Penutup

 

Secara singkat kami telah mengutip dan mengumpulkan firman-firman Allah swt. dan hadits-hadits Rasulallah saw. serta wejangan-wejangan para ulama pakar dibuku ini, antara lain mengenai;  Bid’ah, Ziarah Kubur, Peringatan keagamaan, Tawassul, Tabarruk dan sebagainya, bisa kita ambil kesimpulan bahwa semua bentuk amalan kebaikan adalah mustahab untuk diamalkan. Bentuk atau cara pengamalannya boleh dilaksanakan bagaimana pun, yang penting bentuk dan cara ini tidak diharamkan oleh syariat Islam serta tidak merubah hukum-hukum pokok yang telah digariskan oleh agama Islam. Apalagi bila amalan tersebut bermanfaat bagi muslimin, malah dianjurkan oleh agama. Semua orang yang mengamalkan amalan-amalan kebaikan yang tertulis dibuku ini  juga mempunyai dalil baik secara langsung mau pun tidak langsung dari Kitabullah dan Sunnah Rasulallah saw..

 

Sebagian besar isi buku kami kutip dan kumpulkan dari kitab-kitab di antaranya: Keagungan Rasulallah saw. dan Keutamaan Ahlul Bait oleh Almarhum H.M.H.Al-Hamid Al-Husaini ; Keutamaan Keluarga Rasulallah saw. oleh Almarhum K.H.Abdullah bin Nuh ; Pembahasan Tuntas Perihal Khilafiyah oleh Almarhum H.M.H Al-Hamid Al-Husaini; Argumentasi Ulama Syafi’iyah oleh Ustadz H.Mujiburrahman, Kitab -Asbabun Nuzul  dan Hadits Pilihan- sebagai penyusunnya saudara Syamsuri Rifa'i dan Ahmad Muhajir ;  Kitab Fiqih Sunnah Sayyid Sabiq ; Kitab Riyadhus Sholihin; Kitab At-Taj Al-Jaami’ Lil Ushuuli Fii Ahaadititsir Rasuuli oleh Syeikh Manshur Ali Nashif Al-Husaini; situs abusalafy Indonesia. dan website-website lainnyaInsya Allah setelah membaca isi buku ini , para pembaca bisa menilai sendiri jalan mana yang akan kita tempuh agar keridhoan Allah swt. dan Rasul-Nya selalu meng iringi kita semua.

 

Kita tidak perlu mensyirikkan, mensesatkan  satu sama lain antara kaum muslimin karena adanya perbedaan dan sudut pandang diantara kita. Karena masing-masing pihak berpedoman pada Kitabullah dan sunnah Rasulallah saw. namun berbeda dalam hal penafsiran dan penguraiannya. Setelah menguraikan atau menafsirkan ayat-ayat Allah swt. dan hadits Nabi saw., janganlah mengecam dan menyalahkan atau berani mengkafirkan dan sebagainya kaum muslimin dan para ulama dalam suatu perbuatan. Orang seperti ini sangatlah egois dan fanatik serta extreem dalam sudut pandang- nya sendiri yang menganggap dirinya paling benar dan faham sekali akan dalil-dalil syar’i/Agama. Golongan extreem ini selalu menganggap kaum muslimin dan para ulama yang tidak sependapat dengan mereka, adalah kafir, sesat dan lain sebagainya. Kami berlindung pada Allah swt. dengan sifat yang demikian itu.

 

Begitu juga riwayat-riwayat yang jelas mengenai wujudnya serta keutamaannya ahlul-Bait dan keturunan Rasulallah saw. itu membukti- kan bahwa:

 

“Al-Qur’anul Karim akan kekal dan akan kekal pula hukumnya serta bukti kebenarannya diatas permukaan bumi sampai hari kiamat dan ahlul-Baitnya adalah patner Al-Qur’an yang senantiasa berdamping dengannya, kedua-duanya tidak akan terpisah sampai hari kiamat sehingga bertemu Rasulallah saw. di telaga Haudh (surga). Juga dengan riwayat-riwayat itu menunjukkan keturunan Rasulallah saw. senantiasa akan dikenal dan di percayai sampai hari kiamat, sebagaimana Al-Qur’an yang dipercayai, karena keduanya me- rupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan”.

