Catatan Perdana

Memahami Ushul al-Din

 

 

Term akidah terambil dari bahasa Arab ‘aqîdah yang sepadan maknanya dengan keyakinan. Ia adalah unsur yang paling esensial dan utama dalam ajaran Islam. Hal ini karena akidah meliputi segala hal yang bertalian dengan kepercayaan dan keyakinan seorang muslim. Dalam konteks linguistika al-Quran, akidah dibahasakan dengan kata-kata iman.

Kata akidah merupakan derivasi (musytaq) dari aqada-ya‘qidu, yang berarti menyimpulkan atau mengikatkan tali dan mengadakan perjanjian. Dari kata ini kemudian muncul I‘taqada-ya‘taqidu dan I‘tiqâd, yang berarti mempercayai, meyakini, dan keyakinan. Kata I‘tiqâd sama artinya dengan iktikad. Juga, menurut Jamil Shaliba (seorang ahli bahasa Arab Syuriah), dalam bukunya ’Al-Mu‘jam al-Falsafahi’ (Ensiklopedia Filsafat), disepadankan dengan kata dogma dalam bahasa Inggris dan latin.1

Kedukukan aqidah sebagai sesuatu yang esensial harus mendapat dukungan dari dua unsur lainya, syariat dan akhlaq. Ketiganya inilah yang kemudian kita kenal dengan trilogi Islam. Dari ketiganya ini masing-masing memiliki spesifikasi tentang hal-hal yang yang menjadi urusanya. Akidah berkaitan dengan pekerjaan hati, syariat berkaitan dengan aspek sarana transendental (ritual-ibadah), yang berkenaan dengan pelaksanaan hukum berupa perintah dan larangan Allah Swt. sehingga tekanan orientasinya sangat eksoteristik mengenai hal-hal lahiriyah.  Sedangkan akhlak adalah aspek yang berkaitan erat dengan persoalan etika, moral dan pergaulan hidup. Ketiga aspek ini mempunyai hubungan yang sangat erat, keterkaitan satu sama lain tidak dapat dipisahkan. Akidah merupakan pokok (fondasi), syariat merupakan cabang (bangunan), sedangkan akidah merupakan atapnya. Syariat dan ahlak harus dibangun atas dasar akidah yang kuat dan kokoh. Akidah yang kuat dapat membuat syariat dan akhlak dapat berdiri dengan tegak dan megah.

Dari trilogi islam yang ada, akidah merupakan elemen yang harus lebih dahulu ditanaman dan dimiliki oleh seseorang sebelum yang lain, dan hal inilah yang pertama sekali dilakukan Rasulullah Saw. dan juga setiap rasul. Sementara untuk permasalahan yang berhubungan dengan amaliyah (syari’at) baru diwajibkan kepada umat ketika mereka telah telah memiliki akidah yang kokoh dan kuat. Zakat, seumpama, baru diwajibkan setelah Nabi Saw. berada di Madinah.  Dengan kata lain akidah adalah prioritas utama dengan tidak menafikan syariat dan akhlak. Sebagai prioritas, bukan saja akidah itu harus tertanam dalam hati, lebih dari tu ia juga harus penuh dan bulat serta tidak ada keraguan dan kesamaran di dalamnya. Dengan demikian seseorang akan memperoleh kebenaran dan kesempurnaan akidah, yaitu ketika akidah (keyakinan) sesuai dengan apa yang telah dihariskan oleh al-Quran dan hadis.

Dari uaraian di atas jelaslah kiranya kalau kemudian akidah menjadi titik sentral pembahasan dalam disiplin ilmu Tauhid. Menurut Muhamad Abduh, disiplin ilmu Tauhid didefinisikan sebagai bidang ilmu pengetahuan yang mengurai tentang Allah Swt., sifat-sifat yang wajib pada-Nya, sifat yang boleh disematkan pada-Nya, dan sifat yang sama sekali harus ditiadakan dari-Nya serta tentang para rasul, hal-hal yang wajib pada diri mereka dan hal-hal yang boleh dikaitkan (dinisbatkan) kepada mereka serta hal-hal yang dilarang untuk dihubungkan  dengan mereka.2 Hanya saja definisi yang paling umum ialah sebuah bidang pengetahuan yang mengupas beberapa ketentuan akidah-akidah agama berbasis dalil-dalil yang meyakinkan.3   

