ILUSI NEGARA ISLAM

 

 

Ekspansi Ge­rakan Islam Transnasio­nal
                    
di Indo­ne­sia


 


 

 

 

ILUSI NEGARA ISLAM

Ekspansi Ge­rakan Islam Transnasio­nal
                    
di Indo­ne­sia

 

 

Editor

KH. Abdurrahman Wahid

 

Prolog

Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif

 

Epilog

KH. A. Mustofa Bisri


 

 

 

 

 

 

 

 

 

© LibForAll Foundation, 2009

Hak Cipta dilindungi Undang-undang

 

Ilusi Ne­gara Islam:

Ekspansi Ge­rakan Islam Transnasio­nal di Indo­ne­sia

 

Editor: KH. Abdurrahman Wahid

Penyelaras Bahasa: Muhammad Guntur Ramli Design Cover: Widhi Cahya dan Rahman Seblat Layout: Widhi Cahya

 

Cetakan I: April 2009

 

Diterbitkan atas kerjasama

Ge­rakan Bhinneka Tunggal Ika,

the Wahid Institute, dan Maarif Institute

 

Ilusi negara Islam : ekspansi gerakan Islam

transnasional di Indonesia /  Jakarta : The Wahid Institute, 2009

322 hlm. ; 21,5 cm.

ISBN 978-979-98737-7-4

 

1. Islam, Pembaruan -- Indonesia

I. Abdurrahman Wahid, Kyai Haji

297-749.598

 

Dicetak oleh PT. Desantara Utama Media


 

 

 

Daftar Isi

 

Prolog:

MASA DEPAN ISLAM DI INDONESIA

Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif                                       7

Pengantar Editor:

MUSUH DALAM SELIMUT

KH. Abdurrahman Wahid                                           11

Bab I    Studi Ge­rakan Islam Transnasio­nal dan

Kaki Tangannya di Indo­ne­sia                                      43

Bab II   Infiltrasi Ideo lo­gi Wahabi-Ikhwanul Muslimin

di Indo­ne­sia                                                              59

Bab III  Ideo lo­gi dan Agenda Ge­rakan Garis Keras

di Indo­ne­sia                                                            133

Bab IV  Infiltrasi Agen-agen Garis Keras terhadap

Islam Indo­ne­sia                                                        171

Bab V   Kesimpulan dan Rekomendasi                                    221

Epilog   BELAJAR TANPA AKHIR

KH. A. Mustofa Bisri                                                233

Lampiran 1:

Surat Keputusan Pimpinan Pusat (SKPP)

Muhammadiyah  No. 149/KEP/I.0/B/2006, untuk
membersihkan Muhammadiyah dari Partai Ke­adilan

Se­jahte­ra (PKS)                                                        239

Lampiran 2:

Dokumen Penolakan Pengurus Besar Nahdlatul

Ulama (PBNU) terhadap Ideo lo­gi dan Ge­rakan

Ekstremis Transnasio­nal                                            251

Daftar Bibliografi                                                                    309


 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Prolog

 

Masa Depan Islam di In­o­nesia
         
Oleh: Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif

 

 

Sebenar­nya dari  segi jumlah, tidak ada yang harus
dirisaukan tentang masa depan Islam di Indo­ne­sia. Sensus pen-
duduk tahun 2000 mencatat bahwa jumlah umat Islam di ne­ge­
ri ini berada pada angka 88,22%, sebuah persentase yang tinggi
sekali. Begitu juga orang lain tidak perlu cemas membaca angka
statistik itu, karena dua sayap besar umat Islam, NU dan Muham­
madiyah, sudah sejak awal bekerja keras untuk mengembangkan
sebuah Islam yang ramah terhadap siapa saja, bahkan terhadap
kaum tidak beriman se­kalipun, selama semua pihak saling meng-
hormati per­be­daan pandangan. Tetapi bencana bisa saja terjadi
bila pemeluk agama ke­hilangan daya nalar, kemudian menghakimi
semua orang yang tidak sefaham de­ngan aliran pemikiran me­re­ka
yang monolitik. Contoh dalam ber­bagai unit per­adaban umat ma-
nusia tentang sikap memonopoli ke­be­naran ini tidak sulit untuk
dicari. Darah pun sudah banyak tertumpah akibat penghakiman
segolongan orang terhadap pihak lain karena per­be­daan pe­nafsir­
an agama atau ideo­lo­gi.

Dalam se­jarah Islam pun, ke­lom­pok yang merasa paling sahih
dalam keimanannya juga tidak sulit untuk dilacak. Jika sekadar


 

 

 

 

8 | Ilusi Nega­ra Islam

 

merasa paling benar tanpa menghukum pihak lain, barangkali
tidaklah terlalu berbahaya. Bahaya akan muncul bilamana ada
orang yang mengatasnamakan Tuhan, lalu menghukum dan bah-
kan membinasakan keyakinan yang berbeda. Dalam bacaan saya,
dalam banyak kasus, al-Qur’an jauh le­bih toleran dibandingkan
de­ngan sikap segelintir Muslim yang intoleran terhadap per­be­da­
an. Fenomena semacam ini dapat dijumpai di ber­bagai ne­gara,
baik di ne­gara maju, mau pun di ne­gara yang belum berkembang,
tidak saja di dunia Islam. Apa yang biasa dikate­go­rikan se­bagai
golongan fundamentalis berada dalam kate­go­ri ini. Di Amerika
misalnya kita mengenal golongan fundamentalis Kristen yang di
era Presiden Geo rge W. Bush men­jadi pendukung utama rezim
neo -imperialis ini. Di dunia Islam, secara sporadis sejak be­be­rapa
tahun terakhir gejala fundamen­talisme ini sangat dirasakan. Yang
paling ekstrem di antara me­re­ka mudah terjatuh ke dalam perang-
kap te­rorisme.

Ada be­be­rapa teo ri yang telah membahas fundamen­talisme
yang muncul di dunia Islam. Yang paling banyak dikutip adalah
kegagalan umat Islam menghadapi arus modernitas yang dinilai
telah sangat menyudutkan Islam. Karena ketidakberdayaan meng-
hadapi arus panas itu, golongan fundamentalis mencari dalil-dalil
agama untuk “menghibur diri” dalam sebuah dunia yang dibayang-
kan belum tercemar. Jika sekadar “menghibur,” barangkali tidak
akan menimbulkan banyak masalah. Tetapi sekali me­re­ka me­nyu­
sun ke­kuatan politik untuk melawan modernitas melalui ber­bagai
cara, maka benturan de­ngan golongan Muslim yang tidak setuju
de­ngan cara-cara me­re­ka tidak dapat dihindari. Ini tidak berarti
bahwa umat Islam yang menentang cara-cara me­re­ka itu telah larut
dalam modernitas. Golongan penentang ini tidak kurang kriti-
kalnya menghadapi arus mo­dern ini, tetapi cara yang ditempuh
dikawal oleh ke­kuatan nalar dan pertimbangan yang jernih, se­kali­
pun tidak selalu berhasil.

Teo ri lain mengatakan bahwa membesarnya gelombang fun-


 

 

 

Masa Depan Islam di In­o­nesia | 9

 

damentalisme di ber­bagai ne­gara Muslim terutama didorong oleh
rasa kesetiakawanan terhadap nasib yang menimpa saudara-sauda-
ranya di Palestina, Kashmir, Afghanistan, dan Iraq. Perasaan solider
ini se­sungguhnya dimiliki oleh seluruh umat Islam sedunia. Tetapi
yang membedakan adalah sikap yang ditunjukkan oleh golongan
mayo­ritas yang sejauh mungkin menghindari kekerasan dan tetap
mengibarkan panji-panji perdamaiaan, se­kalipun peta penderitaan
umat di kawasan konflik itu sering sudah tak tertahankan lagi. Jika
dikaitkan de­ngan kondisi Indo­ne­sia yang relatif aman, ke­muncul­
an ke­kuatan fundamen­talisme, dari kutub yang lunak sampai ke
kutub yang paling ekstrem (te­rorisme), se­sungguhnya berada di
luar penalaran. Kita ambil misal praktik bom bunuh diri sambil
membunuh manusia lain (kasus Bali, Marriot, dan lain-lain), sama
sekali tidak bisa difahami. Indo­ne­sia bukan Palestina, bukan Kash-
mir, bukan Afghanistan, dan bukan Iraq, tetapi mengapa praktik
biadab itu dilakukan di sini?

Teo ri ketiga, khusus untuk Indo­ne­sia, maraknya fundamen­tal­
isme di Nusantara le­bih disebabkan oleh kegagalan ne­gara mewu-
judkan cita-cita kemerdekaan berupa tegaknya ke­adilan sosial dan
terciptanya ke­se­jahte­raan yang merata bagi seluruh rakyat. Korupsi
yang masih menggurita adalah bukti nyata dari kegaglan itu. Semua
orang meng­kui kenyataan pahit ini. Namun karena penge­tahuan
golongan fundamentalis ini sangat miskin tentang peta sosiologis
Indo­ne­sia yang memang tidak se­der­hana, maka me­re­ka menem-
puh jalan pintas bagi tegaknya ke­adilan: melaksanakan syari’at Is-
lam melalui kekuasaan. Jika secara nasio­nal belum mungkin, maka
diupayakan melalui Perda-Perda (Peraturan Daerah). Dibayangkan
de­ngan pelaksanaan syar‘ah ini, Tuhan akan meridhai Indo­ne­sia.
Anehnya, semua ke­lom­pok fundamentalis ini anti demokrasi, teta-
pi me­re­ka memakai lembaga ne­gara yang demokratis untuk menya­
lurkan cita-cita politiknya. Fakta ini de­ngan sen­dirinya membeber-
kan satu hal: bagi me­re­ka bentrokan antara teo ri dan praktik tidak
men­jadi persoalan. Dalam ungkapan lain, yang terbaca di sini


 

 

 

 

10 | Ilusi Nega­ra Islam

 

adalah ketidakjujuran dalam berpolitik. Secara teo ri demokrasi di-
haramkan, dalam praktik digunakan, demi tercapainya tujuan.
       
Akhirnya, saya menyertai keprihatinan ke­lom­pok-ke­lom­pok fundamentalis tentang kondisi Indo­ne­sia yang jauh dari ke­adilan, tetapi cara-cara yang me­re­ka gunakan sama sekali tidak akan sema-kin mendekatkan ne­ge­ri ini kepada cita-cita mulia kemerdekaan, malah akan membunuh cita-cita itu di tengah jalan. Masalah In­ do­ne­sia, bangsa Muslim terbesar di muka bumi, tidak mungkin dipecahkan oleh otak-otak se­der­hana yang le­bih memilih jalan pintas, kadang-kadang dalam bentuk kekerasan. Saya sadar bahwa demokrasi yang sedang dijalankan sekarang ini di Indo­ne­sia sama sekali belum sehat, dan jika tidak cepat dibenahi, bisa men­jadi sumber malapetaka buat sementara. Tetapi untuk jangka panjang, tidak ada pilihan lain, kecuali melalui sistem demokrasi yang sehat dan kuat, Islam mo­de­rat dan inklusif akan tetap membimbing In­ do­ne­sia untuk mencapai tujuan kemerdekaan.

 

 

Jogjakarta, 18 Pebruari 2009


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengantar Editor

 

Musuh dalam Selimut
      
KH. Abdurrahman Wahid

 

 

Buku yang sedang Anda baca ini me­rupakan hasil penelitian
yang ber­langsung le­bih dari dua tahun dan dilakukan oleh Lib-
ForAll Foundation, sebuah institusi non-pe­me­rintah yang mem-
perjuangkan terwujudnya kedamaian, kebebasan, dan toleransi
di seluruh dunia yang diilhami oleh warisan tradisi dan budaya
bangsa Indo­ne­sia. Secara formal, kami bersama C. Holland Taylor
adalah pendiri-bersama LibForAll Foundation, dan bersama-sama
de­ngan KH. A. Mustofa Bisri, Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, Prof.
Dr. M. Amin Abdullah, Prof. Dr. Azyumardi Azra, Prof. Dr. Nasr
Hamid Abu-Zayd, Syeikh Musa Admani, Prof. Dr. Abdul Munir
Mulkhan, Dr. Sukardi Rinakit, dan Romo Franz Magnis-Suseno
men­jadi Penasehat LibForAll Foundation. Dalam kunjungan CEO
LibForAll Foundation ke Mesir pada akhir Mei 2008, Syeikh al-
Akbar al-Azhar, Muhammad Sayyid Tantawi juga menyatakan kes-
ediaannya untuk menasehati LibForAll Foundation dalam usaha
menghadirkan Islam se­bagai
rahmatan lil-‘âlamîn. Dan se­be­narnya,
siapa pun di seluruh dunia yang berhati baik, berkemauan baik,
dan punya perhatian kuat pada usaha-usaha mewujudkan keda-


 

 

 

 

12 | Ilusi Nega­ra Islam

 

maian, kebebasan, dan toleransi, secara kultural adalah keluarga LibForAll Foundation.

Dalam usaha dimaksud, LibForAll Foundation selalu meng­
utamakan pendekatan spiritual untuk menumbuhkan ke­sadaran
yang mampu mendorong transformasi individual maupun sosial.
Hal ini didasari kenyataan bahwa ke­te­gangan batiniah antara roh
dan hawa nafsu berdampak pada aktivitas lahiriah. Bahkan, ke­te­
gangan batiniah ini kerap memicu konflik-konflik lahiriah, baik
antarindividu maupun sosial. Dalam konteks inilah, sabda Kan-
jeng Nabi Muhammad saw. kepada para sahabat, “Rajanâ min jihâd
al-ashghar ilâ jihâd al-akbar” (Kita pulang dari jihad kecil menuju
jihad besar),1 sepulang dari perang Badr men­jadi sangat pen­ting

1.  Hadits ini sangat populer di antara para ulama tradisional dan para sufi,
namun dianggap lemah (dlâ‘if) oleh be­be­rapa pihak dan ditolak oleh sekte Wa-
habi. Secara riwâyah hadits ini memang dinilai lemah. Tapi secara dirâyah, hadits
ini konsisten de­ngan pesan utama jihad  dalam Islam. Ini bisa dilihat dalam
hadits lain se­kalipun de­ngan redaksi berbeda namun secara manâwî sejalan de­
ngan maksud hadits di atas, se­per­ti riwayat Ahmad ibn Hanbal, dalam hadits
nomor 24678, 24692, dan 24465, “
Al-Mujâhid man jâhada nafsahu li-Llâh atau fi
Allâh azz wa jall” (Mujahid adalah orang yang berjihad terhadap dirinya demi
Allah, atau dalam riwayat lain—dalam (‘jalan menuju’) Allah Yang Mahamulia
dan Mahaagung) [baca dalam: Abu ‘Abdillah Ahmad ibn Muhammad ibn Han-
bal,
Masnad Ahmad, (Cairo: Mauqi‘ Wizârat al-Auqâf al-Mishriyyah, tt.)]. Bisa
dilihat juga hadits yang dikemukakan dalam
Fath al-Qadîr karya al-Syaukânî,
Al-Mujâhid man jâhada nafsah fî thâ‘at Allâh” (Mujahid adalah orang yang berji-
had terhadap dirinya dalam ketaatan kepada Allah), diriwayatkan oleh Ibn Jarîr,
dan al-Hakim meyakininya shahih, diriwayatkan pula oleh Ibn Mardawaih dari
‘Aisyah [al-Syukânî, Fath al-Qadîr (Cairo: Mauqi‘ al-Tafâsir, tt.), Vol. 5, h. 142].
Hal pen­ting yang perlu ditekankan adalah bahwa jihad le­bih menekankan pada
usaha sungguh-sungguh untuk mengendalikan diri, mengendalikan hawa nafsu.
Al-Razy —misalnya— bahkan menekankan bahwa jihad dalam konteks perang
(
qitâl) pun harus diawali de­ngan kemenangan pertama dan terutama terhadap
diri sen­diri, se­per­ti tidak munafik, tidak riya’, dan tidak untuk ke­pen­tingan
sen­diri. Semua harus dilakukan secara ikhlas—yang berarti harus diawali de­ngan
usaha mengendalikan diri agar aktivitas apa pun yang akan dilakukan tidak di­
ken­dalikan oleh hawa nafsu (baca dalam: Fakhruddin al-Râzî,
Mafâtih al-Ghaib
(Cairo: Mauqi‘ al-Tafâsir, tt.), vol. 7, h. 474). Kesimpulannya, hadits Rajana min


 

 

 

Musuh dalam Selimut | 13

 

untuk kita renungkan. Mendengar per­nyataan tersebut, para saha-
bat sangat terkejut. Me­re­ka bertanya-tanya, perang (qitâl) apa lagi
yang le­bih dahsyat. Rasulullah saw. menjelaskan, “Pe­rang melawan
hawa nafsu.” Para sahabat terdiam, sadar betapa berat dan sulit
melawan musuh di dalam diri. Selain sulit diidentifikasi, melawan
musuh dalam selimut juga menuntut ketegasan dan ketegaran
emosional karena ia me­rupakan bagian tak terpisahkan dari diri
setiap orang.

