits no. 9422)

 

 Menurut al-Syaukani dalam Nailul Authar, (dalam pembahasan puasa sunat) sabda Nabi saw., Bulan Sya'ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan kebanyakan orang itu secara implisit menunjukkan bahwabulan Rajab juga disunnahkan melakukan puasa di dalamnya.

 

Ditulis juga oleh al-Syaukani, dalam Nailul Authar, bahwa Ibnu Subki meriwayatkan dari Muhamad bin Manshur al-Sam'ani yang mengatakan bahwa  tidak ada hadits yang kuat (baca; lemah) yang menunjukkan kesunnahan puasa Rajab secara khusus. Disebutkan juga bahwa Ibnu Umar memakruhkan puasa Rajab (walau pun ia dibantah olehAsma' binti Abu Bakar), sebagai- mana Abu Bakar al-Tarthusi yang mengatakan bahwa puasa Rajab adalah makruh, karena tidak ada dalil yang kuat.

 

Namun demikian, sesuai pendapat al-Syaukani, bila semua hadits yang secara khusus menunjukkan keutamaan bulan Rajab dan disunnahkan puasa di dalamnya kurang kuat untuk dijadikan landasan, maka hadits-hadits yangumum (seperti yang tercantum diatas) itu cukup menjadi hujah atau landasan. Di samping itu, karena juga tidak adadalil yang kuat yang memakruhkan puasa di bulan Rajab.

 

 Puasa/Shaum di bulan Rajab dibolehkan (ibahah) berdasarkan hadits shahih.. Tetapi tidak satu pun dalil-dalil shahihdari Rasulallah saw. yang menentukan/ menetapkan tanggal-tanggal tertentu (seperti 1 Rajab, 17 Rajab, 27 Rajab, dan sebagainya), semua hadits berkenaan dengan tanggal-tanggal tersebut adalah dha'if atau maudhu' sehingga tidak bisa dijadikan hujjah. Sebagian sahabat dan salafus-shalih memakruhkan jika berpuasa Rajab sebulan penuh dan sebagian lainnya tidak memakruhkannya.

 

 Ada hadits shahih tentang hal tersebut adalah; Imam Muslim meriwayatkan dalam shahih-nya: "Telah menceritakan pada kami Abubakar bin Abi Syaibah, telah menceritakan pada kami Abdullah bin Numairih, telah menceritakan pada kami Ibnu Numair, telah menceritakan pada kami ayah kami, telah menceritakan pada kami Utsman bin Hakim Al-Anshari berkata: Aku bertanya pada Sa'id bin Jubair tentang puasa Rajab dan kami saat itu sedang berada di bulan Rajab, maka ia menjawab: Aku mendengar Ibnu Abbas berkata: Adalah Nabi berpuasa (di bulan Rajab) sampai kami berkata nampaknya beliau akan berpuasa (bulan Rajab) seluruhnya, lalu beliau tidak berpuasa sampai kami berkata: Nampaknya beliau tidak akan berpuasa (bulan Rajab) seluruhnya ".   (Albani sendiri dalam Al-Irwa' mengatakan: Hadits ini di-takhrij oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (VI/139) dan Ahmad (I/26). Saya (Albani) katakan: Bahkan hadits ini juga di-takhrij oleh Imam Abu Ya'la dalam Al-Musnad (VI/156, no. 2547); Al-Baihaqi dalam Al-Kubra' (IV/906); dan dalam Syu'abul Iman (VIII/316, no. 3638).

 

Kendati pun demikian, ada pula hadits-hadits lain yang memakruhkan ber- puasa di bulan Rajab, jika berpuasa satu bulan penuh  (Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman (VIII/330, no. 3653). Ibnu Umar termasuk yang memakruhkan berpuasa di bulan Rajab sama sekali walau pun ia dibantah oleh Asma' binti Abubakar (HR. Ahmad dalam Al-Musnad I/180, no. 176; Al-Baihaqi dalam Al-Kubra' III/893).

 

Diriwayatkan bahwa Umar bin Khatthab ra juga tidak menyukai puasa di bulan Rajab (namun kedudukan haditsnya diperbincangkan, karena ada Rijal yang tidak dikenal) (HR. At-Thabrani dalam Al-Ausath (XVI/427 no. 7851), tetapi Imam Al-Haitsami mengomentari hadits ini: "Dalam sanadnya ada Hasan bin Jablah dan aku tidak menemukan orang yang menyebutkan tentang siapa dia ini, selebihnya Rijal-nya Tsiqat." (Majma' Az-Zawa'id, III/191).

 

 Imam al-Baihaqi meriwayatkan dari Imam Syafii, berbunyi: Telah sampai kepada kami bahwa Asy-Syafii mengatakan: Sesungguhnya doa itu mustajab pada lima malam: malam jumaat, malam Idul Adha, malam Idul Fithri, malam pertama bulan Rajab dan malam nisfu Syaban . (al-Baihaqi, Sunan al-Kubra, 1994, Maktabah Dar al-Baz: Makkah al-Mukarramah, juz.3 hlm 319).

