BANGSA ARAB PRA-ISLAM

 

Secara umum, bangsa Arab pra Islam terbagi dalam dua kelompok besar; Bangsa Aribah dan Bangsa Mutarribah. Bangsa Aribah mendiami wilayah Yaman dan terdiri dari beberapa kabilah. Mereka adalah keturunan dari Qathan yang dalam kitab Taurat disebut Yaqzan. Selama ratusan tahun lamanya, Bangsa Aribah pernah berjaya dengan mendirikan kerajaan-kerajaan besar yang melahirkan kebudayaan dan peradaban tinggi di zamannya. Mereka membangun kota-kota dan mendirikan istana-istana megah dengan arsitektur yang bermutu tinggi. Bangsa Aribah sudah mampu mengolah pertanian mereka dengan sistem irigasi, disamping ahli dalam seni ukir, ahli dalam ilmu nujum atau perbintangan, memiliki angkatan perang yang tangguh, dan mengadakan hubungan perniagaan dengan negara-negara tetangga.[1]

Sedangkan Bangsa Mutaarribah adalah keturunan dari Nabi Ismail as. Mereka mendiami kawasan Hijaz, yakni sebelah utara dari daerah yang didiami Bangsa Aribah. Mereka dinamakan Bangsa Mutaarribah karena nenek moyak mereka yang pertama, Nabi Ismail as. tidak berbahasa asli Arab, melainkan berbahasa Ibrani dan Suryani. Menurut catatan sejarah, kedatangan Nabi Ismail ke Arab berawal ketika beliau bersama ibunya, Siti Hajar, dibawa oleh bapaknya, Nabi Ibrahim as. ke Mekkah lalu menetap di sana. Nabi Ismail dan Siti Hajar berbaur bersama pendduduk setempat, yakni kabilah Jurhum yang telah lebih dahulu mendiami Mekkah. Dari kabilah Jurhum inilah Nabi Ismail mengenal bahasa Arab, dan setelah dewasa menikah dengan salah seorang gadis keturunan kabilah tersebut. Dari pernikahan itu, Nabi Ismail dikaruniai 12 orang anak yang di kemudian hari menjadi cikal-bakal keturunan Kuraisy.[2] Di Mekkah ini pula Nabi Ismail menyiarkan agama tauhid kepada kaumnya.

 

Kependudukan

Bila ditinjau dari segi daerah tempat tinggal, bangsa Arab yang wilayahnya terdiri dari padang pasir dan stepa, dapat dibedakan menjadi dua kelompok besar, yakni penduduk pedalaman (Badui/Arabi) dan penduduk perkotaan. Penduduk pedalaman tidak mempunyai tempat tinggal tetap. Mareka adalah kaum nomad yang hidup berpindah-pindah dari satu kawasan ke kawasan lain bersama binatang ternak mereka untuk mencari sumber mata air dan padang rumput yang subur (oase). Kaum Badui ini hidup dari beternak kambing dan memerah susu sebagai konsumsi sehari-hari. Sedangkan penduduk perkotaan sudah memiliki tempat tinggal permanen di beberapa kota kecil secara terisah-pisah. Mereka sudah memiliki beragam keterampilan seperti berdagang, bercocok tanam, atau beternak.

Baik penduduk perkotaan maupun pedalaman, mereka semua hidup berkabilah-kabilah atau bersuku-suku sesuai garis keturunan (klan) masing-masing. Oleh karena itu, seringkali terjadi perselisihan antar kabilah yang biasanya berakhir dengan peperangan dan pertumpahan darah.

 

Budaya

Sejak sebelum kedatangan Islam, Bangsa Arab dikenal memiliki kebudayaan non-materiil yang dilestarikan secara turun-temurun. Di kalangan mereka banyak para pujangga, penyair, penutur cerita prosa, atau penungang kuda yang tangkas. Kelebihan-kelebihan seperti itu menjadi syarat mutlak diraihnya status sosial, baik di kabilahnya sendiri maupun di hadapan kabilah lain.

Sementara kedudukan sastra dalam masyarakat Arab sudah seperti ajaran agama. Mereka memposisikan syair-syair laksana kalam hikmah yang harus diikuti dan ditaati, dan penyairnya diposisikan layaknya nabi yang memiliki ajaran hikmah tingkat tinggi. Dalam membuat suatu keputusan hukum, misalnya, bangsa Arab juga banyak yang merujuk pada syair-syair yang ditulis para penyair masa itu. Akibatnya, perselisihan dan keharmonisan antar suku, atau tinggi-rendahnya status sosial, sangat dipengaruhi ahli tidaknya seseorang dalam membuat dan membacakan syair. Setiap kabilah akan merasa bangga jika diantara warga mereka ada yang menjadi tukang syair.

Cara Bangsa Arab menerima syair biasanya dengan mengundang para penyair ke berbagai acara, baik acara keluarga maupun acara kolosal. Di sana para penyair itu diminta untuk membacakan syair-syair mereka kepada para hadirin atau tamu undangan.[3] Sejak sebelum kedatangan Islam, di kalangan Bangsa Arab terdapat nama-nama penyair yang sangat populer dan mempunyai posisi sangat terhormat. Mereka antara lain adalah Imri al-Qais, Nabighah al-Dzibyani, Zuhair bin Abi Salma, dan al-Asya.[4] Mereka dinilai sebagai dewa-dewa kesusastraan Arab yang sangat diidolakan dan diagung-agungkan. Setiap patah kata yang keluar dari mulut mereka diposisikan layaknya sabda seorang Nabi yang harus didengarkan dan dipatuhi.

Disamping kebangggaan dalam bidang kesusastraan, bangsa Arab juga memuja-muja kekuatan dan ketangkasan individual. Identitas sosial bagi setiap individu banyak didasarkan pada aspek kekuatan, keperkasaan, ketangkasan, kemahiran, dan keahlian-keahlian tertentu lainnya, seperti menunggang kuda, memanah, memainkan pedang, dan lain sebagainya.

Hal lain yang menjadi ciri khas kabilah-kabilah Arab adalah kesetiaan dan solidaritas antar kelompok. Kesetiaan menjadi sumber kekuatan utama setiap suku. Bahkan bila diantara anggota suku ada yang membelot, maka hukumannya adalah mati.

 

Konstruksi Sosial

Setiap kabilah di seluruh semenanjung Arab umumnya dibentuk oleh beberapa keluarga atau garis keturunan (klan) dan mendiami sebuah tempat tertentu secara turun temurun. Mereka membentuk satu kelompok kesukuan yang dipimpin oleh seorang kepala suku yang disebut syeikh (maha guru). Sang kepala suku memiliki posisi sangat terhormat di mata setiap anggota suku. Segala persoalan yang timbul dalam satu komunitas kesukuan selalu dimintai pertimbangan kepada sang pimpinan. Hal-hal kecil seperti pernikahan, waris-mewaris, hingga persengketaan tanah, atau persoalan besar, seperti peraturan kesukuan, pembangunan tempat-tempat umum, atau sengketa antar suku, juga selalu dirujukkan kepada kepala suku. Sebagai contoh, ketika segolongan anggota Bani Nazzar berselisih soal tanah warisan, mereka meminta al-Afa bin al-Afa al-Jurhumi, kepala kabilah Bani Nazzar, guna memutuskan perkara tersebut sesuai pertimbangan pribadinya. Mereka bersedia menerima apa saja keputusan yang diambil oleh al-Afa.[5] Hal ini menunjukkan betapa besarnya peran seorang kepala suku di mata anggota sukunya.[6]

Selain itu, Bangsa Arab pra Islam juga mempunyai kebiasaan mengundi nasib (al-azlam) ketika hendak mengambil suatu keputusan atau ketika akan melakukan pekerjaan. Mereka sangat meyakini bahwa pengundian itu akan mendatangkan keuntungan atau dapat mengubah nasib mereka. Bahkan di mata Bangsa Arab, praktek perjudian mempunyai nilai prestisius dan membanggakan. Para penjudi dianggap sebagai golongan elit atau borjuis.[7]

Alur Ekonomi

Lalu lintas ekonomi Bangsa Arab pra-Islam umumnya terpusat di pasar-pasar tradisional. Setiap daerah memilik pasar-pasar tertentu yang digunakan sebagai pusat kegiatan perdagangan dan tukar-menukar barang (barter) oleh beberapa kabilah atau suku yang mendiami kawasan tersebut. Kegiatan di masing-masing pasar berlangsung secara berkala. Contohnya seperti pasar Daumat al-Jandal, pasar milik Bani Ghassan dan Bani Kilab, yang hanya melangsungkan kegiatan perdagangan pada bulan Rabiul Awwal.[8]

Selain dihadiri para pedagang dari kawasan sekitarnya, di pasar-pasar tersebut juga hadir para pedagang dari luar daerah. Mereka datang ke pasar tersebut secara berrombongan dan menempuh perjalanan darat selama berhari-hari. Rombongan dagang dari Mekkah, misalnya, harus menempuh perjalanan kurang-lebih satu minggu untuk sampai ke pasar tradisional Syam (Suriah). Mereka biasanya telah sampai ke pasar jauh-jauh hari sebelum kegiatan bisnis dibuka.

Sebelum kedatangan Islam, terdapat sepuluh pasar utama di seluruh Jazirah Arab yang menjadi pusat kegiatan bisnis masyarakat. Diantara pasar-pasar yang ramai dikunjungi adalah pasar Adn yang hanya berlangsung pada permulaan Ramadlan. Pasar ini terkenal sebagai pusat minyak wangi dengan kualitas tinggi. Selanjutnya adalah pasar Ukadz, pasar yang terletak di dataran tinggi Najd. Pasar ini merupakan pusat transaksi kaum elit Arab yang hanya melangsungkan aktivitas bisnis pada bulan Dzul Qadah. Pasar-pasar lainnya adalah pasar al-Musyaqqar di kawasan Bani Tamim, pasar Shahhar yang terletak di daerah kekuasaan Bani Jalnadi, pasar Rabiyah di Hadramaut, Yaman, pasar Shana, dan pasar Dzi al-Majaz yang biasa dilalui para jamaah haji sebelum tiba di Mekkah.

Sayangnya, di pasar-pasar tersebut tindak kejahatan cukup tinggi dan memprihatinkan. Preman-preman pasar yang beroperasi di sana sering mengompas orang-orang yang mengunjungi pasar. Diantara kelompok preman yang terkenal ganas adalah gerombolan Bani Asad, Bani Thayyi, Bani Bakar, dan Bani Amir bin Shasha. Walaupun jumlah mereka tidak begitu banyak, namun keberadaan mereka cukup membuat miris para pedagang. Apalagi anggota-anggota preman tersebut umumnya mamiliki olah kanuragan yang cukup memadai, disamping faktor kekompakan dan solidaritas mereka yang terkenal kuat.

Sebagai lawan dari para preman, di pasar-pasar tersebut juga ada golongan pembela yang sering berhadapan langsung dengan gerombolan preman. Kelompok pembela ini mengikrarkan diri akan melindungi siapa saja yang mendapat gangguan. Golongan ini terdiri dari Kabilah Bani Amr bin Tamim, Bani Handlalah, Kabilah Bani Hudzail, Kabilah Bani Syaiban, dan Kabilah Bani Kilab. Guna melaksanakan tujuan di atas, mereka selalu membawa senjata tajam di mana saja mereka berada. Bahkan pada bulan-bulan yang dimuliakan pun, seperti Bulan Haji, mereka tetap membawa senjata tajam. Padahal Bangsa Arab pada umumnya tidak ada yang berani membawa senjata tajam pada bulan itu. Sebab Bulan Haji diyakini sebagai bulan yang mulia dan tidak satu tetes darahpun yang boleh mengalir pada bulan itu. [9]

Mekah dan Pengaruh Suku Kuraisy

Diantara sekian banyak kota di semenanjung Arabia, salah satu kota terpentingnya adalah Mekah. Kota Mekkah terkenal di antara kota-kota lain di seluruh jazirah Arab, karena kota ini menjadi jalur perdagangan penting yang menghubungkan antara negeri Yaman di selatan dan Suriah di belahan utara. Disamping itu, keberadaan Kabah di tengah-tengah kota Mekkah juga memberi pengaruh tersendiri bagi kota ini, karena ia menjadi pusat keagamaan berbagai kabilah dan suku-suku di seluruh negeri Arab. Kabah didatangi oleh kabilah-kabilah untuk beribadah dan berziarah. Di dalamnya terdapat kurang lebih 360 berhala yang mengelilingi patung utama, Hubal.[10]

Diantara suku-suku yang paling berpengaruh di sekitar Mekkah adalah suku Kuraisy. Suku Kuraisy sejak berabad-abad lamanya memainkan peranan penting dalam percaturan sosial masyarakat Arab karena mereka secara turun-temurun dikenal sebagai pengurus Kabah dan tempat-tempat bersejarah lainnya. Peranan tersebut menyebabkan Suku Kuraisy dimuliakan oleh kabilah-kabilah lainnya di seluruh Jazirah Arab.[11] Bahkan pergaulan kaum Kuraisy dengan bangsa-bangsa lain, seperti dengan dua bangsa yang memiliki peradaban tua dan imperium sangat luas, Persia dan Romawi, memberikan pengalaman dan pengetahuan yang sangat berarti bagi sejarah, politik, dan kebudayaan suku Kuraisy, suatu capaian yang tidak dimiliki oleh suku-suku lainnya di Jazirah Arab. Banyak diantara mereka yang terampil membaca, menulis, menghitiung, disamping pengetahuan yang luas tentang sejarah bangsa-bangsa tetangganya.[12]

Suku Kuraisy merupakan keturunan langsung dari Fihr, salah seorang putra Nabi Ismail as. Salah seorang keturunan Fihr yang bernama Qusay memiliki sepuluh orang putra yang kemudian menjadi tokoh-tokoh berpengaruh di Mekah. Ke sepuluh keturunan Qusay digelari dengan nama bapak mereka, yakni (1) Bani Hasyim, (2) Bani Umayyah, (3) Bani Nawfal, (4) Bani Abd al-Darr, (5) Bani Asad, (6) Bani Taym, (7) Bani Zuhrah, (8) Bani Adiy, (9) Bani Jumah, dan (10) Bani Sahm. Setiap kepala keluarga dari tiap Bani memegang jabatan dalam majlis tertentu, seperti majlis al-Siqayah yang menangani masalah air Zamzam, al-Rifadah yang menangani konsumsi dan akomodasi jamaah haji, dan majlis al-Nadwa yang bertugas sebagai administratur kepemerintahan. Pembagian itu diputuskan sesuai kesepakatan yang diambil melalui musyawarah di suatu lembaga yang disebut Dar al-Nadwah. [13]

Bani Hasyim adalah klan yang mempunyai jabatan siqayah, yakni pengawas mata air Zamzam untuk digunakan oleh para peziarah. Jabatan ini sebenarnya kurang begitu prestius dibandingkan jabatan-jabatan lainnya, seperti liwa (ketentaraan), diyat (kehakiman), sifarah (tata usaha negara), khazinah (administrasi keuangan), atau nadwa (ketua dewan). Artinya, Bani Hasyim adalah salah satu keluarga terhormat namun relatif miskin. Bani Hasyim inilah yang menurunkan Nabi Muhammad melalui ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthallib, dan ibunya, Aminah binti Wahhab.[14]

 

Agama

Secara umum, bangsa Arab pra-Islam mempunyai banyak agama dan kepercayaan. Setiap suku mempunyai agama dan kepercayaan masing-masing yang berbeda satu-sama lain. Sementara agama peninggalan Nabi Ibrahim as., yakni agama tauhid yang mengakui bahwa Allah SWT. adalah Tuhan yang Maha Esa dan pencipta semesta alam, merupakan agama mayoritas yang dipeluk masyarakat, terutama suku Kuraisy yang mendiami kota Mekkah dan sekitarnya. Terbukti, mereka masih tetap mengakui eksistensi ibadah haji, memuliakan bulan-bulan haram (bulan pelaksnaan ibadah haji), mengingkari perbuatan-perbuatan aniaya dan terlarang, dan memberi sanksi bagi pelaku pelanggaran. Kondisi semacam ini terus berlangsung selama berabad-abad lamanya.[15] Fakta ini menunjukkan bahwa agama tauhid yang dibawa Nabi Ibrahim as. selama bertahun-tahun lamanya mampu menciptakan tatanan sosial dan konstruksi masyarakat yang beradab.

 

Penyembahan Berhala (Watsaniyah)

Namun seiring bergulirnya waktu dan beralihnya generasi, agama ini mulai meluntur kemurniannya. Berbagai macam penyimpangan, takhayul, kebejatan moral, bahkan penyekutuan terhadap Allah SWT. mulai menodai agama yang hanif ini. Menurut para sejarawan, penyimpangan dimulai ketika Luhay bin Amr, salah seorang pemimpin Kuraisy, mengunjungi Syam (Suriah) yang warganya dikenal sebagai penyembah-penyembah berhala. Ketika melihat upacara dan ritus penyembahan berhala yang dilakukan bangsa Persia, Luhay tentu saja heran sekaligus tertarik. Apa yang kalian lakukan terhadap berhala-berhala ini? tanya Luhay kepada salah seorang warga Syam. Berhala-berhala ini adalah sembahan-sembahan kami. Jika kami memintai pertolongan kepadanya maka ia akan segera menolong. Dan jika kami meminta hujan, maka ia pun akan menurunkan hujan! jawabnya penuh percaya diri.

Mendengar penuturan warga Syam tersebut, Luhay tentu saja kagum dibuatnya. Ia kemudian meminta kepada warga tersebut agar diberikan satu berhala yang akan dibawanya pulang ke Mekkah. Berhala itu menurut Luhay akan diletakkan di sekitar Kabah, agar orang-orang Arab yang melaksanakan ibadah haji dapat melihatnya dan dapat meminta pertolongan kepadanya. Luhay kemudian diberi satu patung besar bernama Hubal yang dibawanya pulang dan di letakkan di sekitar Kabah. Patung Hubal inilah yang pertama kali mendiami Baitullah.[16]

Keberadaan Hubal di sekitar Kabar ternyata sangat berpengaruh besar pada tradisi keagamaan bangsa Arab. Walaupun pada mulanya para jamaah haji belum begitu memperdulikan keberadaan berhala ini, namun pada tahun-tahun berikutnya mereka mulai memperlakukannya secara istimewa.[17] Bahkan beberapa tahun kemudian, ada dua berhala baru berbentuk fisik seorang laki-laki dan perempuan yang ikut diletakkan di sekitar Baitullah. Dua berhala itu bernama Asaf dan Na'ilah yang dipasang pada salah satu tiang Baitullah. Setiap kali jamaah haji hendak melaksanakan thawaf, sebagaimana ajaran agama Ibrahim as., mereka terlebih dahulu bertanya kepada kepala-kepala suku Kuraisy tentang apa yang harus mereka lakukan terhadap berhala-berhala itu. Suku Kuraisy yang memang menjadi penjaga Kabah menyatakan bahwa berhala-berhala itu akan membantu para jamaah haji agar semakin dekat kepada Allah SWT. Karena itu, menurut para kepala suku Kuraisy, berhala-berhala tersebut harus dimuliakan saat seseorang melaksanakan ibadah haji.[18]

Dari sinilah awal-mula penyelewengan terhadap agama Nabi Ibrahim as. dimulai. Para jamaah haji yang dulunya tetap konsis melaksanakan ritual haji sesuai ajaran Nabi Ibrahim as., kini mulai mencapurnya dengan ajaran-ajaran dan takhayul-takhayul baru yang dibuat-buat. Dalam setiap pelaksanaan ibadah haji, para jamaah haji memberlakukan berhala-berhala tersebut dengan sangat istimewa. Sebelum pelaksanaan Thawaf, mereka terlebih dahulu mencium berhala Asaf, salah satu berhala yang terletak di sekitar Kabah, dan juga mengakhiri prosesi thawaf dengan melakukan hal yang sama.

Ketika mereka telah pulang kembali ke negeri masing-masing, mereka kemudian menceritakan hal itu kepada sanak saudara dan kerabat-kerabatnya, yang kemudian ditiru oleh kaumnya dengan membuat berhala-berhala baru. Setiap kabilah mempunyai satu berhala tersendiri yang mereka sembah dengan dalih untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.[19] Ketika hendak melaksanakan ibadah haji, setiap kabilah terlbih dahulu melakukan upacara ritual di depan berhala masing-masing, lalu berangkat menuju Kabah (Mekkah) sambil membaca talbiyah.[20] Mereka terus membaca talbiyah sejak menyelesaikan penyembahan atas berhalanya, dan terus di baca dalam perjalanan hingga tiba di Mekkah. Bacaan talbiyah mereka tidak ada yang sama; setiap suku mempunyai bacaan talbiyah masing-masing.[21]

Walaupun demikian, pada mulanya bangsa Arab masih mengakui keagungan dan kebesaran Allah SWT., tapi mereka merasakan adanya jarak yang sangat jauh antara Tuhan dengan manusia. Manusia dinilai tidak mungkin berhubungan langsung dengan-Nya. Karena itulah mereka kemudian membuat perantara-perantara berupa patung-patung. Namun dari waktu ke waktu, pembuatan patung-patung semakin berkembang. Setiap kabilah memiliki jenis patung idola yang biasanya disimpan di dalam rumah dan disembah di waktu-waktu tertentu. Bahkan ada di antara berhala-berhala itu yang dinilai sebagai berhala favorit dan diletakkan di sekeliling Kabah, yakni Latta, Uzza, Manat, dan Hubal.

Dari tahun ke tahun, penyembahan terhadap berhala membuat Bangsa Arab mulai melupakan penyembahan kepada Allah SWT. Berhala yang pada mulanya hanya dijadikan perantara untuk medekatkan diri kepada Allah SWT., kini telah menggantikan posisi-Nya sebagai sembahan utama. Penyembahan terhadap berhala ini kemudian dikenal dengan sebutan watsaniyah.[22]

 

Agama Selain Watsaniyah

Diantara suku-suku Bangsa Arab ada juga yang tidak melakukan penyembahan terhadap berhala, yakni mereka yang beragama Yahudi dan Nasrani. Bangsa Yahudi umumnya masih berpegang teguh dengan ajaran nenek moyang mereka, sementara kaum Nasrani masih meyakini konsep ketuhanan trinitas, yakni Tuhan Bapak, Ibu, dan Anak. Namun jumlah mereka tidak begitu besar bila dibandingkan dengan suku penyembah berhala atau watsaniyah ini.

Suku-suku yang menganut agama Yahudi antara lain, Bani Nadzir dan Bani Quraidlah (di Madinah), Suku Aus dan Khazraj (dari Yaman pindah ke Madinah), serta beberapa kabilah kecil seperti Bani Harits, Bani Ghassan, dan Bani Jaddzam.[23]

 

Corak Spiritual

Bangsa Arab menjalankan ritual agama mereka dengan beraneka macam corak yang khas, namun yang paling mencolok adalah perilaku memberatkan diri sendiri saat pelaksanaan ibadah tertentu. Contohnya Bani Khuzaah, salah satu suku yang mendiami kawasan di sekitar Mekkah. Ketika tiba Bulan Haji, kaum lelaki Bani Khuzaah tidak ada yang berani memotong kuku, rambut, memakai parfum, makan daging, hingga berhubungan badan dengan dengan istri-istri mereka. Segala hal yang berbau hedonis mereka hindari demi menghormati pelaksanaan ibadah haji. Selain Bani Khuzaah, suku-suku lainnya yang menganut keyakinan seperti di atas antara lain, Bani Tamim, Bani Wadlbah, dan Bani Muzainah.

Sebaliknya, diantara Bangsa Arab lainnya terdapat suku-suku yang aktivitas ritualnya cenderung biasa-biasa saja. Mereka tidak menjalankan aktivitas ibadah sedemikian rupa sehingga cenderung memberatkan diri. Diantara suku-suku yang termasuk golongan kedua ini adalah Bani Adwan, Bani Qudlaah, dan Bani Asad.[24]

Dua model peribadatan di atas sebenarnya berasal dari satu sumber, yakni ajaran tauhid peninggalan Nabi Ibrahim as. Jadi meskipun bangsa Arab umumnya masih menganut agama Nabi Ibrahim as., akan tetapi ajaran-ajaran itu sudah dirasuki dengan beragam kepercayaan, takhayul, dan mitos-mitos tertentu, sehingga menimbulkan perbedaan dalam tataran pelaksanaannya.

Di tengah-tengah Bangsa yang demikian inilah seorang Muhammad bin Abdullah SAW. lahir dan mendakwahkan ajaran Tauhidnya. Pada mulanya ia berjuang seorang diri untuk melaksanakan tugas dari Allah Swt. tersebut. Di tengah-tengah masyarakat yang fanatik, membanggakan garis keturunan, terbiasa mabuk-mabukan, merampok, mencuri, berzina, memperlakukan kaum wanita layaknya harta warisan, bahkan mengubur anak perempuan hidup-hidup, Nabi Muhammad SAW. berjuang seorang diri untuk mengembalikan akidah mereka, menyeru mereka agar menyembah Allah Swt. dan tidak menyekutukan-Nya, serta berbuat yang maruf dan meninggalkan yang munkar. {}

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MASA KENABIAN

Secara umum, perjuangan Nabi Saw. menyiarkan agama Islam hanya berlangsung kurang lebih 22 tahun. Namun dalam rentang waktu yang cukup singkat itu, beliau sudah berhasil mengislamkan hampir seluruh semenanjung Arab. Disamping itu, pengaruh yang dihasilkan cukup besar dalam perjalanan Islam pada periode-periode berikutnya. Karena selama masa hidupnya, Nabi Saw. telah berhasil menanamkan dasar-dasar ajaran Islam secara kokoh dan pengaruh yang cukup kuat sehingga generasi-generasi berikutnya tinggal melanjutkan apa yang telah beliau tinggalkan.

Corak dakwah Nabi Saw. selama berada di Mekkah dan ketika berada di Madinah memiliki perbedaan cukup signifikan. Pada periode Mekkah, dakwah Nabi Saw. lebih dititik tekankan pada penguatan bidang akidah. Beliau mengajak penduduk Mekkah agar menyembah Allah SWT., tidak mmenyekutukannya, mengerjakan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, serta meninggalkan tradisi-tradisi tak beradab ala jahiliyah. Pada masa ini tidak terdapat ajaran-ajaran teknis (amaliyah) yang cenderung memberatkan. Umat Islam hanya diajak kembali ke bangunan tauhid dan menjauhi penyekutuan atas Allah Swt. Karena itulah dalam surat-surat Makkiyah (surat-surat yang diturunkan di Mekkah), seperti surat Yunus, al-Rad, al-Furqan, Yasin, atau surat al-Hadid, tidak terdapat ayat-ayat yang menerangkan tentang hukum-hukum amaliyah (fiqh), melainkan lebih ditekankan adalah pembentukan akidah, akhlak, atau kisah-kisah umat terdahulu yang ditimpa bencana akibat pegngingkaran terhadap nabi-nabi mereka.[25]

Sementara pada periode kedua (Madinah) yang berlangsung kurang lebih 10 tahun, dakwah Nabi Saw. sudah diarahkan pada pengaturan teknis-teknis amaliyah, baik dalam bentuk ibadah atau muamalah, seperti hukum-hukum tentang pernikahan, talak, waris-mewaris, jual-beli, hingga hukuman-hukuman bagi pelaku pelanggaran (had). Wahyu yang diturunkan pada periode Madinah ini, antara lain, surat al-Baqarah, Ali Imran, al-Nisa, al-Maidah, al-Anfal, al-Taubat, al-Nur, dan al-Ahzab. Dalam surat-suat tersebut, kandungan ayat-ayat hukum amaliyah lebih banyak mendominasi daripada ayat-ayat yang menerangkan akidah maupun akhlak.[26] Berikut sekilas perjalanan dakwah Nabi Saw. dalam dua periode berbeda tersebut:

 

PERIODE PERTAMA, PENUH PENDERITAAN

Setelah mendapat wahyu di gua Hira dan secara resmi diangkat sebagai utusan Allah Swt., sasaran dakwah pertama Nabi Saw. adalah keluarga dekat dan sahabat-sahabatnya. Secara sembunyi-sembunyi beliau mengajak mereka agar kembali kepada bangunan tauhid yang telah dicontohkan oleh Ibrahim dan meninggalkan penyekutuan terhadap Allah Swt. Dari sekian upaya yang beliau lakukan, ada di antara mereka yang menerima secara langsung dan ada pula yang menolaknya. Yang menolak ada yang dilakukan secara halus dan ada pula yang dilakukan dengan kasar. Namun karena Nabi Muhammad mendapat pembelaan dari Abu Thalib, sesepuh kaum Kuraisy yang sangat dihormati, penolakan itu tidak tidak sampai menjurus kasar dan aniaya. [27]

Dakwah Nabi Muhammad SAW. diketahui secara luas setelah beliau menerima wahyu dari Allah yang memerintahkan agar beliau berdakwah secara terang-terangan.[28] Pada mulanya, Nabi SAW. pergi ke Bukit Shafa dan mengajak penduduk Mekkah untuk berkumpul di sana dan mendengarkan ajaran yang beliau bawa.[29] Setelah itu, Rasulullah saw juga acapkali mengadakan dialog-diolog dan pertemuan-pertemuan tertutup dengan pemimpin-pemimpin Kuraisy, seraya mengharap semoga mereka masuk Islam. Nabi Saw. juga sering berkeliling ke rumah-rumah penduduk atau ke pasar-pasar seorang diri guna menyeru masyarakat agar mereka menyembah Allah Swt. dan meninggalkan pemujaan terhadap berhala-berhala. Selama itu, tak jarang Nabi Saw. mendapat cacian, cemoohan, hingga lemparan dari mereka yang tidak mau menerima dakwah Nabi Saw.[30] Walaupun demikian, tak jarang pula ada yang bersimpati terhadap ajakan beliau sehingga secara sembunyi-sembunyi mereka menyatakan diri masuk Islam.

Beragam reaksi pun muncul, terutama dari tokoh-tokoh masyarakat, saudagar-saudagar kaya, dan para pemilik budak yang merasa terancam dengan dakwah Nabi SAW. Mereka menolak ajaran Nabi SAW. yang menekankan keadilan sosial dan persamaan derajat. Sebab ajaran tersebut akan mengancam status sosial dan kedudukan mereka.

Dalam perkembangan berikutnya, beragam siasat dirancang untuk membatasi gerak Muhammad SAW. Salah satunya adalah dengan melakukan tindak kekerasan terhadap para pemeluk agama Islam. Secara keseluruhan, hampir semua umat Islam saat itu mendapat siksaan yang pedih dari kaum Kuraisy. Mereka diejek, disoraki, dilempari batu, kotoran binatang, dihalangi melakukan ibadah di Ka'bah, dicambuk, atau dijkemur di terik matahari.[31]

Perlakuan semacam ini mendorong Nabi Muhammad SAW. untuk mengungsikan para pengikutnya ke luar dari Mekkah. Habasyah (Ethiopia) adalah tempat yang dipilih Nabi SAW. sebagai tujuan pengungsian, karena raja Habasyah dikenal sebagai raja yang adil dan lapang dada menerima tamu.

Pada bulan Rajab tahun kelima setelah kenabian, berangkatlah 15 orang yang terdiri dari 10 laki-laki dan dan 4 orang perempuan menuju Habasyah. Sementara gelombang kedua berjumlah 80-an orang. Dengan demikian, jumlah kaum Muslimin yang hijrah ke Habasyah berjumlah lebih dari 100 orang. [32]

Keberangkatan para pengikut Nabi Muhammad SAW. ke Habasyah tentu saja membuat Kaum Kuraisy merasa gusar. Beragam cara mereka lakukan untuk menghalangi kepindahan umat Islam, seperti membujuk raja Habasyah untuk menolak kehadiran kaum Muslimin di negerinya. Kaum Kuraisy mengutus Amr bin Ash ke Habasyah guna menemui raja Najasyi dan memintanya untuk mengembalikan kaum Muhajirin ke Mekkah. Namun permintaan itu ditolak oleh sang raja.

Karena berbagai usaha belum juga berhasil, kaum Kuraisy semakin meningkatkan tekanan mereka kepada orang-orang Islam yang masih tinggal di Mekkah. Di tengah upaya resistensi yang kian meningkat itu, ternyata dua orang yang disegani dan ditakuti oleh orang-orang Kuraisy, yakni Hamzah bin Abdul Muthallib dan Umar bin al-Khatthab, masuk Islam. dengan masuknya dua orang yang dijuluki Singa Arab ini, maka semakin menguatlah posisi kaum Muslimin kala itu.

Fenomena ini membuat reaksi kaum Kuraisy semakin keras. Mereka kemudian membuat strategi baru untuk menghalangi dakwah Nabi SAW., yakni dengan melumpuhkan Bani Hasyim yang selama ini selalu melindungi dan memberi ruang gerak atas dakwah Nabi SAW. Dalam pandangan mereka, kekuatan Nabi Muhammad SAW. terletak pada perlindungan Bani Hasyim terhadapnya, sehingga jika Bani Hasyim dilumpuhkan maka otomatis dakwah Nabi pun akan ikut lumpuh. Kaum Kuraisy melarang siapapun untuk melakukan hubungan dengan Bani Hasyim, termasuk hubungan jual-beli, pernikahan, dan lain sebagainya. Akibatnya, para keluarga Bani Hasyim mengalami kelaparan, kemiskinan, dan kesengsaraan mendalam, sehingga mereka memutuskan untuk mengungsi ke suatu lembah di luar kota Mekkah.

Pemboikotan yang berlangsung selama tiga tahun itu akhirnya dihentikan karena diantara pemimpin Kuraisy ada yang menyadari bahwa tindakan mereka itu sudah sangat keterlaluan. Kesadaran itulah yang membuat mereka menghentikan blokade massal itu dan membiarkan Bani Hasyim kembali ke kota Mekkah dan kembali bisa berinteraksi dengan dunia luar.[33]

Walaupun telah membebaskan Bani Hasyim dari belenggu pemboikotan, namun resistensi Kaum Kuraisy terhadap Nabi dan para pengikutnya tidak banyak berubah. Apalagi sepeninggal Abu Thallib yang selama ini menjadi pelindung utamanya, yang tiga hari kemudian disusul oleh istrinya, Khadijah, serta berita bahwa Nabi SAW. melakukan perjalanan menghadap Tuhan di langit ketujuh selama satu malam (isra dan miraj), maka semakin keraslah propaganda kaum Kuraisy dan ejekan mereka kepada Nabi SAW. dan para sahabatnya.

Namun perlakuan semacam itu tidak menyurutkan semangat Nabi SAW. untuk terus berjuang. Sebab Allah Swt. selalu memberikan jaminan akan keberhasilan Nabi Saw. dalam menyampaikan dakwahnya. Dalam kenyataanya, jumlah pengikut Nabi SAW. kian hari semakin bertambah, walaupun tekanan pihak Kuraisy juga semakin gencar. Pada masa ini, mayoritas pengikut Nabi Saw. adalah kaum wanita, budak-budak, kaum pekerja, orang-orang miskin, dan orang-orang tertindas. Hanya sedikit di antara mereka yang berasal dari golongan orang-orang terpandang.

Perlakuan kurang manusiawi Kaum Kuraisy baru berhenti setelah Nabi Saw. dan sahabat-sahabatnya melakukan hijrah ke Madinah. Jarak yang sangat jauh antara Mekkah dan Madinah, serta perlindungan yang diberikan penduduk Madinah kepada kaum Muslimin, tidak memungkinkan Kaum Kuraisy meneruskan misi mereka menghabisi para pengikut Nabi Saw.

 

PERIODE KEDUA, PENUH KEBERHASILAN

Ketika Nabi Saw. dan sahabat-sahabatnya berhijrah ke Madinah, mereka diterima layaknya saudara oleh suku Aws dan Khazraj, dua suku yang mengundang Nabi Saw. datang ke Madinah. Di sana Nabi Saw. diangkat oleh penduduk setempat sebagai pemimpin mereka. Dari sinilah penyebaran Islam mulai menemukan titik cerah.

Di Madinah, Nabi Muhammad SAW. pertama-tama meletakkan dasar-dasar pembentukan suatu tatanan masyarakat baru yang kemudian menjadi embrio lahirnya negara Madinah. Dasar pertama yang dilakukan Nabi Saw. adalah mempersaudarakan individu-individu kaum muhajirin dengan individu-individu dari golongan Anshar. Dengan pertalian itu diharapkan tercipta rasa persaudaraan dan kekeluargaan diantara kedua golongan itu. Dengan demikian Rasulullah SAW. telah membentuk sitem persaudaraan baru, yakni persaudraan berdasarkan agama menggantikan persaudaraan berdasar keturunan dan kesukuan.

Dasar kedua adalah membangun sarana pendukung, yakni membagun masjid Nabawi. Selain berfungsi sebagai sarana ibadah secara berjamaah, masjid Nabawi juga berfungsi sebagai pusat kegiatan belajar-mengajar, bermusyawarah, melatih tentara, menyusun strategi perang, atau mengadili perkara-perkara yang timbul di masyarakat.[34]

Dasar ketiga adalah membangun hubungan persaudaraan dengan pihak-pihak lain yang ada di Madinah. Sebagaimana telah diketahui, di Madinah terdapat banyak golongan dan suku, seperti Yahudi dan orang-orang Arab yang masih menganut agama nenek moyang mereka. Agar stabilitas negara bisa terwujud, Nabi Muhammad SAW. kemudian mengadakan ikatan perjanjian dengan suku-suku tersebut yang kemudian dituangkan dalam sebuah piagam kesepakatan. Nota kesepahaman yang dikenal dengan sebutan Piagam Madinah itu antara lain berisi kesepakatan untuk hidup bersama secara damai, dijaminnya kebebasan beragama dan berpolitik, serta kewajiban mempertahankan negara dari serangan luar. Dalam piagam itu disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW. menjadi kepala pemerintahan, sehingga tanggungjawab dan otoritas pengaturan ketertiban umum diserahkan kepada beliau. Segala perkara atau perselisihan yang terjadi di masyarakat diajukan kepada Nabi SAW. untuk diselesaikan. Inilah cikal-bakal terbangunnya konstruk masyarakat yang pada era sekarang dikenal dengan istilah civil society.

Dasar keempat adalah membuat perjanjian dengan suku-suku lain di luar Madinah. Hal ini dilakukan demi terciptanya stabilitas regional dan hubungan bilateral yang harmonis antar suku, agar tidak ada lagi perang antar suku seperti yang terjadi pada masa-masa sebelumnya, disamping untuk mempertahankan negara Madinah yang baru dibangun. Misalnya, Nabi Muhammad SAW. mengadakan ekspedisi ke daerah Abwa dan mengadakan perjanjian dengan Bani Damrah, lalu ke Usyairah mengikat kesepakatan dengan Bani Mudij, serta mengutus beberapa sahabatnya ke kawasan Hijaz dan Laut Merah. Semua itu ditujukan untuk menciptakan hubungan bilateral dengan suku-suku tetangga serta sebagai upaya memperkuat kedudukan Madinah.

Setelah dua tahun menetap di Madinah, Rasulullah SAW. telah berhasil membangun negara baru itu dengan baik sehingga stabilitas kemanan terus terpelihara. Kaum muslimin di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. bersatu-padu membangun Madinah melalui semangat ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama muslim), ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia), dan ukhuwah wathaniyah (persaudaraan satu bangsa). Umat Islam bersama umat beragama lainnya mampu menjadi komunitas yang utuh dan tangguh dibawah bimbingan junjungan sejati, Muhammad SAW.

Pada tahun-tahun berikutnya, kaum Muslimin Madinah mampu membangun dan mempertahankan Madinah dari serangan luar. Beberapa peperangan yang dialami umat Islam tidak membuat mereka semakin melemah, melainkan justru semakin menguat. Puncak kekuatan kaum Muslimin terutama- dicapai setelah diadakannya perjanjian Hudaibiyah[35] antara Nabi Saw. selaku pemimpin kaum Muslimin, dengan Urwah bin Masud yang mewakili kaum Kuraisy Mekkah.

Secara umum, setelah berjalan selama kurang lebih dua tahun, perjanjian Hudaibiyah ternyata menampakkan hasil yang memuaskan. Hampir seluruh Semenjanjung Arab, termasuk suku-suku yang paling selatan sekali pun, telah menggabungkan diri dengan barisan Kaum Muslimin. Hanya beberapa suku kecil di dekat Mekkah yang belum menyatakan diri masuk Islam.

Pada tahun kesembilan Hijriyah, tepatnya setelah peristiwa Fath Mekkah (penaklukan kota Mekkah), kekuatan kaum Muslimin sudah nyaris sempurna. Hal ini membuat aktivitas di bidang pertahanan dan keamanan tidak begitu merisaukan pikiran Rasulullah SAW. Pada akhir tahun kesembilan Hijriyah, aktivitas keamanan oleh Nabi SAW. lebih diprioritaskan untuk upaya konsolidasi ke dalam. Sejarah mencatat, pada tahun ini banyak suku-suku dari seluruh penjuru Arab yang mengutus delegasinya kepada Rasulullah SAW. dan menyatakan masuk Islam serta mengakui beliau sebagai pemimpin tertinggi. Kedatangan mereka ke Madinah umumnya melalui rombongan-rombongan kafilah. Di kota Nabi itu, mereka belajar tentang agama Islam dan kemudian pulang ke negeri masing-masing serta mengajarkan Islam kepada penduduk setempat. Dari sini agama Islam semakin luas di anut oleh suku-suku di seluruh Arab, sehingga terciptalah kesatuan masyarakat Arab. Peperangan antar suku yang selama ini selalu membelenggu kebersamaan mereka kini berubah menjadi persaudaraan yang berdasarkan kesatuan akidah dan kepercayaan (Islam). Karena seringnya utusan-utusan yang datang menemui Nabi SAW., maka tahun ini biasa dikenal dengan am al-bitsah (tahun perutusan).[36]

Pada tahun kesepuluh Hijriyah, tugas yang diemban Nabi SAW. sudah mendekati titik kesempurnaan. Setelah bertahun-tahun berjuang bersama sahabat-sahabatnya, dan berhasil memberi sinar kehidupan dan kebahagiaan bagi seluruh umat manusia, Nabi Saw. dipanggil kembali oleh Yang Maha Kuasa pada hari Senin, 13 Rabiul Awwal 11 Hijriyah, atau 8 Juni 632 Masehi.

 

Sikap Manusiawi

Banyak faktor yang menyebabkan tercapainya keberhasilan besar ini. Selain faktor dukungan Ilahi (vertikal-transendental), kharisma Nabi Saw., dan kekompakan seluruh Umat Islam, ada faktor lain yang cukup berpengaruh terhadap keberhasilan besar yang dicapai kaum Muslimin dalam jangka waktu cukup singkat ini, yaitu diperolehnya simpati dari kabilah-kabilah lain di seluruh jazirah Arab.

Sebagaimana telah kita maklumi, suku-suku Arab pada umumnya sangat mengagumi dan memuja kekuatan dan keperkasaan. Dengan modal kekuatan ini maka kaum muslimin akan dengan mudah menarik simpati suku-suku lain. Hal ini sangat disadari oleh Nabi saw. Beliau selalu mengupayakan agar kaum muslimin mempunyai kekuatan besar guna menarik simpati bangsa Arab, terutama melalui jalur diplomasi atau kerjasama. Setelah kekuatan itu dicapai, Nabi saw. selalu menunjukkan sikap lembut dan tidak menekan rekan sekutunya dengan berbagai syarat yang memberatkan. Disamping itu, Nabi saw. juga selalu menunjukkan sikap manusiawi terhadap lawan-lawan yang berhasil ditaklukkan. Sikap yang demikian ini membuat suku-suku lain bersimpati sehingga mereka bersedia masuk Islam. Artinya, walaupun Nabi saw. memiliki kekuatan maha dahsyat, tapi Nabi saw. dan kaum muslimin sama sekali tidak pernah berlaku sewenang-wenang terhadap lawan-lawannya. Suatu sikap yang tidak pernah dijumpai pada kabilah-kabilah lain yang berhasil mengalahkan lawan-lawan mereka. Sebelum kedatangan Islam, setiap suku yang berhasil mengalahkan suku lain biasanya akan memperlakukan pihak yang kalah secara sewenang-wenang. Sementara kaum muslimin justru bersikap lemah lembut terhadap kabilah yang mereka taklukkan. Fakta inilah yang menimbulkan simpati bangsa Arab kepada Nabi saw. Faktor inilah yang membuat bangsa Arab menaruh minat besar pada ajaran yang dibawa Nabi saw., sehingga mereka berbondong-bondong masuk Islam khususnya sebelum dan setelah terjadinya peristiwa Fath Makkah.

Salah satu bukti perlakuan manusiawi Nabi Saw. ditunjukkan ketika peristiwa Fath Mekkah. Dikisahkan, saat semua pasukan Muslim telah berada di jantung kota, mereka kemudian diajak oleh Nabi Saw. menuju Kabah. Setibanya di sana, Rasulullah SAW. memerintahkan kepada mereka untuk menghancurkan berhala-berhala dan gambar-gambar berhala yang berada di sekeliling dan di dalam Kabah sambil membacakan firman Allah (QS:17:18), yang artinya: Katakanlah, telah datang kebenaran dan telah lenyap kebatilan. Sesungguhnya yang batil itu pasti lenyap.

Setelah itu, Nabi SAW. kemudian memimpin prosesi thawaf bersama seluruh pasukannya mengelilingi Kabah sebanyak tujuh kali seraya mengumandangkan talbiyah: labbaik Allahumma labbaik disertai pengesaan terhadap Allah: la ilaha illaLah dan seruan takbir: Allahu Akbar.

Mendengar seruan-seruan itu, banyak penduduk Mekkah yang datang berbondong-bondong ingin meyaksikan prosesi thawaf tersebut. Disamping tertarik dengan prosesi thawaf, penduduk Mekkah diam-diam juga menaruh simpati kepada kaum Muslimin yang tidak memperlakukan mereka sebagai musuh. Setelah berhasil menaklukkan Mekkah, kaum Muslimin ternyata tidak memperlakukan warga Mekkah sebagai tawanan atau merampas harta benda mereka, melainkan langsung melaksanakan thawaf bersama. Di samping itu, kaum Muslimin tampak bersahabat dan tidak memperlihatkan wajah permusuhan.

Setelah prosesi thawaf selesai, Nabi Muhammad SAW. kemudian mengajak penduduk Mekkah yang hadir di tempat itu untuk berkumpul bersama-sama. Nabi SAW. kemudian memberikan khutbah di hadapan mereka. Dalam khutbahnya Nabi SAW. menyatakan bahwa Allah SWT. akan memberikan ampunan bagi anggota suku Kuraisy yang bersedia masuk Islam dan menghentikan kedzaliman mereka. Penduduk Mekkah tidak akan diperlakukan sebagai tawanan oleh kaum Muslimin, sebagaimana tradisi masa lalu dimana pihak yang kalah perang akan ditawan dan harta bendanya akan dirampas. Nabi SAW. memberikan kebebasan bagi mereka sebagai orang merdeka, dan bila warga Mekkah bersedia masuk agama Islam, maka dosa-dosa yang mereka lakukan di masa lalu akan diampuni oleh Allah SWT.