Hawa nafsu adalah suatu ke­kuatan yang selalu menyimpan
potensi destruktif dan membuat jiwa selalu resah, gelisah, dan ti-
dak pernah te­nang. Para ulama kerap membandingkan hawa nafsu
de­ngan binatang liar. Siapa pun yang telah menjinakkan hawa naf-
sunya, dia akan te­nang dan mampu menggunakan nafsunya untuk
melakukan aktivitas dan/atau mencapai tujuan-tujuan luhur. Se-
baliknya, siapa pun yang masih dikuasai hawa nafsunya, dia akan
selalu gelisah dan ditunggangi oleh hawa nafsunya, dia mem­baha­
yakan dirinya dan orang lain.

Dari perspektif ini ada dua kate­go­ri manusia: Pertama, orang-
orang yang sudah mampu menjinakkan hawa nafsunya se­hingga
bisa memberi manfaat kepada siapa pun. Me­re­ka adalah pribadi-
pribadi yang te­nang dan damai (al-nafs al-muthmainnah) dan men­ja­
di representasi ke­hadiran spiritualitas, khalîfat Allah yang se­be­nar­
nya (dalam konteks Mahabharata, para Pandawa). Kedua, me­re­ka
yang masih dikuasai hawa nafsu se­hingga selalu men­jadi biang
keresahan dan masalah bagi siapa pun. Me­re­ka adalah pribadi-pri­
badi gelisah dan men­jadi biang ke­ge­lisahan sosial dan pembuat
masalah (al-nafs al-lawwâmah) dan men­jadi representasi ke­hadiran
hawa nafsu, orang-orang musyrik2 yang se­be­narnya (dalam konteks

 

jihâd al-ashghar ilâ jihâd al-akbar diterima oleh para ulama tradisional dan para sufi karena secara dirâyah sejalan de­ngan hadits-hadits lain yang secara riwâyah berada dalam kualitas shahih.

2.   “Para ahli tafsir mengatakan, orang musyrik ialah orang yang melakukan
ibadah, atau melakukan amal shaleh tidak li-Llâh, tidak karena Allah. Jadi, wa


 

 

 

 

14 | Ilusi Nega­ra Islam

 

Mahabharata, para Kurawa). Kedua ke­lom­pok ini hadir dalam ber­ bagai tingkat realitas dan interaksi sosial de­ngan intensitas yang be­ragam. Dari tingkat lokal, nasio­nal, hingga inter­nasio­nal; dalam bidang pen­didikan dan agama hingga bisnis dan politik; dalam urusan pribadi hingga ke­lom­pok, dan se­bagainya.

Pada kenyataannya, pertentangan antara jiwa-jiwa yang te­
nang de­ngan jiwa-jiwa yang resah ini mewarnai se­jarah semua
penjuru dunia, antara lain se­per­ti pertentangan Nabi Muhammad
saw. de­ngan kafir-musyrik di Hijaz. Namun satu hal yang unik di
Nusantara adalah, se­kalipun pertentangan semacam ini terjadi
berulang-ulang sejak masa nenek mo­yang bangsa Indo­ne­sia, ajaran
spiritual dan nilai-nilai luhur jiwa-jiwa yang te­nang tetap do­minan
di tanah air kita. Prinsip “Bhinneka Tunggal Ika” Mpu Tantular
misalnya, telah mengilhami para pengu­sa Nusantara dari jaman
Hindu-Budha hingga dewasa ini; dan Sunan Kalijogo —yang ter-
kenal akomodatif terhadap tradisi lokal— mendidik para pengu­sa

lam yusyrik bi ibâdati Rabbihi ahada (dan tidak menyekutukan apa pun dalam
ibadah kepada Tuhannya). Jadi dia melakukan se­suatu misalnya, dia berjuang
katanya —misalnya— untuk Islam, tapi sebetulnya untuk ke­pen­tingan dirinya
sen­diri, itu sebetulnya sudah menyekutukan Tuhan.” “Kamu jangan terjebak
godaan dunia… jangan terjebak gebyarnya materi, rayuan perempuan, misalkan,
jangan tergoda oleh jabatan, men­jadi kita sombong, lupa diri, …Kamu jangan
terjebak oleh jebakan yang ke­lihatannya untuk Allah, ke­lihatannya demi rakyat,
ke­lihatannya demi per­juangan, padahal tidak. Itu jebakan yang akan menjeru-
muskan kita, dikira orang kalau sudah jadi pemimpin, kalau ceramah banyak
orang tepuk tangan, orang di mana-mana menghormati, kemudian muncul ke-
sombongan dalam diri kita. Itu jebakan yang akan menjerumuskan kita, itu
berarti jebakan dari hawa nafsunya, dan dari ke­pen­tingannya. Itu yang disebut
al-syirk al-khafy, Musyrik yang tersembunyi, se­be­narnya.” “Lawan syirik adalah
ikhlas… Jadi orang yang musyrik adalah orang yang tidak ikhlas, yang dalam
ber­bagai perilakunya ia melibatkan ke­pen­tingan egonya, ke­pen­tingan dirinya,
ke­pen­tingan ke­lom­poknya, dan bukan semata-mata karena Allah. Jadi ada du-
alisme kepasrahan.” (Secara berurutan, penjelasan Prof. Jalaluddin Rakhmat,
Prof. KH. Said Aqil Siraj, dan KH. Masdar F. Mas‘udi dalam:
Lautan Wahyu:
Islam sebagai Rahmatan lil-
Âlamîn, episode 4: “Kaum Beriman,” Supervisor Pro-
gram: KH. A. Mustofa Bisri, ©LibForAll Foundation 2009).


 

 

 

Musuh dalam Selimut | 15

 

pribumi tentang Islam yang damai, toleran, dan spiritual. Melalui para muridnya, antara lain Sultan Adiwijoyo, Juru Martani, dan Senopati ing Alogo, Sunan Kalijogo berhasil menye­lamatkan dan melestarikan nilai-nilai luhur tersebut yang manfaatnya tetap bisa kita nikmati hingga dewasa ini.

Di Indo­ne­sia mo­dern pun kita menyaksikan ke­hadiran jiwa-
jiwa yang te­nang (al-nafs al-muthmainnah) ini —antara lain— dalam
proses kelahiran dan tumbuhnya ke­sadaran kebangsaan kita, khu-
susnya dalam dialog antara Islam dan nasionalisme Indo­ne­sia. Me-
mang tidak banyak yang tahu salah satu penggalan se­jarah konsep-
tual kebangsaan kita.3 Sejak tahun 1919, tiga sepupu secara intensif
mulai membicarakan hubungan antara Islam se­bagai seperangkat
ajaran agama de­ngan nasionalisme. Me­re­ka adalah H. O. S. Tjo­
kro­amino­to, KH. Hasjim Asy‘ari, dan KH. Wahab Chasbullah.
Belakangan, menantu Tjo­kro­amino­to, Soe karno yang ketika itu
baru berusia 18 tahun, terlibat aktif dalam pertemuan mingguan
yang ber­langsung bertahun-tahun tersebut. Kesadaran kebangsaan
inilah yang diwarisi oleh ge­ne­rasi berikutnya, se­per­ti Abdul Wahid
Hasjim (putra KH. Hasjim Asy‘ari), KH. A. Kahar Muzakkir dari
Yogyakarta (tokoh Muhammadiyah), dan H. Ahmad Djoyo Sugito
(tokoh Ahmadiyah).

Dalam muktamar di Banjarmasin pada tahun 1935, Nahdla­
tul Ulama memutuskan untuk tidak mendukung terbentuknya
Ne­gara Islam melainkan mendorong umat Islam untuk meng­mal­
kan ajaran agamanya demi terbentuknya masyarakat yang Islami
dan se­kaligus membolehkan pendirian ne­gara bangsa. Sepuluh
tahun kemudian, tokoh-tokoh Muslim Nusantara yang terlibat
dalam proses kemerdekaan menerima konsep Ne­gara Pancasila
yang disampaikan Soe karno, dan ke­banyakan pemimpin or­ganisa­
si-or­ganisasi Islam ketika itu menerima gagasan Soe karno tersebut.
Berdasarkan konsep kebangsaan yang kental de­ngan nilai-nilai kea­

3.  Benih ke­sadaran kebangsaan Indo­ne­sia bisa dianggap bermula pada 20 Mei 1908 de­ngan berdirinya Boe di Oetomo.


 

 

 

 

16 | Ilusi Nega­ra Islam

 

gamaan dan budaya bangsa inilah, pada tanggal 17 Agustus 1945
—atas nama bangsa Indo­ne­sia— Soe karno dan Muhammad Hatta
memproklamasikan kemerdekaan Indo­ne­sia, sebuah ne­gara bang­
sa yang meng­kui dan me­lindungi ke­ragaman budaya, tradisi, dan
kea­gamaan yang sudah men­jadi bagian inte­gral ke­hidupan bangsa
Indo­ne­sia.

Gagasan ne­gara bangsa ini adalah buah dari pahit getir penga­
laman se­jarah Nusantara sen­diri. Pada satu sisi, se­jarah panjang
Nusantara yang pernah melahirkan dan mengalami per­adaban-
per­adaban besar Hindu, Budha, dan Islam selama masa kerajaan
Sriwijaya, Sailendra, Mataram I, Kediri, Singosari, Majapahit, De-
mak, Aceh, Makasar, Goa, Mataram II, dan lain-lain telah mem-
perkuat ke­sadaran tentang siginifikansi melestarikan kekayaan dan
ke­ragaman budaya dan tradisi bangsa. Sementara pada sisi yang
lain, dialog te­rus-menerus antara Islam se­bagai seperangkat ajaran
agama de­ngan nasionalisme yang berakar kuat dalam pengalaman
bangsa Indo­ne­sia, telah menegaskan ke­sadaran bahwa ne­gara bang­
sa yang meng­kui dan me­lindungi be­ragam keyakinan, budaya, dan
tradisi bangsa Indo­ne­sia me­rupakan pilihan tepat bagi bangunan
ke­hidupan berbangsa dan ber­ne­gara. Pepatah Mpu Tantular, ajar­
an dan ge­rakan Sunan Kalijogo, serta keteladanan lain semacam-
nya, de­ngan tepat mengungkapkan ke­sadaran spiritual yang men­
jadi landasan kokoh Indo­ne­sia mo­dern dan me­lindunginya dari
per­pe­cahan sejak proklamasi kemerdekaan pada tahun 1945.

De­ngan segenap hubungan fluktuatif yang terjadi, semua ini
bukanlah sebuah proses yang mudah, ini me­rupakan fakta historis
yang harus kita sadari dan pahami. Beberapa periode se­jarah Nusan­
tara berlumur darah akibat konflik yang terjadi —antara lain— atas
nama agama. Para ulama se­per­ti Abikusno Tjokrosujoso, KH. A.
Kahar Muzakkir, H. Agus Salim, KH. A. Wahid Hasjim, Ki Bagus
Hadikusumo, Kasman Singodimejo, Teuku Mohammad Hassan,
dan tokoh-tokoh pen­ting Pendiri Bangsa lainnya, sadar bahwa ne­
gara yang akan me­re­ka perjuangkan dan pertahankan bukanlah


 

 

 

Musuh dalam Selimut | 17

 

ne­gara yang didasarkan pada dan untuk agama tertentu, melainkan ne­gara bangsa yang meng­kui dan me­lindungi segenap agama, be­ragam budaya dan tradisi yang telah men­jadi bagian inte­gral ke­ hidupan bangsa Indo­ne­sia.

Para Pendiri Bangsa sadar bahwa di dalam Pancasila tidak
ada prinsip yang ber­ten­tangan de­ngan ajaran agama. Sebaliknya,
prinsip-prinsip dalam Pancasila justru merefleksikan pesan-pesan
utama semua agama, yang dalam ajaran Islam dikenal se­bagai
maqâshid al-syarî‘ah, yaitu kemaslahatan umum (al-mashlahat al-‘âm-
mah, the common good). De­ngan ke­sadaran demikian me­re­ka meno-
lak pendirian atau for­malisasi agama dan menekankan substansin-
ya. Me­re­ka memposisikan ne­gara se­bagai institusi yang meng­kui
ke­ragaman, mengayomi semua ke­pen­tingan, dan me­lindungi sege-
nap keyakinan, budaya, dan tradisi bangsa Indo­ne­sia. De­ngan cara
demikian, melalui Pancasila me­re­ka menghadirkan agama se­bagai
wujud kasih sayang Tuhan bagi seluruh makhluk-Nya (rahmatan lil-
‘âlamîn) dalam arti se­be­narnya. Dalam konteks ideal Pancasila ini,
setiap orang bisa saling membantu untuk mewujudkan dan me-
ningkatkan ke­se­jahte­raan duniawi, dan setiap orang bebas beriba-
dah untuk meraih ke­se­jahte­raan ukhrawi tanpa mengabaikan yang
pertama.

Memang ada relasi fluktuatif antara agama (c.q. Islam) de­
ngan nasionalisme (c.q. Pancasila). Ada ke­lom­pok yang ingin
mendirikan ne­gara Islam melalui konstitusi (misalnya dalam Majlis
Konstituante) dan lainnya melalui ke­kuatan senjata (se­per­ti dalam
kasus DI/TII). Namun selalu ada mayo­ritas bangsa Indo­ne­sia (Mus­
lim dan non-Muslim) yang setuju de­ngan Pancasila dan memper-
juangkan gagasan para Pendiri Bangsa. Semua ini men­jadi pelajar­
an sangat berharga bagi ke­sadaran tentang pentingnya bangunan
ne­gara bangsa. Sikap ormas-ormas kea­gamaan, se­per­ti NU dan Mu­
hammadiyah misalnya, maupun parpol-parpol berhaluan kebang­
saan yang menyatakan bahwa Ne­gara Kesatuan Republik Indo­ne­
sia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 me­rupakan bentuk


 

 

 

 

18 | Ilusi Nega­ra Islam

 

final dan konsensus nasio­nal bangunan kebangsaan kita, bukanlah
sikap oportunisme politik melainkan ke­sadaran sejati yang didasar-
kan pada realitas historis, budaya, dan tradisi bangsa kita sen­diri
serta substansi ajaran agama yang kita yakini ke­be­narannya.

Sikap nasionalis ini juga me­rupakan suatu bentuk tanggung
jawab untuk menjamin masa depan bangsa agar tetap berjalan se­
suai de­ngan budaya dan tradisi Nusantara, dan se­suai pula de­ngan
nilai-nilai substantif ajaran agama yang sudah men­jadi bagian in­
te­gral ke­hidupan bangsa Indo­ne­sia. Sikap para tokoh nasionalis-
religius yang berjuang mempertahankan bangunan kebangsaan
NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 ini bisa disebut se­ba­
gai ke­hadiran jiwa-jiwa yang te­nang (
al-nafs al-muthmainnah), priba­
di-pribadi yang te­rus berusaha untuk memberi manfaat sebanyak
mungkin kepada siapa pun tanpa mempermasalahkan per­be­daan-
per­be­daan yang ada. Dan de­ngan cara demikian me­re­ka berjuang
keras mewujudkan kasih-sayang (
rahmat) bagi semua makhluk.

