RISALAH AMALIYAH NAHDLIYAH

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

OLEH

PCNU KOTA MALANG


 

 

 

 

 

 

 

PENGANTAR

Risalah kecil ini disusun oleh tiga lembaga di bawah naungan Nahdlatul Ulama yaitu LAKPESDAM, Lembaga Bahtsul Masail dan Rabithah Maahidil Islam Kota Malang dalam rangka Harlah NU ke 82.

Diantara kegiatan-kegiatan yang di adakan pengurus NU Kota Malang, PC NU Kota Malang berupaya menerbitkan risalah ini agar dijadikan pegangan dan bekal bagi para jamaahnya.

Risalah ini memuat berbagai dalil amaliah yang selama ini sudah dilaksanakan
ditengah-tengah  kehidupan  sosial  sehari-hari.  Para  Ulama  dahulu  dengan  segala
kearifannya, lebih menekankan amal dari ilmu dari setiap amaliah sehari-hari. Ketika
zaman telah berubah dimana gempuran kaum wahabi bertubi-tubi dari berbagai penjuru,
mereka meracuni nahdliyin dengan berbagai pernyataan bahwa setiap amaliah yang telah
dilakukan orang NU tidak berdasar dan bid’ah. Bahkan didaerah Jawa Tengah kelompok
wahabi dengan menggunakan baju Majelis Qiraah al Quran, membayar beberapa stasiun
radio agar mempropagandakan bahwa amaliyah NU itu sesat dan bid’ah setiap pagi dan
sore.

Apa yang dilakukan PCNU Kota Malang ini harus disambut baik, ditindak lanjuti dan disebarluaskan keberbagai kalangan Nahdliyin agar mereka tidak goyah dengan amaliyahnya sehari-hari.

Untuk mempermudah cara baca, sengaja risalah ini dibuat dengan system tanya jawab.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2


 

 

 

 

 

 

 

PASAL 1

TAHLIL DAN DZIKIR JAMAAH

 

S =    Bagaimana hukumnya tahlil?

J =       Mengapa hukumnya tahlil ditanyakan? Bukankah tahlil itu sighat masdar dari

madzi hallala yang artinya baca Laa Ilaaha Illa Allah.

S =    Bukan. Yang saya maksud adalah tahlil menurut istilah yang berlaku di
           
kampung-kampung itu.

J =       Tahlil menurut istilah yang berlaku di kampung-kampung, kota-kota bahkan

seluruh penjuru dunia adalah berisi bacaan Laa Ilaaha Illa Allah,Subhaana Allah
            wa bi Hamdihi, Astaghfirullah al Adzim,
sholawat, ayat-ayat al Quran, fatihah,
           
Muawwidzatain dan sebagainya apakah juga masih ditanyakan hukumnya?
 
S=     Tetapi apakah ada aturan berdzikir secara jamaah sebagaimana dilakukan
           
jamaah NU?

J=        Perhatikan Surat al Kahfi ayat 28 :

                 ﻥﻭ  ö      ö  ﺍﻭ ﺓﺍ       ö    "      #$ %& '(*+  ,-ﺍﻭ

 

 

Dan  bersabarlah  kamu  bersama-sama  dengan  orang-orang  yang  menyeru

Tuhannya  di  pagi  dan  senja  hari  dengan  mengharap  keridlaan  NYA;  dan

janganlah kedua matamu berpaling dari mereka…

 

S=        Di samping ayat disebutkan diatas, diantara ayat yang biasa anda dan kyai

NU pahami sebagai anjuran dzikir berjama'ah adalah

ﺕﺍﻭ /( 123  4 ﻥﻭ 5*6   ö ö"          72 ﺍﺩ" ;       & ; 2 ﻥﻭ <$     # $

ﺭøﺍ ﺏﺍ$        >4 '+ ?,@ AB  $C D>23 &  øﺭ ﺽﺭFﺍﻭ

"(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau
dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit
dan bumi (seraya berkata), "Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini
dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka."
(QS. 3:191)

Ayat di atas, dianggap sebagai dalil yang membolehkan dzikir berjama'ah karena menggunakan sighat (konteks) jama' (plural) yaitu yadzkuruna. Menurut kyai NU, jama’ berarti banyak dan banyak artinya bersama-sama. Pengambilan dalil semacam ini menurut saya adalah tidak benar, karena tidak setiap kalimat yang disampaikan dalam bentuk jama’ harus dipahami bahwa itu dilakukan dengan bersama-sama.

Syaikh Dr. Muhammad bin Abdur Rahman al-Khumayyis, penulis makalah
“Adz-Dzikr al-Jama’i baina al-Ittiba’ wal ibtida’ (telah dibukukan dengan
judul yang sama), menjelaskan bahwa sighat (konteks) jama’ dalam ayat di
atas adalah sebagai anjuran yang bersifat umum dan menyeluruh kepada

 

 

3


 

 

 

 

 

 

 

semua umat Islam untuk berdzikir kepada Allah subhanahu wata’ala tanpa
kecuali, bukan anjuran untuk melakukan dzikir berjama'ah.
Selain itu jika sighat (konteks) jama’ dalam ayat tersebut dipahami sebagai
anjuran untuk melakukan dzikir secara berjama'ah atau bersama-sama
maka kita akan kebingungan dalam memahami kelanjutan ayat tersebut.
Disebutkan bahwa dzikir itu dilakukan dengan cara berdiri (qiyaman),
duduk (qu'udan)  dan  berbaring ('ala  junubihim).  Nah  bagaimanakah

praktek dzikir bersama-sama dengan cara berdiri, duduk dan berbaring
itu? Apakah ada dzikir berjama'ah dengan cara seperti ini?
Permasalahan lainnya adalah  bahwa  ayat  ini turun  kepada Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabat berada di samping beliau.
Apakah   Rasulullah   shallallahu ‘alaihi   wasallam   dan   para   shahabat

memahami ayat tersebut sebagai perintah untuk dzikir bersama-sama satu
suara?

J =       Kalau anda menyatakan bahwa lafadz jama’ itu tidak selalu bersama-sama, maka

bisakah anda menunjukkan bahwa lafadz jama’ itu tidak mungkin dimaknakan
bersama-sama?  Bagaimanakah dengan kisah para sahabat yang berdoa bersama
Rasul  saw  dengan  melantunkan  syair
(Qasidah/Nasyidah)  di  saat  menggali

khandaq (parit)  Rasul  saw  dan  sahabat2  radhiyallhu     ‘anhum  bersenandung

bersama sama dengan ucapan : "HAAMIIIM LAA YUNSHARUUN..". lihat
Kitab Sirah Ibn Hisyam Bab Ghazwat Khandaq. Perlu anda ketahui bahwa sirah
Ibn Hisyam adalah buku sejarah yg pertama ada dari seluruh buku sejarah, yaitu
buku sejarah tertua. Karena ia adalah Tabi'in.  Sehingga akurasi sumber datanya
lebih valid. Begitu juga pada waktu para sahabat membangun saat membangun
Masjidirrasul saw : mereka bersemangat sambil bersenandung : "Laa 'Iesy illa
'Iesyul akhirah, Allahummarham Al Anshar wal Muhaajirah" setelah mendengar
ini maka Rasul saw pun segera mengikuti ucapan mereka seraya bersenandung
dengan semangat : "Laa 'Iesy illa 'Iesyul akhirah, Allahummarham Al Anshar wal
Muhajirah.. " (Sirah Ibn Hisyam Bab Hijraturrasul saw- bina' masjidissyarif hal
116) Ucapan ini pun merupakan doa Rasul saw demikian diriwayatkan dalam
shahihain.

 

Mengenai  makna  berdiri     (qiyaman),  duduk    (qu'udan)  dan  berbaring     ('ala

junubihim). Tidakkah anda  pernah  shalat  berjamaah? Bukankah shalat  juga

melafalkan dzikir? Bukankah shalat itu bisa berdiri, duduk dan tidur miring?

Menafsiri ayat tersebut diatas Ibn Katsir mengutip hadits Nabi riwayat Bukhari

R-" : ;   2@  2  L 72- L "@ ﻥﺃ ¡   L  K ¡HIJ #  ﻥﺍ /ö  #

< " V>  :ﻱﺃ ',     72 4 %V6(   T4 ¡ﺍ           >4 %V6(  T4 ¡ /S ;

6 (ﺃﻭ  C S /K  C S (   "J %

 

 

 

 

 

4


 

 

 

 

 

 

 

Jadi ayat tersebut diatas lebih dititikberatkan kepada bagaimana tata cara orang shalat, namun secara umum dapat juga diartikan dzikir secara lafdziy. Seseorang dapat berdzikir kepada Allah dengan segala tingkah sesuai kemampuannya. Kalau anda memaknakan bahwa dzikir berjamaah dengan tidur semua, duduk semua atau berdiri semua, manakah point yang menunjukkan itu? Bagaimana kalau dimaknakan bila dzikir itu dibaca berjamaah, kita dapat berdiri, duduk dan tiduran sesuai dengan kondisi kita?  Berdiri karena tidak lagi kebagian tempat, tiduran karena kondisi tubuhnya tidak memungkinkan.

Sahabat Rasul radhiyallahu'anhum mengadakan shalat tarawih berjamaah, dan
Rasul saw justru malah menghindarinya, mestinya andapun shalat tarawih sendiri
sendiri, kalau toh Rasul saw melakukannya lalu menghindarinya, lalu mengapa
Generasi Pertama yg terang benderang dg keluhuran ini justru mengadakannya
dengan berjamaah. Sebab mereka merasakan ada kelebihan dalam berjamaah,
yaitu syiar,  mereka masih butuh syiar dibesarkan, apalagi kita dimasa ini.  Kalau
anda tidak mau memaknakan kalimat jama’ dengan arti bersama-sama, dari
makna apa anda shalat tarawih berjamaah? Berdasar hadits dan ayat al Quran
yang mana?

Kita Ahlussunnah waljamaah berdoa, berdzikir, dengan sirran wa jahran, di dalam hati, dalam kesendirian, dan bersama sama.

Sebagaimana Hadist Qudsiy Allah swt berfirman :

_ 3   C T2&  4   < T2&  4  + < ﻥﺇﻭ  (*+  4        < ö(*+   4  + < ﻥﺇ

&

"BILA IA (HAMBAKU) MENYEBUT NAMAKU DALAM DIRINYA, MAKA AKU
MENGINGATNYA DALAM DIRIKU, BILA MEREKA MENYEBUT NAMAKAU
DALAM KELOMPOK BESAR, MAKA AKUPUN MENYEBUT (membanggakan)
NAMA MEREKA DALAM KELOMPOK YG LEBIH BESAR DAN LEBIH MULIA".
(HR Muslim).