Mendengar khutbah yang ramah dan manusiawi itu, bulu kuduk warga Mekkah merinding. Pikiran mereka diliputi rasa haru bercampur kagum pada sikap Nabi SAW. yang memperlakukan mereka sebagai sahabat, bukan sebagai musuh. Padahal sebelumnya mereka sangat memusuhi Nabi SAW., bahkan nyaris membunuhnya. Kaum Muslimin yang dulunya diperlakukan layaknya binatang, dicaci, dicela, dilempari kotoran, diusir, bahkan hendak dibunuh, kini justru datang dengan raut muka penuh persahabatan. Karena itulah, beberapa saat setelah Nabi SAW. selesai khutbah, penduduk Mekkah lalu berbondong-bondong menyatakan diri masuk Islam. {}

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PERIODE AL-KHULAFA AL-RASYIDIN

 

Sesaat setelah Nabi SAW. wafat, ada sebagian kaum Muslimin yang beranggapan bahwa beliau sebenarnya tidak meninggal, melainkan diangkat oleh Allah Swt. ke haribaan-Nya di surga sebagaimana yang dialami oleh Nabi Isa as. Diantara yang tidak percaya akan wafatnya Nabi SAW. adalah Umar bin al-Khathab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Sedangkan sebagian yang lain bersikap lebih realistis; mereka menyadari dan mau menerima atas kenyataan bahwa Nabi SAW. memang benar-benar telah dipanggil oleh Allah Swt. dan meninggalkan mereka untuk selama-lamanya.

Persoalannya, sahabat yang tidak mempercayai kematian Nabi SAW. jumlahnya cukup banyak dan termasuk orang-orang berpengaruh, sehingga membuat kaum Muslimin yang lain ikut-ikutan tidak percaya. Hal ini tentu akan mempengaruhi kondisi psikologi dan mental umat Islam secara keseluruhan. Apalagi dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa, ketika Umar bin al-Khattab mendengar bahwa Nabi SAW meninggal, dia langsung menghunus pedangnya sambil berteriak Siapa yang berani mengatakan bahwa Muhammad telah Mati, maka batang lehernya akan kutebas dengan pedang ini!.[37]

Sebelum perbedaan asumsi tersebut meluas menjadi perpecahan, Abu Bakar (573-634)[38] kemudian mengeluarkan statemen bijak dengan menyitir firman Allah Swt. dalam surat Ali Imran: 185:

(Setiap jiwa pasti akan mati), lalu surat al-Zumar: 30:

(Kamu [Muhammad] akan mati dan mereka pun [juga] akan mati),[39] serta surat Ali Imran: 144:

(Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang utusan, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang utusan. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, lalu kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudlarat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur).

Setelah membacakan dua ayat tersebut, Abu Bakar kemudian berkata:

,

(Barangsiapa menyembah Muhammad, maka sesunggunya dia telah mati. Dan barangsiapa yang menyembah Tuhan Muhammad, maka Dia adalah Dzat yang Maha Hidup dan tidak akan mati). [40] Seketika itu para sahabat yang pada mulanya tidak percaya bahwa Nabi sudah meninggal, akhinya menyadari kekhilafannya dan berusaha bersabar dan tabah menghadapi peristiwa yang sangat menyedihkan hati mereka.

 

Tempat Pemakaman Nabi SAW.

Setelah memperselisihkan tentang status kematian Nabi SAW. berlalu, kaum muslimin saat itu masih dihadapkan oleh perbedaan aspirasi tentang tempat penguburan jenazah Nabi SAW. Penduduk Mekah menginginkan agar jenazah Nabi SAW. dikebumikan di kota Mekah. Menurut mereka, Nabi lahir di Mekah, diangkat sebagai utusan di Mekah, kiblat umat Islam juga di Mekah, serta keturunannya juga tinggal di Mekah, apalagi di sana juga terdapat makam nenek moyangnya, Nabi Ismail as. Jadi menurut warga Mekkah, amat wajar bila jenazah beliau dimakamkan di Mekah. Sementara penduduk Madinah juga menginginkan hal yang sama; mengebumikan jenazah Nabi di kota itu. Alasannya, di Madinah lah Nabi SAW. hijrah dan meninggal dunia, serta di kota ini pula beliau membangun agama, akidah, serta nilai-nilai peradaban umat. Selain penduduk Mekah dan Madinah, masyarakat Palestina juga berkeinginan agar jenazah Nabi dimakamkan di Baitul Muqaddas (Palestina), karena di sana juga terdapat makam kakek moyang beliau, yaitu Nabi Ibrahim as.[41]

Sebelum meluas menjadi perseteruan, perbedaan aspirasi dan keinginan itu akhirnya dapat diselesaikan secara damai setelah Abu Bakar membacakan hadits Nabi yang berbunyi: (Para Nabi itu dikuburkan di tempat mereka wafat). Mendengar riwayat hadis tersebut, akhirnya para sahabat Nabi yang berasal dari beragam golongan itu mau menerima bila Nabi disemayamkan di tempat beliau wafat, Madinah.[42]

 

Pemimpin Pengganti Nabi SAW.

Pembahasan soal kepemimpinan pasca Nabi ini bermula ketika Sad bin Ubadah,[43] pimpinan kaum Anshar, berinisiatif untuk mengumpulkan beberapa sahabatnya dari golongan Anshar untuk bersama-sama membahas siapa yang akan menjadi pemimpin pengganti Nabi SAW. Mereka berkumpul di sebuah balairung yang disebut Saqifah Bani Saidah[44] dan tidak ikut serta dalam proses pemakaman jenazah Nabi SAW. Absennya mereka dari prosesi pemakaman Nabi SAW. berdasarkan alasan bahwa, masalah kepemimpinan merupakan persoalan krusial yang perlu segera dibahas. Sebab bila terjadi kekosongan kepemimpinan maka akan timbul fitnah yang amat besar bagi umat Islam, disamping bahwa urusan pemakaman diserahkan sepenuhnya kepada keluarga Nabi (ahl al-bait), terutama sahabat Ali ra.dan Abbas bin Abdul Muthallib.[45]

Ketika mendengar kabar bahwa sebagian sahabat Anshar berkumpul di Tsaqifah Bani Saidah, Abu Bakar, Umar, Abu Ubaidah, dan beberapa sahabat dari golongan Muhajirin lainnya ikut serta menghadiri pertemuan Saqifah. Dalam pertemuan itu, terjadi perdebatan sengit antara golongan Muhajirin dan Anshar seputar golongan manakah yang lebih berhak memegang tampuk kepemimpinan. Kaum Anshar lebih memilih pemimpin mereka, Sad bin Ubadah, sebagai pengganti Nabi SAW., sementara kaum Anshar mengklaim bahwa golongan merekalah yang berhak menduduki jabatan itu.

Perdebatan semakin alot dan semakin meruncing, terutama setelah Umar bersikukuh bahwa tidak selayaknya pemimpin berasal dari selain kaum Muhajirin,[46] sementara kaum Anshar berpandangan bahwa: . (Kami punya pemimpin dan kalian pun punya pemimpin). Melihat kecenderungan akan timbulnya perpecahan, Abu Bakar segera tampil bicara. Abu Bakar pertama-tama berupaya mengadopsi aspirasi dari dua golongan yang berkepentingan dengan mengakui bahwa kaum Anshar memang telah berjasa besar membela dan menegakkan ajaran Islam, serta memberi pertolongan kepada Nabi SAW. dengan segenap jiwa, raga, bahkan harta benda mereka. Begitupun kaum Muhajirin juga tidak kalah mulia dari kaum Anshar, sebab mereka lah golongan yang pertama kali menyembah Allah di muka bumi, golongan yang pertama kali mengimani Nabi SAW. dan mempercayai kerasulannya, serta selalu menyertai Nabi dalam kondisi apapun termasuk di saat Nabi SAW. diusir dari Mekkah. Setelah itu, Abu Bakar kemudian menyitir hadits Nabi yang berbunyi: . (Para pemimpin itu berasal dari Kaum Quraisy), yang berarti mengharuskan kaum Anshar merelakan kursi kekhalifahan diserahkan pada kaum Muhajirin.

Setelah diingatkan dengan hadits tersebut, akhirnya kedua golongan bersepakat untuk mengangkat pemimpin dari golongan Muhajirin. Abu Bakar kemudian mengajukan nama Umar bin al-Khattab dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah sebagai calon yang akan dipilih. Namun baik Umar maupun Abu Ubaidah justru meminta kesediaan Abu Bakar untuk dibaiat. Abu Bakar dinilai sebagai sahabat terdekat Nabi SAW. yang telah banyak berjasa bagi kemajuan Islam. Abu Bakar lah yang setia menyertai Nabi saat bersembunyi di gua Tsur karena dikejar-kejar kaum Kuffar Mekkah. Abu Bakar pula orang yang selalu ditunjuk oleh Nabi SAW. untuk menjadi imam shalat menggantikan beliau saat berhalangan, didukung pula oleh sikapnya yang bijak dan berakhlak mulia. Karena desakan anggota sidang, akhirnya Abu Bakar dibaiat secara aklamasi oleh seluruh peserta sidang yang hadir. Hanya Sad bin Ubadah yang tidak bersedia melakukan baiat atas kepemimpinan Abu Bakar.[47] Baiat ini kemudian dikenal dengan baiat khashah, atau pengangkatan terbatas yang dilakukan oleh para pemuka masyarakat.[48]

Setelah prosesi baiat di Saqifa Bani Saidah selesai, keesokan harinya Abu Bakar dibaiat secara massal oleh kaum Muslimin di Masjid Nabawi. Baiat kedua ini kemudian dikenal dengan baiat ammah, atau pengangkatan secara massal.[49] Dalam baiat yang kedua ini, terdapat beberapa sahabat yang tidak hadir, yakni beberapa orang dari golongan Bani Hasyim dan Abu Sufyan dari golongan Bani Umayyah. Sementara ketidak hadiran Ali ra. lebih disebabkan oleh kesibukan beliau dalam mengurus dan mengawasi pemakaman Nabi SAW. Sahabat Ali ra. memang diserahi tugas khusus oleh Nabi SAW. untuk mengurus segala hal yang berkaitan dengan prosesi pemakaman Nabi SAW. Selain Ali ra., sahabat-sahabat lain yang paling banyak berperang dalam prosesi perawatan jenazah Nabi SAW adalah Usamah bin Zaid, Abbas bin Abdul Muthalib (paman Nabi), dan dua putra Abbas, yakni Fadl dan Qutham.[50]

 

PERIODE ABU BAKAR[51]

Selasa malam Rabu menjelang salat Isya, beberapa saat setelah jenazah Muhammmad SAW. dikebumikan, Abu Bakar naik ke mimbar di masjid Nabawi. Ia menyampaikan pidato pertamanya sebagai khalifah. Pidato yang ringkas dan sangat berkesan di kalangan umat itu terjadi pada Juni 632 M., atau 11 Hijriah. Diantara isi pidatonya adalah: Saya telah terpilih menjadi pemimpin kamu sekalian meskipun saya bukanlah orang yang terbaik di antara kalian. Karena itu, bantulah saya bila saya berada di jalan yang benar dan bimbinglah saya bila saya berbuat salah... Taatilah saya selama saya taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah ikuti saya bila saya durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya.[52]

Pada mulanya, Abu Bakar digelari sebagai KhalifatuLlah (khalifah Allah), namun gelar itu ditolaknya. Abu Bakar lebih suka digelari Khalifah Rasulullah (pengganti Rasulullah). Dari sinilah penggunaan gelar khalifah bagi para pemimpin Islam bermula.[53]

Terpilihnya Abu Bakar sebagai Khalifah pertama penganti Rasulullah SAW. mendapatkan reaksi yang beragam dari kaum Muslimin di luar Madinah. Sebagian diantara mereka ada yang ikut membaiat kepemimpinan Abu Bakar, tapi ada pula yang tidak. Mereka yang tidak membaiat ada yang beranggapan bahwa baiat tidak perlu, tapi ada pula sebagian- yang tidak membaiat karena mereka memang keluar dari Islam (murtad).

Di Mekkah, berita meninggalnya Rasulullah SAW. disampaikan oleh Utthab bin Usaid. Utthab menyamar dan mengharap agar penduduk Mekkah tidak murtad ketika mendengar bahwa Nabi mereka sudah wafat. Mendengar kabar meninggalnya Rasulullah SAW., Suhail ibn Ammar lalu berdiri di depan pintu Ka'bah dan berteriak kepada penduduk Mekkah: Berkumpullah wahai penduduk Mekkah! Janganlah kalian menjadi orang terakhir yang masuk Islam kemudian menjadi orang yang murtad paling awal. Demi Allah, pastilah Allah akan memberi anugerah (kepada kalian) sebagaimana pernah disabdakan Rasulullah SAW; Ucapkan besertaku kalimat la ilaha illa Allah, maka niscaya kalian akan menguasai orang Arab dan non-Arab. Mereka akan membayar pajak kepada kalian.[54] Kedatangan Utthab dan seruan Suhail ini mampu meredam timbulnya kemurtadan massal di Mekkah.

Sementara di beberapa kawasan lainnya, terjadi pembelotan yang dilakukan oleh beberapa kabilah yang baru masuk Islam. Mereka tidak lagi mengakui pemerintahan Abu Bakar di Madinah. Motif pemberontakan ini beraneka ragam; ada yang keluar dari Islam (murtad), ada yang menolak membayar zakat, ada pula yang hanya karena fanatisme kesukuan. Beberapa orang malah menyatakan diri sebagai Nabi-nabi baru, seperti Tulaihah dan Musailamah. Nabi-nabi palsu ini umumnya didukung oleh suku asal mereka. Bahkan Uyainah pernah berkata: Seorang Nabi dari suku Asad dan Ghathfan lebih aku sukai daripada seorang Nabi dari suku Kuraisy[55]

 

Memadamkan Pemberontakan[56]

Menghadapi fenomena ini, Abu Bakar berencana menumpas semua kabilah yang memberontak itu. Namun tidak semua rencananya bisa diterima oleh kaum Muslimin. Penyerangan terhadap orang-orang murtad dan mereka yang mengaku Nabi memang disetujui, sementara rencana penyerangan atas kabilah-kabilah yang menolak membayar zakat masih diperselisihkan. Menurut pihak yang anti penyerangan, orang-orang yang tidak mau membayar zakat itu bukanlah orang kafir atau murtad, mereka masih sahabat sesama muslim. Sebagian sahabat lainnya yang mendukung langkah Abu Bakar beralasan, kewajiban membayar zakat merupakan salah satu tiang agama Islam (rukun) sehingga harus ditegakkan demi tegaknya tiang agama, dan orang-orang yang menolak melaksanakannya berarti telah meruntuhkan agama.[57]

Sebagai pemimpin yang juga bertanggungjawab atas kesatuan akidah dan pemeliharaan ajaran agama, Abu Bakar kemudian memutuskan untuk memerangi mereka walaupun di kalangan internal umat Islam sendiri masih terdapat silang pendapat. Abu Bakar memiliki landasan hadits Nabi SAW. yang menyatakan: (Aku [Nabi SAW.] diperintahkan nuntuk memerangi umat manusia, keculali bila mereka bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dan mereka mendirikan shlata dan membayar zakat. Jika mereka menjalankannya, berarti mereka telah menjaga darah dan harta mereka dariku, kecuali atas hak-haknya). Dengan demikian, memerangi para pengkhianat agama itu menjadi absah adanya.[58]

Namun Abu Bakar berjanji bahwa dalam penyerbuannya nanti, orang-orang ingkar itu akan diperlakukan secara manusiawi, terurtama jika mereka mau bertaubat dan bersedia kembali ke jalan Allah. Abu Bakar juga menyatakan bahwa dirinya tidak akan menawan atau memenjarakan mereka beserta keluarga, sebab penyerangan itu bukan ditujukan untuk menumpas, melainkan untuk shock therapy agar mereka mau menyadari kesalahannya.[59]

Setelah berhasil meyakinkan kaum Muslimin, dipersiapkanlah pasukan besar yang diproyeksikan untuk emnumpas semua jenis pemberontakan. Abu Bakar dalam usianya yang sudah 61 tahun memimpin sendiri kaum Muslimin untuk menggempur nabi palsu, Thulaihah. Pasukan Abu Bakar ini berhasil menumpas pasukan Thulaihah dalam waktu relatif singkat. Setelah itu, Abu Bakar kemudian membentuk 11 regu yang masing-masing dipimpin oleh Khalid bin Walid, Amr bin al-Ash, Ikrimah bin Abi Jahl, dan Syurahbil bin Hasanah. Mereka diberi tugas untuk menaklukkan kabilah-kabilah yang melakukan pemberontakan atau menolak membayar zakat. Pasukan muslim bergerak ke berbagai penjuru, mulai dari Tihamah di Laut Merah, Hadramaut di ujung Lautan Hindia (sekarang Yaman), sampai ke Oman, Bahrain, Yamamah, hingga Kuwait di Teluk Persia.

Dalam operasi militer kedua ini, pertempuran paling sengit terjadi antara pasukan Khalid bin Walid melawan pasukan Musailamah yang memiliki 40 ribu tentara. Pasukan dari Madinah sempat kalang kabut menghadapi mereka. Namun berkat kecerdikan Khalid bin Walid, mereka berhasil memukul balik lawan. Seorang tentara muslim bernama al-Barak berhasil melompati benteng pertahanan Musailamah dan pasukannya, Al-Hadikat, lalu ia membukakan pintu gerbang benteng dari dalam. Dalam pertempuran sengit itu, sang Nabi palsu Musailamah tewas.

Setelah itu, pasukan Khalid kemudian bergerak ke Utara, menuju lembah Irak yang saat itu dikuasai kerajaan Persia. Ketika Nabi SAW. masih hidup, tepatnya pada tahun ke-8 Hijriah, beliau pernah berkirim surat kepada Ratu Persia, Kishra, namun itu dirobek di hadapan utusan Nabi SAW. Rasulullah SAW. lalu menyebutkan bahwa Allah akan merobek-robek kerajaan Persia pula. Dan saat itu telah tiba melalui tangan Khalid bin Walid yang hanya membawa sedikit pasukan. Dalam perang di Allais tercatat 70 ribu orang tewas. Setelah itu Kerajaan Hira pun ditaklukkan. Jadilah seluruh wilayah Persia (sekarang Irak) masuk dalam wilayah kekhalifahan Abu Bakar.

Setelah Persia berhasil ditaklukkan, Khalifah Abu Bakar kemudian mengirim 24.000 pasukan ke arah Syria, di bawah komando empat orang panglima perang. Ke 24 ribu tentara Muslim itu akan menghadapi 240.000 pasukan Romawi -kekuatan terbesar di dunia pada masa itu-yang diperintah Heraklius. Abu Bakar menetapkan Yarmuk sebagai pangkalan mereka. Ia juga memerintahkan Khalid bin Walid -yang saat itu masih berada di wilayah Irak-untuk segera pergi ke Yarmuk dan menjadi Panglima Besar guna mengahdapi pasukan Romawi. Khalid bin Walid membawa 9000 tambahan dari Irak guna bergabung dengan pasukan Muslimin yang telah tiba terlebih dahulu di Yarmuk.

Dari sekian keberhasilan yang dicapai pasukan Muslimin di bawah pemerintahan Abu Bakar, terutama dalam upaya memadamkan pemberontakan di berbagai kawasan serta keberhasilan mengembalikan kemurtadan massal bangsa Arab pasca meninggalnya Nabi SAW., maka sebagian besar kaum muslimin menyadari bahwa Abu Bakar sangat berjasa dan memdapat legitimasi rakyat. Apalagi sebelumnya memang telah ada isyarat dari al-Quran mengenai akan datangnya masa dimana kaum muslimin akan banyak yang murtad namun berhasil dikembalikan oleh orang-orang muslim lain yang cukup kokoh memegang ajaran agama dan saling mencintai satu sama lain. Isyarat al-Quran tersebut tertera dalam surat :

Wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa yang murtad diantara kalian dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan segolongan kaum yang dicintai-Nya dan Allah juga mencintai mereka

Menurut Hasan al-Bashri, kaum yang akan mengembalikan orang-orang murtad itu tidak lain adalah pasukan muslimin dibawah komando Abu Bakar. Dan apa yang diisyratkan al-Quran jauh sebelumnya ternyata terbukti ketika Abu Bakar telah memegang pucuk pimpinan umat Islam menggantikan Nabi.[60]

 

Dua Tahun dengan Keberhasilan Besar

Secara umum, pemerintahan Abu Bakar hanya berlangsung kurang lebih 2 tahun. Namun dalam masa yang relatif singkat itu, Abu Bakar berhasil mencatat banyak keberhasilan, terutama dalam hal perluasan wilayah, pembentukan lembaga-lembaga negara, pengelolaan ekonomi, serta pencapaian kesejahteraan umum yang merata bagi seluruh rakyat. Di jazirah Arab, ia telah berhasil menyatukan kembali umat Islam yang pecah setelah meninggalnya Rasulullah SAW. Di masanya pula, Islam semakin berkembang dan menyebar ke luar jazirah Arab, seperti Afrika utara dan Persia. Meskipun demikian, Abu Bakar tetap dikenal sebagai seorang yang sangat sederhana. Abu Bakar hidup sebagaimana rakyat kebanyakan. Ia tetap pergi sendiri ke pasar untuk berbelanja, serta tetap menjadi imam salat di masjid Nabawi sebagaimana dicontohkan Nabi SAW.

Selama dua tahun tiga bulan memimpin umat, Abu Bakar hanya mengeluarkan 8.000 dirham uang negara untuk kepentingan keluarganya. Jumlah yang sangat sedikit untuk ukuran waktu itu. Abu Bakar juga berjasa besar dalam upaya mengumpulkan ayat-ayat al-Quran atas saran dari Umar ra. Abu Bakar menunjuk sahabat Zaid bin Tsabit untuk memimpin tugas itu, dan mencatat ayat-ayat Quran dari para sahabat yang dahulu pernah menjadi sekretaris Rasulullah SAW. Catatan-catatan itu kemudian dikumpulkan di rumah Hafshah, putri Umar. [61]

 

Tanah Fadak

Dibalik semua keberhasilan itu, di tengah-tengah masa pemerintahan Abu Bakar sempat terjadi peristiwa penting yang selalu menjadi perbincangan di kalangan rakyat, yakni tentang tanah Fadak. [62] Tanah yang konon pernah dimiliki Rasulullah SAW. itu diminta oleh putrinya, Fathimah, kepada Abu Bakar sebagai tanah warisan. Namun Abu Bakar tidak memenuhi permintaan tersebut dan membiarkan tanah Fadak tetap sebagai tanah milik negara.

Pada mulanya, pertentangan seputar tanah Fadak terjadi antara sahabat Ali ra. dan Ibnu Abbas ra. Ali mengklaim bahwa tanah Fadak adalah milik Nabi SAW. yang diberikan kepada putrinya, Fathimah ra. yang kebetulan menjadi istri Ali. Sementara Ibnu Abbas juga menyatakan bahwa dialah yang berhak mewarisi tanah yang dimiliki Nabi saat perang Khaibar itu. Sebagai solusinya, Ali dan Ibnu Abbas kemudian menemui Umar bin al-Khattab untuk meminta pertimbangan dan masukan kepadanya. Namun Umar menolak dengan alasan bahwa keduanya lebih mengetahui permasalahan yang mereka hadapi.

Pada kesempatan lain, Fathimah datang sendiri menemui Abu Bakar dan meminta hak warisnya. Kedatangan Fathimah disertai oleh suaminya, Ali ra., dan mantan pembantu Rasulullah, Ummi Hani. Keduanya datang sebagai saksi atas tuntutan Fathimah. Namun Abu Bakar menolak tuntutan itu dengan alasan bahwa saksi yang dihadirkan cuma satu orang laki-laki dan satu orang perempuan. Padahal dalam kasus persengketaan seperti itu seharusnya saksi yang dihadirkan berjumlah tiga orang, yakni dua orang laki-laki dan satu orang perempuian.

Dalam riwayat lain dikisahkan, para janda Nabi SAW. mengutus Utsman bin Affan untuk menemui Abu Bakar guna menuntut hak waris mereka. Namun permohonan ini juga ditolak oleh Abu Bkara dengan alasan bahwa Nabi SAW. pernah bersabda: (Kami -para Nabi- tidak dapat memberi warisan. Harta benda yang kami tingalkan adalah shadaqah). Mendengar hal itu, mereka pun tidak meneruskan tuntutannya. [63]

 

Suksesi Kepemimpinan

Di masa akhir pemerintahannya, Abu Bakar sempat menyelesaikan persoalan besar yang berpotensi menimbulkan konflik di kalangan umat, yakni soal pergantian kepemimpinan. Dikisahkan, Khalifah Abu Bakar sibuk bertanya pada banyak orang dalam berbagai pertemuan, baik di majlis resmi atau di tempat-tempat umum. "Bagaimana pendapatmu tentang Umar?" tanya Abu Bakar kepada setiap orang yang di temuinya. Rata-rata mereka menyebut bahwa Umar adalah seorang yang keras, namun jiwanya sangat baik.

Ketika Khalifah Abu Bakar jatuh sakit, beliau kemudian mengumpulkan para sahabat untuk diajak bermusyawarah membahas figur yang akan menggantikannya. Setelah melalui pembahasan cukup alot, akhirnya Umar bin al-Khattab disetujui sebagai Khalifah pengganti Abu Bakar. Setelah itu, Abu Bakar minta Utsman bin Affan untuk menuliskan wasiat bahwa penggantinya kelak adalah Umar. Penunjukan khalifah secara langsung ini diambil oleh Abu Bakar karena khawatir akan timbulnya pertentangan soal suksesi kepemimpinan seperti peristiwa Saqifah Bani Saidah. Dengan cara ini, Abu Bakar telah menutup kemungkinan terjadinya pertikaian atau perebutan kekuasaan khalifah di antara umat Islam, sehingga kesatuan umat tetap terjaga.

Penunjukan Umar ra. sebagai penganti Abu Bakar tidak lah berjalan mulus. Ada sebagian kaum Muslimin yang tidak setuju jika Umar yang menjadi khalifah. Sebab menurut mereka, Umar ra. adalah pemimp[in yang keras dan kasar. Mendengar hal itu, Abu Bakar meyakinkan kaum Muslimin dalam pidatonya, yang antara lain berbunyi: . (Jika Tuhan mempertanyakan [penunjukan Umar] di hari kiamat kelak, maka aku akan menjawab: Aku telah menunjuk orang yang terbaik diantara mereka). Jaminan yang bersifat vertikal-transendental ini akhirnya mampu meredakan ketegangan yang sempat terjadi dan meyakinkan kaum Muslimin bahwa Umar memang pantas menjadi pemimpin umat pasca Abu Bakar.[64] Abu Bakar sendiri meninggal pada 22 Jumadil Akhir tahun ke 13 Hijriyah/23 Agustus 634 Masehi, dalam usia yang hampir sama dengan Rasul, 63 tahun.

 

PERIODE UMAR BIN AL-KHATTAB[65]

Ketika Umar menerima tugas sebagai khalifah, pasukan Islam tengah bertempur sengit di Yarmuk -wilayah perbatasan dengan Syiria. Umar tidak memberitakan kepada pasukannya bahwa Abu Bakar telah wafat dan bahwa dia lah yang sekarang menjadi khalifah. Umar tidak ingin mengganggu konsentrasi pasukan Muslim yang tengah melawan kerajaan Romawi yang dikenal sangat besar dan kuat itu.

Di Yarmuk, pasukan muslim yang dipimpin Khalid bin Walid mengambil kedudukan di bukit-bukit yang menjadi benteng alam, sedangkan pasukan Romawi terpaksa menempati lembah yang berada di hadapannya. Ketika kedua pasukan saling menyerang, dalam waktu yang tak begitu lama banyak diantara tentara Romawi -baik yang berasal dari Arab Syiria maupun Yunani- tewas bersimbah darah.

Melihat keadaan ini, panglima perang Romawi, Gregorius Theodore, berteriak dengan lantang mengajak duel panglima Islam, Khalid bin Walid. Gregorius tidak ingin anak buahnya terus berguguran dan menjadi korban sia-sia. Tantangan Gregorius diterima oleh Khalid.

Setelah melangsungkan pertarungan agak lama, tombak Gregorius patah terkena sabetan pedang Khalid. Gregorius lalu mengambil pedang besar lainnya. Namun sebelum duel itu dilanjutkan, Gregorius terlebih dahulu bertanya kepada Khalid tentang motivasinya berperang, serta bagaimana hakikat Islam yang sebenarnya.

Mendengar jawaban Khalid, bahwa dirinya berperang hanya mencari ridla Allah Swt. semata dan tidak ada motivasi duniawi seperti ingin mengejar jabatan, maka di hadapan ratusan ribu pasukan Romawi dan Muslim, Gregorius menyatakan diri masuk Islam. Kenyataan ini membuat pasukan Romawi kalut, namun akhirnya mereka memutuskan untuk terus melanjutkan pertempuran.

Gregorius sendiri lalu diajak oleh Khalid ke tempat yang aman. Di sana ia membaca syahadat dan sempat menunaikan salat dua rakaat. Setelah itu Gregorius kemudian ikut bersama-sama bertempur di samping Khalid dengan mengibarkan bendera Islam. Namun dalam pertempuran itu, Gregorius tewas secara syahid di tangan bekas pasukannya sendiri. Pasukan Islam sendiri mencatat kemenangan besar di Yarmuk, meskipun sejumlah sahabat meninggal di sana. Di antaranya adalah Juwariah, putri Abu Sofyan.

Setelah perang Yarmuk selesai, dan di saat pasukan Muslimin sedang mempersiapkan diri guna melakukan penyerangan ke Damaskus, tiba-tiba datang utusan dari Madinah yang membawa surat dari Khalifah Umar ra. Isi surat tersebut sungguh mengejutkan. Khalifah Umar ra. memecat Khalid secara hormat, dan mengangkat Abu Ubaidah sebagai Panglima Besar umat Islam pengganti Khalid guna melanjutkan penyerangan. Khalifah Umar mungkin khawatir, padukan Islam akan sangat mendewakan Khalid karena kehebatan pribadinya dan kelihaiannya mengatur strategi perang. Pendewaan atau okultisme jelas sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip agama Islam.

Sebagai seorang ksatria, Khalid ikhlas menerima keputusan itu. Khalid tetap ikut serta dalam pertempuran berikutnya sebagai prajurit biasa bersama tentara muslim lainnya. Beberapa sahabatnya tentu dibuat heran sekaligus kagum atas keputusan Khalid tersebut. "Saya berjihad bukan karena Umar, tapi demi mencari ridla Allah" kata Khalid saat ditanya beberapa sahabatnya. Bahkan di medan tempur, Khalid terus membantu Abu Ubaidah dan selalu memberi masukan-masukan cukup positif bagi setiap kemenangan Islam.

Dalam penyerangan pertama pasca perang Yarmuk, kota Damaskus berhasil dengan mudah dikuasai. Dengan menggunakan "tangga manusia", pasukan Muslimin berhasil menembus benteng Aleppo yang menjadi basis kekuatan Romawi yang berada di Syiria. Dengan sangat terpaksa, Kaisar Heraklius menarik mundur seluruh pasukannya kembali ke Konstantinopel. Itu artinya, kemenangan berada di tangan kaum Muslimin dan Syiria yang telah lima abad dikuasai Romawi kini berada di bawah kekuasaan Madinah.

Setelah Syiria berhasil ditaklukkan, pasukan Muslim kemudian bergerak menuju Yerussalem guna merebut kota suci Baitul Maqdis. Sebelum memasuki kawasan Yerussalem, Abu Ubaidah terlebih dahulu mengirimkan utusan kepada penguasa Yerusalem dan meminta kesediaannya untuk menyerah. Mengetahui besarnya kekuatan pasukan Isklam, penguasa Yerussalem bersedia menyerah, tapi ia hanya bersedia menyerahkan kekuasaan atas kota itu kepada pemimpin tertinggi Islam.

Mendengar hal itu, Abu Ubaidah kemudian mengirim utusan ke Madinah untuk menemui Khalifah Umar ra. dan memberitahukan perihal syarat yang diajukan penguasa Yerussalem. Ternyata Khalifah Umar bersedia memenuhi syarat tersebut, dan berangkat ia ke Yerusalem. Ketika tentara Islam menawarkan diri untuk memberi pengawalan, Khalifah Umar menolaknya. Khalifah Umar berangkat menemui pemimpin Yerussalem hanya menunggang seekor unta dan ditemani satu orang pembantu. Setibanya di Yerusalem, Umar dan pembantunya yang hanya mengenakan pakaian sangat sederhana disambut dengan upacara kebesaran layaknya seorang raja. Namun hal itu tidak membuat Khalifah Umar silau. Ia tetap tampil apa adanya; mengendarai unta merah dan membawa sendiri kantung makanan serta persediaan air minum.

Kesederhanaan Umar itu mengundang simpati penduduk Yerussalem. Bahkan orang-orang non Muslim di pelbagai kawasan yang dikunjungi Umar juga banyak yang menaruh simpati kepadanya. Apalagi kaum Gereja Syria dan Gereja Kopti-Mesir, mereka memang mengharap kedatangan Islam karena selama berada di bawah kekuasaan Romawi, mereka hidup sengsara dan tertindas. Kekaisaran Romawi hanya mengakui Gereja Yunani sebagai corong keagamaan bagi masyarakat, sementara agama-agama lainnya dimarginalkan. Karena itu, kedatangan Islam yang mengajarkan kesederajatan dan kesahajaan seperti dicontohkan Umar langsung menarik simpati masyarakat luas.

Selain diterima di kawasan Asia Barat, Islam juga segera menyebar ke kawasan barat tepatnya di Afrika Utara, seperti ke Memphis (Kairo), Iskandaria, hingga Tripoli. Daerah-daerah tersebut berhasil direbut pasukan Islam di bawah komando Amr bin Ash dan Zubair, menantu Abu Bakar. Sementara ke wilayah timur, pada 637 Masehi pasukan Saad bin Abu Waqqas juga merebut Ctesiphon -pusat kerajaan Persia. Setelah berada dibawah kekuasaan Islam, tiga putri raja Persia kemudian dibawa ke Madinah dan dinikahkan dengan Muhammad bin Abu Bakar, Abdullah bin Umar, serta Hussein bin Ali.[66] Dari Persia, Islam kemudian menyebar ke wilayah Asia Tengah, mulai Turkmenistan, Azerbaijan, bahkan hingga wilayah Afghanistan sekarang.

 

Keadilan Sang Pemimpin

Selama masa pemerintahannya, Umar bin al-Khaththab dikenal sebagai pemimpin yang sangat adil. Ia tidak membedakan perlakuan terhadap siapapun, baik itu majikan atau budak, kaya atau miskin, penguasa maupun rakyat jelata. Semuanya mendapat perlakuan yang sama. Dikisahkan, suatu hari datanglah seorang penduduk Mesir beragama Yahudi ke Madinah. Setiba di Madinah, saat itu Umar bin al-Khaththab sedang berkhotbah di masjid mengenai keadilan. Demi Allah, apabila ada di antara pemimpin dari kamu sekalian menindas yang lemah, maka orang yang ditindas itu mempunyai hak untuk membalasnya. Begitu pula jika seorang pemimpin menghina seseorang di hadapan umum, maka orang itu diberikan hak untuk membalas hal yang setimpal." Ujar Umar. Selesai khalifah berkhotbah, lelaki asal Mesir tadi bangkit seraya berkata; "Ya Amiirul Mu'minin, saya datang dari Mesir dengan menembus padang pasir yang luas dan tandus, serta menuruni lembah yang curam. Semua ini hanya dengan satu tujuan, yakni ingin bertemu dengan Tuan."

"Katakanlah apa tujuanmu bertemu denganku," ujar Umar.

"Saya telah dihina di hadapan orang banyak oleh 'Amr bin 'Ash, gubernur Mesir. Dan sekarang saya akan menuntutnya dengan hukum yang sama."

"Ya saudaraku, benarkah apa yang telah engkau katakan itu?" tanya khalifah Umar ragu-ragu.
"Ya Amiirul Mu'minin, apa yang saya katakan adalah benar adanya." jawabnya tegas.

"Baiklah, kepadamu aku berikan hak yang sama untuk menuntut balas. Tetapi, engkau harus mengajukan empat orang saksi, dan kepada 'Amr aku berikan dua orang pembela. Jika tidak ada yang membela gubernur, maka kau dapat melaksanakan balasan dengan memukulnya 40 kali."

Setelah mendapat izin dan legitimasi dari Khalifah, si Yahudi kemudian pulang kembali ke Mesir. Sesampainya di Mesir, ia langsung menyampaikan titah Khlaifah Umar kepada gubernur Amr bin Ash. Pada mulanya, pengaduan sang Yahudi banyak ditentang oleh para bawahan gubernur. Namun Amr bin Ash sendiri menyadari kesalahannya sehingga ia bersedia mendapat balasan dari si Yahudi. "Ini rotan, ambillah! Laksanakanlah hakmu," kata gubernur 'Amr bin 'Ash sambil membungkukkan badannya siap menerima hukuman balasan. "Apakah dengan kedudukanmu sekarang ini engkau merasa mampu untuk menghindari hukuman ini?" tanya lelaki itu. "Tidak, jawab gubernur, Jalankan saja keinginanmu itu," tambahnya. Mendengar jawaban terakhir ini, si Yahudi lalu berkata, "Tidak, sekarang aku memaafkanmu," katanya seraya melamparkan rotan tersebut dan memeluk gubernur sebagai tanda persaudaraan.

Inilah salah satu bukti keteladanan para pemimpin Islam di masa sahabat, khususnya keteladanan yang ditunjukkan oleh Umar sebagai pimpinan tertinggi yang tidak pilih kasih dalam menjalankan kebijakan, dan dari seorang Amr bin Ash yang bersedia menerima hukuman dari seorang gembel yang datang membawa kebenaran.[67]

 

Kedekatan dengan Rakyat

Selain dikenal dengan sikap adilnya, Umar juga dikenal sangat dekat dengan rakyatnya. Ia sering berkeliling seorang diri ke rumah-rumah penduduk, terutama pada malam hari saat penduduk tidak mengenali wajahnya karena gelap. jika diantara mereka ada yang kekurangan bahan makanan, maka Umar segera mengambilkan bahan makanan yang berada di gudang penyimpanan dan tak segan-segan mengangkatnya sendiri.

Dalam satu riwayat diceritakan, bahwa Usaid berkata, "Ketika pucuk pemerintahan pindah ke tangan Khalifah Umar bin Khaththab, beliau membagi-bagikan harta kekayaan kepada kaum muslimin. Beliau mengirimkan pakaian kepadaku, tetapi pakaian itu sempit bagiku. Ketika aku berada di masjid, aku melihat seorang pemuda Kuraisy berpakaian serupa dengan pakaian yang dikirimkan Khalifah kepadaku. Pakaian itu sangat longgar dan panjang baginya hingga menyapu tanah. Maka kuingatkan kepada orang yang berada di sampingku akan sabda Rasulullah saw, "Sesungguhnya sepeninggalku nanti, kalian akan menemui orang-orang yang mementingkan diri sendiri tanpa mempedulikan orang lain." Kemudian aku berkata kepada orang itu, "Ucapan Rasulullah tersebut sekarang telah terbukti." Mendengar penuturanku, orang yang tadi berada di sampingku itu pergi menemui Khalifah Umar dan menyampaikan ucapanku kepada beliau. Khalifah Umar buru-buru mendatangiku ketika aku sedang salat. Dia berkata, "Teruskan salat Anda, hai Usaid!" Setelah selesai salat, Umar menghampiriku seraya bertanya, "Apa sebetulnya yang telah Anda ucapkan?" Maka kuceritakan kepadanya tentang apa yang kulihat dan apa yang kuucapkan. Khalifah Umar berkata, "Semoga Allah memaafkan Anda! Pakaian itu sesungguhnya aku kirimkan kepada si Fulan dari golongan Anshar yang ikut bersumpah di Aqabah dan ikut pula berperang di Badar dan di Uhud. Kemudian, pakaian itu dijualnya kepada pemuda Quraisy tersebut, lalu dipakainya. Apakah karena itu Anda mengira hadis Rasulullah saw sudah terjadi pada masa pemerintahanku ini?. Usaid menjawab, "Demi Allah, Ya Amiral Mukminin! Aku tidak menyangka yang demikian terjadi pada masa Anda!" Tidak lama sesudah itu Usaid bin Hudhair dipangil Allah ke sisi-Nya. Dia meninggal pada masa Khalifah Umar. Usaid meninggalkan hutang empat ribu dirham sehingga ahli warisnya bermaksud menjual tanah untuk membayar hutang tersebut.

Ketika Khalifah Umar mengetahui hal itu, beliau berkata, "Jangan biarkan anak-anak saudaraku Usaid dalam keadaan hidup miskin." Khalifah Umar meminta kesediaan orang yang berpiutang agar dia sudi dibayar dengan hasil panen selama empat tahun, dengan cicilan seribu dirham. Inilah secuail kisah keteladanan Umar dalam memperhatikan nasib warganya.

Dalam kesehariannya, Umar meneladani perilaku Rasulullah SAW. dalam semua aspeknya. Ia berpakaian sangat sederhana, rumah dan makanan hariannya juga apa adanya. Prinsip hidup sederhana ini dimulai dari keluarganya sendiri, lalu (disarankan) kepada bawahannya. Bahkan istri dan anak-anak Umar dilarang menerima pemberian dari sipa pun dan dalam bentuk apapun.[68]

 

DIANTARA JASA-JASA UMAR

Umar bukan saja seorang yang sederhana, tapi juga seorang administratur ulung. Terbukti, ia berani berijtihad dan melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah dilakukan Rasulullah SAW. Contohnya dalam masalah pengelolaan administrasi pemerintahan; Umar mengatur administrasi negara dan membentuk departemen-departemen. Umar juga membentuk majelis permusyawaratan (layaknya DPR sekarang), dan memisahkan lembaga pengadilan dari lembaga eksekutif.[69] Yang lebih mengagumkan lagi adalah upaya Umar ra. untuk membersihkan lembaga pemerintahannya dari tindak penyelewengan dan korupsi. Ia mendaftar jumlah kekayaan calon pejabat yang akan dilantik dan melakukan verifikasi di pada periode-periode tertentu.[70]

Di bidang teritorial, Umar ra. membagi wilayah-wilayah Islam ke dalam 8 propinsi yang membawahi distrik-distrik dan subdistrik, dan dipimpin oleh seorang gubernur. Ke delapan propinsi tersebut adalah Mekkah, Madinah, Suriah, Basrah, Kuffah, Palestina, Mesir, dan Jazirah. Di masing-masing propinsi, managemen gaji pegawai dan administrasi perpajakan disusun sedemikian secara konseptual.

Disamping itu, Umar ra. juga tidak lagi membagikan harta rampasan perang untuk pasukannya, melainkan menetapkan gaji buat mereka. Besarnya gaji disesuaikan dengan tugas dan pos masing-masing. Umar juga mendirilkan beberapa pos militer di tempat-tempat strategis guna memberi rasa aman kepada penduduk.

Pada masa pemerintahan Umar pulalah dimulai pencatatan dan pemberlakuan kalender Hijriah, serta melanjutkan pengumpulan catatan ayat Quran yang dirintis Abu Bakar. Di masa Umar pula salat tarawih dilangsungkan secara berjamaah, yang pada masa hidupnya Rasulullah Saw. biasanya dilakukan secara sendiri-sendiri karena khawatir shalat tarawih akan diwajibkan bagi umat Islam.

Diantara kebijakan Umar lainnya adalah pemberian gaji bagi para imam shalat dan muadzin, penghapusan pendirian baitul mal, penghapusan sistem pembagian tanah rampasan perang (fay), dan pembangunan lembaga-lembaga pendidikan keagamaan, pembangunan bendungan dan terusan, serta pengembangan kota-kota baru, seperti Basrah, Fustat, Kuffah, dan Mosul.[71]

 

MINIMNYA FRIKSI

Pada masa pemerintahan Umar bin al-Khattab ra., friksi internal diantara umat Islam tidak berlangsung begitu tajam seperti yang terjadi pada masa Abu Bakar. Persoalan yang dihadapi umat Islam pada masa pemerintahan Umar lebih banyak dikonsentrasikan untuk perluasan wilayah dan konsolidasi ke dalam. Sementara perselisihan internal hanya bersifat furuiyyah dan sama sekali tidak berpengaruh besar pada sendi-sendi akidah umat Islam. Bisa dibilang, masa pemerintahan Umar termasuk era paling tenang dan sepi dari hiruk-pikuk perselisihan internal.

Dari sedikit uraian di muka dapat ditarik kesimpulan bahwa perbedaan pendapat di kalangan Umat Islam pasca meninggalnya Nabi himgga masa pemerintahan Umar ra. tidak berpengaruh besar pada keutuhan dan persatuan umat Islam secara keseluruhan. Sebab perbedaan pandangan itu hanya bersifat asumtif-politis atau soal-soal furuiyyah (fiqh) semata, dan tidak sampai menyentuh persoalan akidah. Apalagi setelah mendengar riwayat hadits yang menjelaskan persoalan yang mereka hadapi, maka mereka langsung mengamininya dan tidak banyak mempersoalkannya lebih jauh.

Keberhasilan Umar dalam membangun dan menata negara menimbulkan rasa iri dan ketidaksenangan pihak-pihak yang memusuhi Islam, termasuk dari sebagian umat Islam sendiri. Saat itu, seperti biasa Umar datang ke masjid hendak menimami salat subuh. Namun tiba-tiba dari arah belakang, seorang muslim asal Persia Firuz bernama Abu Luluah, menikamnya dan mengamuk di masjid dengan pisau beracun. Umar meninggal bersama enam orang jamaah shalat lainnya, sedangkan Abu Luluah sendiri juga tewas. Banyak dugaan mengenai alasan pembunuhan tersebut. Yang pasti, sejak periode Nabi SAW. inillah pembunuhan pertama seorang muslim oleh muslim lainnya. Dan kebetulan, salah satu korbannya adalah Umar bin al-Khaththab, pemimpin sederhana dan bersahaja setelah 10 tahun memegang pucuk pimpinan tertinggi umat Islam.

 

PERIODE UTSMAN BIN AL-AFFAN[72] (33-45 Hijriah/644-656 Masehi).

Beberapa saat sebelum meninggal dunia, Umar bin Khaththab sempat berpesan agar selama tiga hari, imam masjid hendaknya diserahkan kepada Suhaib Al-Rumi. Namun pada hari keempat hendaknya telah dipilih seorang pemimpin penggantinya. Umar memberikan enam nama sebagai alternatif pilihan. Mereka adalah Ali bin Abu Thalib, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Saad bin Abi Waqas, Abdurrahman bin Auff, dan Thalhah bin Ubaidillah.