Sikap serupa tidak tampak pada be­be­rapa ormas maupun par-
pol yang bermunculan menjelang dan setelah berakhirnya kekua-
saan Orde Baru. Me­re­ka mengingatkan kita pada ge­rakan Darul
Islam (DI), karena se­per­ti DI, me­re­ka juga berusaha mengubah
ne­gara bangsa men­jadi ne­gara agama, mengganti ideo­lo­gi ne­gara
Pancasila de­ngan Islam versi me­re­ka, atau bahkan menghilangkan
NKRI dan menggantinya de­ngan Khilafah Islamiyah.

Tentang klaim-klaim implisit para aktivis garis keras bahwa
me­re­ka sepenuhnya memahami maksud kitab suci, dan kare-
na itu me­re­ka berhak men­jadi wakil Allah (khalîfat Allâh) dan
menguasai dunia ini untuk memaksa siapa pun mengikuti pe­ma­
haman ‘sempurna’ me­re­ka, sama sekali tidak bisa diterima baik
secara teo­lo­gis maupun politis. Me­re­ka benar bahwa kekuasan
hanya milik Allah swt. (
lâ hukm illâ li Allâh), tetapi tak seo rang
pun yang sepenuhnya memahami kekuasaan Allah swt. Karena
itu Nabi bersabda, “[K]alian tidak tahu apa se­be­narnya hukum Al-


 

 

 

Musuh dalam Selimut | 19

 

lah.”4 Ringkasnya, se­kalipun didasarkan pada al-Qur’an dan sun-
nah, fiqh —yang lazim digunakan se­bagai justifikasi teo­lo­gis kekua-
saan oleh me­re­ka— se­be­narnya adalah hasil usaha manusia yang
terikat de­ngan tempat, waktu, dan kemampuan penulis
fiqh yang
bersangkutan.

Tidak sadar atau mengabaikan prinsip-prinsip ini, para aktivis
garis keras berjuang mengubah Islam dari agama men­jadi ideo­lo­
gi. Pada gilirannya, Islam men­jadi dalih dan senjata politik untuk
mendiskreditkan dan me­nye­rang siapa pun yang pandangan poli-
tik dan pe­mahaman kea­gamaannya berbeda dari me­re­ka. Jargon
memperjuangkan Islam se­be­narnya adalah memperjuangkan suatu
agenda politik tertentu de­ngan menjadikan Islam se­bagai ke­mas­
an dan senjata. Langkah ini sangat ampuh, karena siapa pun yang
melawan me­re­ka akan dituduh melawan Islam. Padahal jelas tidak
demikian.

Pada saat yang sama, de­ngan dalih memperjuangkan dan
membela Islam, me­re­ka berusaha keras menolak budaya dan tradi­
si yang selama ini telah men­jadi bagian inte­gral ke­hidupan bangsa
Indo­ne­sia, me­re­ka ingin menggantinya de­ngan budaya dan tradisi
asing dari Timur Tengah, terutama kebiasaan Wahabi-Ikhwanul
Muslimin, semata karena me­re­ka tidak mampu membedakan aga­
ma dari kultur tempat Islam diwahyukan. Me­re­ka selalu bersikap
keras dan tak kenal kompromi seo lah-olah dalam Islam tidak ada
perintah
ishlah, yang ada hanya paksaan dan kekerasan. Karena si-
kap se­per­ti itu maka me­re­ka populer disebut se­bagai ke­lom­pok
garis keras.

Kita harus sadar bahwa jika Islam diubah men­jadi ideo­lo­gi
politik, ia akan men­jadi sempit karena dibingkai de­ngan batasan-
batasan ideo­lo­gis dan platform politik. Pe­mahaman apa pun yang
berbeda, apalagi ber­ten­tangan de­ngan pe­mahaman me­re­ka, de­

 

4.  Khaled Abou El Fadl, Atas Nama Tuhan: dari Fikih Otoriter ke Fikih Otoritatif, diterjemahkan dari Speaking in Gods Name: Islamic Law, Authority and Women (Jakarta: Serambi, 2003), h. 48.


 

 

 

 

20 | Ilusi Nega­ra Islam

 

ngan mudah akan dituduh ber­ten­tangan de­ngan Islam itu sen­diri, karena watak dasar tafsir ideo­lo­gi memang bersifat menguasai dan menyeragamkan. Dalam bingkai inilah aksi-aksi pangkafiran maupun pemurtadan sering dan mudah dituduhkan terhadap orang atau pihak lain. Perubahan ini de­ngan jelas mereduksi, mengamputasi, dan mengebiri pesan-pesan luhur Islam dari agama yang penuh de­ngan kasih sayang dan toleran men­jadi seperangkat batasan ideo­lo­gis yang sempit dan kaku.

Pada umumnya aspirasi ke­lom­pok-ke­lom­pok garis keras di In­
do­ne­sia dipe­ngaruhi oleh ge­rakan Islam transnasio­nal dari Timur-
Tengah, terutama yang berpaham Wahabi atau Ikhwanul Musli­
min, atau gabungan ke­duanya. Kelompok-ke­lom­pok garis keras di
Indo­ne­sia, termasuk partai politiknya, menyimpan agenda yang
berbeda dari ormas-ormas Islam mo­de­rat se­per­ti Muhammadiyah,
NU, dan partai-partai berhaluan kebangsaan. Dalam be­be­rapa
tahun terakhir sejak ke­munculannya, ke­lom­pok-ke­lom­pok garis
keras telah “berhasil” mengubah wajah Islam Indo­ne­sia mulai men­
jadi agresif, beringas, intoleran, dan penuh kebencian.
5 Padahal,
selama ini Islam Indo­ne­sia dikenal lembut, toleran dan penuh ke-
damaian (majalah inter­nasio­nal
Newsweek pernah menyebut Islam
Indo­ne­sia se­bagai “Islam with a smiling face”).

Kelompok-ke­lom­pok garis keras berusaha merebut simpati
umat Islam de­ngan jargon memperjuangkan dan membela Islam,
de­ngan dalih tarbiyah dan dakwah
amar marûf nahy munkar. Jar-
gon ini sering memperdaya banyak orang, bahkan me­re­ka yang ber-
pendidikan tinggi se­kalipun, semata karena tidak terbiasa berpikir
tentang spiritualitas dan esensi ajaran Islam. Me­re­ka mudah ter-
pancing, terpesona dan tertarik de­ngan simbol-simbol kea­gamaan.

 

5.  Misalnya, baca Laporan Tahunan the WAHID Institute 2008, Pluralisme Ber­
agama/Berkeyakinan di Indonesia, “Menapaki Bangsa yang Kian Retak,” dalam
http://www.wahidinstitute.org/Dokumen/Detail/?id=22/hl=id/Laporan_Ta-
hunan_The_WAHID_Institute_2008_Pluralisme_Ber­agama_Berkeyakinan_
Di_Indo­ne­sia


 

 

 

Musuh dalam Selimut | 21

 

Sementara ke­lom­pok-ke­lom­pok garis keras sen­diri memahami Is-
lam tanpa mengerti substansi ajaran Islam se­bagaimana dipahami
oleh para wali, ulama, dan Pendiri Bangsa. Pe­mahaman me­re­ka
tentang Islam yang telah dibingkai oleh batasan-batasan ideo­lo­gis
dan platform politiknya tidak mampu melihat, apalagi memahami,
ke­be­naran yang tidak se­suai de­ngan batasan-batasan ideo­lo­gis,
tafsir harfiah, atau platform politik me­re­ka. Karena terbatasnya
kemampuan memahami inilah maka me­re­ka mudah menuduh
ke­lom­pok lain yang berbeda dari me­re­ka atau tidak mendukung
agenda me­re­ka se­bagai kafir atau murtad.

Terkait de­ngan pengikutnya, ada orang-orang yang bergabung
dan mendukung garis keras karena me­re­ka terpesona dan tertarik
de­ngan simbol-simbol kegamaan yang dikampanyekan tokoh-to-
koh garis keras. Pada sisi yang lain, ada orang-orang yang memang
secara sengaja memperdaya masyarakat de­ngan meneriakkan sim-
bol-simbol kea­gamaan demi memuaskan agenda hawa nafsu me­
re­ka. Kita harus berusaha mengajak dan mengilhami masyarakat
untuk rendah hati, te­rus belajar dan bersikap terbuka agar bisa
memahami spiritualitas dan esensi ajaran Islam, dan men­jadi jiwa-
jiwa yang te­nang. Lebih dari itu, se­bagai bangsa kita harus sadar
bahwa apa yang para aktivis garis keras lakukan dan perjuangkan
se­be­narnya ber­ten­tangan de­ngan dan mengancam Pancasila dan
UUD 1945, dan bisa menghancurkan NKRI. Aksi-aksi anarkis,
pengkafiran, pemurtadan, dan ber­bagai pembunuhan karakter
lainnya yang sering me­re­ka lakukan adalah usaha untuk memecah
belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Kami sudah sering dituduh kafir dan murtad, tetapi kami
tetap te­nang-te­nang saja. Kelompok-ke­lom­pok garis keras mengu-
kur ke­be­naran pe­mahaman agama secara ideo­lo­gis dan politis, se-
mentara kami mendasarkan pe­mahaman dan praktik kea­gamaan
kami pada semangat rahmat dan spiritual yang terbuka. Kami ber-
pedoman pada paham Ahlussunnah wal Jamâ‘ah, sementara me­re­
ka mewarisi kebiasaan ekstrem Khawârij yang gemar mengkafirkan


 

 

 

 

22 | Ilusi Nega­ra Islam

 

dan memurtadkan siapa pun yang berbeda dari me­re­ka, kebiasaan
buruk yang dipelihara oleh Wahabi dan kaki tangannya.6
               
Karena ke­lom­pok-ke­lom­pok garis keras menganggap setiap Muslim lain yang berbeda dari me­re­ka se­bagai kurang Islami, atau bahkan kafir dan murtad, maka me­re­ka melakukan infiltrasi ke masjid-masjid, lembaga-lembaga pen­didikan, instansi-instansi pe­ me­rintah maupun swasta, dan ormas-ormas Islam mo­de­rat, teruta-
ma Muhammadiyah dan NU, untuk mengubahnya men­jadi keras
dan kaku juga. Me­re­ka mengklaim memperjuangkan dan membela
Islam, padahal yang dibela dan diperjuangkan adalah pe­mahaman
yang sempit dalam bingkai ideo­lo­gis dan platform politik me­re­ka,
bukan Islam itu sen­diri. Me­re­ka berusaha keras menguasai Mu­
hammadiyah dan NU karena ke­duanya me­rupakan ormas Islam
yang kuat dan terbanyak pengikutnya. Selain itu, ke­lom­pok-ke­lom­
pok ini menganggap Muhammadiyah dan NU se­bagai penghalang
utama pencapaian agenda politik me­re­ka, karena ke­duanya sudah
lama memperjuangkan substansi nilai-nilai Islam, bukan for­malisa­
si Islam dalam bentuk ne­gara maupun pe­ne­rapan syariat se­bagai
hukum positif.

Infiltrasi ke­lom­pok garis keras ini telah menyebabkan ke­gaduh­
an dalam tubuh ormas-ormas Islam besar tersebut. Dalam konteks
inilah kami ingat pada pertarungan tanpa henti dalam diri manu-
sia (
insân shaghîr), yakni pertarungan antara jiwa-jiwa yang te­nang
(
al-nafs al-muthmainnah) melawan hawa nafsu (al-nafs al-lawwâmah),

 

6. “Lebih dalam lagi, adalah orang yang memahami keimanan secara monopo-
listik, jadi seakan-akan yang tidak se­per­ti pe­mahaman dia, itu sudah tidak iman
lagi. Ini se­be­narnya fenomena lama, tidak hanya sekarang. Dulu pada saat
Sayyidina Alî Karram Allâh Wajhah (semoga Allah memuliakannya) kita kenal
sebuah ke­lom­pok namanya
Khawarij yang mengkafirkan semua orang di luar
golongannya. Nah ini sampai sekarang reinkarnasinya masih ada, se­hingga se­
per­ti Azhari datang ke Indo­ne­sia
ngebom, itu dia merasa mendapat pahala,”
(Penjelasan DR. (HC) KH. Hasyim Muzadi dalam: Lautan Wahyu: Islam sebagai
Rahmatan lil-Âlamîn, episode 3: “Umat,” Supervisor Program: KH. A. Mustofa
Bisri, ©LibForAll Foundation 2009).


 

 

 

Musuh dalam Selimut | 23

 

atau pertarungan antara Pandawa melawan Kurawa. Sementara
yang pertama berusaha mewujudkan kedamaian dan ketenangan,
maka yang ke­dua selalu membuat ke­gaduhan, keributan, dan keka-
cauan.

Ge­rakan garis keras transnasio­nal dan kaki tangannya di Indo­
ne­sia se­be­narnya telah lama melakukan infiltrasi ke Muhammadi­
yah. Dalam Muktamar Muhammadiyah pada bulan Juli 2005 di
Malang, para agen ke­lom­pok-ke­lom­pok garis keras, termasuk ka­
der-kader PKS dan Hizbut Tahrir Indo­ne­sia (HTI), mendominasi
banyak forum dan berhasil memilih be­be­rapa simpatisan ge­rakan
garis keras men­jadi ke­tua PP. Muhammadiyah. Namun demikian,
baru setelah Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan mudik ke desa Sen-
dang Ayu, Lampung, masalah infiltrasi ini men­jadi kontroversi be-
sar dan terbuka sampai tingkat inter­nasio­nal.
7

Masjid Muhammadiyah di desa kecil Sendang Ayu —yang du-
lunya damai dan te­nang— men­jadi ribut karena dimasuki PKS yang
membawa isu-isu politik ke dalam masjid, gemar mengkafirkan
orang lain, dan menghujat ke­lom­pok lain, termasuk Muhammadi­
yah sen­diri. Prof. Munir kemudian memberi penjelasan kepada
masyarakat tentang cara Muhammadiyah meng­tasi per­be­daan
pendapat, dan karena itu masyarakat tidak lagi membiarkan orang
PKS memberi khotbah di masjid me­re­ka. Dia lalu menuliskan ke-
prihatinannya dalam
Suara Muhammadiyah.8 Artikel ini menyulut
diskusi serius tentang infiltrasi garis keras di lingkungan Muham­
madiyah yang sudah terjadi di banyak tempat, de­ngan cara-cara
yang halus maupun kasar hingga pemaksaan.

Artikel Prof. Munir mengilhami Farid Setiawan, Ketua Umum
Dewan  Pimpinan  Daerah  Ikatan  Mahasiswa  Muhammadiyah

 

7.  Baca Bret Stephens, “The Exorcist: Indo­ne­sian man see ks to create an Islam
that will make peo ple smile’,” dalam http://www.opinionjournal.com/colum-
nists/bstephens/?id=110009922

8.  Abdul Munir Mulkhan, “Sendang Ayu: Pergulatan Muhammadiyah di Kaki Bukit Barisan,” Suara Muhammadiyah, 2 Januari 2006.


 

 

 

 

24 | Ilusi Nega­ra Islam

 

(DPD IMM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), membicarakan
infiltrasi garis keras ke dalam Muhammadiyah secara le­bih luas
dalam dua artikel di Suara Muhammadiyah. Dalam yang pertama,
“Ahmad Dahlan Menangis (Tanggapan terhadap Tulisan Abdul
Munir Mulkhan),”
9 Farid mendesak agar Muhammadiyah segera
mengamputasi virus kanker yang, menurut dia, sudah masuk ka­
te­go­ri stadium empat. Karena jika diam saja, “tidak tertutup ke­
mungkinan ke depan Muhammadiyah hanya memiliki usia se­suai
de­ngan umur para pimpinannya sekarang. Dan juga tidak tertutup
ke­mungkinan jika Alm. KH. Ahmad Dahlan dapat bangkit dari
liang kuburnya akan terseo k dan menangis meratapi kondisi yang
telah menimpa kader dan anggo­ta Muhammadiyah”
10 yang sedang
direbut oleh ke­lom­pok-ke­lom­pok garis keras.