Sebagaimana kata iktikad, term tauhid juga merupakan derivasi dari bahasa Arab  wahhada yang bermakna mengesakan (jawa: nyuwijiaken). Bertauhid berarti meyakini bahwa Allah itu esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya.4 Sehingga wajar bila kata tauhid kemudian direkrut menjadi sebuah istilah bagi satu disiplin ilmu yang mengupas mengenai-Nya dengan mengambil  bagian utama dalam pembahasan ilmu ini, yaitu menetapkan keesaan Allah Swt. baik dari segi ensitas zat-Nya maupun proyek pembangunan kosmologis (alam raya), disamping hanya Allah-lah tempat kembali seluruh alam raya dan satu-satunya tujuan.5

Menurut Imam Ghazali, pada dasarnya segala bentuk ilmu pengetahuan kembali pada dua bidang: ilmu pengetahuan agama (syar‘iyyah) dan ilmu pengetahuan logika (‘aqliyyah), Sementara dalam bidang ilmu pengetahuan agama ada yang bersifat ushûl (induk) dan furû’ (cabang). Sedangkan disiplin Ilmu tauhid6 inilah yang dimaksud ilmu pengetahuan Ushûl-Dîn (pokok-pokok agama). Dalam arti bahwa disiplin ilmu tauhid adalah bidang ilmu pengetahuan tentang pokok-pokok ajaran agama.7 Oleh karena itu, buku-buku yang membahas masalah akidah disebut kitab Ushûl-Dîn oleh pengarangnya.

Dalam perkembangannya, di kalangan ulama terjadi silang pendapat, sehingga memunculkan kontinuitas perdebatan (ber-kalam) yang berkisar pada pembahasan disiplin ilmu tauhid atau ilmu Ushûl- Dîn. Ulama-ulama yang terlibat asyik mengupas dan berdebat mengenai bidang pengetahuan tersebut, akhirnya populer dengan sebutan mutakalim (ahli ilmu kalam; debat). Dan pada kenyataannya bidang yang membahas masalah-masalah akidah-menurut imam al-Ghazali term Ilmu Kalam--lebih populer dibandingkan term Ilmu Tauhid.8

Dalam penuturan Muhammad Abduh, ilmu tauhid terkadang disebut juga ilmu kalam. Penamaan ini didasari oleh beberapa alasan. Pertama, perselisihan ulama-ulama periode awal (salaf) utamanya seputar bacaan kalam Allah Swt (al-Quran), apakah itu ciptaan yang berarti hâdits (kebaruan), atau ia adalah qadîm (sejak zaman tak berwaktu) yang berarti abadi. Kedua, teori mengenai ketuhanan tidak dilepaskan dari penalaran rasio (‘aqliy) yang menjadi pijakan kuat dalam merumuskan. Sangat jarang sekali bahasan tersebut yang merujuk pada teks-teks wahyu (baca: naqliy). Dan kalaupun ada, hal itu setelah melalui penalaran yang tajam. Ketiga, karena metodologi Ushûl al-Dîn hampir sama dengan aturan-aturan dalam bidang ilmu logika (manthiq) dari segi kupasan premis-premis pemikirannya. Cuma, kemudian singgungan ilmu logika dalam bidang ini dialihbahasakan menjadi kalam, dengan tujuan agar dibedakan antara disiplin Ilmu Tauhid dan Ilmu Logika.9

Dengan motif tersebut, pada akhirnya ulama meredefinisikan pengertian disiplin Ilmu Kalam. Secara etimologi, kalam berarti pembicaraan sama dengan logos dalam bahasa Yunani. Tetapi sebagai istilah, kalam yang dimaksud di sini bukanlah pembicaraan dalam pengertian sehari-hari, melainkan dalam pengertian pembicaraan yang bernalar dengan menggunakan logika, maka ciri-ciri utama kalam ialah rasionalitas atau logika yang merupakan derivasi dari logos

Namun Menurut Ibn Khaldun, devinisi kalam tidak sesempit itu. menurutnya Ilmu Kalam adalah ilmu pengetahuan dengan menggunakan bukti-bukti logis dalam mempertahankan akidah keimanan untuk menolak akidah pembaharu (bid’ah) yang menyimpang dengan dogma yang dianut founding father (pendahulu) kaum muslim. Jadi, pada hakikatnya Ilmu Kalam tetap selaras dengan Ilmu Tauhid ditinjau dari segi bahasan akidah ketuhanan yang benar.10 Hanya saja, Ilmu Kalam sedikit lebih luas dalam menggunakan bukti-bukti rasional.