Pesan Umar ini pun dilaksanakan. Keenam orang yang diwasiati Umar itu berkumpul di rumah Abdurrahman bin Auff. Dalam pertemuan itu, mereka memulai pembicaraan tentang siapa dia antara mereka yang bersedia mengundurkan diri. Sebelum peserta lain mengeluarkan pendapat, Abdurrahman bin Auff selaku tuan rumah dan moderator terlebih dahulu menyatakan dirinya mundur dari pencalonan. Melihat kenyataan itu, dua orang lainnya yakni Zubair bin Awwam dan Saad bin Abi Waqas juga menyatakan mengundurkan diri, sehingga tinggallah Utsman dan Ali. Ketika itu, Abdurrahman bin Auff ditunjuk menjadi penentu. Untuk menentukan pilihan, Abdurrahman terlebih dahulu menemui banyak orang meminta pendapat mereka. Namun pendapat masyarakat pun terbelah; ada yang cenderung ke Ustman dan ada pula yang lebih memilih Ali ra.

Konon, sebagian besar warga memang cenderung memilih Utsman. Saat itu, kehidupan ekonomi warga Madinah memang sangat baik, sehingga perilaku masyarakat pun bergeser. Mereka mulai enggan dipimpin oleh tokoh yang kesehariannya sangat sederhana dan tegas seperti Abu Bakar atau Umar. Sementara Ali mempunyai kepribadian yang serupa itu. Berbeda dengan Ustman yang dikenal sangat kaya dan pemurah.

Setelah selesai berkeliling, Abdurrahman bin Auff -yang juga sangat kaya dan masih saudara ipar Ustman - pun memutuskan untuk memilih Ustman sebagai khalifah. Ali sempat protes pada pilihan Abdurrahman yang cenderung memilih berdasarkan ikatan tali kekeluargaan. Keduanya memang sama-sama keluarga Bani Umayah, sedangkan Ali, sebagaimana Nabi Muhammad SAW., adalah keluarga Bani Hasyim. Sejak lama kedua keluarga itu memang selalu bersaing dalam berbagai hal. Namun Abdurrahman meyakinkan Ali bahwa keputusannya adalah murni dari nurani. Ali pun akhirnya mau menerima keputusan itu. Setelah semua anggota formatur dinilai mencapai kata sepakat, akhirnya dibaiatlah Ustman sebagai khalifah pengganti Umar. Pada saat diangkat, Ustman sudah berusia 70 tahun dan tercatat sebagai khalifah tertua sepanjang sejarah Islam.

Enam Tahun Pertama, Periode Keberhasilan

Para ahli sejarah pada umumnya memetakan pemerintahan Utsman yang berlangsung selama 12 tahun dalam dua periode. Periode 6 tahun pertama adalah masa dimana banyak keberhasilan dan kejayaan dicapai oleh kaum Muslimin. Sementara periode 6 tahun kedua ditandai dengan banyaknya kekecewaan penduduk yang berujung pada pecahnya kekacauan dan pemberontakan di berbagai kawasan.

Pada masa awal pemerintahannya, Utsman tetap menjalankan kebijakan sebagaiamana kebijakan yang telah ditempuh pendahulunya, Umar bin al-Khaththab. Para pejabat gubernur yang telah diangkat pada masa Umar tidak dimutasikan oleh Utsman sesuai pesan yang disampaikan Umar menjelang wafatnya. Karena itulah, Utsman tetap mengukuhkan tiga gubernur utama, yakni Gubernur Mesir, Amr bin Ash, Gubernur Syam, Muawiyah bin Sufyan, dan Gubernur Persia, Abu Musa al-Asyari.

Ustman juga membuat langkah penting bagi umat. Ia memperlebar bangunan Masjid Nabawi di Madinah dan Masjid Al-Haram di Mekah. Pada masa ini pula, al-Quran yang sebelumnya hanya dihafalkan oleh para sahabat dan sempat dikumpulkan dan disimpan dalam bentuk naskah oleh Hafsah, putri Umar ra., kini dikodifikasi dalam bentuk mushaf. Orang yang mula-mula mengusulkan penulisan al-Quran itu adalah Hudzaifah bin Yaman. Ia sangat khawatir melihat banyaknya sahabat penghafal al-Quran yang meninggal dunia dalam berbagai peperangan, sehingga ia berinisiatif mengusulkan pembukuan al-Quran kepada Khalifah Utsman bin Affan. Usul itu diteima oleh khalifah dan dia segera membentuk panitia pembukuan yang terdiri dari Zaid bin Tsabit sebagai ketua, Said bin Ash, Abdullah bin Zubair, dan Abdurrahman bin Harits sebagai anggota. Kertas didatangkan dari Mesir dan Syria. Setelah selesai terbukukan, mushaf pertama itu kemudian disalin sebanyak lima buah. Satu buah mushaf tetap berada di Madinah dan kemudian dikenal sebagai mushaf al-imam, kemudian empat buah lainnya dikirimkan ke Mekkah, Suriah, Bashrah, dan Kuffah.[73]

Sementara di bidang pengembangan wilayah, pemerintahan Utsman mencapai keberhasilan cukup besar dengan semakin meluasnya kekuasaan Islam ke berbagai wilayah. Pada masa ini, untuk pertama kalinya Islam mempunyai armada laut yang tangguh. Armada tersebut dibangun oleh gubernur Muawiyah bin Abu Sofyan yang menguasai wilayah Syria, Palestina, dan Libanon. Sekitar 1.700 kapal dipakainya untuk mengembangkan wilayah ke pulau-pulau di Laut Tengah. Pada masa ini pula Siprus dan Pulau Rodhes digempur, dan Konstantinopel sempat dikepung. Bahkan pada masa Ustman ini, kaum muslimin melakukan ekspedisi damai ke Tiongkok. Pasukan Muslim yang dipimpin oleh Saad bin Abi Waqqas sempat bermukim di Kanton dan mengadakan pertemuan bilateral dengan Kaisar Chiu Tang Su.

Untuk memudahkan pelayanan administrasi pemerintahannya, Utsman kemudian mengangkat Marwan bin al-Hakam sebagai sekertaris negara. Marwan adalah seorang keturunan Bani Umayyah yang diusir oleh Rasulullah Saw. ke Yaman, dan sempat meminta ampunan kepada Abu Bakar dan Umar dan meminta untuk kembali ke Madinah, namun permintaan itu ditolak oleh keduanya. Ketika Utsman diangkat sebagai khalifah, Marwan kemudian dipanggil kembali ke Madinah dan diangkat menjadi sekertaris negara. Bahkan Marwan juga dinikahkan dengan salah seorang putri Utsman bin Affan. Pada mulanya, pengangkatan Marwan ini tidak menimbulkan kontroversi berarti di kalangan masyarakat. Namun ketika Marwan yang notabene tidak memiliki jasa apa-apa diberi bagian ghanimah sebesar dua ratus ribu dinar oleh Utsman, beragam reaksi pun bermunculan.[74]

 

Enam Tahun Kedua, Timbulnya Gejolak Internal

Dalam perkembangan selanjutnya, pengaruh Marwan semakin besar sehingga sering melampui tugas-tugasnya sebagai sekertaris. Banyak kebijakan Utsman yang dipengaruhi pikiran-pikiran Marwan. Bahkan akhirnya, dialah yang mengendalikan berbagai kebijakan khalifah, termasuk dalam hal pengangkatan pejabat-pejabat baru yang berasal dari keluarganya sendiri, yakni keluarga besar Bani Ummayyah (nepotisme). Selain itu, Utsman tampak sangat longgar memberi pengawasan kepada bawahan serta keluarganya yang hidup bermewah-mewah dan berlebih-lebihan dalam menampakkan kekayaan. Pada akhirnya, terdaat jurang pemisah dan kesenjangan ekonomi antara pejabat keturunan Bani Ummayyah yang kaya raya dan masyarakat biasa yang umumnya berada di bawah garis kemiskinan.

Posisi-posisi penting di pemerintahan pada akhirnya didominasi oleh keturunan Bani Umayyah. Dari sini rakyat semakin yakin bahwa Marwan-lah yang sebenarnya memegang kendali kekuasaan di masa Ustman. Pada masa ini pula, posisi Muawiyah bin Abu Sufyan mulai menjulang tinggi menyingkirkan nama besar seperti Khalid bin Walid. Bahkan Amr bin Ash yang sukses menjadi Gubernur Mesir, diberhentikan dan diganti dengan Abdullah bin Abu Sarah saudara sesusuan dengan Utsman dan orang yang paling aktif berkampanye untuk kemenangan Ustman dalam pemilihan khalifah. Padahal dulunya Abdullah bin Abi Sarah pernah membuat kesalahan besar sehingga darahnya dihalalkan oleh Nabi SAW. [75]

Namun ketika Abdullah bin Sarah menghadapi kesulitan dalam mengatur pemerintahan di Mesir, Utsman kemudian mengangkat kembali Amr bin Ash. Setelah kesulitan behasil diatasi, Ustman kembali memecat Amr bin Ash dan memberikan kembali kursi gubernur kepada Abdullah bin Sarah. Kebijakan ini temtu saja menimbulkan kekecewaan besar rakyat Mesir yang memang mencintai Amr bin Ash.

Sementara untuk posisi gubernur Irak, Azerbaijan, dan Armenia, Ustman mengangkat saudara seibunya, Walid bin Uqbah menggantikan tokoh besar lainnya, Saad bin Abi Waqqas. Namun Walid tak mampu menjalankan pemerintahan secara baik, sehingga menumbuhkan ketidakpuasan di kalangan masyarakat.

Pada awalnya, reaksi negatif masyarakat ini hanya berupa pembicaraan-pembicaraan kecil oleh beberapa individu atau sekelompok masyarakat yang merasa tidak puas atas kebijakan-kebijakan khalifah. Namun dari waktu ke waktu, ketika tidak ada perbaikan dalam pemerintahan, reaksi masyarakat itu semakin membesar dan berubah menjadi aksi massa yang tersebar di berbagai kawasan. Bersamaan dengan itu, muncul pula tokoh Abdullah bin Saba, seorang mantan Yahudi dan kini mengaku menjadi telah memeluk agama Islam. Dengan penampilanya yang santun dan saleh, Abdullah bin Saba memperoleh simpati dari banyak orang. Abdullah berpendapat bahwa yang paling berhak menjadi pengganti Nabi Muhammd SAW. adalah Ali ra. Ia juga menyebut bakal adanya Imam Mahdi yang akan muncul menyelamatkan umat di masa mendatang -sebuah konsep mirip kebangkitan Nabi Isa yang dianut oleh orang-orang Nasrani. Konsep itu diterima oleh masyarakat di wilayah bekas kekuasaan Persia, khususnya di wilayah Iran dan Irak. Pengaruh Abdullah bin Saba meluas. Di saat bersamaan, khalifah Ustman gagal mengatasi beragam masalah secara bijak. Abdullah bin Saba diusir ke Mesir., dan Abu Dzar Al-Ghiffari, tokoh yang sangat saleh dan dekat dengan Abdullah serta dikenal sebagai bapak kaum sufi, diasingkan ke luar kota Madinah sampai meninggal.

Sebelum itu, Utsman yang dikendalikan oleh Marwan juga membuat kebijakan membagi-bagikan harta baitul mal untuk beberapa kerabatnya. Hal ini dilakukan dengan alasan bahwa khalifah mempunyai kewenangan mengatur dan mengalokasikan uang negara untuk kepentingan umum, termasuk untuk khlafiah dan keluarganya. Kebijakan ini tentu saja membuat rakyat semakin kecewa.

Melihat situasi sudah semakin tidak kondusif, beberapa sahabat mendesak agar Ustman bersedia mengundurkan diri. Pada suatu hari, Ali menemui Utsman dan mengingatkan agar Ustman kembali ke garis pemerintahan yang telah dibangun oleh Abu Bakar dan Umar. Namun Ustman merasa bahwa tidak ada yang keliru dalam langkahnya. Malah sekertarisnya, Marwan, berdiri dan berseru bahwa pihaknya siap mempertahankan kekhalifahan itu dengan pedang.

Pada bulan Zulkaedah 35 Hijriah atau 656 Masehi, sekitar 500 pasukan dari Mesir, 500 pasukan dari Basrah, dan 500 pasukan dari Kufah bergerak menuju Madinah. Mereka berdalih bahwa kedatangan mereka hanya untuk menunaikan ibadah haji. Namun setelah tiba di Madinah, pasukan tersebut justru mendatangi rumah Khalifah dan mendesak agar Ustman--yang ketika itu telah berusia 82 tahun--segera mengundurkan diri. Pasukan yang berasal dari Mesir mencalonkan Ali, dari Basrah mendukung Thalhah, dan dari Kufah memilih Zubair untuk menjadi khalifah pengganti Utsman. Baik Ali, Thalhah, maupun Zubair sama-sama menolak dijadikan khalifah, bahkan mereka malah melindungi Ustman dan membujuk para prajurit tersebut untuk segera pulang. Namun mereka menolak dan jutru mengepung Madinah selama 40 hari. Mereka menuntut agar Utsman menyerahkan Marwan bin al-Hakam serta meminta Utsman bersedia mengundurkan diri. Namun tak satupun permintaan mereka yang ditanggapi oleh Utsman. Suatu malam, ketika Ustman sedang berkhutbah mengecam tindakan mereka, ia dilempari batu hingga pingsan.

Setelah sadar dari pingsannya, Ustman kemudian meminta kesediaan Ali agar meyakinkan para pemberontak dan membujuk mereka untuk segera meninggalkan Madinah. Ali menyatakan kesiapannya dengan catatan, Ustman tidak lagi menuruti kata-kata Marwan. Ustman pun bersedia menuruti permintaan Ali.

Ali kemudian mendatangi para pengepung, dan setelah melalui pembicaraan yang sangat alot, serta atas jaminan Ali, akhirnya para pengepung itu bersedia menarik diri dari Madinah. Namun tak lama setelah itu, Utsman atas saran Marwan tiba-tiba mencabut janjinya. Hal ini tentu membuat Ali ra. marah, terutama pada Marwan yang selalu memanfaatkan Utsman untuk kepentingan pribadinya.

Berita pencabutan janji secara sepihak itu tentu saja membuat rakyat marah. Bahkan para pengepung dari Mesir yang telah menarik diri dari Madinah, ketika mendengar pengingkaran janji oleh Utsman akibat bujukan Marwan, maka mereka kembali berangkat ke Madinah dan berencana membunuh Marwan dan Utsman.

Melihat kedatangan tentara Mesir ini, Ali ra. menyuruh dua putranya, Hasan dan Husein untuk melindungi Utsman. Namun karena keadaan sudah sangat kacau, keduanya tidak mampu menenangkan massa. Rumah Utsman dikepung ribuan massa. Mereka terdiri dari para pendatang yang sebelumnya telah mengepung rumah Utsman, ditambah dari penduduk Madinah sendiri yang ikut bergabung bersama para pengepung dari luar kota itu.

Beberapa orang diantara massa itu memasuki rumah Utsman satu persatu, sementara yang lain tetap tinggal di luar. Namun satu persatu pula orang-orang yang masuk ke dalam rumah Utsman itu keluar kembali dan kemudian berlalu meninggalkan tempat itu. Akhirnya, pemimpin pengepung dari Mesir, Al Ghafiqi, ikut menerobos masuk ke dalam rumah dan menghantamkan besi ke kepala Ustman, disusul kemudian oleh Sudan bin Hamran yang menusukkan pedangnya ke perut Utsman. Pada tanggal 8 Zulhijah 35 Hijriah, Ustman menghembuskan nafas terakhirnya sambil memeluk Quran yang sedang dibacanya.[76]

 

 

 

 

PERIODE ALI BIN ABI THALIB[77] (35-41 Hijriah/655-661 Masehi)

Setelah Khalifah Utsman terbunuh, tiga pasukan pengepung meminta kesediaan Ali bin Abi Thalib untuk menggantikan kedudukan Ustman. Pada mulanya, Ali ra. tidak menerima permintaan itu. Sebab urusan pergantian kepemimpinan menurut Ali harus dilalui dengan proses musyawarah dengan para pemimpin masyarakat (ahl al-hall wa al-aqd) sebagaimana Utsman dulu diangkat menjadi khalifah menggantikan Umar. Ali mengatakan, Urusan ini bukan urusan kalian. Masalah kepemimpinan adalah hal yang sangat penting dan krusial. Ini adalah urusan tokoh-tokoh masyarakat (ahl al-syura) bersama para pejuang perang Badr

Namun tak berapa lama kemudian, para sahabat besar seperti Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sad bin Abi Waqqash, dan beberapa sahabat lainnya berkumpul dan menyepakati pengangkatan Ali sebagai khalifah. Mereka menilai bahwa tidak ada lagi yang pantas menduduki jabatan itu kecuali Ali. Baiat para pembesar sahabat itu kemudian diikuti oleh masyarakat luas dengan melakukan prosesi baiat di Masjid Nabawi tepat pada tanggal 25 Dzulhijjah tahun 33 H. Pada saat pembaiatan itu, situasi dan kondisi Madinah belum kondusif betul setelah peristiwa pembunuhan atas Utsman.[78]

Setelah resmi menjadi pemimpin kaum Muslimin, Ali langsung mengambil langkah-langkah politis guna menanggulangi terjadinya hal yang sama seperti yang dialami Utsman. Dia langsung memberhentikan para pejabat yang diangkat Utsman dan menunjuk penganti baru. Sebagaimana diketahui, pada masa pemerintahan Utsman, dari 20 gubernur yang ada, hanya Gubernur Irak -Abu Musa Al-Asyari-yang bukan keluarga Umayah. Selain mengganti gubernur, Ali juga mengambil kembali tanah-tanah yang dulunya dibagikan oleh Ustman kepada sanak saudaranya tanpa alasan yang dapat dibenarkan. Disamping itu, Ali juga memberikan tunjangan kepada kaum Muslimin tanpa membedakan sahabat yang lebih dulu masuk Islam dengan yang masuk Islam belakangan. Langkah penting lainnya yang diambil Ali pada awal pemerintahannya adalah memindahkan ibu kota negara dari Madinah ke Kuffah. Sejak pemerintahan Ali inilah Kuffah menjadi pusat pemerintahan khilafah islamiyah.[79]

Pada masa awal pemerintahannya, Ali berhasil mengembalikan suasana menjadi lebih kondusif dan stabil. Stabilitas kemananan yang sempat kacau pasca terbunuhnya Ustman berhasil dikendalikan sehingga roda pemerintahan dapat berjalan normal. Namun kondisi tersebut tidak berlangsung lama, karena banyak di antara sahabat, terutama pihak keluarga Ustman, yang menuntut balas atas kematian Ustman. Sementara Ali sendiri tidak ingin mengungkit-ungkit masalah tersebut dan lebih memilih mendiamkannya agar persoalan tidak berkepanjangan dan umat Islam dapat bersatu kembali. Sayangnya, sikap Ali yang demikian justru menimbulkan kekecewaan beberapa pihak, terutama dari Thalhah bin Zubair. Thalhah menuntut agar Ali segera menangkap pembunuh Ustman dan segera mengadilinya. Namun Ali tetap berpegang teguh pada sikapnya yang tidak ingin timbulnya perselisihan baru.

Tuntutan serupa juga banyak diajukan tokoh netral seperti janda Rasulullah -Aisyah, juga Zubair, orang pertama yang masuk Islam seperti Ali. Bahkan beberapa orang menuding Ali terlalu dekat dengan para pembunuh itu. Ali menyebut pengadilan sulit dilaksanakan sebelum situasi politik reda. Ia bermaksud menyatukan negara lebih dahulu sebelum mengadili para pembunuh Utsman. Untuk itu, ia mendesak Muawiyah bin Abu Sufyan -Gubernur Syam yang juga pimpinan Bani Umayah-untuk segera berbaiat kepadanya. Namun Muawiyah menolak berbaiat sebelum pembunuh Ustman dihukum.

 

Perang Jamal, Perang Saudara Pertama

Tuntutan di atas bermula ketika para janda Nabi SAW. yang dipimpin oleh Aisyah berpindah ke Mekkah dan tinggal di kota suci itu. Pada awalnya, para janda Nabi Saw. tersebut meninggalkan Madinah dengan maksud hendak melaksanakan haji. Namun setelah mendengar kematian Utsman, mereka kemudian memutuskan untuk tetap tinggal di Mekkah dan tidak ingin kembali ke Madinah demi menghindari fitnah besar atas kematian Utsman. Mereka terus memantau perkembangan di Madinah melalui berita yang dibawa para pedagang yang datang dari Mekkah.

Tak berapa lama kemudian, banyak sahabat-sahabat lainnya yang menyusul ke Mekah. Di awali oleh Thalhah dan Zubair; keduanya meninggalkan Madinah dan pindah ke Mekkah untuk menyemarakkan kehidupan di kota suci itu. Kepindahan Zubair dan Thalhah dikuti oleh beberapa kabilah yang juga ikut pindah ke Mekkah.

Sementara di Madinah, Ali ra. berencana menyerang Syam (Suriah) karena Muawiyah menolak memberi baiat kepadanya, setelah sebelumnya berkali-kali dikirimi surat. Namun sejumlah sahabat penting seperti Mughirah, Saad bin Abi Waqas, Abdullah bin Umar, dan sepupunya, Ibnu Abbas, menyarankan agar Ali menunda serangan itu. Tapi Ali bersikeras melakukannya.

Sebagai reaksi atas penolakan itu, Abdullah bin Umar kemudian ikut pindah ke Mekkah. Di saat hampir bersamaan, di Mekkah datang pula rombongan dari Yaman yang dipimpin mantan gubernur Yaman yang dipilih Utsman dan diberhentikan oleh Ali, Yala bin Umayyah. Setelah itu, datang pula Abdullah bin Amir, mantan gubernur Bashrah yang diangkat Utsman dan juga diberhentikan Ali, ke Mekkah dan ikut menetap di kota itu. Akhirnya, berkumpullah para tokoh-tokoh dari golongan sahabat, tabiin, dan para janda Rasulullah SAW. di kota ini.[80]

Keberadaan keturunan Bani Umayyah di Mekah mampu mempengaruhi para sahabat yang lain tentang perlunya mengadili para pembunuh Utsman. Orang-orang yang dikecewakan oleh Ali ini juga mampu menghasut para istri Nabi SAW. agar bergabung dengan kelompok Bani Umayyah untuk bersama-sama menuntut Ali atas tindakannya menunda-nunda pengadilan atas orang-orang yang membunuh Utsman.

Ali sendiri berada dalam situasi serba dilematis. Di satu sisi ia harus mengadili para pembunuh Utsman, namun di sisi lain pemerintahannya di dukung penuh oleh mereka. Bahkan orang-orang tersebut sangat berperang besar menaikkan Ali sebagai khalifah. Dan di saat bersamaan, Ali juga menghadapi pembangkangan Muawiyah yang menolak untuk memberi baiat. Dalam situasi yang demikian sulit, Ali kemudian memutuskan untuk pindah ke Kuffah, wilayah yang masyarakatnya mendukung kekhalifahan Ali. Ia meninggalkan kota Madinah sepenuhnya, bahkan seterusnya. Dari Kufah inilah Ali menyusun pasukan guna menyerang Suriah dan menumpas para pemberontak pimpinan Muawiyah.

Langkah ini tentu saja mengundang kritik dari kelompok sahabat di Mekkah. Dengan dukungan dana dari keluarga Bani Umayyah, akhirnya Aisyah, Thalhah, dan Zubair memimpin 30 ribu pasukan dari Mekah menuju Madinah. Pada mulanya, pasukan Aisyah ini berniat menghadang pasukan Ali melalui Bashrah, namun karena Aisyah tidak berkenan kecuali menuju Madinah, akhirnya mereka mengarahkan perjalanan menuju kota itu.[81]

Pasukan Ali -yang semula diarahkan ke Suriah guna menyerang Muawiyah- terpaksa dibelokkan untuk menghadapi pasukan Aisyah. Setelah kedua pasukan bertemu, Ali berupaya menempuh jalan damai dengan mengingatkan kepada pasukan Aisyah akan janji setia (baiat) yang telah mereka ikrarkan sebelumnya.[82] Di samping itu, Ali juga mengingatkan bahwa bila perang ini terjadi, maka akan terjadi perang saudara di antara kaum muslimin.

Nasihat Khalifah Ali berhasil meluluhkan hati tentara Aisyah, sehingga diadakanlah perundingan antara kedua belah pihak guna mencari jalan damai. Perundingan tersebut hampir saja mencapai keberhasilan, sebelum kemudian tentara pimpinan Abdullah bin Saba[83] melakukan penyerangan mendadak yang membuat tentara Aisyah marah dan kemudian mengangkat senjata. Pihak Ali pun pada akhirnya harus mengangkat senjata guna mempertahankan diri. Dari sinilah perang saudara itu pecah, tepat pada hari Kamis tahun ke 36 Hijriyah.[84]

Aisyah memimpin pasukannya dalam tandu tertutup di atas unta. Banyak pasukan juga mengendarai unta sehingga perang itu disebut Perang Jamal (unta). Sekitar 10 ribu orang tewas dalam perang sesama Muslim ini. Aisyah tertawan setelah tandunya penuh anak panah akibat serangan pasukan Ali. Istri Nabi SAW. yang paling berpengaruh itu kemudian ditemui oleh Ali. Sebagai pimpinan, Ali meminta maaf atas perilaku anak buahnya yang secara tidak sopan menyerang tandu yang dikendarai Aisyah. Atas saran Ali, Aisyah kemudian diajak kembali pulang ke Mekkah.[85] Sementara sahabat Zubair tewas dibunuh di Waha Al-Sibak, dan sahabat Thalhah terluka di kakinya dan meninggal di Basrah.

Perang Shiffin, Perang Saudara Kedua

Kesempatan pun dimanfaatkan oleh Muawiyah. Mendengar terjadinya perang saudara itu antara pihak Ali dan Aisyah, Muawiyyah kemudian menggantungkan jubah Ustman yang berlumuran darah, serta potongan jari istri Ustman, di masjid Damaskus untuk menyudutkan khalifah Ali. Muawiyah bahkan menuding Ali sebagai otak pembunuhan Ustman. Muawiyah berhasil menarik Amr bin Ash, seorang sahabat Nabi dan mantan gubernur Mesir, ke pihaknya. Sejak dahulu, Amr bin Ash dikenal sebagai seorang politisi ulung yang sangat disegani. Muawiyyah mengiming-imingi Amr bin Ash menjadi Gubernur Mesir. Abdullah, anak Amr bin Ash, menyarankan agar ayahnya menolak ajakan Muawiyah. Namun Muhammad -anaknya yang suka politik-menyarankan Amr mengambil kesempatan itu. Amr bin Ash pun tergoda. Ia mendukung Muawiyah untuk menjadi khalifah tandingan Ali. Dukungan Amr bin Ash ini tentu saja sangat berpegaruh besar pada kekuatan Muawiyah, karena Amr bin Ash mempunyai banyak pendukung terutama di Mesir.

Dari Kuffah, Ali yang sudah berkali-kali mengirim surat dan terus ditolak oleh Muawiyah, akhirnya memutuskan untuk menyerang Suriah. Berangkatlah Ali bersama pasukannya menuju arah Suriah, sebelum akhirnya mereka beristirahat di Balbakh, sebuah kawasan yang terletak di pinggir sungai Eufrat (Furrat).[86]

Mendengar Ali hendak menyerang daerah kekuasaannya, Muawiyah atas saran Amr bin Ash segera bertolak keluar kota untuk mengahadang pasukan Ali. Ia langsung memimpin pasukan itu. Namun kedatangan pasukan Muawiyah inipun telah diketahui pula oleh Ali. Akhirnya kedua pasukan bertemu di suatu tempat bernama Shiffin, hulu Sungai Eufrat di perbatasan Irak-Suriah. Pada mulanya, Ali menawarkan penyelelaian damai dan menghindari pertumpahan darah karena mereka semua masih bersaudara sesama muslim. Namun tawaran itu ditolak oleh Muawiyyah; ia tetap tidak bersedia mengakui kekhalifahan Ali. Tak lama berselang, berkobarlah perang saudara kedua yang menodai sejarah keemasan Islam. Dalam perang yang dikenal dengan Perang Shiffin ini, puluhan ribu umat Islam tewas oleh saudara-saudara mereka sendiri. Di pihak Ali, korban berjumlah 35 ribu orang dan di pihak Muawiyah 45 ribu orang.

Setelah berperang selama beberapa hari, pasukan Ali mulai menunjukkan tanda-tanda kemenangan. Karena posisi sudah terdesak, Muawiyah atas usulan Amr bin Ash menyuruh tentaranya mengikat Quran di ujung tombak dan mengangkatnya tinggi-tinggi sebagai isyarat berdamai dan "berhukum pada Quran." Melihat hal itu, pihak Ali terbelah. Sebagian berpendapat bahwa seruan itu harus dihormati karena itu adalah ajakan damai. Sementara yang lain menyebut bahwa itu hanya siasat Muawiyah untuk menghindari kekalahan total. Setelah menimbang untung-ruginya bagi umat Islam, Ali kemudian memutuskan untuk menerima ajakan damai Muawiyah. Keduanya sepakat akan melakukan perundingan damai beberapa hari setelahnya.

 

Munculnya Khawarij[87]

Keputusan Ali menerima tawaran Muawiyah itu menimbulkan tantangan cukup keras dari pendukungnya sendiri, terutama mereka yang tidak setuju untuk berdamai dengan Muawiyah dan tidak mau menerima formulasi pengambilan keputusan hukum yang diserahkan secara mutlak kepada dua orang yang melakukan perundingan (tahkim/arbitrase). Hal inilah yang mendorong Hurqus -komandan pasukan Ali yang berasal dari Bani Tamim, untuk membuat barisan sendiri dan menyatakan diri keluar dari kepemimpinan Ali. Hurqus adalah seorang yang mempunyi pandangan lurus dan keras. Caranya memandang masalah selalu "hitam putih". Karena cara berpikirnya yang sempit, ia pernah menggugat Rasulullah SAW. Sekarang ia menganggap Muawiyah maupun Ali melanggar hukum Allah. Sebab hanya Allah yang berhak memutuskan hukum, bukan manusia seperti yang dikehendaki dalam perjanjian damai yang disepakati Muawiyah dan Ali. Oleh sebab itu, mereka menggembar-gemborkan semboyan; "Laa hukma illa lilLah (tiada hukum selain hukum Allah)". Semboyan ini ditujukan kepada Ali dan Muawiyah yang dinilai telah melanggar hukum Allah karena bersedia mengadakan tahkim. Sementara dalam pandangan mereka, para pelanggar hukum Allah boleh dibunuh. Kelompok Hurqus ini kemudian dikenal dengan sebutan Khawarij (orang-orang yang keluar), karena mereka keluar dari kepemimpinan Ali.[88]

Barisan Khawarij ini berjumlah sekitar 12 ribu orang. Mereka memisahkan diri dari rombongan Ali sepulang dari perang Shiffin. Setelah itu, kelompok radikal ini menetap di Harura, sebuah desa kecil di dekat Kufah. Di tempat ini mereka melakukan konsolidasi dan menyusun kekuatan untuk melakukan perlawanan bersenjata, baik kepada Ali maupun Muawiyah. Mereka mengangkat panglima perang bernama Syibits bin Rubiit al-Tamimi dan memilih imam shalat bernama Abdullah bin al-Kawa,[89] serta pemimpin keagamaan bernama Abdullah bin Wahhab al-Rasibi.[90]

 

Lahirnya Syiah

Sebagai reaksi atas golongan Khawarij, muncul pula golongan yang menyatakan kesetiaan mereka kepada Ali. Mereka menyatakan siap membela Ali bahkan siap mati bersamanya. Golongan ini dikenal dengan sebutan syiatu Ali (pengikut Ali), dan pada akhirnya menjadi embrio lahirnya Syi'ah.

Para pendukung setia khalifah Ali ini sebenarnya sudah ada sejak hari wafatnya Nabi SAW. Ketika diadakan pertemuan di Saqifah Bani Saidah antara golongan Muhajirin dan Anshar, sebagian keturunan Bani Hasyim dan sebagian kaum Muhajirin sebenarnya menjagokan Ali sebagai khalifah pengganti Nabi SAW. Namun suara mereka kalah besar dengan suara pendukung Abu Bakar sehingga dialah yang terpilih. Disamping itu, pada saat pertemuan tersebut Ali tidak hadir karena sedang mengurusi pemakaman jenazah Nabi SAW. Ketika Ali terpilih sebagai khalifah menggantikan Utsman, mereka mulai menguatkan barisan namun belum berbentuk sebuah gerakan. Gerakan mereka menemukan momentum kebangkitan ketika terjadi pembangkangan dari kaum Khawarij, disamping pemberontakan oleh Muawiyah yang menyatakan diri sebagai orang yang paling berhak menggantikan kekhalifahan Utsman. Aliran Syi'ah semakin kuat setelah dan sistematis setelah Ali dan dua putranya, Hasan dan Husein, dibunuh secara sadis oleh lawan-lawannya (akan dijelaskan kemudian).

 

Peristiwa Tahkim (Arbitrasi)

Bulan Ramadlan tahun ke 34 H., waktu untuk mengadakan perundingan antara pihak Ali dan Muawiyah telah tiba. Ali mengutus empat ratus orang utusan yang dipimpin oleh Syuraih bin Hani untuk menemui utusan Muawiyah. Sementara Muawiyah mengutus Abdullah bin Ash guna melakukan perundinan itu. Pada hari pertama, mereka belum menemukan kata sepakat. Lalu pada hari berikutnya, Ali mengutus Ibnu Abbas beserta keempat ratus orang lainnya. Sementara dari pihak Muawiyah, juru runding utamanya tetap Amru bin Ash. Pada mulanya, Ali menunjuk Ibnu Abbas sebagai juru runding di pihaknya, namun hal itu banyak ditentang oleh beberapa orang pendukungnya, terutama dari golongan qurra (penghafal al-Quran). Mereka mengajukan Abu Musa al-Asyari sebagai juru runding. Akhirnya, dengan sangat terpaksa Ali menunjuk Abu Musa al-Asyari sebagai juru runding dari pihaknya.[91]

Abu Musa al-Asyari di pihak Ali dan Amr bin Ash yang mewakili Muawiyah bertemu di sebuah tempat bernama Daumat al-Jandal. Keduanya memulai perundingan dengan saling adu argumentasi tentang keabsahan khalifah yang mereka dukung. Kedua orang juru runding ini mempunyai dua karakter berbeda. Abu Musa al-Asyari dikenal sebagai orang yang saleh, lurus, jujur, rendah hati, lebih mengutamakan kedamaian, tidak suka politik, disamping usianya sudah sangat tua. Sementara Amr bin Ash dikenal sebagai politikus ulung yang sangat cerdik dan pandai mengolah siasat politiknya.[92]

Setelah melalui pembicaraan yang sangat alot, Amr bin Ash kemudian bertanya kepada Abu Musa, Apa pandangan Anda mengenai kedua pemimpin iini (Ali dan Muawiah). Mendengar pertanyaan itu, Abu Musa sontak menjawab, Menurutku, untuk meredakan pertikaian diantara kaum Muslimin, maka baik Ali maupun Muawiyah harus diturunkan dari jabatannya masing-masing. Setelah keduanya turun, maka kaum Muslimin dipersilahkan memilih pemimpin baru bagi mereka semua.[93]

Usulan Abu Musa itu disetujui oleh Amr bin Ash. Sebagai juru runding, Abu Musa dan Amr bin Ash memang diberi kewenangan penuh untuk mengambil keputusan apapun sesuai kesepakatan kedua orang ini. Karena itu, keputusan untuk melengserkan Ali dan Muawiyah secara bersamaan bagi keduanya merupakan langkah terbaik bagi kelanjutan masa depan kaum Muslimin.

Untuk merealisasikan hasil keputusan itu, kedua juru runding itu kemudian keluar dari ruangan dan menemui para khalayak yang berada di luar. Amr bin Ash mempersilahkan Abu Musa untuk tampil terlebih dahulu menyampaikan keputusan yang akan diambilnya. Sebelum tampil bicara, Ibnu Abbas terlebih dahulu mengingatkan Abu Musa bahwa bila ia tampil terlebih dahulu, maka Amr bin Ash bisa saja membohonginya. Namun atas desakan Amr bin Ash yang mengatakan bahwa Abu Musa adalah sahabat Nabi SAW. yang lebih tua daripadanya, akhirnya pesan Ibnu Abbas itu ia lupakan. Abu Musa tetap tampil terlebih dahulu sebelum Amr bin Ash.

Baklah, saudara-saudaraku! seru Abu Musa di hadapan massa yang hadir di sana. Kami telah mencapai kata sepakat bahwa demi menciptakan kedamaian dan kerukunan umat Islam, maka Ali dan Muawiyah harus diturunkan dari jabatannya, untuk kemudian umat Islam dapat menunjuk pemimpin baru sebagai penganti mereka. tambahnya. Karena itu, dalam kesempatan ini saya nyatakan bahwa, saya mencabut kepemimpinan Ali dan Muawiyah, dan saya serahkan kepada kalian untuk memilih pemimpin baru yang memiliki kapabilitas dan keahlian sesuai kehendak kalian semua.

Setelah Abu Musa menyelesaikan pidatonya, giliran Amr bin Ash yang tampil ke depan publik. Saudara-saudaraku! kata Amr memulai pembicaraannya. Saudara saya, Abu Musa al-Asyari, telah menyampaikan keputusannya sebagaimana telah kalian dengar bersama. Ia telah menurunkan pemimpinya sendiri, Ali bin Abu Thalib. Setelah berkata demikian, Abu Musa berhenti sejenak. Ia tampak berpikir dalam. Sekarang, lanjutnya. Giliran saya yang menyatakan bahwa saya pun memutuskan untuk menurunkan Ali, tapi saya tidak akan menurunkan Muawiyah. Muawiyah tetap sebagai pemimpin umat Islam, sebab dialah pewaris Utsman, penuntut balas atas kematiannya, serta orang yang paling pantas menduduki kedudukan yang ditinggalkan Utsman.

Tindakan Abu Musa ini tentu saja membuat para pendukung Ali terperanjat, apalagi Abu Musa al-Asyari. Ia sungguh tidak menyangka seorang sahabat sekaliber Amr bin Ash mengingkari kesepakatan yang telah mere buat sebelumnya. Sungguh Allah Swt. tidak memberi pertolongan kepadamu. seru Abu Musa. Kau penghianat dan bejat. Sifatmu seperti anjing yang menjilat ludah sendiri. serapah Abu Musa tak mampu menahan emosinya. Kamu juga! balas Amr bin Ash, kau goblok seperti himar yang membawa buku tambahnya. Namun Ibnu Abbas berusaha menenangkan Abu Musa, Anda tidak berdosa (karena menurunkan Ali, pen), wahai Abu Musa. Dia lah (Amr bin Ash, pen) yang menaggung dosa besar ini. hiburnya. Lalu apa yang harus saya lakukan? tanya Abu Musa dengan nada galau.

Dalam situasi yang sudah memanas itu, tiba-tiba Syuraih bin Hani mendekati Amr bin Ash dan menyabetkan sebilah pisah ke arahnya. Tindakan Suraih ini dibalas oleh Ibnu Umar dengan menusukkan sebuah belati kecil ke arah Syuraih. Untungnya, sahabat-sahabat yang lain berhasil melerai perkelahian itu. Kedua belah pihak akhirnya memutuskan pulang ke tempat masing-masing.[94]

Para pendukung Muawiyah yang dipimpin Arm bin Ash bertolak ke Mekkah untuk mengungsikan Abu Musa ke sana. Setelah itu mereka kemudian kembali ke Suriah dan langsung mengucapkan selamat kepada Muawiyah atas tepilihnya ia sebagai khalifah yang baru. Sementara para pendukung Ali yang dipimpin Ibnu Abbas kembali ke Kuffah dan mengabarkan fakta yang terjadi dalam peristiwa tahkim. Ali tentu saja menolak hasil keputusan yang tidak fair tersebut. Ia tetap merasa masih sah sebagai khalifah.[95]

 

Pemberantasan Kaum Khawarij

Seiring perjalanan waktu, Kaum Khawarij yang sejak sebelum tahkim memisahkan diri dari barisan Ali, kini mempunyai pasukan yang sangat kuat. Mereka berhasil menyusun kekuatan di Harura dan memperoleh banyak pengikut setia. Dalam pada itu, mereka juga mendengar kegagalan Ali dalam peristiwa tahkim. Hal ini semakin megokohkan tekad mereka untuk mengadakan perlawanan terbuka terhadap Ali. Namun sebelum itu, Kaum Khawarij terlebih dahulu melakukan teror bahkan pembunuhan terhadap pihak-pihak yang berbeda pendapat dengan mereka. Dalam beberapa waktu, pembunuhan oleh Kaum Khawarij ini berlangsung di beberapa tempat.

Untuk menumpas gerakan ekstrimis itu, Ali menyiapkan tentaranya dan langsung meninggalkan Kufah menuju arah Harura. Mendengar akan adanya serangan dari pihak Ali, tentara Khawarij juga segera bergerak guna mengahadang pasukan Ali. Kedua pasukan akhirnya bertemu di suatu kawasan bernama Nahrawan, dan terjadilan pertempuran sengit di sana. Pasukan Ali dapat menumpas hampir seluruh tentara Khawarij. Bahkan yang tersisa dari mereka tidak lebih dari 10 orang saja. Sebaliknya, korban dari pihak Ali tidak sampai 10 orang. Pasukan Khawarij yang masih selamat berjumlah 9 orang, dan mereka melarikan ke berbagai kawasan; dua orang lari ke Amman, Yordania; yang dua lagi lari ke Rumman; dua orang ke Sijistan; dua orang ke al-Jazirah; dan satu orang lagi ke Yaman.[96]

Kekalahan di Nahrawan tidak membuat kaum Khawarij patah semangat. Kekalahan itu justru membuat semangat mereka semakin berkobar. Sembilan orang yang sebelumnya berpisah dan terpencar-pencar kemudian menyatukan barisan dan kembali menyusun kekuatan mereka. Namun karena pendukung mereka belum begitu banyak, sementara lawan yang akan dihadapi memiliki kekuatan besar, akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan pembunuhan secara sembunyi-sembunyi. Mereka masih beranggapan bahwa negara akan tegak dengan aman jika tiga orang yang dianggap penyebab masalah, yakni Ali, Muawiyah dan Amr bin Ash, sudah dibunuh. Karena itulah, mereka merencanakan pembunuhan pada tiga tokoh tersebut. Hujaj bertugas membunuh Muwawiyah di Damaskus, Amr bin Abu Bakar harus membunuh Amr bin Ash di Mesir, dan Abdurrahman bin Muljam bertugas membunuh Ali di Kufah.

Dalam waktu hampir bersamaan, ketiganya berangkat menuju sasaran masing-masing. Di Suriah, Muawiyah yang saat itu hidup dengan pengawalan ketat bagai raja hanya terluka saat mendapat serangan dari Hujaj. Sementara di Mesir, Amr bin Abu Bakar salah membunuh orang; ia membunuh seorang imam shalat yang menggantikan Amr bin Ash. Lalu di Kaufah, Abdurrahman bin Muljam mendapati Ali tengah berangkat ke masjid. Kesempatan itu tidak disia-siakannya. Seketika itu Ali langsung diserang dengan pedang. Dua hari kemudian, tepatnya pada Ramadhan 40 Hijriah atau 661 Masehi, Ali menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Kematian Ali membuka kesempatan kepada Muawiyah untuk mengikrarkan diri sebagai khalifah. Dengan naiknya Muawiyah ke tampuk tertinggi kepemimpinan umat Islam, maka berakhirlah model kepemimpinan Islam sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW. dan Khulafa al-Rasyidin. Muawiyah menggunakan model "kerajaan" pada pemerintahannya. Ibukota pun dipindah dari Madinah ke Damaskus, Suriah. {}

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAULAT BANI UMAYAH (41-133 H./661-750 M.)[97]

Dan Berkembangnya Sekte-Sekte

 

 

1. Muawiyah dan Hasan

Sebagaimana ditegaskan di muka, Muawiyah bin Abi Sufyan saat menjadi Gubernur Suriah yang berkedudukan di Damaskus melakukan pemberontakan kepada Khalifah Ali bin Abu Thalib. Pemberontakan ini menyebabkan terjadinya Perang Shiffin, yakni perang saudara antara kaum muslimin yang memihak Ali dan Muawiyah. Dalam perang saudara itu, sekitar 80 ribu umat Islam tewas.

Ketika Khalifah Ali ra. wafat karena dibunuh oleh seorang Khawarij, para pengikut Ali ra. kemudian mengangkat Hasan, putra Ali, sebagai khalifah baru. Mereka yang mendukung Hasan ini terdiri dari masyarakat Arabia, Irak, dan Persia. Sementara Muawiyah juga mengklaim dirinya sebagai khalifah yang sah sesuai dengan hasil tahkim. Disamping itu, Muawiyah juga merasa dirinya sebagai pewaris kekhalifahan Utsman yang dibunuh oleh pemberontak beberapa tahun sebelumnya.

Hasan yang tidak ingin membuka kran konflik dengan Muawiyah, disamping tidak berambisi untuk menjadi khalifah, tiga bulan setelah dibaiat oleh pendukungnya segera mengikat perjanjian damai dengan Muawiyah. Hasan bersedia mengakui kekhalifahan Muawiyah dengan beberapa syarat. Di antara syarat-syarat yang diajukan Hasan adalah: Muawiyah tidak menaruh dendam kepada orang-orang yang dulunya mendukung Hasan, seperti masyarakat Irak dan Suriah, serta Muawiyah mau memaafkan dan menjamin keselamatan mereka; kursi kekhalifahan setelah Muawiyah harus diserahkan kepada pilihan umat, nukan diwariskan kepada keturunannya; pajak dari Ahwaz, salah satu distrik di Persia, diperuntukkan bagi Hasan; dan Muawiyah harus membayar kompensasi sebesar lima juta dirham dari bendahara Kufah, memberi satu juta dirham setiap tahun untuk Hasan, dan dua juta dirham untuk saudaranya, Husein.

Syarat-syarat tersebut disetujui oleh Muawiyah, dan pada tahun 41 H./661 M., Muawiyah datang ke Kuffah guna menandatangani perjanjian damai sekaligus menerima penyerahan kekuasaan dari tangan Hasan. Tahun itu kemudian dinamakan sebagai tahun persatuan (am al-jamaah), karena tidak ada lagi dualisme kepemimpinan seperti sebelumnya. Perjanjian damai ini dinilai oleh Muawiyyah sebagai bentuk pengakuan atas kekhalifahannya.[98]

Muawiyah kemudian memindah ibukota negara dari Madinah ke Damaskus. Ia juga mengganti sistem pemerintahan dari demokratis ke monarkhi. Sebagaimana diketahui, sejak masa Abu Bakar hingga periode Ali ra., para khalifah dipilih langsung oleh rakyat dan menjalani kehidupan seperti seorang biasa. Mereka tinggal di rumah sederhana, memenuhi kebutuhan hidup sendiri seperti pergi belanja ke pasar, memperbaiki rumah atau peralatan keluarga, persis seperti yang dijalani orang kebanyakan. Sejak kepemimpinan dipegang oleh Muawiyah, ia meniru sistem pemerintahan ala kerajaan. Muawiyah hidup layaknya raja, membangun istana di dalam benteng, memiliki banyak pembantu, bergelimang kemewahan, bepengawal lengkap dengan kekuasaan mutlak. Muawiyah pun menyebut dirinya sebagai "khalifatulLah" ("wakil" Allah di bumi) suatu istilah yang kemudian dipakai oleh para khalifah periode-periode berikutnya.