 

Sebagaimana yang telah kami kemukakan dibuku ini bahwa memandang ahlulbait dan keturunan Rasulallah saw. sebagai keturunan yang mulia sama sekali tidak mengurangi makna atau arti firman Allah swt. dalam surat Al-Hujurat :13 dan tidak pula mengurangi makna sabda Rasulallah saw. yang mengatakan: “Tiada kelebihan bagi orang Arab atas orang bukan Arab (‘Ajam), dan tiada kelebihan bagi orang bukan Arab atas orang Arab kecuali karena takwa”.

           

Firman Allah Al-Hujurat :13 dan hadits Rasulallah saw. diatas ini tidak bertentangan dengan surat Al-Ahzab : 33  yang menegaskan: “Sesungguhnya Allah hendak menghapuskan noda dan kotoran (ar-rijsa) dari kalian, ahlul-bait, dan mensucikan kalian sesuci-sucinya”.

           

Sekali lagi fadhilah dzatiyyah (keutamaan dzat) yang dikaruniakan Allah swt. kepada para keturunan Rasulallah saw. sama sekali tidak lepas dari rasa tanggung jawab mereka yang lebih berat dan lebih besar daripada yang harus dipikul orang lain. Mereka ini harus selalu menyadari kedudukannya ditengah-tengah ummat Islam. Mereka wajib menjaga diri dari ucapan-ucapan, perbuatan-perbuatan dan sikap yang dapat mencemarkan kemulia- an keturunan Muhammad Rasulallah saw.. Mereka wajib pula menyadari tanggung-jawabnya yang lebih besar atas citra Islam dan ummatnya. Dengan demikian maka kewajiban menghormati mereka yang dibebankan oleh syari’at kepada kaum muslimin dapat diwujudkan dengan sebaik-baiknya.

 

Tidak akan ada kesan bahwa para keturunan Rasulallah saw. menonjol-nonjolkan diri menuntut penghormatan dari orang lain, karena kaum muslimin yang menghayati syari’at Islam pasti menempatkan mereka pada kedudukan sebagaimana yang telah menjadi ketentuan syari’at. Kami rasa dan kedudukan mereka perlu dipahami oleh kaum muslimin, terutama oleh orang-orang keturunan Ahlul Bait sendiri sebagai pihak yang paling berkewajiban menjaga martabat Rasulallah saw. dan Ahlul Bait beliau saw.

 

Kemuliaan yang diperoleh seorang beriman dari kebesaran takwanya kepada Allah dan Rasul-Nya adalah kemuliaan yang bersifat umum, yakni hal ini dapat diperoleh setiap orang yang beriman dengan jalan takwa, lain halnya dengan kemuliaan ahlulbait dan keturunan Rasulallah saw.. Mereka memperoleh kemuliaan berdasarkan kesucian yang dilimpahkan dan di karuniakan Allah swt. kepada mereka sebagai keluarga dan keturunan Rasulallah saw. Jadi kemuliaan yang pada mereka ini bersifat khusus, dan tidak mungkin dapat diperoleh orang lain yang bukan ahlul-bait dan bukan ke turunan Rasulallah saw.

 

Begitu juga suatu kesalahan atau kekeliruan tidak akan disorot oleh masyarakat setajam kesalahan atau kekeliruan yang diperbuat oleh orang-orang keturunan Ahlul-Bait. Apalagi pandangan masyarakat yang dengki atau tidak senang dengan Ahlul-Bait, mereka ini akan lebih memperuncing dan mempertajam kesalahan dan kekeliruan yang diperbuat oleh orang keturunan Ahlul-Bait.