Oleh Syekh Ibrahim al-Baijuri, Ilmu Kalam diartikan sebuah disiplin ilmu yang didalamnya  bermaterikan pendapat-pendapat para ulama yang banyak diwarnai kontroversi, uji kebenaran dialektis (Arab: jidâl ), yang pada akhirnya memunculkan (pembahasan) pembelaan dan penetapan kebenaran dengan cara mengalahkan pendapat lawan. Dalam proses penetapan kebenaran inilah diperlukan bahasan kritis dan tajam, tidak sepihak serta diperbandingkan dari dua arah yang berbeda (berlawanan). Karena itu tak mengherankan kalau ilmu kalam lebih banyak diwarnai perbedaan (kontroversi) dan pertentangan (sikap pro dan kontra), baik mengenai isi, metodologi, maupun klaim-klaimnya. Dengan demikian, disiplin ilmu kalam sangat membutuhkan uraian panjang (berkalam), mencantumkan pendapat lain sekaligus mengetahui sisi kekeliruan dan kesalahnya untuk kemudian mununjukan kebenaranan.

Begitulah gambaranya. Lalu ketika muncul muncul pertanyaan apakah ilmu kalam harus dipelajari?, ya, Ilmu kalam termasuk bidang yang pertama yang harus dipelajari, tentu saja setelah lebih dulu ber-akidah dengan mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah Swt (lâ ilâha illâh). Pernyataan ini menunjukan bahwa Allah Maha Esa, tidak bersekutu dan tidak boleh disekutukan dengan yang lain. Hanya satu-satunya Allah yang patut dan berhak disembah (periksa: SULAM al-TAUFÎQ). Ini akan melahirkan keyakinan yang mengakui wujud Allah Swt, sifat-sifat-Nya, hukum-hukum-Nya, dan kekuasan-Nya. Pokok akidah ini dengan sendirinya akan mencakup kepercayaan-kepercayan yang lain, seperti malaikat-malaikat-Nya, para Rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, hari kebangkiban dan ketentuan takdir-Nya.      

Akidah (baca: pengakuan dan keyakinan) dimaksud tidak cukup hanya dengan hati saja melainkan harus juga disertai dengan pernyataan yang keluar dari bibir. Atau dengan kata lain seseorang harus dengan tulus dan jujur mengucapkan dua kalimat syahadah (syahadatain), Syahadah Tauhid dan Syahadah Rasul. Pernyataan inilah yang dapat menjustifikasi kebenaran akidah seseorang.

Dalam menetapkan ke-tauhid-an, terdapat lima pokok yang harus diyakini, 1). Meniscayakan wujud Allah Swt. agar tidak mengateistik. 2). Mengesakan Allah Swt. agar terbebas dari menpoliteistik (syirik). 3). Mensucikan Allah Swt. dari hal-hal yang berbentuk (Arab: Jauhar) dan karakteristik makhluk (Arab: ‘irdh), untuk menghindari keserupaan dengan ciptaan apapun. 4). Mengakui segala ciptaan adalah buatan Allah atas dasar kuasa dan wewenang-Nya, untuk menghindari segala pernyataan kepercayaan akan ‘ilat (perangkat) dan ma‘lul. (obyek perangkat). 5). Mengakui Allah Swt. sebagai Pengontrol alam raya, bukan didasari tabiat, bintang-bintang atau kontrol Malaikat.

