1

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi

 

 

 

BUKU PINTAR

BERDEBAT DENGAN WAHHABI

@ Muhammad Idrus Ramli

 

Penerbit :

Bina ASWAJA

Surabaya, telp. 031 7871848
       www.aswaja-nu.com

 

Bekerjasama dengan :

LBM NU Jember

 

 

Cetakan I, September 2010

 

 

Kompilasi Ebook PDF oleh:

Pustaka Aswaja

www.pustakaaswaja.web.id

 

 

 

Hak cipta dilindungi undang-undang.

Tidak diperkenankan untuk mengkomersilkan ebook ini.

Dukung selalu penerbit dan penulis atas karya-karya tulisnya dengan cara membeli
                                  
buku aslinya di toko-toko buku terdekat.

 

 

 

 

 

www.pustakaaswaja.web.id

| Download E-book | Kitab | MP3 Ceramah | MP3 Qashidah | Video Ceramah | Video Qashidah |


2

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi

 

 

 

 

Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dengan terbitnya buku sakti
ini  yang  berjudul  Buku  Pintar  Berdebat  Dengan  Wahhabi.
Terimakasih dan salam tadhim saya kepada Ust. Muh. Idrus
Ramli sebagai penulis bersama tim LBM NU Jember. Buku ini
menjadi panduan dalam berdialog dan berdebat dengan kalangan
Wahhabi yang dewasa ini menamakan dirinya Salafi. Tujuan itu
agaknya  tercermin  dari  judul  buku  yang  mentasbihkan  diri
sebagai buku pintar. Sebuah pilihan judul yang menarik dan
sesuai pula dengan muatannya.

 

Mengingat pentingnya buku ini, saya rasa setiap orang harus
memiliki buku ini sebagai bahan untuk membentengi diri dengan
argumentasi-argumentasi   untuk   mematahkan   pendapat   di
kalangan salafi wahhabi dewasa ini. Oleh karena itu pula saya
menerbitkan ebook dalam bentuk PDF ini semata-mata karena
ingin membuat orang lain lebih tahu banyak tentang isi buku ini,
sebagai  bahan  preview  sebelum  membeli,  untuk  selanjutnya
diharapkan membeli buku aslinya ini di toko-toko buku terdekat
atau melalui online.

 

Tulisan-tulisan di ebook ini dari Bab       1 - 8 diambil dari situs

www.sidogiri.net , dan Bab 9 - 10 saya ketik sendiri secara

manual. Oleh karena itu, ada beberapa perbedaan yang tak
signifikan dengan buku aslinya, seperti penulisan teks arab hanya
saya  sertakan  yang  pendek-pendek  saja  dan  tanpa  harokat.
Selanjutnya, saya juga memberikan keterangan penjelasan pada
Bab 9 tentang Tradisi Yasinan (lihat halaman  86 Ebook ini).

Demikianlah  semoga  ebook  ini  bermanfaat  dan  untuk  dapat dipergunakan    sewajarnya    dan    semestinya    serta    tidak disalahgunakan.

 

Makassar,    Ramadhan 1432 H

 

Luqman Firmansyah

www.pustakaaswaja.web.id

 

 

 

 

 

 

 

 

www.pustakaaswaja.web.id

| Download E-book | Kitab | MP3 Ceramah | MP3 Qashidah | Video Ceramah | Video Qashidah |


3

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

1.  NGALAP BAROKAH                                                                 4

2.  ALLAH MAHA SUCI                                                                  12

3.  BID’AH HASANAH                                                                    23

4.  OTORITAS ULAMA                                                                    34

5.  BUKAN AHLUSSUNNAH                                                        42

6.  MENURUT AL-SYATHIBI                                                         52

7.  ISTIGHATSAH DAN TAWASSUL                                           63

8.  CERDAS BERMADZAB                                                           75

9.  TRADISI YASINAN                                                                    83

10. PERMASALAHAN TRADISI                                                   90

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

www.pustakaaswaja.web.id

| Download E-book | Kitab | MP3 Ceramah | MP3 Qashidah | Video Ceramah | Video Qashidah |


4

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi

 

BAB I

NGALAP BAROKAH

 

 

Dialog Publik di Masjidil Haram

 

Syaikh  Muhammad  bin  Shalih  al-‘Utsaimin-ulama  Wahhabi  kontemporer  di
Saudi Arabia yang sangat populer dan kharismatik-, mempunyai seorang guru
yang sangat alim dan kharismatik di kalangan kaum Wahhabi, yaitu Syaikh
Abdurrahman bin Nashir al-Sa’di. Ia dikenal dengan julukan Syaikh Ibnu Sa’di. Ia
memiliki banyak karangan, di antaranya yang paling populer adalah karyanya
yang berjudul, Taisir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, kitab tafsir
setebal 5  jilid,  yang  mengikuti  paradigma  pemikiran Wahhabi.  Tafsir  ini  di
kalangan Wahhabi menyamai kedudukan Tafsir al-Jalalain di kalangan kaum
Sunni.

 

Syaikh  Ibnu  Sa’di  dikenal  sebagai  ulama  Wahhabi  yang  ekstrem.  Namun demikian,  terkadang  ia  mudah  insyaf  dan  mau  mengikuti  kebenaran,  dari manapun kebenaran itu datangnya.

 

Suatu ketika, al-Imam al-Sayyid ‘Alwi bin Abbas al-Maliki al-Hasani (ayahanda al-
Sayyid Muhammad bin ‘Alwi al-Maliki) sedang duduk-duduk di serambi Masjidil
Haram bersama murid-muridnya dalam halaqah pengajiannya. Di bagian lain
serambi Masjidil Haram tersebut, Syaikh Ibnu Sa’di juga duduk-duduk bersama
anak buahnya. Sementara orang-orang di Masjidil Haram sedang larut dalam
ibadah. Ada yang shalat dan ada pula yang thawaf. Pada saat itu, langit di atas
Masjidil  Haram  diselimuti  mendung  tebal  yang  menggelantung.  Sepertinya
sebentar lagi hujan lebat akan segera mengguyur tanah suci umat Islam itu.

 

Tiba-tiba air hujan itu pun turun dengan lebatnya. Akibatnya, saluran air di atas Ka’bah mengalirkan air hujan itu dengan derasnya. Melihat air begitu deras dari saluran air di atas kiblat kaum Muslimin yang berbentuk kubus itu, orang-orang Hijaz seperti kebiasaan mereka, segera berhamburan menuju saluran itu dan mengambil air tersebut. Air itu mereka tuangkan ke baju dan tubuh mereka, dengan harapan mendapatkan berkah dari air itu.

 

Melihat kejadian tersebut, para polisi pamong praja Kerajaan Saudi Arabia, yang
sebagian besar berasal dari orang Baduwi daerah Najd itu, menjadi terkejut dan
mengira  bahwa  orang-orang  Hijaz  tersebut  telah  terjerumus  dalam  lumpur
kesyirikan dan menyembah selain Allah subhanahu wa ta’ala dengan ngalap
barokah  dari  air  itu.  Akhirnya  para  polisi  pamong  praja  itu  menghampiri
kerumunan  orang-orang  Hijaz  dan  berkata  kepada  mereka  yang  sedang

 

 

www.pustakaaswaja.web.id

| Download E-book | Kitab | MP3 Ceramah | MP3 Qashidah | Video Ceramah | Video Qashidah |


5

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi

 

 

mengambil berkah air hujan yang mengalir dari saluran air Ka’bah itu, “Hai
orang-orang musyrik, jangan lakukan itu. Itu perbuatan syirik. Itu perbuatan
syirik. Hentikan!” Demikian teguran keras para polisi pamong praja kerajaan
Wahhabi itu.

 

Mendengar teguran para polisi pamong praja itu, orang-orang Hijaz itu pun segera membubarkan diri dan pergi menuju Sayyid ‘Alwi yang sedang mengajar murid-muridnya di halaqah tempat beliau mengajar secara rutin. Kepada beliau, mereka menanyakan perihal hukum mengambil berkah dari air hujan yang mengalir dari saluran air di Ka’bah itu. Ternyata Sayyid ‘Alwi membolehkan dan bahkan mendorong mereka untuk terus melakukannya.

Menerima fatwa Sayyid ‘Alwi yang melegitimasi perbuatan mereka, akhirnya
untuk yang kedua kalinya, orang-orang Hijaz itu pun berhamburan lagi menuju
saluran air di Ka’bah itu, dengan tujuan mengambil berkah air hujan yang jatuh
darinya, tanpa mengindahkan teguran para polisi Baduwi tersebut. Bahkan ketika
para polisi Baduwi itu menegur mereka untuk yang kedua kalinya, orang-orang
Hijaz itu menjawab, “Kami tidak peduli teguran Anda, setelah Sayyid ‘Alwi

berfatwa kepada kami tentang kebolehan mengambil berkah dari air ini.”

 

Akhirnya, melihat orang-orang Hijaz itu tidak mengindahkan teguran, para polisi
Baduwi itu pun segera mendatangi halaqah Syaikh Ibnu Sa’di, guru mereka.
Mereka mengadukan perihal fatwa Sayyid ‘Alwi yang menganggap bahwa air
hujan  itu  ada  berkahnya.  Akhirnya,  setelah  mendengar  laporan  para  polisi
Baduwi, yang merupakan anak buahnya itu, Syaikh Ibnu Sa’di segera mengambil
selendangnya   dan   bangkit   berjalan   menghampiri   halaqah   Sayyid ‘Alwi.

Kemudian dengan perlahan Syaikh Ibn Sa’di itu duduk di sebelah Sayyid ‘Alwi. Sementara orang-orang dari berbagai golongan, berkumpul mengelilingi kedua ulama besar itu. Mereka menunggu-nunggu, apa yang akan dibicarakan oleh dua ulama besar itu.

 

Dengan penuh sopan santun dan etika layaknya seorang ulama besar, Syaikh
Ibnu  Sa’di  bertanya  kepada   Sayyid ‘Alwi: “Wahai  Sayyid,  benarkah  Anda

berkata kepada orang-orang itu bahwa air hujan yang turun dari saluran air di Ka’bah itu ada berkahnya?”

 

Mendengar  pertanyaan  Syaikh  Ibn  Sa’di,  Sayyid      ‘Alwi  menjawab:   “Benar.

Bahkan air tersebut memiliki dua berkah.”

Mendengar   jawaban   tersebut,   Syaikh   Ibnu   Sa’di   terkejut   dan   berkata: “Bagaimana hal itu bisa terjadi?”

Sayyid ‘Alwi menjawab: “Karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Kitab-Nya tentang air hujan:

 

 

 

www.pustakaaswaja.web.id

| Download E-book | Kitab | MP3 Ceramah | MP3 Qashidah | Video Ceramah | Video Qashidah |


6

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi

 

 

.(   :   ) .

Dan Kami turunkan dari langit air yang mengandung berkah. (QS. 50 : 9).

 

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman mengenai Ka’bah:

.( & :        $ "%) .                                    ! "   #

Sesungguhnya rumah yang pertama kali diletakkan bagi umat manusia adalah
rumah yang ada di Bekkah (Makkah), yang diberkahi (oleh Allah).
(QS. 3 : 96).

 

Dengan demikian air hujan yang turun dari saluran air di atas Ka’bah itu memiliki dua berkah, yaitu berkah yang turun dari langit dan berkah yang terdapat pada Baitullah ini.”

 

Mendengar jawaban tersebut, Syaikh Ibnu Sa’di merasa heran dan kagum kepada Sayyid ‘Alwi. Kemudian dengan penuh kesadaran, mulut Syaikh Ibnu Sa’di itu melontarkan perkataan yang sangat mulia, sebagai pengakuannya akan kebenaran ucapan Sayyid ‘Alwi: “Subhanallah (Maha Suci Allah), bagaimana kami bisa lalai dari kedua ayat ini.”

 

Kemudian Syaikh Ibnu Sa’di mengucapkan terima kasih kepada Sayyid ‘Alwi dan meminta izin untuk meninggalkan halaqah tersebut. Namun Sayyid ‘Alwi berkata kepada Syaikh Ibnu Sa’di: “Tenang dulu wahai Syaikh Ibnu Sa’di. Aku melihat para polisi baduwi itu mengira bahwa apa yang dilakukan oleh kaum Muslimin dengan mengambil berkah air hujan yang mengalir dari saluran air di Ka’bah itu sebagai  perbuatan  syirik.  Mereka  tidak  akan  berhenti  mengkafirkan  dan mensyirikkan orang dalam masalah ini sebelum mereka melihat orang seperti Anda melarang mereka. Oleh karena itu, sekarang bangkitlah Anda menuju saluran air di Ka’bah itu. Lalu ambillah air di situ di depan para polisi Baduwi itu, sehingga mereka akan berhenti mensyirikkan orang lain.”

 

Akhirnya  mendengar saran  Sayyid    ‘Alwi,  Syaikh  Ibnu  Sa’di  segera  bangkit

menuju saluran air di Ka’bah. Ia basahi pakaiannya dengan air itu, dan ia pun mengambil  air  itu  untuk  diminumnya  dengan  tujuan  mengambil  berkahnya. Melihat tindakan Syaikh Ibnu Sa’di ini, para polisi Baduwi itu pun akhirnya pergi meninggalkan Masjidil Haram dengan perasaan malu.

 

Kisah ini disebutkan oleh Syaikh Abdul Fattah Rawwah, dalam kitab Tsabat (kumpulan sanad-sanad keilmuannya). Beliau murid Sayyid ‘Alwi al-Maliki dan termasuk salah seorang saksi mata kejadian itu.

 

Syaikh Ibn Sa’di sebenarnya seorang yang sangat alim. Ia pakar dalam bidang
tafsir. Apabila berbicara tafsir, ia mampu menguraikan makna dan maksud ayat

 

 

www.pustakaaswaja.web.id

| Download E-book | Kitab | MP3 Ceramah | MP3 Qashidah | Video Ceramah | Video Qashidah |


7

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi

 

 

al-Qur’an dari berbagai aspeknya di luar kepala dengan bahasa yang sangat bagus  dan  mudah  dimengerti.  Akan  tetapi  sayang,  ideologi Wahhabi  yang diikutinya berpengaruh terhadap paradigma pemikiran beliau. Aroma Wahhabi sangat kental dengan tafsir yang ditulisnya.

 

 

Ngalap Berkah

 

Berkah   (barokah)  diartikan  dengan  tambahnya  kebaikan    (ziyadah  al-khair).

Sedangkan  tabarruk  bermakna  mencari  tambahnya  kebaikan  atau  ngalap barokah (thalab ziyadah al-khair). Demikian para ulama menjelaskan.