 

2. Yazid dan Husein

Karena merasakan ajal sudah semakin dekat, Muawiyah kemudian menunjuk anaknya, Yazid, sebagai penggantinya. Cara penunjukan ini tidak dikenal dalam sistem pemilihan pemimpin Islam. Karena itu, banyak masyarakat yang menolak rencana tersebut, termasuk empat orang tokoh berpengaruh, yaitu Husein bin Ali, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Umar, dan Abdurrahman bin Abu Bakar. Kelimanya menolak untuk memberikan baiat atas pengangkatan Yazid.

Ketika Yazid telah diangkat menggantikan ayahnya, penduduk kawasan Timur seperti Hijaz, Persia, Khurasan, dan Irak, tidak memberikan baiat kepada Yazid. Para pendukung kekhalifahan Yazid umumnya berasal dari kawasan Barat, seperti Afrika Utara, Mesir, dan Palestina. Karena itu, Yazid kemudian memerintahkan gubernur Hijaz, Marwan bin al-Hakam, untuk memaksa penduduk berbaiat kepadanya. Namun mereka tetap menolak melakukannya.

Sebagai bentuk protes atas ketidaksetujuan tersebut, Husein bin Ali beserta para pengikutnya kemudian pindah ke Mekkah. Tak berapa lama setelah menetap di Mekkah, datanglah utusan dari Kuffah menemui Husein. Melalui utusan itu, penduduk di kawasan Kuffah memohon Husein datang ke Kuffah dan meminta kesediaannya untuk diangkat sebagai khalifah.

Permohonan tersebut dikabulkan oleh Husein. Dia kemudian mengirim beberapa orang utusan yang dipimpin oleh sepupunya, Muslim bin Uqail, untuk datang ke Kufah. Ketika telah berada di Kuffah, Muslim atas nama Husein menerima baiat dari sekitar 30.000 orang penduduk yang menyatakan kesetiaan dan janji mereka untuk mempertahankan kekhalifahan Husein.

Mendengar hal itu, Husein kemudian berencana untuk mendatangi Irak untuk mengambil baiat penduduk di sana. Rencana tersebut tentu saja mendapat tantangan dari para sesepuh Mekkah, seperti Abdullah bin Umar dan Abdullah bin Abbas. Mereka sangat khawatir jika Husein berangkat sendiri ke Irak maka ia akan menemui kesulitan besar. Apalagi pada masa khlalifah Ali, penduduk Irak pernah bersikap inkonsisten atas sikap mereka. Karena itu, para sesepuh Mekkah itu menyaraknkan agar Husein mengirim utusan saja sebagaimana yang ia lakukan atas penduduk Kuffah. Namun Husein tetap teguh dengan pendiriannya, dan berangkatlah ia bersama keluarganya menuju Irak pada tahun 61 H./680 M.

Rencana keberangkatan Husein ini sebelumnya telah didengar oleh Yazid di Damaskus. Karena itu, ia kemudian memerintahkan Abdullah bin Ziyad, gubernur Persia yang berkedudukan di Bashrah, untuk menangkap Husein dan menggagalkan pembaiatan warga Irak atasnya. Pasukan yang dipimpin Abdullah bin Zayd tiba lebih dahulu daripada rombongan Husein di Kufah. Di sana, mereka berhasil menangkap utusan Husein, Muslim bin Uqail, dan kemudian membunuhnya.

Berita kematian Muslim itu di dengar oleh Husein dan rombongan yang mengawalnya. Karena itu, ia kemudian mempersilahkan siapa saja di antara para rombongan untuk kembali ke Mekkah jika khawatir akan keselamatannya, seementara Husein sendiri tetap berniat meneruskan perjalanan menuju Irak. Akhirnya, sebagian besar rombongan kembali ke Mekkah, sehingga yang tersisa tinggal 73 orang. Mereka semua bersikeras untuk tetap mendampingi Husein sampai ke Irak. Husein pun meyakinkan kepada para pengiokutnya bahwa jumlah mereka yang sedikit ini akan mampu meyakinkan penduduk bahwa kedatangan mereka adalah dengan maksud damai, bukan untuk berperang.

Ketika rombongan Husein tiba di suatu kawasan bernama Shiraf, mereka dihadang oleh 2000 orang tentara yang dikirim oleh gubernur Abdullah bin Ziyad untuk mengahadang mereka. Rombongan kecil ini kemudian didesak mundur hingga ke suatu dataran kering dan gersang bernama Karbala. Di tempat itu, rombongan Husein kemudian beristirahat dan mendirikan kemah.

Namun pada pagi harinya, gubernur Abdullah bin Ziyad kembali mengirim pasukan sebanyak 4000 orang. Mereka dikirim oleh Abdullah Bin Ziyad karena ia menyangka bahwa rombongan Husein hanya merupakan pasukan pendahuluan, sementara di belakangnya masih ada pasukan lain yang jumlahnya jauh lebih besar.

Melihat kedatangan pasukan dalam jumlah besar, Husein kemudian mengatur posisi para pengawalnya, setelah sebelumnya melaksanakan shalat dzuhur bersama (menurut sebagian riwayat shalat khawf). Pada sore hari tanggal 10 Muharram 61 H./680 M., pecahlah pertempuran yang tidak seimbang itu.

Husein yang saat itu telah berusia 55 tahun dan dalam kondisi sakit, dengan susah payah terus berusaha mempertahankan diri dari serangan lawan. Sementara para pengawalnya terus berguguran satu persatu. Dalam suasana yang panas, haus, dan letah, Husein lengah mempertahankan diri. Lengannya putus terkena tebasan pedang lawan dan darah pun bersimbah keluar dengan derasnya. Bersamaan dengan itu, disaat tubuh Husein masih terhuyung merasakan sakit, datang pula tusukan dari arah depan tepat menghujam dadanya. Setelah tubuh Husein tergeletak di tanah, datang pula tebasan ketiga tepat mengenai lehernya. Orang yang menebas leher Husein ini bernama Syammar bin Dziljausan. Setelah kepala Husein terpenggal, Syammar kemudian mengangkat kepala itu dengan ujung pedangnya dan dipamerkan kepada tentara lain yang sedang bertempur.

Kebengisan tentara Abdullah bin Ziyad ini tidak berhenti sampai di situ. Semua kepala anak-anak dan istri Husein yang telah tewas sebelumnya juga ikut di tebas satu persatu, lalu dibawa pulang ke kota Kufah untuk dipersembahkan kepada gubernur Abdullah bin Ziyad. Dari Kufah, kepala-kepala keturunan Rasulullah itu kemudian di masukkan ke dalam baki dan dikirimkan melalui perutusan ke Damaskus untuk diserahkan kepada Khalifah Yazid.

Ketika melihat kepala Husein dan keluarganya diperlakukan secara nista, khalifah Yazid langsung mengucurkan air mata. Aku tidak menyuruh untuk membunuh Husein, kata khalifah dengan nada terbata. Terkutuklah engkau anak Marjanah (Ibu Abdullah bin Ziyad)! Seandainmya aku berada di situ, pasti aku akan memberikan pengampunan kepada Husein tambahnya dengan mata yang terus mengucurkan air mata.

Atas perintah Khalifah Yazid, kepala Husein kemudian dikuburkan dengan penuh penghormatan di Madinah, tepat di sisi makam ibundanya, Fatimah bin Rasulillah, dan saudaranya, Hasan bin Ali. Sedangkan tubuhnya dikebumikan di tempat beliau meninggal, yakni padang Karbala, Irak.

Sebelas tahun setelah kematian Husein, giliran Abdullah bin Zubair yang memproklamirkan diri sebagai khalifah. Hal itu dilakukan Abdullah bin Zubair sebagai reaksi ketidaksetujuannya atas kekhalifahan Yazid bin Muawiyah. Abdullah bin Zubair memilih Mekah sebagai pusat kekuasaannya. Namun tak lama kemudian, tentara kerajaan di masa Khalifah Abdul Malik kemudian menyerbu Mekah. Keluarga Abdullah bin Zubair dihancurkan dan ia sendiri wafat dalam pertempuran pada 73 H atau 692 Masehi.

 

Keberhasilan-Keberhasilan Daulat Bani Umayyah

Walupun demikian, selama masa pemerintahan Bani Umayah telah banyak kemajuan yang dicapai umat Islam. Kemajuan itu dicapai sejak kepemimpinan dipegang oleh Muawiyah hingga khalifah ke 14, Marwan II. Di antara kemajuan tersebut adalah pembentukan dinas pos -termasuk penyediaan kuda dan perlengkapannya- untuk mempermudah pengiriman surat-surat atau barang-barang yang menjadi kebutuhan masyarakat. Dinasti Bani Umayyah juga mengangkat Qadli atau hakim sebagai jabatan profesional yang mendapat gaji dari negara. Bahkan pada masa pemerintahan Abdul Malik, ia berinisiatif mencetak mata uang sendiri dengan menggunakan tulisan Arab sebagai pengganti mata uang Byzantium dan Persia yang telah beredar sebelumnya. Administrasi dan management pemerintahan dibenahi, dan bahasa Arab ditetapkan sebagai bahasa resmi negara.

Sementara dalam hal perluasan wilayah, Dinasti Bani Umayyah mencatat banyak keberhasilan yang luar biasa. Kekuasaan Islam melebar ke Barat hingga Tunisia yang berada di seberang Italia. Di Timur, wilayah kekuasaan Bani Umayyah telah menjangkau seluruh daratan Afghanistan. Ekspedisi laut berulangkali menyerbu ke Byzantium, namum gagal menaklukkan Romawi. Wilayah itu kemudian diperluas oleh Khalifah Abdul Malik. Wilayah Asia Tengah seperti Bukhara, Khawarizm, Ferghana, hingga Samarkand berhasil dikuasai. Pasukan Bani Umayyah bahkan berhasil menaklukkan wilayah Sind dan Punjab di India dan Pakistan.

Langkah ini dilanjutkan oleh putra Abdul Malik, al-Walid I (705-715 Masehi). Ia membangun panti-panti asuhan untuk orang-orang cacat. Pekerja untuk rumah-rumah tersebut diangkat sebagai pegawai dan mendapat gaji. Al-Walid juga membangun infrastruktur berupa jalan-jalan raya yang menghubungkan antar wilayah. Selain itu, pada masanya pula dibangun gedung-gedung pemerintah, masjid-masjid, bahkan juga pabrik-pabrik. Pada masa ini, masyarakat Muslim mencapai puncak kemakmurannya.

Sementara di bidang teritorial, di masa pemerintahan khalifah al-Walid, Dinasti Bani Umayyah telah berhasil menguasai seluruh wilayah Afrika Utara -termasuk Aljazair dan Maroko, dan Thariq bin Ziyad ditunjuk sebagai gubernur di sana. Terobosan paling monumental terjadi di Gibraltar, Spanyol, pada tahun 711 Masehi. Melalui panglima Thariq bin Ziyad, tentara Islam menyeberangi selat dari Maroko ke dataran Spanyol di Eropa. Mereka mampu menundukkan perlawanan tentara Spanyol yang dipimpin oleh raja Raja Roderick. Ibu kota Spanyol, Madrid, segera mereka kuasai. Demikian pula kota-kota lain seperti Toledo, Sevilla, Malaga, Elvire, dan Cordoba berhasil dirangkul dalam kekuasaan Islam. Seluruh Spanyol pun menjadi wilayah kekusaan Bani Umayah.

Khalifah yang paling banyak dikenang adalah Umar bin Abdul Aziz (717-720), khalifah ke 8 dinasti Bani Umayyah. Dari jalur bapak, Umar bin Abdul Aziz adalah keturunan Umayyah, namun dari jalur ibu, dia masih termasuk cicit Umar bin Khaththab. Tak heran bila kemudian ia dijuluki sebagai Umar II, sementara Umar I adalah buyutnya, Umar bin al-Khaththab. Selama memerintah, Umar II lebih menekankan pembangunan moral dan sosial dibanding fisik. Ia menolak jika dipilih menjadi khalifah semata karena dirinya anak khalifah. Ia bahkan merangkul musuh-musuh Dinasti Umayah, termasuk kelompok Syi'ah, untuk memilih khalifah yang baru. Sampai kemudian semua sepakat untuk memilihnya sebagai khalifah.

Umar memberikan kebebasan beribadah kepada masyarakat dari semua kelompok agama. Pajak yang membenani masyarakat pun diperingan. Umar juga disukai oleh orang-orang non-Arab atau 'mawali'. Sebelum masa Umar bin Abdul Aziz, warga non-Arab dianggap sebagai "warga kelas dua". Namun ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, ia mensejajarkan bangsa apapun tanpa terkecuali.

Dalam kehidupan sehari-hari, Umar bin Abdul Aziz mewarisi sikap kakek buyutnya, Umar bin Khattab. Bedanya: Umar bin Khattab dikenal sebagai seorang bertemperamen keras, sedangkan Umar bin Abdul Aziz adalah seorang yang lembut. Umar bin Abdul Aziz juga dikenal sangat sederhana. Di antara bukti kesederhanaan Umar adalah ketika ia -suatu malam-bekerja di ruangannya yang berpenerangan lampu. Lalu anaknya datang minta izin untuk bicara dengannya. Umar bertanya, pembicaraannya itu untuk keperluan negara atau keluarga. "Urusan keluarga," kata anaknya. Umar lalu mematikan lampu itu. Kenapa dimatikan, ayah! tanya sang anak keheranan. Lampu tersebut dinyalakan dengan minyak yang dibiayai negara, jawab Umar singkat. Umar tidak mau urusan keluarga menggunakan lampu dengan minyak negara.

Sayangnya, Umar hanya memimpinn negara selama tiga tahun. Namun selama tiga tahun kepemimpinannya, Umar berhasil meneruskan misi perluasan wilayah hingga wilayah kekuasaan Islam saat itu dinilai sebagai yang terluas di dunia. Pada mulanya, tentara Bani Umayah di bawah komando Panglima Abdulrahman bin Abdullah Al-Ghafiqi, bergerak dari Spanyol menuju Perancis. Setelah melalui pegunungan Piranee, mereka menguasai Bordeau, Poitiers, dan hendak maju ke kota Tours. Di tempat ini terjadi pertempuran yang menewaskan Al-Ghafiqi, sehimgga sisa tentara muslim pun mundur kembali ke Spanyol.

Dengan rentang wilayah kekuasaan yang sangat luas, di abad ke-8 Masehi tersebut, Bani Umayah merupakan kekuasaan yang paling besar di dunia. Kekuasaan besar lainnya adalah Dinasti Tang di wilayah Cina serta Romawi yang berpusat di Konstantinopel. Ke wilayah kekuasaan Bani Umayah itulah Islam kemudian menyebar dengan cepat.

Pada masa-masa berikutnya, para khalifah Bani Umayyah lebih banyak hidup bergelimang kemewahan. Moralitas mereka selaku pemimpin jatuh dan tidak mempunyai wibawa di mata rakyat. Khalifah ke 10, Hisyam bin Abdul Malik, sebenarnya berusaha mengatasi hal itu. Namun keadaan telanjur tak terkendali. Disamping itu, adalah sebuah kemustahilan untuk mempertahankan wilayah yang begitu luas terus-menerus di tengah hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap kekhalifahan. Akhirnya, muncullah pemberontakan di sana-sini. Pemberontakan terkuat datang dari Abdullah Asy-Syafah, atau Abu Abbas. Ia adalah keturunan Abbas bin Abdul Muthalib -paman Rasulullah, yang disokong oleh Bani Hasyim -keluarga yang terus berseteru dengan keturunan Bani Umayah. Kalangan Syi'ah -para pendukung fanatik Ali-mendukung pula gerakan ini.

Abu Abbas kemudian bersekutu dengan tokoh kuat, Abu Muslim dari Khurasan. Pada tahun 750 Masehi, mereka berhasil menjatuhkan kekuasaan Bani Umayah. Khalifah terakhir, Marwan bin Muhammad, lari ke Mesir namun tertangkap dan dibunuh di sana. Berakhirlah kekuasaan Bani Umayah setelah sekitar 90 tahun berkuasa, meskipun keturunannya kemudian berhasil membangun Bani Umayah Kedua di wilayah Spanyol.

 

Dinasti Bani Umayyah II di Andalusia (711-1492)

Ketika Bani Abbasyiah merebut kekuasaan dari tangan Bani Umayyah dan mendirikan Dinasti Bani Abbasyiah dengan Baghdad sebagai ibukotanya, nun jauh di seberang Eropa sana, tepatnya di Spanyol, telah berdiri sebuah kerajaan besar Islam lainnya yang dipimpin oleh seorang keturunan Bani Umayyah, Abdurrahman al-Dakhil. Di Spanyol (Andalusia), Abdurrahman al-Dakhil mendirikan Dinasti Bani Umayyah kedua setelah Dinasti Bani Umayyah pertama runtuh akibat pemberontakan Abu Abbas al-Shafah.

Berdirinya Dinasti Bani Umayyah di Spanyol di awali ketika Thariq bin Ziyad bersama 7.000 pasukannya yang terdiri dari suku Berber dan Arab, berhasil dengan selamat tiba di dataran Spanyol setelah mengarungi selat yang memisahkan tanah Maroko di Afrika Utara dan daratan Spanyol di benua Eropa. Setelah itu, Thariq memerintahkan pasukannya untuk membakar kapal-kapal yang sebelumnya mereka tumpangi, dengan satu tujuan: terus maju untuk menang atau mati. Tak ada kata untuk mundur atau pulang kembali ke Afrika.[99]

Dalam misinya ini, tentara Thariq bin Ziyad mencatat keberhasilan besar. Mereka berhasil mengalahkan pasukan Raja Roderick di Bakkah. Setelah itu melanjutkan penyerbuan guna merebut kota-kota lainnya seperti Cordoba, Granada, Archedonia, Elvira, dan akhirnya Toledo yang saat itu menjadi ibukota kerajaan Gothik.[100] Ketika merebut Toledo, Thariq diperkuat dengan 5.000 orang tentara tambahan yang dikirim oleh gubernur Musa bin Nushair. Bahkan gubernur Musa pun pada akhirnya ikut menyebarang ke Eropa untuk memimpin sendiri pasukannya. Ia menempuh jalur yang tidak dilewati pasukan Thariq bin Ziyad dan berhasil merebut wilayah Sevilla serta mengalahkan Penguasa Gothic, Theodomir. Setelah bertemu dengan pasukan Thariq bin Ziyad, kedua pasukan itu lalu bahu-membahu menguasai seluruh wilayah Spanyol selatan.

Pada 755 Masehi, Abdurrahman--keturunan Keluarga Umayah yang lolos dari kejaran penguasa Abbasiyah--tiba di Spanyol. Kedatangan Abdurrahman Al-Dakhil, demikian orang-orang menjulukinya, disambut baik oleh penguasa-penguasa setempat yang umumnya adalah mantan bawahan Bani Umayyah, sementara Abdurrahman al-Dakhil sendiri merupakan keturunan Bani Umayyah. Abdurrahman al-Dakhil diangkat menjadi pemimpin baru di wilayah Spanyol bagian selatan, khususnya di wilayah Archidona, Sidona, dan Sevilla. Dari sini ia kemudian memperluas kekuasaannya dengan melakukan ekspansi ke berbagai wilayah di Spanyol. Setelah itu, Abdurrahman kemudiaan memilih Cordoba (sekarang Cordova) sebagai pusat pemerintahannya. Abdurrahman menjadi penguasa tunggal di Andalusia dengan gelar Emir.

Dalam menegakkan pemerintahannya, Abdurrahman banyak mengahadapi pemberontakan baik dari dalam maupun dari luar. Namun berkat usahanya membentuk pasukan terlatih dan berdisiplin tinggi yang mayoritas berasal dari kaum Barbar yang didatangkan dari benua Afrika, akhirnya semua pemberontakan itu berhasil dipadamkan.

Ketika khalifah kedua Bani Abbasyiah, Al-Manshur, mengangkat dan mengirimkan al-Ala bin al-Mughirah menjadi gubernur di Spanyol, ia kemudian ditangkap oleh Abdurrahman dan di penjara selama dua tahun. Setelah itu, al-Mughirah dieksekusi hukuman mati dengan dipenggal lehernya, lalu kepalanya diawetkan menggunakan kamper dan garam, kemudian dibungkus dengan bendera berwarna hitam. Selain berisi batok kepala, dalam bungkusan itu juga dimasukkan bekas surat pengangkatan al-Mughirah, yang selanjutnya dikirimkan kepada Khalifah al-Manshur yang waktu itu sedang melaksanakan ibadah haji.

Selama masa pemerintahannya, Abdurrahman berhasil mencapai banyak keberhasilan di berbagai bidang, seperti bidang pertanian, perdagangan, dan pembangunan infrastruktur kota-kota lama dan baru. Ia juga membangun istana Munyat al-Rasyafah di luar kota Cordoba, serta membangun masjid agung Cordoba.

Pada masa npemerintahan Abdurrahman Al-Aushat, ia kemudian menjadikan Andalusia sebagai kegiatan ilmu pengetahuan dan kebudayaan terpenting di Eropa. Pada tahun 912 Masehi, Abdurrahman An-Nasir mendengar kabar bahwa khalifah Bani Abbasiyah di Baghdad tewas dibunuh oleh pasukan Tartar. Ia kemudian mendirikan universitas Cordoba dengan perpustakaan berisi ratusan ribu buku.

Hal demikian dilanjutkan oleh Khalifah Hakam. Pusat-pusat studi dibanjiri ribuan pelajar, Islam dan Kristen, dari berbagai wilayah. Ladang-ladang pertanian di Spanyol tumbuh dengan subur mengadopsi kebun-kebun dari wilayah Islam lainnya, yakni dengan memperkenalkan sistem pengairan hidraulik. Sejak saat itulah Spanyol menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahauan di Barat, dan mempunyai kedudukan hampir setara dengan pusat kebudayaan lainnya di timur, yaitu kota Baghdad.[101]

 

SEKTE-SEKTE DI MASA BANI UMAYYAH

 

1. KHAWARIJ

Setelah khalifah Yazid, pemerintahan dinasti Bani Umayyah secara bergiliran dipimpin oleh Muaawiyah II (64-65 H./683-684 M.), Marwan bin al-Hakam (65-66 H./684-685 M.), dan Abdul Malik (66-86 H./685-705 M.). Pada periode ini, gerakan Khawarij tumbuh kembali. Sisa-sisa tentara Khawarij yang pernah dihancurkan oleh pasukan Khalifah Ali dalam pertempuran di Nahrawan itu menyusun kekuatan kembali dan berhasil bangkit menjadi salah satu sekte kuat di masa ini. Meskipun pada awalnya gerakan Khawarij hanya merupakan gerakan politik, namun dalam perkembangan selanjutnya aliran ini berkembang menjadi gerakan teologis (akidah). Aliran Khawarij pertama yang tumbuh pada masa ini bernama al-Azariqah.

 

a. Al-Azariqah

Sekte al-Azariqah diikrarkan pada akhir abad ke-7 Masehi atau sekitar tahun 60-an Hijriyah. Mereka berdomisili di daerah perbatasan antara Iran dan Irak sekarang. Nama al-Azariqah dinisbatkan kepada pemimpin mereka, Nafi bin Azraq al-Hanafi, yang dinilai sebagai khalifah dengan gelar amirul mukminin. Pendukung gerakan ini berjumlah sekitar 20 ribu orang. Ajaran teologis kaum al-Azariqah memang bermula dari warisan kaum Khawarij yang tumbuh di masa khalifah Ali. Bedanya, gerakan al-Azariqah memiliki paham yang lebih ekstrem daripada pendahulunya. Mereka berkeyakinan bahwa Ali telah kufur karena ia menerima tawaran tahkim dari Muawiyah, begitu pula sahabat-sahabat yang seide dengan Ali. Menurut ketyakinan mereka, Ali dan sahabat-sahabat lainnya akan masuk neraka dan kekal di dalamnya. Hal yang sama mereka tujukan kepada setiap orang Islam yang menolak ajaran al-Azariqah. Mereka semua telah musyrik karena tidak bersedia menganut paham al-Azariqah. Sementara para pengikut paham al-Azariqah yang tidak bersedia hijrah dan bertempat tinggal di kawasan mereka juga dikategorikan sebagai orang musyrik.[102]

Dalam pandangan mereka, setiap orang yang musyrik boleh ditawan atau dibunuh, termasuk anak-anak maupun istri-istri mereka. Dengan prinsip inilah kaum Khawarij al-Azariqah banyak melakukan pembunuhan terhadap sesama umat Islam yang berbeda paham dengan mereka atau bertempat tinggal di luar kawasan yang mereka diami. Menurut mereka, kawasan yang mereka tempati adalah Dar al-Islam (Negara Islam), dan daerah yang berada di luar kawasan mereka adalah Dar al-Kufr (daerah orang kafir). Karena itu, orang-orang selain mereka hukumnya halal dibunuh.[103] Keyakinan seperti ini pada akhirnya membuat golongan ini sering melakukan kontak senjata dengan penduduk-penduduk yang bertempat tinggal di sekitar kawasan mereka, salah satunya adalah peperangan dengan penduduk Bashrah.[104]

 

b. Al-Najdat

Sebaliknya, di kawasan Yamamah dan Bahrain, lahir pula kelompok Khawarij yang menamakan dirinya dengan al-Najdat. Kaum al-Najdat ini lahir sebagai reaksi atas kelompok al-Azariqah pimpinan Nafi al-Azraq yang menganggap musyrik kepada pengikut Khawarij yang berada di luar daerah mereka. Disamping itu, Kaum Najdat juga menolak klaim kaum al-Azariqah yang mengatakan bahwa anak-anak dan istri-istri golongan yang dianggap musyrik itu boleh ditawan atau dibunuh. Sayangnya, Khawarij Najdat juga mengkufurkan pemimpin al-Azariqah, Nafi bin Azraq, dan semua pengikut-pengikutnya. Akhirnya terjadilah klaim saling mengufurkan dan memusyrikkan di antara kedua golongan ini.

Kelompok Najal-Najdat ini dipimpin oleh Najdah bin Amir al-Hanafi. Di antara paham keagmaan mereka adalah bahwa orang Islam yang tidak sepaham dengan mereka adalah golongan kafir dan pasti masuk neraka serta kekal di dalamnya. Sementara penggikut Najdat tidak akan kekal di dalam nereka walaupun melakukan dosa besar. Mereka juga berkeyakinan bahwa dosa-dosa kecil yang dikerjakan terus-menerus akan berkembang menjadi dosa besar, dan jika yang melakukannya adalah goplongan di luar mereka maka ia menjadi kafir, tapi bila yang melakukannya berasal dari golongan Najdat sendiri maka tidak menjadi kafir.

Selain paham di atas, masih terdapat paham penting lainnya yang dianut aliran ini. Mereka menganggap bahwa orang islam dapat menyembunyikan keyakinannya demi keselamatan jiwanya. Dia boleh mengucapkan kata-kata atau melakukan hal-hal yang bertentangan dengan keyakinannya, seperti berkata kufur atau berbuat maksiat. Perbuatan tersebut tidak akan membuatnya menjadi kafir karena dilakukan demi menjaga keselamatan jiwa.

Dalam perkembangan selanjutnya, aliran al-Najdat mengalami perpecahan akibat pemberontakan dari dalam. Beberapa pengikutnya membentuk kelompok-kelompok oposisi yang menentang ajaran-ajaran al-Najdat. Pimpinan kelompok oposisi ini antara lain bernama Abu Fudaik dan Rasyid al-Thawil. Kelompok oposisi ini pada akhirnya melakukan perlawanan bersenjata terhadap golongan asalnya sehinga terjadilan kontak senajata di antara mereka. Pertempuran dua golongan ini berakhir dengan terbunuhnya Najdah bin Amir, pimpinan dan sekaligus pendiri gerakan al-Najdat.[105]

Selain dua sekte di muka, masih terdapat tiga sekte sempalan kaum Khawarij lainnya yang hidup dan tumbuh-berkembang pada periode ini. Mereka adalah aliran al-Ajaridah, al-Shufriyah, dan al-Ibadiyah. Tiga golongan ini mempunyai keyakinan teologis yang lebih lunak daripada dua aliran yang telah disebutkan sebelumnya. Salah satu contohnya adalah aliran al-Ajaridah, mereka menyatakan bahwa anggota-anggota golongan Khawarij tidak wajib bertempat tinggal di kawasan mereka. Berbeda dengan paham al-Azariqah yang menganggap musyrik kepada para penganut Khawarij yang tidak bersedia hijrah ke kawasan tempat tingal mereka.

 

2. SYIAH

Pembunuhan sadis atas Husein di padang Karbala menumbuhkan kemarahan besar bagi pendukung setianya, terutama golongan Syi'ah yang meyakini bahwa khalifah setelah Rasulullah SAW. harus berasal dari Ahlul Bait (keluarga Nabi SAW.). Keluarga Nabi SAW. lah yang menurut mereka paling berhak menggantikan Nabi SAW. sebagai pemimpin umat Islam. Dengan demikian, pemerintahan Bani Umayyah yang melakukan pembunuhan atas Husein --yang notabene masih keturunan (cucu) Rasulullah SAW.harus dilawan dan dihancurkan, karena mereka telah membunuh pemimpin umat sekaligus merebut kursi kekhalifahannya. Apalagi sebelum itu, Bani Umayyah telah melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Ali dan juga membunuh saudara Husein, yakni Hasan bin Ali. Lengkap sudah kekejaman Daulat Bani Umayyah terhadap keluarga keturunan Nabi SAW.

Keyakina seperti inilah yang menumbuhkan semangat patriotik Kaum Syiah untuk melakukan perlawanan bersenjata terhadap pemerintahan Bani Umayyah. Apalagi sejak masa kepemimpinan masih dipegang oleh Muawiyah, dia sering mencaci maki dan mengutuk khalifah Ali serta memburu para pengikutnya. Dengan demikian, Muawiyah telah melanggar janjinya kepada Hasan untuk tidak memusuhi para pendukung Ali serta akan menyerahkan keemimpinan setelahnya kepada umat Islam. Namun dalam kenyataannya, dia sering melakukan tekanan dan intimidasi kepada pendukung Ali, dan di akhir masa pemerintahannya, Muawiyah menyerahkan kursi khalifah kepada anaknya, Yazid.

Berbagai perlawanan bersenjata pun bermunculan di mana-mana dan berlangsung terus-menerus. Pemberontakan pertama dilakukan oleh Mukhtar al-Saqafi bersama para pengikutnya, kemudian dilanjutkan oleh Zaid bin Ali, cucu Husein, lalu perlawanan Yahya bin Zaid, serta pemberontakan Nafs al-Zakiyah.[106]

Walaupun pada mulanya aliran Syi'ah hanya dibentuk oleh situasi politik yang berkembang pada masa itu, namun seiring perjalanan waktu, keyakinan kaum Syi'ah justru beralih menjadi bersifat teologis. Pada intinya, ajaran teologi Syi'ah berpusat pada masalah imamah atau hak kepemimpinan, yang menurut mereka harus berasal dari keturunan ahlul bait. Banyak alasan mengapa mereka mempunyai keyakinan semacam ini. Alasan tersebut bisa berupa argumen yang bersifat aqliyah (rasionil) maupun naqliyah (berdasarkan nash). Salah satu argumen naqliyah mereka adalah hadits riwayat Imam Ahmad yang berbunyi: Barang siapa yang menganggap aku (Nabi SAW., pen) sebagai pemimpin, maka Ali adalah pemimpinnya.[107]

Pada tahun-tahun berikutnya, persoalan imamah membuat Syiah terbelah dalam beberapa sekte, walaupun pada intinya mereka tetap menyepakati ke-imamah-an Ali, Hasan, dan Husein. Yang mereka persoalkan kemudian adalah, siapa pengganti Husein? Dalam hal ini muncul dua sliran Syiah. Aliran pertama berkeyakinan bahwa pemimpin setelah Husein adalah putra Husein sendiri, Ali Zainal Abidin. Sementara kelompok kedua menyatakan bahwa pemimpin pasca Husein adalah Muhammad bin Hanafiyah, putra Ali dan istri selain Fatimah. Akibatnya, muncullah sekte-sekte baru dalam Syiah yang dalam perkembangan selanjutnya semakin kental nuansa teologisnya daripada nuansa politisnya.

Di antara aliran-alira sempalan Syiah itu adalah Kaisaniyah, Ghullat, Zaidiyah, dan Imamiyah. Dua golongan yang di sebut pertama tidak bertahan lama dan lenyap bersama waktu. Sementara dua aliran terakhir terus bertahan bahkan pernah berjaya pada berabad-abad berikutnya. Tokoh-tokoh pertama dua golongan ini adalah Zaid bin Ali Zainal Abidin dan Jafar al-Shadiq.

 

a. Syiah Zaidiyah

Nama aliran ini dinisbatkan pada nama pendirinya, Zaid bin Ali Zainal Abidin, seorang ahli tafsir dan fiqh di zamannya. Dia adalah putra dari Ali bin Husein Zainal Abidin, putra Husein bin Ali yang selamat dari peristiwa pembantaian di padang Kabala.[108]

Sebagai seorang ulama terkenal pada masa itu, Zaid mempunyai banyak sekali pengikut-pengikut setia. Bersama para pengikutnya, Zaid membuat front terbuka dengan pemerintahan Bani Umayyah, terutama kepada pemerintahan hisyam bin Abdul Malik. Par pendukungnya rata-rata berasal darikufah dan kurasan. Zaid mempeersiapkan pemberontakan selama kurang lebih satu tahun. Setelah semuanya siap Zaid memberangkatkan pasukannya guna menggempur kota Kuffah. Namun sebelum.seluruh kota dikuasai ia sendiri tewas dalam suatu pertempuran dengan gubernur Kuffah, Yusuf bin Umar. Yahya bin Zaid, putra Zaid bin ali berhasil meloloskan diri ke kurasan dan menggalan kekuatan baru disana. Selama tiga tahun berada di kurasan, Yahya terus memperkuat pasukannya guna menghadapi tentara bani Umayyah. Namun Yahya mengalami nasib serupa dengan ayahnya; ia tewas dalam pertempuran tersebut.

Pada abad-abad berikutnya, aliran Syiah Zaidiyah pecah kembali menjadi beberapa sekte, diantaranya adalah Syiah Jarudiyah, Sulaimaniyah, dan Shalihiyah. Syiah Jarudiyyah adalah pengikut Abu Jarud Ziyad bin Abd al-Ziyad. Sekte ini beranggapan bahwa Nabi Muhammad Saw. sudah menentukan Ali bin Abi Thalib sebagai penggantinya. Akan tetapi penunjukan itu tidak dilakukan secara langsung, melainkan dengan isyarat dan wasf (menyinggung keunggulan Ali daripada sahabat yang lain).

Sedangkan Syi;ah Sulaimaniyah adalah pengikut sulaiman bin Jarir, yang beranggapan bahwa sekalipun Ali adalah pemimpin terbaik pasca Nabi Saw., akan tetapi mereka masih mengakui kepemimpinan dua khalifah sebelumnya, yakni Abu Bakar dan Umar, namun tidak mengakui kepemimpinan Utsman bin Affan karena ia dinilai telah melakukan pelanggaran dan penyimpangan-penyimpangan selama masa kepemimpinannya. Pengakuan atas kekhalifahan Abu Bakar dan Umar ini di dasarkan pada prinsip pokok ajaran mereka bahwa para pemimpin tidak harus orang yang terbaik, akan tetapi boleh dari mereka yang berkaulitas biasa (imamah al-mafdlul maa wujud al-afdlal).

Golongan terakhir, Syiah Shalihiyah, adalah pengikut Katsir al-Numan al-Akhtar dan Hasan bin Shaleh al-Hayy. Golongan ini memiliki pandangan yang hampir sama dengan golongan Syiah Sulaimaniyah, namun dalam masalah Utsman bin Affan, mereka memilih berdiam diri dan tidak mengambil sikap (tawaqquf). Sekte inilah yang dikenal sebagai sekte Syiah yang ajarannya hampir mirip denagn Ahlussunah.[109]

 

b. Syiah Imamiyah

Kemunculan syiah Imamiyah berawal dari persoalan tentang siapakah yang akan menggantikan kepemimpinan jafar al-Shadiq, seorang ahli tafsir, hadits fiqh, filsaft, fisika, yang masih keturunan ahlul Bait. Jafar al-Shadiq diyakini oleh pengikut syiah Imamiyah sebagai imam ke lima setelah Ali, Hasan, Husain,dan Muhammad al-Baqir. Berbeda dengan syiah Zaidiyyah yang cenderung ekstrem dan lebih bernuansa politis, syiah Imamiayah cenderung moderat dan lebih menekankan bidang ilmu pengetahuan, pemikiran, dan filsafat. Hal ini sesuai dengan semangat yang di bawa oleh Jafar al-Shadiq yang tidak tertarik denga keputusan politik, melainkan lebih menekankan dibidang ilmu pengetahuan.

Kehidupan politik dibawah daulah bani Umayah yang selalu melakukan penekakanan terhadap Syiah membuat Jafar al-shadiq lebih memilih berjuang melalui jalur pendidikan. Ia melanjutkan perjuangan ayahnya mengajar di perguruan yang berada dimasjid Nabawi dan merupakan perguruan pertama yang mengajarkan filsafat. Kealiman Jafar al-Shadiq cukup dikenal oleh masyarakat luas sehingga banyak ulama-ulama besar yang berguru kepadanya. Dantara mereka adalah tiga pendiri madzhab, yakni Malik bin Anas, Sufyan al-Tsauri, dan Abu Hanifah bin Numan, disamping ilmuan-ilmuan lain seperti Ibnu Uyaynah, Ibnu Jarih, dan fisikawan muslim terkenal Jabir bin Hayyan. Kebesaran nama Jafar al-Shadiq pada akhirnya mengusik ketenangan khalifah kedua Bani Abasiyah, al-Manshur. Karena itu, sang khalifah berulangkali melakukan upaya-upaya pembunuhan terhadapnya, dan usaha terahir adalah dengan memberi racun pada makanannya. Dari situlah Jafar al-Shadiq meninggal dan jasadnya dikebumikan di kuburan Baqi di dekan makam ayah dan kakeknya, serta makam Hasan bin Ali.

Pasca kematian Jafar al-Shadiq, timbul perbedaan pendapat di kalangan Syiah Imamiyah. Mereka mempermasalahkan tentang siapakah yang imam yang berhak menggantikan kedudukan Jafar al-Shadiq. Sebagian berpendapat bahwa pengganti Jafar al-Shadiq adalah putranya, Ismail, walaupun ia meninggal terlebih dahulu daripada Jafar al-Shadiq sendiri. Keyakinan ini kemudian melahirkan golongan Syiah Ismailiyah. Sebagian lagi berpendapat bahwa yang berhak menggantikan Jafar al-Shadiq adalah Musa al-Kazim, putra dari Jafar al-Shadiq. Golongan ini kemudian dikenal dengan Syiah Itsna Asyariyah atau golongan Syiah yang meyakini kepemimpinan dua belas orang imam. Aliran ini terus bertahan dan sangat dominan hingga abad modern ini. Golongan ketiga atau terakhir adalah mereka yang meyakini bahwa tidak ada kepemimpinan baru setelah meninggalnya Jafar al-Shadiq. Golongan terakhir ini kemudian dikenal dengan sebutan Syiah al-Waqfiyyah.

 

3. MURJIAH

Selain Khawarij dan Syiah, pada masa ini juga uncul aliran lain yang memilih bersikap diam dan tidak mau memvonis siapakah yang salah dalam konflik antara pihak Ali, Khawarij, dan Muawiyah. Golongan ini mengajukan penangguhan keputusan yang akan diterima oleh pihak-pihak yang bertikai itu, agar diserahkan sepenuhnya pada Allah Swt. di akhirat kelak. Hanya Allah lah yang berhak memvonis siapakan yang salah dan siapakah yang benar diantara kedua belah pihak.

Ditilik dari sudut bahasanya, kata Murjiah bermakna menunda. Sehingga golongan ini disebut Murjiah karena dalam prinsipnya mereka menunda persoalan konflik politik antara Ali, Muawiyah, dan Khawarij hingga hari perhitungan di akhirat nanti. Versi lain mengatakan, alasan penamaan Murjiah adalah karena mereka menyatakan bahwa orang yang berdosa besar tetap mukmin selama masih beriman pada Allah Swt. dan Rasul-Nya. Adapun pertanggungjawaban dosa orang tersebut ditunda penyelesaiannya di akhirat kelak. Maksudnya, kelak di akhirat Allah Swt. akan mementukan hukuman baginya.4

Walaupun tidak terjun langsung dalam pertikaian politik antara Ali, Muawiyah, dan Khawarij, namun aliran Murjiah pada hakikatnya merupakan reaksi atas situasi politik yang berkembang saat itu. Artinya, mereka menarik diri dari urusan politik dan lebih banyak bersikap diam termasuk langkah politis paling aman.

Dalam masalah hakikat iman, kaum Murjiah menyatakan bahwa orang-orang yang secara lahir tampak berbuat kufur tidak dapat divonis sebagai orang kafir. Sebab hanya Allah lah yang Maha Mengetahui hakikat keimanan seseorang. Manusia tidak bisa memberi vonis hanya dengan melihat sisi lahir saja. Akibatnya, kaum Murjiah berpendapat bahwa orang yang hidup menjadi bajingan yang tidak karuan, tapi dia masih percaya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka dia tetap dikategorikan muslim. Sebab menurut mereka, baik dan buruknya perbuatan bukan ukuran dari kualitas iman seseorang. Hal yang sama berlaku pada persoalan-persoalan yang masih diperselisihkan (al-mukhtalaf fiha); menurut kaum Murjiah kita harus berdiam diri dan menyerahkan keputusannya kepada Allah Swt. di akhirat kelak. Dialah yang akan memberikan keputusan secara baik dan adil.

Dari prinsip semacam ini, aliran Murjiah meyakini bahwa seseorang yang dalam hatinya percaya kepada Allah Swt. tapi secara lahir menyembah berhala atau memeluk agama Yahudi maupun Nasrani, ia tetap akan diperlakukan sebagai orang mukmin oleh Allah Swt. Dia akan mendapat ampunan dari Allah Swt. atas perbuatan lahirnya dan akan dimasukkan ke dalam surga.[110]

Walaupun pada mulanya kemunculan Murjiah lebih didasari atas reaksi ketidaksetujuan atas paham ekstrim kaum Khawarij, namun dalam perkembangan berikutnya justru aliran Murjiah sendiri juga menjadi ekstrim. Hal ini berakibat banyaknya penentangan atas kepercayaan Murjiah oleh mayoritas kaum Muslimin. Sebab bila seseorang bisa masuk surga hanya berdasarkan kepercayaannya tanpa menilai perbuatannya, maka akan berakibat pada pengumbaran hawa nafsu.

 

4. JABARIYYAH

Selain Murjiah, paham lain yang hidup di masa ini adalah paham Jabariyyah. Walaupun secara hitoris aliran ini muncul pada permulaan Dawlah Bani Umayyah, akan tetapi bibit-bibit aliran ini sebenarnya sudah ada sejak masa khulafa al-rasyidin. Namun baru pada masa dinasti Bani Umayyah paham ini mengalami masa perkembangan dan kemajuan yang cukup berarti.

Berdirinya aliran ini bermula ketika para sahabat membahas qadar (kekuasaan), utamanya kekuasaan manusia ketika berhadapan dengan kemutlakan kekuasaan Allah. Sehingga menimbulkan beberapa pertanyaan, sejauh manakah manusia bergantung pada kemahakuasaan Tuhan dan kehendak-Nya? Apakah manusia mempunyai ruang gerak dan kebebasan dalam segala gerak-geriknya?

Oleh karena itu, kelompok ini disebut Jabariyyah (fatalism/predentination) karena dalam aliran ini terdpat doktrin yang menyatakan bahwa perbuatan manusia hakikatnya serba dipaksa (majbur). Manusia tidak mempunyai kebebasan memilih dan berbuat, karena perbuatan manusia sepenuhnya diatur oleh Allah; perbuatan manusia adalah perbuatan Allah juga.

Menurut para ahli sejarah, paham Jabariyyah mempunyai kemiripan dengan suatu aliran Yahudi dari Syam (Suriah). Sedangkan orang yang pertama kali mengenalkan faham ini dalam Islam adalah Jaad bin Dirham. Jaad mempelajari paham ini dari seorang Yahudi di Suriah. Selain itu, paham ini juga dipengaruhi oleh paham orang-orang Persia yang menganut agama Zoroaster dan Manu.[111]

Selain pengaruh dari luar, paham Jabariyyah juga mempunyai landasan dalil berupa ayat-ayat al-Quran yang dijadikan landasan berdirinya paham ini. Ayat-ayat tersebut antara lain, firman Allah Swt. dalam surat al-Shaffat ayat 96 yang artinya: Allah lah yang menciptakan kamu dan apa yang akmu perbuat. dan QS.57:22 yang artinya: Tiadalah suatu bencana yang menimpa dirimu sekalian di muka bumi ini melainkan ia telah tertulis dalam al-kitab (lauh al-mahfudl) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. serta dalam QS.8:17 Allah berfirman yang artinya: Maka (sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melkukan lemparan, melainkan Allah-lah yang melakukannya Ayat-ayat di atas dipahami oleh aliran Jabariyyah sesuai pemahaman lahir yang cepat ditangkap oleh pemahaman manusia. Tak heran bila paham ini kemudian mendapat banyak pengikut.

Dalam perkembangan berikutnya, paham ini disebarluaskan oleh Jahm bin Sofwan. Dia lah orang yang diyakini sebagai pendiri sejati aliran ini, sehingga akhirnya faham ini sering pula dinamakan aliran Jahmiyyah. Pada masa Jahm inilah pengikut Jabariyyah berkembang dengan sangat pesat.

Menurut Syahrastani,[112] paham Jabariyyah selanjutnya mengalami perpecahan dan terbentuk menjadi dua golongan; ekstrem dan moderat. Aliran Jabariyyah yang ekstrem mempunyai keyakinan bahwa manusia tidak mempunyai kemampuan, kehendak, dan hak pilih (ikhtiyar); manusia dalam perbuatannya dipaksa dan harus tunduk di bawah kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan. Faham ini dipelopori oleh Jahm bin sofwan sendiri. Sementara faham Jabariyyah moderat masih mengakui adanya peranan manusia dalam perbuatannya. Pelopor aliran model ini adalah Dirar bin Amr dan Husayn bin Muhammad al-Najjar.

 

5. QADARIYAH

Aliran ini merupakan kebalikan dari paham Jabariyyah. Aliran Qadariyyah berpendapat bahwa manusia mempunyai kekuasaan penuh atas perbuatannya. Setiap manusia adalah pencipta atas perbuatannya sendiri; dia dapat berbuat atau meninggalkan sesuatu sesuai kehendaknya sendiri (free will/free act).

Pendiri aliran ini adalah seorang tabiin bernama Mabah al-Juhani (w. 80 H). Mabah pernah belajar kepada Hasan al-Bashri (ahli hadits dan fiqh di masa tabiin) dan Washil bin Atha (pendiri Mu'tazilah), disamping juga pernah belajar ke Irak kepada mantan seorang Nashrani yang masuk Islam dan kemudian menjadi Nashrani kembali. Dari dialah Mabah mengambil aliran Qadariyyah.