Dalam artikelnya yang ke­dua, “Tiga Upaya Mu‘allimin dan
Mu‘allimat,”  Farid  mengungkapkan  bahwa “produk  pola  ka­

derisasi yang dilakukan ‘virus tarbiyah11 membentuk diri serta jiwa
para kadernya men­jadi seo rang yang berpe­mahaman Islam yang

 

9.  Baca Farid Setiawan, “Ahmad Dahlan Menangis (Tanggapan terhadap Tulisan Abdul Munir Mulkhan),” Suara Muhammadiyah, 20 Februari 2006.

10.  Ibid.

11.       “Ge­rakan Tarbiyah pada awal kelahirannya era tahun 1970-an dan 1980-an
me­rupakan ge­rakan (harakah) dakwah kampus yang menggunakan sistem pem-
binaan (pen­didikan) Tarbiyah Ikhwanul Muslimin di ne­ge­ri Mesir. Kelompok
ini cukup militan dan me­rupakan gejala baru se­bagai ge­rakan Islam ideo­lo­gis,
yang berbeda dari arus besar Islam Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama se­
bagai ge­rakan Islam yang bercorak mo­de­rat dan kultural. Para aktivis ge­rakan
Tarbiyah kemudian melahirkan Partai Ke­adilan (PK) tahun 1998 yang berubah
men­jadi Partai Ke­adilan Se­jahte­ra (PKS) tahun 2004. Di belakang hari PKS
menjadikan Tarbiyah
a la Ikhwanul Muslimin itu se­bagai sistem pembinaan
dan perekrutan anggo­ta. Maka ge­rakan Tarbiyah tidak terpisah dari PK/PKS,
ke­duanya memiliki napas inspirasi ideo­lo­gis de­ngan Ikhwanul Muslimin, dan
se­bagai media/instrumen pen­ting dari Partai Ke­adilan Se­jahte­ra yang dikenal
bersayap dakwah dan politik.” (Baca sampul belakang: Haedar Nashir,
Mani-
festasi Gerakan Tarbiyah: Bagaimana Sikap Muhammadiyah?, cet. Ke-5, Yogyakarta:
Suara Muhammadiyah, 2007).


 

 

 

Musuh dalam Selimut | 25

 

ekstrem dan radikal. Dan pola kaderisasi tersebut sudah menye-
bar ke ber­bagai penjuru Muhammadiyah. Hal ini menyebabkan
kekecewaan yang cukup tinggi di kalangan warga dan Pimpinan
Muhammadiyah. Putra-putri me­re­ka yang diharapkan men­jadi ka­
der penggerak Muhammadiyah malah bisa berbalik memusuhi Mu­
hammadiyah.”
12

Menyadari betapa jauh dan dalam infiltrasi virus tarbiyah ini,
Farid mengusulkan tiga langkah untuk menye­lamatkan Muham­
madiyah. Pertama adalah membubarkan sekolah-sekolah kader Mu­
hammadiyah, karena virus tarbiyah merusaknya sedemikian rupa;
kedua, merombak sistem, kurikulum dan juga seluruh peng­rus,
guru, sampai de­ngan musyrif dan musyrifah yang terlibat dalam ge­
rakan ideo­lo­gi non-Muhammadiyah dan ke­pen­tingan politik lain;
ketiga, memberdayakan seluruh or­ganisasi otonom (ortom) di ling­
kungan Muhammadiyah.
13

Artikel Munir dan Farid menimbulkan kontroversi dan po-
lemik keras antara pimpinan Muhammadiyah yang setuju dan
tidak. Salah satu keprihatinan utama me­re­ka yang setuju adalah
bahwa institusi, fasilitas, anggo­ta dan sumber-sumber daya Muham­
madiyah telah digunakan ke­lom­pok-ke­lom­pok garis keras untuk
selain ke­pen­tingan dan tujuan Muhammadiyah. Di tengah panas-
nya polemik me­nge­nai ge­rakan virus tarbiyah, salah seo rang Ketua
PP. Muhammadiyah, Dr. Haedar Nashir, mengklarifikasi isu-isu di-
maksud dalam sebuah buku tipis yang berjudul
Manifestasi Gerakan
Tarbiyah: Bagaimana Sikap Muhammadiyah?
14

Kurang dari tiga bulan setelah buku tersebut terbit, Pengurus
Pusat (PP) Muhammadiyah mengeluarkan  Surat Keputusan Pim­
pinan Pusat (SKPP) Muhammadiyah Nomor 149/Kep/I.0/B/2006

 

12.  Farid Setiawan, “Tiga Upaya Mu‘allimin dan Mu‘allimat,” Suara Muham­ madiyah, 3 April 2006.

13.  Ibid.

14.  Haedar Nashir, Manifestasi Gerakan Tarbiyah: Bagaimana Sikap Muhammadi­ yah? Cet. Ke-5 (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2007).


 

 

 

 

26 | Ilusi Nega­ra Islam

 

untuk “menye­lamatkan Muhammadiyah dari ber­bagai tindakan
yang merugikan Per­syarikatan” dan membebaskannya “dari pe­nga­
ruh, misi, infiltrasi, dan ke­pen­tingan partai politik yang selama
ini mengusung misi dakwah atau partai politik bersayap dakwah”
karena telah memperalat ormas itu untuk tujuan politik me­re­ka
yang ber­ten­tangan de­ngan visi-misi luhur Muhammadiyah se­bagai
or­ganisasi Islam mo­de­rat:

 

“...Muhammadiyah pun berhak untuk dihormati
oleh siapa pun serta memiliki hak serta keabsahan
untuk bebas dari segala campur tangan, pe­nga­
ruh, dan ke­pen­tingan pihak manapun yang dapat
mengganggu ke­utuhan serta kelangsungan ge­rak­
annya” (Konsideran poin 4). “Segenap anggo­ta

Muhammadiyah perlu menyadari, memahami, dan
bersikap kritis bahwa seluruh partai politik di ne­
ge­ri ini, termasuk partai politik yang mengklaim
diri atau mengembangkan sayap/kegiatan dakwah
se­per­ti  Partai  Ke­adilan  Se­jahte­ra (PKS)  adalah

benar-benar partai politik. Setiap partai politik
berorientasi  meraih  kekuasaan  politik.  Karena
itu, dalam menghadapi partai politik manapun
kita harus tetap berpijak pada Khittah Muham­
madiyah dan harus membebaskan diri dari, serta
tidak menghimpitkan diri de­ngan misi, ke­pen­ting­
an, kegiatan, dan tujuan partai politik tersebut”
(Keputusan poin 3).15

 

 

 

 

15.  SKPP Muhammadiyah Nomor 149/Kep/I.0/B/2006. Untuk membaca teks lengkap SKPP, lihat dalam lampiran 1.


 

 

 

Musuh dalam Selimut | 27

 

Keputusan ini dapat dipahami, karena pada kenyataannya
PKS tidak hanya “menimbulkan masalah dan konflik de­ngan
sesama dan dalam tubuh umat Islam yang lain, termasuk dalam
Muhammadiyah,”16 tapi menurut para ahli politik juga me­rupakan
ancaman yang le­bih besar dibandingkan Jemaah Islamiyah (JI) ter-
hadap Pancasila, UUD 1945, dan NKRI. Menurut seo rang ahli
politik dan garis keras Indo­ne­sia, Sadanand Dhume,

“Hanya ada pemikiran kecil yang membedakan PKS dari
JI. Seperti JI, manifesto pendirian PKS adalah untuk
memperjuangkan Khilafah Islamiyah. Seperti JI, PKS
menyimpan rahasia se­bagai prinsip pengorganisasiannya,
yang dilaksanakan de­ngan sistem sel yang ke­duanya pin-
jam dari Ikhwanul Muslimin.... Bedanya, JI bersifat re­

vo­lusio­ner sementara PKS bersifat evo­lusio­ner. De­ngan
bom-bom bunuh dirinya, JI menempatkan diri melawan
pe­me­rintah, tapi JI tidak mungkin menang. Sebaliknya,
PKS menggunakan posisinya di parlemen dan jaringan
kadernya yang te­rus menjalar untuk memperjuangkan
tujuan yang sama selangkah demi selangkah dan suara
demi suara... Akhirnya, bangsa Indo­ne­sia sen­diri yang
akan memutuskan apakah masa depannya akan sama
de­ngan ne­gara-ne­gara Asia Tenggara yang lain, atau ikut
ge­rakan yang berorientasi ke masa lalu de­ngan busana
jubah fundamen­talisme kea­gamaan. PKS te­rus berjalan.
Seberapa jauh ia berhasil akan menentukan masa depan
Indo­ne­sia.”
17

 

 

 

16.  Ibid, Haedar Nashir, h. 66.

17.  Sadanand Dhume, “Indo­ne­sian Democracy’s Enemy Within: Radical Islamic party threatens Indo­ne­sia with ballots more than bullets,” dalam the Far Eastern Economic Reiew, Mei 2005.


 

 

 

 

28 | Ilusi Nega­ra Islam

 

Namun, se­bagaimana ditunjukkan oleh studi yang dipaparkan
dalam buku ini, se­kalipun SKPP tersebut telah diterbitkan pada
bulan Desember 2006, hingga kini belum bisa diimplementasikan
secara efektif. Ge­rakan-ge­rakan Islam transnasio­nal (Wahabi, Ikh­
wanul Muslimin, dan Hizbut Tahrir) dan kaki tangannya di Indon-
sia sudah melakukan infiltrasi jauh ke dalam Muhammadiyah dan
mematrikan hubungan de­ngan para ekstremis yang sudah lama
ada di dalamnya. Keduanya te­rus aktif merekrut para anggo­ta dan
pemimpin Muhammadiyah lain untuk ikut aliran ekstrem, se­per­ti
yang terjadi saat Cabang Nasyiatul Aisyiyah (NA) di Bantul masuk
PKS secara serentak (
en masse). Sementara Farid Setiawan prihatin
bahwa mungkin Muhammadiyah hanya akan mempunyai usia se­
suai de­ngan umur para peng­rusnya, ge­rakan garis keras justru te­
rus berusaha merebut Muhammadiyah untuk menggunakannya se­
bagai kaki tangan me­re­ka berikutnya de­ngan umur yang panjang.
Banyak tokoh mo­de­rat Muhammadiyah prihatin bahwa garis keras
bisa mendominasi Muktamar Muhammadiyah 2010, karena akti-
vis garis keras semakin kuat dan banyak.

Persis karena infiltrasi yang semakin kuat inilah, tokoh-tokoh
mo­de­rat Muhammadiyah menganggap situasi semakin berbahaya,
baik bagi Muhammadiyah sen­diri maupun bangsa Indo­ne­sia. Kita
harus bersikap jujur dan terbuka serta berterus terang dalam meng-
hadapi semua masalah yang ada, agar apa pun yang kita lakukan
bisa men­jadi pelajaran bagi semua umat Islam dan mampu mende-
wasakan me­re­ka dalam ber­agama dan berbangsa.

Salah satu temuan yang sangat mengejutkan para peneliti la-
pangan adalah fenomena rangkap anggo­ta atau dual membership,
terutama antara Muhammadiyah dan garis keras, bahkan tim
peneliti lapangan memperkirakan bahwa sampai 75% pemimpin
garis keras yang diwawancarai punya ikatan de­ngan Muhammadi­
yah.

Selain terhadap Muhammadiyah, penyusupan juga terjadi se-
cara sistematis terhadap NU. Realitas fungsi strategis masjid men-


 

 

 

Musuh dalam Selimut | 29

 

dorong ke­lom­pok-ke­lom­pok garis keras te­rus berusaha merebut dan menguasai masjid de­ngan segala cara yang mungkin, termasuk yang tak pernah terpikirkan kecuali oleh penyusup itu sen­diri. KH. Mu‘adz Thahir, Ketua PCNU Pati, Jawa Tengah, menceritakan tentang ke­lom­pok garis keras berhasil masuk ke masjid-masjid NU de­ngan memberikan cleaning service gratis.

Awalnya, seke­lom­pok anak muda datang membersihkan mas-
jid secara suka rela, demikian berulang-ulang. Tertarik de­ngan ke­
sungguhan me­re­ka, takmir memberinya kesempatan beradzan, lalu
melibatkannya se­bagai anggo­ta takmir masjid. De­ngan pandai dan
cekatan me­re­ka melakukan tugas-tugas itu. Tentu saja karena me­
re­ka memang agen yang khusus me­nyusup untuk mengambil alih
masjid. Setelah posisinya semakin kuat, me­re­ka mulai mengundang
teman-temannya bergabung dalam struktur takmir, dan akhirnya
menentukan siapa yang men­jadi imam, khatib, dan mengisi pe­nga­
jian dan yang tidak boleh. Bahkan, menentukan apa yang boleh
dan harus disampaikan, dan apa yang tidak boleh. Secara perla-
han tapi pasti, masjid jatuh ke tangan ke­lom­pok garis keras se­hing­
ga tokoh setempat yang biasa memberi pe­ngajian dan khotbah di
masjid tersebut ke­hilangan kesempatan mengajarkan Islam kepada
jamaahnya, bahkan ke­hilangan masjid dan jamaahnya, kecuali jika
bersedia menerima dan mengikuti ideo­lo­gi keras me­re­ka.

Kasus di Pati ini hanya salah satu dari sejumlah kasus peny-
erobotan masjid yang sering dilakukan di lingkungan Nahdliyin.
Jika kasus ini digambarkan dalam sebuah film, penonton akan
berpikir bahwa ini hasil imaginasi sutradara. Tapi se­be­narnya ini
adalah manifestasi
ideologi, dana, dan sistem ge­rakan Islam transna­
sio­nal dan kaki tangannya di Indo­ne­sia yang te­rus bergerak untuk
menguasai ne­ge­ri kita. Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian
besar penyerobot masjid NU adalah ke­lom­pok PKS dan HTI.

Setelah menyadari banyak masjid dan jamaahnya diserobot
oleh ke­lom­pok-ke­lom­pok garis keras, NU mulai melakukan kon-
solidasi de­ngan menata kembali organisasinya, antara lain, di mas-


 

 

 

 

30 | Ilusi Nega­ra Islam

 

jid-masjid. PBNU menyatakan de­ngan tegas bahwa ge­rakan Islam
transnasio­nal se­per­ti al-Qaidah, Ikhwanul Muslimin (yang di sini
direpresentasikan oleh PKS—red.), dan Hizbut Tahrir adalah ge­rak­
an politik yang berbahaya karena mengancam paham Ahlussunnah
wal Jamâ‘ah, dan berpotensi memecah-belah bangsa.18 Kemampuan
me­re­ka berpura-pura bisa menerima paham dan tradisi NU juga
membuat me­re­ka sangat berbahaya karena bisa me­nyusup kapan
saja dan ke mana saja. Sementara terkait de­ngan isu khilafah yang
diperjuangkan HTI, Majlis Bahtsul Masa’il memutuskan bahwa
Khilafah Islamiyah tidak memiliki rujukan teo­lo­gis, baik di dalam
al-Qur’an maupun hadits.
19

Walaupun di be­be­rapa tempat NU telah berhasil mengusir
ke­lom­pok garis keras, namun di banyak tempat upaya penyusupan
dan penyerobotan masjid dan jamaah NU te­rus dilakukan. Secara
umum, se­bagaimana ditunjukkan penelitian ini, penyusupan garis
keras jauh le­bih gencar daripada upaya NU untuk mengusirnya.
Jika ini te­rus dibiarkan maka bukan tidak mungkin bahwa NU
akan ke­hilangan presentase signifikan jumlah jamaah dan masjid-
masjidnya, dan berubah men­jadi kurang spiritul dan le­bih keras.

