AJARAN POKOK AHMADIYAH YANG BERHUBUNGAN DENGAN PAHAM MAHDI
 
1. MASALAH WAHYU
 
Sebagaimana dalam uraian di atas, kemahdian Ahmadiyah  tidak
bisa  dipisahkan dengan masalah wahyu, sebagaimana kemahdian
Syi'ah tidak bisa  terlepas  dari  masalah  keimaman.  Sebab
Mahdi  Ahmadiyah,  juga  mengaku sebagai al-Masih, sedangkan
al-Masih sebagai yang diberitahukan dalam hadis sahih,  akan
turun  kembali  ke  dunia  dan  dia adalah seorang Nabi yang
ditugaskan oleh Tuhan untuk membunuh Dajjal, di akhir zaman.
Itulah  sebabnya  kemahdian  Ahmadiyah tidak bisa dipisahkan
dengan masalah wahyu, karena wahyu yang  disampaikan  kepada
al-Mahdi  adalah  untuk  menginterpretasikan al-Quran sesuai
dengan ide pembaharuannya.
 
Munculnya paham kewahyuan Ahmadiyah, tidak saja  ia  membawa
pertentangan  dan perselisihan di kalangan masyarakat Islam,
tetapi juga di kalangan mereka (pengikut) Ahmadiyah sendiri.
Menurut  paham  aliran  ini,  wahyu Tuhan itu tidak terputus
sesudah  Rasulullah  wafat,  dan  wahyu  yang  terhenti  itu
hanyalah  wakyu tasyri'i atau wahyu syari'at. Dalam hubungan
ini,  seorang  propagandis  Ahmadiyah  dari  Sialkot,  Nazir
Ahmad,   menjelaskan   bahwa  wahyu  yang  terputus  sesudah
Rasulullah  adalah  wahyu  tasyri',  bukan   wahyu   mutlaq.
Selanjutnya  dijelaskan,  bahwa  yang  dimaksud dengan wahyu
terakhir ini, tidak dikhususkan hanya untuk para nabi  saja,
akan  tetapi  diberikan  juga kepada selain mereka.29 Senada
dengan pemahaman di  atas,  pengikut  sekte  Lahore  mencoba
membagi cara-cara Tuhan menyampaikan firman-Nya, sebagaimana
yang  diungkapkan  dalam  al-Quran.  Cara-cara  itu   adalah
sebagai berikut:
 
a. Wahyu, yaitu isyarat cepat yang merupakan petunjuk Tuhan
yang masuk ke dalam hati seseorang, seperti petunjuk yang
diterima oleh ibu Nabi Musa, agar menghanyutkan puteranya,
Musa, di sungai Nil. Demikian juga seperti wahyu yang
oleh diterima oleh kaum Hawari (murid-murid Nabi 'Isa),
atau kaum laki-laki lain. (Lihat S. 28: 7; S. 5: 111;
S. 21: 7).
 
b. Dari belakang hijab atau tirai, yang meliputi: Pertama,
dengan ru'yah salihah (mimpi baik), wahyu ini menurut
pahamnya, diterima seseorang dalam keadaan setengah sadar.
Sebagaimana yang dialami Rasulullah sewaktu mi'raj
(Lihat S. 42:51). Kedua, dengan kasysyaf seperti petunjuk
Tuhan yang dialami oleh Maryam (ibu Nabi 'Isa) sewaktu
berdialog dengan Malaikat Jibril, (Lihat S. 41: 44).
Dan ketiga dengan jalan ilham.
 
c. Mengutus Jibril, wahyu yang disampaikan oleh Jibril ini
dikenal dengan wahyu nubuwwah (wahyu kenabian). Wahyu
jenis inilah yang telah terhenti, sedangkan jenis wahyu
yang lain tetap berlangsung sampai kapan saja.30
 
Dari paham kewahyuan di atas, lalu timbullah anggapan  bahwa
Mirza  Ghulam  Ahmad  yang  diangkat Tuhan sebagai al-Masih.
atau al-Mahdi, melalui  ilham  yang  diterimanya,  dipandang
sebagai   seorang   nabi  oleh  sekte  Qadiani.  Dan  secara
implisit, sekte Lahore pun juga mengakuinya, hanya saja term
yang  mereka  pakai  adalah  nabi lugawi, bukan nabi haqiqi.
Bagi kaum Qadiani, pengakuan mereka terhadap kenabian  Mirza
tampak  lebih tegas, sebab ia diyakini sebagai duplikat Nabi
'Isa a.s., yang berstatus nabi dan menerima wahyu. Disamping
itu,   berita   kehadiran   al-Masih juga   disebutkan  dalam
hadis-hadis  sahih,  kemudian  mereka   mencoba   menguatkan
keyakinan   tersebut  dengan  menggunakan  dalil-dalil  yang
meyakinkan.
 