 

Masyarakat kita seringkali mendatangi orang-orang saleh dan para ulama sepuh dengan tujuan tabarruk. Para ulama dan orang saleh memang ada barokahnya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

:'      (! $ ) * + ) "          " , " ,     - $ ) .            $        $

.3 '   /       (162/5) “ ! / .3 '!4        #  (1 12)      /       0     .” '       #

?!/+” : '   /  ",     (2/=>/&<) “:    9;   .3    !         (&2/1) “7 89     

.. B    (C3       . “     ;    @ A * $

 

Dari Ibn Abbas radhiyallahu     anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam

bersabda: Berkah Allah bersama orang-orang besar di antara kamu. (HR. Ibn
Hibban (1912),  Abu  Nu
aim  dalam  al-Hilyah (8/172),  al-Hakim  dalam  al-

Mustadrak (1/62) dan al-Dhiya dalam al-Mukhtarah (64/35/2). Al-Hakim berkata, hadits ini shahih sesuai kriteria al-Bukhari, dan al-Dzahabi menyetujuinya.)

Al-Imam al-Munawi menjelaskan dalam Faidh al-Qadir, bahwa hadits tersebut
mendorong kita mencari berkah Allah subhanahu wa ta’ala dari orang-orang
besar dengan memuliakan dan mengagungkan mereka. Orang besar di sini bisa
dalam artian besar ilmunya seperti para ulama, atau kesalehannya seperti orang-
orang saleh. Bisa pula, besar dalam segi usia, seperti orang-orang yang lebih
tua.

Dalam sebuah diskusi di Masjid At-Taqwa, Denpasar Bali, ada peserta yang bertanya, “Bagaimana Islam menanggapi orang-orang yang melakukan ziarah ke makam para wali dengan tujuan mencari berkah?”

 

Di antara amal yang dapat mendekatkan seseorang kepada Allah subhanahu wa
ta’ala adalah ziarah makam para nabi atau para wali. Baik ziarah tersebut
dilakukan dengan  tujuan mengucapkan  salam  kepada  mereka  atau  karena
tujuan tabarruk (ngalap barokah) dengan berziarah ke makam mereka. Maksud

 

 

www.pustakaaswaja.web.id

| Download E-book | Kitab | MP3 Ceramah | MP3 Qashidah | Video Ceramah | Video Qashidah |


8

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi

 

 

tabarruk di sini adalah mencari barokah dari Allah subhanahu wa ta’ala dengan cara berziarah ke makam para wali.

 

Orang yang berziarah ke makam para wali dengan tujuan tabarruk, maka ziarah tersebut dapat mendekatkannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak menjauhkannya dari Allah subhanahu wa ta’ala. Orang yang berpendapat bahwa ziarah wali dengan tujuan tabarruk itu syirik, jelas keliru. Ia tidak punya dalil, baik dari al-Qur’an maupun dari hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Al-Hafizh Waliyyuddin al-’Iraqi berkata ketika menguraikan maksud hadits:

(! $ ) * + .       #    D/    !       8C     E F    . 8# H  :", u *             #

     /F  H!I      8 $   !  @  HD *  0     , '  9! F 08  $ . #   )   » :" , '

“Sesungguhnya Nabi Musa u berkata, “Ya Allah, dekatkanlah aku kepada tanah
suci sejauh satu lemparan dengan batu.” Nabi shallallahu alaihi wa sallam
bersabda: “Demi Allah, seandainya aku ada disampingnya, tentu aku beritahu
kalian letak makam Musa, yaitu di tepi jalan di sebelah bukit pasir merah.”

 

Ketika menjelaskan maksud hadits tersebut, al-Hafizh al-’Iraqi berkata:

) * + .                8,  K -C/  ' !C     -9  !      !/ +          ,   3 4  H   /9    (!3

(L    M        8 $     -A     , .3  :8  D   .B  O$     u *       8!       C '      (! $

.'O       :O+  (! $ .           A#        B                      #  BP   K0   ,

 

Hadits tersebut menjelaskan anjuran mengetahui makam orang-orang saleh untuk dizarahi dan dipenuhi haknya. Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah menyebutkan  tanda-tanda  makam  Nabi  Musa  u  yaitu  pada  makam  yang sekarang  dikenal  masyarakat  sebagai  makam  beliau.  Yang  jelas,  tempat tersebut adalah makam yang ditunjukkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam. (Tharh al-Tatsrib, [3/303]).

 

Pada  dasarnya  ziarah  kubur  itu  sunnat  dan  ada  pahalanya.  Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

0    « B       3    C :   !     $ ' 9!-        » : '      (! $ ) * + ) "    " ,

:  ;M        9 - Q3  ! 3    C      !   #    8   #          3 »  ! .3  .(<&/6) '

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Dulu aku melarang kamu
ziarah   kubur.   Sekarang   ziarahlah. (HR.   Muslim).   Dalam   satu   riwayat,

Barangsiapa yang henda ziarah kubur maka ziarahlah, karena hal tersebut dapat mengingatkan kita pada akhirat. (Riyadh al-Shalihin [bab 66]).

 

 

 

www.pustakaaswaja.web.id

| Download E-book | Kitab | MP3 Ceramah | MP3 Qashidah | Video Ceramah | Video Qashidah |


9

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi

 

 

Di sini mungkin ada yang bertanya, adakah dalil yang menunjukkan bolehnya
ziarah kubur dengan tujuan tabarruk dan tawassul? Sebagaimana dimaklumi,
tabarruk itu punya makna keinginan mendapat berkah dari Allah subhanahu wa
ta’ala dengan berziarah ke makam nabi atau wali. Kemudian para nabi itu
meskipun telah pindah ke alam baka, namun pada hakekatnya mereka masih
hidup. Dengan demikian, tidak mustahil apabila mereka merasakan datangnya
orang yang ziarah, maka mereka akan mendoakan peziarah itu kepada Allah
subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

..C-!   0    «    +! 'B     , .3   !/#   ! R  » :'      (! $ ) * + ) "    " ,

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Para nabi itu hidup di alam kubur mereka seraya menunaikan shalat. (HR. al-Baihaqi dalam Hayat alAnbiya, [1]).

 

Sebagai penegasan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang telah wafat, dapat mendoakan orang yang masih hidup, adalah hadits berikut ini:

 

'  S8/!         I8/9 '     !; .9 !/» :" , '          (! $ ) * + ) "                $ ( $ ) .          8 4         ) 8  $   $

« '         TU9     7      !V   !#        )      8 /     !;     !#    Q3 '   $# . $         $         #  Q3 '   !; .9

0

 

Dari Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam bersabda:
Hidupku lebih baik bagi kalian. Kalian berbuat sesuatu, aku
dapat menjelaskan hukumnya. Wafatku juga lebih baik bagi kalian. Apabila aku
wafat, maka amal perbuatan kalian ditampakkan kepadaku. Apabila aku melihat
amal baik kalian, aku akan memuji kepada Allah. Dan apabila aku melihat
sebaliknya, maka aku memintakan ampun kalian kepada Allah.
(HR. al-Bazzar,
[1925]).

 

Karena keyakinan bahwa para nabi itu masih hidup di alam kubur mereka, kaum
salaf sejak generasi sahabat melakukan tabarruk dengan Nabi shallallahu alaihi
wa sallam setelah beliau wafat. Hakekat bahwa para nabi dan orang saleh itu
masih hidup di alam kubur, sehingga para peziarah dapat bertabarruk dan
bertawassul dengan mereka, telah disebutkan oleh Syaikh Ibn Taimiyah berikut
ini:

 

* + .           ,      'O     8     4         ,    #     X    !     (W      8                        $           #) H  B .3 ";8! R

7     /     :  /  . !  C                  F4    !       H!           8!4    #    !/ +           0 !V     ,   # '      (! $ )

* + .           , *       D OD   # X  !         !#  7       'P$#  7         "D#  F   (!3   /            !    / (       -3

B   Q3      .C 9    !3 Z     ;!   LB  L!3   $ .9L!  #     0       L!  B        0%             3 :8  ' $ H8D (!  A3 ' (! $ )

\!A ) .    !I     [,      0 B     W $#  '      (! $ ) * + .               8  -        !I     C!   B "I   H    B           !

.(=6=/1 '!C9    @ +          9,  K  !  !9

 

 

 

www.pustakaaswaja.web.id

| Download E-book | Kitab | MP3 Ceramah | MP3 Qashidah | Video Ceramah | Video Qashidah |


10

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi

 

 

Tidak masuk dalam bagian ini (kemungkaran menurut ulama salaf) adalah apa
yang  diriwayatkan  bahwa  sebagian  kaum  mendengar  jawaban  salam  dari
makam Nabi shallallahu alaihi wa sallam atau makam orang-orang saleh, juga
Sa
id bin al-Musayyab mendengar adzan dari makam Nabi shallallahu alaihi wa
sallam pada malam-malam peristiwa al-Harrah dan sesamanya. Ini semuanya
benar, dan bukan yang kami persoalkan. Persoalannya lebih besar dan lebih
serius dari hal tersebut. Demikian pula bukan termasuk kemungkaran, adalah
apa  yang  diriwayatkan  bahwa  seorang  laki-laki  datang  ke  makam  Nabi
shallallahu alaihi wa sallam lalu mengadukan musim kemarau kepada beliau
pada tahun ramadah (paceklik). Lalu orang tersebut bermimpi Nabi shallallahu
alaihi wa sallam dan menyuruhnya untuk mendatangi Umar bin al-Khaththab
agar  keluar  melakukan  istisqa
  dengan  masyarakat.  Ini  bukan  termasuk
kemungkaran. Hal semacam ini banyak sekali terjadi dengan orang-orang yang
kedudukannya di bawah Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dan aku sendiri
banyak mengetahui peristiwa-peristiwa seperti ini.
(Syaikh Ibn Taimiyah, Iqtidha
al-Shirath al-Mustaqim, juz. 1, hal. 373).

 

Kisah laki-laki yang datang ke makam Nabi shallallahu alaihi wa sallam di atas, telah dijelaskan secara lengkap oleh al-Hafizh Ibn Katsir al-Dimasyqi, murid terkemuka Syaikh  Ibn Taimiyah, dalam  kitabnya  al-Bidayah  wa  al-Nihayah. Beliau berkata:

 

'!B        I8/    @         $        I8/ R C!   T              :8 9,      +             ; .C-!                 P3 /  " ,

H+ ", 7             $ ? + .          $   ] $F       $   !   4          I8/ *!/!       *!/!   I8/ . B        . $

'-   3 79 R )      9   ) "          ! C3 '    (! $ ) * + .             , *  "D    D3 H @;           $        .T@/,


C    '-  'B  ;  'O   .       0    ,L3     $

P3 / ) .?!/+ 8          B  K(49 D$   R

S!8/    B X        K    , 8!D 08
(//+ <&<
/2 H 4!9 R  .3        8 $


! "C3 '        .3 '       (! $ ) * + ) "         0 9L3       B 8,

%    H ! " C3        $      ; 3 "D     *9 3        !        !      7! $ ( ,

:2==/1 8!                     D .3 " ,      2/6     !-        !8      K !I

=1=/1 8 A R  .3 . ! ;   K<5</=        +R  : P  .  I!;

.<    >/2          ?93 .3  D/           P3 /


Al-Hafizh Abu Bakar al-Baihaqi berkata, Abu Nashr bin Qatadah dan Abu Bakar
al-Farisi mengabarkan kepada kami, Abu Umar bin Mathar mengabarkan kepada
kami, Ibrahim bin Ali al-Dzuhli mengabarkan kepada kami, Yahya bin Yahya
mengabarkan kepada kami, Abu Muawiyah mengabarkan kepada kami, dari al-
A
masy, dari Abu Shalih, dari Malik al-Dar, bendahara pangan Khalifah Umar bin
al-Khaththab,  bahwa  musim  paceklik  melanda  kaum  Muslimin  pada  masa
Khalifah  Umar.  Maka  seorang  sahabat (yaitu  Bilal  bin  al-Harits  al-Muzani)

mendatangi makam Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan mengatakan:
Hai  Rasulullah,  mohonkanlah  hujan  kepada  Allah  untuk  umatmu  karena
sungguh  mereka  benar-benar  telah  binasa.  Kemudian  orang  ini  bermimpi
bertemu dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan beliau berkata
kepadanya:
Sampaikan salamku kepada Umar dan beritahukan bahwa hujan
akan turun untuk mereka, dan katakan kepadanya bersungguh-sungguhlah

 

 

 

www.pustakaaswaja.web.id

| Download E-book | Kitab | MP3 Ceramah | MP3 Qashidah | Video Ceramah | Video Qashidah |


11

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi

 

 

melayani   umat.   Kemudian   sahabat   tersebut   datang   kepada   Umar   dan memberitahukan apa yang dilakukannya dan mimpi yang dialaminya. Lalu Umar menangis dan mengatakan: Ya Allah, saya akan kerahkan semua upayaku kecuali yang aku tidak mampu. Sanad hadits ini shahih. (Al-Hafizh Ibn Katsir, alBidayah wa al-Nihayah, juz 7, hal. 92. Dalam Jami al-Masanid juz i, hal. 233, Ibn Katsir berkata, sanadnya jayyid (baik). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibn Abi Khaitsamah, lihat al-Ishabah juz 3, hal. 484, al-Khalili dalam al-Irsyad, juz 1, hal. 313, Ibn Abdil Barr dalam al-Istiab, juz 2, hal. 464 serta dishahihkan oleh alHafizh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari, juz 2, hal. 495).