Penyusupan garis keras di lingkungan NU, dan kegagalan or-
mas terbesar dunia ini menghentikan infiltrasinya ke pemerintah-
an, MUI dan bidang-bidang strategis lain secara umum di ne­gara
ini, salah satu sebabnya terjadi karena fenomena “kyai materi” yang
tersebar luas. “Kyai-kyai materi” le­bih meng­tamakan ke­pen­tingan
pribadinya daripada ke­pen­tingan jamaah dan jam‘iyah NU serta
ne­gara. Puluhan juta jamaah NU yang terkonsentrasi di desa-desa

 

18.  PBNU mendesak pe­me­rintah mencegah masuknya ideo­lo­gi transnasio­nal ke Indo­ne­sia. Jauh se­be­lumnya, almarhum KH. Yusuf Hasjim meminta PBNU memotong masuknya ideo­lo­gi transnasio­nal karena berbahaya bagi NU dan In­ do­ne­sia. (Pidato disampaikan dalam pe­ringatan 100 hari wafatnya KH. Yusuf Hasjim, di Jombang, Jawa Timur; baca NU Online, “PBNU Desak Pe­me­rintah Cegah Ideo logi Transnasio­nal,” Ahad, 29 April 2007).

19.  Lihat Lampiran 2 buku ini.


 

 

 

Musuh dalam Selimut | 31

 

dan daerah-daerah tertentu, adalah ke­lom­pok pemilih terbesar (the
largest single group of voters
) di Indo­ne­sia. Suara me­re­ka bisa menen-
tukan siapa yang akan terpilih untuk naik ke kursi DPRD, DPR,
Bupati, Gubernur dan Presiden. Realitas ini mendorong banyak
parpol tergoda untuk memanipulasi NU dan memanfaatkan hu­
bungan de­ngan kyai-kyai materi demi ke­pen­tingan politik me­re­ka.
Karena sifat dasar manusia, ada kyai-kyai yang merindukan amplop
atau kedudukan politik kemudian maju untuk men­jadi peng­rus
NU di tingkat cabang, wilayah, atau pusat, se­bagai jembatan untuk
memanfaatkan dan dimanfaatkan oleh parpol-parpol dan politisi
tertentu.

Pada saat yang sama, banyak kyai-kyai spiritual yang mundur
dari arena penuh pamrih dan ke­pen­tingan pribadi tersebut dan
hanya berbagi ilmu de­ngan orang-orang yang datang tanpa pam-
rih untuk mendekati Tuhan, bukan kedudukan. De­ngan jumlah
anggo­ta sekitar empat puluh juta, NU —bersama Muhammadi­
yah— betul-betul bisa men­jadi soko guru yang mampu untuk tetap
menyangga bangunan ne­gara dan bangsa Indo­ne­sia. Tetapi, untuk
bisa memenuhi amanah tersebut, NU harus melakukan revitalisasi
spiritual dan kembali ke nilai-nilai utamanya. De­ngan cara demiki-
an, para ulama bisa membimbing yang berkuasa dan tidak membi-
arkan dirinya diperalat oleh me­re­ka. Nenek mo­yang kita meyakini
hal ini se­bagai
dharma manusia, dan karena alasan itulah wayang
kulit selalu menggambarkan raja-raja bersikap hormat dan tunduk
kepada para resi, dan bukan sebaliknya.

Dewasa ini, kultur wayang yang khas Indo­ne­sia dan penuh ni-
lai-nilai luhur sudah mulai tersisih oleh kultur asing. Adopsi kultur
asing secara tidak cerdas akan membuat bangsa Indo­ne­sia ke­hilang­
an jatidirinya se­bagai bangsa. Hal ini bisa dilihat —antara lain—
dalam kasus yang terjadi di Cairo pada awal tahun 2004. Saat itu
salah seo rang Ketua PBNU diundang menyampaikan paper dalam
forum Pen­didikan dan Bahtsul Masa’il Islam Emansipatoris ber-
sama Prof. Dr. Hassan Hanafi dan Dr. Youhanna Qaltah. Sehari


 

 

 

 

32 | Ilusi Nega­ra Islam

 

sebelum paper disampaikan, Presiden Perhimpunan Pelajar dan
Mahasiswa Indo­ne­sia (PPMI) Mesir dan teman-temannya masuk
ke hotel Sonesta tempat acara akan dilaksanakan dan mengancam
Ketua PBNU dimaksud menyajikan papernya. Me­re­ka mengan-
cam, jika larangannya tidak diindahkan, apa pun akan dilakukan
untuk menghentikan, termasuk pembunuhan. “Kalau Bapak ma-
sih bersikeras, saya sen­diri yang akan membunuh Bapak,” ancam
Limra Zainuddin, Presiden PPMI.
20 Setelah diselidiki, konon para
mahasiswa tadi adalah para aktivis PK (PKS) di Cairo.
21

Sebagai Muslim, mahasiswa itu seharusnya bersikap tawâdlu
(rendah hati), menghormati yang le­bih tua dan menyayangi yang
le­bih muda (laisa minnâ man lam yukrim kibâranâ wa lam yarham
shighâranâ). Namun semua ini tidak terjadi karena tidak adanya pe­
mahaman dan internalisasi ajaran Islam yang penuh spiritualitas,
dan me­re­ka telah mengadop­si kultur asing secara tidak cerdas.
Dua hal ini bisa membuat siapa pun mudah terjebak ke dalam
pe­mahaman-pe­mahaman yang sempit dan kaku. Siapa pun yang
tidak mempunyai pe­mahaman yang mendalam tentang Islam, khu-
susnya tentang hakikat dan ma‘rifat, akan melihat bahwa apa yang
disampaikan ke­lom­pok-ke­lom­pok garis keras sama belaka se­per­ti
yang dipahami oleh ke­banyakan umat Islam. Me­re­ka mengguna­
kan bahasa yang sama de­ngan umat Islam pada umumnya, se­per­ti
dakwah, amar marûf nahy munkar atau Islam rahmatan lil-‘âlamîn,
tapi se­be­narnya me­re­ka memahaminya secara berbeda.22

 

20.  Baca “Gertak Mati Pengawal Akidah,” dalam Gatra edisi 14, beredar Jum’at

13 Pebruari 2004.

21.  Interview de­ngan salah seo rang alumni Universitas al-Azhar Cairo asal In­ do­ne­sia angkatan 2000.

22.  “Karena ge­rakan ideo­lo­gis sering tidak terasa dan disadari oleh me­re­ka yang
dimasukinya, maka secara sistematis berkembang men­jadi besar dan merasuk.
Lebih-le­bih jika ge­rakan ideo­lo­gi tersebut membawa ideo­lo­gi Islam yang puritan
dan militan, se­hingga bagi yang menganggapnya se­bagai masalah justeru yang
akan disalahkan adalah me­re­ka yang mempermasalahkannya. Menentang me­re­
ka berarti alergi Islam atau anti ukhuwah. De­ngan demikian ge­rakan ideo­lo­gis


 

 

 

Musuh dalam Selimut | 33

 

Di tangan me­re­ka, amar marûf nahy munkar telah dijadikan
legitimasi untuk melakukan pemaksaan, kekerasan, dan pe­nye­rang­
an terhadap siapa pun yang berbeda. Me­re­ka berdalih memper-
juangkan
al-marûf dan menolak al-munkar setiap kali melakukan
aksi-aksi kekerasan atau pun mendiskreditkan orang atau pihak
lain. Sementara konsep
rahmatan lil-‘âlamîn digunakan se­bagai da-
lih for­malisasi Islam, memaksa pihak lain menyetujui tafsir me­re­
ka, dan menuduh siapa pun yang berbeda atau bahkan menolak
tafsir me­re­ka se­bagai menolak konsep
rahmatan lil-‘âlamîn, sebelum
akhirnya dicap murtad dan kafir. Padahal, se­be­narnya semangat
dasar dakwah adalah memberi informasi dan mengajak, dan Is-
lam menjamin kebebasan dalam ber­agama (lâ ikrâh fi al-dîn [QS.
al-Baqarah, 2: 256]).
23 Di sini kita melihat kontradiksi mendasar
antara aktivitas ke­lom­pok-ke­lom­pok garis keras de­ngan ajaran Is-
lam yang penuh kasih sayang, toleran, dan terbuka.

Penggunaan bahasa yang sama ini membuat me­re­ka men­jadi
sangat berbahaya, karena de­ngan bahasa yang sama me­re­ka mu-
dah mengecoh banyak umat Islam dan mudah pula me­nyusup ke
mana-mana dan kapan saja. De­ngan strategi demikian, ditambah
militansi yang tinggi dan dukungan dana yang kuat dari luar dan
dalam ne­ge­ri, ke­lom­pok-ke­lom­pok garis keras ini telah me­nyusup

se­per­ti itu akan semakin mekar dan berekspansi secara sistematik, yang di kemudian hari baru dirasakan se­bagai masalah serius tetapi keadaan sudah tidak dapat dicegah dan diken­dalikan karena telah meluas se­bagai ge­rakan yang dianut oleh banyak orang. Daya infiltrasi ge­rakan ideo­lo­gis memang ber­langsung tersistem dan meluas, yang sering tidak disadari oleh banyak pihak,” (Haedar Nashir, Manifestasi Gerakan Tarbiyah: Bagaimana Sikap Muhammadiyah? Cet. Ke-5 [Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2007], h. 59).

23.  “Pe­ran pe­me­rintah, praktisi dakwah, ulama, dan intelektual harus memberi nasehat kepada  yang [berdakwah secara] salah. Jika me­re­ka tidak menerima nasehat ini, pe­me­rintah harus menerapkan hukum de­ngan menangkap me­re­ka dan menghukumnya se­suai de­ngan kesalahannya,” (Penjelasan Syeikh al-Akbar al-Azhar, Muhammad Sayyid Tantawi, dalam: Lautan Wahyu: Islam sebagai Rahmatan lil-Âlamîn, episode 5: “Dakwah,” Supervisor Program: KH. A. Mustofa Bisri, ©LibForAll Foundation 2009).


 

 

 

 

34 | Ilusi Nega­ra Islam

 

dan berusaha mempe­ngaruhi mayo­ritas umat Islam untuk mengi-
kuti paham me­re­ka. Umat Islam dan pe­me­rintah selama ini telah
terkecoh  dan/atau  membiarkan  aktivitas  ke­lom­pok-ke­lom­pok
garis keras se­hingga me­re­ka semakin besar dan kuat dan semakin
mudah memaksakan agenda-agendanya, bukan saja kepada ormas-
ormas Islam besar tetapi juga kepada pe­me­rintah, partai politik,
media massa, dunia bisnis, dan lembaga-lembaga pen­didikan.

Sikap militan dan klaim-klaim ke­be­naran yang dilakukan ke­
lom­pok-ke­lom­pok garis keras memang tak jarang membuat mayo­ri­
tas umat Islam, termasuk politisi oportunis, bingung berhadapan
de­ngan me­re­ka, karena penolakan kemudian akan dicap se­bagai
penentangan terhadap syariat Islam, padahal tidak demikian yang
se­be­narnya. Maka tidak heran jika banyak otoritas pe­me­rintah dan
partai-partai politik oportunis mau saja mengikuti dikte ke­lom­pok
garis keras, misalnya de­ngan membuat Peraturan Daerah (Perda)
Syariat yang inkonstitusional. Padahal, itu adalah “Perda fiqh” yang
tidak lagi sepenuhnya membawa pesan dan ajaran syari‘ah, dan
muatannya bersifat intoleran dan melanggar hak-hak sipil serta
hak-hak minoritas karena diturunkan dari pe­mahaman fiqh yang
sempit dan terikat, di samping juga tidak merefleksikan esensi ajar­
an agama yang penuh spiritualitas, toleransi, dan kasih sayang ke-
pada sesama manusia.

Ringkasnya, para politisi oportunis yang bekerjasama de­ngan
partai atau ke­lom­pok-ke­lom­pok garis keras sangat berbahaya juga.
Me­re­ka ikut menjerumuskan ne­gara kita ke arah jurang per­pe­cah­
an dan kehancuran. Me­re­ka tidak memperhatikan, dan bahkan
mengor­bankan, masa depan bangsa yang multi-agama dan multi-et-
nik. Sepertinya me­re­ka hanya mementingkan ambisi pribadi demi
melanggengkan kekuasaan dan meraih kekayaan.

Ge­rakan garis keras terdiri dari ke­lom­pok-keo mpok yang sa­
ling mendukung dalam mencapai agenda bersama me­re­ka, baik di
luar maupun di dalam institusi pemerintahan ne­gara kita. Ancam­
an yang sangat jelas adalah usaha mengidentifikasi Islam de­ngan


 

 

 

Musuh dalam Selimut | 35

 

ideo­lo­gi Wahabi/Ikhwanul Muslimin serta usaha untuk melenyap-
kan budaya dan tradisi bangsa kita dan menggantinya de­ngan bu­
daya dan tradisi asing yang bernuansa Wahabi tapi diklaim se­ba­
gai budaya dan tradisi Islam. Bagian manapun dari ke­dua bahaya
tersebut, atau ke­duanya, hanya akan menempatkan bangsa Indo­
ne­sia di bawah ketiak jaringan ideo­lo­gi global Wahabi/Ikhwanul
Muslimin. Dan yang paling memprihatinkan, sudah ada infiltrasi
ke dalam institusi pe­me­rintah yang sedang digunakan untuk men-
capai tujuan ini.

Agen-agen garis keras juga melakukan infiltrasi ke Majelis
Ulama Indo­ne­sia (MUI). Bahkan sudah dibilang, MUI kini telah
men­jadi bungker dari or­ganisasi dan ge­rakan fundamentalis dan
subversif di Indo­ne­sia.24 Lembaga semi pe­me­rintah yang didirikan
oleh rezim Orde Baru untuk me­ngon­trol umat Islam itu, kini telah
berada dalam genggaman garis keras dan berbalik mendikte/me­
ngon­trol pe­me­rintah. Maka tidak heran jika fatwa-fatwa yang lahir
dari MUI bersifat kontra produktif dan memicu kontroversi, semi-
sal fatwa pengharaman sekularisme, pluralisme, liberalisme dan vo-
nis sesat terhadap ke­lom­pok-ke­lom­pok tertentu di masyarakat yang
telah menyebabkan aksi-aksi kekerasan atas nama Islam.

Ber­bagai tindakan kekerasan yang dilakukan oleh ke­lom­
pok-ke­lom­pok garis keras se­per­ti Front Pembela Islam (FPI) dan
lain-lain yang menghancurkan dan memberangus orang lain yang
dinyatakan sesat oleh MUI, dan dukungan peng­rus MUI kepada
me­re­ka yang melakukan aksi-aksi kekerasan terkait, mengkonfir-
masi per­nyataan bahwa MUI telah me­mainkan pe­ran kunci dalam
ge­rakan-ge­rakan garis keras di Indo­ne­sia. Saat ini ada anggo­ta MUI
dari Hizbut Tahrir Indo­ne­sia, padahal HTI jelas-jelas mencita-cita-
kan khilafah Islamiyah yang secara ideo­lo­gis ber­ten­tangan de­ngan
Pancasila dan NKRI.

Rendahnya perhatian dan keprihatinan terhadap fenomena

24.  Baca: “MUI Bungker Islam Radikal,” di http://www.wahidinstitute.org/in-
donesia/content/view/718/52/


 

 

 

 

36 | Ilusi Nega­ra Islam

 

garis keras tidak hanya me­nge­nai ideo­lo­gi, ge­rakan, dan infiltrasi me­re­ka. Arus dana Wahabi yang tidak hanya mem­biayai te­rorisme tetapi juga pe­nye­baran ideo­lo­gi dalam usaha wahabisasi global juga nyaris luput dari perhatian publik.25 Selama ini, arus dana Wahabi ke Indo­ne­sia tidak mendapat perhatian publik secara serius, padahal dari sinilah fenomena infiltrasi paham garis keras memperoleh dukungan dan dorongan yang luar biasa kuat se­hingga men­jadi bisnis yang menguntungkan banyak agennya.