Karena dinilai menyebarkan ajaran sesat, Mabah kemudian dijatuhi hukuman mati oleh pemerintah. Namun ajarannya tetap lestari dan berkembang di tengah-tengah masyarakat. Salah satu penerus perjuangan Mabah yang berjasa besar mempertahankan aliran Qadariyyah adalah Ghailan al-Dimasyqi. Dia adalah seorang tabiin putra dari mantan pegawai khalifah Utsman bin Affan. Selama memperjuangkan aliran ini, Ghailan mendapat banyak rintangan terutama dari pemerintahan dinasti Bani Umayyah. Puncaknya adalah ketika dia ditangkap oleh khalifah Hisyam bin Abdul Malik dan akhirnya dihukumi mati seperti gurunya. Alasan penghukuman itu tidak lain adalkah karena ia menganut paham Qadariyah.

Para penganut paham Qadariyyah berkeyakinan bahwa segala perbuatan manusia diciptakan oleh manusia itu sendiri. Allah Swt. tidak mempunyai hubungan dangan apa yang dilakukan oleh manusia sebelum perbuatan itu dikerjakan. Tapi bila telah dilakukan, maka pekerjaan tersebut baru diketahui dan mendapat penilaian dari Allah. Jika pekerjaannya baik maka manusia akan diberi pahala oleh Allah, tapi bila perbuatannya buruk maka ia akan mendapat dosa.

Keyakinan seperti ini banyak di dasarkan pada dalil-dalil, baik dalil aqli (rasio) maupun naqli (nash). Mereka mnegjukan dalil, jika perbuatan manuisa itu telah diciptakan oleh Allah sebelumnya, lalu mengapa Allah memberi poahal pada perbuatan baik dan memberi dosa atas perbuatan maksiat, padahal yang menciptakan perbuatan itu sendiri adalah Allah? Dalil aqli ini juga diperkuat oleh dalil naqli, antara lain QS.13:11, yang artinya: Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum kecuali mereka keadaan diri mereka sendiri dan juga QS.18:29 yang artinya: Barangsiap yang ingin (beriman) maka berimanlah, dan barangsiapa yang ingin (kafir) maka kufurlah dan bmasih banyak dalil-dalil lainnya. Semua dalil di atas, menurut mereka, menunjukkan bahwa Allah Swt. memberi kebebasan kepada manusia untuk berbuat. Allah Swt. hanya memberi petunjuk dan jalan untuk menuju kebaikan, namun keputusannya diserahkan kepada manusia itu sendiri.[113]

Jika ditilik dari konsepsi ajarannya, paham Qadariyyah pada hakikatnya merupakan bagian dari paham Mu'tazilah. Selain karena pendapatnya yang cenderung rasional dan antroposentris (berpusat pada manusia), juga karena para pemimpin berikutnya banyak yang berasal dari tokoh Mu'tazilah. {}

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAULAT ABBASIYAH I (132-656 H./750-1258 M.)[114]

Masa Keemasan Islam dan Maraknya Perdebatan Teologis

 

 

Sebagaiamana telah diterangkan di muka, Muhammad al-Saffah atau Abu Abbas berhasil merebut kekuasaan dari Bani Umayah pada 750 Masehi. Ia memanfaatkan ketidakpuasan orang-orang Islam non-Arab, kalangan Syiah, dan klan Bani Hasyim, serta dibantu oleh Abu Muslim dari Khurasan guna meruntuhkan pemerintahan Bani Umayyah.

Bibit-bibit gerakan perlawanan Bani Abbas sebenarnya sudah dimulai sejak pemerintahan Bani Umayyah dipegang oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz. Ketenangan dan ketentraman negara yang tercipta selama masa pemerintahan Umar memberi kesemapatan kepada kelompok Abbasyiah untuk menguatkan barisan. Mereka menyusun kekuatan di suatu kawasan bernama al-Humaymah. Pemimpim mereka pada saat itu adalah Ali bin Abdullah bin Abbas, yang kemudian dilanjutkan oleh anaknya, Muhammad. Di masa kepemimpinan Muhammad ini, mereka memperluas jangkauan dengan menetapkan tiga kota sebagai pusat gerakan, yakni al-Huyaymah sebagai pusat perencanaan dan organisasi, Kufah sebagai kota penghubung, dan Khurasan sebagai pusat gerakan praktis.[115] Muhammad kemudian digantikan oleh putranya, Ibrahim, yang kemudian ditangkap oleh pemerintahan Bani Umayyah dan dipenjara hingga meninggal dunia.

Kepemimpinan Ibrahim kemudian digantikan oleh Abu Abbas al-Shafah yang berhasil menghimpun kekuatan besar untuk melakukan pemberontakan terhadap pemerintah. Dengan bantuan panglima perang Muslim al-Khurasan, Abu Abbas beserta pasukannya berhasil merebut kota Syam (Suriah) dalam pertempuran dahsyat melawan tentara Bani Umayyah. Dari Suriah inilah tentara Abu Abbas berhasil melanjutkan penaklukan terhadap kota-kota lainnya, sehingga hampir seluruh kota yang berada dibawah kekuasaan Bani Umayyah berhasil ditaklukkan.

Sejak saat itu, Abu Abbas mengikrarkan diri sebagai pemimpin Islam dan Daulat Abbasyiah secara resmi berdiri. Ia memilih al-Hasyimiyah, sebuah kota di dekat Kufah, sebagai pusat pemerintahannya. Pada awal-awal kekuasaannya, Abu Abbas berupaya mengurangi pengaruh Arab di pemerintahannya. Namun Abu Abbas sendiri hanya memerintah selama empat tahun (750-754 M.), dan setelah itu ia meninggal dunia. Khalifah berikutnya adalah Abu Ja'far (754-775). Dialah khalifah pertama yang menggunakan gelar tertentu, yakni dengan gelar Al-Manshur, untuk dirinya. Pemerintahannya banyak mengakomodasi kepentingan masyarakat Persia. Ibukota negara bahkan dipindahkan ke tepi Sungai Tigris -dekat Ctesiphon, ibukota Kekaisaran Persia dulu.

Disebutkan, Al-Manshur melakukan survei mendalam untuk penentuan lokasi ibukota. Dia mengirim staf untuk tinggal di sana guna membuat laporan keadaan wilayah itu di berbagai musim. Al-Manshur juga mendatangkan sekitar 100.000 pekerja dari berbagai daerah - Kufah, Basrah, Mosul, maupun Syria-untuk menjadi arsitek, tukang bangunan, juru pahat, pelukis untuk membangun tempat yang dulu dipakai sebagai peristirahatan Kaisar Kishra Anusyirwan. Sekitar tahun 762 Masehi, lahirlah kota Baghdad sebagai salah satu kota termegah di dunia saat itu.

Al-Manshur dianggap sebagai tonggak pembangun kejayaan Abbasiyah. Namun itu dilakukannya dengan tangan besi pula. Abdullah dan Shalih bin Ali, dua orang pamannya yang menolak berbaiat untuknya, dibunuh oleh Abu Muslim atas suruhan al-Manshur. Abu Muslim sendiri kemudian dibunuh pula oleh al-Manshur.

Di bidang militer, al-Manshur melakukan banyak ekspansi untuk menguasai kembali wilayah-wilayah yang dulunya berada di bawah kekuasaan Bani Umayah, seperti merebut benteng-bentengnya di Asi Tengah, kota Malatia, wilayah Coppadocia dan Sisilia. Selain itu, pada periode ini Dinasti Bani Abbasyiah juga merebut beberapa kawasan baru, ke utara melintasi pegunungan Taurus dan mendekati selat Bosporus, dan menandatangani perjanjian genjatan senjata dengan Kaisar Bizantium, Costantine V, serta menggempur wilayah Turki Khazar di Kaukasus, Daylami di Laut Kaspia, dan India di Asia Tengah.[116]

Sedangkan jawatan pos tidak hanya diberi tugas mengantarkan surat-surat ata menangani pengiriman barang, melainkan juga diberi tugas sebagai mata-mata (intelejen), termasuk untuk mengawasi para gubernur di berbagai daerah.

Dalam pada itu, al-Manshur mengenalkan konsep 'wazir' yang sekarang hampir mirip dengan jabatan perdana menteri atau sekertaris negara. Selama kurang lebih 50 tahun, jabatan wazir ini diberikan kepada keluarga Baramikah, sebuah keluarga yang berasal dari Balkh, Persia (sekarang Iran). Dalam masa itu, persoalan administrasi negara lebih banyak ditangani oleh keluarga Baramikah ini. Masuknya keluarga Persia yang notabene merupakan keturunan non Arab di pemerintahan merupakan salah satu unsur pembeda antara Dinasti Abbasyiah dan Daulat Umayyah yang lebih berorientasi kepada masyarakat Arab.

Di sisi lain, Baghdad dibangunnya sebagai pusat peradaban. Ilmu dan kesenian dikembangkan. Di Kufah, di masa Al-Manshur, imam Abu Hanifah (700-767) diberinya tempat yang baik. Abu Hanifah berkesempatan untuk merumuskan hukum-hukum Islam, yang kemudian dikenal sebagai mazhab Hanafi. Sebuah mazhab yang sangat dipengaruhi kecenderungan kalangan intelektual muslim di Kufah: kuat dalam rasionalis.

Hal lain yang menjadi ciri khas pemerintahan Bani Abbasyiah adalah penggunaan konsep baru tentang kekhalifahan. Sejak masa al-Manshur, para khalifah mengaku dirinya sebagai khalifah Allah di muka bumi (Khalifat Allah fi al-Ardl). Konsep ini menggantikan konsep lama yang dipakai sejak masa Abu Bakar hingga Ali (Khulafa al-Rasyidin) yang menyatakan bahwa mereka hanyalah penerus Rasulullah SAW. (khalifat al-rasul).

 

Masa Keemasan

Jika dasar-dasar pemerintahan dibangun sejak masa Abu Abbas hingga al-Manshur, maka kejayaan Daulat Abbasyiah berada pada tujuh khalifah sesudahnya, yakni mulai masa Khalifah al-Mahdi (775-785 M) hingga al-Watsiq (842-847 M). Dan Daulat ini benar-benar mencapai kejayaan tertinggi pada masa pemerintahan Harun al-Rasyid (786-809 M) dan al-Mamun (813-833 M), dimana pada periode ini orientasi pemerintahan lebih ditekankan pada pengembangan peradaban, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan. Orientasi yang demikian ini membuat pemerintah kurang memperhatikan masalah perluasan wilayah yang memang sudah sangat luas.

Pada masa khalifah Al-Mahdi (775-785 M), program irigasi berhasil meningkatkan produksi pertanian berlipat ganda. Jalur perdagangan dari Asia Tengah dan Timur hingga Eropa melalui wilayah kekhalifahan Abbasiyah berjalan pesat. Pertambangan emas, perak, besi dan tembaga, berjalan dengan baik. Basrah di Teluk Persia tumbuh menjadi satu pelabuhan terpenting di dunia.

Bersamaan dengan itu, ilmu pengetahuan mulai tumbuh subur. Di Madinah, Imam Malik (713-795) dikenal sebagai ulama fikih atau hukum Islam yang banyak menggunakan hadis secara langsung serta tradisi masyarakat Madinah.

Sementara pada masa pemerintahan Harun Al-Rasyid (786-809 M), bukan hanya kemakmurn sosial yang dicapai, namun juga bidang kesehatan, pendidikan, kebudayaan, kesusastraan, dan lain-lain. Harun Al-Rasyid membangun pusat-pusat pendidikan, rumah-rumah sakit, sekolah kedokteran, serta farmasi. Pada saat itu, diperkirakan terdapat 800 orang dokter yang bertugas di berbagai rumah sakit yang melayani pasien setiap harinya. Disamping itu, pada masa Harun al-Rasyid juga dibangun pemandian-pemandian umum (hammam) di berbagai wilayah. Istrinya membangun saluran air dari Thaif untuk memenuhi kebutuhan air di Mekah yang tidak cukup dengan mengandalkan sumur zamzam. Pada masa inilah Islam dikenal luas bebagai negara terkuat dan terbesar di dunia.

"Masa keemasan" ini dilanjutkan oleh Al-Ma'mun (813-833 M). Dia mendirikan banyak sekolah dan melakukan banyak penerjemahan buku-buku Yunani ke dalam bahasa Arab. Disamping itu, al-Mamun juga mendirikan pula "Bait Al-Hikmah" -perpustakan sekaligus perguruan tinggi di kota Banghdad. Di perpustakaan ini, masyarakat dapat dengan bebas membaca, menulis, atau berdiskusi, sebab di sana terdapat buku-buku dan kitab-kitab lengkap dalam berbagai disiplin ilmu, seperti kedokteran, filsafat, matematika, kimia, astronomi, ilmu alam, sejarah, hingga kitab kajian keagamaan seperti tafsir, hadis, fiqh, ushul, akidah, dan lain sebagainya.[117]

Di masanya, Imam Syafi'i (767-820) serta Imam Ahmad bin Hanbal (780-855) juga menulis kitab fikih yang kemudian menjadi mazhab sendiri. Pemikir Islam yang mengedepankan rasionalitas, yang dikenal dengan sebutan Mu'tazilah, yakni Abu Huzail (752-849) dan Al-Nazam (801-835) juga melempar gagasannya pada periode ini. Aliran-aliran teologi hidup dan berkembang secara bebas di seantero negeri. Perdebatan teologis antara kaum Mu'tazilah, Syiah, dan Sunni pun berlangsung cukup semarak.

Pada mulanya, al-Mamun bersikap netral kepada setiap aliran yang berkembang. Secara pribadi ia memperlihatkan kecenderungannya kepada salah satu pihak. Namun karena dorongan dua tokoh Mu'tazilah, Ahmad bin Abi Dawud dan Sumamah bin al-Asyras, akhirnya al-Mamun mengumumkan kepada rakyat bahwa dirinya menganut paham Mu'tazilah dan menjadikannya sebagai paham resmi negara. Dalam perkembangan selanjutnya, al-Mamun mengharuskan semua jajaran pemerintahannya untuk menganut paham Mutazilah. Ia memerintahkan agar dilakukan pengujian keyakinan kepada pejabat kehakiman, gubernur, dan tokoh-tokoh beragama Islam, sementara tokoh beragama lain tidak diganggu.

Pelaksanaan pemeriksaan akidah yang dikenal dengan sebutan mihnah (inquisition) ini pada awalnya hanya berakibat pada pemecatan bagi pejabat yang menolak ajaran Mu'tazilah. Namun lama-kelamaan, pelaksanaan mihnah berakibat pemenjaraan hingga pembunuhan terhadap tokoh-tokoh masyarakat anti Mu'tazilah, terutama mereka yang tidak mau mengakui bahwa al-Quran adalah mahkluk. Pada akhirnya, tindakan al-Mamun ini mendapat tantangan dari ulama-ulama serta tokoh-tokoh masyarakat di beberapa kawasan.[118]

Sebelum meninggal dunia, al-Mamun terlebih dahulu berwasiat agar program mihnah ini dilanjutkan oleh penerusnya, al-Mu'tashim. Dari al-Mu'tashim hingga al-Watsiq, mihnah terus dilaksanakan meskipun tidak begitu gencar. Sementara dalam bidang militer, pada periode ini pemerintahan al-Mu'tashim dan al-Watsiq mampu mengendalikan persaingan antara unsur Persia dan unsur Turki di pemerintahannya, sehingga persaingan itu tidak sampai mengacaukan stabilitas negara.[119]

Hingga khalifah Al-Mutawakkil (847-861), Daulat Abbasiyah masih menampakkan kebesarannya. Namun dalam bidang politik, Al-Mutawakkil mulai membuat sejumlah perubahan. Ia lebih berorientasi pada orang-orang Turki dibanding Persia. Disamping itu, Al-Mutawakil juga menilai bahwa pemerintahannya perlu mendapat dukungan mayoritas masyarakat. Sementara pada saat itu, terutama setelah periode mihnah, mayoritas masyarakat Muslim adalah pengikut Ahmad bin Hanbal (dalam bidang fiqh) dan al-Asyari (dalam bidang akidah), atau yang biasa disebut aliran Salaf (Sunni). Karenanya, pada tahun 856 M. Khalifah al-Mutawakil menghapus paham Muktazilah sebagai madzhab resmi negara dan menggantikannya dengan paham Sunni.

Pasca pemerintahan Khalifah Al-Mutawakkil, utamanya sejak akhir Abad 9 dan awal Abad ke-10, pemerintahan Daulat Abbasiyah lebih banyak dikuasai oleh para panglima militer berdarah Turki. Para panglima itu memang mengangkat khalifah dari keturunan khalifah-khalifah terdahulu, namun mereka hanya dijadikan simbol. Hal yang tak kalah pentinya adalah, dari 12 khalifah yang ada, hanya empat khalifah yang diganti karena meninggal secara wajar. Delapan lainnya diturunkan secara paksa oleh militer, bahkan juga dibunuh. Keadaan ini menjadikan wibawa Dinasti Abbasiyah semakin merosot, dan satu per satu wilayah melepaskan diri.

Simbol-simbol peradaban, seperti ilmu pengetahuan, kesenian dan sastra, tidak lagi berkembang. Satu-satunya paham keagamaan yang tumbuh pada masa ini hanyalah paham Sunni, khususnya paham tradisiomal Adyariyah. Sementara paham Mutazilah mulai kehilangan taringnya.

Wibawa kekhalifahan Abbasiyah bangkit kembali setelah kekuasaan di tangan keluarga Buwaih. Namun khalifah pada masa ini tidak lebih hanya sekedar simbol, sebagaimana Kaisar Jepang di era Tokugawa, sementara yang berkuasa adalah Wazir (semacam perdana menteri). Ketika wazir dan militer bertikai, khalifah menyerahkan kekuasaan pada tiga kakak beradik Ali, Hasan, dan Ahmad. Ahmad memegang kendali di Baghdad, Ali menguasai wilayah Persia Selatan yang berpusat di Syiraz. Hasan berkuasa di Persia Utara, termasuk kota Ray dan Isfahan.

Di awal masa Bani Buwaih (945-1055), kemakmuran kembali berkembang di wilayah kekhalifahan Abbasiyah. Pembangunan gedung pun semarak. Industri karpet berkembang pesat dan ilmu pengetahuan juga maju. Dari sini muncullah intelektual semacam Ibnu Sina (980-1037 M), penulis Qanun fi Al-Thibb yang menjadi rujukan ilmu kedokteran Barat sampai Abad 19, juga Al Farabi (w. 950 M), Al-Miskawaih (w. 1030 M.). Sementara dalam persoalan teologi, terjadi kerancuan paham karena kekhalifahan menganut paham Sunni, sedangkan Bani Buwaih berpaham Syi'ah.

Setelah Bani Buwaih, Baghdad sebagai pusat kekuasaan Bani Abbasyiah kemudian dikuasai oleh Dinasti Bani Seljuk. Dari sana mereka menegadalikan kekuasaan, disamping banyak keluarga Seljuk lainnya yang membangun kekuasaan kecil-kecil di luar Baghdad. Masa terpenting kekuasaan Seljuk terjadi pada era kepemimpinan Alp Arselan (1063-1072). Khalifah masa itu adalah Sultan Maliksyah, dengan Nizham Al-Mulk sebagai Perdana Menterinya.

Nizham al-Mulk membangun Universitas Nizhamiyah pada tahun 1065 di Baghdad, yakni universitas yang dinilai sebagai embrio model universitas yang kini dikenal dunia. Di berbagai kota di Irak dan Khurasan didirikan pula cabang universitas ini. Pada masa ini, ilmu pengetahuan pun kembali berkembang dengan pesat dan melahirkan banyak intelektual. Diantaranya adalah al-Zamakhzyari di bidang tafsir dan teologi, Qusyairi di bidang tafsir, Imam Al-Ghazali sebagai filosof, teolog, sekaligus tokoh tasawuf, juga sastrawan Fariduddin Atthar dan Omar Kayam.

Di bidang militer, pasukan Alp Arslan berhasil mengalahkan pasukan gabungan Romawi, Prancis, dan Armenia. Bahkan sepeninggal Arslan, pasukan itu justru berhasil merebut kota Yerusalem dari Dinasti Fathimiyah pada 471 Hijrah, atau 1078 Masehi. Inilah peristiwa yang menyulut terjadinya Perang Salib.

 

Serbuan Hulagu Khan, Awal Kehancuran Banghdad

Waktu berlalu dan kekhalifahan terus melemah. Hampir setiap propinsi melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad. Dan pada tahun 1199 M., kekuasaan Keluarga Seljuk di Baghdad berakhir. Para khalifah keturunan Abbas masih melanjutkan kepemimpinan negara, namun hanya terbatas di sekitar Baghdad.

Pada kisaran tahun 1258 Masehi, di tepian sungai Tigris, Baghdad, tampak ada pemandangan ganjil. Itulah tenda pemimpin Mongol, Hulagu Khan, beserta 200-an ribu pasukannya.

Mengetahui kedatangan Hulagu, Khalifah Al-Mu'tashim dan para pembesar Kekhalifahan Abbasiyah dengan senang hati menemuinya. Mereka menyangka Hulagu Khan hendak menikahkan anak perempuannya dengan Abu Bakar, putra khalifah. Karena itu, khalifah membawa berbagai macam hadiah. Namun Hulagu menerima mereka dengan tangan dingin. Di tempat itulah Hulangu memenggal kepala khalifah dan seluruh pengikutnya satu per satu. Hulagu kemudian memerintahkan pasukannya untuk meratakan Baghdad dengan tanah. Bukan hanya istana dan gedung-gedung kerajaan saja, namun juga rumah penduduk, masjid, madrasah, universitas, dan perpustakaan.

Kemegahan Baghdad habis tanpa bekas. Seluruh warga tewas dibantai, kecuali yang sempat lari menyelamatkan diri. Peristiwa ini merupakan salah satu penghancuran terbesar kebudayaan masyarakat Islam yang telah berkembang selama lebih 6 (enam) abad lebih. Seluruh kegemilangan yang dibangun oleh Al-Manshur, dan kemudian juga oleh Harun Al-Rasyid itu luluh lantak. Baghdad kembali rata dengan tanah.

Selain menyerbu Baghdad, pasukan Hulagu juga meluluh lantakkan Damaskus, Yordania, Nablus, dan Gaza. Hanya Mesir lah yang mampu mempertahankan wilayahnya dari serangan pasukan Tar-tar ini. Sejak saat itulah seluruh wilayah yang dulunya termasuk daerah kekuasaan Dinasti Bani Abbasyiah kini telah berada di bawah kekuasaan Mongol.

Posisi umat Islam mulai membaik pada masa raja Mahmud Ghazan (1295-1304), seorang keturunan Mongol yang menganut ajaran Islam. Raja Ghazan merupakan tipe orang yang sangat tertarik dengan masalah peradaban. Ia membangun perguruan tinggi untuk mazhab Syafii serta Hanafi, observatorium, perpustakaan, padepokan, atau semacam biara buat kaum sufi. Raja Ghazan meninggal dalam usia 32 tahun, dan digantikan Muhammad Khudabanda Uljeitu (1304-1317), seorang penganut Syi'ah garis keras. Sultan terakhir dari Dinasti Ilkhan adalah Abu Sa'id (1317-1335). Kekuasaannya hancur setelah terjadi bencana kelaparan hebat akibat serangan badai dan hujan es. Kekuasaan pun terpecah belah, sampai kemudian dihancurkan oleh Timur Lenk, penakluk brutal lainnya yang juga keturunan Mongol.

Serbuan pasukan Mongol benar-benar membuat masyarakat Islam harus membangun kehidupan baru dari tingkat yang paling dasar. Tidak ada lagi wujud peradaban yang tersisa dari wilayah Asia Tengah, Selatan, hingga Timur Tengah. Untung saja Dinasti Mamluk mampu mempertahankan wilayah Mesir. Dari Mesirlah peradaban Islam beberapa tahun berikutnya dibangun kembali.

 

DINASTI FATIMIYAH HINGGA MAMLUK (969-1517)[120]

Pada akhir Abad 10 H., Mesir menjadi pusat kekuasaan dan peradaban baru dalam dunia Islam. Hal ini bermula ketika Muiz Lidinillah membelot dari kekuasaan Abbasiyah di Baghdad, untuk membangun kekhalifahan sendiri yang berpaham Syi'ah. Pada masa inilah kota Kairo dibangun, begitu pula dengan Masjid Besar Al-Azhar yang di kemudian hari bekembang menjadi Universitas Al-Azhar, juga merupakan hasil peningalan khalifah Muiz Lidillah.

Sejak kekhalifahan Muiz Lidillah, Aziz Billah (975-996) dan Hakim Biamrillah (996-1021), peradaban Islam mulai berkembang pesat. Kecemerlangan kota Kairo -baik dalam fisik maupun sosial-mulai menyaingi Baghdad. Di masa ini, Ibnu Yunus (w. 1009 M) menemukan sistem pendulum pengukur waktu yang menjadi dasar arloji mekanik saat ini. Lalu Hasan ibn Haitham menemukan penjelasan fenomena "melihat". Sebelum itu, orang-orang meyakini bahwa orang dapat melihat sesuatu karena adanya pancaran sinar dari mata menuju obyek yang dilihat. Ibnu Haytham menemukan bahwa pancaran sinar itu bukanlah dari mata ke benda tersebut, melainkan sebaliknya, dari benda ke mata.

Pada 564 Hijriah atau 1167 Masehi, Salahuddin Al-Ayyubi mengambil alih kekuasaan Fathimiyah. Shalahuddin kemudian membangun dinasti baru, yakni Dinasti Ayyubiyah, dan memilih Kairo sebagai pusat pemerintahannya. Paham keagamaan negara diubah dari Syiah menjadi Sunni. Sekolah, masjid, rumah sakit, sarana rehabilitasi penderita sakit jiwa, dan banyak fasilitas sosial lainnya dibangun pada periode ini.

Pada 1250 Masehi, atau delapan tahun sebelum Baghdad diratakan dengan tanah oleh Hulagu Khan, kekuasaan Mesir diambil alih oleh kalangan keturunan Turki, pegawai Istana keturunan para budak (Mamluk). Keberhasilan mereka menghadang pasukan Hulagu Khan pada 13 September 1260 menjadikan Baybars (1260-1277) naik sebagai pemimpin Mesir dengan Dinasti Mamluk-nya.

Pada periode ini, Baybars memerintahkan agar masjid dan universitas Al-Azhar direnovasi dan dipercantik lagi. Kairo pun dijadikannya sebagai pusat peradaban dunia. Saat itu, Kairo berpenduduk sekitar 500-600 ribu jiwa atau 15 kali lebih banyak dibanding London di saat yang sama. Pada masa ini terdapat apa yang disebut'rihlah', yakni tempat studi keagamaan yang ada hampir di setiap masjid. Selain itu, pusat layanan kesehatan tersebar di mana-mana dengan pelayanan sangat rapi dan gratis.

Pusat peradaban ini nyaris hancur di saat petualang barbar bernama Timur Lenk melakukan invasi ke Timur Tengah. Namun tentara Sultan Barquq berhasil menahan laju pasukan Mongol tersebut. Dengan demikian, Dinasti Mamluk merupakan kerajaan Islam yang mampu mengalahkan tentara Mongol dua kali.

Pada penghujung abad ke-15, perekonomian Mesir mengalami menurun drastis akibat akibat beralihnya jalur perdagangan pedagang Eropa dari Laut Tengah ke Tanjung Harapan di Afrika Selatan. Pada 1517, Kesultanan Usmani di Turki menyerbu Kairo dan mengakhiri sejarah 47 kekuasaan Dinasti Mamluk.

 

PERANG SALIB (1095- 1291)[121]

Perang antar agama ini bermula ketika misi militer Alp Arslan -pemimpin Seljuk yang menjadi panglima perang Daulat Abbasiyah, berhasil mengalahkan pasukan gabungan Romawi, Perancis, Armenia, Ghuz, Akraj, dan Hajr dalam sebuah pertempuran di Manzikart tahun 464 Hijriah (1071 Masehi). Dengan kekuatan 15.000 tentara, Arp Arslan mampu memukul mundur pasukan sekutu tersebut dengan sangat mudah.

Sepeninggal Arslan, tentara Abbasyiah juga berhasil merebut kota Yerusalem, kota suci Umat Islam dan Kristen, pada 471 Hijriah atau sekitar 1078 Masehi. Sebelum itu, Yerusalem masih berada dibawah kekuasaan Dinasti Fathimiyah -dinasti beraliran Syi'ah yang berpusat di Kairo- Mesir. Fathimiyah memberi keleluasaan bagi orang-orang Nasrani untuk berkunjung ke kota suci Yerusalem. Namun ketika Yerusalem telah jatuh ke tangan Dinasti Abbasiyah, mereka kemudian membuat ketentuan baru yang mempersulit kunjungan kaum Nashrani ke sana. Inilah salah satu faktor pemicu timbulnya Perang Salib.

Pada 1095 Masehi, pemimpin tertinggi Katolik Paus Urbanus II menyerukan kepada seluruh masyarakat Kristen di Eropa agar mereka bersedia melakukan Perang Suci, perang merebut kembali kota Suci Yerusalem. Seruan tersebut mendapat sambutan para raja di Eropa. Akhirnya, pada Musim semi 1095 Masehi, sekitar 150 ribu pasukan, terutama dari Perancis dan Norman, bergerak ke arah Konstantinopel untuk kemudian menuju ke Yerusalem.

Pada 18 Juni 1097 dan 1098, kota Nicea dan Edessa berhasil mereka rebut, begitu pula dengan kota Antiokia. Satu tahun kemudian, tepatnya pada 15 Juli 1099, Baitul Maqdis atau Yerusalem berhasil pula dikuasai oleh tentara Salib ini. Bahkan Yerusalem pada akhirnya dijadikan ibukota kerajaan baru, dan Godfrey diangkat sebagai rajanya. Kota-kota penting di pantai Laut Tengah, seperti Tyre, Tripoli, dan Akka juga berhasil dikuasai.

Hampir setengah abad wilayah Yerusalem dan laut Tengah berada dalam kekuasaan Kristen. Namun pada 1144, ketenangan Kaum Salib terusik. Penguasa Mosul dan Irak, Imaduddin Zanki dan anaknya, Nuruddin Zanki, databg merebut wilayah Aleppo dan Edessa, dan pada tahun 1151, seluruh kawasan di Edessa berhasil mereka kuasai. Hal ini mendorong Paus Eugenius III kembali menyerukan perang suci kepada masyarakat Eropa. Raja Perancis, Louis III, dan Raja Jerman, Condrad III, memimpin pasukan untuk menggempur kekuatan Islam. Namun mereka kalah dan terpaksa mundur.

Sebaliknya, pasukan Muslim di bawah komando Salahuddin Al-Ayyubi, panglima pengganti Nuruddin Zanki, justru mencatat sukses besar. Selain berhasil memukul mundur pasukan Salib, Salahuddin juga mendirikan kekhalifahan Ayyubiyah di Mesir menggantikan kekuasan sebelumnya, Dinasti Fathimiyah. Pada 1187, pasukan Salahuddin berhasil merebut Yerusalem dan mengakhiri kekuasaan kaum Nasrani yang sudah berjalan selama 88 tahun. Pasukannya juga harus berhadapan dengan kekuatan paling besar yang dikomandoi Raja Inggris Richard, Raja Perancis Philip Augustus, serta Raja Jerman Frederick Barbarosa. Pada 2 Nopember 1192, Salahuddin menandatangani perjanjian dengan musuh-musuhnya itu. Ia memberi kemudahan kepada kaum Nasrani untuk berkunjung ke Yerusalem.

Namun pihak Kristen yang dikomandoi Raja Jerman Frederick II, kemudian mengincar kembali Yerusalem. Mereka berhasil merebut wilayah Dimyar pada 1219. Pengganti Salahuddin, Malik al-Kamil, kemudian menukar Dimyar dengan Yerusalem.

Kalangan Nasrani sempat menguasai kembali Baitul Maqdis sekitar seperempat abad lamanya. Namun pada tahun 1247 Masehi, Malik al-Shalih, pemimpin Mamluk yang menggantikan Dinasti Ayyubiyah di Mesir, berhasil merebut kembali Baitul Maqdis. Setelah itu, perang Salib masih terus terjadi sampai kota Akka direbut lagi oleh pihak Islam pada tahun 1291 Masehi.

Perang Salib telah mengantarkan orang-orang Eropa dalam jumlah besar untuk berinteraksi dengan masyarakat Islam. Interaksi tersebut membuat mereka banyak mengadopsi peradaban dari kalangan muslim. Namun Perang Salib juga melahirkan provokasi dan kebencian terhadap Islam di lingkungan masyarakat Barat.

 

SEKTE-SEKTE PADA PERIODE INI

 

1. MUKTAZILAH

Bibit-bibit ajaran Mu'tazilah sebenarnya sudah muncul sejak peristiwa tahkim pada masa pemerintahan khalifah Ali bin Abi Thalib. Namun saat itu gerakan mereka kurang begitu mengemuka sehingga cenderung tertutupi, terutama oleh munculnya golongan-golongan lain seperti Syiah, Khawarij, Jabariyah, maupun Qadariyah. Barulah pada masa pemerintahan al-Mamun, aliran Mu'tazilah berkembang dengan pesat terutama berkat dukungan puhak pemerintah. Ciri utama aliran ini terletak pandangan-pandangan teologisnya yang lebih banyak ditunjang oleh dalil-dalil aqliyah (akal) dan lebih bersifat filosofis, sehingga sering disebut aliran rasionalis Islam.

Kelahiran Mu'tazilah sebenarnya banyak dipengaruhi oleh situasi dan kondisi sosio kulturil dalam masyarakat Islam kala itu. Masuknya filsafat Yunani adalah salah satu faktor pendukung atas kemunculan Mu'tazilah. Begitu pula dengan ajaran asing seperti Yahudi dan Kristen Nestorian, dimana banyak diantara pemikiran-pemikirannya yang diserap oleh Mu'tazilah untuk dijadikan dasar pemikiran mereka. Jadi, jika bibit-bibit aliran Mu'tazilah telah muncul sejak masa pemerintahan Khalifah Ali, maka pada periode ini aliran Mu'tazilah semakin dikembangkan dan digabung dengan aliran-aliran asing yang memasuki dunia Islam.

Aliran Mu'tazilah mengalami kebangkitan kembali pada kisaran abad pertama Hijriyah di kota Bashrah, pusat ilmu dan peradaban Islam masa itu. Di Bashrah, berbagai aliran, kepercayaan, dan agama berbaur menjadi satu dalam kehidupan masyarakatnya. Di kota ini pula Wasil bin Atha mulai memperkenalkan ajaran-ajaran Mu'tazilah. Pada awalnya, Washil bin Atha adalah murid dari ulama terkemuka di Bashrah, Hasan al-Bashri. Namun ia kemudian memisahkan diri (Itizal) dari gurunya itu dan memproklamirkan paham baru bernama Mu'tazilah.[122]

Akan tetapi, para penganut paham Mu'tazilah lebih senang menamakan diri mereka sebagai ahl al-tauhid wa al-adl (ahli keesaan Tuhan dan ahli keadilan). Semboyan keadilan yang dimaksudkan oleh kaum Mu'tazilah adalah bahwa Allah Swt. wajib berbuat adil dengan memberi pahala kepada kepada orang yang berbuat baik dan menghukum orang yang berbuat dosa. Mustahil orang yang berbuat dosa akan lolos dari hukuman dan orang yang berbuat baik akan mendapat siksa di akhirat kelak. Jika Allah menyiksa orang yang berbuat baik atau memasukkan orang yang berbuat salah ke dalam surga, menurut mereka, maka Allah Swt. tidak berbuat adil. Padahal Allah adalah Dzat yang Maha Adil.[123]

Ajaran Mu'tazilah terdiri dari lima prinsip dasar, yakni tentang keesaan Allah (al-tauhid), keadilan (al-adalah), janji dan ancaman (al-wad wa al-waid), tempat diantara dua tempat (al-manzilah baina al-manzilatain), dan amar maruf nahi munkar. Dalam persoalan tentang keesaan Allah Swt., misalnya, kaum Mu'tazilah berkesimpulan bahwa Allah sama sekali berbeda dengan makhluk-Nya. Dengan demikian, ayat-ayat al-Quran yang secara harfiyah menyematkan kata-kata seperti wajah, tangan, mata, dan lain sebagainya kepada Allah Swt., harus diartikan secara simbolis guna menguak makna yang tersebunyi dibalik kata-kata itu. Karenanya, mereka mewajibkan tawil terhadap ayat-ayat mutasyabihat.

Selain itu, dalam masalah keadilan Allah Swt., Mu'tazilah juga menyatakan bahwa bila Allah Swt. adalah Maha Adil, maka manusia harus diberi kebebasan memilih antara mengerjakan dan meninggalkan suatu perbuatan. Sebab jika perbuatan manusia sudah diciptakan oleh Allah sebelumnya, maka sama saja Allah sekedar main-main menciptakan manusia, dan tidak ada gunanya Ia menciptakan surga dan neraka sebagai tempat pertanggungjawaban amal. Dari sini Mu'tazilah kemudian menyimpulkan bahwa manusia adalah pencipta perbuatannya sendiri.[124]

Selain Washil bin al-Atha, aliran Mu'tazilah juga diajarkan oleh tokoh-tokoh berpengaruh pada masa-masa berikutnya, seperti Abu Hudzail al-Allaf (w. 748-840 M), al-Nadzzam (w. 845 M), Bisyr bin Mu'tamir (w. 825 M) al-Mu'ammar (w. 842 M), al-Jahiz (w. 869 M), al-Jubai (w. 849-916 M), Abu Hasyim (w. 861-933 M),[125] Qadli Abdul Jabbar (w. 1024 M), dan al-Zamakhsyari (w.1144 M).[126] Mereka-mereka inilah yang melanjutkan perjuangan Washil bin Atha dalam menyebarkan paham Mu'tazilah.

Pada masa-masa awal pemerintahan Bani Abbasyiah, aliran Mu'tazilah belum begitu menampakkan taringnya. Selain karena faktor kebutuhan umat, keberadaan dua pemimpin pertama Bani Abbasyiah, Abu Abbas dan al-Manshur yang beraliran Syiah, juga sangat mempengaruhi terhambatnya penyebaran aliran ini. Namun dalam perkembangan selanjutnya, faham Mutazilah sedikit demi sedikit mulai mampu menancapkan pengaruhnya di masyarakat dan mencapai klimaks pada saat khalifah Abbasiyah di pegang al-Makmun tahun 198-218 H/813-833 M., lalu diteruskan pada masa khalifah al-Mutashim tahun 218-228 H/833-842 M., dan al-Watsiq tahun 228-233 H/842-847 M.

Namun pada periode al-Mamun, pemberlakuan mihnah menyisakan lembaran hitam dalam perkembangan paham Mutazilah. Aliran yang dikenal rasional ini memaksakan ajarannya secara tidak rasional. Dalam prakteknya, mihnah tidak hanya dilancarkan kepada jajaran pemerintahan, melainkan juga kepada tokoh-tokoh masyarakat. Sejarah mencatat, banyak sekali tokoh-tokoh yang disiksa karena tidak sejalan dengan paham pemerintah, seperti tokoh ahli hadits, Ahmad bin Hanbal, bahkan ada pula yang dibunuh seperti dialami oleh al-Khuzzai dan al-Buwaithi. Dari sinilah kemudian timbullah kegoncangan dan perlawanan dari rakyat.

Ketika tampuk kepemimpinan negara dipegang oleh al-Mutawakkil, dominasi faham Mu'tazilah mulai berkurang dan tidak mendapat simpati dari masyarakat. Apalagi al-Mutawakkil kemudian mengganti faham resmi pemerintahannya dengan faham Sunni Asyariyah. Sebenarnya paham Mu'tazilah pernah muncul kembali pada masa pemerintahan dinasti Bani Buwaihi, namun tidak berlangsung lama karena dinasti ini kemudian digulingkan Dinasti Bani Seljuk. Pimpinan Bani Saljuk sendiri memang condong kepada aliran Sunni Asyariyah, terutama sejak masa pemerintahan Alp Arslan dengan perdana menterinya, Nidzam al-Mulk. Setelah itu, dalam beberapa abad lamanya faham Mu'tazilah mulai memudar dan pada akhirnya tenggelam sama sekali dari catatan sejarah. Diantara faktor penyebab hilangnya aliran ini adalah karena buku-buku Mu'tazilah sudah tidak dibaca dan dipelajari di berbagai lembaga pendidikan. Ajaran mereka justru mudah ditemui dalam buku-buku aliran lain, seperti Sunni dan Syiah. Barulah pada kisaran abad ke-20 Masehi, buku-buku Mu'tazilah mulai bisa ditemui kembali di beberapa perguruan tinggi Islam, seperti Universitas al-Azhar, Mesir.[127]

2. AHLUSSUNNAH (SUNNI)

Sebagaimana telah ditegaskan di muka, kebijakan al-Mamun memberlakukan mihnah memantik reaksi cukup keras dari rakyat. Dari situ kemudian muncul berbagai aliran baru di beberapa kawasan, seperti Asyariyah di Bashrah, al-Maturidiyah di Samarkand, al-Thahawi di Mesir, dan Ibnu Hazm di Spanyol. Semuanya melakukan perlawanan atas tekanan-tekanan pihak penguasa yang memaksa rakyat agar menganut faham Mu'tazilah. Berikut akan diulas dua aliran Sunni, yakni Asyariyah dan Maturidiyah, yang mempunyai pengaruh cukup besar hingga berabad-abad berikutnya.

 

a. ASYARIYAH

Pendirinya adalah Abu al-Hasan Ali bin Ismail al-Asy'ari, seorang ahli hukum (fiqh) dan teolog yang keturunan Abu Musa al-Asy'ari, seorang sahabat Nabi SAW. dan juga periwayat hadits. Pada mulanya, Abu al-Hasan al-Asyari adalah penganut faham Muktazilah. Beliau berguru kepada salah seorang tokoh Mu'tazilah bernama Abu Ali al-Jubai. Karena al-Asy'ari memiliki kemampuan intelektual yang luar biasa dan didukung oleh ketekunan belajarnya yang juga luar biasa, al-Jubai sering mengutusnya dalam berbagai forum diskusi dan perdebatan teologis. Selama berada dibawah bimbingan al-Jubai, al-Asy'ari juga sudah banyak menulis buku-buku mengenai aliran Mu'tazilah. Al-Asy'ari menganut paham Mu'tazilah hingga mencapai usia 40 tahun.

Sebagai murid kesayangan, al-Asy'ari dalam berbagai kesempatan sering melakukan diskusi dengan al-Jubai. Namun dari berbagai pembicaraan dengan sang guru, al-Asy'ari sering merasa tidak puas atas jawaban-jawaban yang diberikan al-Jubai yang dinilainya problematis.[128] Pada suatu hari, ketidakpuasan itu mencapai puncaknya, terutama ketika keduanya sedang membicarakan tentang konsep al-ashlah (yang terbaik), yang dalam aliran Mu'tazilah merupakan salah sat ajaran inti. Konsep al-ashlah menekankan bahwa Allah Swt. wajib berbuat baik kepada hamba-hamba-Nya. Saat itu al-Asy'ari bertanya tentang nasib tiga orang bersaudara yang telah meninggal dunia, dimana yang satu meninggal ketika masih kanak-kanak, yang kedua adalah orang kafir, dan yang ketiga adalah orang baik dan shaleh. Al-Asy'ari ingin menanyakan bagaimana Allah Swt. memperlakukan ketganya:

Al-Juba'i: Yang shaleh masuk surga, yang kafir masuk neraka, dan yang anak-anak berada diantara neraka danm surga (manzilah bain al-manzilatain).

Al-Asy'ari: Lalu bagaimana kalau si anak kecil itu menuntut kepada Allah Swt. agar dirinya dapat mencapai tingkat lebih tinggi seperti saudaranya yang shaleh?

Al-Juba'i: Tidak bisa. Sebab dia belum banyak berbuat kebajikan. Sementara saudaranya bisa masuk surga karena ia telah banyak berbuat kebajikan.

Al-Asy'ari: Kalau begitu, si anak akan berkata; Ya, Tuhan. Itu bukan salahku. Seandainya Engkau menghidupkan aku sampai dewasa, tentu aku pun akan berupaya berbuat kabajikan seperti saudaraku.

Al-Juba'i: Tuhan akan menjawab; Aku lebih tahu tentang nasibmu. JikaAku menghidupkan kamu sampai usia dewasa, maka kamu akan banyak berbuat dosa, oleh karena itu Aku segera mencabut nyawamu agar kamu selamat dari siksa neraka.

Al-Asy'ari: Kalau begitu, lalu bagaimana bila si kafir juga menuntut; Ya, Tuhan. Jika Engkau Maha Tahu tentang nasib hamba-Mu, lalu mengapa Engkau berbuat baik kepada saudaraku, tapi Engkau tidak memperdulikan nasibku hingga aku kini masuk neraka?

Dari sini al-Juba'i terdiam. Ia tidak dapat menjawab pertanyaan terakhir al-Asy'ari sesuai dengan konsep Mu'tazilah yang mengharuskan Allah Swt. selalu berbuat baik terhadap hamba-hamba-Nya.[129]

Setelah peristiwa itu, al-Asy'ari kemudian mengasingkan diri di rumahnya dan tidak pernah terlihat oleh orang lain dalam waktu 15 hari lamanya. Selama dalam masa pengasingan, al-Asy'ari berupaya meneliti dan menganalisa dalil-dalil yang digunakan oleh kaum Mu'tazilah dan ahlul hadits, namun ia selalu menemukan bahwa dalil yang mereka gunakan sama-sama kuat. Oleh karena itu, al-Asy'ari kemudian mendirikan shalat dua rakaat dan selalu memohon kepada Allah Swt. agar diberi petunjuk mengenai siapakah golongan yang benar. Setelah itu ia kemudian tertidur. Dalam tidurnya al-Asy'ari bermimpi bertemu Nabi SAW. dan ia mengadukan semua persoalan yang sedang dihadapinya. Mendengar pengaduannya, Nabi SAW. lalu berkata; Berpegang teguhlah dengan sunnahku!.

Seketika itu al-Asy'ari terbangun dari tidurnya, lalu berupaya meneliti segala persoalan ilmu kalam (akidah) langsung dari al-Quran dan hadits. Dari situ ia berkesimpulan bahwa kaum ahli hadis adalah aliran yang benar, dan paham Mu'tazilah adalah aliran yang salah.[130] Dalam pandangannya, tidak semua pertanyaan harus dijawab dengan penalaran akal. Ada banyak hal yang harus dipecayai dan diyakini dengan dasar iman. Segala keputusan Allah Swt. tidak dapat dipahami hanya dengan mengandalkan penalaran rasionil semata. Banyak hal yang dilakukan Allah tanpa di duga sebelumnya dan berada di luar jangkauan akal manusia.[131]

Keesokan harinya, al-Asy'ari keluar dari rumahnya dan segera pergi ke masjid besar Bashrah. Di sana ia menyampaikan kepada khalayak bahwa dirinya telah melepaskan baju Mu'tazilah. Ia mengikrarkan diri sebagai pengikut aliran ahli hadits yang diprakarsai oleh Imam Ahmad bin Hanbal, dan akan berada di garis terdepan guna melawan paham Mu'tazilah dan mematahkan argumen-argumen mereka.