 

Apabila hadits di atas kita cermati dengan seksama, maka akan kita pahami
bahwa sahabat Bilal bin al-Harits al-Muzani radhiyallahu ‘anhu tersebut datang
ke makam Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan tujuan tabarruk, bukan
tujuan mengucapkan salam. Kemudian ketika laki-laki itu melaporkan kepada
Sayidina  Umar  radhiyallahu ‘anhu,  ternyata  Umar  radhiyallahu ‘anhu  tidak

menyalahkannya. Sayidina Umar radhiyallahu ‘anhu juga tidak berkata kepada
laki-laki itu,
“Perbuatanmu ini syirik”, atau berkata, “Mengapa kamu pergi ke
makam Rasul shallallahu alaihi wa sallam untuk tujuan tabarruk, sedangkan
beliau telah wafat dan tidak bisa bermanfaat bagimu”. Hal ini menjadi bukti
bahwa bertabarruk dengan para nabi dan wali dengan berziarah ke makam
mereka, itu telah dilakukan oleh kaum salaf sejak generasi sahabat, tabi’in dan
penerusnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

www.pustakaaswaja.web.id

| Download E-book | Kitab | MP3 Ceramah | MP3 Qashidah | Video Ceramah | Video Qashidah |


12

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi

 

BAB II

ALLAH MAHA SUCI

 

Allah Ada tanpa Tempat

 

Keyakinan yang paling mendasar setiap Muslim adalah meyakini bahwa Allah
subhanahu wa ta‘ala Maha Sempurna dan Maha Suci dari segala kekurangan.
Allah subhanahu wa ta‘ala Maha Suci dari menyerupai makhluk-Nya. Allah
subhanahu wa ta‘ala juga Maha Suci dari tempat dan arah. Allah subhanahu wa
ta‘ala ada tanpa tempat. Demikian keyakinan yang paling mendasar setiap
Muslim Ahlussunnah Wal-Jama’ah. Dalam ilmu akidah atau teologi, keyakinan
semacam ini dibahasakan, bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala memiliki sifat
Mukhalafatuhu  lil-Hawaditsi,  yaitu  Allah  subhanahu  wa  ta‘ala  wajib  tidak
menyerupai makhluk-Nya.

 

Ada sebuah dialog yang unik antara seorang Muslim Sunni yang meyakini Allah
subhanahu  wa  ta‘ala  ada  tanpa  tempat,  dengan  seorang  Wahhabi  yang
berkeyakinan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala bertempat. Wahhabi berkata:
“Kamu ada pada suatu tempat. Aku ada pada suatu tempat. Berarti setiap
sesuatu yang ada, pasti ada tempatnya. Kalau kamu berkata, Allah ada tanpa
tempat, berarti kamu berpendapat Allah tidak ada.” Sunni menjawab; “Sekarang
saya akan bertanya kepada Anda: “Bukankah Allah telah ada tanpa tempat
sebelum diciptakannya tempat?” Wahhabi menjawab: “Betul, Allah ada tanpa
tempat sebelum terciptanya tempat.” Sunni berkata: “Kalau memang wujudnya
Allah tanpa tempat sebelum terciptanya tempat itu rasional, berarti rasional pula
dikatakan, Allah ada tanpa tempat setelah terciptanya tempat. Mengatakan Allah
ada tanpa tempat, tidak berarti menafikan wujudnya Allah.”

Wahhabi berkata: “Bagaimana seandainya saya berkata, Allah telah bertempat
sebelum terciptanya tempat?” Sunni menjawab: “Pernyataan Anda mengandung
dua kemungkinan. Pertama, Anda mengatakan bahwa tempat itu bersifat azali
(tidak ada permulaannya), keberadaannya bersama wujudnya Allah dan bukan
termasuk makhluk Allah. Demikian ini berarti Anda mendustakan firman Allah
subhanahu wa ta‘ala:

 

.(&2 :        ) . .A "         ; )

Allah-lah pencipta segala sesuatu. (QS. al-Zumar : 62).

 

Kemungkinan kedua, Anda berpendapat, bahwa Allah itu baru, yakni wujudnya Allah terjadi setelah adanya tempat, dengan demikian berarti Anda mendustakan firman Allah subhanahu wa ta‘ala:

 

 

www.pustakaaswaja.web.id

| Download E-book | Kitab | MP3 Ceramah | MP3 Qashidah | Video Ceramah | Video Qashidah |


13

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi

 

 

 

.(= : 8!8/ ) .   ;M   " F   B

 

Dialah (Allah) Yang Maha Awal (wujudnya tanpa permulaan) dan Yang Maha Akhir (Wujudnya tanpa akhir).  (QS. al-Hadid : 3).

Demikianlah  dialog  seorang  Muslim  Sunni  dengan  orang  Wahhabi.  Pada dasarnya, pendapat Wahhabi yang meyakini bahwa wujudnya Allah subhanahu wa ta‘ala ada dengan tempat dapat menjerumuskan seseorang keluar dari keyakinan yang paling mendasar setiap Muslim, yaitu Allah subhanahu wa ta‘ala Maha Suci dari segala kekurangan.

Tidak   jarang,   kaum   Wahhabi   menggunakan   ayat-ayat   al-Qur’an   untuk membenarkan keyakinan mereka, bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala bertempat di langit. Akan tetapi, dalil-dalil mereka dapat dengan mudah dipatahkan dengan ayat-ayat al-Qur’an yang sama.

 

Ulama Maroko dan Wahhabi Tuna Netra

 

Al-Hafizh Ahmad bin Muhammad bin al-Shiddiq al-Ghumari al-Hasani adalah
ulama ahli hadits yang terakhir menyandang gelar al-hafizh (gelar kesarjanaan
tertinggi dalam bidang ilmu hadits). Ia memiliki kisah perdebatan yang sangat
menarik dengan kaum Wahhabi. Dalam kitabnya, Ju’nat al-’Aththar, sebuah
autobiografi yang melaporkan perjalanan hidupnya, beliau mencatat kisah berikut
ini.

“Pada tahun 1356 H ketika saya menunaikan ibadah haji, saya berkumpul
dengan tiga orang ulama Wahhabi di rumah Syaikh Abdullah al-Shani’ di Mekkah
yang   juga   ulama   Wahhabi   dari   Najd.   Dalam   pembicaraan   itu,   mereka
menampilkan seolah-olah mereka ahli hadits, amaliahnya sesuai dengan hadits
dan anti taklid. Tanpa terasa, pembicaraan pun masuk pada soal penetapan
ketinggian tempat Allah subhanahu wa ta‘ala dan bahwa Allah subhanahu wa
ta‘ala  itu  ada  di  atas ‘Arasy  sesuai  dengan  ideologi  Wahhabi.  Mereka

menyebutkan beberapa ayat al-Qur’an yang secara literal (zhahir) mengarah pada pengertian bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala itu ada di atas ‘Arasy sesuai keyakinan mereka. Akhirnya saya (al-Ghumari) berkata kepada mereka: “Apakah ayat-ayat yang Anda sebutkan tadi termasuk bagian dari al-Qur’an?” Wahhabi menjawab: “Ya.” Saya berkata: “Apakah meyakini apa yang menjadi maksud ayat-ayat tersebut dihukumi wajib?” Wahhabi menjawab: “Ya.” Saya berkata: “Bagaimana dengan firman Allah subhanahu wa ta‘ala:

.(< : 8!8/ ) .'9               !# '    4   B

Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. (QS. al-Hadid : 4).

 

 

www.pustakaaswaja.web.id

| Download E-book | Kitab | MP3 Ceramah | MP3 Qashidah | Video Ceramah | Video Qashidah |


14

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi

 

 

 

Apakah ini termasuk al-Qur’an?” Wahhabi tersebut menjawab: “Ya, termasuk alQur’an.”

 

Saya berkata: “Bagaimana dengan firman Allah subhanahu wa ta‘ala:

 

.(6 :    8D   ) .'-4       B  R  IOI X D            !

Tiada   pembicaraan   rahasia   antara   tiga   orang,   melainkan   Dia-lah keempatnya. (QS. al-Mujadilah : 7).

Apakah ayat ini termasuk al-Qur’an juga?” Wahhabi itu menjawab: “Ya, termasuk al-Qur’an.” Saya berkata: “(Kedua ayat ini menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala tidak ada di langit). Mengapa Anda menganggap ayat-ayat yang Anda sebutkan tadi yang menurut asumsi Anda menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala ada di langit lebih utama untuk diyakini dari pada kedua ayat yang saya sebutkan yang menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala tidak ada di langit? Padahal kesemuanya juga dari Allah subhanahu wa ta‘ala?” Wahhabi itu menjawab: “Imam Ahmad mengatakan demikian.”

 

Saya berkata kepada mereka: “Mengapa kalian taklid kepada Ahmad dan tidak mengikuti dalil?” Tiga ulama Wahhabi itu pun terbungkam. Tak satu kalimat pun keluar dari mulut mereka. Sebenarnya saya menunggu jawaban mereka, bahwa ayat-ayat yang saya sebutkan tadi harus dita’wil, sementara ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala ada di langit tidak boleh dita’wil. Seandainya mereka menjawab demikian, tentu saja saya akan bertanya kepada mereka, siapa yang mewajibkan menta’wil ayat-ayat yang saya sebutkan dan melarang menta’wil ayat-ayat yang kalian sebutkan tadi?

 

Seandainya  mereka  mengklaim  adanya  ijma’  ulama  yang  mengharuskan
menta’wil ayat-ayat yang saya sebutkan tadi, tentu saja saya akan menceritakan
kepada mereka informasi beberapa ulama seperti al-Hafizh Ibn Hajar tentang
ijma’ ulama salaf untuk tidak menta’wil semua ayat-ayat sifat dalam al-Qur’an,
bahkan   yang   wajib   harus   mengikuti   pendekatan   tafwidh (menyerahkan

pengertiannya kepada Allah subhanahu wa ta‘ala).” Demikian kisah al-Imam al-
Hafizh Ahmad bin al-Shiddiq al-Ghumari dengan tiga ulama terhebat kaum
Wahhabi.

 

 

Dialog Terbuka di Surabaya dan Blitar

Pada  tahun 2009,  saya  pernah  terlibat perdebatan  sengit  dengan  seorang
Ustadz  Salafi  berinisial  AH  di  Surabaya.  Beberapa  bulan  berikutnya  saya
berdebat lagi dengan Ustadz Salafi di Blitar. Ustadz tersebut berinisial AH pula,

 

 

 

www.pustakaaswaja.web.id

| Download E-book | Kitab | MP3 Ceramah | MP3 Qashidah | Video Ceramah | Video Qashidah |


15

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi

 

 

tetapi  lain  orang.  Dalam  perdebatan  tersebut  saya  bertanya  kepada  AH: “Mengapa Anda meyakini bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala ada di langit?”

 

Menanggapi  pertanyaan  saya,  AH  menyebutkan  ayat-ayat  al-Qur’an  yang
menurut asumsinya menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala ada di
langit. Lalu saya berkata: “Ayat-ayat yang Anda sebutkan tidak secara tegas
menunjukkan bahwa Allah ada di langit. Karena kosa kata istawa, menurut para
ulama memiliki 15 makna. Di samping itu, apabila Anda berargumentasi dengan
ayat-ayat tersebut, maka argumen Anda dapat dipatahkan dengan ayat-ayat lain
yang  menunjukkan  bahwa  Allah  subhanahu  wa  ta‘ala  tidak  ada  di  langit.
Misalnya Allah subhanahu wa ta‘ala berfirman: “Dan Dia bersama kamu di mana
saja kamu berada.” (QS. al-Hadid : 4). Ayat ini menegaskan bahwa Allah

subhanahu wa ta‘ala bersama kita di bumi, bukan ada di langit. Dalam ayat lain Allah subhanahu wa ta‘ala berfirman:

 

.(      :     3+ ) .    !8-!         *  HB  .      ",

Dan Ibrahim berkata, Sesungguhnya aku pergi menuju Tuhanku (Palestina), yang akan memberiku petunjuk. (QS. al-Shaffat : 99).

 

Dalam ayat ini, Nabi Ibrahim alaihissalam berkata akan pergi menuju Tuhannya, padahal Nabi Ibrahim alaihissalam pergi ke Palestina. Dengan demikian, secara literal ayat ini menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala bukan ada di langit, tetapi ada di Palestina.” Setelah saya berkata demikian, AH tidak mampu menjawab akan tetapi mengajukan dalil lain dan berkata: “Keyakinan bahwa Allah  subhanahu  wa  ta‘ala  ada  di  langit  telah  dijelaskan  oleh  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih:

 

" , .) "           :     , _   #     " , .          .3 :     , _)     !#  :   8        ! D  '        (! $ ) * + ) "    " ,

.'       0          `    - Q3   -C9$#

Rasulullah  shallallahu alaihi  wa  sallam  bertanya  kepada  seorang  budak

perempuan yang berkulit hitam: Allah ada di mana? Lalu budak itu menjawab: Allah ada di langit. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bertanya; Saya siapa? Ia menjawab: Engkau Rasul Allah. Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada majikan budak itu, Merdekakanlah budak ini. Karena ia seorang budak yang mukmin. (HR. Muslim).

 

Setelah  AH  berkata  demikian,  saya  menjawab  begini:       “Ada  tiga  tinjauan

berkaitan dengan hadits yang Anda sebutkan. Pertama, dari aspek kritisisme
ilmu hadits (naqd al-hadits). Hadits yang Anda sebutkan menurut para ulama
tergolong  hadits  mudhtharib (hadits   yang   simpang   siur   periwayatannya),

sehingga  kedudukannya  menjadi  lemah  dan  tidak  dapat  dijadikan  hujjah.
Kesimpangsiuran  periwayatan  hadits  tersebut,  dapat  dilihat  dari  perbedaan
setiap perawi dalam meriwayatkan hadits tersebut. Ada yang meriwayatkan Nabi

 

 

www.pustakaaswaja.web.id

| Download E-book | Kitab | MP3 Ceramah | MP3 Qashidah | Video Ceramah | Video Qashidah |


16

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi

 

 

shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bertanya di mana Allah subhanahu wa ta‘ala. Akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, apakah kamu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah.

 

Kedua, dari segi makna, para ulama melakukan ta’wil terhadap hadits tersebut dengan mengatakan, bahwa yang ditanyakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebenarnya adalah bukan tempat, tetapi kedudukan atau derajat Allah subhanahu   wa   ta‘ala.   Lalu   orang   tersebut   menjawab   kedudukan   Allah subhanahu wa ta‘ala ada di langit, maksudnya Allah subhanahu wa ta‘ala itu Maha Luhur dan Maha Tinggi.

Ketiga, apabila Anda berargumen dengan hadits tersebut tentang keyakinan Allah subhanahu wa ta‘ala ada di langit, maka argumen Anda dapat dipatahkan dengan hadits lain yang lebih kuat dan menegaskan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala tidak ada di langit, bahkan ada di bumi. Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya:

' ,      ' 8/#      :",      !B     (       `     08!    - /3   C  .3       ; X#  '         (! $ ) * + .             #    #  $

;     0     .(  8,   /9   #      0  !          $  (9         , .3          ,   ! O3 (9     ,      ! (!   ( #  ( .D !   Q3 (9O+ .3

Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata, Bahwa Nabi shallallahu alaihi wa
sallam  melihat  dahak  di  arah  kiblat,  lalu  beliau  menggosoknya  dengan
tangannya, dan beliau kelihatannya tidak menyukai hal itu. Lalu beliau bersabda:
Sesungguhnya apabila salah seorang kalian berdiri dalam shalat, maka ia
sesungguhnya berbincang-bincang dengan Tuhannya, atau Tuhannya ada di
antara dirinya dan kiblatnya. Oleh karena itu, janganlah ia meludah ke arah
kiblatnya, akan tetapi meludahlah ke arah kiri atau di bawah telapak kakinya.
(HR. al-Bukhari [405]).