Ada orang-orang yang sadar bahwa petrodollar Wahabi yang
sangat besar jumlahnya masuk ke Indo­ne­sia, namun cukup sulit
untuk membuktikannya di lapangan karena pihak yang menerima
sangat sensitif atas isu ini dan menolak membicarakannya. Seper-
tinya, penolakan ini dilakukan karena agen garis keras malu jika
diketahui bahwa me­re­ka telah menjual agama, malu jika diketahui
mengabdi pada tujuan Wahabi, dan memang untuk me­nyem­bu­
nyikan infiltrasi Wahabi/Ikhwanul Muslimin terhadap Islam Indo­
ne­sia. Pada sisi yang lain, badan ne­gara yang bertanggung jawab
mengawasi aliran keluar-masuk dana di Indo­ne­sia juga tidak meng-
umumkan hal tersebut mes­kipun se­be­narnya ada para pejabat dan
pihak yang bertanggung jawab atas keamanan ne­gara mengaku sa­
ngat prihatin de­ngan fenomena ini.

25.  Dalam buku Dua Wajah Islam, Stephen Sulaiman Schwartz de­ngan jelas dan
meyakinkan memaparkan aliran dana Wahabi dalam usaha-usaha wahabisasi
global dan aksi-aksi te­rorisme inter­nasio­nal yang dilakukan atas nama agama.
Dalam konflik Bosnia misalnya, de­ngan dalih membela Muslim Bosnia dari
eth-
nic cleansing, Wahabi mengambil kesempatan untuk menyebarkan ideo­lo­ginya
de­ngan membangun infrastruktur pen­didikan dan peribadatan. Wahabi meng­
gunakan pen­didikan (tarbiyah) dan peribadatan (ubûdiyah) se­bagai camouflage
ideo­lo­gis untuk menyebarkan paham kea­gamaan me­re­ka yang kaku dan sempit.
Se­dangkan kasus WTC sudah jelas siapa dalang di balik tragedi tersebut. (Ste-
phen Sulaiman Schwartz (2002).
The Two Faces of Islam: Saud Fundamentalism
and Its Role in Terrorism
. New York: Doubleday (diterbitkan dalam bahasa Indo­
ne­sia: Dua Wajah Islam: Moderatisme vs Fundamentalisme dalam Wacana Global,
Jakarta: LibForAll Foundation, the Wahid Institute, Center for Islamic Plural-
ism, dan Blantika).


 

 

 

Musuh dalam Selimut | 37

 

Sebagai misal, sudah me­rupakan rahasia umum di kalang­
an para ahli bahwa melalui Dewan Dakwah Islamiyah Indo­ne­sia
(DDII) yang bertindak se­bagai wakilnya di Indo­ne­sia, Rabithath
al-Alam al-Islami menyediakan dana yang luar biasa besar untuk
ge­rakan-ge­rakan radikal di Indo­ne­sia.26 Ber­bagai aktivitas dakwah
kampus atau lazim disebut Lembaga Dakwah Kampus (LDK), yang
menggagas ge­rakan tarbiyah, yang kemudian melahirkan Partai Ke­
adilan Se­jahte­ra (PKS), menikmati dana Arab Saudi tersebut dan
se­kaligus menyebarkan virus tarbiyah di Indo­ne­sia.

Di Kabupaten Magelang, peneliti kami mendapat informasi
dari mantan peng­rus Muhammadiyah salah satu kecamatan di
Magelang bahwa PKS sedang mencari masjid-masjid yang hendak
direnovasi, atau daerah-daerah yang membutuhkan masjid baru.
Secara terbuka, aktivis PKS yang bertanggung jawab atas proyek
ini mengutarakan kepada mantan peng­rus Muhammadiyah di-
maksud bahwa dana untuk semua itu diperoleh dari Arab Saudi.
Jika masjid hendak direnovasi atau dibangun, penduduk setempat
hanya diminta untuk mendukung PKS dalam setiap pemilihan.
Kata dia, “Tahun 2008 ini sudah ada 11 yang akan dibangun atau
direnovasi de­ngan dana Saudi.” Hampir semua jama‘ah masjid
di Magelang yang diserobot oleh PKS melalui strategi ini adalah
warga Nahdliyin.
27 Jika di satu kabupaten saja ada 11 masjid yang
dikerjakan, bayangkan berapa jumlah uang Wahabi yang diguna­
kan untuk membangun masjid-masjid di seluruh Indonesa de­ngan
motif politik se­per­ti ini?

Setelah calon PKS menang dalam Pilgub Jawa Barat pada bu-
lan Juli 2008, salah seo rang Ketua NU memberitahu peneliti kami
bahwa hal tersebut ditandai oleh keberhasilan PKS merebut banyak

 

26.  Noo rhaidi Hasan, “Islamic Militancy, Sharia, and Democratic Consolidation in Post-Soe harto Indo­ne­sia,” Working Paper No. 143, S. Rajaratnam Schoo l of International Studies (Singapore, 23 October 2007).

27.  Wawancara peneliti konsultasi di Kabupaten Magelang pada bulan Agustus
2008.


 

 

 

 

38 | Ilusi Nega­ra Islam

 

masjid NU dan para jama‘ahnya. Walaupun Ketua NU dimaksud
terkejut de­ngan kejadian tersebut, se­be­narnya keberhasilan PKS
merebut masjid dan jamaah NU tidak mengherankan. Tentu saja
ideo­lo­gi yang didukung dana asing de­ngan jumlah yang luar biasa
besar dan dipakai secara sistematis bisa me­nyusup ke mana-mana
dan mengalahkan oposisi yang tidak terorganisasi. Atau de­ngan
kata lain yang sering dipakai oleh para ulama,
al-haqq bi lâ nizhâmin
qad yaghlib al-bâthil bi nizhâmin (ke­be­naran yang tidak terorganisasi
bisa dikalahkan kebatilan yang terorganisasi).

Para agen garis keras sering berteriak bahwa orang asing,
yayasan-yayasan, dan pe­me­rintah dari Barat menggunakan uang
me­re­ka untuk menghancurkan Islam di Indo­ne­sia, dan menuding
ada konspirasi Zionis/Nasrani di belakangnya. Pada kenyataannya,
pe­me­rintah dan yayasan-yayasan Barat se­per­ti Ford Foundation
dan the Asia Foundation mempublikasikan program-program yang
dilakukannya secara terbuka, se­hingga publik bisa mengetahui apa
yang se­be­narnya me­re­ka lakukan dan berapa biaya yang dikeluar-
kan untuknya.
28 Walaupun dana LibForAll Foundation sangat se-

 

28.  Pe­me­rintah Amerika Serikat banyak mem­biayai pelatihan untuk mening-
katkan sumberdaya manusia terkait demokratisasi di seluruh dunia. The Na-
tional Democratic Institute (NDI), lembaga semi-pe­me­rintah AS yang berusaha
mendorong usaha-usaha demokratisasi di Indo­ne­sia, “secara tipikal le­bih me-
milih mitranya berdasarkan komitmen me­re­ka pada prinsip-prinsip demokratis
dan anti-kekerasan daripada keyakinan-keyakinan politiknya. Faktor lain yang
juga dipertimbangkan adalah: kemampuan dan dukungan politik rakyat se­per­ti
bisa dibuktikan dari hasil pemilu; or­ganisasi-or­ganisasi tingkat akar rumput; dan
kemampuan menerima bantuan. Selama ini NDI menyelenggarakan training
aktivis dan anggo­ta, kampanye pemilihan langsung, kebijakan pembangunan,
pemilihan pimpinan, analisis sikap pemilih, serta pembangunan dan reformasi
partai politik. NDI juga te­rus menyediakan saran-saran para ahli dan informasi
global, training para pemimpin partai dan instruktur pada tingkat nasio­nal,
wilayah, dan kabupaten.” (Baca dalam: http://www.ndi.org/indonesia). Berd-
sarkan wawancara peneliti konsultasi pada bulan Maret 2008, partai yang paling
banyak menerima manfaat dalam program Political Party Development NDI ini
adalah PKS.


 

 

 

Musuh dalam Selimut | 39

 

dikit dan ke­banyakan pembina, penasehat, dan peng­rusnya orang Indo­ne­sia asli, ia juga melaporkan program-program yang dilakukannya secara terbuka dan transparan.

Hal ini sangat berbeda dari ge­rakan asing Wahabi/Ikhwanul
Muslimin dan kaki tangannya di Indo­ne­sia. Penelitian ini menun-
jukkan de­ngan jelas bahwa, sementara para agen garis keras berte-
riak bahwa orang asing datang ke Indo­ne­sia membawa uang yang
banyak untuk menghancurkan Islam... tentu itu benar, karena
orang asing itu adalah aktivis ge­rakan transnasio­nal dari Timur
Tengah yang menggunakan
petrodollar dalam jumlah yang fantastis
untuk melakukan Wahabisasi, merusak Islam Indo­ne­sia yang spiri­
tual, toleran, dan santun, dan mengubah Indo­ne­sia se­suai de­ngan
ilusi me­re­ka tentang ne­gara Islam yang di Timur Tengah pun tidak

ada.29

De­ngan balutan jubah dan jenggot Arab yang ditampilkan,
yang oleh be­be­rapa pihak telah dipandang le­bih tampak se­per­ti
preman berjubah, me­re­ka ingin menunjukkan seo lah-olah pan­
dangan ekstrem yang me­re­ka teriakkan dan paksakan memang
benar-benar me­rupakan pesan Islam yang harus diperjuangkan.
Padahal, me­re­ka merusak agama Islam dan bertanggung jawab atas
banyak kekerasan yang me­re­ka lakukan atas nama Islam di Indo­ne­
sia dan seluruh dunia. Dan kita se­bagai umat Islam harus menang-
gung malu atas perbuatan me­re­ka.

Karena itu, alasan utama melawan ge­rakan garis keras adalah
untuk mengembalikan kemuliaan dan kehormatan Islam yang
telah me­re­ka nodai dan se­kaligus —pada saat yang sama— untuk

29.  Aktivitas Saudi di Indo­ne­sia hanya me­rupakan bagian kecil dari kampanye
senilai US $70.000.000.000,- selama kurun waktu antara 1979-2003 untuk me-
nyebarkan sekte fundamentalis Wahabi di seluruh dunia. Usaha-usaha dakwah
Wahabi yang te­rus meningkat ini me­rupakan “kampanye propaganda terbesar
di seluruh dunia yang pernah dilakukan—anggaran propaganda Soviet pada
puncak Pe­rang Dingin men­jadi sangat kecil dibandingkan belanja propaganda
Wahabi ini” (Baca dalam: “How Billions in Oil Money Spawned a Global Terror
Network,” dalam US News & World Report, 7 Desember 2003).


 

 

 

 

xl | Ilusi Nega­ra Islam

 

menye­lamatkan Pancasila dan NKRI. Jika mayo­ritas mo­de­rat mela-
wan ke­lom­pok garis keras de­ngan tegas, kita akan mengembalikan
suasana ber­agama di Indo­ne­sia men­jadi mo­de­rat, dan ke­lom­pok
garis keras dewasa ini akan gagal lagi se­per­ti semua nenek mo­yang
ideo­lo­gis me­re­ka di tanah air kita, yang mewakili ke­hadiran al-nafs
al-lawwâmah. Kemenangan melawan me­re­ka akan mengembalikan
keluhuran ajaran Islam se­bagai rahmatan lil-‘âlamîn, dan ini me­rupa­
kan salah satu kunci untuk membangun perdamaian dunia.

Studi ini kami lakukan dan publikasikan untuk membang-
kitkan ke­sadaran seluruh komponen bangsa, khususnya para elit
dan media massa, tentang bahaya ideo­lo­gi dan paham garis keras
yang dibawa ke tanah air oleh ge­rakan transnasio­nal Timur Tengah
dan tumbuh se­per­ti jamur di musim hujan dalam era reformasi
kita. Juga, se­bagai seruan untuk melestarikan Pancasila yang mere-
fleksikan esensi syari‘ah dan menjadikan Islam se­bagai
rahmatan
lil-
‘âlamîn yang sejati.

Dalam Bab V, studi ini merekomendasikan langkah-langkah strategis untuk melestarikan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan me­ ne­gakkan warisan luhur tradisi, budaya dan spiritualitas bangsa In­ do­ne­sia, antara lain de­ngan:

 

mengajak dan mengilhami masyarakat dan para elit untuk
   
bersikap terbuka, rendah hati, dan te­rus belajar agar bisa
   
memahami spiritualitas dan esensi ajaran agama, dan men­
   
jadi jiwa-jiwa yang te­nang;

menghentikan dan memutus —de­ngan cara-cara damai dan
   
bertanggung jawab— mata rantai pe­nye­baran paham dan
   
ideo­lo­gi garis keras melalui pen­didikan (dalam arti kata
    yang seluas-luasnya) yang mencerahkan, serta mengajarkan
   
dan meng­malkan pesan-pesan luhur agama Islam yang
   
mampu menumbuhkan ke­sadaran se­bagai hamba Tuhan
    yang rendah hati, toleran dan damai.


 

 

 

Musuh dalam Selimut | 41

 

Bekerjasama, saling mengingatkan tentang ke­be­naran   (wa

tawâshau bil-haqq) dan untuk selalu bersabar (wa tawâshau bil-shabr), men­jadi kunci pen­ting dalam hal ini. Kita harus tetap santun, sabar, toleran, dan terbuka dalam usaha-usaha melestarikan visi luhur nenek mo­yang dan Pendiri Bangsa. Tujuan mulia hendaknya tidak dinodai de­ngan usaha-usaha kotor, kebencian, maupun aksiaksi kekerasan. Tujuan luhur harus dicapai de­ngan cara-cara yang benar, tegas, bijaksana dan bertanggung jawab, yang jauh dari arogansi, pemaksaan dan semacamnya.

Kita pantas mengingat nasehat Syeikh Ibn ‘Athaillah al-Sakan-
dari dalam Hikam karyanya: “Janganlah bersahabat de­ngan siapa
pun yang perilakunya tidak membangkitkan gairahmu mendekati
Allah dan kata-katanya tidak menunjukkanmu kepada-Nya” (lâ
tash-hab man lâ yunhidluka ilâ Allah hâluhu, wa la yahdîka ilâ Allâh
maqâluhu). Orang yang merasa paling mengerti Islam, penuh ke-
bencian kepada makhluk Allah yang tidak sejalan de­ngan me­re­ka,
serta merasa se­bagai yang paling benar dan karena itu mengklaim
berhak men­jadi khalifah-Nya untuk mengatur semua orang—pasti
perbuatan dan kata-katanya tidak akan membawa kita kepada Tu-
han. Cita-cita me­re­ka tentang ne­gara Islam hanya ilusi. Ne­gara Is-
lam yang se­be­narnya tidak terdapat dalam konstruksi pemerintah-
an, tetapi dalam kalbu yang terbuka kepada Allah swt. dan kepada
sesama makhluk-Nya.

Ke­be­naran dan kepalsuan sudah jelas. Garis keras ingin me-
maksa semua rakyat Indo­ne­sia tunduk kepada paham mareka yang
ekstrem dan kaku. Catatan se­jarah bangsa kita —Babad Tanah
Jawi, Pe­rang Padri, Pemberontakan DI, dan lain-lain— menunjuk-
kan bahwa jiwa-jiwa yang resah akan te­rus mendorong bangsa kita
ke jurang kehancuran sampai me­re­ka betul-betul berkuasa, atau
kita menghentikannya se­per­ti berkali-kali telah dilakukan oleh
jiwa-jiwa yang te­nang, nenek mo­yang kita. Saat ini kitalah yang
memilih masa depan bangsa.