Al-Mahdi  ini,   semula   mengakui   bahwa   petunjuk   yang
diterimanya  dari  Tuhan  sebagai  ilham, kemudian oleh para
pengikutnya dinyatakan sebagai wahyu, dan pernyataan seperti
itu  tidak  dibantahnya sama sekali oleh Mirza, malah diakui
kebenaran  anggapan  tersebut.  Untuk  itu,  lalu  digunakan
term-term baru seperti: wahyu nubuwwah, wakyu tasyri', wahyu
gair  tasyri',  wahyu  muhaddas,  wahyu  walayah  dan   lain
sebagainya. Untuk menguatkan paham kewahyuan di atas, selain
mereka  menggunakan  ayat-ayat  al-Quran,  juga  menggunakan
hadis-hadis Nabi seperti:
 
"Sungguh  telah  ada orang-orang sebelum kamu, dari kalangan
bangsa Israel,  yaitu  orang-orang  yang  (dapat)  berdialog
dengan  Tuhan,  sekalipun  mereka bukan para nabi. Maka jika
sekiranya  ada  salah  seorang  diantara  ummatku  (termasuk
golongan itu), tentulah 'Umar orangnya." (H.R. Bukhari).
 
Wahyu-wahyu  yang diterima oleh al-Mahdi dari Tuhan, sebagai
acuan   baginya   dalam    melaksanakan    pembaharuan    di
tengah-tengah   masyarakat  Islam  yang  dipandangnya  telah
rusak, telah  dihimpunnya  sendiri  menjadi  80  buah  kitab
lebih,  yang  kemudian  disatukan  menjadi sebuah kitab yang
disebut Tazkirah  yang isi  kandungannya  adalah  merupakan
penjelasan  maksud  al-Quran  yang  mencakup  bidang akidah,
ibadah, mu'amalah dan akhlak. Kitab  inilah  yang  dijadikan
pedoman  oleh  jemaat  Ahmadiyah  dalam melaksanakan ide-ide
kemahdian Mirza  Ghulam  Ahmad.  Tentunya,  paham  kewahyuan
Ahmadiyah ini, ditolak keras oleh kaum Sunni karena dianggap
teiah menyimpang dari prinsip Islam.
 
Jika pendiri aliran Ahmadiyah ini tetap  berpendirian  bahwa
petunjuk yang diterima itu adalah ilham, sebagaimana yang ia
nyatakan di  awal  kegiatannya,31  artinya  tidak  tenggelam
dalam  anggapan  pengikutnya  yang menilai petunjuk tersebut
sebagai wahyu, maka ide pembaharuannya akan  mudah  diterima
oleh  masyarakat  luas  dan tidak akan menimbulkan pandangan
yang kontradiktif. Selain itu, ajaran Mirza yang  menyatakan
bahwa   'Isa  a.s.,  benar-benar  disalib  di  tiang  salib,
sekalipun Nabi 'Isa tidak sampai wafat, adalah  lebih  dekat
dengan   kepercayaan   orang   Nasrani  daripada  pernyataan
al-Quran yang menegaskan bahwa Nabi 'Isa tidak disalib  sama
sekali,   akan  tetapi  yang  disalib  adalah  seorang  yang
diserupakan dengan 'Isa a.s. Sebagaimana dalam firman Allah:
 
"... padahal  mereka  tidak  membunuhnya  ('Isa)  dan  tidak
menyalibnya,  tetapi  yang  mereka  bunuh  adalah orang yang
diserupakan dengan 'Isa ..." (S. 4: 157).
 