Kita di Majelis Majelis menjaharkan lafadz doa dan munajat untuk menyaingi panggung panggung maksiat yg setiap malam menggelegar dengan dahsyatnya menghancurkan telinga, berpuluh ribu pemuda dan remaja MEMUJA manusia manusia pendosa dan mengelu elukan nama mereka.. menangis menjilati sepatu dan air seni mereka.., suara suara itu menggema pula di televisi dirumah rumah muslimin, dimobil2, dan hampir disemua tempat,

Salahkah bila ada sekelompok pemuda mengelu-elukan nama Allah Yang Maha Tunggal? menggemakan nama Allah?,

Apakah Nama Allah sudah tak boleh dikumandangkan lagi dimuka bumi?

 

Mewakili banyak hadits tentang dzikir berjamaah ini, perhatikan dan camkanlah hadits ini

RC "(/62  V   4 "4"V  b5S 2& ö2ö ﻥﺇ                2@ ö 2     2 72- ö2 "@ ;

+"*? 4 ;   56         J 7 "/2C ﺍﻭﺩ              2   ﻥﻭ <$       &"; ﺍﻭ      ﺍﺫT4 ö <$

 

 

5


 

 

 

 

 

" ; ﻱﺩ ,ö  ">  &        &  2   "C   e       f( 4 ;     +e   /(      7  ö 6?ö fö

;    +ﻭﺃﺭ RC "> 4 ; '+ h/ '+             /? '+ ,5 '+"?,(  "">

"+ < ﻙﻭﺃﺭ " "">  ;   +ﻭﺃﺭ " i < "> 4 ; ﻙﻭﺃﺭ & ö2 ﺍﻭ ""> 4

+"f(    /4 ">  ;    ? ,(  ' k<ﺃﻭ 8         /? 8 h/  '  jﺃﻭ ﺓﺩ ,ö  '  j

;  Cﻭﺃﺭ & ﺏﺭ   ö2 ﺍﻭ "">  ; Cﻭﺃﺭ RC ">  ; b h '+"f(  ;

jﺃﻭ    - J       2   j "+ < Cﻭﺃﺭ   + " "">  ; Cﻭﺃﺭ               + " i 54 ">

RC ">  ;         #& "">  ; ﻥﻭﺫ" 6   /4 ; b,m             4  l ﺃﻭ    ,2B  

" "">  ; Cﻭﺃﺭ " i 54 ">  ; Cﻭﺃﺭ & ﺏﺭ   ö2 ﺍﻭ "">  ; Cﻭﺃﺭ

*m  ;      +    <   ö jf4 "> 4 ; b4 n&    jﺃﻭ ﺍﺭﺍ 4                   &  j "+ < Cﻭﺃﺭ

(2h  C ; b           ?ö        /+     & p 24  ö 4 b5S 2/ #& '2& ">  ;

ﻯﺭ n, ﻩﺍﻭﺭ        (2      ö ö 7>

Sabda Rasulullah saw : “sungguh Allah memiliki malaikat yg beredar dimuka
bumi   mengikuti   dan   menghadiri   majelis   majelis   dzikir,   bila   mereka
menemukannya  maka  mereka  berkumpul  dan  berdesakan  hingga  memenuhi
antara hadirin hingga langit dunia, bila majelis selesai maka para malaikat itu
berpencar dan kembali ke langit, dan Allah bertanya pada mereka dan Allah
Maha Tahu : “darimana kalian?” mereka menjawab : kami datang dari hamba
hamba  Mu,  mereka  berdoa  padamu,  bertasbih  padaMu,  bertahlil  padaMu,
bertahmid pada Mu, bertakbir pada Mu, dan meminta kepada Mu,

Maka Allah bertanya : “Apa yg mereka minta?”, Malaikat berkata : mereka
meminta sorga, Allah berkata : apakah mereka telah melihat sorgaku?, Malaikat
menjawab :  tidak,  Allah  berkata : “Bagaimana  bila  mereka  melihatnya”.

Malaikat berkata : mereka meminta perlindungan Mu, Allah berkata : “mereka
meminta perlindungan dari apa?”, Malaikat berkata : “dari Api neraka”, Allah
berkata : “apakah mereka telah melihat nerakaku?”, Malaikat menjawab tidak,
Allah berkata : Bagaimana kalau mereka melihat neraka Ku. Malaikat berkata :
mereka beristighfar pada Mu, Allah berkata : “sudah kuampuni mereka, sudah
kuberi permintaan mereka, dan sudah kulindungi mereka dari apa apa yg mereka
minta perlindungan darinya, malaikat berkata : “wahai Allah, diantara mereka
ada si fulan hamba pendosa, ia hanya lewat lalu ikut duduk bersama mereka,
Allah berkata : baginya pengampunanku, dan mereka (ahlu dzikir) adalah kaum
yg tidak ada yg dihinakan siapa siapa yg duduk bersama mereka”

 

 

 

 

 

 

6


 

 

 

 

 

 

 

PASAL 2

BERDZIKIR, BERDOA DAN BERSEDEKAH UNTUK MAYAT

 

S=  bagaimanakah  hukum  berdzikir  atau  berdoa  untuk  orang  yang  sudah
     
meninggal dunia?

J= Berdoa merupakan perintah Allah. Islam mengajarkan kepada umatnya untuk selalu
      berdoa kepada Allah. Karena doa merupakan inti dari ibadah. Dalam setiap gerak
     
ibadah yang dilakukan olelh seorang mukmin itu ada doa. Bahkan dalam sebuah
      hadits dinyatakan, bahwa doa itu merupakan pedang bagi seorang muslim. Islam
     
membolehkan berdoa atau dzikir untuk orang yang sudah mati. Dalam sebuah ayat
      dinyatakan:

 

R  h    tu ö     +">,@ # $  +"3u  *m  øﺭ "">   Cö              #& ﺍﻭﺀ    # $ﺍﻭ

_ J ﻑﻭﺀﺭ '+  øﺭ " & # $2ö Am  ö"2;  4

 

Orang-orang yang datang sesudah mereka(Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu daripada kami.” (QS. Al-Hasyr: 10)

Ayat tersebut secara jelas menyatakan bahwa para sahabat pernah berdoa untuk
saudara-saudara  mereka  yang  telah  lebih  dahulu  meninggal  dunia.  Ketika  para
sahabat melakukan hal itu, rasulullah pun tidak melarangnya. Nabi membiarkan dan
membolehkannya. Perintah untuk mendoakan orang lain juga disebutkan dalam ayat:

 

5,2>6&  2     2 ﺍﻭ &x/ﺍﻭ Hö&x/2ö ',+$ö * 6@ﺍﻭ 2                             +  2   4

<"k&

 

“Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, lakilaki dan perempuan.” (QS. Muhammad: 19)

 

Nabi SAW.sendiri dalam beberapa haditsnya memerintahkan secara terang-terangan supaya  umat  islam  membacakan  ayat-ayat  al-Qur’an  untuk  orang  yang  telah meninggal dunia. Hal ini dapat dilihat dalam hadits berikut:

Dari  Mu’aqqol  ibn  Yassar  ra.:  "barang  siapa  membaca  surat  yasin  karena mengharap  ridlo  Allah,  maka  diampuni  dosa-dosanya  yang  telah  lalu,  maka bacakanlah surat yasin bagi orang yang mati diantara kamu.” (Al-Baihaqi, Jami’us Shogir: bab Syu’abul Iman, Vol. 2, hal. 178, termasuk hadits shohih.)
Senada dengan itu, dalam hadits lain Rasulullah juga menganjurkan kepada kaum muslimin untuk memohonkan ampunan bagi si mayit atas dosa-dosa dan kesalahan yang pernah dilakukan saat hidup di dunia.

 

 

7


 

 

 

 

 

 

 

Dari Utsman bin Affan ra, dia berkata: “Ketika Rasulullah selesai menguburkan
jenazah, maka beliau berdiam diri atas mayit, lalu bersabda, “mohon ampunlah
kalian semua kepada Allah SWT.untuk saudaramu. Dan mohonlah ketetapan untuk
mayit sesungguhnya saat ini dia sedang diberi pertayaan.”
(HR. Abu Daud dan
Hakim, termasuk hadits shohih menurut Abu Daud, Blughul Maram: 115/604)

 

Bagaimana hukum bersedekah untuk orang yang sudah meninggal dunia?

Dalam islam, sedekah merupakan amalan mulia yang sangat dianjurkan, bahkan
merupakan perintah yang harus dijalankan. Di dalam al-Qur’an digambarkan bahwa
bersedekah  merupakan  salah  satu  ciri  orang  yang  bertaqwa.  Dengan  kata  lain
seseorang tidak masuk dalam kategori  bertaqwa (muttaqin) manakala ia tidak mau
menyisihkan sebagian hartanya untk disedekahkan kepada orang yang berhak. Alah
befirman:

 

H>6/2ö ﺕø ö ﺽﺭFﺍﻭ ﺕﺍﻭ /(   K   bø   5öﺭ #& * & 7 " @

~Ü?       Ü2ﺍﻭ øﺍ #  H4      ﺍﻭ { H/| 5ﺍﻭ ﺀﺍø}ﺍﻭ ﺀﺍø(                 4 ">*  # $

Hö(?/

 

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang
luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun
sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan)
orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
(QS. Ali- Imron: 133-
134)

 

Banyak hikmah yang dapat diambil dalam bersedekah. Orang yang bersedekah tidak akan mengalami kerugian, baik materil maupun spiritual. Allah sendiri dalam wahyuNya menjanjkan mereka yang mau bersedekah untuk dilipatgandakan. Seseorang yang mensedekahkan hartanya digambarkan akan mendapatkan pahala berlipat-lipat ibarat dahan pohon yang memiliki tujuh ranting, dan setiap ranting memiliki seribu benih. Dalam ayat lain Allah secara tegas akan menjamin orang yang bersedekah, ia akan dilindungi dari kejahatan orang-orang dzalim.

