Berdialog dengan Ulama Wahabi

Teman saya, seorang ustadz dari Tunisia memberitahu saya bahwa temannya seorang dari Arab Saudi akan datang besok pagi untuk melakukan dialog ilmiah dengan saya. Ia mengatakan bahwa ia mengundang guru-guru untuk mengikuti dialog agar semuanya dapat mengambil manfaat. Ia mengatakan bahwa ia akan menyediakan makan siang, dan besok adalah hari libur mingguan, sehingga kita mempunyai waktu yang cukup. Kita sudah lama merindukan majelis seperti ini. Ia menambahkan, "Kami berharap Anda menang, dan jangan membuat kita malu, karena orang Saudi itu selalu menguasai pembicaraan dan tidak pernah memberi kesempatan kepada kita untuk berbicara (maakilnaa bi qur'atin).

Pada saat yang dijanjikan, mereka datang ke rumah saya itu. Jumlah mereka semuanya tujuh orang, dan salah satunya adalah ulama Wahabi tersebut. Sehingga jumlah yang hadir bersama tuan rumah dan saya sebanyak sembilan orang.

Setelah makan, majelis pun dimulai. Adapun yang menjadi topiknya adalah tentang tawasul dan perantaraan antara hamba dengan Tuhannya.

Saya mengatakan bahwa dibolehkan bertawasul kepada Allah SWT dengan perantaraan nabi, rasul, para wali, dan orang-orang shaleh, karena terkadang manusia terhalang doanya, disebabkan banyaknya dosa dan selalu sibuk dengan urusan dunia, sehingga ia memohon pertolongan kepada Allah SWT dengan perantaraan para wali dan para kekasih-Nya.

Ulama Wahabi itu berkata, "Itu perbuatan syirik, dan Allah tidak akan mengampuni dosa orang yang mempersekutukan-Nya."

"Apa dalil Anda bahwa itu perbuatan syirik kepada Allah?" tanya saya.

Ia berkata, "Allah SWT berfirman: Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kami menyeru seorang pun di dalamnya di samping Allah (QS. Al-Jinn 18). Ayat ini dengan gamblang melarang menyeru selain Allah. Siapa yang menyeru selain Allah, maka ia telah menjadikan sekutu bagi-Nya, sekutu yang memberi manfaat dan madharat. Padahal, yang memberi manfaat dan madharat hanya Allah semata."

Sebagian yang hadir membenarkan dan mendukung ucapannya. Kemudian tuan rumah memotong pembicaraan dengan mengatakan, "Sebentar, saya mengundang Anda bukan untuk berdebat dan ikut campur, tetapi saya mengundang Anda untuk mendengarkan kedua ulama ini." Saya sudah mengenal orang Tunisia ini sejak lama, tetapi saya kaget ternyata ia adalah pengikut Ahlul Bayt. Ia melanjutkan, "Anda telah mengenal teman kita dari Saudi ini, dan Anda sudah mengetahui akidahnya. Sekarang, marilah kita mendengarkan mereka berdua mengemukakan hujah-hujahnya sampai selesai. Setelah itu baru kita beri kesempatan kepada semua untuk turut serta..."

Saya merasa berterima kasih atas metode yang bijak ini, dan kami pun melanjutkan diskusi. Saya berkata, "Saya setuju dengan Anda bahwa Allah SWT adalah satu-satunya yang dapat memberi manfaat dan madharat, dan tidak ada seorang pun selain-Nya. Tidak ada seorang pun dari kaum Muslim yang bersilang pendapat dengan Anda mengenai hal ini. Hanya saja yang kami katakan dalam masalah tawasul ialah bahwa orang yang bertawasul dengan perantaraan Rasulallah SAW, misalnya, mengakui bahwa Muhammad tidak bisa memberi manfaat dan madharat, namun doanya mustajab di sisi Allah. Jika Muhammad SAW memohon kepada Tuhannya: "Ya Allah, rahmatilah hamba ini" atau "Ampunilah hamba ini" atau "Jadikanlah hamba ini orang kaya", niscaya Allah SWT akan mengabulkannya. Banyak sekali riwayat shahih yang berbicara tentang hal ini. Salah satu di antaranya mengatakan, seorang sahabat yang buta kedua matanya datang kepada Rasulallah SAW dan meminta beliau agar memohon kepada Allah supaya kedua matanya menjadi dapat melihat. Rasulallah SAW menyuruh orang itu untuk berwudhu dan shalat dua rakaat, lalu berdoa: "Ya Allah, sesungguhnya saya bertawasul kepada-Mu dengan perantaraan kekasih-Mu, Muhammad". Lalu dengan serta merta Allah membukakan penglihatannya sehingga ia dapat melihat.