 

Signifikansi Studi Ilmu Tauhid

Disiplin Ilmu Tauhid bertujuan memantapkan keyakinan dan kepercayaan agama melewati akal pikiran, disamping kemantapan hati yang didasarkan pada wahyu. Selain itu ilmu Tauhid juga digunakan untuk membela kepercayaan dan keimanan dengan menghilangkan bermacam-macam keraguan yang mungkin masih melekat atau dilekatkan oleh lawan-lawan kepercayaan itu. Dengan kata lain, ilmu Tauhid bertujuan untuk mengangkat kepercayaan seseorang dari lembah taklid ke puncak keyakinan. Itulah sebabnya ilmu Tauhid dianggap sebagai induk ilmu-ilmu agama.  Ibarat pohon yang menghasilkan buah, pun demikian dengan ilmu tauhid. Buah yang diperoleh dari mempelajari disiplin ilmu Tauhid ialah mengetahui hakikat sifat-sifat Allah dan para utusan-Nya berdasarkan bukti-bukti demonstratif (Arab: burhân). Karena dengan cara itulah kebahagian abadi akan didapatkan.11  

Jadi perlu dicatat, bahwa prioritas utama studi Ilmu Tauhid adalah menciptakan kemantapan keyakinan melalui pola penalaran. Namun para Mutakallim (teolog) berbeda pendapat dalam menentukan hukum mempelajari seputar akidah. Sebagian ulama berpendapat bahwa, berpikir memahami pengetahuan akidah bukan syarat pengabsahan keimanan seseorang dan sama sekali tidak ada keharusan ke arah sana. Hanya saja proses penalaran untuk memahami akidah dijadikan  penyempurna keimanan. Sementara menurut mayoritas teolog mengatakan berpikir mamahami termasuk syarat dalam pengabsahan keimanan. Dalam arti, keimanan yang benar harus muncul dari buah pikiran positif seseorang.12

Kemudian kalau mau berpikir realistis, percaya kepada eksistensi Allah Swt. dan kebenaran Nabi Muhamad Saw. bukanlah sesuatu yang harus dibuktikan secara logis oleh sebuah teori, melainkan Ia adalah sebuah postulat etis yang harus dibuktikan melalui praktik setiap hari. Dalam kitab al-Iqtishâd fi al-’Itiqâd, imam Ghazali menguraikan bahwa, bagi orang yang percaya kepada Allah swt., membenarkan Nabi Muhamad, meyakini akan kebenaran dan merasa tenang dengan beribadah atau beraktifitas keseharian, sebaiknya tidak meninggalkan apa yang sudah diyakini dan diimaninya dengan tidak menggerakan akidah (hati)nya untuk mempelajari lebih dalam tentang ilmu Kalam (Tauhid).13  

            Melihat sisi kecerdasan seseorang dan tujuan memahami ilmu Tauhid adalah peneguhan terhadap akidah, maka dalam tataran praktisnya harus dibedakan satu orang dengan lainnya disesuaikan dengan kapasitas rasio dan kemantapan hatinya. Wajar bila imam Ghazali kemudian mensekat-sekat pembaca dalam memahami karya-karyanya. Ia mengakui akan pentingnya mempelajari ilmu akidah. Setiap orang berkewajiban memahaminya dengan sungguh-sungguh. Karena tujuan ilmu Tauhid -pencatuman argumentasi demonstratif (burhan)- tidak lain adalah untuk menumbuhkan kemantapan akidah akan kebenaran wujud Allah swt., sifat-sifat dan tindakkan-Nya, dan kebenaran berita para rasul.14

Dalam rangka mencapai kemantapan akidah maka mempelajari ilmu tauhida adalah suatu keharusan, akan tetapi mempelajarinya secara mendalam terkadang akan mendatangkan keraguan dalam hati. Lalu bagaiamakah mengahadapi dilema seperti ini?. Dalam konsep tauhidnya, imam Ghazali mengungkapkan bahwa dibalik akidah sesorang terdapat dua tahapan untuk mencapai kemantapan dan kesempurnaan akidah. Pertama, mengenali dan mengetahui dalil-dalil akidah dengan jelas tanpa harus menyelami rahasia-rahasianya. Kedua, mengenali dan mengetahui dalil-dalil serta rahasia-rahasianya. Tapi, dua tahap tersebut bukan menjadi disiplin yang harus ditekuni kaum awam. Dalam arti, keselamatan mereka di akhirat tidak berpijak pada dua tahap tersebut. Masih menurut Ghazali, kaum awam akan mendapatkan keselamatan dari api neraka di akhirat kelak, sedangkan keselamtan dan kemenangan adalah perolehan anugerah nikmat yang mendalam. Sementara kebahagiaan adalah perolehan nikmat paripurna.15

Dengan demikian memahami dalil-dalil akidah adalah kewajiban personal seorang muslim, meskipun hanya garis besarnaya saja dan setiap muslim tidak dibolehkan lari dari kewajiban untuk mengenal dalil absolut dalam keyakinan religinya. Adapun mempelajari dalil-dalil akidah secara spesifik adalah kewajiban kolektif.