 

Hadits ini menegaskan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala ada di depan orang
yang sedang shalat, bukan ada di langit. Hadits ini jelas lebih kuat dari hadits
riwayat Muslim, karena hadits ini riwayat al-Bukhari. Setelah saya menjawab
demikian, AH juga tidak mampu menanggapi jawaban saya. Sepertinya dia
merasa kewalahan dan tidak mampu menjawab. Ia justru mengajukan dalil lain
dengan berkata: “Keyakinan bahwa Allah ada di langit itu ijma’ ulama salaf.” Lalu
saya jawab, “Tadi Anda mengatakan bahwa dalil keyakinan Allah ada di langit,
adalah ayat al-Qur’an. Kemudian setelah argumen Anda kami patahkan, Anda
beragumen dengan hadits. Lalu setelah argumen Anda kami patahkan lagi, Anda
sekarang  berdalil  dengan  ijma’.  Padahal  ijma’  ulama  salaf  sejak  generasi
sahabat justru meyakini Allah subhanahu wa ta‘ala tidak bertempat. Al-Imam Abu
Manshur al-Baghdadi berkata dalam al-Farqu Bayna al-Firaq:

(! $         D! R              (!   /! R ( # * $           4 D#

 

 

 

 

www.pustakaaswaja.web.id

| Download E-book | Kitab | MP3 Ceramah | MP3 Qashidah | Video Ceramah | Video Qashidah |


17

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi

 

 

“Kaum Muslimin sejak generasi salaf (para sahabat dan tabi’in) telah bersepakat bahwa Allah tidak bertempat dan tidak dilalui oleh waktu.” (al-Farq bayna alFiraq, 256).

 

Al-Imam Abu Ja’far al-Thahawi juga berkata dalam al-’Aqidah al-Thahawiyyah, risalah kecil yang menjadi kajian kaum Sunni dan Wahhabi:

-D    (!   /9 R

Allah subhanahu wa taala tidak dibatasi oleh arah yang enam.

Setelah  saya  menjawab  demikian  kepada  AH,  saya  bertanya  kepada  AH: “Menurut Anda, tempat itu makhluk apa bukan?” AH menjawab: “Makhluk.” Saya bertanya: “Kalau tempat itu makhluk, lalu sebelum terciptanya tempat, Allah ada di mana?” AH menjawab: “Pertanyaan ini tidak boleh, dan termasuk pertanyaan yang bid’ah.” Demikian jawaban AH, yang menimbulkan tawa para hadirin dari semua kalangan pada waktu itu. Kebetulan pada acara tersebut, mayoritas hadirin terdiri dari kalangan Salafi, anggota jamaah AH.

 

Demikianlah,  cara  dialog  orang-orang Wahhabi.  Ketika  mereka  tidak  dapat
menjawab   pertanyaan,   mereka   tidak   akan   menjawab,   aku   tidak   tahu,
sebagaimana tradisi ulama salaf dulu. Akan tetapi mereka akan menjawab,
“Pertanyaanmu bid’ah dan tidak boleh.” AH sepertinya tidak mengetahui bahwa
pertanyaan Allah subhanahu wa ta‘ala ada di mana sebelum terciptanyan alam,
telah ditanyakan oleh para sahabat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berkata kepada mereka, bahwa
pertanyaan tersebut bid’ah atau tidak boleh. Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan
dalam Shahih-nya:

 

.3 (CT9       7 [D :     C3  !  "B#            ";8    '        (! $ ) * + .           8         $ .   " ,               !+/ $ $

.(      ;     0    ) .0     !V  .A      ! '    )         :" , .              F  B " #    $ 7 L        !8

Imran bin Hushain radhiyallahu    anhu berkata:   Aku berada bersama Nabi

shallallahu alaihi wa sallam, tiba-tiba datang sekelompok dari penduduk Yaman dan  berkata: Kami  datang  untuk  belajar  agama  dan  menanyakan  tentang permulaan yang ada ini, bagaimana sesungguhnya? Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab: Allah telah ada dan tidak ada sesuatu apapun selain Allah. (HR. al-Bukhari [3191]).

 

Hadits ini menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala tidak bertempat. Allah
subhanahu wa ta‘ala ada sebelum adanya makhluk, termasuk tempat. Al-Imam
al-Tirmidzi meriwayatkan dengan sanad yang hasan dalam al-Sunan berikut ini:

 

 

 

 

 

www.pustakaaswaja.web.id

| Download E-book | Kitab | MP3 Ceramah | MP3 Qashidah | Video Ceramah | Video Qashidah |


18

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi

 

 

(,  3          B (9/9       $ .3        " , _ (C ;    ;!    # " ,               !#  ) "           ! :     , " ,    !     . #   $

B          9  " ,   .A (4       !     #    4         B     8!   ! " ,    !        8 /# " ,         * $ (A $      ;    B

/  S!8/

Abi  Razin  radhiyallahu   anhu  berkata:   Aku  berkata,  wahai  Rasulullah,  di

manakah   Tuhan   kita   sebelum   menciptakan   makhluk-Nya?   Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam menjawab: Allah ada tanpa sesuatu apapun yang
menyertainya. Di atasnya tidak ada sesuatu dan di bawahnya tidak ada sesuatu.
Lalu Allah menciptakan Arasy di atas air. Ahmad bin Mani berkata, bahwa
Yazid bin Harun berkata, maksud hadits tersebut, Allah ada tanpa sesuatu
apapun  yang  menyertai (termasuk  tempat).  Al-Tirmidzi  berkata: hadits  ini

bernilai hasan. (Sunan al-Tirmidzi, [3109]).

 

Dalam setiap dialog yang terjadi antara Muslim Sunni dengan kaum Wahhabi,
pasti kaum Sunni mudah sekali mematahkan argumen Wahhabi. Ketika Wahhabi
mengajukan argumen dari ayat al-Qur’an, maka dengan mudahnya dipatahkan
dengan ayat al-Qur’an yang lain. Ketika Wahhabi mengajukan argumen dengan
hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pasti kaum Sunni dengan mudahnya
mematahkan argumen tersebut dengan hadits yang lebih kuat. Dan ketika Sunni
berargumen dengan dalil rasional, pasti Wahhabi tidak dapat membantah dan
menjawabnya. Keyakinan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala ada tanpa tempat
adalah keyakinan kaum Muslimin sejak generasi salaf, kalangan sahabat dan
tabi’in. Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:

 

(! $       * $    M   B               R   )

Allah subhanahu wa taala ada sebelum adanya tempat. Dan keberadaan Allah
sekarang,  sama  seperti  sebelum  adanya  tempat (maksudnya  Allah  tidak

bertempat). (al-Farq bayna al-Firaq, 256).

 

Syaikh al-Syanqithi dan Wahhabi Tuna Netra

 

Ketika orang-orang Wahhabi memasuki Hijaz dan membantai kaum Muslimin dengan alasan bahwa mereka telah syirik, sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya, “Orang-orang Khawarij akan membunuh orang-orang yang beriman dan membiarkan para penyembah berhala.” Mereka juga membunuh seorang ulama terkemuka.

 

Mereka menyembelih Syaikh Abdullah al-Zawawi, guru para ulama madzhab alSyafi’i,  sebagaimana  layaknya  menyembelih  kambing.  Padahal  usia  beliau sudah di atas 90 tahun. Mertua Syaikh al-Zawawi yang juga sudah memasuki usia senja juga mereka sembelih.

 

 

 

 

www.pustakaaswaja.web.id

| Download E-book | Kitab | MP3 Ceramah | MP3 Qashidah | Video Ceramah | Video Qashidah |


19

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi

 

 

Kemudian mereka memanggil sisa-sisa ulama yang belum dibunuh untuk diajak
berdebat tentang tauhid, Asma Allah subhanahu wa ta‘ala dan sifat-sifat-Nya.
Ulama yang setuju dengan pendapat mereka akan dibebaskan. Sedangkan
ulama yang membantah pendapat mereka akan dibunuh atau dideportasi dari
Hijaz.

Di antara ulama yang diajak berdebat oleh mereka adalah Syaikh Abdullah alSyanqithi,  salah  seorang  ulama  kharismatik  yang  dikenal  hafal  Sirah  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan dari pihak Wahhabi yang mendebatnya, di antaranya seorang ulama mereka yang buta mata dan buta hati. Kebetulan perdebatan berkisar tentang teks-teks al-Qur’an dan hadits yang berkenaan dengan sifat-sifat Allah subhanahu wa ta‘ala. Mereka bersikeras bahwa teks-teks tersebut harus diartikan secara literal dan tekstual, dan tidak boleh diartikan secara kontekstual dan majazi.

 

Si tuna netra itu juga mengingkari adanya majaz dalam al-Qur’an. Bahkan lebih jauh lagi, ia menafikan majaz dalam bahasa Arab, karena taklid buta kepada pendapat Ibn Taimiyah dan Ibn al-Qayyim. Lalu Syaikh Abdullah al-Syanqithi berkata kepada si tuna netra itu:

 

“Apabila Anda berpendapat bahwa majaz itu tidak ada dalam al-Qur’an, maka sesungguhnya Allah subhanahu wa ta‘ala telah berfirman dalam al-Qur’an:

 

.(62:        a ) .O!   "     #  * $# : ;M  .3    -3 * $# 0 B .3

Dan barangsiapa yang buta di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar). (QS. al-Isra : 72).

 

Berdasarkan ayat di atas, apakah Anda berpendapat bahwa setiap orang yang
tuna netra di dunia, maka di akhirat nanti akan menjadi lebih buta dan lebih
tersesat,  sesuai  dengan  pendapat  Anda  bahwa  dalam  al-Qur’an  tidak  ada
majaz?”

 

Mendengar sanggahan Syaikh al-Syanqithi, ulama Wahhabi yang tuna netra itu pun  tidak  mampu  menjawab.  Ia  hanya  berteriak  dan  memerintahkan  anak buahnya agar Syaikh al-Syanqithi dikeluarkan dari majlis perdebatan. Kemudian si tuna netra itu meminta kepada Ibn Saud agar mendeportasi al-Syanqithi dari Hijaz. Akhirnya ia pun dideportasi ke Mesir. Kisah ini dituturkan oleh al-Hafizh Ahmad al-Ghumari dalam kitabnya, Ju’nat al-’Aththar.

 

Al-Imam al-Bukhari dan Tawil

 

Kalau  kita  mengamati  dengan  seksama,  perdebatan  orang-orang  Wahhabi
dengan para ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah, akan mudah kita simpulkan,

 

 

www.pustakaaswaja.web.id

| Download E-book | Kitab | MP3 Ceramah | MP3 Qashidah | Video Ceramah | Video Qashidah |


20

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi

 

 

bahwa kaum Wahhabi seringkali mengeluarkan vonis hukum tanpa memiliki
dasar  ilmiah  yang  dapat  dipertanggung  jawabkan.  Bahkan  tidak  jarang,
pernyataan mereka dapat menjadi senjata untuk memukul balik pandangan
mereka sendiri. Ustadz Syafi’i Umar Lubis dari Medan bercerita kepada saya.

 

“Ada sebuah pesantren di kota Siantar, Siamlungun, Sumatera Utara. Pesantren
itu bernama Pondok Pesantren Darus Salam. Setiap tahun, Pondok tersebut
mengadakan Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengundang
sejumlah ulama dari berbagai daerah termasuk Medan dan Aceh. Acara puncak
biasanya ditaruh pada siang hari. Malam harinya diisi dengan diskusi. Pada
Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tahun 2010 ini saya dan beberapa
orang ustadz diminta sebagai pembicara dalam acara diskusi. Kebetulan diskusi
kali ini membahas tentang Salafi apa dan mengapa, dengan judul Ada Apa
Dengan Salafi?

 

Setelah presentasi tentang aliran Salafi selesai, lalu tibalah sesi tanya jawab.
Ternyata  dalam  sesi  tanya  jawab  ini  ada  orang  yang  berpakaian  gamis
mengajukan keberatan dengan pernyataan saya dalam memberikan keterangan
tentang  Salafi,  antara  lain  berkaitan  dengan  ta’wil.  Orang  Salafi  tersebut
mengatakan: “Al-Qur’an itu diturunkan dengan bahasa Arab. Sudah barang tentu
harus kita fahami sesuai dengan bahasa Arab pula”. Pernyataan orang Salafi itu,
saya  dengarkan  dengan  cermat.  Kemudian  dia  melanjutkan  keberatannya
dengan berkata: “Ayat-ayat al-Qur’an itu tidak perlu dita’wil dan ini pendapat
Ahlussunnah”.

 

Setelah diselidiki, ternyata pemuda Salafi itu bernama Sofyan. Ia berprofesi sebagai guru di lembaga As-Sunnah, sebuah lembaga pendidikan orang-orang Wahhabi  atau  Salafi.  Mendengar  pernyataan  Sofyan  yang  terakhir,  saya bertanya: “Apakah Anda yakin bahwa al-Imam al-Bukhari itu ahli hadits?” Sofyan menjawab: “Ya, tidak diragukan lagi, beliau seorang ahli hadits.”

Saya   bertanya:    “Apakah   al-Bukhari   penganut   faham   Ahlussunnah   Wal-

Jama’ah?” Sofyan menjawab: “Ya.” Saya berkata: “Apakah al-Albani seorang ahli
hadits?” Sofyan menjawab: “Ya, dengan karya-karya yang sangat banyak dalam
bidang hadits, membuktikan bahwa beliau juga ahli hadits.” Saya berkata: “Kalau
benar al-Bukhari menganut Ahlussunnah, berarti al-Bukhari tidak melakukan
ta’wil. Bukankah begitu keyakinan Anda?” Sofyan menjawab: “Benar begitu.”

 

Saya berkata: “Saya akan membuktikan kepada Anda, bahwa al-Bukhari juga melakukan ta’wil .” Sofyan berkata: “Mana buktinya?” Mendengar pertanyaan Sofyan, saya langsung membuka Shahih al-Bukhari tentang ta’wil yang beliau lakukan dan memberikan photo copynya kepada anak muda itu. Saya berkata: “Anda lihat pada halaman ini, al-Imam al-Bukhari mengatakan:

 

.(          (-D  R  7 B  .A "    - H

 

 

www.pustakaaswaja.web.id

| Download E-book | Kitab | MP3 Ceramah | MP3 Qashidah | Video Ceramah | Video Qashidah |


21

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi

 

 

 

Artinya, “Bab tentang ayat : Segala sesuatu akan hancur kecuali Wajah-Nya, artinya Kekuasaan-Nya.”