Jakarta, 8 Maret 2009


 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab I

Studi Ge­rakan Islam Transnasio­nal
dan Kaki Tangannya di In­o­nesia

 

 

Dasar Pemikiran

Para aktivis gari s keras sepenuhnya sa­ar bahwa me­reka
tengah terlibat dalam “perang ide-ide” untuk meyakinkan umat Is-
lam di seluruh dunia, bahwa ideo­lo­gi me­re­ka yang ekstrem adalah
satu-satunya interpretasi yang benar tentang Islam. Me­re­ka mema-
hami Islam secara monolitik dan menolak varian-varian Islam lo-
kal dan spiritual se­per­ti diamalkan umat Islam umumnya, se­bagai
bentuk pengamalan Islam yang salah dan sesat karena sudah terce-
mar dan tidak murni lagi.

Strategi utama ge­rakan Islam transnasio­nal dalam usaha mem-
buat umat Islam men­jadi radikal dan keras adalah de­ngan memben-
tuk dan mendukung ke­lom­pok-ke­lom­pok lokal se­bagai kaki tangan
“penyebar” ideo­lo­gi Wahabi/Salafi me­re­ka, serta berusaha meming-
girkan dan memusnahkan bentuk-bentuk pengamalan Islam yang
le­bih toleran yang telah le­bih lama ada dan do­minan di ber­bagai be-
lahan dunia Muslim. De­ngan cara demikian, me­re­ka berusaha keras
melakukan infiltrasi ke ber­bagai bidang ke­hidupan umat Islam, baik
melalui cara-cara halus hingga yang kasar dan keras.


 

 

 

44 | Ilusi Negar Islam

 

Di daerah-daerah se­per­ti Arab Saudi, Sudan, Gaza, Afghanis­
tan—Thaliban dan wilayah-wilayah Pashtun Pakistan, me­re­ka sudah
berhasil memaksakan ideo­lo­ginya. Sementara di ke­banyakan bela-
han dunia Islam, hampir tidak ada usaha serius untuk mengung­
kap ge­rakan ke­lom­pok-ke­lom­pok garis keras serta mobilisasi du-
kungan untuk pandangan dan pengamalan Islam yang umumnya
toleran, pluralistik, dan sejalan de­ngan dunia mo­dern. Di Indo­ne­
sia, kenyataannya berbeda, karena Islam spiritual masih kuat dan
ada tokoh-tokoh Islam Indo­ne­sia yang menyadari bahaya ancaman
ge­rakan garis keras dan berani menghadapi me­re­ka sebelum nasi
men­jadi bubur.

Di tanah air kita, reaksi terhadap infiltrasi dan aktivitas ge­rak­
an garis keras se­per­ti dakwah Wahabi/Salafi ini bisa dilihat de­ngan
terbitnya SKPP Muhammadiyah Nomor 149/Kep/I.0/B/2006,
Fatwa Majlis Bahstul Masa’il NU tentang Khilafah Islamiyah, serta
respon para ulama dan tokoh nasio­nal tentang bahaya dan ancam­
an ge­rakan-ge­rakan transnasio­nal. Bahkan seo rang mantan Pang­
lima TNI mengemukakan, “Dulu, ancaman garis keras terhadap
Konstitusi dan Pancasila ada di luar pemerintahan, se­per­ti DI/NII.
Tapi sekarang, garis keras sudah masuk ke dalam pemerintahan,
termasuk parlemen, dan men­jadi jauh le­bih berbahaya dari se­be­
lumnya.”
1

Reaksi ormas-ormas mo­de­rat serta respon para ulama dan to-
koh nasio­nal ini men­jadi indikasi menguatnya pe­ngaruh dan in-
filtrasi ge­rakan garis keras di Indo­ne­sia belakangan ini. Idealnya,
semua ini bisa men­jadi teladan bagi umat Islam di Indo­ne­sia dan
seluruh dunia untuk memobilisasi perlawanan terhadap agenda
Wahabi/Salafi, dan menggalang dukungan dari para pemimpin
dan umat Islam yang belum tercemar untuk secara sadar melawan
pe­nye­baran ideo­lo­gi garis keras tersebut. Sementara pada saat yang
sama, perlawanan ini bisa mengawali usaha menelanjangi aktivitas-
aktivitas ge­rakan garis keras transnasio­nal secara publik.

1 Wawancara konsultasi pada 17 September 2007.


 

 

 

Studi Ge­rakan Islam Transnasio­nal | 45

 

Subyek Studi

Permasalahan utama studi ini me­nyangkut: asal-usul, ideo­lo­gi, agenda, ge­rakan, dan agen-agen ge­rakan Islam di Indo­ne­sia yang diidentifikasi se­bagai ke­lom­pok garis keras; strategi me­re­ka dalam memperjuangkan agenda dan ideo­lo­gi tersebut; dan, infiltrasi yang berhasil ditanamkan kepada masyarakat dan ke­lom­pok-ke­lom­pok Islam lain yang berhaluan mo­de­rat.

Infiltrasi garis keras terhadap Islam Indo­ne­sia diduga telah
membangkitkan kembali gagasan dan cita-cita for­malisasi Islam
yang se­sungguhnya telah dikubur dalam-dalam oleh bangsa Indo­
ne­sia setelah menyepakati Pancasila se­bagai Dasar Ne­gara dan Ne­
gara Kesatuan Republik Indo­ne­sia (NKRI) se­bagai konsensus final
dalam ke­hidupan berbangsa dan ber­ne­gara. Atas nasehat tokoh
BIN dan para ahli serta tokoh lain, ke­lom­pok-ke­lom­pok Islam mo­
de­rat termasuk dalam subyek studi di sini untuk melihat sejauh
mana me­re­ka telah disusupi dan dipe­ngaruhi oleh agen-agen garis
keras tersebut.

 

 

Definisi Operasional

Untuk keperluan studi ini kami membuat definisi operasional
me­nge­nai Islam garis keras dan Islam mo­de­rat, se­bagai berikut:

Islam garis keras: Diklasifikasikan se­bagai individu dan or­gani­
sasi.

Individu garis keras adalah orang yang menganut pemut-
    lakan atau absolutisme pe­mahaman agama; bersikap tidak
   
toleran terhadap pandangan dan keyakinan yang berbeda;
   
berperilaku atau menyetujui perilaku dan/atau mendo-
   
rong orang lain atau pe­me­rintah berperilaku memaksakan
   
pandangannya sen­diri kepada orang lain; memusuhi dan
   
membenci orang lain karena berbeda pandangan; mendu-
   
kung pelarangan oleh pe­me­rintah dan/atau pihak lain atas


 

 

 

46 | Ilusi Negar Islam

 

keberadaan pe­mahaman dan keyakinan agama yang berbe-
da; membenarkan kekerasan terhadap orang lain yang ber-
beda pe­mahaman dan keyakinan tersebut; menolak Dasar

Ne­gara Pancasila se­bagai landasan hidup bersama bangsa
Indo­ne­sia; dan/atau menginginkan adanya Dasar Ne­gara
Islam, bentuk Ne­gara Islam, atau pun Khilafah Islamiyah.

Organisasi garis keras adalah ke­lom­pok yang me­rupakan
   
himpunan  individu-individu  de­ngan  karakteristik  yang
   
disebutkan di atas, ditambah de­ngan visi dan misi or­gani­
   
sasi yang menunjukkan orien­tasi tidak toleran terhadap
   
per­be­daan, baik semua karakter ini ditunjukkan secara ter-
    buka maupun tersembunyi.

Islam Moderat: Diklasifikasikan se­bagai individu dan or­gani­
sasi.

  Individu mo­de­rat adalah individu yang menerima dan

menghargai pandangan dan keyakinan yang berbeda se­ba­
gai fitrah; tidak mau memaksakan ke­be­naran yang diyaki-
ninya kepada orang lain, baik secara langsung atau melalui

pe­me­rintah; menolak cara-cara kekerasan atas nama agama
dalam bentuk apa pun; menolak ber­bagai bentuk pela-
rangan untuk menganut pandangan dan keyakinan yang

berbeda se­bagai bentuk kebebasan ber­agama yang dijamin
oleh Konstitusi ne­gara kita; menerima Dasar Ne­gara Pan­
casila se­bagai landasan hidup bersama dan bentuk Ne­gara

Kesatuan Republik Indo­ne­sia (NKRI) se­bagai konsensus
   
final dalam ke­hidupan berbangsa dan berngera yang me­lin­
   
dungi per­be­daan dan keragamaan yang ada di tanah air.  Organisasi mo­de­rat adalah ke­lom­pok yang memiliki karak-
   
teristik se­per­ti yang tercermin dalam karakteristik individu
   
mo­de­rat, ditambah de­ngan visi dan misi or­ganisasi yang
    menerima Dasar Ne­gara Pancasila se­bagai landasan hidup
    bersama bangsa Indo­ne­sia dan bentuk Ne­gara Kesatuan


 

 

 

Studi Ge­rakan Islam Transnasio­nal | 47

Republik Indo­ne­sia (NKRI) se­bagai konsensus final dalam ke­hidupan berbangsa dan ber­ne­gara.

 

Tujuan Studi

Secara akademis, studi ini bertujuan menemukan, menunjuk-
kan, dan membuktikan asal-usul, ideo­lo­gi, dan ge­rakan ke­lom­pok-
ke­lom­pok garis keras di Indo­ne­sia, dan mengetahui respon para
agen ge­rakan garis keras tentang isu-isu sosial-politik dan kea­gama­
an.

Sementara secara praksis, hasil studi ini diharapkan bisa men­
jadi batu loncatan bagi ge­rakan perlawanan terhadap agenda ge­rak­
an Islam transnasio­nal di Indo­ne­sia dan seluruh dunia, memobil-
isasi para pemimpin dan umat Islam yang belum terkontaminasi
ideo­lo­gi ge­rakan garis keras untuk secara sadar melawan pe­nye­bar­
an ideo­lo­gi me­re­ka.

Pada saat yang sama, studi ini bertujuan mengungkap dan
menunjukkan aktivitas ge­rakan garis keras yang me­rupakan fak-
tor krusial bagi pe­nye­baran ideo­lo­ginya di Indo­ne­sia dan seluruh
dunia.

 

Masalah Studi

De­ngan latar belakang di atas, kami merancang studi ini un­
tuk memetakan dan menjawab be­be­rapa permasalahan se­bagai
berikut:

1.  Bagaimana se­be­narnya pandangan dan respon para agen
      garis keras terhadap isu-isu sosial politik dan kea­gamaan di
     
Indo­ne­sia akhir-akhir ini?

2.  Bagaimana peta ge­rakan-ge­rakan Islam transnasio­nal dan
     
kaki tangannya di Indo­ne­sia saat ini?

3.  Apa yang men­jadi agenda per­juangan ke­lom­pok-ke­lom­pok
     
garis keras dan bagaimana agenda itu dikaitkan de­ngan
     
persoalan-persoalan Indo­ne­sia mutakhir?

4.  Bagaimana strategi ke­lom­pok-ke­lom­pok garis keras dalam


 

 

 

48 | Ilusi Negar Islam

 

memperjuangkan agenda-agenda me­re­ka dan menyusup-
     
kan agen-agen me­re­ka ke tengah-tengah masyarakat?
 
5. Bagaimana hubungan ke­lom­pok-ke­lom­pok garis keras lokal
       
de­ngan ge­rakan-ge­rakan Islam transnasio­nal dari Timur
     
Tengah?

6.   Bagaimana pula hubungan ke­lom­pok-ke­lom­pok garis keras

itu de­ngan ke­lom­pok-ke­lom­pok Islam yang berhaluan mo­

de­rat?

7.      Apakah  ke­lom­pok-ke­lom­pok  garis  keras  telah  mampu

mempe­ngaruhi dua ormas Islam terbesar di Indo­ne­sia, yaitu Muhammadiyah dan NU?

8.   Benarkah masjid dan institusi-institusi pen­didikan telah

dimanfaatkan oleh ke­lom­pok-ke­lom­pok garis keras untuk menyebarkan paham me­re­ka?

9.   Bagaimana  hubungan  ke­lom­pok-ke­lom­pok  garis  keras

dibangun dan bagaimana jaringan me­re­ka dibentuk?

 

 

Metode Studi

Studi ini dilakukan oleh dua tim, yakni Tim Jakarta dan Tim
Yogya. Tim Jakarta melakukan wawancara dan/atau konsultasi
de­ngan para ulama, intelektual, dan tokoh-tokoh nasio­nal me­nge­
nai isu-isu sosial-politik dan kea­gamaan di tanah air serta hal-hal
yang terkait de­ngan aktivitas ge­rakan garis keras. Tim Jakarta juga
melakukan riset pustaka untuk mengetahui kesinambungan dan
hubungan ber­bagai ge­rakan garis keras di Indo­ne­sia dan dunia.
Tim Jakarta disebut se­bagai Peneliti Konsultasi dan Literatur, ber­
anggo­takan C. Holland Taylor, Hodri Ariev, Dr. Ratno Lukito,
Niluh Dipomanggolo, dan Ahmad Gaus AF., bertanggung jawab
kepada KH. Abdurrahman Wahid.

Adapun Tim Yogya adalah para peneliti yang melakukan in-
terview de­ngan para aktivis ge­rakan garis keras, atau individu yang
dipe­ngaruhi dan/atau memperjuangkan ideo­lo­gi dan agenda garis


 

 

 

Studi Ge­rakan Islam Transnasio­nal | 49

 

keras. Tim Yogya disebut se­bagai Peneliti Lapangan, ber­anggo­ta­
kan Dr. Ratno Lukito, Dr. Zuly Qodir, Dr. Agus Nuryatna, dan
Dr. Rizal Panggabean yang dibantu oleh 27 orang peneliti, serta
berada di bawah koo rdinasi Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan se­ba­
gai Ketua, dan Dr. Sukardi Rinakit se­bagai Penasehat.

Secara ringkas bisa dikemukakan, “res­pon­den” Tim Yogya
adalah para aktivis atau individu yang telah terpe­ngaruh ge­rakan
garis keras, se­dangkan “sumber” Tim Jakarta adalah para tokoh
mo­de­rat. Penelitian lapangan hanya me­rupakan sebagian saja dari
keseluruhan studi ini. Karena itu, secara akademik, Tim Yogya ha­
nya bertanggung jawab atas hasil penelitian lapangan saja, se­dang­
kan hasil studi secara keseluruhan berada dalam tanggung jawab
Tim Jakarta di bawah arahan KH. Abdurrahman Wahid se­bagai
Sesepuh dan Pembina LibForAll Foundation.

 

a. Penelitian Literatur dan Konsultasi

Dalam studi ini, Tim Jakarta telah mengumpulkan data-
data yang terkait de­ngan isu infiltrasi agen-agen garis keras
dari ber­bagai sumber, baik yang tertulis maupun tidak tertu-
lis.

Sumber tertulis: Hasil penelitian yang pernah ada de­ngan
   
topik yang sama atau mirip, karya-karya yang relevan, dan
   
dokumen-dokumen yang terkait de­ngan isu tersebut, baik
    yang sudah dipublikasikan maupun belum.

Sumber tidak tertulis: Konsultasi de­ngan para ulama, pe-
   
mimpin or­ganisasi massa (ormas) Islam mo­de­rat se­per­ti
    Muhammadiyah dan NU, cendekiawan, pemimpin partai
    politik, pejabat pe­me­rintah, petinggi militer, kalangan bis-
    nis dan media massa.

Studi terhadap ber­bagai dokumen dan literatur terkait
dilakukan  untuk  memperkaya  informasi,  memastikan
akurasi data dan informasi yang diperoleh, dan melihat
kontinuitas dan perubahan dalam perkembangan ge­rakan


 

 

 

50 | Ilusi Negar Islam

 

ke­lom­pok-ke­lom­pok garis keras.

Se­dangkan konsultasi dilakukan untuk mendapatkan in-
formasi dan konfirmasi tentang perkembangan terkini, se­kali­
gus untuk minta nasehat dan rekomendasi me­nge­nai isu-isu
terkait. Tokoh-tokoh besar dari semua bidang ini memiliki
keprihatinan yang sama terhadap adanya infiltrasi ideo­lo­gi
dan agen-agen garis keras terhadap Islam Indo­ne­sia dan telah
men­jadi duri dalam daging, merusak keharmonisan per­be­
daan dalam hidup bermasyarakat, dan akhirnya berpotensi
menghancurkan Pancasila, UUD 1945, dan NKRI.