 

#ö3ﺁﻭ  < ö2              öö ",C   R n #& "; #&        6 V6@ &   ﺍﻭø ö ﺃﻭ

6+ﺃﻭ  5 "  ö2 R ,@  4 j #& ">*           &   /2    2     +"/2        ö +ﻭﺩ #&

"/2l

 

"Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan
cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)." (QS. A-Anfal : 60).

 

8


 

 

 

 

 

 

 

 

Bersedekah tidak saja dapat dilakukan ketika masih hidup. Tetapi sedekah juga dapat dilakukan untuk orang yang sudah meninggal dunia. Rasulullah pernah SAW.pernah memerintah seseorang supaya bersedekah untuk keselamatan keluarganya yang telah meninggal dunia.

Dari   Aisyah   ra.bahwa   seorang   laki-laki   berkata   kepada   rasulullah   SAW. ”Sesungguhnya ibuku telah meninggal, dan aku melihatnya seolah-olah dia berkata, bersedekahlah. Apakah baginya pahala jika aku bersedekah untuknya?”. Rasulullah SAW. Bersabda,”ya”. (Muttafaqu ‘alaih)

 

Perintah rasulullah yang senada itu juga dapat ditemukan dalam hadits-hadits yang lain. Bahkan beliau menyebut amalan sedekah sebagai amalan yang tidak akan pernah putus meskipun oranng yang bersedekah itu telah meninggal dunia. Pahala sedekah tidak saja dapat mengalir ketika yang bersangkutan masih hidup, tetapi juga ketika jasad sudah ditiggalkan oleh rohnya.

Dari Abi Hurairah ra.bahwa rasulullah SAW.bersabda:

'Tatkala manusia meninggal maka putuslah semua amalnya, kecuali tiga perkara. Yaitu   amal   Jariyah,   ilmu   yang   bermanfaat   dan   anak   yang   sholeh   yang mendoakannya.” (HR. Muslim).

 

S = Apa hukum talqin (pengajaran) kepada mayit?

 

J=   Di kalangan ulama ahli ijtihad, tidak ada perbedaan pendapat mengenai talqin

(mengajarkan kalimal La ilaaha illa Allah)  kepada orang  yang sedang sekarat, berdasarkan hadits:

õ `   Aö  < "& " >

“Hendaklah kamu semua mengajarkan kepada orang-orang akan meninggal dengan kalimat Laa ilaaha illa Allah(tidak ada Tuhan selain Allah)”

 

Adapun mengajari (talqin) orang yang baru dikuburkan menurut ulama madzhab Syafi’i, mayoritas ulama madzhab Hambali dan sebagian ulama madzhab Hanafi dan Maliki hukumya sunnah, berdasarkan riwayat At-Tabrani:

“Dari Abu Umamah ra., “Apabila salah seorang di antara saudaramu meninggal
dunia dan tanah telah diratakan di atas kuburannya, maka hendaklah salah seorang
diantara kamu berdiri di arah kepala, lalu ucapkanlah, ‘Hai Fulan bin fulanah
(nama mayat dan nama ibunya). ‘Sesungguhnya si mayat itu mendengar, namun
tidak dapat menjawab. Kemudian ucapkan ‘Hai fulan bin fulanah, ‘Sesungguhnya dia
duduk.  Lalu  ucapkan  lagi, ‘hai  fulan  bin  fulanah,  maka  si  mayat  berkata,

‘Bimbinglah kami, semoga Allah merahmatimu. Kemudian katakanlah “ingatlah apa
yang  kamu  pertahankan  saat  meninggal  dunia  berupa  kalimat  syahadat  dan
kerelaanmu  terhadap  Allah  sebagai  Tuhan,  islam  sebagai  agama,  Muhammad
sebagai Nabi, dan Al-Qur’an sebagai panutan. Sesungguhnya malaikat munkar dan
nakir saling berpegangan tangan dan berkata, ‘ayo pergi. Tidak perlu duduk di sisi
orang yang diajarkan kepadanya jawabannya. Allah-lah yang dapat memintainya
jawaban, bukan malikat munkar dan nakir. Lalu ada seorang laki-laki bertanya, ya

 

9


 

 

 

 

 

 

 

 

Rasulullah  bagaimana  jika  ibu  si  mayat  tidak  diketahui?  Beliau  menjawab, sambungkan nasabnya ke ibu Hawa. (HR. At-Thabrani)

Hadits tersebut marfu’, sekalipun dhoif, tetapi hadits ini boleh diamalkan dalam amalamal kebaikan (fadhoilul a’mal) dan untuk mengingatkan orang-orang mukmin, dan juga mengingatkan firman Allah SWt:

 

Hö&x/ %*  <$ T4 <ﺫﻭ

 

“Dan   tetaplah   memberi   peringatan,   karena   Sesungguhnya   peringatan   itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Adz-Dzariyat: 55)

 

Dan tentu saja nasehat yang paling dibutuhkan oleh setiap hamba adalah ketika baru saja dikebumikan.

Imam  ibnu  Taimiyah  dalam  fatwa-fatwanya  menjelaskan,  sesungguhnya  talqin
sebagaimana tersebut diatas benar-benar dari sekelompok sahabat Nabi SAW. Bahwa
mereka menganjurkan talqin. Diatara mereka adalah Abu Umamah ra. Imam ibnu
Taikiyah berkata, “Hadits-hadits yang menerangkan bahwa orang yang dalam kubur
itu ditanya dan diuji dan perlu di doakan adalah sangat kuat. Oleh sebab itu talqin
berguna baginya, sebab mayat itu dapat mendengar seruan, sebagaimana disebutkan
dalam hadits yang shohih:

“Sesungguhnya  Nabi  SAW.  Bersabda:    “Sesungguhnya  mayat  dalam  kubur  itu

mendengar gesekan sandal-sandal kamu semua.”

Sementara itu, dalam hadits yang lain disebutkan:

“Sesungguhnya beliau bersabda: “kamu semua tidaklah lebih mendengar apa yang kau ucapkan daripada mereka.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

10


 

 

 

 

 

 

PASAL 3
TAWASUL

 

S = Apa arti tawasul dengan walinya Allah?

J = Tawasul dengan walinya Allah SWT artinya menjadikan para kekasih Allah sebagai
     
perantara menuju kepada Allah SWT dalam mencapai hajat, karena kedudukan dan
      kehormatan disisi Allah yang mereka miliki, disertai keyakinan bahwa mereka adalah
      hamba dan makhluk Allah SWT.yang dijadikan oleh-Nya sebagai lambang kebaikan,
     
barokah, dan pembuka kunci rahmat. Pada hakekatnya, orang yang bertawasul itu
     
tidak   meminta   hajatnya   dikabulkan   kecuali   kepada   Allah   SWT   dan   tetap
     
berkeyakinan bahwa Allah-lah yang maha memberi dan Maha Menolak. Bukan yang
     
lain-Nya. Ia menuju kepada Allah SWT dan orang-orang yang dicintai Allah SWT,
      karena  mereka  lebih  dekat  kepada-Nya,  dan  Dia  menerima  doa  mereka  dan
     
syafaatnya karena kecintaan-Nya. Allah SWT, mencintai orang-orang yang baik dan
     
orang-orang yang bertaqwa.

Dalam hadits qudsi disebutkan:

 

I        % $    D < 6,,J ﺍﺫT4         ,J J R4"   „ >6  ,  ﻝﺍ  

#†Ü     Ü6 V F fÜ@ #† € 7 t $            2 ﺭﻭ  € ‰V,     I, $

+$ F    6@

 

 

“Hambaku tidak henti-hentinya mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah
sunah,  sehingga  Aku  mencintainya.  Apabila  Aku  mencintainya,  maka  Aku
pendengarannya yang ia mendengar dengannya, dan penglihatannya yang ia melihat
dengannya, tangannya, dan penglihatannya yang ia melihat dengannya, kakinya yang
ia berjalan dengannya. Apabila ia memohon kepada-Ku, maka aku berinya, dan jika
meminta perlindungan, maka Aku berinya perlindungan.”
(HR. Imam al-Bukhori).

 

Apa hukum tawasul dengan orang-orang yang dikasihi oleh Allah?

Tawasul dengan oramg-orang yang dicintai Allah, seperti nabi-nabi dan orang-orang yang  shalih  itu  boleh,  berdasarkan  ijma’  ulama’  kaum  muslimin.  Bahkan  ia merupakan cara orang-orang mukmin yang diridloi. Tawasul itu telah dikenal sejak zaman dahulu dan sekarang.

 

S= Bagaimana halnya dengan orang yang beranggapan bahwa tawasul itu adalah
      syirik dan kufur, serta pelakunya adalah musyrik dan kafir?

J=  Tidak  dapat  diteladani  orang  yang  nyleneh  dan  berpisah  dari  jama’ah  yang
     
beranggapan bahwa tawasul adalah perbuatan syirik atau haram, lalu menghukumi
      musyrik orang-orang yang bertawasul. Ini jelas tidak benar dan batil, sebab anggapan
     
seperti ini akan menimbulkan penilaian, bahwa sebagian umat Islam telah membuat
     
kesepakatan (ijma’) atas perkara yang haram atau kemusyrikan. Hal demikian adalah

 

11


 

 

 

 

 

 

 

mustahil, karena umat Muhammad ini telah mendapat jaminan tidak bakal membuat
kesepakatan atas perbuatan sesat, berdasarkan hadits-hadits Rasulullah SAW seperti
hadits:

+ V f4 bAK 72  & %/  ﻥﺃ Df@

“Saya memohon kapada Tuhanku Allah, untuk tidak menghimpunkan umatku atas
perkara sesat, dan Dia mengabulkan permohonanku itu.”
(HR. Ahmad dan at-
Thabrani).

%/  bAK 72  & L

“Allah tidak menghimpunkan umatku untuk bersepakat atas perkara sesat selamalamanya.” (HR.Imam al-Hakim).

#(J L          " 4   (J "/2 ﻩﺁﺭ &

Apa yang diyakini baik oleh orang-orang islam, maka menurut Allah juga baik.”

 

S= Apakah ada dalil al-qur’an tentang tawasul?

J = Ya, ada. Adapun ayat al-Qur’an yang meunjukkan dibolehkan tawasul adalah ayat:

"?2*   52 ö2 ,@  4 ﺍﻭ C  b2 @" ö " 6 ﺍﻭ 2 ">øﺍ " & # $  øﺃ

 

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya.” (QS. Al-Maidah: 35)

Ini adalah permintaan dari Allah, agar kita mencari wasilah (perantara), yaitu segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah sebagai sebab untuk mendekatkan kepadaNya dan sampai pada terpenuhinya hajat dari-Nya.