 

Keturunan ahlul-Bait adalah manusia biasa bukan manusia yang maksum, bisa saja berbuat dosa atau menjalani amalan yang fasiq,  janganlah dengan adanya perbuatan salah/dosa itu langsung menjelekkan, mencela atau tidak mengakui nasabnya atau meniadakan wujudnya  keturunan Rasulallah saw.. Dengan demikian mereka ini tanpa sadar membantah dan menentang riwayat-riwayat hadits Nabi saw. tentang keutamaan dan wujudnya keturun- an beliau saw. dan sebagainya yang telah kami kutip sebelumnya.  

 

Al-‘allamah Ibnu Hajar dalam kitabnya Ash-Shawaiqul-Muhriqah menerang- kan sebagai berikut: “Barangsiapamengganggu salah seorang putera (Siti) Fathimah, ia akan menghadapi bahaya karena perbuatannya itu membuat marah (Siti) Fathimah ra. Sebaliknya, barang siapa mencintai putera-putera (termasuk keturunannya), ia akan memperoleh keridhoannya. Para ulama Khawash (para ulama yang mempunyai keistemewaan khusus) merasa di dalam hatinya terdapat keistemewaan yang sempurna karena kecintaan mereka kepada Rasulallah saw., dan ahlul-bait serta keturunannya atas dasar pengertian, bahwa ahlul-bait dan keturunan beliau saw. adalah orang-orang suci (dimuliakan oleh Allah swt.). Selain itu mereka (para ulama khawash) juga mencintai anak-anak (keturunan) sepuluh orang sahabat Nabi saw. yang telah dijanjikan masuk surga, disamping itu mereka (para ulama khawash) juga mencintai anak-anak keturunan para sahabat Nabi yang lain. Mereka memandang semua keturunan sahabat Nabi sebagaimana mereka memandang para orang tua mereka.

 

Selanjutnya Ibnu Hajar mengatakan: “Orang harus menahan diri jangan sampai mengecam mereka (ahlul-bait dan keturunan Rasulallah saw.). Jika ada seorang diantara mereka yang berbuat fasik berupa bid’ah (baca keterangan apa yang di maksud Bid’ah dibuku ini) atau lainnya, yang harus dikecam hanyalah perbuatannya, bukan dzatnya, karena dzatnya itu merupa kan bagian dari Rasulallah saw., sekali pun antara dzat beliau dan dzat orang itu terdapatperantara (wasa’ith)”.

            

Bila pembaca yang budiman ingin lebih mendalami tentang Ahlul-Bait dan masalah lainnya serta ingin membaca lebih mendetail hadits-hadits serta wejangan para ulama pakar yang tercantum dibuku ini, lebih mudahnya silah kan membaca nama kitab-kitab yang tersebut diatas ini. 

 

 

Semoga semua yang tercantum dibuku ini bisa memberi manfaat bagi diri dan keluarga kami khususnya serta semua ummat muslimin. Semoga Allah swt. dan Rasul-Nya berkenan menerima serta meridhoi sedikit kebajikan yang kami kutip didalam buku ini bi haqqi (demi kebenaran) wa bi jaahi (dan demi kebesaran/ kemuliaan) junjungan kita Habibullah Muhammad saw. dan para ahlul-bait dan keturunannya. Tidak lain tujuan dan harapan kami menulis buku ini agar kita semua bisa tidak sesat-mensesatkan sesama muslimin. 

 

Sudah tentu kami sebagai manusia biasa tidak akan luput dari kesalahan dan kekhilafan, dengan demikian kami mohon pada Allah swt. sudi untuk mengampuni diri kami bila ada kesalahan dan kekhilafan dalam buku ini.    

         

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami ter- salah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang se- belum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami ter- hadap kaum yang kafir”. 

 

Bi Haqqi Muhammad Wa Aali Muhammad, kabul- kanlah ya Allah do’a kami. Wa maa taufiqi illa billah, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unib.

 

 

Juni 2007 

 

Hamba Allah yang lemah

A.Shihabuddin