Sejak saat itulah al-Asy'ari dengan gigih berjuang bersama ahl al-hadits meruntuhkan kepercayaan-kepercayaan Mu'tazilah. Beliau merumuskan pokok-pokok pikiran dalam berbagai kitab karangannya. Para pengikutnya pun berdatangan dari segala kawasan dunia Islam. Aliran ini kemudian dikenal dengan sebutan al-Asy'ariyah, dan dalam perkembangan selanjutnya, aliran ini lebih banyak dikenal dengan sebutan Ahlussunnah wal Jamaah.[132]

Kemampuan dan penguasaan ilmu-ilmu keislaman yang dimiliki al-Asy'ari mampu mempercepat tersebarnya ajaran yang dibawanya. Paham Asy'ariyah mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat, terutama karena ajarannya yang bersifat sederhana dan tidak terlalu filosofis. Apalagi saat itu masyarakat sudah bosan disuguhi dengan ajaran-ajaran Mu'tazilah yang terlalu liberal-filosofis tapi kering dari dimensi spiritual, serta cenderung dipaksakan oleh pemerintahan yang berkuasa.

Paham al-Asy'ariyah semakin banyak dianut oleh masyarakat pada masa-masa berikutnya, terutama melalui tokoh-tokoh utama aliran ini, seperti Abu Bakar al-Baqillani, al-Isfirayini, al-Qusyairi, al-Juwaini, dan Abu Hamid al-Ghazali. Nama yang di sebut terakhir ini (al-Ghazali) adalah pengikut al-Asy'ari yang paling penting dan paling besar pengaruhnya bagi pengembangan aliran al-Asy'ariyah pada masa-masa berikutnya. Melalui perantara al-Ghazali lah ajaran-ajaran al-Asy'ari bisa diterima oleh mayoritas umat Islam di seluruh dunia, baik setelah mendapat dukungan pemerintahan khalifah al-Mutawakil maupun Alp Arslan. Pasca al-Ghazali, aliran Asyariyah nyaris di terima di seluruh daerah Islam, termasuk Indonesia, kecuali di kawasan yang dikuasai oleh kaum Syiah.

Pada dasarnya, aliran al-Asy'ariyah memiliki tujuh prinsip pokok. Pertama, Allah Swt. mempunyai sifat yang berada di luar Zat-Nya dan bukan Zat Tuhan itu sendiri. Oleh karena itu, Allah Maha Mengetahui bukan dengan Zat-Nya seperti keyakinan Mutazilah, melainkan dengan sifat-Nya.

Kedua, al-Quran adalah kalam Allah dan bukan makhluk, dalam arti al-Quran itu diciptakan oleh Allah. Karena al-Quran adalah kalam Allah, maka ia pasti bersifat Qadim (dahulu tanpa batas).

Ketiga, Allah Swt. dapat dilihat di akhirat kelak dengan mata kepala manusia secara langsung, sebab Allah Swt. mempunyai wujud.

Keempat, perbuatan manusia telah diciptakan oleh Allah Swt., meskipun dalam diri manusia juga terdapat potensi atau daya (al-kasb) yang bisa digunakan oleh manusia untuk menggerakkan hati dan badan tubuhnya dalam berbuat atau berusaha. Namun potensi tersebut bersifat terbatas dan tidak efektif.

Kelima, Allah itu mempunyai mata, tangan, muka, dan lain sebagainya, sebagiamana tertera dalam al-Quran (misalnya QS.55:27 dan Qs. 55:14), akan tetapi tidak dapat diketahui seperti apa bentuknya. Manusia hanya diwajibkan meyakini dan tidak diperintahkan untuk mengetahui hakikat yang sebenarnya.

Keenam, dosa besar yang diperbuat seorang mukmin tidak akan membuatnya kufur selama ia masih beriman kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya. Namun dengan perbuatan dosa itu, ia dikategorikan sebagai orang yang durhaka (al-ashi). Keputusannya diserahkan kepada Allah Swt. apakah akan diampuni atau tidak.

Ketujuh, Allah Swt. adalah pencipta seluruh alam raya ini. Karena itu, Allah Swt. mempunyai kehendak mutlak untuk melakukan apa saja terhadap ciptaan-Nya. Allah Swt. tidak mempunyai keterbatasan kuasa atas apapun, termasuk dalam soal keadilan seperti yang diyakini kaum Mutazilah. Dengan kekuasaan-Nya, Allah Swt. bisa saja memasukkan semua orang ke dalam neraka, atau memasukkan mereka semua ke dalam surga.[133]

Ketujuh pemilahan di muka hanya merupakan konsepsi umum, sementara mengenai mengenai perinciannya, menurut al-Asyari, semua diserahkan kepada Allah Swt. Artinya, apa yang ditawarkannya itu hanya sebatas konsep yang dapat dilakukan manusia, tapi dalam tataran praktisnya tidak ada yang tahu kecuali Allah Swt.[134]

b. MATURIDIYAH

Perlawanan terhadap paham Muktazilah juga terjadi di Samarqand (sekarang termasuk Uzbekistan), yang di prakarsai oleh Abu Manshur bin Muhammad al-Maturidi (w. 332 H/944 M.), dan di Bukhara yang dipandegani oleh Abu al-Yusr Ali Muhamad al-Bazdawi (421-493 H). Kedua aliran ini dikenal dengan sebutan al-Maturidiyah. Namun aliran pertama biasa disebut sebagai al-Maturidiyah Samarqand, sementara yang kedua disebut al-Maturidiyah Bukhara.

 

1. al-Maturidiyah Samarqand

Aliran ini cenderung bersifat rasional, megingat Abu Manshur al-Maturidi banyak mendasarkan pemikiran teologisnya pada pemikiran madzhab Abu Hanifah (Hanafi) yang memang dikenal rasionalis. Pada awalnya, al-Maturidi giat mempelajari dua kitab karya Abu Hanifah, al-Fiqh al-Akbar dan al-Fiqh al-Abshat, dan kemudian memberikan ulasan atas dua kitab tersebut melalui karyanya, Syarh al-Fiqh al-Akbar dan Syarh al-Fiqh al-Abshat. Sebagaimana diketahui, pada masa ini belum ada pembedaan dan dikotomi antara ilmu fiqh dan ilmu tauhid; fiqh adalah tauhid dan begitu juga sebaliknya. Fiqh dan tauhid saat itu adalah satu kesatuan ilmu yang integral. Tak heran bila dalam perjalanannya, mayoritas penganut faham Maturidiyah adalah orang-orang yang bermadzhab Hanafi, terutama di Irak. Hal ini berbeda dengan para penganut faham Ahlussunnah lainnya, Asyariyah, yang umumnya berasal dari madzhab Maliki, Syafii, dan Hanbali.[135]

Baik Asyariyah maupun Maturidiyah pada dasarnya muncul sebagai reaksi penentangan atas teologi rasional Mu'tazilah. Perbedaanya, al-Asyari langsung menghadapi para penganut Mu'tazilah di pusat penyebarannya, Bashrah, sementara al-Maturidi hanya menghadapi cabang-cabang Mu'tazilah di Samarkand dan sekitarnya.

Secara umum, Asyariyah dan Maturidiyah memiliki tujuan yang hampir sama, yakni sama-sama bermaksud mengembalikan landasan telogis umat Islam kepada al-Quran dan hadits, serta meneladani tradisi yang diwariskan secara turun temurun sejak zaman Rasulullah SAW., sahabat, dan tabiin. Disamping itu, kedua aliran ini juga mempunyai banyak kesaamaan dalam berbagai pandangan teologisnya, seperti pandangan bahwa al-Quran adalah kalam Allah yang qadim dan bukan makhluk, tidak ada perbuatan yang wajib bagi Allah, dan pelaku dosa besar tetap termasuk kategori orang mukmin.[136]

Walaupun demikian, kedua aliran ini sebenarnya memiliki corak pemikiran yang agak berbeda. Maturidiyah memberikan porsi cukup luas terhadap peran rasio dalam ajaran-ajarannya, sementara Asyariyah cenderung membatasinya. Sebagai contoh, menurut Maturidiyah, mengetahui Allah diwajibkan secara akal, sementara menurut Asyariyah diwajibkan secara syari. Begitu pula dalam soal perbuatan manusia; sebagaimana Asy'ariyah, menurut Maturidiyah, Allah lah yang menciptakan perbuatan manusia. Sementara mengenai ayat-ayat mutasyabihat, Maturidiyah berpendapat bahwa ia harus dipahami secara tawil atau diberi arti secara majazi (kiasan), dan tidak boleh diartikan secara leterlek dan apa adanya seperti keyakinan Asyariyah.[137]

Corak pemikiran seperti ini jelas hampir menyamai paham Mu'tazilah dan Qadariyah. Namun hal ini tidak menafikan keberadaan aliran Maturidiyah sebagai bagian dari golongan Ahlussunnah, karena perbedaan tersebut tidak begitu mendasar. Apalagi menurut Muhammad Abduh, perbedaan pandangan antara Asyariyah dan Maturidiyah hanya terjadi dalam 10 persoalan. Selain itu, dua aliran ini memiliki kemiripan dalam hampir setiap aspeknya.[138]

 

2. Maturidiyah Bukhara

Selain aliran Maturidiyah di Samarqand, di Bukhara juga terdapat aliran Maturidiyah lainnya yang didirikan dan dikembangkan oleh Abu al-Yusr Ali Muhamad al-Bazdawi (421-493 H). Jika aliran Maturidiyah Samarkand agak liberal dan agak dekat Muktazilah, maka Maturidiyah Bukhara ini bersifat tradisonal dan lebih dekat dengan Asyariyah.

Pada mulanya, al-Bazdawi mempelajari aliran Maturidiyah Samarqand dari orang tuanya sendiri. Namun selama masa belajarnya itu, al-Bazdawi tidak selalu sepaham dengan konsep teologis Maturidi. Tak heran bila kemudian dia mengembangkan aliran tersendiri yang agak berbeda dengan apa yang pernah dipelajarinya. Apalagi pada saat itu ia mempunyai banyak pengikut, diantaranya seorang ulama kenamaan, Najmuddin Muhammad al-Nasafi (460-537 H) yang kemudian mengembangkan secara luas ajaran yang dibawa al-Bazdawi ini. Meski demikian, al-Bazdawi sendiri masih mengaku dirinya sebagai pengikut Abu Manshur al-Maturidi.

Salah satu perbedaan antara al-Bazdawi dengan al-Maturidi adalah mengenai pengetahuan akal tentang Tuhan. Menurut al-Bazdawi, keberadaan Tuhan dapat diketahui melalui perantara syariat (wahyu), sementara menurut al-Maturidi, dengan akal saja manusia sudah dapat mengetahui keberadaan Tuhan. Begitu pula dalam persoalan baik dan buruk; menurut al-Bazdawi, untuk mengetahui baik dan buruknya suatu pekerjaan harus melalui panduan wahyu, sementara bagi al-Maturidi, akal manusia sudah cukup untuk mengetahuinya.[139] Hal ini menunjukkan bahwa aliran al-Bazdawi lebih mirip dengan paham Asyariyah daripada ajaran al-Maturidi itu sendiri.

Baik aliran Asyariyah maupun Maturidiyah, kedua-duanya sama-sama dinilai sebagai penerus tradisi keagamaan Nabi Saw. dan para sahabatnya, sehingga mereka lebih dikenal dengan sebutan Ahlussunnah wal Jamaah (Sunni). Dalam perkembangan selanjutnya, hanya aliran Asyariyah yang lebih mendominasi dunia Islam, sementara faham Maturidiyah cenderung tenggelam di bawah kegemilangan kaum Asyariyah. {}

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ABAD PERTENGAHAN

Masa Tiga Kerajaan Besar

 

Setelah beradab-abad lamanya kaum muslimin berhasil membangun sebuah peradaban besar yang tak tertandingi oleh siapapun di dunia bersama Dinasti Abbasyiah, kini mereka harus menghadapi kenyataan pahit; tak satu pun kajayaan itu yang tersisa. Semuanya musnah rata dengan tanah. Ada banyak faktor yang menyebabkan kenyataan pilu ini. Namun faktor paling menonjol adalah banyaknya perpecahan di kalangan umat Islam sendiri, kemudian perilaku suka berfoya-foya dan bermegah-megahan para penguasa terakhir Baini Abbasyiah, serta konflik antar aliran yang terkadang menyebabkan terjadinya perang saudara. Selain itu, munculnya dinasti-dinasti kecil yang memisahkan diri serta kemunduran bidang ekonomi, juga sangat mempengaruhi kemunduran peradaban Islam.

Sementara faktor eksternal yang berpengaruh secara langsung atas kehancuran tersebut adalah ekspansi bersenjata pasukan Mongol dibawah komando Hulagu Khan, dan Perang Salib yang terus berkecamuk dan tak kunjung reda sehingga berakibat runtuhnya banyak dinasti Islam. Untungnya, pada periode ini muncul tiga kerajaan besar Islam yang mulai tumbuh berkembang dan pada akhirnya tetap eksis mengawal perjalanan kaum muslimin memasuki abad modern nanti. Ketiga kerajaan tersebut adalah Kerajaan Safawi di Persia (Iran), Mogul di India, dan Turki Utsmani (Ottoman) di Turki. Berikut kejelasannya.

 

Dinasti Turki Utsmani/Ottoman (1300-1922 M)

Berdirinya kerajaan Turki Utsmani (Ottoman) bermula ketika Utsman diangkat oleh Sultan Alauddin Kaikobad sebagai panglima perang mengantikan orang tuanya yang wafat. Sepeninggal sultan Alauddin tahun 1300 Masehi, Utsman mengambil alih kekuasaannya dan secara resmi menetapkan berdirinya Kerajaan Turki Utsmani. Sejak berdirinya ini hingga runtuh pada rahun 1922 M., kerajaan Turki Utsmani diperintah oleh 36 sultan dan berlangsung lebih dari tujuh abad lamanya. Para sultan kerajaan Ottoman rata-rata menganut faham Sunni.

Sebagai pendiri dan penguasa pertama Dinasti Ottoman, Sultan Utsman lebih banyak mencurahkan perhatiannya pada upaya memantapkan kekuasaan dan melindungi wilayahnya dari serangan luar, terutama dari kerajaan Bizantium di Eropa. Sepeninggal Utsman, ia digantikan putranya, Orkhan, yang terus mengembangkan wilayah kekuasaan Ottoman dengan melakukan ekspansi ke beberapa wilayah baru, seperti Broissa, Izmir di Asia Kecil, dan Ankara.

Ketika kkuasaan berada di tangan Murad I, kerajaan Ottoman berhasil menaklukkan banyak wilayah baru, seperti Balkan, Andrianopel, Macedonia, Sofia (Bulgaria), dan seluruh wilayah kerajaan Yunanai. Ekspansi berikutnya dipimpin oleh pengganti Murad I, yakni Bayazid I. Di bawah komandonya, kerajaan Ottoman berhasil merebut Benteng Philadephia, Gramania, dan Kirman (Iran).

Keberhasilan besar Bayazid I membuat gelisah Paus dan umat Kristen di Eropa, sehingga pada kisaran tahun 1396, tentara Hongaria yang dipimpin Raja Sijismond bergabung bersama pasukan Jerman dan Prancis guna menyerang kerajaan Ottoman. Pecahlah perang besar itu pada 25 September 1396 yang akhirnya dimenangkan oleh tentara Ottoman, sementara tentara Eropa mengalami kekalahan terbesar dan terparahnya.

Memasuki permulaan tahun 1400-an, di wilayah Asia Tengah dan Asia Barat timbul prahara besar dan berdarah yang disebarkan oleh pasukan Timur Lenk, seorang keturunan Mongol-Islam, yang menyebabkan keruntuhan beberapa dinasti yang berkuasa di sana. Kerajaan Ottoman pun tidak luput dari serangan si Timur Pincang itu. Bertepatan pada tahun 1402, Timur Lenk datang membawa 800.000 pasukannya menggempur kerajaan Ottoman. Tentara Sultan Bayazid I yang hanya berjumlah 120.000 orang tidak mampu menahan laju serangan besar itu, dan Bayazid pun tewas beserta sebagian besar pasukannya. Sejak saat itulah seluruh wilayah kerajaan Ottoman jatuh ke tangan Timur Lenk.

 

TIMUR LENK (1336-1404),[140] SANG PEMBAWA PETAKA

Nama Timur Lenk sudah tidak asing lagi di telinga kaum Muslimin, karena di tangannya lah kebesaran Islam yang sempat hidup menjadi hancur kembali untuk kesekian kalinya. Si Timur Pincang, demikian ia dijuluki, mula-mula hanya hanya seorang wazir di Samarkand. Timur Lenk kemudian melakukan persekongkolan dengan iparnya, Amir Husain, untuk memberontak kepada kepemimpinan Tughulg. Pada 10 April 1370, penyerbuan yang dilakukannya berhasil menewaskan Thughulg dan menjadikannya sebagai pemimpin tunggal karena ia juga membunuh saudara ipar sekaligus teman sekutunya, Amir Husain.

"Jika di alam ini hanya ada satu Tuhan, maka di bumi ini pun seharusnya hanya ada satu raja." Demikian semboyannya. Sejak itu, Timur Lenk menebar maut sebagaimana dilakukan Hulagu seabad sebelumnya. Khurasan, Afghanistan, Persia, dan Kurdistan, berhasil diluluhlantakkan. Bahkan di Afghanistan, ia membangun menara yang terbuat dari 2000 mayat dengan dibalut lumpur. Pada 1395, ia menyerbu Moskow, lalu balik lagi ke India -tempat ia konon membantai 80 ribu tawanannya. Kebiadaban terus ditebarkan. Pusat-pusat peradaban Islam dihancurkan kecuali Samarkand. Di tempat ini, ia malah membangun kota dengan mendatangkan bahan bangunan dari Delhi, India, dengan diangkut oleh gajah.

Di Aleppo, Syria, Timur Lenk membangun piramida dari sekitar 20 ribu kepala manusia. Di Baghdad, 20 ribu kepala penduduk dibantainya. Di Armenia, 4000 tentara musuh dikubur hidup-hidup. Sekolah dan masjid-masjid di sekitar Irak dihancurkan. Masjid Umayah di Damaskus dihancurkan sehingga tinggal dinding.

Timur Lenk juga menggempur dua kesultanan penting. Yakni kesultanan Usmani di Turki serta Mamluk di Mesir. Dalam pertempuran melawan Timur Lenk, Usmani dipimpin sendiri oleh Sultan Bayazid I. Dalam pertempuran berikutnya, perang di Ankara tahun 1404, Bayazid tertawan dan meninggal sebagai tawanan. Di Takrit -kota kelahiran Salahuddin Al-Ayyubi-Timur Lenk juga membangun piramida yang terbuat dari tengkorak manusia. Dinasti Mamluk di Mesir tak luput dari ancamannya. Apalagi pada saat itu Sultan Malik Zahir Barquq melindungi penguasa Baghdad yang melarikan diri. Namun, seperti yang terjadi saat menghadang pasukan Hulagu sebelumnya, Mesir akhirnya luput dari serangan Timur Lenk.

Serangan Timur Lenk benar-benar menghancurkan peradaban Islam secara total. Hanya Mesir saja yang selamat, selebihnya porak-poranda dibuatnya. Baghdad yang belum benar-benar pulih akibat serangan Hulagu Khan beberapa tahun sebelumnya, kini remuk kembali oleh kebiadaban si pincang ini.

Setelah wilayah Asia Barat dan Asia Tengah luluhlantak, kini giliran Cina di wilayah timur yang menjadi sasaran Timur Lenk. Namun saat hendak melaksanakan invasi itu, Timur Lenk jatuh sakit dan akhirnya meninggal pada tahun 1404 M, tepat pada usia ke-70.

Dua orang anaknya, Muhammad Jehanekir dan Khalil saling memperebutkan kursi sang ayah. Terjadilah perang saudara hebat yang akhirnya dimenangkan oleh Khalil (1404-1404). Kepemimpinan Khalil tidak berlangsung lama, karena ia kemudian dikudeta oleh saudaranya yang lain, Syakh Rukh (1405-1447). Syakh Rukh dan anaknya, Ulugh Bey (1447-1449) memimpin negaranya dengan baik. Pada masa ini, ilmu pengetahuan sempat kembali berkembang namun tidak berlangsung lama karena pada 1469, kekuasaan keluarga Timur Lenk ambruk tak tersisa.

Timur adalah salah seorang pemimpin paling brutal dalam sejarah, khususnya sejarah Islam, dan membuat kehancuran luar biasa. Namun, ironisnya, Timur Lenk sendiri adalah seorang muslim. Kabarnya ia berpaham Syi'ah namun dekat dengan tarekat Naqsabandiyah yang banyak diikuti oleh kaum Sunni. Dalam sebuah riwayat dikisahkan, ia sangat menghormati para ulama dan ilmuan. Ia dengan sangat hormat pernah menerima sejarawan besar Ibnu Khaldun yang ditugasi oleh Sultan Faraj untuk berunding. Tapi walaupun demikian, noda hitam telah terlalu banyak ditorehkan Timur Lenk, dan terlalu banyak merah darah yang telah dibanjirkannya. Sejarah tidak akan dapat melupakan hal itu.

 

Kebangkitan Kembali Ottoman

Seiring kematian Timur Lenk, kerajaan-kerajaan yang dulu berada di bawah kekuasaannya, kini melepaskan diri satu per satu. Ada yang mendirikan kerajaan baru secara otonom dan ada pula yang meneruskan sisa-sisa kejayaan masa lalunya, di antaranya adalah kerajaan Ottoman. Di bawah kendali Sultan Murad II, kerajaan Ottoman bangkit kembali dan berhasil mengembalikan wilayah kekuasaan yang dulu sempat hilang akibat serbuan Timur Lenk. Setelah itu, Sultan Murad II kemudian melakukan ekspansi ke beberapa kawasan guna memperluas wilayah kekuasaannya. Secara berturut-turut pasukan Sultan Murad II berhasil mnaklukkan Venesia, Salonika, dan Hongaria.

Sepeningal Murad II, ia digantikan oleh Muhammad II yang bergelar al-Fatih (penakluk). Di bawah kekuasaan Muhammad II, kerajaan Ottoman melakukan ekspansi besar-besaran ke beberapa wilayah penting, seperti ke ibu kota Kerajaan Romawi, Konstatinopel (tahun 1453). Kerajaan Romawi yang sejak masa pemerintahan Umar bin al-Khatthab sangat sulit ditaklukkan, kini telah berada di bawah kekuasaan Islam melalui tangan Muhammad II.

Setelah Konstantinopel berhasil ditaklukkan, ibu kota kerajaan Ottoman dipindahkan ke kota ini dan diganti namanya menjadi Istanbul (yang berarti; Tahta Islam). Dari Istanbul inilah kekuasaan dinasti Ottoman semakin mudah menjangkau wilayah lain, sehingga pada masa ini, Serbia, Albania, dan Hongaria, berhasil ditaklukkan dan berada di bawah dinasti Ottoman. Diamping itu, jatuhnya Konstantinopel yang merupakan jalur perdagangan terpenting yang menghubungkan Eropa Barat dan Timur, membuat perekonomian Eropa bergantung spenuhnya pada Kerajaan Ottoman.

Meskipun Konstantinopel berhasil di taklukkan, namun Sultan Muhammad II tetap memberi kebebasan beragama kepada penduduknya. Di samping itu, Sultan Muhammad II juga tidak melakukan intevensi (campurtangan) terhadap persaoalan kepemimpinan agama lain. Sultan membiarkan orang-orang Kristen memilih ketua mereka, dan setelah itu Sultan hanya melantik kerua terpilih.

Puncak keemasan Dinasti Ottoman dicapai pada masa pemerintahan Sulaiman I. Pada masa ini, wilayah kekuasaan Dinasti Ottoman meliputi Aljazair, Mesir, Hijaz, Armenia, Irak, Asia Kecil, Balkan, Bulgaria, Bosnia, Yunani, Hongaria, dan Rumania, disamping juga menguasai tiga laut, yaitu Laut Hitam, Laut Tengah, dan Laut Merah. Karena luasnya wilayah yang dikuasai, maka Dinasti Ottoman menjadi kerajaan terbesar abad ini.[141]

Disamping berperan besar dalam hal perluasan wilayah, kerajaan Ottoman juga memberikan kontribusi besar atas tercapainya kemajuan di bidang ilmu pengetahuan, pendidikan, kebudayaan, penerjemahan, publikasi, agama, hukum, ekonomi, dan perdagangan. Dalam bidang kemiliteran, dinasti Ottoman berjasa besar dalam mengembangkan ilmu-ilmu terapan seperti ilmu maritim, teknik pembuatan mesin dan meriam. Sementara di bidang pendidikan, pada masa ini berdiri banyak sekolah-sekolah modern dengan spesifikasi bidang tertentu, seperti sekolah kedokteran, pembedahan, sekolah sastra, dan sekolah bahasa.

Dinasti Ottoman juga sangat gencar melakukan penerjemahan dengan menyediakan biro khusus dan percetakan khusus guna mendukung kelancaran penerjemahan. Di samping itu, penulisan buku-buku kedokteran, astronomi, ilmu pasti, sejarah, hingga penerbitan surat kabar[142] juga menandai kemajuan yang dicapai kerajaan Ottoman. Sementara di bidang agama, Dinasti Ottoman menjadikan syariat Islam sebagai satu-satunya sumber hukum negara, dan memilih madzhab Hanafi sebagai madzhab resmi negara.

Dinasti Ottoman mulai melemah ketika Sulaiman I meninggal dunia. Para sultan generasi penerus Sulaiman I tidak mempunyai wibawa di hadapan rakyat dan lemah dalam urusan pertahanan. Disamping itu, mereka suka berlebih-lebihan dan tidak mampu menata administrasi pemerintahan sehingga timbul banyak penyelewengan atas keuangan negara. Bahkan dalam perkembangan selanjutnya, di kalangan istana sering timbul perpecahan yang berujung pada perebutan kekuasaan. Inilah di antara sekian banyak faktor yang menyebabkan mundurnya kerajaan Ottoman.

Sementara dari sisi eksternal, tentara kerajaan Ottoman juga sering mengalami banyak kekalahan perang sehingga wilayah-wilayah yang dulu berada di bawah kekuasaannya kini mulai melepaskan diri satu persatu. Keadaan semakin parah ketika Napoleon Bonaparte, Singa Eropa dari Prancis, berhasil menguasai Mesir pada tahun 1798, yang disusul kemudian dengan jatuhnya Aljazair tahun 1830, dan Tunisia tahun 1881.

Tak berapa lama kemudian, Italia datang menguasai Afrika Utara tahun 1911, dan Inggris menguasai Mesir tahun 1882, dan Irak tahun 1917. pada saat yang sama, daerah-daerah lain ikut memisahkan diri dari kekuasaan Ottoman, seperti Rumania, Yunani, Macedonia, Albania, Cyprus, dan Bulgaria. Akhirnya jadilah kerajaan Ottoman sebagai The Sick Man of Europe (Orang Sakit dari Eropa) karena kondisi pemerintahannya kian hari kian ompong.

Kehancuran total kerajaan Ottoman terjadi pada pada tahun 1922, setelah sebelumnya mengalami kekalahan dalam perang dunia I karena berkoalisi dengan Jerman. Sebagai pihak yang kalah, wilayah kekuasaan Ottoman banyak yang dicaplok pasukan sekutu, termasuk dengan menduduki bagian-bagian tertentu dari ibu kota Istanbul. Kehadiran tentara sekutu yang didompleng oleh tentara Yunani membuat marah rakyat Turki, sehingga timbullah semangat mereka untuk mempertahankan tanah air dari penjajahan. Dari sinilah Musthafa Kemal Attaturk tampil ke depan memperjuangkan kemerdekaan Turki, sehingga ia kemudian dikenal dengan sebutan Bapak Bangsa Turki. Di bawah kekuasaan Musthafa Kemal, sistem kerajaan Ottoman dihapus dan digantikan dengan sistem republik. Berakhirlah sejarah panjang dinasti Ottoman yang sudah memerintah kurang lebih tujuh abad lamanya.

 

Dinasti Safawi di Persia (1501-1786 M)

Ketika Dinasti Ottoman mencapai puncak kejayaannya, di sebelah timur kerajaan itu, tepatnya di sekitar Laut Tengah hingga Teluk Persia, berdiri sebuah kerajaan baru yang dipimpin oleh Dinasti Safawiyah. Pendirinya bernama Ismail Safawi (Ismail Syah), seorang pimpinan Tarekat Safawiyah beraliran Syiah. Pada mulanya, tarekat Safawiyah hanyalah gerakan tarekat biasa. Namun karena pemimpinnya, Ismail Syah, banyak terlibat dalam urusan politik, akhirnya tarekat Safawiyah pun ikut terlibat mendukung perjuangan sang pimpinan.

Perjuangan Ismail Syah bermula ketika ia bersama para pendukungnya yang berasal dari Azerbaijan, Suriah, dan Anatolia, berhasil menaklukkan kerajaan Alaq Koyunlu dalam sebuah pertempuran dahsyat di Tabriz, ibu kota kerajaan Alaq Koyunlu. Di kota Tibriz inilah ia memproklamasikan diri sebagai raja (syah) dinasti Safawiyah. Dari situ pula kerajaan Safawi bermula.

Selama masa pemerintahannya, Ismail Syah berhasil melakukan perluasan wilayah ke daerah-daerah yang sangat luas. Baghdad, Khurasan, Syirwan, Heart, hingga barat daya Persia berhasil dirangkul dalam kekuasaannya. Sampai penghujung tahun 1510, daerah kekuasaan dinasti Safawi telah membentang luas dari kawasan Laut Tengah, melalui daerah antara Sungai Tigris dan Sungai Eufrat, hingga ke Teluk Persia (Daerah Bulan Sabit). Selain dipandang sebagai pemimpin politik, Ismail Syah juga dinilai sebagai pimpinan rohani, bahkan ia menyebut dirinya sebagai jelmaan Tuhan. Hal ini sesuai dengan keyakinan aliran Syiah yang menjadi paham resmi negara.

Puncak kejayaan Dinasti Safawi dicapai pada masa pemerintahan Syah Abbas (1585-1628). Banyak sekali keberhasilan dicapai pada periode ini, terutama dalam hal perluasan wilayah kekuasaan. Pada era kepemimpinan Syah Abbas ini, ibu kota kerajaan Safawi dipindahkan dari Qizwan ke Isfahan.

Pada periode-periode berikutnya, kerajaan Safawi sedikit demi sedikit mulai mengalami kemunduran. Raja-raja pengganti Syah Abbas tidak memiliki kekuatan karena lebih banyak menghadapi pemberontakan dan perpecahan di dalam negeri. Puncak kehancuran Dinasti Safawi terjadi pada tahun 1786 setelah sebelumnya sempat ditaklukkan oleh pasukan Nadir Syah, kepala suku Turki di wilayah Persia. Walaupun kerajaan Safawi telah runtuh, namun aliran Syiah sebagai paham resmi negara tetap mempunyai pengaruh kuat dan dianut oleh mayoritas penduduk Persia. Kondisi demikian terus bertahan hingga memasuki abad modern ini, dan Persia berganti nama menjadi Iran.

 

Dinasti Mogul di India (1526-1858 M)

Ketika si pembawa prahara, Timur Lenk, meninggal dunia tahun 1404, ia telah mempunyai banyak keturunan yang kemudian meneruskan kepemimpinannya. Namun karena mereka semua saling berebut kekuasaan, akhirnya terjadilah perang saudara berkepanjangan yang menyebabkan kerajaan menjadi lemah dan terpecah-pecah.

Salah seorang keturunan Timur Lenk yang masih berkuasa pada era 1950-an adalah Zahiruddin Muhammad Babur. Ia menjadi penguasa daerah Fergana di Asia Tengah menggantikan ayahnya, Umar Mirza. Sebagai keturunan Timur Lenk, Babur sangat terobsesi oleh kehebatan Timur Lenk yang berhasil menguasai kawasan yang sangat luas. Ia ingin mengulang sukses Timur Lenk menjadi penguasa tunggal yang tak tertandingi. Untuk mencapai cita-cita itu, Babur harus melakukan ekspansi ke kerajaan-kerajaan tetangganya, seperti Uzbekistan, Afganistan, dan Delhi (India). Karena itu ia kemudian mempersiapkan sejumlah besar pasukan guna merebut dua wilayah itu. Namun ketika berhadapan dengan tentara Uzbekistan tahun 1504, pasukan Babur mengalami kekalahan telak, bahkan ibu kota Fergana pun jatuh ke tangan penguasa Uzbekistan. Babur sendiri berhasil melarikan diri bersama sisa-sisa tentaranya ke kerajaan Safawi dan meminta perlindungan kepada raja Ismail I (memerintah tahun 1500-1524 M).

Selama berada di kerajaan Safawi, Babur melakukan konsolidasi kekuatan dengan meminta bantuan tentara kepada raja Ismail I. Berkat kerjasama ini, tentara Babur tumbuh menjadi kekuatan yang besar dan kuat. Karena itu, berangkatlah pasukan Babur menyerang kota Kabul, Afganistan, dan berhasil menguasainya pada tahun 1512. Babur kemudian memilih kota Kabul sebagai tempat berdomisili dan menyusun kekuatan baru guna menyerang kerajaan Delhi di India.[143]

Karena kekuatan kerajaan Delhi cukup besar, Babur memutuskan untuk bekerjasama dengan Daulat Khan dan Alam Khan, dua pejabat yang memberontak, guna bersama-sama melakukan penyerangan ke Delhi. Namun dalam penyerangan tersebut, ketiga kekuatan ini tidak berhasil menaklukkan Delhi. Mereka akhirnya mundur kembali ke Lahore, Pakistan.

Di Lahore, dua pasukan sekutu Babur itu menuduhnya tidak sungguh-sungguh membantu mereka menaklukkan Delhi. Dalam pandangan mereka, Babur hanya memanfaatkan tenaga mereka dan tidak mau berkorban demi persekutuan itu. Pada akhirnya, ketiga sekutu itupun terlibat pertempuran dahsyat yang berakhir dengan kemenangan di tangan Babur.

Pada tahun 1526, Babur bertolak menuju Delhi dengan kekuatan 25.000 tentara. Kedatangan pasukan Babur ini sudah di dengar oleh penguasa Delhi, sehingga berangkatlah 100.000 tentara dan 1000 pasukan gajah menyongsong kedatangan pasukan Babur. Kedua pasukan bertemu di Panipat I dan pecahlah perang besar nan dramatis itu. Ke 25 ribu tentara Babur berhasil mematahkan 101 ribu pasukan Delhi. Sehingga pada tahun itu pula Babur mendeklarasikan berdirinya kerajaan Mogul di India.

Selama masa pemerintahannya, Babur lebih banyak mengkonsentrasikan diri untuk melakukan perluasan wilayah atau menghancurkan pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan oleh penguasa-penguasa setempat. Setelah Babur meninggal (1530), ia digantikan oleh anaknya, Humayun (Nashiruddin Muhammad; 1530-1556). Pada masa ini kerajaan Mogul mengalami kemunduran. Banyak daerah-daerah yang lepas dan memisahkan diri dari kerajan Mogul. Bahkan Humayun sendiri pernah terusir dan menjadi pengungsi ke Persia. Untunglah penguasa Safawi, Syah Tahmasp, bersedia memberi bantuan guna merebut kembali kekuasaannya. Dengan demikian, kerajaan Safawi berjasa dua kali membantu kerajaan Mogul.

Humayun kemudian digantikan oleh Akbar I (Jalaluddin Muhammad Akbar; 1542-1605). Pada masa inilah kerajaan Mogul mencapai puncak kejayaannya dan terus bertahan hingga masa pemerintahan Aurangzeb (1658-1707). Selain luasnya wilayah kekuasaan, kerajaan Mogul pada masa ini juga mencapai keberhasilan di bidang ekonomi, pengembangan budaya, seni, dan arsitektur. Selama satu setengah abad, India di bawah kekuasaan Dinasti Mogul menjadi salah satu negara adikuasa. Jalur perdagangannya berhasil mencapai Eropa, Timur Tengah, Asia Tenggara, dan Cina.

Dinasti Mogul mengalami kemunduran sejak diperintah oleh Bahadur Syah I (1707-1712) dan mencapai puncak kehancuran pada masa pemerintahan Bahadur Syah II (1837-1858). Penjajah Inggris yang sejak pertengahan abad ke-18 sudah memasuki India, pada tahun 1858 mengusir Bahadur Syah II dari istananya dan manandai berakhirnya perjalanan panjang dinasti Mogul di India.

 

ALIRAN-ALIRAN PADA PERIODE INI

Secara umum, aliran-aliran teologi yang muncul pada periode ini hanya merupakan kelanjutan dari paham teologi yang sudah ada sebelumnya, akan tetapi dengan desain dan formula baru. Sebagaimana telah ditegaskan pada bab-bab sebelumnya, aliran Mutazilah mulai ditinggalkan oleh umat Islam sejak era pemerintahan al-Mutawakkil. Sebaliknya, aliran Sunni dan Syiah tetap konsis mengawal percaturan teologi Islam hingga berabad-abad berikutnya. Baik dalam Sunni maupun Syiah, muncul beberapa sekte baru yang masih merupakan bagian dari aliran besar tersebut.

Sekte Syiah Imamiyah, khususnya Itsna Asyariyah, yang sempat berkuasa dalam pemerintahan Bani Buwaihi di Baghdad, dan sekte Ismailiyah yang menguasai dinasti Fatimiyah di Mesir, terus bertahan hingga periode ini. Sekte Syiah Imamiyah justru menjadi pendukung utama berdirinya Dinasti Safawi di Persia (Iran), dan terus bertahan hingga memasuki abad modern ini, terutama di bekas wilayah kekuasaan Safawi seperti Iran, Irak, Teluk Persia, dan sebagian Afganistan. Sementara pengikut sekte Syiah Ismailiyah pada abad modern ini mulai menyusut dan hanya terdapat di India.

Di kalangan penganut Sunni, kegemilangan pemikiran al-Ghazali semakin mengokohkan aliran Asyariyah sehingga paham ini hampir dianut oleh mayoritas umat Islam di berbagai negara. Paham Sunni Asyariyah secara tradisional terus bertahan hingga berabad-abad lamanya dan tetap dengan memakai atribut dan nama lama, yakni Sunni Asyariyah atau Ahlussunnah wal Jamaah. Di Indonesia, aliran ini direpresentasikan oleh berdirinya gerakan Nahdlatul Ulama (NU) serta lembaga-lembaga pendidikan pesantren yang tersebar luas di seantero negeri.

Selain paham tradisional Asyariyah, aliran Sunni semakin berkembang dengan lahirnya sekte-sekte baru yang mengklaim dirinya sebangai pengikut Ahmad bin Hanbal, salah satu tokoh utama Sunni, tapi tidak mengaku sebagai pengikut Asyari. Sekte baru tersebut dinamakan dengan Aliran Salaf dan dipelopori oleh seorang ulama kenamaan, Ibnu Taimiyah. Paham salaf Ibnu Taimiyah ini pada abad-abad berikutnya semakin berkembang dengan melahirkan sekte cabang baru yang cukup banyak jumlahnya. Berikut kejelasannya;

 

Aliran Salaf Ibnu Taimiyah

Setelah Baghdad hancur dan dinasti-dinasti Islam lainnya berjatuhan, kezaliman pun merajalela dan kemaksiatan merebak di mana-mana. Para ulama tidak berdaya menghadapi kenyataan ini. Sementara kaum intelektual lebih banyak membebek (taqlid) pada apa yang telah ditelorkan para pendahulunya. Sebagian besar mereka tidak berupaya untuk melakukan inovasi-inovasi atau kreasi-kreasi baru yang dapat mengangkat kembali harkat dan martabat umat Islam. Sementara dalam masyarakat pun banyak berkembang kepercayaan-kepercayaan berbau takhayul, mitos, serta ajaran-ajaran klenik yang semakin menjauhkan mereka dari al-Quran dan Sunnah. Gejala seperti ini merupakan salah satu faktor penyebab mundurnya peradaban Islam.

Dalam situasi yang demikian itu, muncullah beberapa ulama yang ingin membangun kembali semangat keilmuan Islam yang sudah lama tenggelam. Salah satu dari mereka adalah Ibnu Taimiyah, seorang ulama dan intelektual penganut madzhab Hanbali (Sunni). Melalui tulisan-tulisannya, ia mengajak umat Islam untuk kembali pada ajaran al-Quran dan hadits, serta meninggalkan kepercayaan-kepercayaan lama yang berbau takhayul dan khurafat. Dalam pandangan Ibnu Taimiyah, ajaran Islam di masyarakat tidak boleh dipertahankan sebagaimana adanya (das sein), akan tetapi harus diwujudkan sebagaimana seharusnya (das solen) seperti yang dikehendaki oleh pembawanya, Nabi Muhammad Saw. Prinsip seperti inilah yang membuat gerakan Ibnu Taimiyah dikenal dengan nama aliran salaf.

Kembali ke salaf, menurut Ibnu Taimiyah, berarti mengembalikan ajaran Islam sesuai dengan waktu kedatangannya pertama kali. Ajaran yang demikian itu terlihat pada empat generasi pertama Islam; yakni generasi Nabi Saw., dan para sahabat seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, serta sahabat-sahabat lainnya; lalu generasi tabiin seperti Said bin Musayyab, Hasan al-Bashri, Imam Hanafi, dan Imam Malik bin Anas; kemudian generasi tabi al-tabiin seperti Imam Syafii, Imam Hanbali, dan al-Asyari; serta generasi atba al-tabi al-tabiin seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, dan para pengarang kitab hadits enam lainnya (kutub al-sittah).

Sebagai konsekwensi dari prinsip salafi ini, Ibnu Taimiyah banyak melakukan kritik terhadap ulama-ulama pendahulunya, yang dalam penilaiannya telah menyimpang dari ajaran kaum salaf. Orang-orang seperti al-Asyari, al-Ghazali, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, al-Farabi, al-Zamakhsyari, dan beberapa tokoh besar lainnya tidak luput dari kritik Ibnu Taimiyah. Menurutnya, para pendahulunya itu sudah tidak murni lagi menyiarkan ajaran Islam seperti yang dicontohkan oleh Nabi Saw., sahabat, serta tabiin. Mereka dinilai oleh Ibnu Taimiyah telah memasukkan unsur-unsur lain, seperti unsur filsafat dan tasawuf, ke dalam ajaran Islam. Karena itu, Ibnu Taimiyah mengajak umat Islam untuk kembali menuju ajaran yang murni, yakni ajaran kaum salaf, dan meninggalkan hal-hal baru yang dibawa para ulama yang tidak murni tersebut.

Selain mengajak kembali ke aliran Salaf, Ibnu Taimiyah juga mengkampanyekan keharaman taqlid bagi umat Islam. Seorang muslim diharuskan berijtihad dan dilarang hanya ikut-ikutan (taqlid) terutama dalam masalah keyakinan (akidah). Selain itu, Ibnu Taimiyah juga menyerukan pentingnya menghindari perdebatan teologis yang berlarut-larut. Artinya, menurut Ibnu Taimiyah, umat Islam harus menghidari hal-hal yang berbau polemik aliran, seperti perdebatan antara paham Mu'tazilah dan Jabariyah, Syiah dan Sunni, dan lain sebagainya, serta menjadikan tauhid sebagai penghayatan, bukan pemanis bibir belaka. Sementara mengenai ayat al-Quran dan hadits yang mutasyabihat, menurut Ibnu Taimiyah, harus dimaknai apa adanya dan tidak perlu ditafsiri atau ditakwil macam-macam. Sebab hanya Allah Swt. lah yang maha mengetahui makna yang dikandungnya.

Dalam perkembangannya, gerakan tajdid ala Ibnu Taimiyah ini mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan, terutama dari murid-murid Ibnu Taimiyah sendiri, seperti Ibnu Qayyim al-Jauziyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab. Ibnu Qayyim sendiri terus eksis mempertahankan ajaran yang diterima dari gurunya, sementara Muhammad bin Abdul Wahhab justru membuat aliran baru yang walaupun mempunyai semangat yang sama, namun sangat berbeda baik dalam penerapan maupun praktek penyebarannya (akan dijelaskan kemudian).

Selain dua tokoh di atas, aliran salaf juga diperjuangkan oleh tokoh-tokoh lain seperti Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Muhammad Rasyid Ridla, dan Sayyid Ahmad Khan. Tokoh-tokoh yang disebut terakhir ini berhasil menancapkan pengaruhnya ke berbagai negara muslim, termasuk ke Indonesia. Di Indonesia, pengaruh mereka dapat dilihat dari lahirnya beberapa organisasi sosial-keagamaan, seperti Persatuan Islam (PERSIS), Muhammadiyyah, al-Irsyad, dan Persatuan Umat Islam (PUI).[144] Namun dari semua aliran salaf tersebut, gerakan Wahhabi agaknya mempunyai keunikan tersendiri. Sebab gerakan yang dipelopori Muhammad bin Abdul Wahhab ini mempunyai pengaruh cukup besar dan memiliki corak perbedaan mendasar dengan ajaran pembawanya (Ibnu Taimiyah), terutama dalam hal praktek penyebaran.

 

Gerakan Wahhabi

Sebagaimana Ibnu Taimiyah, kemunculan gerakan Wahhabi juga didorong oleh timbulnya banyak kekacauan di beberapa daerah, semakin merosotnya semangat keagamaan umat Islam, khususnya di semenanjung Arab, serta tumbuhnya sikap fatalis dan kecenderungan mistik di kalangan umat. Tokoh utama dibalik berdirinya aliran Wahhabiyah ini adalah murid Ibnu Taimiyah sendiri, Muhammad bin Abdu Wahhab (1793-1787 M). Sebagai seorang agamawan dan intelektual, Muhammad bin Abdul Wahhab merasakan bahwa umat Islam di daerahnya sudah meninggalkan kesucian agama Nabi Muhammad Saw. ini. Mereka mulai tersusupi ajaran-ajaran takhayul, khurafat, dan mistik, dengan kecenderungan pemakaian alat-alat seperti azimat, kalung, penangkal penyakit, dan lain-;ain yang justru semakin menjauhkan mereka dari Allah Swt. Karena itu, Muhammad bin Abdul Wahhab kemudian melancarkan gagasan-gagasannya untuk memurnikan perilaku keagamaan umat Islam, terutama dalam bidang akidah.

Namun dalam perkembangannya, konsep yang diajukan Muhammad bin Abdul Wahhab justru mendapat tantangan keras dari masyarakat. Mereka menilai bahwa ajarannya justru akan merusak kesucian agama Islam. Menyadari bahwa ajarannya tidak akan mudah nditerima bila tidak didukung oleh kekuatan militer, akhirnya Muhammad bin Abdul Wahhab meninggalkan tanah kelahirannya, Nejd, dan bergbung dengan sebuah kabilah pimpinan Muhammad bin Saud (w.1179 H/1766 M) yang berada di kawasan al-Daryah. Dari sinilah keduanya selalu bersama berjuang menyebarkan ajaran-ajaran Wahhabi. Muhammad bin Abdul Wahhab berjuang di bidang pemikiran, sementara Muhammad bin Saud di bidang militer.