Oleh karena itu, sangat boleh  jadi  penemuan  Mirza  Ghulam
Ahmad  tentang  makam  Yus  Asaf  di Srinagar, Kashmir, yang
diyakininya   sebagai   makam   Nabi   'Isa   a.s.,    telah
mengilhaminya  untuk  mengadakan  pembaharuan.  Dan terutama
sekali jika sebelumnya ia harus  menghadapi  tantangan  dari
kaum  propagandis  dan  misionaris  Hindu  dan  Nasrani yang
gencar menyerang Islam di satu pihak, dan  kemunduran  ummat
Islam  di  berbagai  bidang,  di  pihak  lain. Perlu penulis
tambahkan di sini, bahwa pendirian Mirza tentang  penyaliban
'Isa  a.s.,  atau  Yesus  Kristus di atas, sekalipun hal itu
berlawanan dengan pernyataan  al-Quran  tampaknya  pendirian
ini  didasarkan  pada ide pembaharuannya. Yaitu keinginannya
untuk mempertemukan antara paham Nasrani dengan paham Islam,
sehingga  dapat  menarik pengikut kedua agama tersebut untuk
menerima paham kemahdiannya.
 
2. MASALAH NUBUWWAT ATAU KENABIAN DAN KHATAMUL-ANBIYA'
 
Dalam masalah kedua ini,  terjadi  perbedaan  yang  mendasar
antara  sekte  Lahore  dan  sekte  Qadiani.  Bagi  Ahmadiyah
masalah  kenabian  ini   ada   dua   versi,   yang   pertama
diistilahkan  sebagai  Nubuwwah  Tasyri'iyyah (kenabian yang
membawa  Syari'at),   dan   kedua   adalah   Nubuwwah   Gair
Tasyri'iyyah  (kenabian tanpa membawa syari'at). Selanjutnya
dijelaskan bahwa kenabian versi kedua ini, meliputi Nubuwwah
Mustaqillah (kenabian mandiri) dan Nubuwwah Gair Mustaqillah
(kenabian yang  tidak  mandiri).  Para  nabi  yang  mandiri,
adalah  semua  nabi  yang datang sebelum nabi Muhammad SAW.,
dimana  mereka   tidak   perlu   mengikuti   Syari'at   nabi
sebelumnya.   Sedangkan   yang  dimaksud  dengan  nabi  gair
mustaqil (tidak mandiri) yaitu nabi yang mengikuti  Syari'at
nabi  sebelumnya,  seperti  kenabian Mirza Ghulam Ahmad yang
mengikuti syari'at Nabi Muhammad. Dengan  demikian,  menurut
paham  Ahmadiyah, hanya nabi-nabi yang membawa syari'at saja
yang sudah berakhir, sedangkan nabi-nabi yang tidak  membawa
syari'at akan tetap berlangsung.
 
Nabi  mandiri  dalam  pandangan sekte Ahmadiyah Lahore, bisa
berarti bahwa nabi jenis ini diberi wewenang oleh Tuhan atas
dasar  petunjuk-Nya,  guna  menghapus  sebagian  ajaran nabi
sebelumnya yang dipandang tidak sesuai lagi saat  itu,  atau
dengan  menambah  ajaran  baru sehingga syari'at itu menjadi
lebih sempurna. Terjadinya  perubahan  sedikit-sedikit  dari
nabi-nabi yang datang kemudian, sehingga syari'atnya menjadi
lebih  sempurna  daripada  syari'at  yang  dibawa  nabi-nabi
sebelumnya,  maka  jenis  kenabian  yang seperti itu, mereka
istilahkan dengan nabi mustaqil.32  Oleh  karena  itu,  kata
"nabi" mempunyai dua arti, yaitu arti secara lugawi dan arti
istilahi, maka golongan Lahore ini berkesimpulan, bahwa nabi
yang  tidak  membawa  syari'at disebut nabi lugawi atau nabi
majazi,  yang  pengertiannya  ialah  seorang  yang  mendapat
berita  dari  langit atau dari Tuhan. Selanjutnya, nabi yang
membawa syari'at,  mereka  sebut  nabi  haqiqi,  demikianlah
paham Lahore.
 