Demikian juga kisah Tsa'labah, seorang sahabat Nabi yang fakir. Ia datang kepada Nabi dan meminta kepada beliau agar memohonkan baginya kekayaan kepada Allah, karena ia ingin bersedekah dan menjadi orang baik. Kemudian, Rasulallah SAW memohon kepada Allah, dan dikabulkan doanya. Dan, Tsa'labah pun menjadi orang kaya, namun ia disibukkan oleh hartanya, sehingga tidak dapat datang ke Madinah untuk menghadiri shalat berjama'ah, dan tidak memberikan zakat. Kisah ini banyak dikenal orang.

Demikian juga, pernah suatu hari Rasulallah menggambarkan kepada para sahabatnya tentang nikmat-nikmat surga yang dijanjikan Allah SWT bagi para penghuninya. Kemudian, seorang sahabat yang bernama Ukasyah berdiri seraya berkata: "Ya Rasulallah, mohonlah kepada Allah supaya Dia menjadikan saya termasuk kelompok mereka." Lalu Rasulallah SAW berdoa: "Ya Allah, jadikanlah ia termasuk salah seorang dari mereka." Kemudian, seorang sahabat lainnya berdiri dan berkata: "Saya juga, ya Rasulallah." Rasulallah berkata: "Ukasyah telah mendahuluimu."

Ketiga riwayat di atas, merupakan dalil yang tegas bahwa Rasulalah SAW telah menjadikan dirinya sebagai perantara antara Allah dan hamba-Nya.

Ulama Wahabi itu memotong pembicaraan saya dengan berkata, "Saya berargumentasi kepadanya dengan Alquran Alkarim, sedang dia berargumentasi kepada saya dengan hadis-hadis dha'if (lemah) yang tidak mengenyangkan rasa lapar."

Saya berkata, "Alquran Alkarim mengatakan: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (wasilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya (QS. Al-Maidah 35).

Ulama Wahabi itu berkata, "Yang dimaksud dengan perantara di situ adalah amal shaleh."

Saya katakan kepadanya, "Ayat-ayat amal shaleh di dalam Alquran Alkarim banyak sekali. Di antaranya ialah Allah SWT berfirman: Yaitu orang-orang yang beriman dan beramal shaleh (QS. Al-Baqarah 25). Akan tetapi di dalam ayat ini dikatakan: Dan carilah jalan (wasiilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya (QS. Al-Maidah 35). Dalam ayat lain disebutkan: Mereka orang-orang yang menyeru itu, mereka sendiri mencari jalan (wasiilah) kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) (QS. Al-Isra' 57).

Kedua ayat di atas memberikan pengertian bahwa menjadikan sesuatu sebagai perantara (wasiilah) kepada Allah SWT harus dibarengi dengan takwa dan amal shaleh. Tidakkah Anda lihat bahwa Allah SWT telah berfirman: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (wasiilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya (QS. Al-Maidah 35). Dengan demikian, iman dan takwa harus ada lebih dahulu sebelum pencarian perantara (wasiilah).

Ia berkata, "Mayoritas ulama menafsirkan perantara (wasiilah) dengan amal shaleh." Saya katakan, "Kita tinggalkan penafsiran dan pendapat para ulama. Apa pendapat Anda sekiranya saya dapat membuktikan kepada Anda adanya perantara (wisaathah) di dalam Alquran sendiri?" "Mustahil, kecuali Alquran yang tidak kita kenal!" katanya.