Ada dua ajaran inti gerakan Wahhabi; pertama, kembali kepada ajaran murni sebgaimana dicontohkan Rasulullah Saw., sahabat, tabiin, dan tabiit-tabiin; kedua, meningalkan segala bentuk penyimpangan seperti khuarafat dan takhayul, dan kembali kepada bangunan tauhid yang utuh dan hanya mengesakan Allah Swt.

Dengan prinsip semacam ini, gerakan Wahhabiyah dalam mendakwahkan ajaran-ajarannya cenderung mengandalkan gerakan bersenjata dan menghalalkan pembunuhan, terutama kepada pihak-pihak yang dianggap melakukan penyekutuan terhadap Allah swt. Perilaku masyarakat Arab yang terbiasa meminta bantuan melalui perantara syeikh, wali, atau tawassul dengan nama Nabi atau para wali, menurut aliran Wahhabiyah adalah perbuatan musyrik dan pelakunya boleh dibunuh.

Untuk menghilangkan perilaku semacam itu, pasukan Muhammad bin Abdul Wahhab menghancurkan kuburan-kuburan yang terbiasa dikunjungi peziarah, termasuk mengahncurkan kuburan Husein bin Ali di Karbala pada tahun 1802 yang sangat ramai dikunjungi kaum Syiah. Bahkan beberapa tahun kemudian, hiasan-hiasan yang berada di atas makam Nabi Saw. di Madinah juga dirusak, serta kiswa sutra yang menutup Kabah juga dihilangkan karena dianggap bidah.

Setelah mendapat tekanan pemerintahan Dinasti Ottoman, gerakan Wahhabi sempat melemah beberapa tahun lamanya, dan kemudian muncul kembali pada permulaan abad ke 20 Masehi. pada Kisaran tahun 1923-1924 Masehi, dengan dukungan Abdul Aziz bin Saud dan bala tentaranya, anggota gerakan Wahhabi berhasil menguasai Mekkah, Madinah, dan Jeddah. Sejak saat itulah secara resmi aliran ini mendirikan kerajaan Saudi Arabia dan aliran Wahhabi dijadikan paham resmi negara.[145]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Islam di Abad Modern

Berkembangnya Pluralisme Akidah

 

ABSTRAKSI

Pada zaman modern aliran-aliran dalam Islam tidak begitu mengalami perubahan berarti. Sunni dan Syiah, dengan segala variannya, merupakan dua aliran besar yang hingga kini dapat terus bertahan. Disamping keduanya sebenarnya terdapat banyak aliran-aliran kecil yang tidak begitu berpengaruh dalam masyarakat Islam. Ahmadiyah misalnya yang mendeklarasikan nabi baru setelah Nabi Muhammad Saw. Namun secara umum hal itu tidak berpengaruh kepada kebanyakan masyarakat muslim dunia.

Tantangan besar justru datang dari aliran tidak resmijika dapat disebut demikianyang berkeinginan menyetarakan semua agama. Paham ini dikenal dengan istilah pluralisme. Dalam konteks keindonesiaan, wacana pluralisme dibawa dan didakwahkan oleh kelompok yang menyebut dirinya sebagai liberal dan neo-modernisme. Dalam beberapa kesempatan, secara terus terang golongan ini menyejajarkan semua agama, dengan mengatakan bahwa semua agama berada dijalan yang tepat menuju Kebenaran. Selanjutnya, tulisan ini akan menjelaskan sejarah perkembangan, dan penolakan terhadap, pluralisme hingga menjadi korpus tertutup yang diikuti banyak muslim didunia.

 

Menggugat Pluralisme, Sebuah Bacaan Kritis

Pluralisme agama sebagai sebuah paham dapat dijelaskan sebagai paham yang, (i) berpandangan bahwa esensi semua agama sama, (ii) muncul sebagai reaksi, dan atau melanjutkan, globalisasi dan modernisasi, (iii)menyetarakan semua agama dalam satu tingkatan yang sejajar dan (iv)bertujuan untuk menghilangkan konflik antar agama. Gagasan ini dalam sejarahnya merupakan respon teologis dari kekacauan yang terjadi di Barat pada permulaan abad pertengahan, yang disebabkan oleh pertikaian tajam antara sekte-sekte Kristen pada saat itu. Kenyataan semacam kemudian mendapat respon dari para teolog Kristen dengan mengenalkan paham keterbukaan dan globalisasi yang berusaha meminimalkan perbedaan yang ada dengan mereduksi agama (baca; Kristen), dengan berbagai aliran didalamnya, hanya kedalam aspek esoteris seraya mengabaikan aspek eksoteris. Pemikiran ini kemudian berpengaruh secara umum pada masa selanjutnya.

Ada dua pandangan yang dapat disebut sebagai pluralisme sebagaimana pengertian diatas. Keduanya adalah teologi global dan paham kesatuan transenden agama-agama (the unity transcendent of religions). Aliran pertama berpijak pada pentingnya penyelarasan segala sesuatu, termasuk agama, pada fenomena global dan modernisasi. Pendekatan yang digunakan pandangan ini bersifat sosiologis dan humaniora. Solusi yang dihasilkan akhirnya bersifat sosiologis pula. Bermula bahwa dunia saat ini sedang mengalami penyempitan dengan globalisasi, akhirnya identitas budaya, ideologis bahkan agama harus lebur dan disesuaikan dengan zaman modern. Keyakinan yang diusung kelompok ini bahwa seluruh agama, karena desakan globalisasi, pada akhirnya akan berubah secara bertahap dan bertemu di satu titik yang melebur semua agama menjadi sebuah agama global atau yang di kenal sebagai global theology.

Berbeda dengan yang pertama, kelompok kedua justru nampak sebagai musuh dari globalisasi, yang menghilangkan nilai religius dan sakral agama-agama. Dalam usaha pembelaannya terhadap agama-agama kelompok ini mengatakan bahwa sebuah agama tidak dapat begitu saja tunduk pada kajian sosiologis, ia harus dipahami secara mendalam dan menyeluruh. Kelompok ini memilih kajian religius-filosofis dengan pendekatan tradisional[146] dan ingin menemukan esensi terdalam dari setiap agama. Alih-alih membiarkan setiap agama dengan ciri khasnya, kelompok ini ingin mengungkap kesamaan semua agama, terutama dalam hal-hal sakral dan mistis. Salah satu konsep yang dikenalkan aliran ini adalah konsep sophia perennis, yang dalam bahasa Arab disebut al-hikmah al-khlidah. Dalam konsep ini dijelaskan bahwa setiap agama memiliki tradisi sakral yang harus dipelihara, tanpa menganggap salah satunya sebagai lebih unggul daripada yang lain. Karenanya, pandangan bahwa agama-agama adalah beberapa jalan yang sama dan setara menuju puncak, merupakan keniscayaan pandangan ini. Kedua pandangan ini pada akhirnya akan menggiring pada kesimpulan adanya kemungkinan, atau perlunya, transformasi agama-agama pada masa mendatang.

 

Pluralisme Transendentalis

Aliran ini dinamakan sebagai pluralisme karena pada akhirnya menghasilkan kesimpulan bahwa semua agama pada tataran esoteris dan transenden adalah sama, walaupun sepintas terlihat bahwa pandangan ini bertentangan dengan pluralisme yang menggunakan pendekatan sosiologi, yang akan dijelaskan lebih lanjut. Sebutan transendentalis dilekatkan karena inti pemikiran aliran ini adalah kesatuan transenden[147] semua agama. Aliran ini pada mulanya dilatarbelakangi oleh pengalaman mistik para penggagasnya, seperti Rene Guenon dan Frithjof Schuon. Karenanya wajar bila kemudian oleh sebagian kalangan paham ini dinilai lahir dan berasal dari Barat.

Inti pembahasan yang menjadi pusat perhatian kaum transendentalisjika dapat disebut demikianadalah seputar esoterisme dan eksoterisme. Dalam memandang agama, aliran ini menilai bahwa didalam agama terdapat hakikat esoteris dan eksoteris, yang pertama disebut hakikat transenden yang tunggal dalam semua agama, sementara yang kedua disebut hakikat-hakikat religius yang merupakan bentuk formal dari setiap agama. Keragaman eksoteris agama-agama, bagi aliran ini adalah normal dan wajar karena berdasarkan pada, dan hidup dalam, perjalanan sejarah manusia. Dengan konsekuensi, tidak ada satu agamapun yang berhak mengakui bahwa ajarannya, terutama segi eksoteris darinya, adalah mutlak dan menjadi kebenaran tunggal, dan semua agama adalah bentuk-bentuk penjelmaan yang beragam dari Kebenaran tunggal. Secara teologis ada dua hal yang sepintas terlihat dapat memperkuat klaim mereka tentang kesamaan semua agama. Pertama, dalam persoalan ketuhanan, agama secara umum dapat diklaim sebagai memiliki tuhan yang sama. Namun ternyata hal ini hanyalah pandangan sekilas saja. Jika diteliti lebih lanjut ternyata ada perbedaan serius dalam konsep ketuhanan agama-agama yang ada. Kedua, dalam tataran moral-etika, seluruh agama mengajarkan nilai-nilai kebaikan. Sekalipun dalam hal ini segera nampak bahwa seluruh agama tidak ada yang mengajarkan kejahatan, namun hal itu tidak berarti bahwa semua agama sama-sama benar. Kesejajaran agama-agama mungkin terjadi dalam rangka dialog tentang moral-etis, namun ia menjadi tidak logis saat ditarik ke dalam wilayah teologi dan metafisika yang merupakan hal yang paling mendasar dalam agama.

Dalam pandangan fiqh, keempat madzhab fiqh sepakat bahwa orang yang tidak mempercayai bahwa orang yang memeluk agama selain Islam adalah kafir, atau meragukan bahwa mereka kafir atau menganggap agama mereka tidak salah adalah dengan sendirinya dia menjadi kafir meskipun dia memeluk dan mempercayai Islam.[148] Dalam Islam tidak dikenal adanya pemisahan horisontal antara yang esoteris (batin) dan eksoteris (lahir). Yang dijelaskan oleh Nabi Saw. adalah kesinambungan vertikal dari eksoteris menuju esoteris yang lebih tinggi, tanpa adanya inkonsistensi pada tiga tahapan kenaikan spiritual; yang dikenal dengan trilogi Islam, iman ihsan[149]. Dalam kerangka ini haruslah dipahami bahwa pemisahan ketiganya dalam tataran praktis menjadi tidak relevan.

Konsep ketuhanan yang dijelaskan Islam jelas berbeda dengan konsep ketuhanan agama lain. Kristen misalnya, yang mengenal trinitas dalam doktrin ketuhanannya dan Hindu yang mengenal trimurti. Dan selanjutnya kesatuan transenden semua agama, seperti pendapat yang diajukan kaum transendentalis, adalah suatu hal yang tidak mungkin, karena bermula dari perbedaan dalam menjelaskan konsep ketuhanan.

 

Pluralisme Global, Sebuah Usaha Globalisasi Akidah

Dimuka telah dijelaskan bahwa pluralisme adalah paham yang meyakini bahwa semua agama adalah sama. Namun berbeda dengan aliran pertama yang mengggunakan tradisi mistis agama, kelompok ini menggunakan pendekatan sejarah-sosiologis. Dalam pluralisme global agama dipahami sebagai himpunan tradisi kebudayaan disatu sisi, dan keimanan yang sangat pribadi disisi lain. Pemahaman semacam ini bermula dari sebuah paraigma tentang keharusan mengkaji ulang istilah agama. Hal ini dipahami dalam kerangka antropologis (ilmu kemanusiaan-sekular). Pandagan yang demikian terhadap agama-agama menghasilkan kesimpulan bahwa semua agama adalah sama, karena ia adalah keyakinan ideologi dan falsafah hidup yang dikebal manusia. Salah satu usul yang mereka kemukakan adalah terbentuknya apa yang disebut agama global atau sekurang-kurangnya teologi global.

Sejarah pluralisme agama di Barat bermula dari pandangan traumatis terhadap agama (baca; Kristen). Pada abad pertengahan banyak sekali polemik yang dialami gereja yang berhadapan dengan para ilmuan. Cerita mengenai inkuiasisi gereja terhadap ilmuan yang menentang doktrin gerrja sangat terkenal. Pada masa itu banyak ilmuan yang dibunuh bahkan di bakar hidup-hidup karena dianggap telah menyalahi doktrin yang ditetapkan gereja. Realita ini pada masa selanjutnya berakibat pada sikap anti gereja dan memunculkan pandangan bahwa agama (baca: gereja) tidak dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang berujung pada sikap sekularisme (pemisahan antara agama dan non-agama). Pandangan yang disebut terakhir ini menghasilkan sebuah kecenderungan umum untuk membaca setiap fenomena yang terjadi melalui pendekatan kemanusiaan, bahkan hal ini menjadi satu-satunya pandangan yang populer di Barat. Kecenderungan ini terus berlangsung dala memahami agama, yang direduksi menjadi sebuah produk budaya yang berkembang dan hidup seiring dengan perkembangan manusia, yang oleh sebagian kalangan liberal Indonesia disebut organisme hidup (living organism), yang telah, sedang dan akan terus berubah.

Selain itu perdebatan teologis mengenai Yesus dalam agama Kristen juga memberi pengaruh yang sangat dominan dalam kebingungan Barat dalam menentukan teologi Kristen yang final. Dalam sejarahnya doktrin kristiani yang dikenal dengan trinitas baru dikenal pada konsili (pertemuan) Nicea yang dilaksanakan pada tahun 325. Konsili ini disponsori oleh kaisar Romawi, Konstantin, yang kemudian menghasilkan kesepakatan tentang dasar-dasar teologi Kristen, diantaranya tentang ketuhanan Yesus yang diputuskan melalui pemungutan suara. Konstantin sendiri pada saat itu mempertuhankan Sol Invictus, yang merupakan dewa matahari kaum pagan. Dalam buku The Messianic Legacy disebutkan bahwa pengaruh paganisme Konstantin sangat besar pada agama Kristen. Hal ini terlihat dengan perubahan perayaan hari besar agama Kristen. Hingga abad ke-4, hari kelahiran Yesus diperingati pada 6 Januari. Sedangkan tradisi persembahan sol invictus jatuh pada tanggal 25 Desember, yang kemudian ditetapkan sebagai hari natal bagi orang kristen. Sejak usainya Konsili Nicea perdebatan tetang ketuhanan yesus seolah tak pernah berakhir. Hingga kini tidak ada kepastian teologis tentang ketuhanan yesus. Ketidakpastianatau dapat disebut kebingunganini kemudian disebarkan ke seluruh dunia melalui globalisasi yang berkedok peningkatan kehidupan yang lebih baik. Belum selesai

Hal ini sangat berlawanan (kontradiktif) dengan fakta yang terjadi pada Islam

 

 

 

GLOBALISASI

1.       KETUMPULAN METODOLOGI (BARAT AN SICH)

2.      TIDAK MAU MEMAHAMI DARI DALAM

3.      MENAFIKAN SUNNATULLAH BAHWA PERBEDAAN AKAN SELALU TERJADI

4.      MEWARISI WATAK ORIENTALIS YAG MEMANDANG PERADABAN BARAT SEBAGAI SUPERIOR DAN TIMUR SEBAGI INFERIOR (MANUSIA BARAT; MANUSIA PENUH/ MANUSIA TIMUR; SETENGAH MANUSIA).

5.      FRANCIS FUKUYAMA, THE END OF HISTORY

6.      pembaratan ritualitas

KESIMPULAN SEJARAH

 

ABSTRAKSI

Jika di amati dengan seksama, rangkaian sejarah di muka memberikan kesan bahwa dalam Islam terdapat empat corak pengamalan akidah. Keempat corak tersebut cukup memberi kontribusi dan menyemarakkan diskursus ilmu tauhid dari masa ke masa. Mari kita lihat satu-persatu keempat corak itu:

 

1. Masa Persatuan

Corak pertama adalah tauhid di masa Rasulullah Saw. Tauhid pada masa Rasulullah Saw. dan masa sahabat merupakan sebuah keyakinan dan kepercayaan serta pengamalan menyeluruh terhadap sendi-sendi ajaran Islam. Tauhid pada masa itu tidak dibahas secara panjang lebar atau diulas terlalu dalam. Tauhid pada masa ini tidak lain adalah ruh keimanan yang terpatri dalam hati para sahabat, dan ruh pengamalan yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Pembicaraan mengenai sifat-sifat Allah Swt. pada masa hidup Rasulullah Saw. tidak berlangsung terlalu jauh, sebab jika para sahabat menemukan suatu kejanggalan atau kesulitan, mereka dapat menayakannya langsung kepada beliau. Dan jawaban yang disampaikan Rasulullah Saw. sudah cukup memuaskan hati dan menjadi jawaban final yang tidak perlu dipertanyakan kembali. Nabi SAW. pun selalu bersikap terbuka menerima beragam persoalan yang diajukan umatnya, sehingga setiap jawaban yang beliau sampaikan selalu ditaati dan dilaksanakan apa adanya oleh para sahabat. Demikian pula dalam masalah dalil-dalil yang tertera dalam al-Quran, para sahabat menerimanya sebagai akidah dan tidak terlalu jauh memperbincangkan atau melakukan penafsiran yang bermacam-macam.

Dari sini dapat disimpulkan, generasi awal menjalankan dan mengajarkan Islam secara utuh, seimbang, mendalam, dan komprehensif. Mereka tidak menonjolkan salah satu bidang, sementara bidang yang lain dilupakan. Ketika mereka memperhatikan aspek batiniyah, mereka tidak melupakan aspek lahiriyah. Ketika mereka mengejar urusan ukhrawi, mereka tidak melalaikan urusan duniawi. Pendek kata, mereka memberi perhatian terhadap akal, ruh, dan jasad secara menyeluruh dan seimbang. Khusus dalam bidang akidah; keyakinan mereka tidak hanya terlontar lewat mulut, tapi juga terwujud dalam pengamalan syariat sehari-hari.

Ketika Abdullah bin Amr bin 'Ash melakukan puasa terus menerus setiap harinya, shalat malam hingga tidak tidur, serta meninggalkan kewajibannya sebagai suami terhadap istrinya, maka Rasulullah SAW. menegurnya. Beliau bersabda: "Wahai Abdullah, sesungguhnya matamu mempunyai hak atasmu, keluargamu punya hak atasmu, istrimu mempunyai hak atasmu, dan tubuhmu punya hak atasmu; maka berikanlah setiap yang mempunyai hak atas hak yang dimilikinya."

Keberadaan Rasulullah Saw. juga sangat membantu sahabat dalam menjalankan ajaran Islam secara sempurna, yakni dengan melihat langsung contoh teladan yang beliau berikan. Sebagaimana kita maklumi, Nabi SAW. menjalani kehidupan seperti anggota masyarakat pada umumnya. Beliau bergaul bersama para sahabat, baik saat berada di rumah, di masjid, di pasar, di jalan, di dalam perjalanan ataupun tidak. Kehidupan Nabi SAW. yang sederhana dan bersahaja, baik sebelum maupun setelah hijrah, membuat para sahabat dapat dengan mudah mengunjungi dan berbicara dengan beliau kapan saja dan dimana saja. Nabi dapat ditemui kapan saja kecuali bila beliau sedang beristirahat, sebagaimana diajarkan oleh al-Quran. Kemudahan untuk melihat, berbincang, atau bertanya langsung kepada beliau membuat seluruh tindakan ataupun ucapan Nabi SAW. dengan mudah menjadi tumpuan dan suri teladan.

Pada masa al-khulafa al-rasyidin, terutama di masa pemerintahan khalifah pertama, Abu Bakar, dan khalifah kedua, Umar bin al-Khatthab, umat Islam masih tetap berpegang teguh terhadap dasar-dasar akidah yang diwariskan Rasulullah Saw. Jadi meskipun pada masa ini muncul berbagai persoalan dan perbedaan pendapat di kalangan sahabat, namun hal itu tidak sampai mengurangi atau meruntuhkan sendi-sendi keimanan dan keyakinan akidah mereka. Perbedaan yang timbul hanya bersifat praktis, terutama dalam bidang politik dan hukum-hukum furuiyyah. Persoalan-persoalan tersebut tidak sampai menyentuh bidang akidah.

Selain itu, pembahasan masalah akidah secara ilmiah pada masa Abu Bakar dan Umar belum begitu menonjol, oleh karena umat Islam pada masa itu lebih banyak mengkonsentrasikan energi guna mempertahankan persatuan dan kesatuan, atau melakukan perluasan wilayah. Tak heran bila para sahabat mampu memahami dan mengimani keseluruhan kandungan al-Quran tanpa berusaha mencari-cari penafsiran atau penakwilan yang macam-macam. Mereka menyematkan sifat kepada Allah Swt. sesuai dengan apa yang tertera dalam al-Quran tanpa berusaha mencari sisi lain daripadanya. Mereka selalu berupaya menyucikan Allah Swt. dari segala sifat yang tidak layak bagi kebesaran-Nya. Jika para sahabat menjumpai ayat-ayat mutasyabihat, maka mereka mengimaninya secara penuh dan menyerahkan penakwilannya kepada Allah Swt.

 

2. Timbulnya Perpecahan

Sejak meninggalnya khalifah ketiga, Utsman bin Affan, di tubuh umat Islam mulai timbul bibit-bibit perpecahan. Dari situ kemudian muncul aliran-aliran dan kelompok-kelompok politik yang sama-sama berusaha mempertahankan pendapatnya sendiri. Dari situ kemudian muncul pertanyaan di kalangan umat Islam mengenai hakikat dosa besar dan apa hukuman yang harus diterima oleh pelakunya.

Pembicaraan mengenai dosa besar ini kemudian berkembang lebih jauh, yakni apakah pelaku dosa besar masih termasuk mukmin atau sudah kufur? Lalu sebatas mana pengertian dan batasan mukmin atau kafir dalam pandangan Islam, serta sejauh mana hubungannya dengan pekerjaan lahir? Dari pertanyaan-pertanyaan semacam ini muncul tiga aliran: pertama, aliran Khawarij yang berpendapat bahwa pelaku dosa besar adalah kafir; kedua, aliran Murjiah yang menganggap pelaku dosa besar tetap mukmin; dan ketiga, aliran Mu'tazilah yang tidak menganggapnya kafir maupun mukmin, melainkan berada di antara dua posisi itu (al-manzilah baina al-manzilatain).[150]

Dari sini dapat disimpulkan bahwa perdebatan-perdebatan teologis antar sekte yang muncul pada periode ini lebih banyak disebabkan oleh persoalan-persoalan politis, yang kemudian digeret ke persoalan akidah. Hal ini tampak dalam peristiwa tahkim yang kemudian melahirkan golongan Khawarij sebagai pihak yang menolak, dan golongan Syiah sebagai pihak yang mendukung. Kemunculan keduanya semula didorong oleh masalah politik, namun akhirnya beralih ke wilayah akidah.

Pada masa penerintahan Bani Umayyah, ketika kekuasaan Islam semakin luas dan pemeluk Islam semakin banyak, muncullah wacana-wacana akidah yang semakin luas dan bebas. Contohnya adalah wacana seputar qadar (kekuasaan Allah Swt.), yang sejak masa Nabi Saw. amat jarang ditemui, kini sudah sangat vulgar dibicarakan. Dari perdebatan itu akhirnya muncullah aliran-aliran baru, seperti Qadariyah, yakni aliran yang meyakini bahwa manusia mempunyai kebebasan berbuat dan berkehendak. Sebagai lawannya, timbullah paham Jabariyah. Menurut aliran ini, manusia tidak mempunyai kebebasan berkehendak maupun berbuat, sebab segala perbuatan manusia telah ditentukan oleh Alah Swt.

 

3. Sistematisasi Akidah

Dalam perkembangan selanjutnya, persoalan akidah tidak hanya diperdebatkan secara oralis melalui forum-forum diskusi, melainkan sudah diperdebatkan secara polemis melalui buku-buku. Pembahasan ilmu tauhid pun tidak hanya berhenti pada tataran telaah argumentatif, tapi sudah disusun melalui metodologi dan epistemologi yang sistematis dan dengan argumen yang berlipat-lipat. Washil bin Atha misalnya, ia menulis Kitab al-Tauhid, Kitab al-Futya, dan Kitab al-Manzilah baina al-Manzilatain guna menyebarkan aliran Mutazilah. Begitu juga dengan Amr bin Ubaid; ia berupaya meruntuhkan teori-teori akidah kaum Qadariyah melalui kitabnya, al-Radd ala al-Qadariyah. Sementara Imam Hanafi menyusun kitab al-Fiqh al-Akbar guna mengukuhkan akidahnya yang diklaim sebagai akidah warisan Nabi Saw. dan sahabat-sahabatnya (Sunni).

Masuknya filsafat Yunani ke dunia Islam pada periode ini semakin menyemarakkan diskursus akidah di kalangan umat Islam. Aliran pertama yang sangat dipengaruhi filsafat adalah Mutazilah, sehingga ajaran tauhid mereka cenderung rasional dan liberal. Pemerintahan al-Mamun yang memang menaruh minat cukup besar terhadap filsafat, akhirnya menjadikan aliran Mutazilah sebagai madzhab resmi negara. Akibatnya, pihak pemerintah cenderung memaksa para pegawai pemerintah dan tokoh masyarakat untuk menganut paham Mu'tazilah. Dari sinilah kemudian timbul perlawanan di berbagai pihak terhadap ajaran Mutazilah, yang pada akhirnya melahirkan paham Ahlussunnah wal Jamaah (Sunni). Di Baghdad hadir Abu al-Hasan al-Asyari, di Samarkhan ada Abu Manshur al-Maturidi, dan di Bukhara terdapat Abu al-Yusr Ali al-Bazdawi. Mereka semua menggelorakan semangat perlawanan terhadap faham Mu'tazilah dan mengikrarkan diri sebagai pengikut ahli hadits (Imam Ahmad bin Hanbal) yang mewarisi akidah Nabi Saw. dan para sahabatnya (Sunni).

Pada masa-masa berikutnya, dua aliran ini (Mu'tazilah dan Sunni) nyaris mendominasi percaturan diskursus tauhid umat Islam, disamping aliran Syiah yang sesekali muncul ke permukaan. Ketiganya terus berkompetisi memperebutkan kantong-kantong suara umat Islam. Perbedaannya, jika Sunni semakin mendapat simpati, maka Syiah cenderung jalan di tempat, dan Mu'tazilah justru semakin anjlok.

Pada permulaan abad ke-5 Hijriyah, aliran Mu'tazilah akhirnya mati sama sekali, dan tinggallah Syiah dan Sunni yang terus bertahan. Pada abad ini, gerakan kembali ke aliran salaf yang digelorakan Ibnu Taimiyah beberapa abad sebelumnya, berhasil melahirkan gerakan-gerakan baru di kalangan kaum Sunni, seperti Wahhabi di Saudi Arabia dan Muhammadiyah di Indonesia. Sementara aliran-aliran Sunni lainnya, seperti Asyariyah dan Maturidiyah, juga terus bertahan dan bahkan melahirkan gerakan baru pula, seperti Nahdlatul Ulama di Indonesia.

 

4. Pluralisme Akidah

Memasuki permulaan abad millenium ini, muncul sebuah madzhab baru yang menamakan dirinya sebagai gerakan teologi pluralis (akidah yang terbuka). Aliran yang dipromotori oleh Jaringan Islam Liberal (JIL) ini ingin membangun akidah yang baru sama sekali, yakni akidah yang terbuka menerima semua kepercayaan dan semua ajaran agama tanpa terkecuali.

Pada awalnya, kemunculan gerakan ini lebih didorong oleh rasa bosan atas racikan teologi lama yang mereka nilai sudah aus dan ketinggalan jaman. Karena itu, mereka ingin membuat konsep baru yang benar-benar berbeda dengan konsep teologi yang pernah ada sebelumnya. Dalam pandangan mereka, pola masyarakat modern mengharuskan umat Islam untuk bersikap toleran dan terbuka menerima keyakinan pihak manapun, termasuk dari pihak yang berbeda agama. Karena itu, mereka menarwakan formulasi baru dalam masalah akidah, yakni akidah yang terbuka menerima ajaran apapun, termasuk ajaran non-Islam.

 

KESIMPULAN AKHIR

Dari semua uraian di muka, kita dapat menarik titik simpul bahwa ajaran tauhid sejak masa Nabi Saw. hingga abad modern ini terus berkembang dan berubah-ubah, baik dari sisi ajaran maupun pola gerakannya. Tauhid yang pada masa Nabi Saw. dan sahabat hanya dimaknai sebagai penghayatan dan pengamalan, kini sudah bergeser menjadi (sekedar) wacana pemikiran. Akidah yang oleh Nabi Saw. dan sahabatnya dijadikan media peneguh keyakinan hati, disamping pendorong terlaksananya amal-amal ibadah, kini hanya menjadi bahan polemik dan pemanis bibir belaka (bahkan terkadang dibuat sarana mencari uang?).

Nah, kalau kita sepakat bahwa generasi yang paling patut dan (sudah seharusnya) kita ikuti adalah generasi Nabi Saw. dan sahabat-sahabatnya, maka kesimpulannya, corak akidah mereka lah yang harus kita ikuti. Ada tiga hipotesa yang membuat kami berkesimpulan semacam ini;

(1). Jika kita hendak mengaca pada tauhid periode tabiin atau periode munculnya firqah-firqah, maka kita akan terhalang oleh kecenderungan menguatnya kepentingan antar golongan. Sebab perdebatan teologis antar golongan pada periode ini lebih banyak didorong oleh adanya unsur politis dan kepentingan tertentu. Kecenderungan mau menang sendiri dan tidak bersedia menerima pendapat pihak lain, kiranya sudah cukup menjadi bukti bahwa akidah yang dipertahankan masing-masing golongan lebih banyak didasarkan pada kepentingan golongan (sektarian), bukan untuk mencari kemurnian akidah.

(2). Jika kita hendak mengikuti corak tauhid era penulisan kitab-kitab akidah, yakni sejak penghujung era pemerintahan Bani Umayyah hingga runtuhnya dinasti Bani Abbasyiah, maka kita akan terbentur oleh munculnya polemik yang tak berujung pangkal. Artinya, ajaran tauhid yang berkembang pada masa keemasan Islam ini banyak yang bersifat polemis dan berbentuk perdebatan yang bertujuan saling menjatuhkan antara satu sekte dengan sekte lainnya. Apalagi pada masa itu filsafat Yunani sudah masuk ke dunia Islam, sehingga persoalan-persoalan khusus yang sebenarnya tidak perlu diperbincangkan menjadi bebas diobral dengan perangkat metodologis filsafat. Akhirnya hal-hal yang dulunya oleh Nabi Saw. dilarang untuk dibicarakan, misalnya mengenai zat Allah Swt., pada periode ini begitu vulgar dibicarakan, seakan-akan para teolog periode ini sudah mampu menembus tirai-tirai rahasia Ilahi. Akibatnya, kegersangan akidah menimpa umat Islam. Materi ilmu tauhid pun hanya berhenti di mulut dan berkembang melalui ruang-ruang diskusi saja, sementara sisi serap nurani dibiarkan hampa dan aspek pengamalan akidah menjadi terbengkalai. Padahal aspek pembenaran nurani adalah pelabuhan terakhir dari tujuan tauhid itu sendiri.

(3). Bila kita hendak menerima upaya pengabungan akidah antar agama, seperti didengung-dengungkan oleh para pemikir kontemporer, maka absurditas peran akidah pun tidak dapat terelakkan. Akidah sebagai media pengesaan dan bukti ketundukan seorang hamba kepada Sang Pencipta, akan sulit dicapai bila kita bersedia bertoleransi dengan mengakui bahwa Tuhan itu berjumlah tiga, misalnya, atau agama yang diturunkan oleh Allah Swt. tidak lebih dari sekedar simbol kepatuhan belaka. Keharusan memeluk agama Islam yang didakwahkan Allah Swt. melalui perantara Muhammad Saw., tidak akan ada artinya bila akidah semua agama kita anggap sama. Lalu untuk apa Muhammad Saw. diutus bila ujung-ujungnya semua agama sama saja? Bukankah dengan demikian Allah Swt. hanya main-main mengutus Muhammad Saw.? Sungguh absurd dan irasional.

Karena itu, sudah selayaknya kita kembali ke jalur yang fitri; jalur yang diajarkan oleh Muhammad Saw. bersama sahabat-sahabatnya. Jalur yang tidak memerlukan penalaran analogis maupun filosofis, namun mampu menyirami hati nurani dengan sinar-sinar keimanan dan keyakinan yang teguh dan mantap. Dan itu semua bisa kita peroleh dari perilaku bertauhid Nabi Saw. bersama sahabat-sahabatnya.

Sebagaimana kita ketahui, generasi awal yang terdiri dari para sahabat dan tabi'in menerima dan mengajarkan Islam secara utuh, seimbang, mendalam dan komprehensif, tanpa menonjolkan salah satu bidang. Ketika mereka menguatkan aspek batiniyah, mereka tidak melupakan aspek lahiriyah. Ketika mereka mengejar urusan ukhrawi, mereka tidak melalaikan urusan duniawi. Ketika mereka meyakini akidah, mereka tidak meninggalkan akhlak dan syariah. Pendek kata, mereka memberi perhatian terhadap akal, ruh, dan jasad secara menyeluruh dan seimbang.

Hal ini merupakan bukti bahwa Nabi Saw. dan sahabat-sahabatnya memposisikan ajaran Islam pada jalur-jalur yang fitrah. Jalur yang fitrah berarti memposisikan semangat bertauhid agar sesuai dengan fitrah ketuhanan dan fitrah kemanusiaan. Fitrah ketuhanan adalah pemosisian Tuhan sebagai entitas yang tak mungkin dijangkau nalar, sementara fitrah kemanusiaan berarti meletakkan nalar sesuai batas-batas yang dimilikinya. Hal inilah yang menjadi pondasi tauhid para sahabat; menjalankan tauhid pada area batas nalar yang fitrah, dan memposisikan tirai ketuhanan di luar jangkauannya.

Berbeda dengan masalah penciptaan alam semesta, Allah Swt. justru mendorong agar kita selalu meneliti dan memikirkannya. Dan itu disadari betul oleh Nabi Saw. dan sahabat-sahabatnya. Karena itu, area pemikiran mereka hanya terbatas pada fakta penciptaan ini. Artinya, untuk mengetahui zat Allah Swt. tidak perlu dengan memikirkan zat-Nya, tapi pikirkanlah bagaimana ciptaan-Nya. Pikirkan bagaiamana Allah Swt. menata alam semesta sedemikian teratur dan sistematis. Pikirkan bagaimana Allah menghiasi alam semesta sedemikian indah. Sedangkan manusia, atau makhluk apapun selain Allah Swt., jangankan menciptkan dan mengatur alam semesta, membuat seekor lalatpun pasti tidak mampu (al-Hajj: 73). Selain itu, lihat pula alam sekeliling, bagaimana hujan diturunkan, kemudian bumi nan subur ini terbelah, lalu muncullah benih-benih biji-bijian yang kemudian membesar menjadi pepohonan, dan pada akhirnya menghasilkan buah-buahan guna memenuhi kebutuhan manusia (al-Abasa: 28).

Manusia juga diajak memikirkan asal penciptaan dirinya. Ia pada mulanya hanya setetes mani yang membuncah dari tulang-tulang rusuk, kemudian menjadi segumpal darah, lalu membesar menjadi segumpal daging yang kemudian dipakaikan tulang-belulang guna menguatkan dagingnya agar bisa tegak berdiri. Selain itu, pikirkan pula bagaiamana unta diciptakan, bagiamana langit ditinggikan, bagaiamana gunung ditegakkan, dan bagaiamana bumi dibentangkan (al-Ghasyiah:20). Pandang pula malam hari bagaiamana kilauan bintang-bintang di langit, rembulan dengan segala keindahannya, angin semilir yang menyejukkan jiwa, atau ketenangan malam hari dikala manusia telah terlelap tidur.

Ketika Nabi SAW. melihat sekumpulan sahabat sedang berkumpul dan termenung memikirkan sesuatu, beliau bertanya, Apa yang kalian pikirkan?. Kami sedang berfikir tentang Allah, jawab mereka. Mendengar jawaban itu, beliau justru bersabda: (jangan berpikir tentang Allah, tapi berpikirlah mengenai ciptaan-Nya). Tepat di titik inilah posisi tauhid generasi Nabi Saw. dan sahabat teruraikan, sehingga mereka mempercayai dan meyakini kebesaran dan keesaan Allah tanpa banyak bertanya atau mengandai-andai akan sesuatu yang tidak mungkin atau tidak masuk akal, tertutama yang berkaitan dengan Zat Allah Swt. Karena itu, kesimpulan kami adalah:

Tauhid yang paling tepat kita ikuti adalah tauhid yang dipraktekkan oleh Nabi Saw. dan sahabat-sahabatnya.[151] Wallahu Alam.

 



[1] Ensiklopedi Islam, Katalog Dalam Terbitan (KDT), pen. PT Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta, vol. Kelima tahun 1999, huruf A hal. 154-155.

[2] Selengkapnya, lihat Ahmad Fahmi Muhammad, catatan kaki al-Milal wa al-Nihal, Abdul Karim al-Syahrastani, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, tt. Jilid 3, hal. 647.

[3] Acara-acara yang biasa mendatangkan ahli syair, antara lain, pasar tahunan, resepsi keluarga, atau pelaksanaan ibadah haji. Lihat selengkapnya pada Ahmad bin Abi Yaqub bin Jafar al-Abbasi, Tarikh al-Yaqubi, Dar Shadir, Beirut, (t.t.), jilid 1 hal. 261.

[4] Ibid.

[5] Ibid. 1/255.

[6] Sejak sebelum kelahiran Nabi Muhammad Saw., Abu Thalib dikenal sebagai pemuka paling berpengaruh di lingkungan Suku Kuraisy. Selain Abu Thalib, tokoh-tokoh berpengaruh lainnya adalah Abdul Muthallib, Harb bin Umayyah, Zubair bin Abdul Muthallib, Abdullah bin Jadan, dan Walid bin al-Mughirah al-Mahzumi.

[7] Praktek-praktek pengundian nasib seperti ini biasanya dilaksanakan secara kolosal, terutama ketika terjadi musim kemarau yang berkepanjangan atau di saat musim paceklik melanda. Dalam pada itu, para penjudi juga mengadakan acara-acara lain seperti minum minuman keras. Lihat Al-Abbasi, Op. cit. I/270.

[8] Para pengunjung pasar biasanya berpakaian lengkap dan dengan membawa tutup kepala (cadar), walaupun dia seorang lelaki. Lihat, ibid.

[9] Ibid, I/270.

[10] Ensiklopedi Islam, Op. cit. jilid 3 huruf M, hal. 258,

[11] Peranan Kuraisy semakin penting setelah diutusnya Nabi Muhammad SAW., salah seorang keturunan Kuraisy, sebagai Rasul terakhir bagi umat manusia. Apalagi intonasi bahasa Arab (lahjah) yang digunakan al-Quran adalah lahjah Suku Kuraisy. Lihat Ahmad bin Abi Yaqub al-Abbasi, Op. cit. jilid 1, hal. 261.

[12] Ensiklopedi Islam, Op. cit. jilid 3 huruf K hal. 80.

[13] Ibid, hal. 78.

[14] Baik dari jalur ayah maupun ibu, silsilah Nabi Muhammad SAW. sampai kepada Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as. Periksa Ensiklopedi Islam, Op. cit. jilid 3 huruf K, hal. 78.

[15] Ibid. hal. 257.

[16] Abu al-Fath Muhammad bin Abdul Karim Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, tt. Jilid 3, hal. 648-649.

[17] Menurut Ahmad Fahmi Muhammad, kabilah pertama di luar suku Kuraisy yang melakukan penyembahan kepada Hubal adalah kabilah Bani Tuhamah. Lihat catatan kaki Ahmad Fahmi Muhammad, Op. cit. hal. 48-649.

[18] Syahrastani, Op. cit. hal. 649.

[19] al-Abbasi, Op. cit hal. 656.

[20] Talbiyah: bacaan yang biasa dilantunkan para jamaah haji saat melaksanakan haji. Menurut Ahmad Fahmi Muhammad, bacaan talbiyah ini berawal ketika Nabi Ibrahim as. mendapat wahyu dari Allah Swt. untuk menyerukan umat manusia agar mereka berhaji ke Baitullah. Mendengar perintah itu, Nabi Ibrahim tentu saja tercengang,Wahai Tuhanku, bagaimana aku bisa memperdengarkan suaraku (kepada seluruh umat manusia)? tanya Ibrahim. Pertanyaan ini dapat dimaklumi, mengingat Nabi Ibrahim saat itu sedang berada di Mekkah dan baru menyelesaikan pembangunan kembali Baitullah bersama putranya, Ismail as. Padahal untuk menyampaikan seruan itu, beliau harus berkeliling ke berbagai kawasan untuk menyampaikan kewajiban haji kepada umat manusia. Berserulah, dan Aku lah yang akan memperdengarkan suaramu kepada mereka semua demikian perintah Allah Swt. Setelah mendengar jaminan dari Allah Swt., Nabi Ibrahim pun berteriak dengan sekuat tenaga mengajak umat manusia untuk melaksanakan ibadah haji ke Baitullah. Berkat mukjizat dari Allah Swrt., suara beliau dapat terdengar di mana-mana. Orang-orang beriman yang mendengar seruan itu menjawab, (kami datang memenuhi seruan-Mu). Inilah awal mula bacaan talbiyah dalam prosesi ibadah haji. Lihat selengkapnya pada Ahmad Fahmi Muhammad, catatan kaki al-Milal wa al-Nihal, Abdul Karim al-Syahrastani, Op. cit., hal. 647-648.

[21] Mengenai macam-macam bacaan masing-masing suku, selengkapnya lihat al-Abbasi, Loc. cit. hal. 656.

[22] Ensiklopedi Islam, Op. cit. jilid 3 huruf M, hal. 258, dan al-Abbasi, Loc. cit. hal. 257.

[23] al-Abbasi, Op. cit. 1/261

[24] Ibid.

[25] Abdul Wahhab Khallaf, Khulashah Tarikh al-Tasyri al-Islami, al-Dar l-Kuwaitiyah, Kuwait, cet. ketiga, 1388 H./1968 M. hal. 9-10. Disamping itu, ayat-ayat Makkiyah semuanya menggunakan redaksi (wahai manusia) dalam menyapa obyek dakwahnya, sedangkan ayat-ayat Madaniyah umumnya menggunakan redaksi (wahai orang-orang yang beriman). Menurut Muhammad al-Hudlari, redaksi dalam surat-surat Madaniyah hanya terdapat pada tujuh tempat saja, sedangkan sisanya memakai ungkapan . Hal ini menunjukkan adanya perbedaan obyek dan orientasi dakwah pada dua periode tersebut. Lihat Muhammad Hudlari, Tarikh al-Tasyri al-Islami, Sankapura, Jeddah, tt. Hal. 11-12.

[26] Abdul Wahhab Khallaf, Loc. cit. hal. 10-11.

[27] Orang pertama yang pertama kali masuk Islam adalah istrinya, Khadijah, lalu disusul oleh kemenakannya, Ali bin Abi Thalib, serta sahabat karibnya, Abu Bakar, dan Zaid bin Haritsah (anak angkatnya) serta Ummu Aiman (salah satu pengasuhnya sejak kecil). Abu bakar sendiri kemudian berhasil mengislamkan beberapa temannya, seperti Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqash, Thalhah bin Ubaidillah. Mereka diajak oleh Abu Bkaar untuk menemui Nabi SAW. dan masuk Islam dihadapan Nabi SAW.

[28] wahyu yang memerintahkan dakwah secara terang-terangan antara lain,

[29] Muhammad bin Muhammad bin Abdul Wahid al-Syaibani, al-Kamil fi al-Tarikh, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, vol. 2, tahun 1415 H./1995 M. 1/584 dan seterusnya.

[30] Mengenai detil-detil peristiwa perjuangan Nabi Saw. dan perlakuan kasar yang beliau terima dari penduduk, silahkan buka antara lain, Abu al-Fada Ismail bin Umar bin Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, Maktabah al-Maarif, Beirut, (t.t.), jilid. 3, hal. 41-46.

[31] Detil-detil peristiwa penyiksaan terhadap kaum muslimin selama berada di Mekkah ini dapat Anda teliti, antara lain, pada Abdul Wahid al-Syaibani, al-Kamil fi al-Tarikh, Op. cit. hal. 588-591.

[32] Kisah lengkap pengungsian kaum Muslimin ke Ethiopia dan penghormatan Raja Najasyi terhadap mereka, lihat Ibnu Katsir, Op. cit. hal. 61-84, dan al-Syaibani, Op. cit. hal. 592-593.

[33] Kisah lengkap pemboikotan serta dan penderitaan yang dialami Bani Hasyim selama pemboikotan tersebut, lihat Ibnu Katsir, Op. cit. hal. 84-92.

[34] Masjid yang sekarang dikenal dengan nama Masjid Nabawi itu didirikan di atas sebidang tanah milik Abu Ayyub al-Anshari. Pada awalnya, dinding masjid tersebut terbuat dari tanah liat, dan atapnya terbuat dari pelepah kurma. Di dekat masjid itu juga didirikan rumah tempat tinggal Nabi SAW. bersama keluarga.

[35] Perjanjian Hudaibiyah merupakan perjanjian genjatan senjata antara kaum Muslimin dan Kaum Kuraisy yang dilakukan di sebuah lembah bernama Hudaibiyah. Diantara isi perjanjian itu adalah bahwa kaum Muslimin Madinah dan kaum Kuraisy Mekkah tidak akan saling menyerang selama sepuluh tahun sejak perjanjian itu disetujui, dan siapa saja yang ingin mengadakan persekutuan dengan kaum Muslimin diperbolehkan, begitupun siapa saja yang ingin melakukan persekutuan dengan Kuraisy Mekkah juga diperbolehkan. Artinya, baik Nabi SAW. maupun kaum Kuraisy dibebaskan mengadakan perjanjian dengan kabilah manapun.

[36] Ini merupakan realisasi dari janji Allah dalam Surat al-Fath:1-3: apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan; dan kamu (Muhammad) melihat manusia datang berbondong-bondong (masuk Islam), maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepeda-Nya.

[37] Teliti kembali kisah ini dalam, antara lain, Abu Jafar Ahmad bin Abdillah bin Muhammad al-Thabari, al-Riyadl al-Nadlrah, Dar al-Gharb al-Islami, Beirut, vol II tahun 1996, jilid I hal. 41-42.