Bagaimana   status   kenabian  al-Mahdi  Ahmadiyah  di  mata
pengikutnya? Dalam masalah ini, pandangan  Ahmadiyah  Lahore
agaknya berbeda dengan pandangan Ahmadiyah Qadian. Sekalipun
golongan Lahore secara implisit  memandangnya  sebagai  nabi
lugawi atau nabi majazi, namun mereka menolak paham golongan
Qadiani  secara  tegas.  Dalam  pandangan  mereka,  al-Mahdi
bukanlah  nabi  haqiqi, dia adalah Mujaddid (pembaharu) abad
ke 14 H. Akan tetapi dia mempunyai banyak  persamaan  dengan
nabi  dalam  hal  ia  (al-Mahdi)  menerima wahyu atau berita
samawi (langit). Oleh sebab itu dalam akidah  mereka  secara
tegas  menyatakan  bahwa  percaya  kepada Mirza Ghulam Ahmad
sebagai al-Mahdi dan al-Masih, bukan  termasuk  rukun  iman,
maka   orang   yang  mengingkarinya  tidak  dapat  dikatakan
kafir.33 Selanjutnya mereka juga  berpandangan  bahwa  wahyu
yang  diterimanya hanyalah wahyu walayah atau wahyu kewalian
dan menurut paham mereka,  bahwa  wahyu  macam  inilah  yang
tetap  terbuka,  agar  dengan  wahyu  tersebut,  imam  ummat
manusia tetap hidup dan segar. Selain itu  mereka  beralasan
bahwa  Mirza  atau  al-Mahdi  tidak pemah menyatakan dirinya
sebagai nabi hakiki.
 
Berbeda  dengan  paham  kenabian   sekte   Qadiani,   mereka
memandang  al-Mahdi al-Ma'hud (yang dijanjikan) sebagai nabi
dan rasul yang  wajib  diyakini  dan  dipatuhi  perintahnya,
sebagaimana  nabi  dan  rasul yang lain. Menurut paham sekte
ini, seorang Qadiani tidak boleh membeda-bedakan antara nabi
yang  satu dengan yang lain, sebagaimana yang diajarkan oleh
al-Quran dan  yang  dipesankan  Nabi  Muhammad  SAW.,  untuk
mengikuti  al-Mahdi  yang  dijanjikan.  Sekalipun  demikian,
paham kedua  aliran  tersebut,  terdapat  juga  persamaannya
yaitu  mereka sepakat tentang berakhirnya nabi tasyri'i atau
nabi mustaqil sesudah Nabi SAW. Dan  penggunaan  term  wahyu
selain al-Quran yang diturunkan Allah kepada siapa saja yang
dikehendaki-Nya sesudah Rasulullah wafat.
 
Adapun paham Mahdi Ahmadiyah mengenai Khatamul Anbiya'  atau
penutup para nabi, golongan Lahore tampak tidak jauh berbeda
dengan paham Sunni. Artinya mereka benar-benar  berkeyakinan
bahwa  Nabi Muhammad adalah penutup sekalian para nabi, baik
yang baru maupun nabi yang lama, sebagaimana yang dinyatakan
dalam al-Qur-an Surah al-Ahzab: 40.
 
"Muhammad   itu  sekali-kali  bukanlah  bapak  dari  seorang
laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah  Rasulullah  dan
penutup nabi-nabi ..."
 
Dalam hubungan ini, Nabi pun menyatakan dalam sabdanya:
 
"Dan sesungguhnya akan datang di kalangan ummatku tiga puluh
pendusta, semuanya menganggap dirinya sebagai nabi, dan  aku
adalah penutup para nabi dan tidak ada lagi nabi sesudahku."
(H.R. Bukhari)
 
Penggunaan term nabi lugawi atau nabi majazi  oleh  golongan
Lahore,  mungkin  sekali  dikarenakan  oleh  pengakuan Mirza
(al-Mahdi) sebagai penjelmaan 'Isa al-Masih dan merasa telah
berdialog  langsung  dengan Tuhan atau mukalamah mubasyarah,
untuk menerima petunjuk-petunjuk-Nya.
 
Akan tetapi bagi golongan  Qadiani  yang  meyakini  al-Mahdi
sebagai  nabi  yang  harus  ditaati ajaran-ajarannya, mereka
berusaha keras mencari  dalil-dalil  dan  memajukan  mereka.
Misalnya  dengan  menginterpretasikan  Surah  al-Ahzab:  40,
sesuai  dengan  paham  mereka,  maupun  dengan   menggunakan
hadis-hadis  Nabi,  disamping  mereka  menggunakan  berbagai
pendapat 'Ulama' Sunni yang dapat menopang  kekuatan  hujjah
(argumen) mereka
 