Saya berkata, "Saya tahu apa yang Anda maksud. Akan tetapi, saya akan membuktikan kepada Anda dari Alquran yang kita semua ketahui." Kemudian saya membacakan ayat,

"Mereka berkata, 'Wahai ayah kami, mohokanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.' Ya'qub berkata, 'Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dialah Yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang'." (QS. Yusuf 97-98).

Mengapa Nabi Ya'qub tidak mengatakan kepada putranya, 'Mohonlah kamu kepada Allah sendiri, dan jangan menjadikan saya sebagai perantara antara kamu dengan Penciptamu'. Bahkan, ia menetapkan kepada mereka adanya perantaraan tersebut, dengan mengatakan, 'Saya akan mohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku'. Dengan demikian, ia menjadikan dirinya  sebagai perantara (wasiilah) bagi putranya kepada Allah."

Ulama Wahabi merasa kesulitan untuk menolak ayat-ayat yang jelas dan gamblang tersebut, yang tidak dapat diragukan dan tidak juga bisa ditakwil. Ia berkata, "Tidak ada kaitannya antara kita dan Ya'qub. Dia dari golongan Bani Israil yang syariatnya telah dihapus dengan syariat Islam."

Saya jawab, "Saya akan memberikan kepada Anda dalil dari syariat Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAWW. Begini ayatnya,

Dengan nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Mahapenerima taubat lagi Mahapenyayang (QS. An-Nissa' 64).

Mengapa dalam ayat ini Allah SWT menyuruh mereka datang kepada Rasulallah SAW untuk memohonkan ampun bagi mereka kepada-Nya, dan Rasulallah SAWW pun memohonkan ampun bagi mereka. Ini merupakan dalil yang pasti bahwa Rasulallah SAWW adalah perantara mereka kepada Allah, dan Allah tidak akan mengampuni mereka kecuali dengan perantaraanya."

Para hadirin berkata, "Ini merupakan dalil yang kuat." Ulama Wahabi itu merasa terpojok, lalu melantur dengan mengatakan, "Itu benar manakala beliau masih hidup, tetapi laki-laki itu telah mati sejak empat belas abad yang lalu."

Saya berkata dengan penuh keheranan, "Bagaimana Anda bisa mengatakan bahwa Rasulallah SAWW seorang laki-laki yang telah mati?! Rasulallah itu hidup, dia tidak mati." Ia menertawakan ucapan saya dan sambil mengejek ia berkata, "Alquran telah mengatakan kepadanya: Sesungguhnya kamu akan mati dan mereka juga akan mati pula (QS. Az-Zumar 30).

Saya jawab, "Alquran sendiri berkata: Dan janganlah kami mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya (QS. Al-Baqarah 154).

Ulama Wahabi itu berkata, "Ayat-ayat tersebut berbicara tentang para syuhada, yaitu orang-orang yang gugur di jalan Allah, dan tidak ada hubungannya dengan Muhammad (SAW)."

Saya menjawab, "Subhanallaah, walaa hawla walaa quwwata illa billaah! Apakah Anda akan menurunkan kedudukan Nabi Muhammad, kekasih Allah, di bawah derajat orang yang syahid? Anda seolah-olah ingin mengatakan bahwa Ahmad ibn Hanbal mati syahid, dan hidup di sisi Tuhannya dan diberi rezeki, sedangkan Rasulallah SAWW mati seperti kematian yang lain?!

Ia berkata, "Ini yang dikatakan Alquran Alkarim."

Saya katakan, "Alhamdulillaah, kini telah terungkap bagi kami jati diri Anda, dan hakikat pandangan Anda. Anda telah berupaya dengan sungguh-sungguh menghilangkan peninggalan-peninggalan Rasulallah SAWW, sampai-sampai Anda hendak menggusur makamnya sebagaimana Anda telah menggusur rumah tinggal yang di dalamnya beliau telah dilahirkan."

Tuan rumah menyela dan mengingatkan dengan mengatakan, "Kita tidak boleh keluar dari ruang lingkup Alquran dan Sunnah, sebagaimana yang telah kita sepakati bersama."

Saya meminta maaf, lalu melanjutkan, "Yang penting bahwa teman kita ini telah mengakui telah dibolehkannya bertawasul di masa hidup Rasulallah SAWW, dan menafikannya setelah wafatnya."