 

Nah, kata wajah-Nya, oleh al-Imam al-Bukhari diartikan dengan mulkahu, artinya
kekuasaan-Nya. Kalau begitu al-Imam al-Bukhari melakukan ta’wil terhadap ayat
ini.  Berarti,  menurut  logika  Anda,  al-Bukhari  seorang  yang  sesat,  bukan
Ahlussunnah. Anda setuju bahwa al-Bukhari bukan Ahlussunnah dan pengikut
aliran sesat?”.

 

Mendengar pertanyaan saya, Sofyan hanya terdiam. Sepatah katapun tidak
terlontar dari lidahnya. Kemudian saya berkata: “Kalau begitu, sejak hari ini,
sebaiknya Anda jangan memakai hadits al-Bukhari sebagai rujukan. Bahkan
Syaikh al-Albani, orang yang saudara puji itu, dan orang-orang Salafi memujinya
dan menganggapnya lebih hebat dari al-Imam al-Bukhari sendiri. Al-Albani telah
mengkritik al-Imam al-Bukhari dengan kata-kata yang tidak pantas. Al-Albani
berkata: “Pendapat al-Bukhari yang melakukan ta’wil terhadap ayat di atas ini
tidak sepatutnya diucapkan oleh seorang Muslim yang beriman”. Inilah komentar
Syaikh Anda, al-Albani tentang ta’wil al-Imam al-Bukhari ketika menta’wil ayat:

 

.(          (-D  R  7 B  .A "    - H

Secara tidak langsung, seolah-olah al-Albani mengatakan bahwa ta’wilan alImam al-Bukhari tersebut pendapat orang kafir. Kemudian saya mengambil photo copy buku fatwa al-Albani dan saya serahkan kepada anak muda Salafi ini. Ia pun diam seribu bahasa. Demikian kisah yang dituturkan oleh Syafi’i Umar Lubis dari Medan, seorang ulama muda yang kharismatik dan bersemangat dalam membela Ahlussunnah Wal-Jama’ah.

 

Tawil Imam Ahmad bin Hanbal

Ta’wil tehadap teks-teks mutasyabihat telah dilakukan oleh para ulama salaf, di
antaranya Imam Malik bin Anas, Imam Ahmad bin Hanbal, dan lain-lain. Akan
tetapi  kaum  Wahhabi  sering  kali  mengingkari  fakta-fakta  tersebut  dengan
berbagai macam alasan yang tidak ilmiah dan selalu dibuat-buat. Seorang teman
saya, berinisial AD menceritakan pengalamannya ketika berdialog dengan AM,
tokoh  Wahhabi  kelahiran  Sumatera  yang  sekarang  tinggal  di  Jember.  AD
bercerita begini.

 

“Sekitar bulan Maret tahun 2010 lalu, saya mengikuti suatu acara di Jakarta
Selatan. Acara tersebut diadakan oleh salah satu ormas Islam di Indonesia.
Dalam acara itu, ada seorang pemateri Wahhabi yang berasal dari Sumatera
dan saat ini tinggal di Jember. Di antara materi yang disampaikannya adalah
persoalan ta’wil. Dalam pandangannya, ta’wil atas ayat-ayat mutasyabihat tidak
boleh dilakukan. Sehingga dengan asumsi demikian, ia meyakini bahwa Allah

 

 

www.pustakaaswaja.web.id

| Download E-book | Kitab | MP3 Ceramah | MP3 Qashidah | Video Ceramah | Video Qashidah |


22

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi

 

 

subhanahu wa ta‘ala itu bertempat atau berada di atas ‘Arasy. Dia menggunakan ayat al-Rahman ‘ala al-‘Arsy istawa (QS. Thaha : 5).

 

Lalu saya mengajukan beberapa ayat lain yang justru menunjukkan kalau Allah
subhanahu wa ta‘ala tidak ada di atas ‘Arasy. Akibatnya, terjadiah dialog sengit
antara saya dengan Ustadz lulusan Madinah tersebut. Lalu setelah itu, saya
membeberkan  fakta  dan  data-data  akurat  bahwa  tradisi  ta’wil  sudah  biasa
dilakukan oleh ulama salaf. Salah satunya adalah ta’wil yang dilakukan oleh
Imam Ahmad bin Hanbal atas ayat wa ja’a rabbuka wal malaku shaffan-shaffa
(QS. al-Fajr : 22). Imam Ahmad mentakwil ayat tersebut dengan ja’a tsawabuhu
wa qhadha’uhu (datangnya pahala dan ketetapan Allah subhanahu wa ta‘ala).
Setelah itu, Ustadz Ali Musri mencari ta’wil Imam Ahmad tersebut di software
Maktabah Syamilah. Setelah dia menemukannya, dia membacakan komentar
Imam al-Baihaqi yang berbunyi hadza al-isnad la ghubara ‘alaih (sanad ini tidak
ada nodanya alias bersih) yang menunjukkan bahwa sanadnya memang shahih.

Ternyata,  aneh  sekali,  Ustadz  tersebut  tertawa  dan  menganggap  bahwa
komentar  atau  penilaian  al-Baihaqi  yang  berupa  redaksi  hadza  al-isnad  la
ghubara ’alaih  tersebut  sebagai  shighat (redaksi)  yang  menunjukkan  atas

kelemahan suatu sanad. Saya juga heran, mengapa Ustadz lulusan Madinah
tersebut tidak begitu memahami istilah-istilah yang biasa dipakai oleh para ahli
hadits. Ia tidak mengerti bahwa pernyataan al-Baihaqi yang berbunyi hadza al-
isnad la ghubara ’alaih bermakna bahwa sanad riwayat ini tidak ada nodanya
sama sekali, alias shahih. Sayangnya, berhubung waktu yang disediakan oleh
panitia   dan   moderator   telah   habis,   saya   tidak   bisa   membantah   dan
mengomentari kembali pernyataan pemateri itu.” Demikian kisah AD, kepada
saya secara pribadi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

www.pustakaaswaja.web.id

| Download E-book | Kitab | MP3 Ceramah | MP3 Qashidah | Video Ceramah | Video Qashidah |


23

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi

 

 

BAB III

BIDAH HASANAH

 

 

Bidah Hasanah dan Dalilnya

 

Bid’ah hasanah adalah persoalan yang tidak pernah selesai dibicarakan. Hal ini
di samping karena banyak inovasi amaliah kaum Muslimin yang tercover dalam
bingkai bid’ah hasanah, juga karena adanya kelompok minoritas umat Islam
yang sangat kencang menyuarakan tidak adanya bid’ah hasanah dalam Islam.
Akhirnya kontroversi bid’ah hasanah ini selalu menjadi aktual untuk dikaji dan
dibicarakan. Toh walaupun sebenarnya khilafiyah tentang pembagian bid’ah
menjadi dua, antara bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah, tidak perlu terjadi.
Karena di samping dalil-dalil Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang
menunjukkan adanya bid’ah hasanah cukup banyak dan sangat kuat, juga
karena konsep bid’ah hasanah telah diakui sejak generasi sahabat pada masa
Khulafaur  Rasyidin.  Namun  apa  boleh  dikata,  kelompok  yang  anti  bid’ah
hasanah tidak pernah bosan dan lelah untuk membicarakannya.

 

Dalam  sebuah  diskusi  dengan  tema  Membedah  Kontroversi  Bid’ah,  yang
diadakan oleh MPW Fahmi Tamami Provinsi Bali, di Denpasar, pada bulan Juli
2010, saya terlibat dialog cukup tajam dengan beberapa tokoh Salafi yang hadir
dalam acara tersebut. Dalam acara itu, saya menjelaskan, bahwa pembagian
bid’ah menjadi dua, bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah, merupakan keharusan
dan keniscayaan dari pengamalan sekian banyak hadits Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam yang shahih dan terdapat dalam kitab-kitab hadits yang otoritatif
(mu’tabar). Karena meskipun Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

-9 I8/       F  A    8 /  X8B X8-       !;    ) H 9  S!8/      !;       :r ) "          " , " , t ) 8    $         D  $

.('       0   ) . O       $8  "

Jabir bin Abdullah berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Sebaik-baik ucapan adalah kitab Allah. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Sejelek-jelek perkara, adalah perkara yang baru. Dan setiap bidah itu kesesatan. (HR. Muslim [867]).

 

Termyata Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda:

084    - " $           D#  B D# ( 3          /     'O a  .3                r ) "          " , " , . D      ) 8  $       ! D   $

084     - " $                  B      (! $         [!         'O a  .3                .A 'B  D#    bC !      #  !V

'      0     . .A 'B        #     bC !    #  !V

 

 

 

www.pustakaaswaja.web.id

| Download E-book | Kitab | MP3 Ceramah | MP3 Qashidah | Video Ceramah | Video Qashidah |


24

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi

 

 

Jarir bin Abdullah al-Bajali radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa yang memulai perbuatan baik dalam
Islam, maka ia akan memperoleh pahalanya serta pahala orang-orang yang
melakukannya sesudahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan
barangsiapa  yang  memulai  perbuatan  jelek  dalam  Islam,  maka  ia  akan
memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang melakukannya sesudahnya
tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka.
(HR. Muslim [1017]).

 

Dalam hadits pertama, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menegaskan,
bahwa  setiap  bid’ah  adalah  sesat.  Tetapi  dalam  hadits  kedua,  Rasulullah
shallallahu  alaihi  wa  sallam  menegaskan  pula,  bahwa  barangsiapa  yang
memulai perbuatan baik dalam Islam, maka ia akan mendapatkan pahalanya
dan pahala orang-orang yang melakukannya sesudahnya. Dengan demikian,
hadits kedua jelas membatasi jangkauan makna hadits pertama “kullu bid’atin
dhalalah (setiap bid’ah adalah sesat)” sebagaimana dikatakan oleh al-Imam al-
Nawawi dan lain-lain. Karena dalam hadits kedua, Nabi shallallahu alaihi wa
sallam menjelaskan dengan redaksi, “Barangsiapa yang memulai perbuatan
yang   baik”,   maksudnya   baik   perbuatan   yang   dimulai   tersebut   pernah
dicontohkan dan pernah ada pada masa Nabi shallallahu alaihi wa sallam, atau
belum pernah dicontohkan dan belum pernah ada pada masa Nabi shallallahu
alaihi wa sallam. Di sisi lain, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam seringkali
melegitimasi beragam bentuk inovasi amaliah para sahabat yang belum pernah
diajarkan oleh beliau. Misalnya berkaitan dengan tatacara ma’mum masbuq
dalam shalat berjamaah dalam hadits shahih berikut ini:

 

A# :O+        .A (9 3 8,  "D      D    r ) "           8-$ * $              ) :" , * !  . #           /     8     $ $

3     ,       P9 ! '   ";83 (!         AL3 " D     4       !    D 'I :O+  .3 ";8 'I (9 3        * +3          (!

4  '          8, (    ) :" D        4    8!    !      .3   4  '         » r .   '-  " C3 7      (           r .       *+

P3 /    8!4    !,8      P3 /   (//+ 8,  K'B !V  K     !A . #        K 8 /#        8  8   #       0   .(           4+3 -3

.'   /

Abdurrahman bin Abi Laila berkata: Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam,  bila  seseorang  datang  terlambat  beberapa  rakaat  mengikuti  shalat
berjamaah, maka orang-orang yang lebih dulu datang akan memberi isyarat
kepadanya  tentang  rakaat  yang  telah  dijalani,  sehingga  orang  itu  akan
mengerjakan rakaat yang tertinggal itu terlebih dahulu, kemudian masuk ke
dalam shalat berjamaah bersama mereka. Pada suatu hari Mu
adz bin Jabal
datang terlambat, lalu orang-orang mengisyaratkan kepadanya tentang jumlah
rakaat shalat yang telah dilaksanakan, akan tetapi Muadz langsung masuk
dalam shalat berjamaah dan tidak menghiraukan isyarat mereka, namun setelah
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selesai shalat, maka Muadz segera
mengganti rakaat yang tertinggal itu. Ternyata setelah Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam selesai shalat, mereka melaporkan perbuatan Muadz bin Jabal
yang berbeda dengan kebiasaan mereka. Lalu beliau shallallahu alaihi wa sallam
menjawab:
Muadz telah memulai cara yang baik buat shalat kalian. Dalam

 

 

www.pustakaaswaja.web.id

| Download E-book | Kitab | MP3 Ceramah | MP3 Qashidah | Video Ceramah | Video Qashidah |


25

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi

 

 

riwayat Muadz bin Jabal, beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda; Muadz
telah memulai cara yang baik buat shalat kalian. Begitulah cara shalat yang
harus kalian kerjakan
. (HR. al-Imam Ahmad (5/233), Abu Dawud, Ibn Abi

Syaibah dan lain-lain. Hadits ini dinilai shahih oleh al-Hafizh Ibn Daqiq al-Id dan al-Hafizh Ibn Hazm al-Andalusi).

Hadits ini menunjukkan bolehnya membuat perkara baru dalam ibadah, seperti
shalat atau lainnya, apabila sesuai dengan tuntunan syara’. Dalam hadits ini,
Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak menegur Mu’adz dan tidak pula berkata,
“Mengapa   kamu   membuat   cara   baru   dalam   shalat   sebelum   bertanya
kepadaku?”, bahkan beliau membenarkannya, karena perbuatan Mu’adz sesuai
dengan aturan shalat berjamaah, yaitu makmum harus mengikuti imam. Dalam
hadits lain diriwayatkan:

 

" , (08 /       )         ) " ,    4           (  #    3     3 r                  +        : " , t    3         $3     8!     $

!#  » :" ,     #               : " , (_'            9        ) " , W         +      3    (!3           !@        !I       8 / 8 /  7  0       "D

;     0     - 9 ! '-!#       -     89 !       !IOI    4

Rifaah bin Rafi radhiyallahu anhu berkata: Suatu ketika kami shalat bersama
Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Ketika beliau bangun dari ruku
, beliau berkata:
samiallahu liman hamidah. Lalu seorang laki-laki di belakangnya berkata:
rabbana walakalhamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fih. Setelah
selesai shalat, beliau bertanya: Siapa yang membaca kalimat tadi? Laki-laki itu
menjawab: Saya.  Beliau  bersabda: Aku  telah  melihat  lebih 30  malaikat

berebutan menulis pahalanya. (HR. al-Bukhari [799]).