Menurut  paham  kaum  Qadiani, berita akan datangnya kembali
Nabi 'Isa a.s., sebagai yang diriwayatkan  dari  hadis-hadis
sahih  adalah  jelas.  Sekalipun 'Isa tidak membawa syari'at
baru, bahkan harus mengikuti syari'at Nabi  Muhammad,  namun
dia  (al-Mahdi)  tetap  sebagai nabi gair mustaqil atau nabi
yang  tidak  mandiri.   Oleh   sebab   itu,   kata   "Khatam
an-Nabiyyin"  mereka  artikan sebagai nabi yang paling mulia
dan paling sempurna dari  sekalian  para  nabi,  tapi  bukan
sebagai  penutup  para  nabi.  Selanjutnya mereka mengajukan
argumen bahwa kata, [kata-kata Arab], menurut  bahasa  Arab,
apabila   kata   [kata-kata   Arab]  dirangkai  dengan  kata
berikutnya yang berbentuk jamak adalah mempunyai arti pujian
seperti mulia, utama, dan lain sebagainya.34 Sebagai contoh,
mereka mengemukakan sabda Nabi yang  ditujukan  kepada  'Ali
ibn Abi Talib:
 
"Aku  (Muhammad) adalah Khatam (semulia-mulia) para nabi dan
engkau 'Ali adalah Khatam (semulia-mulia) para wali."
 
Dalam hubungan ini,  seorang  propagandis  Ahmadiyah  Qadian
menyatakan bahwa kata [kata-kata Arab] dan [kata-kata Arab],
artinya tidak ada nabi  lagi  sesudah  Nabi  Muhammad,  yang
membawa  syari'at baru. Dan kalau pun yang datang itu adalah
'Isa a.s., yang sebelumnya sudah  menjadi  nabi,  maka  yang
demikian  ini  tidak  akan dapat mematahkan pembuktian kami.
Oleh karena itu, dua kata tersebut di  atas,  artinya  bukan
"akhir para nabi."35
 
Sebagaimana  diketahui,  kaum  Sunni  tidak mengenal istilah
nabi gair tasyri'i, nabi majazi, nabi  lugawi;  maupun  nabi
mustaqil  atau  gair  mustaqil.  Karena  itu,  jika  terjadi
perbenturan antara paham  Sunni  dan  paham  Ahmadiyah  yang
mengakibatkan  pertentangan  dan  permusuhan  yang hebat, di
awal  kelahiran  sekte  ini,  adalah  sesuatu   yang   sulit
dihindarkan.  Sekalipun  paham Ahmadiyah Lahore tampak lebih
moderat daripada golongan Qadiani, rupanya  golongan  Lahore
lebih   cenderung   berpegang   pada  sikap  Mirza  di  awal
kegiatannya sebagai  al-Mahdi  yang  dijanjikan  sebagaimana
dalam pernyataannya:
 
"Dan  dengan  keperkasaan d an keagungan Allah, sesungguhnya
aku adalah mukmin, muslim, dan  aku  beriman  kepada  Allah,
kitab-kitab,   rasul-rasul,   dan  malaikat-Nya  serta  hari
kebangkitan sesudah kematian.  Dan  sesungguhnya  Rasulullah
Muhammad  adalah semulia-mulia para utusan dan penutup. para
nabi. Dan sesungguhnya mereka  (ummat  Islam  non-Ahmadiyah)
telah membuat kedustaan pada diriku, bahwa orang ini (Mirza)
telah mengaku menjadi nabi dan bicara tentang 'Isa ..."36
 
Dari  pernyataan  tersebut,  tampak  sikap  pendiri   aliran
Mahdiisme  Ahmadiyah  tidak  senang  dirinya dituduh mengaku
menjadi nabi. Akan tetapi golongan  Qadiani,  rupanya  lebih
berpegang  pada sikap Mirza, setelah ia mengalami pergeseran
akidah.  Sebagaimana   pernyataannya   yang   disalin   oleh
al-Maududi,  dari  buku yang ditulis oleh Mirza sendiri yang
berjudul Haqiqat al-Wahyu sebagai berikut:
 
"... Dan sesungguhnya Allah telah  menentukan  (pilihan-Nya)
kepadaku  dan  tidak  ada  seorang  pun  diantara  ummat ini
memperoleh sebutan 'nabi' dan tidak  ada  pula  seorang  pun
yang memperoleh nama ini selain aku ..."37
 