 

b. Penelitian Lapangan

Dalam penelitian ini, Tim Yogya menggunakan metode
kualitatif. Pengambilan data secara kualitatif dilakukan
de­ngan cara wawancara mendalam (in-depth interviews),
se­hingga untuk satu res­pon­den saja seo rang peneliti
bisa bertemu sebanyak 3-5 kali. Hal ini dilakukan untuk
mencapai kedalaman wawancara. Untuk melengkapi ha-
sil penelitian lapangan ini kami juga menggunakan data
sekunder, yakni penelitian yang sudah ada atau studi ter-
dahulu yang terkait de­ngan tema penelitian.

Setelah data-data wawancara diperoleh, para peneliti
mentranskrip isi wawancara, kemudian mengirimkan
transkrip tersebut kepada tim manajemen di Yogyakar-
ta untuk bahan analisis yang dibuat oleh tim monitor-
ing dan analis ahli yang secara khusus diundang untuk
mengkaji hasil wawancara tersebut. Untuk memperkaya
analisisnya, tim monitoring yang terdiri dari para aktivis,
sarjana dan ahli juga melakukan observasi langsung ke
lapangan untuk memverifikasi penelitian yang dilakukan
oleh peneliti di setiap kota/daerah dan melihat visibilitas
penelitian itu sen­diri di lapangan.


 

 

 

Studi Ge­rakan Islam Transnasio­nal | 51

 

Penelitian Lapangan

a. Tim Yogya dan Lokasi Penelitian

Untuk mengurai isu-isu yang cukup kompleks dalam studi
ini, kami menurunkan 27 peneliti lapangan dari jaringan
UIN/IAIN, sebagian besar bergelar master/magister dan
doktor, yang dikoo rdinasi oleh tim ahli yang terdri dari 6
orang dan di bawah tanggung jawab Prof. Dr. Abdul Munir
Mulkhan dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta —yang juga ang­
go­ta Komnas HAM— dan Dr. Sukardi Rinakit dari Soe geng
Sarjadi Syndicate (SSS) se­bagai penasehat. Penelitian dilaku-
kan di 24 kota/daerah yang tersebar di 17 propinsi di pulau-
pulau Sumatera, Jawa, Madura, Kalimantan, Sulawesi, Am-
bon, dan Nusa Tenggara Barat, de­ngan res­pon­den sebanyak
591 orang yang ditarik secara sengaja (
purposive sampling).

Kota/daerah yang dipilih didasarkan pada kenyataan ad-
anya aktivitas dan ke­lom­pok-ke­lom­pok garis keras di kota
atau  daerah  bersangkutan.  Aktivitas  ke­lom­pok-ke­lom­pok
garis keras ternyata tidak hanya ditemukan di daerah-daerah
konflik se­per­ti Poso, Ambon, dan Aceh, tetapi juga di daerah
lain yang sepertinya aman dan tampak tidak bergejolak se­per­
ti ibukota Jakarta, Bogor, Bandung, Pekalongan, Yogyakarta,
Malang, Pamekasan, Medan, dan be­be­rapa daerah lain.

 

b. Karakteristik Responden

Responden penelitian lapangan ini dipilih berdasarkan po-
sisi fungsionalnya dalam ke­lom­pok bersangkutan. Di antara
me­re­ka ada yang menempati posisi se­bagai ke­tua, sekretaris,
atau hubungan masyarakat (humas atau juru bicara) dalam
sebuah perkumpulan atau or­ganisasi, dan sebagian lain me­
rupakan anggo­ta biasa tetapi memiliki ke­de­katan emosional
de­ngan pimpinan se­hingga men­jadi anggo­ta yang dipercaya
oleh pimpinannya.

Agen-agen ge­rakan garis keras yang men­jadi res­pon­den


 

 

 

52 | Ilusi Negar Islam

 

penelitian lapangan ini umumnya berprofesi se­bagai pegawai ne­ge­
ri, dosen, mahasiswa, guru, wiraswasta, anggo­ta parlemen tingkat
daerah (DPRD), pimpinan perguruan tinggi atau Pimpinan partai
politik. Me­re­ka terlibat aktif dalam 58 or­ganisasi tingkat lokal dan
nasio­nal baik se­bagai Pimpinan atau pun anggo­ta Pimpinan yang
ikut menentukan kebijakan or­ganisasi. Dari 58 or­ganisasi ini ada
or­ganisasi-or­ganisasi massa (ormas) Islam mo­de­rat yang terhadap-
nya agen-agen garis keras melakukan infiltrasi.

Para agen garis keras tersebut selalu berkomunikasi de­ngan
masyarakat luas melalui semua media yang bisa me­re­ka gunakan
untuk menyebarkan ideo­lo­ginya. Pe­nye­baran ideo­lo­gi ini bisa dili-
hat le­bih lanjut dalam penjelasan me­nge­nai infiltrasi agen-agen ge­
rakan garis keras ke dalam tubuh ormas mo­de­rat se­per­ti Muham­
madiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), universitas, sekolah, masjid,
instansi-instansi pe­me­rintah maupun swasta, dan lain-lain.

Tim penelitian lapangan melaporkan bahwa sebanyak 63
persen res­pon­den men­jadi peng­rus inti dari or­ganisasi tempat me­
re­ka beraktivitas, dan hanya sekitar 7 persen yang berstatus se­bagai
anggo­ta biasa. Dilihat dari kedudukan dan jaringannya, or­ganisa­
si tempat res­pon­den beraktivitas terbagi ke dalam or­ganisasi lokal
dan nasio­nal. Suatu or­ganisasi disebut lokal jika ia tidak memiliki
cabang atau jaringan di tempat lain tetapi hanya berada di dae-
rah di mana res­pon­den menetap, atau di be­be­rapa daerah sekitar.
Suatu or­ganisasi disebut nasio­nal jika memiliki kantor pusat di
suatu kota dan cabang-cabangnya di daerah lain.

Karakteristik lain res­pon­den yang pen­ting untuk diketahui
adalah fenomena rangkap anggo­ta atau dual membership antara or-
mas mo­de­rat dan garis keras yang sangat sering ditemukan oleh
para peneliti lapangan, terutama di lingkungan Muhammadiyah.
Ini menunjukkan bahwa ke­lom­pok-ke­lom­pok garis keras sudah
melakukan infiltrasi ke dalam Muhammadiyah dan NU. Me­re­ka
bergerilya untuk mengubah Muhammadiyah dan NU yang mo­de­
rat men­jadi keras se­per­ti me­re­ka.


 

 

 

Studi Ge­rakan Islam Transnasio­nal | 53

 

c.  Nama-nama Organisasi

Nama-nama or­ganisasi di mana para res­pon­den terlibat aktif adalah se­per­ti daftar berikut:

 

     DDI                (Darud Dakwah wal-Irsyad)

     DDII               (Dewan Dakwah Islamiyah Indo­ne­sia)

     FKUB              (Forum Kerukunan Umat Ber­agama)

     FPMI               (Front Pembela Masyarakat Islam)

     FORMIS         (Forum Mahasiswa Islam)

     FPI                  (Front Pembela Islam)

     FSPUI             (Forum Silaturrahmi Per­juangan Umat Is-

lam)

     FSRMP           (Forum Silaturahmi Remaja Masjid Pang-

gungharjo)

     FTPS               (Forum Tokoh Peduli Syariat)

     FUI                 (Forum Umat Islam)

     FUI                 (Forum Ukhuwah Islamiyah)

     FUUI              (Forum Ulama Umat Islam)

     FUUU             (Forum Ulama Untuk Umat)

     GERPI            (Ge­rakan Pemuda Perti)

     GMM              (Ge­rakan Muslim Minangkabau)

     GPI                 (Ge­rakan Pemuda Islam)

     HIDMI            (Himpunan Dai Muda Indo­ne­sia)

     HIMA PUI      (Himpunan        Mahasiswa        Persatuan

Umat Islam)

     HIMA             (Himpunan Mahasiswa)

     HIMI               (Himpunan Mahasiswi)

     HMI                (Himpunan Mahasiswa Islam)

     HPI                 (Himpunan Pemuda Insafuddin)

     HTI                 (Hizbut Tahrir Indo­ne­sia)

     HUDA            (Himpunan Ulama Dayah Aceh)

     ICMI               (Ikatan Cendekiawan Muslim Indo­ne­sia)

     IKADI             (Ikatan Dai Indo­ne­sia)


 

 

 

54 | Ilusi Negar Islam

 

     IMM               (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah)

     IPM                (Ikatan Pelajar Muhammadiyah)

     IRM                (Ikatan Remaja Muhammadiyah)

     JMAF              (Jamaah Masjid AR Fachruddin)

     JMF                 (Jamaah Masjid Fisipol)

     KAMCI           (Keluarga Mahasiswa Cimahi)

     KAMMI          (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indo­

ne­sia)

     KNPI              (Komite Nasional Pemuda Indo­ne­sia)

     KPPRA           (Komite Persiapan Partai Rakyat Aceh)

     KPPSI             (Komite Persiapan Penegakan Syariat Is-

lam)

     KPSI               (Komite Penegakan Syariat Islam)

     LDII                (Lembaga Dakwah Islam Indo­ne­sia)

     LDK                (Lembaga Dakwah Kampus)

     LDM               (Lembaga Dakwah Mahasiswa)

     LPIK               (Lembaga Pengembangan Ilmu dan Ka-

jian)

     MMI               (Majelis Mujahidin Indo­ne­sia)

     Muhammadiyah

     MUI                (Majelis Ulama Indo­ne­sia)

     NU                 (Nahdlatul Ulama)

     PBB                (Partai Bulan Bintang)

     PBR                (Partai Bintang Reformasi)

     PERSIS           (Persatuan Islam)

     PI                    (Partai Islam)

     PII                   (Pelajar Islam Indo­ne­sia)

     PKPUS           (Pos Ke­adilan Peduli Ummat Sumatera

Barat)

     PKS                 (Partai Ke­adilan Se­jahte­ra)

     PMII               (Perge­rakan Mahasiswa Islam Indo­ne­sia)

     PSII                 (Partai Sarikat Islam Indo­ne­sia)

     PUSAKA        (Pusat Studi Antar Komunitas)


 

 

 

Studi Ge­rakan Islam Transnasio­nal | 55

 

  RTA                  (Rabithah Thaliban Aceh)

  SI                       (Sarekat Islam)

  UKMI                (Unit Kegiatan Mahasiswa Islam)

 

 

Tabel 1. Daerah Penelitian & Jumlah Responden


 

No.


Area
Penelitian


 

Peneliti


Jumlah
Responden


 

1  Aceh


Teuku Edy Faishal Laode Arham


24

9


2  Medan                          Iswandy Syahputra                                       34


3  Padang                         Sibawaihi                                                       33


4  Palembang                   Laode Arham                                                16


5  Lampung Timur         Wahid Hamdan                                           33


6

 

7


Tangerang dan Jakarta

Tangerang dan Jakarta


Noo r Aziz

 

Ahmad Fuad Fanani


18

 

24


8  Bandung                      Piet H. Khaidir                                              33


9  Bogor                           Kidam Nugraha Tirta                                  24


10  Pekalongan                  Muhammad Bilal                                         25


11  Solo                              Muthoharun Jinan                                       30


12  Klaten                           Muh. Irfan Daud                                           2


Suprianto Abdi                                            24


13  Yogyakarta                  Sri Roviana                                                   16


Enik Maslahah                                               8


14    Lamongan                   Budi Ashari                                                   30


15  Kediri                           Imam Subawi                                                24


16  Malang                         Syamsul Arifin                                              26


17      Banyuwangi                 Nur Kholik Ridwan                                       6


18  Madura                        Abdur Rozaki                                                7


19  Lombok                       Suhaimi Syamsuri                                        20


 

 

 

56 | Ilusi Negar Islam


 

20  Balikpapan


M. Husain A. Thoib                                     16
Siti Salhah                                                     10


21      Makasar                       Mustari                                                          24


22  Poso                             Syahabuddin                                                 27


23  Gorontalo                   Ahmad Faishal                                              24


24  Ambon                        Rajab                                                             24


 

 

Studi Ge­rakan Islam Transnasio­nal | 57 Text Box: Peta Lokasi Penelitian Lapangan


 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab II

 

Infiltrasi

Ideologi Wahabi-Ikhwanul Musli­mn
                                
di In­o­nesia

 

 

Wahabi

Kanjeng Nabi Muham­ad saw. pernah menyatakan bahwa
umatnya akan terpecah men­jadi 73 ke­lom­pok, semua masuk ne­
raka kecuali satu.1 Me­re­ka —yang akan selamat— adalah “yang ber-
pegang kepada Sunnahku dan jamâ‘ah sahabatku” (mâ ana alaih
wa ash-hâbî). Kelompok ini kemudian masyhur disebut Ahlussun-
nah wal-jamâ‘ah (aswaja), orang-orang yang berpegang teguh kepada
sunnah Nabi dan jamâ‘ah sahabat. Para ulama kemudian berusaha
keras mengidentifikasi karakter aswaja ini, yang kemudian —di
dalam konteks interaksi sosial— tersimpul dalam sikap al-tawassuth
wal-itdâl, sikap mo­de­rat dan konsisten.

Hadits prediktif ini sangat masyhur karena terkait de­ngan ke-

 

1.  Versi lain menyatakan, “Semua akan selamat, kecuali satu.” Namun riwayat ini dinilai lemah (dla‘îf). Baca dalam: Nazhm al-Mutanâtsir, jilid i, h. 47; bandingkan juga dalam: Abû Nu‘ain Ahmad ibn ‘Abdillah al-Isbahânî, Hilyat al-Auliyâ’ (Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Arabî, 1405 h.), jilid ix, h. 242.


 

 

 

 

60 | Ilusi Nega­ra Islam

 

selamatan di akhirat kelak. Itu pula sebabnya muncul dua versi
hadits yang sangat berbeda, apakah dari 73 ke­lom­pok tersebut 1
yang selamat atau 1 yang celaka. Terkait de­ngan keselamatan ini
pula, ada ke­lom­pok yang mengklaim bahwa hanya ke­lom­poknya
yang paling benar dan kelak akan selamat di akhirat. Demi klaim
ke­be­naran dan keselamatan ini, me­re­ka mudah mengkafirkan pi-
hak lain semata untuk menegaskan bahwa diri dan ke­lom­poknya
saja yang paling benar, paling mukmin, paling muslim, dan paling
selamat. Me­re­ka lupa bahwa keselamatan tidak ditentukan de­ngan
klaim-klaim semacam itu, tetapi de­ngan ketulusan dan keikhlasan
dalam ber­agama, de­ngan berserah diri, tunduk, dan patuh hanya
kepada Allah swt., dan —dalam term negatif— tidak diken­dalikan
oleh hawa nafsu. Padahal, dalam kesempatan lain, Nabi saw. mem-
peringatkan bahwa, “Siapa pun yang mengkafirkan saudaranya
tanpa penjelasan yang nyata, adalah dia sen­diri yang kafir” (man
kaffara akh
âhu bi-ghairi tawîlfa-huwa kamâ qâla).2 Atau dalam ri-
wayat lain, “Siapa pun yang mekafirkan saudaranya, maka salah
seo rang darinya benar-benar kafir” (man kaffara akhâhufa-qad bâ’a
bih
â ahaduhâ).3 Maka, yang manapun dan dari sisi manapun ke­dua
riwayat tersebut direnungkan, seo rang muslim
kâffah lahir-batin ti-
dak akan pernah mengkafirkan muslim yang mana pun.

Dalam se­jarah Islam, pengkafiran paling awal gemar dilaku-
kan oleh ke­lom­pok Khawârij, seke­lom­pok orang yang keluar (des-
ersi) dari barisan Khalifah ‘Ali ibn Abi Thalib terkait
Tahkî