S= Apakah tawasul itu terbatas pada amal perbuatan saja, tidak pada benda
     
(Dzat)?

J= Tidak, karena ayat Al-Qur’an tersebut umum (‘amm) meliputi amal-amal perbuatan
      baik dan orang-orang shalih, yakni dzat-dzat yang mulia, seperti Nabi SAW.dan wali-
     
wali Allah yang bertaqwa.

Adapun  orang  yang  berpendapat  boleh  tawasul  dengan  amal  perbuatan  saja,
sedangkan tawasul dengan dzat-dzat tidak boleh, dan ia membatasi maksud ayat pada
pengertian  pertama (tawasul  dengan  amal  perbuatan),  maka  pendapat  ini  tidak

berdasar,  sebab  ayat  tersebut  adalah  mutlak.  Bahkan  membawa  ayat  kepada
pengertian kedua (tawasul dengan dzat) itu lebih mendekati, sebab Allah dalam ayat
ini memerintahkan taqwa dan mencari wasilah, sedang arti taqwa adalah mengerjakan
perintah dan menjauhi larangan. Apabila kata "Ibtighoul wasilah" (mencari wasilah)
kita artikan dengan amal-amal sholeh, berarti perintah dalam mencari wasilah hanya
sekedar pengulangan dan pengukuhan. Tetapi jika lafad "al-Wasilah" ditafsirkan
dzat-dzat yang mulia, maka ia berarti yang asal, dan makna inilah yang lebih
diutamakan dan lebih didahulukan. Disamping itu apabila tawasul itu boleh dengan
amal-amal  perbuatan  baik,  padahal  amal-amal  perbuatan  merupakan  sifat  yang

 

 

12


 

 

 

 

 

 

 

diciptakan,  maka  dzat-dzat  yang  diridloi  oleh  Allah  lebih  berhak  dibolehkan, mengingat ketinggian tingkat ketaatan, keyakinan dan ma'rifat dzat-dzat itu kepada Allah SWT, allah SWT.berfirman:

 

ﺍﻭ * 6@ 4 ﻙﻭﺀ       (*+ "/2| ﺫﺇ        + " ö2 ﻥﺫTö V ö  "@ #&  2@ﺭﺃ &

/ J    8"   2 ﺍﻭ      " "@ø      *   6@ﺍﻭ 2

 

Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk dita'ati dengan seizin

Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu,

lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
(QS. An-Nisa' : 64).

Ayat ini dengan jelas menerangkan dijadikannya Rasulullah sebagai wasilah
kepada  Allah  SWT.  Firman  Allah  "Jaa-uuka" (mereka  datang  kepadamu)  dan

"Wastaghfaro  lahumurrosuulu"    (dan  Rasul  memohokan  ampun  untuk  mereka).

Andaikata tidak demikian, maka apa kalimat "Jaa-uuka".

 

S= Apakah tawasul itu dibolehkan secara umum, baik dengan orang-orang yang
      hidup dan orang-orang yang mati?

J= Ya, dibolehkan secara umum, karena ayat tersebut juga umum ('amm), ketika beliau
     
masih hidup di dunia dan sesudah beliau wafat.

Telah dipastikan, bahwa para nabi dan para wali itu hidup dalam kubur mereka, dan
arwah  mereka  di  sisi  Allah  SWT.  Barangsiapa  tawasul  dengan  mereka  dan
menghadap kepada mereka, maka mereka menghadap kepada Allah dalam rangka
tercapainya permintaannya. Dengan demikian, maka yang dimintai adalah Allah. Dia-
lah yang berbuat dan yang mencipta, bukan lain-Nya. Sesunggguhnya kami golongan
ahlussunnah wal jama'ah tidak meyakini adanya kekuasaan, penciptaan, manfaat, dan
mudhorot kecuali milik Allah Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya. Para Nabi
dan para wali tidak memiliki kekuasaan apapun. Mereka hanya diambil berkah dan
dimintai bantuan karena kedudukan mereka, sebab mereka adalah orang-orang yang
dicintai Allah, karena merekalah Allah memberi rahmat kepada hamba-hamba-Nya.
Dalam hal ini, tidak ada perbedaan antara mereka yang masih hidup atau mereka yang
sudah meninggal dunia. Yang kuasa berbuat dalam dua kondisi tersebut hakekatnya
adalah Allah, bukan mereka yang hidup atau yang mati.

Adapun orang-orang yang  masih  hidup dan orang-orang yang telah meninggal,
sepertinya mereka itu berkeyakinan bahwa orang-orang yang masih hidup memiliki
kemampuan  memberi  pengaruh  kepada  orang  lain  sedangkan  orang  yang  telah
meninggal tidak. Keyakinan seperti ini batil, sebab Allah-lah pencipta segala sesuatu.

S= Apa tawasul dengan orang-orang yang telah meninggal itu diperbolehkan?

J = Dalilnya sebagaimana firman Allah:

 

 

 

13


 

 

 

 

 

ﺍﻭ * 6@ 4 ﻙﻭﺀ       (*+ "/2| ﺫﺇ        + " ö2 ﻥﺫTö V ö  "@ #&  2@ﺭﺃ &

/ J    8"   2 ﺍﻭ      " "@ø      *   6@ﺍﻭ 2

 

 

“Sesungguhnya Jikalau mereka ketika Menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah   mereka   mendapati   Allah   Maha   Penerima   taubat   lagi   Maha Penyayang.(QS.An-Nisa’ :64).

 

Ayat diatas adalah umum ('amm) mencakup pengertian ketika beliau masih hidup dan ketika sesudah wafat dan berpindahnya ke alam barzah.
      Imam ibnu Al-Qoyyim dalam kitab
Zadul ma'ad menyebutkan:

  6  #& R 3 &  2@     2  L 72- L "@ ; ; }            @ #

3 T4 ' $C (“ 1 ' 2  H2S ( 1 ' f@               +   2 >4 AI

' f@ﺃﻭ ' K & 6 ﺍﻭ 'Vn@ >„ D           3 •ﺇﻭ b   ﺍﺀ     j  V

H ,@   L R< D+ "+$         *      +T4 "+    *  ﻥﺃﻭ #& $>  ﻥﺃ

. A-      }>  76J    "        2  L R,;ﺃﻭ   ﻥﻭ * 6(  '2& i

 

"Dari Abu Sa'id al-Khudry, ia berkata, Rasulullah SAW.bersabda: "seseorang dari

rumahnya hendak sholat dan membaca do'a:

  j  V  3 T4 ' $C (“ 1 ' 2  H2S ( 1 'f@                       +    2

#& $>  ﻥﺃ ' f@ﺃﻭ ' K &   6 ﺍﻭ 'Vn@ >„ D     3 •ﺇﻭ b   ﺍﺀ  

D+ "+$         *     +T4 "+    *  ﻥﺃﻭ

 

Kecuali Allah menugaskan 70.000 malaikat agar memohokan ampun untuk orang
tersebut, dan Allah menatap orang itu hingga selesai sholat”.
(HR. Ibnu Majjah).

 

Dari Imam al-Baihaqi, Ibnu As-Sunni dan al-Hafidz Abu Nu'aim meriwayatkan bahwa do'a Rasulullah ketika hendak keluar menunaikan shalat adalah:

.... H2S ( 1 ' f@       +   2

 

Para ulama; berkata, "ini adalah tawasul yang  jelas dengan semua hamba beriman
yang  hidup  atau  yang  telah  mati.  Rasulullah  mengajarkan  kepada  sahabat  dan

 

 

14


 

 

 

 

 

 

 

 

memerintahkan mebaca do'a ini. Dan semua orang salaf dan sekarang selalu berdo'a dengan do'a ini ketika hendak pergi sholat."

Abu Nu'aimah dalam kitab al-Ma'rifah, at-Tabrani dan Ibnu Majjah mentakhrij hadits:

~ B #      2  ﻡﺃ   @ D  b/B 4 D & Ћ ;          L  K ' & #  p+ #

C; %hVK    2@  2  L 72-     +  :  4   њљ ›      <ﺫﻭ-    /   L  K

6hJ     >   @ D  b/B 4    &F  *m "t    „ J "C D t  $ L : ;

H   Jﺭﺃ '+T4       2,; H2@ Ћﺍﻭ   ,+Fﺍﻭ '„,+ 1    23 & %@ﻭﻭ

 

Dari Anas bin Malik ra, ia berkata, “ketika Fatimah binti Asad ibunda Ali bin Abi
Thalib ra meninggal, maka sesunnguhnya Nabi SAW berbaring diatas kuburannya
dan bersabda: “Allah adalah Dzat yang Menghidupkan dan mematikan. Dia adalah
Maha Hidup, tidak mati. Ampunilah ibuku Fatimah binti Asad, ajarilah hujjah
(jawaban) pertanyaan kubur dan lapangkanlah kuburannya dengan hak Nabi-Mu
dan nabi-nabi serta para rasul sebelumku, sesungguhnya Engkau Maha Penyayang.”

Maka hendaklah diperhatikan sabda beliau yang berbunyi:

2,;    ,+F 1

“Dengan hak para nabi sebelumku”.

S= Jika tawasul dengan orang-orang yang telah mati itu boleh, mengapa kholifah
      Umar din al-Khottob tawasul dengan al-Abbas, tidak dengan Nabi SAW?

Para ulama’ telah menjelaskan hal ini juga, mereka berkata: “adapun tawasul Umar
bin al-Khottob dengan al-Abbas ra bukanlah dalil larangan tawasul dengan orang
yang telah meninggal dunia. Tawasul Umar bin al-Khottob dengan al-Abbas tidak
dengan Nabi SAW itu untuk menjelaskan kepada orang-orang bahwa tawasul dengan
selain itu boleh, tidak berdosa. Tentang mengapa dengan al-Abbas bukan dengan
sahabat-sahabat lain, adalah untuk memperlihatkan kemuliaan ahli bait Rasulullah
SAW.

 

S= Apa dalilnya?