Kedua  sahabat  di  atas  mengerjakan  perkara  baru  yang  belum  pernah
diterimanya dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, yaitu menambah bacaan dzikir
dalam i’tidal. Ternyata Nabi shallallahu alaihi wa sallam membenarkan perbuatan
mereka, bahkan memberi kabar gembira tentang pahala yang mereka lakukan,
karena perbuatan mereka sesuai dengan syara’, di mana dalam i’tidal itu tempat
memuji kepada Allah. Oleh karena itu al-Imam al-Hafizh Ibn Hajar al-’Asqalani
menyatakan dalam Fath al-Bari (2/267), bahwa hadits ini menjadi dalil bolehnya
membuat dzikir baru dalam shalat, selama dzikir tersebut tidak menyalahi dzikir
yang ma’tsur (datang dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam), dan bolehnya
mengeraskan suara dalam bacaan dzikir selama tidak mengganggu orang lain.
Seandainya hadits “kullu bid’atin dhalalah (setiap bid’ah adalah sesat)”, bersifat
umum tanpa pembatasan, tentu saja Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam akan
melarang setiap bentuk inovasi dalam agama ketika beliau masih hidup.

 

Selanjutnya pembagian bid’ah menjadi dua, bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah, juga dilakukan oleh para sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, termasuk Khulafaur Rasyidin. Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya:

 

 

 

 

www.pustakaaswaja.web.id

| Download E-book | Kitab | MP3 Ceramah | MP3 Qashidah | Video Ceramah | Video Qashidah |


26

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi

 

 

Q3  8D     *               .3    ! t H@;             $         D ; :" , ( #        C 8            $     / 8   $ $

R`B   4 D    X # .    :t     $ " C3 @B           (9O+  .  +!3 "D     . +!  ( T  "D            +!      , T9     c     #

:O+        +!             X ;#    !  (4      D ; 'I H4         . # * $ '-4 D3 ' $ 'I "I #           8/  d      ,  *$

C!                "!      ;% 8!     !         C! .9       "    3#   - $         .9     0 B     $8        4  :    $ " , '-[     ,

;     0     .(   #

Abdurrahman bin Abd al-Qari berkata: Suatu malam di bulan Ramadhan aku
pergi ke masjid bersama Umar bin al-Khaththab. Ternyata orang-orang di masjid
berpencar-pencar dalam sekian kelompok. Ada yang shalat sendirian. Ada juga
yang  shalat  menjadi  imam  beberapa  orang.  Lalu  Umar  radhiyallahu  anhu
berkata:
Aku berpendapat, andaikan mereka aku kumpulkan dalam satu imam,
tentu akan lebih baik
. Lalu beliau mengumpulkan mereka pada Ubay bin Kaab.
Malam berikutnya, aku ke masjid lagi bersama Umar bin al-Khaththab, dan
mereka melaksanakan shalat bermakmum pada seorang imam. Menyaksikan hal
itu, Umar berkata:
Sebaik-baik bidah adalah ini. Tetapi menunaikan shalat di
akhir malam, lebih baik daripada di awal malam. Pada waktu itu, orang-orang
menunaikan tarawih di awal malam. (HR. al-Bukhari [2010]).

 

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah menganjurkan shalat tarawih
secara berjamaah. Beliau hanya melakukannya beberapa malam, kemudian
meninggalkannya. Beliau tidak pernah pula melakukannya secara rutin setiap
malam. Tidak pula mengumpulkan mereka untuk melakukannya. Demikian pula
pada masa Khalifah Abu Bakar radhiyallahu anhu. Kemudian Umar radhiyallahu
anhu mengumpulkan mereka untuk melakukan shalat tarawih pada seorang
imam dan menganjurkan mereka untuk melakukannya. Apa yang beliau lakukan
ini  tergolong  bid’ah. Tetapi  bid’ah hasanah,  karena  itu beliau mengatakan:
“Sebaik-baik bid’ah adalah ini”. Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya:

 

.#  r           8-$ * $          * $ ' a    D           (   #  4 D  ' !     8         :" , t   8!    !      H[        $

!8           .3    8 .B              * $ S I       8   8              I     t      I$           3   - $ ) .               $

;     0

Al-Saib bin Yazid radhiyallahu anhu berkata: Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar adzan Jumat pertama dilakukan setelah imam duduk di atas mimbar. Kemudian pada masa Utsman, dan masyarakat semakin banyak, maka beliau menambah adzan ketiga di atas Zaura, yaitu nama tempat di Pasar Madinah. (HR. al-Bukhari [916]).

 

Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar adzan
Jum’at dikumandangkan apabila imam telah duduk di atas mimbar. Pada masa
Utsman, kota Madinah semakin luas, populasi penduduk semakin meningkat,
sehingga mereka perlu mengetahui dekatnya waktu Jum’at sebelum imam hadir
ke mimbar. Lalu Utsman menambah adzan pertama, yang dilakukan di Zaura’,
tempat di Pasar Madinah, agar mereka segera berkumpul untuk menunaikan
shalat Jum’at, sebelum imam hadir ke atas mimbar. Semua sahabat yang ada

 

 

www.pustakaaswaja.web.id

| Download E-book | Kitab | MP3 Ceramah | MP3 Qashidah | Video Ceramah | Video Qashidah |


27

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi

 

 

pada waktu itu menyetujuinya. Apa yang beliau lakukan ini termasuk bid’ah, tetapi bid’ah hasanah dan dilakukan hingga sekarang oleh kaum Muslimin. Benar pula menamainya dengan sunnah, karena Utsman termasuk Khulafaur Rasyidin yang sunnahnya harus diikuti berdasarkan hadits sebelumnya.

 

Selanjutnya, beragam inovasi dalam amaliah keagamaan juga dipraktekkan oleh para sahabat secara individu. Dalam kitab-kitab hadits diriwayatkan, beberapa sahabat seperti Umar bin al-Khaththab, Abdullah bin Umar, Anas bin Malik, alHasan bin Ali dan lain-lain menyusun doa talbiyah-nya ketika menunaikan ibadah haji berbeda dengan redaksi talbiyah yang datang dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Para ulama ahli hadits seperti al-Hafizh al-Haitsami meriwayatkan dalam Majma’ al-Zawaid, bahwa Anas bin Malik dan al-Hasan al-Bashri melakukan shalat Qabliyah dan Ba’diyah shalat idul fitri dan idul adhha.

 

Berangkat dari sekian banyak hadits-hadits shahih di atas, serta perilaku para sahabat, para ulama akhirnya berkesimpulan bahwa bid’ah terbagi menjadi dua, bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah. Al-Imam al-Syafi’i, seorang mujtahid pendiri madzhab al-Syafi’i berkata:

 

[!A W ;! R    !;  .3 S8/#          O       $8   -3    $ D     #        #   9  W ;! S8/#      :               I8/

.(<&    /1 K.43 A  '  a  H,   K.C-!   P3 / ) .            !V  I8/     -3 7

Bidah   (muhdatsat)  ada  dua  macam;  pertama,  sesuatu  yang  baru  yang menyalahi al-Quran atau Sunnah atau Ijma, dan itu disebut bidah dhalalah (tersesat). Kedua,sesuatu yang baru dalam kebaikan yang tidak menyalahi alQuran, Sunnah dan Ijma dan itu disebut bidah yang tidak tercela. (Al-Baihaqi, Manaqib al-Syafii, 1/469).

 

Pernyataan al-Imam al-Syafi’i ini juga disetujui oleh Syaikh Ibn Taimiyah al-
Harrani dalam kitabnya, Majmu’ Fatawa Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah (juz. 20,
hal. 163).”

Setelah saya memaparkan penjelasan di atas, Ustadz Husni Abadi, pembicara
yang mewakili kaum Salafi pada waktu itu, tidak mampu membantah dalil-dalil
yang saya ajukan. Anehnya ia justru mengajukan dalil-dalil lain yang menurut
asumsinya  menunjukkan  tidak  adanya  bid’ah  hasanah.  Seharusnya  dalam
sebuah perdebatan, pihak penentang (mu’taridh) melakukan bantahan terhadap
dalil-dalil yang diajukan oleh pihak lawan, sebagaimana diterangkan dalam ilmu
Ushul Fiqih. Apabila pihak penentang tidak mampu mematahkan dalil-dalil pihak
lawan, maka argumentasi pihak tersebut harus diakui benar dan shahih.

Ustadz  Husni  Abadi  berkata:    “Ustadz,  dalam  soal  ibadah  kita  tidak  boleh

membuat-buat sendiri. Kita terikat dengan kaedah al-ashlu fil-ibadah al-buthlan
hatta yadulla al-dalil ‘ala al-’amal, (hukum asal dalam sebuah ibadah adalah

batal, sebelum ada dalil yang menunjukkan kebenaran mengamalkannya)”.

 

 

www.pustakaaswaja.web.id

| Download E-book | Kitab | MP3 Ceramah | MP3 Qashidah | Video Ceramah | Video Qashidah |


28

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi

 

 

 

Mendengar pernyataan Ustadz Husni, saya menjawab: “Kaedah yang Anda
sebutkan tidak dikenal dalam ilmu fiqih. Dan seandainya kaedah yang Anda
sebutkan ada dalam ilmu fiqih, maka kaedah tersebut tidak menolak adanya
bid’ah hasanah. Karena Anda tadi mengatakan, bahwa dalam soal ibadah tidak
boleh membuat-buat sendiri. Maksud Anda tidak boleh membuat bid’ah hasanah.
Lalu Anda berargumen dengan kaedah, hukum asal dalam sebuah ibadah
adalah batal, sebelum ada dalil yang menunjukkan kebenaran mengamalkannya.
Tadi sudah kami buktikan, bahwa bid’ah hasanah banyak sekali dalilnya. Berarti,
kaedah  Anda membenarkan mengamalkan  bid’ah hasanah,  karena dalilnya
jelas.”

HA berkata: “Ustadz, dalam surat al-Maidah, ayat 3 disebutkan:

 

..9  4 ' !$          9#  '      !8 '            '  !

Pada  hari  ini  aku  sempurnakan  bagimu  agamamu  dan  aku  sempurnakan bagimu nikmat-Ku. (QS. al-Maidah : 3)

Ayat di atas menegaskan bahwa Islam telah sempurna. Dengan demikian, orang
yang   melakukan   bid’ah   hasanah   berarti   berasumsi   bahwa   Islam   belum
sempurna, sehingga masih perlu disempurnakan dengan bid’ah hasanah.”

Saya menjawab: “Ayat 3 dalam surat al-Maidah yang Anda sebutkan tidak
berkaitan   dengan   bid’ah   hasanah.   Karena   yang   dimaksud   dengan
penyempurnaan agama dalam ayat tersebut, seperti dikatakan oleh para ulama
tafsir, adalah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah menyempurnakan kaedah-
kaedah agama. Seandainya yang dimaksud dengan ayat tersebut, tidak boleh
melakukan bid’ah hasanah, tentu saja para sahabat sepeninggal Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam tidak akan melakukan bid’ah hasanah. Sayidina Abu
Bakar menghimpun al-Qur’an, Sayyidina Umar menginstruksikan shalat tarawih
secara berjamaah, dan Sayyidina Utsman menambah adzan Jum’at menjadi dua
kali, serta beragam bid’ah hasanah lainnya yang diterangkan dalam kitab-kitab
hadits. Dalam hal ini tak seorang pun dari kalangan sahabat yang menolak hal-
hal baru tersebut dengan alasan ayat 3 surat al-Maidah tadi. Jadi, ayat yang
Anda  sebutkan  tidak  ada  kaitannya  dengan  bid’ah  hasanah.  Justru  bid’ah
hasanah masuk dalam kesempurnaan agama, karena dalil-dalilnya terdapat
dalam sekian banyak hadits Rasul shallallahu alaihi wa sallam dan perilaku para
sahabat.”

 

HA berkata: “Ustadz, hadits Jarir bin Abdullah al-Bajali, tidak tepat dijadikan dalil
bid’ah  hasanah.  Karena  hadits  tersebut  jelas  membicarakan  sunnah  Rasul
shallallahu alaihi wa sallam. Bukankah redaksinya berbunyi,  man sanna fil
Islaam sunnatan hasanatan. Di samping itu, hadits tersebut mempunyai latar
belakang, yaitu anjuran sedekah. Dan sudah maklum bahwa sedekah memang

 

 

 

www.pustakaaswaja.web.id

| Download E-book | Kitab | MP3 Ceramah | MP3 Qashidah | Video Ceramah | Video Qashidah |


29

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi

 

 

ada tuntunannya dalam al-Qur’an dan Sunnah. Jadi hadits yang Ustadz jadikan dalil bid’ah hasanah tidak proporsional.”

 

Saya menjawab: “Untuk memahami hadits Jarir bin Abdullah al-Bajali tersebut
kita  harus  berpikir  jernih  dan  teliti.  Pertama,  kita  harus  tahu  bahwa  yang
dimaksud dengan sunnah dalam teks hadits tersebut adalah sunnah secara
lughawi (bahasa).   Secara   bahasa,   sunnah   diartikan   dengan   al-thariqah
mardhiyyatan  kanat  au  ghaira  mardhiyyah (perilaku  dan  perbuatan,  baik

perbuatan yang diridhai atau pun tidak). Sunnah dalam teks hadits tersebut tidak
bisa  dimaksudkan  dengan  Sunnah dalam  istilah  ilmu  hadits, yaitu  ma  ja’a
‘aninnabiy shallallahu alaihi wa sallam min qaulin au fi’lin au taqrir (segala

sesuatu yang datang dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, baik berupa ucapan,
perbuatan maupun pengakuan). Sunnah dengan definisi terminologis ahli hadits
seperti ini, berkembang setelah abad kedua Hijriah. Seandainya, Sunnah dalam
teks hadits Jarir bin Abdullah al-Bajali tersebut dimaksudkan dengan Sunnah
Rasul shallallahu alaihi wa sallam dalam terminologi ahli hadits, maka pengertian
hadits tersebut akan menjadi kabur dan rancu. Coba kita amati, dalam teks
hadits tersebut ada dua kalimat yang belawanan, pertama kalimat man sanna
sunnatan hasanatan. Dan kedua, kalimat berikutnya yang berbunyi man sanna
sunnatan sayyi’atan. Nah, kalau kosa kata Sunnah dalam teks hadits tersebut
kita  maksudkan  pada  Sunnah  Rasul  shallallahu  alaihi  wa  sallam  dalam
terminologi ahli hadits tadi, maka akan melahirkan sebuah pengertian bahwa
Sunnah Rasul shallallahu alaihi wa sallam itu ada yang hasanah (baik) dan ada
yang sayyi’ah (jelek). Tentu saja ini pengertian sangat keliru. Oleh karena itu,
para ulama seperti al-Imam al-Nawawi menegaskan, bahwa hadits man sanna fil
islam sunnatan hasanatan, membatasi jangkauan makna hadits kullu bid’atin
dhalalah, karena makna haditsnya sangat jelas, tidak perlu disangsikan.

