IMAM MAHDI

Juru Selamat Akhir Zaman

 

Mahdi adalah seorang juru selamat pada akhir zaman. Sekte-sekte dalam Islam, yang percaya dengan munculnya Mahdi berkeyakinan bahwa di akhir zaman akan datang penyelamat yang akan menyelematkan kehidupan manusia dari ketikakadilan, kesengsaraan, kekejaman, untuk kemudian membawa mereka menuju kebahagiaan dan kedamaian. Mahdi merupakan bentuk maf’ul dari kata hadâ, yahdî. yang artinya membimbing, atau memberi petunjuk dan  bimbingan Allah Swt untuk menyelematkan manusia.

Kepercayaan itu ibarat orang Jawa yang percaya dengan munculnya ’Satrio Piningit’: Seorang satria yang ditunggu kedatangannya yang mampu bertindak adil, benar, dan membela rakyat. Makanya, penduduk Jawa rata-rata mudah menamai Satrio Piningit bagi seorang pemimpin yang bertindak seperti itu.

Keyakinan akan datangnya seorang juru selamat berakar dari beberapa pesan Nabi yang menyatakan akan datangnya seorang Mahdi. Di antaranya hadits: “Urusannya tidak akan bertambah kecuali semakin kacau, begitu juga dunia semakin ke belakang (mundur), manusianya semakin kikir, hari kiamat tidak akan terjadi kecuali akibat kerusakkan manusianya, dan tidak ada Mahdi kecuali nabi Isa ibn Maryam”. (H.R. Anas)1

Juga, hadits lain yang mempertegas figur Mahdi:”Mahdi adalah dari keturunanku yang akan memenuhi bumi dengan keadilan. Dia keluar bersama nabi Isa yang saling membantu (koalisi) melawan dajjal di pintu Ladd Palestina, dan dia akan menjadi imam umat Islam bahkan nabi Isa-pun shalat di belakangnya.  

Secara literal hadist itu mengilustrasikan seorang Mahdi yang dijanjikan datangnya pada akhir zaman. Setidak-tidaknya, hadits itu berhasil menanamkan embrio harapan akan kehadiran seorang penolong. Dipertegas lagi oleh Sayidina Ali r.a. yang menuturkan bahwa, Mahdi tidak akan muncul kecuali telah terbunuh tiga seperempat (manusia), meninggal dunia seperempat, dan berarti masih tersisa tiga seperempat.2

            Selain itu, keterangan mengenainya semakin jelas saat Abi Sa’id menyatakan bahwa Nabi Muhamad bersabda:”Bumi akan dipenuhi keadilan sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi kedzaliman dan ketidakadilan, yang dikuasai selama tujuh tahun”.3 Hadits ini sama dengan yang telah diriwayatkan al-Tirmidzi,4 hanya sebelumnya ada tambahan teks: Mahdi berasal dari keturunanku.5 Ketika berita itu terus berkembang, dan semakin dicari-cari fakta lapngan-sejarahnya, Ibrahim ibn Masirah berkata kepada Thawus:”Umar ibn Abdul Aziz5 itu adalah Mahdi”. Tetapi, Thawus menolak penisbatan itu, dengan alasan dia (Umar Abdul Aziz) belum sampai sempurna keadilan yang ditegakkan.

            Dalam keyakinan umat muslim, percaya akan berakhirnya usia bumi yang disimbolkan dengan hari akhir (baca: kiamat). Meski tidak diketahui kapan terjadinya. Karena bukan tugas manusia mengatur usia bumi, melainkan Allah. Tapi, indikasi-indikasi kejadiannya disinggung oleh beberapa hadits yang Nabi sendiri tidak mengetahui secara pasti kapan kiamat akan tiba.     

            Di antara indikasinya ialah berita bahwa pada akhir zaman akan muncul seorang Mahdi. Riwayat itu menceritakan bahwa, pada akhir zaman akan muncul seorang laki-laki -yang dipanggilnya Mahdi- dari ujung barat dengan mengusung bendera berwarna putih dan kuning, dan bertuliskan lafadz Allah serta terdapat angka-angkanya. Pada akhir hadits dikatakan bahwa, semua manusia dari segala penjuru akan mendatangi Mahdi kemudian mem-bai’at (penobatan)-nya di Mekah, di antara Rukun dan Maqam (Ibrahim). Tapi, penobatan ini (kedua) membuat Mahdi tidak senang karena sebelumnya telah dibaiat. Setelah itu, dia mengajak umatnya untuk berperang melawan musuh-musuh Allah, semuanya tidak yang membangkang. Kemudian Mahdi beserta rombongan keluar dari Mekah menuju Syam (Syuriah) untuk menginvansi ’Urwah ibn Muhamad al-Sufyani.9

Mungkin anda akan bertanya, kenapa yang diserang itu kaumnya ’Urwah ibn Muhamad al-Sufyani padahal sama-sama muslim. Tapi sudah terwakili oleh seorang sahabat bernama Khudzaifah. Ia bertanya kepada Rasul:”Wahai Rasul! Kenapa mereka (Sufyani) diserang, padahal mereka umat Islam”. Yang beliau katakan:”Keimanan mereka telah murtad (bukan Islam lagi) karena mereka adalah para Khawarij. Mereka menganggap Khamr adalah halal, disamping serakah sering memerangi agama Allah”.8 

            Titik perhatian soal Mahdi, tentu bertalian erat dengan eksisitensi umat Islam akhir zaman. Kehadirannya adalah tanda kiamat telah dekat. Karenanya pesan-pesan itu yang memastikan Imam Mahdi akan tiba pada akhir zaman.