Nah, dari sini timbul pertanyaan: Mengapa dalil-dalil spesifik akidah itu diwajibkan sekedar kolektif?

Ternyata, rahasia ketentuan tersebut karena dengan memahami dalil-dalil spesifik, potensi keserupaan (syubhat) ajaran dapat disingkarkan, melawan (mengalahkan) golongan penginkar, sekaligus dapat meyakinkan para pencari kebenaran keyakinan. Inilah signifikansi memahami Ilmu Tauhid. 16 Dapat dibayangkan, seandainya Ilmu Tauhid tidak wajib -meskipun bersifat kolektif- siapa yang akan membentengi dan menegakkan panji-panji agama ini, ketika berhadapan dengan merebaknya kerusakan akidah. Siapa yang dapat mengarahkan orang-orang yang sedang kebingungan iktikad, sebagaimana realitas kekinian.  

            Makanya perlu dicatat, ilmu Tauhid dengan Filsafat harus dibedakan. Kebanyakan ulama-ulama mutakallim menyimpulkan eksistensi dan sifat Sang Pencipta dari benda-benda wujud dan kondisinya. Biasanya, menurut Ibnu Khaldun, itulah garis argumentasi mereka. Fisika adalah bentuk bagian dari alam wujud dan itu merupakan subjek studi fisika para filosuf. Namun, studi filosuf berbeda dengan studi mutakallim. Filosuf mempelajari tubuh-tubuh dari segi gerak dan diamnya, sedang para mutakallim, mempelajarinya dari segi sejauh mana benda-benda fisik itu berlaku sebagai argumen bagi Pencipta. Demikian pula studi filosuf atas metafisika yang mempelajari eksistensi dan apa yang dibutuhkan baginya. Sebaliknya, studi para mutakallim terhadap metafisika adalah mengenai existentia, sejauh mana itu berlaku sebagai argumen bagi Dia yang mencipta.

            Dari sini dapat ditemukan tujuan Ilmu Tauhid, adalah menemukan jalan pemecahan bagaimana akidah-akidah, pokok-pokok keimanan yang telah dinyatakan kebenarannya oleh hukum agama, dapat dibuktikan dengan bantuan argumentasi logis, sehingga bid’ah-bid’ah dapat dilenyapkan dan keragu-guan serta kesalahpahaman mengenai pokok-pokok keimanan dapat dilenyapkan.

           

Posisi Terhormat Studi Ilmu Tauhid

            Sebagai salah satu bidang dalam studi pemikiran keislaman. Ilmu Tauhid, ilmu ‘Aqâ’id (ilmu akidah-akidah, yakni simpul-simpul [kepercayaan]) atau istilah lainnya  Ushûl al-Dîn (ilmu pokok-pokok agama), menempati posisi yang paling terhormat dalam tradisi keislaman. Hal ini karena Ilmu Tauhid adalah tumpuan pemahaman tentang sendi-sendi paling pokok dalam ajaran Islam, yaitu simpul-simpul kepercayaan, ke-mahaesa-an Tuhan, dan pokok-pokok ajaran agama. Di Indonesia [negeri kurang dicintai warga], terutama yang terdapat dalam sistem pengajaran madrasah dan pesantren, kajian tentang Ilmu Tauhid merupakan suatu kegiatan yang tidak mungkin ditinggalkan.