J= Dalilnya adalah perbuatan para sahabat. Mereka selalu dan terbiasa bertawasul dengan
      rasulullah SAW setelah beliau wafat. Seperti yang diriwayatkan Imam al-Baihaqi dan
     
Ibnu abi Syaibah dengan sanad yang shohih:

“Sesungguhnya orang-orang pada masa kholifah Umaar banal-Khottob ra tertimpa paceklik karena kekurangan hujan. Kemudian Bilal bin al-Harits ra datang ke kuburan Rasulullah SAW dan berkata: “Ya rasulullah, mintakanlah hujjah untuk umatmu karena mereka telah binasa.” Kemudian ketika Bilal tidur didatangi oleh Rasulullah SAW dan berkata: datanglah kepada Umar dan sampaikan salamku kepadanya dan beritahukan kepada mereka, bahwa mereka akan dituruni hujan. Bilal lalu  datang  kepada  kholifah  Umar  dan  menyampaikan  berita  tersebut.  Umar menangis dan orang-orang dituruni hujan.”

 

 

15


 

 

 

 

 

 

 

 

S= Dimana letak penggunaan dalil hadits tersebut?

J= Letak penggunaan dalil dari hadits tersebut adalah perbuatan Bilal bin Al-Harits,
     
seorang sahabat Nabi SAW yang tidak diprotes oleh kholifah Umar maupun sahabat-
     
sahabat Nabi lainnya. Imam ad-DARimi juga mentakhrij sebuah hadits:

ﺍﻭ l+ D >4           L  K b S   "5          4     j V?; "V?; b         Ћ RC ﻥﺇ

/( H       ,   "5  J /( "<  & "2              4  2@  2  L 72- ;

   7/( 4 #>6*  J R u D ~  D,+ J   j V& ﺍﻭ V/4 "2 *4 i>@

b>6*

“Sesungguhnya penduduk Madinah mengalami paceklik yang amat parah, karena
langka hujan. Mereka mengadu kepada Aisyah ra dan ia berkata: “lihatlah kamu
semua ke kuburan Nabi SAW lalu buatlah lubang terbuka yang mengarah ke arah
langit,   sehingga   antara   kuburan   beliau   dan   langit   tidak   ada   atap   yang
menghalanginya. Mereka melaksanakan perintah Aisyah, kemudian mereka dituruni
hujan yang sangat deras, hingga rumput-rumput tumbuh dan unta menjadi gemuk.”

Ringkasnya, tawasul itu dibolehkan, baik dengan amal perbuatan yang baik maupun
dengan hamba-hamba Allah yang soleh, baik yang masih hidup atau yang sudah
meninggal  dunia.  Bahkan  tawasul  itu  telah  berlaku  sebelum  Nabi  Muhammad
diciptakan.

S= Apa dalil bahwa tawasul terjadi sebelum Nabi Muhammad SAW diciptakan?

J=  Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan dari Umar bin al-Khottob:

“Ketika Nabi Adam terpeleset melakukan kesalahan, maka berkata, “Hai Tuhanku,
aku  memohon  kepada-Mu  dengan  haq  Muhammad,  Engkau  pasti  mengampuni
kesalahanku. Allah berfirman: “Bagaimana kamu mengetahui Muhammad, padahal
belum Aku ciptakan?” Nabi Adam berkata: “Hai Tuhanku, karena Engkau ketika
menciptakanku dengan tangan kekuasaan-MU, aku mengangkat kepalaku kemudian
aku melihat ke atas tiang-tiang arsy tertulis La ilaaha illa Allah. Kemudian aku
mengerti, sesungguhnya Engkau tidak menyandarkan ke nama-MU, kecuali makhluk
yang paling Engkau cintai.” Kemudian Allah berfirman: “benar engkau hai Adam.
Muhammad adalah makhluk yang paing Aku cintai. Apabila kamu memohon kepada-
Ku dengan hak Muhammad, maka Aku mengampunimu, dan andaikata tidak karena
Muhammad maka Aku tidak menciptakanmu.” (HR. al-Hakim, at-Thobroni dan al-
Baihaqi).

Nabi Adam as adalah orang yang mula-mula tawasul dengan Nabi Muhammad
SAW. Imam Malik telah memberi anjuran tawasul kepada kholifah al-Mansur, yaitu
ketika ia ditanya oleh kholifah yang sedang berada di masjid Nabawi: Saya sebaiknya
menghadap kiblat dan berdo’a atau menghadap Nabi SAW?” Imam Malik berkata
kepada kholifah “mengapa engkau memalingkan wajahmu dari beliau, padahal beliau
adalah  wasilahmu  dan  wasilah  bapakku  Nabi  Adam  as.  kepada  Allah  SWT.
Menghadaplah kepada beliau dan mohonlah pertolongan dengannya, Allah akan
memberinya pertolongan dalam apa yang engkau minta.” Allah befirman:

 

 

16


 

 

 

 

 

ﺍﻭ * 6@ 4 ﻙﻭﺀ        (*+ "/2| ﺫﺇ        + " ö2 ﻥﺫTö V ö  "@ #&  2@ﺭﺃ &ó

/ J    8"    2 ﺍﻭ      " "@ø      *   6@ﺍﻭ 2

 

 

“Sesungguhnya Jikalau mereka ketika Menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah   mereka   mendapati   Allah   Maha   Penerima   taubat   lagi   Maha Penyayang.(QS.An-Nisa’ :64).

 

Keterangan ini disebutkan oleh al-Qodli ‘Iyadl dalam kitab as-Syifa’.

 

S= Bagaimana cara tawasul?

J= Para ulama telah menerangkan, bahwa tawasul dengan dzat-dzat yang mulia, seperti
     
Nabi SAW, para Nabi dan hamba-hamba Allah itu ada tiga macam, yaitu:

 

1.  Memohon (berdoa) kepada Allah SWT.dengan meminta bantuan mereka. Contoh:

....$< '         „" ﻭﺃ '2       > ﻭﺃ  / ' ,  ' f@       2

“Ya Allah, saya memohon kepada-Mu melalui Nabi-Mu Muhammad atau dengan hak beliau atas Kamu atau supaya saya menghadap kepada-Mu dengan Nabi SAW untuk…”

2.  Meminta kepada orang yang dijadikan wasilah agar ia memohon kepada Allah
      untuknya agar terpenuhi hajat-hajatnya seperti:

....ﻭﺃ   >6(  ﻥﺃ    L ﻉﺩﺍ ¡L "@

“Ya Rasulullah, mohonkanlah kepada Allah SWT agar Dia menurunkan hujan atau……”

3.  Meminta sesuatu yang dibutuhkan kepada orang yang dijadikan wasilah, dan
     
meyakininya  hanya  sebagai  sebab  Allah  memenuhi  permintaannya  karena
      pertolongan orang yng dijadikan wasilah dan karena doanya pula. Cara ketiga ini
     
sebenarnya sama dengan cara kedua.

 

Tiga macam cara tawasul ini semua berdasarkan nash-nash yang shahih dan dalildalil yang jelas.

 

S= Apa dalil tawasul dengan cara yang pertama?

J= Dalil tawasul dengan cara yang pertama adalah hadits-hadits Nabi SAW antara lain:

“Dari autsman bin Hunaif ra.sesungguhnya seorang laki-laki tuna netra datang
kepada Nabi SAW dan berkata: “Ya Rasululah, berdo’alah kepada Allah agar
menyembuhkan saya.” Beliau bersabda: “jika engkau mau, berdoalah. Dan jika
engkau mau bersabarlah (dengan kebutaan) karena hal itu (sabar) lebih baik untuk
kamu.” Laki-laki itu berkata: “berdo’alah untuk saya, karena mataku benar-benar
memberatkan (merepotkan)ku.” Kemudian Nabi SAW memerintahkan si laki-laki itu

 

17


 

 

 

 

 

 

 

agar berwudlu, shalat dua rakaat, lalu berdoa seperti doa dalam hadits yang arti doa itu adalah: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu melalui Nabi-Mu Muhammad, nabi pembawa rahmat. Ya Muhammad, sesungguhnya aku melalui kamu menghadap kepada Tuhanku dalam urusan hajatku ini, agar hajat itu dikabulkan kepadaku. Ya Allah, tolonglah beliau dalam urusanku.” Si laki-laki itu melakukan apa yang diperintahkan Rasulullah SAW kemudian pulang dalam keadaan dapat melihat.”

Renungkanlah bagaimana Nabi SAW tidak berdoa sendiri untuk kesembuhan mata si tuna netra, tetapi beliau mengajarkan kepadanya cara berdoa dan menghadap kepada Allah melalui kedudukan diri beliau dan memohon kepada Allah agar meminta bantuan dengan beliau. Dalam hal ini, ada dalil yang jelas tentang kesunahan tawasul dan meminta bantuan dengan dzat Nabi Muhammad SAW. Ajaran tawasul dalam doa yang disebutkan pada hadits tersebut tidak khusus untuk laki-laki tuna netra itu saja, tetapi umum untuk umatnya seluruhnya, baik semasa beliau masih hidup atau sesudah wafat.  Pemahaman  rawi  dalam  menghadapi  hadits  itu  dapat  dijadikan  hujjah sebagaimana diuraikan dalam ilmu ushul.

 

S= Apa dalil tawasul dengan cara kedua?

J= Dalilnya banyak, diantaranya:

”Dari Anas ra.ia berkata: Ketika Nabi SAW berkhutbah pada hari Jum’at, tiba-tiba
ada seorang laki-laki masuk dari pintu masjid dan langsung menghadap kepada Nabi
SAW seraya berteriak: “Hai Rasulullah, harta benda telah binasa dan jalan-jalan
telah putus, maka berdoalah kepada Allah supaya menghujani kami. Rasulullah SAW
lalu mengangkat tangan dan berdo’a” Ya Allah turunkanlah hujan kepada kami tiga
kali. Anas berkata: “Demi Allah kami melihat awan di langit dan kami hari itu
dituruni hujan begitu juga hari berikutnya. Kemudian si laki-laki itu atau orang
lainnya datang dan berkata: “Ya Rasulullah rumah-rumah ambruk dan jalan-jalan
terputus. “Kemudian Beliau berdoa: “ Allah, turunkanlah hujan disekitar kita bukan
diatas kita,” kemudian awan terbelah dan kami keluar berjalan di bawah sinar
matahari.