Semua yang hadir berkata, "Memang benar demikian." Kemudian, mereka bertanya kepada ulama Wahabi tersebut, "Anda telah menyepakati bahwa bertawasul dibolehkan di masa hidup Rasulallah SAWW?" "Ya dibolehkan di masa hidupnya, namun sekarang tidak karena beliau telah wafat." jawabnya.

Saya berkata, "Alhamdulillaah, untuk pertama kalinya penganut Wahabi mengakui dibolehkannya bertawasul. Sungguh, ini merupakan kemenangan yang besar. Izinkan saya hendak menambahkan bahwa bertawasul itu dibolehkan bahkan setelah wafatnya Rasulallah SAWW."

Ulama Wahabi itu berkata, "Demi Allah, tidak dibolehkan. Yang demikian itu termasuk syirik."

Saya katakan, "Tenang, Anda jangan tergesa-gesa dan jangan bersumpah, nanti Anda akan menyesalinya."

"Berikan dalil dari Alquran yang berbicara tentang itu," pintanya.

Saya jawab, "Anda meminta hal yang mustahil, karean turunnya wahyu telah terputus dengan wafatnya Muhammad SAWW. Maka mau tak mau harus berargumentasi dari kitab-kitab hadis."

Ia berkata, "Kami tidak menerima hadis, kecuali jika hadis itu shahih. Adapun yang dikatakan Syi'ah, kami tidak menerimanya."

Saya berkata, "Apakah Anda mempercayai hadis-hadis yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari, ia merupakan kitab hadis yang paling benar setelah Kitab Allah di kalangan Anda?"

Ulama Wahabi  itu berkata sambil keheranan, "Bukhari membolehkan tawasul?!"

Saya jawab, "Benar, ia mengatakan demikian. Namun sayangnya, Anda tidak membaca apa yang terdapat dalam kitab-kitab shahih Anda. Meski demikian, Anda bersikeras dengan pendapat Anda. Bukhari telah meriwayatkan dalam kitab shahihnya bahwa Umar ibn Khaththab, jika musim paceklik, ia meminta turun hujan dengan perantaraan Abbas ibn Abdul Muththalib dengan berkata: "Ya Allah, sesungguhnya kami bertawasul kepada-Mu dengan perantaraan Nabi kami SAWW, maka turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, sesungguhnya kami bertawasul kepada-Mu dengan perantaraan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan kepada kami". Perawi berkata: "Maka turunlah hujan kepada mereka"." (Shahih Al-Bukhari, juz 4, hlm. 209, kitab: Awal Penciptaan, bab: Manaaqib Ja'far ibn Abi Thalib sebelum manaaqib kerabat Rasulallah (SAW).

Saya berkata lebih lanjut, "Inilah Umar ibn Khaththab, seorang sahabat yang mulia dalam pandangan Anda, dan Anda tidak meragukan keikhlasannya, kekuatan imannya, dan kebaikan akidahnya. Bukankah Anda mengatakan: 'Kalau sekiranya ada nabi setelah Muhammad, niscaya Umar ibn Khaththab lah orangnya'. Anda sekarang dihadapkan kepada dua hal, dan tidak ada pilihan yang ketiga: Mengakui bahwa tawasul termasuk bagian dari agama Islam, dan mengakui perkataan Umar ibn Khaththab: 'Sesungguhnya kami bertawasul kepada-Mu dengan perantaraan Nabi kami SAW, dan dengan perantaraan paman Nabi kami'. Ini merupakan pengakuan bahwa ia bertawasul pada masa Nabi SAWW masih hidup dan setelah beliau wafat. Atau, Anda akan mengatakan, bahwa Umar ibn Khaththab musyrik, karena menjadikan Abbas ibn Abdul Muththalib sebagai perantaranya kepada Allah. Sedangkan diketahui Abbas bukan seorang nabi, bukan seorang imam, dan bukan juga termasuk Ahlul Bayt, yang telah Allah SWT hilangkan dari mereka noda dan dosa, dan telah Allah sucikan sesuci-sucinya."