Dalam realitas sejarah, banyak dari kalangan ulama salaf yang menekuni, mendalami, dan mengkaji Ilmu Tauhid. Namun pada saat itu intensitas mereka terhadap studi Ilmu tauhid baru sebatas memahami untuk kepentingan pribadi, tidak mengejawantah dalam bentuk karya tulis atau usaha menyalurkan atau menyampaikan kepada orang lain, karena kebutuhan sosial dalam diskursus Ilmu Tauhid pada masa itu masih sangat minim. Berbeda dengan masa setelahnya, ketika latar religiositas sosial berubah, konteks masyarakat berlainan, karya-karya tentang studi Ilmu Tauhid dirasa sangat perlu, sebagaiman buku yang ada di tangan pembaca ini.    

          Imam Syafi’I sebagai seorang mujtahid yang sebagian besar hidupnya  ia habiskan untuk mendalami kajian fiqh, memberikan apresiasinya terhadap ilmu tauhid dengan berujar bahwa dirinya menyukai merasa mantap dengan Ilmu ini. Yang tidak ia sukai bukan Ilmu tauhid, akan tetapi pembicaraan nalar yang dilakukan oleh aliran-aliran yang tidak mengikuti tradisi pemikiran Ahlusunnah atas berita dari Nabi. Karena yang dibawa nabi adalah mutlak kebenaranya, maka segala bentuk paham yang tidak sejajar dengannya berarti mengikuti nafsu pikiran belaka. Ia katakan: “Sesungguhnya pertemuan manusia dengan Allah yang membawa dosa selain syirik itu lebih baik daripada membawa hawa nafsunya”. Lebih baik berbuat dosa daripada berpikir mengikuti nafsu, bukan meneruskan tradisi pemikiran sunah.17

           Begitu juga seorang pembaharu Islam, Umar bin Abdul Aziz Ia termasuk orang yang mendalami studi Ilmu tauhid. Sebagai raja dia  bertindak transparan menata konstruk sosial dengan paham yang benar dan terus menyerang paham Muktazilah. Selain Syafi’I dan Umar bin Abdul Aziz, banyak ulama-ulama salaf yang menekuni Ilmu Tauhid dan pengetahuan tentang pokok-pokok keagamaan, misalkan imam Malik (pendiri madzhab fiqh Malikiyah). Sebagai ilmu yang menempati tempat terhormat, ilmu tauhid harus dikedepankan sebelum merambah yang lain. Sungguh baik adagium yang menguraikan:

@ Hanya manusia tidak berakal yang mencaci Ilmu Kalam

@ Dan kalau pun mereka mencaci sama sekali tidak ada kebahayaan

@ Tidak bahaya matahari pagi yang terbit di ufuq

@ Untuk tidak disaksikan cahayanya oleh orang buta

Memang benar-benar menjadi kewajiban personal seorang muslim memahami dalil-dalil akidah, meskipun secara garis besar. Adapun mengenai mempelajari dalil-dalil akidah secara spesifik, itu menjadi kewajiban kolektif. Bagi setiap muslim tidak dibolehkan lari dari kewajiban mengenal dalil absolut dalam keyakinan religinya.

Nah, dari sini timbul penasaran: Mengapa dalil-dalil spesifik akidah itu diwajibkan sekedar kolektif?

Ternyata, rahasia ketentuan tersebut karena dengan memahami dalil-dalil spesifik, potensialitas keserupaan (syubhat) ajaran dapat disingkarkan, melawan [mengalahkan] golongan penginkar, sekaligus dapat meyakinkan para pencari petunjuk kebenaran keyakinan. Inilah signifikansi memahami Ilmu Tauhid. 18 Dapat dibayangkan, seandainya Ilmu Tauhid tidak wajib -meskipun bersifat kolektif- siapa yang akan membentengi dan menegakkan panji-panji agama ini, ketika berhadapan dengan merebaknya kerusakan akidah. Siapa yang dapat mengarahkan orang-orang yang sedang kebingungan iktikad, sebagaimana realitas kekinian.  