Selanjutnya, alasan Anda bahwa konteks yang menjadi latar belakang (asbab alwurud) hadits tersebut berkaitan dengan anjuran sedekah, maka alasan ini sangat lemah sekali. Bukankah dalam ilmu Ushul Fiqih telah kita kenal kaedah, al-’ibrah bi ’umum al-lafzhi la bi-khusush al-sabab, (peninjauan dalam makna suatu  teks  itu  tergantung  pada  keumuman  kalimat,  bukan  melihat  pada konteksnya yang khusus).”

 

HA berkata: “Ustadz, menurut al-Imam Ibn Rajab, bid’ah hasanah itu tidak ada. Yang namanya bid’ah itu pasti sesat.”

 

Saya menjawab: “Maaf, Anda salah dalam mengutip pendapat al-Imam Ibn
Rajab al-Hanbali. Justru al-Imam Ibn Rajab itu mengakui bid’ah hasanah. Hanya
saja beliau tidak mau menamakan bid’ah hasanah dengan bid’ah, tetapi beliau
namakan Sunnah. Jadi hanya perbedaan istilah saja. Sebagai bukti, bahwa Ibn
Rajab menerima bid’ah hasanah, dalam kitabnya, Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam fi
Syarth Khamsin Haditsan min Jamawi’ al-Kalim, beliau mengutip pernyataan al-
Imam al-Syafi’i yang membagi bid’ah menjadi dua. Dan seandainya al-Imam Ibn

 

 

www.pustakaaswaja.web.id

| Download E-book | Kitab | MP3 Ceramah | MP3 Qashidah | Video Ceramah | Video Qashidah |


30

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi

 

 

Rajab  memang  berpendapat  seperti  yang  Anda  katakan,  kita  tidak  akan mengikuti beliau, tetapi kami akan mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat yang mengakui adanya bid’ah hasanah.”

 

HA berkata: “Ustadz, dalil-dalil yang Anda ajukan dari Khulafaur Rasyidin, seperti
dari Khalifah Umar, Utsman dan Ali, itu tidak bisa dijadikan dalil bid’ah hasanah.
Karena mereka termasuk Khulafaur Rasyidin. Dan Rasulullah shallallahu alaihi
wa sallam telah memerintahkan kita mengikuti Khulafaur Rasyidin, dalam hadits
‘alaikum bisunnati wa sunnatil khulafair rasyidin al-mahdiyyin (ikutilah sunnahku
dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang memperoleh petunjuk). Dengan demikian,
apa yang mereka lakukan sebenarnya termasuk Sunnah berdasarkan hadits ini.”

Saya  menjawab:    “Ustadz  Husni  yang  saya  hormati,  menurut  hemat  kami

sebenarnya yang tidak mengikuti Khulafaur Rasyidin itu orang yang menolak
bid’ah hasanah seperti Anda. Karena Khulafaur Rasyidin sendiri melakukan
bid’ah hasanah. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kita
mengikuti Khufaur Rasyidin. Sementara Khulafaur Rasyidin melakukan bid’ah
hasanah. Berarti Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kita
melakukan bid’ah hasanah. Dengan demikian kami yang berpendapat dengan
adanya bid’ah hasanah itu sebenarnya mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam  dan  Khulafaur  Rasyidin.  Oleh  karena  itu,  mari  kita  ikuti  Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam dan Khulafaur Rasyidin dengan melakukan bid’ah
hasanah sebanyak-banyaknya.”

 

HA berkata: “Ustadz Idrus, kalau Anda mengatakan bahwa hadits kullu bid’atin dhalalah maknanya terbatas dengan artian bahwa sebagian bid’ah itu sesat, bukan semua bid’ah, lalu apakah Anda akan mengartikan teks berikutnya, yang berbunyi  wa  kullu  dhalalatin  finnar,  dengan  pengertian  yang  sama,  bahwa sebagian kesesatan itu masuk neraka, bukan semuanya. Apakah Ustadz berani mengartikan demikian?”

Saya menjawab: “Ustadz Husni yang saya hormati, dalam mengartikan atau
membatasi jangkauan makna suatu ayat atau hadits, kita tidak boleh mengikuti
hawa nafsu. Akan tetapi kita harus mengikuti al-Qur’an dan Sunnah pula. Para
ulama mengartikan teks hadits kullu bid’atin dhalalah dengan arti sebagian besar
bid’ah itu sesat, karena ada sekian banyak hadits yang menuntut demikian.
Sedangkan  berkaitan  teks  berikutnya,  wa  kullu  dhalalatin  finnar (setiap

kesesatan itu di neraka), di sini kami tegaskan, bahwa selama kami tidak
menemukan dalil-dalil yang membatasi jangkauan maknanya, maka kami akan
tetap berpegang pada keumumannya. Jadi makna seluruh atau sebagian dalam
sebuah teks itu tergantung dalil. Yang namanya dalil, ya al-Qur’an dan Sunnah.
Jadi membatasi jangkauan makna dalil, dengan dalil pula, bukan dengan hawa
nafsu.” Demikianlah dialog saya dengan Ustadz Husni Abadi, di Denpasar pada
akhir Juli 2010 yang lalu.

 

 

 

www.pustakaaswaja.web.id

| Download E-book | Kitab | MP3 Ceramah | MP3 Qashidah | Video Ceramah | Video Qashidah |


31

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi

 

 

 

Di Islamic Center Jakarta Utara

 

Ada kisah menarik berkaitan dengan bid’ah hasanah yang perlu diceritakan di
sini. Kisah ini pengalaman pribadi Ali Rahmat, laki-laki gemuk yang sekarang
tinggal di Jakarta Pusat. Beliau pernah kuliah di Syria setelah tamat dari Pondok
Pesantren   Assunniyah   Kencong,   Jember.   Ali   Rahmat   bercerita, “Pada

pertengahan 2009, kaum Wahhabi mengadakan pengajian di Islamic Center Jakarta Utara. Tampil sebagai pembicara, Yazid Jawas dan Abdul Hakim Abdat, dua tokoh Wahhabi di Indonesia.

Pada waktu itu, saya sengaja hadir bersama beberapa teman alumni Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, antara lain Ustadz Abdussalam, Ustadz Abdul Hamid Umar dan Ustadz Mishbahul Munir. Ternyata, sejak awal acara, dua tokoh Wahhabi  itu  sangat  agresif menyampaikan ajarannya  tentang  bid’ah. Setelah saya amati, Ustadz Yazid Jawas banyak berbicara tentang bid’ah. Menurut Yazid Jawas, bid’ah hasanah itu tidak ada. Semua bid’ah pasti sesat dan masuk neraka. Menurut Yazid Jawas, apapun yang tidak pernah ada pada masa  Rasulullah  shallallahu  alaihi  wa  sallam,  harus  ditinggalkan,  karena termasuk bid’ah dan akan masuk neraka.

Di tengah-tengah presentasi tersebut saya bertanya kepada Yazid Jawas. “Anda
sangat ekstrem dalam membicarakan bid’ah. Menurut Anda, apa saja yang
belum pernah ada pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam itu pasti
bid’ah dan akan masuk neraka. Sekarang saya bertanya, Sayidina Umar bin al-
Khaththab memulai tradisi shalat tarawih 20 raka’at dengan berjamaah, Sayidina
Utsman menambah adzan Jum’at menjadi dua kali, sahabat-sahabat yang lain
juga banyak yang membuat susunan-susunan dzikir yang tidak diajarkan oleh
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Sekarang saya bertanya, beranikah Anda
mengatakan  bahwa  Sayidina  Umar,  Sayidina  Utsman  dan  sahabat  lainnya
termasuk ahli bid’ah dan akan masuk neraka?” Mendengar pertanyaan saya,
Yazid Jawas hanya terdiam seribu bahasa, tidak bisa memberikan jawaban.

 

Setelah acara dialog selesai, saya menghampiri Yazid Jawas, dan saya katakan kepadanya, “Bagaimana kalau Anda kami ajak dialog dan debat secara terbuka dengan ulama kami. Apakah Anda siap?” “Saya tidak siap.” Demikian jawab Yazid Jawas seperti diceritakan oleh Ali Rahmat kepada saya.

 

Kisah serupa terjadi juga di Jember pada akhir Desember 2009. Dalam daurah tentang  Syi’ah  yang  diadakan  oleh  Perhimpunan  Al-Irsyad  di  Jember,  ada beberapa mahasiswa STAIN Jember yang mengikutinya. Ternyata dalam daurah tersebut, tidak hanya membicarakan Syi’ah. Tetapi juga membicarakan tentang bid’ah  dan  ujung-ujungnya  membid’ah-bid’ahkan  amaliah  kaum  Muslimin  di Tanah Air yang telah mengakar sejak beberapa abad yang silam.

 

 

 

www.pustakaaswaja.web.id

| Download E-book | Kitab | MP3 Ceramah | MP3 Qashidah | Video Ceramah | Video Qashidah |


32

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi

 

 

Di antara pematerinya ada yang bernama Abu Hamzah Agus Hasan Bashori, tokoh Salafi dari Malang. Dalam kesempatan tersebut, Agus menyampaikan bahwa bid’ah itu sesat semua. Yang namanya bid’ah hasanah itu tidak ada. Apa saja yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, harus kita tinggalkan, karena itu termasuk bid’ah dan akan masuk neraka. Demikian konsep yang dipaparkan oleh Agus.

Dalam sesi tanya jawab, salah seorang mahasiswa dari Jember tadi ada yang bertanya: “Kalau konsep bid’ah seperti yang Anda paparkan barusan, bahwa semua bid’ah itu sesat, tidak ada bid’ah hasanah, dan bahwa apa saja yang tidak ada pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam harus kami tinggalkan, karena termasuk bid’ah. Sekarang bagaimana Anda menanggapi doa-doa yang disusun  oleh  para  sahabat  yang  belum  pernah  diajarkan  oleh  Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam? Bagaimana dengan doa al-Imam Ahmad bin Hanbal dalam sujud ketika shalat selama 40 tahun yang berbunyi:

 

8 /         8      .  TV '-       :" ,# K       !4  #     .9O+ .3 .43 A   )     $8F .   :"   /       8 /# '  a  " ,

.(2/2>< K.43 A  '  a  H,   K.C-!   P3 / ) ..43 A     !  8

 

Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: Saya mendoakan al-Imam al-Syafii dalam shalat saya selama empat puluh tahun. Saya berdoa, Ya Allah ampunilah aku, kedua orang tuaku dan Muhammad bin Idris al-Syafii. (Al-Hafizh al-Baihaqi, Manaqib al-Imam al-Syafii, 2/254).

 

Doa seperti itu sudah pasti tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, para sahabat dan tabi’in. Tetapi al-Imam Ahmad bin Hanbal melakukannya selama empat puluh tahun.

 

Demikian pula Syaikh Ibn Taimiyah, setiap habis shalat shubuh, melakukan
dzikir bersama, lalu membaca surat al-Fatihah berulang-ulang hingga Matahari
naik ke atas, sambil mengangkat kepalanya menghadap langit. Nah, sekarang
saya bertanya, menurut Anda, apakah para sahabat, al-Imam Ahmad bin Hanbal
dan Syaikh Ibn Taimiyah termasuk ahli bid’ah, berdasarkan konsep bid’ah yang
Anda paparkan tadi? Karena jelas sekali, mereka melakukan sesuatu yang
belum pernah ada pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.”

Mendengar pertanyaan tersebut Agus ternyata tidak mampu menjawab dan malah bercerita tentang bid’ah hasanah Ibn Taimiyyah secara pribadi. Kisah ini diceritakan oleh beberapa teman saya, antara lain Is dan AD yang mengikuti acara daurah tersebut.

Demikianlah, konsep anti bid’ah hasanah ala Wahhabi sangat lemah dan rapuh.
Tidak mampu dipertahankan di arena diskusi ilmiah. Konsep anti bid’ah hasanah
ala Wahhabi akan menemukan jalan buntu ketika dihadapkan dengan fakta
bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melegitimasi amaliah-amaliah baru

 

 

www.pustakaaswaja.web.id

| Download E-book | Kitab | MP3 Ceramah | MP3 Qashidah | Video Ceramah | Video Qashidah |


33

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi

 

 

yang dilakukan oleh para sahabat. Konsep tersebut akan runtuh pula ketika
dibenturkan   dengan   fakta   bahwa   para   sahabat   sepeninggal   Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam banyak melakukan inovasi kebaikan dalam agama
sebagaimana diriwayatkan dalam kitab-kitab hadits yang otoritatif (mu’tabar).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

www.pustakaaswaja.web.id

| Download E-book | Kitab | MP3 Ceramah | MP3 Qashidah | Video Ceramah | Video Qashidah |


34

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi

 

BAB IV

 

OTORITAS ULAMA

 

Sumber Liberalisme

Pada tahun 2009, saya terlibat perdebatan sengit di Surabaya dengan seorang tokoh   Salafi   dari   Malang,   berinisial   AH.   Di   bagian   awal   buku   yang dipromosikannya  pada  waktu  itu,  ia  menulis,  bahwa  madzhab  al-Asy’ari merupakan  sumber  pemikiran  liberal.  Saya  merasa  heran  dengan  asumsi murahan  AH  yang  mengatakan  bahwa  pemikiran  liberal  sumbernya  dari madzhab al-Asy’ari. Logika dan paradigma apa yang dijadikan barometer untuk menilai madzhab al-Asy’ari sebagai sumber ajaran liberal.

 

Seandainya  ada  seseorang  berpendapat  bahwa  ajaran  Islam  itu  sumber kejahatan pencurian dan perzinahan, karena ia melihat dalam kitab-kitab tafsir ada beberapa ayat yang turun berkaitan dengan sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam yang mencuri dan berzina, apakah AH akan menerima logika berpikir seperti ini? Tentu saja dia tidak akan menerima.

Seandainya AH berkomunikasi terlebih dahulu dengan ulama-ulama Wahhabi yang menjadi gurunya di Saudi Arabia, mungkin ia tidak akan menulis tuduhan keji seperti itu. Karena para ulama Wahhabi sendiri mengakui, bahwa mayoritas ulama dari berbagai bidang, seperti ahli tafsir, ahli hadits, ahli fiqih, ahli sejarah, gramatika dan lain-lain mengikuti madzhab al-Asy’ari.