[38] Abu Bakar al-Shiddiq (573-634), sahabat terdekat Nabi SAW., termasuk orang pertama yang masuk Islam (al-Sabiqun al-Awwalun), dan khalifah pertama umat Islam. Nama lengkapnya Abdullah bin Abi Kuhafah al-Tamimi. Kedua orang tuanya berasal dari suku Taim, suku yang melahirkan banyak tokoh terpandang di kalangan Quraisy. Sejak kecil sudah menunjukkan sifat-sifat terpuji, seperti sabar, lemah-lembut, jujur, dan sangat dermawan. Setelah masuk Islam, Abu Bakar mendermakan segenap jiwa, raga, dan hartanya untuk perjuangan syiar Islam, baik saat agama saat Nabi masih berdakwah secara sembunyi-sembunyi, dalam masa-masa peperangan, saat konsolidasi Madinah dan penguatan pengaruh ke pelbagai kawasan, hingga Abu Bakar diangkat menjadi khalifah.

[39] Telisik dalam Abu Manshur Abd al-Qahir bin Thahir al-Baghdadi, Al-Farq bain al-Firaq wa Bayan al-Firqah al-Najiyah minhum, Dar al-Aft al-Jadidah, Beirut, vol. II tahun 1977, hal. 12-13.

[40] Lihat antara lain dalam Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr bin Farh al-Qurthubi, Tafsir Jami al-Ahkam, Dar al-Syab, Kairo, vol. II tahun 1372, hal 222-223, dan Abu Jafar Ahmad bin Abdillah bin Muhammad al-Thabari, Op. cit. I/39-42

[41] Abu Manshur al-Baghdadi, Op. cit. hal. 12-13.

[42] Ibid.

[43] Sad bin Ubadah, salah seorang pemimpin utama kaum Anshar dari Kabilah Khazraj, sekaligus panitia musyawarah di Saqifah Bani Saidah. Sad bin Ubadah dikenal sebagai pepimpin yang dermawan dan pemegang bendera dalam setiap jihad yang dilakukan Kaum Anshar. Meninggal pada tahun 15 H.

[44] Saqifah Bani Sadah merupakan sebuah pendapa tempat kaum Anshar mengadakan pertemuan dan memusyawarahkan beragam beragam persoalan yang mereka hadapi. Nama Bani Saidah diambilkan dari nama nenek moyang Bani Khazraj, salah satu elemen kaum Anshar, yang bernama Saidah. Saqifah Bani Saidah hampir mirip funfsinya seperti Dar al-Nadwah di Mekkah. Lihat pada Abu Qasim Mahmud bin Umar al-Zamakhsyari, al-Kassyaf, Maktabah al-Tijariyah, tahun 1354 H, jilid 3 hal. 407.

[45] Dr. Musthafa Hilmi, Nidzam al-Khilafah fi al-Fikr al-Islami, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, cet. pertama, tahun 1425 H./2004 M., hal. 37.

[46] Dr. Musthafa Hilmi, Op. cit. hal. 38.

[47] Penolakan Sad bin Ubadab ini lebih berdasar interets pribadinya yang ingin menjadi khalifah pengganti Nabi SAW. Bahkan oleh Umar, Sad dinilai sebagai orang munafik. Lihat lebih lanjut kejelasan seputar perdebatan di Saqifah Bani Saidah ini antara lain dalam Dr. Musthafa Hilmi, Ibid. hal. 38. dan Abu Jafar Muhammad bin Jarir al-Thabari, Tarikh al-Thabari, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, vol. 1, tahun 1407 H., jilid 2 hal. 241-246, dan al-Riyadl al-Nadlrah, Op. cit. jilid 2 hal. 202-208.

[48] Ensiklopedi Islam, PT. Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta, cet. Kelima, tahun 1999. huruf H hal. 38.

[49] Ibid. hal. 39.

[50] Selengkapnya, lihat antara lain pada Abu al-Fath Muhammad bin Abd al-Karim al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, (t.t.) jilid 1 hal. 24. lalu Abu Manshur Abd al-Qahir bin Thahir al-Baghdadi, Op. cit. hal 12., Ensiklopedi Islam, Katalog Dalam Terbitan (KDT). Op. cit. hal. 100, dan Dr. Musthafa Hilmi, Loc. cit. hal. 24.

[51] Nama lengkapnya Abdullah bin Abi Kuhafah al-Tamimi. Dia termasuk golongan pertama yang memeluk Islam (al-sabiqun al-awwalun). Ia dikenal sebagai orang yang selalu membenarkan ucapan Muhammad, sehingga ia digelari al-Shiddiq yang berarti orang yang paling membenarkan, sementara nama Abu Bakar diberikan oleh Nabi karena ia termasuk orang yang paling cepat masuk Islam. Sejak kecil Abu Bakar dikenal mempunyai sikap mulia, baik, sabar, jujur, dan lemah-lembut. Sejak masa remajanya, Abu Bakar sudah akrab dengan Nabi SAW. sehingga ia dapat mengetahui dengan pasti kejujuran dan kebenaran agama yang dibawa Nabi SAW. Ketika orang-orang menghujat Nabi SAW. karena mengatakan baru mengalami peristwa Isra' Mi'raj, Abu Bakar justru menyatakan keyakinannya akan kebenaran peristiwa itu. Ketika Nabi SAW. sedang salat di Masjidil Haram, tiba-tiba datanglah Uqbah bin al-Muith yang langsung mencekik leher Nabi SAW. Abu Bakar lah yang menolong Nabi SAW. dalam peristiwa ini. Abu Bakar pula yang menyiapkan perjalanan serta menemani Nabi Muhammad SAW. saat hijrah ke Madinah. Ia juga menikahkan putrinya, Aisyah, dengan Rasululullah SAW. Abu Bakar juga dikenal sebagai orang dermawan. Ia mendarmabaktikan kekayaannya untuk memerdekakan budak-budak yang mendapat siksaan kaum Kuraiys karena memeluk agama Islam, salah satunnya adalah Bilal bin Rabah. Bahkan dalam perang Tabuk, seluruh harta kekayaan Abu Bakar disumbangkan guna membiayai persiapan pasukan Islam. Ketika Nabi SAW. berhalangan memimpin Umat Islam melaksanakan ibadah haji pasca Fath Mekkah, beliau mempercayainya kepada Abu Bakar. Begitu pula saat Nabi SAW. tidak bisa memimpin shalat jamaah karena sakit, beliau juga menunjuk Abu Bakar sebagai imam. Hal ini membuktikan bahwa Abu Bakar dan Nabi SAW. mempunyai kedekatan luarbiasa melebihi hubungan saudara.

[52] Lihat kutipan lengkap pidato Abu Bakar, antara lain pada, Ahmad bin Abi Yaqub bin Jafar al-Abbasi, Tarikh al-Yaqubi, Dar Shadir, Beirut, (t.t.), jilid 2, hal. 127, dan Abu al-Farj Abdurrahman bin Ali bin Muhammad, Shafwah al-Shafwah, ed. Mahmud Fakhuri dan Muhammad Rawas Qalah, Dar al-Marifat, Beirut, vol. 2 tahun 1399 H./1979 M. jilid 1 hal. 260-263.

[53] Ensiklopedi Islam, Op. cit. huruf. K hal. 51.

[54] Abdul Wahid al-Syaibani, al-Kamil fi al-Tarikh, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, vol. 2, tahun 1415 H./1995 M. jilid 2 hal. 324, dikutip oleh Said Aqiel Siradj, Ahlussunnah wal Jamaah dalam Lintas Sejarah, LKPSM, Yogyakarta, vol. 1 hal. 32.

[55] Ibid.

[56] Untuk lebih lengkapnya mengenai upaya pemadaman pemberontakan oleh Abu Bakar, lihat antara lain pada Ahmad bin Yahya bin Jabir al-Baladzuri, Futuh al-Buldan, ed. Ridlwan Muhammad Ridlwan, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1403, jilid 1, hal. 103 dan seterusnya.

[57] Abu al-Fath Muhammad bin Abd al-Karim al-Syahrastani, Op. cit. I/14

[58] Abu al-Abbas Ahmad bin Abd al-Halim bin Taimiyah al-Hirrani, Manhaj al-Sunnah al-Nabawiyah, Muassasah Qurthubah, vol. 1 tahun 1406 H., jilid 6 hal. 348.

[59] Ibid. hal. 348-349.

[60] Oleh golongan Ahussunnah, ayat ini dijadikan justifikasi atas kekhalifahan Abu Bakar ra. Jadi menurut Ahlussunnah, kekhalifahan Abu Bakar telah mendapat resru dari Allah Swt. jauh sebelum Abu Bakar diangkat menjadi khalifah. Berbeda dengan Syiah yang tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar dan menilainya merebut kekhalifahan Ali ra.

[61] Ibid. 39-40

[62] Fadak adalah sebuah kawasan yang terletak di antara Mekkah dan Madinah. Dikisahkan, ketika Rasulullah SAW. dan kaum muslimin telah berhasil menaklukkan benteng pertahanan Khaibar, dan mengepungnya sampai berhari-hari lamanya, akhirnya penduduk Khaibar menyerah tanpa syarat dan tentara muslim berhasil menguasai tanah Khaibar secara keseluruhan. Mendengar berita itu, penduduk Fadak pun juga khawatir akan diserang oleh tentara muslim. Akhirnya mereka mengirim utusan kepada Rasulullah SAW. dan menyatakan bersedia berdamai dengan tentara muslim, dengan kompensasi bahwa separuh tanah Fadak akan diserahkan hak kepemilikannya kepada Rasulullah SAW. Separuh tanah itu murno diberikan kepada Nabi SAW., dan itulah tanah yang dituntut oleh Siti Fathimah kepada Abu Bakar ra. Lihat dalam Abu al-Qasim Ali bin al-Hasan bin Hibbatullah ibn Asakir, Mu'jam al-Buldan, Dar al-Fikr al-Maashir, Beirut, vol. 1 tahun 1413. hal. 238-239.

[63] Dalam perkembangan selanjutnya, hak milik atas tanah Fadak tetap menjadi milik negara. Sejak masa pemerintahan Abu Bakar, Umar, Utsman, hingga Ali, penghasilan dari tanah Fadak digunakan untuk pemenuhan kebutuhan negara, seperti untuk memenuhi dana kesejahteraan angkatan bersenjata, serta untuk menyantuni fakir miskin. Ketika kekhalifahan jatuh ke tangan Muawiyyah, tanah Fadak diserahkan kepada anaknya yang juga calon penggantinya, Marwan bin al-Hakam. Marwan pun terus mewariskan hak milik tanah ini kepada anak-anaknya. Begitulah seterusnya; penghasilan tanah Fadak menjadi hak milik keturunan khalifah. Ketika tampuk kepemimpinan dipegang oleh khalifah ke-8 Bani Ummayyah, Umar bin Abdul Aziz, tanah Fadak dikembalikan lagi ke kas negara. Hal ini bertahan hingga masa pemerintahan di pegang oleh Dinasti Bani Abbasyiah. Ketika masa pemerintahan al-Mamun, tanah ini kemudian diserahkan kepada keturunan Fathimah. Lalu ketika masa pemerintahan al-Mutawakkil, tanah Fadak kembali dimiliki oleh negara. Untuk lebih jelasnya, periksa pada Ibn Asakir, Op. cit. Jilid 4, hal. 238-239.

[64] Syahrastani, Op. cit. I/25 dan 155, Ensiklopedi Islam, Op. cit. hal. 40.

[65] Bernama lengkap Umar bin al-Khaththab bin Nufail al-Mahzumi al-Quraisy. Ayahnya bernama Khaththab bin Nufail dan ibunya bernama Hanthamah binti Hasyim. Umar masih termasuk keturunan Bani Adiy, salah satu suku terpandang yang masih termasuk rumpun suku Kuraisy. Umar memiliki postur tubuh yang tegap dan kuat, berwatak keras dan tegas, pemberani, dan berdisiplin tinggi. Sejak masa remajanya, Umar dikenal sebagai pegulat tangguh yang sering memenagkan duel tahunan yang diselenggarakan di pasar Ukadz, Mekkah. Disamping itu, Umar juga dikenal sebagai pemuda cerdas dan memiliki kemampuan diplomasi yang cukup hebat. Karena itulah ia sering diberi kepercayaan untuk mewakili kabilah Kuraisy dalam melakukan perundingan-perundingan dengan suku-suku lainnya. Keunggulan berdiplomasi inilah yang membuat nama Umar cukup dikenal oleh suku-suku lain. Umar masuk Islam sekitar tahun 6 Hijriah. Saat itu, ia berniat membunuh Nabi Muhammad SAW. namun tersentuh hatinya ketika mendengar adiknya, Fatimah, melantunkan ayat suci Quran. Ketika Rasulullah masih berada di Mekkah, Umar -bersama Hamzah- adalah orang yang paling ditakuti oleh orang-orang Quraisy. Keduanya selalu siap berkelahi jika Rasulullah SAW. dihina. Saat hijrah, Umar juga satu-satunya sahabat Rasul yang pergi secara terang-terangan. Ia menantang siapapun agar menyusulnya bila ingin "ibunya meratapi, istrinya jadi janda, dan anaknya menangis kehilangan. Ketika ia diangkat sebagai Khalifah, orang-orang menyebutnya sebagai "Amirul Mukminin" (Pemimpin orang mukmin), menggantikan istilah sebelumnya yang disandang Abu Bakar, yakni "Khalifatur- Rasul".

 

[66] Hussein dan istrinya itu melahirkan putra bernama Zainal Ali Abidin yang kemudian menjadi Imam besar kaum Syiah. Zainal Ali Abidin mewarisi darah Nabi Muhammad Saw., Nabi Ismail as, dan Nabi Ibrahim as. dari jalur ayah (Husein), serta mewarisi darah raja-raja Persia dari jalur ibu. Itulah sebabnya mengapa warga Persia (sekarang Iran) umumnya menganut aliran Syi'ah; yakni karena aliran inilah yang mewakili dan mengakui kekhalifahan Ali dan keturunannnya yang notabene memadukan dua garis keturunan besar; keturunan Nabi SAW. dan raja-raja Persia.

[67] Menurut riwayat lainnya, gubernur Amr bin Ash berencana melakukan pelebaran Masjid Jami Mesir dan akan melakukan penggusuran terhadap rumah-rumah yang berada di sekitar masjid, termasuk rumah yang dihuni oleh seorang keturunan Yahudi. Pemilik rumah inilah yang kemudian mengahadap Umar dan melaporkan kesewenang-wenangan Amr bin Ash. Namun menurut riwayat ini, Umar hanya berkirim teguran surat kepada Amr bin Ash dan tidak memanggilnya ke Madinah. Tapi dengan surat itu saja, Amr bin Ash sudah mau mengakui kesalahannya dan bersedia menggagalkan rencananya melakukan penggusuran rumah si Yahudi. Sikap adil Umar ini tentu saja membuat si Yahudi menaruh simpati. Ia akhirnya menyatakan diri masuk Islam dan secara suka rela mengizinkan tanahnya dijadikan masjid sesuai rencana Amr bin Ash semula.

[68] Ensiklopedi Islam, Op. cit. vol. Kelima/1999, huruf U, hal. 126.

[69] Ingat, langkah yang ditempuh Umar ra. ini terjadi jauh sebelum Jhon Loke dan Montequeu, dua pemikir Prancis abad pertengahan, mencetuskan ide Trias Politika atau pemisahan lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif dalam atap berbeda.

[70] Periksa antara lain, Ensiklopedi Islam, Op. cit. vol. Kelima/1999, huruf U, hal. 127.

[71] Ibid.

[72] Ustman lahir di Thalif pada 576 Masehi atau enam tahun lebih muda daripada Nabi Muhammad SAW. Sebelum masuk Islam, Utsman dikenal sebagai pedagang besar dan terpandang. Ustman masuk Islam atas ajakan Abu Bakar. Rasulullah sangat menyayangi Ustman sehingga ia dinikahkan dengan Ruqayyah, putri Nabi SAW. Setelah Ruqayyah meninggal, Nabi Muhammad SAW. kemudian menikahkan kembali Ustman dengan putrinya yang lain, Ummu Khulthum. Karena itulah Ustman kemudian digelari dengan sebutan Dzu al-Nurain (pemilik dua cahaya), karena ia menikah dengan dua putri Nabi SAW.

Masyarakat mengenal Ustman sebagai dermawan. Banyak budak-budak yang masuk Islam dan disiksa oleh majikannya dibebaskan oleh Ustman dengan uang pribadinya. Dalam ekspedisi Tabuk yang dipimpin oleh Rasulullah SAW., Ustman menyerahkan 950 ekor unta, 50 kuda, dan uang tunai 1000 dinar. Artinya, sepertiga dari biaya ekspedisi itu ia tanggung seorang diri. Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Ustman juga pernah memberikan gandum yang diangkut dengan 1000 unta untuk membantu kaum miskin yang menderita di musim kering itu.

[73] Dalam satu riwayat disebutkan bahwa, wilayah yang dikirimi salinan naskah al-Quran adalah Mekah, Damaskus, San'a (Yaman Selatan), Bahrain, Basrah, Kufah.

[74] Periksa antara lain dalam Abu al-Fath Muhammad bin Abd al-Karim al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, Op. cit. 1/26.

[75] Syahrastani, Op. cit. 1/26

[76] Periksa kisah lengkap mengenai pembunuhan Utsman ini, antara lain pada, Abu Jafar Muhammad bin Jarir al-Thabari, Tarikh al-Thabari, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, vol. 1, tahun 1407 H., jilid 2, hal. 676 dan seterusnya, atau Abu al-Fada Ismail bin Umar bin Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, Maktabah al-Maarif, Beirut, jilid 7, hal. 170 dan seterusnya, dan Muhammad bin Muhammad bin Abdul Wahid al-Syaibani, al-Kamil fi al-Tarikh, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, vol. 2, tahun 1415 H./1995 M. jilid. 3 hal. 46 dan seterusnya.

[77] Ali adalah salah seorang sahabat paling dekat dengan Rasul. Sewaktu kecil, Nabi Muhammad SAW. diasuh oleh Abu Thalib paman Nabi yang juga ayah Ali. Setelah berumah tangga dan melihat Abu Thalib hidup kekurangan, Nabi SAW. kemudian mengasuh Ali di rumahnya. Ali dan Zaid bin Haritsah -anak angkat Nabi-adalah dua orang pemeluk Islam pertama setelah Khadijah. Dalam kesehariannya, mereka selalu salat berjamaah dengan dipimpin Nabi SAW. Kecerdasan dan keberanian Ali sangat menonjol di lingkungan Quraisy. Saat anak-anak, ia telah menantang tokoh-tokoh Quraisy yang mencemooh Nabi Muhammad SAW. Ketika Nabi Muhammad SAW. hijrah dan kaum Quraisy telah menghunus pedang untuk membunuhnya, Ali tidur di tempat tidur Muhammad serta mengenakan mantel yang biasa dipakai Rasulullah SAW. Di medan perang, dia adalah petempur yang sangat disegani, baik dalam perang Badar, Uhud, hingga Khandaq. Namanya semakin sering dipuji setelah ia berhasil menjebol gerbang benteng Khaibar yang menjadi pertahanan terakhir Yahudi. Menjelang Rasulullah SAW. menunaikan ibadah haji, Ali ditugasi untuk melaksanakan misi militer ke Yaman dan dijalankan dengan sangat baik. Mengenai kecerdasannya, Nabi SAW. pernah memuji Ali dengan kata-kata: "Saya adalah ibukota ilmu dan Ali adalah gerbangnya." Kefasihan bicara Ali dipuji oleh banyak kalangan. Rasulullah SAW. kemudian menikahkan Ali dengan putri bungsunya, Fatimah. Setelah Fatimah wafat, Ali menikah dengan Asma -janda yang dua kali ditinggal mati suaminya, yakni Ja'far (saudara Ali) dan khalifah Abu Bakar.

[78] Ensiklopedi Islam, Op. cit. jilid 1, huruf A hal. 112.

[79] Ibid. hal. 113.

[80] Ismail bin Umar bin Katsir, Op. cit. 7/223.

[81] Keterlibatan Aisyah dalam perang Jamal lebih banyak dipengaruhi oleh keponakannya, Abdullah bin Zubair. Dikisahkan bahwa, ketika tentara Aisyah meninggalkan Mekkah, ribuan masyarakat Mekkah meratap pilu. Mereka menangis sejadi-jadinya karena melihat keberangkatan pasukan yang akan berperang melawan saudara seiman dan seagama. Melihat kepiluan masyarakat Mekkah, Aisyah sempat ragu dan berniat mengurungkan penyerangan itu. Selain itu, Aisyah juga menerima surat dari Ummu Salamah (Istri Rasulullah Saw. lainnya) yang memperingatkan agar Aisyah tidak turut serta dalam medan pertempuran. Akan tetapi, dorongan Abdullah bin Zubair akhirnya mampu meluluhkan hati Aisyah untuk tetap ikut serta memimpin pasukan Mekkah menuju Bashrah.

[82] Mayoritas tentara Aisyah pada mulanya adalah para pendukung Ali yang telah berbaiat dan mengakui kekhalifahannya.

[83] Sebagimana telah disinggung sebelumnya, Abdullah bin Saba pada awalnya adalah seorang Yahudi yang berpura-pura masuk Islam dan akhirnya memperoleh pengaruh cukup kuat di kalangan kaum Muslimin. Ia juga diyakini sebagai penyebar propaganda atas pengkultusan keluarga Ali, sehingga ia disebut-sebut sebagai pendiri Syiah yang berada di balik layar. Atas pengaruhnya itu, Abdullah bin Saba kemudian memimpin sekelompok pasukan guna membela kepemimpinan Ali, termasuk saat perang Jamal ini.

[84] Ismail bin Umar bin Katsir, Op. cit. 7/223.

[85] Abu Jafar Muhammad bin Jarir al-Thabari, Tarikh al-Thabari, Op. cit. 3/55-56.

[86] Abu al-Fada Ismail bin Umar bin Katsir, Op. cit. 254-255.

[87] Khawarij adalah bentuk jamak dari kharij (orang yang keluar), yakni keluar dari barisan Ali. Ada juga yang mengarakan bahwa gelar Khawarij didasarkan pada surah al-Nisa ayat 100 yang artinya: orang-orang yang keluar dari rumah mereka untuk berjuang di jalan Allah. Kaum Khawarij memang memandang diri mereka sebagai oang-orang yang meningalkan rumah mereka semata-mata untuk berjuang demi Allah. Selain nama Khawarij, ada lagi nama-nama lain yang diberikan kepada golongan ini, yakni al-Mihakkimah (berdasarkan semboyan La Hukma illa li Allah), al-Haruriyah (dinisbatkan pada daerah tempat tingal mereka, Harura), Syurah (artinya membeli, berdasar surat al-Baqarah 207: orang-orang yang menjual diri mereka untuk mendapat keridlaan Allah), dan al-Mariqah (artinya, anak panah yang keluar dari busurnya). Baca dalam Ensiklopedi Islam, Op. cit. huruf K hal. 47.

[88] Ensiklopedi Islam, Op. cit. huruf A hal. 114.

[89] Muhammad bin Muhammad al-Syaibani, Op. cit, 3/202.

[90] Ensiklopedi Islam, Loc. cit. hal. 115.

[91] Umar bin Katsir, Op. cit.7/276-277, Muhammad bin Muhammad al-Syaibani, Op. cit, 3/205-206. dan Ensiklopedi Islam, Op. cit. huruf A hal. 113.

[92] Ibnu Katsir, Loc. cit. dan Ensiklopedi Islam, Loc. cit.

[93] Ibnu Katsir, Ibid. 3/208.

[94] Ibid. 3/210.

[95] Ibid.

[96] Syahrastani, Op. cit. jilid. 1, hal. 117.

[97] Bani Umayyah adalah keturunan (klan) dari Umayyah bin Abd al-Syams, salah seorang keturunan Kuraisy yang berkedudukan di Mekkah. Sejak sebelum kedatangan Islam, keturunan Bani Umayyah selalu bersaing dengan keturunan Bani Hasyim yang juga tercatat sebgai salah satu klan suku Kuraisy. Orang-orang keturunan Bani Umyyah umumnya mengusai jalur pemerintahan dan perdagangan di Mekkah dan sekitarnya, yang sangat tergantung kepada para peziarah Kabah. Sementara orang-orang keturunan Bani Hasyim hanya memegang jabatan-jabatan biasa dan dengan perekonomian sangat sederhana. Akan tetapi, Nabi Muhammad Saw. adalah keturunan Bani Hasyim, sehingga ketika beliau telah mendapat banyak pengikut, orang-orang keturunan Bani Umayyah merasakan bahwa kekuasaan dan perekonomian mereka terancam. Krena itulah, mereka kemudian menjadi penentang utama terhadap dakwah Nabi Saw. Hanya beberapa orang saja dari keturunan Bani Umayyah yang memeluk agama Islam, di antranya adalah Utsman bin Affan. Bahkan dalam perkembangan selanjutnya, Abu Sufyan bin Harb, salah seorang tokoh Bani Umayyah , seringkali menjadi pemimpin peperangan melawan Nabi Saw. Ketika kekuatan kaum Muslimin semakin kokoh dan berhasil menguasai kota Mekkah, hampir semua keturunan Bani Umayyah menyerah dan masuk Islam, termasuk Abu Sufyan. Nabi Saw. pun memberi kebebasan kepada mereka dan tidak memberikan balasan atas perbuatan mereka yang sebelumnya sering melecehkan dan merugikan umat Islam. Di masa pemerintahan Abu Bakar, keturunan Bani Umayyah merasa rendah diri karena mereka adalah orang-orang yng belakangan masuk Islam. Secara sosiologis, mereka dinilai berada di bawah kelas kaum Muhajirin dan Anshar yang telah terlebih dahulu memeluk Islam dan banyak berjasa memperjuangkan agama baru itu. Karena itulah khalifah Abu Bakar kemudian menugaskan mereka untuk mengikuti beberapa peperangan agar mereka ikut berjasa memperjuangkan agama Islam dan kedudukannya bisa sejajar dengan dua golongan lainnya. Dan di masa pemerintahan Umar bin al-Khaththab, keturunan Bani Umayyah dikirim dalam peperangan melawan tentara Bizantiyum, kemudian ditempatkan di Suriah. Yazid bin Abu Sufyan diangkat sebagai gubernur Suriah, yang kemudian digantikan oleh saudaranya, Muawiyah bin Abi Sufyan. Setelah Utsman yang juga keturunan Bani Umayyah menjadi khalifah ketiga, ia membuat keputusan bahwa kepemimpinan Suriah berada di tangan keturunan Bani Umayyah. Dan ketika Ali diangkat menjadi khalifah keempat menggantikan Utsman yang tewas terbunuh, Gubernur Suriah, Muawiyyah bin Abu Sufyan, tidak mau mengakui kekhalifahan Ali dan menuntut balas atas kematian Utsman sekaligus mengklaim bahwa dialah yang berhak mewarisi kekhalifahan Utsman. Dari Muawiyyah inilah pemerintahan Bani Umayyah bermula.

[98] Dalam literatur Syiah dinyatakan bahwa, dalam perkembangan selanjutnya, Muawiyah ternyata selalu berusaha membunuh Hasan, bahkan usaha itu dilakukan hampir 70 kali melalui orang-orang suruhannya. Usaha terakhir dilakukan oleh Muawiyah melalui istri ketiga Hasan, yakni Jadah bin Asyas. Jadah disuruh membumbui makanan Hasan dengan racun, sehingga cucu Rasulullah SAW. itu meninggal di tangan istrinya sendiri.

[99] Pasukan yang dipimpin Thariq ini sebenarnya bukan misi pertama dari kalangan Islam yang menginjakkan kaki di Spanyol. Sebelumnya, Gubernur Musa Ibnu Nushair telah mengirimkan pasukan yang dikomandani Tharif bin Malik yang memperoleh kemenangan gemilang dalam beberapa pertempuran. Kesuksesan itu mendorong Musa untuk mengirim tentara untuk kedua kalinya, dan Thariq bin Ziyad terpilih sebagai pemimpin pasukan. Pada saat itu, seluruh wilayah Islam masih berada di bawah kepemimpinan Khalifah Al-Walid dari Dinasti Bani Umayah.

[100] Untuk mengenang jasa-jasa Thariq bin Ziyad, maka bukit-bukit yang terletak di sekitar pantai tempat pendaratan pasukannya kemudian dinamai dengan Jabal Thariq (gunung Thariq). Pada masa-masa berikutnya, Jabal Thariq itu lebih dikenal dengan sebutan Gibraltar.

[101] Bahkan menurut para ahli sejarah, era pencerahan atau renaissance yang berkembang di Italia banyak dipengaruhi oleh kemajuan yang dicapai oleh Spanyol selama diperintah oleh dinasti Bani Umayyah ini.

[102] lihat antara lain, Abu al-Fath Muhammad bin Abd al-Karim al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, (t.t.) jilid 1 hal. 118-122, dan Ali bin Muhammad bin Ali al-Jurjani, al-Tarifat, ed. Ibrahim al-Abyari, Dar al-Kitab al-Arabi, Beirut, vol. 1 tahun 1045 H. jilid 1 hal. 132.

[103] periksa antara lain, Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Said bin Hazm al-Thahiri, al-Fashl fi al-Milal wa al-Ahwa wa al-Nihal, Maktabah al-Khanaji, Kairo, (t.t.), atau Syahrastani, Loc, cit. dan Ensiklopedi Islam, Op. cit. huruf K hal. 49.

[104] Untuk mengetahui detil peristiwa peperangan tersebut, periksa antara lain pada Syahrastani, Op. cit. 120, dan Abu al-Qasim Ali bin al-Hasan bin Hibbatullah ibn Asakir, Mu'jam al-Buldan, Dar al-Fikr al-Maashir, Beirut, vol. 1 tahun 1413. jilid 2 hal. 425 dan seterusnya, dan hal. 457 dan seterusnya.

[105] Ensiklopedi Islam. Op. cit. huruf K hal. 49.

[106] Ensiklopedi Islam, Op. cit. huruf S hal. 6.

[107] Ibid.

[108] Sejak kecil Zaid sudah dikenal sebagai anak yang cerdas dan sangat menonjol dibanding anak-anak sebayanya. Dia belajar langsung di bawah bimbingan sang ayah, hingga mencapai kapasitas keilmuan yang mumpuni. Murid-murid Zaid bin Ali Zainal Abidin yang sangat terkenal, dinataranya adalah Imam Abu Hanifah, pendiri madzhab Hanafi, dan Washil bin Atha, pendiri aliran Mu'tazilahtazilah.

[109] Alasan ini pula yang membuat Imam Muslim banyak meriwayatkan hadits dalam kitan Shahih Muslim-nya dari salah satu pemimpn Syiah Shalihiyah, Hasan bin Shaleh al-Hayy.

4 Ensiklodpedi Islam, Perpustakan Nasional: Katalog dalam Terbitan (KDT). PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, bag.III, huruf M hlm. 301.

[110] C.A. Qadir, Op. cit. hal. 51-52.

[111] Ibid. huruf J hal. 293.

[112] Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, dikutip dalam Ensiklopedi Islam, Loc. cit. hal. 293.

[113] Ibid. hal. 339.

[114] Daulat Bani Abbasyiah merupakan dinasti yang berusia paling panjang dalam sejarah Islam dan telah memberikan sumbangan cukup besar bagi pengembangan agama ini. Dinasti ini dinamakan Abbasyiah karena baik pendirinya maupun penerusnya semua berasal dari keturunan Abbas bin Abdul Muthallib, paman Nabi SAW. Bani Abbas menuntut hak kepemimpinan dari tangan penguasa Dinasti Umayyah, karena mereka merasa lebih berhak menjadi pemimpin umat Islam disebabkan mereka adalah keluarga dekat Nabi SAW yang terdekat. Jika dirunut ke belakang, tuntutan ini merupakan kelanjutan dari persaingan antara klan Bani Hasyim dan Bani Umayyah yang sudah berlangsung sejak sebelum kedatangan Islam (sebagaimana telah disinggung dalam bab-bab sebelumnya).

[115] Ensiklopedi Islam, PT. Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta, cet. Kelima 1999. huruf A hal. 4.

[116] Ibid. hal. 5-6.

[117] Untuk mengetahui secara lengkap kondisi, situasi, dan detil-detil ilmu pengetahuan dan tokoh-tokoh yang hidup pada masa ini, periksa antara lain, C.A. Qadir, Philosophy and Science in the Islamic World, Croom Limited, London, terj. Hasan Basari, Filsafat dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, edisi kedua, Juni 2002, atau ensiklopedi Islam, Op. cit. Suplemen 1, huruf A hal. 6-8, lalu Suplemen 3, huruf M hal. 150.

[118] Ibid. huruf M hal. 151.

[119] Ibid. huruf A hal. 8 dan M hal. 152.

[120] Islam menyentuh wilayah Mesir pada 628 Masehi. Ketika itu Rasulullah mengirim surat pada Gubernur Mukaukis -yang berada di bawah kekuasaan Romawi-mengajak masuk Islam. Rasul bahkan menikahi gadis Mesir, Maria.

Pada 639 Masehi, ketika Islam di bawah kepemimpinan Umar bin Khattab, 3000 pasukan Amru bin Ash memasuki Mesir dan kemudian diperkuat pasukan Zubair bin Awwam berkekuatan 4000 orang. Mukaukis didukung gereja Kopti menandatangani perjanjian damai. Sejak itu, Mesir menjadi wilayah kekuasaan pihak Islam. Di masa kekuasaan Keluarga Umayah, dan kemudian Abbasiyah, Mesir menjadi salah satu provinsi seperti semula. Mesir baru menjadi pusat kekuasaan -dan juga peradaban Muslim-baru pada akhir Abad 10 melalui Khalifah Muiz Lidinillah dengan membangun Dinasti Fatimiyah yang berpaham Syi'ah.

[121] Dalam sejarah kenegaraan Islam, perang salib dinilai sebagai perang paling lama yang pernah dialami umat Islam. Perang politik dan agama ini berlangsung kurang lebih dua abad (200 tahun), namun dalam jangka waktu terpisah-pisah. Disebut Perang Salib karena tentara Kristen selalu menggunakan Salib sebagai simbol pemersatu untuk menunjukkan bahwa prang yang mereka lakukan adalah perang suci yang bertujuan untuk membebaskan kota suci Batul Maqdis (Yerusalem) dari tangan orang-orang Islam. Meskipun perang ini lebih banyak memakai simbol-simbol keagamaan, namun faktor pemicunya tidak hanya masalah agama, melainkan juga masalah politik, ekonomi, dan sosial. Lihat Ensiklopedi Islam, Op. cit. Suplemen 4, huruf S hal. 240-241.

[122] Menurut riwayat yang masyhur, kelahiran Mu'tazilah memang berawal dari pemisahan diri Washil bin Atha dari gurunya ini. Dikisahkan, pada suatu hari datanglah seorang laki-laki kepada Hasan al-Bashri guna menanyakan tentang status seseorang yang melakukan perbuatan keji; apakah dia masih dianggap sebagai orang mukmin? Sebelum pertanyaan ini dijawab oleh Hasan al-Bashri, muridnya yang bernama Washil bin Atha menyela jawabannya dengan menyatakan bahwa orang tersebut tidak termasuk mukmin dan tidak pula tergolong kafir, akan tetapi posisinya berada di tengah-tengah diantara mukmin dan kafir (al-manzilah baina al-manzilatain). Setelah berkata demikian, Washil kemudian berpindah tempat (Itizal) ke sudut masjid. Melihat hal ini, Hasan al-Bashri kemudian berkata, Itazala Anna Washil (Washil menarik diri dari golongan kita). Dari kata Itazala atau memisahkan diri inilah nama Mu'tazilah terambil. Namun riwayat ini menurut Ahmad Hanafi sangat problematis jika dianggap sebagai asal-usul berdirinya Mu'tazilah. Sebab apa pentingnya arti perpindahan dari satu tempat duduk ke posisi tempat duduk yang lain bila dihubungkan dengan berdirinya sebuah aliran baru (Mu'tazilah)? Apalagi terdapat sebuah riwayat yang menyatakan bahwa pemimpin majlis tersebut bukan Hasan al-Bahsri, melainkan Qatadah. Oleh karena itu, sesuai riwayat lain yang telah kami sebutkan berulangkali, bahwa bibit-bibit aliran Mu'tazilah sebenarnya sudah ada sejak periode Khalifah Ali bin Abi Thalib, terutama ketika golongan ini menarik diri dan tidak mau ikut campur (Itizal) dalam persengketaan antara Khalifah Ali dan Thalhah-Zubair di satu pihak, atau antara Ali dan Muawiyah di pihak lain. Paham penarikn diri (Itizal) inilah yang kemudian dihidupkan kembali oleh Washil bin Atha setelah ia (juga) memisahkan diri dari aliran Murjiah yang dianut gurunya. Sementara mengenai penamaan aliran ini dengan sebutan Mu'tazilah, maka riwayat tentang Washil dan Hasan al-Bashri ini mungkin bisa dijadikan acuan. Artinya, penamaan aliran Mu'tazilah memang bermula dari peristiwa ini, namun bibitnya sudah muncul sejak lama. Lihat Ahmad Amin, Fajr al-Islam, hal. 288, dikutip oleh Ahmad Hanafi, Pengantar Theology Islam, Pustaka al-Husna, Jakarta, vol. Kedua, tahun 1980, hal. 66. Sedangkan mengenai kisah lengkap peristiwa Washil dan Hasan al-Bashri tersebut silahkan dibuka, antara lain, pada Abdul Karim al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, t.t., jilid 1, hal. 42.

[123] Periksa antara lain, Op. cit. hal. 52, dan bandingkan dengan Syahrastani, Op. cit. I/39.

[124] Periksa antara lain, Syahrastani, Op. cit. 39 dan C.A. Qadir, Op.cit., hal. 54-56,.

[125] C.A. Codir, ibid. hal. 58.

[126] Ahmad Hanafi, Op. cit. hal. 74.

[127] Ensiklopedi Islam, loc. cit. suplemen 3, huruf M hal. 291-292.

[128] Periksa antara lain, A. Hanafi M.A., Op. cit. hal. 104-105, atau C.A. Qadir, Op. cit, hal. 65-66, dan Ensiklopedi Islam, Op. cit, huruf A hal. 184-185.

[129] Hammad bin Muhammad al-Anshari dalam mukaddimah Al-Ibanah an Ushul Al-Diyanah, Abu Al-Hasan Ali bin Ismail Al-Asyari , al-Maktabah al-Arabiah al-Saudiyah, Madinah, vol. kelima 1409 H. hal. 9.

[130] Hammad bin Muhammad al-Anshari, Op. cit. hal. 8.

[131] C.A. Qadir, Op. cit. hal. 66.

[132] Aliran ini diyakini oleh para pengikutnya sebagai faham yang mewarisi tradisi keagamaan Nabi Saw, para sahabat, tabiin, dan tabiit-tabiin. Mereka sebenarnya berjumlah mayoritas namun lebih banyak diam (silent majority) menghadapi beragam persoalan yang terjadi. Artinya, sejak timbulnya perpecahan di era Khalifah Utsman dan Khalifah Ali, di kalangan umat sebenarnya terdapat golongan yang berjumlah mayoritas namun memilih diam dan tidak mau ikut campur dalam urusan politik. Mereka hanya diam dan mengamati setiap perkembangan yang terjadi. Mereka pun tidak menyatakan diri bergabung dengan kelompok tertentu. Golongan inilah yang secara tradisional meneruskan tradisi keagaman yang diwariskan secara turun-temurun sejak era Nabi Saw. hingga periode-periode berikutnya. Pada era kepemimpinan al-Mamun, dimana aliran rasional Mutazilah cenderung dipaksakan agar dianut oleh seluruh rakyat, akhirnya golongan ini menampakkan jati dirinya. Kebetulan, saat itu terdapat seorang intelektual handal dan kharismatik, Abu al-Hasan al-Asyari, yang siap berada di barisan terdepan menentang faham Mutazilah. Bersama beliau lah golongan ini menggabungkan diri. Aliran Asyariyah pada akhinya menjadi aliran yang dianut mayoritas umat Islam hingga abad modern ini.

[133] C.A. Qadir, Op. cit. hal. 67-71, A. Hanafi M.A., Op. cit. hal. 108-110, dan Ensiklopedi Islam, Op. cit. hal. 186-187.

[134] Dalam berbagai tulisannya, banyak sekali konsep teologi al-Asyari yang selalu di akhiri dengan kata-kata bila kaif (tidak perlu ditanya bagaimana caranya). Artinya, dengan kata-kata tersebut al-Asyari sebenarnya ingin menegaskan bahwa hakikat pengetahuan tentang Allah Swt. sebenarnya sangat abstrak dan tidak dapat dijangkau oleh nalar manusiawi. Karena itu, pertanyaan mengenai kejelasan bagaimana Allah Swt. dapat dilihat oleh mata di akhirat kelak, misalnya, menurut al-Asyari merupakan pertanyaan yang tidak perlu disampaikan, apalagi dijawab. Sebab peroalan seperti ini bukan wilayah kewenangan manusia untuk bertanya maupun menjawab. Untuk mengetahui lebih jauh, lihat pada Abu al-Hasan al-Asyari, Al-Ibanah an Ushul Al-Diyanah, Dar al-Anshar, Kairo, vol. pertama 1397, ed. Husein Mahmud, jilid 1 hal.22, 30, 117, 125, dan 126, dan Maqalat al-Islamiyyin, cet. Dar Ihya al-Turats al-Arabi, Beirut, vol. ketiga (t.t.). ed. Helmut Roiter, jilid 1/299, hal. 211, 215, 217, 290, dan 299.

[135] Ahmad Hanafi M.A., Op. cit, hal. 70.

[136] Sementara menurut Mu'tazilah, sebagaimana telah disinggung sebelumnya, al-Quran itu adalah makhluk, Allah wajib berbuat baik kepada hamba-hamba-Nya, dan status pelaku dosa besar berada diantara mukmin dan kafir (al-manzilah baina al-manzilatain).

[137] Abu Manshur al-Maturidi, Syarh al-Fiqh al-Akbar, Dairah al-Marifat, 1980, hal. 22, dikutip oleh Dr. KH. Noer Iskandar al-Barsany, Teologi Theistik-Humanistik, Paradigma Baru Pemikiran Teologi Islam, Aswaja Centre UNISMA, Malang & Visipress, Surabaya, cet. Pertama, Agustus 2003, hal. 22-23, atau bisa pula ditilik dalam Ahmad Hanafi M.A., Loc. ci. Hal. 70-71.

[138] Muhammad Abduh dalam Risalah al-Tauhid, dikutip oleh Ahmad Hanafi M.A., ibid. hal. 71.

[139] Noer Iskandar al-Barsany, Op. cit. hal. 24.

[140] Timur Lenk, seorang keturunan Mongol yang memeluk agama Islam. Bapaknya bernama Taragai, seorang Kepala Suku Barlas di wilayah Uzbekistan. Sang ayah kabarnya adalah keturunan Karachar Noyan -menteri dan kerabat Jagatai, anak Jenghis Khan. Dengan demikian, Timur Lenk tidak termasuk keturunan Jengis Khan, pendiri dan pemimpin tertinggi kerajaan Mongol. Namun ada riwayat lain yang menyebut bahwa Timur Lenk adalah keturunan Jenghis Khan. Timur Lenk lahir pada 25 Sya'ban 736 Hijriah, atau 8 April 1336 Masehi. Sejak kecil, Timur Lenk memang sering menampakkan keberanian yang luar biasa. Pada usia 12 tahun, ia telah terlibat dalam sejumlah pertempuran. Ketika ayahnya wafat, Timur Lenk bergabung dengan pasukan Gubernur Tansoxiana, Amir Qaghazan, sampai gubernur itu meninggal. Setelah itu ia bergabung dengan pasukan pimpinan Panglima Tughlug, dan kemudian memberontak dengan membunuh panglimanya sendiri. Dari sinilah Timur Lenk memulai keberingasannya.

[141] Banyak faktor yang mendukung dicapainya kemajuan ini, salah satunya adalah dorongan ingin maju rakyatnya dan kebiasaan hidup yang sederhana, semangat jihad yang mengelora guna mengembangkan kemajuan Islam, letak ibu kota Istanbul yang sangat strategis, yakni berada di antara dua benua, Asia dan Eropa, serta pernah menjadi pusat kebudayaan dunia, baik kebudayaan Macedonia, Yunani, dan Romawi Timur.

[142] Surat kabar pertama dan terbesar pengaruhnya dalam memperkenalkan ide-ide Barat kepada rakyat Turki adalah Takvim-i Vekayi, yang diterbitkan pada tahun 1831 oleh Sultan Mahmud. Ensiklopedi, Op. cit. suplemen 4 huruf O hal. 64.

[143] Saat itu Delhi dikuasai oleh Dinasti Lody dari Afganistan.

[144] Penyebaran Aliran Salaf di Indonesia dilakukan melalui penyebaran buku-buku, majalah, koran, pendirian madrasah, TPA, majlis-majlis talim, perguruan tinggi, dan pesantren-pesantren. Sejak awal masa kemerdekaan, gerakan ini mempunyai pengaruh cukup besar, terutama di masyarakat perkotaan dan di jalur elit pemerintahan. Mereka dikenal sebagai gerakan Islam Modernis (sebagai padanan Islam Tradisional), walaupun dalam kenyataanya, saat ini cenderung stagnan alias jalan di tempat.

[145] Lihat al-Fajr al-Shadiq, .. dan Ensiklopedi Islam, Op. cit. Suplemen 5, huruf W hal. 156-158.

[146] Tradisional di sini tidak dipahami seperti pemahaman umum, bahwa ia adalah keyakinan, etika dan nilai-nilai yang diwarisi secara turun temurun . Dalam maknanya yang baru tradisi dipahami sebagai Realitas-realitas atau prinsip-prinsip dasar ketuhanan yang asli yang diwahyukan kepada seluruh manusia dan segenap alam melalui perantara para nabi, rasul dan perantara lain, dengan berbagai cabang prinsip tersebut dan aplikasinya dalam berbagai bidang kehidupan. Lihat Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and The Sacred, Lahore, Suhail Academy, h. 67-68, dalam Majalah Pemikiran dan Peradaban Islam ISLAMIA, thn I no. 3.

[147] Secara singkat transenden dalam konteks ini dapat dijelaskan sebagai berada diluar batas-batas alam semesta, dan karenanya berada diluar jangkauan ilmu pengetahuan dan pengalaman manusia.

[148] Muhyiddin Yahya bin Syaraf al-Nawawi, Rawdlah al-Thalibin, Beirut, Maktab al-Islami, 1985, X/70.

[149] Baca kembali bagian dari buku ini yang menjelaskan tentang ketiganya, yang harus dipahami dalam kerangka kesatuan ketiganya. Adapun pemisahan ketiganya dalam pendefinisian adlaah untuk memudahkan dalam pemahaman.

[150] Di antara ketiga aliran ini, sebenarnya masih terdapat satu aliran lain yang tidak mau ikut campur dalam persoalan tersebut. Aliran yang diam ini sebenarnya justru di anut oleh mayoritas umat Islam, namun tidak nampak ke permukaan karena lebih banyak diam. Mereka inilah yang sebenarnya menjadi ruh umat Islam. Dalam kamus politik modern, keberadaan mereka biasa disebut sebagai mayoritas yang diam (silent majority).

[151] Mengenai aliran mana saja yang mirip atau paling tidak, mendekatiakidah generasi Nabi Saw. dan sahabat-sahabatnya, maka dari tulisan ini Anda sudah dapat menyimpulkannya sendiri. Semoga.