                  

  

            Motifasi Penulisan Diskursus Tauhid

            Dalam mukadimah Umm al-Barâhîn, diterangkan mengenai motif yang melatari Sayyid Imam Sanusyi (pengarang) menulis bukunya. Ia katakan:19 “Masa sekarang –zaman dimana orang serba kesulitan- yang paling terpenting bagi manusia ialah berupaya menyelamatkan diri dari ancaman siksa neraka selama-lamanya. Upaya itu tidak dapat dilakukan kecuali memantapkan akidah tauhid sesuai paham Ahlusunnah. Alangkah dapat terhalang bagi orang yang mengikuti akidah itu dari kerusakan dan kebobrokkan akidah masa kini. Realitas masa sekarang yang tersebar adalah kebodohan, dan kebatilan. Masyarakatnya lebih suka menginkari kebenaran, dan membenci orang-orang yang benar (baik). Mereka lebih senang menampakkan perhiasan kebatilan yang dapat membujuknya. Alangkah bahagiannya seorang yang mendapatkan petunjuk (taufik) mengikatkan keyakinan pada kebenaran akidah. Karena setelah itu, ia akan mengetahui kebutuhan (kepentingan) cabang-cabang keagamaannya, baik kepentingan esoteris (batin) maupun kepentingan eksoteris (lahir).

Demikian uraian pendahuluan dalam kitab Umm al-Barâhîn. Pada masa itu berarti  pada masa kehidupan pengarangnya. Lebih-lebih untuk masa-masa kekinian. Menurut penuturan Syeh al-Dasuqi, konteks penulisan buku Umm al-Barâhîn ialah ketika keadaan masyarakat banyak yang terseret pada perilaku bid’ah. Sementara dari pihak lain, jarang sekali berpendapat untuk merespon sebagai wujud penolakkan kesesatan-kesesatan itu.

Disamping merebaknya perilaku bid’ah, peristiwa Abu Hasan Asy’ari20 juga dapat menjadi pijakkan. Pada masa itu, Muktazilah sedang gencar-gencarnya menyebarkan pahamnya. Asy’ari yang kebetulan mantan tokoh Muktazilah, setelah sadar akan kesesatan Muktazilah, dia bertekad kembali ke ajaran yang benar. Setelah melalui perenungan mencari kebenaran akidah, ia mengatakan: “Wahai para hadirin! Beberapa hari ini aku telah mengasingkan diri, karena untuk berpikir. Saya banyak mengetahui keterangan-keterangan dan dasar-dasar hukum yang diberikan masing-masing golongan, tetapi dalil-dalil yang dimajukan, menurut analisa saya, sama kuatnya; tidak bisa memilah-milah mana dalil yang benar dan valid, dan mana yang salah dan keliru. Di tengah (gejolak) kebingungan itu, lalu saya meminta petunjuk kepada Allah. Dan akhirnya Allah memberiku petunjuk jalan yang benar. Saya sekarang meninggalkan keyakinan-keyakinan lama dan menganut keyakinan-keyakinan baru saya yang telah saya rangkum dalam buku ini. Keyakinan-keyakinan lama saya lemparkan sebagaimana saya melemparkan baju ini” .

Dan, sepanjang sejarah, peristiwa penalaran dalam kajian pemikiran Islam, utamanya yang bersinggungan dengan teori metafisika, baik seputar ketuhanan maupun yang melingkupinya, di antara tokoh-tokoh Islam banyak memunculkan opini kontradiktif. Contoh kecil dalam pemikiran filsu-filsuf muslim, seperti konsepsi keqidaman kosmologis, kemakhlukan dan lain-lain, akan tetapi pencapaian nalar Islam dengan kombinasi filsafat semacam itu telah mengalami kemusnahan.

Perjalanan panjang tokoh-tokoh pejuang Ahlusunnah wal-Jamaah dalam sisi tradisi pemikiran dan dalam keyakinan tradisi keislaman yang selaras dengan apa yang diungkapkan oleh Nabi, Sahabat dan salaf al-Shalih harus kita teladani meski harus berhadapan dengan cibiran dan cemoohan. Sebagaimana yang dialami ulama-ulama terdahulu dalam memper-tahankan keyakinannya. Wa Allah a’lam. []

                       

              

 



1 Ensiklopedi Islam, Katalog Dalam Terbitan (KDT), pen. PT Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta, vol. Suplemen Kesatu tahun 1999 huruf. ”A” hal. 24

2 Muhamad Abduh (w. 1323), Risalah Tauhid 2, Mathabi’ Dar al-Kitab ’Arabi, juz: I, hlm 1

3 Sayid Muhamad Husayn Afandi, Hushun al-Hamidiyyah, al-Hidayah, Surabaya, hlm. 7.

4 Sulaiman bin Abdullah bin Muhamad bin Abdul Wahab (w. 1233), Taisir al-’Azizi al-Hamid Syarah Kitab al-Tauhid, Maktabah Riyadh al-Haditsah, hlm. 17