 

Masih banyak hadits yang beredar mengenai beramal sholeh pada bulan Rajab dan Syaban yang tidak kami kemukakan disini. Berdasarkan keterang- an di atas, jelaslah kepada kita bahwa bulan Syaban dan bulan Rajabmem- punyai dalil-dalil yang tersendiri. Sumber-sumber hukum Islam dan keterangan baik para ulama Salaf mau pun Khalaf telah memberitahu bahwa terdapat hadits-hadits yang shohih, hasan, mursal, marfu, maudhu, dhaif, dhaif jiddan (amat lemah) tentang amalan-amalan seputar bulan Syaban dan Rajab. Begitu juga banyak hadits yang beredar mengenai keutamaan bulan Syaban dan bulan Rajab. Oleh karenanya, kita tidak bisa pukul sama rata bahwasemua hadits tentang amalan ibadah pada bulan Syaban dan Rajab itu palsu, dhoif .dan tidak ada yang shohih atau hasan. Setiap isu dan dalil harus di pahami secara menyeluruh lagi mendalam agar kita tidak tersesat dari landasan yang benar.

 

Sebagaimana yang telah kami kemukakan bahwa yang sering kita baca di kitab-kitab fiqih para ulama pakar yaituSatu hadits bisa dishohihkan oleh sebagian ulama pakar dan hadits yang sama ini bisa dilemahkan oleh ulama pakar lainnya. Kedua kelompok ulama ini sama-sama berpedoman kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulallah saw. tetapi berbeda cara penguraiannya. Jangan lagi pada malam atau bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah swt. yangmasih ada dalilnya, pada hari-hari biasa saja tidak ada larangan untuk sholat sunnah, puasa atau berdoa kepada Allah swt., selama sholat sunnah (yang hanya berniat sholat saja) tidak dikerjakan pada waktu-waktu yang di makruhkan oleh agama (ump. seusai sholat Shubuh, seusai sholat Ashar dan sebagainya yang disebutkan dalam kitab-kitab fiqih), begitu juga puasa sunnah (hanya berniat puasa saja) tidak boleh diamalkan pada hari-hari yang dilarang menurut ahli Fiqih. Karena firman Allah swt.; Berdoalah pada-Ku Aku akan mengabulkannya juga firman-Nya Dirikanlah sholat untuk mengingatKu. Dalam ayat ini tidak dibatasi lafadh doa yang harus dibaca, begitu juga tidak dibatasi hanya sholat wajib saja. Sedangkan mengenai puasa sunnah (yang hanya berniat puasa saja) banyak hadits yang meriwayatkan.

 

Semua ibadah yang diamalkan karena Allah swt. itu adalah baik, malah amalan-amalan yang di kerjakan pada zaman jahiliyyah pun bisa kita tiru kalau mengandung kebaikan dan tidak bertentangan dengan syariat Islam. Sebagai contoh satu hadits yang diriwayatkan Al-Hakim dari Nubaisyah ra.; Seorang lelaki bertanya kepada Nabi saw., Wahai Rasulullah, kami memberi persembahan (kepada berhala) di zaman jahiliyah, apa yang harus dilakukan di bulan Rajab ini? Beliau saw. menjawab: Sembelihlah binatang ternak karena Allah, di bulan apa pun, lakukanlah kebaikan karena Allah dan berilah makanan . (Imam Al-Hakim mengatakan: Isnad hadits ini adalah shohih tetapi tidak dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dalam shohih mereka berdua. (Abu Abdillah al-Hakim, al-Mustadrak ala Sahihain, 1990, Cetakan pertama, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah : Beirut, juz 4, hlm 263 )

 

Misalnya ada  hadits Nabi saw. sudah tentu tidak mungkin yang melarang umatnya berpuasa atau beramal sholeh di bulan Syaban dan Rajab, hadits ini akan diteliti betul-betul oleh para ulama, karena jelas bertentangan dengan hadits-hadits lain yang menganjurkan orang berpuasa dan sholat sunnah disamping yang wajib dan beramal sholeh setiap waktu!! 

 

Imam Syaukani sendiri dalam Nailul Authar mengatakan, Tidak ada dalil yang kuat yang memakruhkan puasa di bulan Rajab begitu juga tidak ada hadits yang kuat (baca; lemah) yang menunjukkan kesunnahan puasa Rajab secara khusus. Dengan demikian amalan ibadah puasa bulan Rajab serta amalan ibadah memperbanyak sholat sunnah atau berdzikir adalah amalan mubah, yang sudah pasti juga mendapat pahala dari Allah swt.. Karena semua amalan baik walau pun kecil pasti akan dicatat juga sebagai kebaikan, begitu juga amalan buruk walau pun kecil pasti akan dicatat juga sebagaik keburukan (Al-Zalzalah:7-8)! Begitu juga menurut kaidah ulama hadits yang dhoif boleh diamalkan bila mengandung Fadhail Amal.