Di dalam hadits  yang  shahih ini ada petunjuk  atau dalil, bahwa setiap orang
disamping boleh berdoa (memohon) kepada Allah secara langsung, boleh juga boleh
juga mengunakan perantara orang-orang yang dicintai Allah yang dijadikan oleh-Nya
sebagai sebab terpenuhinya hajat hamba-hambanya. Disamping itu, karena manusia
ketika melihat dirinya masih berlepotan dosa yang membuatnya jauh dari Allah yang
tentu saja merasa layak ditolak permohonannya. Sebab itu, ia menghadap kepada
Allah melaui orang-orang yang dicintai-Nya, ia memohon kepada Allah dengan
kedudukan dan kemuliaan para kekasih-Nya,  agar Allah mengabulkan hajatnya
karena hamba-hamba-Nya yang dicintai-Nya yang mereka itu tidak tahu apa-apa
kecuali ta’at kepada-Nya.

 

S= Apa dalil tawasul yang ketiga?

J= Dalilnya banyak antara lain:

Dari Rabi’ah bin Malik al-Aslami ra.ia berkata Nabi SAW bersabda kepadaku:
“Mintalah apa saja yang kamu inginkan.” Saya berkata: “Saya memohon kepada-
Mu dapat bersama-Mu di surga.” Beliau bersabda: “Selain itu?” Saya berkata:

 

 

18


 

 

 

 

 

 

 

 

“Hanya  itu.”  Kemudian  beliau  bersabda:        “Bantulah  saya  untuk  memenuhi

keinginanmu dengan memperbanyak sujud.” (HR. Imam Muslim).

L "@ h4 „ 3 72  D (4  J "                      ( ~- /+ ﺓﺩ6; ﻥﺃ

2   C 4          63 4       "     ﻥﺃ H I H  n4 L "@    ;

D+ < /< ﺕﺩ 4   K"& b*      A(

Sesungguhnya Qotadah bin Nu’man pada waktu perang Uhud matanya terkena
panah sampai keluar ke pipinya, lalu datang kepada Nabi SAW dan berkata:
“mataku Ya Rasulullah.” Beliau memberinya pilihan antara sabar dengan sakit pada
matanya  itu  dan  beliau  berdoa  untuk  kesembuhannya.  Qotadah  memilih  agar
Rasulullah menyembuhkannya melalui doa. Kemudian beliau mengembalikan mata
Qotadah ke tempatnya semula dengan mata beliau yang mulia sehingga kembali
normal seperti semula.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

19


 

 

 

 

 

 

 

PASAL 4

ZIARAH KUBUR

 

S= Apa hukum ziarah kubur?

J= Ziarah ke kuburan untuk orang laki-laki sunnah hukumnya. Sebelumnya, yaitu pada
     
permulaan islam ziarah ke kubur memang dilarang. Lalu hukum larangan ini dinasakh
     
dengan sabda Nabi SAW dan perbuatannya. Ada beberapa hadits berkaitan dengan
      ziarah kuburan, antara lain:

Cﻭﺭﻭ…4 ",> ﺓﺭ #      56  ¤ D <

“Dulu saya telah melarang kamu semua ziarah ke kuburan, maka              (sekarang)

berziarahlah ke kuburan).” (HR. imam Muslim)

3F     <$ H %&  ~2>         ¤T4 Cﻭﺭﻭ…4 ",> ﺓﺭ #      56  ¤ D <

“Dulu saya telah melarang kamu semua ziarah ke kuburan, maka              (sekarang)

berziarahlah   ke   kuburan,   sebab   ziarah   kubur   itu   dapat   melunakkan   hati, mencucurkan air mata dan mengingatkan akhirat.”

 

Para ulama menjelaskan bahwa ziarah ke kuburan itu termasuk hal yang biasa dilakukan oleh Nabi SAW dan para sahabat beliau juga melakukannya. Semasa beliau belum wafat, Nabi SAW juga mengajarkan kepada sahabatnya tata cara ziarah kubur, untuk mengingat dan mengambil pelajaran. Sampai saat ini ziarah kubur itu masih berlaku di berbagai daerah, kota dan pedesaan.

 

S= Apa hukum ziarah kubur bagi kaum wanita?

J= lama menerangkan, bahwa ziarah kubur bagi wanita itu makaruh hukumya, karena
      dikhawatirkan jiwanya selau sedih, mengingat kaum wanita gampang susah dan
     
jarang yang bisa menahan sabar terhadap musibah, terkecuali ziarah ke kuburan para
     
wali, orang-orang sholeh dan lama. Mereka tetap disunahkan untuk mendapatkan
     
barokah. Sebagian ulama membolehkan kaum wanita berziarah ke kubur secara
     
mutlak, berdasarkan hadits Nabi SAW:

-ﺍﻭ L 7> >4   ; 72             5,  ﺓﺃ & ﻯﺃﺭ  2@      2  L 72-    +

“Sesunggunya Nabi SAW melihat seorang wanita di atas kuburan dengan menangis diatas kuburan anaknya, kemudian beliau bersabda kepadanya: “Takutlah kepada Allah dan bersabarlah”. HR. Bukhori dan Muslim).

Dalam hadits di atas, Rasulullah menyuruh wanita agar bersabar dan tidak mengingkarinya ziarah kubur.

“Sesungguhnya Nabi SAW menangajarkan Aisyah do’a ketika berziarah ke kuburan beliau bersabda: “ucapkan:

 

 

 

 

20


 

 

 

 

 

# 3f6(Ћﺍﻭ    „& H& >6(Ћ L  J H/2(Ћﺍﻭ H &xЋ #&   RC          52  A(

">J      5 L j ﻥﺇ +ﺇﻭ

 

S= Bagaimana halnya dengan sabda Nabi SAW Allah melaknat wanita-wanta
     
peziarah kubur?

J=  Menurut ulama’ ahli tahqiq, hadits tersebut ditakwil, jika ziarah wanita-wanita itu
      untuk meratapi dan menangisi yang meninggal, seperti yang berlaku di masyarakat
      jahiliyah, maka ziarah kubur seperti itu jelas haram berdasarkan ijma’ apabila bersih
     
dari hal-hal tersebut maka tidak diharamkan dan tidak termasuk dalam ancaman
     
hadits tersebut.

S= Apa hukum melakukan perjalanan ziarah ke makam Rasulullah SAW, makam
     
para Nabi dan para wali?

J= Ziarah ke makam Rasulullah SAW, merupakan salah satu perbuatan yang dapat
     
mendekatkan diri kepada Allah. Demikian juga perjalanan menuju ke tempat beliau
     
dan  juga  ke  tempat-tempat  para  Nabi,  para  wali  dan  para  syuhada’  untuk
     
mendapatkan  barokah  dari  Allah  dan  mengambil  I’tibar.  Perjalanan  seperti  itu
     
hukumnya mustahab dan banyak faedahnya. Yang terpenting adalah harus dapat
     
menjaga adab (tata cara) menurut syari’at.apa dalil kesunahan perjalanan ziarah itu?
     
Dalilnya adalah firman Allah SWT:

ﺍﻭ * 6@ 4 ﻙﻭﺀ        (*+ "/2| ﺫﺇ        + " ö2 ﻥﺫTö V ö  "@ #&  2@ﺭﺃ &

/ J    8"    2 ﺍﻭ      " "@ø      *   6@ﺍﻭ 2

 

“Sesungguhnya Jikalau mereka ketika Menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah   mereka   mendapati   Allah   Maha   Penerima   taubat   lagi   Maha Penyayang.(QS.An-Nisa’ :64).

 

Dalam hadits pun telah dijelaskan, bahwa Nabi SAW tetap hidup di dalam kuburannya. Dengan demikian, berarti ziarah kepada beliau sesudah wafat seperti ziarah kepada beliau saat hidup. Dasarnya adalah hadits:

J ﺭﺍﺯ •f54 7 4    ; ﺭﺍ…4 §J #&

“Barangsiapa menunaikan ibadah haji, lalu ziarah ke kuburku sesudah aku wafat,
maka ia seperti ziarah kepadaku sewaktu aku dalam keadaan hidup.”
(HR. Thabrani).

*   >4   §J #&

“Barangsiapa menuanaikan ibadah haji dan enggan berziarah kepadaku, ia benarbenar juh.”

 

 

21


 

 

 

 

 

 

 

PASAL 5

SEPUTAR AL-QUR’AN DAN SHALAT

S= Salah satu  bentuk pengagungan  al-qur’an adalah  larangan  menyentuhnya
      apabila tidak suci (hadats). Apakah dalil para ulama’ terhadap hukum ini?

J= Larangan berasal dari firman Allah SWT:

ﻥﻭ ø V/  (/

H/ ﺏﺭ #& R …

 

“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. Yamg diturunkan dari Tuhan semesta alam.” (QS. Al-Waqi’ah: 79-80).

Atas dasar ini para ulama menyatakan bahwa haram hukumnya menyentuh Al-Qur’an bila tidak punya wudlu. Ssyaikh Zainudddin al-Malibari menyatakan:

“Haram sebab hadats kecil, melakukan sholat, thawaf, sujud (yakni sujud tilawah dan sujud syukur), membawa mushaf dan menyentuh kertas yang ditulisi ayat alQur’an, walaupun hanya sebagian ayat.” (fath al-Mu’in, hal 10).

S= Apakah menyentuh lain jenis dapat membatalkan wudlu?

J= Menurut pendapat Imam Syafi’i ra, menyentuh lain jenis yang bukan mahram itu
     
membatalkan wudlu, baik yang menyentuh atau orang yang disentuh. Sebagaimana
     
yang disebutkan dalam kitab al-Fath al-Manhaji:

“Seorang laki-laki yang menyentuh istrinya atau perempuan ajnabiyah (yang bukan mahramnya) tanpa penghalang maka wudlu laki-laki dan perempuan itu menjadi batal. Yang dimaksud dengan ajnabiyah (perempuan lain) adalah setiap wanita yang halal dinikahi.” (al-Fiqh al-Manhaji, juz I, hal 63).

Pendapat ini didasarkan firman Allah SWT.:

 

  ,      "">  & "/2       76J ﻯﺭ 5@     6+ﺃﻭ AI " >         " & # $   øﺃ

ЁS    #&  5 & _ J       ﻭﺃ ò *@ 72  ﻭﺃ 7K &    6 < ﻥﺇﻭ "2(6     76J R ,@ ﻱö ö

ﻥﺇ  5 ö ﺃﻭ  5C" "ö "?(& 4           ,öB 8   ö - "// 64 & ﺍﻭ h   24 (ö                 6(&  ﻭﺃ

ﺍﺭ"*m "*  < 2

 

“Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci)”. (QS. An-Nisa’: 43).