5 Ibid.

6 Untuk menambah wawasan, imam Ghazali mengartikan ilmu tauhid ialah sebuah ilmu yang membahas zat Allah Swt. sifat-sifat-Nya yang qadim, sifat yang berhubungan dengan kuasa-Nya (fi’liyah), membahas tentang perilaku dan perbuatan para nabi dan para imam-imam dari golongan sahabat, serta tentang hari kiamat dan yang melimgkupinya. Periksa: Imam Ghazali, Risalah al-Laduniyah (Majmu’ al-Rasail al-Imam al-Ghazali), Dar al-Fikr, Beirut, hlm. 227.

7 Imam Ghazali, Risalah al-Laduniyah (Majmu’ al-Rasail al-Imam al-Ghazali), Dar al-Fikr, Beirut, hlm. 227.

8 Ibid.

9 Muhamad Abduh, Op. cit.

10 Abdurrahman ibn Khaldun, Muqaddimah ibn Khaldun, Dar al-Fikri, Beirut, hlm. 458.

11 Sayid Muhamad Husayn Afandi, Loc. cit.

12 Namun harus digarisbawahi. Ulama yang berpendapat bahwa keimanan dikatakan tidak sah tanpa berpikir terlebih dahulu bukan berarti secara absolut melarang taklid sama sekali. Jadi kewajiban berpikir memahami akidah hanya diperuntukkan bagi orang-orang tertentu. Bagi orang yang mampu berpikir memahami berarti tertuntut harus berpikir ke sana. Dengan konsekwensi, senadainya masih bermanja-manjaan taklid dia tergolong berdosa karena meninggalkan kewajiban untuk memahami akidah sesuai pemahamannya. Tapi bukan berarti lepas keimanannya. Berbeda konsekwensi bagi  orang-orang yang memang tidak memiliki keahlian berpikir memahami. Bagi orang-orang ini disamping dikatakan beriman juga tidak dikatakan berbuat dosa, karena tidak tertuntut kewajiban berpikir. Baca:  Syeh Muhamad ibn Ahmad ibn ’Arafah al-Dusuqi al-Maliki, al-Dusûqi ’Ala Umm al-Barahîn, Thaha Putra Semarang, hlm. 57.

13 Abu hamid bin Muhamad bin Muhamad al-Ghazali, al-Iqtishad fi al-’Itiqad, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, Libanon, hlm. 8

14 Ibid, hlm. 6

15 Abu Hamid Muhamad bin Muhamad al-Ghazali, Kitab al-Arbain fi Ushul al-Din, Dar al-Fikr, Beirut, hlm. 20-21

16 Muhammad bin Ali bin Muhammad Ba’athiyah al-Daw’ani, Mu’jaz al-Kalam Syarh Manzhumah ’Aqidat al-’Awam, Dar al-Ulum al-Islamiyyah, cet.IV, 2004, hlm. 49.

17 Hawa nafsu yang dikehendaki di sini ialah pandangan yang diminati oleh golongan bid’ah yang tidak sejalan dengan paham ulama salaf. Imam Syafi’i sama tidak menklaim bahwa Ilmu Tauhid termasuk pengetahuan golongan bid’ah. Ini harus dibedakan. Ilmu Tauhid tetap menjadi bidang yang harus dipelajari setiap muslim. Periksa: Syeh Abdullah al-Harari, al-Durrat al-Bahiyyah fi hilli Aqidat al-Thahawiyah, Dar al-Masyari’, Beirut, Libanon, cet. III, 2001, hlm. 20 

18 Muhammad bin Ali bin Muhammad Ba’athiyah al-Daw’ani, Mu’jaz al-Kalam Syarh Manzhumah ’Aqidat al-’Awam, Dar al-Ulum al-Islamiyyah, cet.IV, 2004, hlm. 49.

19 Sayyid Imam al-Sanusi, Umm al-Barâhîn (Khasiyyah al-Dusuqi), hlm. 14.

20 ibid