Akan  tetapi  masih ada sesuatu yang cukup menggelitik untuk
dipertanyakan, yaitu apabila  al-Mahdi  ini  adalah  seorang
nabi  yang  mendapat  wahyu  Allah  atau seorang Wali, dalam
menjalankan misi keagamaannya, sebagai  yang  diyakini  oleh
kaum  Ahmadiyah,  mengapa ia sangat hormat dan tunduk kepada
pemerintah kolonial Inggris yang kafir? Bahkan bekerja  sama
untuk  menghantam  saudara  seagama  dan  memusuhinya. Sikap
al-Mahdi  yang  agresif   dan   emosional   dalam   berbagai
tulisannya  yang disiarkan, menunjukkan sifat dan sikap yang
kurang  tepat,  sama  sekali  kurang  layak  dilakukan  oleh
seorang  yang  dipandang  sebagai  wali apalagi sebagai nabi
atau rasul. Sedangkan sifat dan sikap 'Isa a.s., Nabi  untuk
Bani  Israil  dahulu, sangat santun dan ramah terhadap orang
yang  beriman.  Sebagai  misal  adalah   serangan   al-Mahdi
Ahmadiyah  ini terhadap sesama Muslim yang menolak sarannya,
ia mengatakan:
 
"Setiap orang yang  menyalahi  (paham)ku,  maka  dia  adalah
Nasrani,   Yahudi,   musyrik  (tergolong)  penghuni-penghuni
neraka. Setiap laki-laki yang tidak mencari dan tidak  masuk
ke  dalam  jema'ah yang berbaitat kepadaku dan terus-menerus
menentangku, maka dia adalah menentang Allah dan  Rasul-Nya,
dan dia tergolong penghuni neraka."38
 
Demikian   pula  halnya  dengan  pernyataan-pernyataan  para
pengikutnya  yang  telah  menunjukkan  sikap  permusuhannya,
seperti   yang   diungkapkan  oleh  al-Maududi,  bahwa  kaum
Muslimin  dari  kalangan  menengah  dan  awam,  sejak   lama
menginginkan  diisolasikannya  kaum  Qadiani  dari komunitas
Muslim,  dan  menjadikan  mereka   sebagai   kaum   minontas
non-Muslim sehingga mereka tidak bisa lagi mencaci-maki kaum
Muslimin. Senada dengan keinginan tersebut, adalah  tuntutan
Muhammad  Iqbal,  dalam  sebuah  risalahnya  yang  terkenal,
berjudul Islam and Ahmadisme.39 Demikian al-Maududi.
 
3. MASALAH JIHAD
 
Masalah  yang  ketiga  ini,  merupakan  salah   satu   model
pembaharuan  yang  dicanangkan  oleh  al-Mahdi,  yang  dalam
doktrinnya  sangat  berkaitan  dengan   misi   kemahdiannya.
Sebagaimana diketahui, jihad dalam Islam yang dilakukan oleh
Nabi SAW. dan para  sahabatnya  adalah  berperang  di  jalan
Allah  untuk  menghadapi ancaman musuh-musuh Islam dan ummat
Islam,  sebagai  suatu   alternatif   untuk   membela   atau
mempertahankan  diri.  Akan  tetapi  para  orientalis  Barat
menyelewengkan  pengertian  jihad  tersebut,  untuk  merusak
citra  Islam.  Dua  macam  jihad  dalam Islam dikenal dengan
Jihadul-Asgar  atau  jihad  kecil,yaitu  berperang   melawan
musuh.  Kedua,  Jihadul-Akbar atau jihad paling besar, yaitu
berperang melawan hawa nafsu.
 
Selain  dua  macam  jihad  di  atas,  menurut  paham   Mahdi
Ahmadiyah,  masih  ada  satu lagi jihad yang diistilahkannya
dengan Jihadul-Kabir atau jihad besar, seperti:  tablig  dan
dakwah.  Jihad  besar  dan  jihad  yang  paling  besar terus
berjalan sepanjang masa,  sedangkan  jihad  kecil,  memiliki
beberapa syarat dan berlakunya secara insidentil.40
 