AH sepertinya tidak pernah membaca sejarah bahwa para ulama yang berhasil
membabat habis kelompok Mu’tazilah sampai punah pada akhir abad keenam
Hijriah adalah para ulama pengikut madzhab al-Asy’ari. Dalam sejarah pemikiran
Islam, Mu’tazilah merupakan aliran yang dikenal paling tangguh dan hebat dalam
arena  dialog  dan  perdebatan.  Mu’tazilah  juga  dikenal  sebagai  aliran  yang
mendahulukan akal daripada
nash (teks) al-Qur’an dan Sunnah. Di tangan
Mu’tazilah, teks-teks al-Qur’an dan hadits menjadi berkurang nilai sakralitasnya
karena harus dikoreksi terlebih dahulu dengan perisai rasio dan nalar. AH juga
sepertinya tidak tahu sejarah, bahwa ilmu filsafat yang dianggap sebagai sumber
pemikiran liberal dalam Islam, menjadi terkapar untuk selama-lamanya dari
ranah intelektual kaum Muslimin setelah dibabat habis oleh Hujjatul Islam al-
Ghazali dengan kitabnya
Tahafut al-Falasifah. Dari sini layakkah AH menuduh
madzhab al-Asy’ari sebagai sumber ajaran liberal? Bukankah lebih layak kalau
dikatakan bahwa liberalisme sumbernya dari Wahhabi.

Sebagaimana  dimaklumi,  di  antara  ciri  khas  liberalisme,  adalah  upaya
desakralisasi otoritas ulama. Ketika pendapat dan hasil ijtihad ulama diajukan
kepada  kaum  liberal,  maka  dengan  serta  merta  mereka  akan  menolaknya

 

 

www.pustakaaswaja.web.id

| Download E-book | Kitab | MP3 Ceramah | MP3 Qashidah | Video Ceramah | Video Qashidah |


35

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi

 

 

dengan alasan para ulama juga manusia biasa seperti halnya mereka. Kaum
Wahhabi juga demikian, ketika pendapat dan hasil ijtihad ulama diajukan kepada
mereka, maka sudah barang tentu mereka akan menolaknya, dengan bahasa
yang  terkadang  lebih  halus, “kita  kembali  kepada  al-Qur’an  dan  Sunnah”.

Bahasa yang mengesankan bahwa hasil ijtihad ulama tidak mengikuti al-Qur’an dan Sunnah.

Memang tidak aneh kalau orang Wahhabi seperti AH menuduh madzhab al-
Asy’ari sebagai sumber ajaran liberal. Bukankah pendiri aliran Wahhabi sendiri,
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Najdi telah mengatakan bahwa kitab-
kitab fiqih merupakan sumber ajaran syirik. Dalam kitab
al-Durar al-Saniyyah fi
al-Ajwibah al-Najdiyyah (kumpulan fatwa-fatwa ulama Wahhabi sejak Syaikh

Muhammad bin Abdul Wahhab al-Najdi, sang pendiri aliran Wahhabi), yang dihimpun oleh Syaikh Abdurrahman bin Muhammad al-Najdi al-Wahhabi, juz 3 hal. 59, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengeluarkan statemen yang cukup ekstrem bahwa ilmu fiqih merupakan sumber kesyirikan. Sedangkan para ulama fuqaha yang menulis kitab-kitab fiqih, ia samakan dengan syetan-syetan manusia dan jin. Astaghfirullah.

 

 

Tidak Perlu Mengikuti Ulama

Kejadian itu agak mirip dengan kejadian berikutnya. Suatu ketika, saya mengisi
pengajian di daerah Kesiman Denpasar Timur Bali. Setelah saya memaparkan
tentang dalil-dalil bid’ah hasanah dari al-Qur’an dan hadits, lalu saya mengutip
pendapat   para   ulama   sejak
  Khulafaur   Rasyidin   yang   mengakui   dan
mengamalkan bid’ah hasanah, tiba-tiba seorang Wahhabi angkat bicara dengan
nada emosi. Ia berkata begini: “Kita tidak perlu mengikuti imam ini maupun imam
itu. Kita kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah saja, titik. Setelah Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam tidak ada orang yang perlu kita ikuti.” Demikian
perkataan orang Wahhabi tersebut dengan suara berapi-api dan nada suara
tinggi.

 

Orang Wahhabi ini sepertinya tidak tahu, bahwa yang memberikan otoritas kepada ulama agar diikuti oleh umat Islam adalah al-Qur’an dan Sunnah. Ketika kita mengikuti ulama, itu bukan berarti kita meninggalkan al-Qur’an dan Sunnah. Akan  tetapi  kita  justru  mengikuti  al-Qur’an  dan  Sunnah  sesuai  dengan pemahaman para ulama yang lebih mengerti dari pada kita. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam al-Qur’an al-Karim:

 

.(<= : "/          ) .          49 R '9                    "B#   L      3

Bertanyalah kamu kepada para ulama apabila kamu tidak tahu. (QS. al-Nahl:

43 dan al-Anbiya: 7).

 

 

 

www.pustakaaswaja.web.id

| Download E-book | Kitab | MP3 Ceramah | MP3 Qashidah | Video Ceramah | Video Qashidah |


36

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi

 

 

Dalam ayat di atas, al-Qur’an memerintahkan kita agar bertanya kepada para ulama ketika kita tidak tahu. Al-Qur’an tidak memerintahkan kita membuka-buka lembaran-lembaran al-Qur’an dan kitab-kitab hadits ketika kita tidak tahu. Dalam ayat lain, Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:

 

.(>      :            ) .'              F * #  "                       4!@#    )   4!@#           %  !       -!#    !

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya) dan UlilAmri di antara kamu. (QS. al-Nisa : 59).

 

Dalam ayat di atas, al-Qur’an menuntun kita agar mengikuti Ulil Amri. Yang
dimaksud  dengan  Ulil  Amri  dalam  ayat  tersebut  adalah  para  ulama  yang
mendalam ilmunya. Dalam hadits shahih, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
bersabda:

 

I!8/             #     )      " C! '            (! $ ) * + ) "                  4    :" , ( $ ) .                 I      8!     $

f    H 3      !       .3     (!CT  !   (C3 "      / H      (    (C3#  B  *    (C3 "      / H 3 0 !V (U  !  *9/ (PT/3

.'B  !V  K(22&) (D        K(=16>) 8     8   #  K(2>5g)      9  0                  *$ #

 

Semoga Allah membuat elok pada orang yang mendengar sabdaku, lalu ia
mengingatnya, kemudian menyampaikannya seperti yang pernah didengarnya.
Karena tidak sedikit orang yang menyampaikan suatu hadits dariku tidak dapat
memahaminya.
  Dalam  riwayat  lain  dikatakan: Tidak  sedikit  orang  yang

memperoleh suatu hadits dari seseorang lebih memahami daripada orang yang mendengar hadits itu secara langsung dariku. (HR. al-Tirmidzi (2580, 2581 dan 2583), Abu Dawud (3175); Ibn Majah (226) dan lain-lain).

 

Hadits tersebut menunjukkan bahwa di antara sahabat Rasul shallallahu alaihi
wasallam yang mendengar hadits dari beliau secara langsung, ada yang kurang
memahami terhadap makna-makna yang dikandung oleh hadits tersebut. Namun
kemudian ia menyampaikan hadits itu kepada murid-muridnya yang terkadang
lebih memahami terhadap kandungan maknanya. Pemahaman lebih, terhadap
kandungan hadits tersebut menyangkut penggalian hukum-hukum dan masalah-
masalah yang nantinya disebut dengan proses
istinbath atau ijtihad. Dari sini
dapat dipahami, bahwa di antara sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam ada
yang  kurang  mengerti  terhadap  maksud  suatu  hadits daripada  murid-murid
mereka. Dan murid-murid mereka yang memiliki pemahaman lebih terhadap
hadits  tadi  disebut  dengan  mujtahid.  Mujtahid  inilah  yang  menjadi  fokus
pembicaraan dalam hadits shahih berikut ini:

 

H +# 'I 8-9D 3 ' /  ' /    " C! '          (! $ ) * + ) "                    ( # ( $ ) .         b4               $   $

.(&5g>)      ;     0     . D# ( 3 L@;# 'I 8-9D 3 ' /      D# ( 3

 

 

 

 

 

www.pustakaaswaja.web.id

| Download E-book | Kitab | MP3 Ceramah | MP3 Qashidah | Video Ceramah | Video Qashidah |


37

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi

 

 

Apabila  seorang  hakim  melakukan  ijtihad,  lalu  ijtihadnya  benar,  maka  ia memperoleh dua pahala. Dan apabila melakukan ijtihad, lalu ijtihadnya keliru, maka ia memperoleh satu pahala. (Al-Bukhari [6805]).

 

Dengan   demikian   dapat   disimpulkan   bahwa   tidak   semua   sahabat   Nabi
shallallahu  alaihi  wasallam  yang  memiliki  penguasaan  mendalam  terhadap
susunan bahasa Arab mampu mengeluarkan fatwa. Dan kesimpulan ini akan
semakin kelihatan dengan jelas, apabila kita perhatikan kitab-kitab
mushthalah
al-hadits
  yang  disusun  oleh para hafizh (gelar  kesarjanaan  tertinggi  dalam

bidang studi ilmu hadits), di sana akan kita dapati bahwa para mufti dari kalangan sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak sampai sepuluh orang. Ada yang mengatakan hanya enam orang. Tetapi sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa sekitar dua ratus orang sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam yang telah mencapai derajat mujtahid.

 

Dialog Syaikh Al-Buthi dan Syaikh Al-Albani

Ada sebuah perdebatan yang menarik tentang ijtihad dan taqlid, antara Syaikh
Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, seorang ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah
di Syria, bersama Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, seorang tokoh
Wahhabi  dari  Yordania.  Syaikh  al-Buthi  bertanya: “Bagaimana  cara  Anda

memahami hukum-hukum Allah, apakah Anda mengambilnya secara langsung
dari al-Qur’an dan Sunnah, atau melalui hasil ijtihad para imam-imam mujtahid?”
Al-Albani  menjawab:
“Aku  membandingkan  antara  pendapat  semua  imam

mujtahid serta dalil-dalil mereka lalu aku ambil yang paling dekat terhadap alQur’an dan Sunnah.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Seandainya Anda punya uang 5000 Lira. Uang itu
Anda simpan selama enam bulan. Kemudian uang itu Anda belikan barang untuk
diperdagangkan, maka sejak kapan barang itu Anda keluarkan zakatnya. Apakah
setelah  enam  bulan  berikutnya,  atau  menunggu  setahun  lagi?”  Al-Albani
menjawab: “Maksud pertanyaannya, kamu menetapkan bahwa harta dagang itu
ada zakatnya?” Syaikh al-Buthi berkata: “Saya hanya bertanya. Yang saya

inginkan, Anda menjawab dengan cara Anda sendiri. Di sini kami sediakan kitabkitab tafsir, hadits dan fiqih, silahkan Anda telaah.” Al-Albani menjawab: “Hai saudaraku, ini masalah agama. Bukan persoalan mudah yang bisa dijawab dengan seenaknya. Kami masih perlu mengkaji dan meneliti. Kami datang ke sini untuk membahas masalah lain”.

 

Mendengar jawaban tersebut, Syaikh al-Buthi beralih pada pertanyaan lain: “Baik
kalau memang begitu. Sekarang saya bertanya, apakah setiap Muslim harus
atau wajib membandingkan dan meneliti dalil-dalil para imam mujtahid, kemudian
mengambil pendapat yang paling sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah?” Al-
Albani  menjawab: “Ya.”  Syaikh  al-Buthi  bertanya: “Maksud  jawaban  Anda,

semua orang memiliki kemampuan berijtihad seperti yang dimiliki oleh para

 

 

www.pustakaaswaja.web.id

| Download E-book | Kitab | MP3 Ceramah | MP3 Qashidah | Video Ceramah | Video Qashidah |


38

Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi

 

 

imam  madzhab?  Bahkan  kemampuan  semua  orang  lebih  sempurna  dan
melebihi  kemampuan  ijtihad  para  imam  madzhab.  Karena  secara  logika,
seseorang yang mampu menghakimi pendapat-pendapat para imam madzhab
dengan barometer al-Qur’an dan Sunnah, jelas ia lebih alim dari mereka.”

 

Al-Albani  menjawab:   “Sebenarnya  manusia  itu  terbagi  menjadi  tiga,  yaitu

muqallid (orang yang taklid), muttabi      (orang yang mengikuti) dan mujtahid.

Orang yang mampu membandingkan madzhab-madzhab yang ada dan memilih
yang lebih dekat pada al-Qur’an adalah
muttabi. Jadi muttabi itu derajat tengah,
antara taklid dan ijtihad.” Syaikh al-Buthi bertanya: “Apa kewajiban muqallid?” al-
Albani menjawab: “Ia wajib mengikuti para mujtahid yang bisa diikutinya.” Syaikh
al-Buthi bertanya; “Apakah  ia berdosa  kalau  seumpama  mengikuti  seorang

mujtahid saja dan tidak pernah berpindah ke mujtahid lain?” al-Albani menjawab: “Ya, ia berdosa dan haram hukumnya.”

 

Syaikh   al-Buthi  bertanya:    “Apa   dalil   yang   mengharamkannya?”   Al-Albani

menjawab: “Dalilnya, ia mewajibkan pada dirinya, sesuatu yang tidak diwajibkan Allah padanya.” Syaikh al-Buthi bertanya: “Dalam membaca al-Qur’an, Anda mengikuti qiraah-nya siapa di antara qiraah yang tujuh?” Al-Albani menjawab: Qiraah Hafsh.” Al-Buthi bertanya: “Apakah Anda hanya mengikuti qiraah Hafsh saja? Atau setiap hari, Anda mengikuti qiraah yang berbeda-beda?” Al-Albani menjawab: “Tidak. Saya hanya mengikuti qiraah Hafsh saja.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Mengapa Anda hanya mengikuti qiraah Hafsh saja, padahal Allah subhanahu wa ta’ala tidak mewajibkan Anda mengikuti qiraah Hafsh. Kewajiban Anda justru membaca al-Qur’an sesuai riwayat yang datang dari Nabi shallallahu alaihi wasallam secara mutawatir.” Al-Albani menjawab: “Saya  tidak  sempat  mempelajari  qiraah-qiraah  yang  lain.  Saya  kesulitan membaca al-Qur’an dengan selain qiraah Hafsh.”