            Nabi Muhamad Saw menyatakan:”Setelah wafatku, akan ada daerah yang dinamai Andalusia. Kemudian diserang orang-orang kafir dan kalah. Orang kafir berhasil menguasai harta-harta umat Islam, memboyong wanita-wanita muslimah, rumah-rumah dihancurkan, sehingga penduduknya banyak yang kehilangan tempat tinggal. Sementara di bagian barat, penduduknya menderita ketakutan, kelaparan, bencana terjadi dimana-mana, sampai sebagian mereka saling memangsanya. Pada saat-saat inilah akan lahir seorang laki-laki keturunan Fathimah al-Zahra bint Rasulullah, yaitu Mahdi yang hidup di akhir zaman, dan ini menjadi tanda-tanda kiamat”.78      

            Akhirnya, Mahdi menjadi tanda-tanda kiamat, sementara kehadirannya bisa ditandai dengan banyaknya fitnah (malapetaka) di antara manusia, utamanya bagi umat muslim.

Diceritakan, ada seorang laki-laki yang menpropaganda terhadap kelompoknya, dengan menetapkan: “Mahdi itu ada tiga: 1. mahdi dalam hal kebaikan, yaitu Umar ibn Abdul Aziz, 2. mahdi perang, yaitu seorang yang mampu mendamaikan peperangan, dan 3. mahdi keagamaan, yaitu Isa ibn Maryam yang akan menyelamatkan umatnya pada masanya”.6 Jika analisis, pernyataan ini memberi pemahaman bahwa mahdi tidak lebih dari sebuah simbol: simbol kehadiran seorang yang membawa umat manusia menuju kebahagiaan, baik dalam petunjuk kebaikan, ketenangan dan kedamaian (dari ancaman perang), maupun dalam membimbing agama. Jadi, menurut komentar ini, yang dikehendaki bukanlah seorang yang bernama Mahdi.

            Karenanya, muncul berbagai perbedaan mengenai figur Imam Mahdi. Dalam hal ini, ada empat komentar: 1). Imam Mahdi adalah seorang yang berasal dari keturunan ahlulbait (keturunan Nabi) yang namanya sama dengan Nabi Muhamad Saw. Pendapat ini, terilhami oleh hadits riwayat Abu Dawud:”Dunia akan dipimpin oleh seorang dari keturunanku. Namanya sama dengan namaku. Seandainya dunia tinggal sehari saja, maka Allah akan panjangkan hari itu sehingga ia akan memimpinnya7; 2). Imam Mahdi hanya merupakan figur seorang penyelamat kehidupan manusia. Dengan demikian, ia tidak harus dari keturunan ahlulbait saja, namun setiap muslim. Pengakuan diri sebagai Imam Mahdi tidak terhitung jumlahnya. Sejak abad pertama Hijriah banyak orang yang mengaku Imam Mahdi atau diakui sebagai Imam Mahdi; 3). Imam Mahdi bukan figur seorang, melainkan lambang atau simbol kemenangan yang haqq (kebenaran) terhadap yang bathil atau simbol kemenangan keadilan dari ketidakadilan; 4). Imam Mahdi adalah figur yang jelas, dari keturunan Fathimah al-Zahra dan merupakan salah satu dari imam-imam ahlulbait.8

           

            Untuk pendapat keempat, adalah pemikiran yang dianut oleh kaum Syi’ah, meskipun dari aliran itu juga masih berbeda pendapat dalam menentukan siapa di antara imam-imam yang diyakini sebagai Imam Mahdi.     

             

                         



1 al-Sunan al-Waridah fi al-Fitan, juz: III, hlm. 522.

2 Ibid, hlm. 1037

3 Al-Fitan, juz: I, hlm. 359

4 Dia adalah

5 Ensiklopedi Islam, Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT), PT. Ichtiar Baru van Hoeve, jakarta (th. 1999), bag. III, hlm. 110.

5.Umar ibn Abdul Aziz Khalifah ke-8 Dinasti Umayah, berkedudukan di Damaskus. Lahir Madinah 63 H/682 M. wafat 110 H/720 M. nama lengkap Abu Hafs umar ibn Abdul Aziz ibn Marwan ibn Hakam Ibn Ash Ibnu Umayah. Masih keturunan Umar ibn khathab melalui jalur ibu.

9  Syeh Abdul Wahab al-Sya’roni, Mukhtashar Tadzkirah al-Qurthubi, al-Haramain Indonesia, hlm. 134

8 Ibid

78 Ibid

6 Al-Fitan, ibid.

7 Syeh Abdul Wahab al-Sya’roni, Mukhtashar Tadzkirah al-Qurthubi, al-Haramain Indonesia, hlm. 134

8 Ensiklopedi Islam, Op. cit.