Dalam  hubungan  ini,  pendiri  aliran  tersebut menjelaskan
bahwa dalam menjalankan tugas-tugas  kemahdian  serta  dalam
mencapai   tujuan,   yaitu  menghidupkan  ajaran  Islam  dan
mengembangkannya guna meraih  kembali  kejayaan  dan  wibawa
Islam  di  seantero  dunia.  Adapun  cara  serta  jalan yang
ditempuh untuk mencapai maksud tersebut, adalah dengan jalan
damai,  bukan  dengan jalan kekerasan atau dengan mengangkat
senjata. Cara-cara seperti ini, bagi kaum  Ahmadiyah  adalah
mencontoh  cara-cara  Nabi  'Isa.  Oleh karena itu, berjihad
dalam berperang di jalan Allah, untuk  mempertahankan  Islam
bagi  kaum  Ahmadiyah,  sudah  tidak  diperlukan  atau tidak
relevan lagi untuk masa-masa sekarang ini. Mereka  beralasan
bahwa  cara tersebut, hanyalah merupakan jihad kecil semata,
sedangkan jihad besar dan yang paling besar banyak dilupakan
orang.  Dan  sebagai  gantinya -jihad kecil- dapat digunakan
media cetak, dengan menerbitkan berbagai karya  tulis  untuk
memahamkan  Islam  kepada masyarakat non-Muslim. Oleh karena
itu, di  saat  seperti  sekarang  ini,  masyarakat  memiliki
kebebasan   berbicara,   beragama,   dan   Islam  pun  tidak
membenarkan  para  pengikutnya  memaksakan  keyakinan   atau
agamanya  pada  orang  lain.  Dalam  kaitan  ini  NazirAhmad
menyatakan:
 
"Sungguh Allah telah mewajibkan  kepada  ummat  Islam  suatu
kewajiban   yang   lebih   besar  daripada  berperang,  yang
karenanya syari'at itu diturunkan,  yaitu  jihad  besar  dan
yang    paling    besar    ialah    mendamaikan   jiwa   dan
mempropagandakan agama  serta  dakwah  di  jalan  Allah,  di
tengah-tengah masyarakat dunia."41
 
Adanya  pemahaman seperti di atas, pendiri Ahmadiyah menolak
berjihad melawan kaum kolonial Inggris  di  India  saat  itu
sebagaimana ia menyatakan:
 
"...  oleh  karena  itu,  aku menolak jihad. Aku bukan orang
yang tertipu oleh pemerintah Inggris, dan sesungguhnya  yang
benar,  adalah  bahwa  pemerintah  Inggris  tidak  melakukan
sesuatu (tindakan) terhadap Islam dan syi'ar agama. Dia  pun
tidak   pula  secara  terang-terangan  menyebarkan  agamanya
dengan pedang. Perang atas  nama  agama  yang  seperti  itu,
haram  dalam  tuntunan  al-Quran.  Demikian  pula pemerintah
Inggris tidak menyebabkan perang agama."42
 
Kehadiran al-Mahdi ke dunia untuk menyebarkan  Islam  dengan
pedang,  dalam  pandangan  Ahmadiyah  adalah  sangat keliru,
bahkan harus diberantas. Sebab  cara  demikian  tidak  cocok
dengan  nama  Islam  itu  sendiri, sebagai agama perdamaian.
Islam tidak pernah menggunakan kekerasan dan  paksaan  untuk
mendapatkan  kemenangan  spiritualnya.  Dan oleh karena itu,
Mirza  (al-Mahdi)  merasa  telah  menerima  keterangan  dari
Tuhan,  bahwa kehadiran al-Mahdi yang menghunus pedang untuk
memerangi kaum kafir dan memaksa mereka  masuk  Islam,  sama
sekali tidak pernah disebutkan dalam wahyu yang diterimanya.
 
Pembaharuan  tentang makna jihad dalam misi kemahdian Mirza,
tampaknya justru menambah  keyakinan  Muslim  non-Ahmadiyah,
bahwa  kaum  Qadiani  telah  menjadi alat pemerintah Inggris
untuk memecah-belah kesatuan ummat Islam. Oleh  karena  itu,
pemerintah  Inggris  di  India tetap memberi hak hidup sekte
ini untuk berkiprah dan memberikan jaminan keamanan mereka.
 
Akhirnya tiga persoalan -masalah  kewahyuan,  kenabian,  dan
masalah  jihad-  di  atas,  disamping ia merupakan identitas
misi Mahdiisme Ahmadiyah, juga merupakan salah  satu  faktor
timbulnya  perselisihan  dan  permusuhan  yang  hebat  antar
sesama ummat Islam. Sehingga tidak mustahil  dampak  negatif
ini  dimanfaatkan  oleh Pemerintah Inggris untuk mengokohkan
kekuasaannya di India.
 