Di samping itu, Bukhari, yang merupakan imam muhaddis di kalangan Anda, yang meriwayatkan kisah di atas, mengakui keshahihan hadis di atas. Kemudian, Bukhari menambahkan: 'Jika menghadapi musim paceklik, mereka memohon hujan dengan perantaraan Abbas. Kemudian, hujan pun turun'. Artinya, bahwa Allah SWT mengabulkan permohonan mereka."

Dengan demikian, Bukhari dan para muhaddis dari kalangan sahabat yang telah meriwayatkan kisah ini, begitu juga semua kalangan Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yang meyakini kitab Shahih Bukhari, dalam pandangan Anda adalah musyrik?!"

Ulama Wahabi itu berkata, "Kalau memang benar hadis itu shahih, maka itu merupakan hujjah bagi Anda."

"Bagaimana itu merupakan hujah bagi saya?!" tanya saya.

Ia berkata, "Karena, Sayyidina Umar tidak bertawasul kepada Nabi SAW, sebab beliau sudah mati. Dia bertawasul kepada Abbas, karena masih hidup."

Saya berkata, "Sesungguhnya perbuatan dan ucapan Umar ibn Khathtab bukan merupakan hujah bagi saya, dan bukan pula merupakan timbangan, hanya saja saya memaparkan riwayat ini adalah untuk berargumentasi atas topik yang sedang dibahas, yaitu pengingkaran Anda dan pengingkaran semua ulama Anda atas tawasul, dan menganggapnya sebagai perbuatan Syirik.

Saya jadi bertanya-tanya: 'Kenapa ketika kemarau Umar ibn Khaththab tidak bertawasul kepada Ali ibn Abi Thalib, yang kedudukannya di sisi Muhammad SAWW sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa. Tidak ada seorang pun dari kaum Muslim yang mengatakan bahwa Abbas lebih utama dari Ali. Namun, ini pembahasan lain yang bukan menjadi fokus pembahasan kita. Saya merasa puas sekarang Anda mengakui dibolehkannya bertawasul kepada orang yang masih hidup. Ini merupakan kemenangan besar bagi saya. Saya memuji Allah yang telah menjadikan hujjah kami dapat diterima, sedangkan hujjah Anda tertolak. Jika memang demikian persoalannya, maka saya sekarang akan bertawasul kepada Anda semua."

Kemudian, saya pun berdiri menghadap kiblat dan berkata, "Ya Allah, kami memohon kepada-Mu dan bertawasul kepada-Mu dengan perantaraan hamba-Mu yang shaleh, Imam Khomeini." Mendengar itu, tiba-tiba ulama Wahabi itu tersentak dan mengutuk serta berteriak, a'uudzu billaah, a'uudzu billaah, dan cepat-cepat keluar."

Para hadiri saling memandang satu sama lain sambil berkata, "Sungguh mengherankan. Betapa sering ia berhujah atas kami dan mengecam kami. Kami kira ia berada dalam kebaikan yang banyak, ternyata sebaliknya."

Salah seorang yang hadir berkata, "Innaa lillaahi wa innaa ilayhi raaji'uun. Ya Allah, saya bertobat kepada-Mu. Lalu ia melihat kepada saya seraya berkata, "Sungguh, sebelum ini saya sangat terpengaruh dengan ucapan-ucapannya, dan bahkan hingga hari ini tadi saya masih mengikuti pendapatnya yang menyatakan bahwa tawasul adalah perbuatan syirik kepada Allah. Kalau saya tidak hadir di majlis ini, tentu saya tetap berada dalam kesesatan. Saya mengucapkan syukur kepada Allah dan kepada Anda."

"Dan katakanlah: 'Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap'." (QS. Al-Isra' 81). Maha Benar Allah Yang Mahatinggi dan Mahaagung.

Sumber tulisan:

MAZHAB ALTERNATIF

Perbandingan Syiah-Sunnah

Judul Asli : Kullul Huluul 'inda Aalirrasuul

Dr. Muhammad At-Tijani As-Samawi (semoga Allah merahmatinya)

Penerbit Titian Cahaya

Po Box 258 Cianjur 43200