Berdoa dengan tawassul

Doa Tawassul

Masalah tawassul itu begini:

'Tawassul artinya mengerjakan sesuatu amal yang dapat mendekatkan diri kita kepada Tuhan".

Dalam al Quran istilah "'wasilah" disebut dalam dua tempat, yaitu

1. Pada surat al Maidah

"Hai orang-orang yang beriman! Patuhlah kepada Allah, dan carilah wasilah (jalan) - yang mendekatkan - kepada-Nya, dan berjuanglah di jalan Allah, supaya kamu jadi beruntung" (Al Maidah : 35).

Dalam ayat ini ada 3 hukum dapat dikeluarkan

1.    Kita wajib patuh (tha'at) kepada Allah.

2.    Kita disuruh mencari "jalan" yang bisa mendekatkan diri kepada Allah.

3.    Kita disuruh berjuang (jihad) di jalan Allah. Kalau yang tiga ini dikerjakan maka kita ada jaminan untuk mendapat kemenangan duna-akhirat.

2. Pada surat al Isra'

"Mereka mencari wasilah (jalan) untuk mendekatkan din kepada Tuhan-. (Al Isra' : 57).

Maka berdoa dengan bertawassul ialah berdo'a kepada Tuhan dengan wasilah, yaitu dengan mengingat sesuatu yang dikasihi Tuhan.

Kalau dicontohkan kepada situasi keduniaan, umpamanya kita akan minta pekerjaan kepada sesuatu jawatan, tetapi kita tidak begitu dikenal oleh kepala kantor jawatan itu, maka kita lalu mencari jalan, yaitu menghubungi sahabat kita yang bekerja pada kantor itu dan dengan pertolongannya permintaan kita menjadi terkabul.
Ini permohonan dengan "wasilah- namanya.

Atau dalam soal ini kita langsung menemui kepala kantor dan langsung memohon kepadanya untuk minta pekerjaan, dengan memberi tahu atau memperingatkan kepadanya bahwa kita yang bermohon ini adalah berteman dengan anaknya. Ini juga meminta dengan wasilah (tawassul) namanya.

Wasilah semacam ini hanya sekedar untuk lebih memudahkan terkabulnya permintaan yang memang pada dasarnya juga dapat dikabulkan. Jangan keliru faham. Kita minta pekerjaan hanya kepada kepala kantor, tidak pada kawan kita tadi dan bukan pula kepada anaknya itu, tetapi kawan kita itu atau anaknya itu sekedar mwmbuka jalan untuk mendapatkan fasilitas.

Begitu juga berdo'a dengan wasilah atau tawassul kepada Tuhan. Contoh-contohnya do'a bertawassul :

1.    Kita datang kepada seorang Nabi atau seorang ulama yang dianggap mulia dan dikasihi Tuhan, lalu kita katakan kepada beliau : Saya akan berdo'a memohon in atau itu kepada Tuhan, tetapi saya harap pula tuan Guru mendo'akan kepada Allah bersama saya, supaya permintaan saya dikabulkan-Nya. Lalu kedua orang itu rneado'a.

2.    Kita datang ziarah kepada Nabi di Madinah, ketika itu - taroklah - beliau masih hidup atau pada ketika beliau telah wafat, maka kita mendo'a di situ dan kits harapkan agar Nabi Muhammad Saw. mendo'akan kita pula kepada Allah. Ini namanya mendo'a dengan tawassul, dengan orang yang masih hidup atau yang telah wafat.

3.    Kita datang ziarah ke makam Tuan Syekh Abdul Qadir al Jailani, seorang ulama tasauf yang besar di Bagdad, lantas kita mendo'a di situ kepada Tuhan begini bunyinya:
"Ya Allah, Ya Tuhan yang Pengasih dan Penyayang, saya mohon ampunan dan keredhaan-Mu berkah beliau yang bermakam di sini, karena beliau ini saya tahu, seorang ulama besar yang engkau kasihi. Berilah permohonan saya, Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim !"
Do'a macam in namanya do'a bertawassul.

4.    Kita mendo'a kepada Tuhan Yang Maha Esa begini bunyinya
"Ya Allah berkat "jah" (tuah) Nabi Besar Muhammad Saw. berilah permohonan saya"..
Ini namanya do'a bertawassul dengan jah (tuah) Nabi.

5.    Kita berdo'a umpamanya begin:
"Ya Allah, berkat nama-Mu yang Besar, berilah saya ini itu". In mendo'a bertawassul dengan nama Tuhan.

6.    Kita mendo'a umpamanya begin:
"Ya Allah, saya ada mengeriakan amalan yang baik, yaitu saya tetap hormat kepada ibu bapa saya. Kalau amal itu diterima oleh ENGKAU maka berilah permohonan saya ini dan itu".

Amal do'a bertawassul serupa itu diamalkan oleh Ulama-ulama Kaum Ahlussunnah wal jama'ah sedari dulu sampai sekarang, tetapi dengan lancang Ibnu Taimiyah cs. menfatwakan bahwa aural macam itu syirik atau kufur, na'udzubillah.

Bagi barangsiapa yang hendak mendalami masalah ini bacalah Kitab Syawahidul Haq", karangan Syekh Ismail an Nabhani, cetakan Syirkah wa Mathba'ah Mushthahafa Babil Halaby, Kairo.

Rujukan:

                             K.H. Siradjuddin Abbas, 40 Masalah Agama Jilid 1 cetakan ke-33, Penerbit Pustaka Tarbiyah Jakarta 2003