Catatan kaki:
1 Lothrop Stoddard, Dunia Baru Islarn, terj. Panitia
Penerbit, (Jakarta: Panitia Penerbit, 1966), hlm. 27.
2 K. 'Ali History of India, Pakistan & Bangladesh, (Dacca:
'Ali Publication, 1980), hlm. 496.
3 Maulana Muhammad Ali, Mirza Ghulam Ahmad of Qadian, His
Life and Mission, (Lahore: Ahmadiyah Anjuman Isha'at Islam,
1959), hlm. 12.
4 Wilfred Cantwell Smith, Modern Islam in India, (New
Delhi: Usha Publication, 1979), hlm. 368.
5 Abul-A'la al-Maududi, Ma Hiyal-Qadiyaniyyah, selanjutnya
disebut al-Maududi, (Beirut: Darul-Qalam Kuwait, 1969),
hlm. 12.
6 Ibid., hlm. 12-3.
7 Ibid.
8 Wilfred Cantwell Smith. op. cit., hlm. 369.
9 S. Ali Yasir, Gerakan Pembaharuan dalam Islam, vol. I,
(Yogyakarta: PP. Yayasan Perguruan Islam Republik Indonesia,
1978), hlm. 71-2; Saleh A. Nahdi, Ahmadiyah Selayang
Pandang, (Yogya Rapem, 1979), hlm. 25.
10 Saleh A. Nahdi, Masalah Imam Mahdi,
(Surabaya Raja Pena, 1966), hlm. 9.
11 Maulana Sadiq H. A., "Kedatangan al-Masih dan al-Mahdi,"
Sinar Islam, Februari 1980, hlm. 21.
12 Ibid., hlm. 19-20.
13 Al-Maududi, op. Cit., hlm. 22.
14 Maulana Muhammad 'Ali, op. Cit., hlm. 2.
15 Ibid., hlm. 17.
16 Mirza Ghulam Ahmad, Itmamul-Hujjah'alal-Lazi Lajja wa
Zaga'anil-Mahajjah, (Lahore: Kalzar Muhammadi, 1311 H),
hlm. 3.
17 Al-Maududi, op. cit., hlm. 23.
18 Ibid., hlm. 24.
19 Maulana Muhammad 'Ali, op. cit., hlm. 8-10.
20 Ibid., hlm. 15.
21 Mirza Ghulam Alunad, Hamamat al-Busyra ila Ahlil-Makkata
wa Shulaha'i Ummil-Qura, (Sialkot Al-Munsyi Ghulam Qadir
al-Fashih, 1311 H/ 1892 M), hlm. L9. Selanjutnya disebut
Hamamat al-Busyra.
22 Maulana Muhammad 'Ali, op. Cit., hlm. 20.
23 Al-Maududi, op. Cit., hlm. 16-9.
24 Maulana Muhammad 'Ali, op. cit., hlm 21-2.
25 Muhammad Abu Zahrah, op. cit., hlm. 255.
26 Syafi R. Batuah, Ahmadiyah Apa dan Mengapa,
(Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 1985), hlm. 21.
27 Ibid., hlm. 22.
28 HAR. Gibb and J.H. Kramers, op. cit., hlm. 44.
29 Nazir Ahmad, al-Qawl as-Sharih fi Zuhur al-Mahdiy wa
al-Masih, (Lahore: Nawa-i Waqt Printers Ltd., 1389/1970),
hlm. 66.
30 S. Ali Yasir, op. Cit., hlm. 35-6.
31 Hamamatul-Busyra, op. cit., hlm. 29-30.
32 Susmoyo Djoyosugito., op. cit., hlm. 4.
33 Team Dakwah PB GAI, 'Aqidah Gerakan Ahmadiyah Lahore
Indonesia, (Bagian Tablig dan Tarbiyah, 1984), hlm. 9.
34 Muhammad Shadiq, H.A., Analisa Tentang Khatam al-Nabiyyin
(Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 1984), hlm. 12.
35 Nazir Ahmad, op. cit., hlm. 195.
36 Hamamatul Busyra. op. cit.. hlm. 313.
37 Al-Maududi, op. cit., hlm. 32.
38 Al-Maududi, op. cit., hlm. 115.
39 Ibid., hlm. 116.
40 Nazir Ahmad, op. cit., 69-70.
41 Ibid., hlm. 81.
42 Ibid.
 
-------------------------------------------------
Faham Mahdi Syi'ah dan Ahmadiyah dalam Perspektif
Drs. Muslih Fathoni, M.A.
Edisi 1 Cetakan 1 (1994)
PT. RajaGrafindo Persada
Jln. Pelepah Hijau IV TN.I No.14-15
Telp. (021) 4520951 Kelapa Gading Permai

Jakarta Utara 14240