 

Jangan lagi pada malam atau bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah swt. yang masih ada dalilnya, pada hari-hari biasa saja tidak ada larangan untuk sholat sunnah, puasa atau berdoa kepada Allah swt., selama sholat sunnah (yang hanya berniat sholat saja) tidak dikerjakan pada waktu-waktu yang dimakruhkan oleh agama (ump. seusai sholat Shubuh, seusai sholat Ashar dan sebagainya yang disebutkan dalam kitab-kitab fiqih), begitu juga puasa sunnah (hanya berniat puasa saja) tidak boleh diamalkan pada hari-hari yang dilarang menurut ahli Fiqih. Karena firman Allah swt.; Berdoalah pada-Ku Aku akan mengabulkannya juga firman-Nya Dirikanlah sholat untuk mengingatKu.Dalam ayat ini tidak dibatasi lafadz doa yang harus dibaca, begitu juga tidak dibatasi hanya sholat wajib saja. Sedangkan mengenai puasa sunnah (yang hanya berniat puasa saja) banyak hadits yang meriwayatkan. Yang pentingsemuanya ini ialah bahwa orang tidak mewajibkan atau mensyariatkan amalan-amalan tersebut karena dia termasuk amalan mubah.

 

Marilah kita semua tidak saling cela mencela sesama muslim hanya masalah amalan sunnah atau mubah. Orang yang tidak mau beramal pada bulan yang mulia itu juga tidak ada salahnya begitu pun juga orang yang ingin beramal pada bulan yang mulia itu akan mendapat pahala. Karena tidak ada satu amalan yang baik (sholat, berdzikir, berdoa dan lain-lain) yang tidak diberi pahala oleh Allah swt. Hal ini banyak difirmankan oleh Allah swt. dan diriwayatkan dalam hadits Nabi saw. Yang tidak dibolehkan oleh syariat ialah merubah atau menambah amalan-amalan pokok yang telah digariskan/ditetapkan oleh syariat agama. (Umpama sholat Shubuh sengaja 3 rakaat dll.) Wallahu alam.              

 

Semoga dengan kutipan singkat dan sederhana mengenai bulan/nishfu Syaban atau bulan Rajab ini, bisa memberi manfaat bagi diri dan keluarga kami khususnya serta semua ummat muslimin, amin. Begitu juga dengan adanya firman-firman Allah swt. dan hadits Rasulallah saw.serta wejangan-wejangan para ulama pakar yang tertulis di buku ini, kita bisa ambil kesimpulan bahwa semua perbuatan kebaikan, dengan cara bagaimana pun, asal tidak keluar dari syariat dan tidak merubah hukum-hukum pokok agama itu adalah baik/mustahab apalagi yang mendatangkan mashlahat/kebaikan malah dianjur kan oleh agama.

 

Insya Allah, tidak ada nash/hukum yang mengharamkan atau melarang amal kebaikan yang telah kami kemukakan dibuku ini malah sebaliknya cukup banyak dalil baik secara langsung maupun tidak langsung yang menganjurkan untuk beramal kebaikan. Arti atau makna yang dimaksud kebaikan dalam agama itu luas sekali. Janganlah kita sendiri yang membatasinya, sehingga dengan mudah mengambil satu hadits tentang suatu amalan kemudian hadits ini digunakan dalil untuk melarang/mengharamkan amalan lainnya !

           

Insya Allah kebingungan kita bisa teratasi dengan adanya dalil-dalil dibuku ini tentang suatu amalan yang semuanya telah diuraikan oleh ulama-ulama pakar berdasarkan ayat-ayat Ilahi dan hadits Nabi saw., dengan demikian amalan-amalan seperti; Tawassul, Tabarruk, kumpulan majlis dzikir, peringatan-peringatan keagamaan dan lain sebagainya bisa lebih lancar jalannya. Karena semua itu adalah sebagian dari syiar agama !

 

Bagi pembaca yang ingin lebih luas mengetahui dalil-dalil dan wejangan para ulama mengenai bidah, peringatan maulidin Nabi saw., peringatan-peringatan agama lainnya, penambahan kata-kata Sayyidina didepan kata Muhammad saw. serta hal-hal lainnya yang sering dikeritik atau dicela oleh golongan pengingkar dan kawan-kawannya, silahkan membaca buku-buku:

Pembahasan Tuntas perihal Khilafiyah, oleh H.M.M.Al-Hamid Al-Husaini dan Sebagian besar isi bab Nishfu Syaban kami kutip dan kumpulkan dari kitab: Pembahasan Tuntas perihal Khilafiyah, oleh H.M.M.Al-Hamid Al-Husaini, Fiqih Sunnah Sayyid Sabiq, juga kami kutip dan kumpulkan dari bermacam-macam website.

 

Buku baru yang berjudul Telaah kritis atas doktrin faham Salafi/ Wahabi  isinya belum sekomplit yang ada di website ini (insya Allah pada cetakan kedua) dan belum beredar merata pada toko-toko buku di Indonesia. Bagi peminat bisa langsung hubungi toko-toko: di jalan Sasak. Surabaya-Indonesia.