 

 

 

22


 

 

 

 

 

 

 

S= Bagaimana hokum mengucapkan niat (lafal usholli dan seterusnya) ketika
     
hendak melakukan sholat?

J=  Niat  merupakan inti dari setiap pekerjaan.  Sebab,  baik  tidaknya  pekerjaan  itu
     
tergantung pada niatnya. Sebagaimana sabda Nabi SAW.:

“Segala perbuatan hanyalah tergantung niatnya. Dan setiap perkara tergantung pada apa yang diniatkan.” (Shohih al-Bukhori, no 1).

Demikian juga dalam sholat. Niat adalah rukun yang pertama. Akan tetapi, karena niat tempatnya di dalam hati maka disunnahkan mengucapkan niat tersebut dengan lisan untuk membantu gerakan hati (niat). Imam Ramli (wafat tahun 1004 H.) dalam kitabnya Nihayah al-Muhtaj mengatakan:

“Disunnahkan mengucapkan apa yang diniati (kalimatusholli) sebelum takbir, agar
supaya lisan bisa membantu hati, sehingga bisa terhindar dari was-was (keragu-
raguan) hati akibat bisikan syetan). Dan agar bisa keluar dari pendapat ilama yang
mewajibkan.

Dalam beberapa kesempatan Nabi SAW pernah melafalkan niat. Misalnya dalam ibadah haji. Dalam sebuah hadits dijelaskan:

/  ', ">  2@         2  L 72- L "@ D ;        L   K p+ #

hJ

“Dari sahabat Anas ra berkata, saya mendengar Rasulullah SAW mengucapkan,
Labbaika aku sengaja mengerjakan umrah dan haji.” (Shahih Muslim, no 2168).

 

S= Ketika melakukan ruku’ dan sujud, disunahkan membaca tasbih (kalimat
     
subhanallah). Hanya saja banyak orang yang menambah dengan tahmid (yaitu
     
bacaan wa bihamdihi). Bagaimana hukum menambah bacaan tahmid tersebut?

J= Membaca tasbih ketika ruku’ dan sujud memang sudah menjadi kebiasaan Rasulullah
     
SAW dalam shalat. Banyak hadits beliau yang menerangkan hal tersebut. Antara lain
     
hadits beliau yang diriwayatkan dari ‘Aisyah ra:

"< ">  <  2@ 2  L 72- L "@ ﻥﺃ D ;       L  K b S       #

.ﺡﻭ ﺍﻭ b5SAЋ ﺏﺭ ﺱﻭ„ ; ",@ :ﻩﺩ"h@

“Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra, beliau berkata bahwa Rasulullah membaca subbuh quddus rab al-malaikat wa al-ruh ketika ruku’ dan sujud.” (Musnad Ahmad bin Hambal, no 24877)

 

Dalam hadits lain disebutkan:

“Diriwayatkan dari Hudzaifah ra, beliau berkata, “aku pernah shalat bersama Nabi SAW. Lalu beliau membaca subhana robbiyal adzimi dalam ruku’nya. Dan ketika sujud membaca subhana rab al-a’la. Dan setiap beliau membaca ayat rahmat, Nabi SAW diam lalu berdo’a (agar rahmat tersebut diberikan kepadanya), sedangkan pada saat membaca ayat tentang siksa Allah SWT (adzab) beliau selalu memohon perlindungan kepada Allah SWT.” (Sunan al-Darimi, no 1273).

 

 

23


 

 

 

 

 

 

 

Kedua hadits ini tidak menyebutkan kata-kata wabihamdihi. Apakah lalu membaca wabihamdihi termasuk bid’ah. Karena tidak pernah dilakukan Rasulullah SAW?. Tentu saja tidak, sebab dalam hadits lain disebutkan:

“Rabi’ bin Nafi’ menceritakan kepada kami, dari Uqbah bin Amir ra, beliau berkata:
Bertasbihlah kamu kepada Tuhanmu Yang Maha Agung,” Rasulullah SAW lalu
bersabda, “Jadikanlah bacaan itu dalam setiap ruku’mu.” Manakala turun ayat
“Bertasbihlah kepada Tuhanmu Yang Maha Tinggi,” Rasulullah kemudian bersabda,
kerjakanlah perintah itu dalam setiap sujudmu.” (ada riwayat lain) bahwa ahmad bin
Yunus menceritakan kepada kami sebuah hadits yang diriwayatkan dari Uqbah bin
Amir ra dengan kandungan yang sama, beliau berkata bahwa Rasulullah SAW kalau
ruku’ beiau mengucapkan subhana robbi al- adzimi wa bihamdihi tiga kali.” (Sunan
Abi Dawud, no 736).

Dari sini menjadi jelas bahwa Rasulullah SAW juga menambahkan wabihamdihi di dalam ruku’ dan sujudnya.

 

S= Bagaimana hukum membaca basmalah (bismillahirrohmaanirrohiim) dalam
      surat al-Fatihah ketika sholat? Dan kalau wajib, apakah harus dikeraskan
     
bacaannya?

J= Membaca surat al-Fatihah merupakan rukun sholat, baik dalam sholat fardlu maupun
     
shalat sunnah, hal ini didasarkan pada hadits Nabi SAW:

65 b« *  >  A-   2@         2  L 72-         ¬2,  D& I #  ﺓﺩ ,          #

“Dari ‘Ubadah bin as-Sholit, Nabi SAW menyampaikan padanya bahwa tidak sah
sholat seseorang yang tidak membaca surat al-Fatihah”.
(Shohih Muslim, no 595).
Sementara basmalah merupakan ayat dari surat al-Fatihah. Maka tidak sah jika
seseorang shalat tanpa membaca basmalah berdasarkan firman Allah SWT.:

l ﻥﺁ  >ﺍﻭ         + k/ #&     8 ,@     >

 

  Dan  Sesungguhnya  Kami  telah  berikan  kepadamu  tujuh  ayat  yang  dibaca berulang-ulang  dan Al Quran yang agung.” (QS. Al-Hijr: 87).

 

Yang dimaksud tujuh yang berulang-ulang adalah surat al-Fatihah. Karena al-Fatihah
itu terdiri dari ayat-ayat yang dibaca secara berulang-ulang pada tiap-tiap raka’at
shalat. Dan ayat yang pertama adalah basmalah. Dalam sebuah hadits disebutkan:

“Dari Abi Hurairah beliau berkata, Rasulullah SAW bersabda, “al-hadulillahi robbil ‘alamiin merupakan induk al-Qur’an, pokoknya al-Kitab serta surat al-Sab’u alMatsani.” (Sunan Abi Dawud, no 1245).

Berdasarkan dalil ini, imam Syafi’I ra mengatakan bahwa basmalah merupakan bagian dari ayat yang tujuh dalam surat al-Fatihah, jika ditinggalkan baik seluruhnya maupun sebagian, maka raka’at shalatnya tidak sah.

 

 

 

 

 

24


 

 

 

 

 

 

 

 

S= Bagaimana hukumnya melafalkan sayyidina ketika membaca Tasyahud?

J= Kata-kata sayyidina sering kali digunakan oleh kaum muslimin, baik ketika shalat
      maupun diluar shalat. Hal itu termasuk hal yang sangat utama, karena merupakan
     
salah satu bentuk penghormatan kepada Nabi SAW. Syaikh Ibrahim bin Muhammad
      al-Bajuri
menyatakan:

“Yang lebih utama adalah mengucapkan sayyidina (sebelum nama Nabi SAW) karena yang lebih utama (dengan menggunakan sayyidina itu) adalah cara beradab (bersopan santun pada Nabi SAW).” (Hasyiyah al-Bajuri, juz I hal 156).

Pendapat ini didasarkan pada hadits Nabi SAW:

ﻝﻭﺃﻭ b&    > "  ﻡﺩﺁ          @ +  2@   2  L 72- L "@ ; ¡ﻝ ;   C #

%* & ﻝﻭﺃﻭ %4 j ﻝﻭﺃﻭ >  & 1         #&

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Saya gusti (penghulu) anak Adam pada hari kiamat, orang yang pertama bangkit dari kuburan, orang yang pertama memberikan syafa’at dan orang yang pertama kali diberi hak untuk memberikan syafa’at.” (Shohih Muslim, no 4223).

 

Hadits ini menyatakan bahwa Nabi SAW menjadi Sayyid di akhirat. Namun bukan
berarti Nabi Muhammad SAW menjadi sayyid hanya di hari kiamat saja. Bahkan
beliau SAW menjadi tuan (sayyid) manusia di dunia dan akhirat. Sebagaimana yang
dikemukakan oleh Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki al-Hasani dalam kitabnya

Manhaj al-Salaf fi Fahm al-Nushush bain al-Nadzariyat wa al-Tatthbiq:

“ Kata Sayyidina ini tidak hanya tertentu untuk NAbi Muhammad SAW di hari kiamat saja, sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang dari beberapa riwayat hadits. “Saya adalah sayyid-nya anak cucu Adam di hari kiamat. Tapi Nabi SAW menjadi sayyid keturunan Adam di dunia dan akhirat”. (Manhaj al-Salaf fi Fahm al-Nushush bain al- Nadzoriyat wa Tathbiq, 169)

Ini sebagai indikasi bahwa Nabi SAW membolehkan memanggil beliau dengan sayyidina. Karena memang kenyataannya begitu,. Nabi Muhammad SAW sebagai junjungan kita umat manusia yang harus kita hormati sepanjang masa.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa membaca
sayyidina ketika membaca shalawat  kepada  Nabi  Muhammad  SAW  boleh-boleh  saja,  bahkan  dianjurkan. Demikian pula ketika tasyahud di dalam shalat.

S= Ada sebagian kalangan yang beranggapan bahwa qunut subuh tidak sunnah.
      Bahkan  haram  hukumnya,  karena  Rasulullah  SAW  tidak  melakukannya.
      Bagaimanakah  sebenarnya  hukum  membaca  qunut  dalam  shalat  subuh?
      Apakah benar Rsulullah tidak melakukannya?

J= Ulama’ Syafi’iyah berpendapat bahwa hukum membaca qunut pada sholat shubuh
      termasuh sunnah ab’ad. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya
     
al-Majnu’:

“Dalam madzhab kita (madzhab Syafi’i) disunnahkan membaca qunut dalam sholat
shubuh, baik ada bala’ (cobaan, bencana, adzhab dll) maupun tidak, inilah pendapat
kebanyakan ulama’ salaf dan setelahnya. Diantaranya adalah Abu Bakar al-Shiddiq,

 

 

25


 

 

 

 

 

 

 

 

Umar bin al-Khottob, Utsman bin Affan, Ali bin Abbas dan al-Barro’ bin ‘Azib ra.” (al-Maju’,juz 1 hal 504).

 

Dalil yang bisa dijadikan acuan adalah hadits Nabi SAW:

Diriwayatakan dari Anas  bin Malik ra beliau berkata, “Rasulullah SAW senantiasa membaca qunut ketika sholat shubuh sehingga beliau wafat.” (Musnad Ahmad bin Hambal, no 12196).

Sedangkan do’a qunut yang warid (diajarkan langsung) oleh Nabi SAW adalah:

/ 4      ﻙﺭ ¡D "      #/ 4  " ¡D 4        #/ 4    4  ¡D  C #/ 4      +  C    2

¡D ﺍﻭ #& $        +ﺇﻭ  ¡' 2     7}>  7}>  '+T4 ¡D }; & „ j            ;  ¡D V

" ﺃﻭ * 6@ ¡D }; & 72        /› '24 ¡D     D< ,  ¡D                #& … 

'

“Ya Allah berilah kami petunjuk seperti orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk. Berilah kami kesehatan seperti orang-orang yang telah Engkau beri kesehatan. Berilah kami perlindungan sebagaimana orang-orang yang Engkau beri perlindungan. Berilah berkah kepada segala yang telah Engkau berikan kepada kami. Jauhkanlah kami dari segala kejahatan yang Engkau pastikan. Sesunggunya Engkau Dzat Yang Maha Menentukan dan Egkau tidak dapat ditentukan. Tidak akan hina orang yang Engkau lindungi. Dan tidak akan mulia orang yang Kamu musuhi. Engkau Maha Suci dan Maha luhur. Segala puji bagi-Mu atas segala yang Engkau pastikan. Kami mohon ampunan dan bertaubat kepada-Mu.”

Dengan demikian membaca qunut shubuh dalam segala keadaan itu hukumnya
sunnah. Karena Nabi Besar Muhammad SAW selalu melakukannya hingga beliau
wafat.

 

S= Dalam tahiyat ketika membaca illallah, biasanya orang yang sholat mengangkat
     
jari telunjuknya. Adakah dasar hukumnya? Lalu apa hikmah yang dikandung?.

J= Ulama’ Syafi’iyah menganjurkan untuk meletakkan kedua tangan diatas paha ketika
     
sedang duduk tasyahud. Sementara jari-jari tangan kanan digenggam, kecuali jari-jari
     
telunjuk dan ketika membaca illallah jari telunjuk tersebut sunnah diangkat tanpa
     
digerak-gerakkan, dalam sebuah hadits dijelaskan:

“Diriwayatkan dari Ali bin Abdirrohman al-Mu’awi, beliau bercerita bahwa pada
suatu saat Ibnu Umar ra melihat saya sedang mempermainkan kerikil ketika sholat.
Ketika saya selesai shalat, beliau menegur saya lalu berkata, “(Apabila kamu sholat)
maka kerjakan sebagaimana yang dilaksanakan Rasulullah SAW (dalam shalatnya).
Ibnu Umar berkata, “Apabila Nabi Muhammad SAW duduk ketika melaksanakan
sholat, beliau meletakkan telapak tangan kanannya dan menggenggam semua jarinya.
Kemudian berisyarah dengan (menganggkat) jari telunjukkany (ketika mengucapkan
illallah), dan meletakkan telapak tangan kirinya diatas paha kirinya”.
(Shahih

Muslim, no 193).

Hadits inilah yang dijadikan dasar para ulama tentang kesunahan mengangkat jari
telunjuk ketika tasyahud. Sedangkan dari hikmah tersebut adalah supaya kita meng-

 

26


 

 

 

 

 

 

 

 

esakan Allah SWT. Seluruh tubuh kita men-tauhidkan-Nya dipandu oleh jari telunjuk itu. Syeikh Ibnu Ruslan dalam kitab Zubadnya mendendangkan sebuah syair:

D 2- $    J"6  %4ﺭﺇ(           ) b2/ Ћ 4 L           

“Ketika mengucapkan illallahu, maka angkatlah jari telunjukmu untuk mengesakan Dzat yang engkau sembah.”(matan az-Zubad, hal 24).

Jadi, mengangkat jari telunjuk ketika tasyahud itu disunnahkan karena merupakan teladan Nabi Muhammad SAW. Perbuatan itu dimaksudkan sebagai symbol sarana untuk mentauhidkan Allah SWT.

 

 

S= Salah satu kebiasaan yang sering kita lihat, setiap selesai dalam shalat, orang-
      orang mengusap wajah dengan tangan kanannya. Bagaimana hukumnya?

J=  Setelah  berdoa  Rasulullullah  SAW  selslu  mengusap  wajahnya  dengan  kedua
     
tangannya. Dalam sebuah hadits disebutkan:

Ї(&       %4 4  ﺍﺫﺇ <  2@       2  L 72- ﻥﺃ   #           # ~S( #

        

 

“Dari Sa’ib bin Zayid dari ayahnya, “Apabila Rasulullah SAW berdoa beliau selalu
mengangkat kedua tangannya lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.”

(Sunan Abu Dawud, no 1275).

Begitu pula orang  yang telah selesai melaksanakan shalat, ia juga disunahkan mengusap wajah dengan kedua tangannya. Sebab sholat secara bahasa berarti berdoa, karena didalamnya terkandung doa-doa kepada Allah SWT sang Kholik. Sehingga oring yang mengerjakan sholat juga sedang berdoa. Maka wajar jika setelah sholat ia juga disunahkan mengusap muka.

Imam Nawawi dalam kitab al-Adzkar mengutip hadits  yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW selalu mengusap wajah dengan tangan, sekaligus tentang doa yang beliau baca setelah salam:

 

¡ /S ; R- : ;       2@  2  L 72- L "@ ﻥﺃ           L  K HIJ #  ﻥﺍ /ö  #

"J % < " V>          :ﻯﺃ ',        724 %V6(  T4           >4 %V6(  T4

6 (ﺃﻭ  C S /K  C S (

 

“Kami meriwayatkan (hadits) dalam kitabnya Ibn al-Sunni dari sahabat Anas ra
bahwa  Rasulullah  SAW  apabila  setelah  selesai  melaksanakan  sholat  beliau
mengusap wajahnya dengan tangan kanannya.. lalu berdoa, “saya bersaksi bahwa

 

 

27


 

 

 

 

 

 

 

 

tiada Tuhan selain Dia Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Ya Allah hilangkanlah dariku kebingungan dan kesusahan.” (al-Adzkar, hal 69).

Hal ini menjadi bukti bahwa mengusap muka setelah sholat memang dianjurkan
dalam agama. Karena Nabi Muhammad SAW juga mengusap muka setelah shalat.

S= Sudah berlaku di masyarakat, setiap selesai sholat, satu jamaah dengan yang
      lainnya saling bersalaman. Itu dilaksanakan pada sholat yang lima waktu.
     
Adakah dasar ukumnya?

Bersalaman antar sesama muslim memang sangat dianjurkan oleh Nabi SAW. Hal itu dimaksudkan agar persaudaraan islam semakin kuat dan  persatuan  umat  islam semakin kokoh. Salah satu bentuknya adalah anjuran untuk bersalaman apabila bertemu. Bahkan jika ada saudara muslim yang dating dari bepergian jauh, misalnya habis melaksanakan ibadah haji, maka disunahkan berangkulan (mu’anaqoh). Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Diriwayatkan dari al-Barro’ bin ‘Azib, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda “Tidakkah dua orang laki-laki bertemu, kemudian keduannya bersalaman, kecuali diampuni dosanya sebelum mereka berpisah.” (Sunan ibn Majah, no 3693).

Berdasarkan hadits inilah ulama’ Syafi’iyah mengatakan bahwa bersalaman setelah sholat hukumnya sunnah. Kalaupun perbuatan itu dikatakan bid’ah, tetapi termasuk dalam kategori bid’ah mubahah. Imam Nawawi menganggap bahwa hal itu adalah perbuatan yang baik untuk dilakukan.

“(Soal)  apakah  berjabat  tangan  setelah  sholat  Ashar  dan  Shubuh  memiliki
keutamaan ataukah tidak? (jawab) berjabat tangan itu sunnah dilakukan ketika
bertemu. Adapun orang-orang yang mengkhususkan diri untuk melakukannya setelah
dua sholat itu (Ashar dan Shubuh) maka dianggap bid’ah mubahah. (pendapat yang
dipilih), sesungguhnya kalau seseorang sudah berkumpul dan bertemu sebelum
sholat, maka berjabat tangan tersebut adalah bid’ah mubahah sebagaimana diatas.
Tapi jika sebelumnya belum pernah bertemu maka sunnah (bersalaman). Karena
seperti itu (dianggap) baru bertemu.” (Fatwa al-Imam al-Nawawi, hal 61).

Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa orang yang sholat itu sama dengan orang yang ghoib (tidak ada ditempat karena berpergian atau yang lainnya). Setelah sholat ia seakan akan baru datang dan bertemu dengan saudaranya yang muslim. Maka ketika itu dianjurkan untuk berjabat tangan. Sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Bughyah al-Mustarsydin:

“Bersalaman   itu   termasuk   bid’ah   yang   mubah,   dan   imam   al-Nawawi
menganggapnya sesuatu yang baik. Tapi hendaknya di tafshil (diperinci), antara
orang yang sebelum sholat sudah bertemu, maka salaman itu hukumnya mubah
(boleh).  Dan  jika  memang  sebelumnya  tidak  bersama (tidak  bertemu)  maka

dianjurkan (untuk salaman setelah salam). Karena salaman itu disunahkan ketika
bertemu menurut ijma’ ulama’. Sebagian ulama berpendapat bahwa orang-orang
yang sholat seperti orang-orang yang ghoib (tidak ada/tidak bertemu). Maka baginya

 

28


 

 

 

 

 

 

 

 

disunahkan bersalaman setiap selesai sholat lima waktu secara mutlak (baik sudah bertemu sebelumnya atau tidak).” Bughyah al-Mustarsyidin, hal 50-51).

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa hukum bersalaman setelah selesai
sholat adalah boleh bahkan sunnah jika sebelum sholat memang belum pernah
bertemu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

29